Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
55
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/62274ce06da06f270b715b94/asrama-horror-story
Hai agan sekalian.. Ane yg masih newbie ini ingin menuliskan sebuah kisah kelam seorang gadis yg tinggal di sekolah berasrama. Mohon maaf jika banyak kekurangan. Welcome kritik dan saran yg ramah.. πŸ˜‰ Jangan lupa tinggalkan jejak dan bagi cendolnya yaaa πŸ™ˆπŸ™ˆ Kegelapan selalu bersanding dengan cahaya. Jangan takut. Karena gelap bisa kau jadikan tempat persembunyianmu.. Index: Bab Satu Bab Dua
Lapor Hansip
08-03-2022 19:32

Asrama Horror Story

Hai agan sekalian..
Ane yg masih newbie ini ingin menuliskan sebuah kisah kelam seorang gadis yg tinggal di sekolah berasrama. Mohon maaf jika banyak kekurangan. Welcome kritik dan saran yg ramah.. πŸ˜‰
Jangan lupa tinggalkan jejak dan bagi cendolnya yaaa πŸ™ˆπŸ™ˆ



Asrama Horror Story

Quote:Kegelapan selalu bersanding dengan cahaya. Jangan takut. Karena gelap bisa kau jadikan tempat persembunyianmu..



Index:
Bab Satu
Bab Dua
Bab Tiga
Bab Empat
Bab Lima
Bab Enam
Bab Tujuh
Bab Delapan
Bab Sembilan
Bab Sepuluh
Bab Sebelas
Diubah oleh chomchorom
profile-picture
profile-picture
profile-picture
69banditos dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Masuk untuk memberikan balasan
stories-from-the-heart
Stories from the Heart
19K Anggota β€’ 28.5K Threads
Halaman 1 dari 2
Asrama Horror Story
08-03-2022 21:13
Hehehe
Diubah oleh doyanmeremmelek
0 0
0
Asrama Horror Story
08-03-2022 21:17

Bab 1

Asrama Horror Story

Asrama Horror Story


Drt.. Drt.. Drt..
Getaran handphone Andin membangunkan nya dari tidur lelapnya. Andin menatap layar handphone nya dan langsung matikan alarm nya. "SHIT!!" Umpatnya dalam hati. Ia lupa mematikan alarm pada handphone nya yg ia bawa diam-diam ke asrama setelah liburan kenaikan kelas kemarin.

Hari ini adalah hari pertama Andin menjadi kakak kelas. Kehidupan sekolah berasrama membuatnya menjadi lebih memahami banyak karakter dan bagaimana cara menghadapi karakter orang lain.

Andin bukanlah anak berprestasi. Dia adalah anak yg biasa saja. Tidak terlalu nakal dan juga tidak pandai. Singkatnya Andin adalah anak yg tidak menonjol dan biasa-biasa saja. Dari segi fisik maupun prestasi.

Andin bergegas antri mandi dan sarapan sebelum berangkat menuju kelas mereka. Berharap tidak terlambat pada hari pertamanya di kelas 2 SMP.

Andin sampai ke kelas tepat sebelum bel berbunyi. Ia meletakan tas nya di meja paling belakang dekat tembok. Tempat ternyaman baginya. Andin dan murid lain berlarian menuju lapangan serbaguna. Ya. Hari itu mereka harus upacara bersama sekaligus memperkenalkan guru-guru mereka pada murid ajaran baru.

Andin menatap teman di sebelahnya yg mengantuk. "Heh. Ga tidur lu semalem?" Bisik Andin membangunkan temannya
"Semalem gue erep-erepan bangun-bangun takut mau tidur lagi"
"Yg datengin lu siapa??" Tanya Andin penasaran. Erep-erepan atau ketindihan adalah kondisi ketika kita tertidur tetapi kita tetap sadar. Biasanya kita akan di datangi sosok hantu yang membuat tubuh kita membeku dan tidak bisa bersuara meskipun kuta berusaha menjerit. Atau sering juga di sebut sleep paralyze.
"Pocong. Mampus gak lo??"
"Terus lu bangun nya gimana?"
"Di bangunin Vivi. Dia ga bisa tidur juga. Katanya hawanya ga enak banget terus dia liat gue kaku katanya jadi dia bangunin gue"
"Hah? Terus terus????"
"Terus kita diliatin bu Ani" Ucap Anita sambil melirik bu Ani. Guru Bahasa inggris yg juga menjabat sebagai guru kedisiplinan kini tengah menatap tajam ke arah kami.

Bersyukur pagi itu kami tidak mendapatkan hukuman karena bu Ani harus memberikan arahan pada murid baru.

Andin berjalan santai sambil menatap ke arah gudang bawah tangga sebelah kelasnya. Sekilas seperti ada sebuah bayangan besar disana. Andin mengucek matanya dan melihatnya lagi. Tidak ada.

Andin bergegas masuk kedalam kelasnya sambil berusaha menghilangkan rasa merindingnya saat melewati gudang tersebut.

Bel pulang sekolah telah berbunyi tetapi kelas Andin masih sibuk mengerjakan tugas pelajaran Ekonomi. Meskipun hanya 3 soal tetapi membutuhkan 3 lembar kertas jawaban.

Andin dan teman-teman nya memilih untuk langsung mengerjakannya saja daripada menundanya sampai waktu belajar malam.

Andin dan beberapa temannya menghela napas lega bersamaan. Menandakan tugas mereka telah selesai di kerjakan. Mereka merapihkan perlengkapan sekolah mereka masing-masing dan saling menunggu satu sama lain sambil bergurau.

"Din tau gak nanti malam ada jurit malam anak baru" Tanya Dhea tiaba-tiba
"Eh? Hari ini?? Malem jumat banget. Jam berapa??" Tanya Anita yg kaget
"Katanya sih mulai jam 12 malem nanti pada di kumpulin di lapangan. Nonton yuk.."
"Duhhhh.. Gue ga ikutan deh Dhe, gue mau tidur aja . Capek banget gue kurang tidur belakangan ini" Jawab Anita cepat
"Din ayo din.. Pasti seru liat anak-anak pada dikerjain dulu sebelum jurit malam" Dhea berusaha membujuk Andin yg tiba-tetingat bayangan di bawah tangga samping kelasnya.
"Eh? Gue liat nanti deh ya Dhe, soalnya gue belom bongkar koper. Nyokap gue bawain lauk juga, kalo lupa busuk di koper nanti"
"Eh udah hampir jam 5!! Ayo balik nanti keburu gerbang di gembok!!" Anita segera menarik kedua temannya untuk bergegas meninggalkan kelas mereka menuju gerbang sekolah.

Ketiganya tersengal-sengal mengatur napas tepat di depan gerbang.
"Pak! Tunggu!!" Teriak Andin melihat bapak penjaga gerbang hendak mengunci gerbang.
"Loh neng Andin, neng Anita sama neng Dhea belum pulang ke asrama?" Tanya pak Wagiman yg mengenali mereka.
"Iya pak! Abis ngerjain tugas akutansi!" Jawab Dhea sambil mengatur napas.
Andin tertawa dan tak sengaja menoleh ke arah kelas mereka. Ada seseorang yg tampak sedang berdiri di dekat tangga membelakangi mereka.
"Pak.. Itu siapa ya?" Tanya Andin pada pak Wagiman.
"Mana neng??"
"Ituu loh pak yg berdiri di deket tangga. Tukang bersih-bersih baru?"
Pak Wagiman dan kedua teman Andin menoleh bersamaan pada tempat yg di maksud Andin.
"Oh.. Ah.. Iya kayanya neng. Ini udah mau maghrib ayo pulang nanti gawat kalo ketahuan pak satpam yg keliling" Ucap pak Wagiman
"Oh iya iya pak. Makasih ya. Dadaaaahh" Ucap ketiganya sambil berlarian menuju asrama

Tanpa sadar Andin berlari sambil menoleh ke arah petugas kebersihan tadi. Betapa terkejut nya Andin melihat orang tersebut. Andin bergegas mengejar kedua temannya yg sedang berlari menuju asrama mereka dengan wajah pucat pasi.

Andin menatap koper nya dan jam berganti gantian. Ia tak ingin ikut melihat peserta jurit malam. Tapi ia juga takut jika harus sendirian di kamar nanti.
Dengan gemetar Andin mengeluarkan ponselnya diam-diam di dalam selimutnya dan mengirimkan pesan singkat pada Anita yg berbeda kamar dengannya.
"Nit.. Bisa ke kamar gue gak? Bawa bantal sama selimut ya" Andin terus menatap layar ponselnya hingga menyala menandakan balasan dari teman nya muncul dan membuat hatinya tenang.

Anita masuk kamar Andin sambil tersenyum menyapa teman sekamar Andin yg hendak keluar kamar dan langsung bersiap mengagetkan Andin dengan menyingkap selimutnya. Tapi justru Anitalah yg terkejut karena disana hanya ada bantal dan guling.

"Ngapain lu?" Tanya Andin di belakangnya yg disambut dengan lemparan bantal dari Anita.
"KALO NARO GULING YG BENER JAMILAH!!"
"Lah emang gimana harusnya? Hahahaha udah makan belum nit? Nyokap bawain lauk sama sambel nih. Mau?"
Anita menatap isi koper kecil Andin yg berisi makanan buatan mommynya.
"Kok tumben nyokap lu ga bawain cookies din??"
"Ituuuuuu" Jawab Andin sambil menunjuk lemari dengan dagunya.
"Waaaaaaah gue mau ini aja ah!!"
"Itu emang punya lu kok. Gue minta nyokap bawain 2. Buat gue 1, buat lo 1"
"Aaaaaaaaa terbaek emang!!" Andin memutar bola matanya dan menghela napas berat menerima pelukan spontan Anita.
"Awaaaasss! Gue pengen beres-beres! Lu anteng aja di kasur sana!"
Anita dengan senang hati naik kasur Andin dan membaca novel yg dibawanya dari kamarnya.

Saat mereka tenggelam dalam kesibukan masing-masing terdengar suara ketukan kamar. Andin meresponnya dengan menanyakan siapa diluar sana tapi tak ada jawaban. Andin pikir hanya teman iseng lewat. Tetapi hal itu berulang beberapa kali dengan jeda waktu. Anita yg kesal karena merasa terganggu saat membaca langsung membuka pintu kamar lebar-lebar. Tapi bukan nya seseorang yg dilihat nya melainkan hanya hembusan angin kencang yg menerpanya.
Andin terkejut dan menyuruh Anita kembali menutup pintu kamarnya. Mereka bertatap-tatapan.
"Gila!! Diluar angin nya gede bangeeeet! Kebayang anak baru kaya apa di lapangan. Pada pake jaket ga ya" Ucap Andin memecah kesunyian diantara mereka.
"Ah.. Dulu inget gak? Gue cuma pake baju tidur dong hahahahaa gila sampe dipinjemin jaket pak Agus" Jawab Anita sambil tertawa mengingat masa lalu.
Mereka melanjutkan obrolan sambil merapaihkan lemari baju milih Andin. Tetapi tiba ada suara ketukan lagi di pintu kamar mereka. Kali ini Anita yg bertetiak menanyakan siapa orang di luar sana.
"Ini gue. Galak amat. Buka buruan!" Suara Dhea terdengar menggigil diluar sana.
"Sinting lu iseng bangeet si malem malem nakutin orang!" Anita menyambut Dhea dengan ocehan galaknya. Andin hanya tertawa melihat kedua teman nya bertengkar kecil meributkan hal tidak penting.
"Din ayok ke lapangan. Bentar lagi bel nih, anak anak baru pada di giring ke lapangan"
"Enggak deh diluar dingin banget kan? Males banget gue, mending di kamar. Selimutan hahaha"
"Loh.. Nit lu nginep disini???? Wah gila sih gue ga diajak"
"Itu si Andin tadi kirim chat ke gue nyuruh temenin beberes. Padahal Gita ada, tapi tetep aja nyari nya gue. Heran" Jawab Anita sambil meledek Andin.
"Lah gita emang udah dateng din? Kok dia ga kasih tau gue??" Tanya Dhea bingung. Andin menatap Anita heran.
"Gita??" Tanya Andin pada Anita.
"Iya. Tadi pas gue dateng dia nyapa kok. Tapi keluar lagi. Sampe sekarang belom balik tuh. Gue kira nginep di kamar lu Dhe. Biasanya dia ke kamar lu kan? Nyamperin Rere??" Jawab Anita sambil memakan cookies buatan mommy Andin.
Andin dan Dhea saling menatap.
"Dhe. Kata lu Gita baru balik lusa??"
"Bener din, sumpah. Ini chatnya masih ada di hape gue" Dhea menunjukan chat dari Gita pada Andin.
"Ih apaan sih suwer deh tadi gue ketemu pas lo mandi din"
Andin menutup koper bajunya sambil menghela napas panjang. Menatap kedua teman nya.
"Guys. Malem ini kalian nginep sini ya. Gue mau cerita.. Lu gausah ambil bantal sama selimut Dhe. Pake aja punya si Gita. Chat dulu gih, ijin"
"Oh oke.." Jawab Dhea patuh mendengar nada bicara serius dari Andin.

Dhea segera menghubungi saudaranya untuk izin menggunakan selimut dan bantalnya. Begitu sudah mendapatkan izin. Mereka berkumpul di tengah dengan menyatukan 2 ranjang milik Gita dan Andin.

"Guys.. Kalian inget gak tukang bersih-bersih yg tadi ada di depan kelas kita???" Tanya Andin membuka suara
"Inget din kenapa??" Tanya Dhea sambil berusaha melepas genggaman tangan Anita yg menggenggam tangan nya dan tangan Andin erat.
"Guys.. Tunggu deh.. Ini kenapa gue dipinggir sih? Gue takut asli. Ini mau bahas yg serem-serem kan pasti???"
"Karna gue yg mau cerita. Kalo gue di pinggir nanti Dhea ga denger karna lu berisik ketakutan" Jawab Andin sambil menatap Anita yg ketakutan.
"Lanjut din. Kenapa sama OB tadi?" Tanya Dhra penasaran.
"Pas tadi kita lari pulang.. Gue sempet nengok.. Dan lu tau?? Mukanya ancur banget!! Kelopak matanya ga ada. Mana melototin kita.. Makanya gue nyuruh Anita nginep. Taunya malah dia juga liat penampakan!"
"Hah? Gue?? Kapan????" Tanya Anita kaget
"Lah itu si Gita sih! Udh jelas Dhea bilang Gita balik lusa" Jawab Andin gemas sambil mencubit pipi Anita
"Jadi tadi yg gue liat siapa dong??????"
"Ya gatauuuuu..." Jawab Andin dan Dhea kompak
"Eh din!! Jangan-jangan yg tadi ketok-ketok...." Ucapan Anita terhenti karena merinding mengingat kejadian tadi
"Oh iya!!!! Ah gila lu Dhe! Mana pas lg sepi lu tadi pake acara ketok2 kamar terus kabur lagi!" Andin menggerutu pada Dhea yg usil
"Gue?? Lahhh gue dari tadi dikantin lohh. Kalo ga percaya tanya aja Dita! Tadi gue ke kantin bareng dita. Balik bareng Rere soalnya Dita masih makan. Mau di bungkus tapi gajadi karna bu kantin mau nungguin sambil beresin barang2" Jawab Dhea bingung
"Loh terus?? Tadi siapa????" Andin dan Anita saling bertatapan. Merinding memgingat kejadian hari ini.
"Guys ini serius kita ga gabung sama kamar lain aja?? Gue takut banget..." Bisik Anita pada kedua teman nya
"Lu mau, jalan keluar kamar jam segini? Kalo udah pada pules gimane?" Jawab Dhea juga berbisik
"Yakan kita bisa chat dulu"
"Emang lu tau siapa aja yg bawa hape? Kalo hape nya udah di titip ke bu Ani, ketawan dong kita bawa hape???" Jawab Andin
"Hah... Bisa gila gue. Ini gimana guys.. gue pengen pipis...." Diam-diam Dhea juga takut untuk ke kamar mandi kamar Andin.
"Kita tungguin di depan pintu kamar mandi deh. Udh sana buruan.." Usul Andin yg ternyata juga ingin buang air
"Boleh gue duluan gak? Gue kebelet.." Andin dan Dhea menghela napas melihat wajah Anita yg memelas
"Yaudah ayo deh. Inget ya. Gantian!" Ujar Andin sambil menggandeng keduanya menuju kamar mandi kamarnya
"Hng.. Guys.. Kalian ngobrol doong gue takut kalo sepi gini.. Pintu ga gue tutup yaaa" Bisik Abita sambil masuk kedalam kamar mandi
"Hah... Gila lu Nit. Siram yg bener ya! Awas loh kalo sampe pesing!" Ujar Andin dari depan kamar mandi
"Iyaaaa ish! Udahan kok ini" Jawab Anita sambil menekan tombol flush sebelum keluar.
Mereka bertiga bergantian menggunakan kamar mandi sambil saling menunggu dan mengobrol. Tibalah saat nya Dhea membuka pintu kamar mandi dan langsung terburu-buru menggandeng tangan kedua teman nya menuju ranjang.

"Guys tidur yuk.." Bisik Dhea dengan suara bergetar.
Kedua temannya merasa ada yg aneh tetapi merekapun tidak berani bertanya. Mereka hanya berusaha tidur dengan menutup mata rapat-rapat dan saling bergandengan satu sama lain.

Andin terbangun. Ia melirik jam tangannya. Pukul 03:00am. Andin melirik kedua temannya yg tertidur pulas. Tenggorokan andin terasa sangat kering. Andin menyenggol2 kedua temannya aagar terbangun. Tetapi keduanya sangat lelap. Akhirnya Andin memberanikan diri mengambil botol minum di meja samping kasur untuk melepas dahaga.
Andin menghela napas panjang setelah meminum sebotol penuh air minum. Andin pun bersiap untuk tidur kembali. Tetapi Andin melihat Anita keluar dari kamar mandi.

"Loh nit. Lu abis pipis??" Tanya Andin heran
Bukan nya menjawab Anita hanya tertawa dan mendadak bergerak menggeliat dengan kaku seperti sebuah robot yg rusak sambil berjalan menghampiri Andin.
Tubuh Andin membeku. Matanya tidak bisa berpaling dari sosok mengerikan di hadapannya. Bahkan suaranya pun tak bisa keluar dari mulutnya.
"T...t...tttoll..oong..." Ucapnya sambil terengah-engah.

Andin berusaha keras untuk bergerak dan menjerit tetapi tidak berhasil. Air mata membanjiri wajahnya. Melihat sosok mengerikan yg semakin lama semakin dekat padanya.

"ANDIN!!" Panggil Anita sambil mengguncang tubuh Andin yg terasa dingin.
Dhea memercikkan air ke wajah pucat Andin yg banjir air mata.
"Din bangun din... Jangan nakut-nakutin kita dong.." Ucap Dhea menahan tangis.
Andin membuka mata dan terkejut melihat wajah Anita di depannya. Sontak Andin mendorong tubuh Anita menjauh dari dirinya.
"Din?? Ini gue. Anita..." Ucap Anita kebingungan
"Din lu kenapa heh? Erep-erepan????" Tanya Dhea khawatir
Andin menatap sekelilingnya. Jam menunjukkan tepat jam 06:00am.
"Guys.. Kayanya kita diikutin setan gak sih??" Tanya Andin lirih. Iapun menceritakan apa yg terjadi padanya. Entah hanya mimpi. Erep-erepan atau benar-benar terjadi. Yg jelas botol air minum Andin benar-benar kosong.

Pagi itu mereka memutuskan untuk mandi bertiga dengan mengenakan pakaian lengkap dan bergegas menuju kelas dengan menghindari gudang samping kelas mereka.

Bersambung..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bejo.gathel dan 13 lainnya memberi reputasi
14 0
14
Asrama Horror Story
09-03-2022 04:24
seru nih, lanjut terus sampai selesai.
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Asrama Horror Story
09-03-2022 16:14

Bab 2

Asrama Horror Story

Quote:Jangan pernah membelakangi cahaya jika kau tak ingin kegelapan melahapmu tanpa kau sadari


Anita merasa sejak jam pelajaran pertama selalu ada yg memperhatikan nya. Tetapi Anita tak berani sekalipun menoleh untuk memastikan siapa yg menatapnya. Anita pun menuliskan kegelisahannya pada secarik kertas dan memberikannya pada Andin yg duduk tepat di belakangnya tanpa menoleh yg dengan cepat dibalas oleh Andin.

"Jangan diliat. Fokus ke materi" Membaca tulisan Andin membuat Anita semakin tegang. Dan hanya memberi kode ok dengan tangannya.

Andin menatap punggung Anita yg tegang. Sedari tadi iapun merasakan seakan ada seseorang yg menatapnya dari belakang. Tapi andin tahu betul itu tidak mungkin karena ia sendiri duduk pada baris paling belakang. Tak ada apapun di belakangnya.

Andin menoleh ke arah Dhea dan terkejut saat melihat Dhea yg berada di kursi paling depan sedang menatapnya tajam. Andin memberikan kode "kenapa??" Tetapi tatapan Dhea tampak kosong. Andin merinding.
Andin menoleh pada Anita yg juga tengah menatapnya dengan tatapan tajam namun terlihat kosong seperti orang yg sedang melamun.

"Nit.. Liat kedepan jir. Pak Basuki nanti kesini loh" Bisik Andin berusaha menyadarkan Anita.

Bukannya berhasil menyadarkan temannya, justru Andin yg dikejutkan oleh kedatangan gurunya. "Mampus kan bener di samperin" Batin Andin sambil menoleh pada sosok yg menghampirinya.

Saat bertatapan dengan sosok tersebut tubuh Andin seperti kehilangan tenaga. Andinpun ambruk hingga membuat seisi kelas terkejut.

Anita dan Dhea saling bertatapan dengan gelisah saat mengantar Andin ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Mereka berdua sama-sama tau jika ini pasti berkaitan dengan sosok yg sejak kemarin mengganggu mereka bertiga.

"Dhe, lu ngerasa ga sih sepanjang kelas ada yg merhatiin terus??" Bisik Anita sambil berjalan mengikuti petugas UKS membawa Andin yg pingsan dengan kursi roda.
"Iya gue juga ngerasain kok tapi gue usaha fokus ke pak Basuki. Gue ga bisa fokus, gila!" Jawab Dhea menyuarakan kegelisahannya.
"Dhe.. Apa kita bikin salah ya sampe ada yg ganggu gini??"
"Salah??" Dhea menatap Anita bingung
"Iyaaa.. Kali aja gitu kita ga sengaja udah ganggu mereka.." Jawab Anita ragu

Dhea hendak menjawab pertanyaan Anita tetapi terhenti karena mereka telah sampai di UKS. Anita menggenggam tangan Dhea erat seperti menyadari jika akan terjadi sesuatu disana.

Petugas UKS memberikan keterangan pada Dokter jaga dan membaringkan tubuh lunglai Andin ke ranjang UKS untuk di periksa Dokter UKS.

Setelah memeriksa kondisi Andin, kedua temannya dimintai keterangan.

"Kita juga ga gitu tau sih dok. Tiba-tiba Andin pingsan. Tadi sebelum berangkat emang kita ga sempet sarapan dok karna buru-buru berangkat"
"Hmm.. Apa semalam Andin tidur dengan waktu cukup?" Tanya dokter Imam
"Itu..." Belum sempat Anita menjawab Dhea sudah memotong jawaban Anita.
"Tidak dok. Andin sibuk menata lemarinya semalaman.." Dhea menatap Dokter Imam "oh iya dok. Teman saya Anita juga mengeluh pusing dan sakit perut dok" Ucapan Dhea membuat Anita menyenggol kakinya menunjukkan sikap protes.
"Sakit perut di bagian mana? Kanan atau kiri?" Tanya dokter Imam sambil menatap wajah polos Anita
"Hmm semuanya dok. Pokonya sakit"
"Tadi pagi sarapan?"
"Kan tadi udah cerita dok kita ga sarapan.." Jawab Anita lugu yg di susul oleh cubitan kecil Dhea di pahanya hingga membuat Anita mengeluh "aduhh.."

Dokter meminta Anita berbaring di ranjang sebelah Andin. Anita menatap wajah pucat andin yg terlihat tenang.

"Punya sakit lambung gak?" Tanya dokter Imam sambil menatap Anita.
"Hmm enggak dok.."
"Terakhir makan apa?"
"Banyak macem dok. Cemilan atau makan berat?"
"Semuanya"
"Hmmm apa yaaaaa? Kemaren aku makan nasi goreng seafood, cookies dari mommy nya Andin, sama Crackers"
"Minumnya?"
"Ah.. Hmm.. Cola dok.."
"Maaf yaaa permisi sebentar.." Dokter Imam memasukan tangan nya kedalam seragam Anita dan memeriksa perutnya. "Jangan tegang. Perut nya jadi tegang juga. Relax.." Ujar Dokter Imam sambil memeriksa perut Anita lagi.
"Gimana dok?" Tanya Dhita yg sudah ada di belakang dokter Imam.
"Oh gapapa. Ini cuma karna telat makan aja. Istirahat sebentar setelah makan pasti pulih lagi" Jawab dokter imam sambil menyelimuti Anita yg tampak canggung.
"Boleh saya pinjam telepon UKS dok?" Tanya Dhea tiba-tiba.
"Ya?"
"Saya mau pesan makanan dari kantin karna saya ga mungkin ninggalin kedua teman saya sendirian"
"Saya bisa jaga mereka kok. Kalo kamu mau ke kantin.."
"Engga dok. Saya yg gak bisa ninggalin teman-teman saya" Ucap Dhea tegas
"Kalo gitu silahkan pakai saja"
"Terimakasih dok.."

Andin segera memesan roti, makanan dan juga minuman untuk mereka bertiga karena dokter Imam menolak tawaran Dhea untuk dipesankan sesuatu.

Dhea duduk diantara ranjang Andin dan Anita sambil menutup tirai jendela agar tidak silau. Mereka makan sambil berbisik membicarakan keadaan Andin. Keduanya sangat khawatir jika Andin pingsan karena di ganggu sosok yg tiba-tiba saja meneror mereka.

Selesai makan, Dhea ke toilet dan Anita yg takut di tanya-tanya lagi memilih untuk pura-pura tidur saat dokter memeriksa Andin yg tampak seperti tidur lelap.

Dhea kembali dari toilet dan menatap Andin yg sedang di periksa dokter.

"Bagaimana dok??"
"Bagus.. Tapi demamnya masih tinggi. Barusan saya masukkan obat melalui infusan"
"Baik dok terimakasih.."
"Heh. Tidur lu?" Bisik Dhea sambil menyenggol lengan Anita yg tampak benar-benar terlelap. Wajar saja Anita mengantuk mengingat kejadian semalam yg menimpa mereka.

Dhea menatap Andin lama. Merasa sedih melihat temannya yg selalu ceria mendadak terbujur lemas seperti itu. Tatapan Dhea terpaku pada leher Andin yg tampak terbuka. "Sial!" Umpatnya sambil membenahi kancing baju Andin yg tampak terbuka. Sepertinya dokter Imam lupa memasang kembali kancing baju teman nya saat memeriksanya tadi.

Bel pulang sekolah telah berbunyi dan Andin masih belum membuka matanya. Anita tidak bisa lagi berakting sakit hingga membuat Dhea meminta dokter Imam untuk memindahkan Perawatan Andin ke asrama saja. Setelah negosiasi akhirnya diputuskan jika Andin akan dipindahkan setelah mengganti botol infus yg hampir habis.

Selama perjalanan menuju asrama Anita terus menempel pada Dhea. Mereka terus berjalan tanpa mengucapkan sepatah katapun hingga Andin dipindahkan ke kamarnya dan hanya tersisa mereka bertiga.

"Gila.. Gue takut banget sama dokter Imam.." Ucap Anita sambil terduduk lemas.
"Lah kenapa?" Tanya Dhea bingung
"Tatapan nya itu loooohhh bikin risih banget! Mana tadi gue kaget banget pas perut gue di periksa"
"Hahaha takut ketawan ya"
"Bukan! Dia masukin tangannya ke baju gue kan. Gue kirain lu liat"
"Hah yg bener lu? Bukan nya biasanya ga skin to skin ya??"
"Gatau deh gue. Mungkin dia biasa meriksa murid putra kali yaa. Cuma gue risih aja gitu"
"Tadi gue juga sempet benerin kancing baju andin yg kebuka. Kayanya abis di periksa sama dokter Imam. Teledor juga ya. Masa ga di kancingin balik"
"Hah????" Anita tampak sangat terganggu dengan pernyataan Dhea. Anita memang paling penakut diantara mereka. Tapi Anitalah yg paling peka dan pandai menilai orang lain diantara mereka.
"Kenapa nit?"
"Ah enggak. Gue belom yakin sih. Cuma gue rasa ga ada bagusnya kita berurusan sama dokter Imam"
"Sayangnya dokter Maria masih cuti menikah. Mungkin 2 hari lagi baru balik"

Keduanya bercakap sambil melakukan aktifitas harian mereka. Mereka memutuskan untuk menginap lagi di kamar Andin. Dhea memutuskan untuk tukar kamar dengan saudaranya yg belum kembali dari liburan panjang mereka.

Mereka tenggelam dalam kesibukan masing-masing membawa perlengkapan mereka dari kamar masing-masing secukupnya. Anita pun membantu Dhea memindahkan barangnya yg belum banyak di pindahkan ke lemari kamarnya.

"Untung aja gue belom beresin koper"
"Iya lu heboh banget mau nonton anak baru uji nyali. heran.."
"Seru soalnya. Dulu kita kan juga digituin. Gue jadi pengen liat hahaha"
"Yaaaaah ada bagusnya sih jadi gampang mindahin barang-barang lo"
"Ini namanya takdir nit.. Hahahaha"
"Orang gila.."

Selesai beres-beres mereka meminta petugas kesehatan asrama untuk datang menggantikan baju Andin. Lalu mereka bersiap untuk tidur tanpa mengikuti agenda belajar malam karena terlalu lelah.

Malam itu Anita tidur seranjang dengan Dhea karena satu kamar hanya untuk 2 murid dan hal itu membuat Anita tidak bisa ikut pindah ke kamar Andin.

Anita terbangun karena mendengar suara ketukan pintu yg cukup keras. Anita pun bertanya siapa yg ada di depan dan ternyata petugas kesehatan. Anitapun membukakan pintu untuk mempersilahkan mereka masuk dan memeriksa Andin.

Setelah memeriksa Andin dan mengganti botol infus milik Andin. Petugas kesehatan pamit keluar. Anita pun kembali tidur setelah memperbaiki selimut Andin yg tersingkap.

Tak berapa lama terdengar lagi suara ketukan yg sangat mengganggu hingga Dhea pun ikut terbangun.

"Siapa??"
"Petugas kesehatan asrama"
Keduanya bergegas membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk
"Loh.. Kok infus nya udah diganti??" Tanya petugas kesehatan lada mereka
"Kan tadi udah di ganti kak sama temen kakak"
"Temen saya?" Tanya petugas kesehatan bingung
"Kalo gak salah namanya Siska kak. Tadi sekilas liat name tag nya" Mendengar jawaban Anita kedua petugas kesehatan tersebut saling beratatapan dan akhirnya izin undur diri.

Anita dan Dhea menatap Andin sedih. Berharap temannya baik-baik saja dan segera siuman.

Pagi tiba dan keduanya harus berangkat sekolah. Anita yg khawatir dengan sahabatnya pun meninggalkan ipod nya dengan mode rekam suara di bawah ranjang Andin.

"Din gue tinggal sekolah dulu ya. Lu baik-baik yaaa cepet sembuh" Ucap Anita sambil mengecup kening temannya
"Gue juga ya din.. Nanti istirahat kita balik nemenin lo yaa" Ucap Dhea sambil membelai rambut panjang Andin.

Keduanya meninggalkan Andin dengan perasaan khawatir.

"Andin gapapa nih kita tinggal??" Tanya Anita
"Gapapa. Udah banyak doa aja nit. Kita juga ga bisa bolos karna pasti ada yg dateng buat meriksa Andin kan.."
"Duh gue takut banget Andin kenapa-napa.."

Keduanya bercakap-cakap sambil menceritakan perasaan mereka saat dikelas kemarin. Keduanya berharap jika hari ini tidak ada gangguan apapun.

Bel istirahat berbunyi. Keduanya bergegas berlari menuju asrama mereka untuk menengok Andin.

Mereka saling bertatapan melihat sepasang sepatu pria di depan kamar mereka. Anita yg tampak sangat panik langsung membuka pintu kamar dengan keras. Dokter Imam tampak terkejut melihat kedatangan Anita dan Dhea.

"Dokter ngapain?" Tanya Anita lantang
"Meriksa Andin?" Jawab dokter Imam gugup
"Sendirian?" Tanya Dhea bingung melihat sikap defensif Anita
"Iya, Petugas kesehatan asrama baru aja keluar untuk ambil madu"
"Madu?" Tanya keduanya kompak
"Iya. Kita mau coba cek apa ada respon dari indra perasanya karna sudah 20 jam tidak sadarkan diri"
"Kenapa pake madu?"
"Karena rasa manis dapat merangsang lidah untuk mengecap"
"Kenapa gak lemon? Kan lebih kuat" Tanya Anita sambil menatap keranjang buah di atas meja kamar Andin
"Dengan perut kosong seharian??"
"Ah..." Keduanya pun paham

Dokter Imam dan petugas kesehatan pamit setelah selesai memeriksa Andin. Kedua temannya pun bersyukur karena Andin merespon dengan baik dan dinyatakan hanya tertidur sangat lelap. Di perkirakan sore atau malam Andin sudah akan siuman.

Setelah tersisa mereka bertiga, Anita segera mengecek ipod nya di bawah ranjang. Tetapi belum sempat di dengarkan bel masuk sekolah sudah berbunyi. Akhirnya Anita menyimpan ipod nya di dalam tumpukan baju Andin agar tidak disita jika dilihat guru mereka.

Andin menggeliat, berusaha melepaskan diri dari sentuhan-sentuhan tangan tak kasat mata pada tubuhnya. Andin berusaha keras membuka matanya dan berteriak meminta tolong

"Din.. Sadar din.." Samar Andin mendengar suara Anita
"Nit....." Ucap andin lirih hampir tak terdengar.

Dokter Imam dan beberapa perawat tampak sibuk mengecek keadaan Andin yg sempat bergetar hebat karena kejang.

Andin membuka mata dan kebingungan melihat banyak orang disekitarnya. Bahkan ada banyak wajah yg tidak dikenal didalam kamarnya

Andin merasa kamarnya begitu penuh sesak diisi oleh banyak orang. Iapun memohon pada dokter agar semuanya pergi dari kamarnya.

Dokter Imam membimbing Andin untuk mengatur napas. Dan memejamkan matanya agar lebih relax. Andin juga diberikan minum agar tenggorokannya tidak terlalu kering.

Manis.. Indra perasa Andin merasakan air minum membasahi tenggorokannya. Rasa sejuk mengalir dari mulut sampai ke perutnya. Membuat andin menjadi lebih tenang dan mulai membuka matanya lagi.

Di kamarnya hanya tersisa kedua temannya. Seorang perawat dan dokter Imam. Andin terkejut melihat tangan nya yg sedang mencengkeram tangan dokter Imam sampai terluka dan segera melepaskan nya.

"Ma.. Maaf dok.."
"Gapapa.. Sudah merasa lebih baik?"
"Iya dok.."
"Ada keluhan?"
"Tidak dok.."
"Kalau tidak ada keluhan saya tinggal dulu ya, nanti akan di cek sama team petugas kesehatan yg jaga malam ini.."
"Baik dok.."

Anita dan Dhea segera menghampiri Andin setelah dokter dan perawat pergi.

"Din.. Are you okay??"
"Din.. Lu kenapa??" Tanya Anita hampir menangis
"Gue juga bingung kenapa tiba-tiba jadi gini.."
"Lo bener udah gapapa din??" Dhea terlihat khawatir
"Gue sih okay ya. Ga ngerasa ada yg sakit. Cuma emang lemes aja gitu loh rasanya.."
"Lo ga ada mimpi atau apa gitu din??" Pertanyaan Anita membuat Andin kembali mengingat pengalaman tak terlupakannya selama tak sadarkan diri.
"Sebenernya gue.."

Bersambung..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bejo.gathel dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Asrama Horror Story
09-03-2022 19:52
Lanjutkan
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Asrama Horror Story
10-03-2022 12:01
lanjut gais
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Asrama Horror Story
10-03-2022 15:45
Lanjoth
profile-picture
minyoongiyoon memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Asrama Horror Story
10-03-2022 21:35

Bab 3

Asrama Horror Story

Andin dan teman lama nya, Arum. Mereka berdua berencana pergi ke suatu desa untuk berlibur dan berziarah ke kuburan kerabat Arum. Mereka menempuh perjalanan jauh menggunakan sepeda motor tua.

Sesampainya di desa mereka mampir ke tempat pemandian air hangat dan meminum air telaga yg segar dan bersih. Andin dan Arum merasa sangat bahagia.

Sorenya mereka mampir istirahat di suatu padepokan desa. Entah mengapa Arum terlihat sangat-sangat ingin makan di rumah makan tersebut. Andinpun hanya mengekor pada Arum yg saat ini sedang merangkap menjadi tour guide nya. Andin pikir mungkin makanan di rumah makan tersebut sangat enak.

Suasana di sana sangatlah sepi dan terpencil. Andin menatap pemandangan sekitar yg terasa seperti film-film zaman dahulu. Ditambah dengan langit jingga yg membuat pemandangan semakin indah. Membuat Andin sangat bahagia.

Hidangan datang dan dengan lahap Arum memakannya. Andin merasakan adanya penolakan keras dalam dirinya untuk memakan soto di hadapannya. Dimatanya hanya terlihat seperti kuah bening bertabur daun bawang. Tetapi melihat Arum makan dengan lahap mau tidak mau membuat perutnya ikut lapar.

Andin menatap sekeliling. Orang-orang memandanginya karena tidak makan makanan yg ada di depannya. Termasuk Arum yg menyuruh Andin memakannya. Andinpun menyendok makanan yg ada di depannya dengan ragu. Tetapi tiba-tiba seseorang datang dan menabraknya hingga sendok dan mangkuk sotonya terjatuh.

"Ah maaf. Saya terburu-buru. Saya akan mengganti uang makanan anda. Mari ikut saya kedepan" Ucapnya setengah memaksa.

Andin yg bingung memilih untuk mengikuti orang tersebut keluar rumah makan dan berpikir untuk menolak uang ganti ruginya.

"Jangan dimakan kak. Nanti kakak ga bisa keluar dari sini.." Bisik pria itu
"Eh? Gimana?" Andin bingung dengan apa yg didengarnya
"Permisi sebentar yah kak.." Belum sempat Andin menjawab pria itu telah meletakkan tangannya di depan mata Andin dan menutupnya.
"Sekarang buka mata kakak" Andinpun patuh dan membuka matanya
"Kok...." Mata Andin mengerjap melihat sekeliling. Langit senja yg tadinya terlihat indah dalam sekejap berubah menjadi gelap. Pandangan Andin terpaku pada sebuah bangunan tua berisi kuburan yg sangat tinggi dan terlihat sangat-sangat tua.

"Paham sekarang?"
"Te te terus.. A.. Arumm.." Andin tergagap melihat Arum yg seperti sedang main masak-masakan dan memakan udara di dalam gubuk reyot.
"Gapapa kak. Kita ajak jalan aja dulu ya. Yg penting stop dulu makannya"

Andin menuruti kata-kata pria tersebut dan mengajak Arum berhenti makan dan melanjutkan perjalanan mereka. Awalnya Arum bersikeras menolak tetapi Andin dan pria tersebut berhasil membujuk Arum untuk melanjutkan perjalanan.

"Kak.. Apapun yg terjadi, kalo kakak ngerasain suasanya seperti ini lagi jangan pernah makan dan minum ya.. Karna semua ini ga bener-bener nyata.."

Andin menatap kedua temannya yg menyimak ceritanya.

"Gila. Lu inget semuanya din?? Detil banget!!" Tanya Dhea takjub.
"Gue juga ga ngerti. Lu tau sendiri gue jarang mimpi. Tapi rasanya nyataaaaaa banget. Bahkan gue masih inget rasanya disana kaya apa.."
"Din.. Sorry mau nanya.. Arum sekarang dimana??"

Pertanyaan Anita membuat Andin berfikir sejenak. Sudah berapa lama mereka tidak saling berkabar?

"Gue juga gatau nit.. Udah lama banget gue ga kontekan. Nanti gue coba hubungin deh.."
"Oh iya din.. Tadi... Lu kan bangun-bangun kaya bengek tuh.. Terus lu narik tangan dokter Imam kenceng banget. Lu ngomong apa sih? Sampe dokter Imam nyuruh yg lain keluar.."
"Oh iya!! Gue sama nita juga tadinya disuruh keluar. Tapi nita gamau jadi kita tetep disini.."
"Apa ya? Gue ga sadar sih kalo tadi sampe nyakitin dokter hehe tapi tadi gue sesek banget liat orang-orang pada kumpul. Gila kaya apaan kali nontonin gue. Ada anak baru segala ya??" Jawaban Andin membuat Anita dan Dhea saling bertatapan
"Anak baru?" Tanya Andin
"Rame???" Tambah Anita
"Iyaaaa"
"Disini cuma ada kita berdua. 2 orang perawat sama tadi pas banget Rere, Fanny sama Gina dateng bawain jajanan pesenan kita di kantin.."
"Yg bener lu Dhe??? Gue yakin kok penuh banget ini kamar sampe sesek rasanya"
"Sumpah din. Buat apa juga gue boongin lu sih??"
"Din..Dhe.. Apa kita bikin salah ya sama mereka yg belakangan ini gangguin kita??" Tanya Anita sambil menatap kedua temannya bergantian
"Gue gatau nit.. Tapi yg jelas gue yakin pasti ada sesuatu yg bikin cuma kita doang yg di gangguin"
"Iya bener. Seumur idup gue baru sekali ini ngerasain kaya ginian. Kalo Andin kan emang dari awal ngerasain kan??" Tanya Dhea
"Oh iya dulu ya dari MOS dulu pas uji nyali lu liat penampakan asli" Jawab Anita
"Tapi ga seekstrim ini sih. Yg ini juga gue baru sekali kok.."
"Yaudah sekarang lu rehat dulu aja din. Makan ya? Gue pesenin bubur di kantin??"

Andin melirik jam tangan nya. Sudah pukul 23:41
"Gausah deh nit udah jam segini. Gue makan roti aja"
"Okedeh kalo gitu gue aja yg pesen. Laper banget gue.. Lu mau gak Dhe??"
"Gue mau deh kwetiaw yah"
"Okaaaaay"

Merekapun makan dan tenggelam dalam pikiran masing-masing

Pagi tiba dan seperti biasa mereka bersiap masuk sekolah. Andin pun sudah siap dengan seragam dan tas sekolahnya. Begitu mereka keluar mereka dikejutkan oleh petugas kesehatan. Mereka melarang Andin untuk berangkat sekolah untuk memastikan kesehatan Andin. Ketiganya saling bertatapan satu sama lain.

Anita memeluk lengan Andin ketakutan. Andin pun merasakan ada kejanggalan pada petugas tersebut.

"Nit.. Lu kenape?" Tanya Dhea bingung
"Tadi.. Dia itu.. Bukan orang kan????" Tanya Anita tanpa melepas pelukannya pada lengan Andin
"Gue juga ngerasa aneh. Seragamnya seragam lama dan gue ga kenal mukanya.." Jawab Andin
"Eh? Kok gue gak nyadar??"
"Tadi.. Gue liat kakinya dhe..."
"Terus nit???" Andin dan Dhea menunggu kelanjutan dari kalimat Anita
"Kakinya ga ada......" Wajah Anita tampak pucat
"Ini mah kayanya bukan gue yg harus istirahat. Tangan Anita dingin banget Dhe. Lu lari gih panggil kesehatan.."
"Gue gamau sendirian guys... Kalian bisa gak jangan tinggalin gue??"
"Iya iya.. Gue ganti baju lagi yaaaa.. Dhe. Lu sekalian izin ya. Bilang aja mau jagain kita.."
"Ok" Dengan cepat Dhea berlari menuju ruang kesehatan asrama.

Andin dengan lembut membawa Anita masuk ke dalam kamar. Membaringkannya di ranjang Dhea dan menyelimuti nya.

"Gue ganti baju dulu yah??" Ucap Andin sambil hendak melepas genggaman Anita yg langsung ditolak.
"Bentaaaaaar aja nit. Nanti kalo gue keliatan udah seragaman disuruh berangkat dong.." Bujukan Andin hanya sampai disitu karena Anita terus menggeleng kencang.

Andin memegang dahi Anita. Panas sekali. Sangat kontras dengan tangan Anita yg sedingin es. Andin membelai Anita lembut sampai Anita tertidur pulas.

Dhea datang bersama petugas kesehatan. Andin yg sudah ganti pakaian pun pura-pura tidur di ranjangnya.

Petugas kesehatan memeriksa keduanya. Dan memberikan izin Dhea untuk menjaga kedua temannya.

Setelah petugas kesehatan pergi, Andin membuka matanya dan berbisik pada Dhea untuk mendekat.

"Gimana? Dokter Maria udah balik??" Tanya Andin
"Katanya sih hari ini masuk. Kenapa??"
"Gue rasa Anita ga bakalan mau diperiksa dokter Imam.."
"Ohh iya bener dia keliatan risih banget setiap ada dokter Imam"
"Gue gatau sih cuma emang dokter Imam tuh keliatan genit gak sih cara natapnya?"
"Emang iya? Gue gatau. Emang dia sering kedip-kedip?"
"Anjir enggak gitu konsep nya Dhe.. Kaya apa ya.. Gitu deh pokonya hahaha"

Keduanya berhenti berbincang karena terdengar suara dentuman keras dari dalam kamar mandi.

"Din... Lu denger gak?" Bisik Dhea dengan tatapan takut
"Gue denger kok.. Mauperiksa Dhe??"
"Gue ga berani.. Lu berani emang??"
"Enggak juga. Tapi gimana??"
"Duhhh gue jadi inget penampakan pas malem pertama din.. Ini yg bermasalah kamar lo gak sih???"
"Penampakan? Dimana?"
"Ituloh pas kita gantian pipis.. Gue liat ada cewek mukanya serem banget di depan lemari.."
"Hah? Kok lu ga pernah cerita??"
"Ga dapet momen nya din.. Terus gue lupa..."
"Terus gimana ini? Mau diliat gak??"
"Kita tunggu aja apa?"
"Tapi nanti kalo ada apa-apa di situ gimana??"
"Duuuhhh yaudah deh ayo"

Keduanya berjalan mengendap-endap sambil berpelukan menuju kamar mandi dan melihat sebuah buku tua di dalam kamar mandi. Keduanyapun saling bertatapan dan masuk bersama-sama untuk mengambil buku tersebut.

Andin membuka buku tersebut dengan tangan gemetar.

"Buku ini..." Belum sempat Andin berbicara mereka di kejutkan lagi oleh jeritan Anita.



Bersambung..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
simounlebon dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Asrama Horror Story
12-03-2022 20:09

Bab 4

Asrama Horror Story

Quote:Jangan meninggalkan masalalu karena terkadang masalalu adalah pelajaran yg paling berharga untukmu di masa depan


Andin dan Dhea menutup mulut mereka dengan kedua tangannya melihat tubuh Anita melayang diatas ranjang Dhea.

Andin bergegas keluar mencari pertolongan tetapi ia justru berada di tempat asing dengan suasana masalalu.

Andin membalik badan. Kebingungan mencari pintu kamarnya tetapi pintu kamarnya menghilang seperti tidak pernah ada disana.

Andin melihat sekelilingnya yg sepi sambil berjalan lurus perlahan.

Kabut tipis menyelimuti pandangan sekitarnya. Membuatnya menjadi lebih awas. Andin terus melangkah sambil melihat sekelilingnya.

"Andin?? Lu kemana aja??? Gue cariin dari tadi juga!" Suara Arum membuat Andin menoleh dengan cepat
"Arum?????"
"Apa? Arum.. Arum.. Jangan kelayapan sendirian kenapa sih? Nanti kalo lu ilang gue repot deh.."

Andin yg kebingungan hanya pasrah mengikuti langkah Arum yg sudah menggandengnya menuju desa tua yg sangat asing dimatanya.

"jangan makan minum apapun din.. Inget semua ini gak nyata" Andin berusaha mengingat ucapan pria yg ditemuinya di mimpi beberapa saat lalu.

Tiba-tiba lokasi berganti. Andin berada di sebuah rumah seseorang yg sedang berkumpul mengelilingi seorang mayat kakek tua

Andin melihat kesekelilingnya dengan perasaan merinding. Orang-orang berkomat kamit tanpa suara sambil menunjuk pada sosok mayat yg sudah di pocong berbaring di hadapannya.

Andin yg tidak tahan dengan keadaan tersebut keluar dan lari mencari Arum. Andin melihat motor Arum terparkir tepat di hadapannya. Andin menyalakan motor itu dan pergi mencari Arum.

Semakin lama motor Arum terasa semakin berat. Andinpun mulai merasa lelah mengendarai motor yg seolah selalu melalui tempat yg sama berulang kali.

"Nak.. Mari mampir kesini sebentar nak...." Suara lirih seorang wanita paruh baya berkonde membuat Andin menghentikan motornya dan menghampiri nya
"Mau kemana nak bawa-bawa jenazah naik motor malam-malam begini??"
"Jenazah??" Ucap Andin sambil menoleh ke jok belakang motor Arum. Benar saja. Jenazah yg terbungkus kain kafan di rumah tadi sekarang berada di belakangnya.

Andin menatap wanita tersebut dengan panik dan kebingungan

"Mari masuk.." Ujar wanita tersebut pada Andin
"Tapi..."
"Ditinggal saja gapapa.."

Andin dengan buru-buru meninggalkan motor Arum dan langsung masuk kedalam rumah wanita tersebut.

"Kok bisa ada disini nak??" Tanya wanita tersebut
"Saya juga gak tau bu.. Tadi saya cuma keluar kamar, tapi tiba-tiba saya udah disini sama teman saya. Tapi teman saya hilang.."
"Kamu datang berdua atau sendirian?"
"Sendiri-sendiri kaya nya bu. Saya juga kurang tau.."
"Kalo begitu mari ibu antar.."
"Eh? Kemana bu??"

Bukannya menjawab, wanita tersebut sudah menggandeng Andin menuju pintu rumahnya. Andin yg kebingungan hanya bisa mengikuti wanita tersebut.

Begitu pintu terbuka Andin di sambut sebuah cahaya yg sangat terang dan menyilaukan matanya.

"DIN!!! ANDIN SADAR DOK!!" Suara Dhea menggaung di telinga Andin.
"Loh.. Dhea??"
"Din.. Udah jangan banyak omong dulu yaaa lu tenang dulu"

Andin diperiksa oleh dokter Maria dan dokter Imam. Kedua nya tampak bercakap-cakap dan menyuruh Andin dan Anita untuk bed rest. Keduanya dilarang keluar kamar dan hanya Dhea yg boleh menrmani mereka untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka seperti makan dan lain-lain.

Wajah Dhea tampak sangat lelah dan stress. Dhea sangat kesulitan menghadapi situasi dimana kedua temannya pingsan bersamaan setelah mengalami hal mistis diluar nalar.

"Dhe.."
"Iya Din? Lu mau minum??"
"Enggak.. Gue cuma mau tanya keadaan lo.."
"Gue?? I'm good.. I'm fine.. I'm okay.. Why??"
"Lu bisa kok cerita ke gue Dhe.. Gue tau semua ini berat. Tapi kita bertiga temen kan??" Ucap Andin sambil mengusap punggung tangan Dhea
"Gue cuma.. Gue ga ngerti kenapa kalian harus ngalamin hal kaya gini Din.. Anita terbang?? Wow! Gila sih gila banget. Terus lo udah 2x pingsan minggu ini.. Just.. Why???? Why us???"
"Gue juga ga paham kenapa Dhe.. Tapi gue yakin kok semua ini ada alasannya.." Ucap Andin menenangkan Dhea
"Gue cuma.. Gue bingung.. Gue harus ngapain? Gue gatau harus gimana din.. Maaf.. Harusnya gue aja yg pergi tapi.. Gue.." Air mata membanjiri pipi Dhea
"Gapapa Dhe.. Gue paham.. Gue paham.." Jawab Andin sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu

Keduanya saling menceritakan keadaan satu sama lain saat Andin tak sadarkan diri.

"Jadi.. Anita gimana tadi??" Tanya Andin
"Anita... Kemaren ambruk ke kasur pas banget lo ambruk di luar"
"Terus??"
"Ya.... Kaya yg lo liat sekarang" Jawab Dhea sambil melirik Anita
"Bukunya????"
"Itu.. Gue berharap lu ga ngegali lebih dalem din.."
"Tentang??"
"Semua ini.. Gue harap cukup sampe disini aja gitu loh. Lu berdua udah cukup banyak ngalamin hal-hql ekstrim yg menurut gue ga make sense banget"
"Dhe.. Lu liat sendiri kan Anita sekarang kaya apa?" Tanya Andin sambil menatap dalam mata Dhea
"Lu yakin dokter bisa nyembuhin Anita??"
"Enggak din.. Gue.. Gue cuma..." Andin memeluk dan menepuk-nepuk punggung Dhea lembut. Mengerti betapa beratnya beban psikis sahabatnya itu.

Keduanya menatap Anita yg baru saja terbangun dengan wajah linglung.

"Nit.. You okay??" Tanya Dhea menghampiri Anita
"Kamu siapa?" Pertanyaan Anita membuat kedua temannya bagaikan disambar petir
"Lu.. Ga kenal gue?"
"Kalian siapa? Kenapa kalian bisa masuk kamar saya???"
"Nit.. Lu inget gue??" Tanya Andin
"Kenapa kalian terus nyebut nama Nit? Aku Sovia!"

Andin dan Dhea saling bertatapan heran. Suara Anita benar-benar berubah. Seolah diisi oleh orang lain

Anita terus meracau dan bersikap seolah dirinya adalah orang lain.

Andin dan Dhea pun hanya terus mendengarkan dan memperhatikan sahabat mereka itu.

Saat mereka sedang mendengarkan ocehan tidak jelas dari Anita terdengar ketukan pintu dari luar yg membuat Anita ketakutan dan langsung berlari kedalam kamar mandi untuk mengunci dirinya disana.

Dhea terbengong-bengong dibuatnya.

"Ada phobia suara ketokan pintu emang din??"
"Gatau gue juga. Udah bukain dulu gih"

"Selamat siang.. Bagaimana kabar Andin hari ini? Sudah lebih baik??" Sapa dokter Imam ceria
"Pagi dok.."
"Gimana? Ada keluhan?" Tanya dokter Imam sambil mengusap-usap tangan Andin
"Hmm ga ada sih dok. Cuma bosen aja tiduran terus"
"Kalo udah lebih baik nanti sore bisa kok jalan-jalan di taman depan kamar. Tapi ga lama-lama ya. 30 menit aja sekalian berjemur sore"
"Okay dok terimakasih"
"Ada keluhan lain?"
"Tidak dok. Saya baik-baik saja"
"Ah.. Kalau gitu cek tensi dulu yaaaa.."
"Okay dok.."
"Semalem istirahat cukup?" Tanya dokter sambil menyiapkan alat tensi darah
"Cukup dok.."
"Hmm 100/70.. Tensi nya normal.."
"....." Melihat Andin yg tak merespon dokter Imam mengeluarkan termometer
"Kita cek suhu dulu yaaaa"
"Okay dook.."
"Suhu nya juga okay.. 36,7Β°C. Kalo gitu dokter tinggal dulu yaaa kalau ada apa-apa segera hubungi"
"Okay dok terimakasih"

Dhea menutup pintu dan menguncinya

"Lu kenapa din? Males bgt sama dokter Imam??"
"Biar cepet keluar Dhe. Itu si nita kan di kamar mandi"
"Oh iya!!"

Keduanya memanggil2 Anita dari depan pintu kamar mandi. Berusaha membujuknya keluar mengingat di kamar mandi pernah terjadi hal-hal aneh di dalam sana.

Tak lama Anita pun keluar dengan wajah was-was

Merasa aman. Dirinya pun kembali ke pojok kasurnya dan bercerita..

"Papah udah gak ada.. Papah di buang mereka disana.."

Andin dan Dhea terkejut. Apakah pernah terjadi pembunuhan di sekolah mereka? Ataukah sosok dalam tubuh Anita adalah hantu zaman belanda seperti kebanyakan kisah sekolah lain?? Keduanya bergidik ngeri membayangkan adanya pembunuhan di seolah mereka.

Setelah mendengar cerita panjang dari sosok di dalam tubuh Anita mereka jadi teringat akan sosok di kelas mereka. Sosok mengerikan dengan tatapan tajam yg sempat mengganggu mereka.

Keduanya sepakat untuk membawa Anita ke kelas mereka nanti malam untuk memastikan perkiraan mereka dengan harapan sosok dalam tubuh Anita bisa kembali ke alam mereka lagi.

Tengah malam pun tiba dan mereka bertiga berjalan mengendap-endap dalam kesunyian.

Menyusuri jalan tikus menuju belakang kelas mereka yg tidak di jaga satpam.

Ketiganya pun sampai di belakang sekolah mereka yg kini tampak sangat gelap dan menakutkan.

Dhea yg sangat cekatan dalam kegiatan alam memandu kedua sahabatnya memasuki celah kecil untuk menyelinap masuk kedalam sekolah mereka.

Anita terlihat sangat senang begitu berhasil masuk kedalam sekolah. Langkahnya terlihat sangat ceria sambil menyenandungkan lagu Ayah-virzha yg sempat booming beberapa tahun lalu dengan suaranya yg merdu.

Andin terkejut. Jika sosok tersebut mengetahui lagu tersebut berarti dia bukanlah datang dari zaman dahulu. Yg artinya jika benar ada pembunuhan maka kejadiannya belum lama ini.

Dhea menatap Andin yg memeluk tangannya dengan bingung.

"Kenapa? Lu liat penampakan?" Bisik Dhea yg hanya di jawab dengan gelengan Andin. Keduanya kini mengekor pada Anita yg berjalan dengan cepat menyusuri lorong sekolah mereka, hingga tiba-tiba.....


Bersambung..
Diubah oleh chomchorom
profile-picture
profile-picture
profile-picture
simounlebon dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
Asrama Horror Story
15-03-2022 17:20
Mantabb...πŸ‘
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Asrama Horror Story
17-03-2022 20:02

Bab 5

Sesuai janji, malem ini ane update lagi gan. Selamat membaca~

Asrama Horror Story

Tubuh Andin dan Dhea seolah membeku. Dihadapan mereka sesosok pria dengan wajah mengerikan yg hancur dan penuh belatung yg terus berjatuhan sedang berdiri menatap mereka berdua. Bau busuk yg menusuk hidung mereka membuat Dhea tak kuasa menahan mualnya.

Sosok tersebut berdiri hanya terpaut 1 meter di depan mereka.

Andin memijat tengkuk Dhea yg muntah di sebelahnya, sambil sesekali menatap sosok mengerikan tadi. Memastikan sosok tersebut tidak berpindah tempat atau mendatangi mereka.

"Papaaaahh.....!!" Anita berteriak dari belakang mereka
"Nit tunggu!!" Andin menahan sebelah tangan Anita yg tengah berlari kecil menghampiri sosok mengerikan di depan mereka.
"Papah...." Suara anita terdengar melemah lalu tubuhnya terkulai lemah
"Loh.. Nit?!!" Andin dengan cepat menangkap tubuh Anita yg lunglai dipelukannya.

Dhea yg lelah karena muntah mulai mengendalikan dirinya dan mendongak untuk berdiri.

"Aaaaaaaaaaaaa!!!" Dhea dikejutkan oleh sosok mengerikan yg kini berada tepat di depan wajahnya. Mengerang meminta pertolongan di telinga Dhea.

Andin yg juga terkejut reflek memejamkan matanya rapat-rapat sambil memeluk tubuh Anita.

Andin menghitung didalam hatinya. Sudah pada hitungan ke 10 tetapi tidak terdengar suara apapun. Andin mengintip perlahan dari sebelah matanya.

Kosong. Dhea menghilang begitu saja. Andin yg panik berusaha membangunkan Anita yg masih berada di pelukannya.

Anita perlahan sadar dan sangat panik begitu membuka matanya. Andin memeluk tubuh sahabatnya erat sambil menjelaskan situasinya.

Anita yg sudah sepenuhnya sadarpun mulai tenang.

"Din.. Kita.. Pulang yuk??" Bisik Anita sambil memeluk lengan Andin erat
"Terus Dhea gimana Nit??"
"Duh.. Kita harus nyari keliling sekolah din?? Sekarang???"
"Terus kapan Nit? Dhea loh ilang.."
"Feeling gue ga enak banget din.."
"Udah tenang. Berdoa aja supaya Tuhan jaga kita"

Keduanya sampai di lantai 2 sekolah mereka. Mengintip setiap jendela kelas yg mereka lewati. Mencari keberadaan Dhea.

Mereka berhenti karena ada seseorang yg menyoroti keduanya dengan lampu senter dan berjalan ke arah mereka

"Siapa disana???"
"Ah.. Kita.." Anita yg kaget dengan gugup meremas lengan Andin
"Maaf pak kita lagi nyari catatan teman saya yg hilang. Terus denger suara orang di lantai 2 jadi kita keatas. Ternyata ada bapak hehe"
"Udah udah ayo pulang! Udah jam 3 pagi ini!"
"Hehe iya paaaaaakkkk"
"Kalian berdua aja??"
"Eh???"
"Yg di kelas ujung itu teman kalian bukan??"
"Tadi kita bertiga sih pak tapi temen saya tiba-tiba ilang. Makanya kita kesini hehe"
"Yaudah sana di ajak pulang temennya. Saya tunggu disini"
"Ok pak.."

Mereka berjalan ke arah kelas yg ditunjuk satpam tersebut.

Andin menarik napas dalam dan membuka pintu.

Dhea sedang duduk di salah satu bangku siswa kelas itu.

Andin dan Anita menghapirinya dengan sangat perlahan.

"Dhe...." Andin memanggil Dhea pelan
"Dhe.. Pulang yukk.." Bisik Anita yg ketakutan
"Dhe..??" Andin menepuk punggung Dhea dengan ujung jarinya. Dhea tak merespon

Andin dan Anita saling berpandangan. Rasa khawatir dan takut bercampur menjadi satu.

"Dheeee.." Kali ini Andin memberanikan diri menepuk punggung Dhea dengan benar.
"Hmmm.." Suara Dhea terdengar seperti orang yg sedang tidur
"Dhe.. Banguuuunnn..."
"Iyaaaa.. Bentar lagi.."
"Dhe.. Banguuuunn... Ditungguin pak satpaaaam"
"Hah? Satpam???" Dhea terbangun dan lebih tetkejut lagi melihat dirinya berada di dalam kelas yg gelap

Ketiganya keluar kelas dan diantar satpam sampai ke depan gerbang asrama mereka.

Andin menoleh ke belakang. Melihat sosok gadis berseragam sekolah mereka sedang melambaikan tangan dan tersenyum padanya.

Begitu sampai di kamar, mereka langsung membersihkan diri dan beristirahat tanpa membicarakan apapun yg telah terjadi malam itu.

Mereka terlalu lelah untuk membahasnya malam itu juga.

Andin menatap langit-langit kamarnya sambil mengingat-ingat wajah gadis yg melambaikan tangan padanya di gerbang tadi.

Berusaha mengingat-ingat wajah yg tampak familiar itu hingga tertidur karena tubuh dan pikirannya sudah terlalu lelah.

Andin membuka mata dan melihat sekeliling dengan bingung. 'Ini... Kantor yayasan??' Pikirnya

"Bilang bundamu, nanti pulangnya biar saya antar sampai bandara" Ucap seorang pria dengan tanda lahir di tengkuknya
"Ga usah pak gapapa. Saya udah biasa naik kendaraan umum kok" Jawab gadis tersebut
"Gapapa.. Bunda pasti lebih tenang kalo kamu saya antar.."
"Tapi..."
"Udah bilang aja. Percaya deh. Bunda pasti senang"
"Hmmm.. Okay.. Saya bilang bunda dulu.."

Andin memperhatikan gadis yg sedang menelepon bundanya tersebut. Akhirnya dia diizinkan diantar sampai bandara setelah bundanya berbicara dengan pria tersebut melalui telepon.

Siangnya pria tersebut meminta sang gadis untuk bersiap pergi dengan nya. Gadis itupun bingung. Karena tiket pesawat yg di belinya bukanlah untuk penerbangan hari ini melainkan untuk besok.

Pria tersebut mengajaknya keluar untuk makan siang bersama karena sudah hari bebas sekolah dan murid di perbolehkan keluar.

Gadis tersebut ragu. Tapi akhirnya mau karena pria tersebut berkata telah meminta izin bundanya untuk mengajaknya refreshing dan makan siang.

Keduanya makan siang di restoran yg tampak mewah. Gadis tersebut merasa sangat canggung dan terbebani oleh sikap pria tersebut.

Andin mendekati mereka berdua. Hendak melihat wajah pria dengan tanda lahir di tengkuknya itu. Tetapi seseorang memanggilnya.

"Din! Andin! Bangun din.." Dhea membangunkan Andin yg tengah tidur pulas
"Din.. Udah siang din.. Lo gapapa kan ya??" Anita ikut membangunkannya karena khawatir Andin tak hanya tidur melainkan pingsan seperti sebelumnya.
"Hmmh..." Andin terbangun dan menatap kedua sahabatnya bingung
"Apa? Ada apa?" Tanya Andin
"Gue kirain lu pingsan lagi din.. Lu tidur nya anteng banget kek orang pingsan.." Jawab Dhea
"Iya. Kita kan jadi takut lu kenapa napa lagi.."
"Ohh hahaha enggak kok. Cuma emang sih gue minpi sesuatu.."

Andin menceritakan apa yg dilihatnya dimimpi kepada Dhea dan Anita. Keduanya menyimak dengan serius tanpa memotong cerita Andin sedikitpun sampai selesai.

Setelah Andin selsesai menceritakan mimpi nya Dhea tiba-tiba angkat suara.

"Gue jadi inget.. Semalem gue...."

Bersambung..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
simounlebon dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Asrama Horror Story
17-03-2022 22:19
Bagus ceritanya
Lanjut update sist
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Asrama Horror Story
24-03-2022 22:03

Bab 6

Asrama Horror Story

Dhea memejamkan mata. Ketakutan menyelimuti dirinya. Sosok mengerikan itu begitu dekat dengan wajahnya. Bau busuk yg sangat menyengat menusuk hidungnya.

"ToOOooooOoooolooooOOong...." Bisik sosok mengerikan itu di telinga Dhea terasa panas hingga membuatnya membuka mata.

Dhea menatap sekelilingnya. Gelap sekali. Terdengar suara beberapa orang yg datang.

Mata Dhea dengan cepat beradaptasi dengan cahaya sekitar.

Ia melihat beberapa orang dewasa sedang berkumpul. 2 orang terlihat sedang memaksa seorang pria paruh baya untuk duduk berlutut di hadapan pria lain yg terlihat lebih muda darinya.

"Brengsek! Kalian benar-benar menjijikan!!" Teriak seorang pria paruh baya sambil meludah pada pria lain di hadapan nya yg langsung mendaratkan sebuah pukulan keras di wajah pria paruh baya tersebut.

Dhea melihat mereka sambil bersembunyi dan mendekap mulutnya rapat-rapat. Gelapnya malam dan hembusan angin yg dingin membuat tubuhnya bergidik.

Dhea mengernyit. Berusaha melihat lebih jelas apa yg terjadi karena suasana begitu sunyi.

Dhea melihat kedua pria itu berhadapan sangat dekat lalu tiba-tiba pria paruh baya tersebut berteriak histeris membelah kesunyian.

Kedua pria lain yg sedari tadi memegangi bahu pria paruh baya tersebut kewalahan menghadapi reaksi mendadak nya hingga pria tersebut berhasil berdiri dan berlari.

"brengsek!! Harusnya kamu yg mati bukan anakku! Pembunuh!!" Teriak pria paruh baya tersebut sambil menubruk tubuh pria di hadapannya.

"Mati? Hahahaha. Anakmu mati karna keinginannya sendiri. Aku tidak pernah memintanya untuk mati" Pria muda itu mendorong tubuh bapak tadi dan berdiri.

"Bereskan. Jangan sampai ada yg mengenali wajahnya" Ucapnya sambil meninggalkan tempat itu.

Dhea menyaksikan pria paruh baya tersebut di hajar sampai tidak bersuara lagi. Kedua pria tersebut terus memukuli wajah dan kepala pria paruh baya tersebut hingga tidak berbentuk lagi.

Dhea memejamkan mata. Tak kuat menyaksikan adegan di depan matanya.

"Terus..... Kalian ada di depan muka gue. Gue gatau gimana caranya gue bisa ketiduran di kelas ujung" Ucap Dhea mengakhiri ceritanya

Ketiganya saling bertukar pandangan. Khawatir dengan apa yg sedang mereka hadapi.

"Kasus pembunuhan? Di sekolah kita??"

Ketiganya bertukar pandangan. Khawatir dengan apa yg sedang mereka hadapi.

"Guys. Bisa gak sih kita cukup sampe disini aja? Toh kita udah bantu nemuin bapak sama anaknya kan???! Bisa ga kita ga usah terlibat lagi???" Anita memandang cemas kedua teman nya
"Tergantung arwah mereka ga sih nit? Sampe kapan mau hantuin kita??"
"Tapi din.." Belum sempat Anita berbicara Dhea sudah memotong nya terlebih dahulu
"Tapi guys. Kenapa harus kita ya??? Dari sekian banyak murid loh.."
"Apa kita ada kaitan nya???" Pertanyaan Anita sontak membuat kedua sahabat nya menoleh.
"Kaitan ya???" Andin berfikir keras mencari keterkaitan mereka bertiga dengan kasus beberapa tahun silam itu.
"Kita aja gatau siapa korban nya kan??? I mean.. Kita ga tau siapa yg hantuin kita selama ini.."
"Oh!! DIARY!! DHE! LU MASIH SIMPEN DIARY YG KITA TEMUIN DI KAMAR MANDI KAN??????" Tanya Andin menggebu-gebu
"Eh?? Ahh.. Iya!" Dhea dengan cepat langsung mengambil buku temuan mereka itu.

Ketiganya berkumpul mengelilingi buku yg sudah agak menguning tersebut.

Lembar demi lembar mereka buka dengan cepat. Berusaha mencari nama pemilik buku tersebut. Tetapi hasilnya nihil.

Andin mulai membaca nya dengan lebih teliti.

"Tanggal 20 Agustus 20xx.. Dia meminjamkanku ponsel pribadi miliknya. Aku senang saja karena aku jadi bisa bermain sosmed dan berkomunikasi dengan teman-temanku" Anita dan Dhea fokus mendengarkan Andin yg membacakan buku itu untuk mereka.

"Tanggal 21 Agustus 20xx.. Aku dipanggil lagi ke tempatnya.. Dia sepertinya tipe orang yg suka menyentuh orang lain???? Dia senang sekali menyentuh tangan dan wajahku?? Apakah semua Ayah seperti itu??" Andin membalik lembaran ke tiga.

"Tanggal 22 Agustus 20xx.. Aku menitipkan novel dan komik ku di tempatnya!! Apakah dia benar-benar aman? Ahh! Aku khawatir sekali buku-bukuku akan tersita saat pemeriksaan tadi!
Syukurlah aku sempat menitipkan nya.."

"Tanggal 23 Agustus 20xx..
Aku lelah. Aku jenuh sekali. Tapi dia menghiburku. Tiba-tiba saja memintaku datang dan memberiku coklat favoriteku! Lagi-lagi dia menyentuh wajahku. Rasanya sedikit aneh ketika tangan nya menyentuh leherku. Seperti tergelitik dan merinding bersamaan. Entahlah.."

Andin menghela napas berat. Menatap kedua sahabatnya yg tampak tegang lalu kembali membalik lembaran selanjutnya.

"Tanggal 24 agustus 20xx.. Apa aku berlebihan? Hari ini tampaknya moodnya sangat baik? Dia bahkan meminjamkanku ponsel pribadinya dan membiarkanku membuka sosial media selama aku disana. Menyenangkan sekali. Dia bahkan mengizinkanku duduk di tempatnya dan memelukku dari belakang. Rasanya aneh. Tapi bukankah seorang kakak biasanya melakukan itu pada adiknya??"

Andin memijat keningnya sambil meneruskan membaca halaman berikutnya.

"Tanggal 25 Agustus.. Aku bertemu dengan nya lagi saat seminar kesehatan tadi. Mengapa dia terus menatapku? Apakah aku melakukan kesalahan?
Tetapi teman-temanku sangat senang dengan nya.. Mereka membicarakan kebaikan nya terus menerus. Yah.. Dia memang baik. Tapi.. Tidak sampai sebaik itu sampai punya banyak fans. Dia juga tidak tampan.."

"26 Agustus.." Andin menarik napas dalam dalam lalu menghembuskan napas panjang sambil melirik kedua sahabatnya yg sangat serius mendengarkan.

"26 Agustus.. Tidak ada yg begitu special. Hanya saja tadi dia meminjam pulpenku dan berbisik menyuruhku ke tempatnya.. Tapi aku tidak datang. Entah kenapa aku tidak ingin datang. Besok aku akan mendatanginya.."

"27 Agustus...... Dia mengembalikan pulpenku dan meminjamkan ponselnya untuk aku bawa ke asrama! Yeay! Akhirnya aku merasakan debaran membawa ponsel ilegal. Hehehe.. Dia bahkan mengisikan pulsa untukku! Senangnyaaaa.. Mengapa dia baik sekali padaku? Apakah seorang kakak laki-laki memang sebaik ini pada adiknya?? Entahlah.."

"Tanggal 28 Agustus 20xx.. Besok datang lagi yaa.. Nanti sekalian diisikan pulsa. Luv u.. Aku tidak yakin.. Apakah seorang kakak laki-laki akan mengucapkan love you ke adik perempuan nya???? Aaaaaaaaaaaahh tadi sepertinya moona membaca pesan darinya!! Aku bahkan tidak merubah namanya di hp nya!"

"Moona??" Tanya Anita
"Iya.. Akhirnya kita dapet 1 nama. Apa kita cari dari situ? Harusnya ada nama moona di buku catatan siswa" Jawab Dhea
"Moona??" Andin berpikir keras. Mengingat angkatan berapa saja yg memiliki murid bernama moona.
"Din.. Lu kan anak lama. Waktu lu smp ada gak kaka kelas yg namanya Moona?" Tanya Dhea
"Gue masih mikir sih. Namanya kaya familiar tapi ga banyak nama Moona di sekolah kita. Kalo Monik banyak.."
"Coba tanya Anggi din? Dia kan anak lama juga.."
"Nit. Masalahnya Anggi kan ansos. Dia ama angkatan aja ga akrab apalagi sama kaka kelas??"
Pungkas Dhea.

Andin menatap buku harian di tangan nya. Memikirkan langkah apa yg harus di lakukan selanjutnya.

Andin membuka kembali buku tersebut secara acak. Ia melihat gambar seekor lebah yg tampak familiar. Seperti gambar yg sudah dikenalnya.

"Guys.. Ini....." Andin menghentikan ucapan nya

Bersambung..
Diubah oleh chomchorom
profile-picture
profile-picture
profile-picture
simounlebon dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Asrama Horror Story
31-03-2022 21:27

Bab 7

Asrama Horror Story

"Selamat pagi~" Sapa dokter Imam dan dokter Maria sambil memasuki kamar mereka.
"Pagi dok.." Jawab ketiganya kompak
"Gimana keadaan kalian? Better??" Tanya dokter Maria sambil menghampiri Anita.
"Waah kayanya udah bisa masuk sekolah nihh" Ucap dokter Maria sambil mengecek keadaan Anita yg tampak sudah sehat.

Dokter Imam menanyakan keadaan Andin sambil memeriksanya.

"Kayanya Andin harus ke UKS.." ucap dokter Imam tiba-tiba membuat yg lain menoleh.
"Tap..." Ucapan Andin terpotong karena jari telunjuk dokter Imam menahan bibir Andin untuk berbicara. Membuat jantung Andin berdebar keras.
"Andin masih pucet bangeet. Agak demam juga. Panas nya 38,1Β°C" Jelas dokter Imam
"Ohh kalo gitu bawa ke UKS aja dulu deh. Yg lain harus sekolah kan. Kasian nanti ketinggalan jauh" Jawaban dokter Maria membuat ketiga gadis itu saling pandang.
"Gapapa yaaaaa di rawat di UKS dulu.. Nanti jam pulang sekolah bisa balik lagi kok. Anggep aja rawat jalan yah.." Ucap dokter Imam lembut sambil mengelus-elus rambut Andin.

Andin membuang wajah menghindari tatapan dokter Imam. Ada yg aneh dengan tubuhnya. Jantungnya berpacu sangat hebat setiap melakukan kontak fisik dan kontak mata dengan dokter Imam.

Sementara kedua teman nya berganti pakaian, Andin sibuk mengatur expresi dan perasaan nya. Dokter Imam kini tengah menatapnya begitu dalam sambil mengusap-usap punggung tangan Andin dengan lembut. Membuat perasan nya menjadi kacau.

"Ada yg sakit din??" Tanya dokter Imam sambil menarik dagu Andin pelan agar menghadap wajahnya
"Enggak dok.. Gapapa.. Saya cuma.. Mau ganti baju.." Jawab Andin gugup
"Badan kamu tambah panas ini.." Ucap dokter Imam sambil menempelkan tangan nya di dahi dan leher Andin.
"Gimana dok??" Tanya dokter Maria yg berjalan mendekat
"Im fine dok.." Ucap Andin sambil menggenggam tangan dokter Maria.
"Ke UKS dulu ya sementara? Nanti kalo Andin udah seger boleh nyusul sekolah deeeeh" Bujuk dokter Maria
"Kalo gitu aku ganti seragam juga yah dok.." Bisik Andin menahan malu
"Oh.. Hahaha pake jaket aja gapapa din. Seragam nya di bawa aja nanti kalo udah ok baru ganti terus nyusul yg lain sekolah.."
"Ihh tapi dok.. Kan malu.." Bisik Andin
"Dokter Imam ga papa kok. Ga akan sadar juga. Hehehe kalo kamu malu pake cardigan atau sweater aja din.. Nanti yg lain terlambat kalo nunggu kamu ganti dulu. Kan harus ambil surat keterangan buat data sekolah.."

Andin menghela napas panjang. Melirik dokter Imam yg sedang menatap ponselnya. Andin tidak ingin pergi ke UKS menggunakan gaun tidur nya itu.

Tetapi akhirnya Andin mengikuti kata-kata dokter Maria. Ia menggunakan cardigan panjangnya untuk menutupi gaun tidurnya yg agak tipis itu dan berencana untuk menggantinya dengan seragam saat di UKS nanti.

Ketiganya sampai di UKS. Anita dan Dhea kembali menuju sekolah sedangkan Andin tetap tinggal untuk menerima infus dan obat.

"Dok. Gue tinggal dulu gapapa kan? Gue jam 9 ada acara keluarga. Nanti sore balik sini kok" Ucap dokter Maria sambil merapikan tas nya.
"Ga bisa balik siangan aja gitu? Gue sendirian lagi dong.."
"Kok sendirian.. Kan ada Andin.."
"Andin kan pasieeeeeenn! Udah gih sana. Udah jam setengah 8 nih.."
"Yaudah gue tinggal dulu yaaaaa.." Dokter Maria pergi setelah menghampiri dan berpamitan kepada Andin yg terlihat enggan ditinggalkan berduaan saja dengan dokter Imam.

Keheningan menyelimuti ruang UKS. Andin yg merasa sangat tidak nyaman dengan pakaiannya mulai melihat sekelilingnya untuk menghibur diri.

Saat sedang melamunkan sesuatu Andin di kejutkan oleh kedatangan dokter Imam. Pandangan mereka bertemu.

"lagi-lagi perasaan ini! Ada apa dengan debaran gila ini??" rutuk Andin dalam hati.
"Andin.." Panggil dokter Imam sambil menarik dagu Andin menghadapnya.
"Ya.. Ya dok??" Andin terus memaki degupan jantungnya dalam hati
"Kamu bosan ya??" Dokter Imam menatap Andin begitu dalam hingga membuat wajah dan leher Andin memerah.
"Dikit dok hehe.." Andin berusaha membuang pandangan nya dari wajah dokter Imam dan melihat ke cermin besar di depan nya.

Mata Andin membelalak. Terkejut melihat sosok hantu pria paruh baya menatap nya tajam dan penuh dendam.

Dokter Imam yg terkejut melihat wajah Andin kembali pucat segera mengambilkan nya air minum.

"Din.. Kamu kenapa??" Tanya dokter Imam sembari membantu Andin duduk
"Ya? Oh.. Gapapa dok.. Cuma.. Kaget.. Hehe.."
"Kaget??" Dokter Imam menoleh kebelakang. Mencari apa yg membuat Andin terkejut sampai pucat.
"Itu.. Eeee.. Ada.. Ah.. Patung.. Patung.. Tengkorak di belakang.."
"Ohh kamu takut?? Saya pindahin aja deh" Dokter Imam segera memindahkan patung tersebut ketempat yg tidak terlihat

"Udah aman kan?? Sekarang minum dulu biar ga dehidrasi. Bibir kamu kering banget loh din.."
"Iya dok makasih.." Andin segera menghabiskan air pemberian dokter Imam sambil sesekali melirik kecermin di belakang dokter Imam. Sosok itu masih berdiri di sana. Menatapnya dengan pandangan benci.
"Wow habis.. Kamu haus? Kok ga bilang? Kan bisa saya ambilkan.."
"Hehe iya dok.."
"Kalo kamu butuh apa-apa bilang aja yaaa.. Kamu kan pasien saya.."
"Baik dok.."

Keheningan sesaat membuat Andin merasa canggung dan gugup di tatap sedekat itu oleh dokter Imam. Ditambah lagi sosok itu maaih ada disana.

"Din.. Kamu main sosmed gak??"
"Ya?"
"Main sosmed gak??"
"Ohh.. Main dok. Kenapa??"
"Nih pake aja hp saya. Ini hp serep aja sih kalo hp yg satunya mati dan ada urgent saya ga bingung. Jadi pake aja kalo kamu bosen"
"Eh ini gapapa dok??"
"Ya gapapa dong.. Nanti biar saya yg belain kamu kalo ada apa apa"
"Serius dok??"
"Iyaaaaa udah pake aja. Saya ke meja saya lagi ya kamu kalo ada apa-apa bilang aja. Oke??"
"Oke dok.. Thank you!" Andin merasa sangat senang karena akhirnya tidak harus merasakan keheningan canggung lagi dengan dokter Imam.

Tetapi rasa senangnya tidak berlangsung lama karena pandangan matanya mulai mulai pudar hingga akhirnya benar-benar menjadi gelap.

Dokter Imam yg terkejut mendengar benda jatuh langsung menghampiri Andin yg terlelap. Mengambil hp nya yg terjatuh dan membenahi posisi tidur Andin yg setengah duduk.

"Lagi-lagi desa ini!!" Gumam Andin yg sadar jika dirinya kembali mendatangi alam yg berbeda.

Andin menatap sekelilingnya yg tampak lebih suram dibanding saat terakhir dia kesana. Terdapat banyak sekali rumah-rumah tua di sekelilingnya.

"Andin.." Bisik seseorang dari kejauhan. Andin memejamkan matanya. Berusaha menajamkan pendengarannya.

"Disana!" Dengan yakin Andin melangkah mengikuti arah bisikan itu.

Setelah beberapa saat berjalan tanpa henti dan terus mengikuti suara yg memanggilnya Andin sampai di sebuah ladang bunga yg sangat indah.

"Andin!!!!" Panggil seorang gadis yg tengah berlari ke arahnya
"Kamu......."

Bersambung..
Diubah oleh chomchorom
profile-picture
profile-picture
profile-picture
simounlebon dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Asrama Horror Story
03-04-2022 21:04
Lanjutin
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Asrama Horror Story
07-04-2022 21:05

Bab 8

Asrama Horror Story

Anita dan Dhea sangat khawatir pada Andin yg saat ini sedang dirawat di UKS. Mereka khawatir apabila Andin mengalami hal-hal mengerikan seperti sebelum-sebelumnya.

Keduanya duduk berdampingan di kelas sambil terus melirik jam dinding kelas.

"HIHIHIHIHI........" Suara tawa melengking yg membuat bulu kuduk mereka berdiri sontak membuat keduanya berpandangan dan mencari asal suara itu.

Suaranya terdengar jauh. Tetapi juga terdengar seperti bisikan di telinga mereka.

Mata mereka berhenti pada pohon besar di luar jendela kelas mereka.

Pandangan Anita dan Dhea bertemu dengan sosok wanita bergaun merah tersebut. Matanya begitu hitam dan dalam. Rambut panjangnya menjuntai sampai ke rumput. Wajah wanita tersebut sangat cantik namun juga tampak menakutkan.

Tiba-tiba sosok tersebut menunjuk sesuatu. Anita dan Dhea pun mengikuti arah tangan sosok tersebut yg menunjuk pada salah seorang teman sekelasnya yg detik itu juga kesurupan.

Keduanya terkejut dan menoleh pada sosok wanita tadi yg kini memiliki wajah amat sangat mengerikan.

Seisi kelas menjadi ribut, ditambah suara tawa wanita tersebut yg menggema didalam kelas. Semua orang panik dan ketakutan.

Anita dan Dhea dengan cepat berlari keluar kelas mencari pertolongan pada guru kelas sebelah. Setelah itu keduanya langsung berlari menuju UKS untuk mengecek keadaan Andin.

Mereka khawatir jika Andin juga mendapatkan gangguan disana.

Keduanya sampai di UKS dengan napas terengah-engah.

"Din.. Andinn.." Panggil Dhea panik sambil mengatur napasnya
"Ada apa?" Tanya dokter Imam sambil membuka tirai ranjang Andin yg tadi tertutup
"Andin gimana dok???" Tanya Anita sambil menghampiri sahabatnya yg tampak terlelap.
"Andin baruu aja tidur. Demamnya udah turun kok. Tinggal nunggu pemulihan. Ada apa?"
"Di kelas.. Ada.. Yg kesurupan dok.." Ucap Anita terengah-engah
"Kalian duduk dulu. Minum dulu. Atur napas.. Tarik napas.. Buang.."

Anita dan Dhea mengikuti ucapan dokter Imam dengan patuh. Keduanya berusaha mengatur napas agar lebih tenang.

"Di kelas ada yg kesurupan dok.."
"Terus? Sekarang gimana???" Tanya dokter Imam tenang
"Ga tau... Tadi sebelum ke sini kita udah manggil guru sebelah sih dok.." Jawab Anita canggung
"Hmm.. Terus.. Kenapa kalian kesini???"
"Kita.. Kita.."
"Kita mau manggil dokter sambil liat keadaan Andin dok" Dhea membantu Anita yg kesulitan menjawab
"Hmm.. Tapi saya ga bisa ninggalin Andin sendirian. Gimana ya??"
"Kita yg jaga dok.." Jawab Anita dengan cepat
"Gitu? Oke tapi kalo ada apa-apa kabari saya ya"
"Oke dok. Nanti pasti kita langsung kabarin dokter"

Keduanya menghela napas lega begitu dokter Imam keluar dari UKS. Mereka menghampiri Andin yg terlelap.

Andin menatap sekelilingnya dengan perasaan takut yg sangat luar biasa.

Di sekelilingnya terdapat banyak sekali mayat yg dibalut kain kafan tengah diikat terbalik dengan sebuah tambang besar.

Andin merasa pusing dan mual. Bau anyir darah menyergap memasuki indra penciumannya yg tajam. Begitu pula dengan bau busuk mayat-mayat di atasnya.

Andin berusaha sekuat tenaga menjaga keseimbangan tubuh dan konsentrasinya agar tidak tumbang di tempat itu.

Kepala Andin terkena tetesan suatu cairan lengket hingga Andin mendongak ke atas hingga matanya bertatapan langsung dengan sosok pocong berwajah mengerikan di atasnya.

Andin dengan cepat menunduk dan mengepalkan tangannya. Menekan kulitnya dengan kuku-kuku jarinya agar tetap tersadar dari keadaan itu.

"Aku harus pergi! Tempat ini berbahaya!!" Ucap Andin pada dirinya sendiri.

Andin melangkah perlahan sambil melihat sekeliling untuk mencari jalan keluar.

Genangan darah yg lengket bercampur dengan udara yg sangat lembab membuat Andin semakin pusing.

"Andin!!!!!"

Andin menatap ke arah asal suara yg memanggilnya. Tapi pandangannya telah kabur.

"Andin!! Kamu ga boleh ada disini!!" Ucap gadis tersebut sambil memapah tubuh limbung Andin.

Seketika tempat tersebut berubah menjadi sebuah ladang bunga dengan sebuah danau yg tampak sangat menakjubkan dimata Andin.

Andin menatap gadis di hadapannya dengan bingung. Wajahnya tampak familiar. Tetapi juga tampak asing.

Gadis cantik itu berwajah mungil dan manis. Andin terus menatap gadis yg terus menggandeng tangannya mendekat ke arah danau indah tersebut

"Andin.. Aku harap kamu ga akan pernah datang lagi ke tempat ini.." Bisik gadis tersebut
"Kamu..."
"Aku akan menjagamu. Jangan jatuh ke dalam perangkap pria tersebut.."

Andin terkejut karena tubuhnya didorong jatuh kedalam danau oleh gadis tersebut.

"Selamat tinggal Andin.. Kami akan menjagamu yg telah membantu kami..."

Andinpun terbangun dengan terengah-engah. Menatap bingung kedua sahabatnya yg telah berada di sisinya.

"Din lo gapapa??" Tanya Anita dengan hati-hati
"Gue gapapa kok cuma mimpi"
"Mimpi desa itu lagi??"
"Hmm.. Kita bahas nanti aja ya" Jawab Andin sambil melirik ke meja dokter Imam yg kosong.
"Dokter imam pergi. Di kelas ada yg kesurupan makanya kita ke sini. Lo udah baikan?"
"Gue ngerasa sehat sih. Tapi gatau kenapa kalo ada dokter Imam rasanya badan gue jd gaenak"
"Hah kok bisa gitu???" Tanya Dhea kebingungan
"Gue juga ga paham.."
"Yaudah kita cabut aja yuk ke asrama. Daripada disini.." Bisik Anita sambil menatap cermin besar di ujung ruangan tersebut

Andin yg mengikuti pandangan Anita pun menyetujui saran sahabatnya itu. Mereka memutuskan untuk menulis surat dan meletakannya di meja dokter Imam agar tidak membuat panik.

Ketiganya sampai di asrama. Anita langsung mencari buku diary misterius yg belum selesai mereka baca.

"Guys!! Gambar ini....."

Bersambung....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
simounlebon dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Asrama Horror Story
14-04-2022 22:28

Bab 9

Asrama Horror Story


Andin dan Dhea menghampiri Anita. Mata mereka langsung tertuju pada buku diary misterius yg ada di tangan Anita.

Ketiganya menatap serius gambar yg terdapat di halaman buku tersebut. Sebuah bintang misterius yg tampak familiar.

Asrama Horror Story

"Halaman selanjutnya cuma ada coretan benang kusut...." Bisik Anita sambil memperlihatkannya pada kedua sahabatnya.
"Hape lu Dhe" Ucap Andin sambil menadahkan tangannya pada Dhea.
"Nih.. Buat apa din??" Tanya Dhea sambil menyerahkan ponsel miliknya pada Andin.

Tanpa menjawab, Andin langsung memotret gambar tersebut dan mencarinya di internet.

Dari sekian banyak hasil pencarian hanya satu kesaamaan.

"Lambang setan..." Ucap Andin sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan.

Ucapan Andin menarik perhatian kedua sahabatnya yg ikut melihat apa yg dilihat Andin di ponsel Dhea.

Asrama Horror Story

"Baphomet??" Tanya Anita yg membaca sebuah nama.

Lagi-lagi Andin mencari nama tersebut di laman pencarian online.

"Pada 1980-an dan 1990-an, histeria pelecehan ritual setan menyebar ke seluruh Amerika Serikat dan Inggris, di tengah kekhawatiran bahwa kelompok setan secara teratur melakukan pelecehan seksual dan membunuh anak-anak dalam ritual mereka..."
"Kok jadi makin serem gini sih din???" Anita tidak bisa menutupi rasa khawatirnya.
"Tapi perasaan gue kaya sering liat lambang ini deh.."
"Dimana Dhe??"
"Masalahnya itu.. Gue mendadak amnesia kalo lagi genting gini din.."
"Halaman selanjutnya ga ada lagi selain benang kusut??" Tanya Andin pada Anita yg memegang buku tersebut
"Kosong din.."

Anita memberikan diary tersebut pada Andin agar bisa melihatnya sendiri.

"Apa kita lanjutin baca lagi aja guys??" Tanya Andin pada kedua sahabatnya itu.

Ketiganya duduk di kasur mereka dan berkumpul untuk melanjutkan membaca buku harian tersebut.

"Tanggal 29 Agustus 20xx.. Hari ini latihan basket. Entah mengapa aku merasa malas latihan.. Saat itu aku melihatnya di depan UKS. Lagi-lagi jantungku berdegup kencang saat bertatapan dengannya. Sialnya aku jadi tidak fokus dan terkena lemparan bola basket! Aku mimisan emoticon-Frown" Andin membalik halaman berikutnya

"Tanggal 30 Agustus 20xx.. Dia memintaku berfoto menggunakan baju basket? Memalukan sekali. Apakah ini sebuah ejekan? Aku tidak akan memberikannya!!"

"Tanggal 12 juli 20xx.. Besok libur karena kakak kelas sedang ujian.. Bosan sekali. Teman-temanku pulang ke tumah mereka sedangkan aku harus menetap karena libur hanya 3 hari dan ongkos pulang sangatlah mahal.."

"13 juli 20xx.. Besok aku diajak makan diluar!! Yeaaaay!! Akhirnya liburanku tidak begitu menyedihkan!!! Aku akan mengambil surat izin untuk besok!!!"

"14 juli 20xx.. Aku.... Ingin mati saja........."

Tangan Andin gemetar membaca diary itu. Air mata Anita pun sudah menetes sejak tadi. Dhea yg sangat serius meminta Andin melanjutkan membaca.

"Tanggal.. 30 juli.. Aku dipanggil ke ruang guru.. Aku seperti hendak diadili atas tuduhan yg tidak pernah ku lakukan.. Hatiku hancur. Kepalaku sakit. Mataku pedih karena terus menangis.. Disana.. Tidak ada satupun yg membelaku selain wali kelasku.."

"31 juli 20xx.. Mengapa hidupku jadi seperti ini??? Aku harus mandi. Aku merasa kotor. Tubuhku sangat kotor.. Tapi berapa kali pun aku mandi aku tetap merasa kotor.. Aku jijik pada diriku sendiri.."

"Gue.. Ga kuat dhe.. Lu aja yg baca gimana????" Tanya Andin pada Dhea yg masih sangat serius mendengarkan

Buku berpindah tangan. Dhea menggantikan Andin membaca.

"Hari-hari ku hancur. Setiap hari dia datang dan aku selalu tidak bisa berbuat apa-apa.. Aku merasa jijik.. Aku sangat membencinya!! Ia memperlakukanku seperti mainan.."

"Tato itu mengerikan!! Aku berhasil mencakar tengkuknya hingga berdarah saat dia hendak melakukan itu lagi. Tetapi tato itu seolah menyerap darahnya.. Apakah aku mulai berhalusinasi???"

Dhea berhenti membaca karena tiba-tiba Anita pingsan.

Dengan cepat Dhea hendak memanggil petugas kesehatan. Tetapi Andin menghentikannya.

"Gue.. Gue tau.. Tato itu.."
"Din! Itu ga lebih penting dari Anita kan???"
"Jangan!!! Gue.. Gue udah ngerasain apa yg dirasain dhe.. Gue.. Gue tau siapa orangnya.."

Dhea kebingungan harus berbuat apa melihat tubuh Andin yg bergetar hebat seperti orang menggigil.

"Tenang dulu yah din.. Minum dulu.."
"Please.. Dhe... Anita ga boleh ke UKS.."
"Karena??"
"Dokter imam dhe.. Orang itu.. Dokter Imam.."

Dhea tidak bisa berkata-kata. Mengingat bahwa sahabatnya sangat sering dilarikan ke UKS dengan paksa dan selalu berakhir berduaan dengan dokter Imam.

"Gue.. Gue.. Belakangan.. Gue juga ngerasain dhe.. Apa yg di rasain pemilik diary itu.."
"Din.. Sori kalo gue keliatan ga punya empati. Tapi kita harus bangunin Anita dulu.."
"Dhe.. Anita bukan pingsan.."
"Maksud lo???"
"Anita...."

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
simounlebon dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Asrama Horror Story
28-04-2022 04:50
Belum apdet lagi ya
0 0
0
Asrama Horror Story
28-04-2022 12:09
Seru ceritanya...mudah2an di lanjutin nulis ceritanya ya
0 0
0
Asrama Horror Story
20-05-2022 00:59

Bab 10

Hai agan semuaa.. Maaf sekali karena aku sempat hiatus beberapa waktu lalu, karena kondisi kesehatan yg kurang fit jadi belum bisa up πŸ™
Semoga update an hari ini bisa buat agan semua terhibur.
Selamat membaca 😍

Asrama Horror Story

Andin dan Dhea membopong tubuh lunglai Anita ke atas kasurnya.

Dhea menghela napas panjang. Menunggu penjelasan Andin tentang semua yg diketahui olehnya.

"Jadi.. Gu.. Gue.. Sejak terakhir pingsan gatau kenapa selalu berdebar setiap ketemu pandang sama dokter Imam.. Dan.. Dan setiap dokter Imam megang gue.. Rasanya kaya kesetrum gitu... Awalnya gue pikir gue naksir.. Tapi gue ga pernah tertarik bahkan gue ga tau apapun tentang dia Dhe.."
"Terus? Dokter Imam udh ngapain aja din??"
"Hmmm.. Yaaaa awalnya gue selalu ngerasa dia ga sengaja bahkan ga sadar kalo megang2 bagian tubuh gue yg ga harusnya dia pegang Dhe.. Tapi.. Tapi setelah gue baca diary tadi.. Gue jg jadi ngerasa kotor Dhe.."
"Din.. Emang lu diapain aja??????"
"Yah.. Gue.. Sering ga minum obat yg dikasih dokter Imam Dhe.. Gue sering pura-pura tidur supaya ga usah ngobrol atau canggung. Kadang.. Dia duduk di samping kasur gue.. Tangannya nempel ke dada gue pas meriksa gue. Atau pas dia pake stetoskop.. Dia selalu buka kancing atas gue Dhe setiap gue pura-pura tidur.."
"Kalo lu melek???"
"Dia cuma periksa dari perut. Atau tangannya aja yg masuk.. Itupun dia minta maaf dulu.."
"Anjing.. Anjing banget Din.. Lu kenapa ga pernah cerita????"
"Gue sendiri gatau Dhe. Gue takut gue aja yg baper atau sebenernya dia ga sengaja"
"Itu udah masuk pelecehan Din!!! Lu udah di lecehin!"

Dhea yg spontan meninggikan suaranya meminta maaf dan memeluk sahabatnya yg kini menangis sesenggukan.

"Maaf Din.. Maaf.... Gue kebawa emosi banget denger cerita lu.. Gue.. Gue ga rela sahabat gue jadi kaya gini.."

Andin mengangguk pelan disela tangisannya yg terdengar pilu.

Sementara itu Anita yg tubuhnya sedang terbaring kini sedang menyaksikan hal yg tidak pernah dibayangkannya seumur hidup akan dilihatnya.

Anita menatap pria muda yg sedang menyetir sebuah mobil sedan toyota putih sambil berbincang dengan seorang gadis manis di sebelahnya.

Gadis tersebut tampak menahan kantuknya hingga akhirnya tertidur saat sedang berbincang.

Pria tersebut dengan lembut menyentuh dagu gadis tersrbut. Membangunkannya dengan menggelitik leher jenjang gadis tersebut.

"Eh.. Ah.. Maaf dok aku ketiduran.."
"Masa diajak ngobrol bisa tidur. Emang aku lagi dongeng???" Rajuk pria tersebut
"Hehehe abis semalem bergadaang baca novel hehehe"
"Yaudah kalo gitu tidur dulu aja. Nanti aku bangunin kalo udah sampe"
"Gapapa dok??"
"Ya gapapa. Yg ga boleh itu manggil aku dokter. Kita kan ga lagi di asrama"
"Ohh terus gimana hehe"
"Panggil aja kak. Mau manggil sayang juga boleh hehehe"
"Ihh dokter hahaha"
"Loh baru dikasih tau jangan manggil dokter.."
"Eh iya.. Kak.. Hehe"

Setelah berusaha menahan kantuk akhirnya gadis itu terlelap juga. Pria di sampingnya menatapnya dengan senyum mengembang.

"Cantik sekali.. Bunga sepertimu harusnya dinikmati saat putik sarinya masih segar" Tangan kiri nya mengusap leher jenjang gadis disampingnya.

Wajah anita menunjukan ekspresi seolah melihat sesuatu yg menjijikan di hadapannya.

Tangan pria tersebut menelusuri leher jenjang gadis disampingnya. Terus turun kebawah sampai ke paha.

Ia terus menyetir sambil mengusap2 paha mulus gadis si sampingnya sambil berbisik "malam ini kau akan menjadi milikku"

Anita menahan napas melihat sebelah tangan dokter yg dikenalnya menggerayangi tubuh gadis di sampingnya.

Gadis tersebut tidak bergeming. Mobil berhenti di sebuah restoran seafood yg cukup sepi.

Dokter Imam membangunkan gadis itu dan menggandengnya masuk kedalam ruang vip.

Hidangan datang dan gadis tersebut makan dengan riang. Anita menangisi kebodohan gadis di hadapannya.

"Pelan pelan makannya. Ini di coba Aaaaa" Ucap dokter Imam sambil menjulurkan tangannya ke wajah gadis cantik dihadapannya.
"Eh? A.. Aku bisa ambil sendiri hehe.."
"Tanganku pegel loh begini teruuuusss"
"Eh.. Hmm.. Hahaha aku bisa makan sendiri kooook"
"Jangan ditolak dong aku jadi malu udah keram begini masa di tolak"
"Eh keram?? Ah.. O.. Oke.." Akhirnya dengan canggung gadis tersebut menerima makanan dari tangan dokter Imam
"Pelan-pelan aja. Ga usah buru-buru makannya nanti kesedak" Ucap doktet imam sambil mengambil sebutir nasi dari bibir gadis tersebut lalu memakannya.

Melihat hal itu membuat gadis tersebut tersipu malu dan terus meneguk minumannya dan segera menghabiskan makanannya.

Selesai makan dokter Imam mengajak gadis tersebut berbincang dan bercerita. Hingga tak terasa hari sudah mulai gelap.

Mereka kembali menuju asrama saat petang menjelang. Gadis tersebut masih belum juga ingin kembali karena saat itu sedang ada pemadaman listrik total di wilayah sekitar sekolah mereka.

Dokter Imam memutar mobilnya menuju sebuah lahan luas yg sunyi.

Gadis itu terpana akan keindahan langit bertabur bintang di hadapannya.

"Lin.. Tadi kan aku udah nurutin mau nya Linda.. Sekarang gantian dong Linda yg nurutin aku.."
"Eh? Apa dok??"
"Sekarang Linda pindah ke belakang yaa.."
"Gamau ah gelap banget.."
"Tuhkan.."
"Tapi gelap.."
"Kan ada aku.."

Dengan cemberut gadis tersebut pindah ke kursi belakang. Anita yg sudah bisa menebak adegan selanjutnya melihat mereka sambil menggigit bibir bawahnya dengan gelisah.

Kini keduanya sudah berada di kursi belakang. Dokter Imam berbisik meminta gadis tersebut diam dan menurutinya. Gadis tersebut patuh. Tangan nya bergetar saat dengan cepat dokter Imam mencium bibir tipisnya.

Tangan dokter Imam menyusup kedalam baju gadis tersebut. Menggerayangi dada gadis tersebut.

"D.. D.. Dok.." Ucapnya hampir tanpa suara
"Ssshhh.." Dokter Imam menutup bibir gadis tersebut dengan telunjuknya

Air mata mengalir di pipi gadis tersebut. Tubuhnya lunglai tidak bertenaga. Memudahkan dokter Imam melanjutkan perbuatan tidak senonoh terhadap dirinya.

Dokter Imam tersenyum puas sambil merapikan pakaiannya.

"Manis sekali.. Mulai saat ini hidupmu akan berubah.." Ucapnya sambil mengecup dahi gadis dihadapan nya yg sedang menangis meraung-raung karena kehilangan keperawanannya.

Tiba-tiba pandangan Anita dan dokter Imam bertemu. Dokter Imam seolah dapat melihatnya dan tersenyum mengejek ke arah Anita.

Anita terbangun dengan mual hebat. Anitapun muntah karena tak kuat menahan mualnya.

Andin dan Dhea dengan sigap menolong sahabatnya itu.

Ketiganya berkumpul. Saling menceritakan apa yg terjadi pada mereka.

Ketiganya menangis sambil berpelukan.

Satu hal yg mereka tau pasti saat ini. Andin adalah target berikutnya..

Bersambung...
Diubah oleh chomchorom
profile-picture
profile-picture
simounlebon dan 69banditos memberi reputasi
2 0
2
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
selasar-rindu-jingga
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia