Kaskus

News

ainalizaAvatar border
TS
ainaliza
Polisi Takkan Korupsi Jika Mengenal Orang Ini
Ditulis Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Anom Wibowo, SIK, MSi

-----------------------------------------------

Polisi takkan korupsi jika mengenal sosok yang satu ini. Mohammad Jasin bisa menjadi teladan bagi generasi muda Polri. Dia, bapaknya polisi.

1 Juli 1946 diperingati sebagai hari Bhayangkara. Tetapi bagi saya, seharusnya peringatan Bhayangkara ditetapkan pada 21 Agustus 1945. Sebab pada hari itu merupakan proklamasi Polri yang diusung oleh M. Jasin. Dan proklamasi itu menjadi cikal bakal berdirinya Polri. Sebelum mereka, dulu namanya Pasukan Polisi Istimewa (PPI). Setelah diproklamirkan menjadi Polisi Republik Indonesia (PRI).

Mengutip kata-kata M. Jasin: Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menjatakan Poelisi sebagai Poelisi Repoeblik Indonesia. Soerabaja, 21 Agoestoes 1945

Banyak hal yang saya dapatkan saat membaca buku Mengais Jejak Perjuangan Proklamator Polri karya Tari Moetari. Di sini saya menemukan fakta baru, dimana seharusnya hari Bhayangkara ditetapkan pada 21 Agustus, dan bukan 1 Juli.

1 Juli ditetapkan sebagai hari Bhayangkara karena pada saat itu untuk pertama kali Polri memiliki Kepala Kepolisian Negara (KKN) yakni R.S. Soekanto Tjokrodiatmodjo. Bukan saya mengecilkan arti perjuangan Bapak Soekanto, tetapi bila melihat fakta sejarah yang ada, saya yakin 90 persen perjuangan M. Jasin menjadi tonggak sejarah berdirinya Polri.

Di mata orang-orang sekelilingnya, M. Jasin dikenal sebagai Singa Perjuangan Indonesia. Tanpa M. Jasin, mungkin takkan ada pertempuran ‘menghebohkan’ 10 November yang dikenal di seluruh dunia. Pasalnya, pada saat perjuangan itu, arek-arek Surabaya tidak membawa senjata. Yah, hanya orang-orang M. Jasin yang menguasai senjata modern dan mampu mengimbangi kekuatan Belanda.

Bagi saya, M. Jasin bukan sekedar milik polisi. Dia juga milik TNI. Dia milik banyak orang. Kepunyaan rakyat. Sehingga, saya sebagai generasi muda, wajib untuk meneladani semangat juangnya. Saya pun mengusulkan dia menjadi pahlawan nasional.

Bolehlah kita mengurai sejarah panjang. Memang, bila melihat sejarah masa lalu, banyak hal yang bisa kita petik. Sejarah menyebutkan, pada jaman Majapahit, Maha Patih Gajah Mada membentuk pasukan pengamanan yang disebut dengan Bhayangkara. Tugas mereka saat itu melindungi raja dan kerajaan. Wajar jika kemudian patung Gajah Mada dijadikan monumen di Mabes Polri.

Tetapi melihat sejarah yang panjang itu, saya rasa mustahil membayangkan itu semua. Terlalu jauh. Sebab, hanya menimbulkan muti persepsi. Secara logika, saya cukup melihat M. Jasin. Gajah Mada memang tokoh sentral, namun M. Jasin juga tidak boleh disamarkan dalam fakta sejarah. Perannya dalam perjuangan bangsa telah membawa kita pada kemajuan rakyat, terutama kelembagaan Polri.

Meski begitu, kita harus menelusuri sejarah yang ada. Karena sejarah itu memori kolektif. Perlu ada pelurusan, perlu ada pembenaran. Satu sejarah harus dikaitkan dengan sejarah lainnya.

Untuk itu, kita juga butuh adanya perubahan-perubahan adanya kop saat polisi masih di tangan Jepang dan saat polisi sudah merdeka. Jika fakta sejarah sudah diluruskan, saya berharap semua ini bisa segera direspon Mabes Polri.

Di mata kami, para generasi muda Polri, sosok M. Jasin menjadi teladan yang cukup besar. Dia memiliki andil besar dalam perkembangan institusi Polri dari masa ke masa. Meski pada kenyataannya, saat ini lembaga ini sedang naik turun karena adanya

Yah, tidak bisa dipungkiri saat ini banyak kasus menerpa institusi kami, seperti rekening gendut Polri dan korupsi lainnya yang sudah diberitakan media. Tetapi saya melihat, semua itu terjadi karena kita tidak paham akan sejarah.

Banyak generasi muda yang sudah melupakan sejarah. Sosok M. Jasin dilupakan begitu saja. Jiwa dan semangatnya tidak lagi hadir dalam korps. Sehingga untuk memelihara nilai-nilai luhur dalam diri Polri sudah terkikis. Dari situ muncullah yang namanya korupsi.

Jika kita tidak segera memperbaiki nilai luhur ini, maka akan selamanya Polri tidak memiliki pedoman. Tri Brata bagi saya sudah sangat bagus, tetapi alangkah bagus jika dibarengi dengan fakta sejarah yang ada. Di sini ada M. Jasin, ayo kita teladani semangat juangnya.

Pandangan sejarah juga bisa menjadi pendidikan bagi kepolisian sehingga para anggota tidak kebablasan. Kondisi Polri yang naik turun bisa dikembalikan citranya ke publik dengan menjaga figur Polri untuk hidup sepanjang waktu di jiwa kita. Yah, kita butuh figur. Kita butuh momentum. Dan, sosok M. Jasan adalah orang tepat. Dia, bapak polisi. Dia, bapak kita semua.

sumber: http://www.siaga.co/news/2013/05/30/...nal-orang-ini/
0
1.5K
5
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan Politik
KASKUS Official
695KThread58.8KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.