Kapal berlabuh di dermaga Mengecangkan tali pada pancang Hijau biru samudera saling berbias Tangan kokoh menggenggam seikat bunga Hisap hirup terlena mengepakan sayap Jatuh cinta membuat semua panca indera menggila Kau tersenyum di balik topeng Jemarimu menarik aksara Mengikat jiwaku terpenjara
Bungkam terkunci masa yang tak kembali Mematikan lidah tersayat belati Kelu bibirku berucap kasih Sampai tanganku enggan menggapai Aku pergi tak akan kembali Mendamaikan hati yang berduri Diamku jawaban yang kau cari Enyahlah jangan datang lagi
Bunga tumbuh mekar dan indah Menghiasi taman-taman kota Semerbak harum mengusik indera penciuman Bibir mungil tersenyum mengembang Merah merona membisikan cinta Rambut tergerai panjang tertutup kain syal Jejak-jejakmu tertinggal di hati Melukis darah dalam nadi Desahan asmara yang selalu kucumbu
Baru saja ku mengenalmu Melalui goresan pena di tanganku Kau yang tak pernah tahu betapa memujamu Singgah sekejap pengobat rindu Terima kasih menjadi bagian kenangan hidupku Untukmu yang tersayang...
Angin musim dingin membekukan hasratku Kelopak mawar menghitam layu Debur ombak menggulung halus Meninggalkan jejak-jejak hampa jiwaku Kemarin datang membawa ribuan rasa Mengiba rasa cinta yang terus membunuh perlahan Namun nyata tak bisa kugenggam Bibir manismu menolak tanpa kesempatan Biarkan
Sunyi sepi datang di hamparan padang pasir Membawa rasa penuh harap seakan itu nyata Tersenyum bersama ribuan masa tanpa lelah Aku datang dan menantimu di penghujung malam Hay, kau gadis berjilbab ungu Senyummu manis memukau jantungku Bertegur sapa tanpa meragu Terima kasih menyambutku dengan c
Bias pelangi datang setelah hujan Cintaku nyata bukan fatamorgana Seperti ribuan kelopak mawar di taman Harum dan indah mengisi relung jiwa Terlalu sering kau jatuh terseok luka berduri Sehingga mengering tertutup daun jati Namun percayalah cintaku tak pernah membawa belati Kau seorang tuan putr
Surgamu dimana kau membawaku pada tujuan bersama Menikmati momen indah yang tak terlupakan Sampai dimana aku dan kamu tak terpisahkan Wajah ayumu terhias indah di bingkai Sorot matamu memabukan seluruh jiwaku Lama tak bersapa membawa separuh jiwa hampa Aku merindukanmu yang semakin lama menjauh
Langit-langit menghitam meninggalkan senja Lentik jemari mengusap wajah yang tak nyata Aku dan kamu menjadi kenangan yang tak lagi ada Harapan sirna terkubur masa Kelopak mewarnai sudut taman Bayangan yang semakin memudar Mendekat tak mampu aku genggam Menjauh membuatku pilu menangis dalam kelam
Senja berselimut kuning keemasan Melikuk menari di atas langit jingga Mencintaimu hal yang tak terbayang Hingga waktu yang tak pernah usang Aku dan kamu bertemu di depan pintu Meminum secangkir kopi hitam berteman lagu Menatap senyuman manismu Selamat malam wahai badai yang selalu menghantam ke
Gubuk tua dimana kita bertukar asa Menyelimuti setiap waktu yang menghilang Berganti warna di masa depan Setiap langkah menyurati hati yang tertinggal Aku dan kamu yang tidak akan pernah bersama Seperti angin dengan air yang tak sama Merintih merindukanmu yang tiada Sosokmu tergantikan goresan p...
Denting suara ranting patah Memasung jiwa dalam raga Menyentuh dinding tak terlihat Tersenyum dibalik ruang pengap Sepi mengoyak kalbu merundung pilu merindukanmu Banyak cinta untuk menggapaimu Namun kau tak pernah tahu Keangkuhan malam bertahta bintang Tak mengurangi secuil harapan Gelap namun ...
Kemarin kau mengajakku melempar puisi Merangkai kata menjadi aksara manis Mari berbalas puisi di sini Di tempat yang mempertemukan dua hati Aku tak pernah gamang menanti hadirmu Sosokmu begitu nyata Tergambar dalam sepasang mata Terima kasih kau datang Hadirmu menghilangkan dahaga Sayang penuh c...
Aku datang tanpa tanda Pergi meninggalkan bunga Agar engkau tersenyum tanpa batas Dukamu menjadi duri dalam lara Mencabik segala hasrat jiwa Terkoyak bersama hati remuk redam Mengiba memohon segala hilaf Untukmu yang tersayang
Aku dan kamu bagian dari kita Gugusan bintang di langit angkasa Menatap teduh rindu yang menghangatkan
Mengapa kau selalu mempertanyakan perasaan yang jelas-jelas tahu apa jawabannya? Bahkan rasa nie tak pernah hilang ketika malam-malam menyambut senyum manismu, Sayang. Tidak ada yang jauh lebih indah dibandingan keanggunan milikmu. Semua tentangmu menjadi kesukaan yang tak pernah pudar. Bersamamu k
Kau tau sayang? Mata Elangmu itu yang selalu membuatku tak berkutik. Seperti rantai yang mengikat hati dan seluruh ragaku. Sudah sering kucoba lepas, tapi pandangan dan sorot matamu selalu menggetarkan.
Mencintaimu seperti menggenggam bara api yang panas lagi menyakitkan. Namun aku terus bertahan meski tak terlihat di matamu. Hujan air mata sanggup aku tampung, asal jangan kepergianmu.
Jika untuk menyukai suatu hal harus dengan alasan, maka kepergianpun meninggalkan alasan. Maaf, seperti'y komitmen bukan hal yang penting untukmu. Kata seseorang prioritas yg berubah, bukan keadaan.
Awal'y aku tak mengenalmu, lalu kita berkenalan. Menjalin pertemanan hingga rasa nyaman itu tiba. Namun, perlahan rasa nyaman itu berubah rasa menjadi tak menentu. Ya, aku sayang kamu seiring berjalan waktu. Kenyataan tetaplah yang terjadi karena tak seindah ekspektasi. Kita hanya teman, bukan siap