Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
405
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/619486249c697916fd27ca12/roda-kehidupan
"Roda itu bernama kehidupan. Saat kita berada diatas kadang berputar sangat cepat, namun ketika kita berada dibawah roda itu terlalu lambat berputar kembali. Kamu tau kenapa? Karena kehidupan tak semudah mengayuh sepeda untuk tetap berjalan diatas aspal yang halus.​" Sebelumnya mohon maaf dan mohon izin untuk memberanikan diri menuliskan sebuah catatan sederhana seorang lelaki yang hid
Lapor Hansip
17-11-2021 11:33

Roda Kehidupan

Roda Kehidupan


"Roda itu bernama kehidupan. Saat kita berada diatas kadang berputar sangat cepat, namun ketika kita berada dibawah roda itu terlalu lambat berputar kembali. Kamu tau kenapa? Karena kehidupan tak semudah mengayuh sepeda untuk tetap berjalan diatas aspal yang halus.​"

Sebelumnya mohon maaf dan mohon izin untuk memberanikan diri menuliskan sebuah catatan sederhana seorang lelaki yang hidup di sebuah kota kecil namun sangat nyaman, Magelang.

Gue nulis ini sebagai catatan dan memory gue untuk melukiskan tentang kehidupan yang seperti roda. Silahkan berpendapat cerita ini true story atau fiktif belaka, disini gue hanya menulis sebuah roda kehidupan.

Gue sadar tulisan gue masih acak-acakan. Mohon maaf jika terdapat banyak umpatan kasar dalam bahasa jawa dan beberapa pikiran liar yang terkandung dalam cerita. Semoga bisa disikapi secara bijak. Cerita ini dimulai saat gue masih duduk di bangku SMA pada tahun 2003. Nama tokoh dan tempat instansi sengaja disamarkan atau gue ganti demi kebaikan kita semua.

Ah... kurasa cukup. Dan kamu akan tetap menjadi ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan...


© Uhuk.. Wis keren? Sip mas! Oke.


Index Cerita:

Part 1 Aku dan Kalian

Part 2 Kaliurang Sore Itu

Part 3 Bella Namanya

Part 4 PHK Massal

Part 5 Warung Baru Ibu

Part 6 Bapak Semangatku

Ketahuan Bini

Part 7 Kak Siska Kenapa?

Part 8 Hape Baru

Part 9 Pelukan Hangat Kak Siska

Part 10 Pelangi Di Sekar Langit

Part 11 Cemburu, Bell?

Part 12 Kasihan Bapak

Part 13 Minuman Cinta

Part 14 Pekerjaan Pertama

Part 15 Pulau Dewata

Part 16 Tersenyum Kembali

Part 17 Mumi Sekolah

Part 18 Desember Terbaik

Part 19 Happy New Year

Part 20 Gosip Fara

Part 21 Konser Jikustik

Part 22 Maaf, Nov

Part 23 Si Gundul

Part 24 Sebuah Takdir

Part 25 Must On

Part 26 Kejutan

Part 27 Thanks, Nov!

Part 28 Ujian Nasional

Part 29 Janji Bella

Part 30 Babak Baru Kehidupan

Part 31 Vita!

Part 32 Pacar Cadangan

Part 33 Suroboyo Rek!

Noted: Mohon maaf dikarenakan di RL ibu tercinta saya sedang menurun kesehatannya dan harus dirawat di RS, maka untuk sementara ini Cerita Roda Kehidupan belum bisa utk update part terbaru. Belum tau hingga kapan, namun saya usaha agar tidak lebih dari satu bulan. Terimakasih utk pengertian teman-teman semua, selalu jaga kesehatan dan selamat tahun baru!
Diubah oleh fthhnf
profile-picture
profile-picture
profile-picture
JabLai cOY dan 29 lainnya memberi reputasi
28
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 9
Roda Kehidupan
17-11-2021 11:52

1. Aku dan Kalian

Magelang, Mei 2003

"Duapuluh sembilan! Modar koe!" Kataku bungah seraya membanting kartu di atas meja.

Tiba-tiba...

"Taaarrrr..." Konsentrasiku buyar ketika Bu Wati melemparkan penghapus papan tulis ke arahku pada jam pelajaran terakhir di hari sabtu yg seharusnya indah ini. Iya, seharusnya.

"ADIIIITTT... SEDANG APA KAMU?" Suara lantang dari seorang guru ke muridnya pertanda keadaan sedang genting.

"Eeemmm... Maaf Bu, iii...ini sedang ngerjain tugasnya." Jawabku terbata-bata.

Entah Bu Wati percaya atau tidak yg jelas aku selamat dari cerkaman maut sang macan. Ah sudahlah lupakan tentang permainan kartu bernama samgong dengan Prapto barusan.

Telah menjadi kebiasaanku saat pelajaran paling membosankan seantero jagad bernama FISIKA, aku selalu sibuk sendiri untuk menghilangkan kepenatan yg mendalam entah dengan ngobrolin kakak-kakak kelas yg cantik hingga main kartu.

"Harusnya sih menang aku tadi jika Bu Wati gk mendadak masuk kelas". Batinku kesal. Dan jam kosong yg tadi dijanjikan pun hanya impian.

Oiya, kenalkan namaku Adit Setyo Abadi, nama terkeren yg pernah diberikan orang tua kepada anaknya walau kata temen-temen nama itu adalah hasil jiplakan toko onderdil motor di kotaku, hmm. Di sebelahku ada Prapto, seorang pemuda asal Jogja yg entah kenapa memilih sekolah di kota kecil ini. Beranjak di bangku depan, ada Novi. Dialah perempuan tergokil diantara perempuan lain di kelas. Cantik sih, sayang rada galak. Merekalah sahabat-sahabatku. Sahabat tempat aku mengadu, mengadu dikala perut keroncongan dan tugas sekolah yg membebani setiap siswa manapun di seluruh Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

"Teeeeetttt... Teeeettt... Teeeeet..." Suara bel yg paling ditunggu-tunggu itu akhirnya terdengar di setiap sudut sekolah SMA 002 ini.

"Let's Pray Together... Start!" ucap salah satu teman sekelasku yg ditunjuk untuk memimpin doa pulang. "Finish!" tak sampai 20 detik ia menyudai berdoa kami.

"Aaaah... Akhirnya..." Ucap Novi riang.

"Udah keluar Nov?? Lega banget," sambung Prapto usil, seraya memasukkan buku ke tasnya.

"Eh kurang ajar koe!" Seru Novi. "Kalian mau langsung pulang atau kemana?" Sambung Novi berharap.

"Terserah... Yg penting banyak ceweknya!" Sahut prapto.

"Ah.. Biasa koe Prap!" Balas Novi dengan nada tinggi.

"Ho'oh setuju... Yang banyak ceweknya!" Ucapku antusias.

Dan setelah berdiskusi panjang, akhirnya kami memilih jalan masing-masing, yaitu... Pulang! Keputusan yg diambil setelah tak ada titik temu diantara kita bertiga.

"Ya udahlah pulang aja kita!" Oceh Novi kecewa.

"...."

"Aku pake motor babe nih, mau bareng gk Prap?" Tawarku ke Prapto karena jalan pulangnya searah.

"Enggak-enggak... Prapto nemenin aku nunggu angkot!" Potong Novi cepat.

Mendengar pernyataan Novi, Prapto hanya menaikkan bahu serta menggaruk-garuk kepala mengisyaratkan ia sedang kebingungan.

Dengan iming-iming segelas jus segar, akhirnya Prapto setuju ajakan Novi untuk menunggu angkot di siang yg panas ini, dasar Prapto.

Kamipun berpisah di depan kelas. Terlihat mereka berjalan sambil bergurau satu sama lain. Novi memang usil, kakinya selalu berusaha menjegal Prapto agar terjatuh. Kenapa gk pacaran aja sih mereka, sangat iri sebenarnya melihat Prapto sedekat itu dengan Novi.

Sambil berjalan menuju tempat parkir warung depan sekolah, aku melihat beberapa kakak kelas yg sedang asik diskusi di bawah pohon beringin. Entah bener-bener membahas pelajaran atau mereka hanya diskusi kenpa ultramen bisa jadi raksasa.

Kak Arum, Kak Dina, dan Kak Siska. Ketiga cewek primadona sekolah yg selalu menjadi bahan imajinasi liar setiap siswa di sekolah, kecuali pria tampan ini tentunya.

Ah sudahlah... Aku menyudahi pikiran-pikiran liarku dan memtutuskan untuk berjalan kembali ke tempat parkir. Yamaha Vega merah milik Ayah menjadi motor andalanku di akhir pekan ini.

Setiap akhir pekan aku sering memakai motor milik Ayah untuk berangkat ke sekolah, itu karena Ayah libur bekerja setiap akhir pekannya.

Susah payah aku menggenjot motor ini hingga akhirnya, "Greeeng... Greeeng..." Suara mesin motor 110cc ini bekerja sebagaimana mestinya.

Dengan mantap aku berjalan pelan meninggalkan sekolah. Rasa lelah dan haus setelah menggenjot motor membuatku ingin sekedar minum. Sempat aku berfikir untuk nyamperin Novi dan Prapto di warung jus dekat sekolah. Ah tapi bosan juga.

"Oke.. Mari kita beli es kelapa muda, siapa tau ketemu dia lagi!" Gumamku sendirian di atas motor.

Es kelapa muda Alun-alun depan masjid agung adalah tempat favorit. Selain rasa dan harga yg tak ada tandingannya, suasana di tempat itu sangat sejuk. Hembusan angin khas Magelang mampu membawa setiap insan manusia ke alam bawah sadar mereka, percayalah.

Hampir setiap sabtu, aku sempatkan untuk mampir kesini. Selain berbagai alasan tadi, tempat itu merupakan tempat yg paling aman utk menghabiskan rokok tanpa ketahuan guru ataupun keluarga, noted.

Setelah memarkir motor, aku langsung menuju ke ibu penjual es tersebut.

"Mak... Satu ya, biasa!" Ucapku santai.

Sembari menunggu pesanan datang, aku duduk di bangku paling pojok tempat biasa. Kuambil rokok dan korek yg aku simpan di tas.

"Sssssttttt... Buuulll..." Kepulan asap rokok yg harum itu kini telah melayang-layang indah di udara.

Pekan lalu, aku dan Prapto sama-sama menghabiskan dua gelas es kelapa muda favoritku ini. Untunglah sekarang hanya aku sendiri, jadi tak terlalu banyak mengeluarkan uang. Haha, si Prapto emang gk modal.

"Ibu, Satu ya... dibungkus ya bu..."

Terdengar suara serak namun halus masuk ke gendang telinga lalu merasuk relung hati. Suara yg tak asing buatku.

Aku menoleh, dan.. Hmmm. Perempuan cantik berambut panjang terlihat mengenakan seragam pramuka dibalut jaket ungu. Dengan tinggi kira-kira 160cm dan bentuk tubuh proporsional membuat siapapun pasti kagum dengan sosok itu.

Beberapa detik pandangan kami bertemu, terlihat jelas bibir tipisnya yg basah tersenyum, matanya yg indah memandangku sepersekian detik. Sekarang aku bingung dan mulai salah tingkah.

"Asu ayu tenan!" (Anjing cantik banget). Ucapku dalam hati.

Beberapa minggu ini aku sering melihatnya membeli minuman yg sama sepertiku. Hal itulah yg menjadi alasan utama kenapa aku berada di warung ini tiap pekannya. Namun sayang, ia selalu membungkus minumannya seolah menutup peluang untuk sekedar memandang wajah cantiknya.

Tak lama kemudian, segelas es kelapa muda telah sampai di depanku. Dengan lagak yg aku manis-maniskan, aku minum es ini pelan sambil berharap ia memandangku.

Namun alih-alih memandangku, nengok aja enggak. Aku malah melihatnya berjalan pergi menjauh dengan plastik hitam di tangan kanannya. Jauh.. Dan semakin jauh.

"Bodoh banget, kenapa gk samperin aja tadi!" Gumamku sendirian. "Ntahlah!" Kuhabiskan minuman ini dengan cepat dan lekas membayarnya.

"Udah mak... Pinten (Berapa)?" Kataku.

"Seribu aja buat kamu leee..." Jawab Si Emak.

"Eh Mak, itu tadi cewek siapa? Kok sering aku lihat disini?" Tanyaku penasaran sambil merogoh kantong celana.

"Iyo... Setiap sabtu selalu kesini kok.. Ciee naksir ni ye..." Goda Emak.

"Hehehe..." Aku tersenyum malu.

"Nih Mak... Udah, kembaliannya ambil aja buat besok Sabtu!"

"Ini Namanya nitip Dit bukan buat Emak!"

"Hehe... Udah ya Mak, aku pulang dulu!"

"Ati-ati!" Jawab Si Emak cepat.

---

Sesampainya dirumah aku langsung rebahan dan tentu saja tak henti-hentinya memikirkan cewek tadi. Siapa sih namanya? sekolah dimana? Rumahnya mana? udah punya cowok belum ya? Pertanyaan yg selalu muncul di otakku. Aku mulai berfikir keras gimana caranya utk berkenalan dengannya.

"ADIITT MAKAN DULU!" teriakan khas seorang ibu menyuruh anaknya makan yg membuyarkan lamunanku.

"IYAA BUUU... NANTI..."

Sambil memandang poster Paolo Maldini berjersey AC Milan yg aku tempel di sudut kamar, aku masih melamun dan memikirkan bagaimana cara mencari moment yg pas agar bisa kenalan dengan cewek spek bidadari itu.

---

Malam telah datang, malam minggu buat aku sama sperti malam-malam biasa. Hanya bedanya bisa tongkrong hingga larut malam bareng kawan sekampung.

Seperti biasa, di pos kamling tempat biasa kami tongkrong telah dimulai permainan gaple oleh kawan-kawanku. Dari hanya main gaple biasa hingga pada akhirnya taruhan. Mulai dari seribu hingga puluhan ribu. Hahaha. Biasa lah anak muda kampung.

Sebagai pemuda yg berbudi pekerti baik, tentu saja aku selalu ikut kegiatan rutin ini. Malam ini milik Kipli, dia berhasil merampas uang milik kami. Sialan si Kipli padahal seumur hidup belum pernah menang tuh anak. Jangan-jangan merdukun, curiga aku.

"Pliiii... Beli rokok lah, menang ini!" Kicau Tomi ke Kipli.

"Anggurnya juga lho Pli!" Imbuh Gatot.

"Buruan Pli!" Hardikku.

Setelah kesepakatan bersama, dengan kembali patungan lima ribuan dan ditambah duit hasil kemenangan Kipli kami pun berpesta.

Beberapa botol anggur putih telah habis kami minum. Sebenarnya kegiatan ini rutin kami lakukan tiap malam minggunya. Siapa saja pemenangnya, dialah yg harus mengeluarkan uang lebih untuk pesta kecil-kecilan ini.

Setelah merasa pening di kepala, kamipun lantas pulang ke rumah masing-masing agar tak ketahuan Pak RT. Bisa panjang urusannya nanti.

---

Malam pun berubah menjadi siang, hari minggu yg indah selalu aku habiskan untuk tidur panjang. Kulihat jam didinding, waktu telah menunjukkan pukul dua siang. Dan kepalaku masih terasa berat.

"Sarapan..." Gumamku sambil berjalan ke dapur.

"Bu... Masak apaan?" Tanyaku melihat Ibuku sedang asik nonton tv.

"Sup, itu ada ayam, satu aja ambilnya, Ayahmu belum makan!"

Dengan lahap aku makan masakan Ibu yg memang selalu enak. Entah wahyu dari mana yg membuat masakan Ibuku seenak ini. Bahkan juru masak kerajaan Fir'aun pun akan kalah jika beradu masak dengan seorang perempuan bernama Susi Komariyah, Ibuku tercinta.

Selesai makan, tanpa harus mencuci piring, aku langsung menuju kamar dan menguncinya.

"Kreek... Krekk..." Kubuka jendela agar sinar senja bisa masuk ke kamar yg cukup rapi bagi seorang lelaki sepertiku. Kusulut rokok yg aku simpan di atas lemari. Ada sekitar lima hisapan sore ini setelah aku mematikan dan menyimpannya lagi.

Tak terasa, waktu semakin sore. Adzan Maghrib telah terdengar. Usai mandi, tak lupa aku melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim. Ayah dan Ibu selalu menceramahiku agar taat kepada Sang Khalik.

"Mumpung masih muda Diiiit..." Begitulah kalimat andalan Ibu saat menceramahiku.

Yaaa.. yaaa.. Mumpung masih muda dan aku suka selengekan dan kerap melupakan nasihat kedua orang tuaku.

Waktu pun semakin malam, suasana mulai sepi. Hanya ada aku dan lamunanku tentang perempuan cantik, kemarin. Senyumnya yg manis saat memesan minuman masih terngiang jelas di pikiranku.

Hoaaaammm... Tak terasa jarum pendek telah berhenti di angka 11. Mata ini pun tak bisa lagi menahan rasa kantuk yg mendalam. Akhirnya kumatikan lampu yg menerangi satiap sudut kamar ini. Mulailah aku memejamkan mata dan berharap perempuan kelapa muda itu hadir di mimpiku.
Diubah oleh fthhnf
profile-picture
profile-picture
profile-picture
njek.leh dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 7 balasan
Roda Kehidupan
17-11-2021 16:32

2. Kaliurang Sore Itu


Kak Siska : Sekali ini aja ya Dit... Plisss!

Aku: Iya kaaaak... Santai aja lagi...


Hari senin ini tak seperti biasanya, aku bolos sekolah. Jujur ini baru kedua kalinya aku bolos selama duduk di kelas dua, sebelumnya pernah juga dulu bersama Novi dan Prapto beberapa bulan lalu.

Pagi ini secara tiba-tiba Kak Siska meneleponku melalui hape Ayah dan memintaku untuk menemaninya jalan-jalan ke Jogja, katanya sih untuk refreshing sebelum Ujian Akhir Nasional yg akan dihadapinya beberapa minggu lagi.

Gk begitu masalah sih buatku, toh hari senin ini juga hari kejepit kok, karena selasanya tanggal merah. Pasti banyak juga anak-anak yg gk masuk. Ok! Aku bolos hari ini, gk enak kalo harus nolak ajakan Kak Siska yg selama ini bersikap baik kepadaku.

Tentang Kak Siska, dia adalah kakak kelasku. Wajahnya cantik, bener-bener cantik. Teramat cantik. Aku ingat saat pertama kali kenal dengannya. Saat itu gk sengaja aku lihat Kak Siska ngerokok di belakang perpustakaan sekolah. Keren ya Kak Siska, masih jam pelajaran udah berani ngerokok di sekolah, cewek pula. Ntah karena dorongan apa aku memutuskan untuk nyamperin dan ngerokok bareng di tempat itu. Padahal waktu itu aku lagi disuruh guru biologi ngambil buku paket di perpus. Tanpa pikir panjang aku duduk di sebelahnya, lalu nimbrung gitu aja dan minta sebatang rokok darinya. "Aku temenin ya... Nanti kalo ketahuan, biar aku aja yg ngaku!" Itulah kalimat pertama yg aku ucapkan kepada kakak kelas yg sedikit naughty ini.

"Ayok Dit..." Ucap seorang cewek di dalam mobil yg berhenti tepat di depanku dengan kaca yg jendela yg terbuka.

"Wuiiih... Pake mobil Kak?" Kataku sedikit kaget.

"Masuk gih malah!"

"Iya Kak..." Ucapku seraya membuka pintu mobil sedan berwarna pink bergaris hitam milik Kak Siska.

"Helmmu taruh di belakang aja..."

"Hehe, Iya..." Kataku sedikit kikuk karena membawa helm segala, hehe.

"Wah... Mobilnya kok gk pernah dibawa ke sekolah?" Tanyaku membuka obrolan.

"Gk enak aja sama temen-temen, nanti dikira pamer!" Jawabnya sambil membelokkan stir mobilnya ke arah kanan.

Oh... Mungkin itu juga alasan Novi tak pernah menggunakan mobil ke sekolah, takut dikira pamer, batinku. Padahal Novi itu kaya banget sumpah.

"Diem aja sih Dit? Aku ganti baju dulu ya di pom bensin depan..." Kata Kak Siska memecah lamunanku.

"Iya Kak... Aku juga sekalian!" Ucapku santai.

Kamipun berhenti di pom bensin untuk mengganti seragam menjadi pakaian bebas, gk enak juga kan kalo jalan-jalan kayak gini pake seragam sekolah?

Kali ini aku sengaja memakai kaos oblong warna hitam, celana panjang jins yg agak robek di dengkul serta membawa jaket adidas biru biar keren aja sih. Tak lama berselang, Kak Siska telah keluar dari toilet dan kami pun kembali melanjutkan perjalanan menuju Jogja.

Seperti yg sudah-sudah, Kak Siska terlihat sangat menggoda iman setiap lelaki yg melihatnya. Jika disekolah ia menggunakan seragam yg kelewat ketatnya, hari ini ia mengenakan kaos model sabrina warna hitam bercorak garis-garis dengan kedua pundaknya yg kelihatan seksi. Tak sampai disitu, untuk celananya Kak Siska memakai hotpant jins warna hitam juga.

Sesekali aku mencuri pandang ke Kak Siska, haduuuhh... Ampun deh!

"Diit... Liatin apaan sih?" Seru Kak Siska cengengesan.

"Eh enggak Kak... Ini tumben jalanan sepi gini," jawabku sedikit malu.

"Hmm...."

Perjalanan ke Jogja kali ini sangat lancar. Kak Siska dengan santai memacu mobilnya pelan. Sambil mendengarkan lagu-lagu indie yg sebenarnya aku gk ngerti, kamipun larut dalam obrolan ringan seputar tempat wisata dan berbagai jenis kuliner di Jogja.

"Kak... Kita kemana nih?" Tanyaku.

"Emmm... Ngopi di Mall Mallioboro dulu aja kali ya sambil istirahat bentar," jawab Kak Siska.

"Ok..."

Kalo cuma ngopi sih biar aku yg bayar, nanti kalo makan dan sebagainya ditanggung Kak Siska, haha.

Tak lama kemudian sampailah kami di depan mall Mallioboro, Kak Siska memarkirkan mobil yg kami tumpangi di basement yg lokasinya berada di lantai dasar mall.

Setelah memarkir mobil, kami berjalan pelan menyusuri outlet pakaian yg baru saja membuka lapaknya di dalam mall yg cukup besar ini menuju sebuah coffe shop.

"Mas, Late dua ya!" Kataku kepada barista salah satu coffe shop yg berada di mall ini.

"Sembilan puluh ribu mas... Atas nama siapa ya?

"Hahhhh???!??" Gerutuku dalam hati. Njiiir sial amat pagi ini. Ludes deh uang jajanku.

"Mas... Mas..." Ucap sang kasir.

"Iya mas... Ini, atas nama Adit," kataku lesu sambil menyodorkan uang yg disebutkannya tadi.

Aku menyeret kakiku ke sofa luar dimana Kak Siska telah duduk.

Kulihat Kak Siska sedang membuka hape miliknya. Ntah ngapain gk tau. Kayak ngetik sms, aku gk peduli juga. Masih lemes aku gara-gara dipalak kasir sialan itu.

Kusulut rokok yg aku bawa, laku kuhisap dalam-dalam sambil memandang Kak Siska yg masih asik dengan hapenya. Aku masih ingat betul hapenya siemens tipe c60, baru beberapa orang yg punya hape saat itu.

Selang beberapa saat kemudian, pesanan kami pun datang. Perlahan kuminum kopi yg teramat mahal ini, rasanya enak juga! Pantes mahal banget.

Nampak di depanku Kak Siska juga mengangkat cangkir dan perlahan meminumnya. Kamipun berbincang santai sambil melihat-lihat kendaraan yg berlalu-lalang di depan mall ini.

"Eh Dit, bagi rokok dong lupa beli aku tadi." Kata Kak Siska tiba-tiba.

"Nih..."

"Thanks..." Ucap Kak Siska yg lalu menyulut rokok telah ada di jarinya.

"Kak... Sering ya kesini?"

"Ya gk sering-sering banget sih... Kenapa?"

"Gk papa kok, asik aja tempatnya!"

"Mau yg lebih asik lagi?" Goda Kak Siska dengan senyuman dan tatapan nakalnya. Semua cowok pasti meleleh aku jamin hanya karena melihat pandangan matanya ini.

"Mauuu... Ayuk kak ajak aku kak sekarang!" Si Joni tiba-tiba nyaut aja.

"Hehehe..." Aku hanya tersenyum salah tingkah dibuatnya.

"Eh Dit... Dulu waktu kamu liat aku ngerokok di belakang perpus, kamu nilai aku gimana sih?"

"Emmm... Gimana ya, keren!" Jawabku asal.

"Ihh serius Adiiiit!" Timpal Kak Siska.

"Emmm... Dulu aku pikir keren aja Kak..."

"Keren gimana maksudnya?"

"Secara cewek gitu, ngerokok di sekolah pula! Aku ngerasa suka aja dan pengen kenal gitu..." Ucapku polos.

"Oh..."

"Jadi alasan kamu duduk di sampingku untuk ngelindungin dan ngorbanin diri kamu sendiri dulu itu cuma akal-akalannya kamu aja?" Ucapnya curiga.

"Hahahaa..." Akupun tertawa dan kepalaku ditoyor oleh Kak Siska.

"Dasar!" Haha, yaudah yuk capcus!" Ajak Kak Siska seraya manarik tanganku.

"Kemana nih Kak?" Wah jangan-jangan ke hotel depan. Yuk kak," si joni nyeloteh lagi.

"Temenin aku cari baju ya... Tapi jangan disini, aku pengen ke Bringharjo!" Kata Kak Siska.

"Oke..." Kataku singkat dan jonipun lemas seketika. Damn.

Lalu kami berjalan meninggalkan coffe shop ini, mobil Kak Siska juga masih diparkir di basement mall karena letak Pasar Bringharjo tak begitu jauh dari tempat kami ngopi tadi.


Kak Siska berjalan di samping kiriku menyusuri pedagang kaki lima yg berada di trotoar. Sesekali aku merasakan tangannya yg entah disengaja atau tidak menempel di tanganku, seolah ia berkata, "gandeng aku, gandeng!"

Tak lama kemudian sampailah kami di Pasar Bringharjo. Cukup lama juga aku tak mengunjungi tempat ini, seingatku terakhir saat SD bersama Ibu.

Kami berputar-putar di sekitar barat pasar yg khusus menjual pakaian. Ada beberapa pakaian yg menurutku cocok dipakai Kak Siska, namun ia masih merasa kurang srek dengan pakain yg aku nilai.

Setelah lama berputar-putar, akhirnya Kak Siska menemukan baju yg menurutnya bagus, Kak Siska membeli sebuah baju model terusan bermotif batik yg sangat indah berwarna kuning emas dipadu hitam. Dasar cewek, tadi minta saran sekarang malah mutusin sendiri. Eh tapi keren kok bajunya. Aku membayangkan Kak Siska memakainya pasti sangat anggun.

Setelah cukup lama kami mengelilingi pasar ini, tiba-tiba terasa getaran di perutku, ada sms nih. Eh bukan sms, aku belum punya hape. Njiiirr ternyata cacing-cacing di perut udah pada demo. Kulihat Kak Siska masih asyik memandangi berbagai baju yg ditawarkan penjual di area ini.

"Kak... Makan yuk! Udah siang lho..." Ajakku.

"Oh iya, jadi lupa! Kita makan Gudeg Wijilan aja ya..." Kata Kak Siska.

"Wuih dimana tuh... Kayaknya pernah denger," jawabku ngikut.

"Eh kamu mau batik juga gk Dit? Aku beliin deh..."

"Gk deh Kak... Makan aja yuk!" Jawabku kelaparan.

"Yauda ayok..."

Kami pun berjalan kembali menuju basement mall dimana mobil Kak Siska diparkirkan. Udara di Jogja sangat panas siang ini, ditambah pakaian yg dipake Kak Siska membuat keringatku malah semakin bercucuran, Haduuuh. Untunglah ada AC mobil Kak Siska yg menjadi penyelamat kami menyejukkan badan.

Beberapa menit kemudian sampailah kami di Nasi Gudeg Wijilan. Jadi di tempat ini khusus warung-warung makan yg menjual nasi gudeg saja. Sekitar dua puluh warung makan berjejeran menghiasi jalanan ini. Kami pun memutuskan untuk singgah di warung gudeg yg sedikit ramai pembeli.

"Mas... Dua ya, sama Es Jeruk dua!" Ucap Kak Siska memesan dua porsi nasi gudeg.

Aku duduk di meja paling pojok warung ini.

Kebetulan tempat ini menyediakan area lesehan yg membuatku bisa lebih santai menyantap gudeg yg telah dipesan.

Kami duduk bersebelahan, sesekali kulihat Kak Siska menyenderkan kepalanya di tembok yg ada di belakang kami, nampak seperti sangat kelelahan.

"Capek?" Tanyaku.

"Hehe... Gk kok, santai aja! Tadi cuma agak lelah aja mondar-mandir"

"Oh... Yaudah gih dimakan Kak!" Kataku setelah melihat pelayan meletakkan gudeg pesanan kami.

Aku pun menyantap gudeg ini dengan lahap, karena memang kelaparan. Sangat nikmat sekali masakan gudeg di tempat ini, khas Jogja banget pokoknya.

"Hwoi Kwak.. Gwimwana perswiapan uwjiannyaw?" Tanyaku dengan mulut yg penuh dengan nasi.

"Haha... Ngomong apa sih Dit, ditelan dulu baru ngomong!" Balas Kak Siska.

"Hehe... Iwya Kak... Emm... Gimana persiapan ujiannya Kak? Tanyaku kali ini sepertinya sudah jelas.

"Oh... Ya biasa sih, belajar. Aku sih nyantai aja kok!" Jawab Kak Siska.

"Oh..." Jawabku singkat lalu kembali melanjutkan makan.

"Dit, kamu diem-diem banyak fans nya ya? " Tanya Kak Siska to the point.

"Hah fans?"

"Heem... Tuh Dina aja kayaknya suka sama kamu..."

"Kak Dina?"

"Iya..."

"Biasa lah secara aku kan ganteng gini, hahaha..." Ucapku pede dan kepalaku ditoyor lagi sama Kak Siska.

"Heran aku, kamu nempelin pelet dimana sih? Sampe Dina aja suka sama kamu?" Tanya Kak Siska senyum sinis.

"Sial... Ini tuh murni dari kegantengan aku dan sifat aku yg baik suka nolong..." Kataku pongah.

"Belum tau aja sih mereka kelakuan minus kamu! Otak mesum gk ketulungan" Lanjut Kak Siska santai.

"Hahaha..."

"Nih..." Ancam Kak Siska seraya mengepalkan tangannya.

"Terus habis ini kemana kita?" Tanyaku antusias.

"Emm... Kemana ya? Gimana kalo ke Kaliurang aja! Aku pengen liat pegunungan nih..." Jawab Kak Siska halus.

"Ngikut deh..."

Wuih Kaliurang? Sama Kak Siska? Sebentar-sebentar, mendadak si joni tertawa lepas. Apaan sih joni nyaut aja daritadi, sial.

Kemudian Kami kembali melanjutkan obrolan ringan dengan manyantap gudeg yg lezat ini. Usai menghabiskan makanan, Kak Siska membayar dua porsi gudeg ini. Untung deh Kak Siska mencegahku dengan cepat saat mau membayar.

Setelah merasa kenyang kami melanjutkan jalan-jalan ini ke Kaliurang seperti yg Kak Siska inginkan tadi. Perjalanan dari Kota Jogja ke Kaliurang sangat menyenangkan. Sebuah gunung dengan jalan ditengah-tengahnya menggantikan gedung serta baliho yg terkesan acak-acakan. Gunung Merapi terlihat gagah berani diselimuti kabut yg ada di perutnya. Udara luar kayaknya seger nih, kubuka kaca jendela mobil. Benar, udara sejuk menyambut kami menghilangkan penat perkotaan yg membebani. Lalu kupakai jaket yg daritadi kutaruh jok belakang.

Kulihat Kak Siska nampak lebih segar dengan udara yg sejuk ini. Ia memakai kaca mata hitam yg membuat wajah cantiknya seakan beradu keindahan panorama yg terdapat di tempat ini. Gila cantik banget mahkluk disampingku ini.

Setibanya kami di tempat yg bernama Taman Nasional Gunung Merapi, kami disambut dengan beberapa orang yg menawarkan kamar buat kami. Namun kami menolak halus tawaran-tawaran itu.

Setelah melewati gerbang masuk, kami lantas berjalan kaki menaiki anak tangga. Tak lama berjalan, Kak Siska menghentikan langkahnya di samping pohon pinus yg tak begitu tinggi.

"Dit... Duduk sini aja deh..."

"Iya..." Jawabku sambil menganggukan kepala.

"Sejuk banget ya disini..." Kata Kak Siska

"Iya Kak... Bisa rileks banget..."

"Eh Dit... Besok kalo aku udah lulus, jangan panggil aku Kak lagi ya..."

"Lho kenapa?"

"Kan aku udah bukan Kakak Kelas kamu lagi..." Jawabnya lalu menyenderkan kepalanya di pundakku.

"Iya deh..."

"Aku pinjem pundakmu ya Dit... Bentar kok," ucapnya kemudian.

"Dit... Kamu pernah jatuh cinta gk sih?" Tanya Kak Siska lagi.

"Ya pernah dong... Aku kan juga manusia normal!"

"Sakit gk sih jatuh cinta itu?" Tanya Kak Siska masih menyenderkan kepalanya di pundakku, kemudian tangannya menyusup di sela badanku. Nyaman.

"Emm... Ya kadang sakit sih, tp kadang seneng juga..." Jawabku sok bijak.

"Kalo kamu mencintai seseorang tapi cintamu tak terbalas gimana?"

"Emmm... Gimana ya, ya sedih sih, kecewa pastinya! Tapi mau gimana lagi, cinta itu tak bisa dipaksakan. Emang Kak Siska lagi jatuh cinta ya?"

"......"

"Kak... Kak..." Panggilku ke Kak Siska.

"....."

Kulihat ternyata ia telah tertidur di pundakku. Tak enak hati jika harus membangunkan tidurnya. Lama juga lho dia tertidur di pundakku. Ada sekitar setengah jam aku hanya diam membiarkannya tertidur pulas, pegal juga sih sebenernya.

Sambil merokok, kulihat awan gelap datang menyelimuti langit biru, entah kenapa cuaca yg tadinya cerah perlahan namun pasti berubah menjadi gelap. Khawatir akan datangnya hujan, aku pun memberanikan diri untuk membangunkan kakak kelas yg cantik ini dari tidurnya.

"Kak..." Panggilku pelan. "Kak... Bangun Kak... Mau ujan nih..."

Tak ada reaksi apapun dari Kak Siska, namun sesaat kemudian perlahan ia membuka mata indahnya, lalu menoleh ke wajahku dan tersenyum manis dengan raut wajah yg sayu namun sangat manis. Sempurna.

"Maaf ya Dit... Jadi ketiduran..." Kata Kak Siska tersenyum.

"Hehe... Turun yuk! Nanti hujan lho..."

Khawatir akan datangnya hujan, kami berkemas dan beranjak turun. Sialnya, gerimis yg lumayan deras menyambut kami di pintu keluar Taman Nasional Gunung Merapi ini. Kamipun memutuskan mampir berteduh di sebuah warung depan pintu masuk.

"Bu, tempe mendoan kaliyan teh panase kalih nggeh... (Bu tempe sama teh panas dua ya...)" Kataku pada ibu pemilik warung.

Hujan menambah suhu pegunungan di Kaliurang menjadi semakin dingin. Kulihat Kak Siska menggigil menahan dingin dengan pakaian minimnya yg sedikit basah. Kami duduk di kursi bambu, sambil menikmati tempe mendoan dan teh panas.

"Dingin Kak?" Tanyaku basa basi.

Kak Siska hanya mengangguk.

"Bajunya basah lho Kak..."

Melihatnya seperti itu, naluri seorang pria sebagai pelindung wanita pun muncul seketika.

Kulepas jaket yg kupakai dan meletakkannya ke tubuh Kak Siska lalu kurengkuh bahunya pelan mencoba memberikan pelukan yg hangat, padahal aku sendiri merasa kedinginan.

"....." Ia tersenyum manis. "Kamu kok baik sama aku sih Dit?"

"Hehe, lha gimana lagi Kak? Gk tega aku liat Kak Siska kedinginan gini..."

Hujan semakin bertambah deras menerpa atap seng warung ibu-ibu yg kita tempati ini diselingi gemuruh petir yg semakin membuat bising.'"

Angin gunung yang kencang menambah cuaca menjadi semakin dingin. Padahal jarum pendek di jam tanganku belum menyentuh angka lima. Namun suasana sudah gelap seperti hari yg menyambut malam.

Tak mungkin kami berlari ke tempat parkir dalam hujan yg sederas ini.

"Kok gk reda-reda ya hujannya?" Tanya Kak Siska dalam gemuruh petir.

"Nanti juga reda kok. Badai aja berlalu, apa lagi hujan! Hehe," candaku.

"Hehehe..."

Ntah kenapa aku merasa sangat tenang menatap hujan sederas ini. Suara gemuruh petirpun ibarat nyanyian merdu dari semesta. Kaliurang sore itu, bersamamu. Siska.

"Pulang yuk kak.." Ajakku setelah beberapa lama kami terdiam di lamunan masing-masing.
Diubah oleh fthhnf
profile-picture
profile-picture
profile-picture
njek.leh dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Roda Kehidupan
17-11-2021 20:12

3. Bella Namanya

Malam hari setelah sampai rumah aku dimarahi habis-habisan oleh Ibuku karena pulang sampe malem.

"Macet Buk tadi jalanan...."

"Macet? Kamu pikir ini Jakarta?" Ucap Ibuku dengan nada tinggi.

"Maaf Buk... Tadi Adit ngerjain tugas banyak banget dirumah temen, pulangnya kesorean gk dapet angkot..." Ucapku berbohong. Ngapunten Buk maaf.

"Terus?"

"Terus nungguin dianter temen yg punya motor... Jadi kemaleman gini..."

"Hmmm... Yaudah sana makan dulu terus istirahat..." Ucap Ibuku mulai luluh.

Akupun lalu berjalan menuju kamar, di ruang makan Ayahku lagi nyantai. Dengan tatapan curiga Ayah memandangku.

"Dasar! Mandi dulu kamu! Bau parfum cewek... Terus sholat isya!" Ucap Ayah santai sambil geleng-geleng kepala.

"Hehehe... Siap Be!"

Hahaha kayaknya ketahuan Ayah. Tapi bodo amat, Ayahku ini nyantai banget orangnya. Ayah sih udah sadar kalo anaknya mulai beranjak dewasa. Dan Ayahku ini memang gaul abis men... Tiap pagi sebelum berangkat kerja, sambil ngopi beliau selalu ngedengerin musik-musik cadas macam slipknot, metalica, dan kroni-kroninya. Yang Indo sih cuma Bang Iwan, slank, sama Ahmad Albar aja. Pokoknya keren abis.

Usai sholat aku duduk di bangku teras rumah. Pengen sih maen lagi, tapi apa daya tenagaku sudah habis hari ini bareng Kak Siska.

Tak lama aku duduk Ayah muncul dari dalam rumah.

"Durung turu le? (Belum tidur nak?)" Sapa Ayahku nimbrung duduk di kursi depan.

"Dereng Pak... (Belum Pak...)"

"Seko ngendi koe kok tekan bengi? (Darimana kamu kok sampe malam?)" Tanya Ayah sambil menyulut rokok Dji Sam Soe favoritnya.

"Saking Jogja Pak, dolan kaleh konco-konco... (Dari Jogja Pak maen sama temen-temen). Kataku sedikit bohong. Gk mungkin aku bilang kalo dari kaliurang sama Kak Siska, bisa mikir yg enggak-enggak.

"Oh... Yowis rapopo, suk meneh pamit sik yo le, mesakke Ibumu kuatir... (Oh yauda gpp, lain kali pamit dulu ya, kasihan Ibumu khawatir)" Kata Ayah menasehatiku.

"Nggeh Pak... (Ya Pak...)"

"Sekolahmu gimana?"

"Aman Pak!"

"Jangan sampe melupakan kewajibanmu buat sekolah le..."

"Siap Pak!"

"Besok bisa rangking 5 besar lagi?"

"Bisa pak! Santai..." Ucapku pongah. Tapi bener kok, walaupun kelakuanku banyak minusnya tapi urusan akademik jangan ditanya deh.

"Apik-apik... Butikkan yo le"

"Oke Pak siap..."

"Yowis kono turu... (Yauda sana tidur)"

"Nggeh Pak..."

Usai ngobrol dan dinasehati Ayah, akupun lekas berjalan ke kamar untuk tidur.

-----

Liburan pendek awal pekan telah berlalu. Aku kembali harus bergelut dengan pulpen dan LKS.

"Prap... Prap..." Panggilku lirih.

"Iya kenapa?" Jawab Prapto makin lirih.

"Masih Ingat sama cewek di warung kelapa muda sabtu lalu?"

"Inget... Kenapa?"

"Kemarin aku ketemu lagi Prap!"

"Kapan?"

"Ya kemarin!" Hardikku sedikit emosi.

"Sssst... Pelan su! Terus udah kenalan?"

"Belum lah... Mana berani aku"

Tak lama kemudian terdengar suara lemparan penggaris kayu di atas meja.

"Breeegghhh....."

Pak Ahmad ternyata yg melemparnya karena melihat aku dan Prapto ngobrol dikelasnya.

"Maju kalian!" Kata Pak Ahmad dengan nada tinggi.

"Iya Pak..." Jawab kami berdua kompak kemudian berjalan maju kedepan kelas. Terlihat Novi hanya cekikikan di bangku depan.

"Kalian ini, selalu saja bikin masalah!"

"Maaf Pak..."

"Adit, kamu kerjakan soal no 1! Dan kamu Prapto kerjakan nomer 2!" Perintah Pak Ahmad, guru Matematika.

"Iya Pak..." Ucap kami berdua. Kamipun lantas mengerjakan soal di papan tulis. Untungnya kami bisa ngerjain tuh soal.

Setelah selesai mengerjakan soal sialan itu, kamipun dipersilahkan duduk kembali.

"Awas kalo kalian bikin ulah lagi!" Ancam Pak Ahmad.

---

"Tettt... Tettt..." Bunyi bel tanda jam istirahat tiba.

"Dit... kantin yuk?" Ajak Novi.

"Enggak ah, aku mau ngerokok aja di wc, ikut?" Jawabku malas.

"Yowiss.. Aku ke kantin sama Prapto aja klo gitu, mau nitip?"

"Enggak ah Nov..."

"Yakin?"

"Emmm... Jus mangga boleh deh Nov..."

"Ok, nanti biar Prapto yg bawain..."

"Eh iya Nov..."

"Kenapa?"

"Sama arem-arem juga boleh... hehe."

"Hhhmmmm!" Jawab Novi singkat.

"Haha... Thanks Nov!" Kataku seraya lari ke arah wc.

Ngerokok di wc sekolah adalah aktivitas rutinku setiap jam istirahat kedua. Dari aktivitas itulah aku mengenal cukup banyak teman dari kelas lain. Namun sayang Kak Siska selalu nolak kalo aku ajakin ngerokok kalo jam istirahat.

Setelah beberapa hisapan rokok yg kupegang, akhirnya pesanan sang raja pun datang. "Nih titipanmu!" Ucap Prapto seraya memberi segelas plastik jus mangga lengkap dengan arem-arem.

"Hehe... Yoi Prap, thanks ya!"

"Hmm... Sini bagi rokok," kata Prapto sedikit maksa.

"Ok Prap, nih.. Aku minum ya.. mau?"

"Enggak deh, udah tadi ama si Novi!"

Waktu telah hampir jam 12 pertanda bel masuk akan berbunyi. Setelah menghabiskan rokok, kamipun kembali ke kelas.

Pelajaran terakhir menjadi sangat menjenuhkan, Bahasa Perancis. Keren ya sekolahku, udah ada bahasa perancis. Namun entah kenapa Bahasa Perancis selalu menjadi pelajaran menjenuhkan ketiga setelah fisika dan matematika. Logat aneh yg diucapkan menjadi salah satu alasanku menempatkan Bahasa Perancis masuk dalam kategori pelajaran paling membosankan.

Bel pulang yg ditunggu-tunggu pun terdengar. Aku, Prapto, dan Novi bersama siswa-siswi lain mulai keluar meninggalkan sekolah. Seperti biasa, si Novi yg memang selalu punya duit lebih dan mentraktir jus sebagai imbalan karena ikut nungguin angkutan jurusan rumahnya.

Begitulah hari-hari indahku bersama sahabat-sahabat hebatku ini.

*****

Sabtu, Akhir Mei 2003

Setiap manusia yang ada di dunia ini pasti mempunyai sebuah kenangan yang tersimpan. Entah itu pahit ataupun manis. Ada yang pernah bilang kepadaku, Kenangan itu seperti kereta api yg berjalan di atas rel, kita tak bisa mengejarnya namun kita hanya bisa melihatnya saja.

Ada kalanya manusia mengenang cerita yang pernah dilalui, jika cerita itu pahit maka akan sedikit susah mengenangnya. Namun jika itu terasa manis, kita pasti akan tersenyum dibuatnya, lalu akan menceritakan kepada setiap orang yang kita kenal.

Kita tak bisa memprediksi suatu hal secara pasti, kita hanya bisa berencana dan Tuhan-lah yang menentukan. Apa yang menurut kita baik, bukan berarti menurut Tuhan itu juga baik. Kadang kita akan dibuat kecewa, namun pada akhirnya kita akan menyadari bahwa Tuhan maha benar. Tak ada yang abadi di dunia ini kecuali ketidak abadian itu sendiri.

Lalu apakah ada cinta abadi? Ah... rasanya terlalu berat untuk mengatakan tidak.

Jam terakhir, Fisika. Tak usah aku ceritakan bagaimana membosankannya pelajaran ini.

Demi menghilangkan kejenuhan, aku dan Prapto mulai bermain permainan klasik, 3 jadi.

Hukum Vektor, Gravitasi, dan apalah itu semua yg diterangkan Bu Wati tak lebih menyenangkan dibanding permainan klasik ini. Tak terasa tiba-tiba bel tanda pulang sekolah terdengar nyaring di telinga. Hari itu giliranku memimpin doa pulang. Tak berlama-lama, akupun mulai memimpin doa.

"Let's Pray Together... Start!"

Di dalam berdoa pikiranku melayang-layang ke perempuan cantik kelapa muda itu. Aku berdoa semoga nanti aku bisa bertemu dia lagi. Amiin.

"FINISH!" Ucapku penuh semangat!

Tak lama aku berpamitan kepada kedua sahabatku ini.

"Sori guys, aku duluan ya... Ada urusan nih!" Kataku semangat seraya berlari keluar sekolah menuju motor yg biasa aku parkir di warung depan sekolah.

Novi dan Prapto pun nampak kebingungan dengan sikapku yg terburu-buru itu.

13.00 WIB. Aku telah sampai di tempat favoritku. Seperti biasa, udara sejuk dengan angin sepoi-sepoi menyambut kedatanganku kali ini. "Mak... Satu, biasa!" Kataku seraya berjalan menuju kursi pojok tempat biasa aku duduk.

Namun ada yg berbeda kali ini. Aku kaget ketika melihat seseorang cewek duduk di kursi itu. Aku perhatikan cewek itu, kayaknya pernah ngeliat deh... Aku perhatikan lagi, semakin dekat dan aku yakin dialah cewek kelapa muda yg akhir-akhir ini berlarian melintasi pikiranku.

"Eh... Tumben minum sini," sapaku malu menghampirinya. Aku gk mau kecolongan lagi hari ini.

"Iya mas..." Ia pun tersenyum manis.
Dadaku semakin berdetak kencang.

Kata "iya mas" dari bibir tipisnya adalah kata "iya mas" terindah yg pernah aku dengar selama menginjakkan kaki di planet ini.

"Boleh aku duduk sini?"

"Silahkan..." Balasnya seraya menganggukkan kepalanya.

Aku semakin salah tingkah ketika ia mempersilahkanku duduk di depannya.

Tak tau perasaan semacam apa saat itu yg menyelimuti jiwaku. Yg jelas perasaan campur aduk antara senang, malu, grogi, dan bingung.

Diam-diam kuamati wajah cantiknya beberapa saat. Aku bingung harus bagaimana kali ini. Padahal ini adalah saat yg benar-benar aku nanti.

Ketika aku menatapnya tiba-tiba ia menoleh kearahku, mata kita kembali bertemu. Aku semakin salah tingkah saja dibuatnya.

"Sekolah dimana mbak?" Ucapku memecah keheningan beberapa saat itu.

"SMA 001." Jawabnya halus.

"Deket dong, Aku sekolah di SMA 002." Jawabku walau dia gk nanya.

"Eh berarti ada pelajaran bahasa asingnya dong?" Dia mulai bertanya.

Dari satu pertanyaan itulah aku mulai berani masuk lebih dalam dan mempresentasikan sekolahku layaknya sales promotion. Dia terlihat serius mendengarkan ceritaku tentang apa yg ia belum tau tentang sekolahku. Dan mulai saat itu aku bersyukur di sekolahku ada pelajaran bahasa asingnya macam bahasa perancis, jepang, dan arab.

Tak lama pesanan kami pun datang, aku masih cerita ini itu sambil sesekali menenggak es kelapa muda yg segar. Tak jarang aku melucu, diapun tertawa mendengarkan leluconku. Dari obrolan tersebut, diketahui dia bukanlah asli kota kecil ini. Ayahnya yg bekerja sebagai aparat negara membuat ia harus pindah-pindah dari kota A ke kota B.

"Eh kamu kelas berapa?" Tanyaku.

"Kelas 2!"

"Sama dong, jangan panggil mas lah... Terkesan tua banget aku!"

"Terus panggil apa?" Tanyanya.

"Adit..." Ucapku mantab sambil mengulurkan tangan.

"Bella..." Ucapnya lembut menyambut uluran tanganku.

Akhirnya aku kenalan juga, Maturnuwun Gusti Alloh.

Bella ini cantik banget. Wajahnya mirip franda versi abg. Mimik wajahnya saat bicara pun sejuk dipandang, pengen nyender dibahunya aja bawaanya.

Tak lama kemudian dia berpamitan mau pulang. Aku mencoba menawarkan untuk mengantarnya. Tapi dia menolak halus dgn alasan rumahnya yg deket.

"Mak.. Udah! Dua berapa," kataku.

"Eh... Udh aku bayar sendiri aja" kata Bella cepat menghampiri aku.

"Udah-udah... Sekalian ini!"

"Hehe... Makasih ya!"

Si emak hanya senyum-senyum saja melihat aksiku di warungnya.

"Dit, aku duluan ya... Angkotnya udah dateng tuh"

Dia menyebrang jalan menuju ke angkotnya. Akupun menunggunya di atas motor.

Setelah agak jauh kulambaikan tangan ke arahnya, diapun membalasnya dengan senyuman manis.

Kamipun berpisah. Dan yesss.. Aku tersenyum bahagia sabtu ini!
Diubah oleh fthhnf
profile-picture
profile-picture
profile-picture
njek.leh dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Roda Kehidupan
18-11-2021 11:14

4. PHK Massal

Sekolah adalah suatu aktivitas rutin yg paling menyebalkan yg mau tak mau harus dilalui setiap orang di belahan bumi manapun.

Aku gk tau kenapa aku yg termasuk anak bejujak alias badung ini mampu masuk di SMA yg terkenal unggulan. Hanya Tuhan dan Kepala Sekolahku yg tahu.

Mata Pelajaran Olahraga adalah mapel yg paling aku sukai selama sekolah di tempat ini. Selain bisa memamerkan keahlianku bermain sepak bola, aku juga bisa melihat pemandangan yg diidam-idamkan setiap siswa di sekolah ini. Yap... Pakaian olahraga cewek yg membuat setiap siswa menelan ludahnya. Entah hanya dimodifikasi sendiri atau memang ketentuan sekolah, yg jelas celana kolor yg dengan tinggi kira-kira 5 hingga 8cm diatas lutut membuat pikiran para siswa melayang-layang entah kemana.

Di sela-sela pelajaran, pelan-pelan aku mengobrol dengan Prapto. Kuceritakan perkenalanku dengan Bella. Iya Bella, gadis dengan senyuman manisnya yg telah aku kenal beberapa hari lalu.

Si Prapto hanya membalas singkat dan mangguk-mangguk saja mendengar ceritaku.

"Prap... Akhirnya Prap akhirnya!" Kataku.

"Akhirnya apa? Yg jelas!" Jawab Prapto.

"Bella... Prap namanya Bella..."

"Bella siapa?"

"Itu... Cewek di kelapa muda, aku uwis kenalan su kemaren!" Aku ceritakan kronologi perkenalanku dengan Bella kepada Prapto.

"Oh... Terus?" Jawab Prapto singkat.

"Ya senenglah!" Ujarku dengan nada agak tinggi sambil noyor kepalanya pelan.

Prapto terkesan cuek dengan ceritaku, ia nampak serius mencatat materi yg ditulis di papan tulis.

Ah sudahlah, aku mencari teman berbincang lain.

"Nov... Nov..." Kupanggil Novi pelan. Namun tak ada jawaban dari Novi, kemudian aku memanggilnya semakin keras. "Noooov... Noooviiii!" Ucapku sambil menendang bangku di yg Novi duduki.

Tak ada jawaban dari Novi, namun secara tiba-tiba ia menoleh ke belakang menampakkan wajah galaknya seraya menunjukkan jari tengahnya ke arahku yang mengisyaratkan dia juga sedang serius dan tak mau diganggu.

"Aku nanti pinjem catatanmu ya Novii cantik..." rayuku ke Novi, mencari alasan agar ia tak melanjutkan marahnya.

Melihat semua teman sekelas serius mencatat, akhirnya aku ikut-ikutan mencatat materi yg ditulis di papan tulis itu walau tak selesai sih, karena keburu dihapus oleh petugas piket.

Akhirnya jam-jam penderitaanku akan berakhir. Waktu telah menunjukkan pukul 13.25 dimana lima menit lagi bel tanda berakhirnya pelajaran akan berbunyi. Sebelum yg lain memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, aku selalu mendahului mereka melakukan hal itu.

"Hahaha... Dasar! Adit-adit!" Ucap Novi menoleh kearahku seraya memberikan buku catatannya yg mau aku pinjam tadi.

---

Pulang sekolah, seperti biasa aku dan Prapto selalu mendapat minuman ataupun makanan gratis dari Novi. Bukan kami yg minta, tapi memang karena uang jajan Novi yg sangat buanyak untuk seorang pelajar seperti kami. Bayangkan seumuran segitu Novi sudah mempunyai beberapa kartu atm. Pernah suatu ketika aku melihat saldo milik Novi di salah satu kertas bukti transaksi setelah mengambil uang di mesin atm. Dan jumlahnya sangat fantastis.

"Yaaaah... Itung-itung imbalan karena kalian nemenin aku nunggu angkot!" Jawaban dari seorang Novi jika ditanya alasan kenapa hampir tiap hari ntraktir kami.

"Eh kalian tunggu warung bentar ya... Aku mau ke wc!" Kataku sambil memegang perut dgn kedua tanganku.

"Yoi!" Ucap Novi dan Prapto tersenyum kompak.

Tak lama aku berjalan cepat ke arah wc untuk segera menuntaskan hasrat yg telah sampai pucuk ini.

Sesampainya di wc sekolah, aku menoleh kanan kiriku memastikan tak ada guru di sekitar.

Aku mencari rokok yg aku simpan di tas. Namun aku tak menemukannya.

"Asu nandi ki rokok! (Anjing dimana nih rokokku!)" Umpatku sendirian.

Aku teringat Prapto yg senyam-senyum mencurigakan sebelum ia pergi ke warung bersama Novi tadi. "Owalah asu!" Umpatku menyadari Prapto telah menyembunyikan rokokku. Dengan berat hati terpaksa aku masuk ke wc tanpa teman setiaku.

Kunyalakan air cukup kencang supaya tak ketahuan jikalau suara kentut yg tiba-tiba muncul terdengar hingga luar. Hehe.

Selang beberapa menit aku keluar dari wc yg sebenarnya cukup seram itu. Aku mulai berjalan petentang-petenteng menuju pintu gerbang sekolah.

"Hiksss... Hikkssss..." Terdengar suara isakan tangis seorang cewek ketika akan melintasi ruang kelas terkahir.

Terlihat sesosok perempuan cantik sedang duduk termenung di bangku paling depan dalam ruangan itu. Kabut yg pekat seolah menutupi wajah cantiknya. Tetesan air matanya seakan membanjiri kelas itu hingga ia tak mampu utk keluar.

Begitu lama aku mengamatinya dari luar, hingga pada akhirnya kuberanikan diri untuk masuk ke ruangan yg tiba-tiba menjadi sunyi itu. Hanya ada aku, dia, dan tangisannya. Ia bahkan tak menyadari ada seorang lelaki yg hendak datang menghampirinya.

"Ini Kak..." Sapaku pelan seraya mengulurkan tangan kananku yg membawa sebuah sapu tangan bermotif garis berwarna merah. Tak ada jawaban darinya, hanya sebuah anggukan kepala dan senyuman kecil yg nampak ia paksa namun tetap manis.

Aku meninggalkan sapu tanganku di meja tempat duduknya. Kemudian dengan perlahan aku mulai pergi meninggalkan ruang kelas itu. Memang lebih baik aku meninggalkannya sendiri, toh aku juga tak begitu mengenalnya. Aku kembali berjalan santai menuju ke warung dimana Novi dan Prapto tengah menungguku.

Sejenak aku berfikir, kenapa ya Kak Fara, kasihan juga salah satu primadona sekolah ini atau dengan kata lain rival dari Kak Siska ini. Entahlah aku tak mau memikirkan masalah orang yg tak aku kenal, lagi pula juga bukan urusanku. Walaupun rumah Kak Fara tak jauh dari desaku, namun aku tak mengenalnya. Hanya sepak terjangnya saja yg aku tahu. Biasa, cewek cantik pasti jadi omongan.

Nampak dari kejauhan si jancuk Prapto sedang merokok dengan nikmatnya. Seakan mengejek karena telah berhasil mengerjaiku.

"Hehhh rokok siapa tuh??? Enak aja main nyalain!" Hardikku. Prapto seoalah tak mendengar suaraku, ia malah bersiul dengan santainya.

"Nov... Kayaknya ada orang ngomong deh!" Ucap Prapto cuek.

Novi hanya mengangguk-anggukan kepalanya seolah bekerja sama dengan Prapto untuk mengerjaiku.

"Oke... Aku pulang aja lah, jd malesss!" Kataku mengancam.

Melihat reaksiku, Novi dan Prapto langsung ketawa terbahak-bahak, bangga.

"Hmmmmmmm..." Keluhku.

"Hehe... Niih nih jus mangga, wis-wis ojo nesu ah! (udah-udah jangan marah!)." Ucap Novi merayuku untuk duduk.

"Haha rokokmu nih su, aku balikin!" Kata Prapto masih ketawa-ketiwi.

Aku pun mengambil rokokku dan menyalakannya. Lalu meminum jus mangga yg sangat menggoda itu. Kemudian kami asik ngobrol ngalor-ngidul tak jelas. Lama kami berbincang hingga tak sadar perut pun mulai keroncongan. Dalam situasi seperti ini aku dan Prapto selalu kompak, mata kami tertuju ke satu arah, Novi! Hahaha.

Novi sadar ia tengah kami amati, wajah kami memelas. Ia hanya mengeluarkan kata yg selalu ia ucapkan dalam keadaan seperti ini, "WIISS BIASAAA" (SUDAH BIASA). Dua kata yg mengisyaratkan bahwa ia menyanggupi permintaan kami.

Dengan mantap dan tak pernah ragu, Prapto selalu memesan omlet favoritnya. Sedangkan Novi masih sibuk membaca menu makanan yg ia pegang. Padahal sebenarnya ia juga sudah tahu makanan apa yg disediakan di warung ini. Biasa lah cewek, ribet.

Aku sendiri masih bingung, "Emm apa ya?"

Tanpa tanya ke Prapto yg sedang asyik dengan handphone barunya, Novi telah mencatat pesanan Prapto karena memang sudah hafal dgn pesanannya tersebut. Ia lalu melanjutkan menulis pesanannya sendiri, Indomie Goreng, Dengan tambahan kecap sesendok gk kurang dan gk lebih dan Telur setengah matang yg digoreng pake blue band.

"Tuhh kan percuma... Kamu baca sampai ribuan kali juga tetep pesennya itu!" Kataku meledek Novi.

"Sirik aja sih... Kowe pesen apa? Biar aku tulis sekalian." Tanya Novi kepadaku.

"Mmm.. Apaan ya... Pizza aja deh"

"Pizza ndasmu!" Umpat Prapto tiba-tiba.

"Heh serius!" Timpal Novi.

"Nasgor aja nasgor..." Jawabku mantab kali ini.

Novi lantas jalan ke arah meja kasir untuk memberikan list pesanan kami.

Novi pun memesan apa yg kami mau. Uang lembaran berwarna merah langsung ia bayarkan ke kasir. Keren kan Novi? Sahabat kita tuh.

"Ditunggu sebentar ya mbak..." Ucap sang kasir halus seraya mengembalikan uang kembalian.

Tak lama pesanan kami datang satu per satu.

Dengan lahap kami menyantapnya dan kembali mengobrol hingga cukup sore.

Setelah sangat lama menunggu Novi mendapatkan angkot, akhirnya aku dan Prapto juga memperoleh angkot jurusan masing-masing. Lantas kami naik bersama sebelum akhirnya aku turun di perampatan terakhir.

"Ndisik yo su... (Duluan ya njing!)" Ucapku ke Prapto.

"Yo cuk minggato seng adoh.. (Ya cuk pergi sono jauh-jauh)"

----

Sesamapainya dirumah kulihat Ibu dan Ayah sedang duduk berdua di ruang tamu. Mereka sedang bernincang yg cukup serius. Ayah duduk di depan Ibu yg nampak sedang cemas. Tanpa ragu aku ikut nimbrung.

"Enten nopo Pak? (Ada apa Pak?)" Tanyaku ke Ayah dan Ibu seraya menyalami dan mencium kedua tangannya.

"Rene le tak kandani... (Sini nak Bapak kasih tahu..."

"Nggeh Pak..."

"Maaf ya nak, Bapak kena PHK dari kantor..." Ucapnya serius.

"Wah kok bisa Pak?" Tanyaku kaget. Wah gawat, bapak jadi pengangguran dong kalo gitu, gk ada gaji dan aku gk punya uang jajan lagi, terus putus sekolah. Pikirku konyol waktu itu.

"Kebijakan perusahaan nak..." Ucap Ayah lalu menghisap rokoknya dalam-dalam. "Tapi kamu gk usah khawatir, Bapak akan cari kerja secepatnya..." Ucap Ayah seakan tahu apa yg aku pikirkan.

"Terus kapan Pak uang pesangonnya cair?" Tanya Ibuku.

"Minggu depan sepertinya, Ibu persiapkan segalanya ya..."

"Persiapkan apanya Buk?" Tanyaku ke Ibu gk tau menau.

"Ibu mau buka warung Dit dengan uang pesangon Bapak..."

"Oh nggeh Buk, nanti Adit bantuin..."

"Nah bagus... Sekarang kamu sholat dulu terus makan yo le..." Kata Ayah tenang.

Entah apa yg terjadi setelahnya aku gk tau. Aku paham Ayah dan Ibu sangat tertekan, terlebih Ayah sebagai kepala keluarga. Namun sikap Ayah benar-benar membuatku kagum, beliau bisa tetap tenang dalam menyikapi segala hal.

Bagi yg tinggal di daerah Magelang pasti tahu perusahaan mana yg sering ada PHK besar-besaran tiap tahunnya. Tapi ntah kenapa sampai saat ini masih banyak banget orang yg ngebet pengen kerja disana.

---

Hari-hari selepas Ayah di-PHK kehidupan dirumah berangsur-angsur berubah. Berubah dalam artian kegiatan tiap anggota keluarganya. Ayah sibuk pergi dari pagi hingga malam mencari pekerjaan lain, Ibu sibuk nyiapin segala sesuatunya untuk membuka warung kelontong dirumah. Pengeluaran pun sedikit ditekan oleh Ibu sebagai bendahara keluarga ini. Imbasnya pun uang jajanku yg berkurang.

"Kantin yok Dit..." Ajak Novi saat jam istirahat.

"Gk deh Nov... Lagi hemat aku..."

"Tumben, lagi butuh duit? Pake uangku dulu aja nih..." Ucap Novi.

"Gk Nov... Emang pengen nabung aja sih, hehehe..."

"Yauda kalo gitu, yok aku traktir deh di kantin..."

"Ayok dah kalo gitu hahaha..."

Di kantin suasana sangat riuh. Aku dan Novi makan soto, bukan karena pengen soto tapi karena kursi di warung soto masih ada yg kosong.

Dengan lahap aku menyantap soto yg rasanya hambar ini, bodo deh gratis ini. Novi sesekali aja memasukkan sendok ke mulutnya. Sambil ngobrol tiba-tiba Kak Fara terlihat berjalan menghampiri kami.

"Ini sapu tangannya yg kemarin, makasih ya..." Ucap Kak Fara ramah ketika sampai didepanku. Novi pun kayak bingung.

"Eh iya Kak..." Balasku singkat.

"Duduk Kak..." Sapa Novi halus.

"Iya..." Ucapnya sopan seraya duduk di samping Novi yg ada di depanku. "Wah lagi pacaran ya, ganggu gk nih?" Imbuh Kak Fara basa-basi.

"Njiiiirr... Siapa juga yg mau sama Adit Kak! Gk pernah modal jadi cowok... hahaha," ledek Novi. Sialan deh si Novi, aku cuma bengong aja, skakmat.

"Hehehe... Eh kenalin aku Fara..." Kata Kak Fara menyalami Novi. "Novi Kak... Udah tahu kok kak namanya, hehe..." Balas Novi. Lalu Kak Fara menyalami aku yg ada di depannya.

"Adit..." Ucapku seraya bersalaman dengan Kak Fara. Wah halus bener tangannya.

Kamipun larut dalam obrolan ringan bertiga. Tapi kadang berempat tambah si joni yg nyaut-nyaut aja. emoticon-Frown

"Jadi gitu Nov... Baik kan si Adit ini..." Ucap Kak Fara menjelaskan awal pertemuanku dengannya hari itu.

"Modus tuh Kak... hahaha.." Canda Novi. Dan akupun bengong doang ngliatin kearah dada Kak Fara dengan satu kancing baju osisnya sengaja dilepas. Dasar.

Kak Fara ini orangnya asyik juga. Selera humornya juga tinggi. Jika diibaratkan mukanya mirip marshanda waktu ABG dulu, tapi bodinya sih lewat deh si caca.

Lagi asik ngobrol tiba-tiba seorang cewek yg cantiknya juga gk ketulungan duduk di sebelahku. Siapa lagi kalo bukan Kak Siska.

"Ih sayang makan gk ajak-ajak..." Ucap Kak Siska yg udah nyender aja.

"Hehehe..." Aku bengong mengarah ke bloon sambil cengar-cengir gk jelas.

"Yauda aku duluan ya Dit... Makasih lho sekali lagi.. " Kata Kak Fara tiba-tiba sambil tersenyum manis. Njiiiir luluh deh aku liat senyumannya.

"Iya Kak sama-sama..."

"Duluan ya Nov..."

"Iya Kak..."

Kak Siska menatapku tajam, yg tadinya nyender sekarang udah agak menjauh. Novipun kabur ngeliat gelagat gk baik dari Kak Siska. "Aku juga duluan deh Dit, mari Kak..."

"Eh iya Nov..." Balas Kak Siska ke Novi dengan senyuman, kemudian mengarahkan lagi matanya kearahku dengan tatapan sadisnya.

"Ngapain si Fara ngedeketin kamu?" Tanya Kak Siska menyelidiki. Njiir rival ya rival aja, tapi juteknya jangan sama aku dong, batinku.

"Tadi cuma ngobrol doang, kebetulan cuma sini yg sepi..." Jawabku.

"Gk percaya aku!"

"Eh bener Kak... suer deh!" Ucapku meyakinkan Kak Siska.

"Hmm... awas ya kalo boong!" Ancam Kak Siska lalu nyelonong pergi gitu aja.

Memang aneh Kak Siska ini, kayaknya cemburu dia. Eh tapi kan kita gk pacaran. Tau deh... Tingkahnya kadang dewasa tapi kadang ngeselin juga. Untung aja cantik, tajir pula. Hahaha.

----

Sore hari setelah pulang sekolah aku membantu Ibu beres-beres teras rumah yg telah selesai disulap menjadi sebuah warung sederhana. Barang-barang dagangan belum ada sih, namun satu etalase dan beberpa rak telah tertata rapi. Rencananya lusa Ibu akan mulai membuka warungnya ini demi kelangsungan hidup keluarga.

Sampai saat ini Ayah belum mendapatkan pekerjaan tetap, beliau masih sibuk mencari pekerjaan kesana-kemari sambil sesekali menerima kerjaan serabutan dari teman-temannya.

Bingung mau ngapain dirumah, akupun memutuskan untuk maen kerumah Gatot, kawan sekampung.

Sambil ngerokok dan jalan petentang-petenteng di jalanan kampung tibalah aku dirumah Gatot.

"Tottt.. Gatot... Gatot..." Panggilku didepan rumahnya. Tak ada jawaban apapun, jangan-jangan pergi tuh anak.

Lama menunggu akhirnya pintu nampak dibuka dari dalam.

"Owalah kamu to Dit... Cari Gatot ya?" Ucap Mbak Laras, kakak Gatot.

"Iya, Gatotnya ada mbak?" Sapaku ke Mbak Laras.

"Masih les..." Kata Mbak Laras memegang handuk yg menyelimuti tubuhnya dengan tangan kanannya. Badannya mulus banget masih rada basah-basah gitu. Wah kayak prank ojol nih.

"Woi jaman segitu mana ada ojol woi!" Kata seseorang yg gk tau darimana.

"Eh iya-iya maaf..."

Oke cukup.

Mimpi apa semalam bisa ngeliat Mbak Laras pake handuk gini. Rambutnya yg juga masih basah makin ngebuat pikiran liarku tak terkontrol. Mbak Laras ini emang terkenal cantik dan berani jika memakai pakaian. Sempat menjadi sorotan kampung juga dulu saat ketahuan mabuk di belakang balai kampung bareng gengnya pas acara agustusan. Tapi emang dasar cuek orangnya, jadi gk terlalu dipikirin kayaknya. Wajahnya persis Saskia Gotik. Beneran gk bohong emang mirip banget dia, bodi dan tingginya pun hampir sama.

Mbak Laras inilah yg nantinya akan banyak memberi nasihat-nasihat saat aku dalam kebimbangan dan saat dalam kondisi putus asa. Pokoknya dia selalu ada buatku nantinya. Meski Mbak Laras udah kuliah, tapi doi selalu asik sama siapa aja entah itu anak kecil sekalipun.

"Tunggu dalem aja Dit, Palingan bentar lagi pulang..." Ucap Mbak Laras kalem.

"Iya Mbak..."

Akupun masuk kedalam kamar Gatot kayak biasanya nungguin Si Gatot pulang.

Bengong tiduran di kamar, pikiranku jauh membayangkan Mbak Laras barusan. Beruntung deh Si Gatot sialan punya kakak macam Mbak Laras.

"Nih minum dulu Dit..." Ucap Mbak Laras nyamperin di dalam kamar gatot. Untung dia telah ganti baju.

"Iya Mbak..."

"Eh Mbak... aku kewarung bentar ya beli rokok..." Ucapku tiba-tiba menghindari otakku yg makin kacau gara-gara Mbak Laras. Gk kuat deh aku, meski Mbak Laras emang seksinya gk ketulungan, tapi aku menghormatinya entah karena apa.

Akupun mulai beranjak dari rumah Gatot buat beli rokok ke warung. Pas mau keluar ngebuka pintu rumahnya, Mbak Laras manggil.

"Diiiit..."
Diubah oleh fthhnf
profile-picture
profile-picture
profile-picture
njek.leh dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
Roda Kehidupan
18-11-2021 12:21
nice, lanjut.
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Roda Kehidupan
18-11-2021 13:27
Wuih magelang lanjut yok seru nih,,
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Roda Kehidupan
18-11-2021 14:34
Nice 2003 berarti kita seumuran nih. Lanjutkan gan
profile-picture
mawarberduri235 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Roda Kehidupan
18-11-2021 15:53

5. Warung Baru Ibu

Akupun mulai beranjak dari rumah Gatot buat beli rokok ke warung. Pas mau keluar ngebuka pintu rumahnya, Mbak Laras manggil.

"Diiiit..."


"Nitip beliin mie dong..." Ucap Mbak Laras.

"Oh oke mbak..." Jawabku.

"Nih duitnya..." Kata Mbak Laras berjalan menghampiriku. Kirain dipanggil ngapain, cuma nitip mie doang ternyata. Hus!

Selang beberapa saat kemudian setelah beli rokok dan mie buat Mbak Laras, akupun kembali kembali kerumah Gatot. Mbak Laras lagi di teras duduk santai. Niat nungguin kayaknya.

"Nih Mbak..." Ucapku memberikan mie instan pesanan Mbak Laras.

"Oke, makasih Dit..."

"Gatot kok belum pulang sih Mbak?" Tanyaku basa-basi sambil menyulut rokok.

"Belum, paling terus main dia...." Jawab Mbak Laras sambil nyisir-nyisir rambutnya yg masih agak basah.

"Kemana ya mbak kira-kira?" Tanyaku polos.

"Hahaha... Gatot lagi ke Salatiga Dit sama mamah papah..." Jawab Mbak Laras nyantai.

"Lhah tadi bilangnya lagi les Mbak?" Tanyaku lagi, belum ngeh.

"Iya tadi aku kerjain kamu... Hahaha..."

"Yeee sial..."

"Hahaha..."

"Yauda Mbak aku balik aja deh..." Gerutuku singkat.

"Hahahaha..." Tawa Mbak Laras puas banget kayaknya. " Eh Dit, jadi Bude Susi buka warung?" Sambung Mbak Laras setelah tawa renyahnya selesai. Entah kenapa dari dulu Mbak Laras manggil Ibu dengan sebutan Bude, padahal gk ada hubungan darah sama sekali.

Sambil duduk santai di teras kami ngobrol-ngobrol ringan. Mbak Laras tanya seputar sekolahku, udah punya pacar belum, dan pertanyaan sejenisnya. Mbak Laras juga nanya Ayah yg kena PHK dan Ibu yg mau buka warung.

"Rencana sih gitu mbak..." Jawabku santai.

"Ya ya ya..." Ucapnya maggut-manggut.

"Gatot pulang kapan to Mbak?"

"Nanti malam juga dah balik..."

"Lha Mbak kok gk ikut?"

"Kuliah Dit... lagi banyak tugas aku..."

"Oh..." Ucapku singkat gk ngerti lagi mau ngomong apa. "Aku pulang aja deh Mbak..." Sambungku kemudian.

"Gk mau nyobain mie buatan Mbak nih?" Goda Mbak Laras dengan senyum anehnya.

"Gk deh Mbak..." Tolakku basa-basi. Padahal ngarep banget sumpah.

"Yakin?" Tanya Mbak Laras memastikan.

"Iya Mbak, udah makan kok tadi..." Kataku bohong berharap Mbak Laras maksa lagi.

"Oh yaudah kalo gitu..." Jawab Mbak Laras santai lalu berdiri dan masuk ke dalam rumahnya. Sial, kirain mau dipaksa. Hahaha.

----

Beberapa hari setelah ngobrol sama Mbak Laras aku terjebak hujan saat membantu Ibu ngambil barang belanjaan di pasar.

"Wola asem!" Umpatku sambil manaruh helm di spion motor yg aku parkiran di Warung Kopi Mas Bendot.

Ya, di luar sana sedang hujan deras diiringi gemuruh guntur yg cetar membahana menambah kengerian pasukan air yg menyerbu bumi ini.

"Pesen opo Dit? Biasane? (Pesan apa Dit? Biasanya?)" Tanya Mas Bendot sambil memainkan rambut kriwilnya.

"Iyo, gawekne kopi wae mas. (Iya, bikinin kopi saja, mas)" Seruku di warung kopi Mas Bendot.

Kubuka beberapa tas kresek hitam bawaanku, memeriksa jika ada barang belanjaan ibu yg basah terkena air hujan.

"Iki kopine!" Seru Mas Bendot mengantarkan pesananku.

"Makasih mas!"

"Darimana Dit hujan-hujan gini?" Tanya Mas Bendot.

"Dari pasar. Kulakan mas, disuruh Ibu," jawabku.

"Woh sekarang buka warung kok ya Ibumu..."

"Yoyoi mas..."

Kurogoh saku celana mencari teman akrabku saat minum kopi. Jemariku meraih sesuatu yang kucari itu. Sebungkus rokok dalam kemasan bergambar bintang berwarna biru. Masih utuh, masih terbungkus plastiknya dengan rapi. Perlahan kubuka bungkusan itu lalu kuambil sebatang dari bungkusannya. Kusulut dan menghisapnya.

"Fffiiiuhhhhhh..." Nikmat sekali. Sedikit memberikan rasa hangat dan tenang di tengah hujan deras dan suara gemuruh petir.

Warung Mas Bendot masih sepi sore ini. Maklum, warung kopi baru akan rame pada malam hari, ditambah dengan hujan deras yang mengguyur kota Magelang, maka pantaslah kalau warung kopi Mas Bendot hanya berisi beberapa orang saja.

Kudengar sebuah reff lagu dari radio yg diputar Mas Bendot. Salah satu lagu favoritku sedang diputar di salah satu stasiun radio kota ini.

"Ini jamannya sabu-sabu, bukan di jaman batu, atau kisah si rambo.. Ini bukan cerita sinetron yg sabar selalu menang di akhir episode.."

Irama lagu itu pun makin kencang seakan berlomba dengan hujan yg juga makin tak terkendali.

"Berakit-rakit kita hulu, berenang kita ketepian... Bersakit dahulu, senang pun tak datang, malah mati kemudian.."


Lagu yg dibawakan Jamrud itupun selesai, kutenggak perlahan kopi yg aku pesan sambil menatap ke jalan raya melihat hujan yg masih mengguyur jalanan. Terlihat ada sesosok cewek berparas cantik sedang berdiri di depan warung mas bendot ini.

Ia mengenakan kaos tipis berwarna putih dan celana jins panjang warna hitam. Bajunya yg sedikit basah membuat jiplakan yg sedikit berwarna itu terlihat di kaosnya.

Kuhampiri cewek itu. Aku yakin itu adalah Kak Fara.

Wuih kayak dapet togel bisa lihat kak fara disini, batinku kocak.

"Ini Kaakk..." Kataku seraya mengulurkan tangan kanan memegang jaket yg aku kenakan tadi.

"Ehhh... Kamu lagi, gk usah makasih," jawab Kak Fara halus.

"Udah gak papa, pake aja kali Kak."

"Bener gk usah, gk enak sama kamu."

Mataku terus mencuri pandang melihat kaos yg basah yg ia kenakan. Dari dekat terlihat semakin jelas bagaimana jiplakan itu menembus kulit putih Kak Fara. Astaga, sadarlah wahai manusia.

Stoooop.... Stooppp! Kuhentikan pikiran kotorku. Bagaimanapun caranya aku harus membujuknya agar mau mengenakan jaketku demi mengusir setan-setan yg telah berterbangan disekelilingku ini. Hus.. huus.. pergi kau setan! Jangan gangguuuu ~

"Gk papa lagi Kak, bajunya basah lho," kataku seraya meletakkan jaket ke tubuhnya "Udah dipake aja, nanti sakit!" imbuhku kemudian.

Mendapat perlakuan seperti itu membuat Kak Fara tak bisa lagi menolak niat baikku.

"Yuk masuk aja Kak, minum dulu biar sedikit anget," kataku mengajaknya masuk ke dalam Warung Kopi Mas Bendot.

"Iya makasih..." Kata Kak Fara berjalan mengikutiku dari belakang.

"Mas teh panas siji yo, (Mas teh panas satu)" kataku ke Mas Bendot memesan minuman untuk Kak Fara.

"Dari mana Kak hujan gini?" Kataku memulai percakapan.

"Dari rumah Arum nih, gk tahu tiba-tiba hujan, huft!" Keluh Kak Fara bibirnya dimonyongin, imut.

Suasana masih sedikit canggung antara aku dan Kak Fara. Aku bingung mau ngomongin topik tentang apa. Maklum juga sih, ini baru pertama kali aku ngobrol berdua gini. Gk mungkin ngebahas kaosnya bagus tadi Kak. Hehehe. Haduuuuhh... Plisss Adit! Fokus! Fokus.

Akhirnya teh panas pesananku untuk Kak Fara Datang. "Diminum Kak, biar anget," kataku.

"Iya... Makasih lho ya, untung ada kamu!"

"Ah enggak kok, cuma kebetulan aja..."

"Kebetulan tapi kok bisa dua kali ya?"

"Kok dua kali?" Tanyaku heran.

"Iya... Kan kemarin kamu pinjemin aku sapu tangan, sekarang jaket. Masak sih kebetulan bisa sampai dua kali?"

"Ngggggg... Hehehe..." Aku tersenyum seraya menggaruk-nggaruk kepalaku.

"Makasih ya sekali lagi..."

"..."

"Ngomong-ngomong kamu kelas 2 apa?" Imbuh Kak Fara, kayaknya basa-basi.

"2A Kak, tau deh kenapa bisa masuk sono..." Jawabku.

"Wah pinter dong kalo gitu, kelas unggulan tuh..." ucap Kak Fara.

"Gk juga sih Kak... biasa aja..."

"Hehe..."

"Ngomong-ngomong mau nglanjutin kuliah dimana nih? Tanyaku.

"Emmm... Belum tau juga sih, liat nilai dulu lah besok..."

Kak Fara saat itu nampak jauh berbeda dengan Kak Fara yg aku lihat beberapa hari yg lalu. Senyuman yg ia tunjukkan saat ini adalah senyuman murni dari seorang perempuan berparas cantik, bukan senyuman paksaan yg ia tunjukkan saat menangis sendirian di ruang kelasnya tempo hari.

"Eh udah reda tuh, balik yuk!" Ajak Kak Fara.

"Ayuk kak," kataku mengiyakan ajakannya.

Setelah membayar segelas kopi dan segelas teh, kamipun beranjak pergi meninggalkan warung kopi Mas Bendot.

Kubiarkan jaketku dibawa Kak Fara agar ia tak kedinginan dengan baju basahnya.

----

Sesampainya dirumah, aku menata barang-barang belanjaan warung Ibu di beberapa rak yg telah ditentukan. Selembar uang duapuluh ribuan diberikan ibu kepadaku sebagai upah atas jerih payahku mondar-mandir di pasar.

"Hehe, lumayan lah... Bisa kutabung untuk keperluan mendadak," ucapku riang dalam hati.

Setelah selesai mandi, aku duduk di teras depan rumah untuk menikmati udara sore yg cerah selepas hujan deras mengguyur. Sore ini sungguh indah, warung Ibu pun langsung nampak rame. Kayaknya bakal teratasi masalah keuangan keluargaku.

"Le ngelamun wae!" Sapa Ayahku tiba-tiba. Kebiasaan Ayah senengnya ngagetin aku aja.

"Enggak Pak..." Kataku sopan, Ayah udah duduk aja di depanku.

"Bapak mau ngomong serius le..."

"Pripun Pak? (Gimana Pak?)"

"Gini lho le, sekarang kamu udah besar. Kamu tau to Bapak belum dapat kerja disini?"

"Nggeh Pak..."

"Nah jadi Bapak mau ke Jakarta le, ada temen Bapak yg nawarin kerja disana..." Ucap Ayah tenang.

"Terus Pak?"

"Kamu bisa to jagain rumah? Jagain Ibumu gantiin Bapak?"

"....." Aku hanya diam mencoba mencerna yg Ayah bilang.

"Bapak sebulan atau dua bulan sekali pulang kok..." Ucap Ayah lalu menyulut rokok favoritnya.

Jujur aku kaget mendengar apa yg Ayah katakan. Aku gk bisa ngebayangin jika harus jauh sama Ayah. Beliau adalah panutanku. Akupun gk tau bisa penuhin permintaan Ayah untuk menggantikan posisinya dirumah.

"Maafin Bapak yo le... Ini demi kamu juga..."

"Nggeh Pak..." Ucapku lemes, tak terasa air mataku mengalir.

"Ojo nangis le... cah lanang raoleh nangis! (Jangan nangis nak, cowok gk boleh nangis!)" Kata Ayah menasehatiku.

"Terus kapan Bapak berangkat?"

"Minggu depan! Inget ya pesen Bapak... Jagain Ibu, jangan buat Ibu khawatir. Sekolah yg bener, terus jangan sampe ninggalin sholat..."

"Nggeh Pak..."

"Motor Bapak tinggal biar mudah buat kamu transportasi sama Ibumu..."

"Nggeh Pak..." Ucapku gk tau mesti ngomong apa.

Berat sebenarnya, tapi harus bagaimana lagi. Inilah jalan yg harus Ayah lalui sebagai kepala keluarga. Aku hanya bisa berdoa agar Ayah bisa berhasil disana besok.

Dan roda itu terus berputar, kini seorang kepala keluarga harus tetap mengayuh sepedanya agar tetap berjalan di atas aspal yg bergelombang.
Diubah oleh fthhnf
profile-picture
profile-picture
profile-picture
njek.leh dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Roda Kehidupan
19-11-2021 07:59
Bagus ceritanya.. Keep apdet ganemoticon-Cendol Gan
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Roda Kehidupan
19-11-2021 13:25
Ini cerita bagus lho. Pemilihan diksi yg oke. Alur cerita yg mengalir gitu aja. Dan setting waktunya astaga, suka banget
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Roda Kehidupan
19-11-2021 16:01

6. Bapak Semangatku

Sabtu siang di tahun 2003

Aku tertegun lesu melihat jam ditanganku. Satu jam lebih aku menanti seseorang yg bahkan aku tak tahu ia akan datang atau tidak. Tak ada janji, tak ada ucapan pasti. Namun hatiku tetap ingin berada di tempat ini untuk menanti.

Entah berapa batang rokok yg telah kuhabiskan. Tak terhitung pula barapa kali lampu hijau berganti merah di perempatan Alun-alun. Jantungku selalu berdetak lebih cepat ketika melihat angkutan umum berwarna biru berhenti di sekitar warung es kelapa muda ini.

Kulihat emak yg selalu mengepalkan tangan kanannya dan tersenyum kearahku manakala melihat seseorang yg turun dari angkutan bukanlah orang yg aku maksud. Mungkin karena insting seorang ibu, si emak nampak paham aku tengah diselimuti kegalauan.

Jaman itu hape masih jarang gan, kalo sekarang mah enak tinggal wa atau dm ig aja untuk nanya posisi atau sekedar tanya mau kesini atau gk.

14.35 WIB, Aku memutuskan untuk pulang. Bodohnya aku menanti seorang cewek yg bahkan baru aku kenal. Hahahaha! Tawaku dalam hati menertawakan kebodohanku sendiri.

Kuhisap sebatang rokok ini sebelum aku buang dan memasukkan kembali bungkusnya ke dalam tas. Lalu aku berjalan ke arah emak dan mulai merogoh kantong untuk membayar dua gelas es kelapa muda yg telah habis aku minum.

"Udah mau pulang ya?"

"DEEGG!" Jantungku seakan berhenti sepersekian detik. Aku tak tau harus menjawab apa ketika sesosok cewek berparas cantik menepuk pundakku dan menyapaku dari belakang.

"Ngggg... Bella... Emmm... Enggak kok, ini baru aja nyampe!" Spontan kujawab pertanyaan Bella.

Emak yg mengetahui gelagatku hanya tersenyum.

"Ya udah... Duduk sana yuk!" Ajak Bella.

"Mak dua ya..." Kataku seraya mengedipkan sebelah mataku ke Emak.

Aku berjalan menghampiri Bella yg telah duduk di bangku pojok itu.

"Sekarang kok jarang dibungkus?" Tanyaku memulai percakapan.

"Kan ada yg nemenin," jawab Bella santai. Iya dia santai, aku yg gugup.

"Hehehe..." Aku hanya tersipu malu tak tau lagi harus berkata apa.

Bella Bella, dia memang paling bisa membuatku salah tingkah seperti ini. Selang beberapa saat dua gelas es kelapa muda yg kupesan telah berada di depan kami. Bella nampak keahausan, dengan cepat ia menghabiskan setengah gelas tanggung itu.

"Uhhhukkk... Uhhhhukk..."

"Eh kamu gk apa-apa Bell?" Ucapku sedikit panik meihatnya tersedak.

"Hehe... Tenang, gk papa kok," jawabnya menenangkanku.

Setelah memastikan ia baik-baik saja, daripada bengong kukeluarkan rokokku lengkap dengan koreknya. "Ssstt... Fiiiuuuuhhh..." Kepulan asap keluar dari mulutku.

"Eh Bell, suka warna ungu ya?" Tanyaku karena melihatnya selalu serba ungu. Jaketnya tempo hari, gelang yg dipakai saat ini, dan berbagai macam aksesoris menempel di tasnya semua serba ungu.

"Eh... Kok tau?" Jawabnya singkat.

"Tau dong!" Kataku tersenyum.

"Udah lama Dit kamu ngerokok?" Tanya Bella. Kayaknya rada keganggu nih sama asepnya.

"Gk kok... Barusan aja, nih satu belum abis..."

"Maksudnya mulai ngerokoooook...."

"Oh hahahaha... SD sih Bell dulu kelas 6 kalo gk salah..."

"Wah parah! Udah Gila. Gk takut mati apa?" Tanya Bella.

"Enggak lah, kan aku bawa korek..." Ucapku seraya memegang korek dimeja.

"Hiiiih... becanda mulu daritadi..."

"Hehehe..."

"Kurangin lah, sayang sama kesehatanmu tuh!" Ucap Bella udah kayak Guru BK aja, hehe.

"Iya deeh..."

Kamipun melanjutkan obrolan ringan, kutengok jam udah sore aja. Kenapa cepet banget perasaan.

Saran


"Eh udah sore nih, pulang yuk!"

"Eh iya juga ya... Yauda yuk!"

"Aku anter atauuuu....." Tanyaku.

"Aku pulang sendiri aja, gk bawa helm juga. Ntar malah ketangkep polisi!"

"Ya udah... Aku tungguin aja ya kayak kemaren ya..."

"Ok!" Jawab Bella seraya menganggukkan kepala dengan senyuman yg sangat indah. Maniis sekali.

Bella nampak berjalan ke arah emak untuk membayar es kelapa muda yg kami minum. Aku langsung bergegas mencegahnya. Lalu kampipun terlibat perdebatan yg cukup panjang. Bukan-bukan, perundingan yg cukup rumit dimana menghasilkan kesepakatan bahwa Bella yg membayar es kelapa muda dengan alasan gantian karena aku yg membayar sabtu lalu.

Cukup unik memang pribadi seorang perempuan yg baru beberapa hari ini aku kenal. Tp itulah yg membuatku semakin... Emmmm, cukup cepat jika harus aku bilang cinta. Atau mungkin cinta pada pandangan pertama? Apa mungkin itu ada? I don't know...

Setelah meninggalkan warung si emak, kuantar Bella hingga seberang jalan. Sambil menunggu angkot jurusan rumahnya datang, kami kembali mengobrol ringan. Dalam obrolan tersebut diketahui Bella sering jogging di Alun-alun ini.

Dan pikiranku pun langsuuuuuung........

"Besok pagi jogging yuk!" Ajakku semangat.

"Serius?" Jawab Bella.

"Iya Serius, aku juga suka jogging kok!"

"Ok.. Sebelum jam enam ya!" Kata Bella.

"Yoiii... Shubuh aku udh sampai sini kok Bell, tenang aja, Haha..."

Kesempatan nih besok pagi.. Aku tersenyum kecil.

Tak lama sebuah angkot berhenti tepat di depan kami.

"Aku duluan ya..." Ucap Bella pamit.

"Ok... Hati-hati Bell..." Kemudian kulambaikan tangan kananku ketika sebuah angkutan umum membawanya pulang.

---

Seperti biasa malam minggu adalah malam dimana aku dan teman-teman sekampungku menghabiskan waktu utk berkumpul. Namun kali ini aku memilih utk berada di rumah. Besok aku akan jogging bareng Bella. Sebuah kesempatan yg jarang terjadi. Bisa berantakan jika harus meladeni kawan-kawanku nongkrong di pos kamling untuk bermain gaple bahkan sampe mabuk-mabukan.

"KRIIINGG..." Suara alarm yg sengaja aku setting jam 04.30 mengagetkanku pagi ini.

Mataku masih terasa sangat berat untuk kubuka. Nampaknya aku terlalu bersemangat menyambut hari ini hingga aku tak bisa tidur semalam.

Setelah sholat shubuh, aku bergegas keluar dari kamar dan mengambil motor.

"Eeeehhh... Mau kemana koe le? Tumben banget pagi-pagi gini," kicau Ibuku heran melihat anaknya muncul sepagi ini.

"Jogging lah Bu... Biar sehat," jawabku.

"Wangi bener jogging aja," Ibu semakin penasaran.

Daripada mendapat pertanyaan yg aneh-aneh dari Ibu, aku langsung mengambil kunci motor yg selalu ditaruh di ruang tamu.

Setelah cukup panas motor kupanasi, aku mulai berjalan meninggalkan rumah. Udara pagi yg dingin tak menghalangi niatku untuk berlari pagi berasama Bella.

Aku semangat sekali pagi ini. "Oh yeeeaaah!"

Sesampainya di Alun-alun, suasana masih sepi. Sang fajar belum menampakkan pesona indahnya. Sembari menikmati udara pagi yg masih berembun, kunyalakan sebatang rokok star mild favoritku.

"Fffiiiuuuuuhhhhh..." Nikmat sekali ternyata menghisap tembakau asli Indonesia sembari menunggu sinar sang surya.

Kupandangi keadaan sekitar, orang-orang mulai berdatangan utk berolahraga ataupun sekedar jalan-jalan santai.

Terlihat ada beberapa anak semangat berlari dengan teman-temannya, ada juga seorang kakek berjalam mondar-mandir di jalanan yg masih sepi itu.

"Ciee yg mau olahraga malah ngerokok..." Kata seorang cewek yg tiba-tiba telah duduk disampingku.

Reflek kubuang rokok yg aku pegang. "Hehehe... Eh Bella, udah daritadi Bell?"

"Hhhhmmm... Enak ya ngerokok pagi-pagi gini?"

"Hehehe..." Aku hanya tersenyum malu sembari menggaruk kepalaku yg tiba-tiba gatal.

"Gini lho Dit... Kamu tau kan bahaya rokok? Bukan cuma buat kamu aja, tp buat orang-orang yg ada di sekitarmu. Kamu gk mau kan membunuh orang-orang yg kamu sayang?" Oceh Bella terlihat serius.

Njiiir diomelin aku nya. Tapi seneng juga sih ada yg perhatian gitu.

"Iya Bell iya... Cuma iseng aja kok, sekali-kali juga," jawabku.

"Aahh kamu sih gitu... Alasan mulu."

"Enggak Bell enggak... Besok-besok gk lagi deh..."

"Kamu suka maen bola kan?" Tanya bella.

Aku mengangguk, "He'em!"

"Nah perokok itu cenderung memiliki detak jantung yang cepat, sirkulasi yang buruk, terus sering sesak nafas gitu karena terlalu banyak zat beracun yang masuk ke sistem pernafasannya itu Diiit.... Jangan sering-sering ngerokok lah!"

Aku hanya garuk-garuk kepala, bingung gk ngerti apa yg Bella jelasin.

"Ah udah yuk lari aja, biar ilang tu racun!" Seru Bella.

"Ok yuk!" Daripada terjadi perdebatan panjang akupun mulai pemanasan kecil.

Nampak Bella telah berlari lumayan jauh. Kayaknya sih emang bener, cukup sering juga ia berolahraga. Terlihat pintar sekali ia mengatur nafasnya.

Sekitar lima putaran kami berlari mengelilingi Alun-alun Magelang. Selesai berlari, kami beristirahat santai di bawah pohon beringin.

"Makasih ya Dit udah ditemenin..." kata Bella masih ngos-ngosan.

"Iya, santai aja... Aku beli minum dulu deh, haus kan?"

Bella hanya mengangguk sambil berusaha melepas tali sepatunya yg sepertinya nampak susah itu.

Tak lama berselang kamipun minum air mineral yg kubeli. Sayang kelapa muda emak belum buka, gk bisa ngebayangin gimana segernya kalo diminum habis olahraga gini.

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul setengah delapan. Bella nampak sering melihat jam warna ungu yg ia kenakan di tangannya, gelagatnya ingin cepat-cepat pulang dia.

"Pulang yuk udah mau siang nih!" Kataku paham.

"Eh iya udah mau siang ya, gk kerasa.. Aku jg mau ngerjain tugas fisika," jawab Bella.

"Fisika ya... Hhmmm. Emang ngeselin tuh pelajaran dimana-mana!"

"...." Sejenak Bella pun bengong sanbil mengkerenyitkan alisnya.

"Gk kok, aku seneng pelajaran fisika, asik tau!"

"Haaah? Serius?" Tanyaku heran.

"Iya, bener... Nilaiku bagus terus lho," kata Bella sedikit menyombongkan diri.

"Boleh nih aku les di tempatmu..."

"Iya... Bilang aja klo ada yg gk paham," ucap Bella halus.

"Okelah... Aku bilang deh besok kalo butuh bantuan..."

"Iya..." Bella hanya menganngguk mau.

Dengan sedikit perundingan atau lebih tepatnya perdebatan yg lumayan rumit, akhirnya aku berhasil merayu Bella untuk mengantarnya pulang. Walau cuma sampe di gapuranya aja sih. Tapi aku seneng bisa ngebonceng cewek cantik dengan senyuman yg manis ini di jok belakang.

"Koe kok iso ayu tenan to Bell, mangan opo koe ki! (Kok bisa cantik gitu sih kamu Bell, makan apaan sih kamu itu)." Batinku konyol.

Selama perjalanan pulang tak henti-hentinya aku tersenyum sendiri membayangkan wajah cantik Bella. Mungkin terlihat seperti orang gila jika ada yg melihatku senyam-senyum sendiri di atas motor gini. Betapa beruntungnya bisa sedekat ini dengan perempuan berparas cantik bernama, Bella Sekar Puspita.

----

Sehari setelahnya aku ngotot sama Ibu agar gk masuk sekolah buat nganter Ayah ke stasiun lempuyangan Jogja. Hari itu Ayah berangkat ke Jakarta menggunakan kereta. Ayah ngebolehin aku bolos, bahkan Ayah malah nyaranin buat nunggu di rental ps depan buat nungguin Ayah berangkat jam 10-an, biar nanti beliau yg nyamperin. Ada ya Ayah kayak gitu?

Dan benar saja, sebagai anak yg berbakti kepada orang tua, akupun mengikuti perintah Ayah buat nungguin beliau di rental ps depan. Hahaha

Sesampainya di rental ternyata masih tutup, tapi aku ketok aja deh orang yg punya juga Mas Sapto, tetanggaku.

"Tok... Tok... Tok... Mas buka mas..."

Beberapa saat kemudian pintu rental pun terbuka, kulihat Mas Sapto cuma pake celana kolor.

"Wolah cah edan esuk-esuk wis tekan kene! (Walah orang gila pagi-pagi udah sampe sini aja!)" Ucap Mas Sapto saat ngebukain pintu.

"Hehe... disuruh Nungguin Bapak ps disini mas..."

"Pancen podo gemblunge kok yo bapak ro anak... (memang sama gilanya Bapak sama anak...)" Kata Mas Sapto. "Yowis mlebu, setel dewe yo... (yauda masuk nyalain sendiri ya)" Imbuh Mas Sapto mempersilahkan aku masuk.

Setelah masuk langsung kunyalakan ps dan tvnya. Seperti biasa, Winning Eleven menjadi pilihan utama jika maen ps. Jaman dulu belum kenal tuh yg namanya messi, cr7, ataupun pogba. Yang ada cuma roberto carlos, batistuta, shevchenko, dan pemain dengan speed atau shoot yg gk ada tandingannya.

Akhirnya sekitar pukul 10.00 Ayah udah dateng.

"Wah Bapak diajari le kapan-kapan! (Wah Bapak diajari dong kapan-kapan)" Sapa Ayah yg ketika melihatku.

"Wew siap Pak!"

"Yowis yok keburu siang!" Ucap Ayah yg udah pake helm aja, tau deh helm siapa.

Setelah Ayah membayar ps yg aku maenin, kami lantas jalan menuju stasiun lempuyangan. Kali ini aku ngebonceng. Ayah hebat juga naik motor ternyata. Tak sampai sejam kami udah sampe di stasiun. Wah ini sih Rossi versi kearifan lokal.

"Ngopi ndisik yo le... (ngopi dulu ya Nak...)" Ucap Bapak ketika sampai di stasiun lempuyangan.

Kamipun ngopi santai di salah satu angkringan sekitar lempuyangan. Ayah ini doyan banget sama kopi. Aku sih gk begitu suka, doyan sih tapi gk se-addict Ayah. Kehidupan ini sudah pahit jangan ditambah lagi dengan pahitnya kopi, hahaha.

Bapak pesen kopi dan aku pesen es jeruk. Kayaknya seger deh panas-panas gini minum es jeruk. Kamipun ngobrol udah kayak temen tongkrongan aja.

"Diinget-inget ya pesen Bapak..." Ucap Bapak seraya menikmati kopi kentalnya.

"Iya Pak..."

"Besok Bapak kirimin duit buat beli hape biar mudah komunikasinya..."

"Wah... iya Pak..." Ucapku semangat.

Akhirnya jam keberangkkatan Ayah akan tiba, kamipun beranjak meninggalkan angkringan tersebut. Aku diberi uang seratus ribu untuk membayar tanpa harus mengembalikan sisanya ke Ayah.

Lalu Ayah berjalan menuju pintu masuk stasiun, akupun mengikutinya dari belakang. Jaman itu masuk ke stasiun mah tinggal masuk aja tanpa harus nunjukin tiket dan ktp. Itulah sebabnya banyak penumpang ilegal waktu itu.

Beberapa lama kami menunggu, kereta Ayah pun tiba. Ayah memelukku dengan erat sambil mencium rambutku. Sedangkan aku hanya bisa diam pasrah.

"Jaga diri yo le..." Ucap Ayah lalu masuk ke dalam gerbong kereta. Aku lupa kereta apa waktu itu. Beberapa saat kemudian, kereta yg Ayah tumpangi mulai berjalan menjauh. Jauh dan semakin jauh...

----

Beberapa hari setelah keberangkatan Ayah, aku seakan kehilangan energi. Bawaannya lemes aja. Bahkan di sekolah aku menjadi anak pendiam. Guru-guru pun heran kenapa aku gk bikin ulah lagi.

"Woe cuk koe ki ngopo to? Ket wingi kok koyo wong edan meneng wae! (Woe cuk kamu ini kenapa? Dari kemarin kok kayak orang stres, diem aja.)" Tanya Prapto di sela-sela pergantian jam pelajaran.

"Rapopo su... Mung males wae! (Gk apa-apa njing, cuma lg malas aja!)" Jawabku santai.

"Cerita sama kita-kita Dit kalo lagi ada masalah..." Ucap Novi dari bangku depan.

"Enggak kok santai aja lagi... hehe..."

Ah teman-temanku ini memang perhatian. Tapi memang saat itu lagi males aja cerita sama siapapun, termasuk Kak Siska yg tiap jam istirahat nyariin aku di kelas bahkan sampe toilet.

Jam pelajaran terakhir pun berlalu gitu aja. Entah kenapa moodku hilang mau ngapa-ngapain. Hingga aku melihat anak-anak kelas satu sampe tiga sedang kumpul di depan aula sekolah. Pada ngapain sih mereka, tumben bisa kompak gitu, biasanya pada gk akur.

Terlihat pentolan-pentolan tiap kelas di kerumunan itu. Ada Prapto juga disana ternyata. Wah kayaknya bakal ada yg seru-seru nih.

"Ngapain sih mereka Nov?" Tanyaku ke Novi saat jalan menuju gerbang.

"Kamu gk tau? Mereka mau tawuran woi!"

"Wah sialan kok aku gk diajak..."

"Yeee... salah sendiri murung terus kerjaanya! Buruan sana samperin mereka!" Ucap Novi kepadaku. Dasar Novi, temen cewek nyuruh ikut tawuran ya cuma si Novi ini.

"Iya ini jg mau kesana..."

"Buruan!"

Tanpa pikir panjang aku nyamperin anak-anak yg lagi kumpul itu. Kak Agung terlihat sedang menjelaskan seauatu.

"Waiki bajingane kelas 2 lagi ketok! (Waini bajingan dari kelas 2 baru keliatan!)" Ucap Kak Agung ketika melihatku.

"Hahaha... Ono opo iki bro?" Tanyaku ke mereka semua.

"Wah koe su-su nek ono gelut-gelut ngene semangat tenan!" Kata Prapto.

"....."

"Gini, sekolah kita mau diserang SMA 212!" Jelas Kak Agung. Agung ini semacam premannya sekolahku.

"Masalahe opo bro?" Tanyaku.

"Biasa, kemarin si ucup gk sengaja nabrak anak sana, udah minta maaf si ucup tapi mereka gk terima..."

"Wah yaudah ladenin aja lah!" Ucapku semangat.

"Yowis ayo berangkat, kita serbu dulu aja sekolah mereka!" Ucap salah satu anak.

"Yo ayo tapi ini dihabisin dulu minumannya!" Seru Kak Jefri.

Gila nih nekat juga maen minum di depan aula. Pasti akal-akalan Kak Jefri yg emang terkenal pemabuk berat di sekolah. Kamipun lantas menghabiskan minuman setan itu biar tambah semangat.

Entah kenapa semangatku mulai muncul lagi. Lumayan bisa buat luapin emosi kalo ketemu anak SMA 212. Toh udah lama juga aku gk terlibat dalam perkelahian. Kayaknya tawuran kali ini bakal seru.

SMA 212 ini emang terkenal suka rusuh. Muridnya berandalan semua, ada aja ulahnya yg gk bermutu. Namanya aja serem, SMA 212. Sableng-sableng deh pasti anak-anaknya, hahaha.

Tapi sayang mereka salah pilih musuh, walau sekolah favorit, tapi SMAku gk ada mundurnya kalo soal ribut-ribut. Dulu waktu kelas satu aja kami malah tawuran sama genk motor yg cukup terkenal, walau kalah juga sih tapi sempat jadi buah bibir saat itu.

Jarak sekolah kami dengan SMA 212 yg lumayan jauh membuat kami mutusin untuk naik motor. Di perjalanan bisa dibilang jadi pusat perhatian. Gimana gk jadi pusat perhatian, lha kami membawa berbagai macam aksesoris macam kayu balok, malah ada juga yg bawa botol miras tadi buat senjata. Wah bakal serem nih kayaknya. Aku cuma bersenjatakan gir motor yg aku genggam erat. Lumayan lah sekali pukul bisa langsung ancur tuh muka.

Sesampainya di sekitar SMA 212 kami melihat seorang murid sekolah itu lari masuk ke lingkungan sekolahnya. Semua motor berhenti. "Woe asu rene rasah mlayu! (Woe anjing sini jangan lari!)" Teriakku semangat sembari turun dari boncengan.

Tiba-tiba kulihat botol kratingdeng bertebangan ke arah kami. Beberapa kawan kami ada yg bocor kepalanya.

"Bajingan beraninya dari jauh!" Umpat Kak Jefri, terlihat darah segar keluar dari keningnya. Njiir berdarah.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam sekolah itu.

"Seraaaaaaang...."
Diubah oleh fthhnf
profile-picture
profile-picture
profile-picture
njek.leh dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Roda Kehidupan
19-11-2021 17:37
Mantap ni gan!!! Ane baca dari awal ampe akhir bisa kebawa ke masa sekolah ane. Gw eser sejati tapi pengen komen krn cerita agan mirip cerita2 ane sekolah dulu wkwk. Lanjutkan dit, salam buat bella ya wkwkemoticon-Wakaka
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Roda Kehidupan
19-11-2021 19:12
Numpang gelar tenda gan
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Roda Kehidupan
19-11-2021 19:54
Kek pernah baca tapi dimana yak 🤔🤔🤔
0 0
0
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
Roda Kehidupan
19-11-2021 20:01
Lanjut om !! seru banget
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Roda Kehidupan
19-11-2021 21:02
Lanjooot gan😂😂
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Roda Kehidupan
20-11-2021 01:30

Ketahuan Bini

Malam ini hujan deras mengguyur kota Magelang. Sambil ngerokok dan nyantai gue duduk di depan tv. Terdengar ada suara notifikasi di smartphone gue yg ada di atas meja. Gue ambil deh, pas mau ngebuka, tiba-tiba terdengar suara perempuan berteriak dari ruang tamu. Njiiir... Ngagetin aja, kirain bledek.

Mamah: Woiii Paaah.... Sini!!

Aku: Iya-iya bentar.


Gue samperin deh tuh bini gue yg manggil dari ruang tamu. Padahal lagi asik mantengin berita malam tentang penggandaan uang, siapa tau bisa nggandain bini juga. Hahaha.

Mamah: Pah apaan ini? (Sambil nunjuk layar laptop)

Feeling gue gk enak banget waktu bini duduk di depan laptop.

Aku: Apaan sih mah? Teriak-teriak udah malem juga.

Mamah: Cerito opo iki? Roda kehidupan? (Nada bicaranya kayak jaksa penuntut umum di sidang pengadilan)

Aku: ..... (Bengong dan nyengir)


Njiiiir sialan lupa close tab gue!

Aku: Cerita biasa kok mah...

Mamah: Sopo kui Adit?

Aku: Ya tokoh utama cerita itu to mah! (Nyalain rokok terus duduk di depan bini gue)

Mamah: Papah kan itu?

Aku: Hehehe engga, siapa bilang... (masih nyengir gue)

Mamah: Lha ini, kalo Siska, Bella, Laras?? Sopo kui pah??

Aku: Itu....... (Gue jawab satu-satu pertanyaan itu, gue jelasin satu demi satu siapa mereka ini)

Mamah: Ohh... (Manggut-manggut)

Aku: ....

Mamah: Gk papa dibikin cerita gini?

Aku: Ya gk papa lah, itu kan perjalanan hidup.

Mamah: .....

Aku: .....

Mamah: Jadi papah kayak gitu? Kok mamah baru tau?

Aku: Ngggg....

Mamah: Jelasin dulu siapa *****? Kenapa mamah baru tau juga!

Aku: Jelasinnya dikamar yuk mah!

Mamah: Enak aja, enggak! Malam ini tidur depan tv sana! (Marah deh bini gue, doi ninggalin gue gitu aja diruang tamu)

Aku: Maaaah...

Mamah: ......



Itulah sedikit percakapan konyol sepasang suami istri dimalam hari.

Oh iya,

Sebelumnya gue mau ngucapin terima kasih buat kalian semua yg udah buka dan nyempetin baca cerita sederhana ini. Simple aja kok cerita yg gue tulis, gk akan ada perang nuklir ataupun pembunuhan berencana sekalipun. Ini tentang kehidupan, kehidupan yg seperti roda. Semoga apa yg gue tulis ini dapat dijadikan pelajaran ataupun pengalaman buat kita semua.

Dalam dunia tulis menulis ini gue sangat newbie. Jadi gue minta maaf jika tulisan gue acak-acakan, sambil belajar lah ya. Mohon saran, masukan, ataupun kritik agar kita semua bisa belajar bersama juga. Dan bikin semangat tentunya, hehe.

Okedeh gue mau baca cerita-cerita keren disini dulu. Happy weekend dan selalu jaga kesehatan semuanya... emoticon-Angkat Beer
Diubah oleh fthhnf
profile-picture
profile-picture
profile-picture
njek.leh dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Roda Kehidupan
20-11-2021 12:14

7. Kak Siska Kenapa ?

"Bajingan beraninya dari jauh!" Umpat Kak Jefri, terlihat darah segar keluar dari keningnya. Njiir berdarah.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam sekolah itu. "Seraaaang....."


"Bugh-bagh"

"Pyaaarr.."

"Brughhhh..."

Suara pukulan ataupun pecahan terdengar jelas ditelinga. Tanpa pikir panjang aku mencari sasaran untuk meluapkan emosiku. Baru saja kuhantam kepala anak SMA 212 sampe darahnya tumpah-tumpah. "Makan tu!!" Umpatku.

Kulihat Prapto dengan ganasnya memontang-mantingkan kayu balok dan menyambar siapa aja yg di dekatnya. Dibelakangku ada Kak Jefri sedang dihajar oleh beberapa anak. Lalu kubalikkan badan dan berlari menghantam anak-anak SMA 212 yg menghajarnya. Darah kembali bercucuran. Tanganku pun terkena banyak darah. Wah lumayan juga nih gir motor.

Tiba-tiba bagian belakang kepalaku kayak terkena benda tumpul. "Buuugghhh.. " Akupun roboh seketika. Kulihat Kak Agung lari kearahku untuk menolong, samar-samar kulihat ia mengambil sesuatu dari tasnya.

"Drrrrrrtt...Drrrrtt..." Njiiiir ternyata bawa strum. Kulihat beberapa anak SMA 212 terjatuh terkena sengatan listrik yg dibawa Kak Agung.

Lalu aku dibantu untuk berdiri. Nampak beberapa anak SMA 212 mulai keteteran dan lari masuk ke dalam sekolahnya.

Tiba-tiba sudah ada beberapa satpam dan warga sekitar berlarian mencoba menghentikan tawuran ini.

Merasa menang, kamipun berlari juga meninggalkan lokasi tawuran menghindari amukan warga.

"Hahahaha... Salah pilih musuh kalian su! Hahahaha..." Ucap salah seorang anak sambil mengacungkan jari tengahnya ke arah SMA 212.

Setelah itu kami kembali ke aula sekolah. Ternyata banyak juga dari kami yg luka-luka. Tapi kemenangan telak berhasil ditorehkan. Setelah ngobrol aksi kami tadi, lantas kamipun pulang kerumah masing-masing. Duh tinggal sakitnya aja ini.

----

Malam harinya entah kenapa kepala dan badanku terasa sangat sakit. Lumayan memar juga kayaknya. Tapi untunglah tak ada darah yg keluar.

"Diit... Dicari Gatot!" Ucap Ibuku dari teras.

"Nggeh Bu..." Balasku lalu berjalan nemuin Gatot.

"Pie su jare mau tawur? Menang po kalah? (Gimana njing katanya tadi tawuran? Menang atau kalah?)" Tanya Gatot spontan ketika melihatku.

"Asu koe teko-teko mung takon tawuran! Alon, ngko Ibuku krungu! (Anjing dateng-dateng langsung tanya tawuran! Pelan aja ngomongnya! Nanti Ibu dengar)"

"Hahahaha..."

Daripada kelepasan, kuajak ke kamar aja deh si jancuk ini.

"Ceritain masalahnya apa su?" Tanya Gatot yg udah tiduran aja dikasur.

"Biasa to perguruan silat 212 emang rusuh-rusuh..." Sindirku.

"Tapi menang to?"

"Ya menanglah!" Ucapku pongah.

"Berarti besok lawan sekolahku kalo gitu!" Ucap Gatot selengekan.

"Wah sepele kalo lawan sekolahmu! Hahaha" Ejekku.

"Hahahaha..." Njir malah ketawa dia.

Tapi emang bener, sekolah Gatot ini sekolah tercupu yg pernah ada di dunia, anak-anaknya muka buku semua, bawaanya pengen belajar aja. Boro-boro tawuran, maen kasti aja mungkin gk bisa mereka, hahaha. Cuma herannya bisa-bisanya Si Jancuk Gatot nyasar masuk SMA itu.

"Eh Dit... ditanyain Mbakku tuh!" Ucap Gatot sambil nyalain rokok yg diselipin di telinga biar kaya preman katanya.

"Wah mbakmu naksir aku su itu!" Hahahaha.

"Ndasmu!" Ucap Gatot seraya ngelempar korek yg baru aja ia pakai buat menyalakan rokoknya.

"Hahahaha..." Akupun tertawa lalu ngambil bungkusan rokok yg aku simpan di tas dan menyulutnya.

"Fiuuuuhh..."

"Tapi Mbak Laras kok tumben nanyain kamu gitu, kenapa su?" Tanya Gatot mulai curiga.

"Dibilangin naksir ngeyel!"

"Mbuh lah su, tak pateni koe nganti aneh-aneh ro Mbakku! (Tau deh, tapi aku bunuh kamu kalo aneh-aneh sama kakakku!)" Ancam Gatot.

"Hahahaha ora su ora..." Ucapku.

Kemudian kami melanjutkan obrolan kami yg gk jelas sambil ngopi dan ngerokok di kamar. Kalo ada Gatot dirumah, aku gk takut ketahuan ngerokok sama Ibu. Bilang aja Gatot yg ngerokok.

"Pulang dulu ah su, ngantuk aku!"

"Oke su, salamin buat Mbak Laras sayang ya, hahaha!" Godaku ke Gatot.

"Sayang-sayang ndasmu!" Ucap Gatot keluar dari kamarku.

Duh Mbak Laras ini bikin kangen aja, tumben nanyain segala.

----

Akhirnya setelah sekian lama menunggu, bel panjang yg menandakan berakhirnya sekolah telah terdengar nyaring.

Setelah berpamitan ke Novi dan Prapto, aku berjalan menuju warung depan sekolah ngambil motor yg menjadi tempat andalan para siswa.

Tadinya mereka ngajak nongkrong sih, tapi entah kenapa hari ini aku ingin cepat sampai rumah. Mungkin karena belum seratus persen fit karena tawuran kemarin, jadi malas aja kalo tongkrong, mendingan buat tidur deh.

Saat aku berjalan menuju warung, kulihat Kak Siska sedang duduk di kursi yg berada di depan kelasnya.

Wajahnya terlihat murung entah apa penyebabnya. Tak lama aku memandang Kak Siska dari kejauhan, lalu aku berjalan mendekat ke arahnya.

"Belum pulang?" Sapaku tersenyum.

"Eh Adit, iya belum..."

"Lagi ngapain?" Kataku seraya duduk di samping Kak Siska.

"Gk lagi ngapa-ngapain... Duduk-duduk aja."

Wah ada masalah nih kayaknya. Mukanya terlihat lesu banget. Tapi masa sih orang kaya bisa ada masalah. Pikirku konyol.

"Cerita dong sama aku Kak kalo ada masalah..." Ucapku paham.

"Iya Dit, makasih..." Jawab Kak Siska halus dengan senyum yg kayaknya dipaksa.

"Yaudah yuk pulang..." Ajakku.

"Duluan deh... Males aku dirumah..."

"Waduh... Kenapa emang?"

"Ya pokoknya males!" Ucapnya dengan nada agak tinggi. Kayaknya emosi dia.

"Mau aku temenin?" Tawarku lembut.

"...." Kak Siska hanya diam.

"Yaudah yuk cabut kita!" Ajakku menarik tangannya.

Kugandeng tangan Kak Siska jalan menuju gerbang sekolah. Gk tau juga sebenarnya mau ngajakin kemana. Tapi udah terlanjur ini, kasihan Kak Siskanya juga sih.

Pengen kuajak ke warung es kelapa muda emak, tapi takut aja kalo misal Bella juga disana, bisa gagal PDKTku sama Bella nanti. Terlalu berisiko.

"Kemana nih?" Ucapku ketika sampe diwarung depan sekolah.

"Terserah..."

"Kaliurang yuk..." Ajakku bercanda.

"Hmmm..." Keluh Kak siska dengan ekspresi muka marah.

"Hehehe... yauda kerumahku aja yuk..."

"Gk deh Dit..."

"Lha terus?"

"Anterin aku pulang aja deh..." Kata Kak Siska plin-plan.

"Nggg...."

"Katanya tadi malas dirumah?"

"Gk tau, pengen pulang aja tiba-tiba..."

"Yaudah yuk..." Kataku lalu memakai helm dan siap mengantar bidadari yg lagi murung ini.

Bener juga sih daripada gk jelas mau kemana, mending nganter Kak Siska pulang aja. Toh aku juga pengen tidur istirahat. Apa aku tidur dirumah Kak Siska aja ya, hehehe.

Kak Siska ini kalo sekolah emang gk pernah bawa mobilnya, takut dikira pamer. Dia lebih memilih naik angkutan umum daripada bawa mobilnya. Meski tajir dia gk pernah milih-milih temen atau ngrendahin orang lain sekalipun.

Selama perjalanan kami hanya diem-dieman. Aneh juga sih, Kak Siska yg biasanya agresif sekarang cuma diem aja.

"Yaudah Kak aku pulang dulu ya..." Kataku saat sampai di depan gerbang rumahnya.

"Temenin aku dulu ya Dit..." Pinta Kak Siska melas.

Kasihan juga lihatnya, entah karena apa aku juga gk tau Kak Siska bisa nge-down gitu. Padahal minggu depan udah ujian dia. Sini tak puk-puk kak...

"Yaudah iya..."

Lalu kamipun berjalan masuk rumah Kak Siska. Ia membuka gerbang rumahya yg gede banget. Rumah Kak Siska ini letaknya cukup jauh kalo dari rumahku. Rumahnya ada di pojok timur, sedangkan rumahku di pojok barat kota ini. Gede banget lho rumah Kak Siska ini, 5x lipat rumahku luasnya, bahkan bisa lebih mungkin.

Setelah memarkir motor di depan garasi, aku masuk kedalam rumah yg megah ini.

"Minum apa Dit?"

"Emm... Terserah deh..."

"Yauda bentar aku ambilin..."

Beberapa saat kemudian Kak Siska kembali dari belakang. Njiir bawa soda gembira dia, curiga aku jangan-jangan buka warung juga tuh Kak Siska di belakang, kayaknya apa aja ada.

"Wuih seger nih..."

"Heem..." Ucap Kak Siska singkat meletakkan gelas di meja kemudian duduk nyender di badanku.

Waduh udah nyender aja dia.

"Pada kemana kok sepi banget?"

"Pada mati!"

"Huuuss!"

"Malas aku Dit sama mereka!"

"Kenapa?"

"Mereka egois..." Ucap Kak Siska masih nyender lalu melingkarkan tangannya di badanku.

"Cerita sama aku..."

"Mereka mau cerai, hiks..." Ucap Kak Siska, kali ini air matanya tumpah.

Aku bingung mesti ngapain, sedangkan Kak Siska masih nangis. Aku bener-bener gk tau mau nanggepin gimana dan gk tau mau nasehatin gimana. Lumayan lama juga Kak Siska nangis. Reflek kuusap rambutnya yg halus, "yaudah Kak yg sabar ya..."

"Makasih ya Dit..." Ucapnya halus melepas pelukannya lalu mengusap air matanya.

Romantis banget, apalagi diluar tiba-tiba aja gerimis. Wah enak nih buat kelon, pikirku mesum. Dan Jono pun tersenyum. Gila ya aku, situasi kayak gini masih aja kepikiran mesum.

Lalu kuusap lagi rambutnya dengan lembut, mata kami bertemu. Wajah kami saling berdekatan, ntah siapa yg mulai duluan tiba-tiba aja bibirku udah nempel di bibir Kak Siska. Sekitar semenit kami berciuman, lidah kami saling beradu.

"Muucch..."

"Maaf kak..."

"....." Hanya senyuman manis yg ia berikan padaku seraya merapikan rambutnya.

Setelah itu Kak Siska mengajakku makan. Lalu ia berteriak kayak manggil seseorang.

"Mbaaaak... Buatin mie rebus ya..." Teriak Kak siska memerintah.

Jadi daritadi ada pembantunya? Wah gawat kalo sampe dia ngelihat adegan ciuman tadi bahaya.

"Kak kalo tadi dilihat si mbak gimana?"

"Gk bakal kok, gk mungkin si mbak berani ke ruang tamu selagi ada tamu gini..."

"Tapi..."

"Udah, percaya sama aku!" Ucap Kak Siska yg membuatku tenang.

Beberapa saat kemudian kamipun menyantap mie rebus yg telah tersaji lezat ini. Usai makan kami ngobrol dan ngerokok bentar lalu aku pamit. Kak Siska kayak gk rela aku pulang, tapi mau gimana lagi waktu jg udah sore. Kasihan Ibu nanti khawatir.

Setelah kuberi pengertian akhirnya aku diperbolehkan untuk pulang. Kak Siskapun mengantarku sampai gerbang.

"Semagat ya Kak pokoknya..."

"Iya..."

"Sukses juga ujiannya kak..." Ucapku tersenyum.

"Iya... Makasih ya Dit, doain terus ya... hehe..." Kata Kak Siska dengan senyuman khasnya, manis baget.

------

"Jreeeeeng... Jreeennng..." Suara petikan gitar terdengar di sela-sela lamunanku.

"Heh... Bengong aja sih! Mikirin apaan?" Seru Novi.

Siang itu seperti biasa, aku dan kedua sahabatku ini berkumpul santai usai pulang sekolah.

Sekarang bisa lebih nyaman karena Prapto memutuskan untuk menyewa sebuah kamar kost di sebelah sekolah. Kami sering menghabiskan waktu dikamar yg lumayan luas ini. Novi yg mungkin kelebihan fasilitas dirumahnya atau memang mau sodaqoh, ia meminjamkan sebuah televisi miliknya di kamar kos Prapto.

"Heh! Diem aja ditanya, ngelamunin apaan?" Imbuh Novi.

"Gk kok... Cuma ngebayangin asik aja kalo pacaran di kost kayak gini," kataku cengar-cengir.

"Hih... kumat kan mesumnya!" Oceh Novi seraya melempar bantal yg ada disampingnya ke arahku.

"Hap!" Kutangkap dengan sigap bantal yg Novi lempar itu.

"Thanks ya, ngerti aja kalo aku pengen tiduran, haha."

"Hmmmm... Eh gimana perkembangan PDKT mu sama anak SMA 001 itu? Siapa namanya Dit? Bella ya kalo gk salah?" Tanya Novi tiba-tiba.

"Lho kamu tahu Nov? Kata siapa?"

"Ada deh... Besok kenalin lah ke kita-kita!"

"Hehe... Iya deh, gampang itu!"

Udara cukup panas diluar. Entah kenapa sang surya sangat bernafsu memancarkan sinarnya siang ini. Sambil nonton tv, kami menunggu Prapto yg saat itu sedang pergi membeli makanan. Kayaknya untuk ucapan terima kasih Prapto ke Novi, karena gk mungkin seorang Prapto tiba-tiba mentraktir makan. Si jancuk yg satu ini mana pernah modal.

Di sudut lain kamar ini, masih nampak Novi tengah asik dengan gitarnya.

"Ngomong-ngomong tu gitar berapa harganya? Kayaknya keren!" Kataku melanjutkan obrolan kami.

"Murah kok, sekitar dua jutaan," jawab Novi santai.

"What? Dua juta? Duit segitu cuma buat beli gitar?" Seruku histeris.

"Ya emang segitu kali Dit... Punyaku ini masih murah dibanding sama punya si Topan, apalagi kalo sama punya Kak Siska, Kak Fara, sekitar lima jutaan tuh harganya." Terang Novi.

"Gila kalian ini! Beli yg seratus ribuan juga banyak kali!"

"Ya beda lah..."

"Beda gimana? Sama-sama gitar..."

"Ah susah ngejelasinnya!"

"Terserah kalian deh... Asal besok kalo udah jadi artis jangan sampe lupa aja!" Gerutuku.

"Gk bakal lah!" Kicau Novi santai masih sibuk mengutak-atik gitar barunya.

Memang gila tuh anak-anak ekstra musik. Untung aku gk ikutan, bisa tekor orang tuaku.

"Ini si Prapto lama banget! Beli makannya di Inggris?" Gerutuku sendirian.

Akhirnya sekitar lima menit kemudian yg ditunggu-tunggu dari tadi tiba membawa tiga bungkus nasi ayam lengkap dengan es tehnya.

"Wuuuiihh... Prasmanan ki!"

Karena rasa lapar yg begitu hebatnya, kami memakan makanan tersebut dengan lahap.

"Ssssst... Fiiiiuuuhhhh..." Kepulan asap keluar dari mulutku.

"Nikmatnya... Thanks ya Prap makan dan rokoknya, haha," kicau ku.

"Hmmmmm..." jawab prapto singkat.

"Pulang yuk, udah sore nih!" Ajak Novi.

"Yuk Nov.. Udah kenyang juga sih!" Jawabku santai.

"Hahaha... Makasih lho Prap, anterin aku dulu yuk nunggu angkot di depan," ucap Novi seraya memakai sepatu merk converse miliknya.

"Aku anter sekalian deh Nov..."

"Kasihan kamunya Dit jadi muter-muter!" Tolak Novi.

"Halah kayak siapa aja, Wis ayo cepet keburu sore!" Ajakku cepat.

Lalu aku mengantar Novi pulang. Novi teriak-teriak gk jelas waktu diboncengan belakang. Takut tuh anak diboncengin sama Valentino Rossi ini.

Kami berhenti sejenak di lampu merah perempatan kota yg terkenal lama itu, disamping kiri aku lihat ada cewek menggunakan motor f1zR, njiir keren! Kayaknya cakep tuh cewek, sayang pake masker yg membuat wajahnya gk kelihatan. Eh tapi kok kayak kenal aku.

"Lhoh Adit?"
Diubah oleh fthhnf
profile-picture
profile-picture
profile-picture
njek.leh dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Roda Kehidupan
20-11-2021 14:14
Mesum bangt si adit heran hhhahahha. Mantap kak updatenya. Ngalir banget alurya

Bdw ngakak part ketahuan bini hhahahha emoticon-Big Grin
profile-picture
herekherek87985 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Roda Kehidupan
20-11-2021 17:54
Gsssssssssss....
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 9
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
sad-story-ombak-tak-bersuara
Stories from the Heart
sebelum-reda
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Heart to Heart
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia