Story
Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
Informasi! Kaskus Update Fitur Baru! Intip di Sini!
32
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61e34c7f6619645ae3443139/test-pack-asisten-rumah-tanggaku
Apa jadinya jika suami yang kita duga setia ternyata bermain di belakang? Lalu apa jadinya kalau ART yang kita duga lugu ternyata duri dalam rumah tangga? Simak kisah selengkapnya.  *** DI BALIK TIRAI ITU _______________ Aku baru pulang dinas dari luar kota, hendak mencari kunci gudang kala menemukan benda itu di laci kamar Inem. Sebuah benda pipih dengan dua garis samar pada sisinya. Seketika ja
Lapor Hansip
16-01-2022 05:36

Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU


Apa jadinya jika suami yang kita duga setia ternyata bermain di belakang? Lalu apa jadinya kalau ART yang kita duga lugu ternyata duri dalam rumah tangga? Simak kisah selengkapnya. 

***

DI BALIK TIRAI ITU
_______________

Aku baru pulang dinas dari luar kota, hendak mencari kunci gudang kala menemukan benda itu di laci kamar Inem. Sebuah benda pipih dengan dua garis samar pada sisinya. Seketika jantungku berdentam hebat. Ini Test pack, alat test kehamilan. Untuk apa Inem menggunakan alat ini? Bukankah dia belum menikah?

Gegas kututup laci meja dan keluar dari kamar tatkala terdengar suara anak-anak berlarian masuk ke rumah sehabis bermain di taman perumahan dengan Inem.

“Mama sudah pulang, hore ....” teriak si sulung Sefina, mereka akhirnya berhamburan memelukku yang sudah dua hari tak bertemu

“Mbak Inem, aku mau minum,” pinta si kecil. Inem melangkah mengambil gelas dan menuangkan air.

Dari jarak beberapa meter, kuperhatikan perutnya, sedikit lebih buncit dari biasanya dan tubuhnya terlihat lebih berisi. Astaghfirullah apakah Inem hamil?

Kulihat anak-anak pergi bermain dengan Inem kembali di ruang bermain. Aku merebahkan diri ke sofa dengan pikiran tak menentu. berbagai pertanyaan muncul dalam benak. Benarkah Inem sudah berbuat sejauh itu? Dengan siapa?

“Ma, sudah pulang?” Mas Hangga membuyarkan pikiranku. Ia kemudian mengecup keningku dan mengelus rambutku sesaat.

“Sudah, Mas, aku pulang dua jam lebih cepat dari seharusnya,” jawabku. Ternyata lamunan membuatku tak sadar kalau Mas Hangga sudah pulang kerja dan memasukkan mobil ke garasi.

“Asik, Papa juga sudah pulang!” Si kecil Hanifa berteriak senang.

“Ayuk, Pa, kita main sama-sama,” mereka menarik papanya menuju ruang bermain. Aku masih mengamati dari sudut sofa. Mereka tertawa-tawa girang menyaksikan kekocakan yang dibuat Papanya, termasuk Inem.

Esoknya, sebelum aku berangkat ke kantor, saat Inem sedang menyuapi si kecil di halaman depan. Gegas aku melesak masuk ke kamar Inem kembali. Kubuka laci itu, tespack masih teronggok di sana.

Kali ini kuamati lebih saksama. Garis merah di sebelah garis yang tegas itu terlihat samar. Aku masih belum bisa memastikan, positif atau negatif, sebab dua garis merah yang mengindikasikan positif pun jika sudah lewat beberapa jam warnanya akan memudar.

Kugigit-gigit bibir ini sembari mencoba menerka-nerka siapa lelaki yang dekat dengannya belakangan ini dan menidurinya hingga dia takut hamil dan membeli alat tes kehamilan ini?

Apakah dengan satpam komplek yang biasanya muncul saat Inem bermain di taman bersama dua anakku? Kelihatannya memang ada hubungan di antara mereka. Tapi apa benar sejauh ini? Apa mungkin kedekatan mereka luput dari perhatianku karena terlalu sibuk dengan pekerjaan?

“Assalamualaikum.”

Yu Siti, yang biasa cuci seterika dan bebersih rumah dan bekerja pulang pergi tiap hari itu mengucapkan salam.

Aku menjawab salam, lalu menarik tangannya menuju kamarku. Berbisik meminta tolong padanya untuk mengawasi aktivitas Inem selama aku tidak di rumah. Barangkali ada hal-hal yang mencurigakan. Beruntung Yu Siti ini orangnya amanah.

Setelah dua hari, kutanyakan padanya untuk mengorek informasi. Menurutnya tak ada yang mencurigakan, Inem bekerja seperti biasa bermain dengan anak-anak.

“Apa ada hal lain lagi, Yu? Barangkali ada cowok yang datang nemuin Inem gitu?”

“Oh, iya baru inget. Ada, Bu. Supir sebelah, Anton, kemarin nitip martabak, katanya untuk Inem, saya juga dibaginya.”

Oke, Anton, satpam komplek, siapa lagi yang harus masuk listku sebagai salah satu terduga.

“Coba inget-inget lagi, Yu, ada lagi nggak?”

“Nggak ada, Bu. Paling-paling yang datang ya, Bapak. Sehari bisa dua kali, barangkali nengok anak-anak dirumah, Bu,” jawab Yu Siti datar.

Mas Hangga datang sehari dua kali ke rumah? Kenapa harus sampai dua kali, bukankah makan siang dia sudah tersedia di kantor.

“Jadi Bapak sering pulang ke rumah sehari sampai dua kali, Yu?”

“Iya lumayan sering sih, Bu.”

“Ngapain aja di rumah biasanya, Yu?” Aku iseng ingin dengar jawaban Yu Siti.

“ Saya kruang jelas, Bu. Karena saya kan nyetrika atau nyuci, tidak lihat ke ruangan depan.”

Aku tak bertanya lebih jauh, khawatir Yu Siti menganggap aku curiga ada apa-apa antara Inem dan Mas Hangga. Tapi jujur aku tak tahu kalau Mas Hangga ternyata sering pulang ke rumah di jam-jam kerjanya. Dia tidak pernah cerita.

Malam ini, jam dua dini hari, aku terbangun dari tidur, tersentak dikagetkan oleh suara entah apa, yang jelas membuat mataku yang sedang terlelap tiba-tiba terbuka.

Kuraba ke samping kasur, tak ada tubuh Mas Hangga disitu. Lekas aku bangkit dan menyalakan lampu tidur, gelap menjadi temaram, kulihat anak-anak sedang terlelap di kasur sebelah.

“Mas?” kupanggil Mas Hangga, barangkali ia sedang berada di kamar mandi. Tapi tak ada jawaban.

Aku berjalan keluar kamar. Tak ada orang di ruang depan maupun ruang keluarga. kutuju ruang makan, ternyata Mas Hangga sedang duduk merokok di meja.

“Mas, bukannya tadi sudah tidur?”

“Iya, kebangun. Jadi ingin merokok.”

Kulihat rambut-rambut tipis di dekat pelipisnya agak basah oleh keringat.

“Gerah, ya, Mas?”

“Iya, makanya Mas ngadem, sejuk di sini.”

Kalau memang ruangan ini terasa sejuk, kenapa ia berkeringat?

Kulirik pintu kamar Inem. Sedikit terbuka dan lampu kamarnya menyala, kenapa menyala? bukankah ia sudah tidur?

“Aku balik ke kamar, ya, Mas.”

Mas Hangga tak menjawab, ia menyesap rokoknya dalam-dalam lalu mengepulkannya.

Kutinggalkan Mas Hangga sendirian. Entah kenapa Mas Hangga barusan begitu dingin. Apakah sebenarnya ia sedang menutupi perasaannya yang tegang? Apakah yang kucurigakan benar? Jangan-jangan mereka habis berbuat? Ah, aku benci dengan perasaanku sekarang.

Di kamar aku tak bisa tidur, meski mencoba memejamkan mata.

Beberapa menit kemudian Mas Hangga masuk kamar dan merebahkan diri disampingku.

Pukul setengah lima aku membuka mata yang sama sekali tak tertidur.

Aku bangkit, melangkah menuju dapur, hendak membuatkan susu dalam dot untuk si kecil.

Kulihat lampu kamar mandi belakang menyala dengan daun pintu yang tertutup. Terdengar gemericik air dinyalakan, dan siraman air perlahan seperti orang mandi. Ya, meski pelan tapi aku bisa memastikan Inem sedang mandi.

Benar saja, setelah sepuluh menit kunanti, ia keluar dengan handuk ditangan dan rambut basah. Matanya menyasar ke segenap ruangan. Kupastikan ia tak melihatku yang duduk di sudut ruangan dalam keadaan gelap.

Setelah ia masuk kamar, gegas aku melangkah ke kamar.

Tumben Inem mandi subuh-subuh sekali, tak seperti biasanya? Ada apa ini? Perasaanku menjadi gaduh.

Aku jadi teringat pesan Mama, “Karin, saran Mama sich, Setiap Mbak yang kerja di rumah ini, dia pulang pergi saja. Jangan sekali-kali mereka tinggal di sini, serumah sama kalian.”

“Kenapa, Ma?”

“Pertama mereka kan bukan mahrom suamimu, jadi janganlah tinggal serumah. Yang kedua, namanya tinggal serumah, khawatir aja ada setan lewat, mereka kesambet, jadi khilaf,” ucap Mama. Mama menyampaikan ini dengan serius.

Kini baru aku sadar apa maksud Mama. Meski kecurigaanku belum tentu benar. Sampai detik ini aku masih belum benar-benar yakin, Mas Hangga akan berani berbuat sejauh itu.

Sore ini Inem sedang menemani anak-anak naik odong-odong di ujung gang. Aku kembali masuk ke kamar Inem, meggeledah isi kamar. Sekali lagi, hal mengejutkan aku temui. Di dalam gumpalan sebuah baju, Inem menyimpan pil KB! ya Allah. Jadi dia berusaha mencegah kehamilan dengan rutin minum pil KB. Aku sangsi jika pil KB ini bukan punya Inem.

Seandainya aku mencoba berpikir baik, anggap milik Yani, ART sebelah yang menitipkannya ke Inem. Hal-hal seperti ini sangat rahasia dan tentu malu bila diketahui orang lain. Yang menyimpan tentu yang menggunakannnya. Jadi bisa kupastikan ini milik Inem, nggak mungkin ada orang lain yang menitip.

Jadi jelas, Inem yang kukira lugu itu, ternyata sudah melakukan hubungan terlarang sejauh itu. bahkan kini ia tengah ketakutan hamil. Pil KB jadi solusinya saat ini.

Akan kuselidiki terus sampai ketemu, siapa laki-laki yang tega-teganya merusak Inem. Alangkah menjijikkan jika itu dilakukan di rumah ini. Aku harus menangkap basah mereka. Dugaanku masih kuat tertuju kepada Anton dan Tikno si satpam komplek itu. Bisa saja malam-malam dia mengendap masuk lewat pintu belakang atau lewat jendela kamar Inem.

Di sudut meja ada sebuah buku. Kubuka lembar demi lembarnya. Hanya catatan biasa, tentang kerinduannya pada adik dan Ibunya di kampung. Hingga pada halaman keberapa ia menulis, “Ya Allah, aku sudah melakukan dosa, dosa juga karena menggangu sebuah ikatan rumah tangga. Tapi aku mencintainya.”

Aku mengigit bibir, mencoba memahami pesan yang tersirat dari kata-kata itu. Apakah Inem mencintai Mas …. Ah, lagi-lagi kutepis pikiran ngawurku sendiri, mungkin aku terlalu parno. Sebelum jelas-jelas terbukti aku tidak boleh sembarang suudzon. Siapa pun bisa jadi tersangkanya. Tapi aku tidak akan segan-segan bertindak tegas jika jelas-jelas terbukti.

*

Aku baru pulang dinas dua hari dari Bandung, saat kulihat sore itu Anton sedang duduk diteras bersama Inem. Jangan-jangan mereka sedang merencanakan untuk indehoy berdua lagi. Aku ada ide, sebaiknya di rumah ini di pasang CCTV, agar kecurigaan ini jadi terang benderang.

Kutuju dapur, untuk membuka minuman dingin di kulkas, disebelah kulkas ada satu plastik hitam terisi berukuran besar yang sudah terikat kencang. Itu sampah, akan Inem buang mungkin sebentar lagi. Tapi entah kenapa ada dorongan dalam hati untuk membukanya.

Akhirnya kugunting ikatannya, kucolek satu-satu isi sampah itu. Mataku terbelalak, sebuah kondom yang sudah terikat berisi cairan putih menggelinding jatuh tepat di kakiku.

Astaghfirullah. Kondom siapa ini? Dadaku tiba-tiba bergemuruh. Ada marah tapi tak tahu harus diarahkan ke siapa? Mas Hangga, Anton atau bisa saja supirku sendiri yang sesekali bercengkrama dengan Inem. Saat ini siapa saja bisa jadi tertuduh. Kurang ajar, mereka benar-benar berani berzina di rumahku.

Gegas aku mengambil gawai dan memotret benda itu dengan berbagai posisi dan jarak. Kemudian menyimpan kondom habis pakai itu dalam tissu. Akan kukumpulkan banyak bukti agar pelakunya tidak akan bisa mengelak lagi saat semuanya semakin jelas. Kuredam emosi yang sudah menggelegak dalam jiwa. Aku masuk kamar beristighfar berkali-kali.

Adzan maghrib berkumandang. Aku hendak menyalakan lampu teras ketika kulihat dua bayangan manusia ada di balik mobil berdiri teramat dekat. aku mundur perlahan bersembunyi di balik tirai jendela kaca.

Itu Mas Hangga dan Inem! Iya, itu mereka. Aku masih bisa mengenali wajah mereka meski temaram dari balik kaca mobil. Inem nampak tersenyum ke arah Mas Hangga, lalu mengecup pipi Mas Hangga.

Jantungku seketika berdebar hebat menyaksikan pemandangan itu. Jadi test pack, pil KB dan kondom itu ....

Kini pikiranku mengarah ke satu orang pelaku. Lihat, Mas, aku akan buat perhitungan denganmu!

***




profile-picture
profile-picture
profile-picture
celomodern887 dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Masuk untuk memberikan balasan
stories-from-the-heart
Stories from the Heart
18.2K Anggota • 28.1K Threads
Halaman 1 dari 2
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
16-01-2022 05:56
Bab 1

DI SEBUAH HOTEL



Itu Mas Hangga dan Inem! Iya, itu mereka. Aku masih bisa mengenali wajah mereka meski temaram dari balik kaca mobil. Inem nampak tersenyum ke arah Mas Hangga, lalu mengecup pipi Mas Hangga.

Jantungku seketika berdebar hebat menyaksikan pemandangan itu. Jadi test pack, pil KB dan kondom itu ....

Kini pikiranku mengarah ke satu orang pelaku. Mas Hangga!

Aku mundur perlahan, berjingkat menuju kamar. Tubuhku bergetar hebat. Napasku tersengal. air mata mulai berjatuhan tak terkendali. Kubekap mulutku agar tak mengeluarkan suara dan segera pergi ke kamar mandi lalu menguncinya.

Jadi benar dugaanku. Di antara mereka ada hubungan terlarang yang tak pernah kusadari sebelumnya. Sangat keterlaluan apa yang mereka lakukan di rumah ini, bahkan ketika aku sedang berada di rumah.

Tak bisa kubayangkan apa yang sudah terjadi ketika aku sedang tidak ada di rumah. Mungkin sudah puluhan kondom yang dibuang tanpa aku pernah menyadarinya.

Baik Karin, cukup menangisnya. Berpura-pura tak tahu adalah jalan terbaik yang harus kupilih. setidaknya saat ini. Terlalu dini jika aku melabrak mereka berdua sekarang. Aku tak bodoh, lebih baik kukumpulkan semua bukti agar ketika aku siap membuka semuanya, mereka tak akan bisa mengelak lagi.

Percuma rasanya jika saat ini aku mencegah hubungan mereka. Toh mereka berdua sudah terlanjur berbuat sejauh itu, tak ada gunanya. Yang terpenting saat ini aku hanya perlu menguatkan diriku. Berpikir bahwa semuanya baik-baik saja dan tetap bisa tersenyum ceria seolah tak ada apa-apa di depan anak-anakku, juga mereka.

***

Senin siang, kumulai aksiku. kukenakan masker agar tak dikenali. Mengintai rumah dari kejauhan menanti Mas Hangga datang. Ya, setelah hari minggu libur, feelingku dia akan datang ke rumah siang ini. Benar, tak perlu menunggu lama, mobil Mas Hangga terparkir di depan rumah.

Lima menit aku segera menyelinap masuk ke halaman rumah, lalu bersembunyi di balik jendela kamarku sendiri.

“Adek, kakak, nonton kartun dulu, ya. Mbak Inem mau bersihin kamar mandi,” ucapnya.

Lalu terdengar pintu di tutup. Pintu kamarku.

“Gimana?”

“Aman, Mas. Anak-anak kalo lagi nonton kartun anteng,” jawab Inem.

Apa? Mas? Jadi dia bahkan sudah memanggil Mas Hangga dengan sebutan ‘Mas.’ Kubayangkan mungkin sudah puluhan bahkan ratusan kali kebersamaan mereka dalam buai cinta terlarang, sehingga sudah tanpa canggung-canggung lagi Inem menyebut suamiku dengan panggilan, 'Mas.' Naudzubillah.

“Ayok sayang, kita nggak punya waktu banyak.”

‘Sayang?’ itu suara Mas Hangga. Ternyata semudah itu ia menyebut sayang kepada wanita lain. Kupikir selama ini cuma aku satu-satunya wanita yang mendapat sebutan spesial itu. Dibohongi habis-habisan ternyata aku.

Terdengar Inem tertawa-tawa kecil, mungkin sedang digoda oleh suamiku.

Hanya perlu menunggu tiga menit sampai kemudian aku sudah mendengar suara desahan demi desahan yang menjijikkan itu. Suara Inem terdengar begitu menggoda. Sudah lihai dan tahu gimana membuat lelaki terbuai rupanya gadis belia itu.

Darahku mendidih, emosiku menggelegak menyaksikan sendiri permainan ranjang suami yang awalnya begitu kucintai dengan seorang wanita kampung tak tahu diri.

Tujuh tahun menikah, aku baru mengenali siapa orang yang kunikahi. Dan Inem, ART yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri itu, ternyata dia lebih memilih menjadi perusak rumah tanggaku.

Tapi tenang saja, aku tidak menyia-nyiakan apa yang sudah kusaksikan! Semua sudah terekam dalam kamera yang kupasang di dalam kamarku!

***

Sepekan berlalu. Hari minggu, aku dan Mas Hangga biasanya mengajak anak-anak jalan ke Mall. Tapi kali ini aku tak berniat mengajak mereka jalan-jalan.

“Ma, keliatannya Mama capek, kalau gitu biar Papa sama anak-anak yang pergi, kasihan mereka bosan di rumah,” Mas Hangga berinisiatif.

“Hem.” Aku hanya bergumam.

“Oh, tapi Papa ajak Inem, Ma. Nanti di arena bermain takut anak-anak jatuh kalau nggak ada yang jaga. Soalnya Papa di sana sambil meeting sama rekan bisnis, nggak bisa fokus jagain anak-anak,” ucapnya.

Deg! perasaanku tiba-tiba tak enak. Kalau dulu aku tak akan curiga dengan perkataan Mas Hangga seperti ini. Sekarang aku tak bisa mengabaikan semudah itu, Mas.

Baiklah Kutelepon salah seorang rekan yang bisa kupercaya setelah mobil melaju meninggalkan rumah.

“Tolong mata-matai mereka, Za. Aku percaya kamu,” ucapku.

Suara diseberang sana paham dan menyanggupi permintaanku.

Di rumah sendiri, kumanfaatkan untuk meminta petugas CCTV datang. Beruntung mereka bersedia gerak cepat, dipastikan hanya dalam hitungan kurang dari satu jam. CCTC terpasang sempurna di titik-titik strategis. Aku rela membayar mahal memasang CCTV yang sangat kecil dan tersembunyi sehingga tak akan pernah ada yang curiga bahwa di rumah ini terpasang beberapa kamera CCTV.

Lima belas menit mobil di dalam mall, aku dapat kiriman video berdurasi sepuluh detik, mobil Mas Hangga pergi meninggalkan mall.

[Mereka pergi berdua. Anak-anak tidak ikut, Bu. Anak-anak ada di arena bermain tapi dijaga seseorang. Dia seorang wanita berusia empat puluhan. Mungkin sudah terbiasa dibayar oleh Pak Hangga. Kelihatannya anak-anak sudah kenal dekat, mereka enjoy dan tidak merasa kehilangan Inem dan Ayahnya.]

[Lalu kamu di mana sekarang, Za?]

[Sedang terus mengikuti mereka, Bu.]

[Pastikan kamu jaga jarak dan jangan sampai terlihat mencurigakan] pesanku.

[Tenang Bu, aku pakai motor, temanku yang nyetir, kami pakai masker, jaga jarak, Mereka tidak akan curiga.] balas Reza.

[Good, Thanks, Za.]

Aku menanti detik-detik selanjutnya dengan hati yang teriris, menyadari mereka sudah begitu dekat dan sejauh ini membohongiku. Mas Hangga yang kukenal, lelaki tampan, mapan, humoris, penuh kasih sayang dan romantis. aku tak menyadari satu hal, bahwa dia juga liar.

Selama ini aku meyakinkan diri bahwa Mas Hangga hanya lelaki yang pintar menyenangkan lawan bicaranya. Sehingga chat-chat yang kubaca atau dalam pembicaraan-pembicaraan yang kudengar dengan lawan jenisnya, ia sering memuji sekadar untuk menjadi sosok yang menyenangkan. Tapi aku tak pernah melihat ia berbuat lebih. Atau akunya saja yang bodoh!

Baru dengan Inem aku menyadari bahwa ia ternyata sudah sejauh ini. Seleramu rendah, Mas! Seorang Pembantu kamu makan juga!

Membayangkan ia pernah bermain dengan wanita lain, lalu juga meminta jatah kepadaku, membuatku benar-benar mual!

Reza mengirim sebuah video lagi, kulihat mobil silver bernopol jelas milik Mas Hangga memasuki pekarangan sebuah hotel melati! Ya, Rabb, jadi mereka pergi ke hotel! Dadaku bergemuruh hebat, hingga gawai yang kupegang ikut bergetar lalu terjatuh.

Untuk apa mereka masuk hotel itu kalau bukan untuk memuaskan nafsu binatang mereka. Ya binatang, karena mereka layaknya hewan yang begitu mudahnya menumpahkan birahi kepada yang bukan pasangan halal.

Satu video masuk lagi. Kali ini menampilkan Inem yang bergelayut manja di bahu Mas Hangga yang berjalan menuju lobi hotel. Mereka berdua memakai masker, jelas Mas Hangga tidak ingin gegabah diketahui orang yang bisa saja mengenalinya. Tapi kalian nggak akan bisa bersembunyi dariku. Benar-benar tak tahu malu!

Inem, dua tahun setengah dia di rumah ini, selama itu pula aku masih menganggapnya gadis lugu. Meski dia terlihat sedikit kemayu dan manja, aku maklum karena kupikir dia masih muda, seperti anak remaja pada umumnya yang energik.

Kerjanya menjaga anak-anak sebenarnya bagus. sehingga aku tak segan membelikannya pakaian atau apa pun ketika aku sedang berbelanja untuk anak-anak. Terlalu sayangnya aku sama dia, sampai rumah orang tuanya di kampung jadi sedikit lebih layak karena direnovasi menggunakan uangku. Ternyata begini balasannya. Ribuan rutukan keluar dari mulutku.

‘Nggak apa-apa kamu merutuk dalam diam, bersabar sedikit, jangan buru-buru dan gegabah, semua akan terbongkar sangat indah, nanti,’ bisik hatiku.

Video selanjutnya sudah jelas, mereka keluar hotel dengan sedikit terburu, lalu kembali menuju Mall di mana anak-anak bermain. Dan pulang ke rumah berakting seperti tak pernah terjadi apa-apa dengan mereka. luar biasa, kuacungi empat jempol kepada mereka.

“Mamaa ….” Anak-anakku berlarian keluar mobil memelukku.

“Gimana tadi mainnya? seneng, Nak?” kukecup pipi si kecil.

“Seneng, Ma, aku belum bosen, masih ingin main lagi.”

“Wah, seru berarti, ya mainnya, diajakin Mbak Inem naik arena apa aja?”

Inem yang sedang mengeluarkan perbekalan dari dalam mobil, terkesiap, gerakannya terhenti.

“Sama Mbak Asih, Ma. Yang ajakin main namanya Mbak Asih,” jawab Sefina.

Inem langsung berpaling ke arahku, aku pura-pura tak melihat reaksinya.

“Ouwh, Mbak Asih, siapa, tu, Nak?” tanyaku lagi.

“Ee, itu, Bu, teman saya. Ee, pas ketemu di sana tadi. Jadi dia nemenin saya jaga Kak Fina dan Dek Nifa.” Inem langsung menyambar jawaban.

“Oh, gitu.” Aku tetap menjawab seperti tak mengerti apa-apa. Mas Hangga yang sedang menutup pintu mobil sekilas melirikku.

“Iya, Ma, tadi Mbak Inem ‘kan katanya mau ke toilet, jadi kita main lamaaa banget sama Mbak Asih,” ujar si Sulung. Kena kamu, Nem!

Inem tercekat, nampak berpikir. Pupil mata itu berayun ke kiri.

“He he he, maaf, Kak Fina, Mbak tadi sakit perut, jadi lama, dech, karena pup dulu.” Ia lantas berekspresi lucu.

Sontak membuat dua buah hatiku tertawa terkekeh-kekeh. Kedua anak ini memang suka sekali kalau dihibur dengan gaya-gaya badut.

Hmm, oke Inem, kali ini kamu selamat. Karena tak mungkin aku mengorek durasi pada anak kecil. Tapi semua bukti perselingkuhanmu dengan Mas Hangga sudah ada dalam genggamanku.

Aku lantas masuk ke mobil, dari belakang Inem tiba-tiba berlari menyerobotku. Mengambil sebuah plastik kecil dengan terburu-buru. Isi dari plastik itu akhirnya berjatuhan ke lantai. Sabun, odol, dan sikat gigi berwarna putih terbungkus!

Aku ingat betul nama hotel yang tertera pada bungkus itu, sama persis seperti yang terbaca dalam video yang Reza kirim tadi.

“Dapat dari mana itu, Nem?” tanyaku dengan mata memicing.

Inem terkesiap, wajahnya langsung terlihat pias!




profile-picture
profile-picture
profile-picture
fsm2909 dan 4 lainnya memberi reputasi
4 1
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
16-01-2022 05:57
Bab 2

BUKTI

Aku lantas masuk ke dalam mobil, dari belakang Inem tiba-tiba berlari menyerobotku. Mengambil sebuah plastik kecil dengan terburu-buru. Isi dari plastik itu akhirnya berjatuhan ke lantai. Sabun, odol, dan sikat gigi berwarna putih terbungkus!

Aku ingat betul nama hotel yang tertera pada bungkus itu, sama persis seperti yang terbaca dalam video yang Reza kirim tadi.

“Dapat dari mana itu, Nem?” tanyaku dengan mata memicing.

Inem terkesiap, dari wajahnya langsung terlihat pias!

‘Kalau belum bisa bersandiwara dengan sempurna, jangan coba-coba mengganggu rumah tanggaku, Nem,’ bisik hatiku. Tentu aku tak akan melontarkan kata-kata itu sekarang. Belum waktunya!

“Ee, anu, Bu. Sa-saya dapet dari nemu,” ucap gadis berhidung bangir itu, gugup.

“Nemu?” Aku menatap matanya tajam.

“I-iya, Bu.” Ia sedikit membuang muka merasa terintimidasi. Nem-Inem, harusnya kamu tenang saja, bukankah anggapanmu aku tak tahu affairmu.

“Nemu di mana?”

“Eee….” Inem berpikir lama.

“Kamu kenapa, Nem?” tanyaku datar tapi dengan tatapan curiga.

“Apa, Nem?” Mas Hangga yang sudah di dalam rumah datang menghampiri.

“Oh, itu, itu punya temanku, Ma. Ketinggalan di mobil, kali,” ucapnya santai.

“Eh, oh, iya, maksud Inem, nemu di mobil. Inem pikir ‘kan nggak dipake Bapak. Jadi Inem mau pake buat di kamar mandi Inem.” jawabnya. Ia melepas napas terlihat lega.

“Waduh, kayak kurang sabun aja kamu, pake barang ginian. Stock sabun, odol di lemari juga ‘kan banyak, tinggal ambil saja lho, Nem.” Aku tertawa kecil, berusaha menghilangkan ketegangan hatinya yang tadi sengaja kubuat.

“He he he, iya, Bu.”

Selamat Nem, kali ini kamu lolos. Akting dan kecerdasan Mas Hangga memang tak bisa diragukan lagi.

“Yasudah, yuk masuk,” ajak Mas Hangga. Ia merangkul bahuku mesra, membimbing masuk. Tapi angin telah memberitahuku dari tubuh Mas Hangga tercium bau sabun seperti seseorang yang habis mandi.

Aku memasukkan plastik berisi sabun hotel dan sebagainya tadi ke dalam kotak brankas. Lalu menguncinya.

***

pukul sembilan malam. Aku sedang menonton film pada saluran tivi kabel di ruang tamu. Anak-anak sudah tertidur tiga puluh menit yang lalu. Mas Hangga datang menghampiri. Ia mencium kepalaku dari belakang, lalu ikut menonton disebelahku.

“Belum tidur, Mas?”

“Sebentar lagi, nunggu kamu masuk kamar, Dek.”

“Ya tidur duluan aja, aku masih mau ngerampungin ini film.”

Mas Hangga justru membelai pipiku hingga turun ke tengkuk leher.

Aku tahu ia sedang memberi isyarat. Tapi aku sedang tak ingin meladeninya. Membayangkan saat ia berdua bersama Inem saja membuatku menjadi begitu membenci Mas Hangga.

“Anak-anak kita sekarang makin lucu-lucu, ya, Dek.”

“Ya, tentu, dan semakin dewasa. Akan selalu melihat perbuatan yang dilakukan kedua orang tuanya, juga akan meniru entah itu baik atau buruk.”

“Iya, makanya Mas nggak mau kehilangan momen saat mereka masih kecil begini. Mas selalu ajak mereka main ke manapun kalau sempat. Tapi masih ada yang kurang bagi Mas, Dek.”

“Hemm, apa?”

“Mas ingin kita punya anak laki-laki.”

“Mas, bukannya kita sudah sepakat, anak dua cukup.”

“Ya, tapi setelah Mas pikir-pikir, nambah satu lagi, bisalah. Sekarang penghasilan Mas juga kan sudah lumayan gede. Kita kan juga belum punya anak laki-laki.”

Apa maksud Mas Hangga tiba-tiba kepikiran ingin punya anak lagi? Apakah maksudnya ia ingin aku pelan-pelan mau menerima kehamilan Inem? Nggak, Mas. Nggak Akan!

“Belum tentu lahir anak ketiga itu laki-laki, Mas. Kalau perempuan lagi, apa Mas mau? Aku sudah malas hamil. Pekerjaanku juga semakin menyita waktu sekarang, ditambah akhir tahun ini aku akan diangkat jadi kepala cabang. Pastinyamakin sibuk.”

Mas Hangga menghela napas cepat, mungkin kesal.

“Kayaknya aku akan ambil dua orang pengasuh anak berpengalaman dari yayasan aja kedepan, mas. Kan penghasilan kita sudah cukup. Mungkin Inem mau kupulangkan, biar anak-anak kita makin pinter kalau yang jaga adalah orang yang selain bisa mengasuh, merawat, juga mendidik.”

Mas Hangga sedikit bereaksi. Tapi aku yakin dia kaget. Hanya saja tak ingin aku curiga.

“Mas rasa Inem cukup pintar ngajarin anak kita, Dek. kasihan kalau dia nggak salah apa-apa dipulangkan. Kalau mau, cari satu lagi aja yang seperti Inem, tapi yang pulang pergi. Nah kalau gini Mas setuju.”

“Kenapa, Mas? Mas keberatan Inem aku pulangkan?”

Aku menatapnya tajam. Ia belingsatan tapi mencoba tenang.

“Ya bukan gitu, Dek, Inem kan sudah lama di sini, sudah cocok dengan anak-anak. Kasihan anak-anak kalau harus pisah dengan Inem.”

“Kamu yakin banget kalau Inem cocok sama anak-anak? anak-anak aja ditelantarkan gitu di arena bermain kemarin. Dia berani-beraninya menitipkan anakku sama orang lain yang nggak aku kenal, dan itu lama, lo. Kamu nggak cek, Mas? ke mana saja dia? Atau jangan-jangan pergi sama kamu!?”

Aku menatap tajam mata Mas Hangga sekali lagi. Kutatap lama dan kucecar dengan pertanyaan seperti itu, Mas Hangga gugup, ia lekas membuang muka ke arah telvisi di hadapan kami.

“Kan sudah Mas bilang, Masnya meeting sama rekan bisnis. Ya, mungkin benar, Dek. Dia ke toilet, namanya juga orang sakit perut ‘kan?”

“Kamu yakin dia pergi ke toilet, nggak ke tempat lain? Kamu yakin, Mas?!” Pertanyaanku sudah bukan lagi menekannya, lebih ke mengintimidasinya.

“Kamu ini kenapa, sich, Dek? Kok marah-marah!”

Mas Hangga mulai emosi.

“Ya, jelas marah. Kata kamu Inem nggak salah. Jelas-jelas salah, nggak tanggung jawab sama tugasnya gitu! Udahlah aku akan pulangkan dia, Mas!”

Klotak! dari arah belakang ada suara benda jatuh. Sontak aku menyibak tirai kaca, Inem sudah berdiri di belakang kami dari jarak dua meter. Lalu dia masuk kamar dan menutupnya dengan keras.

“Tuh, Dek, Inem marah.”

“Maksud kamu? Kalo Inem marah kenapa? Kamu kok kayak takut, Mas? Aneh kamu!”

Aku terus mencoba memancing reaksi lelaki di sampingku ini.

Aku tahu dia sudah tidak fokus, pertama dia emosi tidak jadi dapat jatah dariku malam ini, kedua dia kaget melihat gelagat Inem marah, karena pastinya dia juga tidak akan dapat jatah dari Inem. Sementara aku, bukan hanya saat ini tidak akan memberikan jatah itu padanya, mungkin selamanya sampai aku berhasil menunjukkan semua bukti, lalu menggugat cerai!

Ya, untuk apa meladeni lelaki pezina yang hukum Islamnya jelas, dirajam seratus kali hingga ia mati. Aku ingin lihat bagaimana nanti reaksinya, karena aku tahu persis dia lelaki yang hampir tiap malam meminta.

Aku sudah hilang selera menonton, kumatikan televisi. Lalu masuk kamar, tidur memeluk ana k-anak.

Pukul satu malam. Aku terbangun. Lagi terdengar suara-suara yang membuatku membuka mata tiba-tiba. Entah belakangan ini mungkin tidurku tak nyenyak, sehingga mudah sekali terbangun. Aku bangkit berjalan ke bathroom untuk buang air kecil. Kulirik kasur sebelahku. Mas Hangga tidak ada. Tidak ada atau memang sedari tadi belum masuk kamar.

Aku keluar kamar. Sampai di depan pintu samar-samar aku mendengar suara tangisan. Siapa tengah malam begini ada wanita menangis? Kutajamkan pendengaran, sepertinya dari arah ruang makan. Apakah Inem menangis?

Lekas aku berjalan ke arah suara tangisan. Benar, suara itu datang dari kamar Inem!

Inem sedang menangis? Ada suara seorang laki-laki di kamar itu, terdengar seperti sedang menenangkannya. Deg! Jantungku berdenyut kuat. Aku tak berharap itu suara Mas Hangga.

Kulangkahkan kaki perlahan. Di depan pintu kamar Inem kulihat pintunya terbuka sedikit, dan lampu masih menyala. kutajamkan pendengaran kembali.

“Kamu yang sabar dulu, Nem. Hentikan tangisanmu, Mas kan juga sedang berusaha. Berusaha kan nggak langsung sekali jadi, butuh waktu. Jangan sampai kamu nangis, nanti ada yang bangun.”

Itu suara Mas Hangga! Ia terus menasehati dan menenangkan Inem di antara tangisannya.

“Pokoknya aku nggak mau kalau harus pulang kampung, Mas! Lekas akui aku di depan istrimu dan orang tuamu, kalau aku juga istrimu, aku nggak mau kayak gini terus selamanya!”

Apa?!! Inem minta pengakuan sebagai istri?? Jadi Inem sudah dinikahi Mas Hangga?!!


profile-picture
profile-picture
profile-picture
freddybatak dan 6 lainnya memberi reputasi
6 1
5
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
16-01-2022 05:57
Bab 3

DI RUANGAN ITU



Kamu yang sabar dulu, Nem. Hentikan tangisanmu, Mas kan juga sedang berusaha. Berusaha kan nggak langsung sekali jadi, butuh waktu. Jangan sampai kamu nangis, nanti ada yang bangun.”

Itu suara Mas Hangga! Ia terus menasehati dan menenangkan Inem di antara tangisannya.

“Pokoknya aku nggak mau kalau harus pulang kampung, Mas! Lekas akui aku di depan istrimu dan orang tuamu, kalau aku juga istrimu, aku nggak mau kayak gini terus selamanya, aku berhak bahagia denganmu tanpa sembunyi-sembunyi!”

Apa?!! Inem minta pengakuan sebagai istri?? Jadi Inem sudah dinikahi Mas Hangga?!!

Kali ini otakku benar-benar mendidih. Seperti sebuah magma yang siap diledakkan kuat-kuat ke angkasa. aku bahkan tak mampu lagi mencerna kata demi kata yang sedang mereka bicarakan saat ini. Yang kupahami, mereka berdua ternyata tidak hanya menjalin sebuah affair. Tapi sudah menikah!

Aku berbalik, berlari menuju kamar tamu paling ujung. Lalu menguncinya dan meluapkan semua emosi agar bisa meredamnya lebih cepat. Aku benar-benar dibohongi oleh suamiku sendiri. Entah sudah sejak kapan hubungan itu dimulai dan sejak kapan mereka menikah. Aku benar-benar tak tahu.

Canggih sekali akting mereka, sampai aku mengetahui keberadaan test pack itu dan baru menyadari ada yang tak beres di rumah ini. Kupikir kecurigaanku kepada Inem tak akan mengantarkanku pada sebuah fakta sejauh ini. Gila, suamiku sendiri berselingkuh di dalam rumahnya di mana ada anak dan istrinya berada. Seleranya begitu rendah, hanya berani berselingkuh dengan seorang pembantu cantik.

Kuusap air mataku dengan kasar. Tak perlu ada kesedihan berlarut untuk sebuah pengkhianatan dari seorang pecundang!

Aku pergi ke kamar, mengambil gawaiku dan menekan tombol pengambilan video, kurekam wajahku sendiri yang sudah sembab dengan air mata.

“Pukul setengah dua malam. Jika video ini sudah sampai kepada siapa pun yang melihat, berarti aku sudah rela membagikan kisah hidupku kepada siapa saja untuk dijadikan pelajaran. Jangan pernah percaya kepada suami kita 100% sesetia apa pun dia, sesayang apa pun pada istri dan anak-anak."

"Sisakan ketidakpercayaan padanya beberapa persen untuk sebuah kewaspadaan. Dan jangan pernah membiarkan suami tinggal berdua dengan seseorang yang bukan mahramnya, terutama seorang ART muda yang bisa saja dia tak tahu diri. Kali ini, kuajak kalian melihat sebuah fakta rumah tanggaku.”

Lalu kubiarkan kamera tetap merekam aksiku berjalan menuju kamar Inem, masih terdengar sama, Inem masih menangis dan sedang terus dibujuk oleh lelaki bejat itu. Bedanya, kali ini pintu sudah tertutup rapat.

Hanya saja, aku masih mampu mendengar suara mereka ditengah kesunyian malam ini. Suara Inem pasti akan jelas terdengar oleh rekaman video gawaiku yang kebetulan kupilih mampu merekam suara sebising apa pun menjadi terdengar jelas dan jernih.

“Sudah, sayang, jangan nangis lagi, ya. Nanti cantiknya hilang,” ujar lelaki itu lembut.

Kuarahkan kamera ke atas pintu, semoga saja kamera ini masih mampu merekam adegan di dalamnya. Aku membekap mulutku, menahan isak yang sesekali masih muncul.

“Tapi Mas janji, ya. Janji adalah hutang, Mas. Nggak kasihan, tah sama Inem yang lagi isi anakmu, ini.” Nada suara Inem benar-benar berbeda. Pantas saja suamiku tergoda, benar-benar ular.

“Iya, sayang, Mas, janji.” Jawaban yang memuakkan dari lelaki biadab yang sayangnya dia adalah Papa dari anak-anakku.

terdengar suara lampu dimatikan. “Satu, dua, tiga, empat, lima ….” Aku terus menghitung dalam hati tanpa henti, hanya agar aku mampu bertahan dan siap mendengarkan yang terjadi selanjutnya.

Ya, Rabb, desahan wanita itu lagi.

Aku membekap mulutku kencang-kencang kembali. Terlalu menahan tangis sesekali suaraku keluar. Kesakitan hatiku sungguh luar biasa, saat ini.

Hingga pada hitungan ke sembilan puluh, aku tak sanggup lagi mendengar desahan yang makin bersahut-sahutan itu. Memilih untuk berbalik ke kamar bersama anak-anak. Aku menangis memeluk kedua buah hatiku.

Aku tahu harusnya tak ada tangisan lagi, tak ada kesedihan lagi. Tapi ternyata aku tetaplah wanita yang cengeng. Ya, aku cengeng tapi aku pastikan aku kuat, aku tak rapuh. Aku masih mampu menjalani esok hari dengan baik-baik saja.

Kulihat rekaman pada gawaiku itu. Satu bukti tak terbantahkan ada dalam genggamanku. Ternyata rekaman gawai ini melalui lubang angin pintu kamar Inem berhasil menunjukkan jelas-jelas perselingkuhan kedua manusia keji itu. Terlihat adegan Mas Hangga sedang mengusap air mata Inem, membelainya juga adegan lain yang sangat tak pantas dilakukan antara lelaki beristri dengan wanita lain.

Ya, bagiku hubungan mereka tetaplah suatu hubungan yang haram. Karena bisa kupastikan Inem menikah dengan Mas Hangga, bukan diwalikan oleh Ayah kandungnya. Sebab tak akan mungkin ayahnya merestui. Aku sangat kenal dengan Pak Jono, beliau sampai sujud-sujud ketika rumah Inem yang awalnya berdinding geribik jadi berdinding semen 50%nya.

Jadi jelas Pernikahan Mas Hangga dan Inem adalah pernikahan tak sah, dan itu tak ada bedanya dengan hubungan yang haram! Ya Allah Mas, seterbuai itu kamu sama seorang wanita muda!

***

Pagi yang mendung. langit tampak gelap. Aku duduk di meja makan sudah dengan pakaian kerja yang rapi. Mas Hangga duduk di hadapanku dengan wajah yang lesu. Mungkin dia lelah. Aku mencoba menyikapinya sebiasa mungkin.

“Wajahmu sembab, Dek?” Akhirnya ia menyapaku.

Aku diam saja.

“Dek, kok, diam?”

Tiga detik, baru kujawab.

“Ehm, yaa … Mungkin karena tadi aku mencoba memakai soft lens, mungkin karena sudah jarang pakai, jadi air mata netes terus, alhasil sembab.”

Aku menjawab dengan tak menatapnya.

Ia diam, kuharap lelaki tampan berwajah oval dihadapanku ini masih memercayai ucapanku.

ia masih diam, aku meliriknya, ia menatapku.

“Mas ambilin obat tetes, ya. Biar agak enakan.”

“Nggak usah, Mas. Nanti juga sembuh.”

“Mas khawatir iritasi, lagian obatnya dingin, jadi sembabnya jgua bisa hilang.”

Ia bangkit, membuka lemari obat.

Mas Hangga memegang kepalaku perlahan, lalu membungkuk.

“Mendongak dan tahan, ya, Dek.”

Cairan itu menetes dua kali di setiap mata.

Prank! Suara piring terjatuh. Aku tersentak.

Lalu melongok berbarengan ke arah Inem yang juga menatap aku dan Mas Hangga.

Kupastikan dia cemburu, melihat adeganku dan Mas Hangga barusan.

“Kenapa, Nem?” tanya Mas Hangga.

Inem hanya diam, lalu melengos dengan tatapan kesal.

“Kamu kenapa, sich, Nem? Kok aneh pagi ini?” tanyaku. Dia yang memecahkan piring tapi wajahnya musam seperti emosi.

“Kamu sakit, Nem? Sudah kalau sakit istirahat aja di kamar. Nggak usah cuci piring. Kan itu kerjaan Yu Siti.” Lelaki ini lembut berkata. Aku yakin, lelaki dihadapanku ini tak enak hati melihat “istri mudanya” itu cemberut karena cemburu.

Ia masih diam.

“Sini, Nem, kamu sarapan aja, dulu. Sini duduk di sini sama-sama,” ujarku. Aku memang tak membeda-bedakannya sejak dulu. Sarapan pagi bersama Inem juga anak-anak adalah hal biasa. Sayangnya pagi ini anak-anak belum bangun, mungkin sebentar lagi, bangun lalu pergi sekolah.

Sebenci apa pun aku pada Inem, Ia masih di dalam rumah ini, menjaga anak-anakku. Aku mengkhawatirkan keselamatan Sefina dan Hanifa seandainya aku gegabah dengan Inem. Tunggu saja, akan ada saatnya memuaskan pembalasanku padanya, nanti.

Tiba-tiba Inem berlari ke kamar mandi, lalu mengeluarkan erangan seperti ingin muntah.

“Hoeek-hoeekk-hoeekk.”

Mas Hangga menatapku. Dan aku menatapnya. Aku ingin tahu apa reaksi Mas Hangga melihat Inem seperti itu.

Di dalam kamar mandi Inem masih terus berusaha mengeluarkan isi perutnya. Sesekali terhenti, sesekali berjekpot/berhoek lagi.

“Mas …. tolong aku. Aku mual. Tolong aku, Mas,” ucap Inem.

Sontak aku kaget, dan Mas Hangga langsung terperanjat kuat. Matanya membulat menatapku sembari menelan ludah.

Aku menyedakepkan kedua tanganku menatapnya tajam. Mati kamu, Mas!


profile-picture
profile-picture
profile-picture
rakabrock dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
16-01-2022 05:58
Bab 4

PANGGIL AKU BUNDA (KATA INEM)



Di dalam kamar mandi Inem masih terus berusaha mengeluarkan isi perutnya. Sesekali terhenti, sesekali berjekpot/berhoek lagi.

“Mas …. tolong aku. Aku mual. Tolong aku, Mas,” ucap Inem.

Sontak aku kaget, dan Mas Hangga langsung terperanjat kuat. Matanya membulat menatapku sembari menelan ludah.

Aku menyedakepkan kedua tanganku menatapnya tajam.

“Kamu kenapa, Mas? Kok kaget begitu?”

“Ya, ya, ya Mas kaget, dia manggil siapa, sich?”

Mas Hangga membentangkan kedua telapak tangannya dengan ekspresi tak paham.

“Dah, Dek. Mas berangkat ke kantor, dulu.”

Secepat kilat ia meninggalkan meja makan menuju garasi. Terdengar mobil dipacu dengan sangat kencang meninggalkan rumah.

Aku menghela napas.

Ternyata kamu belum siap memperkenalkan Inem kepadaku, Mas. Itulah kenapa kamu hanya berani menjalin hubungan dengan seorang ART. Keinginan kamu punya istri lebih dari satu besar, libido kamu juga besar, sayang nyali kamu ciut, Mas. Meski kini kamu sudah punya bisnis yang menghasilkan pundi-pundi uang besar, tapi aku juga bukan wanita sembarangan yang kamu nikahi. Lalu seenaknya rumah tangga ini kamu bikin main-main demi memuaskan kebutuhanmu yang tak berkesudahan bila dituruti itu. Kamu memang romantis, kamu baik, tapi kamu juga begitu mudah mengumbar cinta dan kasih sayang kepada yang lain!

Aku melanjutkan sarapanku yang tersisa sedikit lagi.

Inem melangkah masuk kamar.

Setelah selesai sarapan.

Aku bangkit dan menyambar kayu putih di sudut meja makan.

Melihatku masuk Inem menaruh gawainya di meja dengan terbalik, kelihatannya habis membaca pesan seseorang. Siapa lagi.

Aku mengambil beberapa tetes minyak kayu putih dan mengusapkannya ke leher, dan punggung Inem yang sebenarnya dari awal sudah kuanggap adikku sendiri. Ya, adik yang kemudian kurang ajar karena berhasil membuat Mas Hangga jatuh dalam pelukannya.

“Kamu masuk angin ini, Nem. Nanti minta kerokin Yu Siti atau Yani. Makanya jangan bergadang terlalu malam. Kamu semalam ngapain aja nggak tidur?”

Tubuh Inem menegang mendengar pertanyaanku. Sayangnya wajah manis itu menunduk sehingga aku tak bisa melihat bagaimana reaksi matanya.

“Ee, enggak bergadang, kok, Bu.”

“Yakin nggak bergadang? Semalam Ibu sampai beberapa kali kebangun denger kami kayak lagi ngobrol sama orang.”

Tubuh Inem lebih menegang lagi, terlihat urat lehernya yang seperti senar harpa yang terbetot.

“Oh, cuma sebentar kok, Bu. Telpon Mamak di kampung.”

“Malam-malam, Neng telepon orang tua? Jam satuan, loch.”

“Ibu beneran denger Inem teleponan?”

“Ya, kenapa?”

Ia diam.

“Jadi pacar kamu siapa? Anton atau Tikno?”

Aku mengalihkan ketegangannya.

Ia yang sedari tadi seperti menahan napas, kemudian melepaskannya perlahan.

“Kok diem? Apa dua-duanya pacar kamu?”

“Ih, Ibu.”

“Loch, apa Bapak juga pacar kamu?”

Aku menatapnya tajam. Ia menunduk.

“Terus kenapa tadi kamu manggil, Mas, Mas, ke Bapak? Manggil Bapak?”

“Enggak, kok, Bu. Tadi saya hanya lagi kalut aja muntah-muntah.Jadi manggil … Ee, manggil ... Mas Anton.”

Ia tampak ragu menyebut nama itu.

“Anton siapa kamu? Pacar?”

Ia mengangguk ragu.

“Oh, jadi jelas, ya, pacar kamu Anton. Hati-hati, kalau pacaran. jangan terlalu jauh, apalagi sampai mau diajak begituan. Nanti hamil baru berabe, kalau dia nggak mau bertanggung jawab!”

“Nggak, kok, Bu.”

“Ya soalnya Ibu kaget, kamu mual muntah kok manggil Mas, Mas. Ibu sampe heran, Ibu kria kamu manggil Bapak.”



Inem menggeleng perlahan. Wajahnya berubah murung.

Aku heran, kenapa dia tadi bisa senekat itu menyebut kata ‘Mas,’ yang jelas ditujukan untuk Mas Hangga. Dan anehnya sekarang dia mengkerut seperti itu. Aku pikir dia akan berani jujur padaku. Ternyata nggak sama sekali. Apa karena dia sudah diancam oleh Mas Hangga melalui pesan.

“Nem, kalau kamu pergi jaga anak-anak di Mall, jangan sampai ditinggalin lagi kaya kemarin, ya. Di titipin Mbak siapa itu kemarin namanya? Asih, ya?”

“Oh, iya, Bu, Asih. Ya, Inem cuma sekali aja, kok, Bu.”

“Ya, Oke, Ibu berangkat kerja dulu, besok Ibu mau nambah satu orang lagi yang kerja di sini buat jagain Sefina dan Hanifa, biar kamu nggak terlalu capek dan kesepian. Nanti tidur berdua di kamar ini sama kamu, ya?”

“Eh, Ibu, kenapa ditambah? Saya sendiri juga nggak apa-apa, kok. Masih bisa urusin si Kakak dan Adek.”

“Kenapa, Nem, kok kamu nggak setuju?”

“Eh, ya, terserah, Ibu, sich. Inem cuma saran.” Rambut hitam panjang sebahunya sedikit terhentak.

Aku tak melanjutkan pembicaraan. Jelas ia tak mau ada orang lain di rumah ini yang membuat kedekatannya dengan “suami tercintanya’ itu nantinya akan terganggu.

“Ya sudah, Ibu mau berangkat kerja dulu, Nem. Uang jajan di tempat biasa. Bonus buat kamu Ibu tambah, ambil aja, ya.”

Lalu aku pergi meninggalkannya.

Baru sampai pintu garasi, aku mendengar ia mengumpat keras. “Sialan!”

Ck ck ck ck, jadi ternyata Inem tak selugu yang aku kira.

***

Pukul sepuluh, aku mengendap kembali di pekarangan rumahku.

Ingin tahu apa yang Inem lakukan jam segini.

Kuintip jendela kamarku yang tadi pagi memang sengaja kusibak lebar.

Inem sedang duduk bersama anak-anak sembari memegang boneka masing-masing.



Mbak Inem, pegang boneka yang besar. Mbak jadi kakaknya kita berdua. Aku dan Nifa jadi adeknya.”

“Asyiik, aku dipanggilnya Angel aja, ya, aku suka nama Angel,” kata si kecil.

“Boleh-boleh,” balas si Kakak.

“Nah kalau Mbak, sebaiknya jangan dipanggil Mbak lagi. Kalian berdua panggil Mbak dengan sebutan ‘Bunda,’ ya .... Mulai sekarang biasakan panggil ‘Bunda,’” ucap Inem sambil menunjukkan telunjuknya ke arah anak-anakku.

“Emmh, gitu. Jadi mulai sekarang kami panggil Mbak dengan sebutan Bunda?”

“Iya, bukan cuma saat mainan. Saat udah selesai mainan, pun. Panggil Mbak ‘Bunda’ mulai sekarang. Cuma kalau sudah ada Mama, panggilnya Mbak dulu, oke anak-anak?”

“Kok gitu, Mbak? Kan kalau udah selesai boneka-boneka’annya berarti ya udahan. Kok masih dipanggil Bunda, kan Mbak Inem Mbak yang ngasuh kami.” Si Kakak yang sudah nalar mencoba mengkritisi.

“Hizzh, kalian, nich. Mbak ini sebentar lagi juga akan jadi Bunda kalian. Kalian mau kan punya adik kecil lagi? Mau kan di rumah ini ada bayi lucu di keranjang bayi, terus bisa dimain-mainin gemes?”

“Ihh, mau banget! Aku mau punya adek lagi. Beneran Mbak bisa kasih Fina dan Nifa adek bayi beneran bukan bo’ongan?”

“Ya beneran, nih lihat perut Mbak besar ‘kan? Nah itu tanda ada dedeknya. Ini adek kalian. Nanti lama-lama brojol jadi bayi, dech. Jadi adik kalian yang lucu di rumah ini.”

“Wowww, amazing aku mau aku mau, yes yes yes!” ujar Refina kegirangan.

Si kecil Hanifa melonjak ikut girang.

“Asik, adek bayiii, adek bayi, asiik,” ucapnya.

Keterlaluan Inem, dia sudah berani menjelaskan tentang kehamilannya pada anak-anakku. Jelas anak-anak suka, karena mereka memang ingin sekali aku hamil dan memberi mereka adek kecil lagi. Tapi apa yang Inem lakukan sudah diluar batas. Anak-anak tak sepatutnya tahu soal ini.

“Nah, jadi mulai sekarang, kalian panggil Mbak dengan sebutan Bunda, ya. Oke?”

“siap, Bunda!” ujar kedua anak-anakku serentak.

“Nah, sekali lagi, jadi kalian mulai sekarang harus panggil Mbak dengan sebutan apa?”

“Bundaaa!” balas anak-anakku kompak.

Lalu Inem meminta kedua buah hatiku untuk mengelus-elus perutnya yang kuperkirakan sudah menginjak kehamilan tiga bulan.

“Jadi beneran, ya Bunda, dalam perut Bunda ada dedeknya?”

tanya si kecil.

“Iya, ini adek kalian. Mbak ini Bundanya kalian sekarang,” ucapnya.

“Assalamualaikum,” ucapku.

“Eh, Mama datang.” Kedua anakku berhamburan memelukku.

Inem terlonjak. Seketika tubuhnya berbalik, menatapku nanar.

Aku balas menatapnya dengan picingan mata tajam. Kena kamu, Nem!


profile-picture
profile-picture
profile-picture
fsm2909 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
16-01-2022 05:58
Bab 5

PERAWAN PALSU



“Jadi beneran, ya Bunda, dalam perut Bunda ada dedeknya?”

tanya si kecil.

“Iya, ini adek kalian. Mbak ini Bundanya kalian sekarang,” ucapnya.

“Assalamualaikum,” ucapku.

“Eh, Mama datang.” Kedua anakku berhamburan memelukku.

Inem terlonjak. Seketika tubuhnya berbalik, menatapku nanar.

Aku balas menatapnya dengan picingan mata tajam. Kena kamu, Nem!

“Ibu, kaget saya, Bu. Ibu kok tumben pulang?” Ia bertanya sembari lekas berdiri menghormatiku.

“Kamu apa-apaan, Nem ngajarin anak-anak manggil kamu Bunda?”

“Eh, uhm, anu. Kita main boneka-bonekaan aja, Bu. Becanda aja. Ya ‘kan, Dek, Kak ….”

Suaranya bergetar.

“Yang bener? Tadi kamu ngomong serius, loch. Kamu beneran hamil?”

Ia diam.

“Iya, Ma. Bunda Inem tuh lagi ada dedeknya dalam perut. Sebentar lagi keluar, terus kita punya adek.” Si sulung menimpali.

“Nem? Kok kamu diem aja? Apa kamu beneran hamil? Hamil sama siapa? Jawab jujur, Nem.”

Masih tak menjawab. Tapi hanya dalam hitungan tiga detik dia sudah berlari ke kamarnya.

Aku menghentak napas. Cemen sekali. Berani merebut suamiku, tapi menatapku pun tak sanggup. Andai kamu tahu, Nem. Perih dan kecewaku luar biasa sama kamu. Andai kamu tahu hancur hatiku tak terbilang gimana rasanya. Orang lain yang tak kukenal saja, bila dia merebut suamiku, jelas menyakitkan. Dan ini kamu yang ngelakuin, Nem. Kamu yang bahkan orang yang paling banyak kuhadiahi belas kasih. Sangat keterlaluan!

“Mama sudah makan? Ayuk kita makan bersama!” ajak si sulung.

Aku melepas napas satu-satu, berusaha meredam emosiku.

“Baik, Ayuk sayang.”

Kali ini kusuapi anakku satu-satu makan hingga kenyang.

Setelahnya aku bercengkrama dengan mereka.

Kemudian balik ke kantor kembali.

Jujur, hatiku ketar ketir. Karena anak-anak masih bersama Inem. Itu jugalah yang membuatku masih sangat berhati-hati memperlakukan Inem. Karena keselamatan anak-anakku masih di tangannya.

Malamnya, aku mengurung diri di kamar tamu. Mas Hangga tahu jika aku ada di kamar depan, berarti ada kerjaan lembur. Kumanfaatkan momen itu untuk melihat CCTV rumah ini yang sudah dikoneksikan ke gawai canggihku.

Dari kamar ini aku bisa melihat kejadian tadi siang. Rupanya jam satu siang Mas Hangga datang kerumah ini. Beberapa menit setelah aku meninggalkan rumah.

Dalam rekaman CCTV itu, kulihat anak-anak sudah tidur siang. Mas Hangga menggendong mereka satu-satu dan menindahkannya ke kamarku.

Yu Siti hari ini kerja cuma setengah hari. Pas, rumah sepi, hanya ada dua orang dewasa itu yang bisa saja kembali memadu kasih di kamarku. Video menampilkan Inem yang tampak menangis di ruang keluarga. Tak rugi aku memasang CCTV canggih. Percakapan mereka sangat jelas terdengar.

“Mas, tahu, apa yang istrimu katakan tadi? Dia sudah curiga aku hamil, lalu dia tanya apakah aku hamil dan siapa yang hamilin aku. Aku bingung, Mas, bingung mau jawab apa. Sementara sama kamu aku dilarang buka suara. Mau sampai kapan, Mas? Hu hu hu hu.” Ular itu tergugu.

Mas Hangga hanya menghela napas. Duduk di sebelah Inem. Sesekali membelai rambut terurai itu.

Hhhh …. Menjijikkan.

“Kalau kamu nggak berani mengakuiku di depan istri dan keluargamu, Mas. Kita pisah aja. Akan aku gugurin kandungan ini. Aku kalo sudah nekat, Mas, ya, nekat.” Ular itu kembali tergugu, mengeluarkan nada-nada indah tangisan yang menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya.

“Kok gitu bicaranya, sich. Kamu sabar, Sayang. Mas ‘kan lagi berusaha. Sebenarnya Mas punya hadiah untuk kamu. Tapi sekarang belum waktunya Mas sampaikan.”

“Alah, Mas, Mah, cuma janji-janji terus. Capek Inem, Mas. Apa karena Inem hanya seorang pembantu tak berharga. Jadi Mas permainkan, Mas. Iya, Mas? Jawab, Mas? Aku ini boneka kamu, ya. Yang bisa kamu pake cuma untuk seneng-seneng aja, tapi nggak ada tanggung jawabnya setelah itu!” Suaranya kali ini sedikit menghentak, namun tetap meninggalkan nada yang manja.

Lagi, laki-laki itu membelai tubuh Inem yang memakai kaos tipis dan belahan dada yang rendah. Aku sama sekali belum pernah melihat ia memakai baju itu. Pantas saja, Mas Hangga tergoda. Rupanya memang sudah diniatkan kalau sedang tidak ada aku di rumah. Ia menggoda Mas Hangga dengan memakai baju-baju tipis, transparang dan ketat!

“Gini sayang. Mas itu sangat sayang sama kamu. Mas nggak mungkin sia-siakan kamu. Asal kamu nurut sama, Mas. Inem sabar dulu. Dalam waktu dekat apa yang Inem harapkan. akan jadi kenyataan. Mas sedang menyiapkan sesuatu.”

“Apa itu, Mas.” Inem menghentikan tangisannya.

“Adalah … Jangan sekarang kasih tahunya. Yang jelas, Mas masih mau menjalin hubungan panjang sama kamu. Nggak mungkin Mas setega itu ngelepas kamu, Nem. Kamu itu udah seperti candu bagi, Mas. Di kantor pun yang kebayang senyum kamu.”

Lagi ia membelai rambut itu.

“Tahu nggak sayang. Kamu itu sangat cantik. Mas nggak perduli siapa kamu, darimana latar belakangmu. Kalau sudah cinta ya cinta. Laki-laki itu begitu. Dia nggak butuh perempuan yang harus serba bisa, harus cerdas. Yang laki-laki butuhin itu ya, yang kalau diajakin nurut. Kalau dilihat ketawa, senyum. Itu udah surga bagi laki-laki, dan satu lagi, dia selalu ada saat laki-laki lagi pengen berduaan. Ya kamu udah menuhin semuanya, Nem.”

“Ah, yang bener, Mas.” Wanita itu dengan genitnya senyum-senyum. Sayangnya senyum itu memang manis. Jelas ‘kan Mas Hangga yang tampan saja tergoda!

“Ya, bener, dong.” Mas Hangga menarik tubuh Inem hingga mereka berpelukan.

Dikecupnya jidat licin wanita itu. Lalu saling mengeratkan pelukan. Kubuang wajahku melihat itu.

Rupanya mereka memang sudah saling mencintai. Aku beristighfar berkali-kali.

Air mataku entah sudah sejak kapan jatuh. Rasa perih dan teriris menelisik dalam dada. Terbakar, amarah, juga bersemayam di sana.

Kuatkan hatiku ya Allah. Jangan rapuh, jangan lemah.

Mas Hangga berdiri, lalu mengajak Inem berdiri. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang wanita ramping itu. Menggendongnya masuk kamar. Tentu adegan demi adegan dalam kamar tak akan luput juga aku abadikan.

Rasanya ingin saat ini kulabrak mereka. Tapi entah kekuatan dan peyakinan dari mana, hatiku mengatakan jangan dulu, sabar dulu. Entah atas dasar apa juga hati kecilku mengatakan itu. Padahal sisi hati yang lain mengatakan sudah menyerah dan ingin melabrak dan meneriaki cacian sekencang-kencangnya ke wajah mereka. Meludahinya bahkan aku ingin akulah yang merajam mereka, melempari mereka dengan batu hingga merek berdua tewas di tanganku.

Tapi lagi-lagi demi dua buah hatiku di rumah ini. aku mengalahkan egoku. Belum waktunya Karina, sabar dulu. Sabar untuk apa, sabar karena apa, Entah. Sisi terdalam hatiku seperti mengatakan sedikit lagi, tahan sebenetar, kamu harus melihat sesuatu kenyataan yang lebih dahsyat lagi.

Kumatikan sambungan CCTV.

Aku keluar kamar hendak melihat anak-anak yang tadi bermain dengan Papa mereka. Rupanya mereka telah tertidur bertiga setelah puas bermain. Mas Hangga memang sesayang itu pada anak-anak. Itulah kenapa ia ingin menambah satu lagi anak. Dan aku tak pernah mau meloloskan pintanya yang satu itu.

Kulangkahkan kaki menuju ruang belakang. Terdengar suara Inem sedang bercakap-cakap. Sepertinya ia sedang bertelepon ria dengan seseorang.

Kutajamkan pendnegaran ke arah daun pintu kamarnya.

Suaranya sedikit berbisik. Tapi karena tak ada kebisingan, aku cukup bisa mendengarnya.

“Ya, kamu harus pinter-pinterlah gimana supaya bos kamu percaya. Aku aja waktu pertama kali bosku nyobain. Dia bahagia banget, karena berhasil menjebol keperawananku katanya.” Lalu ia terkikik.

Apa maksudnya?!

“Iya, beneran suwer,” lanjutnya.

“Hizzh, kamu kok nggak percaya. Ya memang berdarah. Meski nggak perawan kan sekarang mah gampang. Beli darah perawan online. Sini aku ajarin. Jadi beli aja darah perawan online. Nanti aku pesenin. Nah pas mau dipake, selipin ke dalam. Beres, deh perawan lagi. Nah sehari sebelumnya, kamu minum rebusan sirih yang banyak, biar keset.”

Astagfirullah. Dadaku berdenyut hebat.

Jadi dia maksudnya sedang mengajari temannya melakukan hal yang telah dia lakukan sama Mas Hangga. Fix, Mas Hangga dibohongi seolah-olah perempuan licik ini masih perawan. Rupanya permainan Inem sudah segaek itu.

Ya Allah, aku mengusap wajah. Jadi wanita ini sebenarnya siapa? Kenapa semahir itu dia bersandiwara!

“Inem, buka pintu!!!” teriakku dari luar.


profile-picture
profile-picture
profile-picture
ni12345 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
16-01-2022 05:59
Bab 6

FOTO MESRA DI FACEBOOK RAHASIA



Jadi dia maksudnya sedang mengajari temannya melakukan hal yang telah dia lakukan sama Mas Hangga. Fix, Mas Hangga dibohongi seolah-olah perempuan licik ini masih perawan. Rupanya permainan Inem sudah segaek itu.

Ya Allah, aku mengusap wajah. Jadi wanita ini sebenarnya siapa? Kenapa semahir itu dia bersandiwara!

“Inem, buka pintu!!!” teriakku dari luar.

Seketika suaranya hilang, tak ada lagi pembicaraan.

“Nem, Buka!”

Tak ada gerakan.

Gemes, kutendang pintunya.

Dubrak!

“Buka, Nem!”

“Iya, Bu, sebentar ….!

Pintu dibuka.

“Apa, kamu ngomong apa barusan?”

“Ngomong apa gimana sich, Bu, yang ibu maksud?”

“Kamu tadi ngobrol sama seseorang kan di telepon? Jangan kira saya nggak dengar. Apa obrolan yang kamu maksud tadi, Hah?”

“Ehhm, ma-ma-maksud Ibu yang mana? Aduh, saya jadi takut. Ibu nich, tumben marah-marah.”

“Yang soal beli darah keperawanan! Paham?!” Aku berkata penuh penekanan tiap katanya.

Ia menatapku dua detik. Lalu tertawa.

“Owh itu. Ibu, nich, kirain apaan …. Itu kan dialog cerita, Bu. Inem tadi nemu cerita di internet, ceritanya seru. Inem ngomong ngikutin dialog yang ditulis. Duh sampe jantungan Inem. Kirain apaan Ibu sampe dobrak pintu. Cuma salah paham, Bu ….” ia menunjukkan jari tengah dan telunjuk membentuk huruf V.

“Kamu nggak usah ngaco, Nem!”

“Ya Allah, Bu. Beneran, suerrr, Inem jujur. Inem ngapain gitu-gitu. Bisa-bisa dimarah Bapak di kampung, aneh-aneh. Maaf, Bu, kalo bikin Ibu kaget.”

“Mana hape kamu? Tunjukin ke saya!”

“Eh, batrenya habis, Bu. Pas banget, Pas ibu panggil tadi, batrenya habis. Beneran ….”

Ia melangkah mundur mengambil gawainya.

“Nich, Bu, lihat, batrenya mati ‘kan? Nggak nyala. Inem charge dulu, deh. Kalau udah nyala nanti dikasih tahu ke Ibu. Maaf, ya, Bu.” Ia meringis.

Lalu ia tekan tombol on gawai itu berkali-kali.

Pintar sekali ular ini. Hapenya benar-benar mati!

Awas aja nanti, Nem, hapemu kuambil!

Esok paginya, Alhamdulillah, ada satu pengasuh dari yayasan, yang siap kerja mengurusi dua bocil lucuku itu bersama Inem. Aku tak hiraukan saran Mas Hangga untuk tidak nambah orang. Enak saja memberi mereka ruang untuk terus bersama. Bila perlu ambil satu lagi Pengasuh, biar rumah ini makin rame penghuni dan mereka nggak bisa sembarangan mengambil kesempatan.

Wajah Inem masam ketika melihat Mbak Yana mulai bermain dan ngobrol sama anak-anak. Sebelum dia mulai bekerja, di yayasan dia sudah kutatar untuk bisa tegas menghadapi kelakuan Inem. Sementara Mas Hangga hanya diam nggak menunjukkan ekspresi apa pun.

***

Dikantor pukul sepuluh pagi. Pekerjaanku sudah selesai sebagian. Setelah sekian bulan, baru hari ini aku merasa pekerjaan agak longgar. Aku memikirkan rencana apa yang akan dilakukan saat nanti Inem dan Mas Hangga pada akhirnya mengakui hubungan mereka. Bercerai itu sudah pasti. Dan mulai sekarang mulai menghitung aset-aset apa saja yang bisa kuselamatkan agar Mas Hangga nggak seenaknya membawa harta lalu digunakan untuk hidup bersama Inem.

Iseng kubuka media sosial yang telah berbulan tak pernah kujamah.

Aku hanya ingin mencari hiburan dari suntuknya hidup yang sedang lelah kujalani.

Klik! Wall facebook kubuka. lalu membaca beranda dan melihat status teman-teman yang dengan segala kegiatannya. Kukomen pendek-pendek hanya untuk sekadar bertanya kabar.

Lalu kembali melihat status-status lama yang pernah kubuat. Tapi aku seperti merasakan keanehan. Ada satu hal yang janggal dari tampilan facebookku kali ini, tapi apa? Aku scroll ke atas dan ke bawah. Sampai kemudian menyadari sesuatu. Facebook Mas Hangga sudah tidak lagi ada di bagian profilku yang menampilkan ikatan suami istri.

Jadi dia copot status suami istri di facebook? Segera ku klik akun facebooknya. Tak ada yang aneh, masih seperti biasa. Dari list pertemanan dia, kuketik sebuah nama, “Inem.” Barangkali wanita itu sudah berteman dengan suami gantengnya. Nihil.

Aku melog out facebbok dan mencoba login menggunakan akun Mas Hangga. Tidak bisa login. Owh, berarti passwordnya diganti. Baiklah, berarti sekarang aku sudah benar-benar asing di kehidupan Mas Hangga. Dia bahkan sudah tidak ingin menunjukkan kepada dunia bahwa aku ini istrinya. Atau jangan-jangan ini kelakuan Inem yang mulai posesif itu?

Kucoba login lagi ke facebookku.

lalu mencari-cari akun yang like dan komen distatus Mas Hangga. Tak ada yang mencurigakan. Sampai, aku melupakan satu hal. Di wallnya ada satu akun bernama meow, memberi gambar bunga disaat ulang tahun Mas Hangga. Iseng ku klik profil FB Meow ini.

Apa yang terlihat? Status-status tak jelas tentangg kekesalan seorang wanita kepada wanita lain, yang ingin dia bunuh. Ah, kurasa nggak penting. Ini facebook anak alay mungkin yaa, sering galau. kuklik yang like status dia. Ada satu akun bernama Cinta, tak ada yang mencurigakan sebenarnya, tapi akun ini lumayan beberapa kali melike status Meow.

Tapi entah kenapa aku seperti tergerak ingin membuka profilnya. Begitu aku klik maka jelaslah semuanya. Ternyata Allah tunjukkan, Bertebaran foto-foto seorang wanita dan laki-laki yang sedang selfie mesra.

Foto sang wanita jelas aku tahu siapa dia, dan foto sang pria yang di tutup sticker setengahnya, tentu tak akan bisa membuatku terkecoh atau tak mengenali siapa lelaki itu. Bahkan aku sangat mengnenali setiap inci tubuh dari lelaki itu, Mas Hangga! dan Inem!

Duduk berpelukan di antara ombak Ancol. lelaki itu memeluk pinggang si wanita Mesra sekali.

Di dalam hotel memakai handuk berdua terlihat habis mandi. dan itu lebih menjijikkan lagi, foto dua bibir yang hampir bersentuhan. Bahkan foto mesra di dalam rumahku ketika aku tak ada berderet rapi dalam satu album. Kesemuanya, foto sang pria di beri sticker separuh. Bodohnya kamu, Nem. Walau dunia tak tahu, jelas aku tahu siapa lelaki di foto itu.

Ada yang memanas dalam dada. Tapi kesiapan diri dan logika membuatku seperti merasa siap melihat kemungkinan apa pun yang akan terjadi.

Tiba-tiba ponsel berbunyi, panggilan whatsapp dari Mbak Yana.

“Bu tolong pulang, Mbak Inem marah-marah di telepon dengan seseorang sampai menangis-nangis. Sekarang dia mau bunuh diri!”

Mau bunuh diri. Ya Allah ngapain lagi si Inem.

“Yang bener Mbak?”

“Iya, Bu, dia ngancem mau bunuh diri sama orang di telepon itu. Jadi saya dan Yu Sri yang lihat jadi takut sendiri, karena dia teriak-teriak. Bu, Maaf apa dia sudah hamil? katanya dia minta tanggung jawab sama lelaki di telepon itu, tapi sepertinya jawaban lelaki itu nggak ngenakin, jadi dia marah besar dan mau bunuh diri itu. Sungguh saya takut, Bu. Dia sudah memegang pisau.”

“Anak-anak gimana, Mbak?”

“Anak-anak baru mau saya jemput, Bu. masih disekolah”

Inem, keliatannya dia sudah putus asa karena Mas Hangga mengulur-ulur waktu untuk membuka ke keluarga perihal pernikahan mereka. Ditambah lagi kehamilannya yang sudah semakin kelihatan.

“Oke, Mbak Yana, makasih infonya. Saya segera pulang ke rumah.”

Lekas aku berlari ke parkiran, lalu memacu mobil dengan kencang.

Ketika sampai, kuhentikan mobil di seberang jalan. Sayangnya aku melihat pemandangan yang begitu mengesankan. Mas Hangga juga baru keluar dari mobil yang dia parkir tapat di depan pagar rumah. Menutup mobil dengan keras dan berlari heroik untuk masuk ke dalam rumah. Aku yang tadinya hendak berlari, menghentikan langkah. Dan berjalan perlahan. Lalu memilih berdiri di balik pintu.

“Kamu apa-apaan, sich, Nem? Tolong jangan main-main ginilah!” ujar Mas Hangga. Nada suaranya bergetar. Mungkin sangat kalut melihat Inem dengan hebatnya berontak dari cekalan tangannya dan mencoba menancapkan benda tajam itu, ke perutnya. Bisa jadi, karena aku tak melihat, tapi aku lumayan bisa menerka keadaan.

“Kamu yang main-main sama aku, Mas. Tapi sekarang aku akan hentikan permainanmu. Aku akan akhiri semuanya. Minggir, biarkan aku mati!” teriak Inem.

“Nggak, jangan gila kamu nem.” Suara Mas Hangga terdengar geram dan meradang.

“Biarkan saja, Mas. Biarkan! Biar aku mati sama bayi yang dalam kandunganku, jangan perdulikan aku, Mas. Bukannya kamu memang nggak perduli. Mau sampai kapan aku sabar. Sampai perutku besar dan dketawain banyak orang, hah?!” Ia menangis, meraung.

Tangisannya tentu sangat membuat Mas Hangga iba dan kasihan.

“Nggak, Sayang, kamu nggak boleh mati, kamu sabar sedikit. Nggak akan lama. tolong ngertiin Mas. Kamu sabar, Sayang. Kamu tahu aku sayang kamu. Nggak mungkinlah aku sia-siain kamu. Plis mengerti Mas sedikit.”

“Nggak, Mas. Aku sudah nggak percaya kamu!!”

“Jangan gitu. Beneran Inem mau tinggalin Mas? Tega?”

Dengan susah payah dan ribuan bujukan Mas Hangga berusaha meyakinkan Inem.

Akhirnya jalang itu luluh. Tangisannya pecah, tapi ia sudah tidak berniat bunuh diri lagi.

Lelaki itu sekarang mungkin sudah memeluk Inem erat dalam dekapan. Menghentikan tangisannya.

“Janji ya, Mas, secepatnya!”

“Iya, Mas, janji, secepatnya. Tapi manut Mas jgua, ya..”

Dan aku yakin Mbak Hana dan Yu Siti pasti melongo dan shock melihat fenomena yang ada di hadapan mereka.

“Saya titip pesan buat kalian berdua, Hana, Siti. Tolong rahasiakan kejadian ini dari Ibu. Jangan sampai Ibu tahu. Oke?” Mas Hangga berkata dengan terengah-engah di antara suara tangisan Inem yang masih tergugu.

Sebuah drama yang indah.

Menunggu jeda beberapa menit, mencari situasi yang tepat. Aku lantas masuk ke dalam. Tetap dengan pendirianku, berpura-pura tidak tahu.

“Ada apa ini? Masuk-masuk kok Inem nangis?” tanyaku.

Mas Hangga sontak menengok ke arahku. Lalu secepat kilat melepas pelukannya dari Inem.


profile-picture
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
16-01-2022 06:00
Bab 7

ANAK-ANAKKU MENGETAHUINYA



Sebuah drama yang indah.

Menunggu jeda beberapa menit, mencari situasi yang tepat. Aku lantas masuk ke dalam. Tetap dengan pendirianku, berpura-pura tidak tahu.

“Ada apa ini? Masuk-masuk kok Inem nangis?” tanyaku.

Mas Hangga sontak menengok ke arahku. Lalu secepat kilat melepas pelukannya dari Inem.

“Eh, Mama. Entahlah, Mas juga baru datang. Kelihatannya Inem sedang putus cinta sama pacarnya, sampai nangis-nangis gitu. Mas cuma berusaha menenangkan. Biasalah anak remaja lagi jatuh cinta, diputusin kali.”

Lantas lelaki jangkung iru menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Inem yang tiba-tiba dilepaskan pelukannya begitu saja, merasa kesal. Mungkin ia berharap saat aku hadir, justru Mas Hangga tak melepas pelukannya dan ia akan tertawa puas karena telah memenangkan sebuah permainan. Bukankah sebenarnya Inem memang membenciku, bahkan ingin membunuhku. Masih kuingat status facebook bocah alay bernama meow. Itu pasti akun milik Inem-Inem juga

Merasa tak mendapatkan apa yang ia inginkan, ia melirik Mas Hangga jutek lalu berlari masuk ke dalam kamar. Ia melanjutkan tangisannya di sana.

Aku tertawa dalam hati melihat kelakuannya. Andai aku tidak sedang bersandiwara berpura-pura bodoh. Sudah kuolesi sambel pada bibir manisnya yang sering manyun tak jelas itu.

Lalu aku melangkah menuju ruang keluarga sembari menatap lelaki itu sinis. Mas Hangga paham tatapanku karena pastinya aku tak suka dia terlihat memeluk Inem.

Ketidak enakanmu padaku hanya sampai di batas itu, Mas. Padahal aku sudah mengetahui lebih banyak tentang affairmu! Seandainya kamu tahu bahwa aku bahkan sudah merekam perbuatan bejatmu, mungkin kamu bahkan tak berani menampakkan diri di hadapanku.

Aku tahu saat ini kamu sedang berusaha mengenalkan Inem sebagai istrimu, hanya saja kamu terlalu pengecut untuk bisa menyampaikannya padaku. Sehingga ini jadi problem sendiri buatmu. Ditekan Inem dan tertekan oleh perasaanmu sendiri.

Seandainya aku seperti wanita kebanyakan, tentu kamu sudah kulabrak membabi buta dari kemarin-kemarin. Renungan panjang membuatku tidak gegabah menghadapi ini semua. aku harus menyiapkan segalanya dengan baik. Mengulur-ulur untuk membuka semuanya bukan karena aku lemah. Justru karena aku sedang menyiapkan pukulan telak maha dahsyat dan menyakitkan buatmu nanti. Pecundang yang hanya mampu jadi budak nafsunya sendiri. Seorang lelaki yang tak menghargai sebuah ikatan rumah tangga, tak akan mungkin aku pertahankan.

Memang ketika aku memutuskan menikah denganmu. Aku sudah berani mengambil sebuah resiko besar. Aku tahu lelaki sepertimu, yang kadang begitu membuai, begitu romantis, dan bisa memanjakanku denganbunga-bunga cinta, terkadang dia bisa juga tak setia, ditambah ketampananmu yang memesona, membuatmu layaknya kumbang yang inginnya hinggap di banyak bunga.

Bunga-bunga memang indah Mas, sangat menggoda. Hanya lelaki yang kuat iman dan menjaga komitmen yang akan mampu bertahan dengan satu bunga. Kupikir aku akan mampu membuatmu setia. Kupikir mengingatkanmu untuk selalu bisa dipercaya dan berkomitment bisa membuatmu selalu menjaga hati. Ternyata kamu kalah, Mas. Jadi siap-siap saja untuk tumbang atas kepecundanganmu itu.

Setelah mengecek kamera di kamarku juga CCTV di beberapa sudut yang masih tetap aman bertengger tanpa tercurigai, aku keluar kamar. Sayangnya lenganku ditarik masuk kembali oleh Mas Hangga, lalu ia mengunci pintu kamar.

“Dek, please. Jangan tolak Mas. anak-anak belum pulang, kan?” Ia memberi kode.

“Enggak, Mas.” Aku bangkit dari kasur hendak keluar.

Ditariknya kembali aku hingga terjengkang di atas kasur.

“Mas, please, jangan kasar.”

“Mas Nggak kasar kalau kamu mau menuruti permintaan Mas. Kamu yang harusnya paham, sudah berapa lama kamu nggak memberikan hakku. sudah sebulan lebih, istri macam apa begini?”

“Aku punya alasan jelas menolak.”

“Alasan jelas? Nggak ada hal yang bisa menghalangi seorang suami meminta haknya kepada istri, kecuali ia mau memberikannya.”

“Tapi aku nggak bisa.”

“Kenapa? Kamu terlalu jual mahal, Dek. Terlalu angkuh. Aku bahkan sulit menggapai hatimu. Sulit untuk sekadar meminta hakku. Itulah kenapa aku benci wanita karir!”

“Ow, jadi kamu benci sama aku? Benci sama wanita karir, lantas kenapa kamu nikahi?”

“Dulu nggak benci. akhir-akhir ini benci, muak. Ya karena dulu kamu wanita yang lembut dan penurut. Kamu dulu sangat perhatian sama Mas. Membuatkan sarapan, membikinkan teh atau kopi, memijatku. Tapi sekarang? Bahkan aku seperti hidup dalam penjara. Apa-apa kamu larang.”

Mas Hangga mengusap rambut dengan kasar.

“Kamu lupa memberiku kebutuhan yang paling mendasar. Kerja, kerja dan kerja, dinas, dinas dan dinas. Apa yang kamu cari? Aku nggak pernah kurang penghasilan. Untuk hidup kita cukup. Tapi bahkan kamu makin ambisius dengan karirmu. Dan semakin superior di hadapanku.”

Aku terhenyak. Mnyadari apa yang ia katakan ada benarnya. Harusnya aku lebih memperhatikan kebutuhan batinnya. Setelah melahirkan anak kedua, aku seperti berpacu dengan waktu, mengejar kesuksesan dalam karir. Lalu kurang memperhatikan Mas Hangga bahkan anak-anakku.

“Tapi kamu Imamku. Kamu bisa membicarakan ini denganku dari hati ke hati. Apa susahnya membimbingku, karena sekeras-kerasnya hatiku, aku tetaplah tulang rusukmu yang bengkok yang senantiasa bisa kamu luruskan sepanjang aku masih menjadi hakmu.”

Aku mulai menangis.

“Atau jangan-jangan kamu hanya mencari kesalahanku untuk sebuah alasan yang cuma kamu sendiri yang tahu jawabannya, Mas! Ayo bilanglah, katakanlah suatu kejujuran dari hatimu!”

“Kamu ngomong apa, sih?”

“Jujur saja, Mas. Aku memang menanti kamu berani mengatakannya langsung di depanku. Aku sudah menunggu-nunggu. Sampai kapan kamu membohongi diri dan menyiksa diri, lalu ada orang lain yang terluka karena ulahmu. Aku akan tunggu kamu membuka kejujuran itu di depanku, Mas. Dan setelahnya, kita cerai!”

Mas Hangga terbelalak, lalu mengusap hidung dengan kasar.

“Ah, sudahlah. Kamu memang selalu sulit kumengerti!!” Mas hangga keluar membanting pintu.

Ia pergi membawa mobilnya dengan kecepatan penuh, seperti biasa bila ia sedang marah.

Terserah, Mas, apa pun alasanmu. Tidak ada kata maaf untuk sebuah kata perselingkuhan. Tekadku sudah bulat.

Terdengar anak-anak sudah pulang sekolah. Mereka berhamburan memelukku.

“Mama kenapa menangis?”

“Mama nggak apa-apa. Cuma kelilipan.”

“Mama jangan bohong, Mama habis berantem ya sama Papa?” Tanya si sulung yang kritis.

“Ma, aku sebenernya tau apa yang terjadi.” Si sulung menunduk.

Deg! dadaku berdebar kecil.

“Tau apa, Nak?”

“Sebenanrya aku tahu apa yang terjadi antara Papa dengan Mbak Inem. Tapi aku nggak berani cerita ke Mama. Aku takut Mama sedih.”

Aku terhenyak. Ya Allah, jadi Sefina sudah mengetahuinya. Ini yang paling kutakutkan.

“Jadi, Ma. Aku pernah melihat Papa dan Mbak Inem masuk di kamar Mama. Lama di sana. Pintunya di kunci.”

Astaghfirullah. Apakah anakku bahkan mendengar hal yang tak selayaknya ia dengar?!

“Aku cuma denger Mbak ketawa-ketawa sama Papa dikamar, habis itu sunyi. Tapi lama nggak keluar.”

Hatiku rasanya seperti teriris saat ini.

“Aku juga sering melihat Mbak dan Papa tertawa-tawa dalam mobil. Aku nggak suka. Atau kadang mereka manja-manjaan. Semua itu kalau sedang nggak ada Mama di rumah. Setiap kali Papa dan Mbak Inem manja-manjaan seperti sama Mama, aku langsung pura-pura tidur. Aku nggak mau lihat. Aku nggak suka. Karena kalau aku lihat, itu sama seperti Mama yang lihat. Dan aku takut Mama sedih. Jadi aku pilih untuk pejamin mata.”

“duhhh… Fina sayang. Aku memeluknya erat.”

Hatiku menangis mendengar kata-kata dari anak kecil selugu itu.

“Apakah benar, Ma, Mbak Inem itu akan jadi Bunda aku? akan melahirkan adek kecil? Nah kalau Mbak Inem mau lahirin dedek kecil, ini aku suka. Aku ingin banget punya adek, Ma. Tapi aku sebenernya pengennya dedek lahir dari perut Mama. Cuma karena Mama bilang nggak mau punya dedek lagi. Jadi aku seneng waktu Mbak Inem bilang bisa kasih dedek untuk aku dan Nifa. Aku rela manggil Mbak dengan sebutan Bunda. Supaya aku dibolehin main sama adeknya.”

Hatiku miris mendengarnya. Yaa Allah. Air mataku kembali bercucuran. Aku gagal menahan diri untuk tidak menagis di hadapan anak-anak.

‘Dan sekarang pun Mama nggak mungkin memberi kalian adek, Nak karena Mama nggak hamil dan bahkan mungkin akan segera mengajukan perceraian sama Papa kalian, Nak,” bisik hatiku.

Rasanya luar biasa saat ini ini. Karena aku tahu, anak-anak tak menghendaki aku berpisah dari Mas Hangga. anak-anak cuma ingin melihat aku dan Mas Hangga tetep bersama dan selalu bahagia. Sementara keinginanku bercerai tentu merusak impian-impian mereka.

“Bu, Maaf saya mau melapor.” Mbak Yana tiba-tiba sudah disampingku dengan wajah sedikit pias.

“Ya, Mbak ada apa?”

“Mbak Inem kabur, Bu. Tadi dia keluar rumah dengan membawa tas pakaiannya.”

“Apa? Kabur, Mbak!?”


profile-picture
profile-picture
profile-picture
ni12345 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
16-01-2022 06:00
Bab 8

MENYADAP PESAN-PESAN MEREKA



Rasanya luar biasa saat ini ini. Karena aku tahu, anak-anak tak menghendaki aku berpisah dari Mas Hangga. anak-anak cuma ingin melihat aku dan Mas Hangga tetep bersama dan selalu bahagia. Sementara keinginanku bercerai tentu merusak impian-impian mereka.

“Bu, Maaf saya mau melapor.” Mbak Yana tiba-tiba sudah disampingku dengan wajah sedikit pias.

“Ya, Mbak ada apa?”

“Mbak Inem kabur, Bu. Tadi dia keluar rumah dengan membawa tas pakaiannya.”

“Apa? Kabur, Mbak!?”

“Iya, Bu. Saya kaget, saya tanya mau kemana, Mbak. Dia nggak jawab.”

“Saya cek dalam kamarnya separuh isi kamar sudah nggak ada, Bu.”

“Saya mau ngadu sama Ibu, sy lihat Ibu sedang menangis, jadi nggak berani.”

Hmm, jadi perempuan itu pergi tanpa ijin aku sama sekali.

“Ya, nggak apa-apa, Mbak. Biarkan saja dulu, kalau itu kemauannya. Sementara Mbak sanggup kan momong Sefina dan Hanifa sendirian?”

“Oh kalau itu tenang, Bu. Dengan senang hati saya melakukannya.”

“Besok saya akan minta Mbak baru dari yayasan lagi. Biar Mbak Yana nggak terlalu kewalahan.”

“Baik, Bu.”

Aku menuju kamar Inem. Dalam kondisi terburu-buru untuk kabur, kurasa dia hanya membawa barang-barang yang sangat diperlukan saja.

Entah kenapa saat masuk ke kamarnya ada perasaan berat. Tapi kupaksakan. Kubongkar barang-barang yang terserak di sudut ruangan.

Sayangnya ketika aku hendak membuka lemari. Ada suara-suara aneh yang membuatku ngeri dan terhenyak. Alisku berkerut. Suara apa itu?!

Suara gaduh seperti sapuan angin yang menggesekkan daun-daun bercampur dengan suara-suara aneh yg mistik, lalu terdengar seperti suara hempasan napas yang kasar, berkali-kali. Aku mundur sesaat. Lalu dari kolong kasur terdengar suara seperti orang berbisik-bisik. Aneh. Padahal ini rumahku sendiri. Tapi kenapa aku seperti tak mengenali lagi ruangan ini, layaknya ruangan asing yang baru kukenal. Apa yang aku alami? Seketika bulu tengkukku berdiri.

Kenapa aku yang selama ini tak takut dengan syetan seperti merasakan aura yang tak enak di kamar ini. Kamar yang pengap, bau, mungkin anyir. Seperti ada sebuah mata mengawasiku. Kemarin-kemarin semua masih terlihat baik-baik saja. Inem, apa yang kamu lakukan dengan kamar ini?

Kutengadahkan tangan ke atas, membaca kalimatullah dengan memasrahkan diri kepada sebaik-baiknya pelindung.

A’udzu bikalimatillahittammati min syarri maa khalaq.

Bismillah, kumantapkan hati. Kubuka sekali lagi lemari di depanku.

“Hozzh.” Suara itu, kali ini terdengar lebih jelas.

Oh, No, itu seperti suara ular yang sedang terancam lawan. Kuamati tajam ke dalam gelapnya lemari Inem. Lemari ini memang berukuran besar. Samar terlihat makhluk panjang hitam seperti kepala ular. Kutatap sambil lagi-lagi mengucap kalimatullah. lama-lama bayangan itu memudar. Bersama suaranya yang terdengar semakin menjauh. Pun suara bisik-bisik dari balik kasur itu. Pergi.

Aku beristighfar berkali-kali. Aku yang selama ini hidup di jaman modern dan tak pernah merasakan keadaan aneh seperti tadi merasa tak percaya atas apa yang baru kurasakan.

Apa yang kulihat terasa nyata.

Aku paham apa yang Inem mulai lakukan. Dia main dukun. Mungkin untuk perlindungan atau guna-guna. Dan dia diberi makluk itu untuk menjaganya. Makhluk itu dia simpan di dalam lemari ini. Sepertinya dalam bungkusan hitam di hadapanku itu. Sayangnya Inem lupa membawa serta pergi makhluk ini.

Lalu kulanjutkan menggeledah kerdus kecil bertutup yang ia simpan di tatakan paling atas lemari.

Satu kotak kondom. Satu kotak obat kuat dan perangsang untuk pria. satu kotak darah perawan palsu tersisa empat bungkus lagi.

Obat perangsang untuk pria? Untuk siapa? Entah kenapa dalam benakku tiba-tiba muncul bayangan, bahwa ketika aku tak sedang di rumah, dia telah melarutkannya dalam minuman yang ia buat untuk Mas Hangga. Sehingga keinginan bercinta Mas Hangga menjadi semakin besar, dan Inem menjeratnya dengan berpakaian seksi juga menggoda. lihai!

Lalu aku menemukan sebuah KTP, kelihatannya KTP usang, disitu tertera tanggal lahirnya, yang menunjukkan bahwa usia Inem sebenarnya bukan tujuh belas seperti yang ia katakan. Tapi dua puluh dua tahun. Ck ck ck, sku sudah menduga, sebab terlalu tua jika dengan tampilan seksi dan berpengalaman seperti itu, tapi mengaku usianya tujuh belas tahun. Meski memang wajahnya tak dipungkiri, ayu. Jadi dia memang membohongiku soal usia.

Lalu di ujung lemari paling bawah, aku menemukan satu kotak lingerie dengan berbagai model. Ya Allah, kapan lingerie-lingerie itu ia kenakan? Apakah ia kenakan saat aku tak ada di rumah juga? Ah gila. Seliar itu seandainya benar. Aku jadi bertanya-tanya. Sebenarnya wanita itu hidup dari dunia mana, sich? Bukannya ia gadis desa? Apakah internet sebegitu besarnya mempengaruhi hidupnya?

Yang paling aku nggak habis pikir, dia bisa punya ide membeli selaput darah perawan. Bahkan membeli lebih dari satu, artinya dia akan selalu memakainya ketika pertama kali berhubungan dengan mangsanya. Dan Mas Hangga salah satu yang terjerat perangkapnya!

Lalu terakhir aku menemukan obat tidur. Seketika terbayang kedua anakku. Ya Allah, jangan-jangan kedua anakku, Fina dan Nifa dibuatkan susu dengan campuran obat tidur. Sehingga bisa dengan leluasa Inem menjalankan aksinya malam-malam ketika tak ada aku di rumah. Mulailah ia memakai baju super seksi dan ketat dan berlenggok-lenggok di depan Mas Hangga yang minumannya sudah di bubuhi obat perangsang. Aku memang cuma menduga-duga, tapi faktanya dia berhasil membuat Mas Hangga bertekuk lutut padanya.

Ya Allah, kenapa aku nggak terpikir, sich. Kemungkinan sejauh ini yang ia lakukan.

Aku tahu, tidak semua perselingkuhan yang terjadi di antara Inem dan Mas Hangga karena mutlak salah mereka. Aku juga yang memberi ruang dan kesempatan untuk mereka. Tapi aku nggak habis pikir, kenapa aku bisa memasukkan ular yang terlihat sangat manis masuk ke rumahku sendiri!

Dan sekarang wanita penggoda itu kabur. Aku rasa itu akal-akalannya saja agar semakin dikasihani Mas Hangga. Atau jangan-jangan mereka memang merencanakan sesuatu?

Lekas kuambil semua barang bukti dalam kotak itu. Kembali ke dalam kamarku dan memasukkannya dalam brankas besar. Vrankas itu sangat berat dan hanya aku yangpaham kode bukanya.

Kucoba mencari ide selanjutnya.

Aku ingat, punya teman SMA yang sekarang bekerja di salah satu provider jasa internet. Berharap ia mau membantu, walau tak yakin bisa. Tapi nggak ada salahnya aku coba dulu.

[Dit, ini nomor baru, gue. Karina. Gue mau minta tolong, dong, ama elo.]

[Hai, Rin. Apa kabar, loe. Oke, mau minta tolong apa?] Adit cukup dekat denganku jadi dengan mudah dia mengenaliku.

[Gue telp aja kali, ya. Bisa?]

[Oke.]

Akhirnya aku menjelaskan untuk minta tolong mengecek aktivitas dua nomor seluler Milik Mas Hangga dan Inem.

“Gue tau, ini berbahaya, ini menyadap. Tapi gue tau loe, bisa bantu.”

Adit mengerti masalah keluarga yang sedang aku hadapi cukup pelik, dan aku tahu dia punya posisi bagus di sana. Jika dia punya simpati kepadaku, semoga dia mau. Dan Syukur dia meng-okekan.

“Oke, Rin. Aku coba bantu. Semoga bisa. Tunggu ya, nanti aku kabari via email, rajin cek email saja, ya.”

Setelah satu jam, email adit masuk. Dan deretan-deretan chat itu. Aku harus banyak berterima kasih sama Adit. Karena bukti pesan-pesan ini juga bisa jadi barang bukti di sidang perceraian nanti.

Jadi semua rekapan percakapan dua nomor itu terkirim ke emailku bahkan percakapan dari awal-awal mereka dekat. Sangat menjijikkan. aku tak mengira Mas Hangga yang selama ini kupandang elegant. Begitu murahan gaya chatnya dengan Inem.

Dan bersyukurnya lagi, Adit mau mengupdate percakapan via WA mereka yang sedang berlangsung, setiap jam.

Kubaca deretan pesan mereka hari ini.

[Sayang, aku lagi di kantor, pulang kerja nanti. Kita ketemu. Oke?”]

[Nggak, aku nggak mau, aku mau pulang kampung aja. Aku mau nikah dengan Anton.]

[Eits, enak aja nikah sama Anton. Kamu kan sudah jadi istriku.]

[Kita pisah, Mas.]

[Jangan gitu, dong, sayang. Mas rindu kamu. Mas sayang sama kamu. Dan ingin

menghabiskan waktu berdua sama kamu malam ini, Oke?]

[Dimana? di rumah istrimu lagi? Cuma untuk diajak ML?]

[Wih, ya, nggak, dong Sayang. Mas ada kejutan untukmu.]

[Sudahlah, Mas. Aku capek diginiin terus, digantung terus.]

[Please, Inem Sayang tega bikin Mas mati karena rindu banget sama Inem.]

[Mas lihat perutku. Mau sampai kapan. Mas tadi bukannya menjelaskan ke istrimu ketika dia melihat kamu memelukku. Justru lagi-lagi kamu berakting seolah kita tak ada hubungan apa-apa. Aku sakit, Mas, kamu gituin. Kenapa, sich, kamu nggak jujur aja, kenapa? Toh cepat atau lambat mereka juga akan tahu. Mungkin sekarang juga istrimu sudah dikasih tahu oleh Siti sama Yana.]

[Pasti, aku pasti akan jujur, setelah pertemuan kita hari ini, Oke, sayang?]

[Nggak.]

[Plisss.]

[Nggak.]

[Sayang, nggak rindu sama Mas, ya?]

[Rindu, tapi sakit.]

[Mas, janji setelah kita ketemu kali ini, akan buat Inem bahagia.]

[Bahagia apa? Mas yang bahagia, aku yang menderita. Padahal aku cuma butuh pengakuan sebagai istri barumu dan bisa tinggal serumah dengan anak istrimu.]

[Tenang Sayang. Mas mau tunjukin sesuatu yang Mas udah janjiin.]

[Aku nggak paham.]

[Oke? Plis. Nanti dijelasinnya kalau sudah ketemu.]

[Beneran itu bisa buat aku seneng? Nggak bohong?]

[Sumpah, ini bener.]

[Janji?]

[janji]

[Dimana?]

[Disuatu tempat, kamu pasti akan suka lihatnya nanti. Mas sudah siapkan kejutan ini dari sejak tiga bulan lalu. Jadi, kamu harus datang. Caranya kamu tinggalkan rumah Karina sekarang.]

Ck, Ck, Ck, Hebat permainan kalian. Jangan kira bisa lari dariku!




profile-picture
profile-picture
profile-picture
ni12345 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
16-01-2022 06:01
Bab 9

DI DALAM MOBIL SUAMIKU



[Tenang Sayang. Mas mau tunjukin sesuatu yang Mas udah janjiin.]

[Aku nggak paham.]

[Oke? Plis. Nanti dijelasinnya kalau sudah ketemu.]

[Beneran itu bisa buat aku seneng? Nggak bohong?]

[Sumpah, ini bener.]

[Janji?]

[janji.]

[di mana?]

[Disuatu tempat, kamu pasti akan suka lihatnya nanti. Mas sudah siapkan kejutan ini dari sejak tiga bulan lalu. Jadi, kamu harus datang. Caranya kamu tinggalkan rumah Karina sekarang.]

Ck, Ck, Ck, Hebat permainan kalian. Jangan kira bisa lari dariku!

[Sekarang?]

[Iya, kamu bawa baju seperlunya dan barang yang kamu anggap penting. Cukup pakai tas kecil, saja. Kamu tunggu di Mall atau di restoran. Nanti aku jemput sepulang kerja. Oke?]

[Hmmm. Okelah. Nanti aku kabari lagi, Mas. Mau masukin baju-bajunya dulu.]

[Oke, Sayang. Love, U.]

Laki-laki yang sudah terbuai oleh cinta wanita baru. Isi pesannya tak jauh berbeda ketika dulu ia mencintaiku. Siapa yang tak bahagia dipenuhi ucapan cinta dan sayang oleh lelaki tampan seperti dia. Terlebih Inem. Melihat Mas Hangga sekarang yang sudah mapan. Pas sekali Mas Hangga juga begitu tertarik kepada jalang itu.

“Halo, Za, tolong saya sekali lagi, ya.”

Kujelaskan maksudku meminta bantuannya kembali.

“Oh, siap, Bu. Saya laksanakan. Saya suka kalau Ibu yang perintah.”

Suara di seberang sana terdengar sumringah. Ya, karena aku tak segan membayar dengan nominal besar padanya.

Kali ini aku meminta Reza untuk mengintai ke mana nanti perginya Corola Altis itu selepas lelaki itu pulang kantor. Meski aku bisa menyadap pesan mereka, tapi aku sama sekali tak ingin kehilangan jejak mereka.

Aku tak mau kehilangan kesempatan untuk tak melihatnya langsung. Karena pasti akan ada adegan seru yang tak boleh luput untuk aku lihat! Agar aku bisa mengatakan dengan jelas dan lancar di pengadilan nanti. Sebagai saksi mata atas perzinahan dan perselingkuhan yang dilakukan oleh suamiku sendiri. Lalu aku juga bisa membeberkan foto dan video sebagai bukti yang tak dapat di sangkal-sangkal lagi.`

Bahkan aku sudah mempersiapkan rencana ini jauh sebelum terjadi.

Tunggu saja, Mas! Pembalasan dari seorang wanita yang tersakiti. Pembalasan dari seorang wanita yang berniat tulus menjaga rumah tangganya agar selalu langgeng dan bahagia, tapi ternyata rumah tangga itu tak dipandang begitu berarti oleh pasangannya.

Apa yang lebih menyakitkan dari sebuah pengkhianatan. Dan apa yang bisa aku lakukan selain berusaha menunjukkan kesalahan mereka pada dunia! Agar mereka juga bisa merasakan sakit yang aku rasa.

“Jadi posisi di mana, Za?”

[Belum bergerak, Bu.]

[Oke, intai saja dulu.]

Kubuka email pada gawai.

[Aku ada di stasiun, Mas.]

[Stasiun mana, Sayang?]

[Gambir.]

[Duh, jauh amat, Sayang?]

[Aku mau pulang kampung, saja.]

[Lalu menikah sama Anton?? Iya, gitu, Sayang? Hmm, si cantik ngambek lagi.]

[Aku serius.]

[Mas sedikit lagi pulang kerja. Mas lagi beresin proyek. Proyek ini nanti hasilnya untuk kamu,

Sayang.]

Ya Allah, sungguh jijik, ingin muntah aku membaca pesan demi pesan buaya satu ini. Hanya

seorang ART, tapi sebegitu terbuainya ia.

[Ya, tapi aku sudah terlanjut kabur, aku nggak tau mau tinggal di mana.]

[Ya, tenang, Sayang. Dengerin, Mas. Kamu tunggu Mas datang. Nanti Mas jemput. Kamu cari tempat yang aman, ya. Mas nggak mau kamu kenapa-kenapa.]

[Tapi aku bingung, Mas.]

[Nggak usah bingung, sebentar lagi, Mas datang, sayang.]

[Mas, aku merasa terpuruk.]

[Sudah, Sayang. Kamu tenang saja. Hilangkan kekhawatiranmu. Kamu itu masih terlalu muda untuk berpikir berat, biar Mas saja. Kamu cukup nurut sama perintah Mas aja. Oke]

[Kenapa, Mas beratin aku? Bukankah istrimu perempuan sempurna, Mas?]

[Sempurna, tapi lebih menggoda kamu, Sayang.]

[Mas, Sayang sama aku, ‘kan?]

[Hmm, sering nanya gini, kurang yakin apa lagi, sich?]

Aku nanti tidur di mana, Mas?]

[Yah, nanya lagi. Tidur sama, Mas, Sayang. Ini yang Mas nantikan. Tidur bareng sama Inem. Ya, dong. Kamu kan istri, Mas.]

[di mana? Di hotel lagi, Mas?]

[Nggak, tempat yang lebih special, Sayang. Kamu tenang saja, disitu.]

Selamat berbahagia nanti, Mas. Sudah tidak tidur bersama di hotel lagi, rupanya. Boleh aku jadi tamu tak di undang kalian ‘kan? Jelas saat ini aku mentertawai kalian. Pasangan yang sedang dimabuk cinta tapi sengaja melukai orang yang menjaga komitmen untuk setia.

Kamu pikir kamu berhasil menyembunyikan Inem dariku, Mas. Kamu lupa bahwa aku rasional dan instingku kuat. Kalian pikir kalian sudah lepas dan bebas, bersembunyi dariku, padahal aku sama sekali tak melepas mata dari kalian.

Setengah jam berlalu.

[Bu, Mobil sudah keluar parkiran.]

[Ikuti saja, Za. Jangan lupa sesekali foto atau Video.]

Masker dan seatbelt terpasang. Aku memacu CRV Alena lebih cepat. Ya, aku memakai mobil CRV terbaru milik Alena, sahabatku. Agar jejakku tak terendus oleh dua orang itu.

Sesampainya di Stasiun Gambir, memilih tempat strategis agar aku bisa melihat seantero sudut parkiran. Lima belas menit kemudian, mobil silver itu datang.

Masuk parkiran Area F.

Tepat, posisiku menghadap ke samping kiri mobil mereka tapi tetap bisa melihat kaca depan mobil karena mobil itu terparkir tidak melewati posisi mobilku parkir.

Mobil ini terparkir di bawah sebuah pohon yang rindang, sehingga dari arah manapun orang hanya akan melihat kaca mobil yang gelap. Strategis.

[Bu, mobil sudah ada di parkiran Area F]

[Oke, Za. Thanks. Kamu tunggu dan parkir di dekat pintu keluar saja.]

Sepuluh menit, wanita yang kukenali sekali itu masuk mobil.

Dan sudah bisa ditebak tak lama apa yang terjadi, obrolan pembuka sesaat, lalu terjadilah adegan-adegan itu. Aku tahu Mas Hangga mencari sosok penggantiku untuk apa. Mungkin saat ini mereka terlalu rindu. Karena tak punya kesempatan lagi berdua saat di rumah. Aku meyakinkan diri untuk tak perlu baper. Walau melihat pemandangan yang sebenarnya sangat menyayat hati itu di depan mata. Mungkin karena aku telah mulai terbiasa. Melihat adegan mereka sperti itu, bahkan di kamarku sendiri.

Jadi saat ini, apalagi yang bisa kuperbuat selain cukup pasang kamera. Dan menikmati pemandangan layaknya opening sebuah film biru di dalam sebuah mobil. Ya, kuanggap aku sedang menonton adegan demi adegan sebuah film.

Nggak nyangka, sosok lelaki itu suamiku. Karena dia tak pernah memperlakukan aku seperti itu di tempat umum. Ternyata dia mencoba gaya hidup yang lain, dan kelihatannya menikmatinya. Terlebih ketika membaca pesan-pesannya tadi yang menjijikkan itu untuk wanita yang saat ini dalam pelukannya itu.

Satu jam memarkir di sana, setelah puas melepas rindu. Mobil itu keluar ke jalan Raya. Aku dan Reza mengikuti. Reza kuminta untuk berada di depan mobil. Agar kami tak sama-sama kehilangan jejak.

Setelah dua jam perjalanan, mobil itu masuk gang. Aku memilih berhenti sesaat. Biar Reza yang mengikuti dengan motor.

[Mereka berhenti di sebuah rumah, Bu.]

[Awasi dari jauh saja, jangan sampai mencurigakan.]

[Mereka sudah masuk rumah, Bu]

[Oke, aku akan ke sana sekarang.]

[Nanti Ibu berhenti di lapangan saja, Bu. Agar tak dicurigai. Ada lapangan tak jauh dari rumah itu.]

[Oke.]

Kutatap rumah bercat putih itu dengan nanar.

Sebuah rumah yang masih bagus karena baru terbangun. Ada taman kecil berpagar pendek di depannya. Rumah bergaya modern minimalis milik Inem. Ya, tentu saja milik Inem, hadiah dari suamiku tercinta! Entah sedang apa kini mereka di dalam rumah itu. Barangkali Inem sedang memeluk Mas Hangga bahagia, dan Mas Hangga sedang melingkarkan pingganya pada jalang itu!

“Jadi kamu sudah pastikan Bapak dan Mbak itu masuk ke dalam rumah itu, Za?”

Aku bertanya dengan berbisik.

“Ya, Bu. Mobil mereka diparkir pada sisi kanan rumah. Dari sini tidak kelihatan memang. Mereka membuka kunci dan langsung masuk. Apa yang akan kita lakukan, Bu?”

“Tunggu saja, instruksiku selanjutnya. Yang penting Reza dan kamu, Handi, awasi pergerakan.’

Kulihat jam yang menghiasi tangangaku. Pukul sembilan malam. Masih ada waktu untuk menjemput Papa Fardan dan Papa Hans. Kedua orang tua yang sangat aku sayangi.

Maaf, Pa, kalau aku harus bertindak seperti ini. Kurasa ini cara terbaik untuk menunjukkan kepada dunia kelakuan seorang pezina. Tak perlu lagi ada aib yang harus ditutupi. Karena mereka sendiri yang menciptakan aib itu.

Seandainya hukum rajam berlaku di Indonesia. Bahkan aku berharap semua keluarga Mas Hangga hadir bersamaku lalu menyiksanya dengan rajaman sampai mereka mati!

“Kutekan tombol telepon Papa mertuaku.”

To Be Continued.

Terima kasih untuk yang dengan senang hati mau membantu dg memfollow akun Asa Jannati dan Subscribe ceritanya. Tujuannya apa? biar bergeser ke terbanyak di subscribe, jadi tmn2 akan lebih mudah buka babnya krn nanti cerita ini bisa ada di jejeran paling depan. Tinggal klik deh.

Nikmati jg cerita2 Asa lainnya.

Terima kasih untuk yang selalu setia menanti cerita ini, membacanya dengan mengakhiri like komen seru. Itu sangat menghibur.

Oiya, sy bikin tebakan. jawab, ya. Garing sich. Tp gpp, ya.

Hijau, panjang, melingkar, kepalanya merah, jalannya mundur, apa hayo? Kalau banyak yg jawab bener, besok Up dua kali.


profile-picture
profile-picture
profile-picture
santet72 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
16-01-2022 06:01
Bab 10

USAHA PENGGEREBEKAN



Assalamualikum temen-temen, gapapa ya kalau sebelum baca, temen-temen klik follow akun Asa Jannati dan subscribe cerita ini. Agar dapet notif kalau ada update bab cerita terbaru. Plus jadi seneng jg kan Asa kalau di follow temen2. semoga bisa up lbh cepet jadinya. Makasih ya.

________________________



Test Pack ART-ku (11)

#Testpack_Inem

#Testpack

-Usaha Penggerebekan-

Kulihat jam yang menghiasi tangangaku. Pukul sembilan malam. Masih ada waktu untuk menjemput Papa Fardan dan Papa Hans. Kedua orang tua yang sangat aku sayangi.

Maaf, Pa, kalau aku harus bertindak seperti ini. Kurasa ini cara terbaik untuk menunjukkan kepada dunia kelakuan seorang pezina. Tak perlu lagi ada aib yang harus ditutupi. Karena mereka sendiri yang menciptakan aib itu.

Seandainya hukum rajam berlaku di Indonesia. Bahkan aku berharap semua keluarga Mas Hangga hadir bersamaku lalu menyiksanya dengan rajaman sampai mereka mati!

“Kutekan tombol telepon Papa mertuaku.”

“Hallo Assalamualaikum, Pa, maaf malam-malam telepon Papa. Tapi ada hal penting yang ingin Karin bicarakan.”

“Owh, Waalaikumussalam. Ya, silahkan cerita. Apa kabar anak-anak?”

“Anak-anak baik, Pa. Karin mau bicara soal Mas Hangga, Pa.”

Kuceritakan kejadian demi kejadian sampai akhirnya Papa paham dan mengerti situasiku saat ini.

“Hmm, cukup pelik, Karin.” Papa menghela napas panjang.

“Baiklah, Papa akan jemput Papa kamu, nanti kita ke sana sama-sama. Apa Papa sudah dikabari?”

“Baru akan Karin telepon, Pa. Maaf kalau Karin baru bisa sekarang mengabari Papa. Karena pada awalnya Karin pikir akan bisa mengatasi keadaan ini sendiri. Tapi ternyata Karin sendiri baru sadar kalau situasinya sudah segawat ini.”

“Papa mengerti keadaanmu. Ini sudah berat. Ya, oke. Papa siap-siap dulu, ya.”

“Oke, Pa.” Klik, telepon kumatikan.

Tak ada waktu bersedih Karin. Segera telepon Papa.

Aku melanjutkan menekan tombol panggilan ke WA Papa.

Pembicaraan ke Papa terasa lebih berat. Karena emosi juga lelahku rasanya membuatku ingin meluapkan segala rasa padanya. Sepanjang aku bercerita, tubuhku bergetar. kututup kaca mobil agar tak terdengar.

Rupanya Mama mendengar percakapanku dengan Papa dan berinisiatif untuk ikut.

Aku menutup mulut, menahan tangisan, ketika Mama akhirnya mengambil alih telepon Papa. Air mataku sudah jatuh berderai.

“Karin … Karin ..., kamu, Nak. Punya masalah seberat ini tidak sama sekali cerita sama Mama. Mama pikir kamu sama Hangga delapan tahun ini baik-baik saja. Ya Allah, Mama kaget dengernya, Karin. Kamu pasti sekarang beban, ceritalah sama Mama harusnya. Ya, oke, Mama sama Papa bersiap ke sana, ya. Kamu yang tenang, tunggu Mama ke sana.”

Aku mematikan telepon. Menatap rumah putih itu. Rumah dengan tirai jendela berwarna biru muda, yang saat ini lampunya mulai dimatikan.

Kuusap air mataku. Karin jangan menangis. Sekarang lakukan bagianmu. Ini moment yang kamu tunggu bukan. Momen di mana kamu akan bisa sedikit lega dan membalas kesakitanmu yang selama ini kamu tahan.

Kamu sudah cukup kuat. Tapi sekali ini tolong kamu lebih kuat dan tegar lagi. Tunjukkan bahwa kamu baik-baik saja meski dikhianati di hadapan mereka. Dan biarkan dunia dunia melihat borok mereka.

Aku menanrik napas dalam, lalu keluar dari mobil.

Sembari menunggu kedua orang tua dan mertua. Aku mengajak Reza dan Handi untuk melapor kepada RT dan RW.

Aku juga meminta Mas Fatih, kakakku yang perwira untuk datang membawa team kepolisian, meminta penjagaan sebuah usaha penggerebekan warga. Karena khawatir akan terjadi kericuhan nantinya.

“Karin!” Alena sudah datang. Ia memelukku.

“Kamu sabar, ya.”

“Doakan, Len. Aku mau ke rumah Pak RT dulu. Yuk kamu ikut.”

“Ayok.” Setelah bertanya kepada warga, ternyata rumah Pak RT tidak terlalu jauh.

Beruntung keluarga Pak RT belum tidur.

Aku berusaha menceritakan kronologi permasalahan sebaik mungkin.

Menunjukkan KTP, kartu keluarga, juga surat nikah asli kepadanya.

Alhamdulillah Pak RT menyambut baik dan kooperatif sekali. Beliau yang akhirnya segera mengontak warga dan beberapa orang yang dipercaya menjaga keamanan kampung.

“Baik, Mbak. Kalau memang demikian kondisinya. Kami akan coba bantu. Saya memang pernah menerima kedatangan Pak Hangga, beliau bertandang ke sini. Katanya penghuni baru rumah itu. Lalu menyerahkan foto kopian KTP yang saya pegang ini. Kartu keluarga akan menyusul. Waktu itu beliau sendirian. dan bilang sudah menikah, namun anak istrinya di Bandung. Harusnya kalau sekarang di rumah itu ada wanita, laporan dulu ke sini. Jangan main di bawa masuk begitu.”

“Ya kelihatannya beliau nggak akan berani melapor ke Bapak. Karena istri sahnya kan Bu Karina ini, Pak. Dan saya jamin seandainya mereka bilang sudah menikah. Pernikahan mereka nggak sah baik secara negara maupun secara agama. karena si perempuan ini masih punya Ayah kandung yang hidup tapi menikah dengan wali hakim bayaran. Jadi nggak sah, Pak!” ujar Alena. Ia justru terlihat emosi.

Pak RT menarik napas nampak manggut-manggut.

“Ya juga, sich. Kalau dilihat dari KK dan surat nikah Bu Karin. Ini sah, dan jelas ini foto Pak Hangga.”

“Hmm, begitu, ya. Ya monggo diminum dulu hidangannya. Sembari katanya menunggu orang tua datang.”

“Saya barusan patroli lewat rumah itu, Pak. Pas kebetulan dia baru sampai, keluar dari mobil. Jadi bisa lihat perempuannya tinggi sedeng nggak pake jilbab, ya lebih muda dari Ibu Karin inilah. Saya pikir ya istrinya dan dan saya pikir sudah lapor ke Bapak. Barusan saya keliling lagi, balik lagi, lewat depan rumahnya sudah gelap dan terkunci rapat,” ujar Pak Trisno, satpam komplek ini.

Hingga pukul sebelas malam, ternyata Papa dan Papa mertua belum juga datang. Kelihatannya jalanan macet.

Reza dan Handi memilih untuk pergi ke warung kopi yang berada di sekitar perumahan warga. Aku beruntung banyak di bantu oleh Reza. Reza adalah anak buahku di perusahaan lama. Dia sering kerja sampingan untuk jadi kurir, dan aku sering meminta bantuannya, bahkan sering aku minta mengerjakan apa pun ia tak menolak.

Saat sudah menikah, aku jarang mengontaknya, meski sesekali masih aku mintain tolong.

Aku meminta Yanto, supirku untuk datang kemari, karena aku pergi menggunakan mobil alena. Biar nanti Alena bisa langsung pulang membawa mobilnya yang kupinjam.

Pukul dua belas malam, Papa dan Papa mertua sampai, bersamaan dengan Yanto yang ternyata datang bersama Anton.

Anton? Ah, ya Anton, aku baru ingat, bukankah Anton kekasih gelap Inem. Entah akan bagaimana nanti reaksinya melihat Inem berdua di sebuah rumah dengan lelaki lain. Kurasa saat ini ia belum tahu apa yang akan terjadi. Ia datang hanya menemani Yanto, supirku.

Mama memelukku erat. “Karin ... Kamu kok kuat amat, Nak. Setegar ini kamu. Di dalam mobil Mama ngobrol nggak habis-habis sama Papa kamu, Ibu mertua kamu.”

Ya Allah, ternyata Mama mertua juga

datang.

“Sudah sekarang nggak perlu lama-lama, rencana kita apa? Mau menemui anak itu ‘kan?”

Kulihat wajah Papa mertuaku berkata lantang dengan wajah sangat merah, mungkin sedari tadi menahan amarah. Kurasa beliau memang teramata kecewa. Terlihat dari reaksinya ketika menerim telwponku tadi.

Mama mertua baru keluar dari mobil, aku menyambutnya, mencium tangannya.

“di mana mereka, Nak. Ayo. Mama ngerti kamu nggak enak mau temui mereka sendiri. Kamu sudah benar ajak Mama dan Papa, juga ijin Pak RT.” Mama mertua mengelus-elus punggungku.

“Kamu tahu, Karin. Papa kamu sangat marah mendengar cerita dari kamu tadi. Dia sangat menyayangi kamu, dan nggak rela Hangga memperlakukan kamu seperti itu. Kamu tahu kan kalo Papa itu sangat setia sama istri. Dia nggak mengira Hangga akan bertindak konyol seperti itu.”

Aku hanya menatap Mama dengan tatapan kalut.

Semoga aku tak salah bertindak. Dadaku tiba-tiba bergemuruh melihat orang-orang yang aku sayang hadir di sini. Mereka juga tampak tak terima setelah mengetahui keadaanku.

Baru hendak jalan beberapa langkah. Ternyata berdatangan mobil lainnya. Itu kakak-kakak lelakiku dan istri-istrinya juga kakak-kakak dan adik-adik iparku. Kenapa mereka sekompak ini? siapa yang memberi tahu? Apakah Mas Fatih?

Melihat keadaan keluargaku yang datang seramai ini. Aku cuma pasrah. Mungkin memang semesta menginginkan begini. Silahkan saja. Toh aku juga menantikan saat-saat ini.

Bagus jsutru kalau semua keluarga tahu dan melihat langsung bagaimana kebejatan Mas Hangga. Suami yang sangat aku pertahankan dan aku cintai. Suami flamboyant yang mungkin memang sudah banyak dekat dengan wanita lain selain Inem. Aku tak tahu.

Dan hari ini adalah puncaknya. Puncak dari kemarahanku.

Di saat banyak orang tak perduli akan kesusahan saudara kandungnya. aku justru memiliki keluarga yang sebegitu perdulinya dengan saudaranya. Terlebih aku anak bungsu. Jadi tak apa kalau semua kelaurgaku juga Mas Hangga tahu.

Dengan begini, semoga Mas Hangga sadar sesadar-sadarnya bahwa tindakannya amat keliru. Tapi Maaf, Mas. Kisah kita sudah berakhir.

Kakak-kakakku satu-satu menemuiku, mengobrol meminta penjelasan lebih akurat dariku. Rupanya pergerakan mereka diinisiatifi dan dikomandoi kak Almira, kakakku nomor satu.

Terakhir, datang satu mobil berisi lima orang polisi. Itu Mas Fatih.

“Ya, ayok jalan sekarang,” ucap kakakku yang lain usai berbicara denganku.

Tanpa dikomando, Papa mertua langsung melangkah dengan gagah di barisan paling depan bersama satpam komplek yang memberi arahan.

Sesampainya di pintu itu. Aku tak mengira action Papa mertua secepat kilat.

Papa mertua yang bertubuh tinggi besar dan masih gagah itu langsung menendang pintu depan!

DEBUM! GUBRAAK!!!


profile-picture
profile-picture
profile-picture
ni12345 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
16-01-2022 06:02
Bab 11

MEREKA TANPA SEHELAI BENANG PUN



“Ya, ayok jalan sekarang,” ucap kakakku yang lain usai berbicara denganku.

Tanpa dikomando, Papa mertua langsung melangkah dengan gagah di barisan paling depan bersama satpam komplek yang memberi arahan.

Sesampainya di pintu itu. Aku tak mengira action Papa mertua secepat kilat.

Papa mertua yang bertubuh tinggi besar dan masih gagah itu langsung menendang pintu depan!

DEBUM! GUBRAAK!!!

Sekali lagi lagi.

Debum Gubrak!! terdengar jeritan dari arah dalam.

“Hangga! buka pintu!!!”

Papa Hans berteriak.

“Buka pintunya atau saya dobrak paksa!”

Ternyata pintu begitu kokoh sehingga dua kali tendangan Papa tak membuat pintu itu terdobrak.

Sekujur tubuhku sudah merinding menyaksikan keadaan ini. aku sangat kenal watak Papa Hans, jika ia marah. Maka ia benar-benar marah. Terlebih predikat mantan preman Blok M ketika muda dulu ada pada dirinya. Tapi Papa sangat setia dengan pasangan, inilah yang membuatnya begitu marah dengan kelakuan anaknya.

Ternyata pintu belum juga dibuka, mungkin mereka di dalam sedang kelabakan atau malah sudah tanpa busana sehingga sibuk memakai pakaian. Entahlah.

Papa mengambil ancang-ancang lagi. Mundur tiga langkah lalu melompat tinggi menendang pintu itu lagi.

Debum! Gubbbrrraaakkkkk!

Kali ini pintu terbuka. Kejadian yang sangat cepat. Papa langsung merangsek masuk.

Terdengar teriakan lagi dari dalam, juga tangisan wanita setan itu ketakutan.

Mendengar ada kegaduhan warga berbondong-bondong keluar rumah.

Aku berlari ikut masuk ke dalam di ikuti Mama dan Mama mertua.

Dan apa yang aku lihat?

Dua orang anak manusia sedang tanpa busana!!! BAGUS! BERHASIL! Maaf kalau aku jahat kali ini, Mas!

Mama Inda (Mama mertuaku) juga Mamaku menjerit begitu melihat pemandangan di depannya. Mereka segera menutup wajah dengan tangan dan berbalik keluar kamar.

Aku yang masih bertahan dan memandangi mereka dengan jijik.

Papa menendang tubuh Mas Hangga tanpa ampun. Menampari juga menonjok wajahnya. Mas Hangga yang celananya masih belum terpasang sempurna (baru nyangkut di satu kaki), mungkin karena terburu didobrak tadi, hanya mampu menutupi kemaluan sembari meringis.

“Ampun, Pa,” ucapnya berkali-kali.

Semua kakak-kakakku sudah berkumpul di ruangan ini. Mereka membiarkan apa yang terjadi. Membiarkan Papa mertua menghajar anaknya sendiri. Bahkan ketika polisi akan bertindak, Mas Fatih melarang. Memberi kode untuk jangan melakukan apa pun.

Hampir semua kakakku yang wanita memvideokan kejadian itu. Diluar rumah terdengar riuh rendah warga yang sudah tak dapat terbendung ramainya.

Kutatap tajam secara bergantian dua wajah mesum di depanku. Lelaki biadab itu terlihat menjijikkan saat ini. Telanjang, tak berdaya, memohon-mohon, acak-acakan.

Begitu juga dengan perempuan itu yang sedang berusaha memakai celana dalam dan bra membelakangi kami. Sama sekali tak ada harga dirinya.

Air mataku jatuh satu-satu, tapi aku tak merasa menangis, aku merasa puas karena dendamku terbalaskan.

Setelah puas menghantam anaknya berkali-kali, Papa berteriak agar Mas Hangga memakai celana.

“Cepat pakai celana kamu!”

Mas Hangga langsung terburu-buru menarik celananya hingga menutupi area vitalnya itu.

Setelah itu, ditariknya lelaki ke ruang tamu, lalu dilempar begitu saja ke lantai. Di pintu nampak sesak dan berjejal warga ingin melihat. Suara teriakan begitu riuh ditujukan kepada Mas hangga begitu sosoknya terlihat oleh warga.

“HHUUUUU ...!! Bakar aja, bakarrr…!”

“Rajam …!”

“Cari bensin …!”

Polisi langsung menghalau dan memecah kerumunan.

Terdengar suara Pak RT, memitna warga untuk tenang.

Pipinya Mas Hangga sudah memerah penuh darah. Mungkin efek ditendang dengan dengkul oleh Papa barusan.

Di ruang tamu, Papa Hans masih tak henti melampiaskan amarahnya. Dihajar tanpa ampun lelaki itu.

“Keterlaluan kamu Hangga! Berzina kamu!” teriaknya sambil terus meninju.

“Pa, ampun, Pa. Tapi tolong dengarkan penjelasan Hangga dulu, Pa.”

Mas Hangga memohon di antara pukulan demi pukulan. Aku menyaksikan ini seperti sebuah pertandingan di arena tinju, di mana lawan sudah tak mampu bertahan apalagi melawan. Sayangnya Sang juara masih terus tanpa henti menghajar dan menghajar.

“Nggak perlu penjelasan!! Bagiku lebih baik kamu mati, daripada harus jadi pengkhianat, perusak! Nggak apa-apa aku terpenjara. Ini lebih baik untuk harga diriku!” Papa terengah-engah berkata sambil terus menendangi anak paling tampanya itu.

Akhirnya Mas Hangga hanya pasrah dibombardir dengan pukulan-pukulan sadis Papa.

Ia tak lagi berusaha mengelak apalagi berkata-kata. Hanya diam dan diam menerima bogem demi bogem.

Setelah dirasa anaknya itu tak berdaya. Papa menghentikan serangan.

“Apa? Kamu mau melakukan pembelaan apa? Kamu tahu kamu sudah mencoreng nama Papa, menghinakan martabat Papa!!”

“Maaf, Pa. Maafin Hangga!” Mas Hangga terkulai di bawah sembari menyedakepkan tangan memohon. Darah mengucur deras dari hidung dan bibirnya.

Semua kakak laki-lakiku hanya berdiri menyilangkan tangan di hadapan aksi ini. Mereka sebenarnya gemas dan juga ingin ikut menghajar. Tapi mereka membiarkan Papa Hans sepuasnya yang melakukan itu.

Sementara dari dalam kamar, terdengar teriakan demi teriakan Inem. Inem rambutnya sudah ditarik dan wajahnya ditampari oleh kakak iparku yang paling jutek, Kak Rani.

“Kamu sadar diri dong, pembantu itu ya pembantu, jangan ngarep jadi nyonnyia besar!”

Plak!!

“Jangan sok kecantikan ngegoda Bos kamu!”

Plak!

“Kamu tahu nyonya kamu itu kan baik-baiknya orang, kok biadab!”

Plak!

“Kamu punya rumah bagus di kampung, Bapak,mamak kamu sakit, adek kamu sekolah, itu siapa yang bantu!”

Plak!

Inem hanya mengaduh-aduh, menjerit-jerit dan meminta maaf. Beruntung tubuhnya sudah ber-bra dan celana dalam. Tak dibiarkan telanjang.

Sementara kakak-kakak perempuanku yang lainnya tak kalah ramai mencaci maki dan menunjuk-nunjuk wajah cantik tapi busuk itu. Mama menasehati Inem panjang lebar juga dengan menunjuk-nunjuk wajah itu, sesekali mendongakkan wajahnya dengan menoyor jidatnya kasar. Mama sangat gemas!

Mama mertua tak kalah geram, melakukan aksi yang tak jauh beda dengan Mama.

“Oh,Inem, Inem. Kamu kok kenemenen ngelunjaknya. Lha suaminya nyonya kamu kok kamu embad. Aku yo ora rela kamu jadi istri anakku Hangga! Gilo aku!”

“Bukan aku yang mau kok, Bu. Maafff ….” jawabnya merunduk-runduk.

“Bukan kamu yang mau gimana?! Tapi kamu niat banget, kok. Setelah tak pikir-pikir, kamu ini ya mbetik, ncen!”

“Ya, tapi aku ini sudah menikah dengan Mas Hangga, Bu. Kenapa aku diperlakukan seperti ini??” Inem tergugu, air matanya membuncah deras.

“Helahh! alasan kamu! kamu ini bodoh apa pura-pura bodoh. Apa pernikahan kamu sah kalo nikah sembunyi-sembunyi tanpa ada orang tua kamu satupun yang datang?! Ncen nakal kamu!”

Anton tiba-tiba merangsek masuk dan ada di depan Inem.

“Laknatullah!” teriak Anton di hadapan Inem.

“Sundal kamu, pelacur kamu! Aku kira kamu perempuan baik-baik, taunya begini kelakuan kamu. Aku pikir kamu serius mau menikah sama aku. Rupanya kamu udah biasa main-main!” ucapnya lagi dengan lantang.

Inem menunduk di hadapan Anton.

Kejadin terus berlangsung. Dan aku menikmati keadaan ini. Aku hanya diam mematung menatap mereka. Air mata terus meleleh dalam diamku entah atas rasa apa. Mama Inda menepuk-nepuk pundakku menguatkan.

Giliran Papaku yang duduk di hadapan Mas Hangga.

“Bangkit, duduk kamu!” perintahnya kepada Mas Hangga yang masih tidur terkulai di lantai menahan sakit. Tubuhnya tadi beberapa kali di injak oleh dua kakak lelakiku.

Mas Hangga bangkit dan duduk.

“Ampun, Pa. Maafkan Hangga.”

Ia langsung menangis di hadapan Papa sembari sujud-sujud. Mungkin yang terasa di benaknya adalah perasaan bersalah karena telah mengkhianati janjinya sendiri. Janji kepada Papa di awal pernikahanku bahwa ia akan selalu menjagaku dalam suka duka, tak akan meninggalkan apalagi mengkhianatiku, dan hari ini, di hadapan Papa jelas ia merasa bersalah dan malu.

Aku tahu kok, Mas Hangga sadar bahwa ia tidak benar-benar menikahi Inem pada awalnya. Mas Hangga tahu dia hanya membodoh-bodohi Inem demi mendapatkan kepuasan batin yang ia jarang dapatkan dariku yang sibuk ke luar kota, meski mungkin pada akhirnya jatuh cinta lalu ingin menseriusi Inem.

Tapi kamu kurang perhitungan Mas, tinggal serumah begini tanpa menikah ulang dan mengundang baik-baik orang tua Inem. Jelas warga akan marah karena budaya Indonesia sangat mempercayai jika ada warga sekitar yang tinggal kumpul kebo, maka bala musibah akan datang menghampiri yang diderita orang sekampung.

“Kamu sadar apa yang kamu lakukan, Hangga?” tanya Papa.

“Ia, Pa. Sadar, Pa. Maafin Hangga, Pa. Hangga nggak mengira kejadiannya akan seperti ini.”

Ia masih menangis dan memohon maaf pada Papa.

Di detik ini, aku sudah tak bisa menahan buncahan air mata. Benakku dijejali kenangan masa lalu. Terbayang kilasan-kilasan peristiwa di mana ia bersumpah akan sehidup semati denganku. Pakaian pengantin itu, terkemas gagah di tubuhnya, lantas ia bersujud memohon restu kepada Papa dan Mama. Lalu tangan kekar itu, menyambut tangan dan mencium jari-jemariku dengan lembut.

Terbayang hari pertama Sefina lahir, wajah Mas Hangga sumringah bahagia. Terbayang kebersamaan Mas Hangga dan anak-anak bermain di Kidzania.

Tangisku tambah menderas membayangkan betapa anak-anak sangat mencintai Mas Hangga begitu pula Mas Hangga.

Sampai tiba-tiba di ruangan ini terdengar pekikan. kubalikkan tubuh.

Inem!

Inem sudah memegang pisau kecil dan bersiap menyayat nadinya!

Aku terkesiap.





Bab 12

Arak Pasangan Mesum Itu!



“Kamu sadar apa yang kamu lakukan, Hangga?” tanya Papa.

“Ia, Pa. Sadar, Pa. Maafin Hangga, Pa. Hangga nggak mengira kejadiannya akan seperti ini.”

Ia masih menangis dan memohon maaf pada Papa.

Di detik ini, aku sudah tak bisa menahan buncahan air mata. Benakku dijejali kenangan masa lalu. Terbayang kilasan-kilasan peristiwa di mana ia bersumpah akan sehidup semati denganku. Pakaian pengantin itu, terkemas gagah di tubuhnya, lantas ia bersujud memohon restu kepada Papa dan Mama. Lalu tangan kekar itu, menyambut tangan dan mencium jari-jemariku dengan lembut.

Terbayang hari pertama Sefina lahir, wajah Mas Hangga sumringah bahagia. Terbayang kebersamaan Mas Hangga dan anak-anak bermain di Kidzania.

Tangisku tambah menderas membayangkan betapa anak-anak sangat mencintai Mas Hangga begitu pula Mas Hangga.

Sampai tiba-tiba di ruangan ini terdengar pekikan. kubalikkan tubuh.

Inem!

Inem sudah memegang pisau kecil dan bersiap menyayat nadinya!

Aku terkesiap.

“Kalau kalian nggak keluar dari rumah ini, aku akan sayat nadiku ini!!!”

Wajahnya pucat dan gigi geligi Inem bergemelutuk menandakan emosi dan kegemasan menggelegak dari dalam jiwanya. Napasnya naik dan turun dengan cepat dan tatapannya sinis. Sesekali ia mengacungkan pisau kepada siapa pun yang coba mendekat, lalu ia tempelkan pisau tajam itu tepat di titik nadinya kembali.

Semuanya mundur menghindari Inem. Seketika mendadak suasana berubah mencekam. Suara yang tadi riuh rendah tiba-tiba hening.

“Inem, istighfar kamu!” Bentakku.

“Kamu yang istighfar, Bu. Kamu yang merencanakan jebakan ini ‘kan? Dasar busuk!”

Kurang ajar dia bilang aku busuk! Emosiku seketika naik, ingin kuganyang wajahnya saat ini juga. Aku maju lalu dia mengacungkan pisaunya kembali. Seseorang menahan tubuhku lalu menarik mundur.

“Tenang dulu,” ucapnya.

“Cepat tinggalkan tempat ini atau aku akan nekat!”

Warga yang melihat dari pintu juga jendela kamar yang sudah di buka sontak menggerutu saling bergumam.

Tapi yang di dalam ruangan tak urung segera pergi meninggalkan tempat.

Apa maunya perempuan ini?

Akhirnya aku memilih mundur. Kakak-kakak lelakiku saling memberi kode. Kelihatannya mereka sedang bekerja sama menggagalkan usaha Inem.

Di dalam ruangan sendirian. Inem memakai pakaiannya sesegera mungkin. Lalu dengan mata nyalang mengacungkan pisau ke segala penjuru kembali. Ia mengambil tas dan menyelempangkannya. Ouw, kelihatannya ia akan kabur. Cerdas kamu, Nem!

Ternyata seorang Tusarinem tidak selugu yang aku duga. Ia membuka kunci pintu belakang rumah.

“Jangan ada yang di belakang pintu!” teriaknya.

Dia curiga ada orang-orang yang sudah siap menyigapnya dari balik pintu.

Namun dari berbagai sudut, pergerakannya terus di awasi oleh banyak mata. Berusaha mencari kelengahan Inem.

Sekali lagi Inem yang sedang tertekan itu matanya menyorot ke setiap titik, khawatir akan ada orang yang datang menyerang atau menangkapnya.

Lalu dengan sigap ia membuka kunci pintu belakang. Begitu pintu terbuka, lekas ia mengacungkan pisau itu lagi, kemudian sekejap menaruh pisau itu pada nadi tangannya lagi. Lalu ia maju lagi sembari mengacungkan pisau, beberapa warga mundur, secepat kilat ia menyambar anak kecil berusia tiga tahun di dekatnya.

Suara pekikan hadir, rupanya suara sang Ibu anak kecil itu yang terkejut anaknya disandera Inem.

“Ambilkan satu motor untuk mengantarku keluar dari sini atau aku akan bunuh anak ini.” Inem menyeret dan menaruh pisau itu di leher anak kecil itu. Sang bocah menangis dan berontak tapi tak kuasa melepaskan diri dari cekalan Inem.

Secepat kilat salah satu warga yang bermotor hadir di hadapan Inem. Inem menaikan anak kecil itu ke motor dengan tetap menaruh pisau di leher anak tersebut.

Pada saat matanya mengarah ke pijakan kaki motor besar itu.

Secepat kilat salah satu polisi menendang tangan Inem. Pisau di tangannya terlempar jauh.

Tubuhnya langsung di bekuk salah seorang polisi lainnya.

“Bor-gol, bor-gol, bor-gol, bor-gol,” warga yang marah melihat kejadian Inem menyandera anak kecil beramai-ramai kompak minta borgol.

Akhirnya karena dianggap membahayakan, tangan Inem diborgol/

Setelah tubuh itu di borgol, warga berteriak lagi.

“A-rak, A-rak, A-rak, A-rak.” Warga meminta Inem dan Mas Hangga untuk di arak keliling kampung.

“Kami tidak terima ada warga kami yang berbuat mesum di lingkungan kami. Selama tinggal di kampung ini, tak ada warga yang berani berlaku nista begini, jadi kami tidak terima, Pak.” ucap salah seorang warga lantang.

“Iya, kami tidak terima, pasangan mesum ini harus di usir dari kampung kita!” teriak yang lain tak kalah lantang.

“Bakarrr!”

“Penjarakan!”

“Tahan!”

“Arakkkkk!”

“Ya, arakkk!”

Warga kompak menyatakan minta mengarak pasangan mesum. Warga yang berkerumun mulai marah lalu satu sama lain saling berteriak menyuarakan ketidakterimaan.

“A-rak, A-rak, A-rak, A-rak.”

“Bakarrr!”

“Penjarakan!”

“Adili!”

Suara-suara menjadi riuh.

“Selama ini kampung kami bersih, Pak. Tidak ada yang seperti ini. ini harus ditindak tegas!”

“Kami tidak terima kampung kami kotor, tidak terima,” sahut warga lainnya disambut dengan koor “sepakat,” oleh warga lainnya dan diaminin semua warga yang sudah berdesak-desakan.

“Ya Allah, Allohu akbar.” Aku ngeri membayangkan amukan warga.

Kurasakan suasana yang mencekam. Berduyun penduduk terus berdatangan tak terbendung. Dari mulut satu ke mulut yang lain saling menyulut emosi dan kemarahan, tak terima ada warga yang berbuat asusila.

Para penduduk kampung yang beringas memprotes, meminta pasangan mesum di arak di bawa ke balai desa.

“A-rak saja, Pak. Kami, warga di sini sudah sepakat untuk mengarak pasangan mesum ini. Kami tidak terima kampung kami dikotori oleh pezina. Pasangan selingkuh akan kami enyahkan dari kampung kami, Allohu Akbar!” ucap salah seorang yang sepertinya perwakilan warga dengan lantangnya.

Au bergidik, melihat kemarahan warga, tak mengira kondisinya akan semencekam ini.

Mas Hangga tiba-tiba sudah berdiri diluar ditarik beberapa warga. Ia yang bertelanjang dada nampak pasrah dengan mengangkat kedua tangannya.

“Bapak yang punya rumah ini, Pak? Kenapa Bapak membawa pelacur ke dalam rumah?!” ucap warga yang marah.

Wajah Mas Hangga sudah pucat masai. Percuma ia menjelaskan kepada warga yang marah. Bisa-bisa dianggap membela diri dan makin diamuk warga. Terlebih suara-suara disekitarnya banyak yang berteriak, “Bakar, bakar, bakar saja.”

Aku ingin hadir ke tengah dan berbicara agar tindakan warga tidak seekstrim ini. Namun rasanya mustahil. Akhirnya aku hanya meminta kepada salah satu polisi untuk membantu agar suasana tidak terlalu panas.

“Tenang, Bapak-bapak. Kepada semua warga, kami mohon tenang. Pasangan asusila akan kami tindak. Tapi biarkan kami yang akan urus. Sekarang semuanya bubar!” kata Pak RT meyakinkan warga.

“Oh, tidak bisa, Pak. Sekarang ini sudah menjadi urusan kami. Kami harus tahu prosesnya. Kami kenal dengan Bapak yang nempati rumah ini. Bapak ini warga sini, sering terlihat mondar-mandir ke rumah ini. Jadi kami tidak terima jika dia berbuat onar di sini. Kami cuma minta di bawa ke balai desa untuk disidang oleh perwakilan warga, aparat dan Lurah kami. Sekaligus sebagai contoh untuk warga lain agar tidak ada lagi yang berani berbuat asusila sembarangan di kampung kami!”

“Sepakat.”

“Setuju.”

“Arak, bawa ke aula kelurahan!”

“Atau bakarrrr!” teriak warga masih ramai.

“Sepakat.” sambut yang lain.

“Ya, tapi ini sudah jam tiga, pagi. Bagaimana kalau besok, menunggu pagi dan menunggu petugas kelurahan.”

“Ya, tapi kami akan bawa sekarang. Sebentar lagi juga sudah pagi,” ujar salah satu wakil warga dengan mata sudah semerah darah. Sedari tadi kelihatannya dia yang terlihat paling emosi.

Kulihat Papa Hans yang sudah duduk terkulai dan memasrahkan semuanya kepada warga. Ia tak perduli lagi anaknya akan di apa-apakan warga. Hanya saja aku melihat tangisan memilukan dari Mama Inda. Aku paham, bagaimanapun bencinya seorang ibu pada anaknya, ia tak akan tega membiarkan anaknya diperlakukan sedemikian rupa. Aku datang memeluk berusaha menenangkan.

“Tenang, Ma. Mas Fatih sudah memanggil teman-teman polisi lainnya untuk datang ke sini. Semoga suasananya semakin kondusif.”

Baru selesai aku mengucapkan itu. Tiba-tiba warga melempar satu plastik bensin ke tubuh Mas Hangga!

Ya Allah ya Rabbi! Dia menyalakan korek api, aku menutup mata sekencangnya tak sanggup menyaksikan apa yang akan terjadi!


***

Agan, Sista, kelanjutannya bisa Agan dan Sista baca di Play Store, cari saja judul TEST PACK ASISTEN RUMAH TANGGAKU
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ni12345 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
16-01-2022 09:12
Jangan2 suaminya FR di thread sebelah, have fun with ART
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
16-01-2022 11:55
Kisah Arnold
0 0
0
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
16-01-2022 14:39
Nitip selimut kali aja llanjut
0 0
0
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
16-01-2022 18:00
waktu membaca bab 3 malah sambil terbayang lagu ku menangis channel ikan terbang
0 0
0
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
16-01-2022 19:43
Masih di Pantau
0 0
0
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
16-01-2022 22:23
seru nih, gelar tikar.

emoticon-Angkat Beer
0 0
0
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
16-01-2022 22:31
Selesai maraton,sapa tau lanjut lagi
0 0
0
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
17-01-2022 09:40
Patau
0 0
0
Test Pack ASISTEN RUMAH TANGGAKU
17-01-2022 11:18
cerita yg bagus
0 0
0
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Heart to Heart
teori-masa-depan
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia