Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
23
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6284a869f749a33be237daaf/komala
Prolog "Bikin malu Bapak, kamu!" bentak Guntur sambil menunjuk tepat muka Komala yang kuyu. "Udah, Pak..." Widya berkata lirih mencoba menenangkan emosi Guntur. Guntur menghela napas, frustasi. "Saya malu sama kamu, Wid. Saya yang minta kamu untuk membesarkan dia, dulu. Tapi, lihat! beraninya dia menaruh kotoran di muka kita." kata Guntur sambil menjatuhkan tubuhnya k
Lapor Hansip
18-05-2022 15:03

Komala

icon-verified-thread
Komala


Prolog


"Bikin malu Bapak, kamu!" bentak Guntur sambil menunjuk tepat muka Komala yang kuyu.

"Udah, Pak..." Widya berkata lirih mencoba menenangkan emosi Guntur.

Guntur menghela napas, frustasi. "Saya malu sama kamu, Wid. Saya yang minta kamu untuk membesarkan dia, dulu. Tapi, lihat! beraninya dia menaruh kotoran di muka kita." kata Guntur sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

"Qodarullah, semua sudah terjadi." Widya mendekati Komala, mengelus sayang anak angkatnya yang kembali menangis tersedu.

"Maafin Mala, Pak." Komala bersimpuh di kaki Guntur.

Guntur mengusap wajahnya, memejamkan matanya. Perlahan, bahunya mulai bergetar. Guntur, pensiunan polisi pangkat bintang 2 itu menangis.

1. Komala, namanya.

Saat itu musim penghujan. Hampir setiap sore, hujan deras mengguyur kota. Guntur tiba dirumah dengan wajah pucat dan cemas.

"Widya, kita harus berangkat ke Purwakarta. Sekarang!" katanya sambil terburu-buru mengganti baju dinasnya.

"Ada apa, Pak?" Tanya Widya, cemas.

"Adikku, gugur saat bertugas, Widya." Guntur terduduk di sisi ranjang.

"Innalillahi... Guruh, Pak?"

"Iya, Guruh. Siapa lagi adikku, Wid?"

"Bapak sabar, Bapak tenang dulu. Aku siapin keperluan kita untuk kesana." Kata Widya sambil bergegas mengambil koper untuk mengkemas beberapa baju miliknya dan Guntur.

***

Opel kapitan p2 melaju menerobos hujan.

"Perjalanan masih sangat jauh, Bapak tidur aja dulu." Kata Widya sambil membantu Guntur mengancingkan jaketnya.

"Kasian sekali adikku itu, Widya. Dia belum sempat bertemu dengan anaknya." kata Guntur dengan pandangan menerawang keluar kaca mobil. "Pelan amat kamu bawa mobilnya, Run." keluh Guntur pada supirnya, Harun.

"Gak apa, pelan-pelan aja, Run. Hujan, bahaya kalau ngebut." Widya memperingatkan Harun yang mulai menginjak pedal gas. "Memangnya Lastri sudah melahirkan, Pak?"

"Pagi tadi aku dapat kabar gembira kelahiran keponakanku itu, Widya. Sorenya aku dapat kabar duka kematian ayahnya. Malang sekali keponakanku, Widya. Malang sekali nasib Guruh, Widya." Guntur memejamkan matanya lalu menyandarkan kepalanya di jok. 

Widya diam. Jika sudah seperti ini, tandanya Guntur sudah tidak mau di ganggu apalagi di tanya-tanya. Widya hanya menepuk-nepuk lengan suaminya yang usianya terpaut 20 tahun itu.

***

Nuansa duka begitu kental di kediaman rumah Lastri. Riuh sesak keluarga dan tetangga yang turut hadir untuk berbelasungkawa tidak bisa menghilangkan kesan sunyi dan sepi dari perasaan Lastri yang baru saja menjadi janda.

Lastri masih terbaring lemah di kamar saat Widya dan Guntur sampai dirumah mereka.

"Pak Guntur, untung Bapak sudah datang." kata Soleh, tetangga sekaligus pesuruh keluarga Guntur di Purwakarta.

"Kenapa, Pak Soleh?"

"Neng Lastri, Pak. Sejak menerima kabar meninggalnya Pak Guruh, Neng Lastri mendadak diem, tidak mau nyusuin anaknya. Kasian anaknya, nangis terus belum kena ASI," kata Soleh sambil mengekori Guntur yang menerobos masuk ke kemar utama.

Suara tangisan bayi menggema di dalam kamar. Bayi itu meronta dalam balutan selendang, tangannya mengais-ngais mencari pelukan hangat sang ibu. Sementara Lastri, Ibu sang bayi, hanya menatap kosong jendela kamar yang basah karena tampias air hujan.

"Widya! tolong Widya!" seru Guntur memanggil istrinya yang langsung sibuk membantu menyiapkan perlengkapan untuk menyambut jenazah Guruh.

"Iya, Pak. Sebentar." kata Widya sambil berjalan cepat menemui suaminya di kamar utama.

"Tolong anak itu, Widya. Aku tidak tega mendengar tangisannya."

Widya langsung menggendong bayi yang baru lahir itu. Di dekapnya bayi itu dengan penuh kasih sayang. "Pak Soleh, saya bisa minta tolong air hangat?"

"Boleh, Bu." Soleh bergegas menuju dapur.

Widya menatap wajah bayi yang mulai berangsung reda tangisnya. "Cantik sekali anakmu, Lasti." kata Widya.

Tiba-tiba saja, Lasti tertawa terbahak-bahak. Lalu menangis, meraung sejadinya membuat semua orang yang ada dirumah itu kaget sekaligus heran.

"Aku tidak mau anak itu!" seru Lastri dengan tatapan nyalang ke arah Widya yang tengah menggendong anaknya. "Aku hanya mau suamiku. Aku tak bisa tanpa suamiku!" jeritnya.

"Widya, tolong bawa dan jaga dulu anak ini. Sebentar lagi mobil yang bawa jenazah Guruh datang." Kata Guntur sambil menggiring Widya yang tengah menggendong bayi keluar kamar.

"Iya! Bawa pergi anak itu! Aku tidak ingin anak itu tanpa suamiku!" teriak Lastri.

"Pak Soleh, tolong kunci pintu kamar Bu Lastri!" perintah Guntur kepada Soleh yang baru datang tergopoh-gopoh membawa segelas air.

"Ba- baik, Pak. Ini air?" Pak Soleh terlihat bingung.

Guntur langsung mengambil gelas yang di bawa Soleh dan menyusul Widya ke kamar tamu.

***

"Kita kasih nama siapa bayi ini, Pak?" tanya Widya.

"'Komala, namanya.' itu yang pernah dikatakan Guruh padaku, dulu." Guntur mengusap wajahnya gusar. "Widya, apakan kamu bersedia merawat anak ini? Aku tidak tega kalau harus menitip anak di Pak Soleh. Dia dan istrinya sudah sangat tua. Kamu liat sendiri, Lastri tidak menginginkan anak ini, bahkan dia seperti orang gila, sekarang."

Mata Widya terbelalak saking kaget. "Aku sudah berencana meminta bayi ini untuk aku rawat, Pak. Tentu aku mau." kata Widya, gembira.

"Terimakasih, Widya." Guntur mencium kening istrinya. "Sungguh kamu adalah pemberian Tuhan yang terindah." katanya, membuat Widya tersipu.

"Kamu pemberian Tuhan yang terindah." Widya mengecup sayang pipi Komala.

Guntur tersenyum melihat istrinya yang begitu tulus mencintai keponakannya.

***

 


Quote:Hallo... kembali lagi di Thread ane yang masih belum jelas alurnya mau kemana. Yang pasti ane pengen selalu berbagi kisah dan cerita yang mudah-mudah bisa menghibur juga bisa di ambil hikmah atau pembelajaran dari cerita yang ane tuangkan disini.

Kali ini, ane akan bercerita tentang seorang perempuan bernama Komala. Kisah ini terinsfirasi dari kejadian nyata dengan latar setting dari tahun 1963 sampai 2010.

Dibalik segala keterbatasannya, bahkan sampai menjelang akhir hayatnya, Komala selalu memberi manfaat untuk siapapun yang ada di dekatnya.

Simak terus kisahnya. Semoga kalian tidak bosen nunggu ane update cerita ini. Ane gak bisa janji akan sering-sering update, berhubung ane juga masih punya kewajiban sebagai karyawan. Tapi, ane usahain... tiap minggunya bisa update.

Jangan lupa kasih cendol dan komentar ya, biar ane semangat.
Terimakasih.



BETA
profile-picture
profile-picture
profile-picture
medh1221 dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Masuk untuk memberikan balasan
stories-from-the-heart
Stories from the Heart
19K Anggota • 28.5K Threads
Komala
19-05-2022 23:41

KOMALA

2. Aku bukan anak Mamah sama Bapak


Komala menangis, duduk memeluk lutut di sudut kamar. Widya yang saat itu baru datang setelah seharian menghadiri acara di organisasi Bhayangkari sempat terkejut menemukan Komala yang tengah menangis.
“Mala, kenapa, Nak?” sapa Widya sambil duduk lalu mengambil Komala yang saat itu sudah berusia 12 tahun, ke pelukannya.
Tidak ada jawaban dari Komala. Hanya sedu sedannya yang semakin jelas.
“Kenapa, sayang? Cerita sama Mamah.” Bujuk Widya sambil menghapus bulir-bulir air mata di pipi Komala.
“A..ku.. a.. ku,” Komala masih terisak. “Ak… u, buk… kan… anak Ma..mah sama Bap..pak?” Tanya Komala sambil menatap dengan tatapan sendu kepada Widya.
Widya terdiam menatap lembut anak angkatnya itu. Cepat atau lambat pertanyaan itu akan keluar dari mulut Komala. Widya hanya tidak menyangka, akan secepat ini.
Widya tersenyum lalu memcium kening Komala. “Kamu anak Mamah sama Bapak.”
“Tat.. tappi… Kak Robbi bilang, Mam… mah gak ngelahirin, akku.” Komala kembali terisak.
Widya menatap lembut wajah Komala yang semakin cantik, mata Widya mulai berkaca-kaca. “Mamah mungkin gak ngelahirin kamu, tapi… Mamah sama Bapak sangat sayang sama kamu, Mala.”
Komala yang berusia 12 tahun, bisa dengan cepat mengerti apa yang disampaikan Widya. Dia mulai menangis lagi. “Kak Robbi, benar.” Katanya, lirih.
“Mamah juga tidak mau bohong sama kamu.” Widya kembali memeluk Komala. “Mamah harus siapin makan untuk Bapak. Mala mau gak bantuin Mamah?” Tanya Widya mencoba mengalihkan suasana yang tiba-tiba saja terasa sendu dan menyedihkan.
Komala melepas pelukan Widya lalu mengangguk pelan.
“Yaudah, Mamah ganti baju dulu, ya.” Widya bangkit di ikuti oleh Komala.
“Mala duluan ke dapur ya, Mah.” Kata Komala lalu berjalan lesu keluar kamar.
***

“Robbi, kamu dari mana saja, Nak?” tanya Widya begitu melihat Robbi datang dan berjalan cepat menuju kamarnya.
Robbi pun mendekati Widya dan salim. “Dari rumah Anton, Mah.”
“Sudah makan, kamu, Nak?” tanya Widya penuh perhatian.
“Sudah.” Jawab Robbi, pendek.
“Mamah boleh minta waktu kamu sebentar? Mamah mau ngobrol.”
Tanpa menjawab, Robbi berjalan lunglai menuju sofa lalu menjatuhkan tubuhnya disana menghadap ke TV yang menyiarkan acara “Kamera-Ria”.
Widya duduk disamping Robbi. “Robb, kamu bentar lagi lulus SMA─”
“Aku gak mau masuk Tentara, Mah. Udah, cukup Kak Daru aja yang jadi tentara.” Robbi merengut kesal.
Daru dan Robbi adalah anak dari almarhum istri pertama Guntur. Sementara dari Widya, Guntur tidak memiliki anak. Tepatnya, tidak mungkin memiliki anak. Sebuah kejadian mengerikan terjadi pada Guntur saat Guntur di tangkap dan di tahan pemberontak kemerdekaan. Guntur berhasil diselamatkan walaupun harus kehilangan kejantanannya.
Widya, yang saat itu seorang janda dari prajurit tentara yang gugur di medan perang dan belum dikaruniai anak, bersedia dinikahi Guntur untuk membantunya membesarkan Daru dan Robbi.
“Mamah gak mau bahas soal itu, Robb.” Kata Widya sabar. “Mamah cuma mau minta tolong, bantu Mamah merawat Komala. Dia tidak hanya butuh kasih sayang orang tua, dia juga butuh kasih sayang kakak-kakaknya.” Lanjut Widya hati-hati.
Robbi mendengus kesal dan langsung berdiri. “Aku juga mau minta tolong. Bukan hanya Komala yang butuh kasih sayang orang tua. Aku juga butuh.” kata Robbi lalu berlalu masuk kamar meninggalkan Widya yang terpaku kaget mendengar ucapan Robbi.
Sementara itu, di dalam kamar, Komala yang belum tidur dapat mendengar dengan jelas percakapan Robbi dan Widya. Komala belum terlalu mengerti apa yang terjadi. Tapi, kejadian hari itu sangat membekas dalam ingatan dan perasaannya.
***

Guntur sampai dirumah menjelang dini hari. Tidak saperti biasanya dimana Widya selalu setia menunggunya. Malam itu Widya terlihat meringkuk di ranjang.
Setelah Guntur berganti pakaian dan membersihkan diri. Guntur bersiap untuk tidur. Samar terdengar lirih isak tangis yang tertahan.
Guntur mendekati Widya, membelai lembut wanita yang sudah dinikahinya hampir 15 tahun itu. “Kamu kenapa?” tanya Guntur lembut.
“Tidak apa-apa, Pak.” Widya menghapus air matanya lalu bangun dan duduk di sisi ranjang.
“Itu artinya, ada apa-apa.” Kata Guntur tenang. “Sejak kapan kamu menyembunyikan masalah dari aku, Wid?”
“Aku bukan ibu yang baik, Pak.” Tutur Widya membuat Guntur mengangkat sebelah alisnya.
“Siapa yang bilang?” tanya Guntur serius.
“Aku sendiri yang merasa begitu, Pak.”
“Ta kira ada yang ngomong begitu ke kamu. Bapak tembak, kalau ada yang berani membuat istri Bapak menangis.” Guntur terkekeh.
“Hus! Bapak ini kalau ngomong suka sembarangan.” Widya ikut terkekeh.
Guntur duduk disisi Widya lalu mengambil kedua tangan Widya dan menggenggamnya erat. “Kamu itu ibu yang hebat, Wid. Lihat anak-anak kita, mereka tumbuh dengan baik, berprestasi.”
“Aku pikir juga begitu, Pak.” Widya mengusap pipinya yang kembali basah. “Ternyata, sebagai orang tua, kita belum sempurna, Pak.” Kata Widya sambil menatap kosong lantai kamar.
“Kamu lagi datang bulan, ya?”
“Enggak, Pak.” Widya memukul pelan lengan suaminya.
“Komala sudah tau, kalau dia bukan anak kandungku, Pak.” Kata Widya.
“Kok bisa? Siapa? Siapa yang ngomong?” Guntur beranjak berdiri, wajahnya yang bersahaja tiba-tiba berubah marah dan sangar.
“Sabar, Pak. Ini sudah malam.” Widya panik, hawatir suaminya naik pitam.
“Kurang ajar!” maki Guntur.
“Pak!” seru Widya.
Guntur menarik napas dalam menghembuskannya perlahan lalu menurut ketika Widya menarik tangannya untuk kembali duduk di tepi ranjang. “Komala pasti sedih, Wid.” Kata Guntur dengan mata berkaca-kaca.
Dengan hati-hati, Widya menceritakan kejadian tadi siang bersama Komala dan menjelang malam bersama Robbi.
Guntur menghela napas mendengar cerita Widya. “Si Robbi tuh, emang manja. Biar aku tegor dia, besok.”
“Bukan gitu, Pak. Mungkin kita yang harus introspeksi. Mungkin ada sikap kita atau perlakuan kita yang membuat Robbi merasa kurang kasih sayang kita.”
“Tidak tau di untung itu anak,” keluh Guntur.
“Jangan gitu, Pak. Janji ya, Bapak harus bersikap lebih lembut sama Robbi dan Daru. Ini rumah mereka, Pak. Bukan Akmil.” Widya menatap suaminya, memohon.
“Iya, iya, iyah…” Guntur menepuk tangan Widya pelan. “Yaudah, Bapak capek. Bapak mau istirahat.” Lanjutnya sambil beranjak naik ke ranjang.
Widya tersenyum lega, lalu beringsut berbaring dan memeluk suaminya yang sudah merabahkan badan.
***

Diubah oleh janahjoy35
profile-picture
profile-picture
profile-picture
medh1221 dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Komala
21-05-2022 20:28
Lanjut gan...👍👍
profile-picture
janahjoy35 memberi reputasi
1 0
1
Komala
23-05-2022 09:00
Cussss subscribe
profile-picture
janahjoy35 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Komala
26-05-2022 18:52
komala semangat yah emoticon-Kiss
profile-picture
ariemail memberi reputasi
1 0
1
Komala
26-05-2022 23:23
Jejak dlu....
profile-picture
olasaja memberi reputasi
1 0
1
Komala
28-05-2022 10:13

KOMALA

3. Bahri


“Mala, ada salam dari Faisal.” Kata Teti yang baru saja masuk keruang perpustakaan dan langsung duduk di bangku samping Komala.

Komala tersenyum lalu lanjut membaca buku tanpa menggubris perkataan Teti, teman sebangkunya itu.

“Ada yang usaha mempercantik diri, bersikap ramah sampe terlihat ganjen dan murahan, tapi... boro-boro salam. Tibang di senyumin aja gak pernah.” Kata Teti sambil merapihkan rambutnya yang keriting. “Ada yang diem aja, cuek, gak dandan, tapi... hampir setengah laki-laki populer disekolah berebut minta di salamin.” Teti menghela napas sambil menyandarkan badannya di bangku. “Padahal saya sekolah niatnya untuk belajar, bukan untuk jadi tukang pos yang di titipin kirim salam.” Teti merengut, kesal.

“Ssstttt, di perpus jangan berisik.” Kata Komala, pelan.

“Kamu kenapa, sih, Mala. Kaya gak puber gitu?” tanya Teti.

Komala terkekeh mendengar pertanyaan Teti. “Emang puber itu yang kaya gimana?” tanyanya sambil berjalan menuju rak buku.

Teti, mengekori Komala. “Kalo udah puber mah, kamu pasti dandan, punya pacar. Saya heran sama kamu. Kamu cantik, temen laki-lakinya banyak. Masa gak ada satu aja yang kamu jadiin pacar.”

Komala kembali terkekeh sambil menatap sekilas Teti yang memanyunkan bibirnya, kesal. “Kalau ada laki-laki yang berani nganterin saya pulang, terus mau ketemu Bapak. Pasti saya jadiin, dia pacar saya.”

“Nah, itu dia. Anak laki-laki pada takut sama Bapak kamu. Katanya kumis baplang bapak kamu lebih nakutin dari pada tanduk setan.” Teti terkekeh.

Komala membekap mulutnya menahan tawa karena omongan Teti yang mengingatkannya pada wajah sangar Guntur.

“Kalian kalau mau ngobrol jangan disini!” seru Bu Ida, pustakawan yang sedang tugas.

“Iya maaf, Bu.” Komala menyikut lengan Teti.

“Ke kantin aja, yuk. Kali, ada penggemar-penggemar kamu. Kan, lumayan, saya kecipratan traktiran.” Rajuk Teti sambil bergelayut manja di lengan Komala.

“Iya, hayuk.”

***


“Cal, Ical! Itu si Komala sama si Teti kesini,” seru Yanto sambil menepuk pundak Faisal yang tengah makan bakso.

Mendengar seruan Yanto, bukan hanya Faisal yang langsung siaga. Reza, Delano dan Ilham, siswa-siswa populer di sekolah yang kebetulan sedang di kantin, mereka semua langsung siaga dan menoleh ke arah kedatangan Komala dan Teti.

Komala dan Teti berjalan mendekati meja tempat Faisal. Tanpa ragu, Komala dudul dan memesan 2 porsi bakso untuknya dan Teti. “Waalaikumsalam,” kata Komala membuat Faisal, Yanto dan Teti menatapnya heran. “Kenapa? Katanya, kamu nitip salam sama saya?” tanya Komala kepada Faisal, santai.

Faisal menunduk, malu. Kupingnya merah dan pipinya bersemu.

Tiba-tiba, Reza, Delano dan Ilham mendekati bangku mereka dan turut duduk disana. “Mala? Ical dong, nih, yang di jawab salamnya?” tanya Delano.

“Kalian juga, kalau nitip salam, selalu saya jawab, kan?”

“Eh, saya ada pengumuman!” seru Teti, tiba-tiba.

“Pengumuman minta di traktir?” tukas Faisal.

“Neraktir saya mah udah kewajiban kalian. Siapa suruh nitip-nitip salam ke saya,” Teti mendelik kesal pada Faisal.

“Kamu teh mau ngumumin apa?” tanya Komala, gak sabar.

“Siapa yang mau jadi pacar Komala, cung?!” seru Teti sambil mengacungkan telunjuknya sebagai arahan.

Serentak, Faisal, Reza, Delano dan Ilham, termasuk Yanto mengacungkan telunjuknya ke udara.

“Garelo!” Komala terkekeh melihat tingkah teman-temannya.

“Siapa yang berani nemuin Pak Guntur, bapaknya si Komala. Bakal di jadiin pacar sama Komala.” Kata Teti.

Komala seketika melotot tak percaya Teti akan mengatakan hal itu.

Sementara siswa-siswa populer yang tadi semangat mengacungkan jarinya untuk menjadi pacar Komala, serentak menurunkan jari mereka.

Teti tertawa puas. “Cemen!” serunya.

Komala tersenyum. Hal seperti ini sudah biasa dihadapinya. Itu kenapa, Komala selalu membatasi hubungan sebatas pertemanan, tidak lebih. Jangankan orang luar, dirinya sendiri yang sudah tinggal bertahun-tahun bersama Guntur, masih sungkan pada Guntur yang selalu disiplin. Selain itu, Komala selalu teringat pesan Guntur yang melarangnya berpacaran. Harus fokus sekolah dulu.

***


Angkotan umum yang Komala naiki mulai sepi. Dari sekian penumpang, menyisakan dirinya dan seorang siswa dari sekolah lain. Selanjutnya tidak ada lagi penumpang. Padahal perjalanan menuju titik trayek angkot masih lumayan jauh.

Kondisi angkutan yang sepi di tambah udara tengah hari yang panas membuat supir angkot sedikit frustasi. Sang supir mulai menekan pedal gas. Angkot melaju dengan kecepatan maksimal. Kondisi jalan yang lenggang memompa keberanian sang supir untuk menambah kecepatan laju angkotnya.

Komala berpegangan erat pada bangku panjang tempat dia duduk.

Di belakang pak supir, siswa beda sekolah itu terlihat tenang menikmati laju angkot yang menggila.

“Mang, kiri, Mang!” seru Komala.

Sang supir seketika menekan pedal rem sambil membanting setirnya kekiri.

Angkot berhenti tepat di depan gang menuju rumah Guntur. Tubuh Komala tersungkur kedepan, menambrak siswa yang duduk di belakang supir. “Maaf, maaf,” kata Komala, tidak enak hati.

Siswa itu hanya meringis memegang dada kirinya yang mendadak diseruduk kepala Komala.

Setelah memberikan uang pas, Komala bergegas turun dari angkot. Tapi, naas. Belum juga sepenuhnya kaki Komala memijak bumi, supir angkot sudah melajukan angkotnya. Komala terjatuh, terjerambab di jalan. Lutut Komala berdarah.

Siswa yang satu angkot dengan Komala bergegas meminta sang supir berhenti. Tanpa banyak pikir, siswa itu turun dari angkot dan berlari mendekati Komala yang terduduk di jalan sambil memegangi lututnya.

Dari kaca sepion, sang supir angkot melihat jelas kondisi penumpangnya yang terjatuh karena keteledorannya. Dari pada harus ganti biaya perawatan penumpangnya yang terjatuh, sang supir memilih kabur, meninggalkan kedua penumpangnya begitu saja.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Siswa itu sambil berjongkok mendekati Komala. “Mari saya bantu, rumah kamu masuk gang ini?” tanyanya sambil melihat gang kecil yang bertuliskan Gg Buntu pada gapuranya.

Komala mengangguk lalu mencoba untuk berdiri. Tiba-tiba pergelalangan kakinya tercekat yang seketika memberi rasa sakit yang luar biasa. Komala menjerit, mengaduh dan kembali terduduk di aspal.

“Sepertinya pergelangan kaki kamu keseleo,” siswa itu memegang pergelangan kaki Komala yang terasa hangat. “Ayo, kamu harus buru-buru di urut.” Katanya sambil langsung menggendong Komala seolah berat tubuh Komala hanya seukuran 5 kilo.

Komala tersentak kaget, tapi tidak berusaha berontak. Dia memilih menerima pertolongan laki-laki dari sekolah lain yang tak pernah ia kenal sebelumnya itu.

***


Setelah pensiun, selain merecoki Widya, kegiatan Guntur yang lain adalah merawat tanaman hias di pekarangan rumahnya.

“Tumbuh subur ya, kamu.” Katanya sambil mengelus sayang daun aglaonema.

“Ini rumah kamu?” suara siswa yang menggendong Komala yang baru saja sampai di depan pekarangan rumah Guntur, seketika membuat Guntur awas dan waspada.

“Komala!” seru Guntur sambil berlari mendekati Komala dan langsung merebut Komala dari pangkuan siswa itu. “Kamu apakan anak saya, hah?!” seru Guntur dengan mata melotot kearah siswa yang membantu Komala.

“Mala jatuh, Pak. Dia nolongin Mala.” Kata Komala yang meringis di pangkuan Guntur.

“Ikut saya, kamu!” seru Guntur pada siswa itu. Guntur bergegas kedalam rumah, lalu mendudukan Komala di sofa ruang tamu. “Wid! Widya! Tolong bawa P3K, anak kamu terluka.” Seru Guntur sambil memeriksa lutut dan pergelangan kaki Komala.

“Siapa terluka, Pak?” seru Widya yang tergopoh-gopoh berlari dari kamar. “Robbi, Pak?” Eh, Mala? Kok, bisa kamu terluka, Nak?” Widya bergegas mendekati Komala.

“P3K nya mana, Wid?”

“Aduh, iya, Pak. Sebentar saya ambilkan dulu.”

Guntur geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya. Tiba-tiba Guntur teringat sosok siswa yang mengantarkan Komala. Dia bergegas kedepan. Hampir saja siswa itu akan pergi. “Hei! Mau kemana, kamu? Sinih, masuk!” perintah Guntur.

Siswa itu buru-buru membuka sepatunya dan mengikuti Guntur masuk keruang tamu.

“Duduk, kamu!” perintah Guntur lagi.

Siswa itu menurut, takut dengan sosok Guntur yang sangar.

Widya kembali dengan kotak P3K dan langsung membersihkan lutut Komala. Komala meringis merasakan perih dari alkohol yang menjalari lukanya.

“Kamu apakan anak saya?!” tanya Guntur setengah berseru.

“Pak, dia gak salah, dia bantu Mala. Mala terjatuh dari angkot.” Bela Komala.

“Benar, begitu?” tanya Guntur dengan mata melotot kearah siswa yang menolong Komala.

Siswa itu mengangguk cepat menjawab pertanyaan Guntur.

“Siapa nama kamu?”

“Ba- bah- Bahri, Pak.” Jawab Siswa itu terbata-bata.

“Bahri, terimakasih.” Guntur menepuk bahu Bahri yang bergetar karena takut.

Dibalik ringisannya, Komala tersenyum melihat ekspresi Bahri. Laki-laki pertama yang karena terpaksa berani menemui Guntur, bapaknya yang super galak dan sangar itu.

***

Diubah oleh janahjoy35
profile-picture
profile-picture
profile-picture
medh1221 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Komala
29-05-2022 01:32
Menarik.. jarang liat tulisan begini..semoga tetap menghibur.
profile-picture
janahjoy35 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Komala
01-06-2022 15:37

KOMALA

4. Komala jatuh cinta


Komala dewasa berjalan anggung menyusuri koridor, melewati ruang demi ruang yang riuh dengan gelak tawa siswa-siswi luar biasa. Hari ini adalah hari pertamanya bertugas sebagai guru.

Masa-masa sekolah dan kuliahnya sudah ia lewati dengan baik. Kini dia seorang abdi Negara yang mendedikasikan dirinya untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus di salah satu sekolah SLB Negeri di Jakarta.

“Selamat pagi,” sapa Komala sambil mengetuk pelan pintu ruang kepala sekolah.

“Pagi,” seorang pria paruh baya dengan kaca mata yang menggantung di ujung hidungnya yang lancip, yang pastinya kepala sekolah disana, menatap tajam ke arah pintu. “Silahkan masuk,” Kata pria itu sambil beranjak menuju lemari persegi panjang yang terbuat dari mahogani dan mengambil sebuah map cokelat dari dalam lemari itu.

Komala masuk kedalam ruanganan lalu diam berdiri di depan meja kerja pria itu sambil tersenyum ramah.

“Duduk,” Kepala sekolah itu mempersilahkan Komala untuk duduk di sofa, satu set kursi tamu yang di letakan tidak jauh dari posisi meja kerjanya. “Kamu Komala?” tanyanya sambil membaca berkas dalam map cokelat yang di pegangnya.

“Iya, Pak. Saya Komala,” Komala bernajak mendekati kepala sekolah dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

Kepala sekolah itu menjabat tangan Komala dan dengan isyarat tangannya ia kembali mempersilahkan Komala untuk duduk. “Dengan kemampuan dan semua prestasi kamu, kamu bisa kaya dengan menjadi mentor sebuah sanggar seni terkemuka di Jakarta. Kenapa kamu memilih menjadi PNS, menjadi guru yang gajinya kecil?” tanyanya sambil turut duduk di sofa yang berhadapan dengan tempat Komala duduk.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang pling bermanfaat buat orang lain, Pak. Saya ingin seperti itu.” Jawab Komala penuh semangat.

Kepala sekolah itu mengangguk-anggukan kepalanya pelan. “Kenapa kamu milih untuk di tugaskan di sini? Padahal kamu bisa milih untuk di tempatkan di sekolah lain yang mungkin lebih dekat dengan rumahmu?” Tanyanya dengan tatapan menyelidik.

“Selain karena sekolah yang Bapak pimpin ini Sekolah Luar Biasa, sekolah yang Bapak pimpin ini selalu menjadi percontohan bagi sekolah SLB lain senusantara. Saya rasa, disini, saya punya peluang untuk lebih banyak memberi manfaat kepada orang banyak.” Jawab Komala sambil tersenyum sopan.

Kepala sekolah itu kembali mengangguk-anggukan kepalanya. “Tapi kamu tidak ada dasar untuk mengajar di SLB, kamu lulusan IKIP, fakultas keguruan seni dan sastra. Apa yang bisa kamu ajakarkan kepada anak didik disini yang semua siswa dan siswinya tuna netra?”

Komala tersenyum. “Musik, lagu, puisi, novel. Saya rasa, apa yang akan saya ajarkan, bisa bermanfaat untuk mereka nantinya, Pak.” Jawab Komala. “Kemampuan bermusik, bernyanyi ataupun berkarya dalam tulisan, bisa menjadi media untuk mereka mencari nafkah nantinya, Pak.” Lanjutnya penuh semangat.

Lagi-lagi, kepala sekolah itu mengangguk-anggukan kepalanya. “Baiklah,” Pak kepala sekolah berdiri di susul oleh Komala. “Semoga tujuan kamu tercapai disini,” katanya sambil menyodorkan tangan dan langsung di jabat erat oleh Komala. “Saya, Triadji. Silahkan kamu ke ruang guru, nanti cari saja Pak Sugeng. Beliau yang akan membuatkan jadwal untuk kamu mengajar.” Kata Triadji sambil tersenyum ramah kepada Komala.

***


Komala keluar dari gedung kantor pos, dia baru saja mengirim surat untuk Widya dan Guntur.

“Hai?!”

Seorang pria tiba-tiba menepuk bahu Komala sampai membuatnya kaget. Komala menatap kesal pria yang kini sedang tersenyum malu-malu kapadanya. “Siapa, ya?” tanya Komala ketus.

“Kamu anak pensiuan polisi yang alis sama kumisnya tebel kaya Pak Raden, kan?” tanya pria itu.

Sekuat tenaga Komala menahan rasa ingin ketawanya saat mendengar Bapaknya, Guntur yang di bilang mirip dengan Pak Raden. “Kamu siapa?” tanyanya masih dengan nada ketus.

“Saya, Bahri. Kamu pasti lupa, sih. Tapi, saya tidak pernah bisa lupa sama kamu.” Kata Bahri sambil tersenyum malu-malu dan menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.

Komala seketika membekap mulutnya sendiri saking tidak percaya bisa bertemu lagi dengan Bahri. Satu-satunya pria yang sering menyita pikirannya sejak pertama bertemu. Bahkan sampai saat ini.

Bayangan masa lalu berkelebatan dalam benak Komala. Saat dia selalu berharap akan kembali satu angkot dengan Bahri. Karena itu, dia jadi sering milih-milih naik angkot yang kadang berakibat membuatnya kesiangan ke sekolah atau terlambat pulang kerumah. Saat dia sering duduk berlama-lama di teras dengan alasan membaca buku padahal hatinya berharap Bahri akan tiba-tiba muncul menyapanya. Dan saat tanpa sadar, dia menulis nama Bahri di bangku sekolahnya yang membuat Teti heboh dan berujung menginterogasinya seharian.

“Kok kaya kaget gitu? Gimana kabar kaki kamu?” tanya Bahri.

“Ekhem!” Komala berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya. “Itu... Luka itu udah sembuh 4 tahun lalu.” Katanya sambil tersenyum malu-malu.

“Jadi... kamu masih ingat?” Bahri tersipu.

Komala mengangguk. Rona merah menghiasi pipinya.

“Kamu guru, sekarang?” tanya Bahri.

Komala mengangguk pelan. “Kamu tinggal di sini?” tanya Komala, canggung.

“Aku kerja disana,” Bahri menunjuk sebuah bangunan tinggi di sebrang kantor pos.

Komala ber oh pelan. “Aku udah kasiangan,” katanya sambil melihat jam tangannya.

“Kamu naik apa ke sekolah tempat kamu ngajar? Saya anta saja, gimana?”

“Eh, gak apa-apa, gak usah di antar. Saya naik angkot aja.”

“Tunggu disini, saya mabil motor dulu. Mumpung gak ada Bapak kamu.” Kata Bahri, lalu berlari kecil menyebrangi jalan raya menuju kantornya.

Komala tersenyum. Hatinya berbunga. Komala jatuh cinta.

***



Quote:Hai Gan/Sis... apa kabarnya? semoga kalian selalu sehat, ya.
Selamat hari Pancasila.
Semoga cerita dari saya bisa sedikit mengisi waktu libur kalian dan menghibur.
Diubah oleh janahjoy35
profile-picture
profile-picture
profile-picture
medh1221 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Komala
02-06-2022 04:56
Lanjut
0 0
0
Komala
04-06-2022 11:58

Intermezzo

Hallo, Agan dan Sista yang selalu mengisi waktu luangnya dengan hal yang bermanfaat seperti membaca Kaskus. Apa kabar? semoga kalian selalu sehat dan bahagia, ya.

Kali ini, ane mau cerita sedikit soal awal semula atau alasan ide cerita "Komala" ini muncul.

Jadi, gini...

Tokoh Komala itu terinspirasi dari seseorang yang sempat ane rawat selama kurang lebih 2 tahun pada tahun 2009. Beliau adalah seorang guru di salah satu sekolah luar biasa negeri. Dan Beliau memiliki sejenis penyakit autoimun yang menyerang persendian yang di kenal dengan RA (Rheumatoid Arthtritis).

Saat ane pertama kali kenal Beliau, kondisinya sudah sangat parah. Beluau sudah lumpuh total dan hanya terbaring kaku di atas kasur berbahan matras. Konon katanya, kelumpuhannya sudah terjadi sejak 7 tahun lalu sebelum ane kenal Beliau.

Hampir semua persendian di tubuhnya sudah sangat kaku. Hal itu membuat penampakan Beliau terlihat sangat menyeramkan. Kalian bisa lihat gambar di bawah dan bayangkan yang seperti itu terjadi hampir di semua bagian persendiannya. Ruas jari kedua tangan dan kakinya lebih parah dari gambar ini. Tulang persendian sekitar lutut, pergelangan dan sikutnya pun sudah sangat kaku. Belum lagi kondisi tubuhnya yang kurus kering seperti tulang yang hanya di balut kulit, itu menyeramkan, Gan.

Komala
Sumber gambar : Madcom.id


Tentu saja Komala bukan nama sebenarnya. Dan, tentu saja cerita yang ane tulis tidak semua murni sesuai realita kondisinya. Karena, selain biar lebih menarik, ada beberapa hal yang diluar pengetahuan ane.

Ane menuliskan kisah ini dengan tujuan yang mudah-mudahan baik dan membawa kebaikan. Selain untuk mengenang jasa-jasa Beliau dalam hidup ane, ane juga berharap ada beberapa part atau kejadian yang bisa dijadikan pembelajaran buat kalian penikmat baca.

Sebelumnya ane akan sampaikan, cerita "Komala" ini akan slow up date. Mudah-mudahan kalian tidak bosan menunggu dan menyimak, ya.

Jadi, kenapa slow up date?

Pertama, ane seorang karyawan yang mana kewajiban ane terhadap pekerjaan jauh lebih harus ane utamakan.

Kedua, ane perlu riset materi-materi yang lumayan berat dan rumit untuk menulis cerita ini. Biar apa? Bukan karena ane takut malu kalau ane ada kesalahan dalam memaparkan sebuah situasi atau kejadian. Karena kalau ane salah, ane yakin kalian yang peduli akan bersedia mengingatkan ane.
Ane hanya berusaha agar cerita ane ini tidak terlalu jauh dari realita dan ane bisa memberikan informasi yang benar kepada kalian yang baca.

Okelah, sekian dulu intermezzo dari ane. Lagi, ane haturkan terimakasih banyak kepada kalian yang mampir dan menyisihkan waktu yang teramat berharga dalam hidup kalian untuk membaca tulisan ane. Semoga kalian terhibur.

Salam Sehat dan Bahagia Selalu

Happy Weekend


J4ne
profile-picture
profile-picture
profile-picture
medh1221 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Komala
06-06-2022 21:52
Terimakasih tulisan nya .
Setelahbmembaca intermezzo saya turut prihatin atas kesehatan Ibu Komala ini.Semoga lekas membaik
profile-picture
janahjoy35 memberi reputasi
1 0
1
Komala
10-06-2022 15:31

Komala

5. Membara


Motor CB100 yang dikendarai Bahri melaju kencang membelah kesunyian jalan yang kiri kanan jalannya berjejer pohon-pohon besar. Membuat perjalanannya terasa sejuk walapun matahari mulai terasa terik membakar bumi.

Di bangku penumpang, Komala duduk miring sambil berpegangan kuat pada bagian ujung bangku. Ingin sekali dia berpegangan pada Bahri, tapi dia terlalu malu untuk melakukan itu.
“Bahri, tolong pelan-pelan. Hawatir kelewatan.” Seru Komala.

Bahri menurunkan laju motornya, “Udah mau sampe, ya?” Tanyanya sambil menengok sekilas kebelakang.

“Itu, aku turun disitu aja.” Kata Komala sambil menunjuk sebuah gerbang di kiri jalan yang terlihat semakin besar dan menjulang tinggi seiring motor mendekat.

Bahri menepikan motornya tepat didepan gerbang yang sedikit terbuka. Disisi kiri gerbang ada sebuah pos lengkap dengan seorang penjaga sekolah yang langsung berdiri siaga begitu motor Bahri berhenti didepan gerbang.

Hati-hati Komala turun dari motor lalu mengangguk sopan kepada Bapak penjaga sekolah yang langsung tersenyum ramah begitu mengenali siapa yang datang.

“Sekolah Luar Biasa?” Tanya Bahri dengan intonasi heran dan tak percaya. Lagi-lagi Komala membuatnya terpana. Bukan hanya fisiknya yang cantik, pribadi Komala sudah terlihat unik dari pertama kali Bahri bertemu Komala.

“Iya, kenapa gitu?” Tanya Komala sambil tersenyum.

Bahri mengangkat kedua alisnya sambil mengulum senyum. “Keren.”

Komala tersipu. Rona merah kembali terbit dikedua pipinya. “Yaudah, saya masuk dulu. Terimakasih, udah nganter.” Kata Komala sambil beranjak mudur beberapa langkah sebelum akhirnya berbalik hendak masuk kedalam gerbang.

“Komala?!” seruan Bahri seketika membuat Komala kembali berbalik dan mematung menatapnya. Bahri turun dari motornya dan berjalan mendekati Komala. “Kamu pulang jam berapa?” Tanya nya.

“Kenapa emang?” Tanya Komala dengan tatapan penuh selidik tapi tidak juga mampu menyembunyikan binar bahagia dimatanya.

“Nanti saya jemput.”

“Gak usah!” seru Komala sambil segera menunduk menyembunyikan rona merah pipinya. Selain karena Bahri, dia merasa sangat malu pada penjaga yang terlihat asik menontoninya dan Bahri. “Saya pergi dulu,” Komala buru-buru pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Bahri yang melongo di depan gerbang sekolah.

Penjaga sekolah tersenyum sambil geleng-geleng, pasti dia teringat tentang dirinya sendiri yang pernah muda.

Bahri mengangguk sopan kepada penjaga sekolah yang masih tersenyum menatapnya. Dia hendak pergi dan kembali ke kantornya. Tapi hatinya terlalu gelisah dan membuncah untuk melepaskan Komala begitu saja. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan lagi. Bahri memilih menunggu Komala.

Dengan senyum ramah dan gestur sesopan mungkin, Bahri mendekati pos jaga. “Siang, Pak.” Sapanya.

Penjaga sekolah yang berseragam satpam itu terlihat berwibawa dengan perawakannya yang tinggi besar. Wajahnya terlihat tegas dengan rambut beruban tersisir rapih kebelakang. “Pacarnya Bu Mala?” Tanya satpam itu.

Bahri tersenyum malu-malu sambil memperhatikan name tag dengan tulisan Zafar di saku kanan seragamnya. “Belum, Pak. Ini lagi usaha.” Kata Bahri sambil menggaruk tengkuknya. “Saya izin untuk nunggu Komala sampe selesai ngajar, Pak.” Lanjutnya dengan tatapan memohon.

Zafar tersenyum lebar. “Tentu boleh, kau temani aku ngopi sambil main catur. Bisa catur, kau?” kata Zafar sambil mengeluarkan papan catur dari bawah meja pos.

“Bisa, Pak.” Bahri sumringah.

“Kau amankan dulu motor kau itu, parkir disana,” Zafar menunjuk sederetan motor yang terparkir rapih di lapangan samping gedung utama sekolah.

Bahri tersenyum senang, dia mengangguk cepat lalu melesat menuju motornya. Komala, kali ini aku tidak akan kehilangan kamu, lagi.

***


Bahri terlihat takjub melihat ruang musik dimana Komala tengah asik memandu sekelompok paduan gamelan yang dimainkan oleh siswa-siswi tuna netra SMALB. Dari jendela, Bahri tersenyum kagum. Komala dan segala aktifitas yang baru saja di lihatnya di sekolah ini seperti keajaiban. Mempesona sekaligus membuatnya merasa sangat bersyukur.

Sebelum akhirnya dia sampai diruang musik ini, Bahri melewati sebuah taman dimana anak-anak tuna netra berseragam putih biru terlihat aktif dan ceria berinteraksi, bercanda, berbagi cerita layaknya anak-anak normal pada umunya. Dia juga melewati ruang olah raga dan sempat terpana melihat beberapa siswa remaja tuna netra yang tengah bermain showdown atau tenis meja.

Bahri tersentak kaget ketika pintu ruang musik tiba-tiba terbuka. Sepertinya dia larut dalam lamunan dan hanya menatap kosong kedalam ruangan musik tanpa menyadari aktifitas di dalam situ sudah berakhir.

Siswa-siswi yang keluar dari ruangan itu terlihat bahagia. Senyum merekah dari bibir mereka. Keterbatasan bukan halangan buat mereka untuk bersenang-senang seperti manusia pada umumnya. Mereka tetap bisa bermain musik, mereka tetap bisa bersenda gurau mana kala keluar dari dalam kelas.

“Bahri?!” Komala tersentak kaget menemukan Bahri yang berdiri di depan kelasnya. “Ngapain?” tanya Komala sambil menutup rapat pintu ruang musik dan menguncinya.

“Nungguin kamu, mau anter kamu pulang.” Jawab Bahri sambil mengulum senyum.

Komala menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Pipinya merona. “Baiklah, tapi saya harus ke ruang guru dulu.”

“Gak apa-apa, saya antar.”

“Jangan! Saya malu sama rekan guru yang lain,” kata Komala dengan raut wajah hawatir.

“Kalau gitu, saya tunggu di pos jaga, ya?” Bahri berjalan mundur perlahan dengan tatapan tak teralihkan dari Komala.

Komala tersenyum lalu mengangguk perlahan.

Bahri tersenyum lebar lalu berbalik pergi, berlari kecil menuju pos jaga gerbang utama sekolah.

Komala berdiri mematung menatap punggung Bahri yang perlahan menjauh dan hilang di tikungan koridor sekolah. Jantungnya berdegup kencang. Ada perasaan bahagia yang terasa membuncah di dadanya. Komala berjalan perlahan menuju ruang para guru sambil memegangi dada kirinya yang terus saja berdegup seolah menggedor-gedor rongga dadanya.

***


“Kamu kok bisa tau jam pulangku?” Tanya Komala memulai percakapan.

“Saya nungguin kamu di pos jaganya Pak Zafar,” jawab Bahri dengan wajah berseri.

Mata Komala membelalak, tak percaya. “Beneran?” tanyanya sedikiti berseru.

Bahri mengangguk sebelum membantu pelayan yang datang dengan beberapa hidangan pesanannya dan Komala.

Komala tersenyum simpul, rona merah kembali menghiasi pipinya yang putih bersih.

“Aku gak nyangka kamu suka makan babat,” kata Bahri sambil meletakan soto betawi isi babat sapi yang masih mengepulkan uap panas di hadapan Komala.

“Emang kenapa?”

“Gak papa, kamu emang beda.” Bahri tersenyum lalu mulai mengaduk soto dagingnya. “Eh, Komala. Tadi aku sempet muter-muter di sekolah kamu. Bener-bener luar biasa, ya, sekolah tempat kamu ngajar. Aku gak nyangka juga lho, kamu pinter main musik,”

Komala tersenyum simpul, seharian ini kadar oksitosin dalam tubuhnya menggila karena sanjungan Bahri. “Habisin dulu makannya, baru nanti kita ngobrol.” Katanya sambil tersenyum manis kepada Bahri.

Bahri mengangguk mengerti lalu fokus makan.

***


Udara malam Ibu Kota terasa sejuk. Motor Bahri menepi didepan sebuah gedung mewah bergaya neo-ranaisans.

“Kamu ngapain ngajak aku kesini? Ini bioskop, kan? Udah malem, aku gak mau nonton.” Kata Komala dengan mata menjelajah bangunan megah dan mewah di depannya.

“Siapa bilang, aku mau ngajak kamu nonton,” Bahri duduk bersandar pada motornya yang terparkir. “Bentar lagi, gedung ini akan menjadi tempat pengrajin seni memamerkan karyanya. Semua jenis seni, termasuk musik tradisional bahkan mungkin tarian tradisional,”

Mata Komala berbinar kagum mendengar pemaparan Bahri.

“Aku ngebayangin, kamu dan grup musik anak didik kamu bisa pentas disana suatu saat nanti, di tonton oleh banyak orang, oleh rakyat Negeri ini bahkan luar Negeri. Pasti keren.” Kata Bahri dengan tatapan menerawang ke gedung.

Komala tersenyum lalu ikut duduk bersandar di samping Bahri. “Ketinggian gak ya? Kalau aku juga berharap begitu?” Tanya Komala kali ini matanya fokus menatap kedalam mata Bahri yang memiliki tatapan tajam.

“Aku yakin bisa,” kata Bahri dengan tatapan serius untuk meyakinkan Komala.

“Kamu tau, menjadi luar biasa itu gak mudah. Mereka bisa main musik untuk diri mereka sendiri aja udah sukur. Ya, semoga nantinya bisa main untuk orang lain. Dengan begitu, orang akan terhibur dan mereka bisa mendapatkan harga untuk usahanya menghibur orang.” Komala menatap lembut mata Bahri yang berbinar memancarkan kekaguman. “Pulang, yuk. Udah malem.” Ajak Komala.

Bahri tersenyum manis. “Yuk!”

Motor Bahri melaju perlahan menerobos malam Ibu Kota yang semakin larut justru terasa semakin hangat seiring perasaannya yang tiba-tiba membara di dadanya.

***





Quote:Segini dulu ya manteman... semoga terhibur. Happy weekend, salam sehat selalu...
Diubah oleh janahjoy35
profile-picture
profile-picture
profile-picture
medh1221 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Komala
11-06-2022 00:56
mampir di sini, baru baca dikit ...
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Komala
15-06-2022 22:03

KOMALA

6. Mengajar calon penghuni surga


Motor Bahri memasuki sebuah kawasan perumahan sederhana dan berhenti didepan sebuah rumah tingkat.

“Ini rumah keluarga kamu atau kost?” Tanya Bahri sambil mematikan mesin motornya.

“Kost,” dengan hati-hati, Komala turun dari boncengan motor Bahri.

“Boleh mampir, dong?” Bahri tersenyum sambil menatap jahil.

“Gak boleh, lah!” Komala terkekeh. “Ini khusus putri, laki-laki di larang masuk.” Katanya dengan senyum merekah di wajahnya.

Bahri mengangguk mengerti. “Besok berangkat jam berapa?” Lagi-lagi Bahri bertanya, binar matanya begitu memuja.

“Eh?” Komala tersenyum simpul. “Kegigihan kamu bikin aku takut,” Komala kembali terkekeh.

Bahri ikut terkekeh. “Aku gak mau hilang kontak lagi sama kamu.” Kata Bahri dengan tatapan serius. “Bapak kamu gak cerita, ya? Aku pernah kerumah kamu beberapa kali, tapi selalu Bapak kamu yang nemuin dan bilang kalau kamu sibuk belajar.”

Penuturan Bahri membuat Komala terperangah kaget. Matanya membulat sempurna. Berarti selama ini, bukan tanpa alasan kenapa dulu dia terus teringat dengan Bahri.

Komala menatap lekat wajah Bahri, wajah yang sudah banyak berubah dari terakhir dia mengingatnya. Hampir saja Komala tidak mengenalinya. Wajah Bahri terlihat semakin tegas sekaligus mempesona dengan kumis dan janggut tipis yang mempermanis wajahnya.

“Hei! Kok bengong?”

Komala tersenyum sekaligus tersipu malu. Untuk kali pertama dalam hidupnya dia memperhatikan wajah laki-laki seintens dan sedetail ini. “Aku biasa berangkat pukul setengah tujuh,” katanya lalu mengulum bibirnya, matanya bergerak kesembarang arah menghindari beradu tatap dengan Bahri. “Aku masuk dulu, ya.” Komala bergegas berbalik lalu berjalan cepat menuju pintu kecil disisi kiri gerbang rumah tingkat itu. Tanpa memberi kesempatan lagi kepada Bahri untuk berpamitan, Komala masuk meninggalkan Bahri.

Bahri terpaku menatap pintu kecil yang perlahan tertutup. Sepertinya dia belum rela untuk berpisah dengan Komala. Untuk beberapa saat dia tetap diam sambil berharap, Komala akan kembali muncul dari balik pintu itu.

Setelah beberapa menit menunggu dan tidak ada tanda-tanda kemunculan Komala, Bahri menarik napas, segaris senyum terbit di wajahnya. “Masih ada hari esok.” Katanya pada diri sendiri. Dia menyalakan mesin motornya, lalu melaju meninggalkan rumah kost Komala dengan hati berbunga.

Di lantai dua, Komala menatap kepergian Bahri dari balik jendela kamarnya sambil memegang dada kirinya yang terasa berdebar. Dia merasakan perasaan yang baru saat bersama Bahri. Perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Selain jantungnya berdebar, ada sensasi menggelitik di perutnya. Terasa mulas tapi anehnya dia menikmati sensasi itu.

***


“Belum berangkat, Mala?” sapa seorang ibu paruh baya yang tengah mendorong gerbang utama rumah kost.

“Nunggu jemputan, Bu.” Jawab Komala sambil tersenyum ramah.

“Wah, tumben ada yang jemput. Pacar kamu?” tanya Ibu itu. Kali ini dia menarik gulungan selang air.

“Bukan, Bu.” Komala terkekeh. “Bu Nadine ini, pacaaarrrr terus yang di tanyain.” Kata Komala sambil memegang kedua pipinya yang tiba-tiba terasa hangat.

“Wajah kamu merona, Mala. Berarti bener, kamu nunggu pacar. Gak apa-apa, udah sewajarnya gadis cantik seusia kamu punya pacar.” Bu Nadine tersenyum tulus. “Kapan-kapan ajak mampir kesini, kenalin sama Ibu.” Lanjutnya sambil mulai menyirami tanaman di halaman rumahnya.

Komala tersipu malu, bibirnya tersenyum lebar. “Makasih Bu sebelumnya.” Kata Komala sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukan waktu pukul 06.50. Kenapa Bahri belum juga datang?

“Sesama rekan guru?” Tanya Bu Nadine.

“Sesama rekan guru?” Komala mengulang pertanyaan Bu Nadine, dia kehilangan fokusnya karena mulai hawatir kesiangan ke sekolah, sementara Bahri belum juga muncul.

“Itu, yang mau jemput kamu.” Kata Bu Nadien dengan tatapan tidak lepas dari tanaman-tanaman hiasnya yang terlihat segar setelah terkena air.

“Oh, Bukan…” Komala kembali menatap jam tangannya. “Bu, saya berangkat dulu, ya.” Komala bergegas berjalan cepat meninggalkan Bu Nadine yang menatapnya heran.

Butuh waktu 10 menit untuk berjalan menuju jalan utama dari rumah Bu Nadien tempat kost nya. Dan butuh waktu 10 sampai 15 menit untuk menunggu angkutan tujuan ke sekolahnya, setelah itu, Komala masih harus menempuh perjalanan 15 menitan dengan angkot. Kalau jalanan padat, bisa 20 sampai 25 menit.

Komala merengut kesal, dalam hati dia memaki dirinya sendiri yang bisa dengan mudahnya percaya pada Bahri.

Bodoh sekali kamu, Komala. Batinnya.

***


Komala menatap gerbang sekolah yang terbuka lebar, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Sekali lagi ia menghela napas lalu tersenyum menatap riuh ramai gerbang sekolah. Syukurlah aku tidak telat.

Hampir sebagian besar siswa-siswi di sekolah tempat Komala ngajar, selalu di antar jemput oleh keluarga ataupun pengsuhnya. Tapi ada juga yang terpaksa harus melakukan apa-apa sendiri, termasuk barangkat ke sekolah.

“Selamat pagi, Pak Zafar.” Sapa Komala, ramah.

“Selamat pagi, Bu... tumben datangnya lebih siang?” tanya Zafar sambil tersenyum ramah.

“Iya, tadi ada urusan dulu. Pak Zafar, liat Syla, gak?”

“Syla sudah masuk tadi, Bu.”

“Oh gitu… Terimakasih, Pak. Kalau gitu, saya masuk dulu.” Komala mengangguk sopan lalu bergegas berjalan cepat melewati halaman luas tempat upacara yang merangkap tempat parkir.

Syla adalah salah satu siswi kesayangannya. Bukan hanya karena Syla memiliki suara yang merdu saat bernyanyi, Komala menyayangi Syla seperti adik sendiri. Gadis itu yatim piatu, tinggal di asrama tunanetra yang tidak jauh dari sekolah. Biasanya, Komala akan menunggu Syla di gerbang sekolah lalu mengantarnya sampai ke kelas.

“Pagi, Bu Komala,” sapa seorang guru muda yang tengah merapihkan beberapa kotak berisi media untuk melatih orientasi mobilitas siswa.

“Pagi, Pak Ibrahim,” Komala tersenyum ramah sambil menganggukan kepalanya sopan. “Hari ini latihan apa, Pak?” tanya Komala basa-basi sambil memperhatikan kota-kotak yang di susun oleh Ibrahim.

“Biasa, Bu. Ini pengenalan beberapa material alam seperti pasir, tanah, rumput.” Ibrahim tersenyum riang sambil menepuk-nepuk celananya yang terkena tanah kering. “Kalau Bu Komala enak, gak kotor-kotoran, gak kepanasan seperti saya.”

Komala tersenyum simpul. “Sama aja, Pak. Niatkan ibadah. Ada yang bilang, mengajar anak-anak luar biasa itu seperti mengajar calon penghuni surga.”

“Wah… Ibu Komala memang luar biasa,” Ibrahim tersenyum dengan binar mata mengagumi. Sudah jadi rahasia umum para guru dan murid-murid, bahwa Ibrahim menyukai Komala.

“Biasa aja, Pak Ibrahim. Saya permis─”

“Sebentar! Kamu udah sarapan? Eh, maksud saya, Ibu Komala sudah sarapan?” Tanya Ibrahim, canggung.

Komala tersenyum. “Sudah, Pak. Mari saya permisi dulu.” Komala mengangguk sopan, lalu beranjak pergi menuju ruang guru, meninggalkan Ibrahim yang tengah mengelus dada kirinya. Lagi-lagi dia di tolak sebelum mengajak.

Senyum Komala kembali terlipat seiring langkahnya yang menjauh daru Ibrahim. Sebetulnya hari ini terasa sangat mengesalkan. Tapi dia berusaha untuk tetap tersenyum dan professional dalam pekerjaannya. “Kenapa aku kesal sekali sama Bahri? Padahal aku yang bodoh karena terlalu berharap padanya.” Gerutunya lalu menghela napas pendek.

***


Komala belum sepenuhnya menguasai huruf braille, tapi itu tidak menjadi hambatan untuk dia mengajar. Sementara ini, siswa-siswinya masih bisa mengikuti pelajarnnya dengan metode tape recorder dan praktek langsung pengenalan alat-alat musik dan memainkannya. Kedepannya, tentu saja Komala harus bisa menguasai huruf barille untuk mengjarkan braille music supaya anak didiknya bisa membaca tangga nada dan not balok.

“Ada yang tau nama salah satu musisi difabel yang terkenal bahkan mendunia?” Tanya Komala di akhir jam mengajarnya.

“Ray Charles!” Juan, salah satu dari 6 murid yang tengah mengisi kelas musik hari ini menjawab antusias.

“Betul! Siapa lagi? Ada yang tau lagi selain Juan?” Tanya Komala kepada murid-muridnya yang sebagian menjawab serentak tidak tahu dan sebagian lain menggelengkan kepala. Komala tersenyum melihat murid-muridnya.

“Saya ada kaset Ray Charles, Bu.” Kata Juan sambil mengeluarkan beberapa kaset tape dari dalam tasnya. Juan meletakan 3 buah kaset tape di atas meja lalu meraba bagian muka kaset, membaca judul koleksi kaset tape nya. Bibirnya tersenyum lebar saat dia menyentuh kaset tape barwarna putih lalu mengangkatnya ke udara. “Saya putar ya, Bu. Boleh?” pinta Juan dengan mimik ceria.

“Silahkan, Juan.”

“Kalian pasti suka,” kata Juan yang lebih terdengar seperti gumaman. Juan mengeluarkan kaset tape belajarnya dan memasukan kaset tape Ray Charles kedalam tape recordernya.

Setelah beberapa detik terdengar vocal group menggaungkan sebait lirik “I can’t stop loving you,” di susul dengan alunan nada genre musik soul yang memadukan blues, jazz, rhythm dan blues. “I’ve made up my mind, to live in memories of the lonesome time,” lirik selanjutnya terdengar suara syahdu dan merdu milik Ray Charles.

Komala memejamkan matanya. Dalam hitungan detik selanjutnya ia terhanyut menghayati tiap bait lirik yang mengingatkannya pada sosok pria yang membuatnya kesal seharian ini. Bahri…

***

Diubah oleh janahjoy35
profile-picture
profile-picture
medh1221 dan olasaja memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Komala
27-06-2022 21:53

KOMALA

7. Sekeping puzzle



Suara ketukan di pintu kamar kost Komala terdengar gaduh. Komala meletakan reglet dan stylus ─penggaris berlubang dan paku penusuk kertas yang biasa digunakan tunanetra menulis Braille, di meja.

Wajah Bu Nadine tersenyum ramah begitu Komala membuka pintu kostnya. “Ada telepon untuk kamu,” kata Bu Nadine.

“Baik, Bu. Terimakasih. Sebentar saya kebawah.” Jawab Komala sopan.

Bu Nadine tersenyum, lalu beranjak meninggalkan kamar kost Komala.

Komala bergegas memakai celana training panjang. Dia tidak terbiasa keluar kamar dengan pakaian minim. Dengan tergesa, Komala turun ke lantai satu dan langsung menerobos masuk rumah Bu Nadien menuju sebuah ruangan yang terletak diantara dapur dan ruang tamu yang dijadikan perpustakaan pribadi bergaya retro oleh Bu Nadien. Tidak salah “Tante Nyetrik” menjadi julukan untuk Bu Nadien. Beliau suka hal-hal yang classic.

“Hallo,” sapa Komala begitu gagang telepon menyentuh daun telinga kanannya.

“Mala, ini Bapak.” Suara Guntur terdengar tegas walaupun di telepon.

“Iya, Pak. Bapak sama Mamah sehat?”

“Yah, ya… kami sehat. Kamu apa kabar, Nak?”

“Mala sehat, Pak.”

“Mala, kamu bisa pulang hari ini?” Nada suara Guntur terdengar resah dan terburu-buru.

“Ada apa, Pak?” tanya Komala, panik. “Mamah beneran sehat, kan, Pak?”

“Ini bukan soal Mamah, ini soal ibu kamu. Ibu kamu sakit… Ibumu ingin bertemu kamu. Katanya, itu permintaan terakhirnya.” kalimat Guntur diakhiri dengan helaan napas panjang.

Untuk sesaat, Komala tertegun. Kata “Ibu─wanita yang melahirkannya” terdengar asing baginya. Pernah beberapa kali sejak dia mengetahui bahwa Widya bukanlah ibu yang melahirkannya, Komala berharap ibu kandungnya itu akan tiba-tiba datang dan menjemputnya. Bukan karena Komala tidak bahagia bersama Guntur dan Widya, tapi setidaknya dia tidak akan merasa di buang oleh ibu kandungnya.

“Mala…” panggil Guntur dari balik telepon, suaranya terdengar lembut.

Suara Guntur yang lembut terdengar lirih di telinga Komala, Komala menghela napas. “Ibu ada disana, Pak?” tanyanya.

“Tidak. Ibumu di Purwakarta. Kalau kamu bisa pulang hari ini, kita bisa berangkat bersama kesana, besok.”

“Bapak berangkat besok?”

“Iya, kita berangkat besok.”

“Mala harus izin dulu ke sekolah, Pak. Mala berangkat langsung dari sini aja, gimana?”

“Yakin, kamu? tidak takut, kamu?” Nada suara Guntur terdengar khawatir.

Komala terkekeh. Guntur masih saja menganggapnya seperti anak kecil. “Mala udah gede, Pak.”

Guntur menghela napas. “Baiklah, catat alamatnya!”

Komala bergegas mengambil ballpoint dan sticky note yang biasa di letakan Bu Nadien di meja disamping pesawat telepon.

Setelah selesai menulis alamat rumah Ibunya, sebelum memutus sambungan telepon, Komala menyempatkan untuk bercakap-cakap sebentar bersama Widya untuk melepas kangen.

***


“Nah, ini dia.” Suara Bu Nadien mengagetkan Komala yang baru saja keluar dari dalam rumah. “Udah? Gimana, kabar orang tua kamu, sehat?”

Mata Komala terbelalak, kekagetannya bertambah tiga kali lipat. Bukan karena Bu Nadine, tapi karena sosok laki-laki yang sudah mau satu bulan ini menghilang dan membuatnya resah.

“Bahri?!” serunya.

Seketika Bahri berdiri dari duduknya, tersenyum lebar sekali. “Komala, apa kabar?” sapanya.

Komala mengerutkan keningnya, matanya menatap tajam Bahri. Bisa-bisanya kau tiba-tiba datang setelah lama hilang, lalu dengan santainya kau bertanya apa kabar? Kabarku, buruk. Dan itu karena kamu.

Bu Nadien tersenyum melihat reaksi kaget Komala. “Kalau gitu, Ibu tinggal dulu, ya, Nak Bahri.” Bu Nadien beranjak berdiri, tersenyum ramah kepada Bahri lalu mengangguk lembut kepada Komala, masih dengan senyum yang menghiasi wajah timur tengahnya, Bu Nadien masuk ke dalam rumah.

Komala duduk di bangku teras yang tadi di duduki oleh Bu Nadien. Wajahnya merengut kesal.
“Ada apa kamu kemari?” tanyanya ketus.

“Kata Ibu Kost kamu, waktu itu kamu nungguin aku, ya? Maaf aku tidak datang,”

Ih, Bu Nadien! Apa coba maksudnya. Gerutu Komala dalam hati.

Bahri menatap lembut Komala. “Aku pikir kamu tidak akan nungguin aku,” Bahri terkekeh.

Komala memutar bola matanya kesal. “Ya! Aku salah karena terlalu berharap sama manusia.” gerutunya.

Bahri terkekeh. “Kamu gak mau tanya, kenapa aku tidak datang?”

“Untuk apa?!”

Bahri tersenyum melihat wajah Komala yang jelas sekali dia kesal. “Malam itu, setelah aku anter kamu kesini, aku kecelakaan.” Bahri membuka sepatunya lalu menarik keatas bagian celana yang menutupi betis kanannya. Bekas luka jahitan terlihat memanjang dari punggung kaki, melewati mata kaki sampai ke betis. Garis putih kemerahan menunjukan kondisi luka yang masih dalam proses penyembuhan.

Komala terperangah. Reflek, kedua tangannya menutup mulutnya yang tiba-tiba tebuka. “Ya ampun, Bahri…” katanya lirih. Mata Komala mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba saja dia ingin menangis. “Maafkan aku… “ Komala terisak.

“Eh! Kenapa kamu nangis?” Bahri mendekati Komala, menepuk-nepuk pundak Komala lembut.

Selama ini aku fikir, mudah sekali kamu melupakanku. Begitu saja hilang tanpa kabar. Ternyata aku salah. Tangis Komala semakin menjadi. “Ibu…” panggil Komala lirih. Entah bagaimana, kejadian yang menimpa Bahri tiba-tiba membuatnya teringat pada ibu kandungnya. Untuk pertama kalinya, dia berfikir positif tentang ibu kandungnya dan hal itu membuatnya merasa bersalah sekaligus merindukan ibu kandungnya itu.

“Kenapa, Ibu kamu?” tanya Bahri sambil duduk berlutut di depan Komala yang semakin larut dalam tangis.

“Ibu sakit. Aku harus segera pulang.”

Bahri mengambil tangan Komala, menggenggamnya erat. “Kapan kamu mau pulang? Aku antar, ya!”

Komala menatap nanar wajah Bahri, air mata terus berderai membasahi kedua pipinya yang putih bersih.

Bahri membelai pipi Komala, menghapus bulir-bulir air mata di pipi Komala. “Kali ini aku akan hati-hati, aku tidak akan membuat kamu menunggu lagi.” Kata Bahri dengan tatapan lembut dan dalam yang membuat Komala yakin lalu mengangguk patuh.

***


Setelah mendapatkan izin cuti untuk beberapa hari dari Pak Triadji, Komala bergegas menemui Bahri yang sudah menunggunya di pos satpam. Kali ini Bahri betul-betul menepati janjinya.

Zafar, penjaga sekolah sekaligus satpam melepas keduanya dengan mendoakan keselamatan untuk keduanya dan kesembuhan untuk ibunya Komala.

Motor CB100 milik Bahri melaju sedang, meninggalkan sekolah tempat Komala ngajar. Komala melingkarkan tangannya memeluk Bahri. Menghangatkan udara pagi yang lumayan dingin menusuk kulit. Tanpa mereka sadari, keduanya tersenyum menikmati sensasi yang terasa menggelitik perut masing-masing.

***


Tidak sulit untuk menemukan kediaman Satria Yudha, kediaman keluarga besar Guntur di perkampungan kecil di Purwakarta.

“Kalau boleh tau, Neng ini siapa? Ada perlu apa mencari kediaman Alamarhum Pak Satria?” tanya Bapak paruh baya pemilik warung kopi tempat Komala dan Bahri singgah untuk beristirahat.

“Saya Komala, anaknya Bapak Guntur.” Jawab Komala, sopan.

“MasyaAllah, anak Pak Guntur? Kenapa gak bilang dari tadi, atuh.” Bapak itu tergopoh keluar dari dalam warungnya.

Komala tersenyum kikuk, sementara Bahri menatap Bapak itu, heran.

“Jang! Ujang!” Bapak pemilik warung kopi berteriak sambil melambaikan tangan memanggil sorang anak laki-laki yang tengah asik bermain layangan di lapangan di sebrang warungnya. Tanpa menyahut, anak itu berlari ke warung.

“Aya naon, Bah?” (Ada apa, Bah?) tanya anak laki-laki yang kira-kira usianya memasuki awal baligh itu, matanya menatap penuh selidik ke arah Bahri dan Komala.

“Yeuh, anteurkeun tamu na Pak Guntur ka imah Bah Soleh!” (Tolong antar tamunya Pak Guntur kerumah Abah Soleh) pinta Bapak pemilik warung sambil menepuk pundak ringkih anak lelaki itu. Anak itu mengangguk nurut.

“Mangga, Neng. Diantar sama si Ujang, ya.” (Silahkan, Neng. Diantar sama Ujang, ya) kata Bapak pemilik warung sambil mengangguk sopan pada Komala dan Bahri.

“Hatur nuhun, Pak.” (terimakasih, Pak) Kata Komala seraya mengangguk sopan kepada Bapak pemilik warung.

Sebelum mengikuti si Ujang yang sudah beranjak untuk memandu jalan, Komala berbalik mendekati Bahri yang sedang menyalakan mesin motornya. “Aku jalan kaki sama anak itu, ya. Gak apa-apa, kan?”

“Oh, kamu mau jalan kaki? Yaudah gak apa-apa,” Kata Bahri sambil tersenyum jahil lalu menarik gas meninggalkan Komala dan berhenti tepat disamping Ujang. “Naik, Jang. Si Neng itu mau jalan kaki, jadi kamu aja yang naik.” Bahri terkekeh sambil mengedipkan sebelah matanya pada Komala yang terbengong menatapnya.

“Bahri?!” seru Komala tidak mengerti.

“Kamu tunggu dulu disini, nanti aku jemput kamu kalau udah tau rumahnya Abah Soleh,” teriak Bahri lalu melaju meninggalkan Komala yang masih bengong bersama Bapak pemilik warung yang terkekeh melihat kejahilan Bahri pada Komala.

“Sinih, Neng. Gak lama juga nanti pacarnya balik lagi,” kata penjaga warung. “Pacar Neng itu gak mau Neng capek,” lanjutnya kemudian kembali terkekeh "Padahal mah, udah deket." Lagi-lagi Bapak pemilik warung terkekeh, kali ini sambil geleng-geleng kepala.

Komala mengangkup kedua pipinya yang menghangat. Ucapan Bapak pemilik warung membuatnya malu sekaligus bahagia.

Tidak sampai sepuluh menit Komala menunggu. Suara motor Bahri terdengar mendekat. Seketika Komala beranjak, berdiri antusian dengan senyum yang merekah serta tatapan berbinar menatap Bahri. Dia belum pernah sebahagia ini. Bertemu dengan Ibu kandungnya di temani orang asing yang entah bagaimana terasa sangat dekat dan akrab. Kehadiran Bahri seperti sekeping puzzle yang mampu melengkapi bagian yang selama ini kosong dalam dirinya.

***

0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
akhirnya-kita-sah
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia