Bab 3: Percakapan yang Tak Terduga Siang itu, Abriel Mahendra sedang duduk sendirian di taman belakang sekolah. Matanya menerawang, pikirannya masih sibuk memproses semua yang ia dengar dari Bu Sinta tadi pagi. Kiara sakit kanker. Kalimat itu terus terngiang-ngiang di benaknya. Sejak mendengar ka
Bab 2: Rahasia Kiara Setelah bel istirahat kedua berakhir, Abriel Mahendra bukannya kembali ke kelasnya, melainkan melangkah menuju ruang BK. Hatinya berdebar, tapi ia berusaha tetap tenang. Ia tidak tahu pasti alasan dirinya melakukan ini. Mungkin karena rasa penasaran. Mungkin juga karena perasaa
Hari-hari setelah kepergian Faris terasa begitu hampa bagi Nina. Rumah yang dulu selalu dipenuhi suara anaknya kini terasa sunyi. Setiap sudut ruangan menyimpan kenangan, mulai dari tawa kecilnya saat masih kanak-kanak, hingga perdebatan kecil mereka ketika Faris mulai beranjak dewasa. Namun, sem...
Mobil melaju di jalan tol yang sepi, membawa Nina dan Pak Rudi menuju Kampung Berlian. Langit mendung, seolah ikut merasakan beban yang Nina pikul. Sejak semalam, hatinya dipenuhi harapan dan kegelisahan. Harapan karena akhirnya ada petunjuk tentang Faris. Kegelisahan karena Kampung Berlian bukanla
Sudah lebih dari satu bulan Nina hidup dalam kecemasan, halusinasi, dan delusi. Rasa curiga dan paranoid terhadap orang-orang di sekitarnya masih menghantui pikirannya. Namun, hari ini, sesuatu yang berbeda terjadi. Siang itu, Nina menerima telepon dari kepolisian. Suara petugas di seberang terdeng
Sudah lebih dari satu bulan sejak Faris menghilang. Dan kini, Nina mulai merasa bahwa dunia tidak lagi bisa dipercaya. Setiap orang yang ia temui, mulai dari keluarga, tetangga, teman, bahkan polisi, semuanya berbohong. Mereka pura-pura peduli. Mereka pura-pura membantu. Tapi Nina tahu yang seben...
Tiga minggu. Sudah tiga minggu sejak Faris menghilang, dan Nina mulai merasa seperti orang dengan gangguan jiwa. Semakin lama, pikirannya semakin dipenuhi dengan pertanyaan yang tak berjawab. Di mana Faris? Kenapa ia meninggalkan rumah tanpa kabar? Apakah semua ini hanya kebetulan, atau ad
Dua minggu. Empat belas hari tanpa kabar. Faris belum kembali, dan tak seorang pun tahu keberadaannya. Nina mencoba bertahan. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa putranya akan segera pulang, bahwa ini hanyalah kesalahpahaman, bahwa Faris pasti memiliki alasan untuk menghilang. Tapi semakin hari
Sudah dua minggu lebih, tetapi bayangan Faris tetap tak terlihat. Nina tidak bisa hanya menunggu. Selama ini, ia selalu percaya bahwa Faris adalah anak yang bertanggung jawab. Namun, kepergiannya tanpa kabar membuat Nina merasa ada sesuatu yang salah. Maka hari itu, dengan hati yang dipenuhi kege