propaganda memanfaatkan orang miskin, sudah pasti akan banyak orang miskin yang ikut terlibat demi dapat duit. padahal tidak perlu buzzer, cukup perbaiki saja itu MBG, reputasi baik lahir dari kualitas nyata, bukan dari pencitraan, kepercayaan publik tumbuh dari pengalaman.
gak masalah sih kalo dia bersyukur atas kematian anaknya yang ia anggap sebagai kematian baik, yang terpenting rasa syukur dia tidak menghapus kewajiban hukum atau tanggung jawab pidana pemimpin ponpes. hukum itu bersifat publik. ibarat bangga anaknya mati di medan perang karena bela negara, tapi b
dari tujuan politik juga udah beda, India ingin konektivitas antar megapolitan, sedangkan Indonesia dilakukan demi pencitraan. misal dibandingkan pun, Indonesia sama-sama nyungsep,, jadi jangan merasa bangga.
harusnya bukan pada era pemerintahan jokowi aja, tapi pada era presiden jokowi dan saya sebagai mentri
https://dl.kaskus.id/media2.giphy.com/media/v1.Y2lkPTdhOTdkZTAwY2picHJnb2RlMjZkbHJ2d3Z1cDg3MDNydXl0eWl6NHZ5cXI5OTBwNiZl cD12MV9naWZzX3NlYXJjaCZjdD1n/ZkPACZipmbsRDQQL9L/giphy.gif
gampang sih, tanya aja ke santrinya,, dia rela ngesot nggak kalo tuh santri bilang gak rela, terus kenapa dia ngesot itu sudah
tes urin aja sih, toh nikotin juga bisa terdeteksi dari urin,, kalo beruntung bisa lihat orang pemake tramadol atau lainnya.
https://dl.kaskus.id/media2.giphy.com/media/v1.Y2lkPTdhOTdkZTAwZmIxZW0yZWlpenk1dDYwNXo3OTQxZDFtZG9sNzlobG96YnBxbmhpNiZl cD12MV9naWZzX3NlYXJjaCZjdD1n/swta4lOdIEWLzCVPtl/giphy.gif