Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
45
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/628b46086727d061c976a514/real-story-mengenang-perjuanganku-di-zaman-bukan-penjajahan
Halo, kawan! Akhirnya aku nulis lagi di sini. Mungkin ini bakalan jadi thread terakhir aku di Kaskus. Aku nulis ini untuk mengenang masa perjuanganku awal masuk dunia kerja. Mungkin bakalan panjang, tapi aku akan tulis semua yang kuingat, biar menjadi kenangan di masa tua nanti. Oke, tulisan ini adalah murni kisahku, tanpa adanya tambahan drama, karena memang perjalananku sendiri sudah penuh denga
Lapor Hansip
23-05-2022 15:30

(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan

icon-verified-thread
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan




Halo, kawan! Akhirnya aku nulis lagi di sini. Mungkin ini bakalan jadi thread terakhir aku di Kaskus. Aku nulis ini untuk mengenang masa perjuanganku awal masuk dunia kerja. Mungkin bakalan panjang, tapi aku akan tulis semua yang kuingat, biar menjadi kenangan di masa tua nanti.

Oke, tulisan ini adalah murni kisahku, tanpa adanya tambahan drama, karena memang perjalananku sendiri sudah penuh dengan drama, wkwk. Justru karena kisahku ini banyak drama dan unik, jadi harus dikenang. Kalo kisahku lempeng, ngapain juga aku capek nulis dan mengenang? Ya, nggak? Jadi, ini asli, no kawe kawe!

Jadi, namaku Yeni, rumah asalku Ngawi, Jawa Timur. Berasal dari keluarga sederhana, jadi aku putus sekolah. Sekitar tahun 2014 (kalo nggak salah), aku pertama kali merantau ke Sidoarjo. Jadi, awalnya temenku yang bernama Budi (nama asli), dia manas-manasin aku karena dah berhasil diterima di sebuah pabrik chiky (Siantar Top, Sidoarjo). Aku nanya dia, ada lowongan nggak. Dia jawab ada, tapi aku harus datang sendiri ke sana. Dia nggak bisa jemput atau ngantar. Dia bilang syaratnya bawa ft ijasah, ft ktp, skck, surat sehat dan pas foto. Ya ampun, banyak sangat. Pusing lah aku.

Akhirnya aku ijin emak dan abang buat pergi ke Sidoarjo. Walau mereka sempat kuatir karena aku mau kerja di pabrik. Takut kalo aku sakit gada yang rawat, harus nyari makan sendiri, blablabla. Mereka malah nyaranin aku jadi Tkw karena tetangga ada yang ke sana, jadi ntar ada barengannya. Lah? Mengsedih sangad!

Ogahlah aku jadi Tkw, takut diperkaos, wkwk. Akhirnya dengan sedikit memaksa, aku diijinin buat ke Sidoarjo. Kebetulan tetangga ada yang merantau juga di Surabaya, jadi nanti sementara aku tidur di kontrakan dia. Aku seret abangku buat nganterin ke polsek dan puskesmas di kecamatan, bikin skck dan surat sehat.

Setelah semua dokumen dan perlengkapan beres, berangkatlah aku. Emak super duper baek banget, aku dikasih uang saku 800rb, patungan sama abang. Cukuplah buat hidup sebulan di kota orang.

Sampai di Surabaya, aku bermalam di kontrakan temen (tetangga) tadi. Dia ngontrak bareng suaminya, jadi agak sungkan juga sih kalo malem tidur bertiga. Untung tidurnya di lantai. Kalo di ranjang, bisa-bisa jadi pelakor, aku. Fiuh!

Aku hubungi lagi si Budi. Aku bilang ke dia bahwa aku udah sampai di Surabaya. Dia agak syok, nggak nyangka kalau aku bakal senekat itu. Iyalah nekad, daripada di rumah ntar buru-buru dikimpoiin. Ogah banget!

Aku nanya sedetailnya, di mana aku harus ngelamar kerja, sebutin alamatnya dan ke sana lewat mana (harus naik apa). Dia jelasin semuanya lewat telepon, tapi dia agak nggak yakin gitu kalo aku bakalan berani atau berhasil nemuin kantor/PT nya.

Bermodal nekad, besoknya aku langsung nyegat angkot ke Sidoarjo. Tentunya sambil bawa berkas-berkas dokumen. Waktu itu aku disuruh naik angkot warna biru muda jurusan Sedati. Berhenti di pom bensin Sedati, trus jalan ke arah barat sekitar satu kilometer. Arah ke sana nggak dilewati angkot, jadi harus jalan kaki. Itu yang dia bilang. Aku harus nyari PT SIR.

Oke, aku ikuti semua yang dia bilang. Walaupun panas-panas, aku berhasil jalan sampai ke sana. Aku nanya-nanya ke penjual minuman di pinggir jalan, ketemulah itu si PT SIR. Ternyata letak rukonya di deretan agak ke belakang gitu, jauh dari jalan.

Sesampai di sana, kok sepi? Katanya ada lowongan? Jangan-jangan ditipu aku! Fiuh!

Akhirnya aku nanya sama security di situ dan langsung disuruh masuk ketemu sama hrd-nya. Alhamdulilah. Sampai di dalem, aku serahin dokumenku ke mbak-mbak hrd.

"Loh, ini surat lamarannya mana? Kok nggak ada?" tanya si mbak.

"Loh, pakai surat lamaran ya, Buk?"

"Iyalah pake. Masa ngelamar kerja nggak pake surat lamaran. Daftar riwayat hidupnya juga nggak ada!"

Waduh, mampus ini. Si Budi nggak bilang sih harus pake surat lamaran juga. Akunya juga beg* nggak mikir kalo ini tuh ngelamar kerja, jadi harus pake surat, wkwk. Apes memang.

"Aduh, maaf ya Bu, saya lupa."

"Yaudah, kamu pulang aja dulu. Besok ke sini lagi bawa persyaratan lengkap, ya."

"Iya, Bu."

MENGSEDIH! Ibu itu seenaknya nyuruh aku pulang, buat balik lagi besok. Tanpa dia tahu kalo aku ini nggak punya rumah, hiks! Tempat singgahku jauh di Surabaya. 😢


Nggak mau balik ke Surabaya dengan harapan kosong, aku pun nekad jalan-jalan di sekitar pom bensin Sedati. Nyari kost-kostan ceritanya. Setelah jalan dan nanya-nanya ke sana kemari akhirnya aku nemu kost di daerah Sedati Gede kalo nggak salah. Pokoknya seingatku, aku masuk gang masjid kiri jalan kalau dari arah selatan.

Aku nemu kost-an kosong sepetak pinggir jalan, waktu itu sewanya 200rb perbulan. Udah ada ranjang plus kasur. Okelah, langsung kubayar 200rb di muka. Aku nyari tahu sedikit, jadi kost-an itu ada 4 kamar berderet. Kamarku nomor dua dari depan. Sebelah kiriku dihuni seorang bapak-bapak (menjurus ke kakek karena rambut pada ubanan), sebelah kananku ibu dengan dua anaknya (nggak tau ada suaminya atau enggak), trus kamar paling ujung gembokan, nggak tahu siapa yang menghuni.

Fyi, aku cuma semingguan kost di sini. Ada satu dan lain hal kenapa aku harus pindah dari sini. Lengkapnya, nanti diceritain.

Oke, singkatnya aku balik ke Surabaya, pamitan ama temenku dan membawa barang-barang untuk pindah ke kost yang baru. Keesokan harinya aku datang ke PT SIR dengan membawa dokumen lengkap. Si mbak hrd bilang aku suruh nunggu panggilan di hari kamis jam tigaan. Kalau keterima, bakalan ditelepon. Akhirnya aku pulang ke kost an dan istirahat, nyuci baju dan lain-lain. Sambil ngobrol-ngobrol sama ibu penghuni kost sebelah.

Ketika aku sedang sendirian di kamar (pintu kamar kubuka karena panas nggak ada kipas), tetiba datanglah bapak-bapak kost sebelah. Beliau nanya-nyanya.

"Mau kerja di pabrik ya, Nduk?"

"Nggeh, Pak."

(Note : aslinya semua percakapan dalam bahasa Jawa Suroboyoan, tapi aku ogah translate, jadi langsung pake bahasa Indonesia aja)

"Udah keterima?"

"Belum, Pak. Nunggu panggilan besok."

"Nduk, Nduk, kerja di pabrik itu berat loh. Badan kamu kecil gitu mana sanggup kerja di pabrik."

Dih, menghina sangad. Iya, emang badanku kecil, tapi aku akan berusaha kok, hiks!

"Ya, nanti aku coba dulu, Pak. Kuat atau enggaknya."

"Itu anaknya si anu kemaren aja kerja di pabrik baru seminggu nggak kuat, sampe diopname loh."

Lah, si bapak malah nakutin. Kok sampai opname, memang kerjanya kayak apa? Benar-benar bikin bimbang galau gegana ini mbah-mbah tua.

Aku cuma ber "oh", "nggeh toh?" dalam menanggapi si bapak. Nggak mau berkomentar lebih. Aku udah nekad dan nggak ada yang bisa menggoyahkanku!

"Daripada kamu capek-capek kerja di pabrik, mending kamu ikut aku aja."

Lah?

"Mengko yen kowe gelem melu aku, separo bondoku tak walik ning atas namamu. Aku nduwe omah akeh. Meluo aku, ngramut aku, ngancani uripku. Aku sek legan loh, Nduk."

Lah, si mbah mengerikan sangad! 😳
Aku arep dipek bojo! 😭



Percakapan itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Malamnya aku nggak bisa tidur. Ketakutan, gaes!

Tak sabar menunggu esok hari saatnya panggilan kerja.

Dan perjuanganku yang sesungguhnya baru dimulai!



Next bakal dilanjut kalo ada waktu luang

next di sini
Diubah oleh YenieSue0101
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bohemianflaneur dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Masuk untuk memberikan balasan
stories-from-the-heart
Stories from the Heart
19.7K Anggota • 28.7K Threads
Halaman 1 dari 2
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
23-06-2022 23:03
Wah, ending partnya bikin pinisirin.

Kekmana ceritanya tuh setelah resign massal?
profile-picture
YenieSue0101 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
23-06-2022 13:38
~ 4 ~




Pertama kali masuk kerja, aku nyaris telat karena sibuk tolah-toleh di depan satpam. Ceritanya nyari temenku yang baru kenalan kemaren sewaktu di PT SIR. Sebenernya kita udah janjian mau masuk bareng karena sama-sama baru, jadi biar nggak tersesat dan tak tau arah jalan pulang, aku tanpamu ... (yah malah nyanyi, wkwk). Tapi masalahnya, kita nggak tukeran nomor hp waktu itu dan aku agak-agak lupa gitu wajahnya, gimana sih, belum terlalu inget wkwk. Namanya juga baru kenal.

Sampai di gudang, aku ditegur pak mandor karena hampir telat absen. Jadi, absennya tuh kayak semacam masukin kartu ke mesin gitu, trus nanti otomatis tertulis di sana kita masuknya jam berapa. Dulu di pabrik STT belum ada finger print. Si pak mandor ngancem-ngancem, kalo absennya mepet-mepet (harusnya 10 menit sebelum bel), bakal dipotong gajinya. Padahal yang gaji kan bukan dia, tapi PT SIR, wkwk.

Oke skip

Aku dapat divisi Mie 2. Yang memproduksi snack berupa mie. Waktu itu ada setidaknya dua macam mie di divisiku, yaitu mie Gemes dan Mie Fajar. Penampakan produknya ada di bawah ini.


penampakan



Jadi, bagian mie ini ada tiga gudang. Hall, Mie 1, dan Mie 2. Jadi gudangku ini terletak paling belakang, yang jalan dari pintu satpam sampe pintu gudangnya itu memakan waktu 10 menit. Kalau datang mepet jam benar-benar menyusahkan. Harus berlari biar cepet sampai gudangnya. 😑
Gudang Mie 2 ini paling belakang, mepet tembok. Mana belakang pabrik ada kuburannya lagi. Huh!

Pertama masuk, aku dapat bagian mesin. Jadi mie-nya ini berjatuhan dari mesin, trus kita nyusun di kompayer (eh, apa sih namanya, gatau, wkwk). Sempat pusing sih karena terus mantengin mesin berjalan. Kayak orang mabok gitu. Tapi lama-lama terbiasa juga kok. Jadi aku sama temen-temen baru lainnya, kalau nggak ada mandor, suka makanin itu mie. Gimana sih rasanya dapet jajanan yang masih anget, baru keluar dari oven, bener-bener fresh? Pasti girang banget lah. Berasa norak aku, haha. Tiap ada kesempatan selalu makan, sampai berminggu-minggu akhirnya bosan juga.

Sebenarnya kerja di sana enak, shiftnya juga pendek. Nggak berasa capeknya. Bener-bener nggak seperti yang dibilang si mbah-mbah di Sedati Gede itu.

Aku mulai bertemu dengan satu dua teman yang akhirnya akrab. Yah, walaupun waktu itu kita jarang ngobrol karena ketemu cuma di tempat kerja. Herannya, kita nggak manfaatin sms atau bbm. Eh, waktu itu hpku masih jadul sih (hp bekas abangku), belum bisa instal bbm. Jadi ya, jarang komunikasi sama temen.

Kerja delapan jam sehari rupanya benar-benar terasa kurang bagiku. Apalagi kalau shift malam yang masuk jam sebelas, pulang jam tujuh pagi. Pulang kerja trus seharian glimbang glimbung di kost tuh lama-lama juga bosen. Mau jalan keluar. belum terlalu kenal lingkungan. Plus aku orangnya introvert juga. Hp juga belum ada hiburannya, cuma efbe an doang. Kalo sekarang kan enak bisa ngedrakor berjam-jam. Dulu mana ada?

Akhirnya setelah sebulanan kerja (dan sedikit mengenal dunia luar), aku memutuskan untuk mencari sampingan. Awalnya aku beli koran Jawa Pos, buat nyari info loker di iklan baris. Ketemu di Gunung Sari, Surabaya. Jiwa petualanganku bangkit. Aku ajaklah temenku (Novi) buat ngelamar kerja ke sana. Eh, nyampai sana ternyata harus bayar dan harus mau ditempatin di cabang perusahaannya di seluruh Jawa Timur. Pulang deh kita. Males banget, mau kerja malah suruh bayar dulu.

Kami nggak menyerah. Waktu itu kami nemu iklan yang ditempelin di pohon. Iklan aneh yang membuat kami tergiur. Jadi, kerjanya ngelem benang teh, per pack dapat komisi 60rb. Itu pekerjaan gampang! Sehari bisa dapat berpack-pack itu. Semangatlah kita nyari alamat si perusahaan yang menawarkan komisi itu. Namanya PT Hadena Indonesia. Alamatnya di depan BG Junction Surabaya. Wah, di mana itu? Baru dengar nama daerah itu.

Setelah tanya-tanya sopir angkot di terminal Joyoboyo, akhirnya kita diarahkan ke angkot yang benar. Waktu itu kita naik angkot turun Pasar Turi, trus jalan kaki ke BG Junction. Jauh ternyata, haha. Mana panas-panas pula!

Sesampai di sana, ternyata sudah banyak orang yang datang. Beberapa di antaranya pulang sambil menenteng sepaket teh celup sama botol entah isi apa.

Kita disuruh bayar admin per orang 5rb. Kubayarin lah itu. Tiba saatnya dipanggil, trus diwawancarai sama sesebapak gitu. Setelah obrolan ngalor ngidul panjang lebar, ujung-ujungnya kita disuruh bayar 250rb buat dapetin satu paket teh celup dan parfum. Haha!

Trus gimana? Ya mundurlah kita. Mana bawa kita duit segitu. Kalopun bawa duit, tetep aja ogah ngasih. MLM itu sih. Dulu kita buta soal bisnis beginian. Kalo sekarang kan udah menjamur di mana-mana.

Pulangnya kita jalan ke Tugu Pahlawan, trus jalan lagi ke Tunjungan Plaza. Ini ceritanya jalan-jalan sambil menyesatkan diri. Akhirnya kita tersesat beneran dan salah naik angkot. 🤣

Beberapa bulan setelahnya, itu kantor PT Hadena Indonesia dah tutup, gaes! Udah pada kabur nyari lahan baru. 🤣

Oke skip 🤣

Aku dan temenku nyerah karena tak kunjung dapet kerja sampingan. Memang rakus sih, ya. Udah enak dapat kerja gajian tiap bulan, masih aja kurang.

Akhirnya sebagai pelipur lara, aku ikut kursus komputer di Karang Menjangan, Surabaya. Dapet infonya juga dari iklan baris. Bayar 400rb, 5 kali pertemuan. Mahal ya? Iya, bagiku yang kere ini, wkwk.

Bayangin naik angkotnya aja pp 16rb. Karena harus oper dua kali. Tambak Sawah-Joyoboyo, Joyoboyo-Karang Menjangan. Perjalanan hampir dua jam karena harus tiduran dulu di terminal nungguin angkot penuh baru jalan. 😑


Untung jadwalnya fleksibel. Jadi kayak privat gitu, jamnya semau kita. Aku ambil jadwal kalo pas shift malam. Jadi siangnya longgar. Btw, aku cuma datang 3 kali pertemuan. Abis itu dah bosan nggak pernah datang lagi. Si guru privatnya juga nggak nanyain. 🤣

Mang dasar gabut aku tuh 😑



Oke, di part berikutnya bakal aku ceritain ketika aku dan teman-temanku resign massal (setelah kerja kurleb 3 bulan), demi mendapat kenaikan gaji. Dan ternyata perjalanan yang kutempuh tak semudah yang kubayangkan. Berjuang lagi dari nol 😑




~~~~~~~~~





Btw, ini update partnya sesukaku ya, karena aku agak sibuk plus kadang nggak mood. Tapi kisah ini bakal aku tulis sampai habis (sampai aku mendapatkan kejayaanku di tempat kerja), buat kenangan di masa tua nanti.

Trimakasih yang sudah membaca. 🙂



Diubah oleh YenieSue0101
profile-picture
profile-picture
disya1628 dan indrag057 memberi reputasi
4 0
4
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
31-05-2022 02:23
Mana next nya ?
profile-picture
profile-picture
alseven034677 dan YenieSue0101 memberi reputasi
2 0
2
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
30-05-2022 22:39
Next part apakah bakalan ada drama dengan Mas Cholis?
profile-picture
YenieSue0101 memberi reputasi
1 0
1
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
27-05-2022 17:23
jejak dulu.
emoticon-Traveller
profile-picture
profile-picture
YenieSue0101 dan indrag057 memberi reputasi
2 0
2
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
26-05-2022 21:10



~ 3 ~


Cerita seputar kost baru

Malam pertama di kost yang baru, aku tidur beralaskan jarik dan berbantal tumpukan baju. Sungguh betapa 'mbambung' diriku, wkwk.

Keesokan harinya, begitu tahu aku nggak bawa tikar, karena kasihan akhirnya Mbak Wiri meminjamkan tikar dan sebuah bantalnya. Saat ditanya apa aku punya magic com atau enggak, aku jawab enggak. Ini kesempatanku bertanya ke beliau, apakah bisa kalau ngekost sekaligus dimasakin. Nanti tinggal bayar uang makan seminggunya berapa gitu. Soalnya sebagai pendatang baru, aku kesulitan mencari warung makan buat kebutuhan perut sehari-hari. Di luar dugaan, adeknya bu kost yang cewek (Yanti) menyanggupi penawaranku. Jadilah, semenjak hari itu aku makan di kost 2 kali sehari. Biayanya 70rb seminggu. Murah, kan? Wkwk.

Awal-awalnya, Yanti masak enak-enak. Ya, lumayan lah, ada sayur, lauk dan sambel. Jadi aku sarapan sekaligus ngambil buat bekal kerja. Eh, tapi lama-kelamaan masakannya jadi simpel kayak cuma tumis-tumisan, terakhir dia cuma masak sayur bening doang, tanpa sambel apalagi lauk. Udah cuma sayur bening, hambar pula, kurang asin, wkwk. Melas tenan!

Pikirku, mungkin si Yanti tekor kali ya dengan uang 70rb perminggu. Lah, salah dia sendiri yang ngasih harga segitu. Huh!
Akhirnya, setelah beberapa minggu, karena kasihan aku stop minta dimasakin. Terakhir kali dia masak, aku nggak makan (murni salahku ini), jadi dia buang nasi banyak. Trus aku didiemin selama berhari-hari. Dia pun jadi jarang tidur di rumah kost. Dia pindah ikut Mbak Wiri di rumah sebelah. Jadilah, cuma aku dan Mas Cholis yang tinggal di rumah itu. 😳

Oh, ya beberapa hal yang membuatku kian merana tinggal di kost itu, yang pertama adalah karena air sumurnya yang asin. Bayangkan kamu mandi dan nyuci dengan air asing. Bukannya bersih tapi malah lengket. Baju pun jadi kurang bersih, bahkan beberapa seragam putihku jadi kuning-kuning. 😪

Saat siang, kamar kost terasa panas karena nggak ada jendela. Apalagi kan kamarku di dalam rumah, plus aku belum punya kipas angin pula. Jadi, bisa kebayang panasnya kalau siang hari dengan pintu tertutup. Aku kan agak pemalu gitu dan anti sosial, jadi lebih sering tinggal di kamar. Berasa kayak ayam ungkep 😏

Satu hal lagi yang bikin makin ngenes adalah saat hujan dan banjir di sekitar rumah, airnya tuh merembes lewat dinding. Pernah bajuku pada kebasahan gegara air ini pas ditinggal kerja. Duh, rasanya pengen ngadu ke emak di kampung deh. Mewek sendiri aku. Dah bilang ke Mbak Wiri, tapi belum ditanggapi. Akhirnya setelah gajian pertama, aku beli lemari kain yang merangkai sendiri itu. Lumayan lah buat nyimpen baju. Walau beberapa hari kemudian kain penutupnya jebol karena kulempari dompet, wkwk.

Aku juga akhirnya beli kipas angin, tapi kipas angin bekas, wkwk. Dan coba tebak belinya di mana? Di pasar loak yang di Surabaya! Yang ke sananya harus naik angkot dua kali. Itu adalah pertama kalinya aku ke sana, waktu itu dikasih tahu siapa, agak lupa aku. Sampai di sana ternyata dalemnya pasar loak tuh penuh banget barang rongsokan. Dan tau nggak? Di sana itu penghuninya laki semua. Senekat itu aku ke sana demi kipas angin bekas. Walau agak ngeri sih, wkwk.

Setelah keliling akhirnya dapat barangnya seharga 40rb. Sempat nawar gitu ke penjualnya. Mana si mas-mas penjualnya godain pula, wkwk. Eh, tapi ganteng loh  orangnya masih muda, hahaha. Kalo ingat, jadi ngakak sendiri. Waktu itu aku memang belum berhijab, dan gayanya persis bocah alay itu, dengan rambut keriting gantung dan poni. Masih ingat betul aku pake jaket warna ijo salur. Jaketnya keknya masih ada sampai sekarang di lemari. 🤣

Oke, skip

Kipas yang aku beli itu cuma bertahan sampai sebulan, btw. Trus aku akhirnya beli yang baru saat gajian ke dua.


****

Tentang mas Cholis

Ini ada satu cerita yang masih kuingat dengan jelas tentang adeknya bu kost yang satu ini. Dia orangnya item manis, rambutnya kemerahan, kayak 'garangan ucul' gitu. Dia kerja di warung bakwan atau bakso gitu kalo nggak salah. Mas Cholis ini orangnya baek, suka bangunin aku di jam-jam waktunya aku berangkat kerja saat aku shift 3. Karena masuk jam 11 malem, jadinya sore sering ketiduran gitu. Nah, Si Mas Cholis ini yang rajin gedorin pintu kamarku. Pernah pas malem mau berangkat kerja tapi lagi hujan gede. Aku bingung dong mau kerja. Aku pinjam payung, katanya nggak punya.

"Mbak, di luar banjir loh, jadi nggak bisa lewat. Percuma juga pake payung."

"Hla trus gimana?"

"Saya anterin aja, Mbak, pake motor."

Akhirnya dianterin dong sampe depan pabrik. Dan memang bener, banjirnya itu sedengkul. Fiuh, untung dianterin, wkwk. Makasih ya!

Ada satu kejadian tak mengenakan selama di kost. Jadi suatu malem tuh tetiba mati lampu, lagi hujan pula. Aku nggak punya penerangan. Hapeku juga masih android jadul yang nggak ada flashnya.

Lagi tidur, tetiba ada yang buka pintu kamarku. (Aku emang kebiasaan lupa kunci pintu). Ternyata si Mas Cholis. Dia masuk dan duduk di dekat aku tidur. Spontan aku bangun trus berdiri.

"Mas, sampeyan ngapain di sini?"

"Loh, ini bukan kamarku, toh?" Lah, malah bingung dia.

"Bukan, Mas. Kamare sampeyan di sebelah."

Dia bangkit dengan agak sempoyongan berjalan keluar kamar.

"Lain kali dikunci pintunya, Mbak," katanya, sebelum kututup pintu dan menguncinya rapat.

Semalaman aku nggak bisa tidur karena ketakutan. Abis Subuh malah ketiduran dan bolos kerja dong. Pas, besoknya masuk dimarahin mandor 😭

Paginya dia inbox aku (sampai kini aku bertanya-tanya darimana dia tahu akun Facebook-ku). Dia tulis dalam chatnya :

"Mbak, maaf ya semalam nggak sengaja masuk ke kamar sampeyan. Aku lagi mabuk, jadi agak linglung. Lain kali dikunci ya pintunya. Soalnya kamar sebelah juga ada yang tinggal, laki-laki."

Lah, baru tahu aku kalau kamar bekasnya si Yanti ada yang nyewa. Laki pula! Tinggal bertiga dong aku di rumah itu!

****

Beberapa minggu setelahnya aku ajak temenku untuk tinggal sekamar denganku. Jadi, sewanya patungan. Tinggal berdua, kami bayar masing-masing 50rb. Dengannya juga aku patungan beli kipas angin, bantal, guling dan teko listrik. Endingnya semua barang itu jadi milikku, karena dua bulan kemudian dia pindah kerja dan kost.



Next, cerita seputar pekerjaan 🙂

next

Diubah oleh YenieSue0101
profile-picture
profile-picture
profile-picture
khuman dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
26-05-2022 18:51
minyak juga deh
profile-picture
profile-picture
YenieSue0101 dan ariemail memberi reputasi
2 0
2
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
26-05-2022 08:32
nyimak
profile-picture
YenieSue0101 memberi reputasi
1 0
1
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
26-05-2022 02:06
Nitip sendal dulu. lanjutkan
profile-picture
YenieSue0101 memberi reputasi
1 0
1
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
25-05-2022 23:10
Wadoh sepeti biasa modal harta ..
Beginilah cinta deritanya tiada akhir
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan YenieSue0101 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
24-05-2022 22:48
the story is really deep when you look at it from another prespective
Diubah oleh ganthercage
profile-picture
YenieSue0101 memberi reputasi
1 0
1
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
24-05-2022 18:13
iya, ceritany asik. lanjut
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan YenieSue0101 memberi reputasi
2 0
2
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
24-05-2022 16:45
Jejak
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan YenieSue0101 memberi reputasi
2 0
2
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
24-05-2022 16:35
Ceritanya bagus...enak dibaca...bahasanya sehari-hari ngak terlalu kaku.....lanjutken....
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan YenieSue0101 memberi reputasi
2 0
2
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
24-05-2022 13:29
~ 2 ~




Tepat setengah tiga di hari Kamis aku dapat panggilan kerja. Sampai sana, temannya lumayan banyak. Mereka pada nungguin namanya dipanggil satu-satu, buat menentukan nasib mau ditempatkan di pabrik mana. Soalnya PT SIR ini kan kayak semacam agen gitu, apa sih namanya? Nggak tau aku. Outsourching gitu lah istilahnya. Kirain aku bakal kerja di situ, mang dasar aku polos banget, wkwk.

Tibalah namaku dipanggil.

"Yeni - STT Tambak Sawah - masuk hari Senin depan jam tiga sore. "

Aku bengong dong, wkwk

"Pak, STT itu apa?" dengan polosnya aku bertanya.

"STT itu Siantar Top."

"Owh."

Ini kan tempat kerjanya si Budi. Syukurlah, aku bisa nyusul kerja bareng dia.

"Maaf, Pak, mau tanya. Pabriknya di mana, Pak?"

"Di Tambak Sawah."

"Tambak Sawah itu di mana?"

"Masa Tambak Sawah aja nggak tau?"

Beberapa orang menertawaiku. Duh, malunya setengah mati.

"Maaf, Pak, saya pendatang baru, jadi nggak tau."

"Udah berapa lama tinggal di sini?"

"Baru kemaren, Pak."

"Owalah."

Akhirnya semua orang terdiam. Sekarang ekspresi mereka malah kayak kasian gitu. Huh, sebel!

Akhirnya si bapak menjelaskan di mana aku harus kerja. Jadi, nanti aku harus naik angkot warna biru, trus turun di perempatan Kepuh Doyong, trus jalan kaki ke Timur sekitar satu kilo meter baru deh ketemu itu PT Siantar Top.

Astaga! Ternyata jauh dari tempat kostku. Harus naik angkot, trus jalan kaki lagi! Mengsedih! Kukira perjuanganku dah usai. 🥲



***


Sore harinya aku diajak jalan ke Albatros sama ibu-ibu tetangga kost. Bagi yang tinggal di Sidoarjo pasti tahu banget Albatros, soalnya lumayan populer. Jadi, Albatros ini tuh kayak semacam pasar malam tapi luas banget. Segala macam jualan ada, bahkan pasar tradisional biasa pun kalah ramai. Tiap malam selalu ada, jadi nggak pernah pindah-pindah ini pasar malam. Biasanya Albatros ini jadi tempat tongkrongan anak muda dan para emak yang pengen bawa anak-anak main. Kayak semacam alun-alun gitu lah.

Albatros ini kelak jadi tempat tongkronganku bareng teman-teman setelah dapet kerja. Banyak kenangan di sini, sayang aku nggak punya satu pun foto pas di tempat ini. Hiks, teringat masa lalu 🥲

Oke, skip

Pas mau siap-siap ke Albatros, tetiba si mbah-mbah tua genit menghampiri.

"Mau ke Albatros ya, Nduk? Nih, buat jajan."

Dia keluarin duit segebok dari dompetnya, dong. Duitnya banyak banget lagi. Tajir melintir. 😳

"Eh, nggak usah, Mbah. Udah ada uang saku, kok."

Sejak itu aku memang sengaja panggil dia 'mbah', biar dia nyadar kalo umurnya tuh udah tuwir bau tanah. Biar nggak kegatelan sama gadis belia macam diriku, wkwk.

"Loh serius ini nggak mau. Duit loh ini."

"Mboten, Mbah!"

Kuseret dua bocil anaknya ibu tetangga kost dan buru-buru pergi ninggalin tuh mbah-mbah tuwir.

Di perjalanan, si ibu malah nyaranin aku buat nerima itu duit dan mau diperistri. Ibu itu bilang, si mbah baik dan penyabar. Nggak punya sodara dan kerabat, terlebih dia kaya.

"Nanti kamu bisa langsung jadi Nyonya."

Ya ampun, kata-kata itu masih terngiang setelah bertahun-tahun kini. Untung aku udah lupa wajahnya. 🤧


Di Albatros aku nemenin dua bocil mandi bola, sekalian cuci mata, mengagumi lampu-lampu yang berkelip ramai. Pulangnya aku beli sepatu murah buat dipake kerja nanti. Secara aku nggak punya sepatu. Aku datang cuma pake sendal jepit dari kampung.


Keesokan harinya aku mengunjungi calon tempat kerjaku. Seperti arahan si bapak personalia, aku naik angkot turun Kepuh Doyong, trus jalan kaki ke timur.

Bener-bener kagum, aku tuh. Di sepanjang jalan ke timur itu, kiri kanan banyak pabrik berderet. Banyak orang lalu lalang, pergi dan pulang kerja. Rata-rata mereka pada naik motor. Aku doang yang jalan kaki. Mengsedih!

Setelah jalan kira-kira 1km di bawah terik matahari dan debu jalanan, akhirnya aku nemu itu PT Siantar Top. Buat memastikan, aku nanya langsung ke security-nya. Dan memang benar itu calon tempat kerjaku.

Oke deh, sampai jumpa hari senin ya, masa depanku! Ucapku dalam hati.

Setelah itu aku nggak langsung pulang. Aku jalan-jalan ke perumahan di sekitar situ. Nyari kost baru dong yang dekat dengan pabrik. Masa iya aku harus naik angkot tiap hari pulang pergi. Bangkrut lah! Jiwa miskinku meronta!

Masuk gang kira-kira setengah kilo meter, akhirnya aku nemu kost kosong. Sebenernya bukan kost sih, tapi kayak semacam kamar di dalam rumah gitu yang disewakan. Nama ibu kostnya Mbak Wiri (nama asli). Beliau nggak mau kupanggil buk karena masih muda. Mbak Wiri punya adek dua orang cewek cowok. Dua-duanya udah kerja. Yang cewek namanya Yanti, yang cowok namanya Cholis. Nah, jadi si rumah tempat bakalku ngekost itu ditempati oleh dua adiknya. Di sana ada tiga kamar. Dua berjajar dan satu terpisah. Aku dapat kamar yang berjajar, dan sebelahku merupakan kamar si Mas Cholis.

Bakal ada drama dengan dua adek Mbak Wiri di kost ini. Kuceritakan di part mendatang ajahlah karena panjang.

Kost ini merupakan kamar satu petak yang dalemnya kosongan, alias nggak ada apa-apanya. Aku nggak mikirin gimana nanti bakalan tidur, yang penting dapat tempat teduh, udah.

Aku ditanya bawa peralatan elektronik apa, aku jawab nggak ada. Jadi, cuma bayar sewa lampu aja sebesar 70rb rupiah. Wah, murahnya! Aku girang.


Pulang ke kost yang di Sedati Gede, aku pamitan sama ibu kost. Aku bilang udah dapat kerja dan harus pindah kost. Karena kasihan, si ibu kost mengembalikan uang sewa seratus ribu.

"Nih, buat sangu. Hati-hati ya kalau kerja. Semoga berhasil," katanya.

Keesokan harinya aku pergi tanpa pamit ke si mbah. Aku harus mulai hidup yang baru. Nggak mau kepikiran dengan kejadian tak mengenakan selama bertemu si mbah. Goodbye, Mbah! Kita tidak akan pernah bertemu lagi!

Jalan kaki ke Tambak Sawah sambil bawa beban di punggung sungguh bikin merana. Bodohnya aku kemaren malah sukacita beli sabun cuci sekilo yang gratis piring itu. Pikirku, ah lumayan dapet piring bisa buat alas makan di kost. Eh, ternyata malah membebani sangat. Tas ranselku (ransel abangku) yang udah gede, dengan muatan penuh, dengan punggung dan tubuh mungil ini ...

Rasanya nggak kuat jalan sekilo!

Beruntung di perjalanan berhenti seorang mas-mas yang nawarin tebengan. Syukurlah. Selama terlunta-lunta ini aku selalu bertemu dengan orang baik.


Dan masa terlunta-luntaku belum cukup sampai di sini. Masih ada belantara dunia yang harus aku lalui di tempat kerja dan kost yang baru!



next
Diubah oleh YenieSue0101
profile-picture
profile-picture
profile-picture
khuman dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
24-05-2022 10:35
Mengko yen kowe gelem melu aku, separo bondoku tak walik ning atas namamu. Aku nduwe omah akeh. Meluo aku, ngramut aku, ngancani uripku. Aku sek legan loh, Nduk.



Mak.... @makgendhis, kelakuan ne sapa nich?


emoticon-Hammer2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
24-05-2022 07:55
terruuuusss.....emoticon-Shakehand2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
YenieSue0101 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
24-05-2022 07:37
Wah kayaknya bagus ini ceritanya... kalau boleh saran, yg bahasa Jawa boleh diterjemahkan ke bahasa Indonesia sis? Thank you sebelumnya...
profile-picture
profile-picture
YenieSue0101 dan indrag057 memberi reputasi
2 0
2
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
24-05-2022 03:36
Wkwkwkk kl rumahny bnyk kok ngekos
profile-picture
profile-picture
profile-picture
YenieSue0101 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
23-05-2022 21:26
lanjuuutt
profile-picture
profile-picture
YenieSue0101 dan indrag057 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
gejolak-kawula-muda
Stories from the Heart
duda-keren-dan-mahasiswi-cantik
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia