- Beranda
- The Lounge
Gas Beracun di Dieng Bisa Keluar dari Rekahan Tanah
...
TS
feriecreats
Gas Beracun di Dieng Bisa Keluar dari Rekahan Tanah
BANJARNEGARA - Sejak sepekan terakhir, Kawah Timbang yang berada di Desa Sumberejo, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegera, Jawa Tengah, menjadi perbincangan.
Bagaimana tidak, salah satu kawah di pegunungan (dataran tingi) Dieng itu terus menunjukkan aktivitas. Mulai dari gempa dan semburan gas karbondioksida (CO2), belerang (H2S), dan sulfurdioksida (SO2) yang melebihi ambang batas normal.
Lalu, bagaimanakah penyebaran gas beracun yang dapat merenggut nyawa manusia dan hewan tersebut?
Pusat Vulkanalogi dan Mitigasi Bencana Geologi menyebut, ancaman gas beracun tak hanya timbul dari pusat semburan di kawah, melainkan juga dari tanah yang merekah akibat gempa. Tentunya, kondisi itu mengingatkan kejadian luar biasa pada 20 Februari 1979. Saat itu, Kawah Sinila mengeluarkan gas beracun melalui retakan tanah hingga menewaskan 149 warga.
Maka dari itu, warga diimbau untuk tidak beraktivitas di radius 500 meter yang telah ditetapkan sebagai zona bahaya oleh tim vulkanologi. Area tersebut merupakan perkebunan warga, baik tanaman bunga maupun kentang.
“Kalau ada gempa besar dan dirasakan semakin besar, ancaman gas beracun ini tidak hanya bisa keluar dari kawah, melainkan juga dari rekahan yang timbul akibat gempa,” ujar Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Dieng, Tunut Pujiarjo, Rabu (20/3/2013).
Konsentrasi gas CO2 yang keluar dari Kawah Timbang sejak sepakan terakhir membahayakan karena berupa racun. Kadarnya mulai dari 0,7 hingga 2,5 persen volume, sedangkan ambang batas normal adalah 0,5 persen volume.
Bila menghirup gas beracun antara 1,5-7,99 persen volume, dampak yang bisa dirasakan berupa sesak nafas, berkeringat, dan pusing. Namun, bila melebihi kadar di atas dapat menghilangkan kesadaran, bahkan menyebabkan kematian seketika. Kadar gas hanya bisa diukur dengan menggunakan detektor.
“Saya harap warga tidak menggunakan parameter apa pun untuk mengetahui kandungan gas, karena gas CO2 hanya dapat diukur dengan menggunakan alat detektor gas,” ujarnya, menyikapi masih ada warga yang berkebun beberapa hari lalu.
Gunung Dieng berdiri kokoh di tiga kabupaten, yakni Banjarnegera, Wonosobo, dan Batang. Terdapat sedikitnya 20 kawah di area gunung api setinggi 2.565 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu. Namun, hanya sembilan kawah yang aktif dipantau, di antaranya Kawah Sinila, Timbang, dan Sileri.

Asal



Bagaimana tidak, salah satu kawah di pegunungan (dataran tingi) Dieng itu terus menunjukkan aktivitas. Mulai dari gempa dan semburan gas karbondioksida (CO2), belerang (H2S), dan sulfurdioksida (SO2) yang melebihi ambang batas normal.
Lalu, bagaimanakah penyebaran gas beracun yang dapat merenggut nyawa manusia dan hewan tersebut?
Pusat Vulkanalogi dan Mitigasi Bencana Geologi menyebut, ancaman gas beracun tak hanya timbul dari pusat semburan di kawah, melainkan juga dari tanah yang merekah akibat gempa. Tentunya, kondisi itu mengingatkan kejadian luar biasa pada 20 Februari 1979. Saat itu, Kawah Sinila mengeluarkan gas beracun melalui retakan tanah hingga menewaskan 149 warga.
Maka dari itu, warga diimbau untuk tidak beraktivitas di radius 500 meter yang telah ditetapkan sebagai zona bahaya oleh tim vulkanologi. Area tersebut merupakan perkebunan warga, baik tanaman bunga maupun kentang.
“Kalau ada gempa besar dan dirasakan semakin besar, ancaman gas beracun ini tidak hanya bisa keluar dari kawah, melainkan juga dari rekahan yang timbul akibat gempa,” ujar Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Dieng, Tunut Pujiarjo, Rabu (20/3/2013).
Konsentrasi gas CO2 yang keluar dari Kawah Timbang sejak sepakan terakhir membahayakan karena berupa racun. Kadarnya mulai dari 0,7 hingga 2,5 persen volume, sedangkan ambang batas normal adalah 0,5 persen volume.
Bila menghirup gas beracun antara 1,5-7,99 persen volume, dampak yang bisa dirasakan berupa sesak nafas, berkeringat, dan pusing. Namun, bila melebihi kadar di atas dapat menghilangkan kesadaran, bahkan menyebabkan kematian seketika. Kadar gas hanya bisa diukur dengan menggunakan detektor.
“Saya harap warga tidak menggunakan parameter apa pun untuk mengetahui kandungan gas, karena gas CO2 hanya dapat diukur dengan menggunakan alat detektor gas,” ujarnya, menyikapi masih ada warga yang berkebun beberapa hari lalu.
Gunung Dieng berdiri kokoh di tiga kabupaten, yakni Banjarnegera, Wonosobo, dan Batang. Terdapat sedikitnya 20 kawah di area gunung api setinggi 2.565 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu. Namun, hanya sembilan kawah yang aktif dipantau, di antaranya Kawah Sinila, Timbang, dan Sileri.

Asal



Diubah oleh feriecreats 20-03-2013 13:52
0
1K
9
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•108.5KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya