Hobby
Batal
KATEGORI
link has been copied
2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/619e3cd8efc18e409c03ef60/review-novel-janji-karya-tere-liye
Banyak yang bilang kalau karya Tere Liye itu hanya tentang cinta-cintaan. Sepertinya orang yang beranggapan itu baru baca quote-quote Tere Liye di media sosial, deh. Karena, HEI! Novel Tere Liye itu lintas genre, tidak hanya romance. Perlu bukti? Saya bisa sebutkan beberapa contoh genrenya, mulai dari fiksi ilmiah, sejarah, biografi, aksi bahkan Tere Liye juga sedang menyiapkan genre
Lapor Hansip
24-11-2021 20:23

Review Novel Janji Karya Tere Liye

Past Hot Thread
icon-verified-thread
REVIEW NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE
(Dok. pribadi)


Identitas Buku
Judul: Janji
Penulis: Tere Liye
Diterbitkan: 20 Juli 2021
Halaman: 486 hlm; 20,5 cm
Penerbit: PT. Sabakgrip
ISBN: 978-623-97262-0-1

Banyak yang bilang kalau karya Tere Liye itu hanya tentang cinta-cintaan. Sepertinya orang yang beranggapan itu baru baca quote-quote Tere Liye di media sosial, deh. Karena, HEI! Novel Tere Liye itu lintas genre, tidak hanya romantis. Perlu bukti? Saya bisa sebutkan beberapa contoh genrenya, mulai dari fiksi ilmiah, sejarah, biografi, aksi bahkan Tere Liye juga sedang menyiapkan genre detektif, olahraga, dan horror, lho!

Dan salah satu novel Tere Liye terbaru—sebenarnya novel yang paling saya tunggu, Janji ini juga mengangkat genre keagamaan. Novel ini adalah novel major alias tidak berseri. Sekali baca tamat, tidak bersambung. Dan vibes novel ini menurut saya Tentang Kamu, Rindu dan Rembulan Tenggelam di Wajahmu banget.

Sinopsis
Novel ini berpusat pada tokoh Bahar, seorang santri nakal yang bertransformasi menjadi baik karena sebuah janji. Di novel ini saya merasa diajak untuk menelusuri kedewasaan seseorang tidak hanya dari seberapa lama umurnya, tetapi, dari perjalanan hidup yang telah dilaluinya.

"Baik, dengarkan lima pusaka ini, Nak … Apa pun yang terjadi setelah hari ini, di mana pun kakimu akan pergi, pakailah pusaka ini."—hlm. 486

Lebih menarik lagi, kisah Bahar ini tidak diceritakan langsung oleh dirinya, melainkan oleh trio nakal bernama Hasan, Baso, dan Kahar. Mereka bertiga masuk di sekolah agama yang sama dengan Bahar setelah 40 tahun tragedi Bahar membakar pesantren dan memutuskan pergi dari sana.

Setelah tragedi tragis itu, Bahar pun menjadi pengembara dalam kehidupannya sendiri. Pergi dari sekolah agama itu masih tidak cukup untuk mendapatkan kebebasan baginya. Karena sejauh dan ke mana pun kaki Bahar melangkah, di lubuk hatinya selalu terikat janji yang menuntut untuk ditepati.

Dan perjalanan Bahar menepati janji dari Buya (pimpinan sekolah agama) itulah yang dijejaki oleh tiga sekawan, Hasan, Baso, dan Kahar. Ketiganya memiliki perangai tak jauh berbeda dengan Bahar, yaitu, ingin dikeluarkan dari sekolah agama tersebut. Setelah tragedi teh garam yang dilakukan oleh tiga sekawan, mereka mendapatkan “hukuman”. Hukuman itu adalah mereka diizinkan pergi dari sekolah agama, dengan syarat menemukan Bahar. Dalam misi pencariannya itulah yang justru membuat Hasan, Baso, dan Kahar belajar banyak hal dan mengubah jalan pikirannya selama ini.

Resensi
Tema yang diangkat dari novel ini sebenarnya tidak hanya soal keagamaan. Namun, mengajarkan juga tentang manusia yang terdidik bukan hanya dia yang lulus sekolah, nilai bagus dan berprestasi secara akademis. Pendidikan tidak hanya di sekolah, proses transfer ilmu bisa terjadi di mana, kapan dan oleh siapa saja. Sebagaimana Bahar yang banyak mengambil pelajaran walau sebagai narapidana, tukang servis elektronik, penambang bahkan juru masak.

Kisah ini seolah menyampaikan bahwa sosok Bahar yang bahkan sekolah saja tidak lulus, berperangai buruk, tetapi bisa berubah menjadi sosok yang lekat menempel di hati orang-orang yang ditemui semasa hidupnya. Nama Bahar bahkan sangat cocok untuk menginterpretasikan tentang dirinya dalam kisah ini, Bahar Safar. Bahar adalah laut. Maksudnya kelapangan hati Bahar itu seluas dan sedalam lautan yang tidak bisa diukur dengan satuan manusia. Safar adalah perjalanan, sebagaimana kisah hidupnya di novel ini yang tak selalu lurus, ada kelok, naik, dan turun.

Penokohan
Bahar memang bukan orang baik, tetapi dia terikat dengan janji yang mengubahnya menjadi sosok yang lebih baik. Alur maju dan mundur kisah epik ini diceritakan dari sudut pandang orang-orang yang pernah ditemui Bahar. Terutama orang-orang yang selalu ditolong dan dibantu oleh Bahar. Di antara mereka adalah Bos Acong, Pak Asep, Mas Puji, Mansyur, Muhib, Pak Budi, dan Pak Sueb.

"Nasib, aku kira aku bisa mabuk dengan santai, sambil tertawa mendengar lelucon, atau membicarakan apa pun yang seru, ternyata hanya mendapatkan ceramah."—hlm. 74

Bahar bukan orang baik, tetapi Bahar selalu menepati janjinya untuk menghormati dan membantu tetangga. Walau kebiasaan mabuknya belum minggat, sehari-hari kerjanya serabutan, Bahar tetap beremapati membantu tetangga yang rumahnya bocor, membantu anak tetangganya untuk berobat.

Bahkan demi menolong tetangga, Bahar rela berkorban memakan makanan anjing. Menurut saya bagian ini sangat heroik melebihi aksi penyelamatan oleh superhero yang ada di film-film Marvel. Memang adegan itu mungkin hanya ada di cerita fiksi dan sangat tidak realistis, siapa juga manusia nyata yang mau makan makanan anjing? Apalagi hanya demi tetangga. Namun, substansinya adalah tetap berbuat baik pada tetangga, jangan malah menutup mata saat tetangga dilanda wabah/bencana. Lahan tetangga, dijadikan lahan parkir sendiri. Harum masakan tercium ke tetangga, dinikmati sendiri.

Babak kehidupan Bahar yang tak luput dari sorotan saya adalah saat Bahar di penjara. Bahar selalu berusaha berbuat baik, melindungi yang lemah dan
teraniaya. Lima tahun di penjara tanpa remisi dan fasilitas mewah, Bahar menghabiskan waktu mengikuti pelatihan untuk mengasah kemampuannya. Fakta itulah yang membuat Hasan membesuk ayahnya di penjara dengan nasihat haru nan bijak.

“Tidak perlu minta maaf. Aku sudah memaafkan semuanya. Toh aku tahu itu maaf palsu. Air mata buaya. Lihat, Ayah tetap sibuk menyuap sipir untuk semua fasilitas. Ayah tetap koruptor, penyuap, tidak pernah tobat walau sedetik. Berhentilah membohongiku dengan tangisan itu, aku sudah besar. Jika ayah benar-benar mau tobat, jadilah seperti Bahar. Setiap detik, sungguh setiap detik dia menjalankan hukumannya dengan sungguh-sungguh. Bukan malah menikmati penjara ini seperti hotel dan besok-besok saat keluar, kembali menjadi koruptor”—hlm. 259

Plot
Dari segi alur cerita di novel ini menggunakan alur maju-mundur bergantian, tentu saja dengan kemasan yang rapi tanpa membuat pembaca bingung. Walau tidak ada prolog, kisah Bahar yang saya baca dari bab awal hingga epilog seperti menyelesaikan sebuah puzzle. Tere Liye selalu sukses menyusun simpul mana yang harus lebih dulu diketahui pembaca dan mana yang terakhir.

Kalau soal pengemasan alur cerita, Tere Liye memang tak bisa diragukan lagi, melihat sudah ada lebih dari 40 judul bukunya menghiasi rak toko buku. Hal ini juga membuktikan kaidah 10.000 jam dalam buku Outliers karya Malcolm Gladwell, bahwa untuk ahli itu tak bisa instan, butuh latihan secara berkelanjutan. And i remember it all too well, Tere Liye mengatakan bahwa penulis itu harus produktif.

Gaya bahasa/majas
Memang novel ini bukan bacaan ringan yang akan saya rekomendasikan. Menurut saya diksi dan gaya bahasa yang diuntai dalam tiap babnya begitu kaya, tidak klise sama sekali. Misalnya, kebanyakan orang menggunakan peribahasa “musuh dalam selimut”, sedangkan di novel ini memilih menggunakan peribahasa “menngunting dalam lipatan”. Penggunaan diksi yang salah duanya saya suka adalah penggunaan kernet daripada kenek dankata kakus dibanding WC.

Sudut pandang
Dari segi sudut pandang, sebenarnya Tere Liye sudah pernah menggunakan formula seperti ini di novel Tentang Kamu (kisah Sri Ningsih diceritakan oleh Zaman Zulkarnaen). Jadi, kisah seorang tokoh tidak diceritakan langsung oleh tokoh utama, melainkan oleh orang lain. Dalam konteks ini, kisah Bahar diceritakan oleh Hasan, Baso, dan Kahar. Namun, saya tidak kecewa akan hal itu, karena Tere selalu bisa mengemas hal baru dalam tiap ceritanya.

Keunikan
Saya selalu suka membaca kisah cinta yang disuguhkan oleh Tere Liye. Dari sekian novel romantis karyanya, kebanyakan tokoh laki-laki selalu tak berdaya saat dihadapkan soal cinta. Sebut saja tokoh Danar di novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Borno di novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah, dan Bujang di novel Pulang. Begitu pun yang terjadi dalam novel ini, nyali seorang Bahar, mantan narapidana, mantan pemabuk, mantan pejudi, sangat amat teramat takut ungkapkan perasaan pada Delima (Pujaan hati pada pandangan pertamanya Bahar)!

Namun, di situ letak uniknya, yang biasanya cerita menghadirkan percintaan narsis, jangan harapkan itu di novel ini. Pokoknya kisah cinta karya Tere Liye itu tak menjual kemesraan, tetapi praktis bikin kecanduan.

“Astaga, Bahar! Aku kira kau ini orang paling pintar di sepanjang pertigaan ini. Genius. Bisa memperbaiki apa saja. Tapi ternyata kau bodoh sekali. Gadis itu mengharapkan kau. Dan kau juga mencintainya.”—hlm. 336

Latar
Sumpah, saya selalu kagum sama teknik show don’t tell. Dan teknik itu sangat tergambar jelas di novel ini. Tere Liye sama sekali tidak menyebutkan nama kota atau daerah sebagai latar cerita, melainkan menjelaskannya.

“Bahar lompat turun. Tersenyum tipis, dia suka kota ini, bangunan-bangunan dengan atap melengkung khas daerah setempat, jalan yang lebar dan rapi.”—hlm. 275

Kekurangan
Entah dilakukan dengan sengaja atau ada maksudnya tersendiri, menurut saya tidak adanya daftar isi adalah termasuk kekurangan dari buku. Terlepas apa pun alasannya, daftar isi bisa memudahkan pembaca melihat garis besar isi cerita.

Selain itu, ada beberapa bahasa atau istilah asing yang digunakan, tetapi tak diterjemahkan pada footnote. Misalnya, kata cāo dán di halaman 141. Dan kekurangan lainnya adalah kesalahan ketik pada;

“Astaga, Bahrun, nenek-nenek jompo bahkan lebih kencang tendangannya!”—hlm. 183 (Seharusnya adalah Mansyur).

“Persis jadwal juri kunci menutup pintu, mereka tidak kembali ke sel, bersembunyi di kamar mandi.” —hlm. 232 (Seharusnya juru kunci).

Kelebihan
Terlampau banyak kelebihan dari novel ini, tetapi yang paling spesial adalah banyak profesi dan pengetahuan baru di dalamnya. Seperti tentang dunia penjara, reparasi, dan pertambangan. Bahkan istilah baru yang juga membuka wawasan, seperti permainan mahyong, rumah bedeng, pohon Tabebuya, tailing, [I]corvee, dan voorman.

Amanat
Hidup ini hanya lelucon, jika tidak dimainkan dengan baik dan benar. Sebanyak dan semahal apa pun mobil Nissan yang dimiliki, nisan selalu menjadi akhir, bukan? Kiranya pelajaran ini yang saya petik dari novel Janji, bagaimana pun kehidupan mengalir, menjadi orang baik adalah warisan terindah untuk ditinggalkan.
Diubah oleh Alya917
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mashbrow dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Masuk untuk memberikan balasan
REVIEW NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE
25-11-2021 15:13
Nice share gannn
profile-picture
Alya917 memberi reputasi
1 0
1
Post ini telah dihapus
REVIEW NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE
26-11-2021 21:07
keren gan
profile-picture
Alya917 memberi reputasi
1 0
1
Post ini telah dihapus
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia