Entertainment
Batal
KATEGORI
link has been copied
141
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/617667dc2ed6c818425728af/mengapa-minat-baca-buku-di-indonesia-rendah
Pada tahun 2017, The World's Most Literate Nations (WMLN) merilis peringkat negara-negara dengan tingkat literasi tertinggi di dunia yang mana negara Finlandia menyabet peringkat pertama dengan hasil yang mengagumkan. Sebaliknya, Bostwana menduduki peringkat terakhir dari 61 negara yang masuk dalam survey dan berkat Bostwana lah Indonesia tidak sampai jatuh ke posisi terakhir.
Lapor Hansip
25-10-2021 15:16

Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?

Pada tahun 2017, The World's Most Literate Nations (WMLN) merilis peringkat negara-negara dengan tingkat literasi tertinggi di dunia yang mana negara Finlandia menyabet peringkat pertama dengan hasil yang mengagumkan. Sebaliknya, Bostwana menduduki peringkat terakhir dari 61 negara yang masuk dalam survey dan berkat Bostwana lah Indonesia tidak sampai jatuh ke posisi terakhir.

Tingkat literasi di suatu negara ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya Perpustakaan, surat kabar, pendidikan dan ketersediaan komputer. Fakta bahwa negara Indonesia menduduki peringkat kedua terbawah adalah bukti bahwa jumlah perpustakaan dan tingkat pendidikan Indonesia masih amat rendah.

TAPI, jangan cepat-cepat menyalahkan penduduk negara atas hasil survey tersebut. Meskipun minat baca di negara ini memang patut di pertanyakan namun mari kita melihat fakta-fakta lain yang sepertinya mendukung kurangnya minat baca di Indonesia ini.

Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?

Yang pertama adalah jumlah buku bacaan di Indonesia. Menurut pantauan Gramedia, jumlah buku yang terbit di Indonesia masih tergolong rendah, hanya sekitar 18 ribu judul buku pertahun. Jumlah ini amat kalah jauh dari Jepang yang dalam hal jumlah penduduk maupun luas wilayah jauh lebih kecil dari Indonesia. Kenyataan yang lebih parah adalah bahwa jumlah total eksemplar buku yang beredar di perpustakaan Indonesia kurang dari 25 juta eksemplar, bahkan tak sampai 10 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. (Data Perpusnas)

Selain itu persebaran buku itu sendiri tidaklah merata. Bisa dibilang 90 persen dari total perpustakaan di Indonesia ada di pulau Jawa dan persebaran di pulau Jawa pun terpusat di jakarta. Dengan perbandingan seperti itu maka jangan heran kalau orang Indonesia kekurangan bacaan gratis. Jika tidak ingin menunggu lama dari perpustakaan maka orang-orang harus beli buku sendiri dan disinilah masalah kedua.

Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?

Harga buku di Indonesia itu MAHAL. Oh ya, harga buku memang tidak sebanding dengan harga kopi di Starbuck atau harga makanan di restoran bintang 2 namun menurut standar internasional harga buku di Indonesia itu tergolong mahal dan alasannya adalah PAJAK.

Tere Liye, seorang penulis Best Seller, pernah mengeluh tentang tingginya pajak menulis di Indonesia. Dia menyebutkan bahwa diantara seluruh pekerjaan di Indonesia, pajak penghasilan yang dibebankan pada penulis adalah yang tertinggi, lebih tinggi dibandingkan artis maupun PNS. Tere menyebutkan bahwa pajak penulis 24 kali lebih besar dibanding pelaku UMKM dan yang lebih parah penulis sama sekali tak bisa menutupi penghasilannya (karna diatur oleh penerbit) sedangkan profesi lain bisa dengan mudah berbohong tentang income mereka.

Tere Liye menambahkan bahwa meskipun dia sudah menyurati pemerintah namun tetap tak ada tanggapan dari atas dan saat postingannya virallah baru ada tanggapan dari Sri Mulyani. Pajak yang begitu mencekik inilah yang membuat para penulis merasa malas untuk menciptakan karya-karya baru. Namun keadaan ini sudah mulai membaik sejak Agustus 2020 yang mana pemerintah mengumumkan akan menanggung pajak kertas untuk media cetak (meski begitu tetap saja pajak penulis tidak menurun).

Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?

Dan masalah terakhir yang membuat survey minat baca Indonesia rendah adalah banyaknya orang yang lebih memilih membaca secara online. Mungkin saja sebenarnya masih banyak orang di negara ini yang gemar membaca namun karna mahalnya harga buku mereka lebih memilih untuk 'membajak.' Pembajakan buku, meski bukunya dibaca dalam bentuk online, sama sekali tidak memberikan kontribusi pada perhitungan minat membaca. Selain pembajakan buku, membaca artikel online semacam ini juga tidak berkontribusi apapun pada tingkat literasi Indonesia.

Dan dengan pengaruh ketiga faktor diatas maka tidak aneh bila Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara dalam masalah tingkat literasi. Meski demikian hal yang paling mengerikan disini adalah bagaimana cara untuk meningkatkannya.

Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?

Memperbanyak produksi buku sama sekali tidak berguna jika tak ada orang yang ingin membacanya dan memproduksi lebih banyak kertas sama dengan menebang lebih banyak pohon. Dua masalah inilah yang perlu dipecahkan terlebih dahulu yakni meningkatkan minat baca (tentunya membaca buku cetak) dan mencari alternatif untuk tidak lagi menebang pohon demi memproduksi kertas (kebayang nggak kalau di masa depan kertas dibuat menggunakan plastik?)

Peradaban semakin maju dan teknologi internet terus melesat. Apakah industri buku cetak sanggup bertahan dalam revolusi industri ini? itu andalah yang memutuskan jawabannya. Sekian dari saya mari bertemu di thread saya yang lainnya.

sumursumur
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rarajasa dan 27 lainnya memberi reputasi
28
Masuk untuk memberikan balasan
Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?
25-10-2021 17:46
1. Doktrin agama yg menekankan denger kata ustadz, bukan mempelajari sendiri. Akibatnya terbawa ke kehidupan sehari2.

2. Alur cerita novel Indonesia banyak yg kurang menarik, kalau dibandingkan dgn novel Inggris atau light novel Jepang.

3. Bahasa gak se-developed bhs inggris & jepang. Kurangnya kata ganti gender. Tidak adanya past-tense. Minimnya vocabulary, dll.
Sehingga terjemahan dari buku asing pun bisa terasa aneh ketika dibaca.

4. Ajaran2 agama yg menghambat kreativitas.

dll.
Diubah oleh rev23.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
syre4disa dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 7 balasan
Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?
25-10-2021 16:53
baca online aksesnya lebih gampang
profile-picture
profile-picture
profile-picture
weidenfeller dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?
25-10-2021 15:19
Pajak penulis menurut tere liye:
Quote:Penghasilan Rp50 juta pertama dikenakan tarif pajak sebesar 5%, Rp50 juta – Rp250 juta selanjutnya dikenakan tarif 15%, Rp250 juta – Rp500 juta selanjutnya dikenakan tarif 25%, lalu Rp500 juta – Rp1 miliar dikenakan tarif 30%. Maka pajak dari penghasilan sebesar Rp1 miliar dikenakan pajak sebesar Rp245 juta.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
oji24 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 7 balasan
Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?
25-10-2021 15:18
Untuk tambahan, penulis tidak bisa menyembunyikan penghasilannya karna pajak langsung dipotong penerbit dan masuk ke sistem pajak. Profesi profesi lain bisa menyembunyikan pendapatan mereka dengan berbohong, apalagi jika pekerjaannya bukan pegawai. Karna ini jugalah penulis tak bisa dijadikan pekerjaan tetap yang menjanjikan. Padahal diluar negeri orang orang bisa sejahtera dengan menulis.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?
26-10-2021 18:34
Quote:Original Posted By ih.sul
Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?

Pada tahun 2017, The World's Most Literate Nations (WMLN) merilis peringkat negara-negara dengan tingkat literasi tertinggi di dunia yang mana negara Finlandia menyabet peringkat pertama dengan hasil yang mengagumkan. Sebaliknya, Bostwana menduduki peringkat terakhir dari 61 negara yang masuk dalam survey dan berkat Bostwana lah Indonesia tidak sampai jatuh ke posisi terakhir.

Tingkat literasi di suatu negara ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya Perpustakaan, surat kabar, pendidikan dan ketersediaan komputer. Fakta bahwa negara Indonesia menduduki peringkat kedua terbawah adalah bukti bahwa jumlah perpustakaan dan tingkat pendidikan Indonesia masih amat rendah.

TAPI, jangan cepat-cepat menyalahkan penduduk negara atas hasil survey tersebut. Meskipun minat baca di negara ini memang patut di pertanyakan namun mari kita melihat fakta-fakta lain yang sepertinya mendukung kurangnya minat baca di Indonesia ini.

Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?

Yang pertama adalah jumlah buku bacaan di Indonesia. Menurut pantauan Gramedia, jumlah buku yang terbit di Indonesia masih tergolong rendah, hanya sekitar 18 ribu judul buku pertahun. Jumlah ini amat kalah jauh dari Jepang yang dalam hal jumlah penduduk maupun luas wilayah jauh lebih kecil dari Indonesia. Kenyataan yang lebih parah adalah bahwa jumlah total eksemplar buku yang beredar di perpustakaan Indonesia kurang dari 25 juta eksemplar, bahkan tak sampai 10 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. (Data Perpusnas)

Selain itu persebaran buku itu sendiri tidaklah merata. Bisa dibilang 90 persen dari total perpustakaan di Indonesia ada di pulau Jawa dan persebaran di pulau Jawa pun terpusat di jakarta. Dengan perbandingan seperti itu maka jangan heran kalau orang Indonesia kekurangan bacaan gratis. Jika tidak ingin menunggu lama dari perpustakaan maka orang-orang harus beli buku sendiri dan disinilah masalah kedua.

Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?

Harga buku di Indonesia itu MAHAL. Oh ya, harga buku memang tidak sebanding dengan harga kopi di Starbuck atau harga makanan di restoran bintang 2 namun menurut standar internasional harga buku di Indonesia itu tergolong mahal dan alasannya adalah PAJAK.

Tere Liye, seorang penulis Best Seller, pernah mengeluh tentang tingginya pajak menulis di Indonesia. Dia menyebutkan bahwa diantara seluruh pekerjaan di Indonesia, pajak penghasilan yang dibebankan pada penulis adalah yang tertinggi, lebih tinggi dibandingkan artis maupun PNS. Tere menyebutkan bahwa pajak penulis 24 kali lebih besar dibanding pelaku UMKM dan yang lebih parah penulis sama sekali tak bisa menutupi penghasilannya (karna diatur oleh penerbit) sedangkan profesi lain bisa dengan mudah berbohong tentang income mereka.

Tere Liye menambahkan bahwa meskipun dia sudah menyurati pemerintah namun tetap tak ada tanggapan dari atas dan saat postingannya virallah baru ada tanggapan dari Sri Mulyani. Pajak yang begitu mencekik inilah yang membuat para penulis merasa malas untuk menciptakan karya-karya baru. Namun keadaan ini sudah mulai membaik sejak Agustus 2020 yang mana pemerintah mengumumkan akan menanggung pajak kertas untuk media cetak (meski begitu tetap saja pajak penulis tidak menurun).

Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?

Dan masalah terakhir yang membuat survey minat baca Indonesia rendah adalah banyaknya orang yang lebih memilih membaca secara online. Mungkin saja sebenarnya masih banyak orang di negara ini yang gemar membaca namun karna mahalnya harga buku mereka lebih memilih untuk 'membajak.' Pembajakan buku, meski bukunya dibaca dalam bentuk online, sama sekali tidak memberikan kontribusi pada perhitungan minat membaca. Selain pembajakan buku, membaca artikel online semacam ini juga tidak berkontribusi apapun pada tingkat literasi Indonesia.

Dan dengan pengaruh ketiga faktor diatas maka tidak aneh bila Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara dalam masalah tingkat literasi. Meski demikian hal yang paling mengerikan disini adalah bagaimana cara untuk meningkatkannya.

Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?

Memperbanyak produksi buku sama sekali tidak berguna jika tak ada orang yang ingin membacanya dan memproduksi lebih banyak kertas sama dengan menebang lebih banyak pohon. Dua masalah inilah yang perlu dipecahkan terlebih dahulu yakni meningkatkan minat baca (tentunya membaca buku cetak) dan mencari alternatif untuk tidak lagi menebang pohon demi memproduksi kertas (kebayang nggak kalau di masa depan kertas dibuat menggunakan plastik?)

Peradaban semakin maju dan teknologi internet terus melesat. Apakah industri buku cetak sanggup bertahan dalam revolusi industri ini? itu andalah yang memutuskan jawabannya. Sekian dari saya mari bertemu di thread saya yang lainnya.

sumursumur


Gw counter terkait buku cuma terbit 18 ribu judul

Ya gimana mau banyak, kalau masyarakatnya aja mental gratisan, enggak bisa menghargai karya orang

Ya orang juga males nulis, yg ada bukunya dibajak, diplagiat, atau pada ngemis2 minta digratisin kalau di platform digital macam Wattpad

Penghasilan kita jg terlalu rendah untuk belanja buku yg kita gk tahu isinya bakal menarik atau gk, drpd beli buku 200 ribu, mending beli e-book bajakannya 5 ribu perak, gitu mindsetnya kan

Masalah ketersediaan buku di luar pulau jawa memang betul, tp selarang hampir semua orang punya ponsel, dan Perpusnas punya aplikasi buat baca banyak sekali buku disana secara gratis, kalau memang niat baca juga enggak harus buku juga gk harus buku fisik, tiap hari buka Kaskus aja sudah membaca kan

Kalau masalah pajak, kenapa mesti mengistimewakan penulis saja, tarif yg diperlakukan ke mereka itu sama seperti tarif pekerja lepas apapun koq, itu mah dasar Tere Liyenya aja, emang udah survey gitu pajak pekerja lepas macam penulis di negara yg literasi dan publikasinya sangat tinggi itu rendah2 atau jauh lebih rendah dr Indonesia?

Intinya sih gini
Bangsa pemalas
Bangsa berpendapatan rendah, bukan bukunya yang mahal
Bangsa yg memang kulturnya bukan kultur membaca sejak ribuan tahun, mana manuskrip2 era sansekerta cm sedikit kan makanya sejarah Indonesia jg gk sedetail kalau kita lihat sejarah China dan Jepang yg umurnya ribuan tahun tapi dokumentasinya detail, macam Silsilah Kaisar China dan Jepang dr paling pertama sampai terakhir aja terdokumentasi dengan baik

Masuk masa Sejarah dr Pra Sejarah, yg artinya timbul tulisan aja telat bgt dibanding peradaban dunia, makanya kalah peradaban

Miskin tulisan ya mengakibatkan juga miskin jumlah orang bisa baca tulis

Jadilah kultur kita itu malas membaca
profile-picture
profile-picture
profile-picture
money30 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?
26-10-2021 17:41
Minat baca rendah, karena di sekolahpun gada ajakan dan program khusus..
Kalau kita lihat di luar negeri. Di negara mana lupa, di kelas TK-SD ada jam khusus utk siswa membaca buku, setiap hari 1 buku. Kalau lihat di amrik sana, ada siswa2 membaca dan merangkum, membuat essay literasi klasik hingga modern. Itu ane lihat dr SD di film snoopy sampe film2 remaja pasti ada aja tugas baca buku dan merangkum. Makanya rata2 pada paham cerita klasik Shakespeare sampe buku literasi modern.
Lha dsini? Seingat ane dulu SD gda ajakan ke perpus...ane ke perpus nyoba pinjem buku kelas 6SD itu merasa menyesal...krn lihat banyak sekali buku, kenapa ga dari dulu kesini?!
SMPpun sama aja, paling banter nerjemahin cerita pendek di buku modul doank.
SMA jg gtu...ane ingetnya dlu malah disuruh cari novel, pelajaran bhs inggris doank. Cari 1 novel asing , baca dan rangkum. Thats it. Klo di keluarga gda yg doyan buku....ya nurun itu literasi rendah.
Di rumah, cuma ane yg koleksi buku, 1 lemari isinya 97% buku2 yg ane beli.
Nah..ini anak ane, ane bacain sejak batita, tiap minggu ane kasih buku baru, masih 4 taonan, masih belom bisa baca....tapi udah punya lemari buku sendiri emoticon-Big Grin
A child who read is a child who think. Ayo yg punya anak...ajak anaknya banyak membaca.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
xandernathaniel dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?
25-10-2021 17:52
kalau pajak buku dihapuskan dan harganya dibikin murah tapi minat baca masih rendah mau beralasan apa lagi?

kalau masih banyak alasan berikutnya, ya berarti emang dasarnya orang pada malas baca tapi cari-cari pembenaran.

selagi menunggu harga turun, buku di perpustakaan ada loh yang gratisan. atau e-book juga udah banyak yang gratisan, atau pake jalan belakang "di-crack" wkwkwk.

tapi balik lagi, nanti alasannya "aduh, nggak mau download e-book bajakan. mau mendukung royalti penulis (tapi buku mahal)"


kalau sudah begini, cuma bisa berpikir positif. mungkin minat baca rendah karena buku malah. kalau udah dimurahin harganya dan masih banyak alasan. udah lah, emang dasar pemalas.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kreeakcraftl299 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?
25-10-2021 17:21
Nmny jg retard nation emoticon-Hammer2

Mkny pd bgitu kan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
syre4disa dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Mengapa Minat Baca Buku di Indonesia Rendah?
25-10-2021 15:25
Lebih asyik ada di YT, IG, Twitter dan FB.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Post ini telah dihapus
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia