Story
Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
Informasi! Kaskus Update Fitur Baru! Intip di Sini!
2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61f347400a8b4a54344a2bff/cerita-bersambung---hujan-dan-resah-lanjutan
Bagian Ketiga - Dilema Alarm berbunyi sangat keras dari Smartphone Dina mengagetkan tidur pulasnya yang berat. Jam telah menunjukkan pukul 06.30 pagi dan cuaca di luar masih juga mendung. Dina dengan rada-rada malas segera meraih handphonenya dan mematikan alarm itu. Sekejap ia telah mengangkat tubuhnya dan dengan setengah malas dan agak tergopoh ia berjalan ke kamar mandi untuk segera membersihka
Lapor Hansip
28-01-2022 08:30

Cerita Bersambung - Hujan dan Resah (Episode 2)

Cerita Bersambung - Hujan dan Resah (Lanjutan)

Bagian Ketiga - Dilema

Alarm berbunyi sangat keras dari Smartphone Dina mengagetkan tidur pulasnya yang berat. Jam telah menunjukkan pukul 06.30 pagi dan cuaca di luar masih juga mendung. Dina dengan rada-rada malas segera meraih handphonenya dan mematikan alarm itu. Sekejap ia telah mengangkat tubuhnya dan dengan setengah malas dan agak tergopoh ia berjalan ke kamar mandi untuk segera membersihkan badannya dan bersiap kembali untuk sebuah hari yang panjang lagi.
Sekira 30 menit kemudian Dina telah siap dengan balutan kemeja putih dan rok merah jambunya, menandakan ia telah siap untuk segera memulai lagi harinya, berangkat ke kantor untuk bekerja lagi. Pagi itu hanya segelas susu hangat yang mengisi perutnya. Nafsunya makannya seketika berkurang saat pikirannya kembali berkelimut tentang kejadian kemarin saat pak Agus memanggilnya menghadap ke ruangan sang direktur itu. Kali ini ia benar-benar bimbang bercampur penasaran akan apa yang bakal di sampaikan oleh pak Agus hari ini.
Taksi telah berhenti tepat di depan pintu masuk kantor. Dina segera turun setelah sedikit merapikan rambutnya dan mengenakan jas warna hitam kegemarannya. Ia melangkah santai menuju pintu depan dan sejurus kemudian sudah berada di depan meja kerjanya.
"Pagi amat non datangnya" sapa bang Adul, cleaning service kantor.
"Eh, bang iyaa. Hari ini banyak kerjaan jadi aku agak awal datangnya" sahut Dina menyambut dengan senyum manis khasnya.
"Non cantik hari ini, beda kayak biasanya" goda bang Adul.
"Hahaha, bisa aja bang. Makasih loh"
"Sama-sama non" sambung bang Adul sambil melanjutkan pekerjaannya beres-beres.
Percakapan itu setidaknya bisa membuat Dina sedikit rileks. Walaupun hanya basa-basi dan normatif, tapi itu cukup membantunya mengatur emosi yang kini mulai membaik.
Tak berapa lama pak Agus pun nampak telah tiba dan hanya dengan melempar senyum tipis ke arah Dina, ia dengan lekas segera berlalu dan langsung masuk ke ruangannya. Dina mulai bekerja, mengutak-atik file yang ada dalam komputernya sambil sesekali melirik ke arah pintu ruangan pak Agus. Serius dan fokus sekali ia membaca dan mempelajari file-file yang berisi laporan dan neraca keuangan kantor itu. Di scroll nya pelan-pelan dari atas ke bawah, diulangnya sampai tiga kali. Sambil manggut-manggut sendiri ia terlihat sedikit murung saat membaca laporan itu. Terlihat ada yang kurang mengenakkan nampaknya.
Selang beberapa saat, seorang karyawan menghampiri Dina. Dengan setengah berbisik ia menyampaikan bahwa pak Agus menyuruhnya ke ruangannya. Dina mengangguk, dengan sedikit merapikan kemeja dan rambutnya ia segeralah beranjak menuju ruangan itu. Di tariknya napasnya lalu dihembuskannya lagi, sebelum ia masuk ke dalam ruangan itu.
"Pagi pak, bapak memanggil saya?" tanya Dina setengah berbasa-basi
"Duduk Din. Kamu gimana hari ini, sehat?"
"Iya pak lumayan. Cuma agak sedikit lemas aja"
"Loh kenapa, kamu gak sarapan tadi? kalau gitu aku pesanin kamu sarapan dulu. Ntar ojol yang anterin ke sini gimana?" tanya pak Agus meyakinkan.
"Gak pak makasih, ini gak apa-apa kok. Cuma lemas biasa aja. Tadi udah sarapan kok" jawab Dina sekenanya.
"Benar gak apa-apa ya Din?"
"Iya pak gak apa-apa. Makasih tawarannya"
"Oh iya kalau gitu. Duduk Din" Pak Agus mempersilahkan
Dina kemudian duduk dan kini sudah berhadap-hadapan dengan pak Agus. Dia sudah sedia menerima perintah atau penyampaian apa kiranya yang bakal pak Agus katakan.
"Minum dulu Din" pak Agus menawarkan segelas air putih untuk mencairkan suasana. Dina meraih gelas itu dan segera meneguk satu dua secukupnya untuk membasahi kerongkongannya yang rasanya kering terus itu.
"Maaf pak, jadi gimana?" tanya Dina kemudian.
"ehm gini Din. Aku udah bicara dengan Mr. Hanks panjang lebar semalam. Dia niat banget mau bantuin kita. Dia sangat berempati dengan kondisi perusahaan kita kali ini. Ditambah lagi, kita dianggap sudah seperti saudara olehnya" pak Agus memulai penjelasannya diikuti anggukan sesekali oleh Dina.
Pak Agus meneguk air lagi lalu menghela napasnya sebelum melanjutkan lagi pembicaraan itu.
"Maksud aku memanggil kamu di sini untuk minta pendapatmu gimana. Biar gimana pun kamu udah lama kerja dan udah saya anggap seperti adik saya. Bukan sekedar karyawan yang hanya kerja dan digaji lalu udah" pak Agus melanjutkan.
"Aku sih pasti ngedukung apapun yang bapak putuskan. Berat atau ringannya kita pasti bakal tanggung dan pikirin bersama. Aku tahu perusahaan ini butuh donatur biar bisa bertahan di saat-saat seperti ini" Dina menimpali panjang.
"Cuma Mr. Hanks punya syarat yang harus kita penuhi jika ingin mendapatkan bantuannya kali ini"
"Ehm kalau boleh tahu apa yang Mr. Hanks inginkan pak?"
"Jadi gini Din, aku sebenarnya udah mikirin ini dalam-dalam. Berat banget buat kamu" pak Agus sejurus menatap Dina dalam.
"Sampaikan saja pak, aku boleh mikirin ini nanti. Bisa atau gak nya asal aku tahu dulu syaratnya apa" sahut Dina.
"Din, aku tahu kamu gak bisa tanggung sendiri situasi ini. Tapi saat ini aku benar-benar udah gak punya jalan lain" Sejurus pak Agus terdiam. Dia menghela napas panjang.
"Bapak gak usah berpikir begitu. Apapun itu kita selesaikan agar semua kembali normal seperti biasa" Jawab Dina.
"Din, maaf tapi saya harus menyampaikan ini. Mr. Hanks mau membantu kita dengan syarat kamu bantuin projectnya di Kalimantan selama sebulan"
Dina sedikit terperajat mendengar kalimat itu. Matanya nanar, terbayang kejadian-kejadian tidak mengenakkan padanya saat berurusan dengan lelaki paruh baya itu. Ia kembali mengangkat gelas meneguk lagi satu dua kali.
"Tapi semua tergantung kamu, Din. Aku kasih kamu waktu biar berpikir dulu sebelum kita putusin ini" Lanjut pak Agus.
"Di Kalimantan tim nya siapa aja kalau boleh tahu pak?" Dina menimpali. Kali ini dia sudah sedikit tenang.
"Menurut ceritanya semalam, dia ada beberapa staf. Tapi dia butuh kamu buat negosiasi dengan tokoh adat dan masyarakat di sana sebelum projek batubaranya di buka. Dia mengapresiasi kinerjamu selama ini makannya dia percaya cuma kamu orang yang cocok melakukan ini. Lagian kan kalian udah pernah kerja bareng sebelumnya" pak Agus meyakinkan.
"Ehm iyaa pak emang udah beberapa kali. Tapi itu di sekitar sini aja. Belum pernah aku ambil kerjaan di luar kota apalagi luar daerah. Apa gak salah beliau milih saya?" Dina menimpali lagi.
"Ini udah kesepakatannya Din. Dia cuma minta itu aja. Kalau kamu setuju, besok dia akan cairin chek 1,5 M buat bantu keuangan kita. Emang sih pinjaman, tapi ini berlaku jangka panjang dan dia gak minta bunga atau keuntungan lain. Cuma itu aja syaratnya" lanjut pak Agus.
"Gini aja pak, aku mikirin ini dulu matang-matang. Kasih aku waktu dua hari buat mikir. Kalau aku udah punya keputusan segera aku bakal menghadap bapak kembali" Dina memberi jawaban.
"Baik Din. Silahkan. Kamu boleh gak masuk dulu dua hari ini supaya bisa fokus nenangin diri dulu sebelum keputusan besar ini kamu ambil" pak Agus menutup.
Cerita Bersambung - Hujan dan Resah (Lanjutan)
Sesaat kemudian, Dina kembali ke meja kerjanya dan merapikan semua berkas yang udah kembali numpuk di atas meja. File-file itu rupaya laporan progres dari cabang-cabang di daerah yang saat di baca isinya sangat membuat kening berkerut.
Tak terasa hari sudah mulai petang. Cuaca yang tadinya panas kini berubah adem, berawan dan angin sepoi-sepoi menyapu sekeliling pertanda senja telah bermula. Dina merapikan meja kerjanya, mematikan komputer dan mengisi buku laporan harian. Nampaknya ia akan segera mengakhiri hari itu.
Tepat pukul 17.30, Dina telah sampai di depan rumah kontrakannya. Di bukanya pintu kayu itu dan segera dilepasnya sepatu, jas dan di taruhnya tas kecil yang dibawanya saat ke kantor. Sekelebat ia membanting tubuhnya di atas sofa sambil memandangi awang-awang. Tak tahu kiranya apa yang ia lihat dan pandangi itu. Entahlah, tapi hari itu tidak seberat kemarin. Setidaknya ia akan segera menimbang baik dan buruk, untung dan rugi keputusan yang bakal ia ambil esok, dua hari lagi.

====) Bersambung....
Diubah oleh albyabby91
profile-picture
profile-picture
marwangroove920 dan bukhorigan memberi reputasi
2
Masuk untuk memberikan balasan
stories-from-the-heart
Stories from the Heart
18.1K Anggota • 28.1K Threads
Cerita Bersambung - Hujan dan Resah (Lanjutan)
28-01-2022 09:51
kalo bisa dibikin index jika memang cerita terpisah gini.
0 0
0
Cerita Bersambung - Hujan dan Resah (Lanjutan)
28-01-2022 10:51
Makasih masukannya
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
Stories from the Heart
Heart to Heart
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia