Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
132
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61972b1b67011c2a00081bc2/mimpi-dari-masa-depan
IHSG minggu ini ditutup dengan penurunan 75,07 poin atau sekitar 1,26% pada sesi I yang menandakan penurunan pada nilai beli masyarakat... Gelombang PHK sekali lagi menghantui seluruh pekerja yang bergerak di bidang industri... Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran pada Februari 2021 mencapai jumlah 8,75 juta orang... Viole berbaring diatas tikar dengan hanya mengenakan kaos dan
Lapor Hansip
19-11-2021 11:42

Mimpi Dari Masa Depan

icon-verified-thread
Mimpi Dari Masa Depan

IHSG minggu ini ditutup dengan penurunan 75,07 poin atau sekitar 1,26% pada sesi I yang menandakan penurunan pada nilai beli masyarakat...

Gelombang PHK sekali lagi menghantui seluruh pekerja yang bergerak di bidang industri...

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran pada Februari 2021 mencapai jumlah 8,75 juta orang...


Viole berbaring diatas tikar dengan hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Dia membiarkan televisi di dekatnya terus menyala dengan suara kecil dan mendengarkan potongan-potongan berita yang mungkin akan berguna dalam pencarian kerjanya.

Cahaya matahari menyengat masuk melalui jendela yang terbuka jadi dia menutup matanya namun tetap tidak bergerak dari posisinya. Layaknya koala yang menghabiskan 20 jam perhari untuk tidur dia juga sudah menghabiskan nyaris 2 jam tanpa bergerak dari posisinya, menunggu hingga petugas kebun binatang datang memberinya makan.

"Oi Pengangguran! Tiap hari cuma tidur aja! Cari kerja sana!"

Datang. Setiap hari di waktu yang sama ibunya akan datang dan mengatakan kalimat yang sama pula dan seperti sudah terjadwal mulut Viole terbuka secara otomatis.

"Aku masih nunggu panggilan kerja."

Sudah setahun sejak dia lulus dari universitas dan sudah setahun pula dia menganggur. Bukannya dia tidak mencari kerja, sudah ratusan lamaran dia kirimkan dan puluhan wawancara dia ikuti namun tak pernah sekalipun status penganggurannya terangkat. Mengingat itu, berita mengenai jumlah pengangguran yang samar-samar dia dengar terlintas di kepalanya dan bersyukur bahwa dia tidak sendirian, masih ada 8,75 juta orang lain yang bernasib sama dengannya.

"Jangan nunggu dipanggil, pekerjaan itu dikejar bukan ditunggu. Atau sekalian aja buat usaha sendiri. Masa sarjana ekonomi tiap hari cuma bisa minta duit ke orangtua?!"

Ingin rasanya Viole membantah namun semua yang ibunya katakan adalah fakta yang menyakitkan. Karna tak kuat mendengar omelan ibunya dia pun bangkit dari hibernasinya, berganti pakaian dan pergi ke kota dengan mengendarai motor warisan ayahnya. Dia tak punya tempat yang hendak dia tuju jadi saat ini dia hanya membuang-buang bensin namun itu lebih baik daripada mendengar ceramah ibunya.

Tak butuh waktu lama hingga dia terjebak dalam kemacetan di tengah jalan dan seolah itu belum cukup hujan deras datang dan menambah kesialannya. Segera dia tancap gas untuk mencari tempat berteduh namun ditengah jalan motornya mendadak mati karna kehabisan bensin jadi dia harus mendorong motor berat tersebut ke parkiran terdekat dan berteduh di teras sebuah toko.

Tubuhnya yang basah kuyup mengigil kedinginan dan sesaat kemudian perutnya meraung karna belum diberi makan. Dia merasa kesialannya hari ini tak bisa jadi lebih buruk namun akhirnya dia sadar dompet dan ponselnya ketinggalan di rumah.

"Shit!"

Tak ada uang, tak ada bensin, tak ada kepastian kapan hujan akan reda dan tak ada apapun yang bisa dilakukan untuk menghabiskan waktu. Jika saja dia tahu akan jadi begini dia lebih memilih menahan siksaan ceramah ibunya di rumah. Meskipun menyebalkan tapi setidaknya rumahnya hangat dan selalu ada makanan di meja.

Namun sekarang, yang dia dapatkan hanya tetesan air dingin dari pakaiannya dan pandangan tak sedap dari si penjaga toko. Sekarang setelah dia memperhatikan lebih detail ternyata tempat yang dia gunakan untuk berteduh merupakan sebuah toko buku namun tak terlihat satu pengunjung pun di dalam.

Viole lelah. Dia ingin duduk namun tak bisa menemukan tempat duduk di sekitarnya. Hujan yang dia harap segera reda malah semakin deras dan membuat tubuhnya mengigil tak terkendali. Satu jam lagi dalam keadaan seperti itu dia mungkin akan kena hipotermia.

"Anu... Om, kalau kedinginan masuk aja."

Dan kemudian suara itu muncul. Si penjaga toko yang sedari tadi memandanginya dengan ekspresi yang campur aduk. Ada beberapa hal yang mengganggu Viole seperti rambutnya yang separuh mengembang atau kaus kakinya yang tidak serasi namun hal pertama yang membuatnya tidak nyaman adalah perempuan itu baru saja memanggilnya 'Om.'

Apa dia memang terlihat setua itu? Perempuan penjaga toko itu hanya terlihat beberapa tahun lebih muda darinya jadi tidak seharusnya dia dipanggil 'Om.' Meski demikian dia harus menyingkirkan kejengkelan itu dan menerima kebaikannya.

Toko buku tersebut tidak terlalu luas namun penuh sesak dengan berbagai buku yang disusun menurut genre. Viole duduk di dekat rak buku yang kebetulan menjadi tempat penyimpanan novel fantasi. Buku-buku tersebut tidak lagi memiliki sampul plastik namun kondisinya masih terlihat bagus.

"Silahkan kalau mau dibaca Om," ucap perempuan itu lagi.

"Maaf, saya nggak bawa uang," tolak Viole sopan.

"Nggak apa-apa Om, membuka tidak harus membeli kok. Semakin bertambah umur kita harus semakin banyak membaca kan?"

Mungkin Viole harus mencukur kumisnya malam ini. Sudah lama tidak mendapat panggilan wawancara memang membuatnya kurang menjaga penampilan.

Demi menjaga kesopanan dia pun mengambil buku terdekat dan mulai membaca.

Meski tidak ada pengunjung lain namun toko itu terasa hangat sehingga membuat Viole nyaman dalam membaca. Tanpa terasa tangannya sudah membalik lembar demi lembar dan disaat dia mencapai halaman terakhir langit sudah kembali cerah namun dia tidak berpikiran untuk pulang.

Sudah lama sejak dia terakhir membaca novel, mungkin saat dia Sma atau malah Smp. Dulu dia punya beberapa koleksi novel yang dia beli dengan menabung uang jajannya setiap hari namun entah kemana perginya novel-novel itu sekarang. Mungkin ibunya mendonasikannya ke panti asuhan.

Ada bagian tertentu di kepalanya yang menuntut untuk mengenang masa lalu namun ingatannya mengenai masa itu sudah samar seperti halnya tinta yang ketumpahan air. Dia melirik kearah si penjaga toko dan menyadari dia sedang sibuk mencoret-coret sesuatu yang tak bisa Viole lihat jadi Viole menutup buku tersebut dan mengambil buku yang lain.

Rasa laparnya seolah jinak dihadapan kisah petualangan seorang bocah penyihir yang tengah dia baca. Dia tahu, jika menilai dari penerangan toko, bahwa matahari sudah terbenam namun dia baru benar-benar kembali ke kenyataan disaat dia menyelesaikan buku tersebut. Dia menutupnya sembari menarik nafas panjang dan saat membuka mata si penjaga toko sudah berdiri di hadapannya.

"Umm... maaf Om tapi sudah waktunya toko tutup."

Terkejut, kepala Viole spontan melihat kearah jam dinding dan jarum pendek sudah menunjukkan jam 11 malam. Ini bukan lagi waktunya untuk tutup toko melainkan waktunya untuk tidur.

"Maaf maaf, kenapa nggak bilang dari tadi?"

"Soalnya Om khusyuk sekali bacanya."

Viole merasa malu sekali dan berniat untuk pergi secepat mungkin namun sekali lagi dia teringat bahwa motornya kehabisan bensin. Jarak toko tersebut dengan rumahnya memang cukup jauh tapi tak ada pilihan lain selain mendorong. Dia tak mau mengambil resiko motornya dicuri orang jika ditinggal begitu saja.

"Motornya mogok ya Om?" tanya penjaga toko itu disaat melihat Viole susah payah mendorong motornya.

"Habis bensin," jawab Viole singkat. Dia masih malu karna kejadian tadi.

"Itu di ujung jalan ada pom bensin, buka 24 jam," ucapnya lagi.

"Saya nggak bawa uang."

Tatapan si penjaga toko persis seperti seorang dermawan yang melihat pengemis cungkring di pinggiran lampu merah. Dengan gerakan lamban dia merogoh sakunya dan perlahan mengulurkan uang sepuluh ribu rupiah pada Viole.

"Ambil aja Om, Buat isi bensin,"

"Eh jangan! Rumah saya nggak jauh kok."

"Udah ambil aja Om, sekalian buat beli makan."

Dia tak lagi mampu menahan rasa malu karna perutnya berbunyi keras seolah ingat sedari tadi belum diberi jatah. Dengan sangat canggung dia pun mengulurkan tangan dan mengambil uang tersebut.

"Tapi... kenapa Kamu baik banget sama saya? Kita nggak saling kenal kan?" tanya Viole.

"Umm... ngelihat orang lain nggak punya uang saya jadi ikut sedih," jawabnya sembari menunduk. Ekspresi wajahnya benar-benar terlihat sedih dan itu membuat Viole semakin merasa tidak nyaman. Dia tak sanggup menatapnya lebih lama jadi dia hanya mengucapkan terima kasih dan pergi. Dalam hatinya dia berniat untuk kembali ke toko itu lagi dan membalas budi. Pasti.

***


Malam itu tidur Viole tidak tenang. Kilatan bayangan seram terus keluar masuk dalam mimpinya dan disaat bayangan-bayangan itu pergi dia menemukan dirinya berada di ruang tamu rumahnya, berbaring mendengarkan berita seperti biasa.

Pertandingan persahabatan antara Persib dan Persija yang berlangsung minggu kemarin berakhir seri dengan skor 1-1.

Kasus penipuan yang melibatkan supermarket xxx masih belum mencapai titik terang. Pelaku diduga sudah melarikan diri keluar negeri.

Dan akhirnya, nomor pemenang undian Grand Prize bulan ini adalah—


"OI PENGANGGURAN! UDAH SIANG MASIH AJA TIDUR!"

Dan seolah kesadarannya dibanting kembali ke bumi Viole terbangun dengan cipratan air dingin di wajahnya. Ahh benar juga, karna terlalu lelah dia langsung tertidur tanpa repot-repot pergi ke kamarnya semalam. Hasilnya dia tertidur di ruang tamu dengan pakaian lengkap dan ibunya yang tidak bekerja karna ini hari minggu memarahinya lebih keras dari biasanya. Sungguh menjengkelkan.

Rasanya pasti akan luar biasa jika dia punya tempat tinggalnya sendiri, punya cukup uang untuk bersantai seumur hidup dan punya kebebasan untuk bangun tidur kapanpun dia mau. Sayangnya khayalan itu hanya akan menjadi nyata jika dia punya pekerjaan yang baik atau menang lotere senilai 10 milyar.

Berita tengah hari. Pertandingan persahabatan antara Persib dan Persija yang berlangsung minggu kemarin berakhir seri dengan skor 1-1.

Suara pembawa berita itu masih sama seperti biasanya. Viole meneguk segelas air dingin untuk melegakan tenggorokannya sementara berita berganti menuju kasus penipuan.

Kasus penipuan yang melibatkan supermarket xxx masih belum mencapai titik terang. Pelaku diduga sudah melarikan diri keluar negeri.

Tapi tunggu sebentar, kenapa berita itu rasanya tidak asing? Dia sudah mendengar berita itu sebelumnya dan kecuali dia sangat keliru, berita berikutnya adalah pengumuman pemenang undian.

Dan akhirnya, nomor pemenang undian Grand Prize bulan ini adalah—

"Satu tujuh tujuh kosong satu tiga."

—Satu tujuh tujuh kosong satu tiga.

Bahkan suara konfeti yang ditembakkan tak cukup untuk menyadarkan Viole dari kekagetannya. Itu terlalu jelas untuk disebut sebagai déjà vu dan raungan lapar di perutnya memberitahunya ini bukanlah mimpi.

Tapi, dia jelas-jelas memimpikan hal itu, disini, diatas karpet tipis yang sudah dimakan ngengat ini. Meski dia tahu dirinya sendiri tidak akan mempercayai hal ini, meski dia tahu bahwa ibunya akan menganggapnya gila dan mengirimnya ke RSJ, Viole tetap tak mampu menyingkirkan kesimpulan itu dari otaknya.

Semalam, di dalam mimpinya, dia sudah memimpikan masa depan.
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 5
Mimpi Dari Masa Depan
19-11-2021 11:43
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sayaitusiapa dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Mimpi Dari Masa Depan
19-11-2021 14:52
lanjut bree, ane ga liat tukang kopi di marih...

emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
yudhitea dan ih.sul memberi reputasi
2 0
2
Mimpi Dari Masa Depan
19-11-2021 18:21
Lek, lanjut lek..

Btw, gmn kabar, sehat?
profile-picture
profile-picture
yudhitea dan ih.sul memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Mimpi Dari Masa Depan
19-11-2021 20:00
Gelar tiker
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan ih.sul memberi reputasi
2 0
2
Mimpi Dari Masa Depan
20-11-2021 06:19
Gsssssssssss
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
1 0
1
Mimpi Dari Masa Depan
20-11-2021 11:12
titip sandal atau gelar tenda aja kali buat menunggu
profile-picture
profile-picture
yudhitea dan ih.sul memberi reputasi
2 0
2
Mimpi Dari Masa Depan
20-11-2021 13:09

Bab 2

Orang-orang bilang mimpi hanyalah bunga tidur yang tidak penting, orang sains bilang bahwa mimpi adalah proses yang otak lakukan untuk menyaring kejadian-kejadian apa saja yang perlu disimpan dalam memori sedangkan orang 'pintar' bilang bahwa mimpi adalah suatu pertanda, suatu peringatan yang dikirim dari masa depan.

Viole bukanlah orang yang percaya hal-hal berbau mistis namun untuk pertama kalinya dia membuka situs internet mengenai tafsir mimpi. Sebenarnya tanpa mengecek situs itu pun dia sudah tahu bahwa situs itu tidak akan membantunya.

Sejak saat itu, setiap malam, dia akan memimpikan sesuatu dan keesokan harinya mimpi tersebut akan terjadi di dunia nyata. Level dari mimpi yang dia lihat sudah jelas jauh diatas bentuk-bentuk aneh yang jika diartikan akan menjadi warna keberuntungan hari ini.

Dia benar-benar memimpikan masa depan. Bukan sekedar pertanda maupun simbol melainkan mengalami sendiri apa yang akan terjadi di esok hari. Entah itu cuaca, menu untuk sarapan maupun ocehan apa yang ibunya pilih untuk dilampiaskan padanya dia akan tahu dari mimpinya.

"Oi pengangguran! Kalau—"

"Iya iya, aku pergi cari kerja sekarang."

Viole sudah memakai sepatu sebelum ibunya mulai membandingkannya dengan anak tetangga yang baru-baru ini diterima sebagai PNS. Seperti yang dia lihat dalam mimpinya, pagi ini memang mendung namun hujan tidak akan turun jadi dia mengendarai motornya dengan santai menuju kota. Dia tak bisa menahan rasa antusiasnya.

Dua hari yang lalu, untuk pertama kalinya, dia memimpikan kejadian yang akan terjadi hari ini. Viole selalu memastikan untuk mengecek tanggal di dalam mimpinya namun mimpinya tak pernah memperlihatkan apapun yang melebihi 24 jam dari jam dia tidur namun setelah membaca teori-teori mengenai lucid dream mimpinya mulai berubah.

Katanya seseorang bisa melakukan apapun di dalam mimpi dan saat Viole merasa ingin melihat masa depan lebih jauh mimpinya pun berubah. Mimpinya hanya maju satu hari namun dia memikirkan sesuatu yang luar biasa.

Viole memarkirkan motornya di halaman supermarket dan memilih untuk menempuh sisa perjalanan dengan berjalan kaki. Tempat yang dia cari ternyata cukup jauh dari jalanan besar namun saat dia menemukannya jantungnya mulai berdetak cepat.

Dua hari yang lalu dia mendapat mimpi dan kemarin dia sudah memasukkan angka yang sesuai dengan mimpi tersebut. Untuk pertama kalinya dia benar-benar tak sabar melihat mimpinya menjadi nyata. Dengan terwujudnya mimpi tersebut maka hidupnya akan berubah, uang tidak akan menjadi masalah lagi.

Sembari memikirkan barang-barang yang akan dia beli nanti Viole memasuki sebuah warung kumuh dan menunggu, menunggu saat dimana nomor pemenang diumumkan.

Tempat yang Viole datangi hanyalah sebuah warung kopi kecil yang jauh dari keramaian. Tempat itu biasa digunakan oleh para pekerja lepas dan supir angkot untuk nongkrong sembari menegak secangkir kopi atau menghisap rokok.

Namun Viole tahu bahwa warung kopi hanyalah kamuflase untuk menipu mata aparat penegak hukum karna kenyataannya warung tersebut menjalankan bisnis togel alias toto gelap. Viole tahu tempat ini karna dulu ayahnya begitu sering menghabiskan uang disini. Tentu saja ayahnya tak pernah menang dan itu membuat Viole tidak tertarik mempertaruhkan uangnya pada keberuntungan namun sekarang berbeda, dia sudah melihat nomor yang akan keluar hari ini, meski cuma dalam mimpi.

Dipandanginya kertas yang bertuliskan 4 angka di tangan kanannya. Dia agak gugup, mungkin karna ini pertama kalinya, atau mungkin karna orang-orang di warung tersebut yang tidak terlihat ramah, yang jelas tangannya terasa dingin meski warung tersebut tidak memiliki AC.

Dari hati kecilnya dia tahu bahwa yang dia lakukan salah dan dia bisa saja ditangkap polisi namun jika dibandingkan dengan omelan ibunya tentang pengangguran dan tetangga PNS, wawancara dengan polisi terasa seperti seorang guru Sd yang bertanya berapa satu dikali satu.

Toh dia hanya bertaruh kecil, cuma sepuluh ribu namun dia bertaruh empat angka yang mana jika semuanya benar maka uangnya akan berganda 3000 kali lipat menjadi 30 juta. Dengan uang itu dia bisa mencari kos atau kontrakan dan mulai hidup mandiri, jauh dari ocehan ibunya.

Viole pun menunggu sambil berharap-harap cemas dan disaat nomor pemenang keluar dia merasakan euforia yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Rasanya jauh jika dibandingkan dengan menjadi juara kelas atau lulus kuliah, ini adalah rasa kemenangan yang sejati.

Viole mengambil uang hadiahnya dengan tatapan tak percaya dari banyak orang. Seumur hidup dia belum pernah menyentuh uang sebanyak itu dan berat yang dia rasakan dari kantong plastik pembungkus uang haram itu terasa begitu berat namun hangat. Viole tak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum.

Sekarang dia punya uang dan bisa terus membuat uang melalui mimpinya. Ibunya yang selalu mengomel pun akan diam jika dia punya banyak uang dan seperti yang selalu dia harapkan, dia bisa hidup nyaman tanpa perlu bekerja keras.

Dia mendekap kantung plastik berisi uang itu dan bergegas pergi sebelum tatapan para pecundang yang kalah togel itu membunuhnya. Dia berjalan cepat, nyaris berlari dan akhirnya tersandung.

Sedikit demi sedikit gairah yang dia rasakan berubah menjadi kekhawatiran. Dicengkramnya uang itu lebih erat dan dengan panik melihat kearah kanan dan kiri. Apapun yang terjadi tak boleh ada yang melihatnya dengan uang ini dan dia harus segera menyimpannya.

Tapi aneh, sepanjang gang yang sepi itu dia terus merasa diikuti namun setiap kali dia berpaling ke belakang yang dia lihat hanyalah jalanan kumuh dengan sampah bertebaran. Viole mempercepat langkahnya namun ketika dia tersandung untuk kesekian kalinya hal yang dia takutkan terjadi.

Dia tak bisa melihat apa yang terjadi karna tiba-tiba kepalanya sudah dimasukkan ke dalam karung yang gelap dan apa yang bisa dia rasakan kemudian hanyalah rasa sakit, sakit dari sekujur tubuhnya yang dipukuli tanpa henti.

Dia tak bisa melihat apapun dan tidak sanggup melawan. Yang bisa Viole lakukan hanyalah berdoa dan berdoa agar penderitaan itu segera selesai. Dan akhirnya, dengan hantaman keras di kepalanya, dia tak ingat apapun lagi.

Hal pertama yang Viole rasakan kemudian adalah basah, panas dan bau. Kepalanya terasa amat berat dan dikala dia membuka mata sinar matahari yang tepat berada diatasnya membuatnya buta untuk sesaat. Dia mencoba mengangkat tangannya namun gerakan kecil itu saja membuat tubuhnya menjerit.

Basah, panas dan bau. Perlu beberapa waktu bagi Viole untuk menyadari tubuhnya ternyata dibuang ke tempat pembuangan sampah. Lalat-lalat yang berkerumun itu di sekitarnya berdengung sangat mengganggu namun tak ada yang bisa Viole lakukan selain mengutuk.

Dalam sekejap dia berhasil mendapatkan 30 juta namun dalam sekejap pula dia kehilangan semuanya. Memang benar kata orang, apa yang diperoleh secara cepat akan hilang secara cepat pula.

Namun bukan itu yang membuat Viole kesal. Yang paling dia benci bukanlah dihajar hingga tak bisa bergerak maupun terbaring di tumpukan sampah sebagai makanan lalat, hal yang membuatnya menangis adalah kenyataan yang baru saja dia sadari.

Ternyata, yang namanya hidup memang tidak berpihak padanya. Tak peduli meski dia mampu mengetahui masa depan hidupnya tidak akan berubah. Bodoh, pengangguran, miskin, orang-orang selalu memanggilnya seperti itu dan mungkin akan terus begitu.

***


Viole tidak ingat bagaimana caranya pulang ke rumah, dia juga tidak menjawab saat ibunya bertanya mengenai luka-lukanya, yang dia lakukan begitu sampai hanya membenamkan wajahnya ke bantal dan tidak bergerak layaknya mayat.

Viole tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Rasanya ingin mati saja namun dia bahkan tak punya keberanian untuk bunuh diri. Apa dia harus menenggelamkan diri ke laut dan menjadi makanan hiu? Atau melakukan kejahatan yang akan membuatnya dipenjara seumur hidup? Menjadi narapidana kedengarannya tidak begitu buruk. Setidaknya dia tak perlu khawatir lagi dengan hidupnya.

Dan dengan ide-ide mengenai kejahatan apa yang harus dia lakukan Viole mengambil nafas panjang dan membiarkan alam mimpi menariknya sekali lagi.

Dan seolah-olah hal itu sudah wajar, Viole menjelajahi masa depan sekali lagi. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tak lagi dekat-dekat dengan perjudian seperti togel jadi dia tidak repot-repot berhenti untuk melihat nomor yang keluar. Dia berkelana terus dan terus sampai tak lagi tahu di waktu mana dia berada. Yang dia tahu hanyalah dia berada di depan sebuah mall yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Viole tidak memiliki niat apapun dikala dia memasuki mall tersebut namun saat dia masuk rasanya tidak ingin keluar lagi. Sudah lama dia tidak memanjakan diri dan di dunia mimpi ini dia bisa melakukan apapun yang dia mau. Tanpa ragu dia mencoba mobil yang tengah dipajang di aula, memainkan seluruh game di timezone dan, hanya karna iseng, meledakkan seluruh toko parfum hingga aromanya bertebaran ke seluruh penjuru mall.

Puas sekali rasanya mencoba setiap pakaian yang sebelumnya hanya bisa dia lihat namun perlahan-lahan rasa bosan itu menjadi semakin besar. Viole memilih untuk naik ke lantai yang lebih tinggi dan tanpa sengaja matanya tertuju pada sebuah toko buku, lebih tepatnya buku yang bertengger di puncak best seller.

Viole tidak mengharapkan apa-apa dikala membuka buku setebal 300 halaman itu namun saat sudah melewati bab pertama dia tak bisa berhenti untuk terus membalik lembar demi lembar. Ada alasannya buku itu bertengger di rak best seller dan siapapun yang menulisnya pastilah seorang jenius. Belum pernah Viole membaca novel sehebat itu dalam hidupnya.

Berkisah mengenai seorang anak Sma jenius yang mencari celah dalam peraturan sekolahnya demi berbagi contekan dengan teman sekelasnya. Aksinya dalam mengelabui guru dan juga kamera pengawas membuat Viole berdecak kagum. Kisahnya ditulis dengan rapi dan di beberapa bagian juga disisipkan bumbu humor untuk menaikkan semangat membaca.

"Gold experience," bisik Viole saat membaca judul novel tersebut. Pantas saja novel itu menjadi best seller, bahkan sampai kapanpun Viole tak mungkin bisa menulis cerita sebagus itu.

Sampai kapanpun....

Mendadak, seolah ada listrik yang mengaliri tubuhnya, Viole berdiri tegak dan mulai membaca kembali novel tersebut dari awal. Dia selesai membaca bab 1 dan kembali membaca bab 1 lagi dan lagi sehingga saat dia terbangun dia berhasil mengetik seluruh isi bab 1 di laptopnya.

Belum pernah dia merasa seperti ini, perasaan seolah tubuhnya dipenuhi oleh api panas, perasaan gairah yang memuncak hingga nyaris membuatnya meledak. Jantungnya berdetak cepat sekali namun rasanya memabukkan, sangat menyenangkan.

Seharusnya dia tahu. Viole adalah orang yang bisa memimpikan masa depan. Dia bisa melihat masa depan di dalam mimpi dan membawa kembali pengetahuan itu ke dunia nyata, ke masa kini. Itu artinya, jika dia bisa menghafal seluruh buku....

Viole menelan ludahnya dengan susah payah. Tampaknya, takdir masih berbelas kasihan kepadanya.

Tbc....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan 15 lainnya memberi reputasi
16 0
16
Mimpi Dari Masa Depan
20-11-2021 13:10
Lanjut?
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan jenggalasunyi memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mimpi Dari Masa Depan
20-11-2021 17:41
Lanjoootttsss
profile-picture
69banditos memberi reputasi
1 0
1
Mimpi Dari Masa Depan
20-11-2021 17:42
Cendol rate subskrep sent


Kudu tamat ini gan
profile-picture
69banditos memberi reputasi
1 0
1
Mimpi Dari Masa Depan
20-11-2021 20:19
Gak sabar nunggu si om nya jadi horang kaya emoticon-Cool
0 0
0
Mimpi Dari Masa Depan
21-11-2021 11:54

Bab 3

"Selamat siang. Benar Anda Pak Viole?"

Viole nyaris saja tertidur di kursinya yang keras. Udara yang panas dan kebisingan samar dari jalanan diluar gedung membuatnya merasa ngantuk. Viole mengusap wajahnya dengan cepat dan saat matanya kembali fokus dia melihat seorang wanita berwajah bundar dengan kacamata bertengger diatas hidungnya. Dia tampak hanya sedikit lebih tua atau malah sebaya dengan Viole jadi sangat aneh jika dia memanggilnya 'Pak'.

Tampaknya wanita itu juga menyadari kekeliruannya dan segera minta maaf.

"Maaf... Viole. Nama saya Laura. Ini kartu nama saya."

Laura menyodorkan kartu nama yang terlihat berkilau sambil tersenyum semanis-manisnya dan membuat Viole sadar bahwa wanita di depannya ternyata cantik sekali.

"Saya sudah membaca naskah yang Anda kirim," ucapnya tanpa basa-basi dan kini nada suaranya langsung memasuki mode bisnis. "Dan itu sangat... wow! Luar biasa. Belum pernah saya membaca novel sehebat itu—ahh, tolong es krim strawberry ekstra sirup satu," tambahnya pada pelayan kafe yang datang.

Laura mengambil tempat duduk berhadapan dengan Viole dan dengan cepat membuka laptopnya. Dia mengangguk-ngangguk atas apa yang dia lihat disana sementara Viole, yang masih belum diberi kesempatan bicara, meminum kopinya lambat-lambat.

"Jadi Mas Viole—"

"Viole saja."

"Okay Viole, apa Kamu punya pengalaman menulis novel? Mungkin novel online atau semacam itu?"

Viole meneguk tetes terakhir kopinya tanpa tahu harus menjawab seperti apa. Akhirnya dia memilih jujur.

"Belum. Itu novel pertamaku."

"Really? That's amazing! Kau mungkin jenius yang hanya terlahir sepuluh tahun sekali. Kalau boleh tahu umurmu berapa? Kerja apa? Atau masih kuliah?"

"Aku 23 September nanti. Baru setahun lulus kuliah dan belum dapat kerja," Jawab Viole agak malu namun Laura tampaknya tidak menganggap itu memalukan. Dia hanya mengangguk maklum.

"Jaman sekarang memang sulit cari kerja. Aku sendiri butuh 2 tahun untuk dapat pekerjaanku sekarang. Memangnya Kau jurusan apa? bukan jurusan sastra kan?" tanyanya agak geli.

"Memangnya kenapa kalau jurusan sastra?" balas Viole dengan pertanyaan.

"Bukan apa-apa bukan apa-apa," Laura menggeleng cepat. "Cuma... aku dulu kuliah jurusan sastra dan diantara ratusan teman seangkatanku yang benar-benar jadi penulis bisa dihitung jari. Malahan yang kerja di bank lebih banyak. Nulis buku itu nggak gampang. Sumber: pengalaman pribadi."

Viole tertawa kecil dan Laura menyendok es krimnya banyak-banyak sembari matanya mengamati Viole dari atas ke bawah dengan rakus dan itu membuat Viole gugup. Meski demikian Laura kembali tersenyum memamerkan giginya yang putih.

"Jadi Kau mengirim naskahmu ke penerbit kami. Tak salahkan kalau aku menganggap Kau ingin novelmu diterbitkan?"

"Oh iya. Memang itu tujuanku."

"Bagus sekali. Bisa kita langsung tanda tangan kontrak?"

Dari dalam tasnya Laura mengeluarkan surat kontrak yang dipandangi Viole dengan perasaan tak nyaman. Rasanya mirip dengan saat dia mendaftar kuliah, banyak istilah yang tidak dia mengerti dan pasal-pasal yang asing baginya. Untungnya, Laura dengan senang hati membantunya.

"Sejujurnya ini pertama kali aku menangani seorang penulis," ucap Laura sembari mengorek sisa-sisa es krim di dasar gelas, "aku baru diterima satu bulan yang lalu tapi kaulah orang pertama yang mengirim naskah yang menjanjikan—ahh, tolong es krimnya segelas lagi," tambahnya pada pelayan. "Kakakku terus mengoceh tentang kesuksesan penulis-penulis yang dia tangani sampai-sampai aku mau muntah mendengarnya."

"Kakakmu? Dia editor juga?"

"Oh iya," jawab Laura yang mendadak terlihat kesal. "Malahan dia seniorku di perusahaan. Kami sering dibanding-bandingkan dan siapa yang akan berharap pada Laura si itik buruk rupa jika ada kakaknya yang cantik jelita dengan segudang prestasi?"

"Memangnya siapa yang manggil cewek secantik Kau itik buruk rupa?"

"... thanks. Aku harap Kau masih akan mengatakan itu kalau sudah melihat kakakku."

Laura agak tersipu saat dipuji namun perhatiannya dengan cepat teralihkan oleh porsi kedua es krimnya sementara Viole terus membaca surat perjanjiannya dengan teliti. Dia sebenarnya bisa saja langsung menandatanganinya namun karna ini adalah kontrak kerjanya yang pertama dia harus ekstra berhati-hati agar nantinya tidak tertipu.

Namun tampaknya tak ada yang mencurigakan. Dia akan menyerahkan naskahnya dan pihak penerbit akan menerbitkannya dan dia mendapatkan royalti. Masalahnya adalah....

"Hei Laura, tentang royalti ini... bagaimana pembagiannya?"

"Oh, royalti. Itu tergantung penerbitnya tapi kami memberi royalti 10 persen pada penulis dari total harga jual buku. Jadi jika novelmu dijual lima puluh ribu maka Kau mendapat 5000 per eksemplar."

"Dan 90 persen sisanya?"

"Biaya produksi, pajak, pemasaran, promosi, editing dan sisanya masuk kas perusahaan," jawabnya lancar seolah sudah dihafalkan. "Dan biasanya kami juga nggak mencetak banyak. Mungkin hanya 1000 eksemplar di cetakan pertama."

"Seribu... itu artinya 5 juta," ucap Viole kecewa.

"Janganlah sebegitu kecewa. Novelmu luar biasa. Aku akan heran kalau ini tidak jadi best seller."

"Memangnya buat jadi best seller harus gimana?"

"Umm... aku kurang tahu kalau di penerbit lain tapi kami menetapkan standar harus cetak ulang dalam dua bulan," jawab Laura sembari mengerucutkan bibirnya. "Buku best seller biasanya didominasi buku motivasi tapi bukan mustahil untuk novel fiksi untuk masuk. Lihat saja Laskar Pelangi. Novelnya sampai dibuatkan film."

Viole, yang bahkan tidak pernah membaca Laskar Pelangi, hanya mengangguk tanpa arti. Tenggorokannya terasa asam gara-gara kopi yang dia minum dan sangat berharap bisa makan sesuatu yang manis seperti es krim Laura, tapi dia harus menahan diri setelah melihat harganya.

Namun dibandingkan asam dia lebih merasa tidak percaya diri. Di masa depan tak diragukan lagi novel yang dia tulis akan laris manis namun bagaimana dengan masa sekarang? Laura bisa saja mengatakan novelnya akan jadi best seller namun karna dia hanya editor pemula maka Viole tak bisa benar-benar mempercayainya.

Tapi, pilihan apalagi yang dia punya? Dia sudah menghabiskan sebulan penuh sakit kepala dan punggung demi novel ini jadi bodoh sekali rasanya jika dia berhenti hanya gara-gara takut novelnya tidak akan laku.

"Aku punya satu pertanyaan lagi, kalau novelnya nggak laku apa aku harus bayar denda?"

"Dan kenapa pula Kau harus bayar denda?" jawab Laura setengah geli.

Akhirnya Viole pun menandatangani kontraknya. Ada rasa lega sekaligus terikat setelah dia menyerahkan surat kontrak itu pada Laura namun rasa lapar segera menggantikan perasaan tersebut. Matahari sudah lurus diatas kepala dan Viole ingin segera pulang. Setelah bertukar kontak dengan Laura dia diminta untuk datang lagi keesokan harinya dan Viole pulang lebih dahulu (Laura masih ingin menghabiskan es krimnya).

Viole tidak menyangka semuanya akan berjalan begitu mulus. Selagi motor tuanya berkelit diantara mobil berwarna-warni dia kembali teringat akan satu bulan penuh kesulitan yang dia alami untuk menyelesaikan novel tersebut.

Setiap malam dia akan tertidur dan menghafal sebanyak mungkin kata yang bisa ditampung otaknya dan mengetik semuanya menggunakan laptop sebelum ingatannya memudar. Sangat menyakitkan, berkali-kali dia merasa begitu lemas dan sakit setelah bangun tidur namun hasilnya sepadan. Benar-benar tidak mengecewakan.

Kini hatinya terasa begitu ringan. Dia sudah bisa membayangkan wajah terkejut ibunya di rumah dan tak sabar untuk menunggu novelnya diterbitkan. Dia yakin, hari dimana novelnya diterbitkan akan menjadi titik balik dalam hidupnya.

Tbc....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan 13 lainnya memberi reputasi
14 0
14
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mimpi Dari Masa Depan
21-11-2021 11:54
Lanjut?
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan jenggalasunyi memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mimpi Dari Masa Depan
21-11-2021 18:11
nice.
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
1 0
1
Mimpi Dari Masa Depan
22-11-2021 09:38
lanjut nih, subskreb dulu ah
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
1 0
1
Mimpi Dari Masa Depan
22-11-2021 15:23

Bab 4

"Di jaman yang penuh dengan smartphone dan internet, membaca buku sudah menjadi kegiatan yang ketinggalan jaman. Dengan berjalannya waktu buku cetak yang tebal, berat dan mahal dianggap tidak lagi efektif sebagai media hiburan sehingga banyak orang memilih beralih pada situs-situs hiburan berformat video seperti youtube atau tiktok. Kendati demikian sebuah novel yang baru dirilis satu bulan yang lalu membuat banyak orang akhirnya meninggalkan situs hiburan tersebut dan kembali pada hiburan lama yang berbentuk buku cetak.

"Gold Experience adalah sebuah novel yang berkisah mengenai anak-anak Sma yang mengeksploitasi peraturan ujian agar bisa lulus dengan nilai sempurna. Cerita yang ditawarkan memberikan tamparan keras pada sistem pendidikan negara kita dan membuatnya sukses mencapai puncak tangga best seller. Novel ini ditulis oleh seseorang yang misterius, bahkan nama penanya hanya terdiri dari satu huruf, V. Siapapun orang yang ada dibalik kesuksesan novel ini tak diragukan lagi merupakan penulis terbaik tahun ini
—wah wah, lihat bagaimana orang-orang ini memujimu hei pengangguran."

"Sudah kubilang aku bukan pengangguran lagi. Sekarang pekerjaanku itu penulis, Pe-nu-lis," jawab Viole sambil tertawa kecil. Dia memakan roti sebagai sarapan dengan lahap sembari mendengarkan ibunya membacakan potongan berita mengenai dirinya di koran. Viole melirik keluar jendela yang mana diluar tetangga mereka tengah memamerkan mobil baru mereka pada semua orang yang lewat. Sinar matahari yang cerah membuat segalanya terasa berkilau, sempurna dengan perasaan Viole yang luar biasa baik.

"Tapi sejak kapan Kau punya hobi menulis?" tanya ibunya disaat Viole bersiap-siap untuk pergi, "aku tak pernah mendapat kesan Kau menyukai yang seperti itu."

"Ah, apa iya?" balas Viole dengan agak panik, "mungkin ini bakat alami."

"Bakat alami? Yah, benar, pasti begitu."

Viole punya perasaan tidak enak bahwa ibunya mencurigainya dan karna itulah Viole buru-buru menyalakan motornya dan melesat pergi. Pagi ini dia ada janji dengan Laura di kafe yang biasa dan saat Viole tiba Laura sudah setengah jalan menghabiskan es krim coklatnya.

"Es krim di pagi hari? Perutmu terbuat dari apa sih?" tanya Viole setengah geli. Setiap kali dia dan Laura bertemu es krim pasti akan ada diatas meja. Viole tak habis pikir bagaimana cara Laura mempertahankan figur langsingnya dengan jumlah gula yang setiap hari dia makan.

"Aku suka makanan manis," jawab Laura agak malu, "aku bahkan menyisihkan gajiku secara khusus untuk itu."

"Apa gajimu memang sebesar itu?" tanya Viole sembari mengernyit melihat harga es krim yang dimakan Laura.

"Hmm? Aah, pengeluaranku nggak banyak kok. Kontrakanku cukup murah, aku juga jarang hangout kemana-mana dan nggak punya siapapun untuk ditanggung. Mumpung disini kenapa Kau nggak coba juga?"

".... Okay, aku pesan satu."

Setelah kopi panas dari rumah lidah Viole terasa menggigil dikala bersentuhan dengan krim yang begitu dingin namun rasa manis yang menyebar di lidahnya bahkan lebih kuat dari rasa dingin itu sendiri. Manis, terlalu manis malah.

"Gimana?" tanya Laura.

"Manis."

"Cuma manis?" tanya Laura lagi, kali ini dia mendekatkan wajahnya sampai Viole bisa menghitung jumlah rambut yang menyusun alis tipisnya. Manis sekali.

"Yep, manis."

"Huh, kurasa cowok memang nggak paham dengan keagungan makanan manis. Ya sudahlah."

Laura melipat kedua tangannya diatas meja. Biasanya dia selalu meletakkan laptop di hadapannya namun tak ada tanda-tanda dia akan melakukannya kali ini. sebaliknya dia hanya tersenyum dan memandang Viole lekat-lekat sampai Viole salah tingkah.

"Jadi, Kau mau ngomong apa?" tanya Viole dengan jantung berdetak lebih kencang dari biasa.

"Umm... Kau mau dengar kabar baik atau kabar buruk dulu?" tanya Laura dengan kepala yang bergoyang ke kanan dan kiri seolah hendak menggoda dengan tak langsung membicarakan masalah intinya.

"Ngomong aja kenapa sih?"

"Ahh Kau nggak seru. Okay, kabar buruk dulu. Di internet, ada beberapa situs yang membajak novelmu."

"Situs bajakan?"

"Benar. Bukan cuma situs internet, kami juga dapat laporan ada orang yang membajak novelmu untuk menjualnya lebih murah. Kami sudah lapor polisi tentu saja tapi penanganannya pasti lama. Sebenarnya ini bukan urusanmu tapi lebih baik Kau tau."

Viole mengaduk-aduk es krimnya tanpa semangat. Mendengar bahwa novelnya dijual tanpa ijin tidak membuatnya marah. Dia justru agak merasa bersalah.

"Dan berita baiknya?" tanya Viole setelah beberapa saat dalam diam. Laura kembali tersenyum, kali ini lebih lebar.

"Siapkan hati dan jantungmu. Gold Experience mendapat tawaran adaptasi film."

Viole nyaris tersedak ludahnya sendiri dan membuatnya terbatuk keras. Dia menatap wajah Laura lekat-lekat namun Laura sama sekali tidak terlihat bercanda dan Viole yakin dia tidak salah dengar.

"Film? Padahal novelku baru terbit sebulan."

"Itulah hebatnya dirimu. Berbanggalah, ini pencapaian yang luar biasa."

Viole tak tahu harus berkata apa. Perasaannya berasa campur aduk namun karna tak ingin merusak ekspresi bahagia Laura dia mencoba untuk tersenyum. Pasti senyumannya terlihat aneh.

"Kau kelihatannya tidak senang," ucap Laura tajam.

"Bu-bukan begitu. Aku senang, aku cuma nggak nyangka bisa... bisa sesukses ini."

"Oh aku paham perasaanmu," ucap Laura antusias sembari tersenyum lebih lebar lagi. "Kau harus lihat ekspresi kakakku saat pimpinan memujiku. Ohh... sayang aku nggak ambil gambar."

Pikiran Laura tampak melayang untuk beberapa saat membayangkan sesuatu yang sama menyenangkannya dengan memenangkan lotere. Setelah satu menit Viole pun berdehem agak keras untuk menariknya kembali pada kenyataan.

"Oh, sampai mana aku tadi? Ahh iya, adaptasi film. Apa kira-kira minggu depan Kau ada waktu untuk bertemu pihak studio?"

"Minggu depan... kurasa nggak masalah sih. Tapi apa aku betul-betul harus datang?" tanya Viole agak tidak enak.

"Kurasa ada bagusnya untuk menunjukkan wajahmu sesekali," balas Laura pengertian. "Waktu Kau bilang ingin merahasiakan identitas aku bisa paham, banyak kok orang yang nggak mau jadi terkenal tapi kalau karyamu sesukses ini Kau nggak mungkin bisa sembunyi selamanya. Asal Kau tahu kami banyak menerima email penggemar yang ingin jumpa fans denganmu. Bukannya aku memaksa, tapi... anggaplah ini profesionalitas. Yep, profesionalitas."

"Profesionalitas... baik, aku mengerti."

Bagaikan manusia gua yang tiba-tiba dilempar ke tengah mall Viole merasa cemas dan gugup. Bukan berarti dia takut bertemu orang-orang baru. Hanya saja, apakah dia pantas mendapatkan ini semua?

Viole pun pulang dengan pertanyaan itu di dalam kepalanya. Dalam perjalanan pulang dia teringat akan sesuatu dan memutuskan mampir ke toko buku tempat dia pernah menghabiskan malam yang dingin, tempat dimana dia berhutang sepuluh ribu rupiah.

Pertama dan terakhir kalinya Viole berkunjung ke toko itu adalah saat malam hari dimana hujan membuat orang-orang enggan meninggalkan rumah mereka namun sekarang di siang hari toko buku tersebut terlihat cukup ramai dengan beberapa orang yang mengerumuni rak buku best seller. Viole tersenyum kecil saat melihat novelnya ikut dipajang disana sebelum menghampiri penjaga toko. Sayangnya itu bukanlah orang yang sama dengan perempuan yang dulu memberinya uang.

"Mau beli apa Om?" tanya penjaga itu dan sekali lagi Viole bertanya-tanya, apa dia memang terlihat setua itu?

"Maaf, disini ada pegawai yang... rambutnya agak mengembang terus... kaus kakinya beda sebelah... nggak?"

Viola sadar betul pertanyaannya terdengar aneh namun dia benar-benar tak tahu nama perempuan itu. Dia lupa menanyakannya.

"Nyari pegawai disini? Maaf Om, saya satu-satunya pegawai," jawab perempuan itu tidak terduga. "Tapi saya baru kerja disini satu bulan jadi orang yang Om cari mungkin sudah nggak kerja disini lagi."

"O-oh, gitu ya?"

Viole merasa kecewa dikala mendengar kabar yang tidak terduga ini. Itu satu-satunya alasan dia mampir kesana namun karna tak sopan pergi begitu saja Viole mengambil buku terdekat dan membelinya sebagai kamuflase kekecewaannya.

Diluar toko Viole mengeluarkan uang sepuluh ribu dari dompetnya. Malam saat pertama dia mampir ke toko ini dia tidak menggunakan uang itu untuk membeli bensin, harga dirinya melarang hal itu dan hasilnya uang tersebut terus mengendap di dompetnya.

Sekarang dia tak lagi bisa membalas budi, bahkandia mungkin tidak akan pernah bertemu perempuan itu lagi. Viole pun memasukkan uang tersebut kembali ke dompetnya dan kemudian pulang dengan hati yang terasa hampa.

Tbc....
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan 13 lainnya memberi reputasi
14 0
14
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Mimpi Dari Masa Depan
22-11-2021 15:25
Lanjut?
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan jenggalasunyi memberi reputasi
2 0
2
Mimpi Dari Masa Depan
23-11-2021 20:21

Bab 5

Viole menghabiskan satu minggu berikutnya dengan cemas memikirkan pertemuan dengan pihak studio. Kecemasannya berubah-ubah seperti pakaian yang harus dia kenakan atau apa yang harus dia jawab jika ditanya mengenai inspirasinya dalam menulis. Namun ketakutan Viole untuk bertemu pihak studio film ternyata tidak pernah terjadi. Sehari sebelum waktu yang dijanjikan Viole mendapat panggilan mendadak dari Laura yang meminta pertemuan dadakan.

Bagi Viole ini aneh sekali. Laura biasanya selalu mengirim pesan terlebih dahulu sebelum menelepon dan dia juga selalu membuat janji beberapa hari sebelumnya. Dengan firasat buruk Viole pun pergi ke kafe tempat mereka biasa bertemu dan betapa terkejutnya dia saat melihat Laura tengah duduk dengan secangkir kopi hitam di tangan.

"Ehh... Kau ada masalah atau sesuatu semacam itu?" tanya Viole hati-hati dan Laura yang tampak seperti kehilangan semangat hidup menggeleng.

"Ini masalahmu," ucapnya pelan. "Tapi malah aku yang depresi."

"Masalahku? Ada masalah apa?"

Laura mengangkat wajahnya dan memandang Viole lekat-lekat. Dalam sekali lihat Laura tampak seperti orang yang sudah mengalami penderitaan seumur hidup namun saat dia bicara suaranya mantap, dingin dan menusuk.

"Adapatasi filmnya dibatalkan."

"Haa??!!"

Teriakan Viole membuat seluruh kafe menoleh kearahnya namun Viole tidak peduli, dia menatap Laura tajam dengan perasaan terkejut yang terukir jelas disetiap raut wajahnya.

"Gimana gimana? Kok bisa?"

"Itu... pihak stuidonya memilih mengambil novel lain untuk diadaptasi."

"Novel lain? Novel mana?"

"Wonder of You," jawab Laura datar dan Viole mengernyit. Dia tahu judul novel itu, itu adalah novel yang dia beli dari toko minggu lalu dan dia harus mengakui bahwa novel tersebut sangatlah bagus, penuh dengan emosi dan kata-kata yang indah. Tapi bagaimana caranya novel yang baru terbit selama 2 minggu bisa mengalahkan novel Viole yang merupakan karya besar di masa depan?

"Itu novel dari penerbit yang sama kan? Apa itu laris?"

"Luar biasa laris," jawab Laura tidak senang. "Kalau dari penjualan semata novel itu pasti bersanding dengan novelmu."

"Kalau gitu kenapa bisa novel itu yang dapat adaptasi? Bukan novelku!"

Laura meneguk kopinya untuk menunda memberikan jawaban. Untuk pertama kalinya Viole melihat ekspresi pahit di wajah Laura yang manis.

"Kurasa itu karna kakakku," jawabnya pelan.

"Apa hubungannya dengan kakakmu?"

"Novel itu, kakakku editornya," jawab Laura dan sisa semangat terakhir menguap dari wajahnya.

"Aku tetap belum mengerti."

"Kakakku itu berbakat," jelas Laura dengan nada kedengkian di setiap suku katanya, "dia lulusan terbaik dari jurusan sastra terbaik di negeri ini dan ada beberapa novel binaannya yang sudah diadaptasi film jadi...."

"Jadi kakakmu membujuk pihak studio atau pihak studio lebih percaya pada kakakmu, begitu?"

Laura menghembuskan nafas berat dan mengangguk sekali sebelum kembali tertunduk.

"Entahlah Viole, kurasa aku bukan editor yang cukup baik."

"Ahh jangan ngomong gitu," bantah Viole cepat, "Kau editor yang terampil, aku nyaman kerja sama Kau."

Laura tersenyum kecil dikala mendengarnya dan Viole yakin aura gelap yang sedari tadi Laura keluarkan mulai berkurang.

"Makasih, makasih banget."

"Bukan apa-apa."

Pembicaraan mereka membuat Viole lupa untuk memesan dan tidak menyadari bahwa pelayan kafe sedari tadi menatapnya dengan pandangan tak sedap. Viole yang sudah menghafal daftar menu memesan kopi hitam yang biasa. Tidak etis rasanya memesan sesuatu yang manis di situasi pahit ini.

"Nggak usah terlalu sedih lah. Toh itu cuma adaptasi film, tanpa itu pun novelku tetap laris kan?" tanya Viole sembari menyesap kopinya dan merasakan bibirnya terbakar hawa panas. Laura menatapnya dengan pandangan seolah-olah Viole itu gila.

"Kau nggak tau, banyak novel yang penjualannya jadi lebih laris setelah ada filmnya. Bukan cuma itu, penulis novel juga dapat komisi dari penjualan tiket."

"Eh?! Serius?!"

"Serius," ucapnya lambat-lambat. "Tapi bukan itu masalahnya. Aku nggak masalah kalau novel lain yang dapat adaptasi tapi kenapa... kenapa harus kakakku sih?"

Melihat Laura yang mengumpat kearah gelas kopinya yang sudah kosong membuat Viole mau tidak mau merasa penasaran, apa sebenarnya yang sudah terjadi antara Laura dan kakaknya? Viole tak berani menanyakannya namun ternyata itu tidak perlu karna Laura sudah mengeluarkan seluruh uneg-uneg di kepalanya.

"Setiap hari Ayah selalu berkata 'Laila ini' dan 'Laila itu.' 'Laila bisa begini, Kau tidak bisa.' Ooh, siapa yang akan menaruh perhatian pada Laura yang bahkan akan menangis jika permennya diambil? Kakakku selalu bilang aku hanyalah anak cengeng."

Viole mau tidak mau harus setuju pada Laila yang tidak dikenalnya ini. Tampaknya, Laura memiliki semacam inferiority complex terhadap kakaknya dan karna itulah dia tidak senang saat kakaknya mendapat prestasi. Meski demikian ada satu hal yang mengganggu Viole.

"Emm Laura, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Viole hati-hati.

"Apa? Masalah novel?"

"Bukan, aku cuma penasaran... apa Kau milih kerja jadi editor karna ingin mengalahkan kakakmu?"

Kendati Viole mencoba memperhalus setiap suku kata dengan hati-hati namun Laura tetap saja melotot kaget mendengarnya. Semula dia tampak akan meledak marah namun perlahan pandangan matanya turun menjadi ragu-ragu dan akhirnya suram.

"Kau nggak perlu jawab kalau enggak mau."

"Aku mau pulang."

Dan tanpa mengucapkan sepatah katapun Laura bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan kafe, meninggalkan Viole yang merasa amat bersalah.

Viole tidak punya saudara namun ibunya sering membandingkannya dengan anak tetangga jadi Viole bisa mengerti rasanya. Kendati demikian Viole sama sekali tak ambil pusing dengan perbandingan itu. Dia memang merasa kesal namun tak pernah sekalipun dia berniat mengambil jalan yang sama dengan anak tetangga. Lagian siapa sih anak tetangga ini?

Viole hanya bisa menghembuskan nafas berat dan memilih untuk pulang juga. Dia membayar minumannya dan segera meninggalkan kafe namun si pelayan kafe mengejarnya cepat.

"Maaf Om, duitnya kurang."

"...???"

Laura kampret, dia tidak membayar minumannya, batin Viole sebelum akhirnya membayar minuman Laura dan benar-benar pulang.

***

Perasaan buruk Laura ternyata bertahan sepanjang minggu karna dia mengabaikan seluruh pesan maupun panggilan Viole. Viole, yang sama sekali tak punya pengalaman menangani perempuan yang sedang marah, memilih untuk mengangkat bendera putih pertanda menyerah namun tepat saat dia memutuskan untuk membeli bendera Laura menghubunginya.

"Maaf untuk masalah minggu lalu," ucapnya menyesal segera begitu mereka bertemu. "kurasa aku masih belum benar-benar dewasa. Kau pasti marah kan?"

"Nggak kok, sedikit banyak aku paham perasaanmu. Ibuku juga sering membandingkanku dengan anak tetangga yang PNS."

"Oh? Hahaha..."

Laura tertawa kurang enak namun Viole menganggap itu sebagai akhir dari masalah. Hari ini Laura tidak memanggilnya untuk bertemu di kafe yang biasa melainkan di kantor pusat tempat Laura bekerja.

Ini adalah kedua kalinya Viole datang kemari namun dia belum punya kesempatan untuk berjalan-jalan. Saat dia memberitahu Laura hal itu Laura pun membawanya berkeliling.

"Di lantai satu ada resepsionis dan juga tempat penerimaan naskah. Kau lihat orang-orang itu sedang membaca kan? Mereka sedang membaca naskah yang dikirimkan penulis pemula. Aku masih ingat membaca naskah yang Kau kirimkan tiga bulan lalu disini. Ruangan untuk editor ada di lantai dua, ayo naik."

Lantai dua tampak lebih kecil namun lebih kosong dibandingkan lantai 1. Ada beberapa meja yang didempetkan di tengah dan beberapa orang yang Viole yakini sebagai editor duduk mengelilinginya, semua sibuk dengan panggilan telepon atau mencoreti tumpukan kertas di depan mereka.

"Beginilah keseharian seorang editor," ucap Laura agak miris. "Memeriksa naskah, beradu pendapat dengan penulis, dimarah-marahi pimpinan dan jika novel tersebut cukup sukses dan hendak difilmkan maka tugas editor juga untuk menjadi penghubung antara studio dengan penulis."

"Jadi semua editor disini punya penulisnya masing-masing?" tanya Viole.

"Iya, satu editor bisa mengurus banyak penulis dan kalau tak ada hal lain yang harus diurus maka mereka akan mencoba mencari peruntungan dengan naskah pemula. Meski begitu hanya sedikit sekali naskah pemula yang bisa diterima, perusahaan lebih memilih menerbitkan naskah penulis yang sudah senior, main aman istilahnya."

Viole kemudian meraskaan rasa syukur karna novelnya bisa diterima dalam satu bulan sejak dia mengirimnya. Saat dia mengingat tumpukan naskah di lantai satu dia ikut merasa kasihan pada seluruh penulis diluar sana.

Mereka kemudian naik ke lantai tiga dan disini auranya berbeda. Tak banyak tumpukan kertas yang bertebaran dan sebagai ganti tumpukan kertas beberapa komputer berjejer di meja dan orang-orang yang menggunakannya tampak sedang mendesign sesuatu.

"Lantai tiga adalah tempat untuk membuat cover tapi sesekali juga menjadi ruang rapat. Disinilah nasib sebuah novel dipertaruhkan. Apakah akan terbit atau tidak, dicetak berapa banyak dan seperti apa pemasarannya, para petinggilah yang memutuskan semua itu namun editor yang berpengalaman sering dimintai pendapat juga."

"Yep, editor berpengalaman seperti aku!"

Suara yang muncul dari belakang mereka membuat keduanya terlonjak dan yang berada di belakang mereka adalah seorang wanita yang Viole yakin merupakan kakak Laura, Laila. Viole bisa melihat kemiripan mereka berdua dalam sekali lihat namun dalam sekali lihat pula dia melihat perbedaan yang sama besar dengan kemiripannya.

Jika Laura terlihat seperti ABG yang baru saja menyelesaikan fase remaja akhir maka Laila, tak ada kata lain untuk mendeskripsikannya, benar-benar terlihat dewasa. Tingginya mungkin sama dengan Laura namun Laila menggunakan sepatu hak tinggi yang membuatnya hampir sama tinggi dengan Viole. Tidak seperti Laura yang hanya menggunakan kemeja dan rok polos Laila tampak lebih berani dalam berpenampilan.

Roknya yang pendek diatas lutut tampak sempurna dengan kaki jenjangnya dan kemeja putihnya tampak ketat memperlihatkan lekuk tubuh. Dia memakai make-up yang tipis namun sempurna menonjolkan kecantikan wajahnya yang bebas kacamata. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai begitu saja dan Viole melihat dia sudah mewarnai rambutnya sedikit dengan warna biru keunguan. Dia juga memakai anting, gelang dan kalung yang berkilau. Menyempurnakan penampilan ini dia menggenggam tas tangan yang terlihat mewah.

"Hai Laura," sapanya sembari tersenyum ramah dan mencubit pipi Laura nakal dan kemudian pandangannya beralih pada Viole. "Biar kutebak, Kau pasti V alias Viole, novelmu sungguh anugrah dari surga untuk dunia sastra," ucapnya sembari mengulurkan tangan untuk berkenalan dan Viole bisa membaui aroma bunga-bungaan harum keluar dari tubuhnya.

"Terima kasih," balas Viole sembari meraih tangannya. Kulitnya terasa sungguh lembut.

"Sama-sama tapi ijinkan aku meminta maaf terlebih dahulu."

"Maaf? Untuk apa?"

"Untuk kesalahan ketik di halaman 122 baris pertama sesudah tanda titik. Kau akan melihat disana tak ada spasi sesudah tanda titik dan itu merusak kalimatmu yang begitu indah. Begitu juga di halaman 149 baris ketujuh kata kedua, disana kata 'makan' ditulis sebagai 'makam.' Kesalahan satu huruf itu membuat maknanya berubah banyak. Tenang saja, kesalahan itu sudah diperbaiki di cetakan kedua."

Viole memandang Laila dengan ekspresi tidak percaya sementara Laila di sebelahnya tampak membatu. Viole bahkan tak sadar dia membuat kesalahan semacam itu saat menulisnya.

"Jangan berekspresi seperti itu," ucap Laila lagi saat melihat ekspresi Viole, "jika ada kesalahan ketik di buku cetak maka itu bukanlah salah penulis melainkan seratus persen salah editor. Benar kan Laura?"

"... benar sekali," jawab Laura sembari membuang pandang. Jelas sekali dia tidak menyukai fakta tersebut.

"Laura oh Laura," ucap Laila dengan penuh kasih sayang sembari membelai rambut Laura dengan jari telunjuknya. "Kau mendapat berkah dengan penulis yang begitu hebat, masa Kau menyia-nyiakannya dengan kemampuanmu yang buruk? Apa Kau tahu ada banyak penulis diluar sana yang menghasilkan karya jelek karna editor yang tidak kompeten? Apa Kau mau seperti itu?"

Samar-samar Viole bisa melihat air mata berkumpul dibalik kacamata Laura dan memutuskan bahwa ini sudah terlalu berlebihan.

"Laura nggak salah apa-apa," ucap Viole sembari menarik Laura menjauhi kakaknya. "Aku yakin pasti ada banyak salah ketik di naskah mentahku jadi Laura sudah melakukan pekerjaan hebat dengan hanya melewatkan dua kesalahan di novel 300 halaman."

"Kau baik sekali," ucap Laila sembari tersenyum dingin. "Aku harap Kau tetap bekerjasama dengan Laura dan menghasilkan novel yang lebih baik ke depannya. Teruslah menulis, okay?"

Viole benar-benar tak bisa menyimpulkan apakah Laila bersifat buruk atau baik jadi dia hanya mengangguk tanpa banyak pertimbangan.

"Ahh, selagi kalian disini mau bertemu seseorang?" tanya Laila yang kembali memasang senyum lebarnya. "Dia teman Smp ku yang baru aja debut sebagai penulis. Mungkin kalian bisa dapat sesuatu kalau bertemu dia."

Laila mengirim tatapan penuh arti pada Viole yang tak tahu harus menanggapinya seperti apa jadi dia melirik kearah Laura.

"Boleh," jawab Laura pendek dan Laila menepuk kedua tangannya senang.

"Kalau begitu kutunggu di bawah," ucap Laila dan kemudian menuruni tangga, meninggalkan Viole dan Laura dalam keadaan canggung yang hening.

"Jadi, bagaimana?" tanya Laura setelah mereka memutuskan ikut turun.

"Apanya yang bagaimana?"

"Kakakku," jawab Laura singkat dan Viole paham maksudnya.

"Kakakmu... umm, sungguh sesuatu."

"Sudah kuduga Kau akan bilang begitu."

Viole mencoba mencari kata untuk membantah namun akhirnya menelan kata-kata itu.

"Pastilah berat punya Kakak seperti itu," ucap Viole pelan. "Dia memang cantik tapi... gimana bilangnya ya? Dia agak seram."

Mendengar itu Laura menoleh dengan begitu cepat kearah Viole dengan ekspresi amat terkejut di wajahnya sampai-sampai dia tak memperhatikan langkahnya dan tersandung menabrak seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu.

"Ah, maaf."

"Hoi, kalau jalan lihat-lihat. Perlu kusundut matamu biar buta sekalian?"

Pertanyaan yang bercampur dengan hardikan itu berasal dari seorang pria yang tampak seperti preman Tanah Abang. Secara serempak Viole dan Laura mengamati penampilan memukau pria tersebut dari atas ke bawah.

Rambutnya tampak berminyak dan kusam pertanda jarang keramas. Kulitnya gelap terbakar matahari dan dia memakai jaket tanpa lengan sebagai atasan dan celana jeans yang robek di lutut sebagai bawahan. Menyempurnakan kesan berandalan itu dia menghisap sebatang rokok dalam-dalam dan membuang asapnya asal saja.

"Hei, Kau bilang apa ke adikku?" tegur Laila yang muncul dari balik pria itu. "Kalian berdua, perkenalkan, ini Gideon, penulis Wonder of You."

Penampilannya saja sudah cukup untuk membuat Viole menganga dan sekarang dia diberitahu bahwa preman di depannya ini adalah penulis Wonder of You, novel laris yang membuat novelnya tidak jadi mendapat adaptasi film.

"Oh... hai," sapa Viole seramah yang dia bisa setelah lepas dari kebekuannya. Kendati demikian Gideon tidak menanggapinya, dia melirik Viole sebentar lalu lanjut merokok.

"Sifatnya memang begitu," ucap Laila seolah mencoba minta maaf. "Maaf tapi kami nggak bisa lama-lama, kami harus rapat dengan pihak studio film. Dan Laura," dia melihat kearah Laura yang mendadak tegang, "sesekali pulanglah ke rumah. Ayah merindukanmu lo."

Laila pun melangkahkan kakinya menjauh menuju lahan parkir. Gideon menyudahi aktivitasnya dan membuang puntung rokoknya asal saja sebelum pergi menyusul Laila.

"Edan," bisik Viole pelan sampai hanya Laura yang bisa mendengarnya. "Kau ngerasa ada yang aneh nggak?" tanya Viole sembari mematikan puntung rokok tersebut dengan alas sepatunya.

"Iya, kakakku beli mobil baru. Dia dapat uang darimana?"

"Bukan itu! maksudku... kupikir penulis Wonder of You itu perempuan."

Laura sedikit mengernyit tapi tampaknya dia paham apa yang dimaksud oleh Viole.

"Banyak kok penulis yang bisa nulis cerita dari sudut pandang lawan jenis."

"Iya aku tau, tapi... lihat dia! Lihat penampilan dan sikapnya!"

"Kalau yang itu aku juga heran."

Wonder of You adalah sebuah novel yang menceritakan mengenai pasangan LDR yang terpisah tanpa bisa saling bertemu. Mengambil setting sebelum abad 21, satu-satunya cara mereka bertukar kabar hanya melalui surat namun frekuensi mereka bertukar surat semakin dan semakin berkurang hingga akhirnya benar-benar berhenti. Viole teringat dia nyaris menangis saat selesai membacanya. Dia merasa bisa melihat sosok orang yang sudah menulis kisah yang begitu dalam tersebut, seorang wanita berhati lembut yang lebih memilih dilukai daripada melukai. Kira-kira begitulah bayangan Viole pada siapapun yang menulis novel tersebut namun Gideon tidak memenuhi satupun ciri yang Viole kira.

"Dari penampilannya dia memang tidak terlihat seperti orang yang lembut," ucap Laura setuju. "Memang aneh tapi... kurasa dari segi kepenulisan novelnya dan novelmu lumayan mirip. Yah, Kau pria yang lembut sih jadi...."

Ucapan Laura seolah menyalakan sesuatu di kepala Viole dan itu membuatnya tidak mendengarkan sisa kalimat Laura.

Novelnya dan novel Gideon mirip? Apa jangan-jangan penulis asli dari Gold Experience di masa depan adalah—

"Ahh aku hampir lupa!" seru Laura keras dan membuyarkan lamunan Viole. "Aku mengundangmu kemari karna ada sesuatu yang mau kuberikan, tunggu sebentar."

Laura bergegas kembali ke dalam bangunan meninggalkan Viole sendirian. Viole melihat sebuah Lexus hitam meninggalkan lahan parkir. Samar-samar Viole mendapat perasaan aneh bahwa dia tengah diawasi dari balik kaca mobil yang hitam tersebut.

"Maaf menunggu," ucap Laura yang kembali dengan nafas terengah. Dia menyodorkan selembar kertas kepada Viole dan dengan hati-hati Viole menerimanya.

"Apa ini?"

"Surat bukti transfer," jawab Laila dengan senyum penuh arti dan dengan sentakan rasa kejut di sekujur tubuhnya Viole buru-buru membaca kertas tersebut.

Nafas Viole menjadi semakin tenang setiap kali dia membaca apa yang tertulis disana namun kegairahan terus melanda tubuhnya. Disana tertulis bahwa sejumlah besar uang sudah ditransfer ke rekeningnya dan tak salah lagi, itu adalah uang royalti atas novelnya.

"T-tapi Kau bilang butuh 6 bulan agar royaltiku cair?"

"Hehe, aku membujuk Pak Kepala, Kau bilang Kau butuh uang kan?"

Viole tak tahu harus berkata apa lagi. Sebagai ganti dari ucapan dia memilih mengekspresikan rasa syukurnya melalui tindakan dan tanpa sadar dia sudah memeluk Laura. Dia mencoba menaruh sebanyak mungkin perasaan disana namun kemudian menyadari apa yang dia lakukan itu salah sehingga buru-buru melepasnya. Laura tampak benar-benar salah tingkah.

"Ehh... Kau udah makan belum?" tanya Viole tanpa memandang Laura, "Biar kutraktir."

"Boleh... boleh banget," jawab Laura, tersenyum indah sekali.

Tbc....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan 12 lainnya memberi reputasi
13 0
13
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mimpi Dari Masa Depan
23-11-2021 23:55
Lanjootttt...pokoke.lanjot
0 0
0
Halaman 1 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
sad-story-ombak-tak-bersuara
Stories from the Heart
sebelum-reda
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Personal
Heart to Heart
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia