Story
Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
99
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6381f5afde9d0f6e0002690b/azure-cuma-cerita-fiksi
Untuk kalian yang jantungnya masih berdetak dan paru-parunya masih mengembang, kalian pasti pernah mengalami sesuatu yang membuat kalian tidak bisa mempercayai mata kalian sendiri. Mungkin kalian pernah melihat zebra mengendarai motor, mungkin kalian pernah melihat air hujan naik ke langit, atau mungkin kalian pernah melihat awan berbentuk tangan yang mengacungkan jari tengah pada kalian. Semua it
Lapor Hansip
26-11-2022 18:17

AZURE (Cuma Cerita Fiksi)

icon-verified-thread
AZURE (Cuma Cerita Fiksi)

Untuk kalian yang jantungnya masih berdetak dan paru-parunya masih mengembang, kalian pasti pernah mengalami sesuatu yang membuat kalian tidak bisa mempercayai mata kalian sendiri.

Mungkin kalian pernah melihat zebra mengendarai motor, mungkin kalian pernah melihat air hujan naik ke langit, atau mungkin kalian pernah melihat awan berbentuk tangan yang mengacungkan jari tengah pada kalian.

Semua itu memang terdengar tidak masuk akal, tetapi kemungkinan hal semacam itu terjadi sama sekali bukan nol. Percaya atau tidak, banyak sekali hal yang tak bisa dijelaskan oleh akal terjadi setiap harinya. Di mana pun dan kapan pun.

Kebetulan sekali, sekarang aku juga sedang mengalami pengalaman yang membuatku tak percaya dengan apa yang kulihat. Mungkin mataku sudah dibajak, atau mungkin aku masih berada di dalam mimpi. Kucoba menggigit bibirku sendiri, sakit. Ternyata ini benar-benar nyata.

Aku kesulitan mengingat seperti apa prosesnya. Bangun pagi adalah hal yang sangat tidak biasa bagiku, tapi sekarang aku malah terbangun di tempat yang tidak biasa dan seranjang dengan orang yang tidak biasa pula.

Perempuan yang masih tertidur lelap di sebelahku ini bernama Elicia. Dia adalah teman sekelasku sejak Sd, Smp, dan Sma. Setelah bertahun-tahun sejak lulus dari Sma kami akhirnya bertemu kembali dan mengadakan reuni kecil, tetapi kenapa keadaannya malah jadi seperti ini?

Ada banyak sekali pertanyaan di dalam kepalaku, tetapi ada dua yang paling besar.

Kenapa dia tidak pakai celana??!!

Kenapa aku tidak pakai celana???!!!

Seperti Donal Bebek, kami tidak memakai celana. Seperti Mickey Mouse, kami tidak memakai baju. Hanya selimut tebal hotel ini yang menutupi tubuh kami, tetapi di balik selimut ini sisa-sisa dari sesuatu yang tidak seharusnya terjadi masih bisa kurasakan dengan jelas. Rasanya basah dan lengket.

Sebenarnya apa yang telah terjadi sampai-sampai hidupku bisa mencapai titik ini? Bukannya aku protes, tapi rasanya tak tenang bila tak ada penjelasan. Mari coba kita putar kembali memori beberapa jam yang lalu.

***
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Masuk untuk memberikan balasan
stories-from-the-heart
Stories from the Heart
25.7K Anggota • 29.6K Threads
Halaman 1 dari 5
AZURE (Cuma Cerita Fiksi)
26-11-2022 18:17
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
sive dan provocator3301 memberi reputasi
2 0
2
AZURE (Cuma Cerita Fiksi)
26-11-2022 18:18

Bab 1

Quote:Ini mungkin pertanyaan yang kurang cocok untuk mengawali sebuah cerita, tapi seperti apa kesan yang kau punya terhadap orang yang menyebut diri mereka 'agen mata-mata?'

Jika mendengar kata itu kalian mungkin akan mengingat film-film seperti Man in Black atau The King's Man atau malah film Johnny English yang lebih banyak kocaknya dibanding seriusnya. Kalian pasti sudah dimanjakan dengan aksi-aksi mereka dalam menyelidiki sebuah kejahatan serta adegan tembak-menembak yang anehnya jarang sekali kena.

Tapi tahukah kalian? Mata-mata yang sebenarnya tidak pernah melakukan adu tembak di tengah jalan, apalagi kejar-kejaran menggunakan mobil curian. Mata-mata yang sebenarnya lebih sering duduk di tengah keramaian kafe, memandangi jalan sembari sesekali mencuri pandang pada subjek pengawasan. Seorang mata-mata akan menikmati kopinya dengan cara yang amat tidak mengundang perhatian, dan pergi tanpa seorang pun menatapnya dengan curiga.

Yeah, sangat tidak mengesankan bukan? Jika yang seperti itu dijadikan film maka judul filmnya tak akan jauh-jauh dari Dua Jam Nggak Ngapa-ngapain, atau mungkin dengan sedikit sentuhan romansa, Menunggu....

Dan karena itulah, semua orang bisa menjadi mata-mata. Tentunya segala resiko harus ditanggung sendiri.

Satu-satunya keahlian khusus yang diperlukan seorang mata-mata adalah kesabaran. Ambil contoh diriku yang sudah tiga jam duduk di lantai dua sebuah kafe, menatap ke luar jendela hanya untuk menyadari bahwa sepasang pengantin baru yang duduk di kursi luar kafe seberang jalan masih terus melanjutkan obrolan penuh cinta mereka tanpa memperdulikan matahari yang akan segera terbenam.

Sudah tiga jam aku duduk di sini dan mengawasi mereka, sama sekali tidak mendapatkan apa-apa selain rasa sakit hati, kesemutan di pantat, dan bon tagihan untuk delapan gelas kopi hitam.

Bayangkan, tiga jam! Dalam tiga jam seharusnya aku bisa menonton delapan episode anime dan masih ada waktu yang cukup untuk mandi, tetapi aku malah menggunakannya untuk membuang-buang waktu di sini.

Bagaimana? Pekerjaan sebagai mata-mata sangat menyenangkan bukan?

Sayangnya ini bukanlah cerita tentang mata-mata, ini adalah cerita tragedi.

Tidak, ini bukanlah kisah seorang mata-mata yang mati secara tragis. Terserah apa temanya, yang penting genrenya harus tragedi. Setidaknya, aku memutuskan bahwa cerita ini harus berakhir setragis mungkin.

Apa? Kenapa aku melakukan ini?

Tentunya aku melakukan ini bukan karena aku seorang mata-mata, ada alasan yang jauh lebih serius dibandingkan uang. Jika kalian memang sangat ingin tahu maka marilah kita kembali ke hari sebelum hari ini yang biasa kita sebut sebagai hari kemarin.
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
sive dan provocator3301 memberi reputasi
2 0
2
AZURE (Cuma Cerita Fiksi)
26-11-2022 18:21
Quote:Saat itu aku sedang tidak melakukan apa-apa, sama seperti hari ini, sama seperti hari sebelum kemarin, sama seperti hari sebelum hari sebelum kemarin.

Hei, kalau kuingat-ingat aku sama sekali tak melakukan apa-apa selama seminggu ini. Ahh, sudahlah.

Kembali ke hari kemarin, aku hanya berbaring santai sembari membuka sosial media yang nyaris tak pernah kubuka lagi sejak lulus kuliah. Tak ada maksud khusus, sama seperti seseorang yang membangun menara kartu hanya untuk menghancurkannya lagi, aku melakukannya hanya untuk sekedar menghabiskan waktu. Namun, aku melihat sebuah berita yang cukup mengejutkan.

Okay, itu bohong. Yang benar adalah; itu berita yang sangat-sangat-sangat mengejutkan.

Namanya Claudia, pacar pertamaku saat Smp. Sebenarnya, dia adalah satu-satunya wanita yang pernah jadi pacarku. Hubungan kami dulu benar-benar indah, penuh dengan bunga mawar tanpa duri yang begitu harum dan lembut. Hubungan itu berlanjut hingga Sma, dan sayangnya mulai terputus saat orangtuaku memutuskan bahwa aku harus kuliah ke luar negeri.

Saat itu teknologi bernama internet sudah begitu maju, cukup maju untuk memungkinkan kami melakukan video call setiap malam, dan memang seperti itulah rencananya. Awalnya semua berjalan mulus. Kami berhubungan setiap malam melalui layar kaca. Jika hari ini aku yang menghubungi duluan maka besoknya dia yang menghubungi duluan. Terus berganti-ganti.

Dan kemudian hubungan itu mulai merenggang. Komunikasi yang awalnya setiap hari berubah menjadi dua hari sekali, lalu tiga hari sekali, lalu sekali seminggu. Aku tak ingat siapa yang lebih dulu berhenti menghubungi, tetapi yang jelas kami sudah tidak saling bertukar kabar lagi di tahun ketigaku kuliah. Sejujurnya aku juga lelah dengan hubungan jarak jauh, mungkin itulah alasan mengapa aku tak pernah mencoba menjalin hubungan kembali.

Dalam tahun-tahun berikutnya aku sudah benar-benar melupakan Claudia, terlebih lagi pergaulan yang begitu bebas di Amerika membuatku tak pernah kesepian. Aku baru mengingat Claudia lagi setelah melihat foto baru yang dia upload di facebook, sebuah foto yang membuatku tersedak saat berbaring tak melakukan apa-apa kemarin.

Dia kimpoi....

DIA KAWIIIIINNNNNN!!!!!!

Ohh, dia sangat cantik dalam balutan gaun pengantin. Rambutnya yang dulu panjang kini pendek sepundak. Dia tersenyum begitu manis, dengan lesung pipi yang minta untuk dicubit. Segera saja kenangan-kenangan masa lalu naik ke permukaan, dan perasaan itu meledak seolah sudah menunggu sedari lama.

Aku sangat-sangat mencintainya.

Tapi... mengapa.... MENGAPA PRIA YANG BERSANDING DENGANNYA BUKAN DIRIKU?!

Pegang ucapanku, melihat mantan yang dulu memberimu kenangan-kenangan terindah menikah dengan pria lain bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Aku menangis semalaman, tidak makan dan tidak mandi. Aneh memang, meski bertahun-tahun hilang kabar, tetapi kami belum pernah putus secara resmi. Artinya dia itu masih pacarku. Lalu kenapa pacarku menikah dengan pria yang bukan aku?

Argumenku memang tidak masuk akal, aku sendiri tahu itu. Sayangnya itu tak membuat rasa sakit di hati ini menjadi lebih ringan. Dan yang paling parah; mereka sudah menikah, janur kuning sudah melengkung, mereka mungkin sudah melalui malam pertama yang penuh gairah. Yang tersisa hanyalah diriku yang tak bisa menerima kenyataan.

Dan seperti kebanyakan pria patah hati lainnya, aku pun jatuh pada depresi, gagal move on.

Rasa depresi itu mengubahku menjadi seorang mata-mata dan aku pun mulai mengikuti pergerakannya. Mengikuti mereka sejak keluar rumah, mengikuti mereka berbelanja ke mall, mengikuti mereka makan siang di restoran, mengikuti mereka ke taman bermain, dan sekarang mengikuti mereka ke kafe.

Semakin lama aku mengikuti mereka semakin besar pula rasa sakit hatiku.

Sekarang setelah aku kembali melihat Claudia, rasa cintaku padanya semakin besar, begitu juga dengan kebencianku pada suaminya. Kenapa sih Claudia memilihnya dibanding diriku? Padahal aku lebih ganteng. Andai saja setelah lulus kuliah dulu aku langsung mencarinya semua ini tidak akan terjadi. Semua ini jelas-jelas salah, salah pria itu!

Orang itu sudah merebut tempatku, aku tak akan memaafkannya. Aku akan menangkapnya, memutilasinya, memasukkan potongan tubuhnya ke dalam drum lalu mengisinya dengan semen dan membuangnya ke laut. Benar sekali, jika dia tidak ada maka akan ada penghalang antara aku dan Claudia.

Aku akan membunuhnya.
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
sive dan provocator3301 memberi reputasi
2 0
2
AZURE (Cuma Cerita Fiksi)
26-11-2022 18:22
Quote:Kegiatan mata-mata yang awalnya dimaksudkan untuk mengawasi Claudia kini berganti haluan menuju pria yang bahkan belum kutahu namanya itu. Pengawasanku belum membuahkan apa-apa, namanya juga baru hari pertama, tapi aku yakin kesempatan akan datang cepat atau lambat. Tak mungkin mereka bisa bersama setiap saat.

Mereka baru menikah dua hari, Claudia akan terguncang begitu keras tapi guncangan itu tak akan berlangsung lama dan tak akan terlalu membekas. Aku pasti akan ada untuknya, menemaninya setiap saat.

Masalah paling utama adalah, di mana aku harus membunuhnya? Akan lebih baik jika dia mati wajar, terlihat seperti kecelakaan, dengan begitu tak akan ada yang curiga. Aku sudah membaca cukup banyak cerita detektif yang menyelidiki kematian yang tampak seperti kecelakaan, kurasa membuat satu tidak akan terlalu sulit.

Pria itu akan mendapat akhir yang tragis, aku dan Claudia akan mendapatkan akhir yang bahagia. Sungguh rencana yang sempurna.

Tapi sekarang aku harus menyelidiki kebiasaannya lebih dulu dan untuk itu aku harus memperhatikannya lekat-lekat. Harus….

Mungkin karena terlalu serius mengawasi aku jadi tidak menyadari ada seseorang melakukan hal yang sama persis denganku di meja sebelah. Dia duduk sendirian dengan beberapa cangkir kopi yang telah kosong sebagai temannya. Matanya benar-benar fokus, sama sepertiku beberapa detik yang lalu.

Merasa sedang diperhatikan wanita itu pun menoleh ke arahku, dan untuk saat-saat yang terasa begitu panjang, kami terus menatap satu sama lain.

“Halo… Elicia. Apa kabar?”

“Gemini? Wow! Ini benar-benar kejutan.”

Aku yakin kami sama-sama mengetahui apa yang kami lakukan dan memutuskan untuk tidak membahasnya. Untuk menutupi kecanggungan, Elicia mengangkat cangkir kopinya dan pindah ke mejaku sehingga kami duduk saling berhadapan.

Elicia mungkin adalah manusia paling langka yang pernah kukenal. Kulitnya putih bening khas orang Jepang, matanya sipit khas orang Cina, rambutnya pirang kecoklatan khas orang Belanda, dan dia pendek seperti kebanyakan wanita Indonesia. Kenyataannya Elicia memang memiliki darah dari empat negara tersebut dan karena itulah aku selalu menyebutnya manusia langka.

Kami menghadiri Sd, Smp, dan Sma yang sama sehingga bisa dibilang kami teman yang cukup dekat. Kami tak pernah bertemu lagi sejak lulus Sma tapi perempuan yang duduk di hadapanku sekarang tidak terlalu berubah banyak. Dia tampak lebih dewasa, tetapi fisiknya tidak berubah sama sekali.

“Biar kutebak, kau tidak bertambah tinggi satu centi pun sejak kelulusan?”

“Perasaanku sedang buruk, kalau kau membahas itu lagi aku akan pergi.”

Ternyata dia juga jadi lebih galak. Biasanya dia suka ikut tertawa jika aku menggunakan tinggi badannya sebagai lawakan.

“Okay…. Kau keberatan kalau aku membahas kondisi masing-masing? Bagaimana kabarmu? Kau kerja apa sekarang?”

Kurasa pertanyaan itu malah membuat suasana hatinya semakin buruk. Kami sekarang berumur 25 tahun, wajar kan kalau aku bertanya tentang pekerjaan? Elicia dulu adalah murid yang sangat pintar dan rajin, kecil kemungkinan kalau dia berakhir sebagai pengangguran.

“Aku seorang aktor,” jawab Elicia pada akhirnya. “Bekerja untuk studio-studio, mengambil peran kecil di film, kehidupan seperti itu.”

“Aktor? Aku tak ingat kau pernah bilang mau jadi aktor.”

“Aku mulai tertarik saat kuliah. Aku punya teman Youtuber, dia memintaku ikut ambil peran. Cukup menyenangkan, lebih menyenangkan dibanding menghapal undang-undang. Kau sendiri gimana? Ahh, tak perlu bilang. Memangnya siapa yang tidak kenal penulis novel paling tragis sepanjang sejarah, Pisces!”

Meski itu adalah kalimat pujian, tetapi nadanya jelas-jelas menghina. Aku kenal Elicia sejak lama, dan aku senang sifat sarkastiknya masih dia pertahankan. Meski begitu aku terkejut dia tahu tentang profesiku.

“Itu bukan novel paling tragis sepanjang masa,” sangkalku.

“Itu novel paling tragis yang pernah kubaca. Kenapa kau harus membunuh mereka berdua? Tak bisakah kau lihat keduanya sudah begitu mencintai satu sama lain? Kenapa….”

Kurasa dia tak memiliki argumen lain untuk memprotes. Sekitar dua tahun yang lalu aku menulis novel yang menjadi terkenal karena sukses membuat banyak orang depresi.

Judulnya Pisces. Aku memilih judul itu karena rasi bintang Pisces dilambangkan dengan dua ekor ikan yang saling melengkapi. Pisces tidak akan ada jika hanya ada satu ikan, begitu juga kedua karakter utama di novel itu. Yang satu tak bisa hidup tanpa yang lain, dan keduanya tak bisa hidup bersamaan, karena itulah keduanya mati.

Bukannya aku tak bisa memberi ending yang bahagia, aku juga ingin melakukannya, tetapi semakin aku memikirkan kebahagiaan keduanya, semakin aku merasa sedih. Memang ironis, karakter buatanku lebih bahagia dibanding diriku. Aku cemburu pada karakter buatanku sendiri dan karena itulah aku membunuh keduanya. Penulis macam apa yang melakukan hal semacam itu?
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
sive dan provocator3301 memberi reputasi
2 0
2
AZURE (Cuma Cerita Fiksi)
26-11-2022 18:22
Quote:“Tapi sejak dulu kau memang paling suka cerita sedih,” ucap Elicia setelah diam lama. “Saking sedihnya, kisah tragis mulai menggerogoti hidupmu.”

Tampaknya mencoba berpura-pura tidak sadar justru membuatnya semakin sakit. Dia menunjuk ke arah pasutri bahagia yang… sialan, mereka berciuman di ruang publik. Apa tak ada pasal yang bisa menjerat pria yang melakukan itu?

“Kapan kau tahu Claudia menikah?” tanyanya lagi.

“Kemarin, dari postingan facebook. Kau?”

Dia tidak menjawab. Mungkin dia mengira ekspresi wajahnya cukup untuk memberikan jawaban. Jika harus kudeskripsikan ekspresinya tampak seperti pengantin wanita yang ditinggal oleh calon suaminya tepat di hari pernikahan. Mempelai wanita itu menangis sendirian di pelaminan, sama seperti Elicia yang tengah menangis dalam diam. Aku pun mengulurkan tisu padanya.

“Kenapa kau sedih? Harusnya aku yang menangis di sini.”

Elicia menyembunyikan wajahnya di balik tisu, napasnya sesekali tersekat yang menandakan dia masih menangis. Aku memberinya waktu untuk menenangkan diri. Lagipula aku punya begitu banyak waktu.

“Kau suka dengar cerita sedih kan?” tanyanya kemudian, “Mau dengar ceritaku? Maksudku, please, dengar ceritaku,” pintanya.

“Tentu, aku pendengar yang baik.”

Mungkin dia tak punya siapa pun untuk bercerita. Menahan semua kesedihan itu bisa membuatnya meledak, karena itulah aku tak keberatan menjadi teman curhat. Elicia pun mulai bercerita.

“Kau tahu kenapa aku punya banyak ciri negara asing di tubuhku?”

“Aku yakin kau itu hasil proyek rahasia untuk menyatukan genetik semua ras.”

“Itu lucu, tapi bukan begitu. Nenekku orang Belanda yang tinggal di sini selama masa penjajahan. Saat perang dunia kedua meletus dan tentara Jepang datang, nenekku dikirim ke kamp tahanan sebagai tawanan perang dan di sana dia diperkosa tentara Jepang. Dia hamil, dan akhirnya melahirkan ayahku. Ayahku yang punya darah dua penjajah mengalami hidup yang begitu sulit di negara ini sampai-sampai dia bersikeras untuk tidak menikah dan melanjutkan darah keturunannya. Tapi akhirnya dia bertemu ibuku yang keturunan Cina. Mereka jatuh cinta dan lahirlah aku. Saat itu umur ibuku sembilan belas tahun, ayahku lima puluh satu tahun, coba bayangkan apa kata orang?”

Aku mencoba membayangkannya. Jika melihat yang seperti itu di dunia nyata maka aku akan mengira si wanita menikah karena dipaksa. Jika bukan itu maka dia pasti mengincar uang suaminya. Kedua kemungkinan itu sama-sama memberi status yang jelek pada perkimpoian.

“Intinya, aku terlahir. Dua tahun kemudian ibuku meninggal saat kerusuhan 98. Jika melihat pola ini aku jadi yakin semua perempuan yang berhubungan dengan ayahku dikutuk dengan kemalangan. Nenekku diperkosa, ibuku dibunuh, aku… aku dicampakkan.”

Akhirnya aku paham kenapa Elicia bisa ada di sini. Elicia terus bercerita; pria yang bersanding dengan Claudia ternyata adalah mantan pacarnya yang mencampakkannya demi Claudia. Meski sudah lima tahun pacaran, pria itu mencampakkannya begitu saja dengan alasan sudah bosan. Tragisnya, Elicialah yang mengenalkan pria itu pada Claudia dan sejak itu keduanya berhubungan di belakangnya.

Aku tak menyangka Claudia punya sifat seperti itu. Sejujurnya, aku tidak percaya. Ini adalah cerita versi Elicia dan wajar saja jika dia menjadikan Claudia sebagai villain dalam ceritanya. Bagiku Claudia adalah seorang bidadari dengan senyum yang mampu menerangi dasar lautan. Pasti Elicia yang salah, atau lebih bagus lagi, pria bajingan itulah yang salah. Alasan tambahan untuk menghabisinya.

“Kurasa hubungan tanpa kepastian yang terlalu lama memang bisa merusak segalanya,” tutup Elicia pada akhirnya. “Dan sekarang mereka sudah menikah. Mereka menikah hanya sebulan sejak kami putus. Siapa yang bisa aku salahkan di sini? Apa salah kalau aku ingin fokus dengan karirku sebelum menikah? Tidak mungkin, mereka yang salah karena sudah selingkuh di belakangku. Tak bisa dimaafkan.”

Sungguh kasihan… cangkirnya. Elicia mencengkram cangkir kopinya begitu kuat sampai-sampai cangkir itu terlihat bisa pecah kapan saja. Dia bukanlah pecinta kekerasan, tetapi dendam sudah merubahnya menjadi makhluk yang berbeda.

“Akan kubunuh,” bisiknya geram, “akan kubunuh si jalang itu.”

“Ha? Kau bilang apa? Jangan berani-berani kau sentuh Claudia.”

Kuarahkan sendok kopiku ke arahnya, berakting bahwa itu sebuah pisau, tapi ancamanku bukanlah akting.

“Kalau ada yang harus dibunuh, mantanmu itulah yang harus dikubur hidup-hidup.”

“Haa??!! Memangnya kau tahu apa soal dia? Dia pria yang sungguh luar biasa.”

“Tapi ujung-ujungnya dia mencampakkanmu. Terima kenyataan, dasar pendek!”

“Kau yang harus terima kenyataan. Kenapa kau masih tergila-gila pada perempuan yang sudah kau tinggalkan bertahun-tahun lalu?”

“Aku tidak meninggalkannya. Secara teknis dia masih pacarku, mantan sialanmu itu pasti sudah mencekcokinya dengan guna-guna.”

“Dia meninggalkanmu, otak kerbau! Memangnya kau pikir perempuan mana yang tahan LDR selama dua tahun? Dia selalu curhat kalau hubungan kalian sudah jadi karang es yang tenggelam di Antartika.”

Kalimat terakhirnya, ditambah dengan pengunjung kafe yang memelototi kami, membuatku terdiam seribu bahasa. Kami menurunkan sendok yang kami pegang dan terdiam cukup lama sembari kembali menatap pasutri yang kini tengah minum dari gelas yang sama dengan sedotan berbentuk hati.

Apa yang dikatakan Elicia ada benarnya. Aku merasa lelah dengan hubungan jarak jauh, wajar jika Claudia juga lelah dengan itu. Selain itu jika aku mencocokkan kronologinya, saat-saat di mana Elicia mengenalkan pacarnya pada Claudia adalah saat di mana hubungan kami mulai renggang. Apakah di situ pokok permasalahannya? Apa dia lelah menunggu dan mencari yang lain?

Tiba-tiba saja aku merasa begitu bodoh.
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
sive dan provocator3301 memberi reputasi
2 0
2
AZURE (Cuma Cerita Fiksi)
26-11-2022 18:23
Quote:“Maaf, aku terbawa emosi tadi,” ucapku lebih dulu.

“Ya, aku juga sama,” balasnya. “Kalau kupikir-pikir, membunuh orang akan terlalu beresiko. Aku harus membuatnya seperti kecelakaan.”

“Kau masih membahas itu?!”
Anehnya, aku tak yakin kalau dia bercanda.

“Sejak lulus Sma, seperti apa Claudia?” Aku mencoba mengalihkan topik. Siapa yang jamin Elicia tak akan mempengaruhiku dengan topik itu lagi.

“Sama seperti biasa,” jawabnya datar. “Hanya bosan, cuma itu. Seperti itulah wanita, kalau kau tidak memberinya kejutan secara teratur, cintanya akan pudar.”

“Yeah, kurasa itu juga berlaku untuk pria.”

Elicia melotot, siap menusukku dengan ujung sendok, namun kembali menurunkan tangannya.

“Kau ada benarnya. Aku terlalu sibuk untuk berkencan, dia akhirnya bosan dan menggunakannya untuk bertemu Claudia. Hikmahnya di sini, kalau kau tak punya waktu untuk berkencan, jangan pernah berpacaran.”

Serempak kami menghembuskan napas berat. Di luar sana kedua orang yang menjadi subjek pengawasan kami sudah berdiri dari kursinya dan bersiap meninggalkan kafe. Aku berniat untuk mengekor mereka, tapi untuk apa? Semua ini sudah tak ada gunanya lagi.

Claudia meninggalkanku, dan itu bukan salah siapa-siapa. Hubungan kami tak lebih dari sekedar cerita lama yang terlalu sakit untuk dibuka lagi. Sudah cukup, ya, sudah cukup. Biarlah aku mengenang Claudia yang aku kenal semasa Smp dan Sma di dalam hatiku. Claudia yang saat ini sudah tak ada hubungannya denganku.

“Ini benar-benar hari yang membuat depresi,” keluhku sembari bersandar di kursi. Di depanku Elicia sudah mulai menangis lagi.

“Aku benar-benar mencintainya,” bisiknya sendu, “kenapa dia pergi? Kenapa tidak bicarakan jika ada yang tidak pas denganku?”

“Sudahlah Elicia,” aku mengulurkan beberapa lembar tisu lagi ke arahnya, “akhir yang tragis kadang tidak menuntut penjelasan. Nasib buruk selalu berkeliaran di mana-mana, dan seseorang harus menerimanya. Dalam kasus ini, kita berdua yang harus menanggung sedihnya.”

Aku sebenarnya ingin mengucapkan kata penghiburan, tetapi aku tidak dalam kondisi yang cocok untuk mengatakannya. Mungkin setelah menangis dua atau tiga malam lagi baru aku bisa menemui Elicia dan menghiburnya. Sekarang aku hanya ingin pulang dan meratapi betapa bodohnya diriku ini.

“Aku jadi lebih paham perasaan karakter utama di novelmu.” Elicia mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca. “Tak bisa hidup tanpa belahan hatinya, mungkin aku terikat kutukan semacam itu. Sayangnya cuma aku yang terikat, yang satunya tidak.”

“Itu artinya takdirmu adalah mati sendirian, tak ada yang bersedia mati penuh kebahagiaan bersamamu.”

Aku mengerti, aku juga bersimpati. Aku dan Elicia berteman akrab dulu, dan sekarang pun sama. Aku tak tega melihatnya begitu depresi seperti ini. Jika aku meninggalkannya begitu saja bukan tidak mungkin dia akan langsung bunuh diri.

Tapi apa yang bisa aku lakukan? Pengetahuanku hanya tentang tragedi, aku tak tahu cara membuat seseorang bahagia.

“Kau mau lanjut mengekor dua orang itu?” tanyaku pelan, tak yakin apakah aku ingin mendengar jawabannya. Dan di luar dugaan, Elicia mengangguk. Bahkan seluruh air mata itu masih belum cukup untuknya. Dia masih ingin terus mengejar penderitaan yang pasti akan membunuhnya.

“Sudahlah Elicia, kau hanya… oh ayolah, ini terlalu menyedihkan untuk dilanjutkan.”

“Kalau begitu ikut denganku.” Dia mencengkram lenganku kuat sekali. Matanya yang sedari tadi basah oleh air mata kini berapi-api penuh tekad yang tak jelas untuk apa. “Ikuti aku. Ayo… lakukan sesuatu yang tak akan membuat kita sedih.”

Dan seperti itulah ceritanya. Aku tak begitu ingin menceritakan detailnya karena aku juga tak paham apa yang otakku pikirkan saat itu. Aku hanya memikirkan dua hal, mengobati patah hatiku dan mencegah Elicia melakukan hal bodoh. Bisa dibilang aku berhasil, dalam prosesnya kami benar-benar melupakan segala masalah yang menimpa kami berdua. Kami tak peduli perasaan masing-masing, tak peduli logika dan juga norma. Kami hanya… mencoba melarikan diri.

Singkat kata, kami menghabiskan semalaman di Love Hotel.

***

Ahh ya... seperti itu kejadiannya. Ini mungkin kejadian terindah sekaligus paling mengerikan yang terjadi padaku selama beberapa tahun ini. Kira-kira apa yang akan Elicia lakukan setelah terbangun? Membunuhku? Semoga saja tidak. Sayangnya harapanku tidak didukung alasan yang kuat. Akan lebih baik jika aku langsung pergi, tapi tindakan itu bisa saja membuat batinnya semakin tersiksa.

Dan sebelum aku mengambil keputusan, Elicia mulai bergerak. Aku menutup mata, pasrah menerima apa yang akan terjadi.

Namun ternyata tak terjadi apa-apa. Elicia hanya bangkit dan duduk tanpa mengucapkan apa pun. Jarinya menekan noda-noda darah di seprei.

Noda itu membuatku terkejut. Awalnya aku mengira dia sudah bukan gadis lagi, bagaimanapun dia pacaran selama lima tahun dan umurnya sudah jauh di atas umur rata-rata perempuan kehilangan keperawanan di negeri ini. Apa jangan-jangan dia dicampakkan karena tidak mau diajak macam-macam?

“Mungkin karena aku menolak seks, dia mencampakkanku,” ujar Elicia tiba-tiba. “Sekarang aku malah melakukannya denganmu. Apa menurutmu ini balas dendam yang cukup keras?”

“Ehh… tidak. Aku bahkan ragu pria itu masih peduli denganmu.”

“…. Begitu.”

Baiklah, ini waktunya untuk menjadi pria sejati. Pria sejati selalu bertanggung jawab atas segala perbuatannya.

“Kita berdua dicampakkan dengan begitu tragis,” kataku tanpa menatapnya. “Jadi, sebagai sesama orang buangan, apa kau mau jadi pacarku?”

“….”

“Ini memang aneh, apalagi karna aku yang bilang, tapi kita bisa saling menghibur. Mari jalin hubungan baru dan lupakan tentang para tukang selingkuh itu.”

“Kau ngomong apa sih?”

“Emm… apa itu artinya tidak?”

“Tidak seharusnya kita diam saja.” Dia mencengkram bahuku dengan mata yang kembali berapi-api. “Apa kau senang dicampakkan begini? Tidak, Gemini. Sama sekali tidak. Di saat seperti ini kita tidak seharusnya melupakan, kita harus belas dendam. Mari buat mereka menyesal telah dilahirkan.”

Dan ini adalah awal dari kisah yang pasti akan jadi tragedi. Sekarang, setelah melihat sejauh apa kepribadian Elicia berubah, aku jadi semakin yakin cerita ini tak akan berjalan bahagia.

Apakah cerita ini akan berakhir seperti Pisces yang mana semua orang akhirnya mati? Entahlah, kemungkinannya sama sekali bukan nol.

Dan meski aku tahu tentang itu, aku akan tetap menulis kisah ini hingga akhir. Apakah kami akan menangis? Apakah kami akan mati? Atau mungkin sesuatu yang lebih buruk? Apa pun itu aku akan menceritakan semuanya, karena aku adalah penulis cerita tragedi.
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muyasy dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
AZURE (Cuma Cerita Fiksi)
26-11-2022 19:17

Bab 2

Quote:Mungkin agak terlambat memberitahukan ini pada bab kedua, tetapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.

Namaku Gemini. Nama yang sangat tidak umum, buktinya selama dua puluh lima tahun aku hidup belum pernah kutemui orang lain dengan nama serupa.  Dan ya, kau benar, aku memang lahir dengan rasi bintang Gemini sebagai zodiak, lebih tepatnya tanggal 23 Mei.

Namun aku diberi nama Gemini bukan semata-mata karena masalah zodiak, orangtuaku memiliki alasan yang lebih dalam sekaligus lebih mengharukan.

Alkisahnya di tanggal 23 Mei dua puluh lima tahun yang lalu, terlahirlah sepasang anak kembar. Sang kakak yaitu aku terlahir lebih dulu dan sang adik menyusul lima menit kemudian. Sayangnya sang adik tak pernah bernapas, dia sudah meninggal selama di kandungan.

Akhirnya anak kembar itu pun menjadi anak tunggal. Orangtuaku yang bersedih akhirnya memberiku nama Gemini. Kalian tahu seperti apa Gemini itu kan? Gemini adalah rasi bintang yang terdiri dari dua orang, Castor dan Pollux, namun dianggap sebagai satu kesatuan. Karena dilambangkan sebagai sepasang anak kembar, orangtuaku pun memberiku nama itu. Mungkin mereka menganggap jiwa adikku yang mati sebenarnya bersemayam dalam diriku.

Sayangnya diriku dua puluh lima tahun yang lalu sama sekali tidak bisa memprotes nama ini. Kalian pasti paham kan? Kita pasti menginginkan nama-nama keren seperti Clint Barton atau Jack Sparrow atau Giorno Giovanna, tetapi aku malah terjebak dengan nama yang membuat semua orang bisa menebak tanggal lahirku.

Tapi sudah cukup lama sejak aku berdamai dengan nama ini. Saat sekolah dulu aku bertemu dengan orang-orang bernama Andika atau Andre atau Nico, nama-nama yang bisa ditemui di mana saja, karena itulah aku mulai sedikit bangga dengan namaku yang unik. Saking bangganya aku menggunakan nama ini sebagai nama pena. Akibatnya semua orang terus bertanya-tanya siapa nama asliku.

Pekerjaanku… penulis novel. Yeah, aneh memang. Cukup jarang ada orang yang menyebut pekerjaannya adalah penulis novel, karena nyaris tak ada orang yang menggantungkan hidupnya hanya dari menulis novel. Tidak banyak penulis yang bisa kaya raya, tetapi karena sejak awal keluargaku cukup berada maka aku bisa hidup berkecukupan dari itu.

Apa? Penampilan fisik? Well, aku bukanlah orang yang narsis tapi aku harus mengakui bahwa wajahku memang tampan. Saat Sma dulu para wanita pernah melakukan polling ketampanan dan namaku masuk dalam tiga besar. Untuk tubuhku sendiri bisa dibilang cukup tinggi dan berotot. Saat kuliah dulu aku cukup gemar berolahraga, tetapi aku bisa melihat bahwa otot-ototku mulai kehilangan massanya.

Tapi itu adalah deskripsiku satu tahun yang lalu. Sekarang aku memang masih tampan, tetapi kebiasaan malas bercukur dan jarang mandi mulai membuatku terlihat seperti gembel. Mulutku juga bau karena jarang menyikat gigi, dan pakaianku… kepan terakhir kali aku ganti baju? Apa jangan-jangan aku mengawasi kedua orang itu seharian dengan penampilan seperti ini? Ya Tuhan, pasti aku terlihat sangat mengenaskan.

Tanpa menunggu lama lagi aku segera pergi ke tukang cukur, menata rambut dan memangkas jenggotku sampai mulus. Pulang dari sana aku mampir ke minimarket untuk membeli sabun, sampo, deodorant, obat kumur-kumur, dan juga parfum. Setelah sekian abad lamanya aku pun kembali menikmati sensasi guyuran air dingin yang membuat sel-sel kulitku berteriak di pagi hari.

Rasanya sangat menyegarkan, seperti hidup kembali. Mungkin apa yang terjadi kemarin sudah membangunkanku dari kekosongan hidup yang kujalani setahun ini.

Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
sive dan provocator3301 memberi reputasi
2 0
2
AZURE (Cuma Cerita Fiksi)
26-11-2022 19:18
Quote:“Tumben kau mandi,” celetuk seseorang yang duduk di depan televisi, “Ini yang ke… dua belas dalam tiga bulan terakhir.”

“Aku ada janji,” jawabku sekedarnya.

“Pacar?”

“Bukan.”

“Calon pacar?”

“Bukan juga.”

“Teman tapi mesra?”

“Cuma teman saja.”

“Kalau itu cuma teman kau nggak mungkin pakai parfum dan minyak rambut begitu. Penampilanmu rapi, lumayan bergaya, itu artinya ada seseorang yang ingin kau buat terkesan, seseorang yang kau ingin agar memberi perhatian padamu.”

“Oh, shut up, Man!”

Perkenalkan, orang super menyebalkan dan cerewet ini adalah Azure, sepupuku yang datang merantau dari pedesaan. Penampilan kami cukup mirip, namanya juga sepupu, tapi aku jelas lebih ganteng darinya.

Di rumah ini kami hanya hidup berdua. Ini adalah rumah yang dibelikan oleh orangtuaku agar aku tidak mengganggu kehidupan mesra mereka. Azure adalah penumpang yang kuterima dengan syarat dia harus melakukan semua pekerjaan rumah.

Dia tiba-tiba datang beberapa bulan yang lalu dan berkatnya rumah ini selalu kelihatan bersih, selain kamarku tentunya. Dia jugalah yang memasak dan mencuci. Jika bukan karena dia mungkin aku sudah tewas karena malnutrisi. Maklum, satu-satunya yang bisa kumasak hanyalah mi instan dan aku juga terlalu malas keluar rumah untuk membeli makanan.

“Jadi, apa perempuan ini cantik?” tanyanya lagi, dia memang sama sekali tak menunjukkan hormat padaku sebagai tuan rumah.

“Ya, dia cantik. Wajahnya perpaduan antara Eropa dan Asia, kecantikan semacam itu cukup langka di sini.”

“Hei, lihat matamu itu, kau jatuh cinta.”

“Aku tidak jatuh cinta. Berhenti mengambil keputusan sesukamu.”

“Kau tahu kan aku ambil jurusan psikologi. Sekali lihat pun aku bisa tahu. Kau mungkin nggak sadar, atau menolak mengakuinya, tapi tubuh tidak bisa bohong.”

Aku ternganga. Bicara apa sih dia ini?

“Terserahlah kau bilang apa.”

“Atau,” tambahnya lagi saat aku mulai menyemir sepatu, “apa mungkin ini cinta lama yang bersemi kembali?”

“Iya iya! Dia cinta pertamaku yang tak pernah kesampaian! Puas?!”

“Puas sekali. Tampaknya yang diajarkan dosenku tak sepenuhnya sia-sia.”

Ini adalah satu fakta yang belum aku beritahu pada kalian para pembaca. Claudia memang pacar pertamaku, tetapi perempuan pertama yang membuatku jatuh cinta adalah Elicia. Saat itu kami masih Sd, cuma sekedar cinta monyet, tetapi malah kebablasan sampai Smp. Karena kami berteman dekat, dan karena wajahku sering tersipu saat di dekatnya, banyak orang suka menjodoh-jodohkan kami. Setiap kali kami jalan berdua pasti akan ada yang berteriak ‘cie cie’ dan itu sangat membuatku senang.

Tapi ternyata itu sangat mengganggu Elicia. Elicia adalah murid paling teladan satu sekolah dan dia menganggap kewajiban murid adalah belajar, bukan pacaran. Melihatnya begitu marah setiap kali ada yang menjodokan kami membuatku merasa ditolak secara tidak langsung. Akhirnya aku pun menyerah pada perasaanku, dan di saat itulah Claudia datang. Aku ingin membantu Elicia dengan menghilangkan semua rumor itu jadi aku menerima pengakuan Claudia dan kami mulai berpacaran. Di luar dugaan ternyata kami saling cocok dan aku pun berhasil melupakan semua tentang Elicia.

Dulu aku suka dia, tapi jika sekarang ditanya seperti itu aku tidak bisa menjawab dengan yakin. Hatiku masih sakit jika mengingat Claudia dan tak akan mudah bagiku untuk bisa mencintai orang lain secepat itu.

“Kurasa aku akan sibuk sampai malam, tak perlu memasak untukku.”

“Kenapa nggak nginap aja sekalian?”

“Sudah kubilang dia bukan pacarku!”

Aku membanting pintu agar tak perlu mendengar komentarnya. Meski demikian apa yang dia katakan terngiang-ngiang selama perjalanku menuju kafe kemarin.

Mengingat kembali memori di hotel, aku cukup yakin Elicia melakukan itu denganku hanya sebagai pelampiasan. Itu tidak membuatku kecewa, tetapi aku menyesal karena menuruti kemauannya. Sayangnya karena kami sama-sama depresi tak ada yang berpikiran panjang, hal itu pun terjadi begitu saja. Ternyata hal yang disebut depresi dan godaan benar-benar bisa membuat manusia tidak waras.
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
profile-picture
penthouse.3 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
AZURE (Cuma Cerita Fiksi)
26-11-2022 19:59
Penulisannya sangat rapi gan enak untuk dibaca nitip jejal dulu ya emoticon-Paw
profile-picture
profile-picture
penthouse.3 dan ih.sul memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
AZURE (Cuma Cerita Fiksi)
26-11-2022 22:23
Anak wattpad juga ternyata.. baru tau sayah.. emoticon-linux2

Pantes tulisannya keren2..emoticon-Big Grin

profile-picture
profile-picture
penthouse.3 dan ih.sul memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
AZURE (Cuma Cerita Fiksi)
27-11-2022 08:00
Eruza

Cuma kisah nyata
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
AZURE (Cuma Cerita Fiksi)
27-11-2022 09:21
Anak wp ya. Nama akunnya siapa sis/gan? Ntr aku polow
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
AZURE (Cuma Cerita Fiksi)
27-11-2022 09:44
Komen dulu baca belakangan..
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Post ini telah dihapus
AZURE (Cuma Cerita Fiksi)
27-11-2022 18:04

Bab 3

Quote:Aku memarkirkan motorku di tempat yang sama persis seperti kemarin dan naik ke lantai dua di mana Elicia sudah duduk dan menatap ke luar jendela. Dia melirikku sekilas lalu kembali mengawasi targetnya.

Hei, dia bahkan tidak mengomentari penampilan baruku, apa aku sebegitu tidak penting baginya?

“Ada sesuatu yang harus kuketahui?” tanyaku. Aku sudah nyaris memesan kopi hitam, tapi karena kemarin aku sudah minum delapan gelas akhirnya aku memilih Ice Tea.

“Mereka memesan parfait melon edisi couple,” jawabnya. Aku kagum dia bisa membedakan jenis-jenis parfait dari jarak sejauh ini.

Parfait…. Sejak dulu Claudia memang suka makan manisan itu, terutama buah-buah segar yang diletakkan di atasnya. Biasanya setiap pulang sekolah kami akan menjelajahi seluruh kota untuk mencari tempat-tempat yang menyajikan parfait terenak. Harganya memang termasuk mahal untuk uang jajan kami saat itu jadi kami hanya bisa memesan satu parfait dan membaginya berdua. Saling menyuapi, saling menertawai kemiskinan kami yang romantis.

Dan sekarang aku harus melihat kembali pemandangan itu dari sudut pandang orang ketiga. Aku sering menulis dari sudut pandang orang ketiga, tapi tak kusangka rasanya akan sesakit ini. Kebahagiaan yang terpancar di wajah mereka bagai racun yang membuat kepalaku terasa nyeri seolah-olah ada aliran darah yang tersumbat di sana.
Melihat itu sudah cukup untuk membuat suasana hatiku kembali buruk seperti kemarin.

“Hei Elicia, sudah berapa lama kau mengikuti dua orang itu?” tanyaku. Dia seolah tidak mendengarkan jadi aku mengulang pertanyaanku kembali dan dia pun menoleh kesal.

“Apa kau memang banyak bicara saat menguntit seseorang?”

“Menguntit? Hei, itu kasar. Aku cuma mengamati, memata-matai.”

“Itu menguntit namanya, dasar stalker!”

Aduh, kok sakit ya? Apakah mata-mata dan stalker itu tak ada bedanya? Tentu saja beda, keduanya sama-sama mengumpulkan informasi, tetapi mata-mata dibayar untuk menguntit sedangkan stalker melakukannya untuk kepuasan pribadi. Aku juga melakukannya demi kepuasan pribadi…. Lah? Apa ini artinya aku memang stalker?

“Mereka bergerak. Ayo!”

Elicia menarikku yang masih dipenuhi kebimbangan. Saat-saat ketika target bergerak adalah saat yang paling sulit untuk terus mengawasi. Pertama aku harus mempertimbangkan jarak aman agar target tidak menyadariku. Jika terlalu dekat maka mereka akan sadar, tetapi jika terlalu jauh maka aku bisa saja kehilangan jejak mereka.

Saat kami keluar dari kafe mereka berdua sudah memasuki mobil. Tanpa membuang waktu lagi Elicia berlari ke tempat motorku diparkir dan mendudukkan diri di jok belakang. Dia bergerak dengan begitu natural seolah-olah itu adalah hal yang seharusnya dilakukan.

“Ngapain kau bengong? Ayo kejar!” serunya.

“Tunggu sebentar, kenapa kau malah naik motorku? Motormu mana?”

“Sulit untuk mengawasi sambil menyetir. Kenapa? Kau pernah nabrak aku pakai motor ini jadi kami udah akrab. Ayo jalan!”

Tampaknya depresi sudah merubahnya menjadi tukang suruh. Lagipula aku tidak pernah menabraknya, aku hanya tak sengaja menyerempetnya sedikit. Ingat, cuma sedikit.

Tak punya pilihan lain aku pun memboncengnya dan bergerak mengejar mobil yang sudah puluhan meter jauhnya. Lalu lintas yang padat mewajibkanku untuk terus mengatur kecepatan karena mobil yang mereka berdua naiki sering kali terhenti karena macet. Istilahnya memang mengejar, tapi sebenarnya kami tak punya niat untuk menyusul. Benar juga, bukankah mata-mata terkadang melakukan kejar-kejaran seperti ini? Benar sekali, aku ini mata-mata, bukan stalker.

“Caramu menguntit buruk sekali,” kata Elicia saat kami berhenti di lampu merah. Berhenti tepat di… belakang mobil mereka.

“Aku pakai helm jadi mereka tak akan tahu siapa aku. Kau sebaiknya sembunyikan wajahmu.”

Aku bisa merasakan dia menekan wajahnya ke punggungku. Itu sedikit ekstrim tapi karena rambut coklat pirangnya mudah dikenali maka itu pilihan terbaik.

“Ngomong-ngomong sudah berapa jauh kita dari kafe tadi?” tanyaku, “Sebenarnya mereka mau ke mana?”

“Dua puluh dua kilometer,” jawab Elicia, entah dari mana dia mendapat angka itu. “Jalan saja terus.”

Baiklah, aku akan menurut, aku akan terus mengekor mereka hingga akhir jaman.
Diubah oleh ih.sul
0 0
0
AZURE (Cuma Cerita Fiksi)
27-11-2022 18:04
Quote:Tapi sebenarnya aku ini ngapain sih? Aku tak suka melihat mereka berdua, tapi kenapa aku malah terus mengikuti mereka? Harusnya aku diam di rumah dan meratap agar tak perlu melihat kebahagiaan yang menyakitkan ini. Apa aku masih punya keinginan untuk membunuh pria itu dan menggantikan tempatnya? Yeah, mungkin masih.

Tapi kurasa alasan terbesar aku melakukan ini adalah karena wanita di belakangku. Dia yang bersikeras untuk terus mengikuti mereka berdua dan meninggalkannya sendirian adalah pilihan yang buruk. Tapi sebenarnya kenapa aku terus menemaninya? Karena persahabatan di masa lalu? Aku sendiri tak terlalu yakin. Lebih baik turuti kemauannya dan lihat apa yang terjadi.

“Toko buku? Bukan tempat yang terlalu menarik untuk kencan.”

“Apa iya?” tanya Elicia dengan mata menyipit pada mereka berdua yang memasuki toko buku, “Kurasa ini tempat yang bagus.”

Dia pasti sudah sering dibawa ke tempat seperti ini. Aku juga pernah membawa Claudia ke toko buku satu kali, tetapi karena dia bukanlah orang yang suka membaca jadi itu bukan kencan yang ingin kuingat. Kalau mengingat itu aku jadi ingin tertawa. Kalau Claudia masih sama seperti dulu, dia tidak akan menikmati kegiatan mereka hari ini. Membayangkan itu saja cukup untuk membuatku merasa lapar. Benar juga, aku belum makan sejak pagi.

“Kau benar-benar penulis terkenal sekarang,” bisik Elicia saat kami bersembunyi di balik rak buku best seller. Kebetulan saja ada novelku yang dipajang di situ.

“Benar, mau tanda tangan?”

“Tapi kau tak menulis apa-apa sejak Pisces,” ucapnya lagi, sepenuhnya mengabaikan tanda tangan gratis yang hendak kuberi. “Kenapa?”

“Apanya yang kenapa?”

“Apa kau memang butuh dua tahun untuk menulis novel baru?”

“Ahh, tidak, tidak juga. Aku tak menulis apa-apa selama dua tahun ini.”

“Ohh….”

…. Sudah? Begitu saja? Hei, setidaknya tanya kenapa aku berhenti menulis. Cepatlah, aku menunggu.

“Menunduk!”

Dia menekan kepalaku ke bawah saat dua orang itu berbalik ke arah kami. Serempak kami memalingkan wajah ketika mereka lewat, berpura-pura mengecek buku di rak paling bawah.

“Ohh? Ini novel pertamaku.”

Novel pertama ini kutulis saat masih kuliah dan diterbitkan empat tahun yang lalu. Di antara semua novelku, novel pertama inilah yang paling spesial karena cuma di novel ini aku menulis ending yang bahagia. Selain itu novel ini jugalah yang paling tidak laku.

“Aku suka yang satu ini,” bisik Elicia, dekat sekali di telingaku. “Kau menggambarkan kebodohan orang yang jatuh cinta dengan baik. Pengalaman ya?”

“Novel ini bahkan tak laku seribu salinan,” kataku, sama sekali mengabaikan pertanyaannya, “siapa yang menaruhnya di sini? Di jaman sekarang orang-orang tak lagi suka makan omong-kosong tentang cinta. Pembaca menuntut yang lebih realistis.”

“Tapi ending yang tragis juga tak bisa disebut terlalu realistis. Kebanyakan kisah cinta sebenarnya berakhir biasa-biasa saja.”

“Tapi kisah cintamu berakhir tragis kan? Itulah yang disebut realistis.”

Wajahnya yang sempat sedikit cerah kembali mendung. Aku mengangkat kepalaku sedikit, dua orang itu tengah berjalan-jalan di area buku masak, sudah aman untuk kembali berdiri.

“Seingatku Claudia memang tidak bisa masak.”

“Ya, dia juga lebih suka makanan cepat saji,” celetuk Elicia yang masih membungkuk.

“Kalau begitu kenapa tiba-tiba ingin masak sendiri? Menghemat keuangan?”

“Mungkin si jalang itu cuma ingin pamer sebagai istri.”

“Hoi, sudah kubilang jaga bicaramu!”

Tak ada yang salah dengan mencoba menjadi lebih baik. Dulu Claudia tidak suka dibonceng naik motor karena panas dan banyak debu di jalan, tetapi demi diriku yang suka naik motor dia memilih membiasakan diri dengan semua ketidaknyamanan itu. Tak butuh waktu lama sampai dia terbiasa, dia jadi benar-benar menyukainya, dan sekarang dia punya suami yang bisa mengantarnya dengan mobil. Hidup ini memang lucu.

“Kuharap dia memasukkan racun dalam masakannya,” bisikku pelan sekali sampai Elicia tidak bisa mendengarnya.
Dari area buku masak mereka berpindah ke area buku bisnis. Pergerakan mereka semakin mencurigakan, apa yang mereka lakukan di sana? Mencari ide untuk bisnis rumah tangga?

“Hei Elicia, apa pekerjaan mantanmu itu?”

“Pegawai negeri. Memangnya kenapa?”

“Sudah berapa lama?”

“Baru setahun ini dia jadi pegawai tetap.”

“Tapi dia punya rumah, mobil, bahkan berani menikah. Berapa banyak pinjaman yang dia ambil?”

“Kau menghinanya ya? Menyedihkan, kau sendiri cuma pengangguran sekarang.”

“Bukan menghina… yah, kurasa aku memang menghina. Coba bayangkan, memangnya gaji pegawai negeri sebesar itu sampai dia merasa sanggup bayar cicilan mobil dan rumah? Pasti karena dia merasa tak sanggup makanya dia mencari ide bisnis lain.”

“Memang apa salahnya itu? Itu membuktikan kalau dia pria yang bertanggungjawab. Itu lebih baik daripada menyuruh istrinya ikut bekerja….”

Suaranya melemah dan menghilang, wajahnya yang sudah begitu murung kini mencapai level keputusasaan yang jauh lebih tinggi. Air matanya jatuh begitu saja dan membasahi halaman novelku yang tengah dia baca layaknya tetesan air hujan. Aku melihat ke sekeliling untuk memastikan tak ada yang melihatnya melakukan pengrusakan barang dagangan lalu menariknya keluar dari sana.

Sejak kapan orang ini menjadi begitu cengeng? Selama masa sekolah aku tak pernah melihatnya menangis, dia orang yang begitu tegar dan periang. Apa sudah terjadi sesuatu yang tidak kuketahui? Atau apakah cintanya sudah sedemikian dalam sampai-sampai sedikit kenangan bahagia di masa lalu sanggup membuatnya menolak kenyataan? Ahh, ini terlalu berat untuk dipikirkan perutku yang lapar.

0 0
0
Post ini telah dihapus
AZURE (Cuma Cerita Fiksi)
28-11-2022 12:10
👍🏻 sangat bagus,
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
1 0
1
AZURE (Cuma Cerita Fiksi)
28-11-2022 15:05
Baca di *For You* lihat Azure kayak nama temen game online dlu waktu diwarnet.
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
AZURE (Cuma Cerita Fiksi)
28-11-2022 20:20

Bab 4

Quote:Untungnya dia tak melawan saat kusuruh menaiki motor. Tanpa berlama-lama lagi aku pun tancap gas dan membawanya pergi sejauh mungkin dari sumber kesedihannya. Selama perjalanan dia hanya diam, kedua tangannya melingkari pinggangku dan wajahnya sekali lagi dikuburkan ke punggungku. Bisa kurasakan bagian belakang pakaianku menjadi begitu basah. Padahal baju ini baru saja dicuci. Yeah, tak apalah, toh bukan aku yang cuci.

Dan sekarang, ke manakah aku harus pergi? Ke mana aku harus membawa korban patah hati ini? Di manakah tempat yang paling tepat untuk menyembuhkan patah hati? Di mana gerangan....

"Aku pesan nasi goreng pedas, dan tolong berikan pancake es krim untuk wanita yang sangat murung ini."

Restoran jaman sekarang benar-benar hebat. Dulu restoran hanya menyajikan makanan-makanan berat seperti ayam bakar atau bakso tapi sekarang sudah ada restoran yang menyediakan dessert, snack, bahkan minuman beralkohol. Tapi kenapa aku membawa Elicia ke sini? Pertama, aku lapar. Kedua, kurasa dia juga lapar. Kurasa itu alasan yang cukup untuk mampir ke restoran.

"Aku tak suka pancake," keluh Elicia yang sedari tadi terus memandangi lututnya.

"Kalau begitu makan es krimnya saja. Biar aku yang habiskan pancakenya."

".... Kenapa?"

"Apanya yang kenapa?" tanyaku balik, ini terasa déjà vu.

"Kenapa pancake es krim? Aku tak pernah bilang aku suka yang manis-manis."

Karena makanan sudah datang maka tak lagi mungkin untuk mengganti pesanan. Aku mengunyah satu suapan besar dan menikmatinya perlahan sampai mulutku kembali kosong sebelum menjawab pertanyaan itu.

"Katanya makanan manis bagus untuk meningkatkan mood."

Matanya yang mati itu menatapku selama beberapa detik sebelum akhirnya dia mengangkat sendok dan ikut makan. Selama beberapa menit setelahnya yang terdengar hanya suara sendok yang beradu dengan piring. Tak ada yang memulai pembicaraan, tapi aku bersyukur Elicia memakan semuanya sampai habis.

"Enak?" tanyaku yang sudah selesai makan lebih dulu. Kalau boleh jujur nasi gorengnya kurang enak, cuma pedas saja yang terasa.

"Lumayan," jawabnya pendek. "Thank you."

Apakah makanan manis itu benar-benar membuatnya merasa lebih baik? Kurasa begitu. Setidaknya dia sudah jauh lebih tenang sekarang, meskipun aura pekat masih menutupi matanya.

"Kenapa?" tanyanya kemudian setelah diam agak lama.

"Karena," jawabku. "Itu ketiga kalinya kau bertanya 'kenapa' hari ini. Kau tak bisa bertanya dengan SPOK? Tahu SPOK kan? Subjek Predikat Objek Keterangan. Aku bukan pembaca pikiran, aku tak akan tahu kalau kau bertanya cuma dengan satu kata."

"Kenapa kau tidak menulis apa-apa dua tahun ini?" koreksi Elicia, cepat dan tidak terduga.

"Ahh! Itu ya...."

Aku sebenarnya berharap dia menanyakan itu di chapter sebelumnya. Aku tadi sudah mempersiapkan jawaban, sayangnya jawaban itu tertinggal di toko buku.

"Apa sekarang kau sudah mengaku bahwa kau penggemarku?" tanyaku balik sembari mencoba mengingat jawaban yang telah terlupakan.

"Sifat narsistikmu itu menjijikkan. Jawab aja kenapa sih?"

"Okay, beri aku waktu."

Kesal lebih baik dibandingkan sedih, itu adalah pendapat pribadiku. Setidaknya jika aku membuat Elicia kesal maka dia bisa melupakan kesedihannya, namun jika sampai dia terlalu kesal nyawaku bisa dalam bahaya.

Tapi aku memang butuh waktu untuk menjawab itu. Kenapa ya? Kenapa aku berhenti menulis? Aku mencoba menanyakan pertanyaan itu pada diriku dua tahun yang lalu, dan itu membuatku semakin menderita.

Diubah oleh ih.sul
0 0
0
Halaman 1 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
misteri-rumah-susun
Stories from the Heart
mendaki-gunung-bunder
Heart to Heart
Copyright © 2023, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia