Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
207
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/615c71382dc71b50cc744e01/denting-waktu-dalam-ruang-sepi
Untuk kamu yang di sana, apa kabar? Apa kau masih mengingatku? Apakah kau masih ingat kapan terakhir kita bertemu? Aku ... ya, aku hanya rindu. Kau tahu, aku tak pernah menyalahkan hujan untuk setiap rintik yang menghapus jejakmu. Aku pun tak pernah menyalahkan hembus angin yang menghilangkan aroma hadirmu. Dan, aku tak pernah menyalahkan alunan waktu yang secara perlahan merenggutmu.
Lapor Hansip
05-10-2021 22:37

Denting Waktu dalam Ruang Sepi

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Denting Waktu dalam Ruang Sepi

Untuk kamu yang di sana, apa kabar? Apa kau masih mengingatku? Apakah kau masih ingat kapan terakhir kita bertemu? Aku ... ya, aku hanya rindu.

Kau tahu, aku tak pernah menyalahkan hujan untuk setiap rintik yang menghapus jejakmu. Aku pun tak pernah menyalahkan hembus angin yang menghilangkan aroma hadirmu. Dan, aku tak pernah menyalahkan alunan waktu yang secara perlahan merenggutmu.

Tak banyak waktu untukku menatapmu kala itu. Yang aku sesalkan, kenapa dulu kau tak pernah berpaling ke belakang, melihatku, meski hanya sekali? Sungguh, kepergianmu menguliti asaku yang tersudut di relung hati.

***

“Mel, aku mau bicara sebentar,” ucapnya tiba-tiba sembari menghampiriku. Kami baru saja selesai menghadiri acara kelas, buka puasa bersama di halaman kampus sebelum libur panjang menjelang hari raya Idul Fitri sekaligus libur semester dua menuju semester tiga.

Kami berada di depan teras masjid kampus, baru saja selesai melaksanakan shalat maghrib bersama. Aku yang sedang memakai sepatu, seketika menoleh. Alif tiba-tiba duduk di sampingku dengan jarak beberapa senti yang sengaja dia pertimbangkan, karena dia memang paham betul tentang aturan agama. “Eh, Alif. Kenapa?” Tanyaku seolah tak tahu apa yang akan diucapkannya. Sejujurnya, aku sudah menebak arah pembicaraanya. Dan aku yakin, tebakanku tak akan melenceng.

“Aku mau pamit,” tukasnya tanpa diselimuti raut kesedihan. Betul saja, tebakanku memang benar. Aku memang sudah tahu semuanya. Lagipula, siapa yang tidak tahu, satu kelas bahkan sudah mengetahuinya. Apalagi aku, yang selama ini diam-diam mengaguminya.

Aku terdiam sejenak, menoleh ke arahnya. Meski tanpa senyuman, air mukanya tetap menyenangkan. Kuperhatikan kembali, dia memakai kemeja biru gelap berlengan pendek dengan celana panjang berwarna cream. Sekali lagi kuperhatikan, rambut di sekitar dahinya masih tampak setengah basah, sisa dari air wudhu. Aku tersenyum, bergegas mengalihkan kembali pandanganku.

“Mel?” panggilnya sedikit bingung. Sepertinya dia menunggu jawaban dariku, bukan hanya sekadar tatapan menyelidik dan segores senyum. 

“Ah ... maaf, Lif. Kapan berangkatnya?” Tanyaku berpura-pura tidak tahu.

“Besok, Mel.”

“Besok? Sungguh?” Aku tak bisa menyembunyikan raut muka terkejut. Kali ini memang bukan sekadar pura-pura, aku sungguh tidak tahu. Selama ini aku mengira dia akan berangkat minggu depan.

Dia hanya mengangguk tanda mengiyakan pertanyaanku.

“Loh, bukannya masih satu minggu lagi?” Tanyaku penasaran.

“Loh, kamu tahu dari mana?” Tak kalah bingung, dia menimpali pertanyaanku.

Aku hanya tersenyum dengan pandangan mengeliling ke segala arah, berusaha  mencari alasan yang sedikit masuk akal. Sejujurnya, selama ini aku selalu mencari tahu apapun tentang dia, termasuk jadwal keberangkatannya ke Malaysia, kampus barunya. Diam-diam aku mengirimi pesan kepada adiknya lewat direct message Instagram, hanya untuk menanyakan kapan kakaknya akan berangkat. “Emm ... aku tak sengaja menguping dari perbincangan anak kelas,” jawabku asal.

Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil bergumam pelan, “Perasaan aku gak ngasih tahu ke siapapun.”

Buru-buru kualihkan topik, “Lupakan saja, lanjutkan saja pembicaraanmu.”

Dia terdiam sejenak, seolah masih mengira-ngira ucapakanku sebelumnya. “Ah, benar. Awalnya memang aku akan berangkat minggu depan. Namun, tiba-tiba saja jadwal berubah, lebih cepat dari perkiraan. Jadi aku akan berangkat besok.” Pungkasnya ringan.

Aku menghembuskan napas perlahan dan menatapnya lirih, “Setelah ini, apa kita masih berteman?”

“Tentu saja, Melati! Kau tak usah meragukan pertemanan kita.”

Sekali lagi aku menghembuskan napas berat dan berusaha menyunggingkan senyum, “Alif, apakah kau pernah mendengar fakta di balik persahabatan laki-laki dan perempuan?”

Dia terlihat merenung sejenak kemudian menggelengkan kepala tanda tidak tahu.
Aku hanya tersenyum dan berusaha kembali menghadapi kenyataan, “Lif, jangan lupakan aku, ya. Kau janji?”

Dia balas tersenyum, “InsyaAllah.

“Kau baik-baik di sana ya, Alif. Do your best. I’ll wait for you.”

Dia menganggukkan kepala, “Kau juga, Mel. Kau harus selalu baik-baik saja, jangan membuatku mengkhawatirkanmu. Setelah ini, jarak akan terbentang lebar di antara kita.”

“Kau ... peduli kepadaku?”

“Ya, tentu saja.” Jawabnya yakin.

Dan itulah pertemuan terakhir kami. Akankah takdir memberi jalan untuk kami saling tertaut kembali?

Aku dan Alif berteman baik sejak pertama menjadi mahasiswa baru. Di kampus ini, salah satu kampus negeri di Bandung. Kami mengambil jurusan Sastra Inggris. Di akhir semester dua, dia memutuskan untuk pindah kampus ke Malaysia. Selain demi masa depan yang lebih baik, alasan lainnya adalah keluarganya yang pindah ke negara tersebut. Mengingat semua anggota keluarganya pindah ke Malaysia, harapan untuk bertemu kembali dengan Alif semakin kecil dan hampir pupus. Ah, ya, tentang ucapan Alif yang menyatakan bahwa dia tak akan melupakanku, semuanya hanya kebohongan belaka. Aku, dilupakan.

*Bersambung*




Note: Cerita ini hanya fiktif belaka.

Quote:Denting Waktu dalam Ruang Sepi [Chapter 2]
Denting Waktu dalam Ruang Sepi [Chapter 3]
Denting Waktu dalam Ruang Sepi [Chapter 4]
Denting Waktu dalam Ruang Sepi [Chapter 5]

Dentik Waktu dalam Ruang Sepi [Chapter 6]
Denting Waktu dalam Ruang Sepi [Chapter 7]
Denting Waktu dalam Ruang Sepi [Chapter 8]
Denting Waktu dalam Ruang Sepi [Chapter 9]
Denting Waktu dalam Ruang Sepi [Chapter 10]

Denting Waktu dalam Ruang Sepi [Chapter 11]
Denting Waktu dalam Ruang Sepi [Chapter 12/Last]
Diubah oleh nanitriani
profile-picture
profile-picture
profile-picture
putune.simbah30 dan 31 lainnya memberi reputasi
30
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 3
Denting Waktu dalam Ruang Sepi
05-10-2021 22:45
Bagi yang baca cerpen sebelumnya yg berjudul "Adzhar". Ini awalnya agak mirip karena tokoh Alif ini terinspirasi dengan tokoh yg sama dengan Adzhar. Di dunia nyata, Adzhar dan Alif itu sama. Tapi, di cerpen ini jelas kisahnya bakal beda. Ada tokoh baru yg buat jalan cerita 100% beda dg cerpen "Adzhar". Namun, untuk isi cerita sendiri hanya fiksi belaka alias tidak benar2 terjadi di dalam kehidupan nyata.

Enjoy!!
Diubah oleh nanitriani
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Denting Waktu dalam Ruang Sepi
05-10-2021 22:49
bolehkah aku duduk disini?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 7 balasan
Denting Waktu dalam Ruang Sepi
05-10-2021 23:15
nice.
profile-picture
nanitriani memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Denting Waktu dalam Ruang Sepi
06-10-2021 00:46
Lanjutkn ketikannya sisemoticon-pencet
profile-picture
profile-picture
profile-picture
delia.adel dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Denting Waktu dalam Ruang Sepi
08-10-2021 16:57
ga sabar nggu lanjutan nya...
profile-picture
nanitriani memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Denting Waktu dalam Ruang Sepi
08-10-2021 20:30
Udh lama ga baca cerbung...😅
Bacanya jd baper nih... emoticon-Malu
Ayo sista..ditungguin lanjutannya yaaaa... 😁
profile-picture
nanitriani memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Denting Waktu dalam Ruang Sepi
09-10-2021 14:44

Denting Waktu dalam Ruang Sepi [Chapter 2]

Denting Waktu dalam Ruang Sepi
Malam harinya, jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan mataku masih sukar untuk terpejam. Kedua mataku hanya tertuju pada langit-langit kamar yang hanya menyuguhkan cahaya lampu. Meskipun begitu, tetap saja diriku asyik menatapnya. Tak semata-mata menatap langit-langit kamar, pikiranku juga masih berkutat dengan bayangan Alif yang seolah menerkam seluruh isi kepala. Aku yakin, di luar jendela kamarku, gulita sudah semakin beringas melahap hamparan langit. Sementara itu, perasaanku masih menggebu, begitu aku mengagumi sosok Alif sejak pertama kali bertemu. Dia berkepribadian santun dan lemah lembut, tutur katanya selalu terjaga, dia juga sangat cerdas dalam bidang akademik. Untuk gambaran fisik, tubuhnya terbilang tidak terlalu tinggi namun tak pendek juga, biasa saja. Kulitnya bak cahaya purnama dan rambutnya bak temaram. Mereka saling melengkapi. Matanya kecil namun mempunyai tatapan yang tajam, hidung mancung, dan senyumannya yang tersungging miring menambah keindahan dalam pesona wajahnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Lamunanku buyar ketika ponselku tiba-tiba berdering tanda panggilan masuk. Aku terperanjat saat kudapati layar ponselku menampilkan nama “Alif.” Tanpa berpikir panjang, segera kuterima panggilan tersebut.

Assalamualaikum.Mel?” Tutur Alif di seberang sana.

Waalaikumussalam.

“Belum tidur, Mel?” ada jeda sebelum dia mengucapkan kalimat selanjutnya, “Atau ... kau terbangun gara-gara aku?”

Dengan perasaan yang masih bercampur kaget, aku berusaha mencerna pertanyaan yang dilontarkan Alif, “Tidak ... eh, maksudku ... bukan gara-gara kau. Emm, maksudku, aku belum tidur kok,” jawabku sedikit terbata-bata.

Terdengar suara tawa tipis darinya, “Melati, sekali lagi, aku pamit, ya.”

Aku tersenyum meski rasanya luka di hati siap menganga, “Iya, Lif. Kau sudah berpamitan tadi,” aku berpikir sejenak, “Atau, kau tak mau berpisah denganku?” tanyaku berusaha menciptakan bahan candaan. Meskipun, dalam hatiku terselip harap bahwa dia akan menjawab “Ya” untuk pertanyaanku itu.

“Kau tahu, Mel, Tuhan tak menciptakan siang tanpa malam.”

“Lalu?”

“Ya ... begitu pula aku harus menerima perpisahan di kala sebelumnya tercipta pertemuan.”

“Kau ... tak sedih?” Tanyaku masih berharap lebih akan jawabannya.

“Untuk apa sedih? Semua rasa tak akan berlangsung selamanya. Begitu pula dengan kesedihan, lebih baik berusaha untuk tidak tercipta dari awal.”

“Maksudmu?”

“Aku berusaha untuk tidak bersedih dengan menciptakan sugesti yang lebih menyenangkan.”

Aku menghela napas pasrah. Bagaimanapun juga, kita memang teman biasa. Lebih tepatnya, dia menganggapku hanya teman. Sedangkan bagiku, makna dirinya lebih spesial dari definisi sebuah teman. “Lalu, kau mau bicara apa?”

“Ok, sebelumnya, apakah aku mengganggu?”

“Tidak juga.”

“Baik, ada yang lupa aku ucapkan saat pertemuan terakhir kita tadi.”

“Apa itu?” Sejujurnya, aku masih berharap lebih. Berharap dia mengucapkan sesuatu yang membuatku merasa berarti untuknya.

“Mel, kau itu cerdas. Kau bisa lebih dari dirimu yang sekarang.”

Dan lagi, tidak sesuai harapan. “Maksudnya?”

“Kau harus mencoba belajar aktif di kelas. Suarakan keahlianmu. Kau bisa bertanya dan menjawab saat mata kuliah berlangsung.”

Ya, betul, aku memang sedikit pemalu. Lebih jelasnya, aku sedikit tidak peduli dengan pengakuan orang lain. Sejujurnya, aku tidak nyaman ketika semua pandangan tertuju padaku. Oleh karena itu, aku hanya berkutat dengan buku catatanku. “Hemm, terima kasih atas sarannya, Lif. Namun, sesekali, aku juga pernah bertanya kepada dosen setelah kelas berakhir. Oleh karena itu, no one knows.”

“Emm ... begitu,” dia seolah sedang berpikir sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, “Begini, Mel, selain berpesan agar kau harus tetap baik-baik saja, aku juga sangat berharap kau menjadi pribadi yang lebih berani, aku ingin kecerdasanmu diketahui para dosen,” pesannya dengan penuh tekanan.

Aku merenung beberapa saat, “Alif, apakah kita masih berteman?” Tanyaku menyeberangi topik yang sedang dia bahas.

Sepertinya dia sedang tersenyum tipis di seberang sana. Andaikan saja aku bisa melihat senyuman dari bibir kecilnya itu. Namun, apakah semesta masih memberiku kesempatan lain untuk bertemu dengannya? “Kau ini kenapa, Mel? Rasanya, kau mengulangi pertanyaan yang sama.”

Tenggorokanku mulai tercekat, sesak di dada mulai merenggut suara, “Alif, kau tak akan melupakanku?” Tanyaku dengan suara yang sedikit bergetar.

“Kau kenapa, Mel? Kau menangis?”

Belum bisa dikatakan menangis karena air mataku dengan susah payah sedang kubendung, “Alif, kau tak bisa menjawabnya?”

Terdengar hembusan napas beratnya, “Melati, ikatan pertemanan itu tak akan terputus meskipun kita bentangkan seluas jarak yang memisahkan. Jika suatu saat jarak kita lebih jauh dari sekadar Indonesia dan Malaysia, kita bentangkan lagi lebih jauh dan lebih jauh lagi dan seterusnya. Kau tahu, ikatan pertemanan itu masih tak akan putus. Ya, karena dia kuat. Tentu saja, selama salah satu di antara kita tak ada yang memotongnya,” jelasnya rinci.

“Kau ... kau yang akan memotongnya?” Tanyaku lirih.

“Kau ini kenapa, Mel. Mana mungkin aku lakukan itu,” jawabnya sedikit tertawa.

“Kau peduli kepadaku?” Tanyaku masih berharap lebih pada jawabannya.

“Tentu saja, aku sangat peduli kepadamu. Kita, kan, teman.”

Aku tersenyum kecut, “Betul, teman. Saja.”

Apakah kalian tahu fakta mengenai persahabatan antara laki-laki dan perempuan? Aku, sedikitnya mengetahui tentang itu, juga pernah membaca beberapa artikel mengenai hal tersebut. Sungguh, antara laki-laki dan perempuan, mana mungkin bisa hanya teman? Tidak selalu keduanya merasakan hal yang sama, namun salah satunya. Entah itu laki-lakinya, atau perempuannya, merasakan ketertarikan kepada sahabat lawan jenisnya. Katanya, kebanyakan pihak laki-laki yang menyukai sahabat perempuannya. Namun, antara aku dan Alif, sangat disayangkan, aku yang menyukainya. Dan benar, aku tak pernah menyesal berteman dengan Alif. Sungguh. Bahkan aku sangat bahagia. Bagiku, pernah berteman dengan seseorang yang begitu mengagumkan, adalah sebuah kisah yang cukup berarti. Hanya saja, ada sedikit penyesalan, tentang rasa yang terpaksa tercipta secara sepihak dan berhasil menggerogoti hatiku.

*Bersambung*


Sumber Gambar Cover


Note: Cerita ini hanyalah fiktif belaka.
Diubah oleh nanitriani
profile-picture
profile-picture
profile-picture
janahjoy35 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 16 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 16 balasan
Denting Waktu dalam Ruang Sepi
09-10-2021 23:50
Gsssssss polll tanpa rem
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan nanitriani memberi reputasi
2 0
2
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Denting Waktu dalam Ruang Sepi
11-10-2021 15:51
Ga pernah ngerasain teman pdhl ada maksud 😃
profile-picture
nanitriani memberi reputasi
1 0
1
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Denting Waktu dalam Ruang Sepi
11-10-2021 22:06

Denting Waktu dalam Ruang Sepi [Chapter 3]

Denting Waktu dalam Ruang Sepi
Seminggu sudah Alif menjalani kehidupan barunya di Malaysia. Nomor teleponnya pun kini sudah diganti, tampak +60 di depan deretan angka-angka, menunjukkan kode negara Malaysia. Sesekali dia mengunggah status di WhatsAppnya tentang kesehariannya di sana. Salah satu foto yang diunggahnya menampilkan potret dirinya bersama kedua orangtuanya dan adik perempuannya, terlihat latar Menara Kembar Petronas di belakang mereka, salah satu ikon wisata Malaysia yang terkenal. Tak hanya itu, masih banyak foto-foto lainnya dengan latar tempat yang berbeda. Terlihat dari senyumnya yang merekah, tak sekadar senyum yang tersungging miring, aku rasa, dia cukup bahagia. Atau mungkin ... sangat bahagia? Yang jelas, beberapa hari sebelumnya, pada malam itu, beberapa jam menuju pagi hari, saat dia menghubungiku, menyampaikan pesan-pesan yang membangun untukku, dan pamit. Mungkin saja, saat itulah terakhir kali dia menghubungiku. Tentu saja, aku tak berani mengusik kehidupannya yang sekarang.
***


Satu bulan, dua bulan, satu semester, kehidupan kampus berhasil kulewati. Sebenarnya suasana kelas tak ada yang berubah. Semua teman-temanku masih mengobrol, tertawa, mendengarkan penjelasan dosen, tertidur, makan secara diam-diam, menulis catatan, menggambar objek asal, berbisik, berteriak, bernyanyi, membaca novel, mengerjakan tugas, bermalas-malasan, menjalin pertemanan, bermusuhan. Semuanya mereka lakukan dengan cara yang sama. Hanya aku, mungkin saja satu-satunya orang di kelas yang menyadari ketiadaan Alif, seseorang yang selalu menawan bagiku.

Aku masih setia duduk di barisan kedua, di tempat yang paling tepat untuk selalu memerhatikannya yang duduk di barisan pertama. Meski sekarang, sosoknya tak dapat lagi kutemukan. Bagiku, bayangan hadirnya bagaikan hembusan angin. Melewatiku tanpa wujud, namun hembusannya selalu terasa, menelisik setiap jengkal ruang rindu.

Hari ini hanya ada dua mata kuliah, berlangsung dari pukul 8 pagi sampai 12 siang. Aku dan sahabatku, Lulu dan Yara, memutuskan untuk mampir ke kedai ramen yang ada di pinggir kampus sebelum pulang ke tempat kost masing-masing. Kedai ramen tersebut tak terlalu luas. Di siang hari, suasana ruangannya sedikit pengap dan panas. Beberapa kipas angin kecil yang menempel di dinding rasanya tak mampu melawan udara panas akibat teriknya matahari di luar.

“Mel, kau jarang cerita sekarang,” ucap Lulu memulai pembicaraan.

Yara hanya celingukan, berusaha mencerna perkataan Lulu.

“Cerita apa?” Tanyaku

“Apa saja,” topik asal yang diciptakan Lulu sambil menunggu datangnya pesanan ramen kami.

“Tak ada yang menarik dari hidupku,” jawabku tak kalah asal.

“Kau kenapa, Mel? Benar kata Lulu, sekarang kau lebih suka menjadi pendengar cerita aku dan Lulu. Kau sedikit misterius,” tutur Yara yang tiba-tiba ada di pihak Lulu.

Lulu mengangguk tanda setuju dengan pendapat Yara. Kemudian suasana hening sejenak sebelum pertanyaan aneh dari Lulu berhasil diluncurkan, “Emm ... Mel, kau masih ingat Alif?”

Pesanan ramen dan es teh manis kami sudah dihidangkan di meja. Pesona kuah miso pilihanku dengan uap panas yang mengepul, sukses membuatku ingin segera menyantapnya. Satu sendok kuah hampir menemui lidahku, namun Lulu kembali bertanya, “Melati! Kau masih ingat Alif?” Suaranya sedikit meninggi.

Satu sendok berisi kuah kukembalikan ke mangkuk, aku hanya menelan ludah. “Tentu saja aku ingat, Lu. Kau pikir aku sudah pikun?” Jawabku sedikit kesal.

“Kau menyukainya?” Tanya Lulu tiba-tiba.

Yara yang sedang meneguk es teh manis miliknya tiba-tiba tersedak, “Apa, Lu? Siapa yang suka siapa?” Tanyanya terkejut. Yara memang mempunyai kepribadian yang polos dan cenderung tidak peka dengan situasi. Di antara kami bertiga, dia lah yang membutuhkan waktu cukup lama untuk mencerna sebuah topik dalam obrolan.

Aku tersentak, rasanya ada sesuatu yang meletup di dalam dadaku dan membuat perutku sedikit mulas. “Hah?” Mulutku hanya menganga, tak sanggup menjawab kalimat yang sedikit lebih panjang.

“Kau menyukainya, kan?” Tanya Lulu sekali lagi. Benar, temanku yang satu ini, mempunyai kepribadian yang sedikit cuek dan terkesan blak-blakan. Di balik itu semua, dia cukup pintar membaca keadaan.

Rasa laparku kini hilang, “Apakah kelihatan?”

Sembari melahap ramen yang ada di hadapannya, dia menjawab, “Tentu saja. Dari caramu yang selalu mencari kesempatan untuk mengobrol dengannya dan memandanginya diam-diam. Yang paling kentara, sikap malu-malumu ketika berhadapan dengannya dan kebiasaanmu yang salah tingkah ketika mengobrol dengannya. Menurutku, semuanya cukup jelas untuk menyimpulkan bahwa kau menyukainya.”

Yara tampak semakin kebingungan, “Tunggu! Kalian bahas apa, sih?” Tanyanya dengan tampang kesal.

“Ra, apa kau gak sadar?” Tanya Lulu dengan tampang yang tak kalah kesal.

Yara sedikit termenung, “Melati menyukai Alif?” Tanya Yara sedikit berhati-hati.

Rasa panas kini mulai menjalar ke seluruh wajahku. Aku tak mengerti. Padahal, rasanya, aku selalu berusaha untuk menutupi rapat-rapat wujud dari hatiku. Tapi ternyata ... “Menurutmu, Alif juga akan menyadarinya?”

Yara terperanjat, “Mel, sungguh?”

Lulu tertawa tipis, “Jadi benar kau menyukainya?”

Aku menghela napas, “Ya, dugaanmu tak melenceng. Kenapa selama ini kau tak pernah membahas semua ini? kenapa baru sekarang?”

“Ya, karena itu bukan urusanku. Aku hanya takut kau semakin canggung kepada Alif jika aku membahasnya. Sekarang, Alif sudah tidak ada di antara kita, jadi aku tak peduli lagi,” jelas Lulu.

Yara mulai menyantap ramen yang ada di hadapannya meskipun dengan tatapan menerawang. Sepertinya dia tak menyangka dengan apa yang baru saja didengarnya.
Aku termenung, ada rasa sakit yang mengusik relung hatiku. Selain merindukannya, aku takut dia mengetahui perasaanku. “Lu?”

“Hemm? Makan saja dulu ramenmu.”

“Apakah dia akan mengetahuinya?” Tanyaku tak memedulikan ucapan seseorang yang sedang ada di hadapanku ini.

“Kau tak usah terlalu risau. Menurutku, laki-laki seperti Alif tak cukup peka dengan situasi. Kau tenang saja.”

“Benar, kah?”

“Ya. Kau sungguh menyukainya?” Tanya Lulu untuk lebih meyakinkan dugaannya.

“Ya.”

Tatapannya menerobos kedua mataku untuk sesaat, “Hem ... dia terlalu bagus, Mel. Tak bisakah kau turunkan levelmu?” Tutur Lulu dengan raut wajah yang datar.

“Lulu, Melati cantik kok,” dia berusaha menelan makanan yang masih berkumpul di mulutnya, “dan ... pintar juga.”

“Tak cukup, Ra. Dia cantik tapi tak terlalu cantik. Dia pintar tapi tak terlalu pintar. Dia biasa saja. Menurutku, Alif jauh di atas rata-rata.” ujur Lulu seolah sedang memancing emosiku.

“Maksudmu? Apakah aku seburuk itu untuknya? Aku tak pantas?”

Dia tertawa, “Tak apa, Mel. Bermimpi tak akan merugikanmu. Namun, sesekali kau harus terbangun,” pungkasnya diberangi dengan tawa geli.

“Sama sekali tak lucu, Lu,” jawabku ketus.

Dia mencoba menahan tawa, “Kau tahu, Mel. Untuk mendapatkannya, kau hanya bisa mengandalkan keajaiban dari Tuhan.”

Semangkuk ramen di depanku sudah tak mengepulkan asap. Seketika pikiran dan hatiku terbuka dalam waktu yang bersamaan. Betul, saatnya lantunan doaku bermuara, tersebar ke setiap penjuru langit, dan menelisik setiap denting waktu dalam ruang sepi.
*Bersambung*


Sumber Gambar Cover
Diubah oleh nanitriani
profile-picture
profile-picture
janahjoy35 dan pulaukapok memberi reputasi
2 0
2
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Denting Waktu dalam Ruang Sepi
11-10-2021 22:10
jadi apakah kau percaya bahwa tidak ada doa yg sia-sia?
0 0
0
Lihat 9 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 9 balasan
Denting Waktu dalam Ruang Sepi
11-10-2021 22:28
Untuk cerita kali ini, sepertinya sedikit panjang dari cerita2 yang sebelumnya (Azdhar, Dusta, dll). Akan lebih banyak tokoh yang dimunculkan sebelum menemui akhir cerita.
Apa tak masalah?

*Enjoy!!*
Diubah oleh nanitriani
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Denting Waktu dalam Ruang Sepi
13-10-2021 22:19

Denting Waktu dalam Ruang Sepi [Chapter 4]

Denting Waktu dalam Ruang Sepi
Apakah kalian pernah mencintai seseorang dengan sangat tidak berdaya? Aku, sedang mengalaminya. Aku tidak pernah mencintai seseorang seperti ini. Aku mengaguminya dengan seluruh rasa tulus yang kupunya. Bagiku, kebahagiaan hanya sesederhana melihat senyum teduhnya saat terbangun di pagi hari. Terlepas dari semua angan-anganku itu, aku tak punya kemampuan untuk menjamahnya. Benar kata Lulu, aku terlalu biasa untuk dia yang sangat luar biasa.

Dia termasuk seseorang yang tak banyak bicara, bibir kecilnya yang tersenyum dengan sunggingan miring lebih sering ketimbang mengeluarkan suara. Dia tidak pendiam, hanya berbicara seperlunya saja. Pakaiannya selalu rapi, baju dan celananya selalu menampakkan garis bekas setrika. Ada satu lagi yang selalu kuingat, suatu hari aku sedang menyusuri tangga menuju lantai 3 gedung kuliah. Namun, tinggal beberapa anak tangga menuju lantai 3, aku mencium aroma minyak wangi Alif. Dan benar saja, di depan kelas sudah ada Alif yang tampaknya baru sampai. Kalian bisa menebak sewangi apa dia. Percaya atau tidak, aroma seseorang selalu menciptakan sebuah kenangan. Menurutku, aroma tubuh juga termasuk identitas dari seseorang. Kalian tahu, bahkan sampai detik ini, aku masih mengingat Aroma Alif. Terkadang, entah saat di kendaraan umum, berjalan di jalan raya atau sekadar menyusuri gang kecil, pernah aku mencium wangi yang sama dengan Alif. Saat itu pula, rinduku akan hadirnya selalu menyeruak.

Aku tak pernah menginginkannya untuk menjadi pacarku. Lebih dari itu, aku ingin menjadi pasangan hidupnya sampai tak ada yang berani memisahkan kecuali saat darah tak mampu lagi mengalir. Maka dari itu, jika aku tak mampu mebujuk Alif untuk mencintaiku, aku hanya bisa membujuk Tuhan. Benar, aku merasa, alasan aku menginginkan Alif karena aku mencintai Tuhan. Dan, dimulai dari hari ini, doaku akan bersenandung, baik ketika semua orang terjaga maupun ketika semua orang terlelap.

***


Saat hamparan langit di luar kamarku masih terselimut gulita, hembusan angin mengintip ke celah-celah bingkai jendela, saat itulah, tepatnya pukul 3 dini hari, aku memutuskan untuk menyingkirkan selimut yang membalut tubuh. Seperti yang sudah kukatakan, aku akan mulai membujuk Tuhanku, Allah, sang penggenggam hati manusia. Maka, aku memutuskan untuk mengambil air wudhu dan mulai bermunajat.

Selain rintih angin yang menelisik gendang telinga, aku hanya ditemani dentingan waktu yang melengkapi ruang sepi ini. Maka, setelah melaksanakan salat (tahajud), kedua tanganku mulai kutadahkan dengan air mata yang tak berhenti menetes meski belum sata kata pun berhasil terucap. “Ya Allah, namaku Melati. Apakah Kau masih mengingatku? Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali aku meminta kepadaMu.” Aku tertunduk malu dengan rasa sesak yang mencekat kerongkongan. “Aku mengagumi salah satu makhluk-Mu, Alif Arsyadi.” Entah apa yang kurasa, ini pertama kalinya aku melibatkan Tuhan dalam mencintai seseorang. Dengan tangis yang kian membuat sekujur tubuhku bergetar, “Aku tak akan memaksakan kehendak-Mu. Jika dia terlahir untuk meninggal di pangkuanku, atau sebaliknya, maka mudahkan jalan kami untuk bertemu,” aku menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat, “Jika dalam hidupku tak mungkin ada hadirnya, izinkan aku melupa untuk mengingatnya. Aamiin.” Doa yang sama akan selalu kuulang sampai keputusan Allah ada di depan mata.
***


Aku pernah membaca sebuah tulisan tentang mencintai seseorang. Katanya, jika dengan mencintainya kita berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan sebagainya. Itu tak apa, sungguh. Apapun itu, jika mempunyai maksud yang baik, bukan sekadar pacaran, namun ingin menikah dengan tujuan untuk menyempurnakan separuh agama, maka perjuangkanlah. Jika kau merasa tak bisa menggapainya, sesungguhnya tak ada yang sulit bagi Tuhan. Maka berdoa lah dengan lantunan yang baik.
***


Pukul 8.15 pagi. Seharusnya dari 15 menit yang lalu mata kuliah sudah dimulai. Namun, suasana kelas masih gaduh tanpa sosok pengajar.

“Mel, tugas Pak Adnan yang kemarin apa, ya?”

Aku menoleh, “Fahri?”

Dia tersenyum, “Iya, aku.”

Fahri, salah satu teman sekelasku yang paling pintar. Bahkan dia jauh lebih pintar dari Alif. Dia pernah beberapa kali bertanya kepada dosen hanya bermaksud untuk menjebaknya. Hasilnya, beberapa dosen merasa jengkel dan memarahinya.

“Kau menanyakan tugas?” Aku merasa heran karena memang rasanya tak mungkin Fahri tak mencatat daftar tugas. Lulu yang duduk di sebelahku tak kalah heran. Memang, Fahri itu cendereung sering menyendiri. Dia selalu duduk di barisan pertama namun memilih kursi yang dekat dengan tembok. Selalu seperti itu. Tak ada yang menjauhinya apalagi merundungnya. Hanya saja, dia memang senang menyendiri. Hal yang selalu dia lakukan ketika menunggu dosen datang adalah membaca buku, entah itu novel atau sekadar buku pelajaran. Masalah penampilan, menurutku dia cukup tinggi namun kurus. Ciri khas yang melekat darinya selain kaca mata berbingkai kotak dengan lensa tebal, potongan rambutnya selalu belah tengah, tak pernah berubah.

“Iya, aku lupa mencatatnya.”

“Kau lupa mencatatnya?” Tanyaku masih tak percaya.

Dia kembali tersenyum, “Ya, aku lupa.”

Sejak saat itu, percaya atau tidak, dia menjadi sahabat baruku. Kami sering belajar bersama bahkan bertelepon berjam-jam hanya membahas isi novel yang kami baca masing-masing. Ternyata, Fahri seperti yang lainnya ketika diajak bicara, menyenangkan. Terlebih kesukaan kami sama, membaca novel, menonton film, dan menulis puisi. Kami seolah saling melengkapi ketika saling bertukar cerita.
***


Hampir setiap malam sebelum tidur kami selalu bertelepon, termasuk malam ini. Jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 10 malam dan sudah satu jam kami bertelepon.

“Iya, aku dari Jombang, Mel.”

“Tapi logat bicaramu menurutku biasa saja.”

“Ah, itu, aku SMA di Bandung juga, Mel. Aku sudah terbiasa.”

“Oh, aku baru tahu.”

“Anu Mel ... kau boleh panggil aku ‘Mas’,” ucapnya tanpa basa-basi.

Aku terkejut, “Hah? Kok tiba-tiba? Aku gak pernah minta izin untuk memanggil kamu ‘Mas’, kok,” tanyaku heran.

“Anu ... aku mau aja.”

“Kau ingin dipanggil ‘Mas’?” Tanyaku semakin heran.

“Iya, Mel. Minimal sampai kita lulus.”

Terkadang aku tak mampu memahami isi pikiran orang pintar ini, tingkahnya memang sedikit random, “Ya, tapi kenapa?”

“Ya ... tak ada alasan, mau saja.”

Aku menghela napas, “Baik, tak masalah, Mas Fahri.”

Terdengar suara tawa geli dari seberang sana, “Dek, mau ikut acara kelas nanti malam minggu? Katanya kita menginap satu malam di vila,” tuturnya dengan sesuka hati mengganti nama panggilan dan topik pembicaraan.

“Dek?!” Tanyaku dengan suara yang sedikit meninggi.

“Ya, kau lebih muda dariku satu tahun, betul?”

Aku mulai malas menanggapinya, “Terserah kau saja.”

Dia tertawa, “Jadi, Adek mau ikut?”

“Hemm, enggak, deh. Aku mau pulang ke rumahku, Garut,” jawabku jujur.

“Yah ... padahal tadinya pas acara itu Mas mau ajak kamu makan,” tukasnya seolah berpura-pura lesu.

“Oh ya? tumben?”

“Hemm, kalau gitu, hari senin aja, ya. Kita hanya ada satu mata kuliah, kan?”

“Iya, boleh aja.”

“Ok. Ada hal yang ingin Mas sampaikan juga,” ungkapnya serius.

“Baik, aku pun.”

“Adek juga?”

“Iya, ada hal yang ingin aku tanyakan juga.” Pungkasku.

*Bersambung*


Sumber Gambar Cover
Diubah oleh nanitriani
profile-picture
profile-picture
janahjoy35 dan pulaukapok memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Denting Waktu dalam Ruang Sepi
13-10-2021 22:25
apakah sampai sekarang engkau masih terus berdoa?
profile-picture
nanitriani memberi reputasi
1 0
1
Lihat 8 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 8 balasan
Denting Waktu dalam Ruang Sepi
13-10-2021 22:26
Ada yang suka sama tokoh Mas Fahri ini? Atau malah gedeg? 😂
0 0
0
Post ini telah dihapus
Denting Waktu dalam Ruang Sepi
17-10-2021 00:14

Denting Waktu dalam Ruang Sepi [Chapter 5]

Denting Waktu dalam Ruang Sepi
“Fahri mengajakku makan hari ini.”

“Siapa?” Tanya Lulu memastikan. Memang benar, aku belum memberi tahunya perihal apa yang terjadi antara aku dan Fahri belakangan ini.

“Fahri. Memangnya kenapa?”

“Fahri?” Sekali lagi dia memastikan.

Aku menganggukkan kepala tanda mengiyakan pertanyaannya.

Dia seolah menerawang untuk sesaat, “Apakah ada hal yang aku tak tahu?”

Aku memajukan bibir, berpura-pura berpikir, “Emmm...” Aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan cepat, “Akhir-akhir ini ... kami ... sering bertelepon. Khususnya sebelum tidur.”

“Dia menyukaimu,” ucapnya tanpa ragu.

Aku tersentak, “Mana mungkin, Lu? Kami mempunyai kesukaan yang sama. Menurutku ... wajar kami ketagihan mengobrol. Karena ... ya ... nyambung. Kamu mengerti, kan, Lu?”

Dia terdiam sejenak, “Ya, aku paham, Mel. Maksudku, mana mungkin seorang Fahri rela menghabiskan waktunya untuk bertelepon dengan seorang perempuan. Sebelum tidur?” Dia menggelengkan kepala, “Kukira dia tak normal, tak suka perempuan. Tapi nyatanya....”

Aku menatapnya heran.

“Lu, aku yakin ... dia sedang mencari cara untuk mendapatkanmu.” Aku tak dapat melihat hal lain dari raut wajahnya kecuali perasaan yakin.
***


Pukul 9 pagi, perkuliahan sudah selesai karena hari ini memang hanya ada satu mata kuliah. Sesuai dugaan, Fahri sudah menunggu di ambang pintu kelas.

“Masih pagi, kau yakin ingin ke tempat makan?” Tanyaku basa-basi.

Dia tersenyum namun terlihat ragu-ragu untuk berbicara. Meskipun begitu, sudah menjadi tanggung jawabnya, dia harus bersuara juga, “Dek, sebenarnya Mas ada urusan mendadak,” ungkapnya menyesal.

Aku tersenyum, “Tak apa. Kalau gitu, aku pulang dulu, ya.”

“Tunggu. Bukankah ada yang harus kita bicarakan?”

Aku termenung, “Ya ... tapi, kau ada urusan, bukan?”

“Kita bisa bicara di koridor ini sebentar.”

Aku menghela napas dan mengangguk pelan.

“Kau dulu.”

“Ya?” Tanyaku heran.

“Kau bicara duluan.”

“Bukan kah kau yang ingin berbicara duluan? Aku hanya punya satu pertanyaan. Kau dulu saja,” jawabku yakin.

“Tanyakan,” tuturnya singkat.

“Tapi ....” aku terdiam sejenak, “Baiklah.”

Dia tersenyum dengan tatapan yang siap mencerna seluruh kata yang akan keluar dari mulutku.

“Begini ... dari sekian teman-teman di kelas, kenapa kau memilihku untuk dijadikan teman berbicara?”

Dia tertunduk dan tak bersuara untuk beberapa saat.

“Ah ... maaf, apakah pertanyaanku kurang pantas untuk dibahas?”

“Tidak, aku akan menjawabnya,” dia menghela napas sejenak, “Aku merasa kau berbeda dengan yang lain.”

“Maksudmu?”

“Aku tak suka dengan yang berisik.”

Aku menatapnya heran, “Emmm ... Maksud ....”

Dia segera memotong ucapanku, “Ya, kau tak banyak bicara namun cerdas.”

Aku tersenyum heran bercampur bingung, “Jadi, apa ada tujuan tertentu kau berteman denganku?” Ucapanku terhenti sejenak, “Jangan-jangan ... kau ingin mendekatiku?” Disusul gelak tawa dariku. Karena memang, aku hanya bercanda. Namun, hanya aku yang tertawa. Dia tertunduk.

“Ah, maaf, Fahri ....”
“Tidak, tak usah meminta maaf lagi,” sekali lagi dia menghela napas panjang, “Aku nyaman kita menjadi partner belajar.”

Aku menghembuskan napas lega. Benar, aku terlalu khawatir tentang apa yang diucapkan Lulu. Ya, sudah kuduga, Fahri tak mungkin berniat mendekatiku.

“Adek?”

Sebenarnya aku sedikit tak nyaman ketika harus ada panggilan khusus antara kami berdua. Jujur saja, aku bergidik ketika mendengar dia memanggilku ‘Adek’ dan menyebut dirinya sendiri dengan ‘Mas’, “Emm ... Iya?”

“Seperti katamu, misalnya ... ya, betul, misalnya ... Mas mendekati Adek karena ingi pacaran, bagaimana menurut Adek?”

Aku spontan tertawa, “Fahri ... eh, maaf, Mas. Aku akan menolak, Mas. Aku tak mau pacaran.” Benar, karena ingin mendapatkan Alif, aku berjanji tak akan berpacaran dengan siapa pun. Aku sudah berjanji, bukan sekadar berjanji kepada diri sendiri, melainkan dengan Tuhan. ya, betul, dengan Tuhan.

Dia memandangiku dengan tatapan kosong, “Emm, kalau begitu, aku harus cepat pulang, ya.”

“Eh ... jadi, kita pergi makannya besok atau ....”

“Aku pikirkan lagi. Sampai jumpa.” Dia membalikkan badannya dan pergi dengan langkah cepat.

Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh lalu menghilang. Hanya satu yang ada di dalam benakku, aku telah kehilangannya.
***


Entah sudah berapa lama aku tak melakukan kebiasaanku, menatap langit-langit kamar sembari merenungkan hal-hal yang sudah dan belum terjadi dalam hidup. Ya, karena akhir-akhir ini aku selalu bertelepon dengan Fahri. Tak ada waktu melamun sebelum tidur. Dan malam ini, masih pukul 9, temaram belum terlalu memeluk langit malam, aku kembali menatapi langit-langit kamarku. Namun, entahlah, aku hanya ingin menghubunginya. Kutatap layar ponselku dan terdengar suara berdering. Dia mengangkatnya.

“Mas,” panggilku cepat.

“Ya? Kenapa, Mel?”

Aku terdiam, ada rasa sakit yang entah kenapa tiba-tiba menghujam dada. Meski panggilan khusus di antara kami sedikit menggelikan dan hanya sebuah lelucon bagiku, namun terasa menyakitkan ketika semuanya telah berubah. “Ah, Mas. Sudah mau tidur?” Tanyaku sedikit ragu-ragu.

“Ah ... iya, Mel. Aku tidur dulu ya.” Panggilan pun berakhir.

Kembali kutatap langit-langit kamar. Air mataku luruh tanpa perintah. Ya, aku kehilangannya. Aku sungguh kehilangannya. Temanku, Fahri. Aku kehilangannya.

Aku tak menginginkannya, aku hanya tak mau kehilangannya. Aku tak ingin dia pergi, aku hanya tak menginginkannya. Sungguh. Aku hanya tak menginginkannya, itu saja. Aku hanya ingin dia tak beranjak meski aku tak menginginkannya, salah, kah?

Terdengar desir angin di luar jendela kamarku. Aku yakin, temaram semakin mencengkeram hamparan gulita. Aku yakin, gemintang semakin bangga memamerkan kerlipnya. Aku yakin, rembulan semakin terkesima memandangi selaksa jiwa yang masih terjaga. Aku yakin, aku hanya tak ingin dia pergi meski aku tak pernah menginginkannya.

*Bersambung*


Sumber Gambar Cover
Diubah oleh nanitriani
profile-picture
profile-picture
profile-picture
janahjoy35 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 10 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 10 balasan
Denting Waktu dalam Ruang Sepi
17-10-2021 08:15
Sepertinya fahri menyembunyikan sesuatu
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Post ini telah dihapus
Denting Waktu dalam Ruang Sepi
17-10-2021 20:43
Ninggal jejak dulu biar gampang nyarinya
profile-picture
nanitriani memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
melepas-untuk-bebas
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia