terlepas dari carut marut ketum ini partai, saya salut dgn cara ahy dan sby dalam mainkan caturnya, terbukti ring 1 istana yang dituduh langsung buka suara dan suporternya teriak semua taktik militernya masih kepake ternyata
sy tdk mau komen yang aneh-aneh, hanya model paling efektif adalah setiap manusia yang habis bepergian dari luar negeri wajib isolasi bukan hanya 14 hari apalagi 10 hari spt yang sudah2, kalau bisa lebih lama dan intens pengecekannya. salah 1 gerbang utamanya itu jelas bandara dan pelabuhan, kalau
itu kalau dihitung dari sisi ekonominya, lebih murah pemasukan buat negara tapi disini tidak bisa spt itu, gejolak sosial bakal makin banyak. buat sebuah negara kebanyakan gejolak/instabilitas itu = bencana buat investor
program cat dan warna warni pasti kebagiannya buat jakarta timur dan barat, kalau yang bagus-bagus sangat yakin jatahnya sudirman thamrin doang
dikarantina 10 hari entah dirumah atau apa, sepertinya bergejala dan positifnya mutasi. selalu disini heboh kalau udah ada kejadian, padahal kalau mau ketat itu bandara harusnya sudah jadi ring 1 penanggulangan, nyatanya ya lolos2 aja krn screeningnya tidak di update. baru-baru ini aja di perbaru
tidak semudah itu, pabrik milik DKI ini saham mayoritasnya dimiliki San Miguel, mereka salah 1 produsen bir terbesar dunia. mau tutup silahkan duel sana sama San Miguel
ekonomi sekarang gerak salah 1 nya karena faktor terpaksa, mending kena covid daripada miskin mendadak serius, banyak usaha gulung tikar karena kebijakan yang esuk dele sore tempe
enak to tim inspeksi who ke wuhan dijamu, dijaga dan diskusi wkwkwkwk ini inspeksi apa jalan-jalan ya
Saya heran sama pemprov DKI, yang di hias dari awal jabat sampai sekarang kalau ngga thamrin, sudirman padahal infrastruktur yang sangat parah adanya di jakarta timur, barat lebih-lebih utara. sesekali turun ke jakarta timur, lihat trotoarnya seperti apa. banjir pun yang dicek pintu air manggarai
itu betul, tapi digitalisasi tidak serta merta menghilangkan bukti sahih kepemilikan contoh saja ektp dan kk, yang digitalisasi itu DATA dan medianya, bukan bukti kepemilikannya
prasty.95 eKTP sudah lumayan dipakai, terutama perbankan, sekarang kamu coba ganti kartu debit yang usang, ga perlu lagi ke CS hanya tinggal ke mesin, tempel eKTP maka semua data langsung akur, SIM pun demikian, hanya tempel di board readernya polri langsung keluar datanya lengkap
masyarakat mana bisa ngecek sampai ke paspor personal, jangan salahkan pemilih lah kalau calonnya saja tidak mau ngaku
efek UUCK digitalisasi data jangan serta merta serahkan bukti fisik ke tangan pemerintah semua, KK dan KTP saja yang sudah digital fisiknya tetap kita pegang. lha ini SHM dan bukti kepemilikan tanah... saya tegas menolak kalau sistemnya bukti fisik diserahkan semua
karena importnya ngerem, impor migas 2020 anjlok. mesti dijabarkan lagi dari sales mana yang bikin laba
semua presiden di periode 1 sangat sulit di kudeta. yang terjadi di myanmar adalah kepemimpinan yang kesekian kali, sama seperti era soeharto. kudeta = ormas pengecut yang selalu teriak kilafah
urgensinya kudeta buat apa ? rakyat masih bisa makan, dikasih bansos, dikasih vaksin gratis, pajak biar seret masih dibayar, mobil mewah buat pejabat masih kebeli, setoran perusahaan masih kenceng kudeta hanya buat pengecut, ga beda dengan ormas yang teriak2 khilafah
siapa yang bakal kepikiran surat2 kalau beton dan genteng puluhan ton siap nimpa kepala kita ? selamat saja sudah bagus, kecuali banjir dan kebakaran yang terprediksi baru bisa