- Beranda
- The Lounge
menghargai yang TIDAK PUASA
...
TS
alpq
menghargai yang TIDAK PUASA
ane nemu artikel ini d website tetangga,komen agan2 sekalian gimana neh?

Seringkali kamu dan saya sebagai muslim yang berpuasa. Minta untuk dihargai selama bulan puasa kepada pihak lain yang tidak menjalankan ibadah itu. Tapi apakah kita –orang yang berpuasa– sudah menghargai mereka yang tidak berpuasa. Dalam suatu hubungan baik itu percintaan atau antar individu, saling harga-menghargai itu memang baik. Tapi kadang sebagai orang yang dominan, kita hanya inginnya dihargai saja. Contohlah di beberapa tempat yang melarang warteg untuk buka dari siang. Lah, terus yang nggak puasa makannya gimana? Harus makan ke restoran cepat saji di mall yang harganya jelas lebih mahal dari pada di warteg. Kalau memang orang itu niat puasanya baik. Aturannya, mau godaan kayak apapun juga nggak bakalan batal puasa. Meski, dengan adanya warteg yang buka pada siang hari makin memperbesar resiko untuk batal karena adanya kesempatan dan tempat buat batal. Ingatlah kata bang Napi: “Kejahatan terjadi bukan karena ada niat si pelaku, tapi juga karena juga adanya kesempatan.” Tapi apakah dengan melarang warung-warung makanan untuk buka pada siang hari di bulan puasa, yang batal jadi makin sedikit? Setahu saya sih tidak ya. Yang emang nggak begitu niat puasanya sih batal-batal aja. Sahur sih sahur, pas makan siang udah batal, pas buka puasa ikutan buka puasa juga. Munafik sekali orang seperti ini. Dan, setahu saya yang di warteg itu kebanyakan yang makan malahan muslim juga. Jadi apakah benar orang yang tidak berpuasa itu tidak menghargai orang yang berpuasa? Atau malah kita yang seharusnya berpuasalah yang tidak menghargai orang yang berpuasa? Yang kadang menyebalkan dari penutupan warung-warung makanan itu dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Dan, yang melakukan kekerasan di bulan puasa pada siang hari itu adalah seorang muslim juga. Bukannya puasa itu menahan hawa nafsu yang termasuk diantaranya itu adalah menahan amarah. Orang sekarang itu memang banyak ndablek. Bikin sesuatu itu jadi kebolak-balik. Yang benar jadi salah yang salah jadi benar. Islam sebenarnya mengajarkan kita untuk santun, tapi banyak orang sekarang malah berprinsip: senggol dikit bambu melayang atas nama Islam. Saya terkadang ragu apakah sekelompok orang-orang itu memang benar-benar membela Islam? Dan apakah memang Islam perlu untuk dibela? Puasa itu memang lapar, memang haus. Tapi kita tidak harus memaksakan orang yang tidak puasa untuk ikut-ikutan merasakan apa yang kita rasakan. Karena, kita juga belum tentu mau merasakan apa yang agama mereka haruskan untuk mereka. Sebagai seorang muslim, menurut saya baik sekali kalau kita menghormati orang-orang yang tidak puasa. Karena sebagaimana yang pernah diajarkan dari kecil: kalau kamu mau dihargai, maka hargailah orang lain dulu. (@iniyona)
sumber:http://kvltmagz.com/menghargai-yang-tidak-puasa/






bagi cendolnya donk gan









Seringkali kamu dan saya sebagai muslim yang berpuasa. Minta untuk dihargai selama bulan puasa kepada pihak lain yang tidak menjalankan ibadah itu. Tapi apakah kita –orang yang berpuasa– sudah menghargai mereka yang tidak berpuasa. Dalam suatu hubungan baik itu percintaan atau antar individu, saling harga-menghargai itu memang baik. Tapi kadang sebagai orang yang dominan, kita hanya inginnya dihargai saja. Contohlah di beberapa tempat yang melarang warteg untuk buka dari siang. Lah, terus yang nggak puasa makannya gimana? Harus makan ke restoran cepat saji di mall yang harganya jelas lebih mahal dari pada di warteg. Kalau memang orang itu niat puasanya baik. Aturannya, mau godaan kayak apapun juga nggak bakalan batal puasa. Meski, dengan adanya warteg yang buka pada siang hari makin memperbesar resiko untuk batal karena adanya kesempatan dan tempat buat batal. Ingatlah kata bang Napi: “Kejahatan terjadi bukan karena ada niat si pelaku, tapi juga karena juga adanya kesempatan.” Tapi apakah dengan melarang warung-warung makanan untuk buka pada siang hari di bulan puasa, yang batal jadi makin sedikit? Setahu saya sih tidak ya. Yang emang nggak begitu niat puasanya sih batal-batal aja. Sahur sih sahur, pas makan siang udah batal, pas buka puasa ikutan buka puasa juga. Munafik sekali orang seperti ini. Dan, setahu saya yang di warteg itu kebanyakan yang makan malahan muslim juga. Jadi apakah benar orang yang tidak berpuasa itu tidak menghargai orang yang berpuasa? Atau malah kita yang seharusnya berpuasalah yang tidak menghargai orang yang berpuasa? Yang kadang menyebalkan dari penutupan warung-warung makanan itu dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Dan, yang melakukan kekerasan di bulan puasa pada siang hari itu adalah seorang muslim juga. Bukannya puasa itu menahan hawa nafsu yang termasuk diantaranya itu adalah menahan amarah. Orang sekarang itu memang banyak ndablek. Bikin sesuatu itu jadi kebolak-balik. Yang benar jadi salah yang salah jadi benar. Islam sebenarnya mengajarkan kita untuk santun, tapi banyak orang sekarang malah berprinsip: senggol dikit bambu melayang atas nama Islam. Saya terkadang ragu apakah sekelompok orang-orang itu memang benar-benar membela Islam? Dan apakah memang Islam perlu untuk dibela? Puasa itu memang lapar, memang haus. Tapi kita tidak harus memaksakan orang yang tidak puasa untuk ikut-ikutan merasakan apa yang kita rasakan. Karena, kita juga belum tentu mau merasakan apa yang agama mereka haruskan untuk mereka. Sebagai seorang muslim, menurut saya baik sekali kalau kita menghormati orang-orang yang tidak puasa. Karena sebagaimana yang pernah diajarkan dari kecil: kalau kamu mau dihargai, maka hargailah orang lain dulu. (@iniyona)
sumber:http://kvltmagz.com/menghargai-yang-tidak-puasa/






bagi cendolnya donk gan








0
1.9K
14
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•109.2KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya