Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
41
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61712e7d75f5230cad3de7e3/istri-yang-tak-diinginkan
Rumah tangga bahagia adalah impian setiap istri. Apalagi bisa hidup bahagia membangun keluarga kecil sendiri, hidup mandiri tanpa bergantung pada orang tua maupun mertua. Sayangnya itu  hanya sebuah harapan saja, Saqila harus rela dengan hidupnya yang seolah hanya jadi benalu. Saqila membuang napas lelah. Dari subuh tadi pekerjaannya tak kunjung selesai. Kadang dia merasa bukan menantu di rumah i
Lapor Hansip
21-10-2021 16:10

ISTRI YANG TAK DIINGINKAN


Rumah tangga bahagia adalah impian setiap istri. Apalagi bisa hidup bahagia membangun keluarga kecil sendiri, hidup mandiri tanpa bergantung pada orang tua maupun mertua. Sayangnya itu  hanya sebuah harapan saja, Saqila harus rela dengan hidupnya yang seolah hanya jadi benalu.

Saqila membuang napas lelah. Dari subuh tadi pekerjaannya tak kunjung selesai. Kadang dia merasa bukan menantu di rumah itu, lebih mirip pembantu, dituntut selalu menyelesaikan pekerjaan rumah layaknya asisten rumah tangga. Jika  tak selesai karena harus sambil momong anak, tak jarang ia dapat omelan.

Dia bersandar di sisi tempat tidur, meredakan penat sebentar. Menatap anak kecilnya yang sedang tidur pulas, seorang putri yang menjadi penguat selama ini.

"Hm, sehat terus ya, Sayang," gumam Saqila sambil mengusap kepala putri kecilnya.

Huh!

Dia cepat bangkit, menuju dapur, harus pintar memanfaatkan waktu disela anaknya tidur, jika tak begitu, Saqila akan kesulitan melakukan perkerjaan rumah sambil menggendong si buah hati.

"Eaaa ... maaa  ... maaa!" Benar saja. Suara tangis anaknya memanggil, dengan sedikit kecewa dia kembali menuju kamar.

"Kok, boboknya sebentar, Nak? Kerjaan mama masih banyak." Saqila memangku anaknya dan menyusui.

Anaknya tak tidur lagi, rewel dan itu menyulitkan Saqila menyelesaikan tugasnya.

Hari sudah mau sore,  dia belum sempat masak. Hari ini anaknya-Nisa- begitu rewel. Terbayang sudah kalau dia tak masak, suara rombeng mertuanya akan menggema di seluruh ruangan, sama sekali tak akan memahami keadaannya saat ini.

Segera dia ke dapur sambil menggendong Nisa, bagaimanapun dia harus masak, tak ingin adu mulut dengan ibu dari suaminya itu. Tangannya bergerak ke sana kemari mengolah masakan sambil badannya berguncang, demi mendiamkan Nisa yang rewel.

"Kamu sakit ya, Sayang, koq hari ini rewel?" Dipegangnya dahi Nisa. Badannya cukup hangat, pantas saja dari pagi Nisa menangis saja.

Tertt!

Telepon genggamnya bergetar.

[Qila, kamu lupa anterin uang arisan ibu? Itu Bu Neli nanyain, kirain udah dianterin, di rumah kamu ngapain aja?] Pesan dari Bu Asih, mertuanya.

Mertuanya mengomel. Duh ... kenapa bisa lupa. Saqila merutuki kelalaiannya.

[Iya, Bu. Qila anter sekarang.] Balasnya.

[Kebiasaan.] Mertuanya kesal.

Ditinggalkannya dapur yang berserakan, keluar menuju rumah Bu Neli. Nisa masih dalam gendongan, gadis kecilnya terus merengek-rengek, seperti menahan rasa sakit tapi tak mampu bercerita.

"Kirain nggak setor Qil." sambut bu Neli sambil membukakan pintu untuk Saqila dan mempersilakannya masuk.

"Tadi Qila lupa, Bu. Ini Nisa rewel," sahut Saqila, sambil menimang-nimang Nisa yang masih saja rewel.

"Kenapa, Nisa? Sakit ya?" tanya bu Neli penasaran.

"Agak panas badannya," jawab Saqila.

"Bawa ke dokter, Qil, jangan dibiarin." Nasehat Bu Neli sambil menatap Saqila iba, perempuan itu tau bagaimana sikap Bu Asih pada Saqila.

"Iya, Bu."  Saqila tersenyum, lalu pamit pulang.

Bagaimana dia bisa membawa Nisa ke dokter, uang yang diberikan mertuanya hanya cukup untuk membeli sayur dan lauk, itu pun dia harus pintar-pintar mengatur. Dia tak bisa menabung, karena memang semua sudah di pas. Terpaksa dia harus menunggu suaminya pulang.

Tiid...!

"Qila!" ada suara memanggilnya. Saqila menoleh, dia agak mengerutkan kening mengingat siapa yang memanggilnya. Oh, dia baru ingat.

"Eh? Iwan?"

Padahal Iwan sudah dia kenal sejak lama, tapi saking banyaknya yang dia pikirkan, sampai dia tak mengenali.

"Apa kabar, Qila?" tanya pemuda itu tersenyum pada Saqila, ada rasa yang tak dapat lelaki itu ungkapkan bisa bertemu perempuan yang selama ini dicarinya.

"Baik, Wan," jawab Saqila. Dia tersenyum. Sama gembiranya, ingin sebenarnya Saqila berlama-lama bertanya kabar, sudah sangat lama mereka tak bertemu, tapi tak ada waktu.

Iwan memandangnya lekat, ada rasa rindu pada sahabat yang pernah dia sukai diam-diam dulu itu. Lama dia tak bertemu, sekalinya bertemu terlihat banyak perubahan pada diri Saqila.

Wajah cantik Saqila yang dulu, sudah berubah. Sekarang badanya terlihat kurus, wajahnya kusam tak terurus. Hanya senyum Saqila yang masih terlihat sama. Masih terlihat manis.

Qila. Ah, aku rindu. Hati Iwan berkecamuk.

"Kamu dari mana, mau ke mana, Wan?" Saqila bertanya masih sambil mengguncang gendongan.

"Lagi cari alamat temen, Qila. Pas kamu lewat tadi, aku  seperti kenal, pengen memastikan, makanya aku tunggu di sini, ternyata benar itu kamu," jelas Iwan. Pandangannya tak lepas dari Saqila.

"Oh, keluarga sehat, Wan?"  Tanya Saqila.

"Alhamdulillah," jawab Iwan. "ini anak kamu?" tanyanya kemudian sambil mengusap gendongan bayi Saqila.

"Iya, Wan. Udah ya aku pulang dulu," pamit Saqila buru-buru.

Saqila teringat di rumah belum masak, orang rumah akan segera pulang. Apa kata orang pula kalau orang lain melihatnya sedang mengobrol dengan lelaki lain di luar rumah, dia sudah bersuami.

"Rumah kamu mana, Qila!" Iwan kembali memanggil Saqila yang mulai berjalan menjauh setengah berteriak, ia masih penasaran, seolah tak ingin cepat berpisah dengan teman masa kecilnya.

"Itu di depan, cat merah," jawab Saqila agak resah.

"Aku minta nomor kamu, Qila,"  pinta Iwan, lalu kembali mendekat.

Ragu-ragu Saqila memberikannya, tapi dia pun tak bisa menolak. Ah. Bagaimana kalau suaminya tahu? Saqila bimbang.

"Makasih ya, Qila," Iwan tersenyum.

Saqila angguk.

Iwan pamit, motornya melaju, berlalu pergi meninggalkan Saqila yang memandang punggungnya hingga menghilang dari pandangan.

****

Nisa benar-benar rewel, sulit bagi Saqila memasak dengan keadaan Nisa seperti itu. Sudah segala cara dia lakukan agar anaknya itu tak menangis. Sudah mencoba diberikan asi tapi tetap mengerang, badanya melenting-lenting tak mau diam di gendongan. Saqila merasa kewalahan.

Wahyu--suami Saqila--pulang dari tempat kerja, mendengar suara Nisa yang menangis kejer, dia merasa kesal. Lelah bekerja di toko seharian sementara di rumah disambut dengan tangisan anak kecil, ia naik pitam. Ah, Ingin saja dia memaki istrinya.

Wahyu bergegas menuju kamar, tanpa memedulikan suara tangisan anaknya, tubuhnya begitu lelah. Dia menganggap bahwa Saqila tak mampu menjaga anak, padahal mereka baru memiliki satu anak.

Melihat Wahyu datang, segera Saqila menyusul menuju kamar. Dia ingin meminta tolong suaminya itu, gusar mertuanya marah jika ia tak sempat memasak hari ini.

"Kak ... Qila titip Nisa ya. Qila belum masak," pintanya ragu-ragu.

"Kamu nggak punya mata ya, Qila? Suami baru pulang kerja bukanya di tawarin minum, malah suruh jaga anak. Kamu ngapain aja di rumah, hah? Baru punya anak satu aja sampai nggak sempat masak," marah Wahyu meledak juga akhirnya, biasa ia tak sekesal itu.

Memang Saqila hanya mengurus anak satu, tapi seluruh pekerjaan di rumah mertuanya Saqila yang pegang, ke pasar, memasak, antar jemput Naila--adik Wahyu--sekolah. Tetap saja dia dibilang tak ada kerja, hanya karena tak memiliki penghasilan.

"Udah sana, aku capek," usir  Wahyu pada Saqila.

Lunglai Saqila kembali menuju dapur.

Kenapa di rumah ini tak ada yang peduli, Nisa bukan hanya anaknya saja, Wahyu juga ayahnya, tetapi tak sedikit pun tampak rasa iba di mata lelaki itu.

💥💥💥

Di dapur Nisa menangis berterusan, sangat sulit menenangkan anak kecilnya itu, tak biasa Nisa begini. Mana mungkin juga dia bisa memasak dengan keadaan Nisa begitu. Terpaksa dia kembali ke kamar untuk memberikan asi sambil memudurkannya. Namun Nisa masih menolak dan terus menangis.

Wahyu yang berbaring di tempat tidur tetap saja diam, tak peduli dengan istrinya yang kerepotan menghentikan tangisan Nisa. Dia asyik dengan gawainya, dengan dunianya. Seolah tangisan anaknya itu adalah hal biasa.

"Kak, Qila minta uang, buat bawa Nisa ke dokter.  Sepertinya Nisa demam, dari pagi rewel terus."

Saqila mencoba mengajak bicara suaminya itu. Wahyu yang di ajak bicara tak menyahut, masih asyik dengan benda kotak pipih di tangannya.

"Kak?" Saqila mengguncang kaki suaminya.

"Kenapa sih aku nggak bisa tenang di rumah ini? Ada saja yang ganggu, aku cape, Saqila mau istirahat!" bentak Wahyu, kekesalannya kembali meluap.

"Qila cuma minta uang buat bawa Nisa ke dokter, Nisa sakit, Kak," ucapnya ikut kesal dengan tanggapan suaminya.

"Coba kamu kalau dikasih uang sama ibu tuh diirit, jangan suka-suka kamu habiskan sampai nggak bisa nabung sedikit untuk hal seperti ini, apa kamu bisa nggak menghasilkan uang? jangan  pintar minta aja. Jangan jadi istri yang bisanya menyusahkan," omel wahyu yang merasa tak tahan dengan sikap Saqila.

"Astagfirullah. Nisa ini anak kita, Kak." Hati Saqila perih, matanya panas menahan air di pelupuk matanya yang sudah tak terbendung.

"Aku nggak pegang uang, sana minta sama Ibu." Tanpa memedulikan, Wahyu berbaring membelakangi Saqila.

___

    Sementara di ruang makan, mertuanya sedang mengomel, merasa lelah pulang kerja, tetapi di rumah tak ada makanan yang terhidang seperti biasa. Ia kembali ke ruang tamu menghampiri suaminya sambil mengoceh.

"Si Qila ngapain aja sih di rumah, sampai nggak sempat masak?" Marah Bu Asih, kesal ketika ke dapur tak ada makanan terhidang di meja, dia lapar.

"Punya mantu kok malas sekali, sudah enak-enak  tinggal di rumah ini, tapi tak tau terima kasih," ocehnya lagi.

"Rumah nggak usah mengontrak, uang belanja tiap hari dikasih, kurang apa lagi coba? Enak nggak usah kerja cari uang, ongkang kaki di rumah. Masa cuma masak aja nggak sempat. Kalau gini terus bisa stres ibu, apa fungsinya dia di sini, kalau untuk mengurus rumah segini aja nggak becus." Bu Asih masih mengoceh. Suaranya sengaja di keraskan agar didengar menantunya.

Pak Hilman hanya menggeleng melihat istrinya marah-marah. Dia sudah bosan mendengar, tiap hari ada saja yang istrinya keluhkan, apalagi jika menyangkut menantunya, bisa panjang urusan.

"Bapak juga diam-diam aja, harusnya bapak dulu bisa larang, waktu Wahyu mau melamar si Qila itu, lihat sekarang, ibu yang reot," celetuk Bu Asih mulai mencari jalan pertengkaran dengan suaminya.

"Lho, kok nyalahin bapak?" sahut pak Hilman. Pandangannya tak berpaling dari koran yang  dipegangnya.

"Iya. Memang harus salahkan siapa lagi, sudah tau dari dulu ibu nggak setuju, Bapak yang menyetujui mereka menikah," ungkit Bu Asih.

"Sudahlah, Bu. Bapak juga capek." Pak Hilman memilih bangkit, pergi ke kamarnya, malas melayani ocehan istrinya yang tak akan berhenti.

Saqila menitikkan air mata, mendengar ucapan mertua yang jelas terdengar olehnya, niatnya meminta uang untuk berobat Nisa ia urungkan.

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 7 lainnya memberi reputasi
6
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
21-10-2021 16:12

Hati yang Luka

Nisa sudah tak rewel lagi, anak itu sudah tertidur pulas. Entah kenapa Saqila merasa hidupnya kurang beruntung melihat keadaannya sekarang. Dielusnya tubuh Nisa dengan lembut. Tadi sebelum tidur Saqila memberikannya obat demam yang dia beli dari warung, cuma itu yang bisa dia lakukan untuk Nisa.

Nisa sekarang berumur 20 bulan, tapi tumbuh kembangnya terbilang lambat. Di umurnya yang sekarang Nisa belum bisa jalan maupun berdiri, hanya duduk dan merangkak, itu pun tak lama, karena Nisa sering menangis jadi harus selalu digendong.

Nisa tak anteng seperti anak lain. Mertuanya sering menyalahkannya, katanya Saqila tak bisa mengurus anak, hingga anaknya telat dalam tumbuh kembang. Kebanyakan batita di usia Nisa biasanya sudah bawel dan bisa mengucapkan kata-kata, juga berlari ke sana kemari, memanggil mama dan papa dan tengah aktif-aktifnya. Berbeda degan Nisa yang hanya bisa menangis jika ada yang dia inginkan atau lapar, dan cuma kata 'Ma' saja yang bisa ia ucapkan.

Pun begitu, Saqila sangat menyayanginya, dialah pelipur segala lara yang dirasakan Saqila. Dia tempat Saqila berkeluh kesah, dialah tempat Saqila berbagi kesedihan. Ingin sekali Saqila mencukupi segala kebutuhan anaknya itu, tapi mau bagaimana keadaan tak berpihak padanya. Pernah Saqila meminta uang khusus untuk kebutuhan Nisa tapi selalu ditolak.

Bu, Saqila bisa minta uang lebih nggak?" Pinta Saqila ragu-ragu pada mertuanya.

"Uang lebih? Buat apa?" Sahut mertuanya.

"Qila mau bikin MP asi buat Nisa, mau yang alami dimasak sendiri."

"Kan, itu sudah ada yang instan dari supermarket, sama aja kok, itu ‘kan juga pendamping asi," ketus mertuanya.

Ah. Tiap kali ada yang Saqila inginkan, walaupun itu untuk anaknya, mertuanya selalu saja begitu, mengelak dan menolak. Padahal Nisa adalah cucunya.

Ketika Saqila bicarakan dengan suaminya, jawabannya sama saja.

"Nggak usah ribet, bener kata Ibu, kasih yang ada saja."

"Nisa udah gede, Kak. Dia emang kelihatan kayak masih bayi, dia udah mau dua tahun, masa terus dikasih bubur instan?"
Diubah oleh aisyahzshaki053
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ferdy988 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
21-10-2021 16:13

Kehilangan

Iwan sampai di rumah sakit, secepatnya dia menghampiri Saqila. Terlihat sahabat lamanya itu masih menangis memeluk Nisa.

"Qila...," lirih Iwan.

Saqila menoleh, makin deras air matanya ketika melihat Iwan. Kenapa bukan Wahyu yang berada di sampingnya saat ini, ia kecewa. Kesedihannya sudah bertumpuk, tak tahu harus ke mana ia lemparkan.

"Sabar, Qila." Hanya itu yang bisa Iwan ucapkan.

"Apa Ibu Dewi sudah tahu kalau anakmu dirawat?" tanya Iwan.

Saqila hanya menggeleng. “Ibu nggak punya handphone.”

"Nanti kalau aku pulang dari sini, aku mampir ke rumah Ibumu."

Saqila mengangguk, dia terus saja menangis. Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya.

Iwan menghampiri anak Saqila yang berbaring lemah tak sadarkan diri, ia melihat ada yang aneh dengan Nisa, tak ingin melihat Saqila terkejut Iwan keluar memanggil dokter. Dokter pun datang ke ruangan Nisa, diperiksanya anak Saqila itu. Dokter dan suster saling tatap lalu menggeleng.

"Maaf, Bu. Ibu harus sabar, putri ibu sudah berpulang." Dokter menatap iba pada Saqila.

Kata-kata itu ibarat petir bagi Saqila, tubuhnya tersungkur, dia lemas menangis setengah menjerit, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan dokter.

"Nggak mungkin dokter! Nisa baik-baik saja, nggak mungkin!" Dia tak mau terima kenyataan bahwa Nisa sudah tiada, ia terus meraung.

Iwan jatuh iba melihat Saqila begitu, tetapi tak ada yang bisa dia lakukan, hanya bisa mendoakan dan berusaha menenangkan Saqila.

“Sabar, Qila, Allah lebih sayang sama Nisa, kamu harus kuat. Nisa sudah ada disurga-Nya.”

Saqila tak menyahut, tak ada yang akan mengerti betapa terkoyak perasaannya.

“Aku jemput ibu kamu sekarang.” Tanpa meminta persetujuan Saqila, Iwan keluar untuk menjemput ibunya Saqila, karena Bu Dewi tak memiliki telepon, sangat sulit bagi Saqila menghubungi ibunya.

Saqila bangkit menghampiri Nisa, ditatapnya gadis kecilnya itu. Saqila kini sendiri. Baru beberapa jam tadi mereka masih bersama, sekarang Nisa sudah pergi.

"Nak, kalau kamu nggak ada, siapa nanti yang akan menghibur hati mama? Siapa yang akan mengerti mama?" Lagi-lagi dia menangis, seolah air matanya tak ingin berhenti.

***

Suara telepon Saqila berdering, diangkatnya panggilan dari mertuanya itu.

"Saqila, kamu kenapa, heh? Itu Gurunya Naila telepon ibu, katanya Naila belum di jemput, ini udah jam berapa, kasihan Naila. Ibu tadi sibuk nggak sempat lihat handphone, panggilan tak terjawab dari guru Naila sudah banyak," marah Bu Asih pada Saqila.

Saqila mencoba menguatkan hati, menenangkan suaranya.

"Ibu ... sekarang kan ibu sudah pegang handphone, coba ibu lihat ada pesan apa dari Qila, di situ Qila bilang Nisa sakit harus dirawat, kenapa yang ibu tanya malah soal Naila?" Niat Saqila ingin memaki mertuanya, tapi dia tahan.

"Kalau sakit tinggal bawa saja ke dokter, tapi Naila? Kasihan dia, pasti lama menunggu di sekolah. Kalau kamu nggak bisa jemput ya ngomong dong, bukan lepas tangan begitu," marah Bu Asih.

"Ya sudah, Bu. Ngga apa-apa, Nisa juga baik-baik saja kok, Nisa sudah nggak sakit lagi, dia sudah pulang."

“Pulang? Terus buat apa kam--.” Ucapan Bu Asih terhenti, Saqila mengakhiri panggilan.

“Dasar mantu nggak tahu sopan santun, belum beres bicara main tutup saja.” Bu Asih yang merasa kesal terus ngedumel di hadapan Wahyu, lalu dia pamit menjemput Naila.

Dari siang tadi Wahyu juga mendengar suara panggilan telepon, ketika dilihatnya dari Saqila. Tak dipedulikannya panggilan istrinya itu, dia pikir paling Saqila mau mengadu soal anaknya yang rewel. Pesan Saqila pun tak dibacanya, tapi setelah sore, dia penasaran dan dibuka pesan itu.

[Kak, Nisa sakit parah, harus di rawat.] Diikuti emotikon menangis.

Langsung saja Wahyu menghubungi Saqila.

"Qila, Nisa sakit apa memangnya? Maaf ya aku sibuk tadi baru bisa pegang handphone," bohong Wahyu. Ada rasa khawatir di hatinya, merasa bersalah tadi tak diangkatnya panggilan dari Saqila.

"Nggak ada apa-apa, Kak. Nisa sudah nggak sakit, dia sudah pulang, Qila di sini menunggu jasadnya." Saqila menjawabnya dengan tenang.

"Hah? Ma-maksud kamu apa Qila? Kamu jang--"

Panggilan ditutup. Wahyu panik, belum mengerti dengan apa yang dimaksud Saqila, tapi ada ketakutan ketika mendengar kata 'jasad Nisa'.

Wahyu pergi ke rumah sakit terdekat. Dia bertanya pada suster apa ada pasien bernama Nisa. Ternyata memang ada, cepat-cepat dia menuju ruangan tempat Nisa di rawat. Ketika masuk, dilihatnya Saqila yang sedang memeluk Nisa.

Tubuh Wahyu seketika lemas, dia berhambur menuju Saqila dan mengambil Nisa dari pangkuannya. Ternyata benar, Nisa sudah terkulai lemah tak bernyawa. Wahyu meraung memanggil nama Nisa, mengguncang-guncang tubuh anaknya itu. Di tengah derai kesedihan Wahyu menyempatkan untuk memberi kabar kepada ibunya tentang apa yang terjadi. Tak lama, Bu Asih datang, dia turut meraung melihat cucunya terkulai.

Saqila jijik melihat mereka berdua, sudah tak ada iba di hatinya. Sekalipun melihat air mata suami dan mertuanya yang mengalir deras menangisi Nisa. Bagi Saqila tangisan mereka sudah terlambat. Saqila pun menghubungi Iwan, agar membawa ibunya ke rumah mertuanya saja, Nisa sudah dibawa pulang.

***

Setelah selesai mengurus dan memakamkan jenazah Nisa. Saqila masuk kamar mengunci diri, ia murung dan tak banyak bicara.

Dua minggu sudah sejak kepergian Nisa, Saqila masih tak bisa diajak bicara. Sudah dua minggu pula Wahyu tak kerja, dia menemani Saqila yang sedang terpuruk.

"Qila ... makan ya? Aku suapi," bujuk wahyu.

Saqila tetap saja bungkam.

Bu Asih sudah mulai kewalahan dengan pekerjaan rumah dan menjaga toko seorang diri karena Wahyu harus menjaga Saqila.

"Saqila itu benar-benar kelewatan, sedih ya sedih, tapi hidup harus dilanjutkan, sampai kapan dia begitu." Bu Asih mengomel sendiri sambil memasak, ia merasa lelah mengerjakan segala pekerjaan sendiri.

Hari ini Wahyu pamit untuk kerja pada Saqila, kasihan ibunya sendiri menjaga toko. Sedangkan Saqila masih berduka, keluar hanya untuk mandi, makan dan mengambil air wudhu, setelah itu dia kembali ke kamar.

Ketika Bu Asih pulang, berharap kalau Saqila sudah menjalankan tugasnya seperti biasa, tapi ternyata rumah masih tetap seperti tadi pagi dan tak ada makanan yang dimasak Saqila. Bu Asih kembali kesal dan mengoceh.

"Wahyu, kamu jangan diam saja, nasihati istrimu, sampai kapan dia begitu, rumah ini sudah seperti kapal pecah, ibu juga capek pulang dari toko harus masak," gerutu Bu Asih pada anaknya.

"Iya, Bu. Nanti aku bujuk Saqila, aku nggak bisa paksa, dia masih sedih."

"Qila ... kamu jangan begini terus, kasihan ibu. Dia harus urus semua pekerjaan rumah sendiri, harus jaga toko juga," ucap wahyu.

Saqila tak menyahut, masih memeluk bantal Nisa membelakangi suaminya.

"Qila! Mau kamu apa sih, kenapa kamu jadi begini?" Suara Wahyu agak meninggi.

Saqila bangun, menoleh pada Wahyu. "Aku mau apa? Aku mau Nisa, bisa?"

Wahyu tak bisa menjawab, dia bingung dengan tingkah Saqila, bahkan ucapan lembut istrinya hilang, tak seperti biasa.

"Antar aku pulang ke rumah ibuku, atau aku pergi sendiri." Saqila kembali berbaring memeluk bantal Nisa.

Wahyu ke luar meninggalkan Saqila, ia membiarkan istrinya itu menenangkan diri. Jika dipaksakan juga tak akan berujung baik, istrinya masih tak bisa terima atas kepergian anak mereka. Sesungguhnya Wahyu juga sangat terpukul, ia lalai tak memedulikan panggilan Saqila waktu itu. Wahyu menyesal.

***





Diubah oleh aisyahzshaki053
profile-picture
profile-picture
profile-picture
piripiripuru dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
21-10-2021 16:13

Empat Tahun Yang Lalu


Baru tiga bulan Wahyu membuka toko beras di pasar ini. Diam-diam dia selalu mencuri pandang pada gadis yang sedang melayani pelanggan, dia gadis penjual sayuran, kebetulan lapaknya berdekatan dengan toko wahyu.

Gadis itu selalu tersenyum manis melayani pelanggan, gaya yang sederhana memakai kaos lengan panjang dan celana panjang longgar, dibalut kerudung simpel. Namun gadis itu terlihat sangat cantik, kulitnya bersih, matanya bulat, ketika senyum terlihat lesung pipit dan gigi gingsulnya.

Wahyu gemas melihat gadis berumur sembilan belas tahun itu, Saqila sangat gigih. Ia sangat terkesan, sampai Wahyu meminta orang tuanya untuk meminang Saqila, tapi ibunya tak setuju.

"Kalau mau cari istri itu bukan asal cantik, Wahyu. Harus dilihat bibit bobotnya. Dia itu kerja apa, cuma jual sayur, itu juga punya orang. Masih banyak perempuan yang lebih baik," tolak ibunya saat mendengar permintaan Wahyu, tak setuju kalau harus menikah dengan Saqila.

"Dia bukan cuma cantik, Bu. Dia juga baik, pekerja keras kurang apalagi, boleh ya Bu," pinta Wahyu pada ibunya.

“Pokoknya ibu nggak setuju.” Bu Asih tetap menolak, tapi Wahyu tak peduli, ia terus mendekati Saqila.

Setahun kemudian Wahyu meminta ayahnya agar melamar Saqila, awalnya gadis itu menolak, tapi ibunya Saqila merestui dan memujuk anaknya agar mau menikah dengan Wahyu. Mau tak mau akhirnya Saqila menerima lamaran itu dan tak lama mereka lalu menikah.

Impian Wahyu menjadi kenyataan untuk mempersunting gadis yang dicintainya itu, bayangan kebahagiaan terpampang nyata di depannya, apalagi kebahagiaan itu disempurnakan dengan kehadiran buah hati tercinta yang mereka beri nama Nisa.

***

Sebulan sudah Nisa pergi, tak ada lagi yang harus Saqila harapkan di rumah ini. Dia akan pulang ke rumah ibunya. Dari dulu dia sudah muak menghadapi sikap mertuanya.

Saqila membincangkan hal itu pada suaminya.

"Qila... kalau kamu pergi, aku bagaimana, nggak mungkin aku ikut ke rumah ibumu, di sana aku kerja apa?" tolak Wahyu.

"Qila bertahan di sini dulu hanya demi Nisa, sekarang Nisa sudah nggak ada, untuk apa Qila masih di sini? Kak Wahyu juga tahukan sikap ibu bagaimana, ibu nggak suka sama Qila.”

Waktu itu keadaannya dia masih punya Nisa yang harus dijaga, bagaimana jika mertua mengusirnya seperti yang pernah diutarakan dalam sebuah ancaman, dia harus kerja apa dengan membawa bayi? Sedangkan Ibu Saqila tiap hari dagang keliling untuk memenuhi kebutuhan hidup, bapaknya sudah meninggal.

Tak mungkin Saqila harus menyusahkan ibunya lagi. Tetapi sekarang, tinggallah dirinya sendiri, dia yakin masih sanggup menghidupi, dia bisa kerja apa saja, selagi halal, Saqila sudah terbiasa berjuang untuk hidup.

Kini alasannya untuk tinggal sudah tak ada, untuk apa masih bertahan di rumah mertua yang sama sekali tak pernah menginginkan kehadirannya.

"Kamu kreatif dikit lah, bikin sama bahan yang ada di dapur, bukan minta tambah jatah. Harusnya kamu bisa kasih makan nasi sama sayur, kata kamu sendiri Nisa udah gede."

"Dia nggak kayak anak lain, Kak, nggak mau makan nasi, harus bubur yang lembut, tapi nggak ada gizinya kalau cuma bubur kosong."

"Ya terserah kamu lah, akalin, kamu kan ibunya."

Entah terbuat dari apa hati suaminya itu, untuk makan anaknya saja banyak penolakan. Saqila malas bertengkar, karena ujungnya tak ada hasil dari rasa protesnya.

***

"Qila ...!" suara dari luar kamarnya memanggil. Saqila yang hendak terlelap itu pun terpaksa bangun dan menghampiri suara itu berasal.

Saqila membuka pintu, mertuanya berdiri di sambil menenteng baju seragam sekolah anak-anaknya.

"Ada apa, Bu?" tanya Saqila sambil mengusap wajah.

"Ini ... tolong setrika baju Nadia dan Naila untuk sekolah besok, kalau di setrikanya pagi takut nggak sempat," perintah mertuanya.

Diraihnya baju-baju itu, Saqila menoleh melihat suaminya yang masih saja mengutak-katik ponselnya.

Huh!

Nafasnya berat, tubuhnya lelah. Selesai menyetrika Saqila menuju dapur, di sana sudah ada beberapa piring kotor. Gesit dia membersihkannya, setelah semua selesai Saqila menuju kamar, dia sudah mengantuk lelah.

Treng!

Suara pesan masuk di telepon genggamnya, dilihatnya dari nomor yang tak dikenal.

[Qila, ini nomor aku, Iwan.]

Mata Saqila melotot, segera dia hapus pesan itu. Ditelannya silent mode, khawatir suami yang berada di sebelahnya mendengar.

Tak lama, gawainya itu kedap kedip tanda ada panggilan masuk, cepat-cepat dia geser 'tolak'.

Hatinya mulai tak karuan, dia tak ingin suaminya curiga. Ingin ditekannya tulisan 'hapus', tapi tak jadi. Siapa tahu suatu hari nanti dia membutuhkan bantuan Iwan. Nomor lelaki itu di simpannya, diberi nama 'IBU'. Segera Saqila mematikan gawai lalu tidur memeluk Nisa.

Wahyu yang tadi mendengar ada suara pesan masuk, merasa penasaran. Tadi dia sengaja pura-pura tak tahu. Dilihat istrinya itu sudah lelap, diraihnya gawai Saqila.



Kok, dimatikan?

Wahyu mengerutkan alis.

Ia merasa heran. Ditekannya tombol on, setelah mode siap, diubeknya telepon istrinya itu. Namun tak ada yang dia temukan, dia yakin tadi mendengar suara pesan masuk dari gawai Saqila. Merasa tak menemukan apa yang dicarinya Wahyu pun kembali meletakan gawai istrinya di tempat asal.

Ditatapnya Saqila, ada rasa bersalah di hatinya. Entah kenapa akhir-akhir ini dia ingin selalu marah pada Saqila. Ketika Saqila tidur pulas, wahyu merasa kasihan pada istrinya itu, tapi aneh di siang hari Wahyu selalu saja merasa kesal dan ingin marah-marah. Apalagi kalau ibunya sudah mengadu, makin kesal Wahyu pada istrinya.

"Maafkan kakak ya, Qila. kakak selalu marah-marah nggak karuan, selalu bikin kamu sedih. Kakak harap kamu mengerti, kakak masih sayang kamu," bisiknya pada Saqila sambil pengusap dan mencium rambut istrinya itu.

***

Jam empat pagi Saqila sudah membuka mata, dia harus bangun lebih pagi dari anaknya. Dirabanya tubuh anaknya itu, sudah tak panas. Wahyu masih tidur memeluk pinggangnya, perlahan Saqila menggeser tangan Wahyu, lalu melenggang menuju dapur.

Tangan Saqila gesit membersihkan dapur, tak perlu lama untuk mencuci piring dan gelas, segera diraihnya penanak nasi dan mencuci beras. Ketika tombol cook sudah di tekan, Saqila bergegas mengambil air wudu untuk salat subuh.

"Kak... bangun, Kak. Sudah subuh." Diguncangnya tubuh suaminya itu.

"Mm." hanya itu jawaban Wahyu.

Tak lama, satu per satu penghuni rumah mulai bangun, mereka sarapan dan pergi bekerja. Wahyu dan ibunya bekerja menjaga toko beras. Sementara pak Hilman bekerja di pabrik beras milik keluarga mereka, Nadia adik Wahyu sekolah SMA dan Naila sekolah dasar.

Hari ini Naila masuk bagian siang, jadi Saqila yang harus mengantar jemput. Sesibuk itu hari-hari Saqila, namun semua yang di kerjakannya tak ada artinya bagi keluarga Wahyu, hal itu dianggap biasa yang wajar dan seharusnya dilakukan seorang istri.

Saqila bergegas membeli sayur dan keperluan dapur untuk hari ini, Nisa tak jauh dari gendongannya. Hari ini anaknya tidur begitu lelap, Saqila merasa senang anaknya itu tak rewel, tak bisa melakukan pekerjaan rumah dengan tenang.

Ditidurkannya Nisa, dia bergegas untuk cuci mencuci dan membereskan yang belum beres.

Hari sudah siang, sudah waktunya Saqila menjemput Naila. Namun ada yang aneh, kenapa Nisa begitu nyenyak tidur, biasanya tak begitu. Ketika membersihkan rumah, beberapa menit sekali Saqila selalu melihat anaknya yang sedang tidur tapi Nisa tetap nyenyak.

Dihampirinya Nisa yang sedang tidur, betapa kagetnya Saqila ketika melihat anaknya itu. Tubuh Nisa terlihat kaku dan dingin, badannya terlihat membiru. Saqila menjerit panik melihat anaknya begitu, diraihnya telepon dan memanggil suaminya tapi tak ada yang mengangkat panggilannya. Dipencetnya terus nomor suami dan mertuanya, tetap tak ada jawaban. Saqila mengirimkan pesan, lalu bergegas menuju klinik.

"Nisa, kamu kenapa, Nak. Bangun sayang ini mamah," gumamnya pada Nisa. Tak henti dia menangis, takut terjadi apa-apa dengan Nisa. Dengan tergesa ia membawa anaknya itu ke dokter.

Sesampainya di klinik, Nisa ditangani dokter. Saqila tetap berusaha menghubungi suaminya, tapi tetap tak ada jawaban. Dokter memberitahu Saqila agar membawa Nisa ke rumah sakit besar, ada masalah dengan organ dalamnya. Harus diperiksa lebih menyeluruh oleh rumah sakit, karena di klinik tak tersedia alat-alat itu.

"Hah? Nisa...!" pekik Saqila, ia tersungkur, tak percaya dengan penuturan dokter, pikirannya tak karuan entah apa yang harus dia lakukan.

Ambulans membawa Nisa menuju rumah sakit, Nisa segera di ditangani di sana.

Saqila menunggu dengan cemas, pikirannya buntu, apalagi ia tak memegang uang sepeser pun. Suami dan mertuanya sama sekali belum meneleponnya, padahal Saqila sudah mengirim pesan.

Memang mereka sibuk bekerja, tetapi tak bisakah untuk hari ini mereka berada di dekatnya? Berada di sisi Nisa yang tengah berjuang, tak bisakah?

***

"Maaf, Bu, ketika Nisa dibawa ke sini keadaannya sudah parah, ada maslah dengan paru-paru anak Ibu dan dia koma. Sekarang hanya bisa bersabar dan semoga ada keajaiban," kata dokter pada Saqila. Lalu pergi meninggalkannya yang kebingungan.

Saqila terhenyak mendengar ucapan dokter, dihampirinya anak kecil itu, Nisa tak berdaya dengan segala selang dipasang di tubuhnya.

"Ya Allah Nisa..!" Saqila meraung memeluk anaknya. Ingin rasanya dia memaki Wahyu, kenapa di saat seperti ini Wahyu tak ada di sisinya.

"Sembuh, Sayang, jangan biarkan Mama sendiri, kamu harus kuat, Nak."

Suara telepon berbunyi, Saqila berharap itu Wahyu atau mertuanya. Namun nama yang tertera di sana adalah 'IBU', itu nama nomor Iwan. Diangkatnya telepon dari lelaki itu, Saqila berusaha tenang.

"Iya...halo."

"Qila, kamu di mana, aku di depan rumah kamu, tapi rumah kosong nggak ada orang, Bapakku panen ayam hari ini, aku bawa sedikit untuk kamu." Suara Iwan dari telepon.

"Hik ... hik...." Hanya suara isakkan yang Iwan dengar.

"Qil. Saqila, kamu kenapa? Kamu menangis, Qila, ada apa?" tanya Iwan terheran.

"Ni-Nisa sakit, Wan, aku di rumah sakit, Nisa dirawat." Akhirnya tangis Saqila pecah juga, ingin dia mengeluhkan semua kesedihannya pada orang lain saat ini.

"Hah! anakmu sakit? Kamu di sana sama siapa?" tanya Iwan lagi. Ia ingin menjenguk, tetapi risau jika keluarga Saqila tak berkenan akan kedatangannya.

"Sendiri, Wan,” jawab Saqila.

"Ya sudah aku menyusul ke sana sekarang, kamu SMSkan alamat ruangan tempat anakmu dirawat. Kamu yang sabar, Qila."

Segera Iwan memacu motornya ke rumah sakit menemui Saqila.

Saqila sendiri? Lalu suami dan mertuanya ke mana? Kenapa dalam keadaan darurat begini tak ada yang menemaninya. Berbagai tanya bermain di benak Iwan.

***


Diubah oleh aisyahzshaki053
profile-picture
profile-picture
profile-picture
piripiripuru dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
21-10-2021 16:16

Memilih Pergi

“Jangan pergi, Qila," cegah Wahyu.

Saqila menarik koper yang sudah ia siapkan untuk dibawa pulang.

“Kamu mau jadi istri durhaka, hah?” Wahyu naik geram melihat Saqila tak bisa di cegah.

Saqila pamit pada Bu Asih dan Pak Hilman yang masih berkumpul di ruang makan. “Qila minta maaf, Pak,” ucap Saqila meraih tangan mertuanya.

Selama ini Pak Hilman cukup baik pada Saqila, mertuanya itu tak pernah banyak bicara.

“Sebelum kamu pergi, bayar hutang dulu, jangan seenaknya pergi meninggalkan hutang,” ketus Bu Asih.

“Hutang? Hutang apa?” tanya Saqila, dia mengingat-ingat dan tak merasa pernah meminjam uang pada siapa pun.

“Tanya sama ibu kamu, hutang apa yang dia pinjam.” Bi Asih menghardik.

Saqila menarik nafas berat. “ Nanti kalau Qila sudah punya uang, pasti Qila bayar.” Meskipun ia sendiri tak tahu hutang apa yang di maksud mertuanya itu.

“Sekali lagi aku peringatkan, kamu jangan pergi Saqila!” Suara Wahyu meninggi melihat istrinya melangkah meninggalkannya.

“Qila tunggu Kak Wahyu di rumah ibu, Kak Wahyu bisa pilih, mau tinggal bersama Qila di sana atau mengantarkan talak, semua terserah Kak Wahyu, keputusan ada di tangan Kakak,” tegas Saqila.

“Talak? Apa kamu sudah gila?” marah Wahyu, sorot matanya tajam, ia menahan emosi.

Naila ikut menangis melihat Saqila pergi, tapi keputusan Saqila sudah bulat, ia harus pergi. Wahyu ikut atau pun tidak, itu bukan masalah untuk Saqila.

“Ceh! Istri seperti itu yang mau kamu pertahankan, Wahyu?” cemooh Bu Asih.

Tanpa menoleh, Saqila melanjutkan langkahnya. Sudah cukup selama ini ia menahan semua hinaan dan cercaan mertuanya. Ia ingin membuka lembaran baru, dengan atau pun tanpa Wahyu.

***

Beberapa jam perjalanan, Saqila sampai di rumah ibunya. Rumah kontrakan itu tampak kosong. Bu Dewi pasti masih berjualan, sedangkan Riyan masih belum pulang dari sekolah. Saqila hanya duduk menunggu di teras rumah.

“Kak Qila?”

“Riyan? Kamu baru pulang sekolah?”

“Iya, Kak. Apa kabar? Kapan Kakak ke sini?” tanya Riyan sambil menyalami tangan Saqila.

“Alhamdulillah kakak sehat. Sudah nunggu dari tadi, Yan. Ibu belum pulang ya?” tanya Saqila basa-basi.

“Iya, Kak.” Sahut Riyan sambil merogoh kunci dari dalam tas sekolahnya, lalu membuka pintu dan mempersilakan kakaknya masuk.

Saqila membawa koper berisi pakaiannya ke kamar ibunya, lalu duduk di ruang tamu. Matanya mengelilingi seluruh ruangan. Rumah kontrakan yang tak begitu luas. Rumah yang dulu menjadi tempatnya bernaung bersama ibu dan adiknya.

Saqila sudah menjadi yatim sejak kelas enam sekolah dasar, dulu hidupnya sangat bahagia, segala keinginan selalu dipenuhi ayah dan ibunya. Rumahnya dulu cukup besar, keluarga mereka cukup dikenal di kampung ini sebagai orang yang berkecukupan, ayah Saqila juga memiliki usaha sembako di sebuah ruko.

Ibu Saqila seorang janda beranak satu, bertemu dengan ayah Saqila yang statusnya juga sama, duda beranak satu. Bu Dewi membawa satu anak perempuan--Dina-- sedangkan Pak Hamid—ayah Saqila—membawa Muaz anak lelakinya dari pernikahan sebelumnya.

Setahun menikah, lahirlah Saqila dan ketika Saqila berumur sepuluh tahun baru lahirlah Riyan. Kehidupan mereka sangat bahagia, hidup rukun bersama kakak-kakaknya. Bu Dewi juga tak pernah diizinkan bekerja, sekali pun hanya ingin membantu selalu ditolak Pak Hamid. Bagi beliau, tugas istri adalah di rumah mengurus dan menjaga anak-anaknya, menjadi madrasah pertama pagi putra-putrinya.

Semua kondisi berubah ketika kecelakaan beruntun itu menimpa Pak Hamid saat perjalanan menuju ruko miliknya, hingga menyebabkan ayah Saqila meninggal di tempat. Bu Dewi dan anak-anaknya sangat terpukul atas kabar duka tersebut, terutama Bu Dewi, dunianya seolah berubah gelap dan kelam. Cita-cita yang mereka bangun untuk masa depan anak-anaknya pupus sudah.

Pak Hamid meninggalkan istri dan empat anak, serta sebuah rumah dan ruko, tanpa wasiat apa pun. Semenjak kepergian suaminya, Bu Dewi harus bangkit untuk mengambil tugas suaminya, ia belajar mengurus ruko.

Namun, Bu Dewi kurang pengalaman dalam bisnis yang dijalankan suaminya, rukonya mengalami kerugian, dan usahanya bangkrut.

Bukan hanya itu, Pak Hamid juga meninggalkan hutang yang banyak untuk mengelola usahanya dulu. Beberapa orang selalu datang menagih, dengan berat hati, Bu Dewi terpaksa menggadaikan rumah dan ruko peninggalan suaminya. Ia tak berniat menjual, berharap anak-anaknya kelak yang akan meneruskan usaha ayahnya.

Bu Dewi akhirnya mengontrak dan menjadi pedagang keliling, itu pun bukan miliknya, ia hanya ambil untung tak seberapa dari hasil jualannya.

Anak-anaknya terancam putus sekolah, Dina dan Muaz yang masih SMP tak dapat melanjutkan sekolahnya, begitu juga Saqila yang masih SD tak dapat melanjutkan sekolahnya juga.

Dina bernasib baik, mendengar ayahnya kecelakaan, guru sekolah Dina berniat menyekolahkan hadis itu hingga sekolah menengah dengan syarat, Dina harus tinggal di rumah guru tersebut dan membantu pekerjaan rumah. Setiap hari libur Dina diizinkan pulang ke kampung Bu Dewi.

Muaz juga melanjutkan sekolah di kampung ibu kandungnya, tak lupa ia juga sering melawat Bu Dewi—ibu sambungnya— dan adik-adiknya selama liburan sekolah. Bagaimana pun Muaz tak melupakan jasa Bu Dewi yang telah mengurusnya selama ayahnya masih hidup.

Nasib Saqila yang kurang beruntung, ia tak dapat melanjutkan sekolah. Terpaksa membantu ibunya banting tulang mencari nafkah, kadang ia di rumah menjaga Riyan yang masih kecil kala itu. Hingga ia terpaksa menikah dengan Wahyu, belum juga mendapat kebahagiaan. Ibunya sendiri yang selalu membujuk Saqila menikah dengan iming-iming akan bahagia jika menikah dengan orang kaya.

“Qila nggak mau nikah sama anak Bu Asih, Bu. Ibunya Kak Wahyu itu nggak suka sama Qila, lagi pula Qila suka sama orang lain.” Alasan Saqila kala itu.

Bukan hanya itu, Saqila baru menginjak 20 tahun, sedangkan Wahyu usianya beda jauh dari Saqila. Di hatinya juga ada nama seseorang yang selama ini ia kagumi, meskipun ia sendiri tak tahu perasan lelaki itu terhadapnya.

“Saqila, lebih baik menikah saja, jangan jadi beban buat ibu, hidup kamu dan anakmu nanti akan terjamin jika menikah dengan Wahyu.”

Beban? Saqila tak menyangka bahwa dirinya menjadi beban bagi ibunya, padahal selama ini ia ikut bekerja keras membantu ibunya. Akhirnya Saqila setuju menikah dengan Wahyu.

*****

“Saqila?”

Saqila menoleh ke arah suara. “Ibu?”

“Kapan kamu ke sini? Sama siapa?” sapa Bu Dewi.

“Dari tadi, Bu. Qila sendiri, nanti Kak Wahyu nyusul,” sahut Saqila. Ia belum mau menceritakan masalahnya dengan keluarga Wahyu.

“Kamu bawa koper, mau menginap lama di sini?” tanya Bu Dewi.

“Iya, Bu. Mau tenangkan hati dulu di sini, selama di sana selalu ingat Nisa.” Saqila beralasan.
Diubah oleh aisyahzshaki053
profile-picture
profile-picture
profile-picture
piripiripuru dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
21-10-2021 16:18

Berbunga dalam Belenggu

Tok ... tok ... tok ...!

"Assalamu'alaikum." Suara seseorang dari luar sambil mengetuk pintu.

Saqila dan Bu Dewi saling tatap, lalu menuju ke pintu untuk melihat siapa yang datang.

"Wa'alaikum salam. Eh, Iwan ... ?"

"Saqila?"

Dari keduanya tersirat rasa heran, bisa bertemu hari ini, di rumah ini. Beberapa detik mereka saling tatap.

"Kamu di sini, Qila?" Iwan segera bertanya mengalihkan pandangan mereka, padahal Iwan juga tahu ini rumah ibunya Saqila. Maka wajar jika Saqila sekarang ada di rumah ibunya.

Saqila belum menjawab pertanyaan Iwan, malah balik bertanya.

"Kamu ngapain ke sini, Wan?"

Mereka berdua terlihat begitu canggung, entah sebenarnya mereka sama-sama menahan rasa senang tapi tak terungkap kan. Padahal sebelumnya mereka pernah bertemu di rumah sakit waktu merawat Nisa.

"Eh ... Nak Iwan. Ayo masuk." Bu Dewi memecah kecanggungan di antara mereka. "ada apa, Nak?"

"Saqila ini ... ada tamu malah di bengongin. Ayo diajak masuk,” tegur Bu Dewi. “silakan duduk Nak Iwan," lanjut Bu Dewi.

"E-ini, e-i-iya maaf, Bu." Saqila gelagapan. "masuk, Wan," sambung Saqila.

"Ini, Bu. Bapak panen ayam, seperti biasa kalau panen selalu bagi-bagi ke tetangga, sekalian antar juga buat Ibu," sahutnya. Lalu menatap Saqila.

"Oh iya, terima kasih Nak Iwan," ucap Bu Dewi.

"Qila kapan ke sini? Sama siapa ke sini? Gimana keadaan kamu sekarang? Aku ikut sedih atas kepergian Nisa." Iwan memberondong Saqila dengan beberapa pertanyaan sambil matanya melihat-lihat ke sekitar ruangan, berpikir bahwa Saqila datang dengan suaminya.

"Tadi. Aku sendiri, Wan. Alhamdulillah aku baik-baik saja," sahut Saqila, tak dapat ia mungkiri hatinya masih berduka atas kematian anaknya.

Saqila masih bertanya-tanya. "Kok jauh-jauh antar ayam ke sini, Wan?" tanya Saqila.

"Jauh-jauh apa? Iwan kan sudah pindah lagi ke kampung ini, Qila. Bapaknya buka peternakan ayam yang baru di sini, kalau panen tetangga selalu dibagi, termasuk ibu, biarpun agak jauh ke sini." Bu Dewi yang menjawab pertanyaan Saqila sambil tersenyum lalu bangkit.

"Sebentar ya, ibu bikin minum dulu,” sambung Bu Dewi.

Iwan mengangguk. Pandangannya kembali menatap Saqila.

"Kapan kamu pindah lagi ke kampung ini lagi, Wan? Aku kok nggak tahu ya?" tanya Saqila lagi.

"Sudah ada tiga bulan, Qila. Ya ... kamu kan di kampung suamimu, jarang main ke kampung ini, makanya nggak tahu," ujar Iwan.

"Iya juga sih." Saqila menggaruk telinganya yang tak gatal.

"Kenapa ke sini sendiri, nggak sama suami?" Iwan masih penasaran.

"Nanti dia menyusul, masih ada pekerjaan."

Seketika pandangan mereka beradu kembali, kali ini tatapan Iwan sangat dalam, lalu melempar senyum pada Saqila. Seolah mata mereka berdua saling menyelami hati masing-masing, keduanya tak ada yang berpaling.

"Silakan diminum Nak Iwan, cuma air teh yang bisa ibu suguhkan," ucap Bu Dewi. Lagi-lagi ibunya Saqila itu membuyarkan tatapan mereka.

"I-iya, Bu. Terima kasih."

Dag dig dug juga hati Iwan berlama-lama di rumah Bu Dewi, harus bertatap muka dengan seseorang yang selalu jadi mimpinya. Akhirnya Iwan pamit pulang. Kendati hatinya masih ingin berada di dekat Saqila. Namun Iwan harus pulang, masih ada pesanan ayam yang belum di antar ke pembeli.

Saqila mengantar Iwan ke depan, menyenderkan kepalanya di daun pintu, matanya mengantar motor Iwan yang menjauh pergi dari pandangannya. Jika tak malu pada ibunya, ingin dia bercerita dengan Iwan lebih lama lagi. Biarpun begitu, Saqila tetap senang mendengar sahabat kecilnya itu sudah pindah lagi ke kampung ini.

***

Seminggu sudah Saqila berada di rumah ibunya, tapi belum juga ada Wahyu menyusulnya. Bu Dewi terus saja melontarkan pertanyaan tentang Wahyu. Saqila bukan rindu pada suaminya, dia hanya ingin kejelasan tentang hubungan rumah tangga mereka, apakah Wahyu memilih ikut dengannya atau menceraikannya.

Sementara di rumah Bu Asih, tiap hari mertua Saqila itu mengeluh dan mengomel. Dia kewalahan jika harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri dan menjaga toko. Namun, anehnya ketika pak Hilman meminta Bu Asih berhenti dari toko, perempuan paruh baya itu tak mau. Alasannya penghasilan akan berkurang kalau dia tak ikut menjaga toko.

"Wahyu, kamu itu cari istri lagi saja, daripada menunggu Saqila. Ceraikan saja istri seperti itu, lagi pula ibu nggak suka sama si Qila itu, tapi ibu capek kalau harus begini terus, kalau kamu punya istri lagi nanti ada yang bantu ibu," gerutu Bu Asih.

"Cerai? Nggak semudah itu. Aku masih sayang sama Saqila, Bu. Nggak kepikiran menikah lagi, nanti sore aku mau jemput Saqila, biar dia pulang lagi ke sini," ujar Wahyu pada Bu Asih.

"Nggak usah! Ibu nggak mau kamu jemput dia. Biar saja dia menderita hidup jauh dari kamu. Nanti kalau dia sudah merasakan susahnya hidup di luar, dia pasti mengemis-ngemis ke sini." Suara Bu Asih kesal.

Wahyu terdiam, tak menyahut lagi ucapan ibunya. Dia juga sadar selama ini selalu menuruti kata-kata ibunya. Hatinya mulai takut kehilangan Saqila. Wahyu diliputi kebingungan, ketika dirinya masih sayang pada istri tapi ibunya melarang, jika melawan ibunya, bagaimana nasibnya? Wahyu masih belum siap harus mengambil risiko.

***

Malam sebelum tidur, Saqila menyempatkan mengajak bicara ibunya. Mereka bercerita banyak hal layaknya sahabat yang sudah lama tak bertemu. Tentang kebahagiaan, kesedihan, dan kehidupan yang harus selalu diperjuangkan. Sesekali mereka tertawa mengenang cerita lucu, lalu haru saat mulai pada bagian pilu.

Treng!

Nada pesan masuk dari ponselnya. Saqila meraih gawai dan membaca pesan tersebut. Pesan itu dari 'IBU', itu dari Iwan, Saqila lupa belum mengganti nama Iwan.

[Qila, kamu sudah pulang apa masih di rumah Bu Dewi?]

Membaca pesan dari Iwan, Saqila yang tadinya sedang rebahan menunggu mengantuk datang, mendadak bangun terduduk. Hatinya senang, tangannya gemetar, mirip anak remaja yang baru mengenal cinta. Dia membalas pesan dari Iwan sambil tersenyum.

[Belum, Wan. Aku masih di rumah ibu.] balasnya.

[Besok kalau ada waktu, aku mau ajak kamu jalan-jalan. Kamu nggak ke mana-mana’ kan?]

Hah! Jalan-jalan? Saqila melonjak senang.

[Mmm gimana ya? Mmm boleh deh, jalan-jalan ke mana?] Saqila penasaran.

[Ke sawah, bernostalgia mengingat masa kecil kita.] Balas Iwan kemudian, diiringi emoji tertawa.

[Aku pikir mau ngajak ke mana, ya sudah ayo, jam berapa?] tanya Saqila.

[Ya, di kampung ini mau jalan ke mana lagi kalau bukan ke sawah. Besok sudah salat asar saja, sekalian menunggu sunset seperti di film-film] emot senyum.

[Ok.] Saqila senyum-senyum sendiri. Namun Saqila tersadar kembali, bahwa dia masih istri orang. Mengingat hal itu, nafasnya terasa berat.

***

Pagi itu, Saqila sudah berdandan rapi, padahal dia cuma diajak ke sawah, tapi perasaannya seperti akan pergi ke pesta dansa sang pangeran, berkali-kali ganti pakaian, berkali-kali pula ia memandang cermin berlenggak-lenggok memastikan penampilannya.

Iwan sudah sampai di rumah Bu Dewi, untuk menjemput Saqila, lalu memarkirkan motornya. Iwan mengetuk pintu dan mengucap salam.

"Wa’alaikum salam." Bu Dewi membuka pintu. "eh Nak Iwan, ayo masuk."

Saqila keluar dari kamar, melempar senyum pada Iwan. Saqila yang dari tadi habis-habisan memilih baju yang cocok, sedangkan Iwan hanya memakai kaos hitam polos dan celana pendek selutut lengkap dengan alat pancingnya.

"Bu, aku mau ajak Saqila ke sawah, cari belut," ijin Iwan pada Bu Dewi.

"Iya boleh, tapi jangan sore banget pulangnya ya, sebelum magrib harus cepat pulang,” pesan Bu Dewi.

Iwan dan Saqila mengangguk lalu pergi. Mereka berjalan kaki menyusuri jalan kampung. Lama sekali Saqila tak menghirup udara segar kampung ini. Sesekali mereka tertawa mengingat kenangan masa kecil, main di sawah, mencari keong, mandi di sungai dan banyak lagi cerita masa kecil mereka.

Dulu, semenjak Bu Dewi menikah dengan ayah Saqila, Iwan kecil sering bermain bersama anak Bu Dewi, Dina dan Muaz. Sampai lahir Saqila dan Riyan pun Iwan tak pernah jauh dari mereka. Ibu Saqila sudah menganggap Iwan seperti keluarganya sendiri. Di mana ada anak-anak Bu Dewi di sana ada Iwan.

Hingga mereka tumbuh dewasa bersama dan menjalani kehidupan masing-masing. Dina, Muaz dan Saqila sudah menikah, hanya Iwan saja yang belum menikah hingga sekarang. Entah mengapa hatinya masih berpaut pada seseorang yang sudah lama Ia sukai, tapi hal itu harus di pendamnya hingga saat ini.

Hamparan sawah yang masih begitu luas layaknya permaidani terbentang berwarna hijau. Udara yang segar tanpa polutan, gunung-gunung yang menjulang di kejauhan semakin memperindah suasana.

Kampung Saqila memang istimewa, bukan hanya soal pemandangan, jauh dari itu, melibatkan rasa yang hangat untuk dikenang.

Mereka berjalan menyusuri pematang sawah yang di apit parit kecil untuk mengairi sawah.

"Eh ... eh ...eh!" Hampir saja Saqila terpeleset, untung saja Iwan segera meraih tangan perempuan berwajah manis itu.

"Hati-hati, sekarang sudah jadi orang kota, nggak bisa jalan di sawah," usik Iwan.

Saqila tertawa lepas, seolah tak ada beban lagi di hatinya, melempar semua kekecewaannya tentang hidup yang tak adil. Alam membuatnya melupakan sejenak seribu perih yang selama ini selalu berkutat di mindanya.

Iwan mengambil cacing, lalu dipasangkan pada mata kail. Iwan jongkok mencari lubang yang biasa di dalamnya terdapat belut.

"Sini aku mau coba mancing belut," pinta Saqila pada Iwan. Iwan tersenyum dan mengabulkan pintanya. Saqila tak kalah mengukir senyum menunjukkan gigi gingsulnya.

Melihat Saqila seperti itu Iwan mulai salah tingkah, ia merasa bergemuruh melihat senyum Saqila.

"Eh, nyangkut nih." Saqila melepas pandangannya dari Iwan, tangannya bergerak-gerak menahan tarikan dari dalam lubang.

"Ayo tarik," sahut Iwan.

Pelan-pelan Saqila menarik urek. Belut pun menyembul dari lubangnya, bukan main Saqila kegirangan Sesekali mereka bergantian mencari belut, tak lepas dari tawa dan canda. Dua sahabat yang diam-diam sudah lama menyimpan rasa.

Matahari sudah condong ke ufuk barat, beredar menuju peraduan. Semburat jingga mulai menggantikan langit biru, burung beterbangan kembali ke sarang, hari indah itupun harus diakhiri, meski hati tak ingin semua berlalu, ingin rasanya membunuh waktu.

Mereka berjalan menuju jalan pulang. Sepanjang perjalanan, Saqila tertawa dan tersenyum bercanda bersama Iwan. Ketika sampai di rumah, senyum Saqila tiba-tiba hilang.

***
Diubah oleh aisyahzshaki053
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
21-10-2021 16:18

Talak dari Wahyu

"Pantesan ya! maksa minta pulang, begitu ternyata. Kamu itu masih punya suami Saqila, nggak sadar diri pergi dengan lelaki lain." Mertuanya mencebik, menatap tajam pada Saqila yang baru tiba, Iwan merasa bersalah, ingin rasanya dia membela.

"Ini teman Saqila, Bu. Ibu kapan ke sini? Kak Wahyu mana?" Saqila coba menenangkan diri dan mengalihkan pembicaraan, menghampiri mertua, menyalami dengan santun.

"Heh! Nggak usah basa basi ya, saya ke sini mau menagih hutang, sudah bisa menggaet laki-laki, saya yakin kamu sekarang sudah punya uang kan?" sindir Bu Asih masih dengan pandangan sinis.

Iwan yang baru datang itu pun menautkan kening, tak mengerti dengan yang diucapkan Bu Asih.

"Apa lagi yang kamu bisa untuk menghasilkan uang selain menjajakan diri, ya kan? Buktinya, belum bercerai sudah gencar cari mangsa." Mata Bu Asih melirik Iwan, melempar tatapan jijik.

Darah di tubuh Iwan berdesir mendengar perkataan Bu Asih. Langkah Iwan maju menuju ke arah Bu Asih, ingin memberi pelajaran pada perempuan tua itu.

Namun belum pun Iwan sempat bicara, Saqila menghadangnya dan memintanya pulang saja.

"Kamu pulang ya, Wan. Ini masalah pribadi keluarga kami, biar aku selesaikan," pinta Saqila.

Dengan hati yang dongkol Iwan menaiki sepeda motornya yang terparkir di depan rumah Bu Dewi terus pergi meninggalkan Saqila dan Bu Asih.

Saqila masuk ke dalam rumah lalu ke dapur untuk menyimpan ember berisi belut. Di kamar, Bu Dewi sedang menangis tersedu, Bu Asih memakinya habis-habisan meminta agar segera membayar semua hutang. Tak tahan melihat ibunya seperti itu, Saqila keluar menghampiri mertuanya.

"Soal hutang, kalau Qila dah pegang uang nanti Qila bayar. Beri Saqila waktu, Bu," ucap Saqila menahan amarah. Bisa saja mertuanya memarahi dan memaki, tetapi jangan ibunya.

"Enak saja nanti- nanti, saya nggak mau tahu ya, kamu harus bayar sekarang. Anak sama ibu sama saja, ibunya pelakor, anaknya nggak punya harga diri," hina Bu Asih.

Sakit mendengar kata-kata Bu Asih, amarahnya meluap juga.

"Cukup, Bu! Hentikan. Ibu bisa hina Qila sesuka ibu, tapi jangan hina ibuku. Silakan ibu pulang, jangan cari gaduh di sini."

"Waaah... hebat kamu sekarang, bicara pun sudah berani nggak sopan."

"Lebih baik sekarang ibu pergi dari rumah ini. Pergi, Bu!" Saqila benar-benar marah.

Wahyu baru saja tiba di rumah Bu Dewi dan mendengar kata-kata Saqila yang tengah mengusir ibunya. Tadinya dia berlembut hati ingin menjemput Saqila dan memujuknya supaya pulang, tapi mendengar teriakan Saqila pada ibunya, niatnya berubah.

"Saqila! Jangan kurang ajar kamu, ibu sudah baik-baik mau jemput kamu, malah kamu usir. Kamu apa-apaan hah!" Wahyu marah pada Saqila, tangannya dikepal, matanya membulat seperti ingin menerkam Saqila.

"Ibu? Jemput Qila? Ceh!" Saqila mencebik.

"Kamu lihat kan sekarang kelakuan istri kamu? Apalagi kalau tadi kamu lihat dia baru pulang jam segini berpelukan dengan lelaki lain," kata Bu Asih. Mendengar hal itu Wahyu semakin murka.

"Itu fitnah!" Saqila membela diri.

"Seharusnya kalau kamu memang sudah gatal ingin melacurkan diri, setidaknya tunggu sampai statusmu resmi nggak bersuami, Saqila. Kamu bukan hanya tak punya harga diri, tapi juga mencoreng nama baik keluargaku. Apa kata orang jika tahu istriku rela menggadaikan harga dirinya demi bayar hutang, hah?"

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi Wahyu, mata Saqila sudah tak mampu membendung air mata yang dari tadi Ia tahan. Tak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut suaminya.

“Tega sekali Kak Wahyu ikut memfitnah tanpa bukti,” ucap Saqila, garapannya nyalang.

"Kalau kalian datang ke sini hanya untuk menghina kami, tolonglah pulang, Qila sudah jelaskan soal hutang nanti akan Qila bayar." Nada suaranya bergetar menahan amarah.

Bruuk!

Saqila didorong Bu Asih, tubuhnya terjerembap ke tembok. Bu Dewi yang melihat Saqila tersungkur, segera berhambur memeluk anaknya.

"Berani kamu tampar anak saya, heh! Berani kamu usir kami, jika rumah kontrakan ini kami beli, kalian akan tinggal di mana, heh? Dasar gelandangan tak tahu malu. Cuih!"

"Ayo Wahyu kita pulang, sekarang kamu sudah lihat kan akhlak perempuan ini seperti apa? Ceraikan saja dia," cecar Bu Asih.

Wahyu masih memegang pipinya yang terasa panas terkena tamparan Saqila, dia mengangguk mengiyakan perkataan ibunya.

"Aku ceraikan kamu, Saqila. Ingat! hutang tetaplah hutang, kalian harus membayarnya dan kamu tak akan dapat harta sedikit pun dari kami." Suara Wahyu menengking, berhasil mengoyak perasaan Bu Dewi yang menghampiri mereka. Ditatapnya mata Saqila nanar. Bu Dewi tak menyangka Wahyu akan terhasut oleh perkataan ibunya.

“Maksud Kak Wahyu apa? Cerai?”

“Iya, aku ceraikan kamu dengan talak satu dan mulai saat ini kamu bukan istriku lagi,” tegas Wahyu tak berpikir lagi.

Bu Asih tersenyum puas dengan keputusan Wahyu. Mereka berlalu pergi tanpa pamit meninggalkan Saqila yang masih tersungkur di pelukan Bu Dewi. Tangis Saqila tumpah, namun dia lega, terlepas jerat dari keluarga Wahyu yang durjana, sejak hari itu, Saqila menyandang status barunya, janda.

***

"Bu, Saqila mau tahu soal hutang yang selalu dibahas Bu Asih. Apa benar ibu meminjam uang pada mereka? Kenapa nggak bilang ke Saqila?" tanya Saqila saat keadaan sudah sedikit mereda, berharap ibunya memberikan jawaban yang tak ia ketahui.

"Dulu waktu kamu menolak menikah dengan Wahyu, ibu selalu didatangi penagih hutang, hutang ayahmu yang masih tersisa tiga puluh juta. Mereka selalu mengancam ibu, makanya ibu pergi ke rumah Bu Asih untuk meminta tolong, karena ibu tahu Wahyu ingin menikah denganmu," jawab Bu Dewi sambil terisak.

"Itu juga ibu bukan pinjam, ibu minta mereka menebus toko ayahmu yang ibu gadaikan. Waktu itu ibu gadaikan toko ke pak Haji seharga empat puluh juta. Ibu minta Bu Asih ambil alih gadai toko itu dengan harga tujuh puluh juta. Bu Asih menolak tawaran ibu karena tak mau kalian menikah.”

"Wahyu menerima permintaan itu, dengan syarat ibu harus memujuk kamu agar menikah dengannya. Bahkan Wahyu menawarkan untuk membeli saja toko itu, mereka sanggup bayar seratus juta lebih, atau sesuai harga pasaran kala itu.

Akan tetapi, Ibu memilih gadai saja, mana tahu ada harapan suatu hari nanti untuk masa depan anak-anak ibu,” terang Bu Dewi hingga semua perkara menjadi jelas adanya, hutang yang selama ini diagungkan oleh mertuanya itu, ternyata bukan hutang, hanya soal pergadaian.

"Sudah, Bu. Kita lupakan semuanya. Kita mulai hidup baru, Saqila janji akan kerja keras, biar secepatnya kita bisa membayar hutang gadai itu," bujuk Saqila agar ibunya itu tak terlalu bersedih dan larut dalam penyesalan.

***
Diubah oleh aisyahzshaki053
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
21-10-2021 16:20

Cinta Iwan

Matahari pagi menerobos ke celah kaca ruang tamu, kehangatannya menenangkan juga memberi ruang bagi hadirnya semangat baru. Saqila teringat belut yang didapatnya kemarin, hari ini dia akan memasaknya.

Selesai memasak, Saqila pergi ke rumah Iwan untuk mengantar belut yang sudah matang. Iwan juga sangat suka belut, lagi pula belutnya cukup banyak, tak ada salahnya Iwan juga menikmati hasil tangkapan mereka.

"Assalamu'alaikum!" Saqila uluk salam.

"Walaikumsalam." Bu Laras—ibunya Iwan—menyahut suara salam dan membuka pintu..

"Saqila? MasyaAllah, lama sekali kita nggak ketemu, Qila. Apa kabar, Nak? " sapa Bu Laras. Dia gembira melihat siapa yang datang.

Saqila meraih tangan Bu Laras dan mencium punggung tangannya dengan takzim.

"Alhamdulillah, Bu. Qila sehat, ibu sehat?" tanya Saqila yang juga senang bertemu ibunya Iwan.

"Sehat, Alhamdulillah. Ayo masuk, Nak. Baru kemarin Iwan cerita mau bertemu kamu, Ibu juga bilang ke Iwan kalau ibu kangen sama kamu, sudah lama nggak ketemu," jawab Bu Laras panjang lebar.

Bu Laras memeluk Saqila, seolah bertemu anaknya sendiri yang sudah lama dia rindukan. Ditatapnya lekat wajah Saqila, banyak perubahan di diri perempuan yang dicintai anaknya itu.

Saqila hanya tersenyum.

"Ini, Bu. Qila bawa belut masak bumbu kuning." Saqila menyodorkan rantang berisi masakannya pada Bu Laras.

"Ini tangkapan kemarin ya? Kok dikasih ke Ibu, padahal nggak apa-apa dimakan saja buat orang rumah," ucap Bu Laras. Bibirnya terus mengukir senyum.

"Terlalu banyak, Bu. Orang rumah nggak ada yang makan belut, Cuma Qila sendiri yang suka, makanya dibawa ke sini," tutur Saqila.

"Oh begitu, ibu terima ya. Terima kasih."

Saqila mengangguk. "Sama-sama, Bu."

Bu Laras ke dapur menyimpan masakan pemberian Saqila, lalu kembali ke ruang tamu membawa secangkir teh, disuguhkannya pada Saqila.

"Iwan jam segini sudah pergi ke peternakan, nanti siang baru pulang untuk salat dan makan siang," tutur Bu Laras.

"Qila. Ibu tinggal dulu ke depan mau jemur baju," izin Bu Laras melanjutkan.

"Iya, Bu. Nggak apa-apa, Qila tunggu di sini," jawab Saqila.

Bu laras ke belakang mengambil cucian yang baru tadi selesai dicucinya, dia ke luar lewat samping rumahnya menuju ke depan, jemuran berada di depan rumah bagian samping.

"Lagi jemur, Jeng?" sapa tetangga Bu Laras yang kebetulan lewat menyapanya.

"Iya, Jeng. Mau ke mana tuh?” sahut Bu Laras pada tetangganya.

"Mau ke warung, Jeng. Tadi ada perempuan yang masuk, siapa, Jeng?" Tetangganya bertanya lagi.

"Oh itu, calon mantu saya itu, sayang nggak jadi," sahut Bu Laras sambil tertawa kecil.

"Oalah, aku kira benar ceweknya Iwan, cepat carikan istri, Jeng, nanti Iwan keburu tua." Tetangganya cekikikan.

“Jodoh nggak akan ke mana kok, Jeng.” Bu Laras menjawab ketus.

"Sudah ya, Jeng, aku pamit dulu mau ke warung," kata tetangganya, lalu pergi meninggalkan Bu Laras yang masih menjemur pakaian.

Bu Laras menjawab dengan anggukan, hatinya agak terusik mendengar kata-kata tetangganya itu. Memang benar, hingga kini anak lelaki satu-satunya itu belum ingin menikah, meski sudah beberapa kali ia mencarikan jodoh untuk anaknya itu, Iwan selalu menolak.

Selesai menjemur, Bu Laras dan Saqila melanjutkan bercengkerama di ruang tamu, mereka asyik mengobrol. Saqila sudah dianggapnya seperti anak sendiri, bahkan hatinya dulu berharap Saqila jadi menantunya.

"Bu, bukannya dulu Iwan sudah mau melamar Kiki ya, tapi kok sampai sekarang Iwan masih sendiri?" tanya Saqila ingin tahu kelanjutan hubungan dua sahabatnya itu.

"Nggak jadi, Nak. Iwan nggak suka sama Nak Kiki, katanya hatinya sudah ada orang lain," jawab Bu Laras.

Akhirnya Bu Laras menceritakan kalau dulu Iwan suka pada Saqila, tapi Iwan tak berani mengungkapkan. Iwan takut Saqila menolak dan malah menjauhinya.

Setelah lulus SMA, Iwan dan orang tuanya pindah ke kampung adiknya Bu Laras. Mereka diajak buka bisnis ternak ayam dengan modal patungan. Biarpun Iwan dan Saqila sudah tak tinggal sekampung, tapi Iwan selalu menyempatkan untuk bertemu gadis yang ia sukai dan saudara-saudara Saqila di kampung asalnya.

Iwan pernah bercerita pada Bu Laras kalau dia menyukai anak gadis Bu Dewi itu dan berniat suatu hari akan melamarnya. Bu Laras sangat setuju, bagi Bu Laras, Saqila adalah gadis yang baik dan rajin. Sampai terdengar kabar Saqila akan menikah, Iwan cukup terpukul mendengar hal itu.

Setelah Saqila menikah, Iwan memilih pergi ke ibu kota untuk melupakan Saqila. Di kota, Iwan tinggal dengan Uwaknya, kakak Bu Laras. Iwan bekerja jadi pengawas proyek.

Sampai tiga bulan yang lalu, ayah Iwan memintanya pulang untuk membantu membuka peternakan ayam yang baru di kampung ini, kali ini mereka menggunakan modal sendiri, tanpa ikut patungan dengan saudara mereka lagi.

“Iwan cerita juga waktu itu bertemu kamu, Iwan cukup senang,” tutur Bu Laras.

Mendengar cerita Bu Laras, Saqila tertegun. Hatinya gundah, terenyuh mendengar Iwan yang mencintainya dan rela mengorbankan perasaannya. Kenapa dia tak mengungkapkannya saja? mungkin semua ini tak akan terjadi. Hati Saqila pedih.

Saqila menceritakan kisah hidupnya pada Bu Laras, hingga kejadian hari kemarin Saqila diceraikan. Bu Laras terkejut, apalagi ketika Saqila bercerita tentang Nisa meninggal, air mata Bu Laras ikut luruh mendengar hal itu.

"Sabar, Qila. Ibu yakin kamu pasti kuat. Ibu turut bersedih atas apa yang menimpa kamu, semoga ke depannya kamu bisa bahagia." Bu Laras menenangkan hati Saqila, mengusap pundak gadis yang dicintai anaknya itu, dipeluknya Saqila erat.

***

Hampir empat bulan semenjak perceraiannya dengan Wahyu, Saqila baru menerima surat cerai yang dikirim mantan suaminya itu. Selama itu pula, Wahyu tak pernah menghubunginya. Ia benar-benar sudah dibuang.

Ada harapan baru di hati Iwan ketika mengetahui Saqila sudah bercerai. Kali ini dia akan berusaha menjaga Saqila, merebut kembali hati perempuan pujaan dan menjadikan Saqila miliknya. Iwan memain-mainkan telepon genggamnya, dia ingin menghubungi Saqila, tapi masih ragu. Akhirnya dia memberanikan diri juga.

"Hallo, Wan." Suara Saqila di ujung telepon.

"Qila, hari ini aku nggak ke peternakan, kamu mau ikut aku ke suatu tempat?" tanya Iwan.

"Ke mana?" Saqila balik bertanya.

"Ada deh," jawab Iwan "aku jemput sekarang."

"Hmm baiklah."

Iwan menjemput dan membawa Saqila ke satu tempat, tempat yang dulu tak asing bagi mereka. Tempat kesukaan mereka untuk 'berlibur' bersama.

Jauh di ujung kampung, ada sungai yang tak begitu dalam, airnya mengalir tenang. Tempatnya indah dengan rimbunan pepohonan, di tepi sungai terdapat pondok kecil yang dibuat ayah Saqila dulu, karena ayah Saqila tahu sungai itu tempat bermain anak-anaknya.

"Waah... aku kangen banget tempat ini, Wan," ucap Saqila senang ketika sampai tepi sungai.

Pondok kecil yang dibangun ayahnya dulu masih ada, meskipun terlihat agak usang, air sungai masih terlihat jernih, berhubung letaknya jauh dari kampung, airnya belum tercemar.

“Aku juga jarang ke sini, apalagi semenjak kerja di kota, kangen juga sama sungai bersejarah ini,” sahut Iwan yang diam-diam mencuri pandang.

"Masih ingat nggak, Wan. Kejadian waktu itu, kamu dikerjain?" tanya Saqila mengingatkan Iwan.

"Mana bisa lupa," jawab Iwan.

"Sekarang masih nggak bisa berenang?"

"Iya." Iwan terkekeh. Ia tertawa jika mengingat kejadian itu, baginya hal itu kejadian yang tak terlupakan.

Waktu itu Iwan masih kelas tiga SMA, kebetulan hari libur. Dina dan Muas, berkunjung ke rumah Bu Dewi. Mereka mengajak mandi sungai untuk menghabiskan hari libur mereka di kampung, berlibur ke tempat kegemaran mereka, yaitu sungai di ujung kampung ini. Dina, Muaz, Kiki, Saqila dan Iwan, mereka pergi bersama untuk masak-masak di pondok tepi sungai.

Sambil menunggu nasi liwet matang, mereka mandi sungai. Hanya Iwan saja yang tak pernah ikut mandi, Iwan takut kedalaman, dia takut tenggelam. Iwan lebih memilih memasak sambil melihat yang lain berenang.

Dina mengedipkan sebelah matanya ke arah Saqila, bibirnya dikerucutkan ke arah Iwan yang sedang sibuk meniup-niup api untuk mematangkan nasi liwet. Saqila mengangguk mengerti kode dari kakaknya itu.

"Iwaaan! Sini sebentar," panggil Saqila sedikit berteriak.

Iwan berjalan menghampiri Saqila, "Apa?" tanya Iwan.

Saqila naik ke tepi sungai mendekati Iwan yang sudah berdiri tepat di bibir sungai dan menatapnya.

Byuuur!

Saqila mendorong Iwan ke dalam sungai, Dina, Muaz, Kiki dan Saqila tertawa, mereka berhasil menceburkan Iwan.

Iwan yang takut ke dalaman tak bisa berenang, kepalanya tenggelam timbul, tangannya mengepak-ngepakkan air.

Melihat Iwan seperti itu segera Muaz meraihnya dan mengangkatnya ke bibir sungai. Iwan tergeletak dengan mata terpejam, nafasnya tersengal.

"Bagaimana ini?" ujar Saqila panik, tak sangka niatnya bercanda berujung mencelakai Iwan.

Muaz--Kakak Saqila--menekan-nekan dada Iwan, sebenarnya Iwan tak pingsan, dia masih sadar hanya malu untuk membuka mata, takut diejek.

"Saqila, kamu tanggung jawab, kamu yang dorong Iwan," ujar Kiki menyalahkan.

"Aku harus gimana?" tanya Saqila, matanya merah dipenuhi air mata yang terkumpul di pelupuk mata. Saqila begitu penuh keluguan.

"Bikin nafas buatan aja, Qila, kayak di tivi kalau ada yang tenggelam dikasih nafas buatan biar cepat sadar," jelas Dina.

"Bagaimana caranya?" tanya Saqila, dia tak tahu soal itu.

Dina menjelaskan apa yang harus dilakukan Saqila, begini dan begitu Dina menjelaskan panjang lebar. Setelah mengerti dengan penjelasan Dina, Saqila mengangguk.

Saqila memencet hidung Iwan, mulut Iwan dibuka lebar, didekapkannya bibir Saqila, lalu meniupnya beberapa kali.

Uhuk! Uhuk!

Iwan bangun, Saqila yang masih memegang Iwan terenyak ke belakang terdorong oleh Iwan yang duduk mendadak. Iwan bangun bukan karena nafas buatan Saqila, melainkan karena sulit bernafas hidungnya dipencet, mulutnya dibekam mulut gadis itu.

"Wan, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Saqila yang masih terlihat cemas.

Iwan menatap Saqila, lalu bangkit berjalan menuju pondok meninggalkan mereka yang saling tatap kebingungan. Ketika sudah jauh dari teman-temannya, Iwan tersenyum. Merasa lucu dan terkesan dengan tingkah Saqila tadi. Semenjak saat itu cintanya tumbuh untuk Saqila.

"Hey... malah melamun." Saqila membuyarkan lamunan Iwan.

"Eh. Iya." Iwan tersenyum menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Turun ke sungai, yuk?" ajak Saqila.

"Nggak ah takut," tolak Iwan.

"Nggak usah berenang, turun pelan-pelan saja." Saqila meyakinkan.

Iwan dan Saqila berjalan pelan menuju dasar sungai.

Tangan Saqila jahil menciprat-cipratkan air ke wajah Iwan. Iwan hanya tersenyum membiarkan Saqila dengan keusilannya, sekuat tenaga laki-laki itu menahan keseimbangannya agar tak terjatuh.

Meskipun badannya mulai menggigil, dia bahagia melihat tawa Saqila. Kali ini aku tak akan melepaskanmu, Saqila, batin Iwan tersenyum.

**

Diubah oleh aisyahzshaki053
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
21-10-2021 16:21

Permintaan Bu Laras

Enam bulan sudah berlalu, semenjak perceraian Saqila dengan Wahyu, ia tak pernah lagi mendengar kabar dari keluarga Pak Hilman. Bu Asih dan Wahyu yang dulu memaksa untuk segera membayar hutang, sepertinya kini mereka sudah melupakan hal itu. Kendati demikian, Saqila tetap bertekad suatu saat nanti ia akan menebus toko milik ibunya.

Saqila kini sibuk berdagang, membuka usaha sendiri, dia membuat jajanan pasar. Jam tiga pagi, Saqila dan Bu Dewi sudah bangun untuk membuat kue-kue dan nasi uduk yang akan mereka jajakan, setelah semua selesai dibuat dan dikemas dalam keranjang, pagi-pagi sekali mereka pergi menuju pasar.

Dagangan mereka laris manis, selalu jadi langganan para pedagang dan pembeli di pasar. Jam sepuluh pagi dagangan mereka sudah habis tak tersisa. Saqila sengaja menyisihkan sedikit jajanan untuk Iwan, pulang dari pasar dia akan mampir ke rumah Bu Laras. Sudah beberapa minggu dia tak bertemu dengan orang yang sudah mulai mengisi hatinya itu.

"Saqila!"

Saqila menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Senyum Saqila mengembang melihat Iwan yang berjalan menuju ke arahnya.

"Iwan? Kok ke sini? Baru saja aku mau pulang terus mampir ke rumah kamu," ujar Saqila.

"Aku kangen," bisik Iwan, tangannya di miringkan di pinggir bibir yang didekatkan ke telinga Saqila.

"Gombal," balas Saqila berbisik juga menirukan gaya Iwan.

“Aku serius kangen,” bisik Iwan lagi.

“Sama, aku juga.”

Mereka berdua terkekeh, saling tatap. Tersisip rasa bahagia antara dua jiwa yang sedang dilanda asmara.

"Ikut nggak?" ajak Iwan.

"Ke mana?" tanya Saqila.

"Hari ini Bapak panen ayam, kita masak-masak, Ibu yang suruh aku jemput kamu, dia bilang kangen masakan calon mantunya yang cantik juga ngangenin," goda Iwan lagi.

Saqila terlihat malu-malu, dua pipinya merah merona mendengar rayuan kekasihnya itu, bibirnya seolah tak bisa berhenti tersungging. Kepalanya mengangguk menerima ajakan Iwan.

"Bu, Saqila ikut Iwan, ya?" izin Saqila pada ibunya yang tengah membereskan keranjang dan bersiap untuk pulang.

Bu Dewi angguk seraya tersenyum. "Iya, sana. Hati-hati, ibu mau belanja bahan-bahan dulu buat dagangan besok, salam sama Bu Laras, ya."

“Iya, Bu.” Saqila dan Iwan pamit.

Sesampainya di rumah Bu Laras, Saqila diminta Iwan langsung ke dapur menemui ibunya. Di sana Bu Laras terlihat sibuk menyiapkan bumbu untuk di masak.

"Asslamu’alaikum, Bu." Saqila berhambur menghampiri Bu Laras lalu mencium tangan wanita itu.

"Waalaikum salam," sahut Bu Laras tersenyum menyambut Saqila.

"Qila bantu ya, Bu. Hari ini ayamnya mau dimasak apa?" tanya Saqila.

"Bapak mau makan rendang katanya, waktu itu Qila masak, Bapak ketagihan," sahut Bu Laras sambil tertawa kecil. Tangannya sigap merajang bawang untuk dijadikan bumbu halus.

Mereka berdua bercengkerama sambil memasak di dapur, hanya mereka berdua tapi dapur terdengar riuh, sesekali mereka tertawa lepas menertawakan hal-hal yang mereka anggap lucu. Sesekali mata Bu Laras menatap Saqila, doanya tertulis dalam hati, semoga Saqila segera menjadi menantunya.

Iwan berdiri di pintu dapur, memerhati dua wanita yang dia sayanginya itu sedang bercanda ria. Senyumnya terukir menyiratkan rasa bahagia yang tak terhingga.

Selesai memasak mereka makan bersama, tak henti-henti ayahnya Iwan memuji masakan Saqila. Membuat Saqila tersipu malu, Iwan dan Bu Laras pun ikut menggoda Saqila, membuatnya semakin salah tingkah.

Setelah selesai makan dan beres-beres di dapur Bu Laras, Saqila pamit pulang, tak lupa Bu Laras membungkus masakan yang tadi mereka masak untuk Bu Dewi.

"Salam sama ibu ya, Qila."

"Iya, Bu. InsyaAllah."

Saqila pulang diantar Iwan. Motor Iwan melaju meninggalkan rumah Bu Laras, rumah yang menjadi harapan Saqila, semoga suatu hari dia menjadi anggota keluarga Bu Laras dan hidup bahagia di sana.

“Nanti malam jangan lupa mimpiin aku, ya,” usil Iwan ketika sampai di depan rumah Saqila.

“Iya, kita tidur bareng,” sahut Saqila.

Iwan meraih tangan Saqila. “Tidur bareng? Maksudnya?” tanya Iwan penasaran.

“Jangan mesum, iyalah tidur bareng, aku tidur di sini, kamu tidur di rumah kamu, sama-sama tidur, tidur bareng ‘kan namanya.” Saqila tergelak berhasil mengerjai Iwan.

“Aku kira bener tidur bareng.” Iwan terkekeh.

“Belum halal,” ucap Saqila mendelik.

“Iya, iya. Aku pulang ya.” Iwan pamit dan melempar cium jauh.

Saqila angguk dan tersenyum lalu memanyunkan bibirnya.

Iwan yang sudah duduk di atas motornya malah semakin gemas, ingin segera menghalalkan Saqila agar bisa menggigit bibir manis pujaan hatinya itu.

***

Ketika Iwan kembali, Bu Laras menyerbu anaknya dengan pertanyaan. Ingin segera ada kepastian dari hubungan Iwan dan Saqila. Baginya, Saqila sudah menjadi anaknya sejak dulu.

"Wan, kapan kamu mau melamar Saqila?" tanya Bu Laras. "ibu sudah Ingin gendong cucu."

"Bukan aku nggak mau nikah sama Saqila, Bu. Untuk sekarang ini aku harus jaga nama baik Saqila dulu, biar nggak jadi gunjingan tetangga, Saqila baru bercerai enam bulan, nanti apa pula kata orang, belum lama bercerai sudah ngebet Ingin segera nikah lagi," sahut Iwan menjelaskan.

“Iya tapi kapan, harus ada kepastian, Wan. Nanti keburu diambil orang,” gerutu Bu Laras.

"Saqila juga pernah bilang, untuk saat ini nggak mau memikirkan untuk menikah cepat-cepat, dia ingin menebus toko yang Bu Dewi gadaikan, aku juga niat dikit-dikit bantu Saqila biar segera bisa mengambil alih toko Bu Dewi," lanjutnya.

"Hmmm, ya sudahlah, terserah kalian saja," tukas Bu Laras kecewa. Padahal dia sudah berkali-kali memujuk anaknya .

***
Diubah oleh aisyahzshaki053
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
21-10-2021 16:22

Pernikahan Wahyu

Di rumah keluarga Bu Asih.

Satu bulan sesudah perceraian Wahyu, Bu Asih berencana menjodohkan anaknya itu dengan anak kenalannya. Sudah sejak lama Bu Asih ingin menjodohkan Wahyu dengan gadis pilihannya, tapi anak lelaki satu-satunya itu malah memilih menikahi Saqila. Bu Asih merasa sekaranglah saat yang tepat untuk menjodohkan mereka kembali.

Kali ini Wahyu tak menolak, apa saja kata ibunya, Wahyu yakin itu yang terbaik untuk dirinya. Mengingat kata-kata ibunya tentang Saqila, ternyata benar bahwa Saqila bukan perempuan yang baik.

"Untung saja dulu ibu nggak kasih kamu tempat tinggal, coba kalau kamu punya rumah sendiri, sesudah cerai pasti Saqila minta hak harta gono-gini."

"Pokoknya sekarang, kamu harus mau nikah sama anaknya kenalan ibu, anaknya cantik, bukan itu saja, teman Ibu ini orang sukses, orang kaya. Kapan lagi kita dapat kesempatan seperti ini? Ibu kemarin sudah tanya tentang anaknya gadis teman ibu itu, dia sekarang masih belum menikah juga. Mereka juga setuju menikahkan anaknya sama kamu," lanjut Bu Asih.

"Iya, Bu, terserah. sekarang aku ikut saja apa yang baik menurut ibu," sahut Wahyu datar.

Sebenarnya Wahyu masih belum bisa melupakan Saqila. Meskipun Saqila sudah memiliki lelaki lain seperti yang dituduhkan ibunya, ia masih berharap Saqila datang dan minta maaf padanya, ia pasti akan memaafkan.

Bagaimanapun, Saqila adalah perempuan pertama yang dia cintai.

Perjodohan Wahyu berjalan lancar, dia dijodohkan dengan wanita yang umurnya berapa tahun lebih tua darinya.

Gadis berbadan langsing, lebih tinggi dari Saqila, berkulit putih bersih, penampilannya rapi dan modis. Tetap saja menurut Wahyu, Saqila lebih cantik dari gadis yang akan dijodohkan dengannya itu.

Gadis itu bernama Nunik, seorang gadis berambut pendek, dengan gaya bicara yang terkesan halus dan lembut. Nunik bekerja di salon miliknya, dia juga memiliki butik yang dikelola bersama kakak-kakaknya.

Tanggal pernikahan sudah ditetapkan, keluarga Nunik meminta beberapa syarat. Nunik anak bungsu di keluarganya, keluarga Nunik meminta pernikahan anak mereka harus diadakan pesta besar-besaran. Mengingat mereka menikahkan anak bungsu, pasti akan sangat ramai sanak saudara dan rekan bisnis yang datang dipesta pernikahan anak mereka.

"Ibu punya uang dari mana? Syarat mereka itu terlalu berat untuk kita, Bu,” protes Pak Hilman tampak kurang setuju dengan pernikahan ini, mengingat syarat yang mereka berikan terlalu berlebihan.

"Aduh, Pak. Anggap saja ini umpan, Bapak tahu ‘kan mereka itu kaya raya, nanti kalau Nunik sudah menikah sama Wahyu, kita pasti hidup senang," jawab Bu Asih merasa bangga akan memiliki menantu kaya.

"Lalu kita punya uang dari mana untuk pesta semewah itu, Bu?" tanya Pak Hilman yang tampak kecewa dengan pilihan istrinya.

"Kita punya dua toko beras, Pak. Kita bisa gadaikan dulu, nanti kita tebus lagi kalau Wahyu sudah menikah, kalau masih kurang kita bisa gadaikan pabrik, Pak. Ibu yakin, kalau Wahyu sudah menikah dengan Nunik, kita bisa dapatkan apa yang kita inginkan, bapak kemarin lihat sendiri kan? Mobil mereka banyak, rumahnya mewah," timpal Bu Asih santai, dia senyum-senyum sendiri mengingat nanti akan hidup senang.

"Kalau harus menggadaikan pabrik, Bapak nggak setuju!" tegas pak Hilman, dia kesal dan berlalu meninggalkan istrinya yang masih sibuk mengoceh.

"Bagaimana si Nunik itu menurut kamu, Wahyu?" tanya Bu Asih pada Wahyu yang sebentar tadi menghampirinya.

"Lebih cantik Saqila, Bu," jawab Wahyu datar.

"Jangan dilihat cantiknya, dia itu kaya, berkelas. Bukan kayak si Saqila, sudah miskin, kumel, nggak punya harga diri, nggak perlu kamu ingat-ingat lagi perempuan itu," kesal Bu Asih mendengar jawaban Wahyu.

***

Hari pernikahan Wahyu dan Nunik sudah tiba, Bu Asih menguras habis tabungannya dan tabungan Wahyu, untuk biaya pesta pernikahan, bahkan dua tokonya ikut di gadaikan juga. Mereka tampak bahagia menyambut hari bersejarah itu, tapi berbeda dengan pak Hilman, dia tampak murung dan kurang senang.

Selesai sah menikah dan menggelar resepsi pernikahan secara serentak dengan pesta yang terbilang wah. Nunik diboyong ke rumah Bu Asih. Tak tanggung-tanggung, lagi-lagi keluarga Nunik meminta diadakan pesta ngunduh mantu di rumah Bu Asih, Nunik juga meminta ingin berbulan madu di Bali.

Bu Asih kebingungan dari mana lagi dia harus mencari uang untuk menuruti permintaan menantunya. Demi untuk melaksanakan keinginan menantunya, Bu Asih menjual salah satu mobil pick'upnya, mobil yang biasa digunakan mengangkut beras untuk diantar ke pelanggan dan ke tokonya.

Untuk mengangkut beras ke pelanggan saja, satu mobil pick-up juga cukup, karena sekarang tak perlu lagi mengantar beras ke tokonya, toko sudah digadaikan. Lagi pula para pelanggan berskala besar biasanya membawa angkutan sendiri. Bagaimanapun caranya, yang penting menantunya senang.



Hidup Bu Asih sekarang bagaikan ratu, dia hanya bersantai dan bersenang-senang di rumah, aktif bersosialisasi di luar walaupun hanya sekadar untuk arisan dan bergosip dengan tetangga.

Di rumah Bu Asih, Nunik menyediakan jasa asisten rumah tangga untuk mengurus segala urusan rumah tangga di rumah Bu Asih. Semua keperluan di tanggung Nunik. Bu Asih merasa pengorbanannya tak sia-sia.

Toko beras Bu Asih pun sudah ditebus oleh keluarga Nunik, tapi tak dikelola lagi oleh Bu Asih, kini saudara ayah Nunik yang mengelola toko tersebut. Bu Asih tak keberatan, toh hidupnya sekarang sudah terjamin.

Lain lagi dengan pak Hilman, semenjak pernikahan Wahyu, kondisi kesehatannya menurun, seperti ada beban di pikiran lelaki itu. Dia sudah jarang bekerja ke pabrik, semua urusan pabrik diserahkan kepada Wahyu. Hanya sesekali saja pak Hilman memeriksa jika ada urusan mendadak.

Beberapa bulan pabrik dikelola oleh Wahyu, penghasilan pabriknya agak menurun. Bukan hanya itu, Wahyu yang kurang teliti dan kurang berpengalaman dalam mengelola, ia mengalami kerugian besar akibat penipuan.

Pabriknya terancam bangkrut, karena kerugian yang ia sebabkan. Untunglah keluarga Nunik turun tangan membantu memulihkan kembali operasional pabrik ayahnya itu.

Pak Hilman yang terkejut ketika mendengar pabriknya akan bangkrut akibat ulah Wahyu, dia syok dan pingsan, Pak Hilman terkena serangan jantung. Beberapa hari sempat dirawat di rumah sakit karena koma dan akhirnya pak Hilman berpulang ke Rahmatullah.

Kabar kepergian pak Hilman sempat terdengar oleh Saqila dan Bu Dewi, mereka memutuskan untuk melayat mengucapkan takziah, tapi kedatangan

Saqila dan Bu Dewi tak disambut oleh keluarga Bu Asih. Jika bukan karena kebaikan pak Hilman pada Saqila, tak ingin Saqila menginjakkan kaki lagi di rumah mantan suaminya.

Anak-anak pak Hilman, Nadia dan Naila menangis histeris dengan kepergian mereka, Bu Asih pun sangat terpukul dengan kematian suaminya yang tiba-tiba, sempat terbesit di hatinya, bagaimana nasib anak-anaknya kelak tanpa seorang ayah.

Wahyu sangat bersedih dan merasa bersalah, akibat kelalaiannya yang menjadi sebab kepergian ayahnya. Wahyu menangis tersedu di pembaringan terakhir Pak Hilman.

Kini hidup Bu Asih dan anak-anaknya yang masih sekolah hanya bergantung pada Wahyu dan Nunik.

Setelah kepergian pak Hilman, Nunik yang baik hati tiba-tiba saja sikapnya berubah. Pabrik yang dikelola Wahyu, kini diambil alih oleh keluarga Nunik, dengan alasan semua biaya pemulihan pabrik dari keluarganya. Wahyu hanya bisa bekerja di pabrik jadi buruh biasa dengan gaji per bulan.

"Nunik, kamu nggak bisa begini, biar bagaimana pun pabrik itu masih milik keluargaku," protes Wahyu tak terima dengan keputusan keluarga Nunik.

"Silakan Mas ambil saja, Mas kelola kembali pabrik itu, dengan syarat, Mas harus mengembalikan uang Papa yang dipakai untuk pemulihan pabrik yang hampir tutup itu," jawab Nunik, suaranya lembut tapi menusuk.

Asisten rumah tangga di rumah Bu Asih mendadak diberhentikan oleh Nunik, mau tak mau sekarang Bu Asih sendiri yang harus mengurus pekerjaan rumah.

"Ibu sekarang ‘kan nggak kerja, lagi pula mas Wahyu juga kerja hanya jadi kuli di pabrik, jadi gajinya nggak bakalan cukup buat bayar asisten rumah tangga, ngga apa-apa ‘kan kalau sekarang Ibu yang urus rumah ini?" Nunik tersenyum pada Bu Asih, suaranya yang terkesan lembut, sulit bagi Bu Asih menolak.

"Ya sudah, nggak apa-apa. Ibu ikut saja." Bu Asih sebenarnya kecewa dengan perubahan sikap Nunik itu.

Nunik yang sibuk bekerja, tak pernah sekali pun membantu pekerjaan rumah, meski hari libur, Nunik tetap tak ingin membantu pekerjaan Bu Asih.

"Bu, tolong beresin kamar Nunik, ya?"

"Bu, tolong setrika baju Nunik."

"Bu, tolong masak mie instan, boleh ya?"

"Bu, kalau nyuci baju kerja Nunik jangan pakai mesin, nanti cepat rusak, itu kain mahal."

Tiap hari nada perintah Nunik itu yang didengar Bu Asih. Disuruh ini itu, diminta ke sana kemari. Lama-lama hatinya dongkol juga, kesal dengan kelakuan menantunya itu.

"Nunik, Ibu ini sudah tua, Ibu lelah mengurus segala pekerjaan rumah sendiri, semua Ibu yang urus, sekali-kali kamu bantu Ibu, biar ibu nggak terlalu capek," protes Bu Asih pada Nunik, tubuh tuanya cukup lelah mengurus semua pekerjaan rumah setiap hari.

"Ya sudah, Bu. Nggak apa-apa, kalau ibu nggak mau urus rumah, ini ‘kan rumah Ibu sendiri , Nunik dan mas Wahyu bisa pindah ke rumah Mami dan Papi, tapi kalau Nunik pindah mungkin ibu harus biayai sekolah Nadia dan Naila sendiri," ujar Nunik pada Bu Asih. Suaranya tetap lembut disertai senyuman. Namun bernada ancaman.

Kata-kata Nunik yang lembut sekalipun, rasanya bagai menusuk hati Bu Asih, biar pun diucapkan dengan begitu halus, tetap terasa menyakitkan. Hanya untuk beristirahat ketika tak enak badan pun, Nunik malah sengaja tak memberinya uang belanja. Tak tahan dengan semua itu, Bu Asih mengadukannya pada Wahyu.

"Wahyu, ibu harus gimana? Ibu sudah nggak kerja, toko kita sudah diambil alih oleh keluarga Nunik. Ibu nggak punya penghasilan, tapi jika begini terus, Ibu nggak tahan dengan sikap Nunik," komentar Bu Asih mengadukan perlakuan Nunik pada anaknya. Tangannya mengusap air mata yang menetes menjalar di pipi tuanya.

"Aku juga sudah nggak tahan, Bu dengan sikap Nunik. Dia memperlakukan aku seenaknya, nggak pernah menghormati aku sebagai suami," jawab Wahyu.

"Ini juga semua salah Ibu, yang terlalu memaksakan kehendak menikahkan aku dengan perempuan itu. Sikap dia jauh beda dengan Saqila. Sekarang kita sengsara," lanjut Wahyu menyalahkan ibunya. Kata unek-unek yang selama ini Wahyu pendam akhirnya keluar juga dari mulutnya.

Bu Asih terus menangis, kebingungan melanda hatinya tak pernah sekalipun ia menyangka hal ini akan terjadi. Jika meminta Wahyu menceraikan Nunik, bagaimana dengan biaya sekolah anak-anaknya? Ibarat pepatah, pergi sulit, bertahan pun menyakitkan.

"Aku akan ceraikan Nunik nanti, Bu. Setelah terkumpul uang untuk modal, kita masih punya toko Bu Dewi. Kita kelola saja untuk biaya hidup kita nanti, lagi pula aku yakin, Saqila nggak akan punya uang untuk menebus itu," ujar Wahyu.

"Untuk sementara, kita bertahan saja dulu demi Nadia dan Naila," lanjut Wahyu kemudian.

Bu Asih akur dengan keputusan Wahyu. Ia salah menilai sikap Nunik dan keluarganya.

Hakikatnya seorang manusia, tak pernah sadar atas perbuatannya. Seperti Bu Asih yang merasa terdzolimi oleh perbuatan Nunik, tetapi dia tak sadar dulu perbuatannya pada Saqila lebih kejam dari Nunik.
Diubah oleh aisyahzshaki053
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
21-10-2021 16:23

Kepulangan Dina

Sepulang dagang Saqila berjalan menuju rumahnya, dari jauh Saqila melihat seorang perempuan duduk di depan teras rumahnya. Setelah Saqila sampai di depan rumah, Saqila terkejut.

"Kak Dina?"

Dina menoleh, terkejut melihat Saqila ada di hadapannya.

"Saqila!"

Mereka berhambur saling berpelukan, sudah sangat lama adik dan kakak itu tak bertemu. Air mata keduanya luruh, lama dan erat keduanya berpelukan hingga Bu Dewi datang.

Bu Dewi pun tak kalah terkejutnya melihat kedatangan Dina. Anaknya yang sudah sangat lama ia rindukan, karena jarak yang memisahkan, menyulitkan mereka untuk bertemu, terakhir kali mereka bertemu di pernikahan Saqila berapa tahun lalu. Sajak saat itu tak pernah lagi terdengar kabar Dina, Saqila sering menghubungi nomor ponsel Dina, tapi sudah lama tak aktif.

"Ibuu!"

Pelukan Saqila dilepasnya, berganti tergopoh ke pelukan Bu Dewi, tangis mereka pecah melepas kerinduan yang selama ini terpendam.

"Kapan sampai, Din? Kamu kesini sama siapa? Mana Aira, kenapa nggak dibawa?" Bu Dewi mengelus rambut Dina. Aira adalah anak Dina.

Mendengar pertanyaan ibunya, tangis Dina malah makin tersedu. Rasa pilu, sedih dan kecewa berkecamuk di hatinya. Entah apa yang harus dikatakan pada ibunya.

Bu Dewi dan Saqila mengajak Dina masuk, anaknya pasti lelah. Bu Dewi beranjak ke dapur untuk membuatkan Dina makanan; Saqila mengajak Dina ke kamar untuk beristirahat. Saqila memandang wajah kakaknya yang teduh dan sayu.

"Kak Dina, istirahat dulu ya. Aku beresin baju-baju kakak," ucap Saqila.

Dina mengangguk, "terima kasih ya, Qila," balas Dina.

"Sebenarnya Kakak ada masalah apa? Kenapa Aira nggak dibawa sekalian? Kasihan Aira, pasti dia sedih jauh dari mamanya." Saqila menatap Dina, tangan Saqila masih memegang baju Dina yang sedang Ia keluarkan dari koper untuk disimpan di dalam lemari ibunya di bagian yang masih kosong.

Dina hanya menggeleng lemah, air matanya yang menjawab pertanyaan Saqila. Melihat Kakaknya begitu, Saqila tak melanjutkan lagi pertanyaannya. Selesai semua baju Dina dirapikan, Saqila kembali menghampiri Dina yang masih terisak di tepi ranjang.

Saqila berusaha menghibur sebisanya, ia juga bercerita tentang kisah rumah tangganya dengan Wahyu. Dina sangat sedih dan simpati, ternyata adiknya juga bernasib kurang baik dalam urusan pernikahan.

****

Satu minggu sudah Dina tinggal di rumah ibunya, tapi dia masih tak ingin bercerita tentang kedatangannya tanpa Aira dan suaminya. Dina yang selama seminggu hanya di rumah, kini dia mulai keluar melihat-lihat kampung halaman yang sudah lama Ia tinggalkan, Dina juga mulai membantu aktivitas berdagang sang Ibu.

"Mama...! huk huk." Suara anak kecil memanggil Dina dan berlari ke arahnya sambil menangis. Dina terkaget melihat kehadiran suami dan anaknya yang begitu tiba-tiba.

"Airaaa...." Dina berhambur ke arah anaknya, dia ikut menangis tak kuasa menahan rindu. Dipeluk dan diciumnya Aira.

"Maafkan Mama, Sayang."

Saqila dan Bu Dewi ikut berlari menghampiri Aira. Mereka memeluknya, Bu Dewi terus saja memeluk dan menciumi pipi cucunya itu. Begitu sayang dan rindu, sekian lama baru bisa bertatap muka.

Erik menatap Dina dengan wajah marah, dia kesal pada sikap Dina yang meninggalkannya dan Aira begitu saja.

“Kenapa kamu kabur dari rumah, Dina? Tega kamu tinggalkan aku dan Aira!" Erik menatap Dina tajam.

"Kabur? Harusnya kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan sama aku, nggak mungkin ada asap kalau nggak ada api!" jawab Dina menatap Erik marah.

"Ayo kita bicarakan di dalam, ini di luar, Nak. Malu jika tetangga lihat," ujar Bu Dewi mengajak anak dan menantunya masuk.

Erik dan Dina masuk, duduk di ruang tamu; Bu Dewi dan Saqila membawa Aira ke kamar, lalu membawakannya makanan. Pasti cucunya itu lapar, wajah cucunya lusuh sekali sepertinya sangat lelah. Sedangkan Saqila menuju ruang tamu untuk jadi penengah masalah antara Dina dan Erik.

"Aku datang ke sini untuk minta pertanggung jawaban kamu, Dina. Tentang hutang yang sudah kamu pinjam ke saudara-saudaraku, dan itu tanpa sepengetahuan aku. Dan apa kamu nggak sadar jumlahnya sampai empat puluh juta? Itu belum termasuk hutang ke tetangga lain dan ke warung-warung. Istri macam apa kamu ini? Dari mana aku bisa membayar hutang-hutang kamu itu? Kenapa bisa sampai sebanyak itu?" tanya Erik mulai meradang. Ia mengusap wajah, tak percaya kepergian Dina ternyata meninggalkan banyak hutang, ia pun terpaksa menyusul karena tak tahu harus bagaimana membayar hutang sebanyak itu.

"Harusnya kamu sadar, kenapa aku bisa pinjam uang sebanyak itu. Dua tahun lalu ibumu stroke, dari mana aku bisa bayar biaya rumah sakit Ibu? sedangkan kamu kasih uang untuk makan saja nggak cukup. Dari mana biaya hidup untuk kami? Sedangkan kamu menafkahi kami seenak hati." Suara Dina bergetar menahan marah.

"Kamu nggak bisa seenaknya begini, Dina, sebelum pinjam, harusnya ada izin dari aku."

"Gimana aku bisa izin, apa kamu selalu ada di rumah? Bukanya hobi kamu itu cuma mancing dan judi?"

"Jangan keterlaluan kamu!"

"Kenapa? Kamu malu aku buka keburukan kamu di depan keluarga aku?"

Dina tinggal serumah dengan mertuanya, dua tahun lalu mertuanya terkena stroke. Dina meminjam uang pada sanak keluarga Erik, untuk biaya pengobatan. Bahkan Dina sampai menjual telepon genggam yang ia beli dulu sewaktu masih belum menikah dengan Erik, itulah sebabnya Dina tak pernah menghubungi ibunya.

Saudara Erik cukup baik dan selalu membantu ketika Dina menghadapi masalah. Apa pun yang Dina butuhkan, mereka salalu memberi pinjaman. Namun Erik malah lepas tanggung jawab, memberi uang belanja hanya semaunya, dia berpikir bahwa Dina selalu punya uang.

Padahal untuk biaya hidup sehari-hari, Dina harus banting tulang menjadi buruh cuci, uang yang Dina pinjam hanya untuk biaya berobat mertuanya. Sedikit demi sedikit, lama-lama hutang Dina menumpuk juga. Saudara-saudara Erik yang selama ini baik pun gerah juga, karena sudah beberapa tahun Dina tak kunjung membayar hutangnya. Setiap Dina minta pada Erik, tak pernah diindahkan oleh suaminya itu.

Uang hasil kerja Erik kebanyakan untuk judi online, bahkan untuk main perempuan juga yang belakangan diketahui Dina. Sudah jauh-jauh hari Dina minta pulang dan minta cerai, tapi Erik tak pernah peduli. Pikirnya, Dina tak mungkin bisa pulang ke pulau Jawa, uang ongkos saja dia tak punya. Tak akan cukup uang sedikit jika dia ingin pulang.

Ketika Dina sudah memutuskan untuk tetap pergi dari rumah mertuanya. Erik malah membawa Aira kabur, lagi-lagi Erik menjadikan Aira sebagai tameng, Erik tahu kalau Dina tak mungkin bisa meninggalkan Aira. Ternyata dugaan Erik salah, Dina tetap pergi tanpa Aira.

Menahan segala sedih dan rindunya harus berpisah dengan sang buah hati, ia tak punya pilihan karena sudah sangat tak tahan dengan kehidupan bersama Erik. Dina berjuang sendiri untuk menghidupi anak dan mertua, tanpa tahu fungsi Erik sebagai suami yang seharusnya mengayomi dan memberinya kehidupan yang layak.

"Aku nggak mau tau, kamu yang pinjam uang, jadi kamu harus bayar!" tegas Erik tak mau tanggung jawab.

"Harusnya kamu yang bayar hutang-hutang Kak Dina, kamu yang harusnya tanggung jawab, kamu itu kepala keluarga. Sekarang, kamu malah datang ke sini minta Kak Dina yang bayar, kamu gila, hah?" Saqila marah mendengar cerita Dina, tak sangka Erik berbuat begitu pada kakaknya. Rasa hormat Saqila hilang sudah, tak sudi Saqila memanggil lelaki yang menyakiti kakaknya dengan sebutan ‘kakak’.

Wajar saja kakaknya itu kabur, bukan dijadikan suri dalam rumah tangga, malah dijadikan budak.

“Kamu jangan ikut campur, ini masalah aku dan Dina,” sinis Erik pada Saqila.

“Jelas aku akan ikut campur, Dina ini kakakku, kalau sudah di sini, kamu nggak bisa seenaknya.” Saqila makin meradang.

“Harusnya kamu mikir, Erik.” Dina menimpali.

Erik kehabisan cara, melihat Dina yang dibela Saqila. Ia tersudut karena perbuatan Dina itu dipicu olehnya.

"Maafkan aku, aku tahu aku salah, tapi sekarang aku dalam masalah gara-gara hutang itu, semua saudaraku menagih padaku, kalau nggak di bayar juga, rumahku akan dijual paksa. Lalu ibuku yang sakit mau tinggal di mana? Cuma aku anak satu-satunya, bukan itu saja, Dina, waktu kamu pulang, kamu pinjam uang ongkos dari tetangga ‘kan? Aku yang kena imbasnya, tetangga marah menagih padaku." Suara Erik melunak, dia mulai mengiba.

Tak ada jawaban dari Dina, dia hanya mematung tak tahu harus bagaimana. Memang benar dia yang meminjam uang ke sana ke mari, tapi itu bukan salahnya, harusnya Erik yang menanggung segala kebutuhan mereka, bukan Dina.

"Untuk sementara aku akan bawa Aira ke Jakarta, aku akan tinggal di rumah saudara di sana. Kalau kamu ingin Aira ikut kamu, aku kasih waktu satu minggu, kamu harus bisa cari uang atau pinjaman. Aku akan ke sini lagi bawa Aira setelah kamu punya uang, aku janji," ujar Erik dengan seenaknya membebankan masalah hutang pada Dina.

"Enak saja kamu, aku nggak bakal ngasih Aira, nggak! Nggak mau!" teriak Dina pada Erik.

“Jangan gila kamu, Erik,” bentak Saqila ikut kesal.

Tanpa memedulikan kemarahan dua perempuan di hadapannya, Erik berjalan menuju kamar Bu Dewi, Aira yang sedang disuapi, diambil paksa dan dibawa keluar. Saqila dan Dina menahan Erik, tapi Erik menerjang memaksa ke luar. Bu Dewi meraung melihat Aira dibawa Erik. Saqila menghadang di depan pintu, Erik tak bisa berkutik.

"Airaa jangan pergi, Sayang." Dina memegang tangan Aira.

"Mama, Aira ikut ayah dulu, Mama jangan nangis, nanti Aira ikut Mama," ucap Aira.

"Kamu harus ikut mama, Sayang, mama sedih jauh dari kamu."

"Kata ayah, Mama harus cari uang untuk bayar hutang, ayah janji sama Aira kalau Mama sudah punya uang, Aira bisa tinggal sama Mama sama Nenek," lanjut Aira lagi.

“Nggak, Sayang. Kamu di sini ya sama mama,” lirih Dina.

“Nggak, Ma. Aku ikut ayah dulu.” Aira kukuh.

Tega sekali Erik menghasut anak kecil untuk memuluskan rencananya. Aira baru enam tahun, kenapa harus Aira yang dimanfaatkan. Saqila geram, tetapi tak bisa menghalangi lagi jika Aira sendiri yang meminta ikut ayahnya.

"Aku janji akan bawa Aira kembali ke sini setelah seminggu, tolong bantu aku dapatkan pinjaman," ujar Erik dia berlalu meninggalkan Dina yang masih menangisi anaknya.

***

Lanjutannya ada di komentar berikutnya ya Gan, terus aja scroll ke bawah
Diubah oleh aisyahzshaki053
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
21-10-2021 21:03
Lanjut bre
profile-picture
aisyahzshaki053 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
22-10-2021 15:28
lanjut.
profile-picture
aisyahzshaki053 memberi reputasi
1 0
1
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
22-10-2021 18:06
gelar tiker breeeeee
keren ini
profile-picture
aisyahzshaki053 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
22-10-2021 20:02
Lanjutkan, knp para laki2 itu pd kurang tanggung jawab sm istri ya.
profile-picture
aisyahzshaki053 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
23-10-2021 14:23
Kzl bgt
profile-picture
aisyahzshaki053 memberi reputasi
1 0
1
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
24-10-2021 21:59
WARNING!!!

KENTANG DETECTED
profile-picture
aisyahzshaki053 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
25-10-2021 15:18

Berkumpul Kembali

Setelah Erik membawa Aira, Saqila dan Bu Dewi duduk berbincang, mencari solusi untuk mereka.

"Aku rasa biarkan saja Erik bawa Aira, aku nggak punya uang, mau pinjam juga ke mana? Siapa yang mau percaya? Lagi pula, aku sudah memutuskan pulang tanpa Aira, harusnya aku siap kehilangan dia," tutur Dina mengusap air matanya. Tak bisa dihindari, hati seorang ibu pastinya sakit saat tak lagi bisa tinggal dengan anak semata wayangnya.

"Terus kamu mau biarkan Aira dirawat Erik? Apa kamu yakin cucu ibu bisa dia jaga? Selama ini dia telantarkan kalian, apa kamu nggak kasihan sama Aira, Din?" Bu Dewi tak bisa menyetujui saran Dina yang terdengar menyerah.

"Tapi dari mana aku bisa cari uang sebanyak itu? 40juta bukan jumlah sedikit, Bu." Dina menyerah.

"Masih ada jalan lain. Kita bisa menjual ruko untuk melunasi hutang Kak Dina," kata Saqila berharap ibunya setuju.

"Ruko? Maksudnya ruko peninggalan Bapak?" tanya Dina.

"Iya, nggak ada cara lain," jawab Saqila. Ia sendiri punya masalah soal hutang dengan Bu Asih, tapi baginya masa depan Aira lebih penting.

Bu Dewi terdiam, dia berpikir sejenak.



"Maaf, Bu, Qila, kalau kedatanganku hanya membuat kalian terbebani." Dina terisak, masih bersedih mengingat nasib dirinya dan Aira, sesekali dia mengusap pipinya yang dibasahi air mata.

"Kalau itu memang jalan yang terbaik, Ibu ikut saja. Nggak ada yang akan bisa bantu Dina kalau bukan kita," sahut Bu Dewi akur, air bening luruh dari sudut matanya. Toko yang selama ini ia pertahankan, harus begitu saja ia ikhlaskan.

Setelah dapat persetujuan, Saqila bergegas ke rumah Bu Asih, tekadnya sudah bulat untuk menjual saja tokonya pada keluarga Wahyu. Sekalian menyelesaikan hutang piutang ibunya, satu tindakan, dua masalah terselesaikan, begitu pikir Saqila.

Sampainya di sana, Saqila menekan bel rumah Bu Asih. Pintu dibuka oleh seseorang, seorang wanita paruh baya yang berpakaian lusuh dengan lap di pundaknya.

Bu Asih? Kenapa penampilannya jadi seperti itu?

Saqila keheranan.

"Saqila? Ngapain kamu ke sini?" tanya Bu Asih ketika membuka pintu gerbang rumahnya. Tatapannya masih saja sinis, rasa tak sukanya masih ada pada perempuan yang pernah jadi menantunya itu.

"Qila mau ketemu Kak Wahyu, Bu. Ada harus dibicarakan soal gadai ruko," jawab Saqila lembut. Tak ada dendam di hati Saqila. Ia sudah melupakan semua yang sudah berlalu.

Mendengar kata ruko, Bu Asih terlihat bimbang. Dia gusar jika Saqila akan segera menebus toko itu. Untuk saat ini, hanya toko itu yang jadi harapan Bu Asih untuk mencari nafkah dan ingin segera lepas dari Nunik.

"Saqila? Ada apa ke sini, ayo masuk." Wahyu keluar dari kamar ketika mendengar ada suara bell. Dia senang melihat Saqila yang datang, diam-diam Wahyu masih merindukan mantan istrinya itu.

"Begini, Qila ke sini mau menjual toko, Qila butuh uang, anggap saja Qila bayar hutang sama Bu Asih dan Bila ambil sisanya," ucap Saqila langsung pada inti tujuannya.

Wahyu terperangah mendengar apa yang dikatakan Saqila.

"Ta-tapi, Qila. Sekarang aku nggak punya uang untuk membelinya," sahut Wahyu gelisah.

"Kalau gitu, Qila jual ke orang lain saja, nanti hasil penjualan, Qila bayar uang ke Kak Wahyu yang digunakan menebus toko waktu itu," tegas Saqila.

"Jangan Qila, aku mohon. Toko itu satu-satunya harapan aku dan Ibu," pinta Wahyu memelas.

"Maksudnya?" Saqila tak paham, kenapa ruko itu bisa jadi harapan untuk keluarga Bu Asih?

Wahyu menceritakan segala yang terjadi selama mereka berpisah, sementara Bu Asih diam mendengarkan tak mengucapkan sepatah kata pun.

"Qila nggak mau tahu, keluarga Qila juga punya masalah, sekali lagi Qila tegaskan. Jika Kak Wahyu nggak sanggup membayar, Qila akan jual pada orang lain," ujar Saqila lantang.

"Saqila aku mohon, kalau kamu benci padaku dan pada Ibuku, setidaknya kasihani Naila yang masih kecil, bagaimana nanti aku akan membiayai sekolah Nadia dan Naila?" lirih Wahyu memelas. Matanya mulai bening mengilat, mengumpulkan butiran air yang mulai membendung diujung matanya.

Kali ini Bu Asih tak sanggup bicara apa-apa di depan Saqila, dia hanya menunduk lesu. Melihat hal itu, Saqila terenyuh. Di mana orang yang dulu sombong dengan hartanya itu? Di mana kata-kata tajamnya yang sering Ia hujamkan ke hati Saqila? Ketika harta hilang, 'kemuliaan pun’ seolah ikut hilang.

"Qila minta maaf, bukan Qila nggak ingin membantu, sekarang ini keluarga Qila lebih membutuhkan uang tersebut," sambung Saqila. Dia tetap kukuh dengan pendiriannya.

Wahyu memegang kening seraya meremas rambutnya, kecewa dengan keputusan mantan istrinya itu. Kini harapannya untuk lepas dari Nunik harus dia lupakan, Wahyu harus memikirkan cara lain.

"Eh ada tamu. Siapa ya?" Nunik yang baru saja pulang kerja, langsung masuk ketika melihat pintu terbuka.

Wahyu hanya menghela napas berat melihat kedatangan Nunik. Bu Asih segera berlalu menuju kamar meninggalkan Wahyu, Bu Asih malas jika berhadapan dengan menantunya itu.

"Aku Saqila, mantan istrinya Kak Wahyu," sahut Saqila menyodorkan tangan. Nunik menyambut tangan Saqila sambil tersenyum ramah.

"Mantan istri? Kira-kira ada apa ya datang ke sini?" tanya Nunik penasaran.

"Oiya, saya istrinya Wahyu," sambung Nunik. Masih dengan senyum ramah.

Saqila menjelaskan maksud kedatangannya pada Nunik, istri Wahyu itu mengangguk-anggukan kepalanya menyimak cerita Saqila.

"Mmm, baiklah. Biar saya bayar saja tokonya sesuai harga pasaran sekarang ya, bagaimana?" tanya Nunik tertarik mendengar Saqila ingin menjual toko yang digadaikan pada Wahyu. Nunik baru tahu kalau Wahyu dan ibunya masih punya gadaian toko, Nunik makin senang Wahyu tak akan bisa lepas darinya.

Wahyu tersentak mendengar ucapan Nunik, dia benar-benar tak bisa berkutik, makin benci saja dia pada Nunik.

"Baiklah, aku setuju," jawab Saqila, dia senang karena tak sulit untuk menjual tokonya, dia tak harus susah-susah menawarkan tokonya pada orang lain.

"Ok, deal. Tunggu ya, saya keluar sebentar mengambil uang cash." Nunik berjalan ke luar menaiki mobilnya yang masih terparkir di luar.

"Tega kamu Saqila," tukas Wahyu.

Saqila tak menjawab, baru kali ini melihat raut kesedihan di wajah mantan suaminya.

***



Selesai berjual beli sesuai dengan harga yang sudah di sepakati, Nunik bersalaman dengan Saqila. Harga yang Nunik tawarkan lumayan tinggi, Saqila sangat puas.

Tak lupa Saqila membayar uang Wahyu yang dulu dipakai untuk menggadai tokonya. Setelah nanti selesai membayar hutang Dina, sisa uang yang masih banyak akan Saqila gunakan untuk modal mengembangkan usaha dagangnya.

"Alhamdulillah, Bu. Kita bisa bayar hutang Kak Dina," ucap Saqila gembira ketika sampai ke rumahnya.

"Syukurlah, Ibu ikut senang," sahut Bu Dewi. Meski sebenarnya hati Bu Dewi perih harus melepas tokonya, dia tak punya pilihan.

"Terima kasih, Qila," timpal Dina ikut senang. Mereka bertiga terisak bahagia.

Sesuai yang sudah dijanjikan, seminggu kemudian Erik datang membawa Aira dan menanyakan perihal uang untuk bayar hutang.

Kini Dina semakin yakin dengan keputusannya untuk bercerai, Erik hanya mementingkan dirinya sendiri, seolah rasa cintanya sudah hilang untuk Dina. Erik yang seharusnya bertanggung jawab, malah menimpakan beban di pundak Dina dan lepas tangan begitu saja.

"Ini uang empat puluh juta yang kamu minta, pulanglah dan bayar semua hutang pada saudaramu, tapi ingat ...." Dina menghentikan perkataannya, dia mencoba mengatur napas.

"Tapi apa?" tanya Erik penasaran.

"Ceraikan aku," sahut Dina, dia sudah mantap. Rumah tangganya sudah tak bisa diperjuangkan.

"Apa? Cerai?" Erik tersentak kaget mendengar syarat yang diajukan Dina.

"Iya cerai. jika tidak, aku nggak akan kasih uang ini," tegas Dina.

"Kamu beneran mau kita pisah?"

"Apa lagi yang harus dipertahankan? Kamu saja nggak pernah sadar sama tanggung jawab."

"Kalau kita cerai, gimana aku bisa ketemu Aira?" Erik beralasan.

"Kamu bisa datang ke sini."

"Jarak kita jauh, Dina."

"Kalau kamu nggak mau ceraikan aku, silakan saja bawa Aira, kamu tau sendiri aku bisa hidup tanpa Aira, hutang juga nggak akan aku bayar," gertak Dina. Hatinya ketar-ketir, takut kalau Erik tak setuju dengan perceraian mereka dan lebih memilih membawa Aira.

Erik menghela napas lesu. "Baiklah, sekarang aku ceraikan kamu Dina, mulai detik ini kamu bukan lagi istriku."

Air mata Dina luruh juga, antara sedih dan bahagia. Dina sedih ternyata benar di hati Erik sudah tak ada dirinya, cintanya sudah hilang tergantikan oleh wanita lain yang sempat ia lihat sedang bermesraan dengan Erik. Namun, ia senang bisa lepas dari Erik dan bisa mengurus Aira.

Sebelum Dina mengasongkan uang dalam amplop, dia berkata pada Erik.

"Kamu harus ingat, Aira ikut denganku, sesuai perjanjian."

“Baiklah,” sahut Erik menarik amplop yang diserahkan Dina, lalu pergi dari rumah Bu Dewi.

Tak masalah jika mereka kehilangan toko, yang penting Dina bisa kembali berkumpul dengan anaknya. Kebahagiaan seorang ibu adalah bisa berkumpul dan mengurus buah hati, Saqila merasakan sendiri berapa sedihnya harus berpisah dengan seorang anak.

***

Hari ini Saqila mengajak Dina ke rumah Bu Laras, sekalian mengatakan hubungannya dengan Iwan yang belum sempat ia ceritakan pada kakaknya itu.

Ayo masuk, Nak," sambut Bu Laras ketika melihat Saqila datang.

"MasyaAllah, ini Dina?” tanya Bu Laras.

“Iya, Bu. Apa kabar?” jawab Dina, ia balas berbasa-basi.

“Pangling banget sekarang, sudah lama kita nggak ketemu, alhamdulillah ibu baik-baik saja. Ini siapa?" tanya Bu Laras ketika melihat Dina menuntun anak kecil di belakang Saqila.

"Ini anak aku, Bu. Namanya Aira. Salam sama Nenek, Sayang," perintah Dina pada anaknya, sambil mencium tangan Bu Laras. Aira pun menghampiri Bu Laras dan meraih tangannya.

"Ya Allah, cantik sekali kamu, Nak. Saking nggak pernah ketemu, sampai Ibu nggak tahu kalau kamu sudah punya anak." Bu Laras mencium kening Aira. Sudah lama Ia merindukan kehadiran anak kecil di rumahnya. Bu Laras selalu berharap Iwan segera menikah dengan Saqila dan menghadirkan cucu untuknya.

"Eh, Dina? Kapan datang ke kampung ini?" tanya Iwan yang baru keluar dari kamarnya, lalu mendekati Dina dan Saqila yang baru saja datang. Sebelah mata Iwan mengedip nakal ke arah Saqila. Yang ditatap hanya melempar senyum, membuat Iwan semakin gemas.

Sudah lama dia tak bertemu Saqila, mereka sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing, hanya bisa berkomunikasi lewat telepon. Mereka duduk bersama di kursi ruang tamu.

"Sudah hampir tiga minggu, Wan. Kamu apa kabar?" tanya Dina balik pada Iwan.

Ditatapnya lama sahabatnya itu, Dina pangling melihat Iwan. Kini Iwan menjadi laki-laki yang gagah dan terlihat dewasa.

"Hah? Sudah tiga minggu tapi baru main ke sini sekarang? Sombong sekali,” ucap Iwan.

"Semenjak bersama Saqila kabarku semakin baik," sambung Iwan sengaja mengusik Saqila.

“Bukan sombong, Wan. Sibuk bantu Saqila dan Ibu jualan,” jawab Dina.

“Oh, sibuk, sama kayak kekasih hatiku, sibuk berkepanjangan sampai lupa ada yang selalu kangen,” usik Iwan menyindir Saqila. Yang disindir hanya mesem-mesem.



“Eh, ini anak kamu, Din? Sini Sayang, siapa namanya?" Iwan memangku Aira duduk di sampingnya.

"Aira, Om. Nama Om ganteng siapa?" tanya Aira.

"Om ganteng ini namanya Iwan, kira-kira Om ini gantengnya banget apa kebangetan?" tanya Iwan pada Aira, Iwan tersenyum mendengar Aira menyebutnya 'Om ganteng'.

"Banget, Om," jawab Aira polos.

"Pantesan Ateu Saqila tergila-gila sama om," usik Iwan melirik ke arah Saqila.

"Nggak ke balik tuh," ujar Saqila balik meledek Iwan. Mereka tertawa.

"Kamu jadian sama Saqila, Wan?" tanya Dina, dia belum tahu hubungan Iwan dan Saqila.

"Iya, Din. Sebentar lagi kamu bakal jadi kakak iparku," ujar Iwan tersenyum.

"Syukurlah," ucap Dina.

Bu Laras sangat senang melihat anaknya berkumpul seperti dulu, canda dan tawa mulai meramaikan rumah Bu Laras. Ia melenggang ke dapur membuatkan minuman untuk Saqila dan Dina.

Sementara ketiga sahabat yang sudah lama tak bertemu itu mengobrol membahas masa kecil mereka.

Di akhir, obrolan mereka tertuju pada Dina, Saqila menceritakan tentang rumah tangga Dina. Bu Laras dan Iwan ikut sedih mendengar cerita Saqila, kedua anak perempuan Bu Dewi harus mengalami nasib yang sama.

"Sabar ya, Dina." Bu Laras menguatkan hati Dina.

Menjelang sore, Saqila dan Dina pamit pulang. Besok mereka harus berkemas untuk pindah ke rumah baru yang sudah mereka sewa.
Diubah oleh aisyahzshaki053
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
25-10-2021 15:19
Kejadian tak Disengaja



Barang-barang untuk dibawa pindah sudah terbungkus rapi, hari ini Saqila dan keluarganya akan mulai pindah ke kontrakan baru.

Iwan dan Bu Laras serta tetangga terdekat ikut membantu pindahan keluarga Bu Dewi ke rumah kontrakan yang lebih besar, mereka memanfaatkan sisa uang penjualan toko.



Rumah baru mereka tak begitu jauh dari rumah yang lama dan masih di kampung yang sama. Rumah mereka kini lumayan besar, ada tiga kamar yang cukup luas.



Saqila menempatkan barang-barangnya di kamar ibunya, mereka tidur sekamar. Dina dan Aira di kamar tengah, sementara Riyan di kamar belakang.



Halaman depan juga cukup luas, Saqila berencana akan membuka warung kecil-kecilan di depan rumahnya nanti. Modal utamanya, dia harus bisa mengendarai motor untuk belanja barang dagangannya. Untungnya Dina bisa mengendarai motor, Saqila bisa belajar dari kakaknya.



Subuh-subuh sekali, Bu Dewi dan anak-anaknya sudah siap akan berangkat untuk menjajakan dagangan ke pasar, dagangannya sengaja diperbanyak karena yang dagang sekarang ada tiga orang. Sementara Aira dititipkan di rumah Bu Laras, beliau sangat senang mengasuh Aira yang pintar sekali bicara dan lincah. Kadang Aira di bawa ke peternakan untuk melihat dan bermain dengan anak ayam. Aira sangat suka.



Harapan Saqila untuk keluarganya bangkit sangatlah besar, tak lupa Saqila menabung untuk perencanaan pernikahannya dengan lelaki pilihan hatinya itu.

Sebelum menikah dengan Iwan, Saqila ingin ibu dan kakaknya punya usaha yang stabil untuk biaya kehidupan mereka, apalagi Riyan masih sekolah. Dia ingin mengantarkan Riyan hingga ke perguruan tinggi, agar kelak adik bungsunya yang dibesarkan tanpa seorang ayah itu bisa membahagiakan ibu mereka, bukan seperti dirinya yang tak mengenyam pendidikan.



Kadang Saqila ragu dengan pernikahannya dengan Iwan nanti, setelah menikah pasti ia sibuk dengan keluarga barunya hingga tak lagi dapat membantu ibu dan kakaknya. Sekali pun masih bisa membantu, pasti hanya seperlunya saja.

Hal itu yang masih ia takutkan.



***



"Qila, Kakak mau jemput Aira dulu, nanti Kakak bantu kamu jaga warung," ujar Dina sepulang dari pasar.



"Iya, Kak. Nggak apa-apa, warung juga nggak terlalu ramai, jadi aku bisa sendiri, ada ibu juga. Kalau Kak Dina mau main dulu di rumah Bu Laras sama Aira juga nggak apa, biar nggak bosan di rumah terus," sahut Saqila.

"Nggak ah, aku segan, jemput Aira saja."

"Segan apa, dari dulu kita sering main di rumah Iwan," cetus Saqila.

"Iya sih, tapi lebih baik aku bantu ibu saja, siapkan keperluan buat bikin kue."

"Ya udah, salam ya buat Iwan, sama calon mertua," sahut Saqila tersenyum pada kakaknya.



Dina angguk. "Siap, Bos."

Saqila dan Dina tertawa, mereka dari kecil terbilang akur dan tak pernah memiliki masalah atau pun bertengkar. Terlebih Saqila adalah anak yang baik, selalu mengalah pada kakaknya.



Sudah menjadi kebiasaan, sepulang dagang dari pasar, Dina akan menjemput Aira dari rumah Bu Laras. Sedangkan Saqila langsung membuka warung dan jajanan anak yang dimasak di warung Saqila, ada juga warga yang menjadikan warung Saqila ini sebagai warung kopi.



Melihat keluarga Bu Laras sangat sayang pada Aira, Dina sungguh terharu. Apalagi ketika melihat Aira yang sedang bermanja dengan Iwan, seolah Dina menemukan sosok ayah untuk Aira yang selama ini tak pernah Erik berikan.



"Assalamualaikum."



"Wa ’alaikum salam," sahut Bu Laras sambil melenggang berjalan menuju ke depan untuk membuka pintu rumahnya.



"Eh Dina, mau jemput Aira ya?" tanya Bu Laras.



"Iya, Bu."



"Padahal sore saja jemputnya, Aira anteng kok sama Ibu," ujar Bu Laras.



"Takut ngerepotin, Bu."



"Repot apa, Aira baik, Ibu senang dia di sini," sahut Bu Laras yang tadi tengah sibuk memasak di dapur untuk makan siang, sementara Aira anteng menonton tivi.



Dina membantu Bu Laras memasak sebentar, selesai memasak Bu Laras harus mengantar masakannya ke peternakan untuk makan siang, hari ini suaminya dan Iwan tak pulang untuk makan siang di rumah, jadi Bu laras yang harus mengantarnya.



"Nenek ... Aira ikut," ucap Aira ketika melihat Bu Laras hendak ke peternakan mengantar masakan.



"Aira ‘kan mau pulang sama mama," ujar Dina yang melihat anaknya merengek minta diajak Bu Laras.



"Aira mau ikut, Ma." Anak Dina itu cemberut mengharap izin dari sang ibu.

"Nggak apa-apa, Din. Kamu tunggu saja sebentar, Ibu nggak lama kok, ayo Aira ikut," ajak Bu Laras pada Aira. Anak itu terlihat senang.

"Nanti di sana ngerepotin, Bu." Dina sungkan.

"Nggak, malah Iwan senang kalau ada Aira, suka sama celoteh Aira yang bawel."

"Lama nggak, Bu? Soalnya harus bantu Saqila sama bantuin ibu di rumah."

"Cuma sebentar, antar makanan saja, kalau kamu ikut juga boleh."

"Baru pulang dari pasar, Bu, gerah," tolak Dina ramah sembari tersenyum.

"Ya sudah, kamu tunggu di sini saja sebentar, kalau lapar, makan saja." Bu Laras sudah menganggap Dina seperti keluarganya sendiri.



"Iya, Bu, makasih. Kalau gitu, aku mau numpang mandi ya, Bu. Pulang dari pasar tadi gerah keringetan," sahut Dina.



“Boleh. Nanti ganti di kamar Iwan saja, kamar ibu berantakan.” Bu Laras mengambilkan handuk untuk Dina.



Setibanya di peternakan, Bu Laras menghidangkan masakannya. Suaminya dan Iwan menghampiri untuk menyantap makan siang mereka.



"Dari pagi tadi, kepalaku sakit, Bu, badan juga nggak enak," adu Iwan pada ibunya. Wajahnya terlihat pucat.

"Lho kenapa nggak pulang tadi, istirahat di rumah, minum obat," sahut Bu Laras menanggapi ucapan Iwan.

"Iya, Bu, aku nggak bisa lama-lama bantu Bapak."



"Makan dulu, Wan. Nanti diminum obat. Bapak tadi sudah suruh pulang, tapi katanya pusing banget," ujar Pak Wardi Bapaknya Iwan.

"Bapak sudah beli obat?" tanya Bu Laras.

"Sudah, Bu, tadi suruh Opi belikan, kebetulan dia juga mau ke warung tadi, tapi malah ini yang dia beli." Pak Wardi menyerahkan dua butir obat yang dibelikan anak tetangganya.

"Obat apa ini?" Bu Laras tak mengenal obat itu, tak ada merek juga, hanya dibungkus plastik bening.

"Katanya sih obat sakit kepala, coba saja diminum."

Bu Laras pun memberikan obat itu pada Iwan.

Sejak pagi Iwan mengadu badannya kurang nyaman, meskipun bapaknya sudah melarang kerja, dia tetap memaksa pergi ke peternakan. Makin siang ternyata kondisinya makin memburuk, kakinya berjalan sempoyongan dengan kepala yang sakit.



"Habis makan dan minum obat, pulang saja ya, Wan. Biar Ibu di sini bantu Bapak sebentar," ujar Bu Laras yang melihat anaknya kurang sehat. Ia lupa di rumah ada Dina yang menunggu Aira.



Iwan hanya mengangguk, meremas rambut, kepalanya terasa berat dan sakit. Selesai makan dan minum obat, Iwan berbaring sebentar, kemudian Pak Wardi mengantar Iwan pulang ke rumahnya dan menyuruh anaknya itu istirahat, hanya mengantar Iwan sebentar saja sampai depan rumah, lalu Pak Wardi kembali ke peternakan. Sementara Bu Laras masih di peternakan bersama Aira.



Sedangkan di rumah Bu Laras, Dina yang baru keluar dari kamar mandi selesai membersihkan diri, tak menyadari kedatangan Iwan di depan yang diantar bapaknya. Langsung saja Dina masuk ke kamar Iwan yang masih berkemban handuk.



Iwan berjalan masuk ke kamarnya, sakit kepalanya sedikit berkurang, berganti kantuk membuat pandangannya kabur.

Iwan berjalan menyusuri tembok rumahnya menuju kamar, tiba-tiba tubuhnya kembali seperti melayang, entah efek obat atau apa, ia tak tahu, yang jelas bendanya hampir hilang keseimbangan dan kepalanya kembali pusing.

"Obat apa yang Bapak kasih tadi, kok rasanya malah gini," gumam Iwan sambil berjalan perlahan menuju kamarnya.

Ketika membuka pintu kamar, Iwan melihat seseorang yang selalu dirindukannya.



"Saqila...." lirihnya. Ia berusaha menegaskan pandangan, meyakinkan yang ia lihat adalah kekasih hatinya.

"I-Iwan?" Dina terperanjat melihat Iwan masuk ke kamar yang tak ia kunci.

"Aku kangen." Iwan berhambur ke arah perempuan yang di anggapnya Saqila itu. Ia yakin pandangannya tak salah, itu adalah Saqila.

Dina tersentak melihat Iwan tiba-tiba memburu ke arahnya.

"Dan, ini aku, aku bukan Saqila." Dina berusaha meyakinkan Iwan yang terlihat aneh dengan matanya yang merah.

"Ka-kamu sakit, Wan?"

"Aku rindu, Qila." Tanpa ragu Iwan memeluk Dina yang masih memegang baju yang belum sempat ia kenakan.



“A-aku bukan Saqila, Wan.” Dina merasa ada yang aneh dengan Iwan.



“Kamu kelihatannya sakit, Wan. Istirahatlah,” ucap Dina, ia berniat ke luar dari kamar sahabat kecilnya itu.



Namun, Iwan tak mendengar ucapan Dina, Iwan bernafsu tanpa mendengar ucapan Dina. Pandangannya yang mulai kabur dikuasai kantuk dan rasa aneh lainya, meski pun kepalanya terasa berat, ia semakin kesetanan memeluk dan menciumi Dina yang ia anggap Saqila.



Dina berusaha mendorong tubuh Iwan, tetapi tangan lelaki itu mendekap erat. Ditariknya Dina ke atas tempat tidur, suaranya lirih mendesah menggumamkan nama Saqila yang sangat Ia rindukan.

Handuk yang dikenakan Dina sudah dilempar jauh di lantai, bisikan cinta dan rindu terus Iwan katakan. Sudah tak mampu lebih lama menunggu dan mendamba curahan kasih dari perempuan yang begitu ia cintai.



“Jangan, Wan.” Awalnya Dina sekuat tenaga mendorong Iwan, hingga lelaki itu terguling di sampingnya. Namun Iwan kembali mendekati, padahal bisa saja Dina lari, karena keadaan Iwan tak terlalu agresif dan cenderung lemah sempoyongan.



Akhirnya Dina tak menolak, dia hanya diam membiarkan Iwan yang berada di alam bawah sadarnya. Memejamkan mata, seolah menikmati segala kelakuan laki-laki itu. Entah kenapa, hal itu sangat dirindukan oleh Dina yang sudah lama tak ia dapatkan dari Erik.

Iwan makin menggila, karena merasa perempuan yang ia anggap Saqila tak ada penolakan, ia terus berbuat lebih jauh tanpa menyadari siapa yang kini ia cumbu.



Segala yang diperbuat Iwan disambut hangat oleh Dina, sejenak ia lupa pada Saqila yang sebentar lagi akan dinikahi Iwan. Ia sendiri ikut bernafsu membalas tindakan Iwan, meskipun kekasih Saqila itu tak sepenuhnya sadar, tapi Iwan mampu memuaskannya.

***

Bu Laras bergegas pulang, dia lupa kalau Dina menunggu Aira. Pak Wardi mengantar Bu Laras dan Aira, jika mereka jalan kaki pasti lama di jalan, kasihan Dina menunggu lama. Rumah Bu Laras sunyi, matanya mencari-cari keberadaan Dina, hingga dia sampai di dinding kamar anaknya.

Bu Laras mendengar suara aneh, suara desahan dan rintihan seorang perempuan. Hati Bu Laras mulai tak karuan, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam sana.

Pintu kamar Iwan tak tertutup, malah terbuka sangat lebar.

"Astagfirullah aladzim! Apa yang kalian lakukan!" jerit Bu laras histeris, melihat Dina dan Iwan tengah bergumul tanpa sehelai benang pun menyelimuti tubuh mereka.

Bu Laras segera keluar dari kamar Iwan menghampiri Aira yang sedang berjalan menuju ke kamar anaknya itu, khawatir anak kecil itu melihat sesuatu yang tak layak dilihat di dalam sana.

"Ada apa, Nek? Kenapa Nenek menangis?" tanya Aira polos yang heran melihat Bu Laras menangis.

Bu Laras menuntun tangan Aira menjauh dari kamar Iwan tanpa menjawab pertanyaan polos Aira.

Dina terkejut melihat kedatangan Bu Laras yang tiba-tiba ada di kamar Iwan, segera didorongnya Iwan yang masih berada di pelukannya, Dina mulai panik dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

Untuk sesaat, Dina tertegun. "Apa yang aku lakukan?"

Debaran dadanya melonjak makin pesat, ia bingung harus bagaimana. Tubuh Iwan yang sesaat tadi mampu memuaskan rasa haus akan belaian seorang suami ia tutup dengan selimut yang ada di sana.

Ditatapnya wajah Iwan yang terbaring lemas dan matanya terpejam. Dina bertanya sendiri, apa laki-laki itu sadar dengan perbuatan yang baru saja mereka lakukan.

Selesai berpakaian lengkap, Dina mencari Bu Laras. Didapatinya wanita itu sedang menangis di ruang tamu memeluk Aira. Menatap ke arah Dina dengan penuh rasa kesal.
profile-picture
profile-picture
khuman dan gajah_gendut memberi reputasi
2 0
2
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
25-10-2021 15:20

Takut Kehilangan

"Apa yang kalian lakukan, Dina? Kenapa kalian jadi begini?" Bu Laras menuntut jawab. Napasnya terengah, tak kuasa menahan sebak melihat kejadian menjijikan tadi.

"Maafkan aku, Bu." Dina bersimpuh di kaki Bu Laras, dia mulai menyesal dengan apa yang dilakukannya.

"Apa yang salah dengan kamu, Dina? Kenapa kamu tega melakukah itu, kamu tahu Iwan akan menikah dengan Saqila,” lirih Bu Laras yang terisak, tangannya mengusap kasar pipinya yang dipenuhi air mata.

"Aku khilaf, Bu. Maafkan aku," sahut Dina yang mulai ikut menangis.



"Apa Iwan sengaja melakukan itu? Apa Iwan paksa kamu?"

Dina menggeleng, ia sadar kalau itu bukan salah Iwan, karena Dina melihat sendiri kondisi laki-laki itu seperti halusinasi.

"Aku nggak tau, Bu, tiba-tiba Iwan masuk kamar, aku-aku baru selesai mandi dan itu terjadi begitu saja waktu Iwan pulang ...." Dina menangis mengingat hal tadi.

"Bagaimana perasaan Saqila jika dia tahu, orang yang dicintainya berkhianat dengan kakaknya sendiri?" ucap Bu Laras yang masih menangis.

"Iwan nggak berkhianat, Bu, dia anggap aku Saqila." Dina terisak penuh penyesalan.

"Sama saja, pasti Saqila akan menganggap itu pengkhianatan, apa kamu yakin Saqila akan memaafkan kejadian ini dan mau menerima Iwan?"

Dina menggeleng, ia tak yakin adiknya itu bisa menerima begitu saja peristiwa ini, tapi ia tetap berharap Saqila mau memaafkannya karena itu bukan disengaja.

Harapan Bu Laras hancur ingin bermenantukan Saqila. Beberapa lama Dina masih menangis dan bersimpuh di hadapan Bu Laras, ia mulai kelimpungan. Bagaimana jika Saqila tahu?

Keduanya terdiam dalam kegelisahan masing-masing.

***

Iwan tersadar, entah tadi ia pingsan atau tidur dan mendapati dirinya tak berpakaian, dia berpikir sejenak mengingat-ingat apa yang terjadi. Kepalanya yang tadi ketika pulang sempat membaik dan berganti kantuk, tapi setelah ia tidur, kepalanya kembali sakit dan badannya terasa pegal. Kemudian mengingat sesuatu.

"Saqila," lirihnya. Iwan ingat bahwa tadi sempat bergumul dengan kekasihnya. Khawatir Saqila marah dan kesal atas perbuatannya yang di luar batas. Iwan paham betul bagaimana Saqila, jangankan melakukan hal sejauh itu, saat Iwan iseng ingin menciumnya pun pernah Saqila marah dan tak bisa diajak komunikasi beberapa hari.

Segera Iwan kenakan pakaian yang berserakan di lantai kamarnya, ia berjalan sempoyongan untuk mencari Saqila dan akan meminta maaf. Di ruang tamu, Iwan melihat Dina yang sedang bersimpuh di dekat Bu Laras yang menangis pilu.

"Ada apa, Bu. Kenapa Ibu menangis? Mana Saqila?" tanya Iwan dengan tatapan serius.

Bu Laras mendongak, bangkit dan melayangkan tangannya.

Plak! Pipi Iwan mendapat hadiah spesial dari sang ibu.

"Bu...." Iwan memegang pipinya, dia masih belum mengerti kenapa ibunya melayangkan tamparan padanya. Kepalanya belum sepenuhnya reda dari rasa sakit, kini ditambah dengan tamparan kuat dari sang ibu yang berhasil menciptakan kilatan di penglihatannya.

"Apa kamu sadar, Wan. Apa yang sudah kamu lakukan dengan Dina?" bentak Bu Laras sangat marah.

Iwan masih belum bisa menangkap ucapan ibunya itu.

"Bagaimana perasan Saqila jika tahu kelakuan kalian tadi!” teriak Bu Laras lagi mengeluarkan marahnya.

“Aku nggak ngerti apa maksud Ibu,” sahut Iwan masih bingung.

“Apa yang kamu lakukan tadi dengan Dina, Wan, apa kamu sengaja mengkhianati Saqila?” Bu Laras kembali menangis histeris.

"Menghianati Saqila gimana maksud Ibu?"

"Kamu berzina dengan Dina, Wan, apa kamu lupa?!"

“Dina? Ta-tapi itu Saqila, Bu.”

"Di rumah ini nggak ada Saqila, Wan. Kamu berzina dengan Dina di sini, di rumah ibu, ada apa dengan kalian?” Bu Laras semakin meraung.

“Nggak mungkin, tadi, tadi aku lihat Saqila ada di kamar aku, Bu, dan ...." Iwan mulai panik dan langsung bertanya pada Dina.

"Din! Mana Saqila?"

Dina membisu, di rumah itu sama sekali tak ada Saqila, ia tak bisa menjawab apa pun.

"Jawab, Dina! Mana Saqila!" Nada suara Iwan meninggi.

"Yang kamu gauli Itu Dina, Iwan. Bukan Saqila!” raung Bu Laras masih tak terima dengan apa yang di lakukan anaknya.



"Nggak, Bu. Nggak mungkin, aku yakin itu Saqila! Aku lihat dan rasakan sendiri, dia ...." Tubuh Iwan menggeletar, sadar kalau Saqila tak akan terima atau melakukan hal itu dengannya. 'Aku memang janda, Wan, tapi aku nggak mau harga diriku dipandang rendah orang lain', kata Saqila itu terngiang di telinganya.

“Sekali pun itu Saqila, apa pantas kamu melakukan hal itu, Wan?”

“Itu-itu Saqila, Bu.” Sekuat hati Iwan tak terima dan menepis ucapan ibunya, meski ia sadar ada yang salah.

"Apa Saqila bisa maafkan perbuatan kamu ini, Wan, apa yang akan kamu katakan sama dia?" tanya Bu Laras dengan perasaan kecewa.

Iwan mematung, ia sendiri kebingungan dan merasakan ketakutan jika benar pembuatnya itu bukan dengan kekasih hatinya.

"Dina, kenapa kamu nggak menolak, aku sama sekali nggak sadar kalau ...." Iwan meremas kepalanya yang kembali berdenyut. "Apa kamu sengaja, Dina?"

Dina menunduk makin dalam, ia takut memandang wajah laki-laki yang telah menjamahnya tanpa kesadaran.

"Harusnya kamu sadarkan aku, Dina, bukan diam saja!" Iwan marah, napasnya turun naik dipenuhi emosi yang memuncak.

Pandangan Iwan kembali buram, dadanya sesak, dengan denyutan kepala yang menusuk-nusuk. Ia terhitung ke belakang sembari meremas rambut dan penglihatannya makin gelap.

Bruuk! Iwan tersungkur di lantai.

"Iwan!" Bu Laras dan Dina serentak berhambur ke arah laki-laki yang tak sadarkan diri. Tubuhnya panas dan wajahnya pucat.

Iwan dilarikan ke rumah sakit, ia syok dengan kejadian hari ini, kondisi tubuhnya yang kurang sehat, bertambah sakit saat mengetahui kenyataan yang sedang terjadi.

Dina ikut mengantar ke rumah sakit dengan perasaan bersalah, bayang-bayang kesedihan dan tangisan Saqila bermain di otaknya. Begitu juga Bu Dewi, pasti marah besar jika tahu kejadian ini.

Bu Laras tak henti menangis meratapi nasibnya, memikirkan masa depan anaknya nanti, dan aib yang harus ia tanggung andai hal itu sampai tersebar dan didengar warga. Ia terus menyalahkan diri sendiri dan menyesal membiarkan Dina berlama-lama di rumahnya.

***

Iwan sudah siuman, memanggil ibunya lirih. Bu Laras yang dari tadi menunggu Iwan, masih berlinang air mata, sangat sulit bagi ibunya Iwan untuk menerima kenyataan.

"Bu, Saqila?" Iwan ingin bertanya apa kekasihnya itu sudah tahu kabar tentang dirinya.

Bu Laras menggeleng, belum ada yang ia kabari tentang Iwan dan Dina.

“Ibu harus bagaimana, Wan? Apa yang harus Ibu katakan pada Saqila dan ibunya kalau dia tahu soal kejadian yang kamu lakukan?"

"Aku cinta Saqila, Bu. Aku mohon rahasiakan ini dari Saqila," pinta Iwan memohon pada Bu Laras.

"Rahasiakan bagaimana? Apa kamu mau membohongi Saqila?"

"Aku nggak mau pisah sama Saqila, aku nggak bisa, aku bisa gila."

Dina yang menunggu di luar, sesak dadanya mendengar ucapan Iwan. Bagaimana dengan nasibnya? Apa yang harus dia lakukan jika nanti dirinya hamil?

"Lalu Dina bagaimana?" sahut Bu Laras.

"Aku nggak peduli, itu bukan salahku, Bu. Aku nggak mau pisah sama Saqila, aku akan segera nikah dengan Saqila," paksa Iwan pada ibunya.

"Bagaimana jika nanti Dina hamil dan Saqila tau semuanya?" Bu Laras menatap tajam pada Iwan.

Iwan tak mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan ibunya, setengah sadar ia melakukan hal itu, tapi ia merasa penglihatannya tak salah, yang dilihatnya adalah Saqila. Entah obat apa yang ia minum hingga ia berhalusinasi? Dan seharusnya Dina menolak saat hal itu terjadi, ia kecewa dan sangat membenci sikap Dina.

***

Saqila menghubungi Dina, sudah agak lama kakaknya menjemput Aira ke rumah Bu Laras tapi tak kunjung pulang.

"Kak Dina di mana?" tanya Saqila di talian telepon, ketika Dina sudah mengangkat panggilannya.

"A-aku di rumah sakit," jawab Dina gelagapan, dia sangat takut menghadapi reaksi Saqila jika tahu apa yang sudah dia lakukan bersama Iwan.

"Siapa yang sakit?" tanya Saqila.

"Iwan sakit, Saqila," sahut Dina, perasaannya masih berkecamuk.

“Iwan sakit? Kenapa nggak bilang?"

"Iwan pingsan mendadak, aku kalang kabut tadi dan nggak sempat kabari kamu, sekarang dia sudah siuman." Dina menjawab dengan gementar.

"Ya sudah, sekarang aku ke sana."

Mendengar Iwan sakit, Saqila segera pamit pada Bu Dewi dan meminta ibunya itu menjaga warung Saqila yang sedang ramai dikunjungi pembeli. Saqila naik ojek menuju ke rumah sakit.

Sampainya di sana, Saqila melihat Dina yang sedang duduk memeluk Aira di ruang tunggu.

"Dia di dalam sama Bu Laras, masuklah," tutur Dina.

Setelah menemui Dina sebentar, Saqila masuk ke ruangan Iwan. Di samping Iwan, Bu Laras duduk menunggu, air mata Bu Laras seperti tak mau kering.

"Bu, kenapa nggak telepon Qila kalau Iwan masuk rumah sakit?" tanya Saqila pada Bu Laras yang tengah terisak.

Saqila mengusap lembut punggung Bu Laras lalu menyalami tangan calon mertuanya itu. Bu Laras tersenyum getir, tak menjawab pertanyaan Saqila, hanya mengusap-usap panggung tangan Saqila, hatinya perih.

"Maaf, Nak, tadi Ibu bingung dan nggak ingat kamu." Bu Laras berbohong.

Saqila menghampiri Iwan, duduk di samping ranjangnya.

Iwan langsung memeluk saat Saqila tak jauh dari sisinya. Rasa sesal makin menyeruak makin dalam, rasa takut ditinggalkan Saqila datang menghantui.

"Sakit apa, Wan? Kenapa nggak bilang aku," ucap Saqila yang masih dipeluk Iwan. Ia sebenarnya kurang nyaman dipeluk dengan begitu erat di hadapan Bu Laras.

"Aku rindu kamu." Iwan tak kuasa menahan sebak, air matanya luruh membasahi pundak Saqila.

Perempuan berlesung pipi itu melerai pelukan, mengusap air mata di wajah kekasihnya yang pucat.

"Kenapa sampai nangis begini, aku akan di sini jaga kamu." Saqila menenangkan hati Iwan.

Iwan menatap dalam-dalam wajah manis yang memberinya semangat, memberinya cinta dan hati yang berbunga saat ia kehilangan Saqila sebelumnya. Ia tak sanggup jika harus kehilangan orang yang begitu ia cintai untuk kedua kali.

"Aku takut kehilangan kamu." Iwan berkata lirih.

"Kamu ini ada-ada saja, aku di sini, dan nggak akan tinggalkan kamu." Saqila malah tertawa lucu.

Kemudian tawa Saqila berubah saat menyadari sikap Iwan yang tak biasa, laki-laki itu terus menatapnya tanpa jeda dan tak banyak bicara.

Begitu pula dengan Bu Laras yang juga bersikap lain, Saqila merasa ada sesuatu yang terjadi tanpa sepengetahuan dirinya. Tadi di luar mata Dina juga terlihat bengkak habis menangis, ia tak tahu apa yang sedang terjadi.

"Ada apa, Wan? Ada yang mau kamu bilang ke aku?" tanya Saqila.

Ruangan itu hening, tak ada yang menyahuti pertanyaan Saqila, semua membisu menyembunyikan apa yang tak seharusnya di ketahui Saqila.

Iwan memeluk Saqila lagi dan kini semakin erat, apa Saqila masih akan mencintainya jika kelak Saqila tahu kejadian itu? Apa Saqila akan tetap ada di sampingnya? Apa Saqila mau melanjutkan untuk menikah dengannya saat mengetahui ia telah tidur dengan Dina, kakaknya sendiri?

Iwan benar-benar takut membayangkan hal itu.

***
Diubah oleh aisyahzshaki053
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN
25-10-2021 15:21

Kejujuran yang Menyakitkan

Belakangan ini, sikap Iwan pada Saqila agak berbeda dari biasanya, tak seceria dulu. Biasanya Iwan senang bergurau dan mengusik pujaan hatinya, kini lelaki berbadan kekar itu lebih banyak diam.

Saqila yang keheranan sering bertanya, mungkin Iwan sedang ada masalah. Hari ini mereka bertemu di tempat biasa, di sungai ujung kampung. Selain tempatnya dingin, juga tenang untuk mendinginkan perasaan.

“Ada apa?” tanya Saqila saat mereka sudah berada di saung, setelah kejadian itu beberapa hari berlalu.

“Apanya?” Iwan selalu menyembunyikannya dari Saqila.

“Kamu jadi pendiam, masih sakit?” Begitu kentara perbedaan sikap lelaki itu, yang selalu menggoda dan menghadirkan senyum di sudut bibirnya.

“Masih nggak enak badan,” jawab Iwan tak jujur. Suasana hati yang diliputi bimbang, takut dan bersalah itulah yang menyebabkan sikapnya seperti itu.

“Kita akan menikah, Wan, aku harap kamu jujur sama aku kalau ada apa-apa. Aku ingin jadi orang pertama yang mendengar keluh kesah kamu, kesedihan kamu. Berbagi bukan hanya rasa suka, tapi juga rasa sedih.” Saqila meyakinkan Iwan bahwa ia akan menjadi pendamping yang selalu memberinya tempat ternyaman.

Tak kuasa mendengar hal demikian, Iwan memalingkan wajah, menyembunyikan kesedihan dari Saqila. Ia yang berbadan kokoh nyatanya rapuh jika berurusan dengan urusan hati. Air mata perlahan menitik tanpa permisi.

Saqila turun dari tempat duduknya, beralih ke arah Iwan yang tak berani menatapnya. Kini posisi Saqila tepat di depan Iwan, melihat sisa air mata yang disembunyikan Iwan.

Anak dari pasangan Dewi dan Hamid itu duduk mendekati Iwan, mengusap sisa embun yang menghiasi wajah lelakinya itu. Ia menyadari ada yang Iwan sembunyikan, tapi untuk saat ini, ia tak akan memaksa kekasihnya itu untuk jujur. Yakin akan ada saatnya nanti Iwan mau berbagi tentang masalahnya.

“Mau berenang? Atau mau aku dorong ke sungai kayak dulu?” goda Saqila yang sebenarnya tak tahan dengan diamnya Iwan.

Iwan menggeleng. “Nggak, aku Cuma nggak mau jauh dari kamu.”

Saqila sengaja menjauh menuju sungai. “Kejar sini kalau nggak mau jauh!” Saqila menjulurkan lidah.

Iwan tersenyum getir, pahit rasanya melihat h Saqila yang lembut dan tulus.

Tak ada respons dari Iwan, Saqila kembali mendekat dan menuntun laki-laki itu ke arah sungai.

“Aku di sini buat hibur kamu, jadi jangan pasang wajah sedih dan aneh, kalau nggak aku kabur nanti.” Saqila mendelik dan berbalik membelakangi Iwan, ia menatap aliran sungai yang tenang. Sedikit kesal karena tak mendapat cerita apa pun dari sikap laki-laki yang ia cintai.

“Mungkin aku kangen banget sama kamu, jarang ketemu, kamu selalu sibuk.” Iwan memeluk Saqila dari belakang.

Saqila lumayan terkesiap dengan tingkah laki-laki itu, tapi ia berusaha menetralkan perasaan agar gemuruh di dadanya tak melonjak.

“Aku suka tempat ini, apalagi ditemani kamu, jadi biar begini saja.” Iwan memejamkan mata, menikmati wangi Saqila yang mungkin akan meninggalkan suatu hari nanti saat kejadian itu terungkap.

Saqila menyentuh dan memegang jemari Iwan yang melingkar di pinggangnya. Mencoba mencairkan suasana dengan bercerita apa saja guna menghibur Iwan. Namun, sikap lali-laki itu tetap dingin, tak sehangat dulu.

***

Begitu pun di rumahnya, sikap Dina juga ikut tak biasa, kakaknya selalu menghindar dan tak mau berhadapan terlalu lama dengan Saqila.

“Kak Dina kenapa sih, Bu, kok sikap dia jadi aneh?” Saqila mengungkapkan unek-unek pada sang Ibu.

“Aneh kenapa? Biasa saja kalau ibu lihat.”

“Aku ngerasa Kak Dina selalu menghindar.” Saqila memotong sayuran bersama ibunya itu agak kesal.

“Kamu tau Dina cerai sama Erik, mungkin dia sedih ingat masa lalu.”

“Beda aja, Bu, waktu baru cerai aja nggak gitu kok.”

“Sudah, jangan mikir macam-macam, nanti juga dia biasa lagi.”

“Nggak Kak Dina, nggak Iwan, sama-sama aneh ke aku, apa salah aku coba?” Saqila menggerutu sendiri.

Bu Dewi menggeleng, membiarkan saja anak perempuannya bergumam sendiri.

Segala pertanyaan sudah Saqila ajukan pada Dina, ia tak tahan tinggal satu rumah tapi saling diam dan menghindar. Sayangnya Dina hanya tersenyum hambar dan mengatakan tak ada apa-apa. Kecurigaan coba Saqila tepis, berusaha tetap optimis menjalani kesehariannya seperti biasa tanpa bertanya lagi.

Ada saatnya manusia ingin menenangkan hati, ingin sendiri merenungi atau mengenang sesuatu, itu yang Saqila pikir tentang perubahan sikap Dina dan Iwan beberapa hari ini.

Sementara Dina sendiri, semakin hari semakin diliputi rasa takut dan rasa bersalah, dia lebih takut lagi dengan kemungkinan yang bisa saja terjadi nanti. Ya, bisa saja dia hamil. Sebelum itu terjadi, Dina harus memberanikan diri untuk jujur pada Saqila dan ibunya, tapi ia bingung bagaimana harus memulai.

***

Malam itu Saqila dan ibunya baru selesai menutup warung, mereka masuk ke rumah untuk istirahat. Bu Dewi merebahkan diri di kursi ruang tamu; Saqila ke dapur membuatkan teh hangat untuk ibunya.

Anak dan ibu itu kemudian bercengkerama, mengobrol ringan sebelum masuk ke kamar masing-masing. Saqila banyak bercerita tentang masa depannya bersama Iwan nanti, selalu mengharapkan agar hubungannya dengan Bu Dewi tetap dekat setelah menikah nanti.

Mengingat jarak yang diciptakan antara keduanya saat pernikahan bersama Wahyu dulu, harapannya kali ini sangat luas, yakin Iwan tak akan bersikap seperti mantan suaminya itu. Karena mereka juga sudah kenal dari sejak lama, jadi hubungan mereka akan terjalin dengan sangat baik.

Bu Dewi antusias mendengarkan cerita dan harapan anaknya itu, Saqila sudah terlalu sering berkorban dengan perasaannya, kini saatnya anaknya itu mendapatkan kebahagiaan dari laki-laki yang dicintai.

Sementara di kamar, ada Dina yang diliputi perasaan gelisah, antara harus jujur atau menyimpan saja semua sampai akhir, tapi sampai kapan ia mampu sembunyi dan lari dari Saqila?

Bagaimana kalau sampai ia hamil? Mungkin hal itu akan lebih menyakiti perasaan adiknya, apalagi jika sampai Iwan menikah dengan Saqila dan mengetahui fakta perbuatannya, semua akan hancur.

Ya, satu-satunya cara adalah ia harus jujur dan segera mengatakan semua sebelum terlambat. Lebih baik Saqila tahu sekarang sebelum resmi menjadi istri Iwan dan akan lebih membuat Saqila hancur.

Dina masih mondar-mandir di kamarnya, menimbang-nimbang keputusan yang harus dia lakukan, beberapa kali dia menggigit kuku jari, masih ragu dengan keputusan yang akan diambil.

Akhirnya setelah berpikir banyak kali, dia siap dengan keputusannya dan siap menerima amarah dari ibunya juga Saqila Itu semua ia lakukan agar tak terlalu memperparah keadaan dikemudian hari. Dengan melepas napas berat, Dina menuju ke ruang tamu, di sana ibunya masih bersembang dengan Saqila.

“Dina, belum tidur?” tanya Bu Dewi yang melihat anak sulungnya itu menyembul dari kamar.

“Sini, Kak, ngobrol,” timpal Saqila mengajak kakaknya itu bergabung.

Dina perlahan mendekat, ia menghadap Saqila, menatap lama, kemudian duduk bersimpuh di lantai memegang kaki adiknya seraya meminta maaf. Bu Dewi dan Saqila bersitatap melihat tingkah Dina.

"Kenapa, Kak? Ada apa?" tanya Saqila memegang tangan Dina dan memintanya untuk duduk di sampingnya.

Dina malah menangis meraung-raung memeluk kaki Saqila.

“Lho, kamu kenapa, Dina?” Bu Dewi makin heran melihat Dina malah menangis.

"Maafkan aku, Saqila. Aku sudah melakukan kesalahan sama kamu, aku khilaf, maafkan aku!" Tak ditahan lagi, Dina memulai niatnya meminta maaf.

"Maksud Kak Dina apa? Kenapa menangis dan minta maaf?” tanya Saqila yang tak mengerti maksud kakaknya.

“Aku khilaf,” ucap Dina sembari tak henti menangis.

“Coba Kak Dina cerita pelan-pelan dan duduk di atas,” pinta Saqila sambil mengangkat pundak Dina, tapi katanya itu bergeming, tak mau beranjak dan terus memeluk lutut Saqila.

“Aku berdosa sama kamu, Qila, aku dan Iwan nggak sengaja melakukan pembuatan hina, aku ... aku nggak niat melakukan itu, aku benar-benar khilaf.”

Perasaan Saqila tak enak, tapi ia belum sepenuhnya menangkap ucapan Dina.

“Maksud Kak Dina apa? Aku belum mengerti.”

Dina dengan terisak menceritakan kejadian dengan Iwan waktu itu, segala kejadian awal hingga peristiwa itu terjadi ia ceritakan segamblangnya. Dina sadar kalau Saqila dan ibunya akan marah besar, tapi ia sudah siap. Dina terus memegang kaki Saqila dan berkali-kali meminta maaf.

Seperti suara petir datang menyambar, darah di tubuh Saqila bergejolak. Entah dia sedang bermimpi atau tidak, perih mendengar cerita Dina, hatinya panas, amarahnya meluap.

Bu Dewi yang juga mendengar perkataan Dina ikut menahan geram, dengan marah Bu Dewi menampar Dina. Dia Cumiik memaki Dina yang menangis tersungkur terkena tamparan.

"Apa kamu sudah gila, Dina? Kenapa kamu melakukan ini pada adikmu sendiri, hah? Kurang apa Saqila padamu, segalanya dia lakukan untuk membantu kamu, tapi balasan ini yang kamu berikan padanya, hah?" maki Bu Dewi pada Dina dengan wajah memerah.

Tubuh Dina yang masih tersungkur diguncang-guncang oleh Bu Dewi, terus mempertanyakan kenapa perbuatan itu harus terjadi.

“Aku tau itu salah, Bu, tapi aku nggak bisa menolak, Iwan terus memaksa, dia pikir aku Saqila.” Dina menangis tersedu.

Saqila hanya mematung, hatinya hancur. Bagaimana mungkin kedua orang yang dia percaya yang dia sayangi tega menghianati kepercayaannya. Tubuhnya lemas dan bersandar di kursi tanpa tenaga, untuk bicara saja ia tak kuat. Menatap kosong dengan air mata yang mulai berjatuhan, bagai ada batu besar yang melekat di tenggorokan. Saqila terdiam, larut dalam rasa yang bercampur tak karuan.

"Aku nggak sengaja, Qila. Semua terjadi begitu saja," jelas Dina mengulang ceritanya, tangisnya pecah, kaki Saqila tak dilepaskannya.

"Iwan memintaku menyembunyikan ini dari kamu, tapi aku takut kalau nanti aku hamil, kamu akan lebih sakit lagi, Saqila," lanjut Dina.

Tak ada yang bisa Saqila ucapkan, dia menangis menutup mulutnya. Pantas saja sikap Iwan terasa lain tiap kali bertemu dengannya, ternyata ini alasannya. Begitu juga dengan Dina yang sama bersikap aneh, ternyata ada penyebabnya.

Saqila berlari masuk ke kamar dan mengunci diri, dia membiarkan ibunya memaki Dina. Kali ini dia benar-benar kalut, entah keputusan apa yang harus dia buat untuk menyelesaikan masalah ini. Di satu sisi Saqila menyayangi Iwan, di sisi lain Dina adalah kakaknya, salah satu dari mereka harus berkorban.

Hingga menjelang subuh, Saqila tak dapat memejamkan matanya, ingin segera bertemu Iwan. Saqila ingin tahu dari keduanya, bukan hanya dari pernyataan sepihak. Sampai adzan subuh terdengar, matanya tetap terbuka, hilang sudah kantuknya karena memikirkan masalah itu.
Diubah oleh aisyahzshaki053
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia