- Beranda
- The Lounge
Jengkel dan Miris Gan...
...
TS
penggunavega
Jengkel dan Miris Gan...
Jakarta - Sejak kapan menuntut hak dianggap sebagai
"perilaku memalukan"? Sejak Hinca Pandjaitan dan Joko
Driyono kembali jadi pengurus PSSI.
Seperti yang sudah diketahui, beberapa pemain PSMS Medan
yang bermain di bawah PT Liga Indonesia beberapa waktu
terakhir sedang memperjuangkan haknya di Jakarta, tepatnya
di kantor PSSI. Mereka meminta PSSI untuk membantu usaha
mereka mendapatkan 10 bulan gaji yang tidak dibayarkan
manajemen PSMS.
Saya sempat melihat mereka duduk-duduk sambil
membentangkan spanduk di depan kantor PSSI beberapa
saat jelang pertandingan Radja Nainggolan cs. Untuk
bertahan hidup, mereka bekerja serabutan: dari jadi tukang
parkir sampai menjaga toilet umum.
Apa yang mereka dapat? Ancaman sanksi dari Komisi
Disiplin.
Simaklah pernyataan yang diberikan Joko Driyono terkait
tuntutan pemain-pemain PSMS itu: "Silakan laporkan, tidak
perlu semua itu diekspresikan. Itu malah buat malu
sepakbola. … Jangan bersikap begitu, main terus meskipun
tidak digaji, tapi ujung-ujungnya protes ke PSSI. Kalau mau
cinta profesi jadikanlah sepakbola kebanggaan meski gaji
tidak turun-turun. Tapi kalau tidak mau tidak digaji, lebih baik
setop bermain untuk klub itu, jangan menggadaikan
profesionalisme.”( Metrotvnew s , 29 Juni 2013)
Pernyataan Hinca Pandjaitan malah lebih menyedihkan lagi:
"Kami menilai pemain PSMS itu telah berperilaku buruk.
Mereka sudah menyampaikan sesuatu dengan kata-kata kasar
secara tulisan. Itu adalah tindakan tidak lazim. Itu tindakan
melenceng jauh. Karena itu tidak dalam kategori jalan yang
disediakan sepakbola. Pemain tidak boleh mengotori
kolomnya sendiri. Menyebarkan informasi buruk. Kami di sini
masuk dalam wilayah-wilayah perilaku buruk pemain. Yang
mengambil cara di luar mekanisme olahraga."
Saya tidak tahu apa yang dimaksud Joko Driyono dengan
"menggadaikan profesionalisme". Saya semakin tidak tahu
yang dimaksud Joko Driyono dengan "membuat malu
sepakbola".
Dalam bayangan saya, jika seorang pemain ikut kampanye
politisi ketimbang latihan itu baru patut diduga "menggadaikan
profesionalisme". Dan mana yang lebih memalukan sepakbola
Indonesia sebenarnya: pemain PSMS menuntut haknya atau
tersiarnya kabar ke dunia internasional ihwal Diego Mendieta
yang tak digaji dan harus menemui ajalnya secara
mengenaskan dan tak terurus. Joko Driyono pasti tahu Diego
Mendieta main di liga yang mana waktu itu.
Menyedihkan rasanya mendengar Joko bisa berkata
"jadikanlah sepakbola kebanggaan meski gaji tidak turun-
turun”. Pernyataan macam itu lebih tepat diucapkan oleh
seorang major di tribun atau pentolan suporter, bukan oleh
orang yang bertahun-tahun mengampu jabatan sebagai Chief
Executive Officer (CEO) liga, yang dari namanya saja sudah
jelas bertanggungjawab [salah satunya] dalam soal aspek
bisnis sepakbola.
Saya tambah pusing ketika mencoba memahami pernyataan
Hinca tentang "menyebarkan informasi buruk", apalagi untuk
pernyataannya tentang "mengotori kolamnya sendiri".
Apakah Hinca ingin agar setiap pemain yang tidak dipenuhi
haknya terus hanya duduk diam-diam saja, sampai akhirnya
mati dengan sengsara seperti Diego Mendieta atau Bruno
Zandonadi? Bukankah "kolam" sepakbola Indonesia itu akan
kotor oleh kelakuan lancung pengaturan skor, pemukulan
wasit, tim bertanding hanya dengan 7 pemain dan bukan oleh
pemain yang menuntut haknya?
Jika Joko Driyono dan Hinca Pandjaitan marah atau merasa
malu karena para pemain PSMS berdemo di depan kantor
PSSI dan bukan menggunakan "mekanisme olahraga",
memangnya "mekanisme olahraga" apa yang sudah diberikan
pada Persis Solo versi PT LI yang membiarkan Diego
Mendieta mati dengan menyedihkan? Sanksi? Persis Solo
versi PT LI ini bahkan dengan mudah lenggang kangkung ikut
kompetisi Divisi Utama PT LI musim ini -- sekan mereka tak
pernah "mengotori kolam sepakbola" [meminjam istilah
Hinca] dan seakan tak pernah "bikin malu sepakbola" [dalam
istilahnya Joko Driyono].
Bagi Hinca atau Joko Driyono, "mekanisme olahraga" itu
mungkin salah satunya adalah [kembali mengutip Joko] "kalau
tidak mau tidak digaji, lebih baik setop bermain untuk klub
itu". Lha , memangnya kalau mogok bermain lantas gaji turun?
Hampir semua pemain tahu, jika mereka mogok bermain dan
kabur dari klub, urusan tunggakan gaji pasti akan lebih sulit
lagi diurus.
Orang dengan status media-darling [bahkan sekarang punya
media sendiri] seperti Bambang Pamungkas pun sampai
sekarang entah apakah tunggakan gajinya sudah dilunasi
Persija atau belum begitu melakukan perlawanan sesuai
"mekanisme olahraga" ala Joko Driyono ini. Apalagi pemain
dari level "anonim" macam pemain-pemain PSMS ini.
Kebobobrokan sepakbola Indonesia dalam 10 tahun terakhir
ini memang sudah luar biasa. Maka cara-cara biasa boleh
jadi memang tak akan cukup melumerkan hati para pejabat
klub atau federasi. Bahkan kematian seorang Mendieta pun
tak cukup bikin mereka jera.
Diego Mendieta adalah tugu peringatan: bahwa sepakbola
Indonesia pernah melakukan kezaliman yang tak terperi. Dan
Mendieta juga kasih contoh pedih bagaimana caranya agar
tunggakan gaji dilunasi: mati dulu, tunggakan pasti dilunasi.
Ataukah kita semua sudah lupa dengan Mendieta. Bolehlah
kita bertanya, berapa panjang umur ingatan mereka
sebenarnya?
Sumber : detik..com
"perilaku memalukan"? Sejak Hinca Pandjaitan dan Joko
Driyono kembali jadi pengurus PSSI.
Seperti yang sudah diketahui, beberapa pemain PSMS Medan
yang bermain di bawah PT Liga Indonesia beberapa waktu
terakhir sedang memperjuangkan haknya di Jakarta, tepatnya
di kantor PSSI. Mereka meminta PSSI untuk membantu usaha
mereka mendapatkan 10 bulan gaji yang tidak dibayarkan
manajemen PSMS.
Saya sempat melihat mereka duduk-duduk sambil
membentangkan spanduk di depan kantor PSSI beberapa
saat jelang pertandingan Radja Nainggolan cs. Untuk
bertahan hidup, mereka bekerja serabutan: dari jadi tukang
parkir sampai menjaga toilet umum.
Apa yang mereka dapat? Ancaman sanksi dari Komisi
Disiplin.
Simaklah pernyataan yang diberikan Joko Driyono terkait
tuntutan pemain-pemain PSMS itu: "Silakan laporkan, tidak
perlu semua itu diekspresikan. Itu malah buat malu
sepakbola. … Jangan bersikap begitu, main terus meskipun
tidak digaji, tapi ujung-ujungnya protes ke PSSI. Kalau mau
cinta profesi jadikanlah sepakbola kebanggaan meski gaji
tidak turun-turun. Tapi kalau tidak mau tidak digaji, lebih baik
setop bermain untuk klub itu, jangan menggadaikan
profesionalisme.”( Metrotvnew s , 29 Juni 2013)
Pernyataan Hinca Pandjaitan malah lebih menyedihkan lagi:
"Kami menilai pemain PSMS itu telah berperilaku buruk.
Mereka sudah menyampaikan sesuatu dengan kata-kata kasar
secara tulisan. Itu adalah tindakan tidak lazim. Itu tindakan
melenceng jauh. Karena itu tidak dalam kategori jalan yang
disediakan sepakbola. Pemain tidak boleh mengotori
kolomnya sendiri. Menyebarkan informasi buruk. Kami di sini
masuk dalam wilayah-wilayah perilaku buruk pemain. Yang
mengambil cara di luar mekanisme olahraga."
Saya tidak tahu apa yang dimaksud Joko Driyono dengan
"menggadaikan profesionalisme". Saya semakin tidak tahu
yang dimaksud Joko Driyono dengan "membuat malu
sepakbola".
Dalam bayangan saya, jika seorang pemain ikut kampanye
politisi ketimbang latihan itu baru patut diduga "menggadaikan
profesionalisme". Dan mana yang lebih memalukan sepakbola
Indonesia sebenarnya: pemain PSMS menuntut haknya atau
tersiarnya kabar ke dunia internasional ihwal Diego Mendieta
yang tak digaji dan harus menemui ajalnya secara
mengenaskan dan tak terurus. Joko Driyono pasti tahu Diego
Mendieta main di liga yang mana waktu itu.
Menyedihkan rasanya mendengar Joko bisa berkata
"jadikanlah sepakbola kebanggaan meski gaji tidak turun-
turun”. Pernyataan macam itu lebih tepat diucapkan oleh
seorang major di tribun atau pentolan suporter, bukan oleh
orang yang bertahun-tahun mengampu jabatan sebagai Chief
Executive Officer (CEO) liga, yang dari namanya saja sudah
jelas bertanggungjawab [salah satunya] dalam soal aspek
bisnis sepakbola.
Saya tambah pusing ketika mencoba memahami pernyataan
Hinca tentang "menyebarkan informasi buruk", apalagi untuk
pernyataannya tentang "mengotori kolamnya sendiri".
Apakah Hinca ingin agar setiap pemain yang tidak dipenuhi
haknya terus hanya duduk diam-diam saja, sampai akhirnya
mati dengan sengsara seperti Diego Mendieta atau Bruno
Zandonadi? Bukankah "kolam" sepakbola Indonesia itu akan
kotor oleh kelakuan lancung pengaturan skor, pemukulan
wasit, tim bertanding hanya dengan 7 pemain dan bukan oleh
pemain yang menuntut haknya?
Jika Joko Driyono dan Hinca Pandjaitan marah atau merasa
malu karena para pemain PSMS berdemo di depan kantor
PSSI dan bukan menggunakan "mekanisme olahraga",
memangnya "mekanisme olahraga" apa yang sudah diberikan
pada Persis Solo versi PT LI yang membiarkan Diego
Mendieta mati dengan menyedihkan? Sanksi? Persis Solo
versi PT LI ini bahkan dengan mudah lenggang kangkung ikut
kompetisi Divisi Utama PT LI musim ini -- sekan mereka tak
pernah "mengotori kolam sepakbola" [meminjam istilah
Hinca] dan seakan tak pernah "bikin malu sepakbola" [dalam
istilahnya Joko Driyono].
Bagi Hinca atau Joko Driyono, "mekanisme olahraga" itu
mungkin salah satunya adalah [kembali mengutip Joko] "kalau
tidak mau tidak digaji, lebih baik setop bermain untuk klub
itu". Lha , memangnya kalau mogok bermain lantas gaji turun?
Hampir semua pemain tahu, jika mereka mogok bermain dan
kabur dari klub, urusan tunggakan gaji pasti akan lebih sulit
lagi diurus.
Orang dengan status media-darling [bahkan sekarang punya
media sendiri] seperti Bambang Pamungkas pun sampai
sekarang entah apakah tunggakan gajinya sudah dilunasi
Persija atau belum begitu melakukan perlawanan sesuai
"mekanisme olahraga" ala Joko Driyono ini. Apalagi pemain
dari level "anonim" macam pemain-pemain PSMS ini.
Kebobobrokan sepakbola Indonesia dalam 10 tahun terakhir
ini memang sudah luar biasa. Maka cara-cara biasa boleh
jadi memang tak akan cukup melumerkan hati para pejabat
klub atau federasi. Bahkan kematian seorang Mendieta pun
tak cukup bikin mereka jera.
Diego Mendieta adalah tugu peringatan: bahwa sepakbola
Indonesia pernah melakukan kezaliman yang tak terperi. Dan
Mendieta juga kasih contoh pedih bagaimana caranya agar
tunggakan gaji dilunasi: mati dulu, tunggakan pasti dilunasi.
Ataukah kita semua sudah lupa dengan Mendieta. Bolehlah
kita bertanya, berapa panjang umur ingatan mereka
sebenarnya?
Sumber : detik..com
0
1.1K
6
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•108.4KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya