Story
Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
18
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61e66f199a4d8b11b30557e2/mencapai-kata-selesai
Hallo, semua everbody :malus maaf banget untuk thread-thread ane yang sebelumnya ngegantung semua. Maaf banget. Itu semua disebabkan karena aktifitas kehidupan nyata ane terlalu sibuk, jadinya enggak sempet buat ngelanjutin yang sebelum-sebelumnya. Tapi hari ini, ane mau ngelanjutin semuanya dari awal lagi. Menjadi seorang pendatang baru dengan cerita yang baru. Yang berlalu biarlah berlalu. Biarl
Lapor Hansip
18-01-2022 14:41

Mencapai Kata Selesai

icon-verified-thread
Hallo, semua everbody emoticon-Malu (S) maaf banget untuk thread-thread ane yang sebelumnya ngegantung semua. Maaf banget. Itu semua disebabkan karena aktifitas kehidupan nyata ane terlalu sibuk, jadinya enggak sempet buat ngelanjutin yang sebelum-sebelumnya. Tapi hari ini, ane mau ngelanjutin semuanya dari awal lagi. Menjadi seorang pendatang baru dengan cerita yang baru. Yang berlalu biarlah berlalu. Biarlah itu menjadi pembelajaran bagi ane untuk lebih baik dari segi hal pengetikan.

Mungkin itu saja penjelasan dari ane tentang thread yang ngegantung kemarin, hehe. Mohon maaf, dan terima kasih banget kalau tulisan ane masih mau dibaca oleh kalian semua.
Mencapai Kata Selesai
Judul: Mencapai Kata Selesai
Penulis: Sultan hasan
Kategori: Fiksi Remaja

Quote:Namaku Arsten, jenis kelamin laki-laki, dan punya cita-cita untuk menjadi seorang penulis. Tadinya aku ingin menjadi pesepak bola profesional seperti Cristiano Ronaldo, atau Lionel Messi. Tetapi ketika aku mulai beranjak dewasa dan melihat keadaan federasi sepak bola yang ada di negara ini, aku langsung mengurungkan cita-citaku itu.


Lahir dan besar di ibu kota negara yang penuh dengan banyak kebisingan para tetangga, aku asli warga Jakarta. Rumah yang aku, bunbun, dan ayah tempati, bisa termasuk dalam kategori sederhana. Tidak mewah tapi layak huni, aku patut mensyukuri. Aku juga bersyukur mempunyai banyak teman di kota semegah ini. Tidak banyak sih tapi mereka selalu ada. Banyak yang bisa kupelajari karena mereka beraneka ragam. Ada yang pintar tapi sedikit lemot. Ada yang jago bicaranya tapi kalau ngetik whatsapp suka berantakan. Macam-macam, kan?

Sekarang aku ingin memperkenalkan bunbun. Ia seorang ibu yang jago memasak, suaranya bagus, pintar mengaji, dan rajin ibadahnya. Selain itu, ada yang harus kamu tau! Bunbunku itu seperti mempunyai indra keenam. Bunbun bisa tau apa yang ingin aku bicarakan, apa yang ingin aku lakukan. Gerak-gerikku seakan sudah ia ketahui sebelum aku mengeksekusinya. Contohnya:

"Bun. Aa besok mau ke Bandung. Mau main ke rumah ante Santi" Ucapku, ketika kami berdua berada di ruang tamu.


"Mau minta duit?" Kata bunbun. Waktu itu beliau sedang membaca buku majalah.


"Kan aa belum selesai ngejelasinnya" Kataku.


"Gausah diterusin, bunbunmu sudah tau. Bunbun punya indra keenam" Ucapnya.


Kau lihat? Ia sendiri yang mengakuinya.

Kini ayahku. Beliau seorang pria yang suka dengan warna hitam. Bajunya, jaket kulitnya, sepatunya, semua serba hitam. Dan itu menurun kepada style berpakaianku. Selain itu, ayahku juga seseorang yang sibuk. Aku hampir jarang mengobrol dengannya. Ketika pagi datang, ayahku berangkat kerja, aku berangkat sekolah. Ketika menjelang larut malam, aku terlelap, ia baru pulang istirahat. Tetapi ia ayah yang hebat. Seorang ayah yang mengajariku tentang menjadi lelaki yang kuat.

"Pulsa aa abis, yah" Kataku, yang menelponnya.


"Minta dulu sama bunbun, nanti ayah ganti" Kata ayahku.


"Oke" Kataku, lalu kututup teleponnya.



II

Sejak kecil aku sudah hidup di lingkungan yang cukup keras. Bunbun selalu waspada dalam hal pergaulanku. Melihat orang yang ketangkap dan digiring polisi, sudah bisa aku maklumi. Tadinya kami sekeluarga berniat pindah dari Jakarta ke Bandung. Di sana, ada jidahku (Nenek) dan Njidku (Kakek) tapi ayahku tiba-tiba menolaknya dengan alasan pekerjaan. Kalau kami pindah ke Bandung hari itu, mungkin sekolahku sedikit tertunda dan jarak dari rumah ke kantor ayahku sangatlah jauh. Akhirnya kami tidak jadi pindah dengan alasan-alasan yang menguatkan.

Dan sekarang, aku sudah beranjak dewasa. Aku sudah memandang predikat kelas 12. Bunbun tidak seperti dulu yang sangat-sangat menjagaku. Pertemanan, pergaulan, kisah cinta, aku harus bisa menjaga diriku sendiri. Masa mau terus-terusan diawasi bunbun? Malu dong. Nanti, apa kata pacarku kalau dia tau aku masih dimanja bunbun. Eh tapi pacarku enggak bakal ngomong apa-apa deh. Soalnya aku masih menjomblo, hehe.

Tetapi akhir-akhir ini, aku sedang memperhatikan seorang wanita yang masuk ke dalam kriteriaku. Badannya berisi, tak terlalu tinggi, rambutnya terurai, pipinya terkadang memerah. Usianya hanya berbeda satu tahun dariku.

"Eh, cewek yang pakai baju hitam, siapa?" Tanyaku kepada Shania. Kami sedang di warung kopi pak Mumu. Itu warung kopi langgananku.

Shania ini sahabatku yang berjenis kelamin perempuan. Dan saking dekatnya kami berdua, banyak yang menyangka kami berpacaran yang nyata mustahil terjadi.

"Itu yang mana?" Tanya Shania. Matanya mencari-cari wanita yang kumaksud.


"Itu, Nia. Yang pakai baju hitam." Kataku.


"Itu si Ratu." Jawab Shania.

Sebenarnya aku sudah tau namanya karena tetanggaku berteman dengannya ketika masih berada di Sekolah Dasar. Cuma pura-pura tak tahu dan biar ada yang bisa kita bahas.

"Pantes tuh kayaknya sama gua." Kataku.


"Deketin sana." Kata Shania dengan entengnya.


"Entar udah punya cowok. Kan jadinya lucu." Kataku.


"Kalau enggak dicoba, enggak bakal tau. Udah sana" Kata Shania.

Kalau kau berpikir aku akan langsung mendekatinya dan mengajaknya bicara sekadar basa-basi, aku lelaki yang tidak sepemberani itu. Melihatinya dari kejauhan saja sudah membuat hati ini seketika berdetak lebih kencang. Aku juga merasa aneh, ini kan hanya pembahasan biasa? Kenapa aku merasa berbeda ketika kami membahasnya? Kenapa aku?

"Udah, jangan diliatin terus atuh." Kata Shania, menegurku.


"Enggak anjir. Gua lagi mikirin tugas." Kataku, mengelak.


"Ten, Ten. Lu lagi mikirin tugas." Kata Shania.

Jam sudah menunjukan pukul 11 malam, dan kami memutuskan pulang ke rumah masing-masing untuk bersiap-siap ke sekolah esok hari. Sementara itu, hati dan pikiranku masih di sana. Di warung kopi pak Mumu, perasaanku muncul secara tiba-tiba kepada wanita yang aku tidak ketahui asal-usulnya. Entah bagaimana bisa, ada perasaan untuk ingin lebih dekat mengenalinya.

"Kayaknya di Facebook gua berteman dah." Kataku, ketika sudah berada di kamar.


"Tuh, kan, bener. Ternyata udah temenan dari lama, ya." Kataku.

Aku mengintip profilenya. Ada banyak foto-foto yang ia unggah di sana. Tidak hanya foto-foto yang lama, yang terbaru pun ia unggah. Akunnya ternyata masih aktif ia gunakan. Ingin aku menyapanya duluan tapi disatu sisi masih ada keraguan. Baiklah, lebih baik aku tahan.



III

Cuaca Jakarta pagi ini cukup membuat jaket hitamku sedikit basah. Bunbun sudah mengingatkanku untuk memakai jas hujan tapi aku mengeyel dengan alasan.


"Cuma rintik doang, bun" Kataku, lalu menyalakan motor yang dibelikan ayah.

Tak disangka, hujan mengguyur deras ketika aku sedikit lagi sampai pintu gerbang. Berhenti dan meneduh? Tidak. Aku langsung menerobosnya supaya cepat sampai karena jam pelajaran pertama akan segera dimulai.

"Yang lain pada ke mana?" Tanyaku kepada Bagus. Ia temanku yang pertama kali kukenal sejak masuk ke Sekolah Menengah Kejuruan.


"Pada cabut kayaknya." Kata Bagus sambil meminum kopi hitamnya.

Di sekolahku yang berada di pusat, aku cukup mempunyai banyak kenalan. Tidak hanya teman sebaya. Alumni, dan veteran sekolahku 'pun terkadang mengajakku gabung untuk sekedar ngopi biasa. Walaupun bisa dibilang friendly, aku ini tipe orang yang pilih-pilih. Aku akan berteman jika merasa nyaman. Aku akan berteman kalau dia juga ingin berteman denganku.

"Bete gua, Ten. Kamar mandi yuk." Ajak Bagus.


"Udah mau masuk. Nanti ajalah." Kataku.

Temanku yang bernama Bagus ini memang bandel. Ia terkadang mengajakku cabut ke rumah neneknya yang berada di kota sebelah. Ketika cabut dari sekolah bersamanya, duitku tidak pernah keluar dari kantongku. Jajan, makan, rokok, semua Bagus yang tanggung. Karena itu aku setia padanya. Ia orang yang loyal terhadap teman. Aku tak pernah ingin mengecewakan orang.

"Sebatang bisa nih, gak ada guru, Ten" Kata Bagus merayuku.


"Ayo dah" Kataku.

Kami berdua langsung bangun dari tempat duduk dan menuju kamar mandi sekolah yang berada di belakang sana.

"Lu gak mau?" Kata Bagus sambil menyodorkan sebatang rokok yang ia ambil dari kantong bajunya.


"Udah tadi gua di jalan" Kataku.


"Kalau udah gede, lu mau jadi apa, Ten?" Tanya Bagus.


Tumben nih anak ngasih pertanyaannya yang berbobot.


"Gatau sih. Cuma sekarang-sekarang ini gua ngerasa salah ambil jurusan aja." Kataku.


"Tapi lu masih mending. Temen gua yang bener cuma lu doang, kan." Kata Bagus.


"Gua samanya kayak lu. Kan gua temenannya sama lu" Kataku sambil tertawa.


"Serius, Ten. Temen gua yang keliatannya bener cuma lu doang. Gua sering bolos-bolosan. Si Bintang samanya juga kayak gitu. Diantara kita bertiga emang harus ada yang bener biar kalau lagi bego ada yang minterin." Kata Bagus sambil tertawa.


"Bintang gak masuk ya dia?" Tanyaku.

Bintang adalah temanku yang sifatnya sama seperti Bagus tapi lebih parah sedikit lah kalau dibandingkan. Tetapi walau mempunyai sifat bandel, teman-temanku ini pintar dalam pelajaran. Kalau tidak, mana mungkin mereka berdua bisa masuk sekolah yang kini kami tempati ini?

"Tidur die paling di rumah. Mana mau die berangkat ujan-ujanan." Kata Bagus.

Setelah selesai menghabiskan sebatang rokok dan mengobrol, membahas, serta menggosip. Aku dan Bagus masuk ke kelas yang di dalamnya tidak ada guru yang datang, alias jam kosong.

"Minjem tas lu. Gua mau tidur di belakang." Kataku ke Bagus.


"Nih. Sono." Kata Bagus.

Berjalan ke bangku barisan belakang, menyusun tempat senyaman mungkin untuk tiduran. Itu aku lakukan dikala jam-jam kosong saja. Kalau ada guru yang mengajar, mana berani aku melakukannya. Karena tujuanku ke sekolah adalah bertemu teman-teman dan belajar. Tetapi karena hari guru yang mengajar belum masuk ke kelasku, lebih baik aku simpan tenagaku dengan rebahan dan main handphone di belakang.

"Ngalong yuk ke selatan." Kata Bagus. Ia menghampiriku ke belakang.(Ngalong yang dimaksud adalah jalan-jalan)


"Ngapain ke selatan?" Tanyaku.


"Ngapain aja." Kata Bagus.


"Udah mau lulus, Gus. Nyari perkara aja. Kayak gapunya adek kelas aja." Kataku, menasehatinya.


"Gua gamau tawuran. Gua pengen jalan-jalan aja." Kata Bagus.


"Yaudah, sorean aja biar nongkrongnya sampe malam." Kataku.

Temanku yang satu ini, walaupun ia seorang penggiat pertempuran. Bagus juga orang yang tidak sulit jika kamu memberinya sebuah masukan. Kalau kau berbicara kepadanya dan ia mengelak, mungkin cara penyampaianmu yang salah.

"Hoi para anak rajin." Itu suara Bintang yang baru saja datang.


"Lah, bisa-bisaan lu masuk jam segini." Kataku, masih dalam posisi tiduran.


"Disuruh lari dulu, gua." Kata Bintang, ia langsung mengambil posisi tiduran di atas mejaku.


"Ohh." Responku.

Aku kembali memejamkan mata yang sempat sedikit tertunda karena kedatangannya si Bintang yang baru masuk dengan teriak-teriak. Si Bintang ini tingkahnya sama seperti si Bagus tapi dia sedikit lebih di atasnya si Bagus. Berbeda 1 level maksudku.

"Ten, Ten. Bangun." Kata Bintang sambil menepuk bahuku.


"Apaansih lu. Ganggu mulu ah." Kataku.


"Entar malem temenin gua yuk ketemuan sama cewek." Kata Bintang.


"Ketemu sama cewek aja minta ditemenin lu ah." Kataku, dengan mata masih tertutup tapi telingaku mendengar ucapannya.


"Gitu banget lu ah. Ayok, temenin gua." Kata Bintang.


"Ngomong noh sama si Bagus. Gua mau tidur bentar." Kataku.



IV



Sebelum bel pulang berdentang. Aku, Bagus, dan Bintang bersepakat untuk bertemu di sebuah tempat makan yang berada di Jakarta selatan. Tadinya aku ingin menolak untuk tempat yang direkomendasikan kedua temanku ini.

"Jauh amat. Ngopi doang mah di depan aja." Kataku, ketika kami masih di kantin sekolah.


"Enak, Ten, tempatnya. Asiklah." Sahut Bintang.


"Gua gak ada bensin, talangin." Kataku.


"Iya, gampang." Kata Bintang dengan muka yang santai.

Itu hal biasa dan sering terjadi kalau teman-temanku ini sedang dekat dengan seorang perempuan. Ya, anak muda sedang kasmaran.

"Yuk." Itu suara Bagus yang sudah tiba di depan motornya yang berisik.


"Gila. Rapih banget? Mau ke mana kita?" Tanyaku.


Sebenarnya tidak rapih-rapih banget sih. Bagus hanya mengenakan jaket sekolahanku dan memakai sepatu consnya.


"Lo juga biasanya begini." Sindir Bagus, dan aku tertawa mendengarnya.


"Haha. Yaudah, tunggu." Kataku.

Bagus menungguku di luar pintu gerbangku. Sedangkan aku langsung pergi ke kamar mandi, memakai jaket hitam cons yang kubeli Seminggu yang lalu, dan bawahannya memakai celana levis panjang serta sepatu cons warna biru tua.

"Saik. Anak cons banget nih." Ledek Bagus ketika aku baru saja menghampirinya di luar.


"Yaelah, lu." Kataku, sambil tertawa kecil.


"Lu gausah bawa motor, Ten. Sama gua aja." Kata Bagus.


"Lagian kayak orang bener. Masa bawa motor satu-satu." Jawabku, sambil memakai helm.


"Si Bintang udah jalan duluan." Kata Bagus.


"Paham gua mah." Kataku.

Sebelum jalan ke tempat janjian, Bagus menelpon Bintang. Hanya ingin memastikan apakah dia sudah sampai atau masih menjemput gebetannya. Tentunya aku dan Bagus tidak ingin menunggu si Bintang terlalu lama kalau ternyata si Bintang belum sampai di sana.

"Macet nih pasti." Kata Bagus ketika kami baru jalan sekitar 10 menit dari rumahku.


"Kayak orang rantau aje lu. Ini jam pulang kantor." Kataku.


"Gantian, Ten." Kata Bagus, masih sambil menyetir.


"Entar pulangnya gua yang bawa." Kataku.

Tidak ada yang bisa menandingi macetnya lalu lintas di Jakarta. Suara klakson para pengendara, asap dari knalpot motor, menemani perjalananku dan Bagus yang mulai menggerutu dengan tidak sabarnya para pengendara.

"Beli rokok dulu, Ten." Kata Bagus.


Kami berhenti sebentar disebuah warung pinggir jalan untuk membeli sebungkus rokok.


"Tambahin." Sahutku.


"Pake punya lu dulu. Nanti gua ganti." Jawab Bagus.


"Masih jauh gak sih?" Tanyaku, ketika sudah selesai membeli rokok.


"Itu di depan, cafenya." Jawab Bagus.


"Tumben kita nongkrong di tempat beginian. Biasanya ngemper di pinggir jalan." Kataku.

Dari tempat ku berdiri ke tempat yang kami sudah janjikan terlihat jelas di depan sana. Tempatnya kelihatan kekinian dan bagus untuk foto-foto.

"Mana temen lu?" Tanyaku, ketika kami berdua sudah berada di parkiran.


"Tuh motornya ada. Di dalem kali." Jawab Bagus.

Aku dan Bagus melangkah ke dalam. Dari pojok kanan sana, Bintang melaimbaikan tangan, menyuruh kami berdua untuk gabung bersamanya. Tadinya kukira hanya akan ada aku, Bagus, Bintang, dan gebetannya. Ternyata tidak. Ada dua cewek diantara gebetannya Bintang dan si Bintang. Mungkin itu temannya si gebetannya Bintang.

"Gokil. Udah kayak mau kerja kelompok nih." Kataku, ketika baru saja gabung ke mereka semua.


"Untung lu gak bawa laptop, Ten." Sahut Bagus.


"Iya, ya. Free WiFi kan?" Kataku, sambil tertawa kecil.


"Pesenlah." Kata Bintang. Ia menyodorkan menu cafe tersebut.


"Gua kopi aja." Jawabku.


"Samain kayak Arsten." Kata Bagus.


"Joinan aja, Gus." Kataku.


"Pake joinan segala. Pesen." Kata Bintang.


Sepertinya Bintang sedang memegang uang banyak. Haha.


"Gausah ribet-ribet. Sama rotinya aja." Kataku.

Sebenarnya aku lebih suka nongkrong di warung kopi yang berada di pinggir jalan atau yang berada di dekat rumahku. Tetapi kalau dipikir-pikir. Nongkrong di cafe atau tempat yang keren, bolehlah sesekali untuk memanjakan diri. Walau pada akhirnya yang aku pesan tetaplah secangkir kopi.

"Kenalin. Ini temen gua. Arsten sama Bagus." Kata Bintang kepada gebetannya, dan juga teman-temannya.


"Arsten." Kataku, sambil tersenyum.


"Bagus." Kata Bagus sambil menyengirkan bibirnya.

Tak mau kalah. Gebetannya Bintang dan teman-temannya juga memperkenalkan diri.

"Gue Chika. Itu temen gue, Viola sama Rita." Kata gebetannya Bintang.


Sedikit kudeskripsikan tentang mereka bertiga.

Chika mempunyai rambut dengan potongan bondol seperti kartun animasi Dora the explore. Mukanya bersih, kulitnya putih. Orangnya kelihatan asik dan mudah bergaul.

Viola. Viola mengenakan jaket hitam dan memakai kacamata. Sedikit pendiam kalau kuperhatikan tapi ia sesekali ikut menimbrung pembahasan yang kami bicarakan.

Rita juga sama, sama pendiamnya. Ia sesekali membuka handphonenya. Entah sedang apa yang terjadi di sana. Tetapi walau pendiam, ia ramah kepadaku, orang yang baru pertama kali duduk dalam satu meja bersamanya. Stylenya keren. Mengenakan baju putih, dan sesekali merapihkan rambutnya yang terurai.

"Itu bocah ngeliatin mulu dah." Kata Bagus.


Ada beberapa orang yang melihati kami semua. Mungkin mereka anak-anak tongkrongan dekat sini. Mungkin juga itu karena si Bagus memakai jaket sekolahku. Mangkanya mereka semua melihati kami.

"Cuekin aja." Balasku.


"Kalau nyamperin, baru deh kita bandain." Kata Bintang dengan entengnya.


"Kalian yang suka tawuran deket terminal itu, ya?" Tanya Chika tiba-tiba.


"Bintang noh suka tawuran. Gua mah kalau udah pulang, langsung pulang." Kataku.


"Apaan. Bagus noh suka ngebandain orang di bus." Sahut Bintang.


"Gua lagi. Gua mah cowok bae-bae." Kata Bagus, membela diri.


"Parah sih. Anak sekolah gua sering kena sama sekolah yang di pusat." Kata Viola dengan antusiasnya.


"Mangkanya kalau ke sekolah jangan disamain kayak ke mall." Kataku.


"Iya, betul. Kayak gembel aja kalau ke sekolah." Sahut Bagus sambil tertawa.

Obrolan terus berlanjut sampai menunjukan pukul 9 malam dan sepertinya akan turun hujan. Karena yang kudengar dari luar, suara gemuruh dari atas awan seperti menginsyaratkan kami agar segera menyudahi pertemuan yang sedikit membuat kelelahan karena banyaknya gelak tawa yang tercipta.

"Eh, Arsten. Gua minta nomor lu dong." Kata Chika.


"Buat apa? Lu mau ngajak gua jalan yak besok-besok." Kataku, yang membalasnya dengan candaan dan sedikit percaya diri.


"Gak jadi deh kalau gitu." Balas Chika dengan muka yang langsung bete.


"Haha. Nih, nomor gua, nih." Kataku.


Rita memberikan handphonenya kepadaku, lalu kuketik nomorku di handphonenya.


"Cabs, yuk. Entar kemaleman." Kata Bagus.


"Yaudah, ayo." Kata Bintang.

Kami semua berdiri dan langsung menuju parkiran tapi tidak dengan si Bintang. Ia pergi ke kasir untuk membayar jajanan kami semua. Ya, kalau tidak ada yang bayar, bisa-bisa nanti kami ditegur oleh pemilik cafe ini.

"Lu naik motornya sama si Bintang aja nanti. Gua mau naek motor sendiri." Kataku, berbicara dengan Bagus.


"Ini motor gua, pea. Kan motor lu di rumah." Kata Bagus.


"Oiya, ya. Kan gua gak bawa motor." Kataku.


Ya, begitulah aku.


"Bentar, bentar. Ada yang telepon." Kataku, menyuruh Bagus untuk menepi di pinggir jalan sebentar.


"Ya, halo. Ini siapa, ya?" Tanyaku. Nomornya tidak terdaftar di handphoneku.


"Ini Rita." Ternyata itu Rita yang menelepon.


"Ohya. Nanti gua telepon balik. Gua masih di jalan." Kataku. Lalu kumatikan teleponnya.

Setelah melalui perjalanan, pertemuan, perkenalan. Kini aku sudah berada di rumah. Mengistirahatkan badan ke tepian kasur sejenak. Walau hari ini cukup melelahkan tapi mataku masih tidak mau diajak tidur.

"A?" Itu suara Bunbun dari luar kamarku.


"Iya, bun? Masuk aja, enggak aa kunci." Kataku.

Bunbun membuka pintu, lalu masuk ke dalam kamarku.


Perlu kamu ketahui, dari aku kecil, aku diajarkan untuk tidak sembarangan masuk ke tempat orang lain. Seperti yang sekarang ini bunbun lakukan. Beliau tidak mau masuk sebelum aku mengizinkannya masuk. Begitupun aku. Kalau aku minta uang jajan dan bunbun sedang di dalam kamarnya, aku akan menunggunya keluar walau terkadang aku tidak mendapatkan jawaban karena ia sudah tertidur duluan.

"Bunbun mau roti bakar dong. Beliin di warung pak Mumu." Kata bunbun.


(LANJUT DI PART BERIKUTNYA KARENA TIDAK MUAT)
Diubah oleh hasanudin39
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Bgssusanto88 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Masuk untuk memberikan balasan
stories-from-the-heart
Stories from the Heart
18.3K Anggota • 28.1K Threads
Mencapai Kata Selesai
18-01-2022 14:48
Untuk Mempermudah :

MULA
EGO
Diubah oleh hasanudin39
profile-picture
profile-picture
joohsn dan joo1507 memberi reputasi
2 0
2
Mencapai Kata Selesai
18-01-2022 14:49

Arsten 1 II

Quote:"Bunbun mau roti bakar dong. Beliin di warung pak Mumu." Kata bunbun.


"Bentar, ya, bun. Nanti aa ke bawah." Kataku.


"Yaudah. Jangan lama, nanti keburu tutup." Kata Bunbun.


"Iya." Kataku.


Warung pak Mumu langgananku ini bukanya dari sore pukul 6 sampai 4 pagi. Kalau bunbun bilang, "Keburu tutup." Rasa-rasanya tidak mungkin. Tapi yasudahlah. Lebih baik aku segera ke warung pak Mumu, lalu setelah itu tidur.


"Pak. Roti bakar cokelat keju sama ovaltine. Dibungkus." Kataku.


"Ovaltinenya es apa panas?" Tanya pak Mumu.


"Es, pak." Kataku.

Biasanya selagi menunggu pesanan selesai, aku membakar rokokku tapi karena rokoknya tertinggal di kantung jaket yang kutaruh di kamar, aku memainkan handphone sambil membalas pesan dari Rita.


"Pak. Mau pisang bakarnya satu, ovaltinenya satu." Kata seorang wanita yang memesan berdiri tepat di sampingku.

Wanita itu tadinya aku hiraukan kehadirannya karena aku sedang asik membalas pesan dari Chika. Tetapi tiba-tiba ia menegurku.

"Bang Arsten. Minjem power banknya sebentar boleh gak?" Ternyata suara itu keluar dari wanita yang aku kagumi.


"Eh, iya, Ratu. Nih, pake aja. Masih ada kayaknya." Kataku.


Tapi tunggu dulu. Kok Ratu mengenaliku? Oiya, kan kami sedaerah. Kami juga berteman di jejaring sosial. Cuma tidak pernah saling mengenal sebelumnya.


"Pinjem, ya, bang. Hp gua mati total." Kata Ratu. Lalu ia duduk di sampingku.


"Iya." Jawabku.

Beberapa menit kemudian, pesananku sudah selesai duluan. Bunbun juga sudah menanyakan, "Kok gak pulang-pulang?". Tetapi karena power banku masih di tangan Ratu, aku harus lebih sabar sampai ia benar-benar selesai dan mengembalikannya.

"Lu sekolah di mana, Tu?"


"Di jalan Manggis, bang. Arah sekolah SMP lu dulu." Jawab Ratu.


"Siang apa pagi?" Tanyaku.


"Pagi, bang." Jawab Ratu.

Kenapa aku harus seformal itu untuk mengajaknya berbicara? Kenapa enggak langsung aja minta power banknya? Pasti bunbun menunggu pesanannya di rumah. Tapi aku gaenak kalau memintanya mengembalikan barangku. Tapi itu punyaku. Aduh.

"Kok lu belum balik? Kan udeh jadi tuh makanan." Kata Ratu.


"Iya. Lu beluman?" Tanyaku.


"Astaga, lupa. Nungguin power bank, ya? Maaf bang, maaf." Kata Ratu yang langsung mengembalikan power bank milikku.


"Gapapa, santai. Yaudah, gua duluan, ya." Kataku, izin pamit.

Pertemuan yang sangat singkat. Pertemuan yang membuatku merasa seperti sudah sangat akrab. Pertemuan pertama yang pasti akan selalu kuingat.

"Orangnya sih sopan. Cantik, banget. Tipe gua banget sih. Badannya berisi, rambutnya panjang, jago ngerawat badan. Asli, idaman gua banget." Kataku, mengobrol dengan dinding kamarku.

"Bisa enggak, ya, gua deketin dia?"


"Eh, si Rita belum gua bales. Paling udah molor. Besok aja lah balesnya."

Aku tak menyangka kalau hari ini diisi dengan berbagai macam cerita. Bertemu orang baru. Kenalan dengan kenalan temanku. Rita juga sepertinya tertarik padaku. Bisa kubuktikan dengan bawelnya dia ketika aku di jalan, ia terus menanyakan, "Udah sampai belum, Ten?". Tapi untuk yang itu, mungkin hanya aku yang kegeeran dan terlalu percaya diri. Baru juga kenalan tadi, masa udah naruh hati? Tapikan enggak ada larangan untuk seseorang mengagumi. Stop, Arsten! Jangan terlalu kegeeran.

Dan penutupnya, aku bertemu Ratu. Wanita yang aku idam-idamkan sejak pertama kali aku melihatnya dijangkauanku.

Terima kasih sekali, Tuhan! Aku masih ingin dikejutkan dengan alur yang kau buat. Kau harus tau, aku ingin memperjuangkan salah satu hamba-mu itu. Dan dari sekian banyaknya permintaan yang ingin dikabulkan, diberi kesempatan untuk mencintai Ratu lebih dalam adalah hal yang ingin aku rasakan dan pasti aku akan mempertahankan!
Diubah oleh hasanudin39
profile-picture
profile-picture
profile-picture
unhappynes dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Mencapai Kata Selesai
18-01-2022 14:53
WKB

WELCOMEBACKemoticon-Sundul Gan (S)
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mencapai Kata Selesai
18-01-2022 17:27
Thread ini juga tersedia di Wattpad, ya, gan!

Mencapai Kata Selesai - Wattpad
0 0
0
Mencapai Kata Selesai
18-01-2022 20:50
Noted.

Nama tokoh, latar tempat, waktu kejadian, semua yang berada di sini hanyalah karangan yang keluar dari otakku saja. Jadi, tidak perlu ada cocokologi atau menanyakan hal yang tidak perlu ditanyakan. Semua hanyalah karangan, ya, gan. Terima kasih. Selamat membaca.

Ig: @Joohsn_
0 0
0
Mencapai Kata Selesai
19-01-2022 05:30
Pokoknya jangan ada kentang diantara kita breemoticon-Cool
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Post ini telah dihapus
Mencapai Kata Selesai
19-01-2022 17:50
PART 2 MULA kira-kira nanti malem/besok bisa dibaca oleh agan-agan semua!emoticon-Malu (S)
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
Mencapai Kata Selesai
20-01-2022 21:11
menyimak dulu.
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mencapai Kata Selesai
24-01-2022 17:45

MULA

Quote:"Arsten, bangun. Udah jam berapa ini? Nanti kamu telat.” Suara bunbun membangunkanku.
“Hah? Jam berapa? Aa telat, ya?” Kataku, panik.

Tak hanya aku yang kesiangan. Ternyata bunbun dan ayah juga sama. Biasanya aku sudah bangun dari jam 5 pagi. Tapi karena kelelahan sehabis nongkrong semalam, waktu tidurku sedikit berkurang.

“Keburu enggak, ya? Astaga. Mana gua ada praktek lagi.” Kataku, sambil memakai sepatu.

Aku mengeluarkan motorku dan langsung tancap gas menuju sekolah tanpa sarapan karena bunbun juga ikutan kesiangan. Dan sialnya lagi, aku harus terjebak macet. Sedangkan jam di tanganku sudah menunjukan pukul 06.35 WIB.

“Itu bukannya si Ratu?” Kataku, dalam hati.

Dengan mengenakan jaket putih dan rambut yang terurai, ia berjalan menyelusuri macetnya ibu kota. Sepertinya ia juga kesiangan dan ingin menunggu bus kota untuk berangkat ke sekolahnya.

“Ratu. Sini.” Kataku, yang tepat di belakangnya.
Ratu menghampiriku.
“Bareng, bang.” Kata Ratu.
Sejujurnya, kami tak searah.
“Yaudah, ayo.” Kataku.

Ratu kubonceng dengan kecepatan motor kunaikan supaya Ratu bisa sampai sekolah walaupun kemungkinan untuk bisa mengikuti jam pelajaran pertama sangatlah kecil.

Butuh waktu 10 menit untuk kami sampai di depan gerbang sekolahnya Ratu. Sedangkan dari sekolah Ratu ke sekolahku? Sudah pasti hari ini akan membolos.

“Yah, bang. Gaboleh masuk gua.” Kata Ratu yang menghampiriku.
“Terus? Lu mau balik lagi ke rumah?” Tanyaku.
“Gatau.” Jawab Ratu. Raut wajahnya terlihat lesu.

Tiba-tiba handphoneku bergetar. Ada panggilan masuk dari Bintang yang segera aku angkat.

“Lu di mana?’ Tanya Bintang.
“Telat gua. Kesiangan.” Jawabku.
“Si Arsten kesiangan.” Kata Bintang. Sepertinya ia sedang memberitahu Bagus.
“Yaudah. Hati-hati lo. Jangan pake seragam.” Kata Bintang.
“Izinin gua dong. Bilang sama si Hendra, gua izin.” Kataku.

Hendra itu teman sekelasku dan menjadi ketua kelas.

“Sip.” Jawab Bintang. Lalu telepon dimatikan.

Ratu masih memainkan handphonenya tepat di sampingku. Kami berdua masih di depan gerbang sekolahnya Ratu. Karena aku merasa tidak enak kalau berlama-lama di sini. Aku mengajak Ratu untuk pergi ke tempat yang agak jauh dari sekolahnya. Lalu setelah itu, terserah ia ingin kuantarkan ke mana.

“Mau balik aja lu?” Tanyaku, sambil membakar rokok yang kubeli di warung.
“Entar gua diomelin kalau pulang.” Kata Ratu.
“Terus?” Kataku.
“Anterin gue ke rumah sodara gue aje deh.” Kata Ratu.
“Yaudah. Lu unjukin aja jalannya.” Kataku.

Alhasil, kami membolos bersama-sama. Dan Ratu minta diantarkan ke rumah saudaranya karena takut jika pulang, ia pasti kena omelan. Tapi kalau aku mengantarkannya ke rumah saudaranya, apakah saudaranya tidak akan mengadukan kalau Ratu sedang membolos? Soalnya aku kalau sedang membolos, tidak akan berani menunjukan muka kepada keluarga. Jangankan keluarga, dilihat orang-orang yang mengenaliku saja, aku takut. Takut kalau mereka mengadukannya kepada bunbun.

“Masih jauh enggak?” Tanyaku. Kami sudah hampir 30 menit di jalan tapi belum juga sampai ke tujuan.
“Dikit lagi. 5 menit.” Kata Ratu.

Melewati rumah mewah, masuk ke dalam gang yang berada di sampingnya. Kami berhenti di depan sebuah rumah dengan cat warna hijau.

“Lu masih mau ke sekolah lu?” Tanya Ratu dengan entengnya.
“Lu gila? Yakali.” Balasku.
“Haha. Yaudah, masuk aja.” Kata Ratu.
“Gaenak sama sodara lu.” Kataku.
“Kasih kucing. Santai aja sama kakak gua mah.” Jawab Ratu.

Oh, ternyata kakaknya. Hah? Kakaknya.

“Assalamualaikum. Woi, ada orang gak?” Kata Ratu, sambil mengetuk pintu rumah kakaknya.
“Waalaiqumussalam. Beneran cabut nih bocah.” Kata kakaknya tapi dengan raut muka terlihat biasa saja.
“Takut diomelin mamah. Hehe.” Jawab Ratu, sambil membuka sepatu.
“Kok lu gak takut gue aduin?” Kata kakaknya Ratu.
Tuh, kan.
“Sini, bang.” Ajak Ratu, mempersilahkanku masuk.

Tadinya aku ingin langsung pergi tapi bingung ingin ke mana. Teman-temanku pada masuk sekolah. Mau pulang ke rumah? Tidak mungkin. Main ke warnet? Menghabiskan uang. Nongkrong di tepi jalan? Rawan, takut banyak pelajar berkeliaran.

“Bawa cowok lagi.” Kata kakaknya Ratu.
“Iya, kak. Maaf.” Kataku, lalu mencium tangan kakaknya Ratu sebagai penghormatan karena dirinya lebih tua dariku.
“Namanya siapa?” Tanya kakaknya Ratu ketika kami semua berada di ruang tengah.
“Arsten.” Kataku.
“Gue manggilnye Jo ajelah. Lu mirip sama temen gue soalnya. Si Jojo yang emaknye asal Makasar. Lu tau gak Ratu?” Kata kakaknya Ratu.
“Gatau. Itu kan temen lo.” Jawab Ratu.
“Bang Rehan mane?” Tanya Ratu.
“Kerja.” Kata kakaknya Ratu.
“Ohh” Kata Ratu.

Ratu dan kakaknya masih terus mengobrol. Aku tidak ikut nimbrung karena aku tak tau ingin membahas apa pada mereka. Jadi yang bisa kulakukan hanya mendengar dan sesekali membuka handphoneku yang tidak ada notifikasinya.

Tak terasa, sudah jam 10 lewat aku berada di rumah kakaknya Ratu. Bengong-bengong, rebahan, main handphone, sampai lupa belum sarapan.

“Lu pada mau gua masakin apa?” Tanya kakaknya Ratu.
“Apa aja lah. Harusnya dari tadi orang mah.” Sahut Ratu.
“Lupa gue.”
“Yaudah gue masakin telor ceplok aje, ye.” Kata kakaknya Ratu.
“Warung di sini, di mana kak?” Tanyaku.

Rokokku yang kubeli tadi pagi ternyata sudah habis karena terus kubakar untuk mengisi kejenuhan menunggu jam pulang sekolah.

“Di depan, Jo. Cari aje. Deket.” Kata kakaknya Ratu.
“Sini gue aje yang jalan.” Kata Ratu.
“Gua aja.” Kataku, lalu bangun mencari warung.

Aku merasa tak enak berlama-lama di rumah kakaknya Ratu, sebenarnya. Aku bisa berada di sini saja sudah aneh. Tapi melihat sifat Ratu yang sangat terbuka untuk seorang sepertiku, itu yang membuka nyamanku. Ia tak merasa takut untuk kenal dengan orang baru sepertiku. Sangat berbeda dengan wanita yang pernah kujumpai sebelumnya.

Kakaknya Ratu juga sangat ramah. Beliau sangat friendly. Tidak menaruh curiga. Mungkin itu juga karena usianya yang tak jauh berbeda dariku. Iya, kakaknya Ratu masih terbilang muda. Jadi beliau bisa mengakrabkan diri kepadaku, dan aku harus tetap menghormatinya.

“HP lo bunyi tuh tadi. Ada yang telepon tapi gak keburu gue angkat.” Kata Ratu, ketika aku baru saja masuk ke dalam rumah sehabis ke warung.
“Siapa?” Tanyaku, yang langsung mengecek handphoneku.
Ada 2 panggilan tak terjawab dan 1 pesan masuk dari Bintang.
“Kenapa, Tang?” Kataku, yang menelpon balik ke Bintang.
“Pulang jemput gue di warung emak.” Kata Bintang.

Warung emak adalah tempat biasa kami sepulang sekolah berkumpul untuk pulang ke rumah masing-masing.

“Bagus gak bawa motor?” Tanyaku.
“Enggak. Die naek bis tadi.” Kata Bintang.
“Yaudah.” Kataku, lalu kututup sambungan teleponnya.

Masih ada waktu untuk kembali pada aktifitasku seperti tadi. Sebenarnya enggak hanya bengong dan ngelamun serta nahan ngantuk sih. Sesekali aku memandangi Ratu ketika ia sedang sibuk dengan gadgetnya tanpa punya keberanian untuk mengajaknya berbicara.

“Makan sinih.” Kata Kakanya Ratu, memanggil kami berdua ke ruang makan.
“Makan, bang.” Ajak Ratu.
“Iya, duluan.” Kataku.
Ratu bangun, dan aku mengikutinya dari belakang.
“Pacar lu sediain tuh minuman es di kulkas.” Perkataan kakanya Ratu sedikit membuatku tercengang.
“Gausah, kak. Bisa ambil sendiri.” Kataku.
“Pacar orang. Bukan pacar gue.” Kata Ratu.
“Pantes diem-dieman dari tadi. Kirain gue pacaran.” Kata kakaknya Ratu yang kubalas dengan senyuman kecil sambil berharap dalam hati, “Semoga.”

Kami bertiga makan bersama-sama. Kakaknya Ratu memasak sayur, tahu, tempe, ayam goreng, dan sambalnya.

“Gak doyan sambel? Enak, Jo.” Kata kakaknya Ratu.
“Enggak, kak. Gak suka pedes. Hehe.” Kataku.
“Yah, sayang banget. Ratu aja demen sama sambel bikinan gue.” Kata kakaknya Ratu.
“Laper kali. Bukan doyan.” Kataku, dan mereka berdua tertawa.

II

“Lo cabut kemane, bang ganteng.” Tanya Bintang, ketika aku baru saja sampai ke warung emak.
“Ke rumah temen.” Kataku, lalu duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu.
“Temen siape? Temen yang mane?” Tanya Bintang.
“Ke rumahnye Ratu.” Kataku.
“Ohh Ratu. Anak gang sebelah?” Tanya Bintang.
“Iya.” Kataku.

Di warung Emak, tidak hanya ada aku berdua. Ada beberapa pelajar dari sekolahku juga. Rata-rata isinya adalah anak muda yang suka berpetualang. Warung Emak adalah tempat kami menunggu teman-teman untuk pulang bersama-sama. Untuk berjaga-jaga, karena sekolahku ini cukup terkenal dengan keonarannya. Kami tidak mau salah dari kami ada yang terluka ketika sedang dalam perjalanan.

Tetapi ada juga yang pulangnya sendiri. Ada yang membawa kendaraan masing-masing. Dan kami yang berada di warung Emak tidak mempermasalahkan itu.

“Mana si Bagus? Lama amat di dalem.” Kataku.
“Bentar, gua telpon.” Kata Bintang.

Ketika aku sedang menikmati kopi yang Bintang pesan, dua orang adik kelasku yang rumahnya sedaerah denganku menghampiriku.

“Ayo, bang. Udah pada kumpul nih.” Kata adik kelasku.
“Yaudah, hati-hati.” Kataku.
“Barengan-barengan. Gue naek motor sama Arsten. Tungguin dulu.” Kata Bintang.
“Gue nunggu di halte depan, ya.” Jawab adik kelasku.

Tak lama kemudian, Bagus datang dengan muka yang kelihatan sangat bahagia. Aku tidak tau apa yang sedang terjadi dengan temanku satu ini. Tidak biasanya ia seperti ini. Aku jadi curiga, hmm.

“Lama bet.” Kataku.
“Tau, ngapain sih lo?” Tanya Bintang.
“Teleponan sama bebep.” Jawab Bagus.
Ohh, lagi deket sama cewek ternyata.
“Yaudeh ayo balik. Udeh pada nunggu noh di depan.” Kata Bintang.

Aku, Bintang, dan Bagus menyusul ke halte depan dengan menaiki motorku. Sedangkan anak kelas 1 dan 2, akan menaiki bus kota. Dan kalau ditotal, ada 10 pelajar yang rumahnya berada di sekitar tempat tinggalku. Sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan pelajar yang areanya berbeda dengan kami.

“Gua naek bis aje ah.” Kataku.

Tak butuh waktu lama untuk menunggu. Bus yang dinanti-nantikan untuk pulang akhirnya datang. Aku masuk ke dalam lalu duduk di bangku, dan sisanya berdiri di pintu bus. 5 berada di depan, 5 berada di belakang.

“Sini, bang. Mendeng.” Ajak adik kelasku yang berdiri di pintu belakang.
“Haha. Udah pernah gua. Lu aja.” Kataku.
“Hehe, siap.” Kata adik kelasku.
“Bang, dicariin bang Bintang.” Kata adik kelasku.
“Bilang aja gue tidur.” Kataku, yang padahal sedang asik chatingan dengan Chika.

Aku dan Rita akhir-akhir ini memang sedang mengakrabkan diri. Tetapi aku membatasi diriku untuk tidak boleh sampai menaruh hati padanya. Aku tidak mau membohongi hatiku. Aku merasa hatiku hanya untuk Ratu seorang. Walau sebenarnya aku juga tidak tau perasaan ini entah sampai kapan akan bertahan dan entah sampai kapan memendamnya terus-terusan. Intinya, pokoknya, wanita seperti Ratu, yang saat ini harus kudapatkan.

“Bang, ada pelajar di depan, bang.” Kata adik kelasku yang berdiri di pintu belakang menghampiriku.
“Rame gak?” Tanyaku.
“Lumayan.” Kata adik kelasku.
“Kiri, bang.” Kataku, kepada kernet bus.

Aku dan beberapa adik kelasku turun dari bus. Menyiapkan diri dari segala kejadian yang mungkin sebentar lagi akan terjadi. Jarak antara kami dan pelajar yang berada di depan hanya berkisar beberapa meter saja. Omong-omong soal jumlah, kami dan mereka setara.

“Itumah anak sekolah madrasah, Ten.” Kata Bintang yang mendekatiku.
“Emang iya?” Tanyaku.
“Coba teriakin.” Kata Bagus.

Dua adik kelasku memprovokasi pelajar yang berada di depan. Tapi anehnya, mereka seperti tidak ingin meladeni kami semua. Malah ketika sedikit lagi kami berdekatan dengan mereka, semua pelajar itu menaiki bus kota yang lainnya. Alhasil, para adik kelasku harus kembali melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Karena kalau menunggu bus kota lagi juga untuk apa? Toh sedikit lagi juga sampai.

“Cape, gua, cape. Udah turun ternyata anak sekolah yayasan.” Kataku, ketika berada di motor bersama Bagus dan Bintang.
“Bringas banget lagian, langsung pada turun semua, haha.” Kata Bintang.
“Namanya juga anak muda, haha.” Kataku, dan kami tertawa bersama.

Sebelum pulang ke rumah. Kami bertiga nongkrong sebentar untuk menghabiskan rokok yang dibeli tadi di warung Emak. Nongkrongnya di sekitaran rumahku. Karena kalau di rumahku, pasti aku tidak akan merokok, takut diomeli bunbun.

“Siapa bebep lu? Kenalin dong.” Tanya bintang kepada Bagus.
“Rita.” Jawab Bagus.

Oalah. Ternyata Bagus sedang mendekati Chika. Ada rasa kaget sedikit ketika aku mengetahuinya. Aku juga berharap Bagus tidak tau, kalau Chika sekarang-sekarang ini sering menghubungiku. Aku tidak mau hubungan pertemananku rusak dengannya. Apalagi kalau gara-gara wanita.

“Anjas. Maen cepet nih.” Kataku, menggoda Bagus.
“Entar malem gua mau ngajak jalan Rita.” Kata Bagus.
Semoga dengan kedekatannya Bagus dan Rita, Rita tak menghubungiku lagi mulai nanti malam.

III

Di dalam kamar yang cahanya meredup. Aku membayangkan kebersamaanku bersama Ratu. Aku tak menyangka kalau aku bisa sedekat itu dengannya. Mengobrol, bercanda, bertemu kakaknya. Pagi tadi adalah kesempatan yang tak mungkin aku lupakan.
Hari esok, masih bisa atau tidak, ya? Aku bertemu dengan Ratu. Ingin rasanya diberi kesempatan terus menerus seperti tadi pagi.
“Ratu, Ratu.” Kataku, mengucap namanya dengan pelan.

TRIINGGGGGG TRINGGGGGG

“Di mana?” Nia menelponku.
“Di kamar.” Jawabku.
“Ngopi di warung pak Mumu. Gue sama Ratu.” Kata Nia.
Diubah oleh hasanudin39
profile-picture
joohsn memberi reputasi
1 0
1
Mencapai Kata Selesai
24-01-2022 19:03
Happy reading, gan!
0 0
0
Mencapai Kata Selesai
25-01-2022 19:59
Harus sampai selesai
0 0
0
Mencapai Kata Selesai
02-02-2022 21:50
Update kali ya
0 0
0
Mencapai Kata Selesai
12-02-2022 18:20

MULA II

Quote:3 tahun yang lalu, tepatnya ketika aku masih mengenakan seragam putih biru. Hatiku dimenangkan seorang perempuan. Perempuan yang menggemaskan. Wajahnya putih, matanya kecil, rambutnya sebahu, dan selalu ceria ketika bersamaku. Namanya Putri, dan ia adik kelasku.
Kala itu kami menjalin hubungan selama 1 tahun 5 bulan. Waktu yang cukup lama untuk seorang sepertiku yang baru mengenal cinta. Putri adalah cinta pertamaku.

Kami resmi berpacaran pada bulan Juni, kalau kuingat-ingat. Masa-masa pengenalan kami tidak berlangsung lama. Hanya butuh waktu 2 hari bagiku untuk menyatakan kalau aku mempunyai perasaan padanya. Dan, ya, cintaku diterima olehnya.

“Ini Putri anak kelas 8?” Tanyaku, mengechatnya lewat akun sosial medianya. Dan ada sedikit perjuangan dariku untuk mencari akun miliknya.

“Iya. Ini siapa?” Balas Putri.

Saat itu hatiku langsung berdegup kencang. Wajar, karena ini pertama kali aku memberanikan diri untuk menyapa seorang wanita yang kusuka.

“Gua Arsten. Anak kelas 9.” Balasku.

“Ohh. Iya, kenapa, bang?” Balas Putri.

Seketika pikiranku buyar. Karena sedari tadi aku hanya mengumpulkan keberanian, tidak dengan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang akan dilontarkan. Tapi tiba-tiba aku mendapatkan ide. Insting Arjunaku keluar.

“Itu, tadi. Katanya lu nyariin gua? Kata siapa tadi, ya, gua lupa.” Balasku.

Padahal kejadian aslinya, aku hanya bisa melihatinya dari lantai atas ketika semua murid sedang istirahat. Tidak ada, tuh, yang berkata, “Arsten dicariin Putri.” Tapi ini demi kebaikanku, hehe.

“Enggak, bang.”
“Ini bang Arsten yang sering pake jaket, kan?’ Balas Putri.

Cukup terkenal juga, aku, hehe.

“Iya, itu gua yang sering pake jaket. Lu merhatiin gua, ya?” Balasku.

“Enggak, ya. Yeh.” Balas Putri, dengan emoticon meledek.

Sangat-sangat diluar dari ekspetasiku. Kukira, aku akan dianggap sebagai orang aneh yang mendekatinya tiba-tiba. Kukira, aku akan diabaikan seperti kisah-kisah temanku yang mendekati calon gebetannya. Tapi ternyata tidak. Aku dan Putri seperti memiliki kemauan yang sama. Maksudku, semua yang terjadi barusan, berjalan tanpa halangan. Dan aku merasakan nyaman.

“Eh, adik manis. Udah malem, nanti pacarnya nyuruh tidur.” Kataku. Kami masih chatingan padahal sudah hampir larut malam.

“Gapunya pacar, wle.” Balasnya.

“Yaudah, sekarang siap-siap tidur. Besok kan sekolah.” Balasku.

“Iya. Ini mau tidur.” Balasnya.

“Selamat tidur, Put. Mimpi enak.” Balasku.

“Iya, bang. Selamat tidur.” Balas Putri.

Sampai pada keesokan harinya, kami berdua resmi berpacaran. Menjadi seseorang yang mempunyai ikatan. Dan kala itu, perbedaan usia menurutku bukan menjadi halangan. Melainkan untuk menengahi semua kekurangan.

“Kamu mau aku jemput?” Tanyaku, lewat chat.
“Kamu mau jemput?” Balas Putri.

Saat itu aku sudah menjadi seorang pelajar SMK dan Putri masih duduk dibangku kelas 2. Dan usia pacaran kami baru menginjak beberapa bulan setelah jadian.

“Iya, sayang.” Balasku.

Kala itu pihak sekolah sedang ada rapat dadakan. Semua murid menyambutnya dengan rasa senang karena sedikit lagi pasti ada arahan untuk pulang.

“Anak-anak. Langsung pulang ke rumah, ya.” Kata Guruku yang mengabarkan kabar gembira itu.

Aku membereskan pelaratan belajarku, dan memasukannya ke dalam tas. Lalu berjalan menuju parkiran untuk segera menjemput Putri di sekolahku dulu waktu SMP.

Tadinya, disaat aku baru saja keluar dari gerbang, Bagus menghampiriku dan mengajakku untuk pulang bersama-sama dengan kakak kelas yang lainnya.

“Gua balik duluan deh. Gua gaikut dulu.” Kataku, berbicara dengan Bagus di sebuah halte depan sekolahku.

“Disuruh Bilal, Ten.” Kata Bagus.

Bilal ini abang kelasku yang rumahnya sedaerah denganku. Dan ia adalah orang yang paling disegani diantara semua murid yang searah dengan tujuan pulang/perginya murid-murid di sekolahku. Tetapi di sisi yang lain, bang Bilal adalah orang yang baik. Ia tidak gila hormat seperti kebanyakan kakak kelasku yang lain. Aku menaruh rasa hormat lebih kepadanya.

“Mana bang Bilalnya?” Tanyaku.

Aku berniat untuk menghampirinya dan izin untuk pulang sendirian. Walau kecil kemungkinan untuk diperbolehkan, tapi aku akan tetap menghampirinya.

“Mau ke mana, bang ganteng?” Tanya bang Bilal yang sedang merokok di pinggir jalan.

“Gua balik duluan, ya. Ada urusan.” Kataku.

“Bareng dong sama yang lain.” Kata Bang Bilal.

“Gabisa, bang. Gua ada urusan.” Kataku.

“Yaudah. Hati-hati.” Kata bang Bilal.

Akhirnya, ternyata diberi kelancaran untuk pacaran, hehe.

Setelah pamit izin untuk memisahkan diri dari yang lain, aku langsung menuju sekolahku waktu SMP dulu. Jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolahku yang sekarang, karena masih sama-sama berada di pusat. Mungkin hanya butuh waktu 10 menit kalau diperkirakan. Tetapi itu kalau jalanannya tidak macet. Dan untungnya hari ini aku tidak terkena padatnya pengendara ibu kota.

“Aku di depan gerbang.” Kataku, lewat whatsapp.

“Iya.” Balas Putri.

Tak lama kemudian, Putri muncul bersamaan dengan beberapa pelajar yang lainnya. Ternyata kedatanganku bertepatan dengan bel pulang sekolahnya mereka. Ini jadi pemandangan yang baru untukku melihat-lihat generasi penerusku selanjutnya di sekolah ini.

“Kita mau ke mana?” Tanya Putri yang berdiri tepat di sampingku.

“Salim dulu sama aku.” Kataku.

Putri ternyata beneran mencium tanganku. Padahal niatku hanya bercanda tadinya.

“Kok kamu udah pulang? Bukannya jam 3 baru pulang?” Tanya Putri.

“Ada rapat.” Kataku. Lalu Putri naik ke motorku.

“Ohh sama bang Arsten.” Kata seseorang wanita yang berjalan bersama tiga orang lainnya.

Sepertinya itu teman-temannya Putri yang meledeknya. Aku hanya tersenyum kecil ketika mendengarnya. Sementara Putri meresponnya dengan tertawa dan melaimbankan tangannya.
Lalu aku melajukan motorku dengan kecepatan sedang. Tidak terlalu buru-buru, tidak terlalu pelan. Aku tidak ingin ada momen yang kelewatan ketika aku bersamanya.

“Aku gabisa pulang sore-sore, ya, sayang. Nanti mamah nyariin.” Kata Putri, sambil memelukku dari belakang.

II

“Kenapa, Nia?” Tanyaku, ketika baru saja sampai di warung pak Mumu.

“Ngopi, Ten.” Kata Nia.

“Ratu udah makan?” Tanyaku.

“Gue yang ngajakin ngopi, Ratu yang ditawarin makan.” Kata Nia, sambil tertawa. Sedangkan Ratu hanya tersenyum kecil ketika mendengar pertanyaanku.

“Lu pulang jam berapa tadi bang?” Tanya Ratu.

“Pulang jam..” Ketika aku baru saja ingin menjawab pertanyaan Ratu, tiba-tiba Chika menelponku tapi tidak aku jawab panggilannya.

“Siapa tuh?” Tanya Nia.

“Temen.” Kataku.

“Angkat dulu.” Kata Nia.
Rita masih terus saja menelponku. Dan seingatku, Bagus sedang mengajaknya jalan. Jelas aku tak ingin mengganggu mereka berdua. Apalagi ada Bagus di sana. Aku tak mau membuat masalah.

“Itu si Rita telepon angkat dulu.” Kata Bintang yang tiba-tiba datang ke sini.

“Die kan lagi sama Bagus.” Kataku.

“Motor si Bagus mogok. Lu jemput sono.” Kata Bintang, memberi penjelasan.

Ohh. Jangan-jangan itu memang benar si Bagus yang menelponku memakai handphonenya Rita.
Aku langsung menelponnya balik.

“Halo. Sorry baru megang hp.” Kataku, berbohong.

“Ke Gatot subroto sekarang, Ten. Motor gua mogok. Cariin bensin eceran sekalian.” Ternyata Bagus yang menjawab.

Dengan berat hati, aku izin kepada Nia dan Ratu untuk pergi menolong temanku yang sedang mengalami kendala di jalan Gatot subroto. Lalu setelah itu, aku segera mengambil motorku di rumah dan tujuan pertamaku adalah mencari tukang bensin eceran yang semakin malam semakin susah ditemukan.

“Itu dia.” Kataku.

Aku melihat Bagus dan Rita sedang berduaan menikmati kopi di depan sana. Mereka mungkin sudah menunggu dari tadi. Tetapi aku punya alasan untuk itu.

“Wei.” Sapaku, yang langsung menyerahkan bensin kepada Bagus.

“Lama banget.” Kata Rita.

“Hehe. Sorry-sorry.” Kataku.

Bagus langsung menuangkan bensinnya tanpa menjawab sapaanku. Mungkin ia sedikit kesal kepadaku. Sedangkan Rita, sesekali melihatku, dan aku menyadari hal itu.

“Berapa, Ten?” Tanya Bagus.

“Harusnya tadi isi bensin dulu. Udah tau mau ngiterin Jakarta. Malah gak ngisi bensin.” Kataku.

“Iye. Lupa gue.” Kata Bagus.

“Yaudah, gua tinggal, ya.” Kataku, izin pamit.

“Ini berapa?” Tanya Bagus.

Aku tidak menjawabnya dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.

II

Aku dan Putri kini sudah sampai kesalahsatu taman yang ada air mancur di tengah-tengahnya. Tempatnya sejuk karena ada pepohonan di sekitarnya. Jajanannya juga murah-murah. Tetapi kami memutuskan untuk tidak masuk ke dalam taman, karena lebih asik duduk di motor berduaan.

“Gimana tadi sekolahnya, Tuan Putri?” Tanyaku.

“Cape, pusing, tapi seru.” Kata Putri.

“Seru gimana? Coba cerita.” Kataku.

“Iya, seru. Tadi ada yang ngeledekin aku gitu lho. Temen-temen aku kan tadi pada di luar kelas. Terus mereka bilang ke aku, ‘Saik, Putri. Dijemput bang Arsten’. Gitu kata mereka, yang.” Kata Putri, bercerita.

“Haha. Terus kamu ngeresponnya gimana?” Tanyaku.

“Ya, aku ketawa-ketawa aja.” Jawab Putri.

“Ada-ada aja.” Kataku, lalu mencubit pipinya.

“Aku mau ngomong tapi kamu harus janji enggak marah.” Kata Putri.

Sebentar. Kenapa harus ada kata-kata, “Janji, enggak marah.”?

“Kemarin-kemarin ada yang ngechat aku tiba-tiba. Aku nanya sama temen aku. Kata dia, ‘Itu adik kelas. Anak kelas 1.” Ngechatnya sih biasa aja tapi aku tau ujungnya bakal kayak gimana.” Kata Putri, dan tangannya memegang tanganku.

“Iya, lalu?” Tanyaku.

Aku masih mencoba menanggapinya dengan keadaan tenang.

“Terus tadi pas di sekolah. Aku dijailin sama itu anak. Dia juga masih sering ngechat aku. Enggak aku tanggepin kok. Kamu jangan marah.” Kata Putri, dengan tatapan yang membuatku luluh terhadapnya.

“Kenapa kamu takut kalau aku bakal marah?” Tanyaku.

“Ya, aku takut kalau kamu marah. Aku kan tau siapa kamu.” Kata Putri.

“Siapa aku?” Tanyaku.

“Yang suka manja kalau lagi teleponan, terus tiba-tiba ketiduran. Wleee” Jawab Putri, sambil memeletkan lidahnya.

III

Akhirnya, sampai juga aku di kamar. Dan sebelum menjatuhkan diri ke atas kasur, terlebih dahulu aku membersihkan diri dengan mengelap badan di kamar mandi. Tadinya aku ingin mandi tapi aku langsung ingat pesan ayah. “Mau sakit? Mandi malem-malem terus.

“Akhirnya, bisa tidur.” Kataku, berbicara sendiri.
Baru saja ingin memejamkan mata, notifikasi pesan masuk berbunyi.

“Udah sampe rumah, bang?” Pesan dari seseorang yang nomornya tidak terdaftar di handphoneku.

“Ini siapa?” Balasku.

“Ratu. Save, ya.” Balasnya.

Ratu tau nomorku dari siapa? Pasti Nia yang memberinya.

“Ohh, Ratu. Baru sampe nih gua.” Balasku.

“Yaudahdeh. Terima kasih buat tadi pagi, ya, bang. Maaf kalau ngerepotin.” Balas Ratu.

“Enggak, Ratu. Malah gua yang seneng karena bisa deket sama lu.” Eh. Bukan yang ini yang mau aku kirim.

“Iya, sama-sama. Gua duluan, ya? Gua ngantuk.” Yang ini baru benar.


Quote:Memikirkanmu sepanjang hari disela-sela aktifitasku saja sudah cukup dari besarnya keinginanku untuk memiliki mu.
Diubah oleh hasanudin39
0 0
0
Mencapai Kata Selesai
08-03-2022 00:32

EGO

Quote:“Diajak nongkrong sama bang Bilal.” Kata Bagus, ia sedang berada di kamarku.

“Lu aja sana sama si Bintang.” Kataku.

Malam ini malam Minggu, malamnya anak muda sepertiku biasanya akan berkeliaran, bermain, berkumpul bersama teman-teman, ataupun pergi dengan pacarnya. Tetapi walaupun ini malam Minggu, aku hanya ingin menghabiskan waktu akhir pekanku dengan istirahat di kamar saja.

“Bilal nanyain lo nih.” Kata Bagus, yang sedang berbalas-balasan dengan bang Bilal.
“Bilang aje, ‘Arstennye udeh tidur’ Gituh”
“Gua lagi males nongkrong.” Kataku.
Bagus hanya menghela nafas kecil mendengar responku tentang ajakan dari bang Bilal.
“Yaudeh, gua nyamperin bang Bilal.” Kata Bagus.

Bagus berdiri, lalu meninggalkan kamarku.
Kini, aku sendirian di kamarku dengan banyaknya pertanyaan di dalam otakku yang tidak henti-hentinya muncul.

“Gua pantes gak sih kalau ngedeketin Ratu?”
“Bunbun ngebolehin gak, ya, kalau gua pacaran secara terang-terangan.
“Gua juga mau ngebawa Ratu ke rumah. Cuma pengen ngasih tau Bunbun aja, kalau anaknya punya alasan kalau sewaktu-waktu bunbun ngeliat anaknya senyum-senyum sendirian.”

Bergumam sendirian, memikirkan sesuatu yang mungkin tidak pernah bisa aku rasakan. Begini rasanya mencintai seseorang dalam diam karena tak punya keberanian.

“Anak bunbun gak main ke luar?” Tanya bunbun yang tiba-tiba masuk ke kamarku.
“Enggak, bun. Aa lagi malas ke luar.” Kataku.
“Kirain kamu ikut si Bagus.” Tanya Bunbun, lalu ia duduk di depanku.
“Enggak, lagi males, bun.” Jawabku.
“Bunbun tau kalau anak bunbun lagi gelisah, seneng, sedih. Aa udah gede, seharusnya tau apa yang harus dilakuin.” Kata bunbun.

Padahal aku tidak pernah bercerita tentang aktifitasku akhir-akhir kepada bunbun. Tetapi mengapa beliau seolah tau apa yang aku rasakan saat ini? Apakah hati seorang ibu kepada anaknya sedekat itu? Sampai-sampai ia tau apa yang ada di dalam perasaanku yang sebenarnya.

“Bunbun seneng kalau anaknya betah di rumah. Apa lagi jauh dari hal negatif. Tapi bunbun juga seneng kalau anak bunbun seneng. Kalau aa kayak gini, bunbun jadi mikir aneh-aneh. Apa jangan-jangan anak bunbun ada masalah? Dimusuhin temen-temennya?” Kata bunbun.

Aku masih canggung untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Meskipun kepada ibuku sendiri. Itu karena aku merasa masih bisa menyelesaikannya sendirian. Seyakin itu diriku.

Bunbun keluar kamar. Meninggalkan diriku yang masih bingung ingin melakukan apa. Cuaca di luar sana kelihatannya sedang tidak ramah. Hembusan semilir angin dingin mulai bisa aku rasakan. Sebentar lagi hujan.

Aku meraih handphoneku yang berada di sampingku. Membuka aplikasi chating, siapa tau ada hal yang penting. Dan ternyata memang ada beberapa pesan dari temanku. Ada juga dari grup-grup yang dibikin oleh teman-temanku. Sedangkan dengan Ratu, chatan kami terhenti sejak kemarin. Aku kehabisan akal untuk memperpanjang obrolan. Tetapi sebenarnya aku punya banyak bahan, tapi melihat Ratu yang meresponnya dengan sangat biasa, aku jadi tidak seantusias itu.

“Di mana bang ganteng?” Chat dari bang Bilal.

“Di rumah, bang.” Balasku.

“Sini. Mau gue yang jemput?” Balas bang Bilal tak lama kemudian.

Aduh, kenapa nih? Tumben banget sampe mau ngejemput.

“Haha, masa dijemput. Nanti gua ke sonoh.” Balasku.

“Sekalian, gua tunggu di warung depan.” Balas bang Bilal.

Karena merasa tidak enak hati padanya, aku memutuskan untuk mengumpulkan niat, lalu pergi menemuinya.

Mengenakan jaket sekolahku yang berwarna hitam, aku izin kepada bunbun untuk pergi main di luar. Sekalian minta uang buat jajan, hehehe.

“Anak-anak di mana?” Tanyaku, ketika aku sudah menemui bang Bilal.

“Ada.” Kata bang Bilal.

Lalu kami berdua menuju tempat teman-temanku berkumpul.

II

“Aku mau jadi perawat, yang.” Kata Putri.
Aku sedang berada di rumahnya Putri yang tepat berada didekat sekolah musuhku, sungguh. Dengan melepas atribut sekolahku, dan agak sedikit deg—degan. Akhirnya kami bisa berduaan di sini karena orang tuanya Putri sedang ada urusan di luar. Jadi ia memintaku untuk menemaninya sebentar.

“Bagus. Aku dukung.” Kataku.

“Tapi pasti biayanya mahal. Aku gamau ngerepotin papah sama mamah.” Kata Putri.

“Kamu cerita dulu sama mamah papah. Bilang aja ke mereka tentang keingan kamu. Orang tua mana yang enggak ngedukung anaknya?” Kataku.

Putri tiduran di pangkuanku. Ia sangat manja sekali hari ini. Berbeda dari biasanya.

“Pintunya buka aja.” Kataku.

“Kamu takut, ya? Haha” Kata Putri. Ia malah meledekku.

“Nanti mamahmu pulang, kita aman. Hahaha.” Kataku.

Putri tidak menjawab. Ia memejamkan matanya, dan terkadang sesekali melihatku. Akupun ikut terbawa suasana. Aku mengelus rambutnya yang lembut, mencubit pipinya yang menggemaskan, menjahilinya dengan memencet hidungnya. Indahnya masih remaja.

-

“Ini dia nih.” Sambutan pertama dari Bintang, ketika aku baru saja datang di tempat biasa para pelajar, alumni, veteran yang berada di area dekat dengan rumahku berkumpul. Tempatnya luas, seperti lapangan tapi ini bukan tempat bermain. Cocok untuk kami yang kalau berkumpul pasti ramai.

“Apaansih lu. Kayak gapernah ngeliat gua aja. Haha.” Kataku.

Tidak hanya ada kedua temanku di sini. Ada beberapa adik kelasku juga yang datang. Ada juga para alumni, dan veteran dari sekolahku yang hadir walaupun hanya hitungan jari.

“Sehat, bang jago?” Kata salah satu veteran yang memakai jaket kulit.

“Sehat.” Kataku.

Aku duduk di sebelah adik kelasku yang sangat sopan ketika bertemu denganku. Tetapi walaupun begituh, adik kelasku ini termasuk orang yang nekat ketika di jalan. Dia pernah menolong si Bintang yang jatuh ketika sekolahku bentrok dengan sekolahan musuh kami. Padahal saat itu kami sedang dalam kondisi kalah, tetapi adik kelasku berputar arah ketika mengetahui si Bintang terjatuh. Nama adik kelasku itu adalah Randy.

“Rokok, bang?” Randy menawarkan rokok yang berada di tengah-tengah lingkarang yang kami buat.
“Gampang.” Kataku.

Suara genjrengan gitar mulai berbunyi. Seakan mengiringi malam yang ternyata tidak jadi hujan. Dan beberapa minuman dikeluarkan dari kantong plastik yang bang Bilal beli tadi sebelum menjemputku.

“Bang Arsten di mana?” Ada pesan baru dari Ratu.

“Lagi di luar, kenapa?” Balasku.

Randy beranjak bangun, ternyata karena Bintang ingin duduk di sebelahku. Padahal aku ingin mendekati Randy dengan niat supaya kelak ketika aku lulus, aku tak perlu memikirkan adik-adik kelasku lagi. Walau kebiasaan ini sepatutnya tidak diteruskan, tapi tradisi tidak mungkin dihilangkan.

“Ngapain sih lu?” Tanyaku ke Bintang.
“Gituh banget loh sama gue. Haha.” Kata Bintang sambil tertawa.

Gelas yang diputar dari ujung kiri, berhenti dibagianku. Bintang sudah meneguknya duluan sedari tadi, karena ialah yang memulainya, setelah itu ia baru duduk di sebelahku.

“Arsten, gue udeh.” Kata Bintang.
“Gua udah tadi di jalan sama bang Bilal.” Kataku.
“Belagak gila.” Kata Bintang.
“Batu. Tanya noh Bilal.” Kataku, padahal sedang berbohong.

Bintang langsung terdiam, ia tak berani menanyakan hal itu kepada bang Bilal.
Gelas yang berisi minuman beralkohol itu akhirnya berputar kembali, dan aku tidak meneguknya. Hehe.

“Oi Arsten. Katanye kemarin kalah sama sebelah?” Tanya salah satu alumni.

Kemarin hari memang aku mendengar kabar kalau adik kelasku dan beberapa anak kelas tiga yang sebentar lagi akan lulus bentrok dengan sekolah musuh yang berada di daerah Selatan. Dan kemarin aku tidak ikut. Aku langsung pulang ke rumah menggunakan motor.

“Iya, bang. Kalah.” Jawabku.
“Anak sini, siapa aja kemarin yang ikut? Coba sini ke depan.” Perintah bang Bilal.

Aku berdiri dan maju ke depan. Ada beberapa adik kelasku juga yang menyusul maju. Sepertinya kami yang maju ke depan akan diberi hukuman.

“Lah, lo gak ikut?” Tanya alumniku.

“Gua langsung pulang kemarin. Gua abis praktek, mangkanya langsung cabut.” Kataku.

Aktifitasku di sekolah memang sedang sibuk-sibuknya. Seperti praktek, jam pelajaran tambahan, belum lagi ulangan-ulangan yang akan datang. Aku merasa sudah bukan waktunya lagi untuk berada di dalam bus kota, mencari sekolah yang bisa diajak olahraga.

“Duduk sono.” Kata bang Bilal, ia menepuk pundakku.

Aku kembali diselamatkan oleh bang Bilal.

“Push up lo 100 kali. Terus abis itu lompat jongkok 100 kali.” Perintah alumniku kepada beberapa adik kelasku.

“Ini gue lakuin karena beritanye nyebar. Ape lagi kalahnye sama sekolah yang gapernah menang kalo ketemu gue.” Kata alumniku, disela-sela adik kelasku sedang kena hukuman.

“Besok kalo si Bagus, Arsten, Bintang, anak kelas 12 udeh pada lulus. Lu semua mau ngandelin siape lagi?” Kata bang Bilal.

Semua teman-temanku, adik kelasku terdiam. Mereka seperti tak punya kekuatan untuk melawan. Mulutnya bisu, padahal mampu berbicara. Takut.

“Jangan disamain sama angkatan lu, bang. Beda angkatan beda cerita.” Kataku, menginterupsi.
“Terus lo diem aje harga diri lo diinjek-injek? Masih untung lo diselamatin sama Bilal terus.” Kata salah satu alumniku yang lain.

“Gue balikin besok harga diri lu pada.” Kataku.

Bintang menepuk bahuku. Ia menyuruhku sabar dan tetap dalam kepala dingin. Bintang orang yang paling mengerti soal emosiku.
Saat aku mengeluarkan kata-kata seperti itu, suasana yang tadinya ramai oleh tawa, genjrengan gitar, langsung sunyi seketika. Aku tau, tak sepantasnya aku berbicara seperti itu kepada orang yang lebih tua dariku. Apa lagi dia abang kelasku dulu. Tapi aku tak merasa bersalah atas interupsiku. Aku tak mau lagi mementingkan ego, kalau itu membahayakan diri seseorang atau mungkin lebih parah nantinya.

“Sorry, bang. Gua gak bermaksud begituh.” Kataku, berdiri, lalu menyalaminya.

“Kalem, kalem.” Kata bang Bilal, yang ikut menepuk pundakku.

“Iye, Ten. Sorry-sorry.” Kata alumniku itu.

Susana yang tadinya kaku, kini mulai mencair. Bahkan karena emosi tadi, rokok yang diambilkan Randy belum sempat aku bakar. Tapi gelas kembali berputar, walaupun aku menolak untuk meminumnya. Aku ingin ketika pulang, diriku masih dalam keadaan sadar.

“Mau minta anterin makan, hehe.” Pesan dari Ratu yang baru kubuka.

“Makan di mana?” Balasku.

“Gak jadi deh, takut ganggu lo.” Balas Ratu.

“Enggak. Nih gua mau pulang. Tunggu depan warung pak Mumu aja.” Balasku.

Karena kesempatan tidak boleh disia-siakan. Aku izin pamit duluan kepada yang lain yang masih ingin menongkrong. Ada sedikit rasa tidak enak ketika meninggalkan mereka semua. Tetapi mungkin ini salah satu jalan agar aku bisa lebih dekat dengan Ratu. Terlebih, dia yang mengajakku duluan. Itu hal yang jarang.

-

Dari kejauhan aku sudah bisa melihat Ratu yang sedang berdiri di depan warkopnya pak Mumu. Aku mempercepat laju motorku. Dan untungnya tadi aku menolak untuk minum. Mungkin situasinya akan berbeda, walaupun belum tentu Ratu menyadarinya.

“Mau ke mana, kak?” Tanyaku, berhenti tepat di depan Ratu.

“Makan pecel ayam, bang. Mamah gue nitip juga. Nanti makan bareng di rumah gue aja.” Kata Ratu.
Hah? Makan bersama mamahnya?

“Emangnya gapapa?” Tanyaku.

“Kenapa emang? Temen-temen gue biasanya makan bareng di rumah gue.” Kata Ratu.

Tanpa banyak tanya lagi, Ratu naik ke motorku. Kami akan membeli pecel ayam yang berada tidak jauh dari sekitaran tempat tinggal kami.


III


“Arsten sekolahnya di mana?” Tanya papahnya Putri.

Ini pertama kalinya aku bertemu dengan kedua orang tuanya Putri. Dan ini pertama kalinya juga aku berhadapan dengan orang tua pacarku. Agak sedikit mengkikuk—kan. Tapi aku tak mau kelihatan tegang.

“Di SMK yang di pusat itu, pah.” Aku turut memanggilnya papah. Supaya lebih gampang akrab, hehe.

“Ohh itu. Yang sering tawuran, ya?” Tanya mamahnya Putri.

“Enggak kok, enggak ikut tawuran kalau Arsten, mah.” Kataku.

“Eleh.” Kata Putri.

“Apasih kamu, wle.” Ledekku.

Hari pertama ketemu, sudah berbohong. Duh.

“Mau makan dulu? Put, ini anak orang gak dibeliin makan?” Kata papahnya Putri.

“Enggak, pah. Gausah. Sebentar lagi pulang.” Kataku.

“Kamu mau makan?” Tanya Putri.

“Kan tadi kita udah makan serabi di depan.” Kataku.

Memang sebelum kami sampai di rumahnya Putri, aku ingin sekali memakan serabi. Soalnya sudah lama banget aku tidak memakannya lagi. Dulu, waktu aku kecil. Setiap kali bunbun pulang dari pasar, aku selalu meminta untuk dibelikan serabi yang berada di dekat pasar. Enak, mantap.

“Tang, telepon gue dong. Cepet.” Aku mengirim pesan ke Bintang secara diam-diam. Tujuannya supaya punya alasan untuk bisa cepat pulang.
Bukannya aku tak ingin berlama-lama. Tapi aku merasa belum pantas berada di sini. Duduk bersama keluarganya Putri memang momen yang mengesankan. Tetapi lagi-lagi, aku merasa tidak enak hati.

“Ajarin Putri ngaji, Arsten.” Kata papahnya Putri.

“Saya juga masih belajar, pah. Hehehe.” Kataku.

“Sama-sama belajar.” Kata papahnya Putri.
Handphoneku berbunyi. Ini pasti dari Bintang. Aku meminta izin untuk mengangkatnya sebentar.

“Kenapa lo?” Kata Bintang.
“Iya, nanti gua pulang.” Jawabku.
“Apaansih, Ten?” Kata Bintang.
“Iya, ini pulang, bun.” Jawabku.
“Gila nih anak.” Kata Bintang.

Sambungan telepon aku putus, dan kembali ikut bergabung bersama kedua orang tuanya Putri.

“Mah, pah. Arsten pulang, ya? Bunbun udah telepon.” Kataku. Padahal yang menelponku si Bintang dan ia tampak kebingungan tadi meladeniku.

“Makan dulu.” Kata mamahnya Putri.

“Gak usah repot-repot, mah. Takut bunbun ngomel, hehe.” Kataku.

“Tau mamah, orang mau pulang ditahan-tahan.” Kata Putri, sambil tertawa kecil.

Setelah obrolan singkat itu, akhirnya aku diperbolehkan pulang dan mohon maaf sekali menolak tawaran makan bersama mereka.

“Kamu cowok pertama yang berani nemuin mamah sama papah. Hati-hati di jalan, sayang.” Pesan dari Putri yang baru kubuka ketika baru saja ingin pergi ke kamar mandi.

IV

“Ini seriusan, gua makan di dalem?” Tanyaku, ketika kami berdua berada di depan pintu rumahnya Ratu.

“Gapapa, bang.” Kata Ratu.

Dengan sedikit mengumpulkan keberanian, aku masuk ke dalam rumahnya Ratu.

“Assalamualaikum.”
“Ante” Tegurku, lalu mencium tangannya.

Dan inilah respon pertama mamahnya Ratu.

“Eh. Ini mah anaknya kak Santi.” Kata mamahnya Ratu. Ia mengenali bunbun.

Tidak ada yang aku herankan sebenarnya. Wajar-wajar saja bila mamahnya Ratu kenal dengan bunbun. Toh kita satu daerah yang sama.

“Iya, ante. Hehe” Kataku, lalu duduk di ruang keluargnya Ratu.

Rumahnya Ratu ini terlihat sama seperti rumahku. Ada ruang keluarga, bertingkat, dan nyaman sekali untuk dikunjungi. Sepertinya aku akan betah berlama-lama, kalau ada Ratunya hehe.

“Makan dulu, ya. Tante kira si Ratu beli makan sama temen-temennya.” Kata mamahnya Ratu.

“Iya, ante. Tadi Ratu ngehubungin saya, katanya mau beli makan.” Kataku.

“Kak Santi gimana kabarnya? Eh, kamu manggilnya apa? Mamah? Mamah sehat?” Tanya mamahnya Ratu.

“Bunbun sehat, alhamdulillah.” Kataku.

Ratu datang membawa peralatan makan dan minumannya. Tiga piring, tiga sendok. Papahnya
Ratu belum pulang, sedang ada pekerjaan katanya.

“Salamin buat kak Santi, ya.” Kata mamahnya Ratu.

“Iya, nanti Arsten salamin buat bunbun dari ante.” Jawabku.

Sehabis makan, aku nongkrong di luar rumahnya Ratu. Karena sepertinya tidak sopan kalau merokok di dalam. Ratu juga mengerti hal itu, sampai-sampai ia membuatkan aku secangkir kopi.

“Lu ngopi?” Tanyaku.

“Ngopi dong.” Kata Ratu.

“Gak ngerokok kan tapi?” Tanyaku.

“Enggaklah gila.” Balas Ratu.
Syukurlah.

“Gua gak suka liat cewek ngerokok. Kecuali dia udah ngerokok duluan sebelum kenal sama gua.” Kataku.

“Berarti kalau gue udeh ngerokok sebelum kenal lo, boleh?” Tanya Ratu.

“Gak lah. Lu ngerokoknye sonoan dikit.” Kataku.
Untuk hal ini.

Pandanganku tentang cewek-cewek yang merokok, aku agak sedikit susah untuk menjelaskannya. Tetapi aku tak suka bila ada cewek yang merokok di dekatku. Merusak pandangan saja.

“Lo bisa maen gitar gak, bang?” Tanya Ratu.

“Gabisa.” Kataku.

“Lagu Sheila On7 keren-keren, ya?” Kata Ratu.

“Datanglah sayang, dan biarkan ku berbaring.” Aku memulai lirik pertama dari lagu S07 yang berjudul Buat Aku Tersenyum.

“Di pelukanmu, walaupun untuk sejenak.” Ratu ikut menyambung.

“Bila ku lelah tetaplah di sini, jangan biarkan aku sendiri.” Aku langsung menuju reffnya.

“Bila ku marah tetaplah bersandar, jangan kau pergi untuk menghindar.” Lalu Ratu kembali mengikut sertakan suaranya yang enak untuk kudengar.
Diubah oleh hasanudin39
0 0
0
Mencapai Kata Selesai
08-03-2022 08:09
Happy reading, gan!
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
ada-kisah-di-tanah-papua
Stories from the Heart
jagalah-lisanmu
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia