Hobby
Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
0
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/632045a7e0fa787bbd67aa24/hidup-jangan-seperti-kera-bekerja-jangan-seperti-kerbau
"Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja." >>Buya Hamka<< Dari nasehat Buya Hamka itu saya menulis buku berjudul Hidup jangan seperti Kera, Bekerja jangan seperti Kerbau. Walau sedikit berbeda tetapi memiliki makna yang hampir sama. Terkadang orang berfikir hidup itu berakhir diliang kubur namun sejatinya hidup unt
Lapor Hansip
13-09-2022 15:56

Hidup jangan seperti Kera, Bekerja jangan seperti Kerbau

"Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja." >>Buya Hamka<<

Dari nasehat Buya Hamka itu saya menulis buku berjudul Hidup jangan seperti Kera, Bekerja jangan seperti Kerbau. Walau sedikit berbeda tetapi memiliki makna yang hampir sama.

Terkadang orang berfikir hidup itu berakhir diliang kubur namun sejatinya hidup untuk mengumpulkan pahala agar kelak dapat melanjutkan kehidupan di Surga setelah kematian. Liang kubur hanyalah tempat peristirahatan sementara bukan terakhir.

Sejatinya kita adalah mahkluk surga yang dilahirkan di bumi dan akan kembali ke Surga karenanya kita dituntut untuk senantiasa beribadah untuk mendapat tiket masuk surga. Namun masih ada yang enggan untuk beribadah maka menjadi pertanyaan apakah mereka berasal dari evolusi kera? karena hidupnya hanya untuk berhura-hura di dunia dan bahkan sebagian masih ada yang tidak percaya akan kehidupan setelah kematian.

Begitu pula dalam pekerjaan, banyak orang yang bekerja dengan giatnya namun hidupnya begitu-begitu saja, tidak ada peningkatan kesejahteraan. Adapula mendefiniskan bekerja hanya untuk mendapat rupiah padahal sebenarnya bekerja itu untuk mendapat berkah yang bisa dikonversikan menjadi pahala sehingga dapat menjadi tiket ke surga.

   Apa itu keberkahan? Sesuatu yang tidak dapat diukur secara kuantitas tetapi terukur secara kualitas. Sulit untuk didefinisikan tetapi setelah kita dapati baru bisa kita menyimpulkannya. Sebuah rumus yang mungkin secara ilmiah belum diuji karena saat penulisan buku ini, penulis belum selesai melakukan penelitian rumus ini.


Keberkahan sama dengan totalitas kerja ditambah keihklasan dan penjumlahannya dikurangi dengan penerimaan. Bila perhitungan ini menghasilkan angka positif, maka sejumlah itu juga keberkahan yang akan ia dapati dalam berbentuk penghasilan tidak terduga ataupun rejeki dalam bentuk lain yang tidak dapat dinominalkan.

Sedangkan bila perhitungan diatas menghasilkan nilai negative, maka kemungkinan besar pengeluaran tidak terduga harus ia keluarkan sejumlah nominal tersebut ataupun mungkin sesuatu yang terjadi menghabiskan finansial sejumlah nominal itu. Mungkin saja tidak seketika saat itu dikeluarkan bisa jadi berupa deposito pengeluaran dimana saat yang tepat akan terkuras seluruh harta yang tidak berkah itu. Hal ini hanya Tuhan yang Tahu.

Sebagai sebuah contoh, seorang pedagang bakso yang mana ia mendapat laba dari menjual setiap mangkok bakso tersebut sebesar Rp.1.000,-. Dalam sehari ia mampu menjual 100 mangkok bakso sehingga dalam sehari ia mendapat laba Rp.100.000,- dan sebulan sekitar Rp.3.000.000,-.

Totalitas kerja seorang tukang bakso ini mudah diukur karena jelas ia akan menjual semua dagangannya dengan maksimal. Berbagai cara ia lakukan demi terjualnya bakso tersebut. Namun untuk mengukur keihklasan sangatlah sulit diukur dengan angka, hanya dapat dirasakan dalam hati saja. Dan penilaian yang paling akurat hanya Tuhan yang mampu melakukannya karena Ia Maha Tahu.

Yang pasti, tidak ada keihklasan yang sampai pada 100% karena setiap orang berusaha akan menghadapi tantangan, hambatan maupun gangguan yang kerap melanda semangatnya dan terkadang berujung pada menurunnya keihklasan. Kepada Tuhan saja kita tidak ihklas terbukti kita menyembah-Nya dengan harapan semoga kelak ditempatkan di surga, kita berbuat baikpun berharap kelak akan datang karma baik pula. Kita peranggapkan tukang bakso tersebut hanya dapat 90% ihklas dalam bekerja.

Sesuai rumusan diatas, Keberkahan = (Totalitas + Keihklasan) – Penerimaan, maka kita dapat hitung Totalitasnya sama dengan penerimaan karena tukang bakso menghasilkan barang. Artinya Totalitasnya bisa mencapai 100% X Rp.3.000.000,= Rp.3.000.000,-. Sedangkan keihklasan = 90% X Rp.3.000.000,- = Rp.2.700.000,-. Bila dijumlahkan totalitas dan keihklasan maka mendapat nominal Rp.5.700.000,-. Untuk mendapat keberkahan nominal tersebut dikurangi penerimaan, Rp.5.700.000, - Rp.3.000.000, = Rp.2.300.000,-.

Artinya tukang bakso tersebut akan mendapat penghasilan tidak terduga sejumlah nominal tersebut ataupun terhindar dari pengeluaran tidak terduga sebesar nominal tersebut diatas.

Kita tidak pernah tahu, kapan kita mendapat penyakit dan berapa anggaran yang harus dikeluarkan, karena semua itu bagian dari rahasia Tuhan, tetapi kita harus yakin bila penghasilan kita berkah maka bala pun akan menjauh dari kita. Hal ini dapat diuji dalam perjalanan hidup kita selama ini.

Contoh yang kedua, seorang pejabat yang tiap bulannya menerima penerimaan sebesar Rp.10.000.000,-. Dalam bekerja ia hanya melakukan tugasnya seadanya dan tidak memanfaatkan segala potensi dirinya sehingga ia bisa dikatakan hanya sekedar memenuhi tuntutan tugas semata, padahal pada dirinya masih ada potensi yang dapat ia kembangkan.

Bila setelah bekerja ia merasa masih mampu melakukan yang lebih baik dan mungkin saja akan lebih baik dua kali lipat dari yang telah ia lakukan maka dapat kita nilai totalitas ia bekerja hanya 50% saja karena ia merasa masih tersisa potensi diri setelah bekerja yang belum diterapkannya. Jadi nilai totalitas kerjanya berarti 50% X Rp.10.000.000,= Rp.5.000.000,-.

Sedangkan keihklasan yang hanya dapat diukur oleh diri sendiri dan butuh kejujuran pada diri sendiri. Biasanya bila hanya memenuhi tuntutan tugas dimana ia berharap bila bekerja mendapat penghasilan yang pantas maka hal tersebut bisa dinilai keihklasannya pada angka nol karena yang namanya ihklas tanpa harus berharap imbalan.

Bila ia bekerja tanpa memandang penghasilannya, keihklasan dapat diukur seberapa seringnya ia mengeluh atas pekerjaannya. Jika sering mengeluh bisa saja dalam bekerja hanya ihklas 25% saja. Maka nilai keihklasannya adalah 25% X Rp.10.000.000, = Rp.2.500.000,-

Nilai keberkahan pejabat tersebut adalah Rp.5.000.000,(totalitas) + Rp.2.500.000, (keihklasan) – Rp.10.000.000, (penerimaan) = - Rp.2.500.000,-.

Perhitungan ini menghasilkan angka minus dimana pejabat tersebut akan mengeluarkan Rp.2.500.000,- dari penghasilannya untuk pengeluaran tidak terduga, bisa jadi membelanjakan barang yang sia-sia ataupun ia akan mengalami musibah yang mengeluarkan biaya sebesar tersebut.

Mungkin saja tidak langsung seketika saat itu harus terjadi, karena semua musibah Tuhan juga yang memberinya, tetapi yakinlah harta maupun tahta yang tidak berkah akan menjadi musibah bagi kita.

Dalam perhitungan ini sulit untuk mencapai nilai yang akurat karena sangat tergantung pada kejujuran dalam penilaian totalitas dan keihklasan serta hasil nilai keberkahan itu sendiri tetap menjadi rahasia Tuhan. Setidaknya dengan rumusan tersebut dapat dijadikan saran masukan untuk mengintropeksi diri terhadap kinerja kita.

Ada sepuluh komponen yang dapat meningkatkan totalitas dan keihklasan. Untuk meningkatkan totalitas dapat dilakukan dengan meningkatkan Dedikasi, Keuletan, Disiplin, Tanggung jawab, Penyesuaian diri, Kerja Sama dan Kemauan untuk maju. Sedangkan untuk meningkatkan keihklasan dapat dengan cara meningkatkan Ketaqwaan, Kejujuran dan Loyalitas.


Jangan seperti Kerbau, yang membajak sawah tanpa lelah tetapi hanya mendapat seonggok rumput saja. 
Hidup jangan seperti Kera, Bekerja jangan seperti Kerbau

0
Masuk untuk memberikan balasan
buku
Buku
2.7K Anggota • 8.5K Threads
icon-hot-thread
Hot Threads
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia