Embun pagi berkilauan seperti intan yang ditaburkan di atas rerumputan, menyimpan ciuman terakhir malam yang akan segera menguap dalam pelukan cahaya pagi.
Matahari pagi menyembul perlahan, merobek selimut kabut dengan sinar keemasannya dan membangunkan bumi dari mimpinya dengan sentuhan hangat yang penuh janji.
Malam merangkul kota dengan diam-diam, mengubah keramaian siang menjadi lukisan tenang yang hanya dihiasi oleh cerita-cerita diam dari jendela-jendela yang masih terjaga.
Cahaya lampu jalan berkerlap-kerlip seperti kunang-kunang yang terjaga, menemani langkah-langkah terakhir malam sebelum fajar mengambil alih pemerintahan.
Angin malam bertiup sepoi-sepoi, membelai daun-daun hingga berdesir lembut, menciptakan irama pengantar tidur bagi dunia yang mulai mengistirahatkan diri.
Bulan sabit menggantung di langit malam bagai senyum tipis, menaburkan cahaya peraknya ke bumi yang lelap, sementara bintang-bintang berkelip lembut bagai permata yang tersebar di atas satin hitam.
Malam tiba dengan selimutnya yang berhiaskan bintang, menyelimuti dunia dalam kesunyian yang hanya dipecah oleh nyanyian jangkrik dan desau angin yang berbisik pada daun.
Sore petang menutup hari dengan kelambu jingga, ketika bayang-bayang memanjang dan dunia berbisik tentang kedamaian dalam napas angin yang mulai berbisik dingin.
Mentari sore merangkak turun di batas cakrawala, menumpahkan madu cahayanya yang kental ke atas punggung awan, mengubah langit menjadi kanvas hidup yang diwarnai dengan leburan jingga, ungu, dan emas.
Matahari sore mulai merunduk, menebar cahaya hangat keemasan yang melenakan, mengubah kaca jendela dan atap-atap rumah menjadi pualam berkilauan.
Jam dinding berdetak perlahan, seolah waktu juga kepanasan dan enggan bergerak cepat, membuat siang terasa panjang dan tak berujung.
Jam dinding berdetak perlahan, seolah waktu juga kepanasan dan enggan bergerak cepat, membuat siang terasa panjang dan tak berujung.
Tirai-tirai jendela tertutup rapat, berusaha menahan serbuan cahaya dan panas, menciptakan dunia-dunia kecil yang redup dan sepi di balik kaca.
Daun-daun pohon rindang bergerak malas, menawarkan tempat perlindungan sementara bagi burung-burung yang diam, mencari jeda di tengah terik yang membakar.
Bising kendaraan dan hiruk-pikuk kota bersatu dalam simfoni panas, sementara udara bergetar di atas aspal seperti sungai tak kasat mata yang haus akan keteduhan.
Matahari siang tegak di puncak langit, menuangkan cahaya putih yang terang benderang hingga bayangan-bayangan pun menyusut diri, bersembunyi di bawah kaki segala sesuatu.
Keheningan pagi yang sempurna perlahan pecah oleh deru mesin pertama, tanda bahwa kota mulai menggeliat dan hari benar-benar telah dimulai.
Udara pagi yang sejuk dan bersih memasuki paru-paru, membawa aroma tanah basah dan harum daun muda yang memulai hari dengan napas baru.
Kabut tipis mulai tersibak, memperlihatkan sarang laba-laba yang berlian embun, menjembatani dua dahan dunia yang masih setengah terjaga.
Sinar matahari pagi menyelinap melalui dedaunan, melukis pola-pola cahaya dan bayangan yang bergoyang lembut di atas tanah seperti permadani hidup yang baru terbuka.