others
Pencarian Tidak Ditemukan
link has been copied
9906
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000013654212/holy-anda-bertanya-buddhist-menjawab---part-3
Inti dari seluruh ajaran Sang Buddha adalah Empat Kebenaran Mulia (cattari ariya sacca) Dengan mengerti Empat Kebenaran Mulia, dapat dikatakan seseorang telah mengerti agama Buddha. Ketika Buddha menjelaskan Empat Kebenaran Mulia, beliau mula-mula menguraikannya satu per satu, Empat Kebenaran Mulia ini yaitu: I. Kebenaran Mulia tentang Dukkha (dukkha ariya sacca) Hidup dalam bentuk dan kondisi apa
Lapor Hansip
22-03-2012 12:27

[CLEAN]Anda Bertanya, Buddhist Menjawab

Inti dari seluruh ajaran Sang Buddha adalah
Empat Kebenaran Mulia
(cattari ariya sacca)

Dengan mengerti Empat Kebenaran Mulia, dapat dikatakan seseorang telah mengerti agama Buddha.

Ketika Buddha menjelaskan Empat Kebenaran Mulia, beliau mula-mula menguraikannya satu per satu,
Empat Kebenaran Mulia ini yaitu:

I. Kebenaran Mulia tentang Dukkha (dukkha ariya sacca)
Hidup dalam bentuk dan kondisi apapun adalah Dukkha (penderitaan),
- Lahir, sakit, tua dan mati adalah Dukkha.
- Berhubungan dengan yang tidak kita sukai adalah Dukkha.
- Ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi adalah Dukkha.
- Tidak mendapatkan yang kita inginkan juga merupakan Dukkha.
- Masih memiliki Lima khanda adalah Dukkha.

Dukkha dapat juga dibagi menjadi:
- dukkha-dukkha,
ialah penderitaan yang nyata, yang benar dirasakan sebagai penderitaan tubuh dan bathin, misalnya sakit kepala, sakit gigi, susah hati dll.

- viparinäma-dukkha
merupakan fakta bahwa semua perasaan senang dan bahagia --berdasarkan sifat ketidak-kekalan-- di dalamnya mengandung benih-benih kekecewaan, kekesalan dll.

- sankhärä-dukkha
lima khanda adalah penderitaan ; selama masih ada lima khanda tak mungkin terbebas dari sakit fisik.



II. Asal Mula Dukkha (dukkha samudaya ariya sacca)
Sumber dari penderitaan adalah tanhä, yaitu nafsu keinginan yang tidak ada habis-habisnya.
Semakin diumbar semakin keras ia mencengkeram.

Orang yang pasrah kepada tanhä sama saja dengan orang minum air asin untuk menghilangkan rasa hausnya.
Rasa haus itu bukannya hilang, bahkan menjadi bertambah, karena air asin itu yang mengandung garam.

Demikianlah, semakin orang pasrah kepada tanhä semakin keras tanhä itu mencengkeramnya.

Dikenal tiga macam tanhä, yaitu :
1. Kämatanhä : kehausan akan kesenangan indriya, ialah kehausan akan :
a. bentuk-bentuk (indah)
b. suara-suara (merdu)
c. wangi-wangian
d. rasa-rasa (nikmat)
e. sentuhan-sentuhan (lembut)
f. bentuk-bentuk pikiran


2. Bhavatanhä : kehausan untuk lahir kembali sebagai manusia berdasarkan kepercayaan tentang adanya "atma (roh) yang kekal dan terpisah" (attavada)

3. Vibhavatanhä : kehausan untuk memusnahkan diri, berdasarkan kepercayaan, bahwa setelah mati tamatlah riwayat tiap-tiap manusia (ucchedaväda).


III. Lenyapnya Dukkha (dukkha nirodha ariya sacca)
Kalau tanhä dapat disingkirkan, maka kita akan berada dalam keadaan yang bahagia sekali,
Sang Buddha dengan jelas dan tegas mengajar kita, bahwa kita dapat bebas dari penderitaan dan mencapai kebebasan dan kebahagiaan Nibbana.

Istilah Nibbana secara harfiah berarti ‘padam’,
serta mengacu ke pemadaman api keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin.


IV. Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha (dukkha nirodha gamini patipada)
Jalan-nya adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan(Ariya Atthangika Magga)
Disebut ‘Mulia’ karena bila dilaksanakan, maka akan menuntun seseorang ke kehidupan yang mulia;
Disebut ‘Berunsur Delapan’, karena terdiri dari Delapan Unsur,
Disebut ‘Jalan’, karena seperti jalan pada umumnya, akan menuntun seseorang dari satu tempat ke tempat lain, dengan hal ini dari Samsara ke Nibbana.

Delapan Jalan Utama (Jalan Mulia Berunsur Delapan) yang akan membawa kita ke Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha, yaitu :

Wisdom ( Pañña )
1. Pengertian Benar (sammä-ditthi) Right view
2. Pikiran Benar (sammä-sankappa) Right intention

Sila
3. Ucapan Benar (sammä-väcä) Right speech
4. Perbuatan Benar (sammä-kammanta) Right action
5. Pencaharian Benar (sammä-ajiva) Right livelihood

Samädhi
6. Daya-upaya Benar (sammä-väyäma) Right effort
7. Perhatian Benar (sammä-sati) Right mindfulness
8. Konsentrasi Benar (sammä-samädhi) Right concentration


Sutta-sutta:
Magga Vibhanga Sutta: Analisa Jalan
MN 109 PTS: iii M 15 Maha-puHHama Sutta: Kotbah Panjang Malam Purnama
Detail mengenai Kemelekatan [#1 #2]

[Pancasila Buddhist]
[DhammaCitta :: Tipitaka terjemahan Bahasa Indonesia]
Jika ada sutta yg kira-kira ingin di lampirkan di depan, mohon inform via PM

Quote:Original Posted By Rules and Regulation
BAB 4: Ketentuan khusus mengenai Thread AGAMA.
Thread Agama
Penjawab:
1. Pi-One - http://old.kaskus.co.id/member.php?u=156420
2. hollowmanz - http://old.kaskus.co.id/member.php?u=421038
3. dharo - http://old.kaskus.co.id/member.php?u=226722
4. need suggestion
need suggestion dari mereka yang aktif dan perduli untuk membantu di "Penjawab"

"..."
Diubah oleh Kemenyan
profile-picture
pakisal212 memberi reputasi
1
Tampilkan isi Thread
icon-close-thread
Thread sudah digembok
debate-club
Debate Club
2.9K Anggota • 8.3K Threads
Halaman 261 dari 517
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
10-05-2013 08:21
Quote:Original Posted By _Blizzard_

karna gak tiap makhluk dapat liat perwujudan Buddha yg tdk dalam tubuh manusia


hah,!!!

bukankah buddhisme sekarang merupakan ajaran history yg ada pelaku sejarahnya.

artinya buddha Gotama pernah hidup sebagai manusia dan berjalan di bumi kita sekarang yang kita tempati, maka ajaran ini dapat di telusuri sejarahnya, bukan agama dari gaib, alias hantu atau tuhan

emoticon-Ngakak
0 0
0
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
10-05-2013 08:58
Quote:Original Posted By Choa


hah,!!!

bukankah buddhisme sekarang merupakan ajaran history yg ada pelaku sejarahnya.

artinya buddha Gotama pernah hidup sebagai manusia dan berjalan di bumi kita sekarang yang kita tempati, maka ajaran ini dapat di telusuri sejarahnya, bukan agama dari gaib, alias hantu atau tuhan

emoticon-Ngakak

problemnya di pembuktian , gak semua orang bisa buktikan dan gak semua orang cukup puas melihat bukti yg ada baik pembuktian secara intelektual atw memakai kemampuan supra
bukankah ini sebabnya terdapat pihak2 yg karena 'intektualitasnya' mempunyai hasil pembuktian yg malah menyudutkan buddhist ? emoticon-Big Grin
jd keraguan akan sosok Buddha , tokoh2nya dan ajarannya wajar adanya
0 0
0
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
10-05-2013 12:30
Quote:Original Posted By _Blizzard_

problemnya di pembuktian , gak semua orang bisa buktikan dan gak semua orang cukup puas melihat bukti yg ada baik pembuktian secara intelektual atw memakai kemampuan supra
bukankah ini sebabnya terdapat pihak2 yg karena 'intektualitasnya' mempunyai hasil pembuktian yg malah menyudutkan buddhist ? emoticon-Big Grin
jd keraguan akan sosok Buddha , tokoh2nya dan ajarannya wajar adanya


secara sejarah dibuktikan pernah ada
secara logika , ada ajarannya sebagai warisan jadi pasti pernah ada
secara saksi mata ada banyak yg ketemu
secara testimoni banyak catatan dari aliran saingan yg membicarakan
secara supra ada yg liat
jadi ya sosok Buddha itu ada itu ga bisa dibantah

kalau mengenai kebenarannya,
temenku yg agama lain pernah bilang "gimana caranya kamu bantah agama yg nyuruh untuk mencintai semua makhluk?"
0 0
0
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
10-05-2013 12:54
Quote:Original Posted By _Blizzard_

problemnya di pembuktian , gak semua orang bisa buktikan dan gak semua orang cukup puas melihat bukti yg ada baik pembuktian secara intelektual atw memakai kemampuan supra
bukankah ini sebabnya terdapat pihak2 yg karena 'intektualitasnya' mempunyai hasil pembuktian yg malah menyudutkan buddhist ? emoticon-Big Grin
jd keraguan akan sosok Buddha , tokoh2nya dan ajarannya wajar adanya


tidak juga ini agama/filosofy inside bukan keluar
kalau meragukanya memang seharusnya dasarnya begitu

perkara mampu atau tidak membuktikan tergantung usaha dan kamma masing2

mengenai sudut-menyudut tidak ada masalah karena buddha dhamma itu kedalam diri bukan keluar
sifat dasar dhamma membawa manfaat bukan ketenaran
0 0
0
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
10-05-2013 14:34
Quote:Original Posted By xenocross


secara sejarah dibuktikan pernah ada
secara logika , ada ajarannya sebagai warisan jadi pasti pernah ada
secara saksi mata ada banyak yg ketemu
secara testimoni banyak catatan dari aliran saingan yg membicarakan
secara supra ada yg liat
jadi ya sosok Buddha itu ada itu ga bisa dibantah

kalau mengenai kebenarannya,
temenku yg agama lain pernah bilang "gimana caranya kamu bantah agama yg nyuruh untuk mencintai semua makhluk?"

ok , not interested buat bantah emoticon-Nohope
Quote:Original Posted By Choa


tidak juga ini agama/filosofy inside bukan keluar
kalau meragukanya memang seharusnya dasarnya begitu

perkara mampu atau tidak membuktikan tergantung usaha dan kamma masing2

mengenai sudut-menyudut tidak ada masalah karena buddha dhamma itu kedalam diri bukan keluar
sifat dasar dhamma membawa manfaat bukan ketenaran

@bold
itu yg gue maxut emoticon-shakehand
0 0
0
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
10-05-2013 14:36
Quote:Original Posted By xenocross


secara sejarah dibuktikan pernah ada
secara logika , ada ajarannya sebagai warisan jadi pasti pernah ada
secara saksi mata ada banyak yg ketemu
secara testimoni banyak catatan dari aliran saingan yg membicarakan
secara supra ada yg liat
jadi ya sosok Buddha itu ada itu ga bisa dibantah

kalau mengenai kebenarannya,
temenku yg agama lain pernah bilang "gimana caranya kamu bantah agama yg nyuruh untuk mencintai semua makhluk?"

ok , not interested buat bantah emoticon-Nohope
Quote:Original Posted By Choa


tidak juga ini agama/filosofy inside bukan keluar
kalau meragukanya memang seharusnya dasarnya begitu

perkara mampu atau tidak membuktikan tergantung usaha dan kamma masing2

mengenai sudut-menyudut tidak ada masalah karena buddha dhamma itu kedalam diri bukan keluar
sifat dasar dhamma membawa manfaat bukan ketenaran

@bold
itu yg gue maxut emoticon-shakehand
0 0
0
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
10-05-2013 20:04
Quote:Original Posted By ddos12

ga..krn itu hukum archimedes juga ga ada negara bisa jg diadopsi emoticon-Cool


gwoblog....emoticon-Nohope
hukum archimedes diadopsi buad bikin kapal laut njeenk emoticon-Cape d... (S)
Quote:
g yg awam aja nangkep tulisan u spt itu...apalagi yg concern...kl yg jawab sifatnya kyk bro...bs2 kt2 bro dibalikn sama diaemoticon-Ngakak

ga perlu emosi buat apa...itu yg di agama buddha di katakan hidup itu penderitaan...


mending diem aja loe dipojokan jilatin sepatu gw..sengaja gw tanya ke org linguistik...ketimbang dapet jawaban ngawor cem elu enih emoticon-fuck

Quote:Original Posted By bloodsweatpuke

gua rasa dlm bbrp hal memang mencakup semuanya.hukum negara manapun melarang pembunuhan.hukum negara yang waras melarang perzinahan (buktinya orang amerika n eropa pun ga seneng anaknya dibaik sembarangan orang).Semua manusia ingin bahagia.semua manusia ingin melenyapkan sumber derita.dalam hal ini,bukannya mengajarkan untuk tidak boleh MEMILIKI materi.tapi tidak boleh TERIKAT pada materi.

kalau nurutin Buddha bakal jadi biksu semua?rasanya nggak.Buddha juga ga melarang orang berumahtangga.Ga boleh ** SENSOR **?kata siapa?kata elo?yang ga boleh ** SENSOR ** sembarangan (misal istri tetangga dibaik,maen pelacur,dan zina zina lainnya).ada peraturan untuk perumah tangga,ada peraturan untuk biksu/biksuni.jadi terserah lo mau ikutin aturan yang mana.

tumimbal lahir?mungkin aja itu istilah yang diciptakan orang indonesia kali ya.entah juga tumimbal itu apa.yang pasti di bahasa inggris,ya ga lain selain reincarnation.karena di sutra buddha bahasa inggris pengganti kata tumimbal lahir ya itu.

tumimbal lahir mungkin salah satu bahasa/istilah puitis aja.artinya ya sama2 aja.kaya contohnya.gua ambil dari kata2 lo.

** SENSOR **=baik=bersetubuh.makna sama,kata beda,belom tentu ada bahasa inggrisnya.itu menurut gua yang tolol dalam hal linguistik.

ajaran cuma kompatibel pada kelompok?itulah.betul.oleh karena itulah manusia menciptakan agama (kalo ga pcaya,coba jawab,Jesus Christ,Siddharta Gautama itu agama apa?yang nyiptain agama stau gua muridnya.sekali lagi,itu setau gua.).jadi gua setuju ama lo.ga akan ada ajaran yang kompatibel untuk setiap makhluk.jadi,drpd lo pusingin ajaran lain yang notabene ga kompatibel ama lo,mending lo anggap aja kaya angin lalu n cari yang kompatibel ama lo.selesai urusan.n lo singgung2 soal biksu bejad-ok-sekarang,cari 1 agama yang oknumnya 100% ga ada yg bejad n kasitau gua kalo ada.mau itu biksu,ustad,pastur,pendeta,rabbi,etc etc ada aja yg bejat!

dan ini setau gua.emang lo maunya gua ambil pengetahuan dari siapa?gua lbh baik pcaya pengetahuan gua sendiri drpd harus ngemis2 pengetahuan sama orang lain.jadi hargain lah yg ngmg "setau gua" karena dia cukup percaya diri.ehipassiko.cari tau sendiri,buktiin sendiri.cuma bisa menghakimi mah percuma punya otak juga.


heh sampah...!!!!
apa yg loe rasa heh...???!!! ga penting perasaan loe...kek yg gw peduli aja emoticon-Busa
jelas konyol kan.... klaim bahwa ajaran budha meliputi hampir semua aspek kehidupan...nyatanya di negara yg notabene budha mayoritas dan berkembang tanpa halangan justru kaga dipake tuh hukum2 sutta sbg peraturan bernegara emoticon-Busa

ya iyalaah kalow nurutin si geblek gotama loe semua kudu jadi biksu...
neeh gw contohin.... @all..buad semua

untuk mencapai tujuan akhir kehidupan dunia sesuai konsep budha yaitu nibbana.... loe kudu mengikuti jalan mulia berunsur delapan...neeh gw copas
Quote:Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangiko Magga) dibabarkan sebagai berikut:

1. Pengertian Benar (Sammã Ditthi)
Pemahaman Benar adalah pengetahuan yang disertai dengan penembusan terhadap
a. Empat Kesunyataan Mulia
b. Hukum Tilakkhana (Tiga Corak Umum)
c. Hukum Paticca-Samuppäda
d. Hukum Kamma

2. Pikiran Benar (Sammã Sankappa)
Pikiran Benar adalah pikiran yang bebas dari:
a. Pikiran yang bebas dari nafsu-nafsu keduniawian (nekkhamma-sankappa).
b. Pikiran yang bebas dari kebencian (avyäpäda-sankappa)
c. Pikiran yang bebas dari kekejaman (avihimsä-sankappa)

3. Ucapan Benar (Sammã Vãca)
Ucapan Benar adalah berusaha menahan diri dari berbohong (musãvãdã), memfitnah (pisunãvãcã), berucap kasar/caci maki (pharusavãcã), dan percakapan-percakapan yang tidak bermanfaat/pergunjingan (samphappalãpã). Dapat dinamakan Ucapan Benar, jika dapat memenuhi empat syarat di bawah ini :
a. Ucapan itu benar
b. Ucapan itu beralasan
c. Ucapan itu berfaedah
d. Ucapan itu tepat pada waktunya

4. Perbuatan Benar (Sammã Kammantã)
Perbuatan Benar adalah berusaha menahan diri dari pembunuhan, pencurian, perbuatan melakukan perbuatan seksualitas yang tidak dibenarkan (asusila), perkataan tidak benar, dan penggunaan cairan atau obat-obatan yang menimbulkan ketagihan dan melemahkan kesadaran.

5. Penghidupan Benar (Sammã Ãjiva)
Penghidupan Benar berarti menghindarkan diri dari bermata pencaharian yang menyebabkan kerugian atau penderitaan makhluk lain. "Terdapat lima objek perdagangan yang seharusnya dihindari (Anguttara Nikaya, III, 153), yaitu:

a. makhluk hidup
b. senjata
c. daging atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan mahluk-mahluk hidup

d. minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan ketagihan,
e. racun

Dan terdapat pula lima pencaharian salah yang harus dihindari (Majjima Nikaya. 117), yaitu:

a. Penipuan
b. Ketidak-setiaan
c. Penujuman
d. Kecurangan
e. Memungut bunga yang tinggi (praktek lintah darat)

6. Usaha Benar (Sammã Vãyama)
Usaha Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu: berusaha mencegah munculnya kejahatan baru, berusaha menghancurkan kejahatan yang sudah ada, berusaha mengembangkan kebaikan yang belum muncul, berusaha memajukan kebaikan yang telah ada.

7. Perhatian Benar (Sammã Sati)
Perhatian Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu:

- perhatian penuh terhadap badan jasmani (kãyãnupassanã)
- perhatian penuh terhadap perasaan (vedanãnupassanã)
- perhatian penuh terhadap pikiran (cittanupassanã)
- perhatian penuh terhadap mental/batin (dhammanupassanã)

Keempat bentuk tindakan tersebut bisa disebut sebagai Vipassanã Bhãvanã.

8. Konsentrasi Benar (Sammã Samãdhi)
Konsentrasi Benar berarti pemusatan pikiran pada obyek yang tepat sehingga batin mencapai suatu keadaan yang lebih tinggi dan lebih dalam.

http://bhagavant.com/home.php?link=d...a_sari&n_id=51


coba perhatiin yg gw @red....
kalow loe nikah....apa mungkin loe bisa lepasin keinginan duniawi...ngbaik binik....nyenengin bini ma anak2 jalan2...???
kalow loe pekerja...apa mungkin loe gak mau menggapai promosi jabatan yg lbh tinggi..demipenghidupan yg lebih baik..???
kalow loe siswa/mahasiswa... apa loe gak ingin mendapat nilai bagus dan berprestasi di berbagai bidang..??
dll..dll..dll..dan lain2 yg bakal buanyak bangedh kalow gw rinci emoticon-Busa

selain itu loe kudu menjauhi tindakan pembunuhan hewan untuk konsumsi....
enih yg paling kuonyol sodalagh sodalagh emoticon-Busa
si pi-one udah nyebutin sendiri kaloew gak mungkin menghindari pembunuhan hewan untuk konsumsi... untuk vegetarian sekalipun
karena proses penanaman bahan makanan jelas mematikan hewan2 kecil, hama wereng, walang sangit...keong...
apa loe mau bilang kalow gaya hidup vegan sama sekali lepas dr unsur pembunuhan..??? emoticon-Gila

ingat bung.... tidak ada satupun sesuatu makanan yg masuk kedalam mulut kita tanpa adanya kematian hewan..apapun bentuknya emoticon-fuck

artinya konsep budha enih kagak realistis cuy...untuk memenuhi unsur2 diatas loe kudu hidup di hutan tanpa kehidupan sosial...tanpa perlu mencapai apa2 yg menjadi tujuan duniawi emoticon-Busa
makanya gw bilang konsep enih cuman cocok pd tataran personal ataow paling jauh kelompok....
dan kelompok itu bakal jadi cem biksu botak bejad balak enam gwoblok ituh emoticon-Busa

mo ngomong apa loe heh...??!!! emoticon-fuck emoticon-fuck emoticon-fuck




0 0
0
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
10-05-2013 20:08
Quote:Original Posted By joeraygaul

Dapat, tidak ada satu pun dewa yang kekal di alam surga, juga tidak ada satu pun "setan" yang kekal berdiam di alam neraka.
Dan sudah saya katakan, semunya memiliki keterkaitan.


owh gitu.... jadi sangat dimungkinkan perpindahan alam pd siklus kehidupan selanjutnya
Quote:
Justru ambigu karena kamu menggunakan standar ganda bul, emoticon-Smilie
Pandangan yang kamu gunakan di sini berubah-ubah dan dikondisikan sesuai keinginan kamu, emoticon-Smilie bisa transendens bisa immanens, sehingga kamu dapat dengan bebas menciptakan argument atau sanggahan emoticon-Smilie.
Bila memang berniat untuk sama-sama menemukan "kebenaran" maka harus terdapat persamaan persepsi dahulu. Konyol yang kamu sematkan di sini terhadap buddha sasana konyol menurut pandangan immanens atau transendens ? emoticon-Smilie
Dan bila memang si orang tua dikondisikan menggendong si anak, apakah si orang tua sebegitu konyolnya atau tidak memiliki kemampuan preventif sehingga sampai seorang bikkhu yang memiliki keterbatasan fisik yang sangat jelas, yang buta, dapat sampai mendorong seorang anak yang digendong oleh orang tuanya sehingga terjatuh ke jurang.
Terdapat kecacatan logika, karena bila si anak digendong oleh orangtuanya yang biasanya digendong dengan erat maka apa yang dilakukan oleh bikkhu itu sudah pasti terdapat unsur pemaksaan, dan bila terdapat unsur pemaksaan maka unsur ketiadaan cettana atau ketidaksengajaan tidak lagi terdapat. emoticon-Smilie
saya tidak terlalu tertarik untuk mengusik atau memeriksanya lebih dalam, makanya pertanyaan saya sederhana, terdapat perbedaan atau tidak pada ajaran samawi mengenai perbuatan yang berdasarkan kesengajaan atau ketidaksengajaan ?
Dan saya pun menanyakan pertanyaan sederhana ini ke kamu, bukan yang lain. emoticon-Smilie


baah gw memepermudah...malahan loe persulit sendiri joe emoticon-Busa
gw fokus menyoroti apa yg terjadi pd si biksu botak enoh.... gak masalah kondisi org tua apakah pada posisi sudah berlaku sesuai tanggung jawabnya ataow pun lalai...
apakah anak itu digendong org tuanya..lalu si org tua tertabrak biksu hingga anknya lepas dan jatuh kebawah....
ataow memnag org tua lalai membiarkan anaknya sendirian tanpa pendamping diatas sebuah jembatan gantung....
yg pasti...biksu tersebut lepas dr hukum apapun coz tdk "cettana" emoticon-Busa

dan loe terlalu jauh mengomentari sampai transendens immanens segala emoticon-Busa
istilah transendens immanens cuman dikotomi bisa2an kaum atheis ma agnostik dan variannya....
manusia dituntut sanggup menjawab apa saja hal mengenai sosok "the higher being" atas segala kehendak Nya maupun perilakuNya...emoticon-Gila
yg pada dasarnya Tuhan sendiri sudah "memperkenalkan diri" kpd manusia "seperti apa Dia" dg manusia yg diutusNya maupun kitab suci yg menerangkan tentang diriNya..... sehingga manusia "bisa" mengenal Tuhannya (immanens)... tapi tentu keterbatasan manusia tdk akan mengetahui apa dan seperti apa wujudNya...kehendakNya...rencana2Nya pd manusia.... rahasia2 yg tdk diungkapkanNya pd manusia....

gw tau loe galau joe.... melakukan pencarian kesana kemari.... sampai2 loe rela convert demi menemukan apa yg dapat memuaskan loe dalam hal konsep keagamaan....
sayangnya loe terjebak di ajaran konyol enih...
loe lepas dr mulut anjing emoticon-anjing....masuk ke congor babi emoticon-babi

gw udah pesimis loe bakal baca/mencari tau ttg clue yg udah gw sampein.... padahal disitu sangat jelas bagaimana hukum Tuhan mengatur ttg masalah enih.... dan hal ini jauh dr mindset yg ada di otak loe joe.... kagak ada qhisos...
itu semua karena loe udah underestimated duluan....
lanjutkan pencarian loe joe.... gw tunggu kabarnya loe jadi muallaf emoticon-Angkat Beer

Quote:
Memang mencakup seluruh aspek kehidupan untuk mencapai pelepasan "keduniawian", ingat, sudah saya katakan sebelumnya puncak dari tujuan buddhisme, sekarang apakah tujuan kehidupan "bernegara" selaras dengan tujuan Buddhisme?


Kamu baca dahulu dengan baik tafsiran dari pasal-pasal yang kamu usung dan pahami dahulu makna "ontoe rekenings vat baar heid" - ketidakmampuan bertanggungjawab dan mengenai keterbatasan seseorang tentang mana yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bila kita lanjutkan bahasan kita tentang hukum pidana, ingat terdapat beberapa unsur delik pidana yang mana suatu perbuatan dapat dikategorikan sebagai tindakan pidana atau bukan ; menyebabkan kerugian bagi seseorang dan kesengajaan.
Sekarang apakah yang dilakukan oleh bikkhu tersebut terdapat unsur kesengajaan atau tidak? emoticon-Smilie
Sesuatu yang dilakukan dengan niat dan perencanaan?
Bila tidak, maka secara simple kejadian tersebut unsur yang terkuat adalah "accidental", kecelakaan. Bila memang si bikkhu tersebut memiliki kemampuan untuk mengetahui bahwa yang berada di depannya adalah seorang anak kecil, baik melalui tongkat pemandu atau rabaan anggota tubuh bahwa di hadapannya adalah seseorang anak kecil tetapi ia tetap meneruskan langkahnya dan menabrak anak tersebut maka unsur ketidaksengajaan akan hilang, terdapat unsur kesengajaan di situ, maka terbersit "cettana" - "saya akan teruskan menabrak tidak perduli di depan saya terdapat anak kecil, mau mampus, mampus sana." Unsur ketidaksengajaan akan hilang, dan tentu ini akan dapat dikategorikan tindakan pidana dengan sengaja. emoticon-Smilie

Makanya saya katakan sebelumnya, terdapat perbedaan tujuan dalam kehidupan dengan pandangan immanens dengan tujuan buddhisme yang memiliki pandangan transendens.
Tidak semua orang suka dengan kesunyian dan juga tidak semua orang suka dengan hiruk pikuk. Tawaran dari Buddhisme sangat sederhana, bila kamu tidak suka dengan hiruk pikuk capailah kesunyian. Dan bila kamu berniat meneruskan bahasan ini maka level bahasan ini akan meningkat ke level "tujuan yang membahagiakan" emoticon-Smilie.
By the way, apa yang dikatakan om Choa memang betul, ajaran Buddhisme adalah ajaran yang sangat kompatibel dengan. Seluruh umat manusia, apakah kamu sudah membaca sutta-sutta lain dari Buddhisme seperti kalama sutta, pharabhava sutta, karaniya metta sutta, mangala sutta, dhammapaddha dan lain2? Sehingga langsung menjudge bahwa suatu ajaran tidak kompatibel hanya berdasarkan satu sutta saja? emoticon-Smilie
Dan ucapan kamu sedikit ada betulnya juga, ajaran Buddhisme memang fokus pada pembangunan personal, inner-self development, bagaimana suatu kelompok, tatanan masyarakat, negara, akan maju bila pembangunan personalnya tidak baik? emoticon-Smilie
Ini bukankah sama saja mengharapkan orang lain menjadi baik tapi diri sendiri tidak baik dan mengabaikan pengembangan dan pembangunan diri sendiri?


compatibel apaan...emoticon-Busa
gw udah bilang..loe mempersulit diri sendiri...padahal kasus yg gw tawarkan itu sangat simpel
kondisi yg oe terangin justru membuat kondisi biksu ber-cettana
padahal inti dr kasus itu adalah "sebuah kecelakan"

sudahlah joe.... gak usah loe ngarep tinggi2...konsep agama budha ternyata menyerah dihadapkan dg urusan kenegaraan emoticon-Busa
dan udah gw tunjukkin beberapa kekonyolan ajaran si gotama blegug enih...
konsep cettana....konsep welas asih wannabe dg menjauhi konsumsi makhluk hidup....puncaknya dg konsep menggapai nibbana dg salah satu caranya yg harus dilakukan adalah menghilangkan keinginan duniawi emoticon-Busa
disini pun gw mengkritik ajaran agama lain yg membeda2kan apa yg menjadi hak pemuka agamanya dg umat...ex: kimpoi
@blue....ajaran budha cuman cocok buad org2 antisosial yg bersedia meninggalkan kehidupan dunia nya beralih ke tengah hutan emoticon-Busa

konsep ajaran budha adalah konsep ajaran yg tidak manusiawi emoticon-Angkat Beer

silakan loe bawa sutta lainnya joe.... ntar gw cari kekonyolannya emoticon-Angkat Beer
Diubah oleh jambul.returns
0 0
0
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
10-05-2013 20:11

Quote:Original Posted By HokagoTiTaimu

Wah, menarik sekali Bang Jambul..

Sebetulnya ini Kak Choa atau Kak Joe yang lebih paham.
Saya ambil perspektif linguistik aja ya...

Jadi sebetulnya asal kata tumimbal lahir itu dari punabbhava yang merupakan kosakata bahasa Pali.
Gambaran dari punabbhava ini adalah kehidupan yang berkesinambungan dari kehidupan yang satu ke kehidupan lainnya. Jiwa belum tentu akan dilahirkan sebagai mahluk yang sama.

Penalaran Bang Jambul memang sangat tepat, karena istilah ini diserap dulu ke Bahasa Inggris sebelum masuk sebagai kosakata Bahasa Indonesia. Dalam literatur berbahasa Inggris, Punabbhava dilokalkan sebagai Rebirth atau secara sederhana bisa diartikan sebagai "kelahiran kembali".

Di Indonesia, ketika zaman orde baru, literatur pelajaran agama umum (bukan yang khusus Buddhis) kebanyakan menggunakan istilah Inkarnasi atau reinkarnasi sebagai padanan kata Rebirth, padahal menurut para ahli linguistik (terutama yang mengkaji Agama Buddha), istilah inkarnasi yang secara harfiah dapat dibayangkan sebagai 'masuknya jiwa' (in - karnasi) kurang tepat dalam memberikan gambaran tentang punabbhava.

Itulah sebabnya kemudian kalangan internal Buddhis kemudian menggunakan istilah tumimbal lahir untuk menggambarkan punabbhava. Dimana asal kata "tumimbal" (dari bahasa sansekerta Jawa Kuna yang berarti bolak-balik atau berulang) lebih tepat menggambarkan istilah punabbhava tersebut.

Btw, kata tumimbal lahir sendiri belum resmi masuk KBBI dan masih dianggap sebagai istilah khusus dari komunitas terkait meskipun sudah berterima secara luas. emoticon-Hammer Mungkin inilah yang menjadikan banyak literatur umum salah kaprah dan lebih suka menggunakan istilah reinkarnasi sebagai padanan kata punabbhava

Jadi ringkasnya, bahasa Indonesia modern 'melokalkan' istilah punabbhava dari Bahasa Inggris rebirth menjadi reinkarnasi. Padahal Buddhisme sudah ada di Indonesia ribuan tahun sejak era Sriwijaya. Ini juga yang menjadi alasan kenapa internal Buddhis justru memilih istilah yang berakar dari Sansekerta Jawa Kuna untuk menyebut punabbhava, tapi tidak pernah mempermasalahkan 'pembakuan' istilah sesuai dengan karakter penganut Buddhis sendiri yang mungkin 'kurang berminat' mempermasalahkan hal-hal semacam itu...

Demikianlah sepengetahuan saya... emoticon-Ngacir



kalow tentang pengertian tumimbal lahir maybe si joe atow choa yg lebih ngerti gan... cuman disini ane pengen tau ttg perspektif linguistiknya

dan kalow ente bilang asal katanya adalah "punnabavha" maka bakal berkaitan erat ma konsep hindu yg lebih dulu mengenal istilah ini....
punnabhava terminologi hindu dlm bhs inggris dikenal dg reincarnation....
tentu dlm hal ini berbeda dg konsep budha... walowpun diatas ada yg dg tololnya menyamakan tumimbal lahir sbg reinkarnasi emoticon-Busa
seperti ente bilang.... punnabhava sesuai konsep budha di inggriskan menjadi re-birth.... biar tampil beda
padahal cuman akal2an si gotama itu emoticon-Ngakak (S)
kalow reinkarnasi merupakan kelanjutan siklus kehidupan yg dialami suatu makhluk... konsep tumimbal lahir justru melahirkan suatu makhluk baru akibat kamma yg sama sekali tdk berkaitan dg makhluk yg lama....kecuali energi kamma nya

bedewey...ente budhist bukan gan..???emoticon-Amazed
0 0
0
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
10-05-2013 20:35
emoticon-Ngakak
0 0
0
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
10-05-2013 20:58
Quote:Original Posted By _Blizzard_

@bold
itu yg gue maxut emoticon-shakehand

Yah, agan mau ragu, itu hak agan.
Semua orang punya hak untuk ragu.
Buddhis atau bukan.
1 0
1
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
11-05-2013 02:22
Quote:Original Posted By jambul.returns


sudahlah joe.... gak usah loe ngarep tinggi2...konsep agama budha ternyata menyerah dihadapkan dg urusan kenegaraan emoticon-Busa
dan udah gw tunjukkin beberapa kekonyolan ajaran si gotama blegug enih...
konsep cettana....konsep welas asih wannabe dg menjauhi konsumsi makhluk hidup....puncaknya dg konsep menggapai nibbana dg salah satu caranya yg harus dilakukan adalah menghilangkan keinginan duniawi emoticon-Busa
disini pun gw mengkritik ajaran agama lain yg membeda2kan apa yg menjadi hak pemuka agamanya dg umat...ex: kimpoi
@blue....ajaran budha cuman cocok buad org2 antisosial yg bersedia meninggalkan kehidupan dunia nya beralih ke tengah hutan emoticon-Busa

konsep ajaran budha adalah konsep ajaran yg tidak manusiawi emoticon-Angkat Beer

silakan loe bawa sutta lainnya joe.... ntar gw cari kekonyolannya emoticon-Angkat Beer


“Kepemilikan-kepemilikan seperti ladang-ladang, tanah, logam mulia,
emas, sapi, kerbau-kerbau, budak-budak, anak-anak, istri-istri, dll.,
membawa bahaya yang luar biasa besar kepada mereka yang menjadi
melekat terhadap kepemilikan-kepemilikan tersebut. Kepemilikankepemilikan
tersebut diinginkan oleh banyak orang karena kepemilikankepemilikan
tersebut merangsang keinginan; kepemilikan-kepemilikan
tersebut dapat diambil alih oleh para raja dan para pencuri; kepemilikankepemilikan
tersebut mencetuskan perselisihan dan menciptakan musuh-musuh; kepemilikan-kepemilikan tersebut pada dasarnya tanpa
inti; untuk memperoleh dan melindungi kepemilikan-kepemilikan
tersebut seseorang harus mengusik makhluk lain; ketika kepemilikan-kepemilikan tersebut hancur, banyak jenis malapetaka, seperti
kesedihan, dll., yang mengikuti; dan karena kemelekatan terhadap
benda-benda ini, pikiran menjadi terobsesi dengan noda kekikiran, dan
sebagai hasilnya seseorang terlahir kembali di alam penderitaan. Di sisi
lain, satu tindakan melepaskan benda-benda ini adalah satu langkah
menuju keselamatan. Maka dari itu seseorang seharusnya melepaskan
kepemilikan-kepemilikan tersebut dengan ketekunan.”

Kesempurnaan pelepasan keduniawian seharusnya direfleksikan
dengan pertama-tama memahami bahaya-bahaya di dalam kehidupan
berumah tangga, menurut teks “kehidupan berumah tangga adalah
menyempitkan, sebuah jalan untuk debu hawa nafsu-hawa nafsu,”
dll. (D.i,63); bahaya-bahaya di dalam kesenangan-kesenangan
indra, menurut teks, “kesenangan indra adalah seperti rantai dari
tulang-tulang,” dll. (M.i,364); dan bahaya-bahaya di dalam nafsu
indra, menurut teks “andaikan seseorang meminjam pinjaman dan melaksanakan pekerjaan,” dll. (D.i,71). Kemudian, dalam cara yang
sebaliknya, seseorang harus merefleksikan manfaat dalam kepergian
keluar, menurut teks “kepergian keluar adalah seperti ruang terbuka,”
dll. (D.i,63). Ini adalah sebuah pernyataan singkat. Untuk detailnya
seseorang harus memeriksa sutta-sutta seperti “Gumpalan Penderitaan
yang Besar” (M.i,83-90) atau “Simile Ular-Ular Beracun” (S.iv,172-
75).

“Bagi seseorang yang tinggal di sebuah rumah, tidak ada kesempatan untuk
menikmati kebahagiaan dari pelepasan keduniawian, dll., karena
kehidupan rumah adalah tempat tinggal dari semua kekotoran batin,
karena seorang istri dan anak-anak membebankan batasan-batasan
(terhadap kebebasan seseorang), dan karena beragam kerajinan dan
pekerjaan, seperti pertanian dan perdagangan, mengarah pada berbagai
jeratan. Dan kesenangan-kesenangan indra, seperti setetes madu yang
melumuri sebilah mata pedang, memberikan kepuasan yang terbatas
dan membawa bahaya yang berlimpah. Kesenangan-kesenangan indra
itu berlangsung sangat singkat ibarat pertunjukkan yang dipersepsikan
dalam satu kilatan cahaya; hanya dapat dinikmati melalui kesesatan
persepsi seperti perhiasan-perhiasan dari seorang yang gila; sebuah
sarana balas dendam seperti lubang tinja yang disamarkan; tidak
memuaskan seperti meminum air yang sangat sedikit atau air yang hanya
cukup untuk melembabkan jari-jari tangan; sifatnya menyebabkan
penderitaan seperti makanan yang di dalamnya busuk; penyebab
malapetaka seperti kail yang diberi umpan; penyebab penderitaan
dalam ketiga waktu seperti api yang membara; sebuah dasar untuk
perbudakan seperti lem kuat; sebuah samaran untuk penghancuran
seperti mantel pembunuh; sebuah tempat yang berbahaya seperti sebuah
tempat tinggal di dalam sebuah desa musuh; makanan untuk Māra dari
kekotoran-kekotoran batin seperti suporter-suporter musuhnya; pasti
akan mengalami penderitaan melalui perubahan seperti kenikmatan
dari sebuah festival; membara di dalam seperti api di dalam rongga
sebuah pohon; penuh bahaya seperti sebuah bola madu yang tertahan
oleh tanaman bulrush di dalam sebuah lubang tua; memperkuat rasa
haus seperti sebuah minuman dari air garam; digunakan oleh yang vulgar seperti minuman keras dan anggur; dan memberikan sedikit
kepuasan seperti sebuah rangkaian tulang.”
0 0
0
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
11-05-2013 02:32

Quote:Original Posted By Choa


hah,!!!

bukankah buddhisme sekarang merupakan ajaran history yg ada pelaku sejarahnya.

artinya buddha Gotama pernah hidup sebagai manusia dan berjalan di bumi kita sekarang yang kita tempati, maka ajaran ini dapat di telusuri sejarahnya, bukan agama dari gaib, alias hantu atau tuhan

emoticon-Ngakak


agan sedikit ngak nyambung dgn pertanyaan dia...
=
Quote:Original Posted By _Blizzard_

karna gak tiap makhluk dapat liat perwujudan Buddha yg tdk dalam tubuh manusia


maksudnya: baik itu manusia , baik itu muridnya, ketika berhadapan dgn buddha maka yg nampak adalah sosok manusia sebagai mana yg lihat,
si yang lihat, tiada melihat buddha dalam bentuk lain
0 0
0
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
11-05-2013 02:41
Quote:Original Posted By xenocross


“Kepemilikan-kepemilikan seperti ladang-ladang, tanah, logam mulia,
emas, sapi, kerbau-kerbau, budak-budak, anak-anak, istri-istri, dll.,
membawa bahaya yang luar biasa besar kepada mereka yang menjadi
melekat terhadap kepemilikan-kepemilikan tersebut. Kepemilikankepemilikan
tersebut diinginkan oleh banyak orang karena kepemilikankepemilikan
tersebut merangsang keinginan; kepemilikan-kepemilikan
tersebut dapat diambil alih oleh para raja dan para pencuri; kepemilikankepemilikan
tersebut mencetuskan perselisihan dan menciptakan musuh-musuh; kepemilikan-kepemilikan tersebut pada dasarnya tanpa
inti; untuk memperoleh dan melindungi kepemilikan-kepemilikan
tersebut seseorang harus mengusik makhluk lain; ketika kepemilikan-kepemilikan tersebut hancur, banyak jenis malapetaka, seperti
kesedihan, dll., yang mengikuti; dan karena kemelekatan terhadap
benda-benda ini, pikiran menjadi terobsesi dengan noda kekikiran, dan
sebagai hasilnya seseorang terlahir kembali di alam penderitaan. Di sisi
lain, satu tindakan melepaskan benda-benda ini adalah satu langkah
menuju keselamatan. Maka dari itu seseorang seharusnya melepaskan
kepemilikan-kepemilikan tersebut dengan ketekunan.”

Kesempurnaan pelepasan keduniawian seharusnya direfleksikan
dengan pertama-tama memahami bahaya-bahaya di dalam kehidupan
berumah tangga, menurut teks “kehidupan berumah tangga adalah
menyempitkan, sebuah jalan untuk debu hawa nafsu-hawa nafsu,”
dll. (D.i,63); bahaya-bahaya di dalam kesenangan-kesenangan
indra, menurut teks, “kesenangan indra adalah seperti rantai dari
tulang-tulang,” dll. (M.i,364); dan bahaya-bahaya di dalam nafsu
indra, menurut teks “andaikan seseorang meminjam pinjaman dan melaksanakan pekerjaan,” dll. (D.i,71). Kemudian, dalam cara yang
sebaliknya, seseorang harus merefleksikan manfaat dalam kepergian
keluar, menurut teks “kepergian keluar adalah seperti ruang terbuka,”
dll. (D.i,63). Ini adalah sebuah pernyataan singkat. Untuk detailnya
seseorang harus memeriksa sutta-sutta seperti “Gumpalan Penderitaan
yang Besar” (M.i,83-90) atau “Simile Ular-Ular Beracun” (S.iv,172-
75).

“Bagi seseorang yang tinggal di sebuah rumah, tidak ada kesempatan untuk
menikmati kebahagiaan dari pelepasan keduniawian, dll., karena
kehidupan rumah adalah tempat tinggal dari semua kekotoran batin,
karena seorang istri dan anak-anak membebankan batasan-batasan
(terhadap kebebasan seseorang), dan karena beragam kerajinan dan
pekerjaan, seperti pertanian dan perdagangan, mengarah pada berbagai
jeratan. Dan kesenangan-kesenangan indra, seperti setetes madu yang
melumuri sebilah mata pedang, memberikan kepuasan yang terbatas
dan membawa bahaya yang berlimpah. Kesenangan-kesenangan indra
itu berlangsung sangat singkat ibarat pertunjukkan yang dipersepsikan
dalam satu kilatan cahaya; hanya dapat dinikmati melalui kesesatan
persepsi seperti perhiasan-perhiasan dari seorang yang gila; sebuah
sarana balas dendam seperti lubang tinja yang disamarkan; tidak
memuaskan seperti meminum air yang sangat sedikit atau air yang hanya
cukup untuk melembabkan jari-jari tangan; sifatnya menyebabkan
penderitaan seperti makanan yang di dalamnya busuk; penyebab
malapetaka seperti kail yang diberi umpan; penyebab penderitaan
dalam ketiga waktu seperti api yang membara; sebuah dasar untuk
perbudakan seperti lem kuat; sebuah samaran untuk penghancuran
seperti mantel pembunuh; sebuah tempat yang berbahaya seperti sebuah
tempat tinggal di dalam sebuah desa musuh; makanan untuk Māra dari
kekotoran-kekotoran batin seperti suporter-suporter musuhnya; pasti
akan mengalami penderitaan melalui perubahan seperti kenikmatan
dari sebuah festival; membara di dalam seperti api di dalam rongga
sebuah pohon; penuh bahaya seperti sebuah bola madu yang tertahan
oleh tanaman bulrush di dalam sebuah lubang tua; memperkuat rasa
haus seperti sebuah minuman dari air garam; digunakan oleh yang vulgar seperti minuman keras dan anggur; dan memberikan sedikit
kepuasan seperti sebuah rangkaian tulang.”


seperti ungkapan dari seorang penyair kawakan . . . emoticon-Cendol (S)

emoticon-Toast
gelas cendol
0 0
0
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
11-05-2013 05:07
Quote:Original Posted By pelamun



agan sedikit ngak nyambung dgn pertanyaan dia...
=


maksudnya: baik itu manusia , baik itu muridnya, ketika berhadapan dgn buddha maka yg nampak adalah sosok manusia sebagai mana yg lihat,
si yang lihat, tiada melihat buddha dalam bentuk lain


saya rasa saya dan blizard dapatr berkomunikasi dg baik
(mungkin anda yang mnerasa saya tidak menjawab pertanyaan blizard)

memang pencapaiaqn kebuddhaan susah dinilai oleh orang "biasa"
selain para pelaku spiritual, coz tidak ada perubahan signifikan pada penampilan fisiknya

emoticon-shakehand
0 0
0
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
11-05-2013 09:01
Quote:Original Posted By Pi-One

Yah, agan mau ragu, itu hak agan.
Semua orang punya hak untuk ragu.
Buddhis atau bukan.

emoticon-shakehand
Quote:Original Posted By pelamun



agan sedikit ngak nyambung dgn pertanyaan dia...
=


maksudnya: baik itu manusia , baik itu muridnya, ketika berhadapan dgn buddha maka yg nampak adalah sosok manusia sebagai mana yg lihat,
si yang lihat, tiada melihat buddha dalam bentuk lain

bukan begitu tepatnya yg gue maksud , tapi wujud Buddha di alam beda tp hal ini sudah dijawab choa yaitu tergantung kamma baik buat mampu melihatNya emoticon-shakehand


Quote:Original Posted By Choa


saya rasa saya dan blizard dapatr berkomunikasi dg baik
(mungkin anda yang mnerasa saya tidak menjawab pertanyaan blizard)

memang pencapaiaqn kebuddhaan susah dinilai oleh orang "biasa"
selain para pelaku spiritual, coz tidak ada perubahan signifikan pada penampilan fisiknya

emoticon-shakehand

emoticon-shakehand
0 0
0
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
11-05-2013 09:06
Quote:Original Posted By pelamun


seperti ungkapan dari seorang penyair kawakan . . . emoticon-Cendol (S)

emoticon-Toast
gelas cendol


karena blue guy tdk beragama Islam emoticon-No Sara Please
0 0
0
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
11-05-2013 10:45
Quote:Original Posted By jambul.returns


gwoblog....emoticon-Nohope
hukum archimedes diadopsi buad bikin kapal laut njeenk emoticon-Cape d... (S)


emoticon-Cape d... ngapain u bawa2 kapal laut??? inti yg g tangkep dr pertanyaan u kan diadopsi ama negara

Quote:Original Posted By jambul.returns

heh sampah...!!!!
apa yg loe rasa heh...???!!! ga penting perasaan loe...kek yg gw peduli aja emoticon-Busa
jelas konyol kan.... klaim bahwa ajaran budha meliputi hampir semua aspek kehidupan...nyatanya di negara yg notabene budha mayoritas dan berkembang tanpa halangan justru kaga dipake tuh hukum2 sutta sbg peraturan bernegara emoticon-Busa


emang ada keharusan bro negara yg beragama mayoritas hrs pk hukum agama tsb...ga usa jauh2 la indonesia sendiri jg ga pk hukum agama

Quote:Original Posted By jambul.returns

ya iyalaah kalow nurutin si geblek gotama loe semua kudu jadi biksu...
neeh gw contohin.... @all..buad semua


bukan pada jd biksu..tp org2 kyk lu ga bs idup emoticon-Ngakak

Quote:Original Posted By jambul.returns

untuk mencapai tujuan akhir kehidupan dunia sesuai konsep budha yaitu nibbana.... loe kudu mengikuti jalan mulia berunsur delapan...neeh gw copas


coba perhatiin yg gw @red....
kalow loe nikah....apa mungkin loe bisa lepasin keinginan duniawi...ngbaik binik....nyenengin bini ma anak2 jalan2...???


baik bini boleh asal cm bini lu jgn punya orang lain ato u nyari cewe lain buat di baik....ini salah satu keinginan duniawi

nyenengin bini ama anak2 itu harus....ini tugas dan kewajiban bukan keinginan duniawiemoticon-Cape d...

u kalo mo kasi contoh yg cerdasan dikit dong bro..

Quote:Original Posted By jambul.returns

kalow loe pekerja...apa mungkin loe gak mau menggapai promosi jabatan yg lbh tinggi..demipenghidupan yg lebih baik..???

kl dr contoh u ma boleh la, skali lagi tu namanya manusiawi....

g terusin d contoh lu biar u ngerti....kl lo stlh dpt posisi yg lebih tinggi dan penghasilan baik trus u lupa diri, foya2, main cewe, n punya keinginan2 lain yg lebih dari kemampuan u dan yg kadang2 ga berguna yg cm nurutin nafsusampe menimbulkan kemelekatan ini yg disebut keinginan duniawi....


Quote:Original Posted By jambul.returns

kalow loe siswa/mahasiswa... apa loe gak ingin mendapat nilai bagus dan berprestasi di berbagai bidang..??
dll..dll..dll..dan lain2 yg bakal buanyak bangedh kalow gw rinci emoticon-Busa

boleh, siapa blg ga boleh... menurut g sah2 aja kl yg standart2..contoh spt kl lu mo kaya, siswa punya nilai bagus, pabrik yg banyak, dsb....selama punya tujuan yg baik...tp kl disimpan sendiri, tidak berbagi, menghalalkan segala cara utk mendapatkan hal2 yg diatas ini bisa yg disebut keinginan duniawi

Quote:Original Posted By jambul.returns

selain itu loe kudu menjauhi tindakan pembunuhan hewan untuk konsumsi....
enih yg paling kuonyol sodalagh sodalagh emoticon-Busa


menjauhi bukan berarti ga boleh ato dilarangkan...

utk konsumsi daging di agama buddha ada beberapa kriteria...tp ga perlu la g sebutin, u kynya hebat kl soal ngumpulin data emoticon-Recommended Seller

Quote:Original Posted By jambul.returns

si pi-one udah nyebutin sendiri kaloew gak mungkin menghindari pembunuhan hewan untuk konsumsi... untuk vegetarian sekalipun
karena proses penanaman bahan makanan jelas mematikan hewan2 kecil, hama wereng, walang sangit...keong...
apa loe mau bilang kalow gaya hidup vegan sama sekali lepas dr unsur pembunuhan..??? emoticon-Gila

ingat bung.... tidak ada satupun sesuatu makanan yg masuk kedalam mulut kita tanpa adanya kematian hewan..apapun bentuknya emoticon-fuck


karena itu disuruh menjauhi bukan di larangemoticon-Cool

Quote:Original Posted By jambul.returns

artinya konsep budha enih kagak realistis cuy...untuk memenuhi unsur2 diatas loe kudu hidup di hutan tanpa kehidupan sosial...tanpa perlu mencapai apa2 yg menjadi tujuan duniawi emoticon-Busa
makanya gw bilang konsep enih cuman cocok pd tataran personal ataow paling jauh kelompok....
dan kelompok itu bakal jadi cem biksu botak bejad balak enam gwoblok ituh emoticon-Busa

mo ngomong apa loe heh...??!!! emoticon-fuck emoticon-fuck emoticon-fuck

ya itu si terserah dan hak anda bro....lagian ga pengaruhnya jg buat agama buddha u percaya ato ga percaya.....

tapi yg pasti suka ga suka, trima ga trima buddha sdh masuk kepikiran bro




0 0
0
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
11-05-2013 10:53
Quote:Original Posted By _Blizzard_
bukan begitu tepatnya yg gue maksud , tapi wujud Buddha di alam beda tp hal ini sudah dijawab choa yaitu tergantung kamma baik buat mampu melihatNya emoticon-shakehand

Sori, justru malah gak nangkap maksudnya.
Buddha di alam lain? Di alam mana maksudnya?
Jika bicaranya merujuk ke Mahayana, maka Pi-One angkat tangan dah...
1 0
1
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
11-05-2013 11:38
Quote:Original Posted By jambul.returns


owh gitu.... jadi sangat dimungkinkan perpindahan alam pd siklus kehidupan selanjutnya

Betul emoticon-thumbsup:


Quote:baah gw memepermudah...malahan loe persulit sendiri joe emoticon-Busa
gw fokus menyoroti apa yg terjadi pd si biksu botak enoh.... gak masalah kondisi org tua apakah pada posisi sudah berlaku sesuai tanggung jawabnya ataow pun lalai...
apakah anak itu digendong org tuanya..lalu si org tua tertabrak biksu hingga anknya lepas dan jatuh kebawah....
ataow memnag org tua lalai membiarkan anaknya sendirian tanpa pendamping diatas sebuah jembatan gantung....
yg pasti...biksu tersebut lepas dr hukum apapun coz tdk "cettana" emoticon-Busa

dan loe terlalu jauh mengomentari sampai transendens immanens segala emoticon-Busa
istilah transendens immanens cuman dikotomi bisa2an kaum atheis ma agnostik dan variannya....
manusia dituntut sanggup menjawab apa saja hal mengenai sosok "the higher being" atas segala kehendak Nya maupun perilakuNya...emoticon-Gila
yg pada dasarnya Tuhan sendiri sudah "memperkenalkan diri" kpd manusia "seperti apa Dia" dg manusia yg diutusNya maupun kitab suci yg menerangkan tentang diriNya..... sehingga manusia "bisa" mengenal Tuhannya (immanens)... tapi tentu keterbatasan manusia tdk akan mengetahui apa dan seperti apa wujudNya...kehendakNya...rencana2Nya pd manusia.... rahasia2 yg tdk diungkapkanNya pd manusia....

Lho bagaimana bisa gak bermasalah bul?
Kamu yang malah menjadi semakin aneh sekarang dalam berargument, suatu peristiwa atau kecelakaan terdapat kondisi-kondisi penunjang. Bila tidak ada kondisi yang menunjang maka peristiwa tersebut tidak akan terjadi.. emoticon-Smilie
Sekarang kamu menyajikan argument dengan kondisi yang mengambang tidak jelas dan difokuskan pada peristiwa si bikkhunya saja tanpa memperhatikan kondisi2 penunjangnya, bukankah ini sangat lucu?
Pada persidangan formil pun bukankah motivasi, saksi, dan alat bukti menjadi bahan pertimbangan dari vonis atau putusan pengadilan?
Jadi intinya no matter how, bikkhu botak ini tanpa atau dengan cettana guilty menurut kamu. This is so ridiculous emoticon-Nohope

Quote:gw tau loe galau joe.... melakukan pencarian kesana kemari.... sampai2 loe rela convert demi menemukan apa yg dapat memuaskan loe dalam hal konsep keagamaan....
sayangnya loe terjebak di ajaran konyol enih...
loe lepas dr mulut anjing emoticon-anjing....masuk ke congor babi emoticon-babi

Tidak, saya justru mendapatkan yang terbaik bul, sorry, kalau melihat berbagai postingan yang bertebaran di DC kaskus ini ketahuan kok siapa yang galau. emoticon-Smilie

Quote:gw udah pesimis loe bakal baca/mencari tau ttg clue yg udah gw sampein.... padahal disitu sangat jelas bagaimana hukum Tuhan mengatur ttg masalah enih.... dan hal ini jauh dr mindset yg ada di otak loe joe.... kagak ada qhisos...
itu semua karena loe udah underestimated duluan....
lanjutkan pencarian loe joe.... gw tunggu kabarnya loe jadi muallaf emoticon-Angkat Beer

Nope, saya sudah menemukan berlian terbaik, dan saya tidak akan melepaskan dengan mudah berlian yang sangat sulit untuk didapatkan.
Berarti bila tidak terdapat niat dan perencanaan di mana unsur ketidaksengajaan sangat dominan pada bikkhu tersebut tidak diberlakukan hukuman setimpal nyawa ganti nyawa bukan? emoticon-Smilie



Quote:compatibel apaan...emoticon-Busa
gw udah bilang..loe mempersulit diri sendiri...padahal kasus yg gw tawarkan itu sangat simpel
kondisi yg oe terangin justru membuat kondisi biksu ber-cettana
padahal inti dr kasus itu adalah "sebuah kecelakan"

Bingo, gotcha, @bold kamu sudah menjawabnya sendiri. Jadi konyol yang kamu sematkan pada Buddhisme di sini sangatlah sesuka-suka kamu dan semau hati kamu tanpa dasar yang jelas. emoticon-Smilie
Di mana kondisi2 penunjang sama sekali kamu bebaskan dan abaikan, bagi kamu yang penting bikkhu ini menabrak orang sampai mati saja, titik. emoticon-Smilie

Quote:sudahlah joe.... gak usah loe ngarep tinggi2...konsep agama budha ternyata menyerah dihadapkan dg urusan kenegaraan emoticon-Busa
dan udah gw tunjukkin beberapa kekonyolan ajaran si gotama blegug enih...
konsep cettana....konsep welas asih wannabe dg menjauhi konsumsi makhluk hidup....puncaknya dg konsep menggapai nibbana dg salah satu caranya yg harus dilakukan adalah menghilangkan keinginan duniawi emoticon-Busa
disini pun gw mengkritik ajaran agama lain yg membeda2kan apa yg menjadi hak pemuka agamanya dg umat...ex: kimpoi
@blue....ajaran budha cuman cocok buad org2 antisosial yg bersedia meninggalkan kehidupan dunia nya beralih ke tengah hutan emoticon-Busa

konsep ajaran budha adalah konsep ajaran yg tidak manusiawi emoticon-Angkat Beer

silakan loe bawa sutta lainnya joe.... ntar gw cari kekonyolannya emoticon-Angkat Beer

Menyerah? emoticon-Smilie
Well seperti yang saya duga, kamu pun enggan memeriksa berbagai referensi sutta yang saya berikan, di mana banyak hukum ketatanegaraan pun terinspirasi dari ajaran Buddhisme, dan bagaimana bisa kamu mengatakan ajaran Buddhisme sebagai ajaran "kasih wannabe" sementara nampak kalau kamu sendiri gak memahami makna dari kasih yang universal dan tidak diskriminatif. emoticon-Smilie
Terdapat perbedaan antara kasih yang kamu pahami dengan yang saya pahami sehingga kamu dengan asal dan sekenanya mengatakan konsep kasih yang terdapat pada Buddhisme adalah "kasih wannabe", di mana bagi kamu membunuh mahluk lain dapat dikatakan sebagai hal yang baik dan mendiskriminasikan penganut agama/ajaran lain dan mengeksploitasinya adalah suatu kebaikan. emoticon-Smilie
0 0
0
Halaman 261 dari 517
icon-hot-thread
Hot Threads
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia