Bab 12: Adziel Cemburu?! Perjalanan pulang dari Manado dimulai. Kapal perlahan berlayar meninggalkan dermaga, membawa rombongan siswa SMA Pemuda Bangsa kembali ke Semarang. Langit sore itu terlihat cerah, dan ombak bergelombang lembut, menciptakan suasana yang menenangkan. Di dek kapal, Agatha du...
Bab 11: Kekhawatiran Agatha Setelah perjalanan panjang di laut, rombongan akhirnya tiba di Manado. Udara segar kota pesisir menyambut mereka, memberi kelegaan setelah beberapa hari berada di atas kapal. Namun, perjalanan mereka belum selesai. Masih ada satu tujuan utama, yaitu Bunaken. Sekarang, ...
Bab 10: Kaki Adziel Terperosok Hari ketiga di laut. Langit masih biru jernih, dan hembusan angin laut semakin menambah kesejukan suasana. Para siswa menikmati perjalanan di dek kapal, beberapa sibuk berfoto, sementara yang lain bercanda bersama teman-temannya. Agatha dan Adziel berjalan berdampin...
Bab 9: Adziel Sakit? Hari kedua di laut, langit tampak cerah dengan awan putih menggantung di cakrawala. Kapal masih melaju dengan tenang di atas perairan biru yang seolah tak berujung. Angin laut bertiup lembut, membuat suasana terasa nyaman bagi sebagian besar siswa yang menikmati perjalanan. D...
Bab 8: Kenangan Warna Laut terbentang luas sejauh mata memandang, membiru dalam ketenangan senja. Kapal yang membawa rombongan siswa SMA Pemuda Bangsa dari Semarang ke Manado bergerak perlahan, membelah ombak dengan keanggunan. Angin laut berhembus lembut, membuat rambut Agatha sedikit berantakan...
Bab 7: Rencana Study Tour Adziel duduk di tepi tempat tidur Agatha, matanya mengamati setiap sudut kamar sahabatnya yang terasa seperti laboratorium mini. Dinding kamar Agatha dipenuhi poster sistem tata surya, tabel periodik unsur, dan diagram anatomi tubuh manusia. Rak buku di sudut ruangan pen...
Bab 6: Rumor Aneh Pagi itu, suasana SMA Pemuda Bangsa terasa lebih ramai dari biasanya. Bisik-bisik siswa memenuhi lorong, beberapa di antaranya mencuri pandang ke arah Agatha saat ia berjalan menuju kelasnya. Agatha mengernyit bingung. Biasanya, perhatian semacam ini hanya terjadi saat ada peng
Bab 5: Kecemburuan Olivia Perpustakaan SMA Pemuda Bangsa selalu menjadi tempat favorit bagi Adziel dan Agatha. Deretan rak buku yang tertata rapi, suasana yang tenang, dan aroma kertas yang khas selalu memberikan kenyamanan bagi mereka berdua. Hari ini, seperti biasa, mereka duduk berdampingan di...
Bab 4: Kedatangan Olivia Pagi itu, suasana kelas XI IPA 4 sedikit berbeda dari biasanya. Para murid berbisik-bisik dengan antusias saat seorang gadis berambut panjang dan berkulit cerah berdiri di depan kelas, tepat di samping Bu Sinta. "Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru pindaha
Bab 3: Pertanyaan Adziel SMA Pemuda Bangsa, kelas XI IPA 4. Jam pelajaran Biologi berlangsung dengan tenang di bawah bimbingan Bu Sinta, guru Biologi yang terkenal ramah dan penuh semangat dalam mengajar. Di depan kelas, beliau menjelaskan materi tentang sistem peredaran darah, lengkap dengan diag
https://s.kaskus.id/images/2025/02/19/9481769_20250219062021.jpg Sumber Gambar: AI Lagu Soundtrack: 1. Sahabat Jadi Cinta (Zigaz) 2. Masih (ADA Band) Bab 1: Bestie Sejak Kecil Agatha Yulianti duduk di kursi kayu kecil di teras rumah Adziel Indrayana. Tangannya menopang dagu, sementara matanya men...
yuki26 Ya sudah. Jadi, ceritanya, Dinda itu saking tomboynya sampai jadi bahan bullying satu sekolah. Dinda lalu membalas bullying dari teman-temannya itu dengan bersekongkol dengan guru-guru, kepala sekolah, bahkan dokter UKS, kalau Dinda itu menderita suatu penyakit aneh yang membuat kel*minnya...
Bab 7: Telur Rebus dari Abriel Langit sore mulai meredup saat Abriel berdiri di depan rumah Kiara, membawa kantong plastik kecil berisi beberapa butir telur rebus yang masih hangat. Ia menarik napas dalam sebelum mengetuk pintu. Tak butuh waktu lama sebelum Kevin membuka pintu. Remaja SMP itu terk
Bab 6: Di Sampingmu Tiga hari telah berlalu sejak insiden di UKS. Pagi ini, Kiara duduk di kursi roda di lorong rumah sakit, menunggu giliran untuk masuk ke ruang kemoterapi. Di sampingnya, Kevin berdiri sambil menggenggam tangan Kiara erat. Sementara itu, Abriel duduk di bangku tunggu, matanya te
Bab 5: Langkah Pertama Kiara mengerjap pelan saat kesadarannya kembali. Langit-langit ruangan UKS yang putih menyambut pandangannya, diiringi suara langkah kaki yang mendekat. Kepalanya terasa berat, tubuhnya lemas, dan ada sensasi dingin yang masih tertinggal di jemarinya. "Kak Kiara?"
Bab 4: Di Pelukan Abriel Suasana kantin yang biasanya ramai mendadak berubah hening saat tubuh Kiara tiba-tiba limbung dan jatuh ke lantai. Beberapa siswa menjerit kaget, sementara yang lain bergegas mendekat. "Kiara!" Abriel yang kebetulan berada di dekat kantin langsung berlari mendek