others
Pencarian Tidak Ditemukan
link has been copied
0
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/628e0b1c93715a6b750cf2f7/tumbal-minta-siang-warga-meronta
Tumbal Minta Siang Warga Meronta Karena banyaknya inbox yang masuk minta dilanjutkannya cerbung ini. Walaupun react belum sesuai target, maka ane putuskan untuk melanjutkannya. Tak menjawab. Perlahan ia mulai berdiri dan mencoba mendekat kearahku. Sontak saja, aku berdiri dan perlahan menghindar karena tidak ingin hal yang terjadi tadi siang terjadi lagi. Semua barang-barang di meja makan berhambu
Lapor Hansip
25-05-2022 17:55

Tumbal Minta Siang Warga Meronta

Tumbal Minta Siang Warga Meronta

Karena banyaknya inbox yang masuk minta dilanjutkannya cerbung ini. Walaupun react belum sesuai target, maka ane putuskan untuk melanjutkannya.
Tak menjawab.
Perlahan ia mulai berdiri dan mencoba mendekat kearahku. Sontak saja, aku berdiri dan perlahan menghindar karena tidak ingin hal yang terjadi tadi siang terjadi lagi.
Semua barang-barang di meja makan berhamburan. Kursi-kursi dengan mudahnya ia campakkan dengan satu tangan. Bola matanya kini berubah, tidak ada titik hitam yang ada di tengahnya. Putih keseluruhan.
Aku mencoba berlindung dari berbagai barang yang ia lemparkan. Dengan sesekali berteriak minta tolong.
Tak lama.
Beberapa warga yang mendengar langsung datang ke rumah dan mencoba memegangi istriku. Ia terus meronta, hingga beberapa orang yang terus memeganginya sempat beberapa kali terpental.
Pak Cahyo. Dia salah satu orang yang cukup dituakan di daerah sini, langsung menyemburkan bawang putih yang sebelumnya dikunyah terlebih dahulu. Seketika, istriku tersadang dan kebingungan melihat sekelilingnya.

"Bu ... ibu sudah sadar?" tanyaku sembari menghapus keringat yang membasahi keningnya.
"Ada apa, Yah? Kenapa ramai sekali?"
"Sudah tidak usah dipikirkan. Ibu istrahat saja."

Beberapa warga langsung membantuku mengangkatnya ke dalam kamar. Tubuhnya terlihat lemah, sangat lemah. Kasihan istriku. Anak dan ibuku pun langsung keluar kamar karena merasa keadaan sudah cukup tenang. Wajah kedua anakku terlihat sangat ketakutan. Bahkan, mereka tidak ingin melihat ibunya yang kini sudah terbaring lemah di kamar. Bukan karena benci, tapi rasa takut yang terus menghantui mereka.
.
"Kamu harus kuat, Nak," ucap Pak Cahyo mengejutkanku.
"Kuat? Kuat yang seperti apa, Pak?"
"Jiwa istrimu sedang diinginkan makhluk lain. Dan dia tidak akan berhenti sampai benar-benar bisa mendapatkannya."
"Makhluk lain? Setan maksudnya?"
"Ya. Lebih tepatnya iblis wanita yang menjadi pesugihan keluargamu."
"Keluargaku? Siapa?"
"Sudahlah, Nak. Aku tidak berani mengungkapkannya saat ini. Kalau memang kamu ingin tahu, besok datanglah ke rumah. Tapi ingat, malam ini jangan biarkan lagi istrimu sendirian. Jiwanya yang tertekan, membuat iblis itu dengan mudah dapat merasukinya."
"Baiklah, Pak. Terima kasih banyak atas bantuannya. Besok saya akan datang ke rumah."
"Ya, Nak. Saya pulang dulu."
"Ya, Pak."

Malam ini.
Aku menuruh anak-anak tidur di kamar bersama Neneknya. Biar mereka merasa tenang. Sedangkan aku, tidur di kamar Nana bersama istriku. Sekalian menjaganya.
Malam pun semakin larut.
Tepat pukul 02:00.
Aku mendengar ada suara yang aneh dari arah ruang tamu. Suara itu, seperti suara seorang wanita yang sedang bernyanyi. Suaranya begitu jelas terdengar dan entah dengan bahasa apa. Berkali-kali, kucoba mengacuhkannya dan berusaha memejamkan mata ini. Tapi tetap tidak bisa. Suara itu semakin jelas dan mengganggu ketenanganku.
Baiklah. Akan kucoba melihat siapa yang sedang bernyanyi tengah malam seperti ini.
Perlahan, kucoba turun dari tempat tidur dan menuju pintu kamar. Pintu kamar yang langsung berhadapan dengan ruang tamu, memudahkan aku meningtip.
Terus, suara itu terus berdendang dan membuat kudukku seakan semakin tebal. Pasti, itu pasti sosok yang sering dikatakan anakku. Aku harus melihatnya.
Setelah membuka sedikit pintu kamar, diantara kegelapan ruang tamu yang lampunya masih mati aku melihat ada seseorang yang sedang duduk membelakangi. Ia duduk sambil menyisir rambut dengan jari-jarinya. Cahaya lampu teras yang tembus ke ruang tamu, membuat sosok itu agak jelas terlihat.

Semakin dekat.
Aku mencoba terus melangkahkan kaki ini yang ikut bergetar. Wanita berambut panjang itu, hanya terus bernyanyi sambil menyisir rambutnya. Dengan menghela napas berkali-kali, dengan upaya menenangkan diri.
Aku mencoba menyapanya.

"Kamu siapa? Bagaimana bisa masuk ke rumah ini?" tanyaku.

Diam.
Ia hanya diam sambil bernyanyi. Karena tak ada jawaban, aku mencoba berjalan mendekati dan berjalan dari sampingnya untuk melihat wajah. Kini, aku tepat berada di samping kanannya. Semakin kencang. Jantu ini semakin kencang berdetak.
Akhirnya. Aku benar-benar melihat wajah iblis itu. Ia memutar kepalanya ke arahku dan menunjukkan wajah kering dengan mulut terkoyak hingga mencapai telinga.
Sontak. Aku berteriak dan berlari kembali menuju ke kamar.
Kututup pintu kamar dan mengunci rapat-rapat. Anehnya, saat aku membalikkan tubuh ke arah tempat tidur. Di sana istriku sudah berdiri di atas tempat tidur dengan mata masih tertutup.
Apa yang terjadi? Ternyata ia kerasukan lagi. Tapi beda, kali ini ia hanya diam dengan mata tertutup. Aneh. Setelah kudekati, aku mencoba memegang tangannya untuk menyadarkan.

"Bu ... ini ayah. Sadarlah," ucapku sembari berkali-kali menggoyang tangannya.

Diam.
Ia hanya diam dan perlahan melayang hingga kepalanya terbentur ke langi-langit rumah. Keras. Kepala itu terbentur sangat keras hingga berkali-kali. Bahkan, aku yang coba memeganginya juga ikut terangkat.
Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Berteriak membangunkan ibu, sementara di luar pintu sana masih ada sosok menakutkan itu yang terus mengetuk pintu dengan kerasnya.
Ya, Allah.
Apa yang harus aku lakukan?
Lebih baik, aku saja yang merasakan ini. Jangan dia. Ucapku dalam hati.
Tak lama.
Aku mendengar suara kecil memanggilku dari arah belakang. "Ayah ... tolong selamatkan ibu. Tolong Ayah ...."
Ya, itu suara Nana. Anakku yang baru saja meninggal. Tapi darimana suara itu? Mengapa aku tidak melihatnya?
Terus.
Aku terus mencari asal suaranya dengan melihat sekeliling kamar. Ternyata benar, itu Nana. Dia sedang berdiri di samping lemari kamar sambil memandangiku.

"Nak ... itu kamu? Kenapa kamu ada di sini, Nak?" tanyaku sambil sesekali menghapus air mata.

Kemudian.
Ia menunjuk ke arah istriku yang masih membenturkan kepalanya ke langi-langit rumah. Tak lama ia menunjuk, istriku pun terjatuh pingsan tepat di atas tempat tidur.
Seketika itu juga, Nana pun menghilang.
Malam itu, semua kembali tenang hingga pagi menjelang. Anehnya, saat pagi anak dan ibuku tidak mendengar apapun yang terjadi tadi malam. Mereka sangat nyenyak tertidur.

Setelah selesai sarapan.
Aku pun langsung menuju rumah PaK Cahyo. Bukan untuk bertanya soal keluargaku, tapi untuk melayat. Karena pagi tadi, ia ditemukan sudah tewas terbaring di jalan oleh warga yang akan melaksanakan shalat subuh.
Tapi aku belum tahu, penyebab pasti meninggalnya Pak Cahyo.

Gaya modern
Tidak ada hak cipta
0
Masuk untuk memberikan balasan
komunitas-cerpen-cerbung-kaskus
Komunitas Cerpen Cerbung Kaskus
113 Anggota • 89 Threads
icon-hot-thread
Hot Threads
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia