Story
Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
1
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6319b6e33415b75bca06e452/mati-sekarang-atau-lusa-sama-saja
Keringat dingin megucur deras dari kepalaku, tangan gemetar memegang kabel yang harus aku teliti, jika salah memutus kabel, bahan peledak yang didepanku pasti meledak belum lagi stopwatch yang terus berhitung mundur. "Praaak," sebuah tamparan mendarat dipipiku. spontan aku terkejut dan ternyata si pelatih galak yang punya nama Samson mendaratkan "kasih sayang nya" di pipiku. Ti
Lapor Hansip
08-09-2022 16:33

Mati sekarang atau lusa; Sama Saja

icon-verified-thread
Keringat dingin megucur deras dari kepalaku, tangan gemetar memegang kabel yang harus aku teliti, jika salah memutus kabel, bahan peledak yang didepanku pasti meledak belum lagi stopwatch yang terus berhitung mundur.

"Praaak," sebuah tamparan mendarat dipipiku. spontan aku terkejut dan ternyata si pelatih galak yang punya nama Samson mendaratkan "kasih sayang nya" di pipiku.

Tidak masuk akan bentuk "kasih sayang nya" berupa sebuah tamparan yang dapat memerahkan pipiku. tetapi sebagai seorang siswa yang disimbolkan timun dan pelatih yang dilambangkan durian, melawannya dari sisi mana saja tetaplah kalah.

 "Kasih sayang pelatih itu salah satu bentuknya adalah menampar siswa yang melakukan salah, jika pelatih hanya membiarkan siswa salah tandanya tidak sayang sama siswanya", ini alasan pembenaran yang pernah ia ucapkan.

Samson bukanlah orang yang berbadan besar dan kekar, secara fisik tidak pas diberi nama Samson karena secara fisik orangnya kecil, pendek dan hitam. Tetapi karena keahlian dan keberaniannya yang tidak ada bisa menandingi maka digelar Samson.

"Kamu tahu salahmu?", tanyanya kepadaku.
"Siap, tidak tahu", aku menjawab dengan jujur. karena memang aku tidak tahu kesalahanku dan aku masih proses menganalisa kabel itu untuk menjinakkan bahan peledak tersebut. 

sejujurnya aku belum pernah belajar secara detail tentang penjinakan bahan peledak, yang aku pelajari selama ini hanya menggunakannya.

"Kesalahanmu fatal, karena itu kamu harus menjadi mayat di sungai itu", dia memberi perintah kepadaku untuk berendam di sungai.

seperti yang sudah-sudah, hukuman itu sering aku alami. aku membuka baju dan celana, hanya pakaian dalam, helm dan sepatu saja yang aku kenakan. aku mulai masuk ke dalam air yang dinginnya luar biasa. karena daerah latihan yang digunakan di gunung yang ketinggiannya lebih dari 2500 mdpl.

"Mana ada mayat itu tenggelam, kamu harus mengapung biar bisa merenungi kesalahanmu", ia mengkritik tindakanku. akhirnya aku gunakan pelampung. aku berfikir tumben ia sedikit baik hati memberi aku sebuah pelampung.

tidak sekali ini aku menjadi mayat, kebiasaan si samson kalau ada siswa yang salah dalam latihan, selalu dihukum seperti mayat. Mulai dari dimasukan keranda untuk digiring sepanjang jalan latihan, ditanam di lubang dan hanya menyisakan kepala untuk bernafas dan sekarang aku dihukum menjadi mayat terapung.

Kalau sebentar sih gak terasa, tapi hukuman itu harus aku lalui berjam-jam. memang kekejamannya dalam menghukum tidak dapat diukur dengan tolok ukur keadilan. mungkin karena dia tidak pernah kuliah tentang hukum yang dia tahu hanya kesalahan apapun dalam latihan tempur, hukumannya hanya satu "jadi mayat".

"Berlatih itu tidak boleh salah, walaupun kesalahan itu sepele karena kesepelean itu yang kerap menghilangkan nyawa prajurit di medan tempur", dia pernah memberi arahan seperti ini. wajar saja dia sangat kejam dalam melatih.

"Sudah tahu belum salahmu?", kembali dia bertanya.
"Siap, terlambat memutus kabel pemicu ledak", aku menjawab setelah aku renungkan karena kelamaan menganalisa sehingga terlambat aku memutuskan kabel pemicu ledak dan Samsonlah yang memutuskan kabel tersebut sehingga bahan peledak tadi tidak jadi meledak.

"Berarti kamu belum tahu salahmu, renungkan lagi!" perintahnya.
"Siap", aku hanya menjawab singkat. dalam hati aku mengumpat karena sudah satu jam lebih mengapung di sungai dingin ini dan haripun mulai gelap.

pengalamanku kemarin ketika salah mengambil keputusan taktis, aku dihukum tiga jam menjadi mayat, "masa' kesalahan kecil ini harus aku tebus tiga jam juga?" batinku mulai berbisik untuk berontak. tapi namanya timun melawan durian tetap saja salah, mending aku nikmati hukuman ini sambil berfikir kesalahanku. sebenarnya kesalahan itu hanya satu, aku salah mengikuti pelatih, pelatih yang teramat galak ini membuat hari-hariku terasa di neraka.

Gigiku sudah bergetaran, jari-jari tangan ku lihat sudah mengkriput, petanda sebentar lagi aku pasti pingsan. aku coba bertahan dengan berfikir hidup dineraka sehingga pikiranku mengendalikan suhu tubuh, tetapi ternyata penipuan itu kurang berhasil. setelah empat jam berlalu, aku pun diperintahkan naik ke daratan. 

Samson memberiku semangkuk bubur dan secangkir teh hangat. Memang suatu kebiasaan Samson kalau habis menghukum pasti dia memberi sesuatu yang membuat siswanya melupakan perlakuannya tadi.

"Kamu sudah tahu kesalahanmu?" tanyanya lagi.
"siap Belum", aku langsung menjawab karena memang otakku sudah beku di sungai tadi dan malas mikir lagi.
"Kamu kelihatan ragu dan takut mengambil keputusan", itu kesalahan utamamu.
"Siap Salah", aku menyerah saja disalah-salahkan.

"Sebagai seorang Komadan Satuan Tempur, Ragu dan Takut adalah kesalahan fatal karena dua hal itu yang membunuh prajuritmu makanya kamu saya hukum berat", dia menjelaskannya kepadaku. aku hanya terdiam.

"Apa yang kamu takuti?" dia bertanya lagi.
"Siap, tidak ada yang saya takuti selain Tuhan", jawabku agak ketus karena dari tadi disalah-salahkan terus.
"Kenapa kamu ragu?" tanyanya.
"Siap Salah", kembali aku menjawab singkat karena malas berdebat.

"Kamu takut mati kan?" tanyanya.
"Siap", jawabku.
"Mati sekarang atau lusa, sama saja, yang membedakan kamu menjadi terhormat atau terhina tergantung alasannya", dia mulai menjelaskan.

Banyak pelajaran yang aku dapati dari nasehatnya, dia mengatakan kalau kematian itu pasti datang sehingga tidak boleh kita takut dengan kematian hanya saja untuk apa kita mati dan bagaimana kita mati akan menjadi penilaian terhormat atau hina. namun kedua penilaian itu hanyalah penilaian manusia saja. yang paling penting justru kehidupan setelah mati yang harus disiapkan agar kelak kita bisa menjadi nyaman. 

"Kuncinya ibadah jangan ditinggalkan", demikian akhir dari nasehatnya.
Walau dia sangat kejam, tetapi hatinya begitu mulya.
"Trima Kasih, Pelatih", kata hatiku sebelum dia meninggalkan ku sendiri.



 

 
profile-picture
memberi reputasi
1
Masuk untuk memberikan balasan
stories-from-the-heart
Stories from the Heart
25.8K Anggota • 29.6K Threads
Mati sekarang atau lusa; Sama Saja
08-09-2022 16:42
Memang iya
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
misteri-rumah-susun
Stories from the Heart
seikat-mawar-yang-layu
Copyright © 2023, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia