TS
riandragon1989
Ringkasan Sejarah Agama Baru Jepang
Ane mau share tulisan menarik lagi ni dari salah satu teman orang jepang ane di mari.
Spoiler for Lanjut Baca Gan:
Ringkasan Sejarah Agama Baru Jepang:
dari Kurozumi Kyo^, Konko^ Kyo^, Tenri Kyo^ sampai Aum Shinri Kyo^, Ko^fuku no kagaku
ISHIZAWA Takeshi, MA.
(Tulisan ini didasarkan pada makalah untuk seminar di kantor Alocita di Yogyakarta pada tgl.15 Feb. 1997. Sedikit ditambah dan diperbaiki.)
(ditambah link kepada beberapa homepage sekte agama baru Jepang. kebanyakannya bahasa Ingris : 21-8-1999)
Pendahuluan : Sekilas pandangan masyarakat Jepang tentang agama
Masyarakat Jepang mempunyai pandangan yang sangat sekuler dan tidak begitu peduli pada agama. menurut Statistik mengenai agama (tahun 1992) yang disusun oleh Departmen Pendidikan Jepang, pengikut agama Shinto^; 106.643.616 orang, agama Budha 95.765.996 orang, Kristen (termasuk Katolik) 1.486.588 orang, yang lainnya 10.833.994 orang.
Statistik ini sering dipakai sebagai referensi oleh ilmuwan asing, angka tersebut sama sekali tidak bisa dipercayai. Sejumlahnya angka ini, menjadi kira-kira 2 kali dari penduduk Jepang, sekitar 120.000.000 jiwa. Angka ini berdasarkan laporan kepada Departmen Pendidikan dari sekte-sekte tersebut sendiri. Shinto^ menghitung semua penduduk sekitar JINJA; (tempat ibadah Shinto^) sebagai pengikutnya, agama Budha menghitung semua anggota keluarga yang diatur upacara oleh pendetanya sebagai pengikutnya. Jadi, satu orang terhitung sebagai pengikut agama Budha dan Shinto^ kedua-duanya.
Biasanya, orang Jepang melakukan upacara perkimpoian dengan cara Shinto^ atau Kristen, sedankan upacara kematian dengan cara Budha. Bagi kebanyakan orang Jepang, hal itu tidak dianggap aneh.
Di Indonesia ada KTP. Dalam KTP tertulis agamanya apa. Di Jepang tidak ada KTP. Jarang sekali kesempatan yang menjelaskan dirinya mempercayai agama apa. Mereka menganggap agama sebagai hanya adat atau kebiasaan.
Menurut beberapa pendapat, sekitar 70% orang menjawab tidak memeluk agama. Alasannya karena orang Jepang merasa repot jika masuk salah satu organisasi agama yang dikendalikan oleh ajaran tertentu. Pengunjung tempat ibadah pada saat merayakan datangnya tahun baru dilakukan oleh kebanyakan orang Jepang. Pada upacara menjemput roh nenek moyang yang kembali ke rumahnya (seperti upacara Galungan di Bali), kebanyakan orang Jepang mudik untuk ikut upacara itu. Tetapi praktik-praktik ini dianggap sebagai adat, bukan agama.
Dalam undang-undang dasar Jepang, pemerintah tidak boleh ikut campur dalam urusan agama. Ketika berakhir perang dunia kedua, orang Jepang memetuskan bahwa negaranya harus berdasarkan atas pemisahan agama dari negara. Memang tidak ada sekolah agama negara ( seperti IAIN di Indonesia). Dilarang keras memakai anggaran negara untuk hal-hal agama. Kalau ada kasus pengeluaran anggaran negara untuk upacara keagamaan, kasus ini diadukan ke pengadilan sebagai pelanggaran undang-undang dasar. (Tetapi kebanyakannya kasus seperti itu, keputusannya bahwa upacara itu adat, bukan agama, jadi bukan pelanggaran undang-undang dasar.)
Di Jepang pernah orang Kristen menjadi Perdana Menteri, namanya O^HIRA Masayoshi, selama dari tahun 1978 sampai 1980. Memang jumlahnya orang Kristen cuma 1% dari penduduk Jepang, tapi hal O^HIRA adalah orang Kristen tidak sama sekali menjadi masalah dan tidak sama sekali mempengaruhi kebijaksanaannya. Kebanyakan orang Jepang tidak begitu peduli, asal tidak fanatik, agama apa penguasanya.
Seperti hal-hal tersebut di atas, masyarakat Jepang sekarang menjadi sangat sekuler. Agama yang dominan, seperti Islam di Indonesia, tidak ada. Pada masa dulu, agama yang dominan itu agama Buddha. Tetapi, di bawah kontrol selama 250 tahun oleh pemerintah TOKUGAWA BAKUFU (TOKUGAWA adalah nama warga SHOGUN, BAKUFU artinya pemerintah), agama Buddha menghilangkan daya dinamis sebagai agama dalam rakyat. Sebulumnya berdiri TOKUGAWA BAKUFU, sering meletus pembrontakan rakyat yang berdasar atas keyakinan agama Buddha, terutama sekte Jo^do Shin Syu^. Jadi Pemerintah TOKUGAWA BAKUFU perlu waspadai dan mengkontrol agama Buddha.
Untuk memenuhi Kebutuhan rakyat dalam bidang spiritual, pada abad 19 (akhir zaman EDO. EDO itu ibu kota TOKUGAWA BAKUFU, nama kuno Tokyo), beberapa agama-agama baru mulai muncul. Sejak saat itu sampai sekarang, kedudukan dominan agama Buddha tradisi diganti berangsur-angsur oleh agama-agama baru. Sekarang, pengikut agama Budha tradisi, kebanyakannya "Budhis KTP" (seperti Islam KTP di Indonesia). Tetapi pengikut agama-agama baru jauh lebih aktif. Pengikut agama-agama baru menjadi lebih 10% dari penduduk Jepang.
Sejak akhir zaman EDO (awal abad 19), agama-agama baru muncul banyak sekali. Dari Kurozumi Kyo^ (mulai dari tahun 1814), Tenri Kyo^ (1838) dan Konko^ Kyo^ (1859) sampai Aum Shinri Kyo^ (mulai dari tahun 1984) serta Ko^fuku no kagaku (1986), sudah ada ribuan sekte-sekte. Beberapa sekte-sekte raksasa(So^ka Gakkai, Rissho^ Ko^sei kai, Reiyu^ kai, Shinnyo En) menpunyai jutaan penganutnya. Sekte-sekte raksasa tersebut mempengaruhi bidang politik secara kuat. Karena mereka punya kemampuan untuk mengumpul suara pada saat pemilu. So^ka Gakkai, paling besar sekte agama baru Jepang, memdirikan partai politik sendiri, namanya Ko^mei To^ (Partai Ko^mei). Sekarang partai ini, berkoalisi dengan LDP, menggengam casting vote. Sekte-sekte anti-So^ka Gakkai , misalnya Rissho^ Ko^sei kai, Reiyu^ kai, mendukung tokoh politk anti-So^ka Gakkai dalam LDP dan LP. Tulisan ini mencoba untuk menjelaskan sejarah dan ciri-ciri khusus agama-agama baru Jepang.
Buku tentang agama Jepang yang ditulis dalam bahasa Indonesia, sudah ada karya Djam'anunuri judulnya "Agama Jepang"(PT Bagus Arafah, Yogyakarta, 1981). Bagi saya, sebagai orang Jepang, buku ini cukup menarik. Tetapi sayangnya, tentang agama baru buku ini tidak begitu rinci. Jadi tulisan saya masih mempunyai arti bagi orang Indonesia.
Definisi agama baru
Hasil penelitian tentang agama baru di Jepang banyak sekali. Menurut karya Prof. SHIMAZONO Susumu (jurusan ilmu agama Universitas Tokyo), agama baru Jepang itu didefinisikan seperti berikut ini.
1. Agama itu muncul dan berkembang pada masa modern atau pada masa peralihan ke modern.
2. Agama itu didirikan dari, oleh dan untuk rakyat.
3. Agama itu dipisah dari agama tradisi dalam bidang baik organisasi maupun ajarannya.
Mengenai hal pertama, kebanyakan studi tentang agama baru melingkupi sejak akhir zaman EDO (awal abad 19) sebagai masa peralihan ke modern.
Hal kedua, agama baru itu didefinisikan sebagai agama rakyat awam, bukan kaum elite atau penguasa, intelektual.
Hal ketiga, tentu saja agama baru terpengaruh atau menerima ungsur-ungsur ajaran dari agama tradisi. Misalnaya So^ka Gakkai kelihatannya merupakan salah satu sekte dari Nichiren Sho^ Shu^, sekte agama Budha tradisi, karena ajaran Nichiren Sho^ Shu^ termasuk dalam ajaran So^ka Gakkai. Tetapi, So^ka Gakkai menegaskan kepada pengikutnya bahwa menjadi berbahagia di dunia ini melalui menyembahyang MANDARA (papan tertulis mantera dan nama-nama Dewa). Konsep penyelamatan So^ka Gakkai berbeda dengan Nichiren Sho^ Shu^ yang tujuan terakhirnya dapat penyelamatan di luar dunia ini. Menurut Prof. SHIMAZONO, ciri-ciri khusus agama baru adalah konsep penyelamatan duniawi. Kalau dibandingkan dengan Indonesia, NU dan Muhammadiyah merupakan organisasi yang berdiri dan berkembang pada masa modern. Tetapi, konsep penyelamatannya sama dengan Islam yang tradisi. Jadi, NU dan Muhammadiyah tidak bisa dikatakan agama baru.
Berikut ini, penulis mencoba menjelaskan sejarah singkat agama baru Jepang. Yang pertama, tiga agama baru yang berkembang sampai zaman Meiji (1868-1912).
dari Kurozumi Kyo^, Konko^ Kyo^, Tenri Kyo^ sampai Aum Shinri Kyo^, Ko^fuku no kagaku
ISHIZAWA Takeshi, MA.
(Tulisan ini didasarkan pada makalah untuk seminar di kantor Alocita di Yogyakarta pada tgl.15 Feb. 1997. Sedikit ditambah dan diperbaiki.)
(ditambah link kepada beberapa homepage sekte agama baru Jepang. kebanyakannya bahasa Ingris : 21-8-1999)
Pendahuluan : Sekilas pandangan masyarakat Jepang tentang agama
Masyarakat Jepang mempunyai pandangan yang sangat sekuler dan tidak begitu peduli pada agama. menurut Statistik mengenai agama (tahun 1992) yang disusun oleh Departmen Pendidikan Jepang, pengikut agama Shinto^; 106.643.616 orang, agama Budha 95.765.996 orang, Kristen (termasuk Katolik) 1.486.588 orang, yang lainnya 10.833.994 orang.
Statistik ini sering dipakai sebagai referensi oleh ilmuwan asing, angka tersebut sama sekali tidak bisa dipercayai. Sejumlahnya angka ini, menjadi kira-kira 2 kali dari penduduk Jepang, sekitar 120.000.000 jiwa. Angka ini berdasarkan laporan kepada Departmen Pendidikan dari sekte-sekte tersebut sendiri. Shinto^ menghitung semua penduduk sekitar JINJA; (tempat ibadah Shinto^) sebagai pengikutnya, agama Budha menghitung semua anggota keluarga yang diatur upacara oleh pendetanya sebagai pengikutnya. Jadi, satu orang terhitung sebagai pengikut agama Budha dan Shinto^ kedua-duanya.
Biasanya, orang Jepang melakukan upacara perkimpoian dengan cara Shinto^ atau Kristen, sedankan upacara kematian dengan cara Budha. Bagi kebanyakan orang Jepang, hal itu tidak dianggap aneh.
Di Indonesia ada KTP. Dalam KTP tertulis agamanya apa. Di Jepang tidak ada KTP. Jarang sekali kesempatan yang menjelaskan dirinya mempercayai agama apa. Mereka menganggap agama sebagai hanya adat atau kebiasaan.
Menurut beberapa pendapat, sekitar 70% orang menjawab tidak memeluk agama. Alasannya karena orang Jepang merasa repot jika masuk salah satu organisasi agama yang dikendalikan oleh ajaran tertentu. Pengunjung tempat ibadah pada saat merayakan datangnya tahun baru dilakukan oleh kebanyakan orang Jepang. Pada upacara menjemput roh nenek moyang yang kembali ke rumahnya (seperti upacara Galungan di Bali), kebanyakan orang Jepang mudik untuk ikut upacara itu. Tetapi praktik-praktik ini dianggap sebagai adat, bukan agama.
Dalam undang-undang dasar Jepang, pemerintah tidak boleh ikut campur dalam urusan agama. Ketika berakhir perang dunia kedua, orang Jepang memetuskan bahwa negaranya harus berdasarkan atas pemisahan agama dari negara. Memang tidak ada sekolah agama negara ( seperti IAIN di Indonesia). Dilarang keras memakai anggaran negara untuk hal-hal agama. Kalau ada kasus pengeluaran anggaran negara untuk upacara keagamaan, kasus ini diadukan ke pengadilan sebagai pelanggaran undang-undang dasar. (Tetapi kebanyakannya kasus seperti itu, keputusannya bahwa upacara itu adat, bukan agama, jadi bukan pelanggaran undang-undang dasar.)
Di Jepang pernah orang Kristen menjadi Perdana Menteri, namanya O^HIRA Masayoshi, selama dari tahun 1978 sampai 1980. Memang jumlahnya orang Kristen cuma 1% dari penduduk Jepang, tapi hal O^HIRA adalah orang Kristen tidak sama sekali menjadi masalah dan tidak sama sekali mempengaruhi kebijaksanaannya. Kebanyakan orang Jepang tidak begitu peduli, asal tidak fanatik, agama apa penguasanya.
Seperti hal-hal tersebut di atas, masyarakat Jepang sekarang menjadi sangat sekuler. Agama yang dominan, seperti Islam di Indonesia, tidak ada. Pada masa dulu, agama yang dominan itu agama Buddha. Tetapi, di bawah kontrol selama 250 tahun oleh pemerintah TOKUGAWA BAKUFU (TOKUGAWA adalah nama warga SHOGUN, BAKUFU artinya pemerintah), agama Buddha menghilangkan daya dinamis sebagai agama dalam rakyat. Sebulumnya berdiri TOKUGAWA BAKUFU, sering meletus pembrontakan rakyat yang berdasar atas keyakinan agama Buddha, terutama sekte Jo^do Shin Syu^. Jadi Pemerintah TOKUGAWA BAKUFU perlu waspadai dan mengkontrol agama Buddha.
Untuk memenuhi Kebutuhan rakyat dalam bidang spiritual, pada abad 19 (akhir zaman EDO. EDO itu ibu kota TOKUGAWA BAKUFU, nama kuno Tokyo), beberapa agama-agama baru mulai muncul. Sejak saat itu sampai sekarang, kedudukan dominan agama Buddha tradisi diganti berangsur-angsur oleh agama-agama baru. Sekarang, pengikut agama Budha tradisi, kebanyakannya "Budhis KTP" (seperti Islam KTP di Indonesia). Tetapi pengikut agama-agama baru jauh lebih aktif. Pengikut agama-agama baru menjadi lebih 10% dari penduduk Jepang.
Sejak akhir zaman EDO (awal abad 19), agama-agama baru muncul banyak sekali. Dari Kurozumi Kyo^ (mulai dari tahun 1814), Tenri Kyo^ (1838) dan Konko^ Kyo^ (1859) sampai Aum Shinri Kyo^ (mulai dari tahun 1984) serta Ko^fuku no kagaku (1986), sudah ada ribuan sekte-sekte. Beberapa sekte-sekte raksasa(So^ka Gakkai, Rissho^ Ko^sei kai, Reiyu^ kai, Shinnyo En) menpunyai jutaan penganutnya. Sekte-sekte raksasa tersebut mempengaruhi bidang politik secara kuat. Karena mereka punya kemampuan untuk mengumpul suara pada saat pemilu. So^ka Gakkai, paling besar sekte agama baru Jepang, memdirikan partai politik sendiri, namanya Ko^mei To^ (Partai Ko^mei). Sekarang partai ini, berkoalisi dengan LDP, menggengam casting vote. Sekte-sekte anti-So^ka Gakkai , misalnya Rissho^ Ko^sei kai, Reiyu^ kai, mendukung tokoh politk anti-So^ka Gakkai dalam LDP dan LP. Tulisan ini mencoba untuk menjelaskan sejarah dan ciri-ciri khusus agama-agama baru Jepang.
Buku tentang agama Jepang yang ditulis dalam bahasa Indonesia, sudah ada karya Djam'anunuri judulnya "Agama Jepang"(PT Bagus Arafah, Yogyakarta, 1981). Bagi saya, sebagai orang Jepang, buku ini cukup menarik. Tetapi sayangnya, tentang agama baru buku ini tidak begitu rinci. Jadi tulisan saya masih mempunyai arti bagi orang Indonesia.
Definisi agama baru
Hasil penelitian tentang agama baru di Jepang banyak sekali. Menurut karya Prof. SHIMAZONO Susumu (jurusan ilmu agama Universitas Tokyo), agama baru Jepang itu didefinisikan seperti berikut ini.
1. Agama itu muncul dan berkembang pada masa modern atau pada masa peralihan ke modern.
2. Agama itu didirikan dari, oleh dan untuk rakyat.
3. Agama itu dipisah dari agama tradisi dalam bidang baik organisasi maupun ajarannya.
Mengenai hal pertama, kebanyakan studi tentang agama baru melingkupi sejak akhir zaman EDO (awal abad 19) sebagai masa peralihan ke modern.
Hal kedua, agama baru itu didefinisikan sebagai agama rakyat awam, bukan kaum elite atau penguasa, intelektual.
Hal ketiga, tentu saja agama baru terpengaruh atau menerima ungsur-ungsur ajaran dari agama tradisi. Misalnaya So^ka Gakkai kelihatannya merupakan salah satu sekte dari Nichiren Sho^ Shu^, sekte agama Budha tradisi, karena ajaran Nichiren Sho^ Shu^ termasuk dalam ajaran So^ka Gakkai. Tetapi, So^ka Gakkai menegaskan kepada pengikutnya bahwa menjadi berbahagia di dunia ini melalui menyembahyang MANDARA (papan tertulis mantera dan nama-nama Dewa). Konsep penyelamatan So^ka Gakkai berbeda dengan Nichiren Sho^ Shu^ yang tujuan terakhirnya dapat penyelamatan di luar dunia ini. Menurut Prof. SHIMAZONO, ciri-ciri khusus agama baru adalah konsep penyelamatan duniawi. Kalau dibandingkan dengan Indonesia, NU dan Muhammadiyah merupakan organisasi yang berdiri dan berkembang pada masa modern. Tetapi, konsep penyelamatannya sama dengan Islam yang tradisi. Jadi, NU dan Muhammadiyah tidak bisa dikatakan agama baru.
Berikut ini, penulis mencoba menjelaskan sejarah singkat agama baru Jepang. Yang pertama, tiga agama baru yang berkembang sampai zaman Meiji (1868-1912).
0
3.1K
Kutip
16
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Japan
1.3KThread•742Anggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya