Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
15
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/628f3c92eaf33b556e1175b5/lisyana
" Lisyana, sayangku. Jika memang ini adalah jalanku untuk mengenalmu, aku terima..., Aku ikhlas sayang..", " Terima kasih untuk waktu yang singkat ini. Terima kasih untuk kenangan yang sebentar ini. Dan terima kasih juga untuk malam-malam indah kita berdua..", " Damailah di sana sayangku, cintaku, pujaan hatiku. Semoga kelak kita bertemu.. " Adam pun mencium nisan itu
Lapor Hansip
26-05-2022 15:38

LISYANA (Based On True Story)-Horror Romance !!!

LISYANA


Quote:" Lisyana, sayangku. Jika memang ini adalah jalanku untuk mengenalmu, aku terima..., Aku ikhlas sayang..",

" Terima kasih untuk waktu yang singkat ini. Terima kasih untuk kenangan yang sebentar ini. Dan terima kasih juga untuk malam-malam indah kita berdua..",

" Damailah di sana sayangku, cintaku, pujaan hatiku. Semoga kelak kita bertemu.. "

Adam pun mencium nisan itu untuk terakhir kalinya.

" Selamat tinggal sayang.. "


LISYANA


Salam jumpa kembali agan/aganwati penghuni Kaskus semuanya.
Salam sejahtera..

Seperti biasa kali ini ane mau share lagi sebuah pengalaman nyata. Tapi ane disini sebagai penulisnya aja, sedangkan narsum-nya yaitu sahabat "dumay" ane. Berbeda kota cukup jauh sama ane.

Intinya kita berdua belum pernah bertemu secara langsung, hanya rutin komunikasi via japri medsos aja.

Btw, puji syukur ini trit kelima ane ya gan, he..he..
Nama dan lokasi sudah ane samarkan yah.

Cekidot gan dan selamat membaca..

Indeks
Part#1
Part#2
Part#3
Part#4 (TAMAT)


LISYANA


Tok..tok..tok..
Terdengar suara ketukan di depan pintu.

Tok..tok..tok..
"Ibu, buka pintu bu.", terdengar suara memanggil.

Lalu seorang perempuan setengah baya berjalan pelan menuju pintu dan membukanya.

Begitu pintu terbuka,
Terlihat seorang pemuda berdiri di depan pintu sambil senyum-senyum cengengesan..

" Adam, kamu kok sekarang pulang ngojeknya malam terus sih ?", tanya bu Ningsih

" Tuh liat, udah jam sepuluh. Biasanya jam tujuh juga udah sampai rumah. Emangnya kemana dulu sih ?", tanyanya lagi.

" Nggak kok bu, gak kemana-mana. Cuma nongkrong dulu sama 'anak-anak', gitar-gitaran dulu di warung depan..", jawab Adam kepada ibunya.

" Ya udah, mandi dulu kamu sana, terus langsung makan malam. Udah ibu siapin di meja makan.",

" Ya bu..", jawab Adam singkat.

Adam pun segera berjalan menuju kamarnya.

Ibunya merasa heran dengan kelakuan Adam anaknya akhir-akhir ini. Tepatnya sudah dua minggu ini pulang selalu telat, dan kalau datang-datang suka senyum-senyum gak jelas seperti barusan itu.
Seperti sedang senang hati selalu anak itu..

Tapi yang membuat bu ningsih merasa aneh yaitu, ketika dia sampai dirumah, aroma bajunya selalu tercium bau melati yang menyengat.

Sejak kapan si Adam pakai parfum-parfum beraroma melati begitu ??, pikir bu Ningsih.

Hingga pernah tiga hari yang lalu bu ningsih mencoba memeriksa kamarnya. Tapi tidak menemukan parfum apa pun. Yang ada cuma deodorant saja. Karena memang yang bu ningsih tau, anaknya itu memang jarang pakai parfum. Cuma deodorant saja.

Dan yang lebih anehnya lagi, di kala bu ningsih sedang bertatap muka dengan Adam, dia selalu lupa untuk menanyakan perihal 'bau' itu...
Selalu seperti itu.
Ya.., sudah lah..


Perkenalkan..

Namanya Adam Saputra, anak kedua dari tiga bersaudara.
Kakaknya seorang perempuan, sudah menikah dan ikut dengan suaminya di luar kota.
Sedangkan adiknya laki-laki, masih berstatus pelajar SMP.
Jadi di rumah itu cuma tinggal bertiga, yaitu bu Ningsih, Adam dan adiknya.
Sedangkan bapaknya Adam sudah meninggal 5 tahun yang lalu.

Adam hanya lulusan SMK, lulus 3 tahun yang lalu. Dan sudah setahun ini dia menganggur, karena kontraknya di pabrik tidak di perpanjang.
Jadi sambil cari-cari pekerjaan lagi, adam mengisi waktunya dengan mengojek.
Ya, jadi ojek pangkalan.
Di tahun itu, tepatnya tahun 2007 belum ada namanya ojek online. Apalagi hp android.

Setiap jam tujuh pagi Adam berangkat menuju pangkalan ojeknya.
Lokasi pangkalan ojeknya berada di depan sebuah pasar tradisional.
Jarak dari rumahnya ke pangkalan itu kira-kira enam kilometer. Dan pasar tersebut berada di seberang dari kampungnya. Berbeda desa. Dan harus melewati sebuah jembatan besar yang juga sebagai pembatas antar dua desa. Jembatan Kalirogo namanya.

Rumah Adam ada di pinggiran kota. Yang suasananya masih asri, dikelilingi bukit, sungai yang masih bersih dan banyak pepohonan.


Jam lima sore..

Adam terlihat sedang bersenda gurau di pangkalan bersama kawan-kawan sesama ojeknya.
Di pangkalan sederhana itu ada lima orang yang menjadi membernya.
Pak Ade, Pak Bagus, Pak Dedi, mas Omet dan Adam sendiri.
Adam yang paling muda di antara mereka. Di atas Adam ada mas Omet.

Waktu berlalu dan senja di ufuk timur pun mulai terlihat kemerahan, tanda sang malam akan segera tiba.
Satu persatu mereka pun mulai beranjak pulang. Hingga di pangkalan itu hanya menyisakan Adam dan mas Omet saja.

Dan memang sehari-harinya hanya mas Omet yang "stay" di pangkalan itu sampai malam, berhubung rumahnya ada di dekat pasar itu, tepatnya di belakangnya. Sedangnya yang lain tinggal di desa seberang.

" Dam, kok tumben sih kamu sekarang-sekarang ini pulang malam melulu ?," Tanya mas Omet seraya menyeruput kopi hitam ditangannya yg sudah mulai dingin itu.

" Iya mas, soalnya sekarang aku punya langganan baru mas. Kebetulan searah dengan jalanku pulang. Jadi, sayang kalau gak di ambil. Lumayan..", Adam menyahuti.

" Oh begitu..", angguk mas Omet.

" Lalu, kamu jemputnya dimana dan jam berapa ? ",

" Aku jemputnya dia atas jembatan kalirogo itu loh mas, pas perbatasan desa. Pas jam 8 malam nanti..", jawab Adam.

" Oh disitu.., iya aku tahu Dam ", jawab mas Omet.

" Cowok atau cewek Dam ?? ", tanyanya lagi menyelidik.

" Cewek mas..hehe ", jawab Adam cengengesan.

" Jadi dia itu seorang Mahasiswi yang kuliah di pusat kota. Dan setiap jam 8 malam turun dari bus pas di jembatan itu untuk menunggu angkot rute ke rumahnya..", jelasnya.

" Ohhh.. pantes..., cewek toh..", celetuk mas Omet sedikit menggoda, yang membuat Adam senyam-senyum cengengesan lagi.

" Lalu Dam, ceritanya bagaimana kok bisa kamu ketemu dia dan jadi langganan ojek kamu ?," tanyanya lagi

" Jadi gini mas..., waktu itu kan pas aku pulang ngojek dari sini, aku itu gak langsung pulang. Tapi main dulu, sowan ke rumah temanku di kampung babakan sana..",

" Singkat cerita, Lalu aku pulang dari rumah temanku itu jam sepuluh malam. Nah.. begitu aku mau sampai di jembatan, dari jauh aku tuh ngeliat dia lagi mondar-mandir seperti orang gelisah. Posisi waktu itu tuh sudah jam sebelas malam mas. Jalanan juga sudah sepi banget... ",

" Begitu aku papasan dan melewati dia, gak tau kenapa pas di ujung jembatan tiba-tiba aku berhenti. Lalu gak lama aku pun putar motorku kebelakang mas dan pergi nyamperin ke tempat dia berdiri..",

" Pas di depan dia, aku pun bertanya sama dia 'sedang nunggu siapa?', dia bilang sedang nunggu angkot. dia bilang juga, biasanya dia nunggu disini itu jam 8 malam. Tapi kebetulan hari ini ada tugas kampus tambahan, jadi pulangnya agak telat dan baru sampai jembatan ini jam 10 malam tadi, jadi sudah setengah jam dia nunggu angkot di situ gak ada..",

" Aku tanya lagi 'memang pulangnya kemana ?'. Dia bilang ke kampung sukatani. Dan aku pun bilang ke dia kalau kita searah, cuma bersebelahan kampung aja. Dia sukatani, aku sukamakmur..",

" Akhirnya aku tawarin lah dia tumpangan mas.. ", kataku.

Ku lihat mas Omet serius sekali mendengarkan, sambil sesekali kepalanya manggut-manggut. Lalu membakar rokoknya lagi.


Lanjut lagi ceritanya..

" Awalnya dia ragu mas, mungkin karena takut ya, baru kenal kok udah ngajak-ngajak. Tapi akhirnya aku jelasin ke dia kalau aku justru yang takut dan gak tega kalau ninggalin dia sendirian disitu, mana cewek lagi, mana larut malam begini lagi, mana jalanan sudah sepi lagi. Takut ada orang jahat..",

" Aku jelaskan ke dia kalau jam segini angkot sudah gak ada yang lewat, yang ada berseliweran paling cuma ojek-ojek kayak kita gini mas, itu juga paling satu dua..",

"Dan setelah ku bujuk dengan susah payah akhirnya dia pun mau mengerti dan bersedia aku anterin..",

" Singkat cerita, selama perjalanan pulang kita berdua pun berkenalan satu sama lain dan ngobrol-ngobrol ringan. Hingga akhirnya kita pun sampai. Tapi dia hanya minta diturunkan di depan 'Gang'-nya aja, nggak sampai di depan rumahnya.. ",

" Aku bertanya 'memang rumahnya yang sebelah mana ?', dia jawab ' pas di ujung gang mentok, ada di sebelah kiri, yang bertingkat dua dan bercat kuning', jawabnya sambil tangannya bergerak-gerak menunjukkan arah..",

" Lalu sebelum dia pergi, aku menawarkan dia untuk menyimpan nomer hp ku, jika suatu saat darurat kemalaman lagi seperti tadi, jadi tinggal 'contact' aku aja. Kita pun akhirnya saling tukeran nomer hp.."

" Dan sampai dengan hari ini terus berlanjut, jemputnya malah jadi tiap hari deh mas.. ", kataku pada mas Omet menutup cerita.

" Jadi tiap hari ??, Maksudnya Dam..??", tanya mas Omet keheranan.

" Maksudnya sekarang aku sama dia sudah bukan sebatas tukang ojek dan penumpang lagi mas. Tapi sekarang sudah jadi Ojek Cinta... Hehehe", jawab Adam malu-malu.

" Oaaalaaahh.., iso ae kamu toh Dam Dam. Kalian jadian toh akhirnya. Gercep bener dam kamu iki. ", Ledek mas Omet.

" Pantesan aku liat-liat udah dua minggu ini kamu rajin bener ngojeknya. Full terus datang setiap hari kepangkalan. Semangat 45 dan ceria banget !. Biasanya kan kamu tuh ngojeknya belang-belang, kadang dua hari, tiga hari baru kesini lagi..", ledeknya lagi kepada Adam.

" Ngomong-ngomong siapa namanya Dam ? ",

" Namanya Lisy. Lisyana mas..", jawab Adam.

" Owhh.. nama yang bagus Dam..", sahut mas Omet.

" Semoga langgeng, semoga jodoh Dam..", timpalnya lagi
Aminnnn..

Tak terasa mereka berdua ngobrol sudah satu jam lebih.
Lalu Adam pun melihat jam tangannya, dan jam ternyata sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Itu tandanya dia harus bergegas berangkat untuk menjemput 'penumpang' barunya itu, di atas jembatan Kalirogo.

Adam pun segera pamit pergi duluan kepada mas Bagus, lalu memacu motornya meninggalkan pangkalan ojek itu.

Malam itu malam Jum'at, suasana agak mendung seperti mau turun hujan. Kilatan-kilatan petir tipis-tipis terlihat menghiasi langit yang gelap temaram.

Dari jauh sorot cahaya dari motor Adam menyinari seorang wanita yang sedang berdiri sendiri di ujung tepian jembatan itu, sambil menunduk memainkan hp ditangannya.

Begitu Adam berhenti di depannya. Seulas senyum yang manis pun terkembang dari bibir tipisnya.

Ya !!, dia adalah Lisyana.
Cewek yang tadi di ceritakannya itu kepada mas Omet.
Cewek yang menjadi api semangat dan keceriaan Adam selama dua minggu terakhir ini.

" Selamat malam Lisy..", sapa Adam.
" Selamat malam mas Adam..", jawab Lisy.
Senyum kemesraan terlihat saling berbalas dan begitu terpancar dari dua insan yang sedang di mabuk asmara ini.

Sebelum naik motor, dengan lembutnya Adam memakaikan helm ke kepala Lisy. Lalu mereka berdua pun meluncur pergi.

Jam baru menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Adam pun bertanya kepada Lisy, apakah langsung diantarkan pulang seperti biasa atau bagaimana ?. Tapi Lisy menjawab, kalau malam ini dan seterusnya dia ingin meluangkan waktu lebih lama bersama bersama Adam. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang hanya menghabiskan waktu di atas motor dalam perjalanan pulang saja.

Adam menanyakan sebabnya.
Lalu, Lisy menjawab kalau dua minggu lagi dia akan melaksanakan KKN dari kampusnya selama empat puluh lima hari. Dan dia bersama kelompoknya akan melaksanakan KKN di luar kota.
Otomatis selama KKN mereka berdua tidak akan bertemu selama sebulan lebih.

"Ohh begitu..", fikir Adam.
Akhirnya Adam pun mengerti alasannya.
Akhirnya mulai dari malam itu pun, mereka berdua selalu menghabiskan waktu bersama dahulu sebelum mengantar Lisy pulang. Entah itu makan di 'angkringan', pergi ke alun-alun, atau nonton ke bioskop di pinggiran kota.
Yang pasti setiap jam dua belas malam mereka harus sudah pulang.

Dan gak terasa, sudah hampir dua minggu mereka menghabiskan waktu untuk lebih bersama seperti itu..
Mereka berdua benar-benar menikmati kebersamaan ini. Seakan dunia milik mereka berdua. Benar-benar sedang berenang dalam indahnya lautan asmara dari dua insan yang saling menyayangi..

Dan depan 'Gang' itu menjadi saksi bisu besarnya cinta Lisy kepada Adam dan sebaliknya, dimana setiap mereka akan berpisah pulang, mereka selalu berpelukan dengan sangat eratnya dan saling mendaratkan ciuman sayang ke pipi, kening dan bibir masing-masing..

" Kita akan selalu bersama yah, apapun yang terjadi..", ucap Adam sambil menatap mata Lisy dengan tajamnya.

" Iya mas, aku akan selalu di sampingmu. Kamu selalu ada di hatiku, sekarang dan selamanya. Aku sayang kamu mas Adam..", balas Lisy dengan suara lembut.

Mereka pun kembali berpelukan.
Dan ketika berpelukan terdengarlah suara isakan tangis dari Lisy.
Adam pun melepaskan pelukannya dan bertanya kepada Lisy,

" Kenapa kamu kok nangis..?", tanya Adam

" Gak apa-apa mas.., aku cuma takut kehilangan kamu. Aku takut kita gak bisa ketemu lagi..?", jawab Lisy masih dengan sembari sesenggukan dan mata berkaca-kaca.

Adam pun merasa sedikit aneh dengan jawaban Lisy.

" Kok kamu ngomongnya begitu Lis ?",

" Kita kan baru jadian.., jangan bicara kayak gitu yah. Gak baik ah. Emangnya kamu mau kemana ?. Kamu kan cuma mau pergi KKN. Aku juga disini akan selalu setia menunggu kamu sayang..", ucap Adam.

" Kan cuma sebentar ini KKN-nya, aku kan gak sampai nunggu selamanya..hehe", tambahnya lagi mencairkan suasana.

" Kamu gak boleh sedih yah..",

" Ini kan malam "Anniversary" kita sebulan jadian. Harusnya kita happy. Jangan sedih ya. ", ucap Adam lagi.

" Iya mas, maaf..", sahut Lisy sambil sedikit mengembangkan senyumnya, walau tak bisa dipungkiri masih terlihat raut sedih yang mendalam di wajahnya.

Mereka berdua pun berpisah di 'Gang' itu.

Adam masih terus terduduk diatas motornya, masih terus memandangi Lisy yang jalan membelakanginya. Ada perasaan yang gak biasa yang dirasakan Adam malam ini. Perasaan aneh dan ada sedikit rasa sedih yang gak mendasar sedang menggelayuti hatinya saat ini.

Di ujung sana terlihat Lisy sedang membuka pintu gerbang rumahnya, lalu menengok ke arah Adam dan melambaikan tangannya. Adam pun membalas lambaiannya.
Tak lama Lisy pun terlihat masuk kerumahnya. Dan menghilang..

Adam pun mulai menyalakan motornya dan beranjak pulang.

Begitu sampai dirumah, di dalam kamar, Adam tidak sedikit pun bisa memejamkan matanya. Hatinya gelisah, gundah gulana karena perkataan Lisy tadi.
Terngiang-ngiang selalu dalam fikirannya.
Adam pun baru bisa terpejam ketika subuh hampir datang.

Bersambung...
Diubah oleh nanayes
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Masuk untuk memberikan balasan
stories-from-the-heart
Stories from the Heart
19K Anggota • 28.5K Threads
LISYANA
26-05-2022 15:45

Part#2

Tiga hari kemudian..

Tok..tok..tok
"Dam !, Dam !, Bangun. Jam berapa ini, kamu kok belum bangun ? ", teriak bu Ningsih di balik pintu.

Begitu pintu terbuka, terlihat wajah Adam yang kusut, lesu dan gak ada gairah.

" Kamu ini kenapa sih Dam ?, Kok udah tiga hari ini ibu lihat kamu itu males-malesan gini ?", tanya ibunya.

" Di kamar teruss..!, mandi nggak, berangkat ngojek juga nggak..",

" Kamu sakit Dam ? ",

" Nggak bu..", jawab Adam.

" Loh terus kenapa ?. Wong kamu biasanya ibu liat tiap hari tuh kemaren-kemaren kayak orang kesurupan kok. Semangat banget, ceria banget. Sekarang kok tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat..",

" Nggak apa-apa kok bu. Beneran deh. Aku cuma lagi males aja..", balas Adam dengan lesu.

" Ah kamu tuh, udah gede juga kok malah malas-malas aja di gedein. Gimana bisa nikah nanti Dam..Dam ! ", Jawab ibunya

Adam hanya bisa tertunduk lesu di ceramahin ibunya.

" Udah, ibu gak mau tau. Pokoknya kamu hari ini harus keluar sana, ngojek kek. Gak suka ibu ngeliat kamu malas-malas begini tiap hari !!",'

"Rebahan mulu kerjaannya !. Ibu lebih seneng ngeliat kamu yang kemarin. Walaupun kamu pulang larut malam melulu, tapi kamu selalu semangat ", cerocos bu Ningsih seakan tanpa henti.

" Iya..iya.. aku ngojek ", sahut Adam singkat

Dalam hati Adam, mendingan dia keluar rumah deh daripada seharian di rumah malah di ceramahin ibunya terus. Bisa keriting kuping.

Adam pun pergi mandi, sarapan, lalu berangkat dengan motornya.

Hari itu di pangkalan pun Adam terlihat mau tak mau mengangkut penumpang yang keluar dari pasar itu. Malah kebanyakan memberi jatah orderannya ke teman ojeknya yg lain.
Alhasil sampai menjelang magrib tiba, Adam cuma mengangkut tiga penumpang saja, yang seharusnya hari ini dia dapat jatah delapan atau sepuluh penumpang kalau saja nggak di berikan ke teman ojeknya yang lain.

Gelap pun tiba..
Satu persatu teman-teman pangkalannya beranjak pulang, dan seperti biasa hanya menyisakan Adam dan mas Omet.

Begitu pangkalan sepi, akhirnya Adam pun mencurahkan isi hatinya kepada mas Omet. Karena cuma mas Omet saja yang dia beri tahu tentang kisah dia dan Lisyana.

Adam pun mulai mengungkapkan kepada mas Omet, kalau keadaan dia hari ini malas-malasan begitu juga bukan tanpa alasan. Tapi ada sebabnya.

Jadi Adam pun mulai menuturkan ceritanya kepada mas Omet..

Jadi semenjak pertemuan dia dan Lisy terakhir kali itu, di malam Jum'at kemarin itu, sampai sekarang Adam 'lost contact' dengan Lisy.
Nomor hp-nya tidak bisa dihubungi, sms-pun tidak terkirim.

Dan waktu Adam coba untuk menjemput seperti biasa yang dia lakukan pun, dia tidak menemukan Lisy di jembatan itu. Bahkan, kemarin Adam coba menunggu di jembatan itu dari sore sampai hampir tengah malam.
Tapi, NIHIL !!!

Adam pun disini coba meminta saran kepada mas Omet untuk bagaimana mencari solusinya.

" Gini dam.., kamu tau kan rumahnya ?", tanya mas Omet.

" Kalau ke rumahnya sih belum pernah mas. Saya kalau nganterin dia cuma sampai di depan 'Gang' masuknya aja. Tapi saya tau kok posisi rumahnya, soalnya dari depan gang kelihatan kok pagarnya, gak jauh. Dia pernah ngasih tau.." jawab Adam.

" Ya pokoknya intinya kamu tau lah posisinya..",

" Nah, saran saya sih sekarang gini Dam. Kalau emang kamu punya keberanian, dan emang kamu bener-bener serius sama dia. Kira-kira kamu berani gak nyamperin kerumahnya ?", tanya mas Omet lagi.

Adam terlihat berfikir sejenak. Lalu menghela nafasnya dalam-dalam..

" Ya, aku sih berani-berani aja mas. Ya.. aku juga sayang dan serius sama dia kok walapun baru kenal dan baru jadian. Apalagi dalam keadaan bingung begini, apapun yang terjadi nanti aku ketemu sama orang tuanya misalnya, ya aku sih siap-siap aja..",

" Yang pasti sih kepinginanku saat ini cuma bisa ketemu dia, pingin tau keadaan dia. Aku kangen banget mas.." ucap Adam lirih.

" Yowis kalau gitu, aku saranin jangan lama-lama. Kalau bisa kamu besok pagi-pagi sekali perginya. Siapa tau Lisy-nya lagi ada dirumah kan, belum berangkat kuliah..", kata mas Omet menyarankan.

" Baiklah kalau begitu mas, besok pagi-pagi sekali aku berangkat. Matur suwun yo mas atas sarannya..", ucap Adam berterima kasih.

Adam pun pamit pulang kepada mas Omet. Lalu beranjak pergi dari pangkalan ojek itu.

Di dalam perjalanan pulang, begitu mendekati jembatan itu Adam dalam hatinya begitu mengharapkan cahaya lampu motornya menyinari sosok yang sedang dirindukannya itu..

Tapi, harapan cuma sebuah harapan belaka.
Di tempat biasanya Lisyana berdiri itu yang ditemui kini cuma ada kesepian, kekosongan dan hanya suara gemericik air sungai yang deras di bawah sana..

Di atas motor, Adam merasakan rindu, perih dan bingung tak terkira bercampur aduk menjadi satu..

Bersambung...
Diubah oleh nanayes
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
LISYANA
26-05-2022 15:49

Part#3

Esoknya..

Pagi begitu cerah, langit begitu biru terhampar..
Suara burung terdengar bagaikan nyanyian puji-pujian dari semesta.

Jam tujuh pagi.

Adam sudah terduduk sarapan di meja makan.
Dia sudah bangun dari tadi subuh, sudah mandi, sudah dandan rapi.
Dah pagi ini saatnya menjalankan 'misi'nya itu..

" Kamu mau kemana Dam pagi-pagi begini ?. Rapih dan wangi banget..", tanya ibunya heran.

" Ada deh.. 'kepo' aja ibu ini..", sahutnya santai.

Selesai sarapan, Adam pun cium tangan dan pamit ke ibunya. Lalu berangkat pergi dengan motornya.

Setengah jam kemudian Adam sampai di depan 'Gang' itu.
Ya.. gang menuju rumahnya Lisyana.

Adam berhenti sejenak disitu, menarik nafas panjang dan coba menenangkan hatinya. Karena dia merasa dadanya tiba-tiba dag dig dug gak karuan.
Tak terasa setetes keringat pun mengalir dari dahinya..

" Huft.. okeh !, Maju.. !! " ucapnya memotivasi diri sendiri.

Adam pun mulai memutar gas motornya pelan-pelan memasuki gang itu.
Satu persatu rumah di kiri-kanannya sudah terlewati.
Sampai gak seberapa lama dia pun tiba di ujung gang itu.
Adam pun berhenti di depan sebuah rumah bertingkat dua dan bercat kuning. Persis waktu itu yang di arahkan dan dibilang Lisy.

Rumah yang lumayan besar..

Adam pun turun dari motor, dan memencet tombol bel di samping pagar itu beberapa kali.
Tak berapa lama dari pintu rumah keluarlah seorang laki-laki sekitar umur empat puluh tahunan, ya kira-kira seumuran mas Omet lah.
Laki-laki itu pun nyamperin Adam ke depan gerbang.

" Ya, ada apa ya ?, Mau ketemu siapa ya ? ", Tanya laki-laki itu.

Awalnya Adam merasa gugup, tapi akhirnya dia bisa mengendalikan kegugupannya dan coba untuk menjawabnya santai.

" Maaf, perkenalkan mas. Nama saya Adam. saya dari kampung sebelah.." jawab Adam santun.

" Saya mau bertanya. Apakah benar ini rumahnya Lisyana ?", tanya Adam.

" Lisyana !? ", jawab mas-mas itu seperti sedikit terkejut.

" i..i..i..iya mas, Lisyana ", sahut Adam jadi terbata-bata karena jadi ikutan terkejut juga.

" Iya, memang betul ini rumahnya Lisyana..", jawabnya.

" Mohon maaf sebelumnya, adek ini siapa ?"

" Saya temannya mas..", jawab Adam.

Adam berfikir sejenak,

" Hmm.. teman kuliahnya ", Adam coba untuk sedikit berbohong.

Lalu seperti orang menyelidik, mas-mas di depannya itu memandangi Adam dari ujung kepala ke ujung kaki.

Tentu saja Adam merasa aneh dan risih dengan yang dilakukannya.

" Lah, kenapa nih orang coba ?", Pikir Adam dalam hati.

Lalu mas-mas itu pun mulai bertanya lagi.

" Terus ada keperluan apa adek kesini ?",

" Ehmmm, anu.. saya mau ketemu Lisy kalau ada ", sahut Adam.

" Loh, kalau adek ini teman kuliahnya, terus ngapain lagi kesini nanyain Lisy ?, mau ngeledek ya ! ", ucap mas-mas itu seperti sedikit kesal.

Degg !!
Loh kok jadi begini.. dalam hati Adam keheranan.
Ini orang kenapa ya, kok tiba-tiba ngegas gitu ?.

" Ma..maaf mas. Ini ada apa yah ?, Kan saya nanya baik-baik..",

" Saya kan cuma tanya apa betul ini rumah Lisyana. Itu aja kok..", ucap Adam.

" Iya, ini memang rumahnya Lisyana. Terus kamu mau apa datang-datang lagi kesini !! ", bentaknya lagi.

Mendengar ribut-ribut, dari arah pintu rumah keluarlah seorang perempuan setengah baya. Kira-kira umur lima puluh tahunan.

" Herman, ada apa pagi-pagi kok udah ribut-ribut aja !?", Hardik perempuan itu.

" Ini loh mbak, ada orang ngaku temen kuliahnya Lisy, nanyain-nanyain ini rumahnya Lisy apa bukan, terus mau ketemu sama Lisy katanya..", jawabnya

Lalu Ibu-ibu itu pun berjalan mendekati Adam dan mas-mas yang lagi sewot itu.

" Saya Ratih, ibunya Lisy ", ucapnya

" Dan ini adalah adik saya, Herman, pamannya Lisy ", sambil menunjuk ke arah mas-mas itu.

Lalu si ibu itu bertanya kepada Adam,

" Kamu sebenarnya siapa dek ?, jawab yang jujur. Karena kalau kamu teman kuliahnya Lisy pasti kamu gak akan datang kesini dan nanya-nanyain Lisy lagi ", tanya ibu itu menegaskan.

Loh..
Adam pun terkejut dan bingung mencerna kata-kata ibu itu barusan. Begitu sulit di mengerti.
Masa iya sih kalau hanya karena ada temannya mau maen aja, harus di introgasi kayak gini dulu ?

Adam masih terpaku dalam kebingungannya,

" Ayo, jawab yang jujur dek ? ", terdengar tanya dari ibu itu lagi yang memecah lamunan Adam.

" Kalau kamu jawab jujur, kamu boleh masuk ", ucapnya lagi.

Akhirnya dengan rasa enak dan tidak enak Adam pun menceritakan siapa sebenarnya dirinya di depan Ibu dan pamannya Lisy itu.

Kemudian tak lama, bu Ratih mengajak Adam masuk ke dalam rumah,

" Ayo masuk..", ajaknya

Adam pun mengikuti bu Ratih masuk kedalam rumah, lalu di ikuti oleh om Herman dari belakang setelah sebelumnya menutup pintu gerbangnya dulu.

Adam lalu di persilahkan duduk di sofa. Lalu mereka bertiga pun duduk di sofa ruang tamu itu.

Di ruang tamu itu, di atas dinding Adam melihat foto keluarga yang terpampang besar.
Ya, di dalam foto itu ada foto bu Ratih sebelah kanan, lalu ada foto Lisyana sebelah kiri, dan di tengah mungkin adalah ayahnya Lisy yang sedang posisi duduk di kursi kayu ala-ala eropa gitu.

" Jadi, kamu pacarnya Lisy ? ", tanya bu Ratih

" i..i..iya bu, kira-kira begitulah ? ", jawab Adam sungkan.

" Kalau kamu pacarnya, lalu selama ini kamu kemana aja ?, Kok sampai kamu gak tau apa yang terjadi.. ", tanyanya sengit

" Terus sekarang gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba kamu datang nanyain Lisy. Maksud kamu apa ?", tambahnya lagi.

Adam bingung,

" Maksudnya bagaimana bu ? ",

" Yang terjadi apa ? ", tanya Adam keheranan.

Sungguh, di hati adam sekarang yang ada cuma rasa heran dan bingung dengan semua ini.

" Memang kamu dan Lisy sudah berapa lama pacaran ?, dan terakhir ketemu kapan ? ", tanya bu Ratih menyelidik.

" Baru sebulan bu. Terakhir ketemu empat hari yang lalu ", jawab Adam

" Dia bilang minggu depan mau berangkat KKN. Tapi sudah empat hari ini nomor hp-nya tidak bisa di hubungi, di sms pun tidak di balas. Jadi saya beranikan diri buat datang kesini, karena saya merasa khawatir dia tiba-tiba putus kontak dengan saya..", tambah Adam lagi.

" Apa !!?, Kamu terakhir ketemu Lisy empat hari yang lalu ?? ", tanya Om Herman sedikit terperanjat.

Bu Ratih pun sama terkejutnya. Mereka berdua saling berpandangan heran. Lalu mereka berdua menatap Adam..

" Gak salah kamu Dam ? ", Giliran bu Ratih yang bertanya.

" Ah, nggak kok bu. memang empat hari yang lalu. Belum sampai seminggu ", jawab Adam.

Di depan Adam, bu Ratih terlihat sekejap menudukkan kepalanya dan menghela nafas panjang.

Hufftt..

Seketika lalu menatap wajah Adam dan berucap..

" Dam, ibu gak tau ini kamu lagi ngerjain kita atau main-main dengan kita berdua, itu ibu gak tau..",

" Tapi tolonglah Dam, ibu dan keluarga disini masih dalam keadaan bersedih hati, masih berkabung atas kepergian Lisyana anak ibu dan juga suami ibu..",

" Jadi, tolong lah pengertiannya Dam. Kalau memang keluarga kami ada salah sebelumnya sama Adam, tolong di maaf kan..", ucap bu Ratih memohon.

Degggggg !!!

" Apa..!!!! ", teriak Adam seraya terbangun dari duduknya.

" Ibu jangan main-main bu ! ",

" Saya punya buktinya bu ",

Lalu Adam mengeluarkan hp dari saku celananya dan kasih lihat isi sms-nya selama ini dengan Lisy kepada ibunya itu, yang di tanggapi oleh Om Herman.

Mereka berdua pun melihat isi sms itu dengan seksama.

" Itu benar kan nomer hp-nya Lisy ?, dan disitu juga ada percakapan saya dengan Lisy empat hari yang lalu sebelum nomer itu gak aktif. Disitu ada jam dan tanggalnya ", ucap Adam.

Setelah selesai membaca, terlihat mata bu Ratih mulai berkaca-kaca.

Adam pun kembali berkata,

" Kalau memang ibu berkeberatan saya menjadi pacarnya Lisy. Itu tak mengapa. Saya terima..",

" Saya tau kok saya ini cuma penganggur, saya cuma tukang ojek. Saya nyadar diri kok bu. Tapi jangan begini caranya. Jangan bikin drama kayak gini kepada saya bu.. ", ucap Adam sedikit kecewa.

Setelah Adam berkata begitu, bu Ratih pun bangkit dari duduknya, dia mulai menangis dan beranjak pergi ke kamarnya meninggalkan mereka berdua di ruang tamu itu.

Dalam hati, Adam menyesali telah berkata demikian kepada bu Ratih. Bukan maksud hati berkata begitu kepada orang tua. Tapi mungkin barusan karena sedikit terpengaruh oleh kekalutan dan kebingungan semata.

Lalu om Herman menyuruh Adam duduk kembali dan menenangkan diri.

Setelah Adam terlihat tenang barulah om Herman menceritakan kejadian sebenarnya..

Jadi, sebenarnya tepat hari ini Lisyana telah meninggal tiga bulan yang lalu. Dan dia meninggal dengan cara tidak wajar.
Yaitu bunuh diri.

Yaa..!! Bunuh diri.

Penyebabnya adalah Lisy kecewa dengan ayahnya yang dengan secara sepihak menjodohkan dia dengan seorang laki-laki yang tidak dia kenal dan tidak dia cintai. Padahal saat itu Lisy sudah punya pacar.

Usut punya usut, ternyata ayahnya Lisy terlilit hutang yang lumayan besar kepada rentenir. Lalu ayahnya itu akhirnya punya rencana untuk menjodohkan Lisy dengan anak dari koleganya yang lumayan lebih 'berada'.
Ayahnya berfikir, nanti kalau misalnya Lisy bisa nikah dengan anak dari koleganya itu pasti semua hutangnya kepada rentenir bisa lunas.

Tapi ternyata, nasib berkata lain.

Hari demi hari, pertengkaran antara Lisy dan ayahnya semakin menjadi, hingga ibunya yang selalu jadi penengah.

Hingga hari naas itu tiba..

Pagi itu Lisy seperti biasa pamit untuk pergi kuliah kepada ibunya. tapi hingga larut malam Lisy belum juga pulang.
Hp-nya tidak bisa dihubungi.
Sampai besoknya di susul ke kampusnya, semua teman kelasnya juga di tanyai. Tapi hasilnya nihil.

Dua hari kemudian orang tuanya Lisy pun melaporkan kehilangan anaknya itu ke kantor polisi. dan akhirnya menjadi berita orang hilang.

Dan tiga hari kemudian setelah mereka melapor, ada berita di temukan sesosok mayat perempuan tersangkut di pinggir sungai.
Keadaannya sudah tidak bisa dikenali lagi.

Beruntung di saku celana jeans mayat wanita itu, ada sebuah dompet. Setelah di konfirmasi di dalam dompet itu ternyata ada identitas KTP bernama Lisyana.

Polisi pun melakukan olah TKP. Dan hasilnya kemungkinan Lisyana bunuh diri dengan cara terjun dari jembatan kalirogo yang jaraknya kurang lebih dua kilometer dari posisi dia ditemukan. Di perkuat dengan hasil visum yang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan atau pun penganiayaan di tubuh Lisy, tapi murni karena kehabisan nafas karena tenggelam.

Kedua orang tuanya Lisy begitu terpukul atas kepergian anak perempuan satu-satunya itu, apalagi dengan cara yang tragis seperti itu.
Hingga pada akhirnya, dua bulan kemudian tak lama ayahnya pun menyusul, meninggal karena serangan 'stroke' yang tiba-tiba. Mungkin juga disebabkan karena tak kuat oleh beban fikiran atas rasa bersalahnya terhadap kepergian Lisyana.

Jadi sekarang, om Herman dan istrinya tinggal di rumah itu sementara untuk menemani kakaknya, yaitu bu Ratih. Sampai psikis beliau pulih.

" Jadi, begitulah ceritanya Dam.. " ucap om Herman menutup cerita.

Terlihat Adam begitu larut dalam keharuan mendengarkan cerita itu. Seakan semua ini adalah mimpi.

Mata Adam berkaca-kaca, hatinya hancur, fikirannya menerawang jauh. tapi di berusaha untuk tetap tegar dan tidak menangis.

" Ta..ta..tapi om. Bagaimana dengan sms ini, jika ini memang nomer hp-nya Lisy ? ",

" Siapa ini yang selama ini sms-an dengan saya ? ",

" Lalu siapa yang selama ini saya temui ? ", tanyanya kepada om Herman.

Om herman pun menjawab,

" Ya Dam, memang benar itu nomer hp-nya Lisy. Tapi, perkara siapa yang sms-an dengan kamu ya om juga gak tau dan gak mengerti..",

" Karena hp-nya Lisy tersebut tidak pernah di temukan dari saat kejadian. Entah itu hilang hanyut terbawa arus sungai atau hilang bagaimana, om juga gak tau. Yang pasti kami juga gak pernah bisa menghubungi nomer tersebut.. ", jawab om Herman.

Om Herman melihat raut kebimbangan pada wajah Adam. Seakan Adam masih tak percaya dengan apa yang di utarakannya.

" Dam, kalau memang kamu mau bukti, dan supaya kamu juga percaya kalau kami di sini gak mengada-ngada. Ayo.., om antar kamu ke makam Lisy kalau kamu mau?. Gak terlalu jauh kok dari sini ", ucapnya menawarkan.

Dengan tampang lesu dan mata masih berkaca-kaca, Adam pun menerima tawarannya.

" Baik om. Antarkan saya kalau semua ini adalah benar adanya.. ", pinta Adam.

Mereka berdua pun bangkit dari sofa.
Tapi sebelum mereka beranjak keluar, om Herman menunjuk foto keluarga yang tergantung di dinding itu.

" Benar itu Lisy yang selama ini menemani kamu ?", tanyanya meyakinkan.

" Betul om. Memang itu dia.. ", jawab Adam lirih.

Adam pun membonceng om Herman di belakang dengan motornya dan mereka berdua berangkat menuju makam Lisy yang disebutkan tadi.

Bersambung...
Diubah oleh nanayes
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
LISYANA
26-05-2022 15:52

Part#4 (Tamat)

Lima belas menit kemudian sampailah mereka di sebuah TPU. Setelah memakirkan motornya, mereka berdua pun segera menuju jejeran makam sebelah dalam.

Om Herman berjalan di posisi depan, sedangkan terlihat Adam mengikutinya beberapa meter dari belakang dengan wajah yang tertunduk.
Hatinya semakin pedih terasa gak karuan, hancur berkeping-keping. sakit sekali..

Hingga dilihatnya om Herman berhenti di suatu makam.

Makam itu masih terlihat baru, belum di semen. Masih berupa gundukan tanah yang di atasnya terlihat taburan bunga mawar yang sudah layu hitam mengering..

Om Herman melambaikan tangannya ke Adam dari jauh, dan menunjukkan jarinya ke arah makam itu.

Adam pun semakin tak karuan hatinya. Serasa makin sesak dadanya.
Air matanya sudah benar-benar serasa mau meleleh saja.

Dengan berjalan pelan dan sedikit gontai, adam pun mulai mendekati makam itu.
Begitu sampai, berlutut lah Adam di samping makam itu.
Matanya pun berpaling melihat tulisan di batu nisan itu. Dan tertera dengan jelas sebuah nama.

Ya, LISYANA..

Adam pun sudah tak bisa menahan air mata nya lagi.
Meledaklah tangis-nya di pusara kekasih 'singkat'nya itu..

Dia memeluk dan terlihat berkali-kali menciumi batu nisan itu, sambil terus saja berderai air mata..

Adam sudah gak mau berfikir apa-apa, sudah gak mau bicara apa-apa. Yang dia mau cuma menangis dan menangis, meluapkan semua kepedihan ini di depan pusara itu.

Om Herman yang melihat pemandangan itu di depan matanya, juga turut merasakan apa yang Adam sedang rasakan sekarang, tak terasa air matanya turut mengalir juga.

Mungkin sudah beberapa menit Adam seperti itu. Dan om Herman membiarkannya saja. Gak mau mengganggunya.
Biarlah dia puas menumpahkan semuanya..

Setelah tangis Adam mulai mereda. Om Herman pun berdiri dan memegang pundak Adam.

" Dam, yang sabar ya. Mungkin semua yang kamu alami ini juga adalah bagian dari rencana Tuhan. Yang mana mungkin kadang sulit di terima akal..", ucap om Herman

" Tapi, percayalah Dam. Di balik semua ini pasti ada rencana Tuhan yang baik di depannya buat kamu..", tambahnya lagi.

Adam pun menyeka matanya.

" Iya Om. Terima kasih.. " sahutnya.

" Ya sudah. Om tunggu di parkiran ya. Kalau kamu masih mau disini silahkan saja Dam.. ", katanya

" Iya om. Saya sebentar lagi nyusul..", balas Adam.

Om Herman pun berjalan ke parkiran meninggalkan Adam sendiri di situ.

Adam pun mengangkat kedua tangannya, berdoa. Lalu mengusapkan tangannya ke wajahnya.

Di pegangnya lagi batu nisan itu, dan di tatapnya.
Lalu Adam pun berbisik lirih ke nisan itu.

" Lisyana, sayangku. Jika memang ini adalah jalanku untuk mengenalmu, aku terima..., Aku ikhlas sayang..",

" Terima kasih untuk waktu yang singkat ini. Terima kasih untuk kenangan yang sebentar ini. Dan terima kasih juga untuk malam-malam indah kita berdua..",

" Damailah di sana sayangku, cintaku, pujaan hatiku. Semoga kelak kita bertemu.. "


Adam pun mencium nisan itu untuk terakhir kalinya.

" Selamat tinggal sayang.. "

Adam pun beranjak meninggalkan pusara itu, dan segera pulang kembali ke rumah bu Ratih dengan membonceng om Herman.

Begitu sampai di depan rumah. Om Herman pun turun dari motor.

" Dam, mampir dulu gak ? ", tanya om Herman.

" Nggak om. Makasih..", jawab Adam.

" Om, nanti tolong sampaikan permohonan maaf saya kepada bu Ratih ya. Maaf atas kata-kata saya tadi pagi.. ", ucap Adam.

" Oh iya Dam. Nanti om sampaikan..", sahutnya

Adam pun salaman dan berpamitan pada om Herman. Lalu kemudian beranjak pergi dengan motornya.

Sepanjang jalan, fikiran Adam di penuhi oleh kenangan-kenangan waktu bersama Lisyana.
Dan di sepanjang siang itu juga Adam berkeliling dan berhenti sejenak di tempat-tempat yang biasa mereka berdua singgahi..

Hingga petang pun tiba. Senja kemerahan mulai terlihat di atas langit sana. Seakan ikut menutup semua cerita tentang kisah Adam dan Lisyana ini..

Adam pun beranjak pulang.

Begitu sampai di depan pintu rumahnya, seperti biasa.. Adam mengetuk pintu itu, tapi kali ini tanpa memanggil ibu nya.

Gak seberapa lama, pintu pun terbuka.
Terlihat wajah ibunya di depan dia.

" Tumben udah pulang Dam ? ", Ucap ibunya.

Dan tanpa di duga, seketika itu juga Adam pun memeluk ibunya dan menangis di pundaknya...

** Tamat **


Demikianlah gan cerita yang ane tulis ini. Kurang lebihnya mohon maaf.
Semoga bisa menghibur.

Jangan lupa cendolnya ya gan..emoticon-Cendol Gan
Diubah oleh nanayes
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
LISYANA
27-05-2022 17:28
jejak dulu.
emoticon-Traveller
profile-picture
madjoeki memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
LISYANA
27-05-2022 20:00
Hmm, karna ane blum pernah baca, mantul gan
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
LISYANA
27-05-2022 20:32
nice reading gan, thank's ! masih berharap ada lanjutan kisah romantis 2 dunia emoticon-Recommended Seller
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
LISYANA
28-05-2022 08:49
Gssssss pertalite
0 0
0
LISYANA
31-05-2022 08:37
Lisyana saraswati...mirip nama yg kusematkan diotak utk bahan postingan ini
0 0
0
LISYANA
31-05-2022 20:34
Terus berkarya gan. Makin banyak karya akan semakin terasah kemampuan kita ...
0 0
0
LISYANA
31-05-2022 21:11
Nice gan, lanjut
0 0
0
LISYANA
31-05-2022 22:09
Ikutan sedih
0 0
0
LISYANA
02-06-2022 20:09
Adiknya isyana
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
seusai-fajar-di-penanjakan
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia