ts dan gip akhirnya menerima kenyataan, pendukung ahok semakin banyak, hater semakin sedikit, sudah terbukti hari ini.
Mungkin secara politik ahok bodoh, tapi secara logika dia pintar. Anggap pada satu area yang digusur paling ratusan orang yang benci dia, tapi ribuan orang yang tinggal di area sekitar yang dirapihkan tersebut akan memilih dia dan berterima kasih karena daerah tempat tinggalnya jadi bagus dan tidak
Ahok sudah tahu triknya si uno, makanya langsung dipotong bicaranya, menghindari klaim dari uno di belakang hari kalau ide ahok berhasil, ahok tidak mau terpancing menyontek ide uno.
bang ruhut ini termasuk orang yang berani membela yang benar, pertahankan terus dengan semangat bang.
Peneliti lipi koq berbicara berdasarkan prediksi, bukan hasil survey. Seharusnya dia mengatakan pendapatnya itu adalah opini pribadi, supaya tidak mencemarkan lembaganya.
Udah lucu2 kayak gini nikmati saja sebelum punah, sebentar lagi 2019 yang beginian sudah tidak ada lagi.
Elektabilitas bukan satu2nya faktor yg menentukan, hal lainnya yang tak kalah penting adalah faktor tingkat kepuasan kinerja ahok di atas 80%, ini yang menyebabkan warga dki lintas suku dan agama tetap pilih ahok.
Pake surat2an segala, ajukan aja calon yang lebih baik dari ahok kalau ada. Yang menentukan ahok menang pilkada rakyat DKI bukan jkw atau ketum.
ketum nya sengaja menunda deklarasi cagub cawagub, supaya memancing siapa saja kroco2 di partainya, untuk kemudian 'dibereskan' nanti.
mungkin saja si at pinter, tapi kenapa ditanya wartawan ribet banget jawabannya, itu yg menyebabkan publik kurang respek.