Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
4
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61af2940bf34f009201d8b39/hide-and-peek
Prolog "Kadang-kadang Tuhan memberi kebahagiaan atas sebuah pengharapan, Namun ada kalanya Tuhan juga tak memberi jawaban apapun dan membiarkan kita tenggelam dalam muara imajinasi bernama kenyataan.." "Cie, yang besok ultah.. Umur berapa besok? 30?" "Enak aja lu.. Emang gue kelihatan kaya tante-tante gitu?" "Ngga, sih. Tapi kaya emak-emak.. Hahaha" And then
Lapor Hansip
07-12-2021 16:28

Always

Quote:
Prolog



"Kadang-kadang Tuhan memberi kebahagiaan atas sebuah pengharapan,
Namun ada kalanya Tuhan juga tak memberi jawaban apapun dan membiarkan kita tenggelam dalam muara imajinasi bernama kenyataan.."



"Cie, yang besok ultah.. Umur berapa besok? 30?"
"Enak aja lu.. Emang gue kelihatan kaya tante-tante gitu?"
"Ngga, sih. Tapi kaya emak-emak.. Hahaha" And then she threw me with her wet towel.
"Damn, ini handuk bau keringet lu gini main dilempar aja ke gue..? Jorok banget lu."
"Heh, lu mau gue lempar pake sepatu aja? Mau? Ngga kan? Ya udah, ga usah banyak omong. Mending lu pijetin kaki gue aja, pegel nih habis lari-lari.."

Yaelah, ujung-ujungnya gue jadi tukang pijit. Tapi kalo buat Della boleh, lah. Hehehe. Maka jadilah gue tukang pijit dadakan. Sekilas gue liat ekspresi Della, kayanya keenakan banget sampai merem-merem gitu. Mungkin karena cape. Biasanya kalo dia lari, ya minimal 10 Km lah. Kalo gue intip Strava dia, malahan bisa sampe di atas 20 Km kalo weekend.

"Del, ikut gue yuk? Gue pengen fotoin lu.."
"Mmmh.. Gratis atau bayar neh?" Sahutnya ogah-ogahan sambil tetap memejamkan mata.

"Gratis.."

Della sontak mendekatkan wajahnya sambil tersenyum lebaaaar banget. Gue udah hapal. Pasti ada maunya.
"Gratis? Hehehe.. Bener ya? Lu lagi sadar kan ini? Ya udah, gue ajak temen boleh ga?"
"Siapa?"
"Ada deh, kepo banget sih lu? Ikhlas ga?"
Nih anak, ditanya baik-baik malah judes banget jawabnya. Emang kampret!
"Kalo ga ikhlas, gue juga ga nawarin lu kali.."

Maka kami putuskan untuk berangkat ke sebuah cafe yang desain nya memang aesthetic banget. Cocok lah buat sesi foto. Cafenya emang bagus sih, cuma sayang, bagi gue menunya mahal-mahal padahal rasanya biasa aja. Tapi yah, karena udah gue niatin kasih kado sesi foto to the Birthday Girl, gue iya-in aja.

Tok tok tok.. "Woe Don, buruan.. Gue uda laper neh."
Oh yes, we're living in the same place. Tepatnya kost campur. Soal gimana pertemuan kami, kayanya ga perlu diceritain lah ya? Ngga ada spesialnya kok. Hanya mahasiswa di kampus yang sama yang kebetulan ada di jurusan yang sama dan tinggal di kost yang sama.

"Iya, iya, sabar Bu.." Jawab gue sambil membuka pintu.

"Hai, Don.. Kenalin ini Darrel. Uda siap lu? Berangkat sekarang yuk?"

Okay.. I'm lost, and I need a few seconds to come back to my senses.

"Oh, hai. Gue Donny" Kata gue sambil tersenyum dan menjabat tangannya.
"Darrel.." Balasnya.

Tadinya gue pikir bakal berdua aja ama Della. Ternyata dia bawa bodyguard. It's okay, Don. Breathe.. Just breathe slowly and let it all go. Gue ambil tas kamera, mengunci kamar dan mengikuti mereka turun ke mobil Darrel.

Woooah, a Baby Benz, guys. Gue ga tau pasti ini tipe apa. Kayanya sih, C class. But still, come on, this is a Baby Benz guys.. Mobil idaman gue dari kecil. Akhirnya, kali ini gue bakal tau gimana rasanya duduk di sebuah Mercedes Benz.

Sewaktu gue mau masuk membuka mobil, suddenly my head hurts. I mean, it so goddamn hurts like hell! Gue ga pernah ngalamin ini sebelumnya.

Apa gue salah makan? Atau mungkin gue salah minum baygon di kamar tadi? Tapi kayanya ga mungkin lah ya. Apapun penyebabnya, yang jelas kepala gue sakit banget kaya mau pecah. Dan kayanya kaki gue uda ga sanggup berdiri tegak. Gue ambruk di tempat.

"Don.. Don.. Lu kenapa? Muka lu pucat banget" Samar-samar gue bisa lihat Della keluar dari mobil dan menghampiri gue. Raut wajahnya terlihat panik.

"Lu kenape, Bro? Tadi gue lihat lu tiba-tiba ambruk gitu.? Tanya Darrel sambil membantu gue duduk. "Lu ga kenapa-kenapa kan? Ada yang luka?"

Kampret, make nanya lagi. Ya jelas, lah gue kenapa-kenapa. Walau gue juga ga tau tepatnya kenapa.

"Ngga, cuma tadi tiba-tiba kepala pusing banget, kaya gelap gitu." Jawab gue sambil memegangi kepala. "Wah, Del, Darrel, sorry, kayanya gue ga bisa ikut nih. Padahal gue uda janji.."

"Ya udah, ga usah dipikirin dulu lah. Lu sakit? Mau dianter ke dokter?"

Oh, yes, please take care of me, Del. "Ngga usah, gue di kamar aja lah istirahat. Mungkin darah rendah kali ya?"
Tapi gue ga inget pernah punya darah rendah, sih.

Akhirnya mereka berdua bantu gue untuk balik ke kamar. Kebetulan di dekat Kost kami ada Apotek kecil. Della masih menyempatkan untuk beli vitamin dan obat pusing buat gue. Sementara Darrel dia minta untuk bungkusin makanan di warung seberang kost. Setelah semua selesai, baru mereka berdua pamit pergi.

Gue masih terkapar di ranjang gue. Rasa sakit yang masih tersisa, sekarang makin menjadi-jadi. Penglihatan gue makin kabur dan semua terasa makin gelap.

Gue terhentak kaget. Gue rasa gue sempat tak sadarkan diri. Gue butuh waktu untuk menghimpun tenaga karena kepala gue masih terasa sakit.. Anyway, what was that? Mimpi? But it felt too real for a dream. Gue ambil HP gue dan buru-buru menghubungi Della

Pesan di Whatsapp masih menunjukkan centang dua. Karena tak sabar, gue telpon aja Della. Sekali, dua kali, masih belum ada jawaban. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya telepon gue diangkat.

"Del, lu di mana? Everything's alright?"
Tak ada jawaban. Yang ada hanya suara tangisan Della.
"Del..? Kok nangis? Lu kenapa?"
Tangisan Della makin keras.
"Don.." Suaranya parau, dan terus menangis.
"Umm, Della, are you okay..?" Gue dengar dia berusaha mengatur napasnya di ujung sana. "Del, talk to me.. Where are you?"
Dengan suaranya yang masih sesenggukkan, dia menjawab, "Gue di rumah Sakit Persada, Don.

What? Rumah sakit? Perasaan gue semakin tidak enak.
"Rumah sakit? Kenapa Del?"

Cukup lama sampai Della menjawab pertanyaan gue.
"Kecelakaan Don. Tabrakan. Tadi pas on the way ke cafe.. Darrel masuk IGD. Kata dokter kondisinya parah dan kemungkinan kecil bisa selamat."

"HAH..? Serius lu? Oke, gue ke sana sekarang.."

Sewaktu gue sampai di pintu IGD, gue lihat Della dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Terlihat sangat gelisah dan tubuhnya penuh lecet di sana-sini. Sepertinya ada beberapa bagian tubuhnya yang memar juga.

"Del, gimana kondisinya?"
Melihat gue menghampirinya, tangisan Della meledak lagi. Dan apapun yang gue katakan, tak mampu meredamnya.

Beberapa kali kepalan tangannya dipukulkan ke badan gue sekencang-kencangnya sambil meraung. I know, most likely, the worst possible thing just happened.

RIP Darrel, 04 April 2000 - 25 June 2021
Diubah oleh randyw31
profile-picture
bukhorigan memberi reputasi
1
Masuk untuk memberikan balasan
Hide And Peek
07-12-2021 20:06
Quote:Dony
Alarm HP berbunyi. Jam 05.00 pagi. Waktunya bangun dan jogging. Masih ngantuk banget gue benernya. Tapi karena gue udah janji bakal nemenin Della buat jogging express, apa boleh buat. Jogging sejam sebelum ke kantor ga jelek juga. Mata jadi melek.

Sesudah gosok gigi dan pake baju olahraga, gue turun ke bawah. Udah ada Della di sana sedang stretching.

"Morning.."
"Morning.. Udah siap Don? Yuk, keburu telat ngantor ntar."
"Okay.."

Sekuat apapun gue coba, I can't catch up to her. How can she be so fast? Apa karena badannya lebih ringan ya? Jadi kalo ada angin, bisa kaya ketiup gitu dan larinya makin cepet?
Oke oke, sorry ngelantur. Intinya larinya cepet banget. Well, this is my 4th month jogging with her. Kayanya kalah jam terbang aja.

Kalo dilihat dari belakang, Della keren banget. Kalo gue ini cewek, pasti dia jadi Body Goals gue. Tapi karena gue cowok, pengennya dia jadi istri gue aja..

Yah, walaupun sepertinya cukup mustahil bagi gue. Kenapa? Ada banyak alasan, contohnya:
1. Gue Kristen, dia Katolik.
FAQ: Kan sama-sama Nasrani. Tuhan kalian sama kan?
A: Theoretically, Yes. We refer to the same God. Tapi ngga semudah itu. Ada banyak banget doktrin yang sangat berbeda dari kedua agama ini dan gue malas jelasin. Silahkan googling sendiri.
2. Dia Chinese, gue half-breed.
3. Gue BELUM mapan. Alias MASIH kere. Can you feel my optimism right there?
FAQ: Harta kan bisa dicari?
A: Terus lu kira nikah ga butuh duit? Beli rumah, mobil, make up, baju, salon ga butuh duit??
4. Dan beberapa alasan lain yang masih gue renungkan.
FAQ: Apaan tuh?
A: Hmm, honestly I'm not sure. We'll talk about it later.

Ga terasa, udah satu jam aja kita jogging keliling komplek. Kami kembali dan buru-buru persiapan ngantor. Jarak kantor kami berdua cukup dekat. Jadi kadang-kadang kami berangkat bareng.

"Del, lu ngga malu berangkat bareng gue?" Pernah satu kali gue tanya kaya gitu ke Della.
"Maksud lu?"
"Yah, bareng gue.. Kan naik motor jelek."
"Hmm.. malu sih.. Tapi..."
Waktu gue dengar jawabannya, jujur aja, ada rasa sakit di hati gue.
"Tapi apa?"
"Tapi boong.."
Oh, emang kampret..

Anyway, gue kerja di sebuah Bank. Jabatan gue keren: Assistant Manager. Sayangnya gajinya belum sekeren namanya. Awal mula gue tertarik masuk ke bank sebenarnya simple aja. Gue pengen kerja sekantor ama Della. Dia diterima dan gue ditolak. Indahnya dunia..

Singkat cerita, ada panggilan masuk dari Bank yang lain dan gue diterima di sana. Selain keinginan untuk punya duit banyak dan bisa membahagiakan orang tua, secara tidak langsung gue pengen buktiin ke Della kalo Dony si anak Half-breed kere ini juga bisa sukses. Kalo si Anak Singkong aja bisa sukses, maka Dony si Anak Indomie juga harus bisa!

To be success, you have to love your job. Ini adalah sebuah Quote yang sangat gue yakini. Tapi nyatanya, kesuksesan tak kunjung datang juga dalam pekerjaan gue. Not bad, but not spectacular as well. Wait, is it because it's actually Della that I love? Apa karena yang sebenarnya gue cintai itu bukan pekerjaan gue, tapi Della?

Jadi di sinilah gue, seorang Banker yang setelah 2 tahun bekerja juga kadang-kadang masih bingung apa yang sebenarnya dia lakuin di kantor. Rutinitas gue adalah:
Senin - Kamis: Kerja keras bagai kuda + diomelin bos + stress kalau akhir bulan.
Jumat: TGIF! Kadang gue ngopi bareng Della atau beberapa nasabah baik gue, kadang nonton bioskop, kadang cuma tiduran di bawah pohon bareng sopir kantor gue.. Intinya gue males kerja kalo Jumat. Akhir bulan pun kalo Jumat kayanya lebih enteng di pikiran.

Begitu juga dengan Jumat kali ini. Pas banget hari Jumat, tanggal 25 pula. Gue telpon Della.

"Del, sibuk ga? Ngopi yuk?"
"Ah gila lu, uda ketutup target lu? Akhir bulan nih."
"Belum sih, kurang dikit. Bodo amat dah. Udah sini aja temenin gue ngopi.."
"Ga janji. Gue ada janji ama client. Ya udah, gue masih sibuk nih. Bye."

Jawaban kaya gini ini cuma berarti satu: dia ga akan bisa.
Ya udah lah, gue cabut sendiri aja. Gue buru-buru kelarin beberapa dokumen transaksi nasabah dan gue berangkat. Indahnya Jumat ini..


Della
Hai, nama gue Ardella, biasa dipanggil Della. Gue anak pertama dari tiga bersaudara and my Dad is the only handsome guy in my family. Itu dulu. My Dad is not here with me anymore. He passed away when I was 21 y.o., right after that terrific accident. Dalam waktu dua bulan, gue kehilangan dua figur yang gue sayangi. My Dad and Darrel.

Gue bersyukur dilahirkan dalam keluarga yang sangat menyayangi gue. Walaupun secara finansial keluarga gue biasa saja, tetapi dalam hal kedekatan dan kehangatan keluarga, they are the best.

Keluarga gue punya toserba kecil yang sudah ditekuni Mama dan Papa sejak lama. Hidup kami cukup, tak berlebih. Papa adalah otak bisnis utama dalam keluarga kami. Sementara Mama adalah pengayom sejati bagi kami. Papa sering bertukar pikiran dengan Mama dalam segala hal. Segala persoalan dalam bisnis tidak pernah ditutupi oleh Papa kepada kami keluarganya. Jadi kami mengerti betul perjuangan Papa dalam menghidupi keluarganya.

Dan tibalah hari itu di mana Papa harus dibawa ke rumah sakit karena serangan jantung. Gue masih ingat jelas suara Mama di telepon waktu itu yang mengabarkan kepergian Papa. Dunia terasa runtuh buat gue. Baru saja gue kehilangan Darrel, cowok pertama yang gue sayangi, sekarang Papa juga harus pergi.

Why did it all happen? Di mana Engkau, Tuhan?

Waktu itu Dony memaksa untuk mengantar gue pulang ke Surabaya untuk pemakaman Papa. "Lu yakin mau pulang sendiri? Udah lah, gue temenin aja. Ga yakin gue lu bakal aman-aman aja."
Jadilah gue diantar dan dia nginep di rumah saudaranya. Katanya. Gue yakin dia bohong sih, karena gue tanya alamatnya di mana, jawabannya ga jelas.

Anyway, thanks Don. You're my best friend ever..

Sekarang gue berada di babak baru dalam kehidupan gue. Dalam 2 tahun bekerja, prestasi gue lumayan banyak. Beberapa kali menang sales contest. Kata bos gue, kalau performance gue seperti ini terus, tahun depan gue bisa dapat promosi. Mungkin sebagai Team Leader atau Branch Head. Semangat gue makin menjadi dengar hal ini.

Ada satu masalah yang gue cukup risih akhir-akhir ini. Mama mulai sering menanyakan calon gue. I thought I've made it clear to her that my career is the most important thing right now. Tapi kayanya masuk kiri, keluar kanan deh..

"Del, umur udah mau 24 lho. Kamu jangan keenakan kerja. Kamu itu cewek, punya batas umur. Ya kalo kamu cowok sih, mau nikah umur 40 juga oke aja.."
"Hhrrgghh... Mom... Come on..."
"Ya ya ya, Mama cuma ingetin aja. Ya udah, hati-hati di jalan. Berangkat bareng temen kamu itu? Sapa namanya? Dony?"
"Mom!! Udah deh, ah.." Kesel juga gue lama-lama dengernya.
"Della, kalau kamu pilih pasangan, kamu harus lihat bibit, bobot, bebet. Jangan lupa itu. Ya udah, bye."

What?? Telepon udah dimatiin padahal gue belum sempet jawab.
Kesel banget gue denger omongan Mama ini. Oke oke, gue emang ga ada hubungan apapun sama Dony, tapi gue ga terima aja dengan kata-kata yang seperti itu. Kolot banget.

Yea, Dony bukan pure Chinese. Istilahnya, ampyang. But so what? He's one of the nicest guy in this world. At least, for me he is..

Dan si Mr. Nice Guy ini baru aja ngajakin gue ngopi padahal gue lagi hectic banget. Sorry Don, I'd love to, but not today.

Gue buka chat dari calon nasabah gue. Orangnya masih muda, punya bisnis percetakan yang cukup besar. Ini referensi dari Dony. Kami memang saling berbagi customer base untuk membantu target kami masing-masing.
"Jadi ketemu hari ini Della? Saya ada waktu siang ini. Meet up di luar aja gimana? Sekalian lunch gitu."

So typical. Boys are boring.

"Oke, Ko. Bisa kok. Mau ketemu di mana?"
"Cafe X, jam 12.30 ya.."
Gue ngelirik jam tangan, "Oke ko, siap.."
Masih ada dua jam yang bisa gue pake untuk sales call.
0 0
0
Hide And Peek
07-12-2021 20:30
nice one, next.
0 0
0
Hide And Peek
07-12-2021 21:51
Quote:Dony
Sembari gue kerjain transaksi nasabah, pikiran gue jalan-jalan. Pertama ke Singapore, terus ke Vietnam, lanjut ke Jepang. Eh tapi kayanya ke Hawaii boleh juga nih. Damn, why is it so hard to focus? Gue jadi inget kata dosen gue dulu, "Don, kamu itu sebenarnya cerdas. Mudah menangkap pelajaran. Cuma sayang, kamu kurang fokus."

Another best Quote in my life. Dia adalah salah satu Dosen paling berjasa dalam hidup gue. Kata-katanya menyadarkan gue. Sejak saat itu gue cuma fokus ama Della. Dan gue masih yakin kalau gue bakal sukses.

Oke, yeah, lagi-lagi gue gagal fokus. Bukannya kelarin kerjaan, malah nostalgia. Dony, Dony..

Sambil gue beresin dokumen, I'll tell you guys. Selama ini gue belum pernah, gue ulangi, belum pernah sekalipun bahas soal perasaan gue ke Della. I don't know why, but since Darrel's death, she closed her heart tightly. To ANYONE. Gue juga ga tau Darrel itu sosok cowok seperti apa, karena di masa-masa Della (mungkin) mulai dekat dengan Darrel, gue sedang berusaha merampungkan skripsi gue. Yang pasti sih, bokapnya punya duit banyak. Baby Benz, man..

Dan kalo gue bercermin, inilah kondisi gue. Dony si anak Indomie yang BELUM sukses. In fact, gue belum punya apa-apa. Masih kost, kendaraan cuma sepeda motor, tabungan gue juga masih belum punya 8 angka nol.. Pathetic. Selama gue bekerja, ini pertama kali gue merasa minder dengan diri gue sendiri. Hari Jumat indah gue berubah jadi hari Jumat kelabu.

Hmm.. Apa gue pantas buat Della? Mau sampe kapan kaya gini Don?

Okay, Jumat kali ini akan jadi Jumat produktif.
"Pak Dadang, anterin saya ke apartment X, ya.."
"Baik, Mas.."
Gue diem.. Ni driver kenapa ga berangkat sih?
"Pak, apartment X, pak."
"Baik, Mas" Dia jawab sambil tersenyum.
"Lah kok ga jalan sih pak? Tunggu apaan?"
"Oooh, ini sudah toh? Kirain masih ada yang mau ikut.. Maaf, Mas.."
Sabar Don, sabar..

Tujuan gue ke sini adalah gue mau survey harga apartment. Beli rumah sangat tidak mungkin buat gue saat ini. Otomatis pilihan yang tersisa adalah apartment yang relatif lebih murah.

Setelah gue tanya-tanya ke mbak marketingnya yang lumayan cantik (ga penting) tadi, kesimpulannya sebagian besar tabungan gue akan habis untuk membayar DP. Dan cicilan bulanannya akan memakan sekitar 30-40% gaji gue. Untuk ukuran finansial gue sekarang, seharusnya gue masih mampu sih kalau bisa hemat.

"Bisa lihat contoh unitnya?"
"Bisa pak, ayo saya antar."
Sesudah mengambil beberapa foto untuk referensi, gue pamit ama mbak marketingnya yang cantik (ga penting) tadi.

Alright, mari kita coba tanya pendapat Della.
Gue kirim WA ke dia, "Sabtu ada acara ga? Ikut gue yuk"
"Where?"
"Ada deh"
"Ogah kalo ga jelas.."
"Intinya gue mau minta tolong sama lu.. Bawel ah. Udah ikut aja.."
"Yeee maksa. Ogah!!"
Diubah oleh randyw31
0 0
0
Hide And Peek
21-12-2021 15:31
Kisah Horror Rumah Bangunan Belanda
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
aroma-lily-kematian
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
pesan-dari-arwah-part-5
Stories from the Heart
sebelum-reda
Stories from the Heart
mencapai-kata-selesai
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia