- Beranda
- Berita dan Politik
Relawan Berikan Bimbel Gratis bagi Anak Kurang Mampu
...
TS
fajar05tea
Relawan Berikan Bimbel Gratis bagi Anak Kurang Mampu
DUA bocah duduk melongo di bangku deretan belakang. Sorot matanya mengarah ke depan kelas, memperhatikan Suci Amalia (21), mahasiswa semester VI Program Studi PGSD FIP UPI Bandung. Suci saat itu tengah mengajar Bahasa Inggris di satu ruang kelas di SD Ciumbuleuit I di Jalan Bukit Raya No 173, Ciumbuleuit, tepat di depan jalur jalan menuju kawasan Punclut, Kota Bandung, Minggu (9/6).
Suci adalah satu dari 34 mahasiswa yang memberikan bimbingan belajar (bimbel) secara gratis kepada 206 murid SD dan 133 siswa SMP di ruang kelas sekolah itu. Para mahasiswa itu berasal dari UPI, STKIP Siliwangi, Universitas Parahyangan, dan Universitas Maranatha.
Mereka tergabung sebagai relawan yang tidak dibayar di Yayasan 45 Plus. Yayasan inilah yang menyediakan bimbel gratis mata pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika bagi ratusan anak kurang mampu di kawasan Ciumbuleuit dan sekitarnya.
Alasan mereka ikut bergabung sebagai relawan rata-rata sama, yaitu ingin beramal dan berbagi ilmu dengan anak-anak kurang mampu. Menurut Salim (37), Ketua Yayasan 45 Plus, bimbel ini berawal pada tahun 2004 atas prakarsa Imansyah, mahasiswa pascasarjana Unpad pada saat itu.
Awalnya, bimbel ini digelar di rumah kos Imansyah di Jalan Hegarmanah, Gang Marhali. Saat itu pesertanya hanya delapan orang dan pengajarnya Imansyah sendiri. Setelah Imansyah menyelesaikan studinya dan kembali ke kampung halamannya di Lampung, bimbel ini sempat vakum. Salim, rekan diskusi Imansyah, lalu mencoba menghidupkannya kembali. Sejumlah relawan pun bergabung.
"Tempat belajarnya dari rumah ke rumah, sempat pindah ke masjid, terus pindah lagi ke Aula Kelurahan Hegarmanah, hingga akhirnya karena peserta semakin banyak, sejak tahun 2010 pindah ke SD Ciumbuleuit I sampai sekarang," kata Salim.
Menurut Salim, peserta bimbel bisa memakai ruang kelas SD Ciumbuleuit I itu atas perkenan dan kerja sama dari kepala sekolah. Bimbel ini juga tidak mengganggu proses belajar mengajar di sekolah itu karena hanya digelar setiap hari minggu. Pesertanya pun tak hanya murid SD Ciumbuleuit I, tapi murid SD lain dan siswa SMP dari seputar kawasan Ciumbuleuit.
Selain menyediakan bimbel gratis, Yayasan 45 Plus ini juga kerap menggelar outing class bagi peserta bimbel. Adapun alasan hanya memberikan bimbel Bahasa Inggris dan Matematika, menurut Salim, karena kedua mata pelajaran itu dinilai paling sulit buat anak-anak.
Menggelar bimbel dengan peserta ratusan tentu harus mengeluarkan biaya besar. Terlebih para peserta diberi baju seragam dan modul berupa buku-buku yang menunjang pelajaran. Lantas dari mana dana untuk membiayai semua kegiatan itu?
"Untuk sementara ini biaya operasional didanai oleh para donatur," kata Salim.
Salim sendiri bercita-cita dalam lima tahun ke depan bisa memiliki tempat bimbel sendiri yang representatif. Mudah-mudahan, kata Salim, ada pihak-pihak yang bisa membantu mewujudkannya. Sebab, kata dia, kegiatan ini sangat membantu pelajaran bagi anak-anak tidak mampu.
"Lulusan bimbel kami ada yang menjadi mahasiswa di perguruan tinggi negeri. Bahkan ada tiga orang kini menjadi calon mahasiswa ITB," ujar Salim.
Muhammad Agung Fabianto (13), siswa kelas 2 SMPN 52 Bandung, yang menjadi peserta bimbel di Yayasan 45 Plus, mengaku senang bisa mendapat bimbel gratis. Agung sangat merasakan manfaatnya karena sejak kelas 3 SD ia sudah menjadi peserta di bimbel tersebut.
"Belajarnya asyik, nggak tegang kayak di sekolah," kata Agung.
Farid (9) dan Fadiansyah (9), bocah kelas 3 SD Ciumbuleuit III, mengaku senang bisa mengikuti bimbel karena jadi banyak teman. "Rame, senang banget, banyak teman main. Pelajarannya juga cepat ngerti," ujar Farid. (*)
Suci adalah satu dari 34 mahasiswa yang memberikan bimbingan belajar (bimbel) secara gratis kepada 206 murid SD dan 133 siswa SMP di ruang kelas sekolah itu. Para mahasiswa itu berasal dari UPI, STKIP Siliwangi, Universitas Parahyangan, dan Universitas Maranatha.
Mereka tergabung sebagai relawan yang tidak dibayar di Yayasan 45 Plus. Yayasan inilah yang menyediakan bimbel gratis mata pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika bagi ratusan anak kurang mampu di kawasan Ciumbuleuit dan sekitarnya.
Alasan mereka ikut bergabung sebagai relawan rata-rata sama, yaitu ingin beramal dan berbagi ilmu dengan anak-anak kurang mampu. Menurut Salim (37), Ketua Yayasan 45 Plus, bimbel ini berawal pada tahun 2004 atas prakarsa Imansyah, mahasiswa pascasarjana Unpad pada saat itu.
Awalnya, bimbel ini digelar di rumah kos Imansyah di Jalan Hegarmanah, Gang Marhali. Saat itu pesertanya hanya delapan orang dan pengajarnya Imansyah sendiri. Setelah Imansyah menyelesaikan studinya dan kembali ke kampung halamannya di Lampung, bimbel ini sempat vakum. Salim, rekan diskusi Imansyah, lalu mencoba menghidupkannya kembali. Sejumlah relawan pun bergabung.
"Tempat belajarnya dari rumah ke rumah, sempat pindah ke masjid, terus pindah lagi ke Aula Kelurahan Hegarmanah, hingga akhirnya karena peserta semakin banyak, sejak tahun 2010 pindah ke SD Ciumbuleuit I sampai sekarang," kata Salim.
Menurut Salim, peserta bimbel bisa memakai ruang kelas SD Ciumbuleuit I itu atas perkenan dan kerja sama dari kepala sekolah. Bimbel ini juga tidak mengganggu proses belajar mengajar di sekolah itu karena hanya digelar setiap hari minggu. Pesertanya pun tak hanya murid SD Ciumbuleuit I, tapi murid SD lain dan siswa SMP dari seputar kawasan Ciumbuleuit.
Selain menyediakan bimbel gratis, Yayasan 45 Plus ini juga kerap menggelar outing class bagi peserta bimbel. Adapun alasan hanya memberikan bimbel Bahasa Inggris dan Matematika, menurut Salim, karena kedua mata pelajaran itu dinilai paling sulit buat anak-anak.
Menggelar bimbel dengan peserta ratusan tentu harus mengeluarkan biaya besar. Terlebih para peserta diberi baju seragam dan modul berupa buku-buku yang menunjang pelajaran. Lantas dari mana dana untuk membiayai semua kegiatan itu?
"Untuk sementara ini biaya operasional didanai oleh para donatur," kata Salim.
Salim sendiri bercita-cita dalam lima tahun ke depan bisa memiliki tempat bimbel sendiri yang representatif. Mudah-mudahan, kata Salim, ada pihak-pihak yang bisa membantu mewujudkannya. Sebab, kata dia, kegiatan ini sangat membantu pelajaran bagi anak-anak tidak mampu.
"Lulusan bimbel kami ada yang menjadi mahasiswa di perguruan tinggi negeri. Bahkan ada tiga orang kini menjadi calon mahasiswa ITB," ujar Salim.
Muhammad Agung Fabianto (13), siswa kelas 2 SMPN 52 Bandung, yang menjadi peserta bimbel di Yayasan 45 Plus, mengaku senang bisa mendapat bimbel gratis. Agung sangat merasakan manfaatnya karena sejak kelas 3 SD ia sudah menjadi peserta di bimbel tersebut.
"Belajarnya asyik, nggak tegang kayak di sekolah," kata Agung.
Farid (9) dan Fadiansyah (9), bocah kelas 3 SD Ciumbuleuit III, mengaku senang bisa mengikuti bimbel karena jadi banyak teman. "Rame, senang banget, banyak teman main. Pelajarannya juga cepat ngerti," ujar Farid. (*)

0
1K
3
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
696.2KThread•59.5KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya