Hobby
Batal
KATEGORI
link has been copied
377
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000014713196/fanfic-detective-conan-kumpulan-kisah-shinichi-x-shiho
--------
Lapor Hansip
31-05-2012 16:49

-

--------
Diubah oleh .spy.
profile-picture
profile-picture
nona212 dan lina.wh memberi reputasi
2
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 10 dari 19
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
21-06-2012 22:56
[spoiler=Ku Cinta kau, dia, dan Dia Juga [Part 6]
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho


"Hei, apa kalian jadi ikut aku besok?" tanya Shiho sambil duduk di antara dua orang teman serumahnya yang sedang bersantai di sofa ruang tengah.

"Apa boleh?" mereka berdua balik nanya.

"Aku sudah menelpon Kak Yuki, ketuanya, katanya boleh. Tapi berhubung kalian tak punya keterampilan medis jadi nanti kalian kerja kasar seperti angkut-angkut barang dan lain-lain. Makanya aku mau tanya dulu, kalian jadi ikut apa tidak," jawab Shiho.

"Kalau buat aku, angkut-angkut barang sih kecil, jadi aku pasti bakalan ikut. Tahu deh kalau bocah manja seperti Kudo," ucap Heiji memulai serangan.

"Tutup mulutmu, Hattori! Buat aku, angkut-angkut barang juga bukan masalah besar, jadi aku pasti akan ikut juga!" ucap Shinichi dengan kesal karena Heiji mengatainya bocah manja.

Heiji hanya menanggapinya dengan menjulurkan lidahnya ke Shinichi yang langsung dibalas dengan juluran lidah juga dari Shinichi, sementara Shiho hanya menghela nafas.

Shiho bangkit dari sofa, merasa kesal sekaligus geli dengan tingkah mereka berdua yang seperti anak kecil padahal mereka sudah mahasiswa, lalu berbalik untuk menatap mereka berdua.

"Pokoknya besok kalian tidak boleh ribut sewaktu acara baksos. Awas saja kalau kalian ribut dan membuat aku malu, aku pasti akan mengirim kalian ke neraka, mengerti?" ucap Shiho dengan nada mengancam.

"Ya, aku tahu," sahut mereka berdua dengan cuek.

Shiho kemudian berbalik dan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.

Biasanya Shiho tidak khawatir dengan masalah begituan karena mereka berdua selalu bersika[ cool kalau di depan orang banyak. Mereka berdua bersikap konyol hanya diantara mereka bertiga saja. Tapi berhubung dia sedang mengira mereka berdua lagi stres maka dia pun jadi khawatir dan merasa perlu untuk mengancam mereka.

Keesokan harinya mereka bertiga pun berangkat bersama rombongan Klub Kedokteran ke tempat baksos yaitu sebuah desa nelayan yang tidak begitu jauh dari pusat kota untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis.

Pada awalnya Shinichi dan Heiji berniat untuk bekerja sebaik-baiknya agar Shiho terkesan tapi ternyata semuanya tidak seperti yang mereka kira. Di sana mereka berdua langsung dikerubuti oleh ibu-ibu yang bisa menjadi sangat ganas jika bertemu selebriti idola. Itulah resiko jadi detektif terkenal yang tampan.

Selain itu, mereka juga mendapatkan tatapan galak dan sikap yang sangat tidak bersahabat dari para anggota Klub yang cowok. Mereka bahkan tidak bisa mendekati Shiho sama sekali karena selalu dihalang-halangi oleh cowok-cowok Klub Kedokteran itu dengan cara memberi mereka banyak pekerjaan. Itulah resiko suka sama cewek cantik dan cerdas, saingannya banyak.

"Shiho, sudah waktunya makan siang," ucap Kirino, salah satu kakak kelas Shiho di Klub.

"Oh iya, sebentar lagi aku ke sana, aku masih ada satu pasien lagi," sahut Shiho. Karena masih junior, dia mendapat tempat di bagian pemeriksaan kesehatan.

Setelah selesai dengan pasiennya yang terakhir di sesi pertama, Shiho melangkah menuju rekan-rekannya untuk makan siang. Sesampainya di tempat makan siang, Shiho celingukan sehingga Kirino bicara padanya.

"Ada apa?" tanya Kirino.

"Aku lagi mencari kedua orang temanku," jawab Shiho. "Kakak lihat mereka tidak?"

"Sepertinya mereka lagi sama Yuki deh," ucap Kirino.

"Mereka sudah makan belum ya?" tanya Shiho.

"Ciee, baru kali ini Shiho perhatian sama cowok. Sebenernya mereka itu siapa sih?" Sayaka, yang juga merupakan kakak kelas Shiho di Klub, ikut nimbrung.

"Jadi siapa diantara mereka berdua yang akan kamu pilih?" tanya Nanako, teman seangkatannya, ikut-ikutan nimbrung juga.

Teman-temannya yang cewek langsung memandangnya dengan penuh minat sedangkan teman-temannya yang cowok memandangnya dengan harap-harap cemas bertabur keringat dingin.

"Kalian semua salah paham. Hubungan kami hanya sebatas teman kok," ucap Shiho sambil tersenyum.

"Eh, masa' sih? Tapi aku bisa melihat kalau mereka berdua itu suka sama kamu," ucap Sayaka.

Shiho berusaha keras untuk tidak tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan kakak kelasnya itu karena menurutnya itu adalah hal terlucu dan teraneh yang pernah didengarnya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa kedua orang temannya itu akan suka padanya secara romantis karena menurutnya hal itu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin mereka bisa berpaling dari cewek polos, lugu dan naif seperti teman masa kecil mereka, yang memang merupakan tipe cewek idaman mereka, kepada dirinya yang mereka bilang seperti setan. Itu adalah hal yang mustahil.

"Tidak kok. Hubungan kami benar-benar hanya sebatas teman. Mereka bedua sudah punya cewek jadi tak mungkin mereka suka sama aku," ucap Shiho.

"Ooh, mereka sudah punya cewek toh. Tapi aku masih tidak percaya. Aku bener-bener yakin kalau mereka itu suka padamu. Buktinya mereka mau capek-capek ikut kamu jauh-jauh ke sini," ucap Sayaka.

"Kurasa tidak. Mereka tak akan suka padaku. Kalau masalah keikutsertaan mereka sih, itu karena mereka dari dulu emang berjiwa sosial," ucap Shiho.

"Bahkan mungkin bukan hanya berjiwa sosial. Mereka kan rela menempuh bahaya demi menyelamatkan nyawa orang lain. Mungkin lebih tepatnya, mereka mengidap hero complex akut," batin Shiho.

Melihat teman-temannya masih memandangnya dengan ragu sambil memikirkan bantahan untuk ucapannya, Shiho membuka mulutnya lagi.

"Sudah ah, aku mau makan dulu," ucap Shiho mengakhiri pembicaraan yang menurutnya sangat lucu dan aneh itu.

Sepulang dari baksos, Shinichi dan Heiji langsung menghempaskan badan mereka ke sofa di ruang tengah sementara Shiho pergi ke dapur untuk mengambil jus kaleng di kulkas. Jus jeruk kesukaan Shinichi, jus melon kesukaan Heiji dan jus stroberi kesukaannya berada dalam dekapannya ketika dia melangkah kembali ke ruang tengah.

"Aduh, habis deh pipiku dicubitin sama ibu-ibu," ucap Shinichi mengeluh sambil membuka kaleng jusnya.

"Iya, tangan dan kakiku juga pegal karena dari tadi disuruh-suruh terus," ucap Heiji menggerutu.

Shiho yang sudah duduk di antara mereka tertawa kecil mendengarnya sehingga kedua orang temannya memandangnya dengan tajam.

"Hei! Kau senang ya lihat kami menderita?" tuduh Shinichi.

"Tidak kok," bantah Shiho namun dia masih tersenyum. "Lagian kalian sendiri kan yang ingin ikut, jadi kalian harus menanggung resikonya."

Mereka berdua akhirnya berhenti menatap Shiho dengan tajam karena ucapan Shiho memang benar adanya. Mereka sendiri yang memutuskan untuk ikut jadi mereka harus mau menanggung resikonya.

"Hei Shiho, temen-temen kamu yang cowok kok galak-galak semua sih? Bukannya mereka nantinya akan jadi dokter? Kalau galak begitu, pasti pasiennya pada kabur semua," ucap Heiji kesal.

"Iya, benar banget tuh," timpal Shinichi. "Aku juga heran kok pasienmu tak ada yang kabur sih, padahal kamu kan sadis banget."

"Eh, iya juga ya," ucap Heiji sambil mikir.

Shiho langsung melirik mereka dengan lirikan mautnya sehingga mereka buru-buru membicarakan hal lain.

Shiho bukanlah orang yang tidak peka sehingga dia bisa merasakan kalau sebagian besar teman-teman cowoknya di Klub naksir padanya dan mereka juga pasti salah paham sama seperti Sayaka dan Nanako sehingga mereka bersikap galak pada kedua teman baiknya itu. Yah, teman-teman cowoknya di Klub kan tidak tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Coba kalau mereka tahu bahwa dia dulu pernah bekerja untuk organisasi kejahatan, pasti pandangan mereka pada dirinya akan berbeda. Karena itu, dia bisa bertahan dan menerima kedua teman baiknya apa adanya karena mereka pun juga bisa bertahan dengannya dan menerima dirinya apa adanya.

Setelah menghabiskan jusnya dan mendengarkan keluhan-keluhan dan celotehan-celotehan Shinichi dan Heiji tentang acara baksos mereka seharian ini, Shiho akhirnya angkat bicara.

"Terima kasih ya untuk hari ini, kalian sudah kerja keras untuk membantu acara baksos Klub-ku dan kalian juga sudah membuat pasien-pasienku yang ibu-ibu jadi hepi," ucap Shiho kemudian dia mencium pipi Shinichi dan Heiji.

Shinichi dan Heiji tidak bisa berkata-kata atau bergerak dan hanya menatap Shiho seperti orang bodoh karena mereka terlalu terkejut dan terlalu bahagia saat ini. Rasanya semua jerih payah dan penderitaan mereka seharian ini terbayar lunas. Mereka merasa angan-angan mereka untuk mendapatkan Shiho semakin dekat. Mereka bahkan sampai tidak sadar kalau Shiho juga mencium rival mereka.

Shiho lalu bangkit dari sofa kemudian berbalik untuk menatap mereka berdua.

"Aku tahu kalian lebih suka dicium sama Mouri dan Toyama tapi aku benar-benar ingin berterima kasih pada kalian," ucap Shiho sambil mengangkat bahu. "Aku tidur dulu ya. Selamat malam," ucap Shiho kemudian dia berbalik dan melangkah ke kamarnya.

Shinichi dan Heiji menghela nafas bersamaan setelah Shiho menghilang ke kamarnya. Ucapan Shiho barusan membuat angan-angan mereka menjauh lagi.

"Sepertinya aku harus berusaha lebih keras lagi," pikir mereka berdua.
[/spoiler]
0 0
0
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
21-06-2012 23:20
[spoiler=Ku Cinta Kau, Dia, dan Dia Juga [Part 7]
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho


Pagi hari...

Shiho agak terkejut keesokan harinya karena ketika keluar dari dapur, dia melihat Shinichi dan Heiji sudah rapi dan duduk manis di ruang tengah. Biasanya mereka masih berpiyama ria jam segitu.

"Tumben sudah rapi jam segini? Ada angin apa nih?" tanya Shiho.

"Aku mau berangkat bareng kamu," jawab mereka berdua bersamaan sehingga mereka berdua saling menatap dengan marah.

"Ternyata mereka masih stres ya. Kupikir sudah sembuh," pikir Shiho sambil mengerutkan alisnya.

"Hari ini aku tidak ada kuliah pagi," ucap Shiho.

"..."

Saat main game balap...

Shinichi melihat Shiho yang sedang duduk-duduk sendirian di ruang tengah sambil membaca novel. Shinichi segera menghampirinya dan beraksi.

"Hei Shiho, mau main game nggak?" tanya Shinichi.

"Main game apa?" Shiho balik nanya tanpa mengangkat wajahnya dari novelnya.

"Hmm, gimana kalau game balap motor?" tawar Shinichi.

Shiho akhirnya mengalihkan perhatiannya dari novel di tangannya ke Shinichi.

"Kamu yakin?" tanya Shiho dengan pandangan terkejut sekaligus geli. Kalau masalah game, apalagi game balap, Shiho adalah pemain game yang tidak tertandingi.

"Yakin," jawab Shinichi dengan percaya diri.

"Aku sudah minta latihan privat ke temanku yang ahli main game jadi aku pasti tidak akan kalah," ucap Shinichi dalam hati.

Strategi Shinichi adalah dia berencana mengalahkan Shiho yang tidak tertandingi dalam game itu sehingga dia akan terlihat keren di mata Shiho.

"Oke, kalau kamu memang segitu yakinnya, ayo kita main," ucap Shiho sambil tersenyum misterius.

Heiji keluar dari kamarnya karena mendengar suara-suara berisik deruman mesin dari ruang tengah. Dia bergegas ke sana dan menemukan Shinichi dan Shiho yang sedang main game. Heiji duduk di sofa untuk menonton dengan sebal sementara kedua teman serumahnya yang sedang main game itu duduk di lantai.

"Yes!" seru Shinichi ketika dia berhasil menyalip Shiho di tikungan.

"Hmm, lumayan juga, tapi tetap saja, bukan tandinganku," ucap Shiho sambil menyeringai.

Shiho menyalip Shinichi di tikungan berikutnya dan menyentuh garis finis dengan jarak yang cukup jauh dari Shinichi yang ada di belakangnya. Shinichi tepar ke belakang dengan kepala berasap sehingga Heiji menertawakannya. Shinichi pun menatap Heiji dengan kesal.

"Memangnya kau bisa mengalahkan Shiho?" seru Shinichi kepada Heiji.

"Aku kan sudah biasa balap motor di jalan. Kalau cuma game sih, gampang," ucap Heiji dengan percaya diri.

"Hoo, kalau kamu segitu yakinnya bisa ngalahin aku dengan mudah, bagaimana kalau kita buktikan," ucap Shiho dengan senyum misteriusnya.

"Oke, siapa takut," ucap Heiji kemudian dia mengambil tempat Shinichi dan mulai main. Sekarang ganti Shinichi yang sebal melihat pemandangan itu.

Heiji adalah atlet kendo sehingga tangannya punya refleks yang bagus, namun sayang, dia juga bukan tandingan Shiho untuk urusan main game. Dia pun kalah telak dan tepar ke belakang dengan kepala berasap. Kali ini giliran Shinichi yang menertawakannya sehingga wajahnya jadi cemberut tapi kemudian sebuah ide melintas di kepalanya.

"Kalau kita berdua yang main bagaimana? Kita buktikan siapa yang lebih jago," ucap Heiji pada Shinichi.

"Oke, aku pasti akan mengalahkanmu," ucap Shinichi.

"Huh, tentu saja aku yang bakal menang," ucap Heiji.

Melihat kedua temannya mulai bertengkar, Shiho pun menyingkir dan duduk di sofa untuk menonton mereka main.

Setelah adu mulut selama beberapa saat, Shinichi dan Heiji pun mulai main game. Tapi sayangnya mereka berdua terlalu bernafsu untuk mengalahkan lawannya sehingga akhirnya mereka tabrakan, meledak dan kalah dengan mengenaskan.

"Payah," gumam Shiho kemudian beranjak ke kamarnya.

"..."


XXX


Sepulang dari nonton film di bioskop...

Pada akhir pekan berikutnya, mereka bertiga pergi bersama. Shiho yang sudah bosan melihat mereka berdebat memutuskan bahwa lebih baik mereka pergi bertiga. Mereka akan nonton sepakbola sore harinya kemudian nonton film malam harinya. Saat mereka berdiri di pinggir jalan untuk menunggu taksi setelah selesai nonton film, tiba-tiba ada angin dingin berhembus melewati mereka sehingga Shiho menggigil sedikit karena dia tidak memakai jaket seperti kedua temannya tapi hanya memakai jas lab-nya yang biasa.

Shinichi dan Heiji segera melepas jaketnya masing-masing untuk menawarkannya pada Shiho.

"Nih, pakai jaketku biar kamu nggak kedinginan," ucap Shinichi sambil menyodorkan jaketnya.

"Jangan! Pakai jaketku aja. Jaketku ini tebal lho. Nggak kayak jaket Kudo yang tipis itu," ucap Heiji, menyodorkan jaketnya sambil mendorong tangan Shinichi yang menyodorkan jaket dari hadapan Shiho.

"Apa sih, Hattori? Kan aku yang menawari Shiho duluan jadi kau tidak perlu menawari jaketmu yang jelek itu," ucap Shinichi sambil mendorong tangan Heiji yang menyodorkan jaket dari hadapan Shiho.

"Apa kau bilang? Jaketmu tuh yang jelek!" seru Heiji.

Dan untuk kesekian kalinya mereka mulai bertengkar sendiri.

Shiho yang melihat kedua temannya mulai bertengkar sendiri segera menyingkir ke samping dan tepat saat itu sebuah taksi berhenti di depannya. Dia menatap kedua temannya sebentar dan melihat mereka masih bertengkar sehingga akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan mereka dan pulang duluan.

Setelah bertengkar selama beberapa lama, mereka berdua tiba-tiba terdiam, seperti menyadari sesuatu, dan langsung menoleh ke tempat Shiho berada, dan sesuai dugaan mereka, Shiho sudah menghilang. Mereka saling berpandangan kemudian tertawa terbahak-bahak, menertawakan kebodohan mereka yang selalu jatuh ke lubang yang sama. Mereka tidak pernah menyangka bahwa memperebutkan seorang gadis bisa begitu melelahkan dan membuat mereka seperti orang bodoh namun di saat yang bersamaan terasa sangat menegangkan dan menyenangkan seperti halnya memecahkan sebuah kasus yang sangat rumit. Mereka pun sampai pada kesimpulan bahwa siapapun yang berhasil mendapatkan Shiho, dia pasti adalah yang terhebat diantara mereka berdua.

[/spoiler]
0 0
0
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
21-06-2012 23:46
[spoiler=Ku Cinta Kau, Dia, dan Dia Juga [Part 8]
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho


Sampai suatu malam...

"Hei! Kau ngapain di sini?" tanya Shinichi ketika melihat Heiji ada di dapur. Dia menghampiri Heiji kemudian meletakkan barang belanjaannya di meja dapur.

"Kau sendiri ngapain?" Heiji balik bertanya sambil menoleh ke Shinichi.

Setelah saling berpandangan selama beberapa saat, senyum muncul di bibir mereka. Mereka tadi menerima SMS dari Shiho bahwa dia akan pulang telat dan menyuruh mereka makan malam di luar karena dia pasti tidak sempat buat makan malam. Mereka pun segera mengambil kesempatan ini dan menawarkan diri untuk membuat makan malam sehingga mereka bertiga bisa makan di rumah. Mereka pikir jika Shiho memakan makanan buatan mereka yang enak, maka rating mereka akan naik di mata Shiho.

"Memangnya kau bisa masak?" ucap Heiji dengan nada mengejek.

"Belum tahu ya? Begini-begini aku itu sudah mandiri sejak SMP. Tidak sepertimu yang tinggal sama orang tuamu. Kau pasti tak bisa masak karena yang masak di rumahmu kan ibumu," balas Shinichi.

"Nggak tuh, Ibuku nggak bisa masak, jadi aku juga sudah mandiri dari dulu," sahut Heiji.

Sebenarnya mereka berdua sama-sama nggak bisa masak. Shinichi memang hidup mandiri sejak orang tuanya tinggal ke luar negeri, tapi untuk masalah makanan, dia selalu makan di luar atau makan makanan instan. Sementara di rumah Heiji, ayahnya lah yang memasak setiap hari.

"Hei pembual, Lebih baik kau tak usah banyak bicara. Kita buktikan saja," ucap Shinichi.

"Oke. Siapa takut," ucap Heiji.

Dan acara memasak pun dimulai.

Ketika Shiho pulang, dia menemukan Shinichi dan Heiji sudah duduk manis di ruang tengah dengan masakan hasil karya mereka. Dia menghampiri mereka kemudian duduk di tempatnya yang biasa. Dia memandangi hasil karya mereka berdua. Wajahnya tanpa ekspresi tapi sebenarnya dia merasa sedikit merinding melihat masakan mereka. Masakan mereka terlihat sangat aneh karena warnanya begitu aneh. Selain itu, potongan-potongan sayurnya tidak rapi dan tidak beraturan.

"Ayo, dimakan dong, jangan malu-malu," ucap Heiji sambil tersenyum ketika melihat Shiho hanya memandangi makanan yang ada di atas meja.

"Punyaku juga ya," ucap Shinichi sambil tersenyum juga.

"Siapa yang malu-malu? Aku takut keracunan tahu! Dasar tidak peka!" seru Shiho dalam hati. "Aku baru tahu kalau detektif sedang stres itu sungguh sangat merepotkan."

Namun karena Shiho sudah mengijinkan mereka membuat makan malam maka dia pun harus menanggung resikonya. Akhirnya Shiho menguatkan hatinya untuk mencicipi masakan yang ada di atas meja sambil berdoa semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya setelah makan makanan ini.

"Eh, ternyata rasanya tidak seburuk kelihatannya," pikir Shiho setelah mencicipi makanan buatan Shinichi dan Heiji.

Shiho mengangkat wajahnya dan memberi mereka berdua senyumannya yang paling langka sekaligus paling mempesona sehingga jantung mereka berdua berdetak sangat kencang.

"Dua-duanya enak," ucap Shiho.

Hati Shinichi dan Heiji langsung berbunga-bunga mendengarnya. Mereka bertiga pun makan malam dengan gembira.

"Karena kalian sudah masak, biar aku yang membereskan piringnya dan mencucinya," ucap Shiho setelah makan malam sambil mulai membereskan meja.

"Jangan!" teriak Shinichi dan Heiji serempak sehingga Shiho menatap mereka dengan curiga.

"Emm, maksudku kamu kan pasti capek karena seharian di kampus, jadi biar kami yang beresin," ucap Shinichi dengan agak gugup.

"Iya, betul-betul," Heiji menimpali.

"Oh, baiklah kalau begitu. Aku mau ke kamar dulu," ucap Shiho sambil mengangkat bahu kemudian bangkit dan melangkah ke kamarnya.

Begitu Shiho menghilang ke kamarnya, mereka berdua menghela nafas lega. Mereka segera membereskan piring-piring di meja dan membawanya ke dapur. Mereka memandangi dapur, yang biasanya selalu rapi tapi sekarang kelihatan seperti baru saja kena tsunami itu, dengan wajah lesu. Itulah yang akan terjadi pada dapur jika memasak sambil bertengkar. Tiba-tiba bulu kuduk mereka meremang sehingga mereka menoleh ke belakang dengan ketakutan. Mereka menemukan Shiho yang mengeluarkan aura hitam dari tubuhnya dan menatap mereka dengan dingin.

"Apa... yang terjadi... di sini...," ucap Shiho dengan nada penuh ancaman. Kemudian dia melihat piring kesayangannya yang pecah berantakan di tengah dapur dan dia menjadi semakin murka. "Jadi ini sebabnya aku tidak melihat piring kesayanganku saat makan malam tadi?"

"Maafkan kami. Tolong jangan bunuh kami," ucap mereka berdua sambil menunduk dan memohon pada Shiho.

Shiho akhirnya menghela nafas.

"Aku pikir kita harus bicara," ucap Shiho sambil memberi isyarat pada kedua temannya untuk mengikutinya.

"Jadi ada apa sebenarnya dengan kalian berdua?" tanya Shiho setelah Shinichi dan Heiji duduk di sofa di ruang tengah sementara dia berdiri menghadap mereka.

"Tidak ada," jawab mereka serempak.

"Ayolah. Aku bisa melihat kalian bertingkah sangat aneh akhir-akhir ini. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada kalian," ucap Shiho.

Shinichi dan Heiji hanya diam saja, tidak menyahut perkataan Shiho. Mereka berdua adalah tipe laki-laki idealis sehingga mereka tidak akan menyatakan cinta pada gadis yang disukainya dengan cara seperti ini.

Melihat kedua orang temannya hanya diam, Shiho memandang mereka dengan tajam. Dia menatap mata mereka dan menemukan rasa takut sekaligus keteguhan hati di sana sehingga dia sadar bahwa mereka tidak akan buka mulut walau harus mati sekalipun.

"Baiklah kalau kalian tidak mau bicara. Kalau dapur sudah kembali seperti semula, aku akan maafin kalian," ucap Shiho kemudian dia berlalu ke kamarnya.

"Hei Kudo, sepertinya kita harus gencatan senjata untuk sementara," ucap Heiji setelah Shiho masuk ke kamarnya.

"Kau bener, Hattori. Kita benar-benar mengacaukan semuanya. Kalau seperti ini terus, kita malah membuat Shiho sebal pada kita," ucap Shinichi.

"Ya sudah. Mending kita beresin dapur sekarang," ucap Heiji.

"Oke," sahut Shinichi.

Mereka berdua bangkit dari sofa dan melangkah menuju dapur.


XXX


Sementara itu, Shiho berbaring di tempat tidurnya sambil merenung. Dia sedang bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan kedua teman serumahnya itu. Kemudian dia mulai mengingat perilaku-perilaku aneh sahabat-sahabatnya itu sehingga dia mulai menyingkirkan teori bahwa mereka sedang stres dan mencapai kesimpulan bahwa mereka berdua sedang bersaing memperebutkan sesuatu dan sesuatu itu ada hubungannya dengan dirinya.

"Tapi apa sih yang mereka perebutkan? Jangan-jangan mereka memperebutkan aku..." Shiho tidak bisa meneruskan pikirannya karena dia secara otomatis menampar dirinya sendiri secara mental.

"Bodohnya aku. Itu tidak mungkin terjadi," gumam Shiho.

"Tapi jika aku memakai teori itu, semuanya cocok. Lagian kalau teori itu tidak terbukti, aku hanya perlu mencari teori lain lagi dan membuktikannya," pikir Shiho.

"Yah, kurasa hanya ada satu cara untuk membuktikannya tanpa harus menghancurkan rumah," gumam Shiho sambil tersenyum puas.

[/spoiler]

Semoga sukaemoticon-Big Grin
Sebentar lagi Chapter ini berakhir lhoemoticon-Ngacir
0 0
0
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
22-06-2012 14:44
Oke, waktunya updateemoticon-Big Grin
Happy readingemoticon-Kiss


[spoiler=Ku Cinta Kau, Dia, dan Dia Juga [Part 9 Complete]
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho


Beberapa hari kemudian, Shiho pulang dan menemukan kedua orang temannya sedang duduk-duduk di ruang tengah sambil nonton TV. Dia menghempaskan badannya ke sofa dengan kesal dan dengan wajah yang cemberut sehingga menarik perhatian Shinichi dan Heiji.

"Ada apa?" tanya Shinichi.

"Kok mukanya cemberut begitu?" tanya Heiji.

"Ini semua gara-gara Kaito Kid!" jawab Shiho kesal.

"Kamu ketemu Kaito Kid?" tanya mereka bersamaan dengan bingung.

"Tidak. Jadi begini, aku sedang mencari dana untuk acara baksos. Nah, kalian tahu kan besok Kid pasti membuat acara lagi di museum Tokyo jadi polisi menutup beberapa jalan untuk melakukan persiapan sehingga jalanan jadi macet. Karena aku dan temanku kena macet di jalan, kami telat ke acara presentasi ke donatur dan proposal kami pun langsung ditolak mentah-mentah karena mereka pikir kami tidak profesional. Menyebalkan sekali! Sudah kena macet, uang juga tidak dapat!" ucap Shiho.

"Yah, sabar saja," ucap Shinichi.

"Atau cari donatur lain saja" ucap Heiji.

"Iya sih. Tapi tetep aja aku kesal padanya. Andai saja ada orang yang bisa menangkap Kaito Kid supaya dia tak bisa merugikan orang lain lagi. Pasti kujadikan pacar deh tuh orang," ucap Shiho.

Mendengar ucapan Shiho, mereka berdua langsung menegakkan diri dan menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.

"K-kau serius?" tanya mereka kompak.

"Memangnya kenapa?" Shiho balik nanya dan menatap mereka berdua dengan curiga sehingga mereka buru-buru bersikap cuek.

"Nggak, nggak kenapa-kenapa kok," ucap Heiji.

"Iya, cuma aneh saja. Masa yang nangkap Kaito Kid mau dijadikan pacar?" ucap Shinichi.

"Yah begitulah. Lagian orang yang bisa menangkap Kaito Kid itu pasti sangat hebat. Kalian saja dari dulu sampai sekarang gagal terus. Jadi kalau dia juga suka sama aku, kenapa tidak?" ucap Shiho.

Mereka berdua hanya diam saja sambil melamun dan berpikir keras setelah mendengar ucapan Shiho sehingga mereka tidak menyadari senyuman kecil di bibir Shiho.

"Bukti pertama," ucap Shiho dalam hati.


XXX


Keesokan malamnya, Shinichi dan Heiji pulang sambil bertengkar. Mereka baru saja kembali dari acara pencurian yang diadakan oleh Kaito Kid. Dan seperti biasa, mereka kembali gagal menangkap pencuri yang satu itu.

"Ini semua salahmu, Hattori! Coba tadi kau tak menggangguku! Aku pasti sudah berhasil menangkap pencuri brengsek itu!!" ucap Shinichi dengan kesal.

"Hei enak saja! Kau tuh yang dari tadi menggangguku! Gara-gara kau, pencuri bodoh itu bisa kabur!!" ucap Heiji tidak mau kalah.

"Huh, lihat saja nanti! Aku pasti akan menangkap pencuri itu!" ucap Shinichi.

"Mimpi saja terus Kudo, karena aku yang akan menangkap dia!" ucap Heiji.

Dan mereka terus bertengkar sampai akhirnya mereka langsung diam membatu ketika melihat Shiho duduk di sofa ruang tengah.

"Oh, sial! Kenapa dia ada di sini? Biasanya dia tak pernah menunggu kami pulang kalau ada acara dengan Kid. Jangan-jangan dia nguping lagi," batin Shinichi dan Heiji.

Setelah terdiam sejenak dan mengamati Shiho lebih teliti, mereka melihat bahwa Shiho sepertinya sangat berkonsentrasi dengan buku yang sedang dibacanya dan di telinganya terpasang earphone. Selain itu, Shiho sepertinya tidak menyadari kedatangan mereka sehingga kelegaan mulai merayapi hati mereka.

Mereka saling berpandangan kemudian melangkah menghampiri Shiho dan Shiho mengangkat kepalanya ketika mereka berhenti di depannya. Shiho melepas earphone-nya sebelum membuka mulutnya.

"Baru pulang?" tanya Shiho.

"I-iya," jawab Shinichi dan Heiji kemudian mereka berdua ikut duduk di sofa.

"Tumben nungguin kami pulang, biasanya kan nggak pernah?" tanya Shinichi.

"Siapa yang nungguin? Aku kan lagi belajar buat ujian," jawab Shiho.

"Ooohh, kirain," ucap Heiji.

Kemudian Shiho menguap dan meregangkan tangannya ke atas.

"Aku sudah mengantuk nih. Aku tidur dulu ya. Selamat malam," ucap Shiho kemudian dia bangkit dari sofa dan melangkah ke kamarnya.

"Hei Kudo, menurutmu dia dengar perdebatan kita tidak?" tanya Heiji pada Shinichi setelah Shiho menghilang ke kamarnya.

"Sepertinya tidak. Dia tadi kelihatannya serius membaca buku sambil denger musik. Dia juga tak komentar apa-apa waktu melihat kita," jawab Shinichi.

"Aku pikir juga begitu," ucap Heiji kemudian dia pun juga menguap dan meregangkan tangannya ke atas. "Kayaknya aku mau tidur juga deh. Capek dari tadi berantem sama kamu terus."

"Apa kau bilang? Aku yang harusnya ngomong seperti itu! Kamu yang bikin aku capek karena harus berantem sama kamu terus!" ucap Shinichi.

Heiji hanya mengangkat bahu kemudian mereka berdua pergi ke kamar mereka masing-masing.

Sementara itu, Shiho tersenyum setelah menutup pintu kamarnya.

"Bukti kedua," ucap Shiho dalam hati.


XXX



Tiba-tiba ada yang memeluk Shiho dari belakang sehingga dia berseru tertahan karena kaget. Namun dia sudah tahu siapa orang yang memeluknya sehingga dia langsung tersenyum.

"Jadi... bagaimana acara pencuriannya? Sukses?" tanya Shiho.

"Yah, seperti biasanya. Aku selalu dihalangi oleh dua detektif kesayanganmu itu," jawab Kaito dengan agak sinis. "Sepertinya, permata itu bukan permata yang kucari."

"Tidak apa-apa. Nanti juga ketemu, permata yang kamu cari itu," ucap Shiho.

Kaito menghela nafas kemudian dia melepaskan pelukannya dan duduk di tempat tidur Shiho.

Shiho pun mengikutinya dan duduk di sebelahnya.

"Kau tahu tidak? Sepertinya kali ini ada yang aneh sama dua detektif itu," ucap Kaito.

"Apanya yang aneh?" tanya Shiho.

"Tadi itu mereka jadi lebih ganas daripada biasanya, tapi anehnya sepertinya mereka tidak bekerja sama lagi seperti sebelumnya. Bagaimana ya... mmm... Kurasa mereka lagi bersaing untuk menangkap aku," jawab Kaito lalu dia mengalihkan pandangannya ke Shiho.

Shiho hanya tersenyum dan tidak mengatakan apapun.

"Bukti ketiga. Dengan ini semuanya cocok," ucap Shiho dalam hati.

"Jangan-jangan kamu tahu sesuatu ya? Makanya kamu nggak mau bantuin aku lagi," ucap Kaito sambil nyengir.

"Hei, aku kan sudah bilang, aku tak mau bantu kamu lagi soalnya terakhir kali aku membantumu, kau membuat mereka basah kuyup dan masuk angin," ucap Shiho.

Cengiran di wajah Kaito langsung lenyap dan wajahnya menjadi cemberut lalu dia mengalihkan pandangannya dari Shiho.

"Hei, kok tiba-tiba jadi cemberut begitu?" tanya Shiho.

Kaito mengalihkan pandangannya lagi.

"Aku jadi cemburu. Kenapa sih kau harus tinggal sama mereka? Sudah begitu setiap hari kau juga masak untuk mereka dan mengurus mereka waktu mereka sakit. Terus kamu juga perhatian sekali pada mereka. Masa kamu tak mengerti sih kenapa aku tak suka semua itu?" ucap Kaito mengomel.

Shiho hanya bisa tersenyum geli mendengar itu.

"Hei, kamu tahu kan kalau aku tak mau kamu tertangkap?" tanya Shiho setelah hening sejenak sambil menatap Kaito sehingga Kaito menunduk untuk menatapnya.

"Ya, aku tahu," jawab Kaito.

"Awas ya, kalau kau sampai tertangkap! Aku tak akan memaafkanmu dan tak mau bertemu denganmu lagi!" ucap Shiho dengan nada mengancam sehingga Kaito nyengir padanya.

"Tenang saja, manis. Tak akan ada yang bisa menangkap Kaito Kid sampai kapanpun. Aku janji," ucap Kaito dengan penuh percaya diri sehingga Shiho tersenyum kepadanya lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kaito.

"Oh Tuhan! Aku benar-benar sayang pada mereka bertiga. Andai saja aku bisa memilih, tapi aku tak bisa, jadi biarlah mereka bertiga yang memutuskan dengan cara mereka masing-masing. Detektif dengan cara detektif, dan pencuri dengan cara pencuri."

[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho


THE END?

[/spoiler]

Well, terima kasih sudah membaca sampai sini, semoga agan2 sukaemoticon-Big Grin
Sampai jumpa di fanfic berikutnyaemoticon-Kiss
0 0
0
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
22-06-2012 20:03
kereeen ayo fic berikutnya ahahaha emoticon-Big Grin
0 0
0
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
23-06-2012 19:39
Quote:Original Posted By kumiciboy
kereeen ayo fic berikutnya ahahaha emoticon-Big Grin

Makasih komennya ganemoticon-Big Grin
Okee gan pasti gw updateemoticon-Angkat Beer
pantau terus yak_____emoticon-Ngacir

Happy readingemoticon-Kiss

[spoiler=I Love You Too, Mr.Detective [Part 1]
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho


Seorang anak laki-laki berambut cokelat kemerahan sedang asyik bermain bola sementara seorang pria muda yang sangat mirip dengan anak laki-laki itu berjalan di belakangnya. Baju mereka sangat kotor dengan noda tanah dimana-mana. Tampaknya mereka habis bermain sepakbola di suatu lapangan dan sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Si pria melihat si anak laki-laki dengan tatapan sayang dan bangga karena si anak laki-laki bermain bola dengan sangat bagus.

Tiba-tiba anak laki-laki itu menjatuhkan bola di kakinya ke tanah dan berlari dengan cepat menuju rumahnya sehingga membuat si pria bingung. Namun ketika dia mengalihkan pandangannya dari bola yang dijatuhkan si anak laki-laki ke arah pagar rumahnya yang memang sudah tidak terlalu jauh di depannya, dia jadi mengerti apa yang telah terjadi. Pria itu menunduk untuk mengambil bola tersebut dari tanah dengan senyum di bibirnya. Ketika dia berdiri tegak lagi dengan bola di tangannya, raut wajahnya kembali tanpa ekspresi. Dia melihat si anak laki-laki memeluk seorang wanita muda yang berlutut di depan anak laki-laki tersebut di depan pagar rumahnya dan dia segera bergegas menghampiri mereka.

"Duh, Tamaki, lagi-lagi kau membuat baju ibu ikut-ikutan kotor" ucap Shiho sambil tersenyum sayang pada jagoan kecilnya itu setelah dia melepaskan pelukannya.

"Aku kangen sekali pada ibu" ucap Tamaki

"Yang benar?" tanya Shiho.

"Iya, kangen banget" jawab Tamaki.

"Apa ayahmu mengurusmu dengan baik? Dia tidak berbuat macam-macam kan selama ibu pergi?" tanya Shiho menyadari kehadiran Shinichi di dekat mereka.

"Hei, hei! Apa maksudnya itu? Tentu saja aku mengurusnya dengan baik. Lagi pula apa maksud berbuat macam-macam itu?" ucap Shinichi kesal.

"Ayah tidak pernah bisa menjawab semua pertanyaanku sebaik ibu. Dia payah" ucap Tamaki polos.

Shiho tertawa mendengarnya sementara Shinichi semakin kesal.

"Kenapa anak ini jadi seperti ibunya yang suka mengejekku padahal secara fisik dia sangat mirip denganku, hanya rambutnya saja yang mirip ibunya" gerutu Shinichi dalam hati.

Mereka bertiga masuk ke dalam pagar dan sesampainya di teras, Tamakg kembali bicara.

"Oleh-olehnya mana Bu? Ibu janji kan akan membawakanku oleh-oleh?" tanya Tamaki.

"Ada kok. Tapi sebelumnya kau harus mandi dulu" jawab Shiho.

"Baik, tapi aku hanya mau mandi kalau ibu mau menggosok punggungku" ucap Tamaki.

Shiho tertawa lagi sementara Shinichi hanya menaikkan alisnya.

"Baiklah jagoan. Sekarang pergilah ke kamar mandi. Nanti ibu akan menyusulmu" ucap Shiho.

Tamaki segera berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Shinichi dan Shiho berdua.

"Dasar anak manja" gerutu Shinichi.

"Sudahlah jangan menggerutu terus. Dia itu kan masih kecil" ucap Shiho sambil tersenyum melihat tampang kesal suaminya.

"Oh, iya ya, dia masih kecil. Dulu waktu aku seumuran dengannya, aku tidak pernah membiarkan ibuku menggosok punggungku lagi" ucap Shinichi sinis.

Shiho memperdengarkan tawanya lagi.

"Kau tidak pernah berubah, Shin. Aku kadang kala suka heran sendiri kenapa aku mau menikah denganmu" ucap Shiho santai.

Lalu samar-samar terdengar suara Tamaki memanggil-manggil ibunya.

"Wah, sepertinya anakmu yang kau sebut manja itu sama-sama tidak sabaran seperti dirimu. Aku akan memanggilmu kalau Tamaki sudah selesai jadi kau bisa mandi" ucap Shiho kemudian beranjak masuk ke dalam rumah.

Shinichi hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

[/spoiler]

Yap, ini chapter yang singkat, paling cuman 3 part doang, tapi lumayan buat ngisi malming ini buat yang gak malmingemoticon-Big Grin
semoga suka, pantau teruussemoticon-Ngacir
0 0
0
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
23-06-2012 19:53
update lagi
happy readingemoticon-Kiss

[spoiler=I love You Too, Mr.Detective [Part 2]
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho


Shinichi duduk termenung di teras rumahnya. Kata-kata Shiho membuatnya takut. Shiho tidak berpikir untuk meninggalkannya, kan? Mereka memang menikah bukan atas dasar cinta. Mereka menikah karena desakan dari orang tuanya dan profesor Agasa. Saat itu, Shinichi patah hati karena meninggalnya Ran dalam kecelakaan lalu lintas dalam perjalanan ke restoran dimana Shinichi akan menyatakan perasaannya sekaligus melamarnya. Setelah kejadian itu, Shinichi berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak jatuh cinta lagi dan dia menjadi pemurung. Yang ada di pikirannya hanyalah kasus, kasus dan kasus.

Hal ini membuat orang tuanya khawatir sehingga mereka mengatur perjodohannya dengan Shiho yang merupakan teman baiknya. Awalnya mereka berdua menolak perjodohan itu, tapi sepertinya ibunya dan profesor Agasa berhasil membujuk Shiho dan dia juga tidak bisa menolak perintah ayah angkatnya yang sangat dihormatinya itu. Kadang-kadang Shinichi bertanya-tanya apa yang sudah dilakukan ibunya dan profesor Agasa untuk membujuk Shiho agar mau menikah dengannya.

Mereka mempersiapkan pernikahan mereka tanpa perasaan antusias seperti pasangan lain yang akan menikah. Shinichi tahu Shiho menikahinya bukan karena cinta dan Shiho juga pasti sudah tahu bahwa Shinichi tidak mencintainya. Teman-teman mereka berdua berpikir bahwa pernikahan mereka pasti tidak akan bertahan lama. Bahkan ada yang bertaruh bahwa mereka berdua akan bercerai dua tahun setelah mereka menikah. Namun entah bagaimana, setelah hampir 5 tahun menikah, mereka belum juga bercerai, padahal hubungan mereka bukanlah hubungan yang romantis. Bahkan anak laki-laki mereka sekarang sudah masuk sekolah TK.

Sebenarnya Shinichi sudah tahu kenapa dia bisa bertahan dengan pernikahan mereka. Dia jatuh cinta. Walaupun dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak jatuh cinta lagi, kenyataannya dia jatuh cinta pada istrinya. Dia tidak pernah mengira bahwa Shiho akan menjadi istri yang baik. Saat hari pertama mereka tinggal bersama, dia bangun tidur dan mencium aroma kopi favoritnya. Saat itu juga dia berpikir, mungkin pernikahan ini bukan ide yang buruk. Lalu mereka berdua perlahan-lahan bisa menyesuaikan diri dengan kehadiran satu sama lain dalam kehidupannya. Pernikahan yang pada awalnya hanya untuk memenuhi permintaan orang tuanya berubah menjadi pernikahan yang sebenarnya. Shinichi mulai berusaha untuk menjadi suami yang baik bagi Shiho.

Hal yang membuat Shinichi jatuh cinta pada Shiho bukanlah kecantikannya. Shiho memang jauh lebih cantik daripada wanita Jepang pada umumnya karena darah Inggrisnya tapi yang membuat Shinichi tidak bisa lepas darinya adalah kemampuan Shiho memahami dirinya dan membaca isi hatinya. Shinichi tidak pernah mengerti bagaimana Shiho melakukannya. Shiho benar-benar merupakan sebuah misteri yang mungkin tidak akan pernah bisa ia pecahkan. Kecerdasannya selalu membuatnya kagum dan hari demi hari Shiho terlihat semakin cantik di matanya, baik di luar maupun di dalam.

Shiho selalu menyiapkan pakaian yang akan dipakai Shinichi ke kantor. Dari dulu Shiho memang sangat menyukai fashion sedangkan Shinichi tidak punya satu spot pun untuk fashion. Sebelum menikah Shinichi selalu memakai kemeja putih dengan celana panjang dan blazer yang sewarna, namun setelah menikah, orang-orang selalu memuji selera berpakaiannya yang bagus. Shiho juga yang mengatur file-file kasus yang sedang ditanganinya agar tidak campur aduk dan kadang-kadang ikut membantunya menyelesaikan kasus yang dia tangani dengan keahliannya. Semua kebutuhannya selalu dipenuhi oleh istrinya sehingga Shinichi tidak bisa membayangkan bagaimana menjalani kehidupannya tanpa istrinya.

Sebelumnya Shiho bekerja menjadi dosen biokimia di salah satu universitas di Tokyo. Namun dia memutuskan untuk berhenti ketika dia hamil. Setelah Tamaki masuk sekolah TK, Shiho memutuskan untuk kembali mengajar di universitas dan sebagai suami yang baik, tentu saja Shinichi mendukungnya.

Mereka berdua menjalani kehidupan rumah tangga mereka seperti suami istri pada umumnya, kecuali mereka tidak pernah pergi kencan berdua. Mereka saling menelepon ketika Shinichi harus keluar kota untuk menyelesaikan kasus, makan malam bersama, pergi ke pesta bersama, melakukan hubungan suami istri dan merawat anak mereka. Tapi Shinichi selalu merasa khawatir. Dia takut bahwa ini semua hanyalah mimpi yang akan menghilang ketika dia bangun.

Shinichi tidak mengerti kenapa dia tidak pernah bisa menyatakan cintanya. Tapi sebenarnya dia menyadari bahwa dia tidak bisa melawan egonya. Egonya yang selalu menyatakan bahwa dia hanya mencintai Ran dan tidak bisa mencintai wanita lain. Shinichi tidak sanggup menerima kenyataan bahwa obsesinya pada Ran selama ini hanyalah sesuatu yang semu dan sebenarnya rasa cintanya pada Ran tidak sedalam yang dia kira. Lagipula Shiho mungkin tidak mencintainya. Jadi, dia tidak pernah mengatakan apapun. Namun setelah menikah selama 5 tahun tanpa menyatakan perasaannya membuat Shinichi menjadi sangat tertekan batinnya.

[/spoiler]
0 0
0
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
23-06-2012 20:27
[spoiler=I Love You Too, Mr. Detective [Part 3 Complete]
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho


Suara Shiho yang memanggilnya membuyarkan lamunan Shinichi.

"Iya, aku segera ke sana" ucap Shinichi beranjak masuk ke dalam rumah.

Shinichi masuk ke dalam kamar mandi lalu melepas semua bajunya dan menghidupkan shower.

Shiho mengetuk pintu kamar mandi.

"Shin, aku masuk ya?" tanya Shiho.

Shinichi tidak menjawab karena dia tidak bisa mendengar ketukan di pintu dan suara Shiho akibat suara shower. Karena tidak ada jawaban, Shiho langsung masuk ke dalam dan menutup pintu di belakangnya. Mendengar suara pintu yang menutup, Shinichi spontan menoleh dan menemukan Shiho, yang sudah mengganti baju bepergiannya yang kotor karena pelukan anaknya dengan T-shirt longgar dan hotpants yang biasa ia pakai ketika sedang mencuci, sedang menatapnya. Shinichi meraih tirai kamar mandi yang terbuka dengan panik untuk menutupi bagian bawah tubuhnya dan wajahnya menjadi merah sehingga Shiho menaikkan alisnya pada Shinichi.

"Ada apa sih denganmu? Aku kan istrimu. Sejak dulu aku sudah melihat semuanya jadi kau tidak perlu malu" ucap Shiho.

"Shi... ho..." ucap Shinichi mengerang.

Shiho hanya tertawa mendengarnya kemudian melangkah mendekati Shinichi sehingga Shinichi membeku di tempat. Jantungnya berdetak sangat kencang.

"A-apa maumu?" tanya Shinichi.

"Aku hanya ingin membantumu menggosok punggungmu" ucap Shiho.

"T-tidak perlu. Aku bisa sendiri" seru Shinichi dengan suara bergetar.

"Tapi aku ingin melakukannya" ucap Shiho dengan suara menggoda sambil terus melangkah.

"Ba... baiklah, ta... tapi to... tolong ambilkan handuk agar aku bisa menutupi tubuhku" ucap Shinichi tergagap seperti Mitsuhiko ketika sedang bicara dengan Ai dulu.

"Ya ampun, Shin. Aku baru tahu kau begitu pemalu. Jangan-jangan dulu kau tidak pernah membiarkan ibumu menggosok punggungmu karena kau malu" ucap Shiho sambil tertawa kemudian dia berbalik dan mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu dan menyerahkannya pada Shinichi.

"Bukan begitu. Aku hanya merasa tidak nyaman..." ucap Shinichi sambil melilitkan handuk ke pinggangnya.

Shinichi mendudukkan dirinya di pinggiran bathtube dan mencoba mengembalikan detak jantungnya ke angka normal sementara Shiho mematikan shower dan mengambil spons yang ada di rak kemudian menuangkan sabun cair ke atasnya. Tak lama kemudian Shiho mulai bekerja tanpa mengetahui efek perbuatannya pada Shinichi. Dia sudah terbiasa memandikan anaknya jadi memandikan Shinichi bukan hal yang luar biasa baginya.

Semakin lama Shinichi semakin kehilangan kontrol atas dirinya karena sentuhan tangan Shiho di tubuhnya. Shinichi benar-benar heran dengan semua ini. Dulu Ran pernah memandikannya ketika dia jadi Conan dan saat itu Ran dalam kondisi telanjang bulat tapi dia masih bisa menahan dirinya untuk tidak menerjang Ran. Sekarang, dia benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk menerjang Shiho dan dia melakukannya. Shinichi berdiri dan mendorong Shiho ke dinding terdekat.

"Kau membuatku gila" ucap Shinichi kemudian dia mencium bibir Shiho dengan agresif.

Shiho tidak terlalu terkejut dengan tindakan Shinichi karena dia tahu terkadang suaminya bisa menjadi sangat agresif. Ketika Shinichi melepaskannya untuk mengambil nafas, Shiho tidak bisa menahan tawanya.

"Padahal aku hanya pergi ke konferensi selama 3 hari lho..." ucap Shiho.

"Memang, 3 hari yang sangat lama" ucap Shinichi mengeluh. Tak lama kemudian dia mulai mencium bibir Shiho lagi, kali ini lebih lembut dari sebelumnya.

Shiho menikmatinya dan air mata mulai mengalir membasahi wajahnya. Shinichi yang merasakan rasa asin di mulutnya menatap Shiho dan melihat Shiho menangis sehingga dia mengakhiri ciumannya.

"Maaf" gumam Shinichi lesu.

"Untuk apa?" tanya Shiho.

"Karena membuatmu menangis" jawab Shinichi.

Shiho menyandarkan kepalanya di dada Shinichi dan melingkarkan lengannya di pinggangnya, memeluknya.

"Hei Shin, apa kau pernah bertanya-tanya kenapa aku mau menikah denganmu?" tanya Shiho.

Shinichi menunggu Shiho meneruskan perkataannya tapi ternyata Shiho tidak melanjutkannya sehingga Shinichi membuka mulutnya.

"Maafkan aku" ucap Shinichi.

"Sekarang aku jadi bertanya-tanya kenapa dari tadi kau terus minta maaf" ucap Shiho sambil tertawa geli lalu melepaskan pelukannya dan mendorong Shinichi dengan lembut agar dia bisa kembali meneruskan pekerjaannya.

Shinichi tidak bergeming dari tempatnya berdiri dan meletakkan kedua tangannya di bahu Shiho sambil menatap matanya. Kelihatannya dia ingin mengatakan sesuatu tapi kemudian mengurungkan niatnya. Namun akhirnya dia membuka mulutnya juga.

"S-Shiho... a-aku... s-sudah 5 tahun..." ucap Shinichi terbata-bata kemudian menutup mulutnya kembali dan terus menatap Shiho seolah ingin melanjutkan kata-katanya dengan pandangan matanya.

Shiho hanya menatapnya dan menunggunya untuk melanjutkan perkataannya sehingga dia mencoba membuka mulutnya lagi.

"A-aku..." Shinichi menghentikan kata-katanya lagi dan menutup matanya sambil berharap air matanya tidak jatuh karena dia terlalu emosional saat ini. Tangannya sudah lepas dari bahu Shiho. "M-mungkin sekarang sudah terlalu terlambat untuk mengatakannya tapi aku hanya ingin kau tahu bahwa... bahwa..."

Samar-samar mereka berdua mendengar suara Tamaki memanggil-manggil ibunya lagi.

Shiho menyentuh pipi Shinichi dengan tangannya kemudian berjinjit dan mencium bibirnya sekilas.

Sekali lagi, Shiho memperlihatkan alasan kenapa Shinichi jatuh cinta padanya.

"Tidak apa, Tuan Detektif" ucap Shiho kemudian berbisik di telinga Shinichi. "I love you, too"

Shiho melangkah keluar dari kamar mandi untuk melihat Tamaki sementara Shinichi meneruskan acara mandinya. Malam itu, Shinichi dan Shiho melakukan malam pertama mereka yang sesungguhnya. Ya, seperti sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu dengan bahagia


THE END


[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho


[/spoiler]


Terima kasih sudah membaca, sampai jumpa lagi di fanfic selanjutnyaemoticon-Kiss
sering-sering pantau index yaaemoticon-Kiss
Oke, selamat malam dan semoga beruntung__________emoticon-Ngacir
0 0
0
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
23-06-2012 21:48
waaa akhirnya fic rumah tangganya ada juga ini udh gw tunggu2 hehehe emoticon-Big Grin
0 0
0
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
24-06-2012 06:08
endingnya bagus gan,
sempat bingung jg sih awalnya,trnyata begituemoticon-Big Grin
keep posting ya gan,ane tggu fic berikutnya
0 0
0
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
25-06-2012 13:47
Quote:Original Posted By kumiciboy
waaa akhirnya fic rumah tangganya ada juga ini udh gw tunggu2 hehehe emoticon-Big Grin


Wah, makasih ganemoticon-Big Grin
ada lagi nih fic rumah tangganya, cek index ya gan, tapi belum kelar disiniemoticon-Ngacir
tapi sementara tanpa sinopsis ya, nanti bakal di edit lagiemoticon-Hammer
0 0
0
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
25-06-2012 14:10
Quote:Original Posted By LaVeMo
endingnya bagus gan,
sempat bingung jg sih awalnya,trnyata begituemoticon-Big Grin
keep posting ya gan,ane tggu fic berikutnya


sip gan, pasti akan di update, pantau aja terus ganemoticon-Big Grin


Sekarang waktunya updateemoticon-Big Grin
3 chapter selanjutnya mungkin singkat, tapi saling nyambungemoticon-Big Grin
oke, happy readingemoticon-Kiss

[spoiler=A Diary [Part 1]


Tiririririt! Tiririririt! Tiriririt!

Aku mengerang pelan, terganggu oleh suara alarm jam waker di kamarku. Dengan malas aku menutup kepala dengan bantal sementara tangan kananku merayap-rayap pada bupet tempat tidur untuk mematikan jam sialan itu. Dengan susah payah dan perasaan sebal, tanganku menyentuh sebuah tombol yang menyembul di atas jam dan menekannya dengan keras, menghentikan suara bising yang memaksaku untuk bangun. Lalu, tanganku kembali bergerak, meraih jam itu dan membawanya ke dekat kepalaku. Kukeluarkan kepalaku dari bantal dan menatap kedua jarum pada jam itu dengan mata mengantuk.

Ah…jam enam tepat…

Pasti orang itu yang menyetelnya sehingga dia memastikan bahwa aku akan bangun sekalipun aku tertidur seperti orang mati.

Aaaah…aku berharap suatu saat jam ini rusak sehingga aku tidak perlu bangun sepagi ini di hari cutiku yang hanya datang beberapa kali dalam setahun.

Aku menyembunyikan kembali kepalaku di dalam bantal sambil meletakkan jam itu di tempatnya semula

BRAAKK!

…Sepertinya tidak kembali ke tempat semula karena baru saja aku mendengar suara sebuah benda yang terjatuh cukup keras.

…Kuharap kali ini jam itu benar-benar rusak dan aku akan dapat menikmati cuti-cutiku berikutnya dengan tenang.

"…Kau tahu? Tuhan pasti tak akan memberi rezeki bagi mereka yang tidak sigap dan siap di pagi hari…"

Aaarrggghhh…kata-katanya yang seperti nasehat nenek-nenek itu terngiang-ngiang kembali di telingaku. Oh, Tuhan, aku ingin tidur sebentar lagiii saja. Tapi, orang itu selalu saja tahu bahwa sekali aku bangun, maka aku tak akan tertidur lagi dalam delapan jam ke depan.

Sekarang aku menjadi sedikit takut dengan semua pengetahuannya tentang kebiasaanku…

Sepertinya, mau tidak mau aku harus beranjak dari tempat tidur ini dan mulai menikmati hari cutiku dengan bersantai di rumah. Mungkin aku bisa minum segelas susu hangat dan menyantap roti panggang sambil duduk di sofa ruang baca. Tidur-tiduran sambil mendengarkan radio atau menonton dvd yang baru kubeli kemarin juga tidak buruk. Oh, atau mungkin aku bisa sedikit bersenang-senang dengan orang yang menyetel jam waker yang sudah berceceran di atas lantai itu…

Kusingkirkan bantal yang telah membantuku mengurangi kebisingan di pagi hari itu dari kepalaku dan kutemukan bahwa apa yang kucari tidak ada di sebelahku…

…Oh, ya, dia tidak sedang cuti dan aku sama sekali tidak ingat. Kelihatannya aku akan menghabiskan sehari yang membosankan di rumah yang besar ini.

Hhhh, kenapa hari cuti kami tidak pernah jatuh di hari yang sama…? Sangat kontradiktif dengan keadaan kami yang bekerja di tempat yang sama.

Lalu apa yang akan kulakukan sekarang?

Aku bangkit dari tidurku dan duduk bersila di atas bedcover yang sudah tidak karuan bentuknya. Kuperhatikan sebuah baju handuk yang tergantung di kursi tepat di hadapan ranjang tempat aku duduk. Rasanya aku mendengarkan suara dari baju handuk itu untuk mengambilnya dan membawanya ke bagian rumah yang paling dingin dan basah.

Sepertinya aku mulai tidak waras…Kuberi tahu, terkadang kemampuan bangun terlalu pagi, baik alami ataupun dipaksa, sepertinya dapat mempengaruhi beberapa syaraf di dalam kepalamu sehingga kau mulai merasakan hal-hal yang sebenarnya tidak sedang terjadi.

Kuharap ini hanya sindrom bodoh yang juga terjadi pada orang-orang di luar sana yang mengalami kondisi yang sama denganku. Sudah beberapa kali aku merasakan hal-hal aneh ini dan kuharap aku tidak sedang mengidap suatu penyakit apapun yang sedang menyerangku.

"…Sepertinya kau benar-benar harus pergi menemui psikiater…"

Aaarrrggghhh, cukup…sepertinya aku benar-benar harus segera bangun dan membersihkan diriku sehingga aku bisa menjalankan rencana menontonku tadi.

Aku turun dari tempat tidur dan berjalan lesu menuju kursi yang kuperhatikan tadi, mengambil baju handuk berwarna abu-abu tua itu dan masuk ke dalam kamar mandi.

Selang beberapa lama, aku pun keluar dari kamar mandi dan mendekati lemari baju besar yang ada di sudut ruangan. Kubuka pintu lemari itu dan mulai mencari-cari baju yang akan menemaniku hingga sore nanti. Setelah mengenakan sebuah kaos oblong biru muda yang jarang kupakai dan sebuah jeans belel kesayanganku, aku menutup pintu lemari itu saat aku teringat bahwa dvd yang ingin kutonton ada di dalam lemari ini. Aku membukanya kembali dan mulai mencari-cari dvd bodoh itu.

Kenapa aku menyembunyikan dvd di dalam lemari, katamu?

Jawabannya, karena hanya aku yang menyukai dan merasa senang menontonnya di rumah ini. Jawaban ini bisa kau artikan sebagai, "Orang selain aku di rumah ini tidak akan pernah mau menontonnya."

Menyedihkan? Ya, menyedihkan jika aku adalah orang yang mudah merasa kesepian saat harus menonton sendirian. Tapi, untungnya aku tidak seperti itu.

Setelah merogohkan tanganku di dalam tumpukan-tumpukan baju selama beberapa lama, akhirnya ujung-ujung jariku memberi tanda bahwa aku telah menemukan apa yang kucari. Aku pun menarik benda itu keluar dan menemukan barang yang aku cari masih dalam keadaan sempurna tanpa goresan. Ternyata, aku berhasil menyembunyikannya dengan baik.

Aku kembali bermaksud menutup pintu lemari itu, saat sebelah tanganku yang masih berada di dalam lemari merasakan sebuah benda yang biasanya tidak ada di dalam sebuah lemari baju. Penasaran, kutarik benda itu dan kulihat sebuah buku dengan tebal setengah inci terletak di tanganku. Buku itu bersampul merah tua dan terlihat cantik walaupun sudah sedikit kusam. Mungkin buku ini sudah cukup tua, namun sepertinya dirawat dengan sangat baik. Tapi, buku apa ini?

Buku keuangan? Aku tidak pernah melihatnya mencatat pengeluaran di dalam buku. Semuanya sudah tercatat dengan rapih di dalam kepalanya.

Kitab suci? Bisa jadi, tapi…

Majalah? Tidak, tidak mungkin.

Buku harian? …

…Sepertinya ada yang tidak bisa menyembunyikan barang berharga dengan baik seperti diriku.

Kuperhatikan kembali buku itu. Kulihat semua detil yang ada di buku itu seperti sedang melihat seorang tersangka pembunuhan yang sedang diinterogasi…dan jujur saja, semakin lama kuperhatikan, aku semakin penasaran dengan isinya.

Baikkah jika kubuka?

Ataukah benda ini malah sama sekali tidak boleh kusentuh?

…Aaah, tapi aku penasaran…

Aku ingin melihatnya…

Tapi sepertinya ini benda yang bahkan tidak seharusnya kusentuh…

…Arghhh…!

Tanganku sudah gatal ingin membukanya..!

Tidak masalah 'kan jika kubuka sedikit…sedikiiit saja. Hanya satu halaman pertama…tidak! Satu paragraf pertama…tidak! Kalau begitu satu kalimat pertama…ya, ya…satu kalimat pertama! Tidak lebih!

Oh, Tuhan…Maafkan dosaku di hari cuti ini di mana seharusnya aku bersih dari dosa karena tidak melakukan apa pun dan bersantai di rumah…

…Baiklah…!

Kubuka dengan sangat pelan sampul merah yang anggun itu…

Fuuuh…

…Lalu, halaman pertama…ah! Ini dia!

16 Maret 1996


Hei, ini tidak bisa disebut sebagai kalimat pertama 'kan?

- Sudah berapa banyak buku yang kuhabiskan, tapi kenapa aku selalu merasa seperti ini? -


Kalimat pertama…aku tidak mengerti apa pun...sepertinya tidak masalah jika kulanjutkan hingga satu paragraf…

- Aku sudah lelah dengan perbuatan bodoh dan menjijikkan orang-orang itu. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana pun aku hanyalah seorang penghutang yang harus menebus hutangnya tanpa membantah sedikit pun. Namun, aku ingin selalu menjerit setiap kali aku mengetahui perbuatan gila mereka. -


…Bagaimana dengan halaman keduapuluh?

10 April 1996

- Aku sudah tidak kuat lagi…tapi, orang itu berjanji akan mengakhiri semua ini…. -


Aku menyelesaikan halaman itu…dan pada akhirnya aku tidak bisa berhenti

13 April 1996

-Satu-satunya yang kujadikan sandaran kini telah tiada di dunia ini-

20 April 1996

-Aku harus bersikap tegas! Aku tidak bisa terus menuntut jawaban yang tidak pasti dari mereka! -

25 April 1996

-Akhirnya aku bertemu dengan orang itu. Matanya menyiratkan keingintahuan. Kata-katanya menyiratkan pengetahuan. Tindak-tanduknya menunjukkan keadilan. Apa dia akan percaya padaku?-


…Kubuka beberapa banyak halaman ke depan…

[/spoiler]

Wah, kaskus upload erroremoticon-Nohope
no problemoemoticon-Ngacir
0 0
0
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
25-06-2012 14:21
[spoiler=A Diary [Part 2 Complete]

8 Juli 1996

- Semoga yang kurasakan ini tidak benar. Aku tidak ingin memperburuk keadaan dan mengacaukan hidupnya lagi lebih dari ini -

18 September 1996

- Semuanya berakhir, akhirnya ketakutan ini menghilang selama-lamanya -

27 Desember 1996

- Tahun kengerian ini akan segera berakhir. Semoga aku bisa menebus kesalahanku dan mengembalikan kehidupannya -

2 Januari 1997

- Aku berhasil menemukannya! Akhirnya ia tidak perlu merasakan ketakutan yang sama denganku -

3 Januari 1997

- Ia kembali…aku kembali…terima kasih, terima kasih Tuhan-

Aku berhenti sesaat. Sesungging senyuman tipis terukir di bibirku. Kubuka lagi beberapa lembar ke depan.

25 April 2000

- Aku tahu semua ini sejak lama…Aku mencintainya -



. . .


"…dan aku takut tidak akan bisa menyampaikannya dengan baik walau menghabiskan seratus buku sekali pun…"

Aku terdiam mendengar suara dari balik punggungku itu. Apakah itu suara-suara aneh yang sering terdengar olehku belakangan ini?

"Sepertinya insting dan keingintahuanmu itu sedikit menyulitkanku, Tuan Detektif…"

…Kelihatannya aku tidak salah dengar…

Aku menutup buku merah itu dan meletakkan di tempatnya kembali dengan perlahan. Kututup pintu lemari itu juga dengan perlahan, dan aku berbalik untuk menemukan pemilik buku itu sedang menatap wajahku dengan pandangan terganggu. Aku menelan ludahku dan memaksa diriku untuk mengatakan sesuatu.

"…A-apa ada yang ketinggalan?" tanyaku dengan suara hampir tercekat saking takutnya.

"Tidak ada."

"…A-apa ada benda yang terbawa?"

"Juga tidak."

"…K-kau lupa kalau kau cuti?"

"Oh, itu tidak mungkin."

"…K-kalau begitu apa yang kau lakukan?"

"Aku hanya berniat membuat sarapan untuk seseorang karena aku datang terlalu pagi dan kantor masih sepi saat aku menemukan orang itu sedang membaca sebuah buku sambil tersenyum-senyum sendiri."

Aku terdiam, tidak berani menjawab apa pun. Aaah, seandainya aku tidak membeli dvd itu…

"Lalu, dvd apa yang kau pegang itu?"

…Panjang umur ya kau,, dvd sialan…

Tidak mendapat jawaban apa pun dariku, si pemilik buku menghembuskan napas berat.

"…Sudahlah, lagi pula buku itu sudah lama sekali…aku juga sudah lama tidak menyentuhnya. Mungkin dia ingin kau membacanya."

Aku merasa lega karena keinginan buku itu tidak disampaikan kepadaku dengan suara-suara aneh.

"…Tapi, aku bingung, apa yang membuatmu tersenyum-senyum sendiri?" dia menatapku dengan wajah penasaran. Aku tersenyum melihat wajahnya yang sekarang terlihat polos itu, seolah-olah dia tidak ingat kalau aku baru saja membuka sesuatu yang tidak seharusnya kubuka tanpa izin.

…Sepertinya ini akan menjadi hari cuti yang paling mengesankan dalam hidupku, tanpa minum segelas susu hangat, makan roti panggang ataupun menonton dvd sambil tidur-tiduran…

Aku melempar dvd yang kupegang sedari tadi ke belakang tubuhku dan dvd itu mendarat tepat di samping jam waker yang tadi kujatuhkan.

"Hei, kenapa dibuang? Kau tidak ingin menontonnya?" tanyanya dengan nada bingung.

Aku tidak menjawabnya, hanya meraih tubuhnya dengan kedua tanganku dan menariknya ke dalam dadaku.

"…Kau tidak apa-apa 'kan?" tanyanya dengan nada yang ia buat setenang mungkin. Tapi, aku bisa tahu kalau dia tidak setenang itu. Bahkan jantungnya memberitahuku dengan isyarat-isyarat unik.

"Tidak…aku hanya tidak membutuhkannya saat ini, makanya kubuang."

Lalu, kami berdua diam, menikmati kesunyian di antara kami berdua. Tak lama berselang, aku merasakan tangannya telah berada di punggungku. Ah, dia malu-malu seperti biasa…

"Hei, Shiho…"

"Mmm?"

"Temani aku cuti di rumah hari ini…"

"…Tidak mau…"

Bahkan kamar ini seperti memberitahuku kalau kau tidak mengatakan yang sebenarnya…

[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho


The End?


[/spoiler]

Yap, terima kasih sudah membaca, kalau mau tahu kelanjutan kisah yang ini pantau terus yakemoticon-Big Grin
0 0
0
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
25-06-2012 14:49
[spoiler=A Letter [Part 1]

Shiho tersenyum lembut, melihat selembar kertas yang sedang ia pegang. Ia menutup kertas yang sudah menguning dan terlihat lusuh itu lalu dimasukkannya kembali ke dalam sebuah amplop kecil berwarna putih. Amplop itu diselipkannya ke dalam sebuah buku berwarna merah.

"Apa itu?"

Shiho tersentak mendengar suara dari belakangnya. Saat dia menoleh, dia menemukan seorang pria muda sedang berdiri tepat di belakangnya.

"Shin…kau mengagetkanku…" keluhnya sambil menghela napas dan menyimpan buku itu di dalam lemari di depannya. Ditutupnya pintu lemari jati itu dan ia berbalik menghadap pria di belakangnya kembali.

"Hei, bukankah itu buku yang kubaca waktu itu?"

"Memang," Shiho berjalan melewati Shinichi dan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.

"Kau mau ke mana?" tanya Shinichi sambil menahan tangan wanita yang tadi berjalan melewatinya.

"Mandi. Mau ikut?" tanya Shiho dengan senyuman yang terlihat aneh. Dengan cepat Shinichi melepaskan tangan Shiho dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

"Tidak!" tolaknya cepat. "Aku sudah mandi tadi."

Shiho hanya menggeleng pelan dan kembali berjalan menuju kamar mandi tersebut. Setelah pintu kamar mandi itu tertutup dan suara air shower mulai terdengar dari dalamnya, Shinichi mendekati lemari itu dan membukanya. Diraihnya buku merah yang tadi diselipkan Shiho di antara baju-bajunya dan ditemukannya sebuah amplop putih yang sudah terlihat lusuh.

Surat apa ini? Itulah yang dipikirkan oleh Shinichi saat melihatnya dengan perasaan yang campur aduk. Berbagai macam analisis, atau lebih tepat disebut sebagai prasangka buruk, bermunculan di kepalanya yang sudah terlalu penuh dengan kisah-kisah misteri dan detektif. Dia sempat mengira-ngira jika surat ini adalah surat dari orang yang pernah menyukai Shiho, atau orang yang disukai Shiho…atau mungkin mantan kekasihnya?

"Aarrgh!" Shinichi menggeram pelan dan menggaruk-garuk kepalanya, kebiasaan yang selalu dia lakukan jika sedang bingung dan tidak bisa berkonsentrasi.

Ia menarik napas, berusaha memusatkan fokusnya kembali. Dilihatnya kertas itu lekat-lekat dengan mata detektifnya yang biasanya tidak pernah melewatkan satu hal penting pun. Namun, matanya itu kini tidak berfungsi untuk memberitahunya apa isi surat itu sebenarnya jika bukan ia sendiri yang membuka dan membacanya.

Dia ingin sekali membacanya…tapi dia teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu saat ia membaca buku harian milik Shiho dan ia tidak bisa melarikan diri dari pandangan kematian yang ditujukan Shiho untuknya…

…Tapi, hei! Dia berhasil mendiamkan Shiho, bahkan akhirnya menikmati cuti yang menyenangkan bersama wanita yang dicintainya itu.

Mungkin kali ini ia juga akan berhasil melewati semuanya dengan baik…

Baiklah! Shinichi membulatkan tekadnya untuk membuka dan membaca surat itu. Jika tidak dibuka, maka ia tidak akan pernah tahu apa isi surat itu dan siapa pengirimnya. Dan dia tidak ingin mati penasaran dalam keadaan tidak tahu yang mengirimi surat ke istrinya itu. Ah, dia tidak bisa membayangkannya…Lagipula, jika Shiho mengetahui perbuatannya, ia yakin ia pasti akan bisa mengatasinya. Ya, ya, bagaimana pun juga dia tahu Shiho mencintainya dan dia pasti tidak akan tahan marah-marah pada suami tercintanya ini.

Dan percayalah…terkadang sifat over confident dibutuhkan untuk mengatasi masalah-masalahmu…

Shinichi memejamkan matanya, dan menarik napas dalam-dalam. Dia menghembuskan napas perlahan dan mulai membuka amplop itu. Diambilnya sebuah surat dari dalamnya dan dibukanya dengan sangat hati-hati dan ia menemukan tulisan tangan yang sangat rapi dan cantik.

22 februari 1996

Shiho ku tersayang,


Mata Shinichi membelalak membaca kata-kata pertama itu. Siapa orang ini? Berani-beraninya memanggil Shiho dengan begitu mesra…!!

Malam ini adalah salah satu malam yang selalu kutunggu-tunggu sepanjang tahun, sejak dulu hingga sekarang. Apakah kau tahu kenapa? Karena malam ini adalah satu malam tepat sebelum kau lahir ke dunia ini 17 tahun yang lalu.

Oh, Tuhan! Orang ini sangat menantikan ulang tahun Shiho! Siapa dia?

[/spoiler]
0 0
0
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
25-06-2012 14:59
[spoiler=A Letter [Part 2 Complete]

Ya, 17 tahun yang lalu, saat semua orang yang mencintaimu menantikan kehadiranmu. Ayah, ibu, dan aku.

Aku?

Walau saat itu aku masih belum terlalu mengerti apa yang disebut dengan adik. Yang ada di dalam bayanganku, seorang adik adalah seorang bayi kecil yang sangat lucu dan imut dan bisa kuajak bermain. Ya, definisiku saat itu tidak terlalu salah karena kau yang masih kecil sangatlah imut dan lucu.

Jadi…ini surat dari Akemi…?

Shinichi berjalan mendekati meja rias tidak jauh lemari itu dan duduk di atas kursi di depan meja rias. Kedua matanya tidak lepas dari surat itu.

Pipimu kemerahan dan kulitmu indah seputih susu. Matamu yang berwarna biru safir dan rambutmu adalah hal terindah yang pernah kulihat waktu itu. Rambutmu tidak sama dengan rambut kuning ibu. Rambutmu lebih indah, Shiho. Di satu saat, rambutmu terlihat cokelat, namun sewaktu-waktu ia bisa berubah menjadi jingga atau bahkan merah. Rambutmu memantulkan berbagai macam warna saat matahari menyinarinya, sama dengan berbagai macam keindahan yang terpancar dari dirimu yang lugu dan polos itu.

Shiho, apa kau tahu, senyumanmu adalah senyuman paling cantik yang pernah kulihat? Kau adalah hartaku yang sangat berharga yang selalu ingin kulindungi. Aku ingin selalu bersamamu, kapan pun dan dimana pun. Aku ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja, bahwa kau akan selalu sehat dan selamat. Aku ingin memastikan bahwa kau tidak didekati oleh lelaki-lelaki bodoh yang hanya ingin menggodamu, dan aku ingin mengetahui jika suatu saat nanti kau akan menemukan seseorang yang cukup baik untuk membantuku menjagamu.

Namun, Shiho adikku sayang, maafkan aku. Mungkin nasibku tidak lah sebaik itu untuk bisa selalu memperhatikanmu dan menjagamu. Dan mungkin nasibmu tidaklah sebaik itu untuk menemukan keindahan-keindahan yang biasanya akan mudah diraih oleh orang lain. Karena kita berbeda, kita tidak sama dengan mereka, Shiho.

Shiho, kini kau sudah berumur 17 tahun. Umur yang sudah cukup dikatakan sebagai seorang dewasa. Di usia ini kau akan menyadari banyak hal yang mungkin dulu sempat luput dari perhatianmu. Di usia ini juga mungkin kau akan kehilangan banyak hal ataupun sebaliknya, menemukan banyak hal berharga yang tidak akan kau temukan di usia-usia yang lain.

Shiho, kau memang sudah sangat dewasa di usiamu yang bahkan belum mencapai kepala dua. Aku sudah menyadari itu sejak kita berdua kehilangan orang tua kita. Aku tahu bahwa kau akan tumbuh menjadi seorang wanita yang berbeda, jauh lebih berbakat dibanding diriku dan jauh lebih dewasa dibanding diriku. Aku sadar bahwa kau adalah gadis yang memiliki banyak kemampuan luar biasa yang tidak dimiliki oleh gadis lain. Namun, di saat yang sama, aku juga sadar bahwa kau tidak memiliki hal yang tidak kalah banyaknya dibandingkan dengan hal-hal yang kau miliki. Bahkan, mungkin lebih banyak. Padahal, hal-hal itu adalah hal-hal kecil yang sesungguhnya sangat mudah didapatkan, namun sulit bahkan tidak bisa didapatkan untuk beberapa waktu ini karena kau berbeda.

Shiho, mungkin kau sudah tidak peduli lagi atas apa yang kau miliki dan tidak kau miliki, apa yang kau inginkan dan tidak kau inginkan, apa yang kau takutkan dan tidak kau takutkan, apa yang kau percayai dan tidak kau percayai. Namun, terkadang aku takut kalau kau bahkan tidak sempat, tidak bisa atau tidak mau memikirkan hal-hal seperti itu lagi, karena bagimu itu semua adalah hal kosong, hal yang tidak ingin kau ingat. Shiho, maafkan aku, karena aku tidak bisa menjadi seorang kakak yang baik untukmu.

Tapi, ingatlah Shiho. Suatu saat kau akan mengetahui semua hal yang telah ku sebutkan ini. Dan saat kau telah mengetahuinya nanti, jangan pernah berpikir untuk melupakannya atau lari darinya karena itu semua adalah ketulusan yang berasal dari hati dan pikiranmu. Kabulkanlah, dan biarkan dirimu menikmati hal-hal yang belum pernah kau nikmati sebelumnya.

Kakak yang sangat menyayangimu,

Akemi Miyano




Shinichi menarik napas dalam-dalam setelah menyelesaikan surat itu. Dia tidak bisa menyangkal jika napasnya terasa sedikit sesak saat membaca semua itu, surat dari seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya lebih dari ia menyayangi dirinya sendiri. Shinichi dapat melihat kasih sayang seorang kakak yang rela mengorbankan dirinya sendiri demi kebebasan adiknya dari kata-katanya yang lembut dan penuh pengertian.

Shinichi juga bisa mengetahui dari surat yang telah lusuh dan menguning itu…jika Shiho telah membacanya berkali-kali dengan air mata yang terus mengalir hingga mengaburkan tinta hitam pada kertas itu.

Shinichi baru saja akan melipat kertas itu saat sebuah tangan meraih tangannya melewati bahu kanannya, dan melipat kertas itu menjadi dua.

"Sudah selesai?" tanya sebuah suara lembut dari balik punggungnya.

"Ya," jawab Shinichi singkat. Saat ini tidak ada perasaan yang mengalahkan rasa terharunya setelah membaca surat itu, termasuk perasaan takutnya akan kemarahan wanita bersuara dingin di belakangnya itu.

"Kau tidak menangis?" tanya suara itu lagi, namun kali ini dengan nada sedikit mengejek.

Shinichi terdiam sebentar, mengerjap-ngerjapkan matanya yang perih. "Tidak…tapi kurasa aku hampir menangis."

"Aku selalu menangis setelah membacanya," Shinichi dapat menebak jika orang di belakangnya itu sedang tersenyum penuh arti.

Kemudian tangan indah yang memegang tangannya itu mendarat di atas meja rias di hadapannya. Tanpa protes, Shinichi membiarkan tangannya ikut terbawa saat Shiho meletakkan surat yang sudah terlipat dua itu di atas meja rias yang dipenuhi berbagai peralatan kosmetik miliknya.

Kini tangan itu sudah berada di bahu kiri Shinichi, disusul dengan tangan kiri Shiho yang meraih bahu kanan Shinichi dari belakang. Shiho meletakkan dagunya di bahu kanan Shinichi dan mendekapnya dengan lembut. Dari kedua lengan yang memeluknya, Shinichi dapat mencium aroma sabun mawar yang digunakan Shiho saat mandi tadi. Ia juga dapat mencium dengan jelas wangi shampo dari rambut Shiho yang masih basah yang menyentuh pipinya. Shinichi menarik napas pelan, berusaha menikmati saat-saat seperti ini.

Mereka terdiam seperti itu selama beberapa saat, sampai akhirnya Shinichi mengeluarkan suaranya.

"Kau tidak marah?" tanya Shinichi datar.

"Tidak," jawab Shiho singkat. Ia memejamkan matanya perlahan. Ia sangat suka menghargai momen-momen kecil seperti ini, karena baginya banyak hal yang bisa disampaikan walau tanpa kata-kata sekali pun. Dan ia tahu Shinichi juga menyukai hal yang sama.

Mereka kembali terdiam, hingga Shinichi kembali bertanya.

"Kenapa tidak marah?" tanya Shinichi polos.

"Kenapa harus marah?" Shiho balik bertanya.

"Kau marah saat aku membaca diary mu."

"Itu karena aku malu…" jawab Shiho diiringi dengan suara tawa pelan.

Mereka terdiam untuk yang kesekian kalinya. Tanpa sadar, Shiho mengarahkan hidungnya pada rambut Shinichi dan menciumnya dengan perlahan.

"Kau tidak pakai shampo yang baru kubelikan kemarin?" tanya Shiho dengan nada sedikit protes.

"Tidak, yang lama masih ada sisa," jawab Shinichi enteng. Kini sebelah tangannya menyentuh punggung tangan Shiho perlahan.

"Lalu, apa tanggapanmu tentang surat itu?"

"Hmmm," gumam Shinichi, pura-pura berpikir. "Yang jelas, kakakmu sangat mencintaimu."

"Aku tahu itu, tidak usah kau beri tahu."

Shinichi tertawa lepas.

"Jadi, apa kakakmu sudah tahu jika kau sudah menemukan orang yang baik untuk membantunya menjagamu?"

"Ya, tenang saja…" Shiho mempererat dekapannya pada suaminya itu. "Aku sudah pernah membalas suratnya."

THE END?

[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho


[/spoiler]

Oke terima kasih sudah membaca, nantikan fic berikutnyaemoticon-Kiss
0 0
0
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
25-06-2012 15:25
Update lagiemoticon-Big Grin
happy readingemoticon-Kiss

[spoiler=A Present [Part 1]

Hadiah apa yang kau inginkan?

.

Aku hanya ingin bersamamu…sampai kapan pun…

.

.


Wanita itu tersentak dari tidurnya dengan napas yang tersengal-sengal. Keringat membasahi dahinya dan gaun tidur tipis yang dikenakannya. Padahal malam itu sama sekali tidak panas dan pendingin ruangan tetap setia menyala. Tetapi, kelihatannya fenomena mimpi buruk ini berhubungan dengan kerja kelenjar hipotalamus otak serta saraf reseptor suhu di kulit yang mengatur keluarnya keringat pada tubuh manusia…sepertinya…

Ia berusaha mengatur napasnya sedemikian rupa dengan memejamkan kedua matanya dan menarik napas dalam-dalam. Lalu ia menghembuskan napas dengan pelan, berusaha melupakan mimpi buruk yang sudah lama sekali tidak mengunjungi tidurnya.

Benar…kapan terakhir kali dia bermimpi buruk? Tiga tahun yang lalu mungkin…saat kegelapan dan ketakutan yang sejak awal memang merupakan bagian kehidupannya semakin menelannya jauh dan terlihat tanpa ampun merusak jiwanya perlahan. Ia yang sejak awal adalah seorang yang pesimis dan tidak mempunyai tujuan hidup yang sesungguhnya, menjadi seorang yang lebih menyedihkan saat satu-satunya orang yang ia miliki dan sayangi juga meninggalkannya.

.

Bukan salahku…

.

Itu yang selalu ia pikirkan waktu itu…memang, semua itu bukan kesalahannya. Namun, kemalangan merundungnya seolah-olah ia adalah titisan Cleopatra yang dengan pandainya memikat hati pria-pria hebat di masa lalu namun mengakhiri hidupnya dengan cara bodoh. Bahkan mungkin reinkarnasi Marie Antoinette yang memakan habis pajak rakyatnya dan membuat anak kecil mati kelaparan.

Ah, tidak…dia tidak pernah percaya dengan hal-hal spiritual macam itu. Baginya, manusia hanya lahir sekali, hidup sekali, dan mati…entahlah. Mungkin bisa berkali-kali? Seperti orang yang mati suri yang hidup kembali beberapa hari setelahnya…

Bukan, itu bukan mati. Jiwanya tidak mati…hanya raganya…

Kalau begitu bagaimana dengan dirinya dulu? Dirinya yang ia ingat memiliki raga yang hidup, namun tidak memiliki jiwa yang sebenarnya….Matikah dia waktu itu?

Wanita itu kini menyapu pandangannya ke sekelilingnya. Gelap, terlalu gelap hingga ia tidak bisa melihat tangannya yang ia lambaikan di depan wajahnya. Ia hanya bisa mendengar suara gemericik hujan dari luar kamar tempat ia berada. Bisa ia pastikan, sinar bulan tak akan sampai ke celah-celah jendela kamar itu…

Ia meraba-rabakan tangannya ke atas bufet yang jika tidak berpindah tempat, mestinya masih ada di samping tempat tidurnya. Pertama, tangannya menyentuh lampu senggol yang seharusnya masih menyala saat ia tertidur. Ia menyentuh kaki lampu itu pelan, namun lampunya tidak menyala. Ia menyentuhnya dengan lebih kuat bahkan nyaris menepuknya namun masih tidak menyala…

Sial, mati listrik di saat seperti ini…

Tangannya lalu menyentuh sesuatu yang ia cari dan mengambilnya. Sebuah PDA yang diberikan oleh pihak kantornya saat ia diterima bekerja di posisinya sekarang; sebuah posisi yang membutuhkan sarana informasi beraplikasi canggih yang terus dikembangkan.

Disentuhnya touch screen PDA nya itu dengan ujung jarinya yang lentik dan indah. Ponsel pintar nya itu pun mengeluarkan cahaya dan cukup memberinya penerangan di dalam kamarnya sendiri. Dilihatnya jam digital yang terpampang pada layar PDA nya…

00.01 a.m.

Aaah, masih jam segini rupanya…

Masih banyak waktu sebelum ia harus kembali ke rutinitas membosankannya tepat enam jam dari sekarang.

Ia menghela napas pelan dan mengarahkan cahaya ponselnya ke sisi kanannya, memastikan bahwa teman hidupnya yang satu tahun terakhir hidup bersamanya masih terlelap di sampingnya…

…

Tidak ada…ke mana perginya maniak itu?

Ia menggelengkan kepalanya pelan. Kepalanya sedikit terasa pusing karena terbangun pada saat seperti ini…tengah malam, hujan, dan kemungkinan besar mati listrik. Padahal biasanya ia belum tertidur jam segini karena tengah menyelesaikan laporan harian yang harus ia serahkan keesokan paginya. Namun, hari ini pengecualian karena kemarin adalah hari libur nasional sehingga ia tidak perlu masuk kantor.

Namun, tetap saja…ia tidak akan bisa tertidur kembali dengan cepat.

Ia menolehkan kepalanya ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. Ia pikir mungkin orang yang dicarinya sedang di toilet. Namun sepertinya tidak…tidak ada cahaya lilin atau senter dan yang lebih jelas, tidak terdengar suara dari dalamnya.

Oh, Tuhan…dia tidak pernah berhenti membuatku pusing…

Wanita itu lalu menyingkapkan selimutnya ke samping dan melangkahkan kedua kakinya turun dari tempat tidur. Ia lalu melangkah perlahan, berhati-hati agar tidak menabrak sesuatu ataupun terjatuh. Diputarnya kenop pintu kamarnya dan ia pun berjalan keluar, berharap bisa menemukan orang yang dicarinya begitu ia keluar dari kamar itu…

Tapi, tidak ada siapa pun. Koridor menuju kamarnya sepi akan nyawa manusia kecuali dirinya sendiri. Seandainya dia adalah tipe wanita yang takut akan hal-hal semacam setan dan hantu yang tidak logis, mungkin dia akan tetap berada di kamar…menutup kepalanya dengan bantal dan bersembunyi di bawah selimut. Namun, tidak. Dia lebih takut akan kehilangan sesuatu yang berarti baginya, takut akan terjatuh kembali ke dalam kegelapan tanpa ada seorang pun yang bisa menariknya keluar…

.

Tenanglah…kita akan keluar dari sini…bisa kupastikan itu

.

Wanita berambut cokelat itu menuruni tangga dengan perlahan. Sebelah tangannya memegang ponselnya, mengarahkan cahayanya ke anak tangga sehingga ia bisa melihatnya dengan jelas. Sebelah tangannya yang lain menyusuri pegangan tangga, bermaksud hati-hati.

Begitu tiba di lantai dasar, ia berjalan menuju ruang tengah. Ia mengarahkan PDA nya yang masih menyala ke arah sofa yang ia perkirakan berada tepat di hadapannya. Tetapi, orang itu tidak ada.

.

Aku akan mengunjungimu, minimal tiga kali dalam setahun…

.

Kali ini wanita itu mulai berjalan dengan tidak sabaran menuju kamar mandi yang ada di lantai dasar. Dibukanya kenop pintu yang tidak terkunci…dan dia tidak menemukan siapa pun. Ia kembali menghembuskan napas.

.

…Natal,

.

Ia meninggalkan kamar mandi dan berjalan menuju dapur yang berada tidak jauh dari kamar mandi. Sosok yang sejak awal juga jarang mengunjungi dapur itu…tidak ada di sana.

.

…tahun baru,

.

Wanita itu berniat menyerah dan melangkahkan kakinya kembali menuju tangga untuk segera kembali ke kamarnya. Namun, saat itulah dia menangkap cahaya dari ruang makan yang belum diperiksanya. Ah, benar juga…kenapa aku tidak memeriksa ruang makan sejak awal? Orang itu 'kan sering kelaparan di tengah malam…

Ia lalu memutar badannya dan berjalan menuju ruang makan yang semakin lama semakin terang. Saat ia arahkan cahaya PDA nya tepat ke tengah ruangan itu, ia tidak melihat apa pun kecuali meja makan dan beberapa kursi. Namun, di atas meja terdapat beberapa lilin yang telah dinyalakan, sumber cahaya yang ia lihat tadi.

Ia mendekati meja makan itu, dan menemukan setangkai bunga mawar putih dan sebuah kertas yang terlipat yang mirip kartu ucapan tahun baru. Diletakkannya PDA nya di atas meja dan diraihnya salah satu bunga kesukaannya itu. Ia lalu menggerakkan tangannya dan meraih kartu itu, membukanya perlahan…

.

…dan hari ulang tahunmu…

.

Kosong…kartu itu kosong. Sama dengan ruangan-ruangan yang telah diperiksanya tadi, ruangan-ruangan di mana ia tidak bisa menemukan orang yang dicarinya.

"Oh, Tuhan…" gumamnya pelan. Ia menahan napasnya pelan, merasa cukup kesal dengan permainan bodoh malam ini. Diletakkannya kembali kartu itu di atas meja; hanya menyisakan setangkai bunga mawar putih dalam genggamannya. Ia memandangi bunga mawar itu dengan pandangan bingung. Didekatkannya bunga itu ke hidungnya dan dia dapat menangkap wangi samar-samar dari bunga itu.

Mawar putih yang mestinya tidak berbau…tapi dia bisa mencium bau samar-samar darinya. Vanila? Bukan. Lavender? Juga bukan. Citrus?

Ah…

Bau ini pasti menempel dari seseorang yang telah meletakkannya di sini. Pria yang dicarinya sejak tadikah? Tidak, dia tidak pernah memakai parfum wangi citrus.

.

Hadiah apa yang kau inginkan?

.

Lalu, siapa?

.

…Shiho…?

.

"Shiho…"


[/spoiler]
0 0
0
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
25-06-2012 15:37
update lagi,
happy readingemoticon-Big Grin

[spoiler=A Present [Part 2]

Mendengar namanya dipanggil, wanita itu menoleh ke belakang. Tepat pada saat ia ingin mengomeli orang yang berdiri di belakangnya karena telah membuatnya berkeliaran kebingungan di rumahnya sendiri, orang itu menariknya ke dalam sebuah pelukan dan mengecup dahinya pelan.

"Selamat ulang tahun…"

Wanita yang dipanggil Shiho itu mendongakkan kepalanya dan menatap kedua bola mata yang memandangnya dengan lembut. Sosok di depannya tersenyum dengan begitu lembut, bahkan dalam kondisi ruangan yang begitu gelap ini, wajahnya terlihat begitu teduh dan menenangkan hati. Keinginannya untuk menumpahkan kekesalannya menghilang begitu saja.

"Ulang tahun…katamu?" wanita itu mengerjapkan matanya bingung.

"Jangan bilang kalau kau lupa hari ini ulang tahunmu?" pria itu terkikik geli melihat wanita di depannya kebingungan. Merasa terejek, wanita itu memasang wajah cemberut.

"Jangan bilang kalau kau salah mengingat ulang tahunku?"

Pria itu menggigit bibirnya menahan tawa. "Oh, sayang sekali…itu tidak mungkin, Shiho. Hanya ada tiga hari di hidupku yang tidak akan pernah kulupakan dalam setahun…natal, tahun baru dan ulang tahunmu…"

Eh…?

Wanita itu terdiam mendengar ucapan pria itu barusan. Dilihatnya pria yang masih menahan geli di hadapannya dengan pandangan sedikit kaget dan heran. Merasa diperhatikan, pria itu berhenti menahan tawanya dan mulai memperhatikan orang yang disayanginya itu dengan sedikit cemas.

"Hei, kau tidak sakit 'kan?"

Wanita itu tidak menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Sebagai gantinya ia tersenyum lembut dan menyandarkan kepalanya ke dalam dada bidang kekasih hidupnya itu.

"Hei, Shin…tega sekali kau, meninggalkanku di saat mati listrik dan ketakutan karena mimpi buruk."

Shinichi yang bingung dengan perubahan sikap istrinya yang tiba-tiba, hanya meletakkan tangannya di punggung wanita itu.

"Benarkah? Maafkan aku…"

Shiho melingkarkan kedua tangannya di punggung Shinichi dan menyesap pelan wangi piyamanya yang khas. Ia mendongakkan kepalanya dan tersenyum jahil.

"Kau tidak akan kumaafkan semudah itu…"

"Oh, ya? Lalu apa yang harus kulakukan agar kau mau memaafkanku?"


Shiho's Flashback


.

.

.

"Dengar, Shiho…aku akan datang beberapa hari lagi…"

"Kak…" ia menyalakan loudspeaker ponselnya dan tidak melepaskan perhatiannya dari layar komputer di hadapannya.

"Oh, Tuhan…aku sudah tidak sabar bertemu denganmu!" nada riang wanita terdekat dalam hidupnya itu terdengar jelas.

"Kakak…" tangannya berhenti beberapa saat, namun terus mengetik seolah-olah tanpa berpikir.

"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Kita akan bersenang-senang seharian…"

"Kakak!" bentaknya dengan suara keras. Kali ini kedua tangannya benar-benar berhenti. Suara riang itu kini berhenti berbicara, berganti dengan suara bingung yang penuh kecemasan.

"Shi…ho…?"

"Maaf, kak…aku…"

Diam berselang beberapa lama kemudian. Ilmuwan muda itu menangkupkan wajahnya dalam kedua telapak tangannya. Suara sang kakak kemudian kembali terdengar.

"Ada apa, Shiho? Semuanya baik-baik saja kan?"

Shiho tidak menjawab. Ia masih terdiam, entah berpikir…entah tidak tahu harus menjawab apa.

Ia mengangkat kepalanya lalu menarik napas pelan, berharap semoga jawabannya dapat menenangkan kakaknya.

"Bisakah kita undur pertemuan kita?" ia memijat pelan dahinya yang tiba-tiba terasa sedikit pening. "Aku…tidak begitu enak badan…"

"Eh? Kau tidak apa-apa 'kan?" Ah, dia gagal membuat kakaknya untuk tidak khawatir.

"Tidak apa-apa…hanya saja, aku tidak ingin menemui kakak dalam keadaan seperti ini…"

Akemi terdiam sejenak, tidak langsung memberi tanggapan atas jawaban adiknya. Dia merasakan bahwa adiknya itu tidak menjawab dengan cukup jujur.

"Kak?"

"…Baiklah," Akemi menghela napasnya. Ia tidak ingin mendesak adiknya lebih jauh. Ia tahu adiknya memang sedikit tertutup dan tidak akan suka jika ada orang yang ikut campur urusannya, bahkan jika orang itu adalah kakaknya sendiri. "Tidak masalah…yang penting kau cepat sembuh. Sepertinya kita harus menunda perayaan ulang tahunmu…"

"Ya, sepertinya begitu…" di sudut hatinya, Shiho merasa sedikit lega karena kakaknya tidak bertanya lebih jauh. Ia sudah mengira kalau kakaknya bisa menebak ada yang salah dengan jawabannya sebelum ini. Ia baru saja ingin menutup percakapan mereka, saat kakaknya menanyakan sesuatu yang tidak akan pernah ia jawab dengan baik.

"…Kalau begitu, ada hadiah yang kau inginkan?"

.

.

.



"Shiho?" pria itu menatap cemas wajah wanita di hadapannya. Air mata mengalir di kedua belah pipinya yang putih dan pria itu menghapusnya dengan lembut.

"Ah, maaf…aku…" Shiho meraih tangan Shinichi yang menyentuh pipinya dan menggenggamnya erat. Namun, ia tidak bisa menahan air matanya. "Ceritanya tiba di bagian yang menyedihkan. Jadi aku…"

Mereka berdua kini sudah berada di kamar mereka kembali, duduk berhadapan di tengah-tengah tempat tidur. Listrik belum menyala dan kamar itu hanya diterangi oleh cahaya dua lilin yang masing-masing diletakkan di dua bufet di samping tempat tidur.

Shinichi bisa menangkap ekspresi pedih istrinya dengan jelas walaupun keadaan saat itu cukup gelap. Ia tidak berkomentar apa pun. Tangannya tetap berada di sana, berusaha merekam rasa basah dari pipi mulusnya. Kedua bibirnya mengatup, tidak ingin mengatakan sesuatu yang ia takut akan membuat perasaan wanitanya menjadi semakin kacau. Di saat-saat seperti ini, biasanya ia membiarkan Shiho menenangkan dirinya sendiri.

Tak lama, isakan pelan itu sudah tidak terdengar lagi. Shiho melepaskan genggamannya dari tangan Shinichi. Shinichi pun menurunkan tangannya dan beralih menggenggam tangan kiri Shiho.

"Sudah lebih tenang?" tanya Shinichi dengan lembut yang dijawab dengan anggukan kecil.

"A-aku…" Shiho kembali membuka mulutnya. "…seharusnya aku tidak berkata sekasar itu kepada kakak. Saat itu, aku sedang sangat emosi. Organisasi semakin lama semakin menyalahgunakan obat buatanku…dan itu membuatku merasa bersalah.

Aku tidak tahu harus menceritakannya kepada siapa. Aku tidak akan bisa menjelaskan semuanya panjang lebar kepada kakak, karena pengawasan yang dilakukan organisasi kepada kami sangatlah ketat. Saat itu aku hanya bisa menyumpahi diriku sendiri yang bernasib buruk…dan akhirnya aku malah meluapkan kemarahanku kepada kakak. Satu hal yang seharusnya tidak boleh aku lakukan.

Padahal aku tahu…aku tahu jika kakak adalah satu-satunya orang yang menyayangiku saat itu. Padahal aku tahu, kakak selalu berjuang keras untuk mengeluarkan aku dari organisasi. Tetapi, aku membalasnya dengan sikap seperti itu…di saat dia sangat antusias dengan hari ulang tahunku yang akan segera tiba…

Padahal pertanyaan yang ditanyakan kakak di akhir percakapan kami waktu itu sangatlah sederhana…dia hanya menanyakan apa yang kuinginkan untuk hadiah ulang tahunku. Tapi, aku…sampai sekarang…aku tidak bisa menjawabnya dengan benar. Tidak akan bisa…"

Shinichi hanya diam dan mendengarkan, tanpa sekali pun melepaskan genggaman tangannya dari tangan Shiho. Tangannya menggenggam tangan Shiho semakin erat, seolah ingin memberinya kekuatan agar dia mengeluarkan masa lalu pahit yang terus bercokol di pikirannya itu. Dia tidak ingin memotong kisah istrinya karena mendengarkan cerita seperti ini merupakan hal yang cukup jarang walaupun mereka sudah bersama…dan ini adalah salah satu cara agar istrinya tidak bermimpi buruk lebih jauh.

"…K-karena itu…karena itulah, setiap hari ulang tahunku tiba, a-aku…" air mata kembali mengalir di pipinya. Shinichi tanpa mengubah ekspresinya, menarik tangan yang ia genggam sedari tadi dan meraih tubuh istrinya ke dalam sebuah pelukan, berharap bisa sedikit menenangkannya. Sebelah tangannya membelai kepala Shiho dengan lembut dan sebelah tangannya yang lain menggosok punggungnya perlahan.

"Menangislah…agar kau tidak menangis lagi di hari-hari lahirmu yang lain…"
[/spoiler]
0 0
0
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
25-06-2012 15:41
[spoiler=A present [Part 3 Complete]
Shiho terbangun saat sinar matahari yang hangat menyentuh pipinya yang masih sembap karena air mata. Ia bergerak sedikit dan menggerakkan kepalanya ke samping. Punggung tangan kanannya ia letakkan di depan matanya untuk menghalangi sinar matahari yang cukup menyilaukan. Kini ia memutar tubuhnya ke samping, berusaha menghindari cahaya yang mengganggu tidurnya yang nyenyak. Padahal baru semalam ia tidak bisa tidur karena kamar yang gelap.

Ia lalu membuka matanya saat tangannya yang bergerak ke samping tidak sengaja menyentuh sesuatu yang cukup familiar.

"Pagi…Sayang…"

Salam yang sama. Suara yang sama. Senyum yang sama. Pagi yang sama yang selalu memulai hari-harinya. Ia menatap wajah yang tampan dan tenang itu dengan pandangan lembut. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Tangannya yang tadi tidak sengaja menyentuh wajah Shinichi, kini membelai pipi dan dagunya perlahan. Janggut tipis yang belum dicukur hari itu menggelitik ujung-ujung jarinya.

"…Pagi, Sayang…"

Shiho menegakkan tubuhnya dari posisi tidur, diikuti oleh Shinichi yang juga duduk lalu merangkul pundaknya. Shiho meletakkan kepalanya di dada Shinichi, kembali memejamkan matanya. Ah, seandainya hari ini dia tidak mesti pergi ke kantor, ia pasti sudah kembali tertidur dalam pelukan suaminya itu.

"Sudah baikan?"

Shiho mengangguk dalam dada Shinichi. Ia menyesap wangi pagi Shinichi yang sangat disukainya itu.

"Kalau begitu…"

Shinichi melepaskan rangkulannya dari pundak Shiho, membuat Shiho terkesiap dan spontan menjauhkan diri dari Shinichi. Tangan yang ia gunakan untuk merangkul tadi kini membuka laci bufet tempat tidur mereka dan mengambil sebuah amplop putih. Shiho terheran-heran melihat amplop itu, tidak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran suaminya. Entah sejak kapan, dia menjadi tidak peka dengan hal-hal seperti ini.

"Apa itu?" tanyanya singkat, menatap wajah Shinichi dan amplop itu bergantian. "Kau tidak memberiku uang 'kan? Itu hadiah paling bodoh yang pernah terpikirkan olehku…"

Shinichi tidak menjawab apa pun melainkan hanya tersenyum penuh rahasia. Tangannya yang memegang amplop itu terjulur ke hadapannya, seolah memintanya untuk membuka sendiri amplop itu.

Sejak kapan suaminya ini jadi sering menanggapinya hanya dengan sebuah senyuman sederhana?

Malas bertanya lebih jauh, Shiho mengambil 'hadiah'nya dan menatap amplop yang tidak berdosa itu dengan pandangan menyelidiki. Ia lalu melayangkan pandangan amat-sangat-bingung ke arah suaminya.

Dengan sedikit ragu, jari-jarinya mulai merobek tutup amplop itu perlahan, berhati-hati agar ia tidak merobek apa pun yang ada di dalamnya walau itu uang sekali pun.

Setelah terbuka, Shiho kembali menatap amplop itu dengan pandangan yang lebih mirip pandangan curiga dibandingkan bingung. Shinichi yang jarang menemukan ekspresi seperti itu di wajah istrinya, sangat menikmati saat-saat seperti ini. Sesaat, wajahnya terlihat sedang menahan tawa.

"Dengar! Aku tidak akan segan-segan menyuruhmu tidur di sofa selama seminggu jika kau memberiku yang aneh-aneh…!" Shiho berkata dengan nada tidak peduli. Tangannya kini sudah menarik isi amplop itu keluar. Ia lalu mengarahkan matanya ke isi amplop itu.

…Dua lembar kertas…


1


2




"Ah…ini…" Shiho menatap dua lembar kertas, lebih tepatnya tiket, dengan pandangan terkejut. Shinichi hanya tersenyum.

"Bagaimana? Aku tidak jadi tidur di sofa kan?"

Shiho mengalihkan pandangannya dari tiket itu ke arah Shinichi. Melihat wajah suaminya itu, ia hanya bisa tersenyum tidak percaya.

"Kalau kau mau, aku tidak akan melarang…" jawabnya dengan nada jahil. Shinichi membalas ucapannya dengan tawa lepas.

"Kukira…" Shiho melingkarkan tangannya di pinggang Shinichi. "Kau tidak akan memberikan hadiah lain selain kartu kosong dan mawar itu…"

Tubuh Shinichi sedikit bergerak, seolah kaget dengan ucapan istrinya barusan. Shiho yang merasakan gerakan itu, walaupun sedikit, mengangkat kepalanya dan kembali menatap suaminya bingung.

"Ada apa lagi?"

"Aaa, itu…" Shinichi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tersenyum canggung. "Aku memang ingin menuliskan ucapan selamat ulang tahun di kartu itu, saat aku sedang mengambil pena di ruang kerja lalu listrik mati. Tapi, kalo bunga…aku tidak ingat menyiapkan bunga untukmu…"

"Lho? Kalau bukan kamu, lalu siapa?"

Shinichi mengangkat bahunya, tidak punya ide siapa kira-kira 'penggemar rahasia' Shiho itu. Wajah mereka berdua terlihat bingung. Mereka hanya bisa saling berpandangan, berusaha menerka-nerka siapa yang memberikan Shiho mawar di malam itu. Tapi, tidak ada satu nama pun yang muncul di otak mereka berdua.

Tak lama, Shiho sedikit tersentak, seolah teringat sesuatu.

"Hei, Sayang…kau tidak pernah memakai parfum wangi citrus 'kan?"

"Tidak. Memangnya kenapa?"

Shiho terdiam sebentar, tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia kemudian teringat sosok yang memiliki wangi sama dengan wangi yang ia cium semalam.

Citrus…orang itu…

"Hei, memangnya kenapa?" suara Shinichi menyadarkan Shiho dari khayalannya. Ia tersenyum penuh arti lalu kembali menyandarkan kepalanya ke dada Shinichi.

"Shin, apa kau percaya dengan arwah, dunia lain, atau semacamnya?" tanya Shiho polos.

"Haaah? Apa maksudmu? Aku tanya apa, kau jawab apa…"

"Sudah, jawab saja…" mintanya dengan nada sedikit memaksa.

"Tentu saja tidak. Kau menanyakan hal seperti itu kepadaku…tapi, kalau kau ingin jawaban iya, tanyakan saja pada Ran. "

"Baiklah…" Shiho menutup pertanyaannya dengan tawa kecil.

"Kenapa 'sih sayang? Kau aneh sekali hari ini…"

Shiho tidak menjawab apa pun, hanya kembali tertawa kecil dan semakin menenggelamkan kepalanya dalam dada Shinichi. Shinichi yang melihat tingkah istrinya hanya menggelengkan kepala pelan dan tersenyum lembut.

Sejak itu, Shiho selalu menunggu-nunggu kapan hari ulang tahunnya akan datang kembali…

THE END?

[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho

[/spoiler]

Oke, terima kasih sudah mau membaca kisah rumah tangga iniemoticon-Big Grin
ane memang paling suka 3 kisah iniemoticon-Big Grin
mungkin kisah rumah tangga mereka akan dilanjut lagi nanti sementara ane mau posting kisah mereka yang lainemoticon-Big Grin
silahkan dipantau, untuk judul bisa dilihat di indexemoticon-Big Grin
0 0
0
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
26-06-2012 07:28
update pagiemoticon-Kiss
happy readingemoticon-Kiss

[spoiler=Ran's POV: You're Dead, Shinichi. . .[Part 1]
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho


Untuk kesekian kalinya atau mungkin memang selalu begitu, Ran mendengarkan Shinichi menceritakan tentang novel Sherlock Holmes yang baru dibacanya. Ran selalu merasa kesal karena mereka berdua atau lebih tepatnya Shinichi selalu membicarakan Sherlock Holmes setiap mereka pergi berdua. Tapi jika dipikir kembali, mereka berdua memang tidak punya bahan pembicaraan lain. Shinichi adalah maniak Sherlock Holmes dan sepakbola sementara Ran tidak punya ke-maniak-an terhadap sesuatu. Ran memang menyukai karate tapi hanya sebatas suka, tidak sampai maniak.

Ran selalu berharap jika mereka berdua menjadi sepasang kekasih, mereka berdua bisa membicarakan hal-hal lain yang normal dan mereka berdua benar-benar berbicara, bukan hanya Shinichi saja yang bicara. Memang Shinichi selalu mendominasi dimanapun dia berada, termasuk dalam hubungan mereka. Mungkin karena hasil didikan orang tuanya dan teman-teman yang selalu memujanya, termasuk Ran walaupun dia selalu berusaha menutupinya, Shinichi menjadi orang yang sombong, egois dan sangat tidak peka. Yah, tapi tidak ada yang bisa menyalahkan sifatnya itu karena dia bisa dibilang memang laki-laki sempurna.

Shinichi dan Ran menaiki mystery rollercoaster sementara Shinichi terus bercerita dengan penuh semangat. Ran menghela nafas. Setelah rollercoaster ini berjalan, Shinichi akan menutup mulutnya dan Ran berharap sampai mereka turun nanti Shinichi tetap menutup mulutnya. Akhirnya harapan Ran menjadi kenyataan.

Jeritan histeris menyambut para penumpang rolllercoaster ketika mereka turun. Shinichi langsung bergegas mengamankan TKP dan menyuruh orang untuk memanggil polisi. Seperti biasanya Shinichi tanpa kesulitan memecahkan kasus pembunuhan rollercoaster itu. Setelah polisi pergi membawa pelaku pembunuhan tersebut, Ran mengajak Shinichi pulang, tapi Shinichi menyuruhnya pulang duluan karena dia masih ada urusan.

Ran tiba-tiba merasakan firasat buruk dan meminta Shinichi pulang bersamanya, tapi seperti biasanya juga, Shinichi hanya tersenyum padanya dan berlari meninggalkannya, tidak mengindahkan permintaannya. Ketika Ran akan mencegah Shinichi, tali sepatunya putus, yang menurut tahayul berarti sesuatu yang buruk akan terjadi. Ran hanya bisa melihat punggung Shinichi yang terus menjauh dengan perasaan gelisah.

Sesampainya di rumah, Ran benar-benar khawatir. Hatinya tidak tenang. Dia mencoba untuk tidur tapi gagal. Matanya terus terbuka. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke rumah Shinichi dan melihat apakah Shinichi baik-baik saja. Namun yang ditemuinya di rumah itu bukan Shinichi, melainkan profesor Agasa dengan seorang anak kecil bernama Conan Edogawa yang merupakan saudara jauh profesor Agasa.

Profesor Agasa meminta Ran merawat Conan karena dia selalu sibuk dengan penemuannya sehingga tidak punya waktu untuk merawatnya dan Ran dengan senang hati menerimanya. Paling tidak Ran tidak akan kesepian lagi di rumah karena dia hanya tinggal dengan ayahnya yang pemabuk.

Entah kenapa saat perjalanan pulang, Ran ingin sekali membicarakan Shinichi kepada Conan. Bahkan dia bilang kepada Conan bahwa dia sangat menyukai Shinichi. Ran melihat Conan sangat terkejut tapi kemudian Conan memberikan senyuman kanak-kanaknya yang paling manis. Ran merasa beruntung karena dia akhirnya mendapatkan teman bicara yang akan mendengarkan semua perkataannya.

Beberapa hari kemudian, Ran mendapat telepon dari Shinichi yang mengatakan padanya bahwa dia sedang sibuk menangani suatu kasus dan tidak akan pulang untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Ran mencoba menanyakan kasus yang sedang ditangani Shinichi, siapa tahu dia bisa membantu sehingga Shinichi bisa cepat pulang tapi Shinichi tidak menjelaskannya dan memintanya untuk tidak khawatir dan menunggu kepulangannya dengan sabar. Akhirnya Ran hanya bisa meng-iya-kan saja.

Kedatangan Conan dalam keluarga Mouri benar-benar membawa keberuntungan dalam rumah itu. Hanya dalam waktu singkat, ayah Ran, detektif Kogoro Mouri menjadi detektif terkenal. Lama-lama Ran mulai melihat kemiripan Conan dan Shinichi dan mulai curiga. Apalagi waktu kedatangan Conan sama dengan waktu kepergian Shinichi. Namun kecurigaannya selalu terbukti salah sehingga dia tidak curiga lagi walaupun kadang-kadang dia berharap Conan adalah Shinichi.

Ran beberapa kali memergoki Conan yang sedang duduk termenung dengan wajah yang menyiratkan keputus-asaan. Ran tidak mengerti kenapa anak sekecil itu sudah punya ekspresi wajah seperti itu. Ran melihat Conan seperti melihat dirinya sendiri dan Shinichi. Ran dan Shinichi adalah anak-anak yang kesepian. Orang tua Ran berpisah dan Ran tinggal dengan ayahnya yang pemabuk yang tentu saja tidak memperhatikannya sedangkan orang tua Shinichi lebih memilih tinggal berkarir di Amerika dan meninggalkan Shinichi sendiri di Jepang. Mungkin itu sebabnya mereka dekat karena mereka adalah anak-anak yang diabaikan oleh orang tua mereka sendiri. Sama seperti Conan, orang tuanya lebih memilih meninggalkan Conan di rumah keluarga Mouri daripada membawanya pulang.

Conan mulai berubah setelah kedatangan Ai Haibara. Ran tidak pernah lagi melihat wajah Conan yang putus asa. Ran mencoba ramah kepada Ai tapi Ai selalu bersikap dingin padanya sampai kejadian penculikan Conan dan Ai yang berakhir di pelabuhan. Ran melindungi Ai dari penculik yang berusaha menembak Ai. Sejak saat itu, Ai tidak bersikap dingin lagi padanya walaupun Ai juga tidak bersikap ramah. Lagi-lagi Ran berpikir, mungkin Ai juga sama seperti dirinya, Shinichi dan Conan, anak-anak yang diabaikan oleh orang tuanya.

Ran menyelesaikan SMA-nya tanpa Shinichi karena Shinichi tidak kembali sampai saat kelulusan dan sekarang dia memutuskan masuk pendidikan kuliahnya untuk menjadi guru SD. Ran cukup bahagia dengan hidupnya sekarang karena kehadiran adik angkatnya beserta anggota Detektif Boys yang lain dan dia mendapat teman baru yaitu Heiji Hattori, Kazuha Toyama, dan Eisuke Hondo. Entah kenapa kepergian Shinichi membawa kedatangan orang-orang baru dalam kehidupannya. Tapi di saat-saat tertentu, Ran akan menangis sendirian karena dia sangat merindukan Shinichi.

Ran menghabiskan liburannya di Osaka bersama ayahnya dan Conan yang sudah naik kelas 3 SD sebelum masuk kuliah. Saat di rumah Heiji, Ran tidak sengaja mendengar pembicaraan Heiji dan Conan. Ternyata kecurigaannya selama ini benar. Conan adalah Shinichi. Pada awalnya Ran ingin langsung menyatakan apa yang dia dengar di depan Heiji dan Conan dan meminta penjelasan, namun akhirnya dia mengurungkan niatnya karena Shinichi pasti akan membodohinya lagi sehingga dia percaya dan tidak curiga lagi. Ran memutuskan untuk menunggu lagi, menunggu sampai Shinichi sendiri membongkar identitasnya di depan Ran.

Ran berusaha keras bersandiwara di depan Shinichi yang selama dua tahun ini juga selalu bersandiwara di depannya sebagai Conan. Melihat Conan berusaha keras memberikan petunjuk pada ayahnya atau polisi untuk mengungkap suatu kasus, melihat Conan menembakkan peluru bius di jam tangannya dan meniru suara orang-orang yang ditidurkannya itu untuk memecahkan kasus membuat Ran mengerti kenapa orang-orang di sekitarnya mendadak menjadi detektif. Semuanya terlihat sangat lucu di matanya. Yang paling lucu adalah bagaimana para anggota Detektif Boys selalu membuat Shinichi terlihat bodoh dan frustasi, terutama Ai. Ran merasa sangat heran bagaimana seorang Shinichi Kudo yang tidak terkalahkan hanya bisa menghela nafas karena kalah berdebat dengan seorang gadis kecil bernama Ai.

[/spoiler]
segera di update, pantau terus ganemoticon-Ngacir
0 0
0
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
26-06-2012 07:36
[spoiler=Ran's POV: You're Dead, Shinichi. . . [Part 2]
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho


Lama kelamaan Ran menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan hubungan Conan dan Ai. Ran tidak bisa menunjukkan perbedaannya tapi dia tahu ada yang berbeda. Ketika Ai membuat Conan tersenyum, Conan benar-benar tersenyum. Senyumnya berbeda dengan senyum yang selalu ditunjukkan Conan pada semua orang termasuk Ran, senyum yang hanya sandiwara belaka. Tapi tentu saja senyum itu sangat jarang terjadi mengingat Ai lebih banyak membuatnya kesal atau terlihat bodoh.

Pernah suatu hari Conan pulang ke rumah dengan lesu. Waktu itu dia sudah kelas 4 SD. Ketika Ran bertanya kepadanya, Conan hanya bilang bahwa Ai marah padanya. Hari-hari berikutnya, Ran melihat Conan berusaha keras agar Ai tidak marah lagi padanya. Ran sampai terheran-heran sendiri, kenapa Shinichi begitu inginnya Ai, seorang gadis kecil, tidak marah lagi padanya dan mau bicara lagi dengannya bahkan sampai meminta maaf kepada Ai dengan muka memelas. Shinichi yang dikenalnya, yang keangkuhannya setinggi langit itu tidak mungkin melakukannya.

Puncaknya adalah saat Ai tertusuk pisau oleh pelaku pembunuhan yang disudutkan oleh Conan saat mereka kelas 5 SD. Kejadian itu membuat Ai tidak sadarkan diri selama beberapa hari dan Conan setiap hari menungguinya di rumah sakit. Conan bahkan tidak mau pulang dan ingin terus di sana sampai Ai sadar. Ran bahkan pernah melihat Conan menangis sambil memegang tangan Ai yang masih belum sadar. Shinichi yang dikenalnya tidak pernah menangis walau sesedih apapun atau mungkin karena Shinichi tidak pernah mengalami hal-hal sedih sebelumnya makanya dia tidak pernah menangis. Akhirnya Ran bisa mengerti perbedaannya.

Ini bukan tentang hubungan Conan dan Ai yang berbeda tapi tentang Shinichi dan Conan. Ternyata Conan bukan Shinichi. Meskipun mereka berdua orang yang sama tapi mereka sangat jauh berbeda. Shinichi tumbuh dengan tatapan pemujaan dari teman-temannya yang terpesona dengan wajah, kecerdasan dan kemahirannya bermain sepakbola sedangkan Conan tidak. Yah, sebenarnya teman-teman sekolah Conan juga begitu dan ada Ayumi, yang merupakan teman baiknya, juga selalu menatap Conan dengan tatapan pemujaan seperti teman-temannya dulu. Tapi selalu ada Genta yang suka memukul kepalanya, Mitsuhiko yang selalu menuntutnya karena dekat-dekat dengan Ayumi dan Ai dengan sindiran-sindirannya sehingga selalu membuat Conan kembali ke bumi.

Namun Ran tidak menyerah kepada Shinichi. Setiap Shinichi meneleponnya, Ran terus meminta Shinichi untuk segera pulang. Memang nantinya jika Shinichi kembali, dia akan kehilangan Conan, adik angkatnya yang juga sangat disayanginya. Tapi dia sudah terlanjur mencintai Shinichi dan dia tidak ingin Shinichi menghilang dari hadapannya. Lagipula Shinichi juga mencintainya.

Setelah Ai kembali sehat dan keluar dari rumah sakit, Conan berkata pada Ran bahwa dia akan tinggal sementara di rumah profesor Agasa untuk menjaga Ai. Ran tentu saja sangat keberatan namun dia tidak punya alasan untuk mencegahnya sehingga dia mengijinkannya.


XXX


Saat Conan tinggal di rumah profesor Agasa, Ran hanya bisa melihat Conan dari jauh. Ran tidak sanggup menahan kerinduannya kepada Conan sekaligus Shinichi sehingga suatu kali dia menjemput Conan di sekolahnya ketika dia pulang lebih cepat untuk mengajak Conan makan siang bersama. Conan keluar dari sekolahnya bersama para anggota Detektif Boys yang lain dan langsung memperlihatkan senyum manis kekanak-kanakannya saat melihat Ran tersenyum ke arahnya walaupun dia kelihatannya sedikit terkejut melihat Ran.

"Kak Ran, kenapa Kakak ada di sini?" tanya Conan dengan suara kekanak-kanakan.

"Aku ingin bertemu denganmu, Conan. Rumah terasa sepi sekali tanpa kehadiranmu. Aku... aku rindu padamu" jawab Ran.

Mata Conan terbelalak karena kaget dan mukanya menjadi merah. Ran menahan dirinya dengan sekuat tenaga agar tidak tertawa. Ran berniat menggoda Shinichi habis-habisan nanti kalau dia sudah kembali karena sekarang dia tahu dengan kata-kata rayuan sedikit saja, muka Shinichi langsung memerah.

"Wah, wah, sepertinya Kakak-mu ingin mengajakmu kencan. Kau pasti senang sekali ya, Edogawa" sindir Ai kemudian mengalihkan pandangannya pada anggota Detektif Boys yang lain. "Lebih baik kita tidak mengganggu mereka" ucap Ai pada anggota Detektif Boys yang lain.

"Eh? Kencan?" seru anggota Detektif Boys yang lain.

"Tutup mulutmu, Haibara!" ucap Conan yang wajah merahnya sudah berganti menjadi wajah kesal sementara Ran wajahnya berubah menjadi merah karena Ai menuduhnya mengajak Conan kencan. Ai tidak tahu kan, kalau Ran menyukai Conan, atau lebih tepatnya Shinichi, dan Conan juga menyukainya?

Ai kemudian melangkah pergi diikuti anggota Shonen Tantei yang lain tanpa menghiraukan Conan.

"Uhm Conan, aku ingin..." ucapan Ran dipotong oleh Conan.

"Kak Ran, aku harus pergi sekarang. Aku tidak bisa membiarkan Haibara pulang sendirian karena dia selalu terlibat masalah kalau aku tidak bersamanya. Aku akan mampir kapan-kapan. Sampai jumpa" ucap Conan kemudian segera berlari menyusul teman-temannya.

Ran hanya bisa terdiam di tempatnya. Akhirnya Ran menyadari satu hal lagi, perlahan tapi pasti, Shinichi dalam diri Conan mulai pudar. Shinichi yang mencintainya dan dicintainya semakin menghilang. Sehingga pada akhirnya yang tersisa hanyalah Conan Edogawa yang tanpa sadar sudah jatuh cinta pada Ai Haibara.


XXX


Suatu hari Ran tanpa sengaja melihat Conan menarik tangan Ai yang sedang bicara dengan seorang anak laki-laki di taman. Ran langsung menghampiri mereka dan menangkap sedikit percakapan mereka.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Ai.

"Dia itu masih SMP" seru Conan.

"Dan kita masih kelas 6 SD. Tidak ada yang salah dengan anak SMP" ucap Ai.

"Tentu saja itu..." ucapan Conan terputus ketika melihat Ran mendekat.

"Ada apa?" tanya Ran.

"Aku baru saja akan menolak seorang anak SMP yang menyatakan cinta padaku tapi Edogawa menggagalkannya. Yah, walaupun tidak sepenuhnya gagal karena anak SMP itu pasti mengira Edogawa adalah pacarku" ucap Ai datar.

"Apa? Jadi kau tidak kencan dengannya?" seru Conan.

"Tidak" sahut Ai.

"Tapi di rumah tadi..." ucapan Conan dipotong oleh Ai.

"Aku tidak pernah bilang kencan kan? Kau sendiri yang seenaknya salah paham pada apa yang kukatakan. Haah, aku capek sekali. Lebih baik aku pulang. Sepertinya Kakak-mu ingin bicara denganmu" ucap Ai kemudian melangkah pergi.

"Hei, tunggu! Aku belum selesai" seru Conan tapi Ai tidak mempedulikannya kemudian Conan menoleh pada Ran dengan pandangan melas.

"Kita bisa bicara lain kali" ucap Ran yang langsung disambut oleh senyuman manis Conan.

"Maaf, Kak Ran. Aku akan mampir kapan-kapan. Sampai jumpa" ucap Conan kemudian dia berlari mengejar Ai.

"Shinichi, apa kau benar-benar sudah mati?" gumam Ran pada dirinya sendiri.

[/spoiler]

Sebentar lagi file terakhiremoticon-Ngacir
0 0
0
Halaman 10 dari 19
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia