Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
219
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6151bc81d914a776581ccc87/ingin-membayar-gaji-mama
Kisah ini menceritakan seorang gadis kecil yang kesepian, ingin memiliki adik tapi mamanya belum siap karena sibuk dengan pekerjaannya, sampai-sampai ia mengumpulkan uang sakunya demi bisa membayar gaji mamanya, agar sang mama bisa menemaninya bermain di rumah, mengantarkannya ke sekolah, dan liburan bersama seperti teman-temannya. Akankah hati sang mama tergugah melihat kegigihan putri kecilnya?
Lapor Hansip
27-09-2021 19:43

Ingin Membayar Gaji Mama

icon-verified-thread
Ingin Membayar Gaji Mama


Quote:Kisah ini menceritakan seorang gadis kecil yang kesepian, ingin memiliki adik tapi mamanya belum siap karena sibuk dengan pekerjaannya, sampai-sampai ia mengumpulkan uang sakunya demi bisa membayar gaji mamanya, agar sang mama bisa menemaninya bermain di rumah, mengantarkannya ke sekolah, dan liburan bersama seperti teman-temannya. Akankah hati sang mama tergugah melihat kegigihan putri kecilnya?


Bab 1. Rara yang kesepian

Rara memasukan uang sakunya ke dalam celengan plastik berbentuk panda, untuk ke sekian kalinya. Mata bening itu memancarkan binar harapan, bibirnya mengulum senyum, sepuluh jemari lentik mengangkat celengan dengan mata sedikit menyipit, mengintip sudah berapa banyak isinya.

"Belum penuh," desisnya sambil meletakkan kembali di meja belajarnya.

"Rara, buruan 'ntar Mama terlambat!" seru mamanya dari meja makan sambil membereskan piring-piring kotor dan mengelap meja makan.

"Iya, Ma ... Sebentar Rara ambil tas dulu." Rara mengambil tas sejurus kemudian, memakai sepatu, tidak membutuhkan waktu lama Rara siap untuk berangkat.

Perjalanan ke sekolah memakan waktu kurang lebih lima belas menit, selalu dan selalu terburu-buru setiap harinya. Sang mama pun tak hentinya mengomel pada putrinya itu.
Gadis kecil dengan mata lentik, hidung bangir, kulit putih, fotocopy dirinya waktu kecil.

"Ra, berapa kali Mama sudah bilang, pagi-pagi jangan malas-malasan." Nasehat sang Mama yang tidak lebih seperti omelan di telinga gadis kecil itu.

"Mandi jangan buat mainan, sarapan jangan buat mainan, jadi anak itu harus smart, nurut apa kata orang tua."

Rara hanya menunduk, menggigit bibirnya, sesekali melirik dengan ekor matanya pada wanita yang bibirnya sudah mirip ikan koki itu.
Padahal di sekolah Bu Anita tidak pernah mengatakan kata jangan, setiap kali dia melarang Rara dan teman-temannya. Ketika Rara mencoret tembok sekolah, Bu Anita dengan lembut berkata,

"Rara, sebaiknya menggambar di papan tulis saja, atau Rara menggambar di buku gambar ini."

Kalau Rara membuang sampah sembarangan, Bu Anita juga tidak pernah marah, dia akan berkata,

"Sebaiknya membuang bungkus coklat di tempat sampah, anak cantik, kasihan dong tempat sampahnya dianggurin."

Mama, mengapa mama berbeda? Sukanya marah-marah nggak jelas, papa juga kenapa nggak pernah negur mama batin Rara kesal. Padahal papa bisa saja menegur mama.

"Kalau Mama lagi ngomong itu didengerin, Ra!"

"Iya, Ma. Ini juga Rara dengerin," sahut Rara pelan.

"Janji besok mau nurut sama Mama?" tanya Mamanya menegaskan.

"Iya, Ma."

"Jangan iya, iya aja! Tapi dilaksanakan," titah Mama sedikit emosi.

"Papa juga, kalau pagi itu nggak usah lama-lama jogingnya, kalau terlambat gini, Mama juga yang repot."

Papa yang tengah serius menyetir, menarik sudut bibirnya, menggelengkan kepala, keningnya berkerut pandangan mata tetap lurus kedepan tak bersuara. Sekarang yang kena omelan gantian papa, Rara nyengir. Dapat giliran juga akhirnya batin Rara selanjutnya.

"Papa ini denger nggak sih, Mama ngomong?" tanya mama dengan gigi gemeretak menahan dongkol, melirik maut ke arah suaminya.

"Iya denger."

"Papa tahu nggak, Mama tuh nggak bisa diginiin, Mama capek kalau tiap hari ngomel begini."

"Ya makanya, kurangi dong frekuensi ngomelnya, ups!"

"Jadi Papa nyalahin, Mama?"

"Ya nggak dong, mana berani Papa nyalahin Mama, dalam pasal 1 Mama nggak pernah salah, kalau pasal dua salah, kembali ke pasal satu, begitu seterusnya sampai kiamat ...."

"Papa!" teriak mama dengan tatapan mata suram, napasnya naik turun menahan emosi yang meledak-ledak.

"Ma, nggak usah teriak-teriak dong, konsentrasi Papa jadi buyar nih, kalau ntar nabrak gimana dong."

"Gimana nggak teriak, Papa nggak dengerin Mama!"

"Ma, boleh nggak Rara minta Adek?" tanya Rara dengan wajah memelas, seketika itu.

Sudah dari minggu-minggu yang lalu gadis kecil itu menginginkan seorang adik bayi, tapi tidak berani mengatakan pada mamanya. Baru kali ini Rara berusaha mengatakan isi hatinya, walaupun tentu saja ini bukanlah saat yang tepat.

"What?"

"Ma, Rara kesepian di rumah. Mama pulangnya malam, Papa juga, Rara di rumah cuma sama Bibik, boleh ya Ma, Rara minta Adek?" rengek Rara manja.

"No! Belum saatnya!" tegas wanita itu.

"Ma ...," rengek Rara lagi.

"Kabulin permintaan Rara kenapa, Ma. Bukankah dia sudah berumur enam tahun, sudah saatnya punya Adek," usul laki-laki yang sedang menyetir, siapa tahu di ACC.

"Papa, cicilan mobil ini belum lunas, cicilan kursi, cicilan kulkas bahkan cicilan panci juga belum lunas, mikir dong, Pa!" ucap wanita itu sedikit berteriak.

"Ya, Papa mikir makanya kerja tiap hari, agar kebutuhan kita bisa terpenuhi."

"Nah itu tahu," gerutu Mama.

"Ma, teman-teman Rara punya Adek, kok Rara nggak?" tanya Rara kemudian.

"Gini aja Ma, bulan depan Papa naik gaji, Papa bakalan dapat warisan dari Ibu di kampung, Mama di rumah aja nemenin Rara biar nggak kesepian."

"Mama bisa bosen di rumah aja, lagian 'ntar siapa yang gaji Mama, kalau di rumah?"

"Tenang Ma, Rara yang akan membayar gaji Mama, selama ini Rara nggak pernah jajan di sekolah, semua uang saku sudah Rara masukan ke dalam celengan, semuanya untuk Mama, asalkan Mama mau nemenin Rara di rumah."

Tanpa terasa pipi wanita itu memanas, matanya mulai berembun, perasaan campur aduk tak karuan, menengok keegoisannya selama ini. Bekerja siang malam demi menenuhi gengsi, sebenarnya kalau mau hidup bersyukur, tidak sebentar-sebentar ganti mobil, perabot rumah tangga, pastilah tidak akan banyak tagihan.

"Untuk saat ini Mama belum bisa, sayang." Mama Memejamkan matanya kemudian membuka dengan pelan.

"Kenapa, Ma?" tanya Rara polos.

"Karena, Mama harus bayar hutang."

"Bayar hutang?"

"Iya, hutang Mama banyak, sayang."

"Hutang apalagi sih, Ma?" tanya papa tiba-tiba menghentikan mobilnya mendadak.

"Ini sudah siang, Papa."

"Yang bilang masih pagi juga siapa?"

"Papa!"

"Kamu hutang apalagi?"

"Hutang traktir teman-teman, Mama," Suaranya dengan nada memelas.

"What?"

Laki-laki itu seketika menoleh kebelakang, teman-teman sosialita lebih penting dari anak sendiri rupanya.

"Ma, Rara tuh pengen sebelum bobok didongengin sama Mama, dielus-elus rambutnya, kapan Rara bisa merasakan belaian Mama."

"Bibik setiap malam juga dongengin Rara, 'kan?" tanya Mamanya kemudian.

"Rara bosen didongengin Bibik, masa tiap malam dongengnya Kancil mencuri ketimun, gak kreatif. Coba dong nyuri yang lain." Gerutu Rara.

Papa seketika tertawa sampai punggungnya berguncang, dalam hati memuji kecerdasan putrinya dalam melakukan demo pada mamanya biar tidak kesepian. Mulut mama membulat sempurna, memutar cepat kepalanya setengah lingkaran, menatap takjub pada putri kecilnya.

"Tuh Ma, yang kreatif dikit napa?"

"Papa ini."

"Ma, Rara mau nanya, sebenarnya Rara ini anak siapa sih?"

"Ya jelas anaknya Mama dan Papa dong."

Mama memeluk Rara gemas, menciumi pipi tembemnya berkali-kali, sampai gadis cilik itu kegelian. Sesaat kemudian menatap wajah sang mana dan bertanya.

"Bukan anaknya Bibik?"

"Ya bukan dong, sayang."

"Kenapa Rara di rumah seringnya sama Bibik, makan, mandi bahkan bobok juga ditemenin Bibik," protes Rara.

"Rara sayang, Mama itu kerja semuanya buat Rara, apa-apa itu serba mahal, belanjaan mahal, bahkan katanya sembako juga bakalan kena pajak."

"Ma, kamu ngomongin pajak sama anak TK, ya mana dia ngerti."

"Rara sudah sampai, belajar yang rajin, jangan nakal ya."

Kembali melanjutkan perjalanan, wanita itu pindah duduk ke depan. Matanya menatap kosong ke depan, memikirkan ucapan Rara barusan, benarkah dia kesepian selama ini? Boneka, aneka mainan yang dibelikannya apakah tidak mampu mengusir kesepiannya? Dongeng kancil mencuri timun tiap malam, memamangnya bibik nggak punya dongeng lain apa? Batinya gerimis.

Setitik air menggenang di sudut mata Mama Azalea. Narendra yang tahu perubahan mimik muka istrinya, mengelus pundaknya, kemudian menggenggam jemari lentiknya.

"Ma, belum terlambat," ucapnya pelan.

"Maksud Papa?"

"Memberi Adek pada, Rara. Biar dia tidak kesepian."

"Hutang kita belum lunas," jawab wanita itu cepat.

"Apa kamu mau memberikan Adek pada Rara, menunggu cicilan rumah kita lunas? Dua puluh tahun lagi lho, Ma "

Laki-laki itu tak kuasa menahan ketawanya, lha masa iya menunggu dua puluh tahun lagi, Rara sudah punya suami baru punya adek?

"Papa ngeledek ya?"

Jemari lentik itupun dengan cepat mencubit pinggang laki-laki di sebelahnya yang langsung teriak kesakitan.

"Ampun Ma ..., makanya di ACC dong proposalnya."

"Proposal yang mana?" tanya wanita itu bingung.

"Proposal bibit unggul, yang siap menyebar benih tapi sawahnya belum siap."

Bersambung


Sumber gambar pinterest
Diubah oleh trifatoyah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 16 lainnya memberi reputasi
15
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
Ingin Membayar Gaji Mama
27-09-2021 19:44
Diubah oleh trifatoyah
profile-picture
profile-picture
disya1628 dan Mbahjoyo911 memberi reputasi
2 0
2
Ingin Membayar Gaji Mama
27-09-2021 19:44
Bab 2. Rara Diculik oleh Mantan Papanya

Ingin Membayar Gaji Mama


Laki-laki itu tak kuasa menahan ketawanya, lha masa iya menunggu dua puluh tahun lagi, Rara sudah punya suami baru punya adek?

"Papa ngeledek ya?"

Jemari lentik itupun dengan cepat mencubit pinggang laki-laki di sebelahnya yang langsung teriak kesakitan.

"Ampun Ma ..., makanya di ACC dong proposalnya."

"Proposal yang mana?" tanya wanita itu bingung.

"Proposal bibit unggul, yang siap menyebar benih tapi sawahnya belum siap."

"Sebenarnya sih siap, tapiiiii."

"Siap kok pakai tapi, itu namanya belum siap, Mama."

"Ya siap, tapi nggak di mobil juga keles hahahaha." Berkata diiringi tawa Azalea membuka pintu mobil, sebelumnya mencium punggung tangan suaminya.
Kalau dulu suaminya selalu membukakan pintu mobil di saat masuk dan keluar mobil sekarang keadaannya sudah beda, Azalea selalu terburu-buru, apalagi sejak ada Rara, semuanya dilakukan dengan cepat.

Arman memandangi punggung istrinya yang sesaat menghilang di balik pintu gerbang kantornya, kemudian melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju kantornya juga. Masih terngiang-ngiang di telinga juga, pernyataan istrinya yang sebenarnya sedikit meng-ACC proposalnya untuk memberikan adik buat Rara. Jadi setiap bulan istrinya itu nggak harus setor pantat ke Bidan langganannya untuk tetap menggunakan KB suntik, pasti berita ini akan menjadi berita menggembirakan buat keluarganya, terutama sang Nenek yang mengharapkan cucu kembali, maklumlah Arman adalah anak tunggal, beda dengan Azalea yang merupakan keluarga besar. Azalea merupakan anak ke dua dari lima bersaudara yang kesemuanya adalah perempuan.

"Kalau adiknya Rara entar perempuan, gimana ya," gumam Arman.

Pikiran Arman mulai kerkelana ke mana-mana, membayangkan seandainya anak keduanya adalah perempuan, bukan laki-laki seperti keinginan orang tuanya dan juga dirinya, karena Arman ingin ketampanannya terpahat dalam bentuk wajah anak keduanya nanti, Azalea sudah memiliki pahatan cantik dalam seraut wajah putri kecilnya yaitu Rara Azamanda.

Arman senyum-senyum sendirian sambil tetap fokus menyetir, akhirnya sampai juga di depan kantornya, sebelum turun pikirannya kembali pada anak keduanya nanti, kalau perempuan ya coba lagi, biar dapat anak laki-laki, gila coba lagi emang permainan apa, sudut bibirnya terangkat, mentertawakan dirinya yang semakin konyol saja, kalau coba lagi ternyata perempuan lagi yaaa coba lagi, sampai Azalea nggak ke mana-mana cuma ngurusin anaknya saja.

"Woy, Bree ngapain masih ngendon di situ!" Rama sahabat Arman sekaligus atasan di tempat kerjanya, mengetuk-ngetuk jedela mobilnya.

Arman buru-buru membuka mobil, sambil tetap menyisakan senyumnya, memikirkan Azalea yang dikerubutin anak-anak kecil yang semuanya perempuan, dengan perut membuncit berharap anak berikutnya adalah laki-laki.

"Ngapain senyum-senyum gitu, abis dapat jatah berapa ronde nih?" Rama langsung menepuk pundak sahabatnya sambil memberikan pertanyaan yang terasa begitu konyol. Berapa ronde, satu ronde saja kagak, wong pulang kerja istrinya langsung minta dikerokin katanya masuk angin. Dasar pertanyaan nggak guna, batin Arman kesal.

"Seratus ronde, puas!"

"Ala, nak jang masih kuat kau berangkat ngator ..." Rama tertawa terkekeh-kekeh. Tawa Rama tentu saja menarik perhatian Sinta, yang notabene adalah mantan Arman.
Arman melewati meja kerja Sinta tersenyum sejenak, gadis itu masih saja seperti dahulu, menatapnya dengan tatapan sendu.

"Pagi Pak Rama," sapa Sinta ramah.

Sinta hanya menyapa Rama tidak menyapa Arman, tentu saja membuat Arman merasa kembali bersalah, bersalah telah meninggalkan Sinta untuk menikahi Azalea. Bagaimana Arman mau menikahi Sinta kalau orang tuanya sudah menyiapkan jodoh untuknya, awalnya Arman tidak menyetujui perjodohan itu, tapi saat hubungannya dengan Sinta sedikit renggang, dan Sinta ternyata menjalin hubungan dengan rekan kerjanya itu tidak bisa dimaafkan, walaupun awalnya dia tidak mencintai Azalea, dia menerima gadis itu menjadi istrinya.

Berulangkali Sinta menjelaskan kalau Raka hanyalah sahabatnya yang datang saat dia butuh tempat curhat, tapi Arman tidak mau mendengarkan penjelasan Sinta, fatalnya lagi saat Sinta jalan bareng dengan Raka, di saat itu bersamaan dengan dirinya yang tengah mengantarkan Ibunya belanja. Mana ada orang tua yang rela anaknya dikhianati, belum menikah saja sudah begitu, bagaimana kalau sudah menikah? Berulangkali ibunya memberikan nasehat pada Arman, sampai akhirnya Arman menyetujui kandidat irang tuanya.

"Arman, silahkan kamu tersenyum, kamu merasa menang tujuh tahun ini, tapi kamu akan merasakan bagaimana kamu akan kehilangan anakmu!" Seringai Sinta, wanita tiga puluh tahun itu berjanji dalam hatinya, untuk memisahkan Arman dan Azalea, mungkin dengan cara menyingkirkan buah hati dari mereka, adalah awal yang bagus untuk memisahkan keduanya.

***

Sementara di Taman Kanak-kanak Pelangi Nusantara, Rara tengah menunggu Bibik menjemputnya, Bik Sani biasa menjemput Rara dengan memesan Go-Jek langganan yang sudah dipesan Bik Sani sebelumnya.

Rara tengah bermain ayunan sambil benyanyi-nyanyi riang, menghafalkan lagu baru yang diajarkan oleh Bu Anita gurunya.

"Rara, ada yang jemput."

"Bik Sani, ya Bu?" tanya gadis kecil itu kegirangan, karena sudah menunggu cukup lama.

"Bukan, katanya dia Tantenya Rara, adik sepupunya Mama."

"Okey deh Bu, aku pulang dulu ya, Assalamu'alaikum."

"Waalaikummussalam."

Rara keluar gerbang disambut Sinta dengan senyuman manis semanis gulali, sambil membawa boneka panda warna pink, boneka yang sebesar dirinya. Awalnya Rara kebingungan, melihat perempuan seumur Mamanya menghampiri sambil memberikan bobeka itu.

"Ini untuk anak sahabat, Tante."

"Maaf, Tante siapa ya?" Tanya Rara kebingungan.

"Tante ini sepupu Mama Azalea, emang sih Tante nggak pernah main ke rumahmu, karena Tante banyak kerjaan, nah mumpung Tante lagi longgar, akhirnya Tante nemuin Mamamu deh, kita mau makan es krim bareng, mau nggak."

"Mau ... mau Tante, aku suka makan es krim." Rara terlonjak kegirangan karena mau makan es krim bersama mamanya dan jug saudaranya. Sambil memeluk boneka pemberian Sinta, Rara memasuki mobil Sinta yang dikemudikan oleh seorang sopir pribadi Sinta.

Sepuluh menit kemudian Bik Sani tiba di sekolah, langsung bertanya pada gurunya. Bu Anita mengatakan kalau Rara baru saja dijemput oleh Tantenya. Bik Sani panik bukan kepalang, karena setahu Bik Sani, Rara tidak punya Tante di kota ini.

Bik Sani langsung menelpon Azakea, tapi telponnya sedang sibuk, begitu juga ketika menelpon Arman tak ada jawaban, ia semakin kebingungan. Bu Anita juga merasa bersalah karena percaya begitu saja dengan wanita yang menjemput Rara.

Akhirnya Bik Sani minta bantuan supir Go-Jek untuk menemui Arman ke kantornya, perasaannya tidak menentu, ia merasa bersalah karena telat menjemput Rara. Hatinya mulai was-was rasa takut kian menghantui dirinya, bagaimana kalau Azalea tahu putrinya pulang dengan orang tak dikenal? Membayangkan repetannya saja membuat kepala Bik Sani mendadak pusing.

Bersambung
Diubah oleh trifatoyah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
disya1628 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 30 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 30 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
27-09-2021 19:45
Reserved 3
profile-picture
Mbahjoyo911 memberi reputasi
1 0
1
Ingin Membayar Gaji Mama
27-09-2021 19:57
Weh kayak siapa ya bibitnya unggul tapi sawah nya blm siapemoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 13 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 13 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
27-09-2021 20:01
Trenyuh.. emoticon-Frown
Lanjut bund sist.. emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nananinanunu dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 10 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 10 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
27-09-2021 20:05
nongkrong sini ah
profile-picture
profile-picture
makgendhis dan trifatoyah memberi reputasi
2 0
2
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
27-09-2021 22:33
Eum, Rara pen punya adikemoticon-Frown
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Rainbow555 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 11 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 11 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
27-09-2021 23:18
mayan bagus ceritanyaaaa
lanjut euyy
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
27-09-2021 23:25
Kalo Punya emae males masak
Gampang biar semangat emoticon-Cool


Cukup2 Kalimat
Ngapain banggain masakan orang
Mending banggain masakan emak

Bergetar dah

emoticon-Ngacir
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan bonita71 memberi reputasi
2 0
2
Ingin Membayar Gaji Mama
28-09-2021 02:41
nice.
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
28-09-2021 03:19
Proposal bibit unggul, yang siap menyebar benih tapi sawahnya belum siap.



Nunggu deskripsi bercocok tnm padi ir 64.
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan trifatoyah memberi reputasi
2 0
2
Lihat 16 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 16 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
28-09-2021 04:09
Wah menarik ditunggu part berikutnya
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
28-09-2021 05:22
Quote:Original Posted By gikogaza
Kalo Punya emae males masak
Gampang biar semangat emoticon-Cool


Cukup2 Kalimat
Ngapain banggain masakan orang
Mending banggain masakan emak

Bergetar dah

emoticon-Ngacir

Oh gitu ya
Quote:Original Posted By bukhorigan
nice.


Okey
0 0
0
Ingin Membayar Gaji Mama
28-09-2021 07:49
Bagus ceritanya....masalah yang di hadapi oleh masyarakat pada orang perkotaan, tapi disajikan dengan ringan dan kocak..........lanjutkan, jangan sampai putus di tengah jalan
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
28-09-2021 08:52
Cicilan panci emoticon-Leh Uga
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
28-09-2021 16:23
Wooow! Udah keluar cerita baru lagi? Yg lama gimana kabarnya,nih?
Sumur idenya gak pernah kering,sis? emoticon-Betty
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Lihat 8 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 8 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
28-09-2021 17:39
wew, Rara
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Lihat 29 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 29 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
30-09-2021 15:31
Bab 3. Sinta Dibuat Malu oleh Rara

Ingin Membayar Gaji Mama


Akhirnya Bik Sani minta bantuan supir Go-Jek untuk menemui Arman ke kantornya, perasaannya tidak menentu, ia merasa bersalah karena telat menjemput Rara. Hatinya mulai was-was rasa takut kian menghantui dirinya, bagaimana kalau Azalea tahu putrinya pulang dengan orang tak dikenal? Membayangkan repetannya saja membuat kepala Bik Sani mendadak pusing.

Sampai di kantor tempat Arman bekerja, Bik Sani celingukan, wajahnya terlihat sangat cemas, setelah meminta bantuan resepsionis Bik Sani duduk menunggu di ruang resepsionis, sambil menunggu kedatangan majikannya, sementara sopir Go-jek masih setia menunggunya, karena belum dibayar juga.

"Ada apa Bik? Ada apa Bik Sani ke sini?" tanya Arman penasaran.

"Anu ... anu ... Pak, itu Non Rara." Bik Sani menjawab pertanyaan majikannya dengan gugup, keringat dingin mengucur membasahi dahinya.

"Tenang Bik, ada apa dengan Rara?" Arman menyodorkan air mineral ukuran gelas yang ada di meja resepsionis pada Bik Sani, tidak lupa menyerahkan sedotan kecil padanya. Dengan tangan gemetar Bik Sani menerima air mineral itu dan meminumnya perlahan.

"Pak, Non Rara nggak ada di sekolah."

"Nggak ada gimana?"

"Iya ... kata Bu Guru nya, sudah pulang dijemput saudara sepupu mamanya."

"Jangan ngaco Bik, saudara sepupu Mama Rara nggak ada di sini."

"Iya kata Bu gurunya, apa mungkin Non Rara di culik, Pak. Aduh gimana ini?"

"Bik Sani tenang dulu, coba aku telpon Mamanya Rara."

Sambungan telepon sedang tidak aktif, berulang kali Arman menghubungi Azalea tetap tidak ada jawaban. Bik Sani semakin panik, badannya gemeteran persis orang kena demam. Rama yang melihat keduanya di ruang resepsionis lantas menghampiri mereka.

"Ada apa, Ar?"

"Ini Ram, anakku diculik."

"Apa!"

"Iya, Rara diculik dari sekolahnya."

"Kenapa kamu bisa menyimpulkan begitu?"

"Ya karena selama ini nggak ada yang menjemput Rara kecuali Bik Sani, aku dan Azalea."

"Sudah dicari ke mana saja?" tanya Rama kembali.

"Belum dicari sih, wong aku aja baru tahu sekarang."

"Mamanya udah tahu belum?"

"Belum sih, kalau Mamanya tahu bisa panjang repetannya."

"Ya, udah. Kamu cari dulu. Sinta ngapain juga katanya ijin."

"Ya mana aku tahu." Berkata Arman sambil mengedikan bahunya.

Arman mengucapkan banyak terima kasih pada atasannya sekaligus sahabatnya dari kecil itu. Dia langsung mengajak Bik Sani untuk ikut mencari Rara, sebelumnya Arman membayar Go-Jek yang telah mengantarkan Bik Sani ke kantornya.

***

Sementara itu Rara tengah duduk di bangku belakang mobil Avanza warna silver yang terus melaju ke luar kota. Gadis kecil itu terus saja berceloteh tentang pelajarannya di sekolah, seakan tak ada rasa takut sedikitpun.

"Tante kita mau ke mana sih?" tanya Rara kemudian.

"Kita mau jalan-jalan." jawab Sinta sambil tersenyum.

"Kenapa nggak bilang Mama dulu?"

"Tante 'kan udah minta ijin sama, Mama."

"Oh iya tadi Tante udah bilang, katanya disuruh Mama buat ngajakin aku jalan-jalan."

Sintia tersenyum tipis, melirik dengan ekor matanya, betapa polosnya gadis kecil ini, bahkan sepanjang perjalanan batereinya seakan terisi penuh. Ada saja yang ditanyakan.

"Tante, aku pengen pipis, oh iya di sana ada masjid kita bisa turun dulu Tante, sekalian Sholat Dhuhur."

"Apa Sholat?" tanya Sinta tersentak kaget.

"Kok Tante kaget gitu sih? Emang Agama Tante apa?"

"Yaaaa Islam."

"Kenapa dengar kata sholat, Tante kaget gitu, apa Tante nggak pernah sholat ya?"

Gadis kecil itu seperti cenayang saja, bisa menebak seseorang yang tidak pernah sholat. Sinta jadi malu, wajahnya memerah bak kerang rebus saking malunya. Betapa sudah lama dirinya meninggalkan sholat, sejak hubungannya kandas dengan Arman hidupnya jadi kacau, ia menganggap kalau Allah tidak adil, telah memisahkan orang yang sangat dicintainya menikah dengan orang lain.

Bahkan untuk mengingat doa-doa sholat saja rasanya malas. Meninggalkan sholat adalah hal yang biasa saja bagi Sinta. Dan hari ini wajahnya seakan tertampar oleh kata-kata gadis kecil itu.

"Kok, Tante Diam?"

"Ehmm,"

"Tante Sholat itu kata Uztazah tiang agama, walaupun masih TK aku Sholat lho."

"I...iya ... anak pintar."

"Apa emang Tante nggak pernah Sholat? tanya Rara kembali.

Sinta hanya diam, tidak mau menjawab pertanyaan gadis kecil yang dirasakannya semakin ngaco, sudah seperti uztazah saja. Kenapa bisa Arman memiliki anak secerdas ini, shalihah pula. Tadi saja dia menghafalkan surat-surat pendek yang diajarkan gurunya. Kenapa ada anak yang diculik bisa setenang dia, bahkan merasa baik-baik saja, padahal aku baru saja dikenalnya, batin Sinta tak mengerti.

"Umur Tante berapa sih?"

Ngapain ini anak nanya-nanya umur segala, emang mau jadi petugas sensus apa? Sintia membatin dengan dongkol juga, karena sebelum pertanyaannya dijawab gadis kecil itu akan terus bertanya.

"Tiga puluh tahun."

"Wow tiga puluh banyak amat!" Jendela mata kecil itu membelalak sempurna, mendengar jawaban Sinta.

"Banyak amat gimana?"

"Ya, banyak. Aku aja cuma enam, kok Tante tiga puluh. Eh Tante hapal surat Al-Lahab nggak?"

"Nggak!" jawab Sinta kesal.

"Tiga puluh tahun nggak hapal surat Al-Lahab, jadi Tante selama ini ngapain aja?"


Bersambung.
Diubah oleh trifatoyah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
disya1628 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 27 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 27 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
30-09-2021 15:55
rara keknya abis makan pisang, jadi cerewet banget emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
01-10-2021 20:57
Bab 4. Rara Kasihan Pada Sinta

Ingin Membayar Gaji Mama


Ngapain ini anak nanya-nanya umur segala, emang mau jadi petugas sensus apa? Sinta membatin dengan dongkol juga, karena sebelum pertanyaannya dijawab gadis kecil itu akan terus bertanya.

"Tiga puluh tahun."

"Wow tiga puluh banyak amat!" Jendela mata kecil itu membelalak sempurna, mendengar jawaban Sinta.

"Banyak amat gimana?"

"Ya, banyak. Aku aja cuma enam, kok Tante tiga puluh. Eh Tante hapal surat Al-Lahab nggak?"

"Nggak!" jawab Sinta kesal.

"Tiga puluh tahun nggak hapal surat Al-Lahab, jadi Tante selama ini ngapain aja?"

Ini bocah nyebelin banget, mana dari tadi ngoceh aja seperti burung kutilang habis dikasih pisang kapas saja, batin Sinta kesal. Tapi Sinta tetap berusaha tersenyum agar gadis kecil yang duduk di sampingnya ini tidak curiga.

"Tante mau dengar Surat Al-Lahab?" tanya Rara sambil tersenyum, menampakan dua lesung pipit, seperti halnya Arman kalau sedang tersenyum, maka akan menampakkan lesung pipitnya.

"Ya, coba."

"Bismillahirrahmanirrahim, Tabat yada abi ...."

"Kalau itu sih Tante tahu, surat Tabat 'kan?"

"Dih Tante, mana ada surat Tabat, ya nggak ada, ini namanya surat Al-Lahab, bukan surat Tabat, mau dicari sampai rambut Tante Sinta ubanan juga gak bakalan ketemu Surat Tabat, hahahaha."

Rara tertawa sampai terpingkal-pingkal. Sebenarnya Sinta masih lupa-lupa ingat surat Al-Lahab, tapi memang Sinta tidak tahu kalau Surat itu namanya Surat Al-Lahab, yang Sinta tahu itu surat Tabat.
Pak Ardi supir pribadi Sinta sampai ikutan tersenyum, sebenarnya ingin tertawa tapi takut dosa, takut dipotong gajinya.

"Buruan Pak, aku kebelet pipis." Berkata Rara sambil nyengir menahan keinginannya untuk buang air kecil.

"Mampir Masjid itu," titah Sinta pada Pak Ardi.

Pak Ardi langsung memasuki area Masjid, tampat tertulis Nama Masjid yang cukup Megah, Masjid Khuzaemah. Rara langsung keluar mobil setelah sebelumnya Pak Ardi membukakan pintu untuknya.

Langkah kakinya lebar-lebar, bergegas mencari toilet, gadis kecil itu meninggalkan Sintia yang tetap mengikuti di belakangnya. Rara memasuki toilet di ujung sana, terpaksa Sinta menunggunya di depan pintu. Selesai dari toilet, Rara Langsung mencari tempat wudu, gadis kecil itu membuka jilbabnya, meketakkan di tempat menaruh jilbab.

Tangan kecilnya perlahan mengambil air wudhu, mencuci kedua tangan, kumur-kumur, membasuh hidung, membasuh muka, membasuh tangan sampai siku, mengusap rambut dan telinga, terakhir membasuh telapak kaki sampai mata kaki. Sinta dibuat takjub melihatnya, gadis kecil itu hapal tata cara dan urutan berwudhu.

"Tante nggak wudhu?" tanya Rara setelah memakai jilbabnya.

"Tante lagi dapet," jawab Sinta singkat.

"Dapet apaan?" tanta Rara bingung.

"Ya dapet tamu bulanan."

"Dih, Tante aneh deh, masak ada tamu bulanan, berarti ada tamu mingguan, juga tamu harian gitu?" tanya Rara sambil geleng-geleng mengibaskan jilbabnya.

Haduuuuh, aku harus jawab apalagi? Benar-benar nih anak kritisnya minta ampun, anak umur enam tahu mana ngerti tamu bulanan? Hati Sinta kembali menjerit-jerit tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana tentang tamu bulanan, mana bertanya terus tidak ada hentinya, rasanya ingin Sinta melakban mulut mungil itu sesaat.

"Sudah katanya mau Sholat, kok ngomong aja dari tadi."

"Tapj nanti Tante kudu jelasin, apa itu tamu bulanan."

"Okey deh, tapi sholat dulu sana, oh iya kamu mau sholat emangnya baea mukena, bukankah di masjid biasanya nggak ada mukena anak-anak."

"Tenang aja Tante, Rara bawa mukena kok, ini mukenanya."

Rara mengeluarkan mukena parasit dari dalam tas punggungnya. Apa gadis kecil itu ternyata membawa mukena, bagaimana bisa, gadis yang sekecil itu ke mana-mana membawa mukena? Sinta benar-benar dibuat takjub, Rara memakai mukena parasit berwarna biru muda, yang di belakang mukena tepat di punggung ada tulisan Rara.

"Tante heran ya, kok aku bawa mukena?'
tanya Rara sambil memperhatikan raut wajah Sinta yang teihat keheranan.

Benar-benar seperti cenayang gadis kecil ini, batin Sinta. Sepertinya dia tahu apa jalan pikiran Sinta.

"Gini Tante, sekolah Aku 'kan TK IT. eh Tante tahu nggak apa itu TK IT?" tanya Rara kemudian, menyangsikan kalau Sinta tahu singkatan dari TK IT.

"Ya tahu, Taman Kanak-kanak Islam Terpadu."

"Horeeeee! Kali ini Tante pinter."


Bersambung
Diubah oleh trifatoyah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 9 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 9 balasan
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
denting-waktu-dalam-ruang-sepi
Stories from the Heart
tenung-based-on-true-story
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Poetry
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia