Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
60
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61a6ff1eba18bd48692d1e24/misteri-warung-alas-roban-based-on-true-story
WARUNG DAN JALANAN DITENGAH HUTAN YANG SELALU MENJADI MISTERI, KARENA KEANGKERANYA DAN BERBAGAI NILAI HISTORISNYA SELAMA INI. HORMATI RULES YANG ADA DIFORUM "MISTERI WARUNG ALAS ROBAN" (BASED ON TRUE STORY) DAFTAR ISI EPISODE 1. BERANGKAT TOURING EPISODE 2. WARUNG REOT EPISODE 3. SEMUANYA TETAP DIAM
Lapor Hansip
01-12-2021 11:50

MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)



WARUNG DAN JALANAN DITENGAH HUTAN YANG SELALU MENJADI MISTERI, KARENA KEANGKERANYA DAN BERBAGAI NILAI HISTORISNYA SELAMA INI.

HORMATI RULES YANG ADA DIFORUM




MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)

"MISTERI WARUNG ALAS ROBAN"
(BASED ON TRUE STORY)




DAFTAR ISI


EPISODE 1. BERANGKAT TOURING

EPISODE 2. WARUNG REOT

EPISODE 3. SEMUANYA TETAP DIAM
Diubah oleh bayubiruuuu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
somay555 dan 18 lainnya memberi reputasi
17
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
01-12-2021 13:49
Episode 1. BERANGKAT TOURING



Kegiatan libur semester adalah hal yang ditunggu-tunggu bagi para pelajar, khususnya Handy dan Tyo, dua teman akrab disatu kelas kebetulan satu bangku juga disekolahnya. Mereka adalah siswa disalah satu SMA yang berasal dari kota pahlawan. Kegemaran dan hoby mereka berdua ditahun 2011 adalah bermain otak atik motor tua, serta touring ke luar kota, diusia yang masih belia hobinya cukup menguras kantong kedua orang tuanya.

Akan tetapi kedua orang tua mereka tidak begitu mempermasalahkan hobi anaknya malah para orang tua Handy dan Tyo meras senang dengan kegiatan anaknya, yang terpenting masih dalam koridor kegiatan yang positif dan tidak menganggu kegiatan dan prestasi di sekolahnya.

Saat liburan kenaikan kelas XI menuju kelas XII telah tiba. Dihari minggu Handy dan Tyo sudah berkumpul diteras rumahnya Handy, sesuai janji mereka waktu dihari sebelumnya. Setelah ngobrol cukup lama, mereka berdua akhirnya berencana ikut Touring ke Jogjakarta bersama teman sekampung Handy. Padahal sebelumnya Handy Cuma mendapat sedikit informasi dari teman-teman didaerah sekitar rumahnya aka nada acara touring, didalam info yang diketahui Handy tersebut ada delapan orang dari tempatnyu yang nantinya ikut touring ke Jogja. Dengan skema, masing-masing peserta menggunakan satu motor diisi dua orang.

Saat masih duduk-duduk diteras dirumah Handy, berapa lama teman-teman dilingkungannya datang satu persatu kerumah Handy untuk berkumpul padahal sebelumnya tidak ada undangan.

Quote:“Eh Han, gimana selasa besok ada acara nggak. Kan sudah liburan? Mau ikut nggak Touring ke Jogja?” kata teman Handy yang biasa disapa Bejo

“Kelihatannya ikut mas, ini Tyo juga sudah redy!” Jawab Handy yang mantap

“Sep, bagus Han. Jadi anak muda ya harus begitu dong” sahutnya sambil Bejo memberi jempol kepada Handy


Disaat obrolan tentang tema touring ke Jogja berlangsung, sepuluh orang yang sudah berkumpul ini akhirnya menyepakati untuk Hari keberangkatan mereka, saat itu telah ditentukan start touringnya berasal dari dari kampung Handy, dan diakhri obrolan mereka menyepakati untuk berangkat hari selasa sore sehabis dhuhur sekitar jam satu siang.

***


Selasa sore di jam 1 siang, ternyata kedelapan teman kampung Handy belum ada yang datang. Padahal Handy yang sudah siap dengan Tyo dari jam 1 dan menunggu dirumah handy, “kemana temen-temen ini, kok belum ada yang datang”celetuk Handy, “Sabar Han, mungkin mereka masih siap-siap” Sahut Tyo disamping Handy. Kegiatan yang menjenuhkan ini berlangsung sampai sekitar jam empat sore. Perlahan tapi pasti rekan mereka satu persatu dari delapan orang akhirnya berkumpul semua di rumah Handy. Meski telatnya super, akhirnya mereka tetap berangkat bersama, semua rombongan berangkat dengan penuh semangat dan bahagia dengan motor yang sudah dibawa masing-masing rombongan.

Keberangkatan mereka berbekal seadanya, waktu dijalan sempat berpapasan dengan satu club motor yang sama tapi beda rombongan. Saat rombongan berjalan menuju Jogja, mereka dua kali berhenti di SPBU untuk istirahat dan mengisi BBM.

Selain itu mereka juga berhenti beberapa kali untuk membantu teman satu club motor yang mogok dijalan, padahal mereka belum saling kenal. Tapi rasa persaudaraan sesama pemilik motor tua yang menyatukan mereka untuk saling bantu membantu. Selepas itu, Perjalanan mereka penuh dengan canda tawa dan keseruan diantara para pemuda ini saat di jalanan, waktu terus berjalan seperti roda mereka yang terus melaju dijalan beraspal. Sesampainya di Jogjakarta mereka langsung menuju pantai Parang Tritis, tempat yang akan dijadikan berkumpulnya club motor ini.

Saat mereka sampai lokasi waktu menujukkan sudah malam hari, semua anggota rombongan ini memutuskan untuk menginap di areal tepi jalanan sekitar pantai. Begitu juga anggota club motor tua ini juga ikut bergabung dengan rombongan club yang datang lebih dulu, disaat bersamaan banyak club motor dari kota lain juga mulai berdatangan dimalam hari.

Suasana semakin malam semakin ramai dan riuh, saling sapa dan saling berbagi, makanan, minuman dan rokok adalah kebiasaan mereka saat acara seperti ini.

Malam hari itu mereka habiskan untuk nongkrong dipinggir jalan, bukan untuk istirahat melepas lelah. Jiwa muda mereka untuk mengenal satu sama lain dari lain daerah juga sangat kuat. Hal ini membuat anggota club dari kota pahlawan ini memilih untuk begadang malam itu. Padahal pagi hari akan diadakan acara orkes dangdut untuk memeriahkan acara mereka, tapi semua anggota club merasa tidak peduli dengan acara esok hari. Pikiran mereka hanya bisa bekumpul bersama teman-teman sesama satu club motor adalah sebuah kebahagiaan yang luar biasa bagi mereka.

Pagi menjelang, Handy dan Tyo sudah berada dipantai. Pikiran mereka gelisah dan tak nyaman pagi itu, keduanya merasa ada sesuatu yang mengganjal dari diri mereka. Padahal pagi itu mereka Sudah sarapan dan ngopi bareng teman-teman yang lain, tapi Entah apa yang terjadi saat itu pada dua pemuda asal kota pahlawan ini, semakin siang semakin mereka tidak betah dilokasi. Entah karena merasa kurang tidur atau masih kecapek’an, sedang kedelapan temannya tidak merasakan hal yang dialami Tyo dan Handy. Padahal acara pembukaan belum dimulai, keadaan touring kali ini bagi Tyo dan Handy tidak seperti touring-touring yang mereka alami sebelumnya menurut mereka berdua.

Sebenarnya hari itu memang menjadi touring terjauh untuk pertama kalianya bagi kedua sahabat ini, karena sebelumnya hanya touring di sekitar daerah Jawa Timur saja. Hari beranjak semakin siang, chek sound dan persiapan alat diatas panggung sudah siap digelar dipantai.

Informasinya acara sekitar jam sepuluh lebih baru akan dimulai. Tapi Handy tidak berkehendak demikian, ia yang masih duduk disebelah panggung bersama Tyo tiba-tiba berkata.

Quote:“Yo, ayok muleh ae, atiku wes ora enak” (Yo, ayo pulang saja. Hatiku merasa sudah tidak enak). Pinta Handy yang berdiri disamping panggung dengan wajah gelisah.

“Podo Han, aku yo kroso gak uenak iki” (Sama Han, aku ya merasa tidak enak ini). Jawab Tyo

“Yo wes nek ngunu, ayok langsung moleh ae” (Ya sudah kalau begitu, ayo langsung pulang saja). Sambung Handy

“Tapi gak pamitan neng arek-arek disek ta Han” (tapi tidak pamitan ke anak-anak dulu ta). Ucap Tyo

“Gak usah, engko nek pamit malah gak oleh muleh tambahan karo arek-arek” (tidak perlu, nanati kalau pamit malah tidak boleh pulang malahan sama anak-anak). Jawab Tyo yang sudah sangat gelisah dan ingin segera pulang.


Akhirnya Mereka berdua berjalan diam-diam dari sebelah panggung menuju parkiran motornya, mereka mengambil motor dan menuntunnya dengan perlahan. Siang itu mereka berdua berjalan menuntun motornya terlebih dahulu berdua melewati kerumunan anggota club motor, seakan – akan motornya terlihat mogok. “Nang ndi Han” (kemana Han). Tanya salah satu anggota club yang menggenalnya. “Sek ape mbenakno sepeda iki nang ngarep” (sebentar mau memperbaiki sepeda motor ini didepan). Jawab Handy sambil menunjuk kearah jalan. Padahal waktu keluar pantai pikiran mereka sudah mulai kosong, gelisah dan kacau, mereka sudah tidak sadar akan apa yang dilakukan.

Mereka berdua seperti terkena hipnotis, sampai dijalan mereka langsung menaiki motor tua itu dan memulai perjalanan pulang secara diam-diam. Sedangkan kedelapan temannya sudah bersiap-siap didepan panggung untuk acara pembukaan. Dan sekitar jam sepuluh pagi handy dan Tyo ternyata sudah keluar area acara dan sudah mengendarai motor tuanya diatas jalan raya.

Perasaan Handy waktu pertama keluar dari areal acara touring, ia melajukan motor menuju kearah Jawa Timur, mereka melaju berdua beberapa jam hingga tak terasa bahan bakar mereka mau habis. Merasakan hal ini, tarikan motor sudah tersendat-sendat, saat itu juga Handy mengurangi kecepatan sambil mencari SPBU terdekat.

Sekian meter mereka melihat SPBU, spontan tangan Handy membelokkan motornya disebuah SPBU kecil. Handy langsung ikut antrian paling belakang di Box bertuliskan Premium, Tyo sendiri langsung turun dari boncengan dan pergi kekamar kecil. Selesai buang hajat Tyo berjalan keluar, ia duduk jongkok dipintu keluar SPBU untuk menunggu Handy yang sedang mengisi premium. Waktu Tyo duduk ia melihat rombongan konvoi club motor yang sama dengan mereka melewati depannya, Tyo terus mengamati hingga ia berdiri.

“Whoi bareng” teriak Tyo dengan keras dengan melambaikan tangannya, tapi rombongan ini hanya melambaikan tangan dan tetap berlalu pergi. Tyo memandang ke mereka semakin menjauh dan menghilang di jalanan, sedang Handy masih antri di SPBU.

Sekian menit akhirnya Handy datang dengan mengendarai motor tuanya, Merasa mereka berdua sudah tertinggal jauh karena mengisi bahan bakar di SPBU. Tyo dengan cepat berdiri di belakang boncengan Handy…

Quote:“Ayo cepet budal, perasaan ku tambah gak uenak iki” (ayo berangkat ini sudah tambah tak enak ini) Ucap Tyo dengan memaksa.

“Yo ayo cepet ndang numpak des, nyocot ae”(Ya ayo cepat naik des, ngomong saja). Sambung Handy, serta ia menunggu Tyo naik dibelakang motornya.


Setelah Tyo naik diboncengan belakang, Handy langsung menarik gas dan melajukan motornya dijalan raya beraspal kembali.

Quote:”Arek-arek mau kok wes ora ketok yo?”. (anak-anak tadi kok sudah tidak kelihatan yo) Kata Tyo yang dibelakang.

“Sopo Yo” (Siapa Yo). Sahut Handy dari depan.

“Arek-arek seng sak club karo awak dewe Han” (anak-anak yang satu club sama kita Han). Jawab Tyo.

“Beneran Yo” Tanya Handi yang penasaran.

“Iyo…Han, lha kaose ae podo ambi seng tak gawe! banterno sepedae cok, ngomong ae selak keri iki” (Iya Han, lha kaosnya saja sama dengan yang tak pakai! kencangkan sepedanya cok, bicara saja bisa ketinggalan ini)”. bentak Tyo dari belakang.

“Iyo cuk, rame ae. Aku nggur takon” (Iya cuk, ramai saja. Aku cuma nanya) sahut Handy yang memulai menambah kecepatan.


Merasa kesal, motornya langsung dipacu dengan kencang, dengan kecepatan penuh motor Handy melaju Tapi belum bisa menyusul rombongan didepannya. Sekian lama mereka menyusuri jalan raya sampai akhirnya dari jauh mereka melihat areal hutan jati yang lebat didepan. Tapi teman-teman mereka tetap belum terlihat.

Quote:“Piye iki, arek-arek seng mau sek gurung ketok” (gimana ini anak-anak yang tadi masih belum kelihatan) Tanya Handy dari depan dengan keras.

“Wes tutno dalan gede iki ae gak popo, soale arek-arek mau liwat dalanan kene” (sudah ikuti jalan raya ini saja tidak apa-apa, soalnya anak-anak tadi lewat jalanan sini). Jawab Tyo dari belakang.

“Ya wes” (ya sudah). Jawab Handi didepan.


Dengan saran dan masukan dari sahabatnya Tyo, akhirnya Handy menurutinya tapi ia sedikit ngawur untuk mengambil posisi di jalan raya.

Handy yang gelisah dan bingung berpikir hanya untuk mengikuti jalan raya yang berada didepannya. Padahal mereka saat itu sudah salah jalur untuk pulang, kebingungan dan ketidaksadaran mereka dari pantai Parang Tritis membuat Handy mengendarai motor makin asal.

Dijalan raya yang disamping kanan kiri rumah telah habis, kini mereka mulai memasuki hutan jati yang lebat. Jalan mulai menanjak dan banyak belokan serta turunan tajam. Mereka melaju dengan kecepatan sedang meski sesekali kendaraan lain lewat dan menyalip mereka dari belakang.

Saat tanjakan tajam motor mereka dipacu untuk melewatinya, tapi motor mereka tidak kuat menaiki tanjakan. Melihat keadaan ini Tyo langsung turun dari motor dan mendorong motor Handy dari belakang.

Quote:“Ayo, Yo kamu bisa, seng banter maneh. Mosok bar mangan wes gak enek tenogoe cok” (Ayo, Yo. Kamu bisa, yang kencang lagi. Masak habis makan sudah tidak ada tenaganya cok). Kata Handy dari atas motor

“Asuuuu, abot iki cok” (Anjing berat ini cok) sahut Tyo


Seketika jalanan mulai landau, Tyo Kembali naik ke atas motor. Hal itu mereka berdua lakukan berulang kali, sampai mereka berjalan sekitar lima kilo meter jauhnya. Waktu berjalan hingga remang cahaya matahari mulai redup tertutup daun jati yang lebat dan rimbun, sekilas terlihat ada seorang kakek tua sendirian naik motor yang sama dengan Handy yang berjalan pelan dibelakang mereka. Saat itu kebetulan waktu Tyo sedang mendorong motor, diwaktu bersamaan Tyo memastikan bahwa Kakek itu seperti habis ikut konvoi, karena sang kekek memakai kaos dan atribut sama persis seperti kepunyaan club mereka. Sampai akhirnya sang kakek ini menambah kecepatan untuk menyapa mereka dari samping.

Quote:“Kenek opo le” (kena apa nak) Tanya kakek tua yang masih mengendarai diatas motor tuanya dengan pelan disamping Tyo.

“Sepedae mboten kiat damel nanjak mbah” (tidak kuat motornya buat naik ketanjakan mbah). Jawab Tyo yang mendorong dengan nafas ngos-ngosan

“Ayo bareng aku salah siji, ben gak mlaku” (ayo sama saya salah satu, biar tidak jalan) Tawar kakek yang memakai helm dan telihat sembulan beberapa rambutnya yang memutih.

“Nggih mbah matur nuwun” Sambung Tyo yang melepaskan tangannya dibelakang motor Handy.


Tyo sendiri langsung mendekati kakek tua ini dan menerima ajakannya, sejenak sang kakek berhenti sebentar dan Tyo langsung naik di belakang motornya sang kakek tua. Tyo dan kakek tua ini mengendarai motor berdua dengan lancar. Saat sang kakek memboceng Tyo, ia sempat bercerita bahwa asalnya dari Jawa Timur juga, tepatnya dikota sebelah Tyo. Mereka berdua melajukan motor mereka dahulu sambil berbincang panjang lebar.

Sedangkan Motor yang dikendarai Handy tadi tidak kuat ditanjakan sekarang tiba-tiba menjadi kuat saat melewati tanjakan dan bisa mengikuti motor kakek ini dari belakang. Sekian kilo meter jalan yang telah mereka lalui, kakek ini mengajak mampir disebuah warung untuk makan.

Sebenarnya Tyo tidak mau tapi kakek ini terus berkali-kali memaksa Tyo, sampai akhirnya dia sebagai penumpang mengikuti keinginan jokinya. Tyo sendiri juga merasa sudah merasa akrab pada kakek ini padahal baru ditemuinya beberapa menit yang lalu.


***
Diubah oleh bayubiruuuu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
marvina11 dan 21 lainnya memberi reputasi
22 0
22
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
01-12-2021 14:34
Lanjut gas pol gan
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan bayubiruuuu memberi reputasi
2 0
2
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
01-12-2021 17:17
Ayo tjoek , Jo kendor coekop tjawet koe ae sing kendor , gas troes , Sampek mari tjritane...
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan bayubiruuuu memberi reputasi
2 0
2
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
01-12-2021 17:51
Wihh juragan bikin trid maning.

Semangat. Ikut bikin jongko gan.
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan bayubiruuuu memberi reputasi
2 0
2
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
01-12-2021 19:46
Quote:Original Posted By tjawetkendor
Ayo tjoek , Jo kendor coekop tjawet koe ae sing kendor , gas troes , Sampek mari tjritane...


Sabar tjoek, tangane nggur loro seng ngetik. Mesti tamat, dijamin pak RT emoticon-Ngakak

Quote:Original Posted By chaoshary20
Wihh juragan bikin trid maning.

Semangat. Ikut bikin jongko gan.


Monggo:terimakasih
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
01-12-2021 19:56
Nitip sandal dulu emoticon-Bookmark (S)... emoticon-Ngacir
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan bayubiruuuu memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
01-12-2021 20:28
Seru banget... Kalau berkenan, silahkan mampir ke lapak stori saya di: https://kask.us/iGS27
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan bayubiruuuu memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
01-12-2021 20:39
tak parkir ambek moco matt, ...
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan bayubiruuuu memberi reputasi
2 0
2
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
01-12-2021 21:30
Lanjut bosss
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan bayubiruuuu memberi reputasi
2 0
2
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
01-12-2021 21:34
Nitip sendal
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan bayubiruuuu memberi reputasi
2 0
2
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
01-12-2021 22:18
Lama gak baca kisah horor di sini
Jejak emoticon-Traveller
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan bayubiruuuu memberi reputasi
1 1
0
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
02-12-2021 07:27
EPISODE 2. WARUNG REOT



Sedang Handy yang naik motor sendirian mengikuti kakek ini dari belakang, dan temannya Tyo yang duduk dibonceng langsung masuk ke areal warung berada. Saat sampai di halaman warung sederhana mereka memarkirkan kendaraan mereka masing-masing tepat dihalaman warung, selesai parkir lalu mereka bertiga ini masuk kedalam warung secara bersamaan. Setibanya didalam, sang kakek duduk menjauh dari Tyo dan Handy, dan sang kakek terlihat duduk menyendiri dipojok warung. Padahal suasana warung sore itu ramai dengan pengunjung lain.



Kedua pemuda yang tidak tahu arah pulang ini, tanpa rasa sungkan mereka juga ikut pesan makanan diwarung tersebut. ”Ini mas makanannya, sama minumnya” kata pramusaji yang datang menghampiri Tyo dan Handy sambil membawa dua piring nasi Rawon dan dua teh hangat. Sebelum makan mereka berdua sempat melihat jam dinding diatas pintu warung, waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 5 sore lebih lima belas menit.

Sejenak Tyo dan Handy makan, mereka melihat kakek tadi sudah makan dengan lebih dulu. Mereka saat itu juga mengikuti makan dengan lahapnya, Disela-sela makan tadi mereka sempat melihat sang kakek membayar semua makanan yang dipesan mereka juga. Dengan cepat makanan dipiring mereka sudah habis tak bersisa, Selesai makan mereka melihat sang kakek lewat depan mereka berjalan keluar. Saat itupun Tyo dan Handy juga beranjak dari tempat duduknya, mereka berjalan mengikuti sang kakek dari belakang. Sampai diluar warung kakek ini langsung duduk diatas motornya sendirian.

Dia menoleh ke Handy yang sama – sama sudah naik motor tua. Sedang Handy sendiri sudah menatapnya penuh curiga…

Quote:“Mbah mulihe ngetan bareng ae mbah” (mbah pulangnya ketimur barengan saja mbah). Pinta Handy penuh harap

“Ojok le, aku gupuh-gupuh iki. Masalahe aku jek enek urusan liyo” (Jangan nak, aku buru-buru ini. Masalahnya aku masih ada urusan lain). Jawab kakek ini dengan menyalakan motornya

“Wes tak disek” (sudah saya duluan). Pinta kakek ini yang singkat dan mulai dengan melajukan dahulu motornya keluar areal parkiran warung.


Kakek ini mulai meninggalkan mereka berdua dengan cepat, tapi Handy dan Tyo yang merasa sudah dibantu kakek ini mereka langsung mengejarnya dari belakang. Dengan cepat dua pemuda ini ikut menaikan motor dijalan beraspal, motor mereka yang mendadak normal melaju dengan kencang untuk mengejar dan membuntuti kakek ini.

Selama beberapa ratus meter tertinggal akhirnya sang kakek mulai terkejar, samapi sekitar dua puluh meter kakek itu masih terlihat didepan mereka, tapi disaat setelah belokan tanjakan kakek itu tiba-tiba menghilang. Mereka berdua bingung, seharusnya kakek itu berada tetap didepannya tapi tiba – tiba sudah tidak ada padahal setelah belokan tadi jalan didepannya lurus.

Quote:“Piye iki Yo, mbahe kok ilang” (gimana ini yo, kakeknya kok hilang) tanya Handy dengan menurunkan kecepatan serta menoleh kebelakang sebentar.

“Iyoe, gak enek mbahe” (Iya, tidak ada kakeknya). Sahut Tyo yang heran sambil menatap kedepan mencari sosok kakek tadi.

“Yo wes babahno! terus ae Han, wes ape bengi iki” (Ya sudah biarkan terus saja Han, sudah mau malam ini). Perintah Tyo dari belakang

“Yo wes” (Ya sudah). Jawab singkat Handy dengan menaikkan kecepatan lagi,
tanpa pikir panjang Handy menjalankan saran Tyo dan tetap merasa melajukan kendaraan untuk mengarah ketimur, menuju arah kota kelahirannya.


Hari semakin gelap, Motor mereka yang ditumpangi Handi dan Tyo terus melaju di areal hutan dengan pemandangan semakin lama semakin mengerikan. Digelapnya malam hanya beberapa kali mobil dan motor menyalipnya, mereka merasa lampu motor mereka juga semakin redup kekuningan saat itu. Daun - daun jati yang rimbun kanan kiri jalan menutup dengan kegelapan di semua sisi jalan.

Semakin jauh mereka melaju bau harum bunga kamboja mulai tercium, tapi kadang - kadang bau bunga kamboja itu berganti dengan bau busuk bangkai. Rintik hujan pun ikut turun, lama - kelamaan hujan semakin deras dan mulai menemani serta membasahi jaket tebal mereka, kedua sahabat ini tetap tidak berhenti untuk sekedar berteduh atau menahan dingin. Karena mereka hanya ingin cepat sampai dirumah.

Mereka berdua yang tergolong masih polos akan hal demikian, menganggap hal itu semua biasa saja. Handy terus melajukan motornya, disisi lain mereka juga tergolong anak yang nekat dan keras kepala. Hal itu semua dikarena lingkungan mereka yang mendidik karakter mereka menjadi demikian.

Semakin lama dan semakin jauh mereka melewati jalanan hutan ini derasnya hujan berganti rintik hujan, suasana pun berganti menjadi semakin hawa disektiar mereka menjadi lembab, disaat yang bersamaan mereka merasa tidak ada kendaraan satupun yang melintas. Dijalanan saat itu terasa sangat gelap, hingga daun-daun jati sudah tidak terlihat, hanya getaran daun – daun jati yang terkena bulir air sebagai alunan bunyi malam. Lama kelamaan mereka merasa hanya kendaraan mereka berdua yang ada dijalanan malam itu.

Sejauh kira-kira lima belas kilo dari warung pertama saat melintasi jalanan ke arah timur, Handi dan Tyo hanya melihat satu buah warung ditengah hutan tepatnya disisi kiri jalan. Posisi warungnya berada tepat setelah tanjakan ada belokan sedikit dari arah barat. Mereka berdua yang sekilas melihat bangunan itu reot, mereka tidak berpikir curiga sedikitpun akan warung ini. Mereka berdua pun terus melajukan kendaraan seperti sebelumnya, sampai Handy melihat didepannya ada pertigaan jalan besar, ia melaju lurus mengikuti jalan besar itu.

Tapi setelah melewatinya mereka kembali melintasi warung reot itu lagi, mereka berdua seperti berputar kembali. Hal ini terus berlangsung disaat Handy memacu kendaraan tuanya, kira-kira sekitar 12 belas kali mereka sudah melewati depan warung reot itu.

Sampai akhirnya Tyo yang kesal memulai menghitung perjalanan yang ke 13 ini, dengan hitungan pertama dilintasan yang sama, sedang Handy hanya fokus untuk menahkodai motornya.

Tyo mempunyai inisiatif sendiri, yaitu warung ini dijadikan penanda dan pengingat jika lewat lagi disini. Yang kedua setelah mereka tetap melewati warung yang sama disisi kiri jalan, Yang ketiga Motor terus berjalan mengikuti jalan raya sampai ada pertigaan lagi. Kali ini Handy memilih dijalan yang berbelok ke arah lain yaitu arah ke kiri, sekian lama memacu motor. Tapi yang ada mereka malah kembali lagi melewati depan warung yang sama ditengah hutan. Kesal dengan apa yang mereka alami, Tyo mendekat ketelinga Handy…

Quote:“Kok warung iki maneh Han” (kok warung ini lagi Han). Ucap bibir Tyo yang sudah berada tepat disebelah kanan telinga Handy.

“Iyo, bener Yo mosok awak dewe salah dalan” (Iya bener yo. Masak kita salah jalan). Jawab Handy dari depan dengan suara kencang.


Ternyata mereka hanya berputar dan berputar di jalan raya yang tidak berujung. Lama kelamaan mereka berdua tambah kesal dengan apa yang dialami, Tyo dibelakang mulai jengkel dan juga merasa capek serta kedinginan. Tyo sendiri ingin segera beristirahat.

Quote:“Eh Han awakmu iki asline iso nyetir gak cok” (Eh Han kamu ini aslinya bisa nyetir tidak cok?). Tanya Tyo dengan jengkel

“Maksudmu piye?” (maksud kamu gimana?) Jawab Handy yang masih tak mengerti maksud Tyo

“Kok kaet mau muter neng dalan iki terus? opo awakmu gak kroso aneh?”
(Kok kita dari tadi muter di jalan ini terus, apa kamu tidak merasa aneh?). Tanya Tyo dengan serius disamping telinga kananya.

“Iyo yo, aku dewe yo kroso. Tapi piye maneh aku nggur fokus nyetir delok dalan neng ngarep, soale dalane peteng?” (Iya ya, aku sendiri merasa. Tapi gimana lagi aku cuma lihat jalan kedepan, masalahnya jalannya gelap?). Jawab Handy dengan mulai mengurangi kecepatan laju motornya.

“Sek kalem-kalem ae motore, delok’en neng ngarep iku warung seng mesti awak dewe liwati kaet mau” (Sebentar pelan-pelan saja motornya, lihatlah didepan itu warung yang pasti kita lewati dari tadi). Jelas Tyo dengan sedikit mengigil

“Temen ta Yo” (Beneran ta Yo). Sambung Handy

“Temenan des warung iku mau wes tak titeni bolak balik, terus warung iku mesti enek neng siseh kiri dalan. Rupane yo pancet masio bolak-balik lewat kene” (Beneran des, itu tadi sudah tak ingat bolak balik, warung itu pasti ada disisi kanan jalan). Terang Tyo dengan penuh keyakinannya


Entah sampai berapa lama mereka berputar putar lagi di jalanan tengah hutan, malam itu mereka juga tidak bisa melihat jam karena HP keduanya baterainya sudah habis. HP mereka berdua ditaruh dijok motor, saat mulai meninggalkan SPBU terakhir.

Waktu motor terus melaju pelan tiba-tiba motor mereka mogok mendadak, tepatnya didepan warung reot yang jadi penanda yang mereka lewati tadi. Kondisi Mereka berdua malam itu sudah sangat capek, lelah, serta dingin dari hujan gerimis yang menemani mereka sepanjang gelapnya hutan jati yang mereka lewati. Tubuh mereka berdua juga mulai tambah kedinginan, sedang hati tenaga dan pikiran mereka mulai kacau linglung serta takut. Sambil memegangi motor yang mogok, Handy berkata kepada Tyo yang dibelakangnya…

Quote:“Han leren sek ae neng warung iku yo? Awakku wes kesel kabeh?” (Han istirahat dulu badanku sudah capek semua). Pinta Handy yang sudah merasa kelelahan

“Duite ngepres iki Han, iki nggur cukup gae tuku bensin tok” (Uangnya ini sudah mepet Han, ini Cuma cukup buat beli bensin). Sahut Tyo dibelakangnya

“Wes gak popo, tuku kopi ambek teh anget ae” (sudah tidak apa-apa, beli kopi sama teh hangat saja). Sambung Handi

“Motoku barang wes ora kuat temenan iki?” (Mataku juga sudah tidak kuat beneran ini). Kata Handy dengan serius

“Yo wes gak popo nek ngunu” (Ya sudah tidak apa-apa kalau begitu). Jawab Tyo yang mengikuti permintaan temannya.


Tak lama kemudian motor mereka dituntun ke kiri jalan menuju warung itu, warung reot itu hanya berdiri sendirian disebelah sisi kiri jalan. Dengan kondisi kelelahan mereka berdua langsung memarkirkan motor tua didepan warung tersebut, tepat disandarkan dibawah pohon jati besar.

Saat masuk warung mereka meletakkan helmnya di kursi depan warung, dan membuka kancing jaket tapi mereka tetap memakainya. Warung ini terbuat dari papan kayu dengan penerangan satu lampu neon kuning agak redup didalam warung. Depan warung ada dua pintu masuk yang sudah terbuka, dan jendela ditengahnya agak besar tapi sedikit terbuka. Lampu neon ini terlihat sudah sangat usang dan lusuh, sebagai penerangan satu-satunya di dalam warung, neon kuning itu tepat berada tergantung diatas meja tengah warung.

Saat mereka masuk kedalam warung ini, ada tiga buah kursi kayu yang terpisah. Kursi itu masing-masing didepan samping kanan dan kiri menghadap meja yang ditengah. Meja warung ditengah hutan ini berisi beberapa minuman kemasan dan tiga loyan macam-macam jajanan pasar. Tidak ada jajanan yang menggantung, atau kemasan pabrik, persis seperti warung jaman kuno.

Handy dan Tyo yang capek, langsung duduk meluruskan kaki dikursi sebelah kanan meja. Didepan meja ternyata sudah ada satu orang pengunjung. Seorang pria agak tua seperti pulang dari sawah. Tapi anehnya pria ini kepalanya hanya menghadap minuman kopi di atas meja yang berada didepannya dengan kepala setengah tertunduk. Sehingga wajah pria ini tidak terlihat sama sekali, karena penerangan dari lampunya sendiri sangat redup.

Pria ini memakai kaos loreng lengan pendek dan celana pendek warna hitam. Sedang topi caping sawahnya beserta sabit ditaruh di meja sebelah kanan kopinya. Sedang disebelah kiri warung ada dua orang yang bermain catur diatas kursi kayu panjang, tapi kedua orang ini hanya diam memandangi catur. Keduanya memakai baju lengan panjang jaman dahulu dengan celana panjang berbahan kain.

Didepan mereka masing – masing ada secangkir kopi hitam, mereka duduk saling tertunduk memandang catur hingga Handi dan Tyo tidak bisa melihat wajahnya juga.

Handi dan Tyo yang tidak bisa melihat muka para pengunjung lain akhirnya dia mencoba bertanya dari tempat duduknya. Tapi Handi melempar pertanyaannya terlebih dahulu kepada kakek-kakek yang duduk sendirian…

Quote:“Pak seng dodol niki pundi? pak seng dodol niki pundi?" (Pak yang jualan ini mana? Pak yang jualan ini mana?) Tanya Handy sambil duduk dengan posisi tegap.


Merasa tidak ada jawaban dari kakek ini, Handy lalu bertanya kepada kedua orang pria yang sedang bermain catur didepanya sebrang meja, yang berada tepat dihadapannya.

Quote:“Pak seng dodol niki pundi?” … pak seng dodol niki pundi? (Pak yang jualan ini mana?, Pak yang jualan ini mana?). Tanya Handy lagi dan lagi…


Sekian menit dan berkali-kali Handy bertanya pada dua orang yang bermain catur ini tidak ada jawaban, kesal dibuat oleh kedua pemain catur ini akhirnya handy berganti bertanya kepada kakek yang duduk sendirian didepan tapi kakek itu tetap diam tidak memberi jawaban sepatah katapun. sampai Handy bertanya kepada mereka bertiga orang yang berada ada warung secara bergantian. Tapi semua pria ini hanya diam membisu. Semua pria disini aneh karena tidak menghiraukan Handy yang bertanya kepada mereka semua.

Quote:“Han, kok ambune menyan yo warunge” (Han kok bau kemenyan ya warungnya). Celetuk dan Bisik Tyo pelan sambil hidungnya mencari sumber dari aroma kemenyan tersebut.

“Podo, menengo ae gak penak nek krungu karo seng due warung des” (sama, diam saja tidak enak kalau terdengar sama yang punya warung des). Sahut Handy dengan berbisik ditelinga Tyo, lama kelamaan Handy merasa jengkel, Tyo juga merasa ikut jengkel juga karena temannya tidak direspon.

“Golek ono ndok njero ae Han bakule” (cari saja didalam Han penjualnya) Pinta Tyo yang duduk dengan memandang langit-langit warung.


Saat itu juga Handy memutuskan masuk ke dalam warung sendirian. Sampai diruang belakang Handy mendapati ruang gelap, hanya sedikit cahaya dari lampu depan warung yang mengenainya.


***




profile-picture
profile-picture
profile-picture
marvina11 dan 19 lainnya memberi reputasi
20 0
20
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
02-12-2021 10:02
nice gan, lanjut.
profile-picture
bayubiruuuu memberi reputasi
1 0
1
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
02-12-2021 10:41
Jejak dulu udah lama gak liat SFTH emoticon-Traveller
profile-picture
bayubiruuuu memberi reputasi
1 0
1
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
02-12-2021 12:06
Seram cuk
profile-picture
bayubiruuuu memberi reputasi
1 0
1
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
02-12-2021 13:33
Waduh... pesenan emoticon-coffee belum dateng juga nih emoticon-Nohope

Apa warungnya bau menyan juga kali ya ... emoticon-Confused
profile-picture
bayubiruuuu memberi reputasi
1 0
1
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
02-12-2021 17:29
Tak njantelno tjawet disek ndes...
profile-picture
bayubiruuuu memberi reputasi
1 0
1
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
02-12-2021 19:19
Quote:Original Posted By adipd
Seram cuk


Iyo tjoek... emoticon-Ngakak

Quote:Original Posted By masih.abu.abu
Waduh... pesenan emoticon-coffee belum dateng juga nih emoticon-Nohope

Apa warungnya bau menyan juga kali ya ... emoticon-Confused


Sabar masih malam jum at

Quote:Original Posted By tjawetkendor
Tak njantelno tjawet disek ndes...


Semplakmu wes ilang des, dicolong demite roban emoticon-Ngakak
0 0
0
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
02-12-2021 20:03
Lanjut gan
profile-picture
bayubiruuuu memberi reputasi
1 0
1
MISTERI WARUNG ALAS ROBAN (BASED ON TRUE STORY)
03-12-2021 11:30
emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga
profile-picture
bayubiruuuu memberi reputasi
1 0
1
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
aroma-lily-kematian
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
mencapai-kata-selesai
Heart to Heart
Stories from the Heart
pesan-dari-arwah-part-4
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia