- Beranda
- Stories from the Heart
[CERPEN] Cinta Dalam Hati
...
TS
aurora..
[CERPEN] Cinta Dalam Hati
Hujan tipis turun di atas kota Semarang ketika Rendra menatap pantulan wajahnya di kaca mobil sedan hitam milik ayahnya. Lampu jalan yang kekuningan membuat garis rahangnya yang besar terlihat lebih tegas. Rambut curly low fade miliknya tampak rapi walaupun diterpa angin. Hidungnya mancung dan kecil seperti pria Arab. Bibirnya tipis. Kulitnya sawo matang cerah. Hampir semua orang mengatakan wajahnya seperti model celana dalam pria.
Namun, bagi Rendra, semua itu tidak ada artinya.
“Masuk, Ren. Udah sampai kampus,” ucap sopir keluarga mereka
Rendra mengangguk pelan. Ia turun dari mobil dengan tas ransel mahal menggantung di pundak. Beberapa mahasiswi yang sedang berteduh di depan gedung fakultas langsung melirik ke arahnya.
“Eh itu Rendra…”
“Yang IPK-nya hampir sempurna itu?”
“Gila, ganteng banget sumpah…”
Suara-suara itu sudah terlalu sering ia dengar. Sampai terasa hambar.
Rendra hanya berjalan biasa sambil memasukkan tangan ke saku hoodie abu-abunya. Tidak sombong, tetapi juga tidak tertarik menanggapi. Sebab, kenyataannya, ia tidak pernah benar-benar dicintai.
Orang-orang menyukai tampangnya. Mereka menyukai mobilnya. Mereka menyukai keluarganya yang kaya. Namun, tidak ada yang benar-benar membuat dadanya berdebar.
Sampai akhirnya, Rendra bertemu Kiara.
***
Kiara bukan tipe perempuan yang menarik perhatian. Ia bahkan sering tidak terlihat di kelas. Rambutnya lurus sebahu, sering diikat asal dengan ikat rambut hitam murahan. Wajahnya biasa saja. Tidak memakai makeup. Kacamata bulat membuatnya tampak seperti mahasiswi kutu buku, padahal nilainya juga tidak terlalu bagus.
Kiara bukan bintang kampus. Bukan selebgram fakultas. Bukan mahasiswi pintar yang jadi rebutan organisasi. Namun, entah mengapa, mata Rendra selalu mencari Kiara.
Pertama kali Rendra sadar dirinya menyukai Kiara adalah saat mata kuliah Pancasila. Hari itu, dosen memberi tugas kelompok mendadak.
“Buat kelompok bebas. Cari pasangan masing-masing.”
Seluruh kelas langsung ramai.
Beberapa perempuan langsung menghampiri Rendra.
“Ren, kita sekelompok yuk?”
“Rendra sama aku aja…”
“Aku udah siap data tugasnya…”
Rendra tersenyum tipis, lalu matanya justru mencari satu orang.
Kiara duduk di pojok belakang sambil membuka laptop tuanya yang sudah retak di sudut layar.
Sendirian.
Rendra berjalan ke arahnya.
“Aku gabung sama kamu boleh?”
Kiara mengangkat kepalanya perlahan. Ekspresinya datar.
“Oh… ya boleh.”
Hanya begitu. Tidak gugup. Tidak tersenyum malu. Tidak salah tingkah seperti perempuan lain.
Rendra malah jadi gugup sendiri.
***
Sejak hari itu, Rendra mulai memperhatikan Kiara diam-diam.
Kiara selalu datang tepat waktu lalu langsung duduk di pojok. Ia jarang berbicara. Jarang tertawa. Sering membawa bekal sederhana dari rumah. Kadang hanya nasi dan telur dadar.
Suatu siang di kantin, Rendra sengaja duduk di depan Kiara.
“Kamu tiap hari makan telur terus?”
Kiara mengangguk kecil.
“Hemat.”
“Bosen nggak?”
“Nggak juga.”
Jawabannya pendek-pendek. Namun, anehnya, Rendra justru semakin tertarik.
Di dunia kampus yang penuh pencitraan, Kiara terasa sangat nyata. Tidak mencoba memikat siapa pun. Tidak haus perhatian. Dan semakin Rendra mendekat, semakin ia merasa Kiara seperti tembok yang tidak bisa disentuh.
***
Rendra mulai melakukan hal-hal yang bahkan tidak pernah ia lakukan untuk perempuan lain. Ia mengantar Kiara pulang ketika hujan. Membelikan kopi saat Kiara begadang mengerjakan tugas. Menawarkan bantuan presentasi. Bahkan rela meninggalkan tongkrongan elitnya demi menemani Kiara di perpustakaan.
Namun, hasilnya tetap sama. Kiara selalu dingin.
Suatu malam setelah kelas tambahan, mereka duduk di halte kampus. Lampu jalan memantul di genangan air.
Rendra menatap Kiara yang sedang membaca catatan.
“Aku boleh tanya sesuatu nggak?”
“Tanya aja.”
“Kamu… kenapa cuek banget sama aku?”
Kiara menoleh bingung.
“Maksudnya?”
“Ya… aku sering bantu kamu. Deketin kamu juga.”
“Oh.”
Hanya itu reaksinya. Rendra tertawa hambar.
“‘Oh’ doang?”
Kiara menutup catatannya pelan.
“Aku nggak ngerti harus respon apa.”
“Kamu nggak suka aku?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Kiara terdiam selama beberapa detik.
“Aku nggak mikirin itu.”
Jawaban itu terasa seperti benda berat yang jatuh tepat di dada Rendra. Ia tersenyum kecil, tetapi matanya kosong.
“Oh.”
Kini, giliran Rendra yang hanya bisa berkata satu kata.
***
Malam itu Rendra pulang dengan perasaan aneh. Ia duduk di balkon kamar apartemennya sambil menatap kota yang penuh lampu. Sudah lama ia tidak merasa sekecil ini. Biasanya perempuan mengejar-ngejar dirinya. Bahkan beberapa mahasiswi terang-terangan mengirim pesan cinta.
Namun, Kiara?
Perempuan sederhana itu bahkan tidak terlihat tertarik sedikit pun.
Rendra mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Apakah Rendra kurang tampan? Kurang kaya? Kurang pintar? Atau memang Rendra tidak cukup berarti untuk Kiara?
Rendra tertawa kecil sambil menutup wajahnya. Lucu sekali. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Rendra ingin dicintai oleh seseorang yang bahkan tidak peduli padanya.
***
Hari-hari berikutnya menjadi semakin menyiksa karena rasa suka Rendra tidak mengecil, justru semakin membesar. Ia hafal kebiasaan Kiara.
Kiara suka teh manis hangat dibanding kopi. Suka duduk di dekat jendela kelas. Tidak suka keramaian. Sering menggigit ujung pulpen saat bingung.
Dan semua hal kecil itu membuat Rendra semakin jatuh cinta.
Suatu sore, kampus mengadakan pentas seni besar-besaran. Lampu-lampu gantung menghiasi taman fakultas. Musik akustik terdengar lembut.
Rendra datang bersama teman-temannya, tetapi matanya langsung menemukan Kiara duduk sendirian di pinggir taman sambil makan batagor.
Rendra langsung menghampiri Kiara.
“Sendiri aja?”
Kiara mengangguk.
“Temanmu mana?”
“Nggak ikut.”
Rendra duduk di sebelahnya.
Beberapa perempuan di sekitar langsung melirik iri.
Salah satu teman Rendra bahkan berbisik pada temannya.
“Heran deh, Rendra kok sukanya sama cewek begitu.”
Rendra mendengar itu. Kiara juga mendengar, tetapi Kiara hanya tetap makan seperti biasa. Tidak tersinggung. Tidak marah.
Rendra justru merasa dadanya sakit karena untuk pertama kalinya ia sadar bahwa Kiara mungkin sudah terbiasa diremehkan.
“Aku suka sama kamu.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Kiara berhenti mengunyah.
Angin malam meniup rambut tipis di dahinya.
“Aku serius,” lanjut Rendra lirih
Kiara menatapnya cukup lama, lalu berkata pelan.
“Jangan pernah ngomong suka sama aku.”
Rendra mengernyit.
“Kenapa?”
“Aku nggak cocok buat kamu.”
“Kamu bahkan belum ngerasain.”
Kiara tersenyum tipis. Sangat tipis sampai hampir tidak terlihat.
“Dan kamu belum ngerti aku.”
***
Setelah malam itu, hubungan mereka justru semakin jauh.
Kiara mulai menghindar. Ia sering pulang cepat. Jarang membalas chat. Kadang, Kiara hanya membaca pesan Rendra tanpa jawaban, tetapi Rendra tetap bertahan. Rendra merasa kalau dirinya cukup tulus, Kiara pasti akan luluh.
Bukankah semua orang bilang perempuan suka laki-laki setia?
Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Suatu siang di perpustakaan, Rendra menemukan Kiara sedang berbicara dengan seorang pria dari fakultas teknik.
Mereka tertawa kecil.
Tidak ada yang spesial sebenarnya, tetapi dada Rendra terasa panas. Ia menghampiri mereka.
“Kiara.”
Kiara menoleh.
“Oh.”
Lagi-lagi nada datar itu.
Pria di sebelah Kiara tersenyum ramah.
“Dia temennya?”
Kiara mengangguk kecil.
Rendra tidak tahu mengapa ia merasa kalah. Padahal, secara penampilan, Rendra jauh lebih unggul dari pria itu. Namun, Kiara terlihat jauh lebih nyaman bersamanya, dan malam itu, untuk pertama kalinya, Rendra menangis diam-diam di kamar.
***
Hari ulang tahun Kiara datang. Rendra mengingatnya dari data administrasi kelas. Ia membeli sebuah buku novel yang pernah dilihat Kiara di toko buku. Tidak terlalu mahal, tetapi dipilih dengan hati-hati.
Rendra menunggu Kiara di depan gedung fakultas.
Ketika Kiara datang, Rendra menyerahkan paper bagkecil itu.
“Happy birthday, Kiara.”
Kiara terlihat kaget.
“Kamu inget?”
“Iya.”
Kiara menerima hadiah itu perlahan.
Beberapa detik suasana terasa hening, lalu Kiara berkata pelan.
“Terima kasih.”
Hanya satu kata itu. Namun, anehnya, satu kata sederhana itu membuat Rendra bahagia seharian.
Sampai malamnya, Rendra melihat story media sosial Kiara. Foto buku hadiah darinya tidak ada. Yang ada justru foto secangkir kopi bersama pria teknik itu.
Rendra menatap layar ponselnya lama. Dadanya perlahan terasa sesak.
***
Beberapa minggu kemudian, Rendra akhirnya memberanikan diri sekali lagi. Ia mengajak Kiara bicara di rooftop kampus saat matahari hampir tenggelam.
Langit jingga membentang di atas kota.
Angin berhembus pelan.
“Aku capek pura-pura santai,” ucap Rendra pelan
Kiara diam.
“Aku suka banget sama kamu, Kiara.”
Sunyi.
“Aku bahkan nggak tahu kenapa.”
Kiara menggenggam tali tasnya erat.
“Aku udah coba jadi yang terbaik buat kamu.”
“Aku tahu.”
“Tapi kamu nggak pernah lihat aku.”
Kiara menunduk.
“Aku lihat kamu.”
“Kalau lihat, kenapa kamu dingin banget?”
Suara Rendra mulai bergetar.
“Kenapa kamu nggak pernah kasih aku kesempatan?”
Kiara akhirnya mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya, Rendra melihat mata Kiara berkaca-kaca.
“Karena aku takut.”
Rendra terdiam.
“Aku bukan perempuan yang cocok buat kamu.”
“Aku nggak peduli.”
“Aku peduli.”
Kiara menarik napas panjang.
“Kamu hidup di dunia yang terang, Ren.”
Rendra mengernyit.
“Sementara aku…”
Kiara tersenyum kecil, pahit.
“…Aku cuma orang biasa.”
“Terus kenapa?”
“Kamu bakal bosan.”
“Aku nggak mungkin bosan.”
“Semua orang bilang begitu di awal.”
Kalimat itu membuat Rendra diam.
Kiara melanjutkan pelan.
“Aku pernah suka sama seseorang. Dia juga bilang aku hebat. Tapi akhirnya dia malu jalan sama aku.”
Angin malam terasa dingin.
“Sejak itu aku sadar,” lanjut Kiara lirih
“Orang kayak aku nggak cocok berharap banyak.”
Rendra ingin membantah, ingin memeluk Kiara, ingin mengatakan bahwa dirinya berbeda, tetapi Kiara sudah lebih dulu mundur selangkah.
“Aku nggak mau jadi beban perasaan kamu.”
“Kiara—”
“Mending kita kayak sekarang aja.”
Dan kalimat itu menghancurkan sesuatu dalam dada Rendra.
***
Setelah percakapan itu, Rendra berubah. Ia masih menyapa Kiara. Masih membantu jika diperlukan.
Namun, ia tidak lagi mengejar. Tidak lagi memaksa chat dibalas. Tidak lagi mencari-cari alasan untuk dekat.
Teman-teman Rendra menyadari perubahan itu.
“Lo udah nyerah?”
Suatu malam sahabatnya bertanya saat mereka nongkrong di cafe rooftop.
Rendra menatap lampu kota.
“Iya mungkin.”
“Padahal tinggal dikit lagi kali.”
Rendra tertawa kecil.
“Nggak semua hal bisa dimenangkan.”
“Padahal lo sempurna banget.”
Kalimat itu membuat Rendra tersenyum pahit. Sempurna. Lucu sekali. Kalau memang sempurna, kenapa rasanya tetap kalah?
***
Waktu berjalan perlahan. Semester berganti, dan rasa suka itu ternyata tidak benar-benar hilang.
Rendra masih memperhatikan Kiara diam-diam.
Masih merasa jantungnya aneh ketika Kiara tertawa kecil bersama temannya.
Masih diam-diam mencari Kiara di kelas.
Namun, sekarang, Rendra memilih menyimpannya sendiri.
Cinta dalam hati.
Mungkin memang itu tempat terbaiknya.
***
Suatu sore menjelang hujan, Rendra duduk sendirian di perpustakaan kampus. Ia sedang membaca jurnal ketika Kiara datang.
“Kursinya kosong?”
Rendra sedikit terkejut.
“Iya.”
Kiara duduk di depannya.
Beberapa menit mereka diam, lalu Kiara berbicara pelan.
“Kamu sekarang beda.”
Rendra tersenyum tipis.
“Beda gimana?”
“Nggak ngejar aku lagi.”
Rendra menatap halaman bukunya beberapa detik sebelum menjawab.
“Aku takut bikin kamu nggak nyaman.”
Kiara terdiam. Hujan mulai turun di luar jendela.
Rendra melanjutkan dengan suara tenang.
“Aku suka kamu, Kiara. Mungkin masih suka.”
Kiara menggigit bibir bawahnya pelan.
“Tapi aku capek berharap.”
Sunyi.
“Aku nggak marah sama kamu,” lanjut Rendra
“Perasaan nggak bisa dipaksa.”
Kiara menunduk, dan entah mengapa, justru kali ini Kiara terlihat sedih.
“Aku jahat ya?”
Rendra langsung menggeleng.
“Nggak.”
“Tapi aku nyakitin kamu.”
“Sedikit.”
Jawaban jujur itu membuat Kiara tersenyum kecil.
***
Hujan semakin deras.
Suasana perpustakaan menjadi lebih sepi.
Rendra memandang perempuan di depannya lama sekali. Perempuan sederhana yang bahkan tidak pernah mencoba membuatnya jatuh cinta, tetapi justru menjadi orang yang paling sulit ia lupakan.
“Aku harap nanti ada perempuan yang beneran bisa bikin kamu bahagia,” ucap Kiara pelan
Rendra tertawa kecil.
“Masalahnya aku maunya kamu.”
Kiara menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum samar. Senyum yang sangat sederhana, tetapi cukup untuk membuat dada Rendra kembali sesak, karena ia tahu satu hal, bahwa ia mungkin akan terus menyukai Kiara dalam waktu yang sangat lama walaupun Kiara tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Dan malam itu, ketika hujan turun membasahi kaca perpustakaan kampus, Rendra akhirnya menerima kenyataan paling pahit dalam hidupnya, bahwa tidak semua cinta harus memiliki akhir bahagia.
Ada cinta yang hanya hidup diam-diam, tumbuh dalam dada, menyiksa perlahan, tetapi tetap bertahan menjadi cinta dalam hati.
TAMAT
faradesu912 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
1.1K
5
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya