Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
219
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6151bc81d914a776581ccc87/ingin-membayar-gaji-mama
Kisah ini menceritakan seorang gadis kecil yang kesepian, ingin memiliki adik tapi mamanya belum siap karena sibuk dengan pekerjaannya, sampai-sampai ia mengumpulkan uang sakunya demi bisa membayar gaji mamanya, agar sang mama bisa menemaninya bermain di rumah, mengantarkannya ke sekolah, dan liburan bersama seperti teman-temannya. Akankah hati sang mama tergugah melihat kegigihan putri kecilnya?
Lapor Hansip
27-09-2021 19:43

Ingin Membayar Gaji Mama

icon-verified-thread
Ingin Membayar Gaji Mama


Quote:Kisah ini menceritakan seorang gadis kecil yang kesepian, ingin memiliki adik tapi mamanya belum siap karena sibuk dengan pekerjaannya, sampai-sampai ia mengumpulkan uang sakunya demi bisa membayar gaji mamanya, agar sang mama bisa menemaninya bermain di rumah, mengantarkannya ke sekolah, dan liburan bersama seperti teman-temannya. Akankah hati sang mama tergugah melihat kegigihan putri kecilnya?


Bab 1. Rara yang kesepian

Rara memasukan uang sakunya ke dalam celengan plastik berbentuk panda, untuk ke sekian kalinya. Mata bening itu memancarkan binar harapan, bibirnya mengulum senyum, sepuluh jemari lentik mengangkat celengan dengan mata sedikit menyipit, mengintip sudah berapa banyak isinya.

"Belum penuh," desisnya sambil meletakkan kembali di meja belajarnya.

"Rara, buruan 'ntar Mama terlambat!" seru mamanya dari meja makan sambil membereskan piring-piring kotor dan mengelap meja makan.

"Iya, Ma ... Sebentar Rara ambil tas dulu." Rara mengambil tas sejurus kemudian, memakai sepatu, tidak membutuhkan waktu lama Rara siap untuk berangkat.

Perjalanan ke sekolah memakan waktu kurang lebih lima belas menit, selalu dan selalu terburu-buru setiap harinya. Sang mama pun tak hentinya mengomel pada putrinya itu.
Gadis kecil dengan mata lentik, hidung bangir, kulit putih, fotocopy dirinya waktu kecil.

"Ra, berapa kali Mama sudah bilang, pagi-pagi jangan malas-malasan." Nasehat sang Mama yang tidak lebih seperti omelan di telinga gadis kecil itu.

"Mandi jangan buat mainan, sarapan jangan buat mainan, jadi anak itu harus smart, nurut apa kata orang tua."

Rara hanya menunduk, menggigit bibirnya, sesekali melirik dengan ekor matanya pada wanita yang bibirnya sudah mirip ikan koki itu.
Padahal di sekolah Bu Anita tidak pernah mengatakan kata jangan, setiap kali dia melarang Rara dan teman-temannya. Ketika Rara mencoret tembok sekolah, Bu Anita dengan lembut berkata,

"Rara, sebaiknya menggambar di papan tulis saja, atau Rara menggambar di buku gambar ini."

Kalau Rara membuang sampah sembarangan, Bu Anita juga tidak pernah marah, dia akan berkata,

"Sebaiknya membuang bungkus coklat di tempat sampah, anak cantik, kasihan dong tempat sampahnya dianggurin."

Mama, mengapa mama berbeda? Sukanya marah-marah nggak jelas, papa juga kenapa nggak pernah negur mama batin Rara kesal. Padahal papa bisa saja menegur mama.

"Kalau Mama lagi ngomong itu didengerin, Ra!"

"Iya, Ma. Ini juga Rara dengerin," sahut Rara pelan.

"Janji besok mau nurut sama Mama?" tanya Mamanya menegaskan.

"Iya, Ma."

"Jangan iya, iya aja! Tapi dilaksanakan," titah Mama sedikit emosi.

"Papa juga, kalau pagi itu nggak usah lama-lama jogingnya, kalau terlambat gini, Mama juga yang repot."

Papa yang tengah serius menyetir, menarik sudut bibirnya, menggelengkan kepala, keningnya berkerut pandangan mata tetap lurus kedepan tak bersuara. Sekarang yang kena omelan gantian papa, Rara nyengir. Dapat giliran juga akhirnya batin Rara selanjutnya.

"Papa ini denger nggak sih, Mama ngomong?" tanya mama dengan gigi gemeretak menahan dongkol, melirik maut ke arah suaminya.

"Iya denger."

"Papa tahu nggak, Mama tuh nggak bisa diginiin, Mama capek kalau tiap hari ngomel begini."

"Ya makanya, kurangi dong frekuensi ngomelnya, ups!"

"Jadi Papa nyalahin, Mama?"

"Ya nggak dong, mana berani Papa nyalahin Mama, dalam pasal 1 Mama nggak pernah salah, kalau pasal dua salah, kembali ke pasal satu, begitu seterusnya sampai kiamat ...."

"Papa!" teriak mama dengan tatapan mata suram, napasnya naik turun menahan emosi yang meledak-ledak.

"Ma, nggak usah teriak-teriak dong, konsentrasi Papa jadi buyar nih, kalau ntar nabrak gimana dong."

"Gimana nggak teriak, Papa nggak dengerin Mama!"

"Ma, boleh nggak Rara minta Adek?" tanya Rara dengan wajah memelas, seketika itu.

Sudah dari minggu-minggu yang lalu gadis kecil itu menginginkan seorang adik bayi, tapi tidak berani mengatakan pada mamanya. Baru kali ini Rara berusaha mengatakan isi hatinya, walaupun tentu saja ini bukanlah saat yang tepat.

"What?"

"Ma, Rara kesepian di rumah. Mama pulangnya malam, Papa juga, Rara di rumah cuma sama Bibik, boleh ya Ma, Rara minta Adek?" rengek Rara manja.

"No! Belum saatnya!" tegas wanita itu.

"Ma ...," rengek Rara lagi.

"Kabulin permintaan Rara kenapa, Ma. Bukankah dia sudah berumur enam tahun, sudah saatnya punya Adek," usul laki-laki yang sedang menyetir, siapa tahu di ACC.

"Papa, cicilan mobil ini belum lunas, cicilan kursi, cicilan kulkas bahkan cicilan panci juga belum lunas, mikir dong, Pa!" ucap wanita itu sedikit berteriak.

"Ya, Papa mikir makanya kerja tiap hari, agar kebutuhan kita bisa terpenuhi."

"Nah itu tahu," gerutu Mama.

"Ma, teman-teman Rara punya Adek, kok Rara nggak?" tanya Rara kemudian.

"Gini aja Ma, bulan depan Papa naik gaji, Papa bakalan dapat warisan dari Ibu di kampung, Mama di rumah aja nemenin Rara biar nggak kesepian."

"Mama bisa bosen di rumah aja, lagian 'ntar siapa yang gaji Mama, kalau di rumah?"

"Tenang Ma, Rara yang akan membayar gaji Mama, selama ini Rara nggak pernah jajan di sekolah, semua uang saku sudah Rara masukan ke dalam celengan, semuanya untuk Mama, asalkan Mama mau nemenin Rara di rumah."

Tanpa terasa pipi wanita itu memanas, matanya mulai berembun, perasaan campur aduk tak karuan, menengok keegoisannya selama ini. Bekerja siang malam demi menenuhi gengsi, sebenarnya kalau mau hidup bersyukur, tidak sebentar-sebentar ganti mobil, perabot rumah tangga, pastilah tidak akan banyak tagihan.

"Untuk saat ini Mama belum bisa, sayang." Mama Memejamkan matanya kemudian membuka dengan pelan.

"Kenapa, Ma?" tanya Rara polos.

"Karena, Mama harus bayar hutang."

"Bayar hutang?"

"Iya, hutang Mama banyak, sayang."

"Hutang apalagi sih, Ma?" tanya papa tiba-tiba menghentikan mobilnya mendadak.

"Ini sudah siang, Papa."

"Yang bilang masih pagi juga siapa?"

"Papa!"

"Kamu hutang apalagi?"

"Hutang traktir teman-teman, Mama," Suaranya dengan nada memelas.

"What?"

Laki-laki itu seketika menoleh kebelakang, teman-teman sosialita lebih penting dari anak sendiri rupanya.

"Ma, Rara tuh pengen sebelum bobok didongengin sama Mama, dielus-elus rambutnya, kapan Rara bisa merasakan belaian Mama."

"Bibik setiap malam juga dongengin Rara, 'kan?" tanya Mamanya kemudian.

"Rara bosen didongengin Bibik, masa tiap malam dongengnya Kancil mencuri ketimun, gak kreatif. Coba dong nyuri yang lain." Gerutu Rara.

Papa seketika tertawa sampai punggungnya berguncang, dalam hati memuji kecerdasan putrinya dalam melakukan demo pada mamanya biar tidak kesepian. Mulut mama membulat sempurna, memutar cepat kepalanya setengah lingkaran, menatap takjub pada putri kecilnya.

"Tuh Ma, yang kreatif dikit napa?"

"Papa ini."

"Ma, Rara mau nanya, sebenarnya Rara ini anak siapa sih?"

"Ya jelas anaknya Mama dan Papa dong."

Mama memeluk Rara gemas, menciumi pipi tembemnya berkali-kali, sampai gadis cilik itu kegelian. Sesaat kemudian menatap wajah sang mana dan bertanya.

"Bukan anaknya Bibik?"

"Ya bukan dong, sayang."

"Kenapa Rara di rumah seringnya sama Bibik, makan, mandi bahkan bobok juga ditemenin Bibik," protes Rara.

"Rara sayang, Mama itu kerja semuanya buat Rara, apa-apa itu serba mahal, belanjaan mahal, bahkan katanya sembako juga bakalan kena pajak."

"Ma, kamu ngomongin pajak sama anak TK, ya mana dia ngerti."

"Rara sudah sampai, belajar yang rajin, jangan nakal ya."

Kembali melanjutkan perjalanan, wanita itu pindah duduk ke depan. Matanya menatap kosong ke depan, memikirkan ucapan Rara barusan, benarkah dia kesepian selama ini? Boneka, aneka mainan yang dibelikannya apakah tidak mampu mengusir kesepiannya? Dongeng kancil mencuri timun tiap malam, memamangnya bibik nggak punya dongeng lain apa? Batinya gerimis.

Setitik air menggenang di sudut mata Mama Azalea. Narendra yang tahu perubahan mimik muka istrinya, mengelus pundaknya, kemudian menggenggam jemari lentiknya.

"Ma, belum terlambat," ucapnya pelan.

"Maksud Papa?"

"Memberi Adek pada, Rara. Biar dia tidak kesepian."

"Hutang kita belum lunas," jawab wanita itu cepat.

"Apa kamu mau memberikan Adek pada Rara, menunggu cicilan rumah kita lunas? Dua puluh tahun lagi lho, Ma "

Laki-laki itu tak kuasa menahan ketawanya, lha masa iya menunggu dua puluh tahun lagi, Rara sudah punya suami baru punya adek?

"Papa ngeledek ya?"

Jemari lentik itupun dengan cepat mencubit pinggang laki-laki di sebelahnya yang langsung teriak kesakitan.

"Ampun Ma ..., makanya di ACC dong proposalnya."

"Proposal yang mana?" tanya wanita itu bingung.

"Proposal bibit unggul, yang siap menyebar benih tapi sawahnya belum siap."

Bersambung


Sumber gambar pinterest
Diubah oleh trifatoyah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 16 lainnya memberi reputasi
15
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
Ingin Membayar Gaji Mama
21-10-2021 08:48
Ingin Membayar Gaji Mama

Ingin Membayar Gaji Mama


Bab 5. Berubah Jadi Sayang

Benar-benar seperti cenayang gadis kecil ini, batin Sinta. Sepertinya dia tahu apa jalan pikiran Sinta.

"Gini Tante, sekolah Aku 'kan TK IT. eh Tante tahu nggak apa itu TK IT?" tanya Rara kemudian, menyangsikan kalau Sinta tahu singkatan dari TK IT.

"Ya tahu, Taman Kanak-kanak Islam Terpadu."

"Horeeeee! Kali ini Tante pinter."

Rara bertepuk tangan kemudian mengacungkan dua jempolnya. Mata beningnya berbinar-binar indah, Sinta geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu gadis kecil di depannya yang terkadang menyebalkan.

"Tante kita mau kemana sih?" tanya Rara sambil mengedarkan pandangan matanya ke jalanan.

"Kita mau makan siang," jawab Sinta enteng.

"Wah ... kok Tante tahu sih kalau Aku tuh lapar banget, kita mau makan di mana, Tante?" tanya Rara lagi.

"Kita makan di Restoran aja, ada tempat makan di tepi danau, pokoknya tempatnya indah banget, Rara pasti suka."

"Wah! Ke danau, asyik banget tuh, udah lama juga Mama dan Papa nggak ngajakin aku jalan-jalan, ternyata Tante baik banget. Ya Allah berilah kesehatan untuk Tante Sinta, semoga Tante Sinta sehat." Rara mengangkat tangan mungilnya, melangitkan doa untuk wanita yang sebenarnya tengah menculiknya.

"Aamiin."

Bagaimana bisa aku menyakiti gadis kecil ini, wajahnya yang mirip Arman, tingkah lakunya yang menggemaskan, kenapa aku berubah jadi sayang terhadap makhluk kecil yang bicaranya ceplas-ceplos ini? Batin Sinta.

Semua di luar rencana yang telah disusun matang-matang oleh Sinta, rasanya ngobrol dengan gadis kecil itu membuat warna dalam hari-harinya yang kelabu sejak ditinggalkan Arman menikah menjadi cerah kembali.

Sinta membantu Rara keluar dari mobilnya, menuju Griya Dahar Arum Sari yang terletak tidak jauh dari tepian danau yang indah. Terlihat binar bahagia terpancar di wajah gadis kecil itu.

"Ya Allah Tante, tempatnya indah banget, bunga-bunganya banyak banget, aku suka aku suka." Berkata Rara dengan riang gembira.

Kamu tidak tahu Rara dulu tempat ini adalah tempat favorit Tante dan Papamu, menghabiskan sore, menunggu tenggelam mentari di ufuk barat sana. Rencana pernikahan itu kandas, semua karena kehadiran Mamamu, wanita yang tiba-tiba saja mampu meluluhkan hati nenekmu, Aku sendiri heran apa kurangnya aku? Sampai tak dapat restu dari Nenekmu. Dengan teganya nenekmu memisahkan aku dan anaknya.
Dada Sinta semakin bergejolak mengingat semua kenangan bersama sang mantan yang tak akan pernah terlupakan, Bagaimana bisa terlupakan walau sudah tujuh tahun lamanya cinta itu tetap ada.

Buliran bening itu pun menetes melewati pipi nya yang putih bersih, tangan kirinya mengusap kasar air matanya. Rara tertegun melihat perubahan wanita dewasa yang ada dihadapannya kemudian bertanya.

"Tante, kenapa menangis? Apa aku menyusahkanmu, kalau aku menyusahkanmu aku minta maaf."

"Tidak, Tante cuma kelilipan aja, Tante nggak apa-apa."

"Tante buruan jongkok, biar aku tiup matanya."

Sinta pun jongkok mensejajarkan badannya pada badan Rara, dengan pelan gadis kecil itu meniup dua mata berbulu lentik itu secara bergantian. Sinta sangat terharu dengan apa yang dilakukan gadis kecil itu padanya. Dua tangan halusnya langsung menangkup pipi sedikit tembem milik gadis kecil itu.

"Terima kasih, Tante sayang sama Rara."

"Hmmm Rara juga."

"Selesai makan temani Tante, di danau dulu ya."

"Lama nggak?"

"Tergantung."

"Kok tergantung, Tante?"

"Iya kalau pemandangannya indah terus begini 'kan sayang untuk nibggalin tempat ini."

"Iya sih, Tapi ...."

"Tapi apa?"

"Nggak apa-apa deh, lagian Mama juga pulangnya sampai sore kadang juga malam."


Bersambung






profile-picture
profile-picture
profile-picture
farid2098 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 28 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 28 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
19-10-2021 13:53
ngaskus santai sambil baca thread begini gan emoticon-frog
profile-picture
profile-picture
lsenseyel dan trifatoyah memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
02-10-2021 14:21
Yahh ga dapet pekiwan

Kritik sok sial...ehh..sosial yg cerdas
Diubah oleh jenggalasunyi
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
01-10-2021 20:57
Bab 4. Rara Kasihan Pada Sinta

Ingin Membayar Gaji Mama


Ngapain ini anak nanya-nanya umur segala, emang mau jadi petugas sensus apa? Sinta membatin dengan dongkol juga, karena sebelum pertanyaannya dijawab gadis kecil itu akan terus bertanya.

"Tiga puluh tahun."

"Wow tiga puluh banyak amat!" Jendela mata kecil itu membelalak sempurna, mendengar jawaban Sinta.

"Banyak amat gimana?"

"Ya, banyak. Aku aja cuma enam, kok Tante tiga puluh. Eh Tante hapal surat Al-Lahab nggak?"

"Nggak!" jawab Sinta kesal.

"Tiga puluh tahun nggak hapal surat Al-Lahab, jadi Tante selama ini ngapain aja?"

Ini bocah nyebelin banget, mana dari tadi ngoceh aja seperti burung kutilang habis dikasih pisang kapas saja, batin Sinta kesal. Tapi Sinta tetap berusaha tersenyum agar gadis kecil yang duduk di sampingnya ini tidak curiga.

"Tante mau dengar Surat Al-Lahab?" tanya Rara sambil tersenyum, menampakan dua lesung pipit, seperti halnya Arman kalau sedang tersenyum, maka akan menampakkan lesung pipitnya.

"Ya, coba."

"Bismillahirrahmanirrahim, Tabat yada abi ...."

"Kalau itu sih Tante tahu, surat Tabat 'kan?"

"Dih Tante, mana ada surat Tabat, ya nggak ada, ini namanya surat Al-Lahab, bukan surat Tabat, mau dicari sampai rambut Tante Sinta ubanan juga gak bakalan ketemu Surat Tabat, hahahaha."

Rara tertawa sampai terpingkal-pingkal. Sebenarnya Sinta masih lupa-lupa ingat surat Al-Lahab, tapi memang Sinta tidak tahu kalau Surat itu namanya Surat Al-Lahab, yang Sinta tahu itu surat Tabat.
Pak Ardi supir pribadi Sinta sampai ikutan tersenyum, sebenarnya ingin tertawa tapi takut dosa, takut dipotong gajinya.

"Buruan Pak, aku kebelet pipis." Berkata Rara sambil nyengir menahan keinginannya untuk buang air kecil.

"Mampir Masjid itu," titah Sinta pada Pak Ardi.

Pak Ardi langsung memasuki area Masjid, tampat tertulis Nama Masjid yang cukup Megah, Masjid Khuzaemah. Rara langsung keluar mobil setelah sebelumnya Pak Ardi membukakan pintu untuknya.

Langkah kakinya lebar-lebar, bergegas mencari toilet, gadis kecil itu meninggalkan Sintia yang tetap mengikuti di belakangnya. Rara memasuki toilet di ujung sana, terpaksa Sinta menunggunya di depan pintu. Selesai dari toilet, Rara Langsung mencari tempat wudu, gadis kecil itu membuka jilbabnya, meketakkan di tempat menaruh jilbab.

Tangan kecilnya perlahan mengambil air wudhu, mencuci kedua tangan, kumur-kumur, membasuh hidung, membasuh muka, membasuh tangan sampai siku, mengusap rambut dan telinga, terakhir membasuh telapak kaki sampai mata kaki. Sinta dibuat takjub melihatnya, gadis kecil itu hapal tata cara dan urutan berwudhu.

"Tante nggak wudhu?" tanya Rara setelah memakai jilbabnya.

"Tante lagi dapet," jawab Sinta singkat.

"Dapet apaan?" tanta Rara bingung.

"Ya dapet tamu bulanan."

"Dih, Tante aneh deh, masak ada tamu bulanan, berarti ada tamu mingguan, juga tamu harian gitu?" tanya Rara sambil geleng-geleng mengibaskan jilbabnya.

Haduuuuh, aku harus jawab apalagi? Benar-benar nih anak kritisnya minta ampun, anak umur enam tahu mana ngerti tamu bulanan? Hati Sinta kembali menjerit-jerit tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana tentang tamu bulanan, mana bertanya terus tidak ada hentinya, rasanya ingin Sinta melakban mulut mungil itu sesaat.

"Sudah katanya mau Sholat, kok ngomong aja dari tadi."

"Tapj nanti Tante kudu jelasin, apa itu tamu bulanan."

"Okey deh, tapi sholat dulu sana, oh iya kamu mau sholat emangnya baea mukena, bukankah di masjid biasanya nggak ada mukena anak-anak."

"Tenang aja Tante, Rara bawa mukena kok, ini mukenanya."

Rara mengeluarkan mukena parasit dari dalam tas punggungnya. Apa gadis kecil itu ternyata membawa mukena, bagaimana bisa, gadis yang sekecil itu ke mana-mana membawa mukena? Sinta benar-benar dibuat takjub, Rara memakai mukena parasit berwarna biru muda, yang di belakang mukena tepat di punggung ada tulisan Rara.

"Tante heran ya, kok aku bawa mukena?'
tanya Rara sambil memperhatikan raut wajah Sinta yang teihat keheranan.

Benar-benar seperti cenayang gadis kecil ini, batin Sinta. Sepertinya dia tahu apa jalan pikiran Sinta.

"Gini Tante, sekolah Aku 'kan TK IT. eh Tante tahu nggak apa itu TK IT?" tanya Rara kemudian, menyangsikan kalau Sinta tahu singkatan dari TK IT.

"Ya tahu, Taman Kanak-kanak Islam Terpadu."

"Horeeeee! Kali ini Tante pinter."


Bersambung
Diubah oleh trifatoyah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 9 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 9 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
30-09-2021 15:55
rara keknya abis makan pisang, jadi cerewet banget emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
30-09-2021 15:31
Bab 3. Sinta Dibuat Malu oleh Rara

Ingin Membayar Gaji Mama


Akhirnya Bik Sani minta bantuan supir Go-Jek untuk menemui Arman ke kantornya, perasaannya tidak menentu, ia merasa bersalah karena telat menjemput Rara. Hatinya mulai was-was rasa takut kian menghantui dirinya, bagaimana kalau Azalea tahu putrinya pulang dengan orang tak dikenal? Membayangkan repetannya saja membuat kepala Bik Sani mendadak pusing.

Sampai di kantor tempat Arman bekerja, Bik Sani celingukan, wajahnya terlihat sangat cemas, setelah meminta bantuan resepsionis Bik Sani duduk menunggu di ruang resepsionis, sambil menunggu kedatangan majikannya, sementara sopir Go-jek masih setia menunggunya, karena belum dibayar juga.

"Ada apa Bik? Ada apa Bik Sani ke sini?" tanya Arman penasaran.

"Anu ... anu ... Pak, itu Non Rara." Bik Sani menjawab pertanyaan majikannya dengan gugup, keringat dingin mengucur membasahi dahinya.

"Tenang Bik, ada apa dengan Rara?" Arman menyodorkan air mineral ukuran gelas yang ada di meja resepsionis pada Bik Sani, tidak lupa menyerahkan sedotan kecil padanya. Dengan tangan gemetar Bik Sani menerima air mineral itu dan meminumnya perlahan.

"Pak, Non Rara nggak ada di sekolah."

"Nggak ada gimana?"

"Iya ... kata Bu Guru nya, sudah pulang dijemput saudara sepupu mamanya."

"Jangan ngaco Bik, saudara sepupu Mama Rara nggak ada di sini."

"Iya kata Bu gurunya, apa mungkin Non Rara di culik, Pak. Aduh gimana ini?"

"Bik Sani tenang dulu, coba aku telpon Mamanya Rara."

Sambungan telepon sedang tidak aktif, berulang kali Arman menghubungi Azalea tetap tidak ada jawaban. Bik Sani semakin panik, badannya gemeteran persis orang kena demam. Rama yang melihat keduanya di ruang resepsionis lantas menghampiri mereka.

"Ada apa, Ar?"

"Ini Ram, anakku diculik."

"Apa!"

"Iya, Rara diculik dari sekolahnya."

"Kenapa kamu bisa menyimpulkan begitu?"

"Ya karena selama ini nggak ada yang menjemput Rara kecuali Bik Sani, aku dan Azalea."

"Sudah dicari ke mana saja?" tanya Rama kembali.

"Belum dicari sih, wong aku aja baru tahu sekarang."

"Mamanya udah tahu belum?"

"Belum sih, kalau Mamanya tahu bisa panjang repetannya."

"Ya, udah. Kamu cari dulu. Sinta ngapain juga katanya ijin."

"Ya mana aku tahu." Berkata Arman sambil mengedikan bahunya.

Arman mengucapkan banyak terima kasih pada atasannya sekaligus sahabatnya dari kecil itu. Dia langsung mengajak Bik Sani untuk ikut mencari Rara, sebelumnya Arman membayar Go-Jek yang telah mengantarkan Bik Sani ke kantornya.

***

Sementara itu Rara tengah duduk di bangku belakang mobil Avanza warna silver yang terus melaju ke luar kota. Gadis kecil itu terus saja berceloteh tentang pelajarannya di sekolah, seakan tak ada rasa takut sedikitpun.

"Tante kita mau ke mana sih?" tanya Rara kemudian.

"Kita mau jalan-jalan." jawab Sinta sambil tersenyum.

"Kenapa nggak bilang Mama dulu?"

"Tante 'kan udah minta ijin sama, Mama."

"Oh iya tadi Tante udah bilang, katanya disuruh Mama buat ngajakin aku jalan-jalan."

Sintia tersenyum tipis, melirik dengan ekor matanya, betapa polosnya gadis kecil ini, bahkan sepanjang perjalanan batereinya seakan terisi penuh. Ada saja yang ditanyakan.

"Tante, aku pengen pipis, oh iya di sana ada masjid kita bisa turun dulu Tante, sekalian Sholat Dhuhur."

"Apa Sholat?" tanya Sinta tersentak kaget.

"Kok Tante kaget gitu sih? Emang Agama Tante apa?"

"Yaaaa Islam."

"Kenapa dengar kata sholat, Tante kaget gitu, apa Tante nggak pernah sholat ya?"

Gadis kecil itu seperti cenayang saja, bisa menebak seseorang yang tidak pernah sholat. Sinta jadi malu, wajahnya memerah bak kerang rebus saking malunya. Betapa sudah lama dirinya meninggalkan sholat, sejak hubungannya kandas dengan Arman hidupnya jadi kacau, ia menganggap kalau Allah tidak adil, telah memisahkan orang yang sangat dicintainya menikah dengan orang lain.

Bahkan untuk mengingat doa-doa sholat saja rasanya malas. Meninggalkan sholat adalah hal yang biasa saja bagi Sinta. Dan hari ini wajahnya seakan tertampar oleh kata-kata gadis kecil itu.

"Kok, Tante Diam?"

"Ehmm,"

"Tante Sholat itu kata Uztazah tiang agama, walaupun masih TK aku Sholat lho."

"I...iya ... anak pintar."

"Apa emang Tante nggak pernah Sholat? tanya Rara kembali.

Sinta hanya diam, tidak mau menjawab pertanyaan gadis kecil yang dirasakannya semakin ngaco, sudah seperti uztazah saja. Kenapa bisa Arman memiliki anak secerdas ini, shalihah pula. Tadi saja dia menghafalkan surat-surat pendek yang diajarkan gurunya. Kenapa ada anak yang diculik bisa setenang dia, bahkan merasa baik-baik saja, padahal aku baru saja dikenalnya, batin Sinta tak mengerti.

"Umur Tante berapa sih?"

Ngapain ini anak nanya-nanya umur segala, emang mau jadi petugas sensus apa? Sintia membatin dengan dongkol juga, karena sebelum pertanyaannya dijawab gadis kecil itu akan terus bertanya.

"Tiga puluh tahun."

"Wow tiga puluh banyak amat!" Jendela mata kecil itu membelalak sempurna, mendengar jawaban Sinta.

"Banyak amat gimana?"

"Ya, banyak. Aku aja cuma enam, kok Tante tiga puluh. Eh Tante hapal surat Al-Lahab nggak?"

"Nggak!" jawab Sinta kesal.

"Tiga puluh tahun nggak hapal surat Al-Lahab, jadi Tante selama ini ngapain aja?"


Bersambung.
Diubah oleh trifatoyah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
disya1628 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 27 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 27 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
28-09-2021 17:39
wew, Rara
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Lihat 29 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 29 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
28-09-2021 16:23
Wooow! Udah keluar cerita baru lagi? Yg lama gimana kabarnya,nih?
Sumur idenya gak pernah kering,sis? emoticon-Betty
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Lihat 8 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 8 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
28-09-2021 08:52
Cicilan panci emoticon-Leh Uga
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
28-09-2021 07:49
Bagus ceritanya....masalah yang di hadapi oleh masyarakat pada orang perkotaan, tapi disajikan dengan ringan dan kocak..........lanjutkan, jangan sampai putus di tengah jalan
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
28-09-2021 05:22
Quote:Original Posted By gikogaza
Kalo Punya emae males masak
Gampang biar semangat emoticon-Cool


Cukup2 Kalimat
Ngapain banggain masakan orang
Mending banggain masakan emak

Bergetar dah

emoticon-Ngacir

Oh gitu ya
Quote:Original Posted By bukhorigan
nice.


Okey
0 0
0
Ingin Membayar Gaji Mama
28-09-2021 04:09
Wah menarik ditunggu part berikutnya
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
28-09-2021 03:19
Proposal bibit unggul, yang siap menyebar benih tapi sawahnya belum siap.



Nunggu deskripsi bercocok tnm padi ir 64.
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan trifatoyah memberi reputasi
2 0
2
Lihat 16 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 16 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
28-09-2021 02:41
nice.
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
27-09-2021 23:25
Kalo Punya emae males masak
Gampang biar semangat emoticon-Cool


Cukup2 Kalimat
Ngapain banggain masakan orang
Mending banggain masakan emak

Bergetar dah

emoticon-Ngacir
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan bonita71 memberi reputasi
2 0
2
Ingin Membayar Gaji Mama
27-09-2021 23:18
mayan bagus ceritanyaaaa
lanjut euyy
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
27-09-2021 22:33
Eum, Rara pen punya adikemoticon-Frown
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Rainbow555 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 11 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 11 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
27-09-2021 20:05
nongkrong sini ah
profile-picture
profile-picture
makgendhis dan trifatoyah memberi reputasi
2 0
2
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
27-09-2021 20:01
Trenyuh.. emoticon-Frown
Lanjut bund sist.. emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nananinanunu dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 10 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 10 balasan
Ingin Membayar Gaji Mama
27-09-2021 19:57
Weh kayak siapa ya bibitnya unggul tapi sawah nya blm siapemoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 13 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 13 balasan
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia