Story
Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
0
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/634be6c35602e20da26de6fd/mantan-senior-menjadi-musuhku-part-1
              Tidak ada yang membahagiakan hati saya selain menerima Perintah Operasi bergabung kembali dengan Pletonku yang sudah sebulan lebih aku tinggalkan.             Selama ini hati kecilku berteriak, aku dipanggil komandan tetapi tidak memiliki anggota sama artinya seekor induk ayam kehilangan anak. Sudah tentu gelisah dan gusar serta sempat berkecil hati, “mending jul
Lapor Hansip
16-10-2022 18:10

Mantan Senior menjadi musuhku (part 1)

              Tidak ada yang membahagiakan hati saya selain menerima Perintah Operasi bergabung kembali dengan Pletonku yang sudah sebulan lebih aku tinggalkan.
            Selama ini hati kecilku berteriak, aku dipanggil komandan tetapi tidak memiliki anggota sama artinya seekor induk ayam kehilangan anak. Sudah tentu gelisah dan gusar serta sempat berkecil hati, “mending julukan Komandan ini aku taruh diatas meja saja”, kata hatiku saat berputus asa.

            Tapi terkadang aku melihat rekan-rekanku yang sama-sama dipanggil dengan sebutan komandan, ketika tidak bersama anggotanya atau saat tidak memimpin pasukan, mereka bisa merasa nyaman bahkan seolah-olah terlepas dari beban.

            Menurutku itulah prilaku kepemimpinan yang salah, seharusnya mereka malu pada dirinya sendiri yang dipanggil dengan sebutan komandan tetapi tidak memimpin.

            Mungkin mereka dulu menjadi komandan karena rebutan jabatan sehingga wajar merasa beban ketika memimpin, sedangkan aku menyadari jabatanku adalah amanah dari Yang Maha Kuasa, yang harus aku pertanggungjawabkan dan tidak pernah menjadi beban memimpin pasukan karena aku yakin Dia bersamaku.

            “Dengan kondisimu saat ini, kamu harus lebih berhati-hati memimpin pasukan”, nasehat Pasiops kepadaku saat memberi perintah operasi.

            “Siap, Pasiops, saya akan laksanakan tugas semaksimal mungkin”, jawabku. Memang kondisi tubuhku tidak lagi sesempurna pertama kali aku datang ke medan pertempuran ini.

            Tiga butir proyektil yang pernah bersarang di kakiku masih membekas sehingga terkadang menghambat langkahku. Aku tidak lagi mampu berlari kencang dengan menggendong ransel dengan bekal yang penuh.

            Untuk satu kali perintah operasi patroli selama tujuh hari, setidaknya ranselku berbobot lebih dari dua puluh kilogram. Bahan makanan dan munisi cadangan yang memenuhi ranselku.

            Akupun mulai mengumpulkan anggotaku, dengan senang hati mereka mendengar kami telah mendapat perintah operasi. Memang kalau tidak melaksanakan tugas operasi kami merasa hidup tak berguna dan sesuai motivasi yang sering aku katakan kepada anggotaku “yang tak berguna akan digudangkan”, kata-kata inilah memicu semangat anggotaku dalam bertugas.

            Aku menjelaskan kepada anggotaku “hukuman terberat dalam hidup jika kita tidak lagi diberi tugas”. Pendapat ini aku simpulkan dari teori motivasi yang sering aku baca bahwa kebutuhan tertinggi itu adalah “eksistensi”, kalau keberadaan kita tidak dianggap itulah hukuman terberat sama dalam kehidupan prajurit, kalau tidak diberi tugas itulah hukuman terberat.

            “Perhatikan para anggota sekalian, saya barusan mendapat perintah untuk melaksanakan patroli tempur. Musuh yang kita hadapi belum diketahui posisi pastinya namun berdasar analisa kejadian mereka berkeliaran sekitar lokasi ini”, sambil aku menunjukkan suatu daerah yang tergambar di maket tempat aku menjelaskan perintah dan tentang musuh.

            “Kekuatan mereka tidak begitu besar namun diantara mereka ada disertir TNI sehingga secara kemampuan mereka sudah bisa membaca strategi dan taktik kita”, aku jelaskan kepada mereka bahwa musuh yang kami hadapi bukanlah sembarangan.

            Sebenarnya tokoh musuh yang aku kejar adalah seniorku sendiri. Beberapa tahun yang lalu dia melarikan diri dari kesatuannya dan bergabung dengan kelompok musuh.

            Aku cukup kenal baik dengan senior dua tingkat diatas aku itu. Secara intelektual dia cukup pintar dan piawai dalam menerapkan strategi dan taktik perang. Terkadang aku juga mencontoh taktik dia seperti menjebak musuh dalam bivak, menyerbu dari pohon dan banyak lagi yang aku dapati pelajaran taktik darinya.

            Aku tidak habis pikir kenapa dia membelot. Yang aku dengar dia tergiur oleh iming-iming musuh yang akan memberinya tahta dan bayaran yang jauh lebih besar dari gaji prajurit.

Terkadang aku berfikir, alangkah bodohnya ia yang berharap bintang nun jauh disana sedangkan lilin di dekat sudah dapat meneranginya, mungkin ia tidak lulus dari ujian keserakahan.

             Atau mungkin ia terlalu jenius dalam berhitung sehingga segala sesuatu ia perhitungkan dengan penjumlahan matematika, padahal banyak keajaiban yang Tuhan berikan yang tidak dapat dihitung dengan rumus matematika.

            “Musuh yang akan kita hadapi bukanlah orang sembarang”, secara detail aku menjelaskan kepada anggotaku.

            “Tetapi percayalah, tugas mulya yang di ridhoi Tuhan akan senantiasa di lindungi-Nya, jangan takut tetapi jangan takabur”, aku melanjutkan menjelaskan perintah yang akan kami laksanakan.

            “Ibu Pertiwi memanggil kita, besok pagi sebelum matahari terbit, kita langsung berangkat, siapkan segala perlengkapan Kalian”, perintahku kepada anggota.

            “Siap, Komandan”, jawab anggotaku serempak dengan kompak.

            Mereka menyiapkan segala peralatan dan perlengkapan tempur mereka masing-masing. Setelah semua peralatan dan perlengkapan disiapkan, tanpa dikomandoi mereka yang muslim melaksanakan yasinan, yang nasrani juga berdoa sesuai ajaran mereka masing-masing termasuk anggotaku yang beragama Hindu juga tidak pernah absen berdoa. Memang indah perbedaan dengan toleransi.

            Seluruh anggotaku sudah satu persatu terlelap dibarak, kebiasaanku terbangun tengah malam menjelang sholat malam, aku sempatkan melihat anggotaku yang terlelap. Ada yang tidur dengan gaya miring, terbaring dan bahkan ada juga yang betah terlungkup.

            Biasanya selimut mereka banyak yang tersingkap, kelambu yang malas dipasang, sudah menjadi tugasku memperbaiki selimut mereka bahkan aku tidak sungkan memasangkan kelambu untuk anggotaku yang malas memasang kelambu. Aku hanya menjaga mereka saat mereka terpulas dan mereka tidak akan pernah ragu mengamanku saat bertempur.

            Sesuai instruksiku, sebelum matahari terbit, kami berangkat patroli. Perlahan-lahan kami bergerak disaat kabut menutupi gerakan kami. Sasaran pertama gerakanku adalah sebuah puncak ketinggian yang sesuai rute patroli.

            Setapak demi setapak kami melangkah, bukan hanya karena beban ransel yang masih penuh dengan bobot yang cukup berat tetapi kondisi jalan yang cukup licin memaksa kami merangkak. Tidak jarang diantara kami terjatuh, tetapi karena kami memiliki teknik tersendiri sehingga kami dapat menduduki puncak ketinggian itu sebelum matahari terbit.

            Kami beristirahat diatas puncak itu, seperti biasanya anggotaku selalu mengamati situasi disekitar puncak itu.

            “Ijin, Dan, melaporkan disisi timur terlihat pondok yang mencurigakan”, anggotaku melaporkan.

            “Ada orang beraktifitas, gak?” tanyaku.

            “Kelihatannya ada, Dan. Terlihat asap dari pondok itu, kayaknya ada yang masak”, jawabnya.

            Memang patut dicurigai, jika ada orang yang beraktifitas di tengah hutan, apalagi di pagi hari, kemungkinan adanya musuh, karena masyarakat biasa sudah tentu masih di rumah.

            Aku mengikutinya untuk mengamati pondok itu. Ternyata benar adanya kepulan asap yang cukup besar dari pondok tersebut.

            Pondok kecil itu sepertinya hanya bisa untuk menampung untuk dua atau tiga orang saja, kalau mereka memasak tidak mungkin mengeluarkan asap yang sebesar itu.

            Kemungkinan penghuninya banyak tetapi tidak semua di pondok, pasti ada kelompok lain di luar pondok dan instingku mengatakan mereka mencoba mencari perhatian kami untuk dijebak.

            Apalagi posisi pondok berada di lembah, di seberang tepi jauh terdapat ketinggian juga. Analisaku musuh memancing pasukanku untuk mendatangi pondok itu dan mereka bisa membantai kami dari arah seberang.

            “Ijin, Dan, kayaknya ada orangnya, terdengar suara music”, anggotaku melaporkan.

            Dengan seksama aku mendengar suara tersebut, ternyata suara itu adalah nada ciri khas drumband Akmil yang dulu saat pendidikan di Magelang sering aku mainkan. Dan aku pastikan suara itu dari seniorku yang menjadi musuhku saat ini.

            “Waspadai, ini seperti jebakan, jangan terulang kejadian dulu”, aku peringati anggotaku karena kami dulu pernah terjebak saat berperang di hutan selama 21 hari.

             Kami semua tiarap dengan rapat di balik perlindungan sembari mengamati perkembangan situasi sambil menunggu terbitnya matahari.

            “Don, ambil kaca samaranmu, ikat dengan tali dan pelan-pelan naikan ke atas pohon itu”, aku memerintahkan anggotaku, Praka Dony untuk membuat pancingan musuh.

            “Siap, Dan”, jawabnya.

            Matahari mulai terbit, cahayanya tepat berhadapan dengan kami dan dengan jelas baru kami lihat adanya pondok yang mencurigakan di bawah ketinggian yang kami duduki.

            “Door”, suara tembakan menggema terdengar dari balik ketinggian. Kami tetap tiarap tanpa bergerak apapun.

            “Panggilkan Baton”, perintahku kepada ajudanku.

            “Siap, Dan”, jawabnya.

            Dengan merayap ajudanku menuju tempat Baton yang memang posisinya agak jauh dari posisiku.

            “Door, Door, Door”, tiga kali tembakan satu per satu mengarah kepada ajudanku yang sedang merayap.

            Aku menganalisa tembakan tersebut, sepertinya tembakan dari sniper musuh yang posisinya lebih tinggi atau sama tinggi dengan ketinggian yang kami duduki.

            Setelah bersusah payah, Baton berhasil merayap ke posisiku.

            “Baton, musuh yang kita hadapi miliki strategi dan taktik yang sama, kita harus cari siasat lain”, aku mengungkap analisaku, sementara sesekali musuh mengeluarkan tembakan untuk memancing aksi kami.

            “Siap, Danton”, Baton juga menilai sama denganku.

            “Saya akan maju sebagai umpan”, sebelum aku menjelaskan rencanaku, Baton langsung membantah.

            “Jangan, Danton, kami tidak mau terulang kejadian waktu di gua dulu”, dia mengingatkanku peristiwa dulu pernah aku mengelabuinya.

            “Jangan kuatir, yang berada di bawah hanya satu orang, dia adalah mantan senior saya, dia tidak akan serta merta akan membunuh saya”, aku coba meyakinkan Baton.

            “Tidak, Danton, Kita maju bersama, menang bersama atau mati bersama”, Baton belum bisa menerima pendapatku.

            “Ya, memang itu yang mereka inginkan, dan kita pasti kalah karena medan mereka yang kuasai”, aku jelaskan lagi.

            “Tapi kami tidak mau Danton jadi korban”, katanya.

            “Satu regu perintahkan melingkar ke kanan dan satu regu lagi ke kiri, sniper musuh akan menembak dua arah sehingga sniper kita bisa membidik posisi sniper musuh”, aku rincikan strategi yang akan kami lakukan.

            “Sisa pasukan, bagaimana Danton?”, tanyanya.

            “Sisa pasukan Baton pimpin maju setelah pasukan musuh yang mengepung kita sudah diatasi oleh dua regu tersebut”, jawabku.

            “Danton, kemana?” kembali dia bertanya.

            “Saya akan maju, kalau saya tidak maju justru mereka akan membaca taktik kita, karena saya dengan dia sepeguruan”, jelasku sambil menjelaskan kembali tentang mantan seniorku itu.

            “Ini yang tidak disetujui seluruh anggota, Komandan, mereka tidak mau kehilangan Komandan, saran saya kita perintahkan prajurit cakap saja yang maju”, saran Baton dengan pertimbangan prajurit cakap lebih energik karena memang mereka orang pilihan.

            “Ini perintah!, tidak ada saran setelah perintah”, kataku dengan tegas.

            “Siap, laksanakan”, hanya ada dua kata ini yang harus dijawab Baton. Batonpun dengan perasaan yang tidak menentu meneruskan perintahku kepada para Danru.

            Bukannya aku otoriter, aku selalu mengajak anggotaku untuk berdemokrasi tetapi ketika aku telah memberi perintah atau keputusan, mereka tidak boleh membantah sesuai sumpah kami saat dilantik menjadi prajurit.


profile-picture
profile-picture
profile-picture
dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Masuk untuk memberikan balasan
stories-from-the-heart
Stories from the Heart
25.8K Anggota • 29.6K Threads
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
misteri-rumah-susun
Stories from the Heart
seikat-mawar-yang-layu
Copyright © 2023, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia