Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
2382
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61a92ee7a2d6440d6a3ee838/makam-kembar-gunung-kambengan
Thread original! Dilarang mengcopy, mengutip, memperbanyak, dan atau mengunggah sebagian atau seluruh isi thread ini dalam bentuk apapun dan di media manapun tanpa terkecuali! Bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi tegas!
Lapor Hansip
03-12-2021 03:39

Makam Kembar Gunung Kambengan

Past Hot Thread
icon-verified-thread



Makam Kembar Gunung Kambengancover by : @sart86




Prolog

Wonogiri, awal Oktober 1976

Hari masih gelap. Namun suara kokok ayam jantan mulai terdengar bersahut sahutan, pertanda bahwa pagi mulai datang menjelang. Samar samar, gema adzan Shubuh berkumandang dari Musholla yang berada di sudut desa Margopuro. Namun suasana di desa itu terlihat masih sepi. Jam jam segini, orang orang lebih memilih untuk merapatkan selimut dan melanjutkan mimpi indah mereka daripada harus memenuhi panggilan untuk melaksanakan ibadah itu.

Udara dingin khas pegunungan menjadi faktor utama yang menyebabkan warga desa Margopuro itu enggan untuk keluar rumah di pagi buta. Apalagi hujan deras yang mengguyur semalam, masih menyisakan gerimis rintik rintik di pagi itu. Kalaupun ada sebagian warga yang tergerak hatinya untuk memenuhi panggilan sholat itu, maka mereka lebih memilih untuk beribadah di rumah saja.

Desa Margopuro memang sebuah desa terpencil yang terletak di kaki Gunung Kambengan. Sebuah gunung kecil yang menjadi bagian dari pegunungan seribu yang membentang dari timur ke barat di sebelah selatan desa. Tak heran kalau desa itu memiliki udara yang sangat dingin. Apalagi di saat pagi buta begini.

Tapi..., tunggu! Sepertinya tak semua warga desa Margopuro memiliki pemikiran yang sama, karena samar samar, ditengah keremangan dan rintik gerimis, nampak sesosok bayangan hitam yang melangkah bergegas menusuri jalan setapak yang menuju ke arah gunung. Tak begitu jelas sosoknya, karena selain hari masih gelap, sosok itu juga berjalan tanpa membawa alat penerangan. Sebagai gantinya, ada sebatang tongkat kayu yang tergenggam di tangan sosok itu, yang sesekali ia gunakan untuk menyangga tubuhnya agar tak sampai jatuh terpeleset di jalanan yang licin berlumpur, dan di lain kesempatan ia gunakan untuk menyibak rumpun semak dan ilalang liar yang menjuntai ke tengah jalanan, agar tak menghalangi langkahnya.

Langkah yang begitu tegas dan pasti, juga sedikit terburu buru, sambil sesekali menoleh ke kanan dan kekiri, seolah khawatir kalau ada orang yang memergokinya. Gerak gerik yang sangat mencurigakan! Sepasang kaki yang meski kecil tapi terlihat cukup kuat itu seolah memiliki mata, melangkah dengan lincah menghindari bebatuan sebesar kepalan tangan yang banyak bertebaran di jalan setapak yang menanjak menuju ke arah puncak gunung itu. Hingga akhirnya, saat sudah hampir sampai di puncak, langkah sosok itu terhenti di depan sepasang makam tua yang berada di tempat itu. Makam yang hanya ditandai dengan onggokan bebatuan padas yang disusun sedemikian rupa hingga membentuk dua empat persegi panjang yang saling berdampingan.

Sosok itu lalu berjongkok di depan kedua makam tua itu, menyalakan anglo yang berisi segenggam abu dapur dan beberapa butir kemenyan yang telah disiram dengan sedikit minyak tanah, lalu membuka bungkusan kembang setaman yang ia bawa dan menaburkan isinya keatas kedua makam itu sambil mulutnya berkomat kamit menggumamkan kalimat kalimat yang tak begitu jelas terdengar.

Desau angin yang tiba tiba bertiup pelan menggoyang goyangkan pucuk pucuk dedaunan, menimbulkan suara bergemerisik seolah menyahuti bisikan samar yang keluar dari bibir sosok itu. "Tak lama lagi, semua dendam kalian akan terbalas! Dan kalian bisa beristirahat dengan tenang disini! Selamanya!"

Rintik gerimis mulai mereda, seiring dengan munculnya semburat warna jingga di ufuk timur sana, menerangi langkah si sosok hitam itu menuruni jalan setapak, kembali ke arah desa.

Siapa sosok itu sebenarnya? Apa maksud dan tujuannya hingga sampai bersusah payah mengunjungi dua makam yang berada di puncak Gunung Kambengan itu di pagi buta dan ditengah rinai gerimis yang tak berkesudahan? Mari kita simak kisah selengkapnya, hanya di SFTH Kaskus, forum kita tercinta!

bersambung



Note
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
achmadjuan16090 dan 135 lainnya memberi reputasi
132
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 22
Lihat 21 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 21 balasan
Makam Kembar Gunung Kambengan
03-12-2021 04:46
Om te es blg nya sakit.
Udah sembuh toh
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
Makam Kembar Gunung Kambengan
03-12-2021 04:57

Part 1 : Trauma Masa Lalu

Quote:Wonogiri, akhir Desember 1965

Galih kecil berjalan pelan menyusuri jalanan desa yang gelap dan sepi. Anak laki laki berusia delapan tahun itu baru saja pulang dari belajar mengaji di Musholla. Sebelah tangannya mendekap erat kitab Qira'at didepan dadanya. Sementara sebuah oncor (obor kecil berbahan bakar minyak jarak) tergenggam di tangan yang satunya, memancarkan sinar temaram yang menari nari menerangi langkahnya di jalanan yang sedikit becek akibat hujan seharian tadi.

Beberapa langkah di depannya, Ajeng sang adik yang baru berusia lima tahun nampak berjalan berjingkat jingkat, setengah berlari setengah melompat lompat, membuat rambut ekor kudanya yang kini bebas terlihat akibat kerudung kecil yang dikenakan oleh gadis kecil itu telah beralih fungsi menjadi semacam syal yang melingkar di lehernya, terayun ayun kekiri dan kekanan, mengikuti irama gerak langkahnya. Bibir tipis nan mungil gadis itu tak henti henti bersenandung, menirukan lantunan ayat ayat dari surah Al Ikhlas yang tadi diajarkan oleh Kang Mursyid di Musholla.

Galih tanpa sadar tersenyum kecil melihat keceriaan sang adik itu. Ini kali pertamanya Ajeng ikut ia mengaji, dan ia tak rewel sama sekali. Biasanya sang ibu tak pernah mengijinkan Galih mengajak Ajeng keluar begitu malam menjelang. Namun malam ini, entah kenapa sang ibu justru memintanya untuk mengajak Ajeng pergi mengaji bersamanya.

Kondisi desa memang belum sepenuhnya aman, setelah dua bulan yang lalu, disaat tengah malam buta, beberapa truk besar penuh berisi tentara bersenjata lengkap datang menyerbu desa mereka dan menangkap lebih dari separuh warganya. Konon katanya, mereka mereka yang ditangkap itu adalah para pemberontak yang beberapa hari sebelumnya melancarkan serangan berdarah di kota sana.

Galih kecil tak begitu paham dengan apa yang terjadi kala itu. Ayahnya, yang juga adalah seorang tentara berpangkat rendah yang ikut terlibat dalam operasi pembersihan itu tak banyak bercerita. Yang Galih tahu, suasana benar benar sangat berubah setelah kejadian itu. Desa menjadi sangat sepi karena sebagian besar warganya ditangkap dan dibawa entah kemana. Dan rasa sepi itu kian terasa, manakala sikap para tetangga terhadap Galih dan keluarga juga turut berubah. Mereka seolah berubah menjadi benci dan tak mau lagi bertegur sapa dengan kedua orang tua Galih. Bahkan sebagian orang tua melarang anak anak mereka bermain dengan Galih dan Ajeng. Dan bukan hanya para tetangga, Nenek Pariyem yang notabene masih bibi dari ibunya Galihpun ikut ikutan membenci mereka.

Sang ayah sendiri, yang seharusnya merasa senang dan bangga karena telah ikut andil dalam menumpas gerombolan para pemberontak itu, justru bersikap sebaliknya. Beliau selalu terlihat murung dan menjadi sangat pendiam. Jarang keluar rumah kecuali untuk pergi bertugas. Tak pernah lagi bergaul dan berinteraksi dengan para tetangga. Saat Galih kecil bertanya kenapa, sang ayah hanya menjawab singkat, "Ndak papa, ayah cuma sedikit lelah."

"Mas Galih! Buruan to jalannya! Kok malah ngelamun lho!" Suara cadel Ajeng membuyarkan lamunan Galih. Anak laki laki itupun lalu buru buru mempercepat langkahnya, begitu menyadari bahwa sang adik telah berjalan agak jauh meninggalkannya.

"Jangan cepet cepet jalannya Jeng! Ini becek dan licin lho jalannya. Kalau terpeleset dan jatuh gimana?" Tegur Galih mengingatkan sang adik.

"Bukan Ajeng yang jalannya kecepetan, tapi Mas Galih tuh yang jalannya sambil ngelamun, jadi lambat deh! Malam malam kok jalan sambil ngelamun. Kalau kesandung gimana?" Ajeng yang comel itu tak mau kalah memprotes.

"Iya iya, aku nggak jalan sambil ngelamun kok," elak Galih.

"Oh ya Mas, besok Ajeng ikut mengaji lagi ya?" Celoteh Ajeng sambil kembali berjalan.

"Memangnya boleh sama ibu?"

"Kan mau belajar Mas, biar pinter. Masa nggak boleh sih?"

"Iya. Nanti ngomong dulu sama ibu. Kalau ibu bilang boleh, besok Ajeng boleh ikut mengaji lagi."

"Asyiiikkkk...!!! Nanti Ajeng juga mau dibeliin buku kayak punya Mas Galih itu, biar bisa buat belajar," Ajeng terus berceloteh tiada henti. Sementara Galih hanya sesekali saja menanggapinya dengan sedikit ogah ogahan. Bukan! Bukan karena ia tak suka dengan keceriwisan sang adik. Tapi perasaan tak enak yang ia rasakan, seolah semakin menguat seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat ke arah rumah. Sikap sang ayah yang semakin hari semakin aneh, lalu sang ibu yang tiba tiba memintanya untuk mengajak Ajeng pergi mengaji, serta Mbah Pariyem yang sore tadi datang ke rumah dan tanpa sebab yang pasti memaki maki sang ayah, semua seolah menjadi sebuah firasat buruk bagi Galih.

Dan jantung Galih berdetak semakin kencang manakala langkah kecilnya mulai memasuki halaman rumah dan mendapati seluruh rumah dalam keadaan gelap gulita. Mungkinkah kedua oang tuanya sedang pergi? Tapi tak mungkin! Jelas bukan karena kedua orang tuanya sedang pergi, karena bukan kebiasaan mereka meninggalkan rumah dalam keadaan gelap di malam hari. Paling tidak, kalaupun mereka pergi masih menyisakan Ting (lampu minyak tanah yang biasa dipasang di tiang kayu teras rumah) tetap menyala.

Galih kecil semakin mempercepat langkahnya, mendahului Ajeng yang sudah bersiap untuk membuka pintu. Entah mengapa nalurinya mengatakan, ada hal buruk yang terjadi di dalam rumah, yang tak boleh sampai dilihat oleh Ajeng.

"Biar aku yang membuka pintunya Jeng," bisik Galih dengan suara gemetar, segemetar tangan mungilnya yang tengah memutar kenop pintu dan mendorongnya pelan.

"Kriyeeeettttt...!!!" Suara berderit dari engsel pintu yang sudah mulai berkarat terdengar jelas, menimbulkan rasa ngilu di gendang telinga Galih. Tangan mungil anak itu tertahan, saat pintu baru terbuka sebagian. Bias cahaya lampu ting dari teras rumah tetangga yang menerobos masuk dari celah pintu itu sudah lebih dari cukup bagi Galih untuk melihat apa yang ada didalam rumah itu. Seketika tubuhnya bergetar hebat, terpaku diam dengan kedua mata tak berkedip menatap sebuah pemandangan yang tak pernah ingin ia lihat meski di dalam mimpi sekalipun.

"Jeng..." sisa sisa kesadaran anak itu masih sanggup untuk berpikir jernih, dan berusaha agar Ajeng sang adik tak ikut menyaksikan pemandangan buruk yang barusan ia lihat.

"Iya Mas," Ajeng berusaha ikut mengintip kedalam, namun Galih terus berusaha untuk menghalanginya.

"Pergi ke rumah Bulik Parni! Sekarang! Suruh Bulik kesini! Ah, jangan! Jangan Bulik! Suruh Paklik saja yang kesini! Bilang kalau Mas Galih butuh batuan! Kamu ndak usah ikut kembali kesini nanti! Tetap dirumah Bulik sampai nanti aku menjemputmu! Paham?"

"Baik Mas!" Ajeng yang mendengar perintah sang kakak yang diucapkan dengan nada sangat tegas itu segera ngibrit kerumah sang bibi yang hanya berjarak dua rumah dari tempat itu. Sementara Galih yang sudah benar benar tak kuasa menahan perasaannya, jatuh terduduk didepan pintu, menatap tubuh kedua orang tuanya yang tergantung terayun ayun di blandar (balok kayu penyangga atap rumah) dengan tali tambang yang menjerat leher mereka.

Galih tak kuasa menatap wajah penuh penderitaan dari kedua orang tuanya yang ia yakin sudah tak bernyawa itu. Matanya yang mulai basah hanya mampu menatap kedua tangan sang ayah dan ibu yang masih saling berpegangan seolah tengah berusaha untuk saling menguatkan itu.

"Bapak...! Ibu...! Kenapaaaaa...?" Galih menjerit histeris, sebelum akhirnya tubuh mungilnya ambruk kehilangan kesadaran.


bersambung
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ayambucin dan 75 lainnya memberi reputasi
76 0
76
Lihat 52 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 52 balasan
Makam Kembar Gunung Kambengan
03-12-2021 06:10
Mantap
profile-picture
profile-picture
profile-picture
macanmenoreh dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Makam Kembar Gunung Kambengan
03-12-2021 06:21
Wah baru nih, nitip sandal gan klo diperkenankan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
macanmenoreh dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Makam Kembar Gunung Kambengan
03-12-2021 07:00
emoticon-PertamaxPertamax hanya untuk gw
Diubah oleh slametfirmansy4
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Makam Kembar Gunung Kambengan
03-12-2021 07:01
emoticon-PertamaxPertamax hanya untuk gw
profile-picture
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Makam Kembar Gunung Kambengan
03-12-2021 07:01
emoticon-PertamaxPertamax hanya untuk gw
profile-picture
profile-picture
profile-picture
macanmenoreh dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Makam Kembar Gunung Kambengan
03-12-2021 07:01
emoticon-PertamaxPertamax hanya untuk gw
profile-picture
profile-picture
profile-picture
macanmenoreh dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Makam Kembar Gunung Kambengan
03-12-2021 07:01
emoticon-PertamaxPertamax hanya untuk gw
profile-picture
profile-picture
profile-picture
macanmenoreh dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Makam Kembar Gunung Kambengan
03-12-2021 07:02
emoticon-PertamaxPertamax hanya untuk gw
profile-picture
profile-picture
profile-picture
macanmenoreh dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Makam Kembar Gunung Kambengan
03-12-2021 07:02
emoticon-PertamaxPertamax hanya untuk gw
profile-picture
profile-picture
profile-picture
macanmenoreh dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Makam Kembar Gunung Kambengan
03-12-2021 07:02
emoticon-PertamaxPertamax hanya untuk gw
profile-picture
profile-picture
profile-picture
macanmenoreh dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Makam Kembar Gunung Kambengan
03-12-2021 07:02
emoticon-PertamaxPertamax hanya untuk gw
profile-picture
profile-picture
profile-picture
macanmenoreh dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Makam Kembar Gunung Kambengan
03-12-2021 07:02
emoticon-PertamaxPertamax hanya untuk gw
profile-picture
profile-picture
profile-picture
macanmenoreh dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Makam Kembar Gunung Kambengan
03-12-2021 07:03
emoticon-PertamaxPertamax hanya untuk gw
profile-picture
profile-picture
profile-picture
macanmenoreh dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Makam Kembar Gunung Kambengan
03-12-2021 07:03
emoticon-PertamaxPertamax hanya untuk gw
profile-picture
profile-picture
profile-picture
macanmenoreh dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Makam Kembar Gunung Kambengan
03-12-2021 07:03
emoticon-PertamaxPertamax hanya untuk gw
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Makam Kembar Gunung Kambengan
03-12-2021 07:03
emoticon-PertamaxPertamax hanya untuk gw
profile-picture
profile-picture
profile-picture
macanmenoreh dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Makam Kembar Gunung Kambengan
03-12-2021 07:03
Yg lain hush!! Gw sleding ke sebelah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
macanmenoreh dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Halaman 1 dari 22
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
sad-story-ombak-tak-bersuara
Stories from the Heart
sebelum-reda
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Heart to Heart
Stories from the Heart
10-meter
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia