Burung-burung beterbangat di angkasa Mengepak sayap meski terluka Panah-panah menghunus tajam Satu tancapan tetap saja mengibas Hujan badai mendera Matahari kian meredup hitam Petir menggema di ujung langit Tubuh-tubuh renta itu kian mengikis
Bias itu sirna di ujung senja Menoreh luka menghantam lara Kepulan asap mengekor niscaya Bebatuan tetap saja membisu kata Ranting-ranting tak lagi berdaun Dahan-dahan mulai gugur Terik matahari tak lagi menyambut Dingin salju membeku tubuh Langit gelap gulita Sendu terkikis duka menyiksa Torehan k
Aku seorang jiwa yang tersesat Kukira cahaya itu menuntun keluar Nyatanya berputar-putar Tubuhku semakin kacau dan lemah Kini, mataku nanar memandang langit Semakin hitam dan gelap tanpa cahaya lilin Redup menghilang di tengah kabut Aku benar-benar tersesat di dalam kalut Kakiku terus melangkah K
Kumainkan nada pilu Setiap not menggetarkan kalbu Ada jerit menyentuh Ada sakit membunuh Lagu terus saja ku nyanyikan Tak peduli jiwa penuh lubang Tangan lincah memainkan Setiap syair menghunus minda Ada derap langkah tak terlihat Ada gencatan senjata menjamah Luka itu berhasil terbuat Kini laguk
Sunyi menemani jiwa kesendirian Sendu mengikis asa di ruang hampa Tak ada toreh kata untuk sekedar menyapa Kosong, semua hilang tersapu angan Tak ada celah untuk berucap Kelu membisu di bukit tanpa jeda Gemerlap langit mengikis kelam Semua menghitam di kala tangisan Sudah selesai semua lepas Kini
Di tepi telaga wajahmu samar terpancar Menguning keemasan terbayang seroja Langit megah menyelimuti alam Senandung burung berkicau lembut nan indah Puing-puing sirna hanyut terkikis aliran Bayang bergelombang di permukaan Senyum mengembang hati menghangat Matahari kian meninggi di atas awan
Bagaimanapun kamu, aku selalu mencintaimu, Sweetheart. Bukan lagi masalah kebucinan, tapi tentang bagaimana semua itu terlahir begitu saja. Perjumpaan kita, perkenalan, sampai di suatu titik kita berada untuk selalu bersama. Orang tidak akan pernah mengerti bagaimana proses itu begitu berat untuk
Kita bertemu pada ketidaksempurnaan, orang menganggapku bahwa kau yang begitu beruntung mendapatkanku. Pada kenyataannya tidak, akulah yang begitu beruntung memilikimu. Kau yang berbeda dari sosok kebanyakan. Kau yang begitu membuatku sempurna di kala ketidaksempurnaan. Kau membuatku tertawa di ka
Aku terlahir tangguh untuk terus mencintaimu. Ketika badai dan peluru satu per satu menghujam tubuh. Namun nyatanya aku masih berdiri di sini dengan segala persenjataan diri. Aku wanita yang tidak akan pernah sama dengan yang lain, aku terlahir berbeda, dan akan selalu berbeda. Begitu menyebalkan
Ada kalanya tangan kita saling menggenggam erat dan tak ingin melepaskan. Ada kalanya tangan kita saling menghunus pedang satu sama lain. Ada kalanya tangan kita saling melepas satu sama lain. Hingga di suatu titik, tangan itu kembali di pertemukan pada suatu keterikatan. Aku ada ketika kesunyian
Badai itu terus saja berhasil menghancurkan bertubi-tubi, membawamu pergi, lalu mendatangkanmu lagi. Namun aku tetap di sini, menantimu penuh cinta. Menciptakan istana bernama asmara yang selalu saja berkilauan. Aku tetap sama, kekasihmu yang selalu mencintaimu tak kenal lelah maupun menyerah. Aku
Hitam Putih Dark Light Love Light Kepungan asa menghujam tepat di jantung Kilasan kegelapan mengkoyak relung Aku terjebak terkikis oleh jeritan pilu Tangisan sendu di malam membisu Langit-langit begitu kelam Cahaya enggan datang Tubuh lemah terikat duka Potong-potongan lara menyayat asa Terpontan
Si Cantik yang begitu periang Bermain dengan kupu-kupu beterbangan Tertawa dan semangat berlarian Langit-langit begitu cerah memukau mata Kini dia telah kembali menyapa Si gadis cantik nan imut menggemaskan Mengajakku tertawa dan tersenyum bersama Menarik tanganku agar ikut bersamanya Tawa riuh me
Mimpi-mimpi itu beterbangan Semburat cahaya hijau keemasan Buku-buku terus saja terbuka Kata demi kata menjadi sajak Mata membulat berbinar takjub Setiap kata menyentuh kalbu Cita, cinta, dan mimpi melesat jauh Melukis keindahan pelangi mejiku hibi niu
Kulukis keindahan pada lembar-lembar kertas kosong Berimajinasikan pelangi beraneka warna Burung-burung beterbangan Bunga-bunga bermekaran Kugaris seutas tali penunjuk jalan Agar arahku tak tersesat Di ujung dunia kutemukan gradasi keindahan Begitu memukau bersama cahaya langit gemerlap
Dunia itu telah kuciptakan Pada lembaran kosong nan usang Hanya ada keindahan meski hambar Warna-warna itu tercipta berdatangan Jauh helai bulu beterbangan Bersama penciptaan yang abadi kekal Kini ilmu itu tersimpan rapat Pada baris demi baris berisi sajak
Kulihat yang tak terlihat Mata terpejam hati terbuka Mengelilingi khatulistiwa Ilmu menyerap energi cinta Kulihat apa yang tak terlihat Kedamaian hati landasan jiwa Raga milik sang pencipta Hati bersimpuh pada-NYA.
Cermin itu begitu memukau Meski sosokku begitu parau Bertubuh lesuh dengan tangisan pilu Namun patulannya tetap saja sendu Senyum itu terbias dari bayangan Melihatku dengan senyuman Seperti bibirku yang tersenyum Hatiku mulai menghangat haru
Hitam putih itu klise yang menghantam Ada sosok gadis manis berdiri di atas pijakan Penyanggah yang begitu rapuh nan lemah Sekali lempar tenggelam raga dalam kematian Jiwa itu telah lama dalam keasingan Tertidur panjang dalam ketenangan Sampai matahari mulai menghangat Sendi-sendi darah yang membek
Waktu itu telah hilang Musnah tertelan masa Begitu perih nan kejam Mengkoyak raga tanpa lelah Waktu itu tak akan kembali Sekuat apa pun kaki berlari Sekokoh apa pun tangan menarik Detik demi detik tak akan hadir Semua telah hilang Tinggalah kegelapan dalam sesal Tak ada yang tersisa Selain perbai