Story
Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
12
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61d046b732924c1ad86cbec2/duda-aja-sombong
"Apa Om Saga tak sadar, Anda terlalu pelit untuk ukuran orang kaya?!" Nara mencebik sebal. "Kamu lupa sesuatu?" Saga mengangkat satu alisnya. "Apa?!" "Uang lima juta Dollar pertamamu hanya akan kamu dapatkan setelah kamu tidur denganku!" Saga menyeringai. Kontan saja hal itu membuat Nara tergelak. "A- apa?!!"
Lapor Hansip
01-01-2022 19:19

DUDA AJA SOMBONG

"Apa Om Saga tak sadar, Anda terlalu pelit untuk ukuran orang kaya?!" Nara mencebik sebal.


"Kamu lupa sesuatu?" Saga mengangkat satu alisnya.

"Apa?!"

"Uang lima juta Dollar pertamamu hanya akan kamu dapatkan setelah kamu tidur denganku!" Saga menyeringai.

Kontan saja hal itu membuat Nara tergelak. "A- apa?!!"


profile-picture
profile-picture
phyu.03 dan bukhorigan memberi reputasi
2
Masuk untuk memberikan balasan
stories-from-the-heart
Stories from the Heart
18.1K Anggota • 28.1K Threads
DUDA AJA SOMBONG
01-01-2022 19:19


DIJADIKAN TUMBAL BISNIS PAPA



[Pria berusia 38 tahun, seorang CEO perusahaan besar, duda ting-ting, wajah blesteran dengan kegantengan yang hakiki. Pria normal dengan perut sixpack. Lingkar dada 130 CM. Nafkah bulanan pertama buat istri, 5 juta US Dollar.

Mencari Calon Istri. Kriteria : Muda (di bawah 25 tahun), good looking, selebgram min. Follower 50K. Boleh cerewet asal pengertian. Dan paling penting setia.]

Sebenernya dia cari calon istri atau cari daleman buat pansos? Pakai sebutin lingkar dada.

Dasar gila!

Gambaran tersebut tertulis di sebuah akun bernama Sagara Biru. Seorang CEO perusahaan Sagara Group.

"Hahaha." Aku tertawa keras setiap kali ingat SS yang viral di berbagai aplikasi sosmed itu.

Jelas postingan viral karena pengunggahnya adalah seorang CEO dari perusahaan terbesar di kota kami. Walau pun belakangan aku tahu pemosting bukan dia sendiri melainkan adminnya dan postingan itu sempat dihapus, tapi kecepatan tangan netizen meng-SS-nya membuat berita menyebar ke segala penjuru.

Dan lebih gila lagi, akulah yang jadi kandidat terkuatnya. Bukan keinginanku, tapi Papa. Yah, dia dalang dari semua kemalanganku.

"Papa tega?! Masa anak sendiri di jual ke Aki-aki!" protesku kala itu.

"Huss. Pelankan suaramu, Nara!" bisik Papa menekan, karena hari itu Om Sagara dan Tuan Banyu -Papinya Om Sagara sekaligus Bosnya Papa- ada ada di depan.

"Terserah mau nikah, atau Papa kirim ke Papua, tinggal sama nenekmu!"

"Ish udah segede ini masih diancam begitu?" Aku mencebik.

Papa tahu aku bisa saja kabur, tapi hal itu tak mungkin dilakukan oleh gadis polos dan baik-baik sepertiku.

"Terserah, tetap di Jakarta dengan menikah atau ke Papua. Lagian kamu udah terlalu tua untuk main terus sama temenmu. Sekarang waktunya jadi istri yang baik. Lihat Nana, teman satu semestermu, sudah hamil anak keduanya."

Papa mengatakan alasan yang sangat klise untuk diutarakan. Usiaku baru, 23 tahun. Masih muda dan ting-ting.

Dan ... pada akhirnya percuma juga mendebat orang tua itu, mengatakan sebagai pria matre, kapitalis yang tega menjual anak sendiri. Aku tetap harus menikah dengan seorang pria tua yang hampir seukuran dengannya. Om-om yang dingin, sombong dan banyak maunya.

Ah, lupakan alasan-alasan yang awalnya sulit kuterima itu. Karena mau tak mau, aku sendiri harus menenggelamkan diri di fase penerimaan.

Dan kabar baiknya setelah hubunganku dengan Om Sagara mulai terjalin ....

Followersku naik drastis. Hari di mana ku-umumkan tanggal pernikahan dan meminta doa mereka, jumlah follower Princess_Nara naik jadi 250K dari angka 150K, mengalahkan rivalku Mrs_Queen.

Hidupku juga bebas. Tak perlu tidur sekamar atau pun melayaninya. Kami hanya cukup tinggal serumah. Tampaknya pria memang tak normal, itu kenapa dia sendingin es pada semua wanita.

Langkahku terus terayun, sambil sesekali senyum pada pegawai Om Sagara. Pria yang kini menjadi suamiku.

Kutepuk bahu lebar pria yang membelakangiku. Sontak pria yang sering kuledek 'tua' itu pun berbalik, setelah menyerahkan sesuatu pada wanita berpakaian ketat seksi di depannya. Tak lama kulihat wanita itu pun bergegas menjauh.

"Minta duit!" Kutengadahkan tangan padanya.

Sudah lebih sebulan pernikahan kami, tapi pria itu belum memberikan uang lima juta Dollar yang dijanjikan. Untung saja endorse yang kuterima masih cukup untuk beli skincare. Namun, kali ini ada barang branded yang kuincar, dan gak boleh keduluan si Mak Lampir Mrs_Queen mengunggahnya.

Om-om yang tetap tampan meski usianya nyaris kepala empat itu mendesah panjang. Memang aku salah apa? Apa tiba-tiba jadi bebannya.

Diselipkan bopoin di kantong toxedonya.

Lalu tersenyum masam padaku, sambil geleng-geleng. Detik kemudian berjalan pergi, seolah tak memperdulikanku.

Aku memutar bola mata malas, kemudian terpaksa mengekornya.

"Om Duda! Sombong amat, sih!" teriakku di sela langkah. Tak peduli pada pegawainya di sekitar. Mereka tampaknya sudah terbiasa dengan pemandangan ini.

Mendengar itu, pria itu menghentikan langkah hingga kepala membentur punggung bidangnya yang terasa keras. Ah, orang ini makannya apa, sih?

Lalu berbalik menatapku yang mengusap kening. Rasanya sedikit sakit karena benturan tadi.

"Kamu siapa? Heh!" Saga tersenyum miring. Menyilang tangan di dada. Menatapku dengan tatapan innocent.

"Nggak kenal?! Aku selebgram, influenser dengan 250K follower!" ucapku angkuh.

"Aku juga Dewi penyelamatmu. Kalau gak ada aku, kamu cuma seorang duda dingin dan gak laku!"

Yah, itulah yang dikatakan Tuan Banyu, dan sekarang jadi Papi mertuaku. Tak ada wanita yang cocok mendampinginya, sampai akhirnya Papi Banyu memilihku. Anehnya Om-om 'tua' itu mau.

Sampai sekarang ini masih jadi misteri. Apa karena aku sangat cantik hingga dia tak bisa menahan auraku?

"Kalau gak ada aku kamu akan jadi gelandangan di terminal yang sepi karena PPKM!" balasnya dingin.

Sialan! Dia benar. Kenyataanya aku cuma Puteri seorang CEO anak perusahan papinya Om Saga.

Entah. Kenapa aku masih berpikir mereka itu memaksa papa nyerahin anaknya ini buat ditumbalin. Padahal kalau mau niat nolong, mah. Tinggal kasih pinjaman aja kan bisa?

Gak berperasaan emang!

"Untuk ukuran orang kaya, Om Saga itu sangat pelit!" keluhku. "Udah tua, sombong, pelit pula. Ckckck."

Aku geleng-geleng, mengekspresikan betapa menyebalkannya pria itu. Nggak ada bagus-bagusnya di mata wanita.

"Apa kamu tak membaca kontrak?"

"What?! Kontrak?" Seketika aku mendelik heran dan bingung sekaligus.

Apa pernikahan kami adalah pernikahan di atas kontrak? Yang artinya akan berlari dalam jangka waktu tertentu?

Namun, bukankah Papa sempat menasehatiku sebelum akad berlangsung, sambil menitik air mata pula, agar aku jadi istri yang baik meski suamiku tak sesuai harapan. Karena pernikahan itu akan berlangsung seumur hidup, yang artinya tak ada batas masanya.

"Kamu lupa tanda tangan sebuah berkas berbarengan dengan tanda tangan surat nikah kita?"

Otakku seperti tersengat listrik sebelum akhirnya ingat bahwa banyak yang aku tandatangani di hari pernikahan kami. Tapi kenapa tak satu orang pun, menyinggung tentang surat kontraknya. Bahkan Papa.

"Uang lima juta Dollar pertama akan kamu dapatkan setelah kamu tidur denganku." Pria itu menyeringai.

"Ap-apa?!" Mataku membeliak sempurna. Apa aku sepolos ini sampai tak tahu isi kontraknya?

0 0
0
DUDA AJA SOMBONG
01-01-2022 19:20
BIAR AKU AJARIN!



"Kamu mau uang?" Pria itu mengangkat satu sudut bibir.

"Aku akan memberikan lima juta pertamamu setelah kamu tidur denganku," sambungnya.

Sial. Apa dia menjebakku? Tamatlah kamu Nara, mahkotamu akan direnggut oleh om-om.

"Ap- apa?! Tidur sama Om?" Mataku melebar. Akhirnya pria yang kupikir dingin ini, mesum juga.

Padahal aku sudah mulai menikmati sikap dinginnya. Tak perlu melayani sebagai istri, atau merengek minta diperhatikan.

Aku bebas menjalani hidup, mengunggah kenarsisanku seperti biasa. Pamer barang-barang branded, makanan mewah dan sederet kehidupan yang menunjukkan bahwa Nara adalah seorang gadis berkelas.

Aku juga bebas pergi ke mana pun, hanya di waktu-waktu tertentu standby di rumah. Atau bersiap kalau sewaktu-waktu harus menemani Om Saga pesta dan bertemu klien yang banyak maunya.

Tadinya hidup yang kupikir akan seperti berada di neraka ternyata benar-benar seperti nereka, sebab pintu siksaan sudah dibuka oleh Om Saga untukku.

Yah, karena aku harus menuntaskan 'kemauannya' sebagai pria, berbanding terbalik dengan fakta sementara selama sebulan ini.

"Kamu pikir ada makan siang yang gratis? Don't forget. No free lunch, Miss Nara!" tekannya.

Tak ada yang bisa kulakukan selain melongo mendengar setiap ucapan Om Saga. Haiss. Ceroboh sekali, sih. Kenapa tak kuperiksa dulu, isi berkas-berkas itu?

"Maaf aku masih sibuk, hubungi aku saat sudah siap," ucapnya lagi tanpa beban, sambil mengangkat tangan kiri, dan melihat angka di arlojinya.

Detik kemudian langkahnya terayun meninggalkanku.

Aku masih terperangah. Kesal dan bingung sekaligus. Ah, malu juga. Seorang pria membahas hal begituan dengan Princess Nara.

"Huhhh." Aku mendesah panjang, memukul kepala. Merutuki kebodohan sendiri dalam hati.

Ish, jadi nyesel aku nikah sama dia!

Tapi kalau nggak nikah sama dia, gimana nasib Papaku, perusahaan dan nasibku? Uang endorse mana cukup buat menggerakkan roda perekonomian keluarga kami?

Mana saingan banyak. Followersku naiknya juga lamban. Coba aja kemarin nggak post foto Om Saga, mana bisa naik drastis kaya sekarang.

Yah, walau terlihat kaya, kenyataannya tanggungan Papa sangat banyak. Dia saja yang enggan bercerita.

Sampai aku tahu sendiri dari Bibi, pengasuhku sejak kecil, kalau ternyata Papa selama ini bangkrut.

Papa pasti dilema, tapi menyimpan harga dirinya dengan tak memberi tahuku alasan sebenarnya.

Satu-satunya jalan bangkit adalah menikahkanku dengan Om Sagara. Pria yang kebetulan baru resmi bercerai dengan mantan istrinya.

Aku tak tahu soal pernikahan lamanya, dan lagi kehidupan pria itu sangat misterius. Mereka menutup rapat dari media. Aku sendiri bahkan tak tahu siapa istrinya dulu. Yang aneh, kenapa sekarang keberadaanku sebagai istri keduanya di publish? Apa pria itu mau balas dendam dan memanas-manasi istrinya yang dulu?

Ah, apa pentingnya buatku memikirkan itu, sih? Sekarang yang penting bagaimana agar uang 5 juta dollar pindah ke rekeningku?

"Oya ...!" kujentikkan tangan sambil berseru senang.

Aku terpikirkan sesuatu. Katanya, Bibi mendengar saat menghidangkan kudapan untuk Papi Banyu yang mengobrol dengan Papa, pria itulah yang memintaku pada Papa jadi menantunya. Kalau begitu bukankah, seharusnya aku bisa meminta uang padanya?

Tapi ... apa itu gak memalukan? Baru sebulan jadi mantu, dan kami belum akrab, lalu ujug-ujug minta duit. Kesannya jadi Nara itu matre banget. Kasihan pula Papa pasti akan merasa malu. Hufftt ... ini membuatku frustasi.

Jadi jalan satu-satunya aku memang harus tidur dengan Om Saga?!

Apa aku siap?! Arghhhh ... aku benar-benar gila! Ini membuatku frustasi!

Kenapa suamiku setua dia!

Coba aja kalau masih kinyis-kinyis kaya Oppa Jongsuk pasti aku juga gak bakal mikir panjang mau tidur bareng apa nggak.

Mana dia duda.

Entah, kenapa bawaannya geli bayangin dia bekas orang?

Iya kalau istrinya dulu bisa merawat diri, higienis luar dalam. Kalau ternyata dia seorang yang doyan gonta-ganti pasangan gimana?

Orang kaya kan gaya hidupnya gitu. Yah, kecuali aku.

____________

Untuk menghilangkan stress, aku pun pergi ke Mall hanya dengan memegang uang 10 juta. Cukuplah buat jajan dan nongkrong sendiri. Tempat ini, selalu ramai, tapi tak ada yang mengenalku. Maybe.

Aku suka nongkrong walau sendiri sejak belum jadi selebgram. Berharap bisa menghilangkan kesepian dalam diri, karena meninggalnya Mama. Yah, walau kadang ritual ini sering terganggu oleh sepupu gresekku.

"Aku duduk sendiri, yah beginilah kalau punya suami orang sibuk, mana bisa berduaan?"

Menikmati kudapan yang sudah kupesan. Saat notif chat terdengar dari ponsel yang ada di saku, aku pun segera merogohnya.

Mataku menyipit. Pesan itu datang dari Mina. Dia adalah manager, sekaligus PJ di Princess Nara's Team.

Gadis berkulit hitam manis itu mengirimkan sebuah link.

Mataku menyipit melihatnya. Apa ini link postingan Mak Lampir Mrs. Queen yang julid ke aku? Dia pasti kepanasan saat tahu aku menikah dengan CEO terkaya ketiga di negeri ini.

Saat kuklik tautan, rupanya dugaanku benar. Ada yang kepanasan. Bukan dia tapi aku. Karena melihat sebuah tas Made Prancis bertengger manis di pelukannya. Aku memandanginya sambil menyedot es kopi latte dalam cup.

"Ya Tuhan, Mrs. Queen benar-benar kaya. Aku penasaran seperti apa Mr. Kingnya?"

"Ya Allah. Betapa cantiknya dia."

Nelangsa dan turut berduka cita ... hanya itu yang bisa kuucapkan untuk diri sendiri.

Saat menatapnya lama-lama semakin kesal rasanya, dan semakin aku menyadari sesuatu. Mataku gagal fokus kala melihat cincin yang melingkar di jari manis Mrs. Queen.

Kenapa mirip sekali dengan cincin yang sekarang tersemat di jariku. Cincin yang terbuat dari emas putih dan berlian di tengahnya. Aku sampai menaruh jariku di sisi ponsel.

"Mirip sekali. Bukan hanya mirip tapi sama persis. Aku pikir Om Saga akan membelikan sesuatu yang tidak ada duanya untuk istrinya. Ck dasar orang kaya pelit!"

"Tapi ...." Kepalaku sampai meneleng memikirkan ini.

"Kenapa sangat kebetulan, suami Mr. Queen memiliki selera yang sama dengan Om Saga. Apa jangan-jangan ...."

"Ah, mikir apa aku, sih?"

Kugelengkan kepala, menepis pikiran toxic dalam benak. Kusesap lagi minuman dalam cup.

"Dooor!" Seseorang tiba-tiba mengagetkanku.

"Eh, copot!" ceplosku. "Uhuk uhuk." Bukan hanya keceplosan hal memalukan. Aku bahkan tersedak.

"Kamu nggak papa?" Alvin tiba-tiba nongol di depanku menyerahkan sebuah tissue.

"Sorry sorry aku bercanda!"

"Kebiasaan, deh! Beraninya ngagetin istri Sultan! Gak takut didenda!" dengkusku sebal.

Ini anak emang kebiasaan. Mentang-mentang dekat, jadi suka ngerjain.

Pria itu tertawa. "Habis nggak jomblo nggak punya suami, sama aja! Masih suka ngelamun sendiri. Ntar kalo kesurupan gimana?"

"Bodo!" sahutku sebal. Kumanyunkan bibir lalu mencebik sambil melirik sinis sekilas ke arahnya. Ingin dia tahu kalau aku sedang sangat kesal.

Pemuda itu kemudian duduk di kursi di sampingku tanpa rasa bersalah. Lalu nyomot pizza yang kupesan khusus, dan menelannya begitu saja.

"Eh, siapa bilang boleh makan punyaku?" protesku padanya.

"Aku kan sayang sama kamu, mana rela lihat kamu sendirian gini? Ck. Emang ya, suamimu itu nggak bersyukur. Istrinya dibiarin lepas sendiri," ucapnya dengan mulut penuh.

"Ck. Udah deh. Mending kamu nikah dan berhenti rayu aku. Jangan sampe orang ngira, Princes Nara yang terhormat berselingkuh dari suaminya."

"Hahaha. Kamu mikirin itu?" Alvin terbahak. "Kenapa sekarang kamu sadar kalau aku ini juga seorang pria yang harus diperhitungkan?"

"Ckck." Aku hanya mendecak. Alvin mana bisa dilawan kalau sudah nyerocos.

"Ngemeng-ngemeng itu kenapa wajah kamu ditekuk-tekuk gitu?"

"Frustasi gue."

"Heleh. Udah kaya makin kaya. Masih frustasi juga."

"Iyalah gimana gak frustasi, suami minta tidur bareng."

"Apa?!" Alvin yang terkejut nyemburkan minuman ke wajahku.

"Huh. Sabar Nara sabar ....." Aku meniup kesal sambil meraih tisue.

Sialan bener ini anak. Sudah makanan di makan, minuman diminum, sekarang pakai nyemprot wajah cantikku.

"Sorry, sorry." Dilap tisue ke wajahku. Lalu ia mematung melihat kerudung depanku yang basah. Pria itu menatap agak lama, seperti tengah berpikir bagaimana mengelapnya.

"Kamu ngapain?" Kusilangkan tangan di dada. "Jangan kelewatan, oke!?"

Alvin nyengir. Entah, apa yang ada dalam otaknya. Yang jelas selama bertahun-tahun bersamaku, dia tak pernah kurang aja. Dan bahkan selalu menjagaku.

Pemuda tampan dengan manik mata kecoklatan itu kemudian kembali bicara. "Apa kamu frustasi karena belum pernah melakukannya?"

"Iya, itu salah satunya." Aku mendesah.

"Kalau begitu, biar aku yang ngajarin kamu, gimana?" bisiknya lagi lebih pelan dari sebelumnya.


0 0
0
DUDA AJA SOMBONG
01-01-2022 19:20
JALAN SATU-SATUNYA



"Sorry, sorry." Dilapkan tisue ke wajahku.

Lalu ia mematung melihat kerudung depanku yang basah. Pria itu menatap agak lama, seperti tengah berpikir bagaimana akan mengelapnya.

"Kamu ngapain?" Kusilangkan tangan di dada. "Jangan kelewatan, oke!?"

Alvin nyengir. Entah, apa yang ada dalam otaknya. Yang jelas selama bertahun-tahun bersamaku, dia tak pernah kurang ajar. Dan bahkan selalu menjagaku.

Yah, keakraban kami dimulai saat kami menginjak bangku SMA. Setelah bertahun-tahun renggang, walau saat kecil sering main bareng.

Sebelum SMA, kami belum tahu bagaimana cara bergaul dan menyapa satu dengan yang lain.

"Apa kamu frustasi karena belum pernah melakukannya?"

Pemuda tampan dengan manik mata kecoklatan itu kemudian kembali bicara. Kakek kami memang keturunan Belanda, mungkin itu alasan kami mendapat wajah blesteran ini.

"Iya, itu salah satunya." Aku mendesah.

"Kalau begitu, biar aku yang ngajarin kamu, gimana?" bisiknya lagi lebih pelan dari sebelumnya.

Aku sontak mendelik mendengar ucapan itu. "Kamu ngajarin aku? Gimana caranya? Kamu aja belum pernah begituan kan? Nikah juga belum?"

"Yah, tapi aku bisa ngajarin. Apa kalau kita tahu sesuatu, berarti sudah pernah melakukannya? Kaya kamu, deh. Tahu cara mencuri, apa kamu berarti sudah melakukannya."

"Udah, deh. Ntar ke mana-mana ngomongnya!" ucapku yang tak begitu peduli pada bualannya, sambil meraih gelas cup di tangan Alvin.

Lalu menyedot lagi isinya karena tiba-tiba ucapan pemuda itu membuatku haus. Enak saja. Aku yang beli, dia yang minum. Kebiasaan memang!

Tapi ... saat sedotan masuk ke mulut dan mulai meminumnya, tak ada yang masuk ke mulut apa lagi kerongkongan. Hiss dia meminum bahkan tak ada sisanya.

"Ishh. Alvin ...." tekanku menahan kesal.

Pria itu hanya tertawa tanpa rasa bersalah. "Gimana?"

"Hah?"

"Kita ke hotel?" tanyanya datar. Serius ini Alvin yang ngomong?

Mendengar kata hotel, aku langsung membekap mulutnya, sambil celingukan, takut jika dari banyak orang di sekitar kami ada yang memperhatikan.

"Tutup mulutmu, Al!"

Lagi, dia malah tertawa.

"Najis!!" dengkusku padanya sambil melotot tepat ke matanya.

"Hahaha." Dia tetap tertawa meski mulutnya sudah kututup.

______________

Setelah berpikir sepanjang jalan, dan akhirnya sampai rumah, keputusanku sudah bulat. Demi harga diri, dan ketenaran Princes Nara, aku akan tidur dengannya.

Jangan sampai follower Mrs. Queen kembali melampauiku lagi.

Ah, aku benar-benar terpaksa. Soalnya juga perlu gaji team dua bulan. Nggak enak aja, mereka udah kerja keras agar Princes Nara selalu terdepan. Bukan hal mudah membuat konten dan mempromosikannya.

Mereka juga yang tampil terdepan membalas semua komentar, saat aku dipuji atau pun dibully. Ck. Namanya juga netizen, nggak mungkin komennya manis semua. Kadang ada yang nulis koment lebih pedes dari seblak setan.

Untung aku dan team baik hati tidak memperkarakannya, lantaran tahu akun tersebut hanya cari perhatian. Takutnya, dia rakyat jelata yang frustasi karena PPKM, terus cari perhatian di lapakku. Kan kasihan.

"Huft. Ayo kita lakukan, Om!"

Aku pun berlari menuju lantai dua. Di mana kamarku dan kamar Om Saga berada. Kami tinggal di dua kamar terpisah. Sejak hari H pernikahan ini yang terjadi. Dan kami sama-sama menikmati.

Lalu malam ini ....

Entah, sebuah awal yang membuat hubungan kami dekat, atau ternyata akan biasa-biasa seperti sebelumnya.

Tapi kan di banner dia bilang, adalah seorang Duda ting-ting. Apa artinya dia masih perjaka?

"Oh ...." Aku menarik napas sambil menutup mulut.

Kalau iya gawat, pertama kali melakukan akan membuatnya terkesan dan dia akan menempel padaku. Begitu menurut artikel yang aku baca di internet.

Ah, bagaimana ini. Tiba-tiba tanganku menjadi dingin. Aku sangat gugup! Apa aku bisa melakukannya?
0 0
0
DUDA AJA SOMBONG
01-01-2022 19:21
OTEWE MALAM PERTAMA



Oke! Semangat Nara! Kamu pasti bisa.

Dia yang minta duluan, bukan aku. Lagi pula dia suamiku. Cukup sekali ini bukan. Yang penting uangku cair. Setelahnya, pasti hari-hari kami akan kembali seperti biasa.

Kutapaki satu demi satu lantai marmer di lantai dua. Menatap ke jam besar yang berada di ujung ruangan.

"Masih sore," gumamku.

Masih banyak waktu yang kupunya sampai Om Sombong itu datang. Banyak yang harus kupersiapkan di kamarku sendiri.

Kutarik napas dalam-dalam. Langkahku berhenti kala sampai di depa kamar Om Saga. Menatap ke pintu dengan ukiran klasik itu, ingatanku berputar pada kejadian sebulan lalu.

Jujur saja, ini mengagetkan. Karena di malam pertama, dia bilang tak akan pernah menyentuhku jika aku tak mau.

Malam itu, pria yang memakai tuxedo berwarna putih tulang, selaras warnanya dengan gaun pengantin yang kukenakan, datang menghampiriku yang mematung di depan anak-anak tangga.

"Kamu sedang apa? Tak lelah?" tanya Om Saga.

Pria itu bicara sambil mengurut lehernya. Sama sekali tak tampak bahwa dia menginginkanku malam itu. Pria yang kupikir akan melahapku setelah mengusir semua orang.

Padahal aku sendiri sangat gugup, sampai tak tahu apa yang mesti kuperbuat setelah ruang-ruang privasi kami sepi.

Ya ... usai akad, Om Saga memberi waktu dua jam agar tempat itu sudah selesai dibereskan. Tak boleh ada orang. Bahkan sampai sekarang, pelayan hanya boleh masuk di jam-jam tertentu saja.

Untung saja, rasa takutku pada suasana sepi hanya ketika berada di luar rumah. Bukan rumah yang memberiku keamanan. Karena sebelum menikah pun, aku sudah sering ke mari, tentu saja saat Om Saga tak ada di rumah.

Selama orang-orang membereskan pekerjaan, selama itu pula dia berbincang denganku dan keluarga yang datang. Suasana tampak canggung, kalau saja bukan Princess Nara yang jadi istrinya.

Ah, aku terbiasa menghadapi orang banyak. Tapi tidak dengan lelaki yang menganggapku seorang wanita di depanku waktu itu.

"Ehm. Aku lelah, Om. Yah lelah."

"Oh," sahutnya datar. "Kalau begitu tidurlah." Pria itu berjalan begitu saja melewatiku.

Mendahului menapaki anak-anak tangga. Langkahnya pelan tanpa beban. Hanya saja aku bisa melihat gurat lelah di wajah tampannya. Ah, kenapa aku mengatakannya tampan? Walau tampan tetap saja dia itu sudah tua!

"Om!" panggilku kala itu. Kuberanikan diri memanggilnya.

Pria itu berhenti. Membalik tubuh menatapku.

"Ya?" Dua alisnya yang tebal terangkat.

"Eum. Aku ...." Aku bingung harus bicara apa. Masa iya, mau ngomong soal anuan.

Ah, malu. Di mana harga diriku sebagai selebgram dengan follower 250K?

Om Saga malah tersenyum.

"Tidurlah, Bocah! Aku tak akan menyentuhmu jika kamu tak mau," ucapnya.

"Ap, apa?" Awalnya aku tak menyangka.

"Bibi sudah menyiapkan kamarmu di samping kamarku. Aku pikir kamu tak mau sekamar denganku. Tapi ... kalau kamu mau masuk ke sana, ya silakan saja."

"Apa?" Mataku melebar. Aku bingung dengan kata-katanya.

Tapi benar ... selama sebulan dia tak pernah merayu atau memintaku melakukan itu. Yah, dia orang sibuk mana ada waktu buat ke kamarku. Kadang pulang saja tengah malam.

Sejak itulah aku merasa hidupku bebas. Tak perlu mengatasi traumaku karena harus melakukan itu.

"Ah, sudah, ya. Aku lelah sekali," ucapnya lagi. Lalu melangkah pergi meninggalkanku kamarnya sendiri.

Notif ponsel membuatku terhenyak. Bayangan Om Saga saat dulu meninggalkanku ke kamarnya menghilang.

Kuraih ponsel di saku. Saat kubuka ada dua chat bertengger.

"Alvin dan Mina."

Kubuka Alvin lebih dulu.

[Kalau kamu perlu bantuan untuk menjelaskan pada suamimu, aku akan melakukannya.]

Aku mendesah. Tampaknya sepupuku itu khawatir. Dulu aku bilang tak akan melakukan 'hubungan' dengan pria, bukan berarti tidak berusaha melakukannya dengan suamiku sendiri. Jelek-jelek gini, aku juga takut laknat malaikat.

Ya, aku punya trauma sebenarnya. Trauma yang dimulai sejak hari kematian Mama. Namun, aku juga punya kewajiban pada team. Membayar gaji mereka yang sudah lelah.

Mungkin aku belum sholihah, tapi aku tahu kalau menahan hak orang lain adalah perkara dzolim. Teamku harus digaji segera. Karena membayangkan sendiri saat hakku tak terpenuhi. Seperti sekarang misalnya, aku merasa berhak atas uang 5 juta dollar dan terus mengharapnya selama sebulan.

Namun, rupanya itu tak akan menjadi hak-ku selama aku tak tidur dengan Om Saga.

Chat dari Alvin tersebut hanya ku balas dengan emot senyum.

Lalu beralih ke pesan Mina.

[Kak, ada nggak satu juta dulu. Aku mau nebus obat ibu. Maaf. 🙏]

Tu ... kan. Apa kubilang?

Makin bulat saja niatku, untuk mendapat uang itu.

[Eum. Insyaallah besok pagi ya, Min. Maaf banget. Aku belum dapat uangnya.] send.

Ya Tuhan. Gini amat nasibku. Padahal sebelumnya semua baik-baik saja. Tapi Engkau menguji orang baik ini dengan ujian kekurangan uang. Oh, ini sungguh berat.

Kalau orang bilang, aku ini seperti tikus yang mati di lumbung padi.

"Maafkan aku, Mina." Aku mendesah.

"Apa aku pinjam Papa saja, ya? Tapi nanti Papa banyak nanya lagi. Ah, nggak ah. Lagian aku juga perlu uang dari Om Saga untuk keperluan lain. Nanggung. Malam ini akan kuambil keperjakaannya. Huahahaha. Semangat Nara! Semangat!"

Kulangkahkan kaki menuju kamarku sendiri. Pertama sebelum mandi, kubuka internet. Mencari artikel, bagaimana melakukan malam pertama tanpa sakit.

Kubaca dengan perlahan-lahan.

"Ya Tuhan, kenapa aku seperti pelacur saja. Rela buka artikel demi bisa dapat uang. Apa bedanya dengan menjual diri? Ah, nggak. Aku kan gadis Sholihah seperti kata followerku. Ini bukan menjual diri. Tapi ... melayani suami."

Mataku melebar saat menemukan sebuah gambar.

"Apa?? Gancet?!"

"Astagfirullah." Aku menutup mulutku sendiri. "Ck. Ngadi-ngadi ini artikel. Kenapa muncul di pencarianku? Bikin panik saja."

Tak berhenti menggeser layar, akhirnya kubaca lagi. Kalimat-kalimat setelahnya sungguh mendamaikan jiwa. "Itu kenapa harus rilex."

Oke. Aku bisa rilex. Aku akan rilex begitu membayangkan uang lima juta dollar masuk rekeningku.

______________

Dengan gugup aku memasuki kamar Om Saga. Kamar yang tak pernah kumasuki meski ruangan itu tidak pernah dikunci.

"Sebenarnya aku harus memakai lingerie, tapi karena belum ada cinta di hatiku atau pun di hatinya. Untuk apa melakukan itu." Aku mencebik sambil mengelilingi kamar suamiku yang sangat luas.

"Ckck. Aku pikir aku sudah paling kaya. Tapu ternyata ...." Aku hanya bisa geleng-geleng melihat kamar megahnya.

"Apa aku pindah ke sini saja. Hahaha."

Aku bicara tidak-tidak untuk mengendalikan kegugupan sendiri.

Hanya untuk malam ini!

Namun ... sudah jam sembilan Om Saga tak juga datang.

"Apa aku telepon saja?"

Ah, tidak! Aku menggeleng.

"Ya Tuhan, kasian Mina. Kalau gini."

Aku mendesah dan terpikir sebuah ide. "Ya, aku harus minta tolong pada Alvin."

Akhirnya kukirim chat pada sepupu yang selalu bisa diandalkan itu.

[Al, tolong dong tf sejuta dulu ke rekening ini.]

Kukirim sebuah gambar, yang menunjukkan nomor rekening Mina.

[Ok]

Ya Tuhan Alvin baik banget.

[Makasih, ya]

[Sip. Sudah kejadian?]

[Apa?]

[Tidur sama suamimu]

Aku tersenyum sinis membaca pesannya. Kenapa juga harus membahas ini dengan Alvin?

Lagi pula, bagaimana bisa sudah terjadi?

Suamiku tak datang. Tak ada kabar. Dan aku malu menghubungi duluan.

Entahlah, apa Om Saga, benar-benar tak memikirkan pernikahan kami? Apa dia pria yang gila kerja? Apa jangan-jangan dia tak normal? Atau punya simpanan? Kenapa sama sekali tak memintaku melayaninya? Dia sangat dingin. Tiba-tiba saja aku merasa kesal, karena diabaikan.
0 0
0
DUDA AJA SOMBONG
01-01-2022 19:23
RINDU ORANGNYA APA UANGNYA?



Bagaimana kami sudah melakukan yang begituan?

Suamiku tak datang. Tak ada kabar. Dan aku malu menghubungi duluan.

Entahlah, apa Om Saga, benar-benar tak memikirkan pernikahan kami? Apa pria itu gila kerja? Punya simpanan? Kenapa tak pernah sekalipun memintaku melayani?

Tiba-tiba saja aku merasa kesal, karena diabaikan.

Aku kembali ingat bahwa ini adalah nasib malang yang harus kuterima. Entah, untuk menebus dosa yang mana?

Aku harus menikah dengan pria duda dua kali yang usianya hampir se-Papaku sendiri. Tak penyayang, ramah, apalagi hangat.

Apa sebenarnya tujuannya menikahiku? Bisnis? Ya, itu pastilah. Tapi kenapa harus selebgram? Masih gadis dan ... argh, memikirkannya hanya membuatku frustasi saja.

Yang jelas dia menikahiku karena aku cantik.

Nggak! Kalau cantik, semua gadis yang ditawarkan padanya juga sangat cantik, mereka bahkan bukan orang biasa. Rata-rata adalah juga pebisnis. Cerdas dan sukses!

Sedang aku? Cuma selebgram gaje dengan kegiatan unfaedah, tapi untungnya mendatangkan duit yang sebenarnya cukup buat foya-foya sendiri. Andai, cukup buat membantu perusahaan Papa, tentu aku tak akan menikahi pria tua menyebalkan itu.

"Ckck. Dari pada uring-uringan, apa aku telepon saja, ya?" Aku menelengkan kepala berpikir agak lama.

Menimbang dampak dari tindakanku ini.

"Apa dia tak tahu, ada puluhan ribu pria di luar sana yang sering DM ngajak aku kencan. Ini ... aku malah dianggurin."

Aku terus ngedumel. Kubuka ponsel, lalu mencari kontak atas nama 'Duda Kutub Utara'. Menatap profil pria yang berpakaian rapi dengan jas kerja dan tatapan elangnya dengan penuh pertimbangan.

"Telepon, nggak, telepon, nggak, telepon, nggak."

"Argh! Aku bisa gila karena ini. Harga diriku akan benar-benar jatuh! Mending minta duit dari pada minta tidur bareng!"

"Lihat saja pria ini. Seolah Om Saga tengah menggodaku. Ah, tidak! Dia sedang menggoda semua wanita yang menyimpan nomornya. Dasar tukang tebar pesona."

Kutekan layar berkali-kali karena kesal. Sampai tak sengaja terklik panggil. Mataku terbelalak kala, sadar. Cepat-cepat saja kuklik batalkan.

Ya Tuhan, semoga belum tersambung!

Aku menyerah! Aku tak sanggup untuk ini. Menunggunya terlalu lama. Apaalgi jika harus merayunya duluan. Nggak! Aku gak mau!

Akhirnya, setelah berperang batin kuputuskan keluar kamar. Dengan perasaan kecewa berat.

"Silakan saja jika dia gila kerja, tak normal atau bahkan punya simpanan, aku bisa apa?" ucapku di sela langkah sambil menutup pintu kamarnya.

Lagi, tepat di depan pintu, langkahku berhenti karena notif ponsel. Kubuka deretan chat yang lagi-lagi dari Mina dan Alvin. Kalau dipikir dua makhluk ini yang paling sering menggangguku, kenapa mereka tak nikah saja, biar saling menyibukkan antara satu dengan yang lain.

[Kak, makasih ya. Uangnya udah aku terima. Alhamdulillah, apotik belum sempat tutup. Dan ibuku bisa tidur nyenyak karena minum obat pereda nyerinya.] pesan Mina.

Akhirnya kusempatkan diri bersandar ke pintu dan membalas pesan ini.

[Iya, sama-sama. Kamu juga jangan lupa jaga kesehatan, jangan sampai sakit karena gak ingat jaga diri sendiri.] balasku.

[Siap!]

[Kak, kapan nih ke studio?]

[Temen-temen udah nanyain terus, takutnya kehilangan timing kita.]

Haduh.

Chat dari team Nara katanya mbrudul, Gaes. Kesel. Mereka gak tahu gimana aku berjuang sendiri di sini buat dapetin uang. Kalau gak ada uang, mana bisa beli tas dan sepatu brandednya? Kalau nggak ada baranganya, yang mau diposting juga apa?!

Aku jadi ngayal, ownernya ngendorse gitu. Kasih barang-barang itu gratis ke Princess Nara. Ah, walo itu pikiran bodoh! Mana ada barang limited edition diendorse selebgram? Barang cuma satu juga, yang ada rebutan. Dan kaum tertentu yang tahu barang itu launching.

Dulu, sih enak. Gak perlu ngarep endorse, apalagi ngarep suami tua yang pelit kaya Om Saga.

Tapi ingat kesulitan Papa.

Ya udah, gak jadi nyesel deh. Setidaknya aku akhirnya berguna untuk orang tuaku.

[Cabal, ya. Walau cabal itu bikin kesal, tapi disayang Tuhan, kok.] balasku.

Tak lama muncul emot ngakak.

[🤣🤣🤣]

[Ya, udah Kak. Cabal kok, termasuk nunggu sisa gaji yang lom di-tf.🙈

Aku kudu jelasin apa ke teman2?]

Huhhh ... bagaimana ini? Aku benar-benar frustasi membaca pesan terakhir dari Mina. Masa baru memutuskan menyerah kudu berjuang lagi?!

Mencoba meredakan gonjang-ganjing dalam hati, kubuka pesan dari Alvin. Mungkin dia bisa membantuku, dengan uang lebih. Gaji dua bulan untuk team. Aku lihat bisnisnya juga berkembang pesat.

Tapi apa tidak apa-apa? Bagaimana kalau Papa tahu? Hutang sejuta dua juta itu wajar ke saudara, tapi kalau nominalnya sampai 20 juta Papa pasti bertanya-tanya.

Aku sampai menggigit bibir karena bingung.

[Oke Nara, selamat berjuang! Aku yakin, kamu gak akan bisa melakukannya. Hahaha. Kalau alasannya uang, tinggal bilang saja ke aku!]

Mataku melebar, Alvin tahu? Padahal aku tak cerita padanya. Apa karena aku minta tolong padanya untuk transfer Mina?

[Terimakasih sudah membaca pesan ini dalam hati. Meski aku tahu aku tak ada dalam hatimu.]

"Hahaha."

Aku spontan ngakak membaca pesan Alvin tersebut. Dia sahabatku, yang gila, pengertian, memberiku semnagat, tak berhenti merayuku dan lucu.

"Kamu sedang tertawa karena apa?" Suara berat Om Saga terdengar sangat dekat.

"Oh." Aku tersentak kaget.

Dia dibelakangku. Kepala pria itu sudah berada di samping kepala dengan posisi membungkuk melihat ponsel. Sekarang, Om Saga pasti sudah tahu siapa pengirim pesan tadi.

Aku yang terkejut pun akan jatuh ke depan. Namun, pria itu lekas menangkapku dengan tangan kanannya, merengkuh pinggang.

Pria itu tersenyum. Ya Tuhan, kenapa tiba-tiba senyumnya jadi manis begini. Jangan-jangan rasa kesalku tadi karena tanpa sadar aku merindukannya. Ah, nggak mungkin! Pasti karena aku rindu uangnya.

"Menungguku? Apa kita lakukan sekarang!?"

"Hah?!" Mataku melotot. Siapa yang duga, di tengah perang batinku, dia hadir dan langsung mengajak begini.
0 0
0
DUDA AJA SOMBONG
01-01-2022 19:24
ALASAN MENIKAHI NARA

FLASHBACK

"Aku dengar, kamu akan menikah."

Wanita berusia 35 tahun, tapi penampilannya seperti remaja umur 20an tahun ini mengelilingi meja kerjaku. Menatap satu demi satu foto yang sudah tak ada lagi gambarnya di sana.

Ah, dia masih menjadi wanita paling cantik di mataku. Meski luka yang dibuatnya sangat dalam.

"Hem, ya. Jadi kamu sudah mendengarnya? Padahal aku belum mengumumkannya," sahutku, selagi mata berusaha fokus ke komputer.

Aku berbohong. Bahkan bertemu gadis itu pun belum.

Yah, sebenarnya tak ada pekerjaan di benda berisi banyak data ini. Hanya saja, ini caraku mengalihkan perhatian dari Rania. Mantan istriku. Aku berpura-pura cuek dan tak begitu peduli.

"Oh, mau diumumkan?"

"Kenapa?" Kutinggalkan komputer dan menatapnya.

Saat itu dia juga menatapku. Aku bisa melihat ekspresi tak suka dari wajahnya. Akan tetapi dia adalah wanita paling pandai bersandiwara. Tentu saja hal itu akan disembunyikan dan tak akan diakui Rania.

"Kamu cemburu? Atau menyesal telah pergi? Sayang sekali, aku tak suka menahan orang lain yang ingin pergi," sambungku.

"Hahaha." Rania tertawa. Bahkan meski tawanya jahat, dia masih terlihat anggun dan cantik.

"Setelah istri keduamu juga menuntut cerai darimu? Yah, mungkin hatinya sudah membeku karena terus berdekatan dengan pria dingin sepertimu, Saga."

Rania mendesah. Lalu melempar sebuah senyuman padaku.

Shit! Dia berhasil menamparku tanpa menyentuh.

"Yah ... katakan apa maumu ke mari?"

"Aku minta uang untuk Reynand, anakku."

Aku tersenyum. Menaikkan satu sudut bibirku.

"Apa kamu tak mendapat endorse? Hal yang dulu sangat kamu banggakan dan membuatmu percaya diri meninggalkanku?" Kenapa tak kamu serahkan saja anak itu padaku?"

"Apa kamu gila? Ibu mana yang tega berpisah dengan anaknya?"

Itulah alasan Rania sejak lama. Padahal aku sudah bilang, semua keperluan Reynand akan aku tanggung meski dia bukan anakku, dan asal dia mau tinggal bersamaku.

Ini alasan paling klise. Rania merasa hidup dipenuhi rasa bersalah saat bersamaku. Dia selingkuh karena merasa kesepian. Sampai akhirnya hamil.

Hari itu ... setelah dia jujur, aku hanya diam. Marah padanya juga pada diriku sendiri yang terlalu pengecut dalam mencintai. Aku tak pernah menyentuhnya.

Wanita itu tak kuat atas diamku dan memilih menggugat cerai. Tak mau membuang waktunya, aku pun segera memenuhi tuntutannya. Lalu, beralih ke wanita kedua ... wanita itu pun sadar bahwa dia hanya pion yang jadi pajangan dalam hidupku.

Dia mengetahui bahwa aku tak bisa melupakan Rania.

"Fine. Kalau kamu tak mau memberikan hak Reynand seperti yang kamu katakan dulu, aku akan pergi." Rania manggut-manggut. "Oya. Kamu tahu bukan, bahwa aku pergi bukan karena uang?"

Rania tak terima dengan pernyataanku. Wanita anggun itu kemudian melangkahkan kaki meninggalkanku.

"Tunggu!" panggilku. Seketika kaki jenjangnya yang terayun itu berhenti. Rania terdiam tanpa membalik tubuhnya.

"Kembalilah padaku, aku bisa membatalkan pernikahanku."

Aku tak ingin menyesal untuk ke sekian kalinya kehilangan Rania.

Sudah terlalu lama, kemarahan dan lukaku telah mereda.

Dan sungguh ... baru ini punya keberanian memintanya kembali. Kuinjak harga diriku sendiri sebagai lelaki. Sesuatu yang sejak dulu kutinggikan di depan siapa pun, bahkan di hadapan wanita yang aku cintai.

Rania benar-benar bergeming. Tak menoleh dan tak peduli. Sikapnya sangat dingin dan kejam. Wanita itu berjalan ... meninggalkan ruang kantorku yang tiba-tiba dipenuhi rasa hampa seperti sebelumnya.

Tanganku mengepal karena emosi, lalu memukul meja di bawahnya.

Dengan menahan amarah dan harga diriku yang terinjak oleh wanita itu, akhirnya kuhubungi manajerku melalui panggilan cepat.

"Bams! Ke ruanganku sekarang."

"Baik, Tuan." Suara di ujung telepon menyahut cepat.

Tak sampai dua menit, terdengar derap langkah mendekat. Lalu muncul sosok Bams dari pintu.

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"

"Siapa nama gadis yang Papi bilang kemarin? Anak dari salah salah satu pemegang saham perusahaan."

"Oh, dia ... yang selebgram itu, Tuan?"

"Ya."

"Sebentar." Pria itu merogoh ponsel dalam sakunya.

"Dia masih gadis?"

"Ya."

"Sudah kamu pastikan?" Aku tak mau kejadian sama terulang lagi. Menikah kali ini bukan hanya membuat Rania cemburu, tapi juga menyesal telah meninggalkanku. Aku ingin dia kembali dan berlutut meminta cintaku.

Dia pikir dia siapa? Aku bahkan sudah berbaik hati menerima semua kekurangannya. Kenapa tak mau menerima kekuranganku?

Lalu menikahi wanita kedua mengaku gadis, lalu setelah menikah membuatku jijik dan enggan mendekatinya, karena pengakuan pacarnya.

"Ya."

"Bagaimana caranya?"

"Saya bertanya pada papanya langsung, Tuan."

Aku tersenyum sinis. "Memangnya papanya tahu aktifitasnya dengan pacarnya?"

"Dia tak punya pacar Tuan. Saya menemukan riwayat, gadis itu pernah punya trauma, jadi saya yakin dia belum pernah melakukannya."

"Trauma?" Kenapa ini kebetulan sekali?

"Ya, Tuan."

"Oke. Katakan pada Papi, aku akan menikah dengannya."

"Baik."

"Keluarlah!" titahku.

Bams pun menjauh, tapi kakinya terhenti saat aku memanggilnya karena ingat sesuatu.

"Oya, lekas hapus postingan di IG perusahaan. Benar-benar memalukan! Apa kalian pikir aku sedang cari pakaian dalam?!"

Aku bilang buat kalimat provokasi, yang menarik perhatian akun milik Rania. Benar memang provokatif, tapi menyebutku sebagai pria normal, dengan perut sixpack dan lingkar dada ... semua itu meruntuhkan wibawaku sebagai CEO.

"Ahm, ya Tuan. Maaf."

Bams tak mengatakan apa pun selain mengiyakannya.

Dia pasti tak ingin semakin rumit karena omelanku.

Kuhela napas panjang. Berharap yang sesak di dalam dada sini bisa segera hilang. Kuraih ponsel setelahnya, ingin tahu tentang Prices Nara lebih dalam.

Begitu menemukan akunnya. Bibirku refleks tersenyum. Gadis yang cantik, dan dari caption banyaknya foto gadis berkerudung itu, bisa terlihat dia adalah gadis yang ceria.

Ya, aku sengaja mencari gadis berkerudung kali ini, sesuai saran Papi. Agar kejadian serupa tak terjadi di pernikahanku sebelumnya.

Tapi ... yang masih menjadi tanda tanya, bagaimana gadis ini bisa mengatasi trauma nya? Dia sama sekali tak tampak seperti tertekan dan sejenisnya. Kalau begitu, mungkinkah aku pun bisa sembuh sepertinya?
0 0
0
DUDA AJA SOMBONG
01-01-2022 19:24
SENYUM DUDA YANG MEMABUKKAN

Saga meletakkan tas kerjanya begitu kaki menjejak di lantai dua. Memperhatikan gadis yang membelakanginya di depan pintu kamar. Pria itu menyandar di dinding sambil menyilang tangan di dada.

"Jadi dia menungguku?" gumamnya.

Sebuah senyuman terukir di wajah tegasnya, kala melihatnya bersikap konyol. Dari gerak-gerik dan tutur kata Nara, Saga bisa tahu bahwa gadis itu tampak ragu dengan keputusannya sendiri.

'Dia tipe wanita yang mau melakukan apa saja demi uang.'

Satu sudut bibirnya terangkat.

Kelakuan Nara mengingatkannya bagaimana pertama kali melihat gadis itu.

"Kamu yakin dia orang yang sama?" tanya Saga pada Bams manajernya sambil berbisik.

Melihat bagaimana cara gadis bernama Nara bersikap dan berbicara. Tanpa saringan dan ketus. Kenapa berbeda sekali dengan video-videonya di instagram. Manis, cantik, imut dan menggemaskan. Siapa pun pria yang melihatnya pasti akan jatuh cinta.

Dia sangat jauh dari Rania, perempuan yang selama ini masih menjadi penghuni di hatinya. Cantiknya luar dalam. Meski terpisah ruang dan jarak. Meski Saga berusaha keras melupakannya dengan menikahi wanita lain.

'Ya Lord, bagaimana ini? Apa pernikahanku dengan gadis itu bisa bertahan dan niatku akan terwujud karenanya?'

'Lagi pula bukankah katanya dia punya trauma? Kenapa sekarang seolah hidupnya tanpa beban sedikit pun?'

"Ya, Tuan." Bams menyahut cepat.

"Perkenalkan Om Duda, saya Princess Nara." Gadis itu menangkup tangan, sebuah senyuman yang dipaksakan menghiasi wajahnya.

Sungguh berkebalikan antara perbuatan dan cantik fisiknya.

Detik kemudian, Nara tiba-tiba tertawa setelah meracau dengan nada kesal, lantaran Saga tak juga datang. Hal itu membuyarkan lamunan Saga, dan kembali menatapnya.

Penasaran, Saga pun bergerak ke arah Nara. Siapa gerangan yang membuatnya bisa terlihat sebahagia itu.

Pria itu melongok melihat dengan siapa Nara berkirim pesan.

Tampak sebuah nama di layar ponselnya.

'Alvin? Apa dia pacarnya? Tapi Bams bilang Nara tak pernah berpacaran. Apa dia salah info tentang ini?' batinnya bertanya-tanya.

Hatinya lalu goyah. Mustahil perempuan yang punya pacar, masih perawan. Lalu bagaimana Nara bisa menolongnya?

'Aku perlu memeriksa untuk memastikannya.'

Dia sendiri bingung dengan hatinya sendiri, kenapa sulit menerima istri yang tak perawan, tapi rela Rania selingkuh dengan pria lain, dan mau memaafkannya. Apa bedanya? Dua-duanya adalah simbol keburukan sosok seorang wanita.

"Kamu tertawa karena apa?" tanya Saga.

Nara yang kaget, sampai jatuh. Untung saja Saga dengan cepat meraihnya.

"Menungguku? Apa kita lakukan sekarang?" ucapnya ingin menggoda Nara.

Saga berhasil. Nara mulai terpengaruh oleh senyum memabukkan duda tampan itu.

Mata Nara melebar dan berkedip beberapa kali menatap mata elang saga yang menatapnya tanpa jeda. Ditambah sebuah senyuman yang entah sejak kapan membuat hatinya kebat-kebit.

'Bagaimana ini? Aku bisa mati karena jantungku lepas saking deg-degannya. Apa aku batalkan saja, dan menjual satu ginjal ku buat bayar hutang? Yah, kehilangan satu ginjal masih lebih baik dibanding kehilangan jantung.'

"Bagaimana?" tanya Saga membuyarkan pikiran Nara.

"Ak, aku ... aku belum siap, Om." Gadis itu menjawab gugup.

Seorang Nara, yang biasanya tengil dan ceplas-ceplos, kali ini ... dia mulai mabuk. Pria dingin dan sombong menguarkan pesonanya.

"Oh. Belum siap?"

Dianggukkan kepala ragu sambil meringis. Memperlihatkan jajaran giginya yang berbaris rapi.

"Oke!" Saga menyahut cepat. Siapa sangka justru jawaban Nara sangat menguntungkan posisinya.

Mata Nara melebar sempurna saat tiba-tiba Saga mengangkat tangan melepaskan tubuh mungil dalam rengkuhan. Otomatis membuat tubuh gadis itu terlepas jatuh.

"Aa ...!" teriak Nara seiring tubuh yang bergerak cepat karena terhempas.

BUGH! Suara muncul kala tubuhnya menyentuh lantai. Saat itu pula ponselnya terlepas dari tangan dan jatuh.

"Auh." Nara memegangi bagian tubuh belakang yang sakit.

Sementara Saga hanya tersenyum melihat sesuatu yang menurutnya sangat lucu. Dipungut ponsel Nara dan memperhatikan apakah kondisinya baik-baik saja dengan posisi berjongkok.

"Untung saja i-phonemu tidak apa-apa?" Dinaikkan sudut bibirnya sambil melihat Nara yang meringis kesakitan.

Pria itu menyodorkan benda pipih ke arah Nara.

Nara meneleng cepat dengan lirikan tajam ke arah suami tuanya, melihat sikap Saga yang sangat menyebalkan, dan mendengar ucapan Saga seolah lebih mementingkan kondisi ponsel miliknya yang jatuh dibanding dirinya yang kesakitan.

Diraih ponsel itu dari tangan pria tua menyebalkan tersebut dengan kasar.

"Sungguh tak manusiawi!"

Namun, dengan santainya Saga tersenyum sambil geleng-geleng meremehkan. Ia kemudian bangkit dari jongkok. Lalu, berbalik berjalan tanpa membantu Nara untuk bangun. Lalu diraih tas yang diletakkan di nakas dekat anak tangga.

Setelah mendapat tas kerjanya, Saga berjalan ke arah kamarnya. Sementara Nara berusaha bangkit dari posisinya.

Walau sangat marah, hati Nara menangis. Ia sangat memerlukan uang itu.

'Apa Om tua sombong itu menolakku? Kasar sekali? Apa dia marah? Kenapa setelah bilang aku belum siap, bukannya menenangkan agar malam pertama kami tetap terlaksana. Malah mejatuhkanku ke lantai. Bagaimana ini? Aku perlu uang itu?'

'Ah ... bagaimana ini? Apa aku memang harus menjual organdalam ku saja?!'

"Nara!" panggil Saga yang sudah membuka pintu.

Gadis itu menoleh. Nara jadi bingung, karena Saga menelengkan kepala menunjuk ke dalam kamar.

"Ya?"

"Masuklah! Bukankah kamu ingin uang itu?!" Saga kembali tersenyum.

Nara lekas bangkit. Meski ragu ia tetap berjalan ke kamar pria itu. Degup jantungnya kembali tak menentu.

'Jadi begini orangnya, bergerak dengan kasar. Pantas saja dua istrinya sampai meminta cerai padanya. Mana ada wanita yang kuat menghadapinya, kecuali aku. Yah, aku pasti bisa. Princess Nara, selebgram 250K followers yang gigih dan pantang menyerah untuk mencapai impiannya.'

'Ah, memangnya impianku apa? Impian utama jadi istri Oppa sudah kandas karena pernikahanku dengan Om Saga!'

Nara berjalan masuk, melewati Saga dengan mata melirik takut-takut padanya. Saga terus saja tersenyum melihat tingkah gadis itu.

"Kamu yang membuat posisimu bahaya sekarang, Nona." Saga menyeringai.

Sementara Nara terhenyak dan menghentikan langkahnya. Dia tahu inilah resiko sebuah pernikahan ... kehilangan mahkotanya.

Tak lama, pintu kamar pun ditutup. Lalu ... apakah yang terjadi di dalam sana?


profile-picture
Rainbow555 memberi reputasi
1 0
1
DUDA AJA SOMBONG
01-01-2022 19:25
TERLALU SEMPIT

"Aku yakin dia tak akan melakukannya. Lagi pula duda tua itu pasti terkejut kalau tahu bagaimana aslinya Nara."

Alvin mengucap percaya diri. Dia yang sangat tahu siapa Nara. Jangankan begituan, ciuman saja tak pernah.

"Heh." Pria itu tersenyum sinis.

"Nara, Nara. Kenapa gadis polos sepertimu harus menikah karena uang? Ini menyedihkan. Andai aku punya uang banyak yang diperlukan Om Roy."

Alvin mendesah panjang.

Ingat hari di mana ia dan Nara sempat terbawa suasana.

"Ah, bukan Alvin dan Nara. Tapi Alvin seorang yang terbawa suasana, aku nyaris mengambil milik Nara yang berharga."

Namun, setidaknya, baginya ... tinggal selangkah lagi, ia akan berhasil menaklukkan Nara setelah menunggu bertahun-tahun.

Hari itu ... Nara memintanya datang, karena teman-teman sekelompoknya sibuk sendiri-sendiri. Hingga Nara harus mencari bahan untuk makalahnya seorang sendiri. Mengingat dia dan Alvin satu jurusan, dan pria itu adalah seniornya, Nara pun berniat meminta bantuannya.

Waktu berlalu begitu saja, tugas itu sudah dikerjakan lebih dari dua jam, tapi tak juga selesai.

Mereka yang mengerjakan tugas di ruang tengah hanya berduaan saja. Membuat Alvin merasa hawa aneh menyergapnya.

Berkali melihat Nara yang mengenakan daster, meski sudah membiasakan pakai kerudung, tetap saja membuatnya gagal fokus.

'Mau dia memakai pakaian apa pun tetap saja, Nara adalah objek paling indah bagiku.'

"Al, lihat, deh!" Nara memanggil Alvin agar mendekat dan melihat sesuatu di laptop gadis itu.

"Paan, sih." Pria itu bangkit dengan malas. Meski enggan, ia bangkit juga untuk melihatnya.

"Awas ya. Aku mau mie-ku penuh dengan bakso di mangkuk," ucapnya yang dari tadi mengeluh atas tugas-tugas Nara.

Pasalnya, pria itu mau datang dan membantu hingga selesai, karena Nara janji mentraktirnya seminggu penuh.

Kini mereka pun duduk bersisian memandang laptop. Di saat asik menggulir artikel, tiba-tiba saja muncul iklan novel yang memperlihat adegan dua orang sedang berciuman.

Hati keduanya berontak. Terutama Nara. Ia sangat kesal mendapati sebuah platform yang menunjukan adegan vulgar yang seharusnya tak ditonton semua orang tanpa batas umur seperti ini.

Itu kenapa dia selama ini dia berjuang keras mencari banyak follower untuk konten-kontennya. Melalui dunia sosialita, dengan pamer barang-barang branded miliknya, Nara bermaksud mengajak mereka bisa berpikir positif secara perlahan.

Bukankah mengajak pun perlu sebuah cara. Karena dia seorang selebgram, maka followernya adalah target yang pas dengan 'pendekatan' yang mereka sukai.

Pun Alvin yang melihat gambar seronok di layar laptopnya. Hanya saja, seharusnya nafsu itu tak dipancing dengan tontonan seperti itu.

"Ra." Alvin memanggil pelan Nara.

"Ahm, sorry!" Nara lekas menutup laptop tanpa mematikannya lebih dulu.

Wajah pria itu semakin dekat dan dekat, sampai Nara merinding dibuatnya.

"Oh ya, Al. Ada sesuatu yang harus kamu lihat!" Nara menjauhkan kepalanya, dengan dua mata melebar dan dua tangannya memegangi dada Alvin.

Pria itu jadi tak enak sendiri karenanya.

Alvin duduk di atas sofa memandangi ponsel, menyilang tangan di dada, menahan hawa dingin dari AC ruangan yang menerpa. Rasa malas memaksanya untuk tetap fokus ke benda pipih di atas meja.

Menunggu.

Barangkali, Nara akan kembali membalas pesannya. Lalu berkeluh kesah seperti biasa.

"Apa dia sudah melakukannya?" gumamnya dengan tatapan lekat. Melihat ponsel, rasanya seperti tengah melihat Nara.

"Argh! Aku bisa gila!" teriaknya sembari menjatuhkan tubuh ke sofa.

Memikirkan cara bagaimana mempengaruhi dan menggagalkan Nara bermalam dengan duda itu.

"Aku akan tf uang kaget. Dari nomor lain. Yah itu pasti akan kulakukan."

"Lalu hal yang paling penting adalah traumanya."

Alvin tersenyum. Sampai lesung di pipitnya terlihat menghiasi wajahnya yang tampan.

_____________

"Ya ampun, sakit Om. Kayaknya sempit banget, ya." Nara meringis menahan sakit karena perlakuan suaminya.

"Sabar, deh. Huft!" Saga membuang napas kasar, sambil mengelap peluh di pelipisnya.

"Auh! Sakiiiit! Om, ati-ati dong! Aku belum pernah loh kaya gini!"

"Hiss. Berisik!" Saga mulai kesal.

Beginilah kalau pernikahan dilakukan tanpa cinta. Kegiatan begini pun menguras emosi.

"Pakai sabun, atau minyak gitu Om, biar licin!" keluh Nara yang menggigit bibir bawahnya karena menahan sakit.

"Hah!" Saga meniup berat karena merasa lelah. Bangkit dari posisinya.

"Oke, kamu tunggu sebentar, jangan ke mana-mana dan melakukan sesuatu tanpa izin dariku." Saga memperingatkan sambil mengarahkan telunjuk ke arah gadis itu.

"Maapin, Om. Habis ini aku janji bakal diet!" ucap Nara dengan nada menyesal.

Saga yang sudah menjauh tetap gatal untuk menyahutnya. "Lakukan apa pun. Kalau tetap gagal, terpaksa aku menyakitimu!"

Nara mengangguk. Ia cemas pada dirinya sendiri. Apa yang akan terjadi nanti? Tampaknya pria itu sangat marah karena tak berhasil melakukannya.

Saga lalu berjalan meninggalkan Nara, menuju kamar mandi mengambil sabun. Lalu tissue. Karena belum menemukan minyak untuk pelicin.

Pria itu mendesah panjang. "Benar-benar gadis itu!"

Belum apa-apa Saga dibuat begitu kesal. Ia membayangkan bagaimana kejadian tadi bermula.

"Aku akan mandi dulu." Saga berpamitan, karena merasa tubuhnya lelah. Kebiasaannya memang membersihkan diri sepulang kerja.

Pria itu tersenyum melihat Nara yang tampak malu-malu duduk di tepian ranjang saat ia keluar dari kamar mandi.

Baru saja akan menyentuh bahunya, melakukan hal yang diketahui untuk mengetes apa istrinya masih suci atau tidak. Hal yang dulu pernah dilakukan pada Rania.

Baru saja ingin melihat bagaimana gadis itu tanpa kerudung. Tiba-tiba saja Nara meminta maaf sambil Cumiik menahan sakit.

Saga yang terkejut segera mencari tahu, sampai akhirnya ia melihat cincin yang selama ini disimpan rapi dalam lemari, melingkar di jari tengahnya.

"Maaf, Om. Nggak bisa dikeluarkan." Gadis itu menyodorkan tangannya sambil menunduk takut, karena mengambil barang berharga milik duda tampan itu.

"Hiss." Saga mendesis sebelum akhirnya berjalan keluar kamar mandi.

"Apa perlu kupotong saja jarinya!" dengkusnya di sela langkah.
0 0
0
DUDA AJA SOMBONG
01-01-2022 19:25
BERHENTILAH SAGA

[Kenapa kamu mendustai dirimu sendiri?]

[Kamu hanya akan menyakiti lebih banyak wanita]

Sebuah pesan itu kembali terekam di kepala. Pesan yang dikirim Rania mantan istrinya. Wanita itu tahu, Saga tak pernah berusaha keluar dari masalahnya. Dia merasa di zona aman.

Dengan begitu, siapa yang mau bertahan di sisinya, bahkan jika wanita itu dimandikan susu, memakai sutera atau bahkan tidur di tumpukan uang dan emas yang tak pernah habis.

Saga menoleh ke arah pintu, di mana seorang gadis tengah menunggunya. Meski sanksi ini akan berhasil, ia tetap melakukannya demi bisa membuktikan pada Rania.

'Ya Tuhan, apa ini akan berhasil?' Saga menatap kosong dengan mendobgak kepala lalu meniup berat. Menatap bayangan pria tampan yang hanya terlilit handuk di cermin.

Mata pria itu terpejam sesaat kala ingat ketakutan yang dihadapinya saat tubuhnya mulai mendekat pada seorang wanita. Ia menggeleng, menepis semua bayangan jahat dalam benak.

"Aku pasti bisa!" gumamnya menekan, hingga tangannya meremas tissue yang dipegang.

__________

Setelah membulatkan tekad, Alvin akhirnya mulai melancarkan rencana pertamanya. Diraih ponsel yang sedari tadi tak juga menyala.

Ia menyerah. Menunggu balasan dari Nara, dan tak kunjung datang.

"Hah. Apa yang kamu lakukan sekarang, Ra?" tanyanya seiring tangan yang menggulir layar ponsel. Meninggalkan room yang memperlihatkan sederetan chat dan panggilan yang dilakukan dengan Nara.

[Mbak, sorry. Aku pake uang operasionalnya bentar. Seminggu aku balikin. Oke.]

"Ah, beres." Alvin bicara sendiri. "Sabar, ya Nara. Aku akan cari cara agar kamu bisa lepas dari pria tua itu."

_____________

Merasa jenuh menunggu, Nara akhirnya meraih ponsel yang tak jauh dari tempatnya duduk.

"Memangnya dia ngambil sabun di mana, sih? Ke Korea Selatan? Huh. Kalau iya harusnya ngajak-ngajak aku," omelnya menunggu Saga yang tak kunjung muncul dari kamar mandi.

"Huft." Bukan hanya kondisi tangannya yang berada dalam kondisi buruk, terjepit cincin yang tadinya akan dia pamerkan ke teman-teman dan timnya.

Namun, moodnya juga semakin buruk. Rasa sakit di tangan juga di hatinya karena sikap Saga yang angkuh dan terus berbicara dengan nada tinggi padanya.

"Ada apa lagi sih, Alvin?" Mata Nara bergerak seiring layar yang digulir, membuka pesan dari sepupunya.

Mata perempuan berusia 23 tahun itu memicing, kala melihat angka nominal di gambar yang pemuda tampan itu kirimkan.

"Siapa yang minta?" gumamnya terheran-heran. Apa maksud Alvin mengirim uang itu? Apa karena ia ingin agar Nara tidak tidur dengan suaminya?

Kalau begini dia bingung, bagaimana harus bereaksi.

"Siapa bilang kamu boleh bergerak ke sana?!" ketus Saga yang tak tahu harus bicara apa dengan gadis yang ada di kamarnya tersebut.

Sebenarnya, berbicara kasar adalah salah satu caranya untuk menutupi kecanggungan pada lawan bicaranya.

Nara pun menoleh.

"Om!" Ia berseru-seru seperti anak kecil.

Langkahnya bergerak cepat ke arah Saga, begitu mendengar suaranya. Saking cepatnya, ia sampai tersandung oleh kakinya sendiri. Hal paling tak diduga terjadi.

Mata Saga melebar sempurna, kala satu-satunya kain yang menutup tubuhnya tertarik tanpa sengaja oleh tangan Nara. Padahal niat gadis itu ingin memperlihatkan isi pesan Alvin, yang telah mengirim uang puluhan juta ke rekening gadis itu.

Ponselnya kembali terjatuh berbarengan dengannya.

Nara yang mendongak, hampir saja matanya melompat melihat apa yang ada di depan sana.


profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
DUDA AJA SOMBONG
01-01-2022 19:26
MENYELAMATKAN HARGA DIRI

Saga melotot, melihat ke arah bagian bawah tubuhnya lalu pada gadis yang tengkurap persis di depannya. Mata gadis itu melebar sempurna, ia tampak syok!

Dengan cepat Saga menutupkan tangan yang sedang memegang tisue dan sabun ke depan.

Nara menarik napas dalam-dalam. Terkejut melihat pemandangan di depan sana. Tiba-tiba saja hawa menjadi panas membakar wajahnya. Ia begitu malu, meski yang terlihat bukan miliknya.

Ia kemudian menyembunyikan wajah, dengan posisi menghadapkannya ke bawah, mencium lantai. "Maafkan aku, Om," lirihnya dipenuhi rasa bersalah.

Saga yang merasa seluruh harga dirinya telah binasa, segera meraih handuknya yang berada di kakinya dengan cepat. Dan berjalan melewati Nara.

'Arghh! Ini memalukan sekali! Walau kenyataannya ini salah gadis itu! Kenapa dia bisa se-ceroboh itu!'

'Ya Tuhan, hukumlah hamba, tapi jangan dengan cara seperti ini,' batin Nara menangis. Ia tak tahu bagaimana akan menghadapi Saga setelah ini, dan bergeming di posisi tengkurap agak lama.

Hingga ia pun berpikir untuk pergi saja. Bukankah Nara sudah mendapatkan uang dari Alvin untuk membayar gaji team? Lalu untuk apa dia masih bertahan di kamar Om-om itu?

'Ya pergi sekarang adalah jalan satu-satunya menyelamatkan mukaku di depan Om Saga.' Nara bertekad dalam hatinya.

'Tapi ....' Sebuah masalah kembali datang menganggu otaknya. 'Bagaimana dengan tangan ini?' Nara mengeluarkan jari di mana terpasang sebuah cincin.

'Om tolong aku! Tanganku sakit,' teriaknya dalam hati disertai tangis.

Namun, bagi Nara bertahan di kondisi ini terlalu memalukan. Ia merasa menjadi seorang gadis tanpa kepala.

Karena itulah, gadis berparas ayu tersebut memilih untuk pergi saja.

'Yah, karena kehormatan bagi Princess Nara lebih mahal dari apa pun juga di dunia ini, termasuk semua barang-barang branded yang pernah kuposting di IG.'

Dengan perlahan-lahan Nara bergerak, agar tak menarik perhatian Saga yang kini tengah mengenakan kaos dan celana di depan almari.

Sesekali Nara melirik pada pria itu dengan degup jantung tak beraturan.

Tanpa ia sadar, Saga yang bergerak cepat memakai pakaian menutupi tubuh kekarnya, melirik dari ekor mata ke arah cermin. Di mana pantulan bayangan Nara yang sedang kabur terlihat.

Sampai di depan pintu, tiba-tiba saja suara bariton dari arah Saga terdengar. Hal itu mencegah Nara membuka pintu.

"Tunggu!"

Seketika Nara membeku, karenanya. Mata gadis itu memejam lantaran tertangkap basah.

"Duhh."

"Siapa bilang kamu boleh pergi gadis ceroboh?!" Suara Saga langsung meninggi.

Degup jantung Nara makin tak karuan, kala derap langkah dari kaki lebar pria itu makin mendekat. Saga pasti sangat marah padanya sekarang.

'Ini memang salahmu, Nara! Dari awal kamu memang salah. Terlalu kepo memakai barang milik orang lain ... lalu menarik handuknya pula. Siapa orangnya yang tak marah?!'

Nara menggeleng kecil. Menepis pikiran tidak-tidak dalam kepala. Berusaha tenang dan menguatkan diri sendiri.

'Siapa bilang cincin itu, bukan punyaku? Bukankah semua harta benda milik suami adalah milik istrinya. Meski milik istri bukan milik suaminya. Dan lagi ... aku jatuh juga tak sengaja, itu artinya handuknya lepas juga tak sengaja! Itu bukan kesalahanku.'

Lagi-lagi ada perang dalam batinnya. Antara rasa bersalah dan Nara membela diri sendiri.

Suara anak kunci yang terputar terdengar. Seketika Nara terkesiap memeluk diri sendiri dengan meletakkan kedua tangan di dada. Saat membuka mata, Saga sudah sangat dekat dengan satu tangan memegang anak kunci kamar.

"O- Om." Nara tergagap. Suaranya bergetar karena malu dan takut jadi satu. Sampai-sampai rona di pipinya kembali terlihat dengan jelas.

Pria itu menoleh dengan tatapan innocent. Melihat Nara dengan amarah yang tampak jelas di kedua matanya. Nara makin mengkeret saja dibuatnya.

"Em, kita batalkan saja." Gadis itu meringis menjawab ragu-ragu sambil menunduk. "Aku sudah punya uang sekarang. Jadi tak perlu uang Om lagi," ucapnya lagi.

Meski ia sendiri tak yakin, apa boleh memakai uang Alvin? Bahkan akad uang masuk itu saja tak jelas.

'Ah, bodo amatlah. Yang penting sekarang aku lepas dulu dari Om Saga!'

"Heh!" Saga menarik satu sudut bibirnya ke atas.

"Kamu sepertinya harus tahu aturan di rumah ini, Nona." Saga memicingkan mata ke arah Nara. Sengaja. Untuk membuatnya merasa tertindas.

"A- apa?"

Tangan kanan Saga bergerak ke dinding, hingga tubuh Nara terkunci olehnya. Perasaan Nara sungguh tak menentu.

Belum lagi, bayangan kejadian yang membuatnya sangat malu tadi hilang, kini Saga melakukan hal lain yang membuatnya tak bisa kabur. Jangankan kabur, ia bahkan tak berkutik.

"Hemh. Aku tak peduli kamu sudah punya uang atau belum. Aku tak peduli tujuanmu aa ada di kamarku. Tapi ... siapa pun yang masuk ke sini, tak boleh ke luar tanpa seizinku. Maaf, mulai sekarang aku tak akan melepaskan siapa pun."

***

Agan, buatmu yang mau baca kelanjutannya, bisa dibaca di Play Store/Play Book, cari aja judul DUDA AJA SOMBONG
profile-picture
Rainbow555 memberi reputasi
1 0
1
DUDA AJA SOMBONG
01-01-2022 22:18
lanjut.
0 0
0
DUDA AJA SOMBONG
02-01-2022 12:41
Old story 😁😁😁😁
Reborn
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
treya--tahun-kehidupannya
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
Heart to Heart
Stories from the Heart
mimpi-buruk-kido
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia