- Beranda
- The Lounge
Realita Bahasa Kita.... norak!!!
...
TS
tajiirun
Realita Bahasa Kita.... norak!!!
Baca baik-baik agar kita sadar!!!
Sebenarnya, berbicara dengan kosakata rumit, susunan kata njelimet, dan kalimat2 antah berantah itu bukan hanya terlihat heboh sejak dari hadirnya Mas Vicky Prasetyo alias Hendrianto Bin Hermanto. Yang kita lihat, video wawancara beliau di televisi, website, jejaring sosial, hanyalah puncak dari gunung es masalah serius berbahasa di negeri ini.
Nah, agar kita tidak rumit dan berdebat tentang sesuatu yang tidak perlu diperdebatkan, saya akan menyederhanakan beberapa hal sebelum lanjut. Yang pertama, menurut hemat saya, bahasa yg baik adalah yang dimengerti oleh kita sendiri dan juga dimengerti lawan bicara kita. Maka efektif dan benarlah bahasa tersebut. Yang kedua, boleh saja memang keluar dari pakem yang ada, keluar dari kaidah berbahasa yg ada, tidak ada larangan, toh bahasa ini menjadi kaya karena kreatifitas penggunanya, akan tetapi pastikan poin pertama sebelumnya mutlak dipenuhi: dimengerti oleh kita sendiri dan juga dimengerti lawan bicara kita.
Dalam kondisi kekinian, ketika orang2 galau dengan eksistensi sendiri, banyak orang yang merasa jika dia menggunakan bahasa keren, maka dia akan terlihat hebat dan modern. Coba perhatikan poster dan spanduk caleg, orang2 parpol. Dari 10 spanduk/poster mereka, dengan cepat kita akan menemukan separuh lebih yang memaksakan diri ingin terlihat keren. Menggunakan bahasa Inggris, itu satu, bahkan kalimat standar bahasa Indonesia pun dipaksa diinggriskan. Kalian tahu 'mohon maaf lahir bathin' dalam bahasa Inggris? ask sorry born and inner. Silahkan ketik di google translate satu per satu kata tadi, maka jadilah kalimat aneh itu, ask sorry born and inner. Terpajang di poster selamat lebaran kawan kita yang lagi nyaleg. Keren? Mungkin iya.
Coba perhatikan cara bicara politikus di media massa, di website, jejaring sosial miliknya. Beberapa memang jago, tapi banyak yang ingin sekali terlihat pintar. Bicara berlebihan, itu yang kedua. Bicara seolah komprehensif. Saya tidak tahu, apakah memang ada korelasi bicara keren dengan terpilih atau tidak. Tapi tampil keren dan berlebihan seolah jadi wajib bagi orang2 ini, termasuk mencantumkan gelar-gelar hebatnya--yg sebenarnya ada yg memperoleh gelar itu dari membeli saja.
Golongan berikutnya yang terlihat ingin keren dan media massa menyambarnya menjadi konsumsi liputan adalah artis, para pesohor. Entah mengapa, artis2 tertentu (sorry to say, misalnya penyanyi dangdut wanita atau model dewasa), 'heboh' sekali saat diwawancara, juga saat tampil dalam acara talkshow, dsbgnya. Mereka mungkin tidak menyadari sedang jadi bulan2an wartawan, dijadikan pemanis rating atau penambah hit ke laman website berita. Bukan sedang diberitakan karena potensi brilian dari sohornya dia. Apakah orang2 respek dengan istilah2 tenar dari artis ini? Atau hormat dengan cara bicara kerumunan ini? Tidak. Orang2 sedang butuh bahan tertawaan. Tapi dalam dunia yang labil sekali ketika sudah menyangkut tentang perut dan kemakmuran hati, pelakunya justeru merasa mereka sedang tenar pol, bukan sebaliknya sedang dicemooh.
Dua golongan ini, politikus dan artis, memberikan contoh buruk secara massif di sekitar kita. Sementara di kaki gunung es yang tidak terlihat itu, hadirlah kita semua, sebagai pengguna bahasa sehari-hari. Situasinya lebih serius lagi.
Coba cek page saya ini. Dalam setiap postingan, adaaa saja yang tiba2 komen dengan gaya bahasa keren sekali. Komen kemana-mana, dibaca susah, dipahami ribet, lantas tiba di ujung komennya hanya untuk kemudian kita bengong: "orang ini sedang bicara apa?". Apalagi di lapak forum diskusi, website berita, cara bicara tidak nyambung ini lebih banyak lagi. Kenapa mereka melakukannya? Karena ingin terlihat beda, mencari perhatian. Termasuk menggunakan kosakata inggris, kosakata milik politikus itu, yang keliru penulisannya (boleh saja keliru tulis, tapi jangan kebangetan).
Orang2 ingin sekali terlihat bergaya. Alay, adalah contoh raksasa di sekitar kita. Kenapa anak2 sekarang mengganti nama mereka dengan nama2 tidak jelas? Berlebihan sekali? Karena mereka pikir itu keren. Sungguh mereka akan segera ganti detik itu juga, kalau besok satu sekolah mentertawakan. Malu. Isin. Tapi teman2nya ternyata juga melakukan hal yg sama, bahkan semakin aneh, merasa semakin keren gila. Maka bagaimana mungkin mereka merasa itu aneh. Termasuk menggunakan tulisan alay, berkomunikasi dengan alay. Mereka kira itu keren.
Apakah boleh alay? Boleh. Saya sudah mengunci penjelasan di awal tulisan ini: boleh saja memang keluar dari pakem yang ada, keluar dari kaidah berbahasa yg ada, tidak ada larangan, toh bahasa ini menjadi kaya karena kreatifitas penggunanya, akan tetapi pastikan poin pertama sebelumnya dipenuhi: dimengerti oleh kita sendiri dan juga dimengerti lawan bicara kita. Jika alay ini bicara dalam lingkungan mereka sendiri, bisa dimengerti oleh mereka, maka efektiflah bahasa mereka. Tidak masalah. Tapi ketika alay ini tetap bicara dengan gaya bahasa tersebut di dunia yang berbeda, situasi berbeda, tempat berbeda, akan menjadi masalah buat orang lain dan buat mereka sendiri.
Itulah yang terjadi pada saudara Vicky. Saya kira, kalau pendengarnya adalah orang2 sejenis dengan dia. Maka tidak akan ada masalah. Saling mengerti, bahkan bisa bicara nyambung satu sama lain. Saya serius, lima orang seperti saudara Vicky, berada di sebuah ruangan, maka percakapan mereka bisa canggih sekali--meski sy membayangkannya saja sudah horo. Tapi saat gaya bicara Vicky disaksikan massal oleh orang lain, bahasa beliau tentu menjadi aneh dan susah dipahami kebanyakan orang. Dan bukan hanya itu, kegagalan paling besarnya adalah: keinginan tampil keren lewat bahasa. Ini fatal sekali. Karena bahasa itu alat komunikasi, bukan kosmetik atau sepatu kinclong.
Percayalah, jika kalian orang2 yang suka menulis, suka bicara di depan orang banyak, resep paling sukses adalah sebaliknya: semakin sederhana bahasa kita, semakin indah yang kita sampaikan. Sungguh spesial sekali seseorang yang bisa menjelaskan 10 hal rumit, hanya lewat satu kalimat sederhana. Kalimat itu menjadi membekas, menyentuh ke bagian terdalam pendengar atau pembacanya.
Seorang editor berpengalaman, akan tahu sekali sebuah tulisan yang memperumit, berbunga2, diulang2, panjang lebar, padahal sebenarnya bisa digantikan satu kalimat simpel doang: Saya senang dengan pertunangan ini. Nah, jika kalian bercita2 ingin jadi penulis, public speaker, pesohor, selebritis, bahkan politikus hebat seperti Bung Karno, akan sy kembalikan kepada kalian, apakah kalian akan memulainya dengan pemahaman ini atau tidak: orang2 yg memang punya sesuatu yg pantas didengarkan, selalu bisa menyampaikannya dengan cara sesederhana apapun; tapi orang2 yang kosong saja, tidak ada yang pantas dia bicarakan, mau dibungkus dengan gaya bahasa apapun, tetap kosong.
Mungkin demikian.
*Tere Lije
copas status fb bang darwis tere lije
Sebenarnya, berbicara dengan kosakata rumit, susunan kata njelimet, dan kalimat2 antah berantah itu bukan hanya terlihat heboh sejak dari hadirnya Mas Vicky Prasetyo alias Hendrianto Bin Hermanto. Yang kita lihat, video wawancara beliau di televisi, website, jejaring sosial, hanyalah puncak dari gunung es masalah serius berbahasa di negeri ini.
Nah, agar kita tidak rumit dan berdebat tentang sesuatu yang tidak perlu diperdebatkan, saya akan menyederhanakan beberapa hal sebelum lanjut. Yang pertama, menurut hemat saya, bahasa yg baik adalah yang dimengerti oleh kita sendiri dan juga dimengerti lawan bicara kita. Maka efektif dan benarlah bahasa tersebut. Yang kedua, boleh saja memang keluar dari pakem yang ada, keluar dari kaidah berbahasa yg ada, tidak ada larangan, toh bahasa ini menjadi kaya karena kreatifitas penggunanya, akan tetapi pastikan poin pertama sebelumnya mutlak dipenuhi: dimengerti oleh kita sendiri dan juga dimengerti lawan bicara kita.
Dalam kondisi kekinian, ketika orang2 galau dengan eksistensi sendiri, banyak orang yang merasa jika dia menggunakan bahasa keren, maka dia akan terlihat hebat dan modern. Coba perhatikan poster dan spanduk caleg, orang2 parpol. Dari 10 spanduk/poster mereka, dengan cepat kita akan menemukan separuh lebih yang memaksakan diri ingin terlihat keren. Menggunakan bahasa Inggris, itu satu, bahkan kalimat standar bahasa Indonesia pun dipaksa diinggriskan. Kalian tahu 'mohon maaf lahir bathin' dalam bahasa Inggris? ask sorry born and inner. Silahkan ketik di google translate satu per satu kata tadi, maka jadilah kalimat aneh itu, ask sorry born and inner. Terpajang di poster selamat lebaran kawan kita yang lagi nyaleg. Keren? Mungkin iya.
Coba perhatikan cara bicara politikus di media massa, di website, jejaring sosial miliknya. Beberapa memang jago, tapi banyak yang ingin sekali terlihat pintar. Bicara berlebihan, itu yang kedua. Bicara seolah komprehensif. Saya tidak tahu, apakah memang ada korelasi bicara keren dengan terpilih atau tidak. Tapi tampil keren dan berlebihan seolah jadi wajib bagi orang2 ini, termasuk mencantumkan gelar-gelar hebatnya--yg sebenarnya ada yg memperoleh gelar itu dari membeli saja.
Golongan berikutnya yang terlihat ingin keren dan media massa menyambarnya menjadi konsumsi liputan adalah artis, para pesohor. Entah mengapa, artis2 tertentu (sorry to say, misalnya penyanyi dangdut wanita atau model dewasa), 'heboh' sekali saat diwawancara, juga saat tampil dalam acara talkshow, dsbgnya. Mereka mungkin tidak menyadari sedang jadi bulan2an wartawan, dijadikan pemanis rating atau penambah hit ke laman website berita. Bukan sedang diberitakan karena potensi brilian dari sohornya dia. Apakah orang2 respek dengan istilah2 tenar dari artis ini? Atau hormat dengan cara bicara kerumunan ini? Tidak. Orang2 sedang butuh bahan tertawaan. Tapi dalam dunia yang labil sekali ketika sudah menyangkut tentang perut dan kemakmuran hati, pelakunya justeru merasa mereka sedang tenar pol, bukan sebaliknya sedang dicemooh.
Dua golongan ini, politikus dan artis, memberikan contoh buruk secara massif di sekitar kita. Sementara di kaki gunung es yang tidak terlihat itu, hadirlah kita semua, sebagai pengguna bahasa sehari-hari. Situasinya lebih serius lagi.
Coba cek page saya ini. Dalam setiap postingan, adaaa saja yang tiba2 komen dengan gaya bahasa keren sekali. Komen kemana-mana, dibaca susah, dipahami ribet, lantas tiba di ujung komennya hanya untuk kemudian kita bengong: "orang ini sedang bicara apa?". Apalagi di lapak forum diskusi, website berita, cara bicara tidak nyambung ini lebih banyak lagi. Kenapa mereka melakukannya? Karena ingin terlihat beda, mencari perhatian. Termasuk menggunakan kosakata inggris, kosakata milik politikus itu, yang keliru penulisannya (boleh saja keliru tulis, tapi jangan kebangetan).
Orang2 ingin sekali terlihat bergaya. Alay, adalah contoh raksasa di sekitar kita. Kenapa anak2 sekarang mengganti nama mereka dengan nama2 tidak jelas? Berlebihan sekali? Karena mereka pikir itu keren. Sungguh mereka akan segera ganti detik itu juga, kalau besok satu sekolah mentertawakan. Malu. Isin. Tapi teman2nya ternyata juga melakukan hal yg sama, bahkan semakin aneh, merasa semakin keren gila. Maka bagaimana mungkin mereka merasa itu aneh. Termasuk menggunakan tulisan alay, berkomunikasi dengan alay. Mereka kira itu keren.
Apakah boleh alay? Boleh. Saya sudah mengunci penjelasan di awal tulisan ini: boleh saja memang keluar dari pakem yang ada, keluar dari kaidah berbahasa yg ada, tidak ada larangan, toh bahasa ini menjadi kaya karena kreatifitas penggunanya, akan tetapi pastikan poin pertama sebelumnya dipenuhi: dimengerti oleh kita sendiri dan juga dimengerti lawan bicara kita. Jika alay ini bicara dalam lingkungan mereka sendiri, bisa dimengerti oleh mereka, maka efektiflah bahasa mereka. Tidak masalah. Tapi ketika alay ini tetap bicara dengan gaya bahasa tersebut di dunia yang berbeda, situasi berbeda, tempat berbeda, akan menjadi masalah buat orang lain dan buat mereka sendiri.
Itulah yang terjadi pada saudara Vicky. Saya kira, kalau pendengarnya adalah orang2 sejenis dengan dia. Maka tidak akan ada masalah. Saling mengerti, bahkan bisa bicara nyambung satu sama lain. Saya serius, lima orang seperti saudara Vicky, berada di sebuah ruangan, maka percakapan mereka bisa canggih sekali--meski sy membayangkannya saja sudah horo. Tapi saat gaya bicara Vicky disaksikan massal oleh orang lain, bahasa beliau tentu menjadi aneh dan susah dipahami kebanyakan orang. Dan bukan hanya itu, kegagalan paling besarnya adalah: keinginan tampil keren lewat bahasa. Ini fatal sekali. Karena bahasa itu alat komunikasi, bukan kosmetik atau sepatu kinclong.
Percayalah, jika kalian orang2 yang suka menulis, suka bicara di depan orang banyak, resep paling sukses adalah sebaliknya: semakin sederhana bahasa kita, semakin indah yang kita sampaikan. Sungguh spesial sekali seseorang yang bisa menjelaskan 10 hal rumit, hanya lewat satu kalimat sederhana. Kalimat itu menjadi membekas, menyentuh ke bagian terdalam pendengar atau pembacanya.
Seorang editor berpengalaman, akan tahu sekali sebuah tulisan yang memperumit, berbunga2, diulang2, panjang lebar, padahal sebenarnya bisa digantikan satu kalimat simpel doang: Saya senang dengan pertunangan ini. Nah, jika kalian bercita2 ingin jadi penulis, public speaker, pesohor, selebritis, bahkan politikus hebat seperti Bung Karno, akan sy kembalikan kepada kalian, apakah kalian akan memulainya dengan pemahaman ini atau tidak: orang2 yg memang punya sesuatu yg pantas didengarkan, selalu bisa menyampaikannya dengan cara sesederhana apapun; tapi orang2 yang kosong saja, tidak ada yang pantas dia bicarakan, mau dibungkus dengan gaya bahasa apapun, tetap kosong.
Mungkin demikian.
*Tere Lije
copas status fb bang darwis tere lije
0
2.6K
18
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•108.8KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya