Kaskus

Entertainment

crezeanceAvatar border
TS
crezeance
Scary Story "DANAU TENGKORAK"
Tanpa banyak bicara langsung aja cekidot... emoticon-Ngacir2

DANAU TENGKORAK

Dulu saat aku tinggal di Alabama, ada sebuah tambang bebatuan tua terletak jauh di dalam hutan pinus, yang sudah lama ditinggalkan oleh perusahaan penambangan. Tanyailah penduduk setempat, dan mereka akan mengarahkanmu ke sebuah jalan berlumpur penuh ilalang keluar dari jalan raya melewati Stasiun Pelayanan tua Reece. Ikuti jalan itu hingga ujungnya, dan kau akan sampai di pinggir sebuah kawah berbatu yang terjal. Di dasar kawah itu terdapat salah satu dari kolam renang alami terbaik yang pernah kau lihat. Jernih, dalam, biru airnya, menunggu untuk mendinginkanmu di hari yang panas musim kemarau ini.

Tapi jangan tertipu. Tak satupun warga setempat yang berani berenang di sana. Apalagi saat malam ketika bulan penuh. Semua orang bilang danau itu dikutuk.

Dan sejujurnya, aku bersalah atas sebagian dari kutukan itu.

Dahulu saat aku masih bocah, tersiar berita bahwa perusahaan terbesar di kota kami, yaitu
Pabrik Penambangan Reynolds telah bangkrut dan akan pindah. Berita ini buruk bagi orang tua kami, yang telah bekerja di pabrik itu selama bertahun tahun apalagi pekerjaan juga susah didapat. Namun bagi kami itu adalah kabar terbaik yang pernah kami dengar.

Maklumlah, di jaman itu kami belum mengenal video game, internet, ataupun supermall untuk dijadikan hiburan. Kalau kau tinggal jauh di kota terpencil, kau harus mencari hiburanmu sendiri. Dengan panasnya matahari membara di Alabama yang begitu menggerahkan, maka kegiatan pencarian kolam renang alami adalah tantangan yang menarik. Kami mengetahui kalau Pabrik Reynolds menggunakan danau luas di dekatnya untuk pengerjaan penambangan. Jadi dengan kepergian truk pengangkut mereka yang terakhir di hari penutupan pabrik, kamipun membuat sebuah rencana.

Kami berencana membolos pada hari terakhir sekolah dan pergi ke danau itu. Walaupun tempat itu jauh di dalam hutan, kami tak mau sherrif setempat yang duluan menemukannya, dan mungkin akan terjadi jika kami menunggu hingga akhir minggu.

Hari itu, kami berdelapan berkendara menuju kesana. Marty, Jeff dan aku adalah teman dekat, juga yang tertua dalam kelompok kami. Sedangkan sisanya adalah kumpulan anak bau kencur yang baru kami kenal dan sebenarnya kami tidak ingin mereka ikut. Tapi mereka mengancam akan mengadukan kami jika tidak diajak.

Marty mengutil beberapa kerat bir ayahnya, sedangkan truk yang kami naiki milik kakak Jeff. Segera setelah lepas dari pengawasan orang tua, kami menyingkirkan buku buku pelajaran dan langsung tancap gas - kami yang tertua duduk di depan, dan lima anak lain berjejalan di belakang.

Kami menoleh ke depan dan belakang beberapa kali sembari menyetir menuju ke pertambangan tua itu, berusaha tak menarik perhatian dari mobil lain yang lalu lalang. Dan ketika sudah sepi, Jeff memacu truknya menderu menyusuri jalan panjang yang diapit pepohonan itu. Dia tertawa dan bersorak saat truk berguncang guncang di atas jalanan yang berbatu, menghentak hentakan anak anak bandel di jok belakang seperti kumpulan boneka kain.

Sekitar kurang lebih satu mil jauhnya, jalanan semakin kasar. Aku memandang barisan pinus tak berujung melesat melalui kami. Aku ingat semakin kami mengendara lebih jauh, pepohonan itu terlihat semakin mengapit truk kami, membungkus kami dengan rimbunnya cabang cabang pinus. Meskipun kami begitu bising oleh tawa dan deru mobil, aku ingat bahwa hutan yang mengapit kami tetap tampak sunyi senyap. Tak terdengar satupun suara pesawat di langit. Tak seekor burungpun yang berkicau, bahkan tak terdengar suara kepakan sayapnya - sama sekali tak terdengar suara alam. Hanya baris demi baris pepohonan, memanjang tanpa akhir di dalam hutan yang gelap. Aku membayangkan siapa, atau apa, yang hidup disana, dalam kegelapan itu...

"Hey sadarlah, manusia luar angkasa!" teriak Marty, mengangsurkan bir dingin ke tanganku, aku tersenyum, kutenggak seteguk penuh, semangatku pun membara lagi.

Jalanan itu mendadak berakhir di depan sebuah gerbang yang tergembok, dengan tanda papan bertuliskan "Dilarang Masuk". Gembok murahan itu bukan tandingan Jeff, dia pernah mempelajari satu atau dua hal tentang cara membobol kunci dari kakak tertuanya, yang sering keluar masuk penjara karena tindakan pencurian dan semacamnya. Jeff memelintir kawat jepit rambut ibunya dan dalam sekejap, membuka gembok itu lalu melemparnya ke dalam hutan. Jeff memacu truknya memasuki gerbang dan menderu lagi menyusuri jalan, sambil tertawa songong.

Kemudian kami berpapasan dengan sebuah papan reklame berkarat yang bertuliskan, "Pertambangan Reynolds."
Sesaat tadi aku mengira bahwa hutan itu takkan berakhir.

"Sial!" teriak Jeff, menjejak rem. Bir menumpahi seluruh depan kausku.
"Ada apa denganmu?" aku meneriakinya.

Kemudian kami semua mendongak ke jendela. Kawah terjal itu hanya berjarak satu kaki dari truk, tanpa ada tanda peringatan apapun sebelumnya, menganga lebar menghadap ke langit biru, dengan gigi gigi batunya.
Dan terdapat di dasar, kolam alami dalam dan sejuk yang pernah kami dengar sebelumnya, permukaannya yang tenang seperti lapisan kaca, sama sekali tak bergelombang - seakan akan telah sekian lama menanti hanya untuk kami.

Lebih cepat dari pada kau bisa berkata "kapal karam," kami melompat keluar dari truk, menuruni bebatuan kawah itu, melucuti pakaian kami kemudian menyelam ke dalam air danau yang sejuk itu. Kami tertawa, bersorak dan saling menyemprotkan air, suara kami bergema ke dinding bebatuan kawah di sekeliling kami. Kami tahu tak ada siapapun yang akan mendengar kebisingan kami.

Ketika matahari semakin merayap ke atas, pengaruh bir yang kami tenggak mulai mempengaruhi pikiran. Terhuyung huyung di tepian danau dengan kaki yang meliuk liuk, tengkurap teler di atas bebatuan yang licin. Aku tak dapat mengatakan aku ingat banyak siang itu, aku tak menyadari bahwa salah satu bocah yang bernama Logan tiba tiba berjalan menjauh.

"Hei, tolonglah, aku butuh bantuan!" teriak salah satu anak. Aku memperhatikan dia dengan panik melompat menaiki dan menuruni bongkahan batu pinggir danau. Ini pasti bualan, pikirku. Segera setelah aku sampai di sana, dia dan teman2 begundalnya itu akan menceburkanku ke air.
Tapi kemudian aku melihat ketakutan yang nyata di matanya dan aku tahu dia tidak sedang bergurau.

"Kemarilah, cepat!" jeritnya. "Logan terluka!"

Kami berlari melewati bebatuan lalu mendongak ke bawah. Disana di atas bebatuan tergeletak Logan, tak sadarkan diri dan pucat seperti kertas, darah mengucur di dahinya. Dia hendak berenang, tapi terpeleset jatuh. Tak ada dari kami yang tahu tentang CPR atau tata cara penanggulangan kecelakaan semacamnya. Semua yang bisa Jeff lakukan hanya merengkul tubuh Logan, mengguncangnya, berteriak lagi dan lagi,
"Sadar! Sadarlah!"

Tapi Logan tetap diam, dan kami tak merasakan hembusan nafas darinya. Tak satupun dari kami tahu harus bagaimana . Jadi Jeff membaringkannya di tanah dan kami hanya mematung di sana, menatap dengan hening tak percaya pada tubuh kecil Logan yang tak lagi bernyawa. Kemudian rasa panik mulai merasuk.

Ada perbedaan antara takut dan panik. Takut kadang dapat membuatmu berpikir yang tidak logis, tapi lain ceritanya kalau panik. Jika kau panik, sedang mabuk dan seorang remaja naif yang masih ingusan, kau punya kesempatan bagus untuk merasa dapat menentukan pilihan hidup yang amat tolol.

"Kita bisa dapat banyak masalah," ucap Jeff setelah sekian lama yang terasa seperti berjam jam. "Jika kita mencari bantuan, mereka akan tahu kita menerobos masuk kemari. Dan kita juga minum minum. Mereka akan berpikir kitalah penyebab kematian anak ini, karena telah memberinya bir dan semacamnya."

"Jadi harus gimana?" kudengar diriku bertanya.

Jeff tanpa ragu berkata,
"Kita sembunyikan mayatnya. Yang kita tahu dia kabur dari rumah dan kita tak pernah melihatnya lagi sejak itu. Katakan seperti itu jika ada yang tanya."

Beberapa anak mulai sesenggukan dan menangis. Jeff menatap mata mereka dan tahu mereka akan merusak rencananya. Dia memelototi mereka dan berkata,
"Kalian para bocah berani membocorkan hal ini, maka aku akan memberitahu orang tua kalian atau sherif atau siapapun kalau kalian yang telah mendorongnya ke bebatuan terjal. Kalian akan dijebloskan ke penjara selama sisa umur kalian. Atau dikirim ke pelatihan militer. Kesaksianku akan memojokkan kalian. Paham?"

Satu persatu mereka mengangguk. "Kita harus melakukan perjanjian," kata Jeff kepada kami semua. "Setelah ini, tak seorangpun akan membicarakannya. Sepanjang hidup kita."

Kami tak menandatangani kontrak terikat apapun pada hari itu, tetapi pandangan takut kami antara satu sama lain cukup memperlihatkan suatu kesepakatan.
Kemudian Jeff mengikatkan rantai dari truknya ke tubuh Logan. Kami menjunjung tubuhnya ke air dan menenggelamkannya sedalam yang bisa kami arungi, menyeret tubuhnya menyelam ke bawah.
Kami menemukan sebongkah batu besar di bawah air, kami ikat erat tubuh Logan di batu itu. Aku ingat kelopak mata Logan tertutup saat kami menguburnya di makam air itu, tak ada ekspresi di wajahnya atau apapun. Mungkin dia sudah damai, pikirku, dan dia takkan peduli tentang perlakuan kami terhadap jasadnya.

Kami muncul ke permukaan sambil megap megap, dan segera berkumpul kembali ke dalam truk, menyambar baju baju Logan dan milik kami. Lalu berkendara panjang, dalam hening, kembali pulang, meninggalkan kolam renang kematian itu jauh di belakang.

Maaf kalo berantakan maklum masih newbie emoticon-Malu (S)
Sumber : Creepypasta Indonesia
PART 2 Tunggu emoticon-Blue Guy Cendol (L) sama emoticon-Rate 5 Star
0
1.4K
5
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
The Lounge
KASKUS Official
1.3MThread106.2KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.