Female
Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
0
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/63513aa09f256411bc5187c3/fenomena-childfree-sebagai-pilihan-hidup-wanita-yang-bekerja
Dalam realita sosial, keluarga disebut sebagai pusat tumbuhnya generasi penerus bangsa yang berkarakter (Athiyah Warada, 2021).  Hal ini diikuti dengan kenyataan bahwa setiap dua insan yang menikah akan dihadapkan fase baru dimana sebagian besar mereka kelak melahirkan anak untuk mempertahankan garis keturunannya. Menikah dan memiliki anak menjadi salah satu hal penting dalam kehidupan sosial dan
Lapor Hansip
20-10-2022 19:10

Fenomena Childfree sebagai pilihan hidup Wanita yang bekerja

Dalam realita sosial, keluarga disebut sebagai pusat tumbuhnya generasi penerus bangsa yang berkarakter (Athiyah Warada, 2021).  Hal ini diikuti dengan kenyataan bahwa setiap dua insan yang menikah akan dihadapkan fase baru dimana sebagian besar mereka kelak melahirkan anak untuk mempertahankan garis keturunannya.

Menikah dan memiliki anak menjadi salah satu hal penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Pernikahan merupakan suatu siklus hubungan permanen antara laki-laki dan perempuan yang legal secara agama dan hukum serta terikat dengan peraturan tertentu (al., 2022)

Selain itu keluarga dan masyarakat mempunyai kecenderungan menganggap pernikahan yang tidak sempurna ditimbulkan dari suami istri yang tidak mempunyai anak. Terdapat banyak pemakluman mengapa pasangan tidak memiliki keturunan karena alasan tertentu. Diantaranya akan dapat dipahami jika pasangan ini memiliki kondisi yang secara alamiah tidak dapat menghasilkan keturunan. Kemudian penerimaan bisa jadi berbanding terbalik menjadi anggapan negatif jika yang diterima tidak demikian (Iskandar, 2019)

Childfree merupakan keputusan orang untuk tidak memiliki anak. Keputusan pasangan tersebut berdasarkan kesepakatan dan tidak dapat dicampuri oleh orang lain.

Istilah Childfree muncul dalam konteks Euro-Amerika pada akhir abad ke-20 sebagai alternatif yang mewakili langkah untuk melampaui negativitas yang melekat dalam gagasan menjadi childless. Selain itu, Childfree didefinisikan dalam literatur sebagai keputusan, keinginan dan rencana untuk tidak memiliki anak (Bimha & Chadwick, 2016). Definisi ini menjadikan childfree mengakui hak pilihan perempuan yang tidak merasa kehilangan karena tidak beranak. Sebagian besar penelitian tentang childfree adalah merupakan pengalaman, pengambilan keputusan, dan gaya hidup yang telah dilakukan dalam konteks Barat. Bertambahnya intensitas kesibukan manusia menjadikan akar kemunculan adanya fenomena baru, termasuk diantaranya adalah childfree.

Beberapa istilah yang pernah digunakan di antaranya childfree, childless dan voluntary childlessness. Menurut (McQuillan, 2013) keadaan belum memiliki anak ini dibedakan menjadi dua, yaitu involuntary childless dan voluntary childless. Involuntary childless yaitu suatu keadaan di mana pasangan belum memiliki anak dan nantinya berharap akan memiliki anak. Sedangkan, voluntary childless yaitu keadaan belum memiliki anak disebabkan karena beberapa hal,
misalnya lebih memikirkan karir.

Fenomena childfree tidak akan jauh dari peran pasangan yang mengambil keputusan mengenai hakhak reproduksi mereka. Hak-hak reproduksi sesuai dengan Konferensi Internasional tentang kependudukan menyatakan bahwa hak reproduksi mencakup hak asasi manusia tertentu yang telah diakui dalam hukum nasional, dokumen hak asasi manusia internasional, dan dokumen konsensus PBB lain yang relevan (Noor, 2018). Berbagai hak tersebut bertumpu pada pengakuan hak-hak dasar setiap pasangan dan individu untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab mengenai jumlah, jarak, serta waktu untuk memiliki anak

Dalam penelitian Thomas Frejka menyatakan bahwa di Amerika Serikat wanita tanpa anak usia 40 – 44 tahun meningkat dari 10% sekitar tahun 1980-an dan menjadi hampir 20% pada tahun 2000-an (Frejka, 2016). Kemudian Thomas Sabotka (peneliti dari Vienna Institute of Demography) menjelaskan bahwa orang yang tidak memiliki keinginan untuk memiliki keturunan bertambah setiap tahunnya, terutama pada negara – negara maju (Fathonah, 2021).

Berdasarkan laporan dari National Survey of Family Growth dikutip dari laman Good Doctor, tak kurang 15% wanita dan 24% laki-laki memutuskan untuk tidak memiliki anak (Abma, 2017). Sementara itu, di Kanada berdasarkan survei dari General Social Survey (GSS) padatahun 2001 mengungkap bahwa 7% orang di Kanada berusia 20-34 tahun, mewakili 434.000 orang menyatakan berniat tidak memiliki anak.

Menurut hasil penelitian (Ulfah & Mulyana, 2014) childfree pada wanita involuntary childless justru mengalami kepuasan hidup seperti adanya pengalaman menyenangkan, jarang merasakan afeksi positif dan sering merasakan afeksi negative. Penelitian ini juga menganggap bahwa orang yang menganut childfree tetap perlu mendapat pendampingan secara psikologis dan spiritual.

Tingkat pendidikan wanita adalah faktor terpenting dalam menentukan apakah ia akan berproduksi atau sebaliknya. Semakin tinggi tingkat pendidikannya, semakin kecil kemungkinannya untuk melahirkan anak (atau mungkin jika ia melakukannya, semakin sedikit anak yang kemungkinan besar ia miliki). Secara keseluruhan, para peneliti telah mengamati bahwa pasangan tanpa anak biasanya lebih berpendidikan. Dan karena ini mereka lebih mungkin untuk dipekerjakan dalam pekerjaan professional dan manajemen, lebih mungkin untuk mendapatkan pendapatan yang relatif tinggi.

Dituliskan juga bahwa secara statistic wanita berpendidikan tinggi diseluuruh dunia lebih sering memilih hidup tanpa anak secara sukarela. Temuan studi (Warren Waren dan Heili Pals, 2013) menegaskan tidak memiliki anak secara sukarela lebih umum terjadi pada wanita yang berpendidikan tinggi. Namun ini tidak berlaku pada pria dengan pendidikan tinggi.

Pengetahuan dan kesadaran seseorang akan mempengaruhi keputusan hidupnya untuk memiliki anak atau tidak, terutama pada wanita yang salah satu fungsi biologisnya memampukan untuk mengandung dan melahirkan. Pria, sebagai “Pendonor sperma”, lebih diharapkan untuk berkesadaran atas tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga, sebagai pendukung dan penunjang pasangannya, dan untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan sang anak.


Referensi

Lkp2m, A. (2022). Fenomena Childfree dan Prinsip Idealisme Keluarga Indonesia dalam Perspektif Mahasiswa. LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya, 11(1), 17–29. https://doi.org/10.18860/lorong.v11i1.2107

Marfia, S. M. (2022). Tren Childfree sebagai Pilihan Hidup Masyarakat Kontemporer Ditinjau dari Perspektif Pilihan Rasional. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. http://digilib.uinsby.ac.id/52657/

WHO. (2022). No Titlle. CHILDFREE BY CHOICE PADA WANITA BEKERJA, 8.5.2017, 2003–2005. https://www.who.int/news-room/fact-s...trum-disorders

https://books.google.co.id/books?id=...ehatan&f=false
0
Masuk untuk memberikan balasan
womens-health
Women’s Health
969 Anggota • 1.1K Threads
icon-hot-thread
Hot Threads
Copyright © 2023, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia