- Beranda
- The Lounge
[Inspirasi] Brand "Just For Kids", yang pernah membuat pemilik nya rela menjual mobil
...
TS
kaskus.donator.
[Inspirasi] Brand "Just For Kids", yang pernah membuat pemilik nya rela menjual mobil
![[Inspirasi] Brand "Just For Kids", yang pernah membuat pemilik nya rela menjual mobil](https://dl.kaskus.id/i373.photobucket.com/albums/oo178/capung_24/WelcomeToMyThread.png)
Spoiler for bukti no repost:
![[Inspirasi] Brand "Just For Kids", yang pernah membuat pemilik nya rela menjual mobil](https://dl.kaskus.id/i.imgur.com/aohfgU0.jpg)
Quote:
Rela Jual Mobil Berbuah Sukses Bisnis Baju Anak
![[Inspirasi] Brand "Just For Kids", yang pernah membuat pemilik nya rela menjual mobil](https://dl.kaskus.id/www.pengusahaindonesia.co.id/pengusahaindonesia/uploads/2013/07/Featured-prof-kid-res72-660x330.png)
Spoiler for DS:
PASANG - surut bagi pengusaha merupakan hal yang biasa. Dengan ketekunan dan keuletan ditambah kerja keras, tidak mustahil sang pengusaha bisa merasakan kesuksesan.
Bahkan, omzet ratusan juta rupiah akan dengan mudah didapatkan. Pengalaman tersebut juga dirasakan Deddy Satriawan, seorang wirausaha muda yang berhasil merintis usahanya dengan menjual produk baju anak. Just For Kids, itulah nama gerai milik Deddy yang kini telah ada beberapa cabang di Jakarta. Deddy bercerita awal mula terjun menjadi wirausaha pada 2007.
Dia bersama temannya merintis usaha baju dewasa yakni Traffic dan You, Me and My Shirt. Keduanya berlokasi di Kemang, Jakarta Selatan. Namun sayangnya, saat itu keberuntungan tidak berpihak pada Deddy. Usaha You, Me and My Shirthanya mampu bertahan selama 1,5 tahun. Kemudian baru pada akhir 2009, Deddy memutuskan untuk mendirikan Just For Kids seorang diri, sehingga awal 2010 Deddy tidak lagi mengurus Traffic karena ingin fokus berbisnis baju anak.
Deddy juga menyadari bahwa pasar baju anak lebih menjanjikan ketimbang baju dewasa.“Saya tetap optimistis untuk berbisnis lagi di jenis usaha yang hampir sama, meski pernah mengalami kerugian,” kata Deddy di salah satu mal di Jakarta beberapa waktu lalu. Gerai Just For Kids yang pertama dibuka di ITC Kuningan.
Waktu itu, Deddy rela menjual mobil pribadinya untuk memperoleh modal awal usahanya yang sekitar Rp50 juta. Uang itu dipergunakan menyewa sekaligus merenovasi gerai sebesar Rp40 juta, sedangkan sisanya untuk membayar karyawan, membeli bahan baku, dan sebagainya. Setelah itu, Deddy membuka gerai di Supermall Karawaci. Gerai itu sifatnya tidak permanen, sehingga tidak menelan banyak biaya.
Sadar respons pembeli cukup baik, Deddy kembali membuka gerai di Pondok Indah Mall (PIM) pada Februari 2011 dan Mal Metropolitan Bekasi pada Juli 2011. Gerai terbaru Just For Kids berlokasi di Mall of Indonesia (MoI) Kelapa Gading yang dibuka pada Agustus 2011. Tak hanya itu, Deddy juga berhasil masuk Metro Department Store.
Bahkan, tahun ini Deddy menargetkan akan membuka delapan gerai di Jakarta. Tahun depan Deddy juga berencana untuk membidik pasar di luar Jakarta, yakni Bali dan Sumatera. “Targetnya 10 gerai dalam satu tahun. Strategi promosi dan posisitioning brand Just For Kids. Sebenarnya melalui kerja sama dengan Metro Department Store itu merupakan salah satu strategi marketing supaya tidak kehilangan pasar, meski penghasilan di Metro cuma 30 persen dibanding total penghasilan satu gerai,” kata Deddy.
Setelah Lebaran tahun ini, Deddy akan menjadikan salah satu artis cilik sebagai brand ambassador Just For Kids. Selain itu, Deddy juga akan memindahkan gerai Just For Kids di ITC Kuningan ke mal lain yang bersegmen menengah ke atas. Namun,Deddy mengungkapkan belum berencana untuk merambah ke pasar ekspor. Deddy mengaku sangat selektif dalam memilih lokasi gerai Just For Kids. Letak gerai sangat menentukan penjualan.
Gerai Just For Kids di ITC Kuningan terletak di bagian belakang, sehingga jarang dilewati dan dilirik pembeli. Penjualan di gerai ITC Kuningan hanya mampu mencapai Rp30 juta per bulan, sedangkan gerai lain yang terletak di bagian depan mampu meraih keuntungan hingga dua kali lipat.
“Penjualan di setiap gerai itu berbeda. Karena ternyata memang benar sih, posisi dan lokasi gerai itu sangat menentukan penjualan. Untuk sewa tempat, saya lebih pilih ada di depan dibandingkan belakang, meski lebih mahal. Beda posisi itu bisa beda keuntungan hingga tiga kali lipat karena progresnya cepat,” jelas pria berusia 32 tahun ini.
Kondisi berbeda terjadi di gerai PIM yang mampu meraup omzet hingga sekitar Rp150 juta per bulan. Bahkan, momen tertentu seperti Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru, mampu mendongkrak penjualan hingga 100 persen.
“Di PIM, segmen kami adalah menengah ke atas, sedangkan di ITC Kuningan itu menengah ke bawah. Harga sewa di PIM lebih mahal, tapi penjualan juga lebih besar enam kali lipat karena harga produk yang dijual lebih mahal. Jadi, di ITC Kuningan terpaksa ditutup sementara karena positioning- nya sudah enggak cocok lagi,”papar Deddy.
Ketika beralih ke segmen berbeda, Deddy melakukan berbagai strategi penjualan yang baru demi memanjakan pelanggannya, seperti mengubah kemasan shopping bag, meningkatkan kualitas bahan baju, hingga memberikan pelatihan karyawan sehingga bisa memberikan pelayanan yang lebih baik.“Produk yang dijual sesuai dengan karakter konsumen di wilayah gerai. Intinya, walaupun brand lokal, standarnya enggak kalah dengan brand luar negeri,”ucapnya.
Saat ini biaya produksi adalah sebesar 30 persen dari harga jual. “Jadi, harga jual yakni 300 persen. Porsi harga produksi 30 persen dari harga jual. Angka itu belum termasuk sewa tempat dan karyawan. Awalnya, karyawan saya berjumlah sekitar lima orang, sekarang sudah bertambah menjadi 30 orang,” katanya.
Kesuksesan Just For Kids hingga saat ini tidak terlepas dari inspirasi yang didapat Deddy Satriawan dari anaknya sendiri. Ketika anak pertamanya lahir pada 2008, Deddy kesulitan untuk mendapatkan baju anak yang berkualitas dan fashionable.
“Susah banget cari baju anak kecil yang bagus, kreatif, dan tidak standar. Selain itu harganya mahal,” kata Deddy. Hal itu membuat dirinya berinisiatif membuat baju sendiri untuk anaknya. Hasilnya ternyata banyak orang yang suka. Semenjak itulah dia mencoba membuat baju anak dan menjualnya. Sebelum terjun menjadi wirausaha, Deddy sempat bekerja sebagai konsultan desain grafis di sebuah perusahaan periklanan selama lima tahun.
Saat ini, Deddy mengaku mau fokus untuk mengurus Just For Kids dan belum ada keinginan untuk kembali menjalani profesi yang dulu. “Pasar baju anak lebih luas dan menjanjikan. Selain itu, daya belinya juga lebih bagus,” ujarnya. Ke depan, kata Deddy, fashion akan terus berubah. Just For Kids akan terus berkembang dan menghasilkan sesuatu yang lebih kreatif agar pembeli tidak jenuh dengan produk yang ditawarkan.
Sesuai dengan slogan Just For Kids, yakni where kids meet Hollywood. “Anak-anak harus keliatan lebih keren dan bisa menjadi seperti yang mereka mau walaupun masih di usia dini,”jelasnya. Deddy menambahkan, Just For Kids juga banyak menerima pesanan dari perusahaan multinasional untuk memproduksi barang promosi seperti kaus, kemeja, sepatu, topi.
“Adapun klien reguler kita misalnya adalah Sony Indonesia, Bosch, Shell, BNI, Bumiputera,Plaza Indonesia,IBM,Dell,”tandas Deddy. Ciri khas dari Just For Kids adalah tulisan-tulisan kreatif yang disablon di atas baju anak. Saat ini baju yang diproduksi adalah untuk anak berusia 1–10 tahun dan dibanderol dengan harga Rp79.000–129.000 per baju.
Deddy juga memproduksi barang khusus anak lainnya seperti sepatu, celana jins, blazer, dan topi. Selain anak, Deddy juga memproduksi baju khusus keluarga (familyT-shirts) yakni untuk ayah, ibu,dan anak dengan desain yang sama seharga Rp299.000 per satu set. Tak hanya itu, Deddy juga berencana untuk memproduksi tas anak dan jumper untuk bayi.
SUMBER
Bahkan, omzet ratusan juta rupiah akan dengan mudah didapatkan. Pengalaman tersebut juga dirasakan Deddy Satriawan, seorang wirausaha muda yang berhasil merintis usahanya dengan menjual produk baju anak. Just For Kids, itulah nama gerai milik Deddy yang kini telah ada beberapa cabang di Jakarta. Deddy bercerita awal mula terjun menjadi wirausaha pada 2007.
Dia bersama temannya merintis usaha baju dewasa yakni Traffic dan You, Me and My Shirt. Keduanya berlokasi di Kemang, Jakarta Selatan. Namun sayangnya, saat itu keberuntungan tidak berpihak pada Deddy. Usaha You, Me and My Shirthanya mampu bertahan selama 1,5 tahun. Kemudian baru pada akhir 2009, Deddy memutuskan untuk mendirikan Just For Kids seorang diri, sehingga awal 2010 Deddy tidak lagi mengurus Traffic karena ingin fokus berbisnis baju anak.
Deddy juga menyadari bahwa pasar baju anak lebih menjanjikan ketimbang baju dewasa.“Saya tetap optimistis untuk berbisnis lagi di jenis usaha yang hampir sama, meski pernah mengalami kerugian,” kata Deddy di salah satu mal di Jakarta beberapa waktu lalu. Gerai Just For Kids yang pertama dibuka di ITC Kuningan.
Waktu itu, Deddy rela menjual mobil pribadinya untuk memperoleh modal awal usahanya yang sekitar Rp50 juta. Uang itu dipergunakan menyewa sekaligus merenovasi gerai sebesar Rp40 juta, sedangkan sisanya untuk membayar karyawan, membeli bahan baku, dan sebagainya. Setelah itu, Deddy membuka gerai di Supermall Karawaci. Gerai itu sifatnya tidak permanen, sehingga tidak menelan banyak biaya.
Sadar respons pembeli cukup baik, Deddy kembali membuka gerai di Pondok Indah Mall (PIM) pada Februari 2011 dan Mal Metropolitan Bekasi pada Juli 2011. Gerai terbaru Just For Kids berlokasi di Mall of Indonesia (MoI) Kelapa Gading yang dibuka pada Agustus 2011. Tak hanya itu, Deddy juga berhasil masuk Metro Department Store.
Bahkan, tahun ini Deddy menargetkan akan membuka delapan gerai di Jakarta. Tahun depan Deddy juga berencana untuk membidik pasar di luar Jakarta, yakni Bali dan Sumatera. “Targetnya 10 gerai dalam satu tahun. Strategi promosi dan posisitioning brand Just For Kids. Sebenarnya melalui kerja sama dengan Metro Department Store itu merupakan salah satu strategi marketing supaya tidak kehilangan pasar, meski penghasilan di Metro cuma 30 persen dibanding total penghasilan satu gerai,” kata Deddy.
Setelah Lebaran tahun ini, Deddy akan menjadikan salah satu artis cilik sebagai brand ambassador Just For Kids. Selain itu, Deddy juga akan memindahkan gerai Just For Kids di ITC Kuningan ke mal lain yang bersegmen menengah ke atas. Namun,Deddy mengungkapkan belum berencana untuk merambah ke pasar ekspor. Deddy mengaku sangat selektif dalam memilih lokasi gerai Just For Kids. Letak gerai sangat menentukan penjualan.
Gerai Just For Kids di ITC Kuningan terletak di bagian belakang, sehingga jarang dilewati dan dilirik pembeli. Penjualan di gerai ITC Kuningan hanya mampu mencapai Rp30 juta per bulan, sedangkan gerai lain yang terletak di bagian depan mampu meraih keuntungan hingga dua kali lipat.
“Penjualan di setiap gerai itu berbeda. Karena ternyata memang benar sih, posisi dan lokasi gerai itu sangat menentukan penjualan. Untuk sewa tempat, saya lebih pilih ada di depan dibandingkan belakang, meski lebih mahal. Beda posisi itu bisa beda keuntungan hingga tiga kali lipat karena progresnya cepat,” jelas pria berusia 32 tahun ini.
Kondisi berbeda terjadi di gerai PIM yang mampu meraup omzet hingga sekitar Rp150 juta per bulan. Bahkan, momen tertentu seperti Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru, mampu mendongkrak penjualan hingga 100 persen.
“Di PIM, segmen kami adalah menengah ke atas, sedangkan di ITC Kuningan itu menengah ke bawah. Harga sewa di PIM lebih mahal, tapi penjualan juga lebih besar enam kali lipat karena harga produk yang dijual lebih mahal. Jadi, di ITC Kuningan terpaksa ditutup sementara karena positioning- nya sudah enggak cocok lagi,”papar Deddy.
Ketika beralih ke segmen berbeda, Deddy melakukan berbagai strategi penjualan yang baru demi memanjakan pelanggannya, seperti mengubah kemasan shopping bag, meningkatkan kualitas bahan baju, hingga memberikan pelatihan karyawan sehingga bisa memberikan pelayanan yang lebih baik.“Produk yang dijual sesuai dengan karakter konsumen di wilayah gerai. Intinya, walaupun brand lokal, standarnya enggak kalah dengan brand luar negeri,”ucapnya.
Saat ini biaya produksi adalah sebesar 30 persen dari harga jual. “Jadi, harga jual yakni 300 persen. Porsi harga produksi 30 persen dari harga jual. Angka itu belum termasuk sewa tempat dan karyawan. Awalnya, karyawan saya berjumlah sekitar lima orang, sekarang sudah bertambah menjadi 30 orang,” katanya.
Kesuksesan Just For Kids hingga saat ini tidak terlepas dari inspirasi yang didapat Deddy Satriawan dari anaknya sendiri. Ketika anak pertamanya lahir pada 2008, Deddy kesulitan untuk mendapatkan baju anak yang berkualitas dan fashionable.
“Susah banget cari baju anak kecil yang bagus, kreatif, dan tidak standar. Selain itu harganya mahal,” kata Deddy. Hal itu membuat dirinya berinisiatif membuat baju sendiri untuk anaknya. Hasilnya ternyata banyak orang yang suka. Semenjak itulah dia mencoba membuat baju anak dan menjualnya. Sebelum terjun menjadi wirausaha, Deddy sempat bekerja sebagai konsultan desain grafis di sebuah perusahaan periklanan selama lima tahun.
Saat ini, Deddy mengaku mau fokus untuk mengurus Just For Kids dan belum ada keinginan untuk kembali menjalani profesi yang dulu. “Pasar baju anak lebih luas dan menjanjikan. Selain itu, daya belinya juga lebih bagus,” ujarnya. Ke depan, kata Deddy, fashion akan terus berubah. Just For Kids akan terus berkembang dan menghasilkan sesuatu yang lebih kreatif agar pembeli tidak jenuh dengan produk yang ditawarkan.
Sesuai dengan slogan Just For Kids, yakni where kids meet Hollywood. “Anak-anak harus keliatan lebih keren dan bisa menjadi seperti yang mereka mau walaupun masih di usia dini,”jelasnya. Deddy menambahkan, Just For Kids juga banyak menerima pesanan dari perusahaan multinasional untuk memproduksi barang promosi seperti kaus, kemeja, sepatu, topi.
“Adapun klien reguler kita misalnya adalah Sony Indonesia, Bosch, Shell, BNI, Bumiputera,Plaza Indonesia,IBM,Dell,”tandas Deddy. Ciri khas dari Just For Kids adalah tulisan-tulisan kreatif yang disablon di atas baju anak. Saat ini baju yang diproduksi adalah untuk anak berusia 1–10 tahun dan dibanderol dengan harga Rp79.000–129.000 per baju.
Deddy juga memproduksi barang khusus anak lainnya seperti sepatu, celana jins, blazer, dan topi. Selain anak, Deddy juga memproduksi baju khusus keluarga (familyT-shirts) yakni untuk ayah, ibu,dan anak dengan desain yang sama seharga Rp299.000 per satu set. Tak hanya itu, Deddy juga berencana untuk memproduksi tas anak dan jumper untuk bayi.
SUMBER
Quote:
Mengukir rupiah dari kaus bocah berslogan unik
![[Inspirasi] Brand "Just For Kids", yang pernah membuat pemilik nya rela menjual mobil](https://dl.kaskus.id/www.pilarsulut.com/images/dedi.jpg)
Spoiler for DS:
Dunia anak membuka jalan bagi Deddy Satriawan menjadi pengusaha di bidang fashion. Siapa sangka, mantan atlet basket ini sukses mencetak rupiah dari penjualan kaus bocah yang unik. Slogan-slogan seperti: My Daddy is Rich; sweet like candy; i want i cry i get; mom like me, i love daddy’s money; dan aneka slogan menggelitik lainnya yang tertera di kaus bocah mampu menarik minat pembeli. Kaus berslogan karya Deddy itu diberi label Just For Kids.
Dengan kaus berslogan ini, lelaki kelahiran Padang, 18 April 1979, tersebut mampu mereguk omzet Rp 600 juta hingga Rp 700 juta per bulan. Jumlah pakaian yang terjual sekitar 5.000 potong hingga 7.000 potong per bulan. Sejak merintis bisnis pakaian anak di tahun 2009 hingga saat ini, Deddy sudah memiliki lima toko pakaian anak bermerek Just For Kids. Lokasinya tersebar di ITC Kuningan, Pondok Indah Mall, MM Bekasi, Mall of Indonesia Kelapa Gading, dan di kota Casablanca. “Sejak awal berbisnis, saya memang sudah memiliki target market sendiri, yaitu anak-anak dengan segmen pembeli C dan B plus,” tutur lelaki dengan tubuh jangkung ini.
Sebelum sukses dengan merek sendiri, sejatinya lelaki yang pernah berlaga di Kompetisi Bola Basket Utama (Kobatama) ini sempat berjualan pakaian impor. “Justru awalnya, saya buka toko di ITC Kuningan, jualan pakaian khusus dewasa. Kulakan di Bangkok,” kenang bapak tiga anak ini. Modal yang dikeluarkan Deddy ketika mengawali bisnis ini pada 2006 sekitar Rp 40 juta.
Bisnis pakaian dipilih Deddy karena dia sangat menyukai dunia fashion. “Saya tidak bisa menjahit, tapi suka desain,” ujar suami dari Rani Safitri ini. Sebelum memutuskan berbisnis, Deddy sempat bekerja account executive di sebuah perusahaan periklanan. Siang kerja, malam kuliah di Perbanas. Sebelum kuliah di Perbanas, Deddy sempat kuliah di jurusan studi bisnis internasional Universitas Padjadjaran, Bandung.
Sebelum berstatus wirausaha, Deddy bekerja di perusahaan iklan selama lima tahun. Karena dorongan sang ayah, Deddy memutuskan untuk keluar kerja dan memulai usaha. Semula Deddy berat meninggalkan pekerjaan. Maklum, dia sudah memiliki jabatan sebagai account manager dengan penghasilan Rp 5 juta per bulan, kala itu. “Dengan tabungan selama kerja, saya putuskan untuk berdagang pakaian dewasa yang limited,” kenang dia.
Belum setahun menjalankan bisnis, Deddy harus dihadapkan dengan persaingan yang semakin ketat. Kala itu tiket penerbangan ke Bangkok semakin terjangkau, banyak orang Indonesia yang memilih belanja langsung ke Negeri Gajah Putih itu. Alhasil, penjualan pakaian Deddy, yang memang diimpor dari Bangkok, mulai turun.
Dari pengalaman itu, lelaki yang murah senyum ini tidak putus asa. Justru terbetik niatnya membuat merek baju sendiri. Usaha ini cukup berhasil. Deddy sampai memiliki lima brand pakaian yang semuanya khusus dewasa. “Sampai pada tahun 2009 saya kesulitan mencari pakaian yang trendi untuk anak. Kalau pun ada, harganya mahal-mahal,” kata dia.
Deddy pun mencoba membuat pakaian anak dan dilabeli Just For Kids. Ternyata respons pasar bagus. Dari kaus, produk yang dijual bertambah. Ada celana, topi, dan sepatu anak. “Awalnya kami produksi dari hulu hingga hilir. Karena penjualan meningkat, kami kewalahan. Akhirnya untuk jahit dan sablon kami bekerjasama dengan rekanan,” tutur Deddy.
Musti bersabar
Untuk meningkatkan penjualan, Deddy mencoba menambah toko. “Agar membuka toko di mal ternyata tidak mudah. Saya bahkan harus menunggu selama satu tahun sebelum bisa masuk ke mal,” katanya. Ada satu mal incaran yang hingga kini masih belum bisa ditembus Deddy. Padahal Deddy sudah menunggu selama dua tahun. Deddy bilang, dalam proses waiting list untuk masuk ke pusat-pusat perbelanjaan, dia aktif mengikuti bazar. Dari situlah merek Just For Kids makin terkerek.
Deddy menyadari, produk fashion sangat mudah ditiru pesaing. Namun, menurut dia, itu bukan hambatan utama di bisnis ini. “Kuncinya, brand kita kuat dan dengan desain yang tidak monoton. Sehingga tidak mudah ditiru,” tandasnya.
Deddy yang saat ini sudah memiliki 80 karyawan tidak mau berpuas diri dengan pencapaiannya di bisnis pakaian anak. Tahun 2012 dia juga memproduksi pakaian dewasa berslogan dengan label Typoerror. Hasilnya juga luar biasanya, dalam sebulan Typoerror bisa menghasilkan omzet Rp 600 juta.“Just For Kids dan Typo-error memiliki toko sendiri-sendiri. Jika ditotal sekarang ada 11 toko,” katanya.
Tahun ini Deddy merambah bisnis kerajinan. Aneka kerajinan yang dijual Deddy akan berlabel Stripe. Produk yang dijual antara lain tas, dompet, wadah gadget dan produk lainnya yang didesain sangat unik. “Dunia saya seperti memang di dunia fashion. Soalnya dulu sempat mau buka usaha kuliner, tapi gagal,” tutur dia.
SUMBER
Diubah oleh kaskus.donator. 10-09-2013 17:41
0
9.6K
Kutip
26
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•109.1KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya