raperinoa Yang dimaksud dengan buta huruf itu adalah buta huruf terhadap tulisan bahasa kitab kitab yang sebelumnya/yang terdahulu, bukan buta huruf terhadap tulisan bahasa lisan dinama Beliau itu dilahirkan dan dibesarkan. Dimana para Nabi/Rasul memang kebanyakan adalah seorang yang buta huruf
qoni77 Orang yang berakal ketika ia menjadikan akal sebagai sarana maka ia akan mengunakan akal yang ada dikepalanya. Sedangkan orang yang berilmu ketika ia menjadikan akal sebagai sarana, maka ia akan mengunakan akal yang ada dihatinya.
serapionIeo Kalau untuk menulis dan membaca tulisan arab, tulisan jepang, tulisan china, ataupun tulisan korea, maka sayapun akan termasuk orang yang buta huruf, Tapi bila untuk menulis dan membaca dengan tulisan bahasa indonesia, yaitu dengan bahasa lisan dimana saya dilahirkan dan dibesarkan m
qoni77 Ya segala sesuatu itu harus ada endingnya yang jelas dan nyata. Bila; Dalam Hidup yang utama itu adalah Ibadah Maka; Dalam Ibadah yg utama itu adalah Takwa Dalam Takwa yg utama itu adalah Keimanan Dalam Keimanan yg utama itu adalah Cinta Dalam Cinta yg utama itu adalah Percaya Dalam Perc
Obrolan dengan teman. Teman : "bro lo kan islam, kok lo gak bergabung bro dengan mereka yang membawa bendera hitam?" Gw : "gak bro". Teman : "loh bagaimana bisa bro, bagaimana dengan keimanan lo bro sebagai orang islam?". Gw : "loh apa hubungannya keimanan
Manusia itu dapat di ibaratkan sebagai apa saja Bahkan dapat juga di ibaratkan sebagai sebuah buku. Dan ketika manusia itu sebagai sebuah buku, Maka untuk dapat mengetahui isinya, kita tidak perlu untuk dapat pandai membaca dan menulis terlebih dahulu, tapi cukup bagi kita hanya dengan memperhatik
adri141 Sejauh mana diri dapat mengenali dirinya sendiri maka sejauh itulah keberhasilan diri dalam menjalani kehidupannya.
Untuk dapat menjadi diri sendiri adalah frase yang sangat kritis, karena untuk dapat menjadi diri sendiri seseorang itu harus dapat mengenali siapa dirinya sendiri, yaitu frase untuk dapat mengenali akal, pikiran dan hatinya sendiri. Dimana, Akal manusia itu bagaikan tanah, Diatasnya dapat tumbuh
Kehadiran (Kehadirat) Cinta itu, kadang tak selamanya akan seperti apa yang ingin kita lihat dengan penglihatan kita Kehadiran (Kehadirat) Cinta itu, kadang tak selamanya akan seperti apa yang ingin kita dengar dengan pendengaran kita Kehadiran (Kehadirat) Cinta itu, kadang tak selamanya akan se
Bukan karena tempatnya atau karena suasananya (karena keindahannya dan karena tradisi/kebudayaan/kebiasaannya) yang membuat suatu negara atau suatu daerah itu dapat menjadi Istimewa atau Special. Tapi karena Manusianyalah yang membuatnya dapat menjadi istimewa atau special. Dan bukan karena; Dari...
Sebaiknya mimpi untuk bisa terbang lebih dahulu, Sebelum mimpi setinggi mungkin, kan enak tuh kalo udah bisa terbang mah, mau setinggi apapun tinggal terbang cus aja :cool
amatir91 Sejauh mana Kebenaran yang dapat seseorang benarkan (terima), maka sejauh itulah keberhasilan dia dalam menemukan Kebenaran yang dicarinya.
amatir91 Kalau ditanya menurut siapa? Maka pada akhirnya setiap diri adalah utusan bagi dirinya sendiri (bagi diri yang dapat menerima), bukan bagi diri yang lainya (bukan bagi diri yang tidak dapat menerima/menolak).
Ada 2 tipe Kebodohan yang sangat fatal yaitu; 1. Kebodohan karena menerima Kesalahan/Keburukan yang dianggapnya sebagai Kebenaran/Kebaikan dan, 2. Kebodohan karena menolak Kebenaran/Kebaikan yang dianggapnya sebagai Kesalahan/Keburukan.
Kebahagiaan itu ketika dibahagiakan Maka ia akan membahagiakan. Dan begitu juga dengan Kebenaran, Kebenaran itu ketika dibenarkan Maka ia akan membenarkan. Maka bersyukurlah atas Kebahagiaan yang dapat membahagiakan dan atas Kebenaran yang dapat membenarkan sampai akhirnya.
Mereka yang mengetahui apa itu kebahagiaan Maka merekalah yang akan dapat meraihnya. Mereka yang bahagia adalah mereka yang dapat menjadi dirinya sendiri. Mereka yang dapat menjadi dirinya sendiri adalah mereka yang dapat mengenali siapa dirinya sendiri. Dan mereka yang dapat mengenali siapa diri
Ketika masih didunia (masih bersama orang dunia), maka benar dan salah itu tidak mutlak, dimana yang benar itu dapat menjadi salah dan yang salah itu dapat menjadi benar. Beda halnya bila sudah diakherat (sudah bersama orang akherat), maka benar dan salah itu mutlak.
masnukho Apa/siapa yang benar ketika tidak dipercayai maka akan dianggap dusta/pendusta Begitupun dengan, Apa/siapa yang dusta ketika dipercayai maka akan dianggap benar/kebenaran. Jadi semua kembali kepada yang mempercayainya. Dimana suatu kebenaran itu akan tetap menjadi suatu kebenaran walaupu...
Lah ramalan jugakan ada omongannya :hammer Sejauh mana kebenaran yang dapat seseorang percayai maka sejauh itulah keberhasilan dia dalam menemukan kebenaran yang dicarinya. "Dirimu adalah bagian dari apa yang dapat kau percayai" Ah entahlah :travel