Bikin satu bak tiap sekolah. Makanan yang tidak habis, buang ke situ. Kumpulin, ubah jadi kompos. Selesai. Kalau suruh bawa pulang, malah nambah sampah anorganik buat bungkus makanannya, plastik buat bawa makanannya... Kalau nggak doyan, ya udah stop saja programnya
di jalan ane ke kantor ada sebuah perempatan, pagi-pagi kalau ada polisi jagain jadi relatif tertib tapi macet, kalau nggak dijagain jadi relatif lancar, pelanggar lalinnya yang bagi ane membantu.
Komentar gitu biar apa? Kalau biar ditambah anggarannya, ane mah ogah. Yang sekarang aja males uang pajak dipakai buat bayar utang ke cina..
Makanya kalau ada begal sedang digebuki nggak usah direkam/diupload. Entar pembegalannya nggak ada data, pembalasannya ada data.
Boleh, Gan, masuk membela diri, Nanti tinggal tunjukkan bukti kamera dashboard kalau memang diintimidasi (punya kamera dashboard, kan?), aman dah. Seperti kata pepatah, "hukum itu untuk melindungi innocent, bukan kriminal" tapi itu di amrik :hammer
Justru baiknya dibatasin saja. Yang boleh memilih minimal lulusan SMA sederajat atau IQ di atas 100 atau penghasilan minimal 6 juta (dan membayar pajak penghasilan). Terserah umur berapa. Sama harus daftar dulu, masukkan NIK sama milih TPSnya, baru dibuatkan surat suara.
"Teknologi ini memungkinkan baterai BV100 menyimpan energi sebesar 3.300 megawatt jam, dengan kepadatan energi lebih dari sepuluh kali lipat baterai lithium konvensional." Ngitungnya gimana, sih: - daya = 100μW (microwatts) = 100 x 10^-6 W (nyari di gugel) - waktu = 50 years = 50 x 365...
Nggak gitu, itu hitungan kalau pajak penjualan (PPn). Kita pakainya pajak pertambahan nilai (PPN) 1. Produsen menjual bahan baku ke pabrik seharga pokok Rp10.000 + pajak Rp.1200 (12%) = jual Rp11.200. Dia setor pajak ke negara Rp.1200. 2. Pabrik memproses barang dan menjual ke distributor seharga p