Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
2165
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6140865e68afca32d55ec29f/jurnal-terlarang-aryo
Gambar dicomot dari google.com dan diedit sedemikian rupa. DILARANG KERAS Menduplikasi, mengedarkan, menerbitkan, merepost, memperbanyak ataupun mereplika kisah ini dalam bentuk apapun dan media manapun tanpa izin dari Yang Mulia Mira. Hak cipta dilindungi oleh undang-undang, Dave, dan komplotannya. :betty:betty:betty "Sepasang tangan yang bertindak lebih bermanfaat daripada sepuluh ribu pasa
Lapor Hansip
14-09-2021 18:24

Jurnal Terlarang Aryo

Jurnal Terlarang Aryo
Gambar dicomot dari google.com dan diedit sedemikian rupa.


Quote:
DILARANG KERAS

Menduplikasi, mengedarkan,
menerbitkan, merepost,
memperbanyak ataupun mereplika
kisah ini dalam bentuk apapun dan media manapun
tanpa izin dari Yang Mulia Mira.

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang,
Dave, dan komplotannya.
emoticon-Bettyemoticon-Bettyemoticon-Betty


Quote:
"Sepasang tangan yang bertindak
lebih bermanfaat daripada
sepuluh ribu pasang tangan yang berdoa."

Mira


Quote:
"Bukan seorang indigo.
Melainkan orang yang seharusnya normal,
tetapi kejatuhan sial dari makhluk absurd."

dimasaria39


Selamat pagi, siang, sore, ataupun malam untuk para agan dan aganwati sekalian serta para mimin ataupun momod yang bertugas.

Cerita ini berisi suatu informasi yang bisa dikatakan sangat teramat jarang diketahui dan mungkin seharusnya 'Terlarang' untuk disebar kepada khalayak umum.

Apakah ini benar-benar nyata? Ataukah hanya sebuah karangan belaka? Semua saya kembalikan kepada agan dan sista sekalian. Meskipun agan atau sista berkata ini hanyalah karangan belaka, tetaplah ingat bahwa ‘mereka’ yang tak terlihat dengan mata manusia normal itu ada.

Harap mematuhi peraturan yang berlaku di forum KasKus, Heart to Heart, Stories from the Heart, dan tentunya Indonesia tercinta.

Ini merupakan kisah nyata dari pengalaman pribadi dan telah dimodifikasi sedemikian rupa. emoticon-Ngacir

Secara garis besar, kejadian yang tertulis setidaknya memiliki kesesuaian 70-90% dengan pengalaman penulis.

Cerita, nama tokoh, bisnis, karakter, kejadian ataupun insiden merupakan hasil dari pengalaman nyata atau realita penulis, dan informasi yang dimiliki oleh sang penulis. Persamaan cerita, karakter ataupun kejadian adalah murni ketidaksengajaan.

Intinya, ini adalah karya semi-fiksi. Hanya untuk hiburan semata. Jika ada yang tersinggung dengan cerita ini, saya mohon maaf.

Karena saya adalah seorang penulis baru, jika ada kesalahan penulisan atau hal-hal lain yang tidak sesuai dengan fakta atau kenyataan di lapangan, saya juga mohon maaf.

POV Mira atau karakter lain selain Dimas Aryo (Saya sendiri) merupakan 99% Fiksi, kecuali ada keterangan. Jangan pernah dipercaya. Kejadian sesungguhnya seringkali belum diketahui hingga saat ini.

Silahkan dinikmati sembari meminum segelas kopi atau apapun itu.

Mohon kebijaksanaannya untuk dapat membedakan mana bagian yang 99% fiksi, semi-fiksi, ataupun realita.

Update seminggu sekali setiap Selasa, pukul 19.00 WIB. Jika ada update lebih dari satu kali, anggap saja bonus.

Bukan, ini bukan horor.
Tetapi supranatural dan slice of life.



New Chapter (30-11-2021)
Chapter XXVIII

Mira pas lagi diam. Mirip gini lah.


Dave kalau tanpa baju. Mirip gini lah.
Diubah oleh dimasaria39
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ngetamjum_07 dan 45 lainnya memberi reputasi
44
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 13
Jurnal Terlarang Aryo
14-09-2021 18:25
Prologue

Nama Saya Dimas Aryo, biasa dipanggil Dimas, Aryo, Adi, Adit, ataupun Tomo. Kenapa kok banyak nama panggilannya? Karena nama lengkap Saya adalah Dimas Aryo Adithomo. Tapi jangan panggil gue Homo ya, gue tampol online nanti lu!

Aku tak tahu kenapa aku bisa melihat ‘mereka’. Aku tak tau alasan kenapa orang lain tidak bisa melihat ‘mereka’. Yang kutahu, kemampuanku ini unik dan disaat yang bersamaan, aneh.

Yang kuingat, sejak kecil, dan mungkin saja juga sejak lahir, aku sudah bisa melihat ‘mereka’. Mulai dari rambut yang bergelantungan dan terbang kesana kemari tanpa tujuan pasti, bungkusan lolipop dengan bagian atas memiliki dua titik hitam besar, bentuk-bentuk menyeramkan dengan sekitaran mata berwarna hitam legam dan sosok-sosok lainnya yang terlihat jelas.

Pada awalnya, setiap kali aku melihat sosok-sosok tersebut, aku selalu menangis meskipun mereka tak melakukan apa-apa ataupun hanya memandangiku. Disaat aku menangis dan menunjuk ke arah penyebab tangisanku, kedua orang tuaku selalu bingung, karena disana tidak ada apa-apa selain barang-barang rumah ataupun benda normal lainnya.

Mereka tidak tau apa yang kulihat.
.
.
.
.
Saat itu, usiaku 2 tahun, ini merupakan cerita yang berasal dari ibuku dan sumber lain.

Quote:“Assalamualaikum. Lho, ada apa ini? Kenapa kok keponakanku menangis?” ujar pamanku, ketika ia datang berkunjung.

“Sini Dan (samaran)! Aku enggak tau kenapa anakku menangis!”

“Ada apa to Mbak?” Pamanku langsung masuk ke rumah dan menuju kedalam kamar di bagian tengah rumah dimana aku yang sedang menangis didampingi oleh ibuku.

Ia melihatku yang sedang menunjuk ke arah atas lemari. Pandangan matanya pun berpindah mengikuti arah jariku. Disana, daiatas lemari, ada sesosok makhluk yang menurutku saat itu mengerikan.

“Astaghfirullah! WOY BAJINGAN! PERGI DARI SINI! JANGAN GANGGU KEPONAKANKU!” Pamanku berteriak dan langsung bergerak mengambil sapu lidi yang ada di dekat kasur dan mendekat ke arah lemari sembari mengibas-ngibaskan sapu lidi yang entah mengapa ada sedikit cahaya berpendar disana.

Alih-alih kesakitan saat terkena sabetan sapu lidi, sosok tersebut tertawa membahana, menyeringai lebar, memperlihatkan giginya yang panjang, tak terawat dan penuh dengan darah sembari melotot ke arah pamanku sebelum pergi keluar dan menghilang dari pandangan mataku.

Saat itu, pamanku masih mengejarnya hingga keluar rumah. Ibuku yang paham apa yang sedang terjadi mulai membaca doa-doa dan ayat-ayat yang dia hapal. Dikarenakan sosok tersebut telah menghilang, aku pun perlahan berhenti menangis dan menjadi tenang.

“Sialan. Dia berhasil kabur.”

“Tadi itu apa, Dan?”

“Ada sosok gaib, Mbak”

“Sudah tau.” Potong ibuku.

“....” Pamanku terdiam.

“Maksudnya, sosok gaib yang seperti apa, Dan?” lanjut ibuku.

“Awalnya, saat dia duduk diatas lemari, dia berwujud seorang nenek tua. Ternyata, dia adalah genderuwo yang sedang menyamar,” jawab pamanku.

“Lho, darimana kamu tau kalau yang tadi genderuwo?”

“Iya, tadi saat kabur, dia berubah wujud ke bentuk aslinya. Genderuwo.”

“Oh, gitu.”
“Ini loh, Dan. Si Dimas ini sering menangis seperti tadi. Nangis sambil nunjuk-nunjuk gitu.”
“Apalagi kalau sudah malam. Lebih sering lagi.”

“Apa disekitar rumah aja nangisnya, Mbak?”

“Enggak. Di jalan pun juga sudah beberapa kali kayak gitu. Seperti pas lewat lapangan di kampung sebelah, atau pas kuajak ke pasar.”

“Sepertinya, aku tau penyebabnya, Mbak.”

“Apa. Dan?”

“Sepertinya anak sampeyan ini bisa melihat gaib, Mbak.”

“Apa kamu enggak bisa nutup atau ngelakuin sesuatu gitu, Dan? Aku kasihan sama Si Dimas. Hampir setiap malam nangis terus eh.”

“Sayangnya masih belum bisa, Mbak. Nanti tak coba tanya guruku, Mbak.”

“Tolong ya, Dan.”

“Iya, Mbak.”


Malam harinya, setelah maghrib, pamanku pun berpamitan lalu pergi menuju ke tempat gurunya di kota sebelah. Sesampainya disana, pamanku menceritakan semua hal yang tadi diceritakan oleh ibuku kepada gurunya. Gurunya pun hanya manggut-manggut. Lalu ia menyuruh pamanku untuk membawaku ke tempatnya.

Pamanku kembali ke rumahku dan memberitahu kedua orang tuaku, bahwa mungkin gurunya bisa membantu. Saat itu, kedua orang tuaku merasa bahagia karena mendapat sebuah harapan.

Beberapa hari kemudian, setelah maghrib, pamanku mengantar kedua orang tuaku dan aku ketempat gurunya menggunakan dua sepeda motor. Sesampainya disana, kami turun dari motor, ibuku menggandengku. Kami berjalan kaki kearah rumah yang tidak jauh dari tempat parkir kami.

Di depan rumah tersebut, aku melihat ada seorang kakek berjenggot putih, berjubah putih, dan memakai turban berwarna putih. Kakek tersebut tersenyum melihat kedatangan kami. Rumah ini terlihat seperti rumah-rumah bagus yang biasa kalian lihat di pedesaan di daerah Jawa. Bercat coklat untuk furnitur kayunya, dan berdinding biru muda.

Quote:“Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumsalam. Silahkan duduk.”

Kami pun duduk bersila di atas alas karpet. Dihadapan kami ada beberapa potong roti, pisang potongan semangka dan juga beberapa gelas air mineral. Ada juga beberapa orang yang juga ikut duduk bersila bersama kami.

Jika dilihat, orang-orang tersebut bisa dibilang cukup muda, mereka semua menggunakan pakaian sehari-hari, celana panjang putih dan mengenakan peci berwarna putih dan ada satu orang tua yang duduk di tengah. Ia menggunakan celana panjang berwarna krem, menggunakan kemeja coklat dan mengalungkan sorban di pundaknya.

Disaat aku memperhatikan sekeliling, aku melihat sesuatu. Aku menatap tajam ke sesuatu yang dapat mengalihkan perhatianku dari keadaan sekitar dalam sekejap. Hal tersebut berada tepat di depan mataku. Tangan kanan kecilku terangkat perlahan kearah hal tersebut. Mataku melebar ketika jari-jariku semakin mendekat. Dengan secepat kilat aku meraih sebuah kue mangkuk berwarna hijau yang telah disediakan disana.

“Eh, ga sopan. Belum dipersilahkan juga!” Hardik ibuku sembari menarik tanganku serta mencubit pahaku. Alih-alih merengek ketika dimarahi, aku hanya terdiam cemberut.

Orang tua dihadapanku tertawa kecil. “Tidak apa-apa. Silahkan-silahkan.”

Aku langsung sumringah ketika mendengar perkataan orang tersebut dan langsung memakan kue yang ada ditanganku.

“Ini kah anaknya?.” Ucap orang itu.

“Iya, Bah.” Jawab pamanku.

“Sini nak. Mendekat ke Abah.”

Aku masih memakan kue mangkuk berwarna hijau dengan tenang dipangkuan ibuku tanpa mempedulikannya.

“Kesana loh, Dim.” Suruh ayahku sembari menyolek pundakku.

Disaat ayahku menyolek pundakku, wajahku langsung berubah menjadi sedikit cemberut. Aku pun memberikan kue mangkuk yang belum habis kumakan ke ibuku dan berjalan kearah orang tua yang dipanggil Abah tersebut lalu duduk di dekatnya.

“Sini, sini. Biar Abah lihat.”
“Oh ... Ya, ya, ya, ya.”
“Namanya siapa, nak?”

“Dimas.” Jawabku.

“Nama lengkapnya?”

“Dimas Aryo Adithomo.”

“Di depan rumah tadi ada siapa?” Saat mendengar pertanyaan tersebut, kedua orang tuaku sedikit bingung, lalu paham apa yang dimaksud oleh Abah.

“Ada kakek-kakek.”

“Iya, terus?”

“Ada ininya, jenggotnya. Putih juga.”
“Terus, terus, pakai topi putih kayak Piccolo juga,” ujarku.

Pamanku yang mendengar jawabanku, tersenyum dan menahan tawa sembari mengambil segelas air mineral. Sedangkan orang tua tadi hanya tersenyum dan manggut-manggut.

“Ya. Jadi gini. Anak panjenengan ini bisa melihat makhluk gaib. Dia spesial dibandingkan anak lain.”

“Iya, Bah. Kami sudah menduganya. Ada cara untuk menutup kemampuannya tidak?” Tanya ayahku. Disaat ini, aku merangkak kearah ibuku dan mengambil kue mangkuk yang tadi aku titipkan ke ibuku dan melanjutkan acara makanku yang terganggu.

“Normalnya, Saya bisa melakukannya. Tetapi, untuk anak ini, kasusnya spesial.”

“Maksudnya, Bah?” Tanya pamanku.

“Maksudnya, biasanya untuk anak-anak seperti ini, ada beberapa kasus. Yang pertama, dia mendapatkan kemampuan dari leluhurnya. Yang kedua, dia dapat melihat gaib karena ada makhluk gaib yang mengikutinya, biasanya disebut ketempelan.”

“Yang ketiga, dia memiliki masalah diotaknya, ini bagian dokter di rumah sakit yang mengobati. Dan yang terakhir, dia mengaku-ngaku bisa melihat gaib.”

“Nah, anak ini unik. Dari energinya, dia bukan ketempelan ataupun mendapatkan kemampuan dari leluhur seperti si Danu. Jika dia ketempelan, pasti ada makhluk yang berada didekatnya, tetapi nyatanya tidak ada.”

“Apa Abah kira-kira tahu apa penyebabnya?” Tanya ibuku.

“Ini kasus pertama yang seperti ini. Yang bisa kukatakan hanyalah serahkan semua kepada Allah SWT. Jika Dia berkehendak, maka kemampuan ini akan hilang.”

Alih-alih bahagia karena bisa menutup kemampuanku seperti yang mereka harapkan, kedua orang tuaku hanya bisa diam termenung untuk beberapa saat kala mendengar fakta yang keluar dari mulut Abah. Lalu mereka melanjutkan pembicaraan tentang hal lain.


Sekitar pukul sebelas malam, kedua orang tuaku pun memutuskan untuk pulang meninggalkan pamanku yang masih lanjut berbincang dengan Abah. Tak lupa juga kami memberikan kopi, gula, dan sebuah amplop kepada Abah.

Disaat ayahku sedang mengendarai sepeda motor, di sebelah kiri tak jauh dari pinggir jalan, aku melihat ada sesosok besar berbulu merah, bertaring panjang, bermata merah menyala seterang lampu merah sedang terbang mengikuti arah sepeda motor kami dan menatap tajam ke arahku.

Sebelum aku sempat menangis, makhluk itu terbang dengan cepat dan menghilang. Tanpa aku sadari ternyata makhluk itu telah menunggu kami di depan sana.

Aku masih ingat kejadian saat itu. Disaat tiba-tiba ada tangan hitam besar menghantam sepeda motor yang kami tunggangi dari arah samping. Kami bertiga jatuh terpelanting ke pinggir jalanan yang sudah sepi.

Aku yang jatuh tersungkur dan perlahan kehilangan kesadaran, melihat makhluk itu berjalan mendekat kearahku dengan seringainya yang terlihat mengerikan.

Quote:“Ma’af, aku datang terlambat!”


Tiba-tiba ada seorang perempuan berambut hijau muncul dihadapanku. Dia berdiri membelakangiku sambil menolehkan wajahnya kearahku dan melihatku. Mata hijaunya menatapku dengan perasaan bersalah bercampur amarah yang meluap.

Dia mengalihkan pandangannya dariku dan berjalan kearah makhluk hitam tadi.

Quote:“Tak akan kumaafkan kau.”


Itulah kata terakhir darinya yang kudengar sebelum kesadaranku menghilang.
Diubah oleh dimasaria39
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ngetamjum_07 dan 35 lainnya memberi reputasi
36 0
36
Lihat 32 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 32 balasan
Jurnal Terlarang Aryo
14-09-2021 18:40
Lanjut dong, Gan homo emoticon-Keep Posting Gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 7 balasan
Jurnal Terlarang Aryo
14-09-2021 18:59
Ntaps gan. Calon2 trit terkenal di kaskus ini. Semoga update nya konsisten yak
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Jurnal Terlarang Aryo
14-09-2021 19:46
Lanjut gan
0 0
0
Jurnal Terlarang Aryo
14-09-2021 22:11
Ayo gan, di lanjut. Seru ini kayaknya.
0 0
0
Jurnal Terlarang Aryo
14-09-2021 22:31
Mantap gan.....mohon dilanjuti....
profile-picture
profile-picture
TAUFIQ.H dan indrag057 memberi reputasi
1 1
0
Jurnal Terlarang Aryo
14-09-2021 22:32
Nitip sandal...
0 0
0
Jurnal Terlarang Aryo
15-09-2021 02:19
Nyimak
0 0
0
Jurnal Terlarang Aryo
15-09-2021 02:46
Cerita baru, key nya menarique. Lanjut gan
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan indrag057 memberi reputasi
2 0
2
Jurnal Terlarang Aryo
15-09-2021 11:10
om tom tom,,izin nitip sendal
0 0
0
Jurnal Terlarang Aryo
15-09-2021 12:53
Seru ini, bau-bau akan ramai, lanjutkan gan Adit homo emoticon-Angkat Beer
profile-picture
andir004 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Jurnal Terlarang Aryo
15-09-2021 19:02
Chapter I


Quote:“Uhh...” Perlahan, ku membuka mataku.
“Mimpi itu lagi...” Ucapku lirih.


Sepuluh tahun telah berlalu sejak kejadian itu, kecelakaan yang diberitakan sebagai kecelakaan tunggal karena kondisi jalan yang cukup gelap dan sudah malam. Tidak ada korban jiwa, meskipun saat itu kami mengalami luka yang bisa dibilang cukup berat walaupun tidak sampai cacat.

Hanya aku yang tahu penyebab terjadinya kecelakaan tersebut. Semuanya gara-gara makhluk sialan itu. Makhluk sialan yang aku tak tahu darimana asalnya dan motif apa yang membuat dia menyerang kami.

Quote:“Aaahh! Tak perlu dipikir lagi! Sudah sepuluh tahun terlewat sejak kejadian itu!”


Aku pun bangun dari kasurku dan beranjak keluar dari kamar. Saat mencapai tangga menuju lantai satu, aku melihat sesosok berambut panjang, berdaster putih lusuh dan berwajah buruk sedang berdiri santai dipagar tangga. Dia diam menatapku.

Tatapan mata kami bertemu. Alih-alih ketakutan seperti ketika aku masih kecil, aku malah mengacungkan jari tengahku ke arah dia dan berjalan santai ke lantai satu.

Ya. Aku sudah terbiasa melihat mereka. Tak ada kata takut lagi didalam kamusku. Meskipun terkadang aku terkejut tatkala ada makhluk rese yang tiba-tiba muncul ataupun lewat dihadapanku. Bulu kuduk berdiri? Sekarang itu hanya terjadi ketika aku menahan diri untuk tidak buang air.

Quote:“Dim, apa yang kamu lakukan?” Tanya Kakak laki-lakiku yang saat itu ada didapur dan melihat gelagat anehku saat aku turun dari tangga.


Quote:“Itu Mas, ada cewek seksi tapi mukanya burik lagi nangkring ditangga.” Candaku.


Quote:“Huss! Kalau kamu gitukan, apa enggak marah?” Tanyanya sembari sedikit ketakutan.


Quote:“Marah? Dia marah? Ya tinggal marahin baliklah! Seharusnya kita yang marah karena dia masuk seenaknya ke rumah kita tanpa izin!” Jawabku.


Quote:“Terserah kamu dah! Pokoknya kalau ada apa-apa, jangan minta bantuan.”


Quote:“Dih, dasar penakut.”


Kakakku pun pergi dari dapur sembari membawa sepiring makanan untuk sarapannya dan aku pun melanjutkan kegiatan sehari-hariku.

Namaku Dimas Aryo Adithomo. Saat ini usiaku masih dua belas tahun. Dikatakan, aku berbeda dari anak-anak lainnya. Selain dari kemampuanku untuk melihat dan berinteraksi dengan ‘mereka’, mereka bilang aku terlalu logis untuk anak seusiaku.

Aku hidup bersama kedua orang tuaku dan juga keempat saudaraku. Kakakku, aku, dua adik perempuanku dan satu adik laki-lakiku. Dari mereka semua, hanya aku yang memiliki kemampuan untuk melihat makhluk ghaib.

Jika membicarakan tentang keluarga besar, maka lain lagi. Selain aku, masih ada dua pamanku yang memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan mereka meskipun kemampuan mereka untuk melihat secara jelas masih dibawahku.

Pamanku yang pertama dari garis ibu mendapatkan kemampuannya dengan belajar kepada kakek istrinya dulu. Dia juga sering mendapat pasien saat malam hari yang minta tolong untuk disembuhkan jika diganggu oleh makhluk ghaib.

Aku sudah beberapa kali dimintai tolong untuk melihat makhluk ghaib yang tidak bisa dilihat olehnya dengan jelas.

Sedangkan pamanku yang satunya, Om Danu, yang juga dari garis ibu, dia mendapatkan kemampuannya untuk melihat dari leluhur, lalu mengasahnya dengan belajar ditempat Abah yang dulu pernah aku kunjungi.

Untuk pamanku yang satu ini, dia lebih ke tipe petualang, dia suka berziarah dan berburu benda-benda bertuah ditempat-tempat yang dianggap angker dan keramat yang berada disekitaran Jawa.

Ya. Sama seperti pamanku yang pertama, ketika paman keduaku mendapat benda bertuah yang dia tidak dapat melihat makhluk yang mendiaminya dengan jelas, dia meminta tolong kepadaku.

Karena mereka berdualah juga, aku menjadi terbiasa melihat makhluk ghaib. Pada awalnya aku tak mau, tapi semakin kesini, aku sering menunggu kedua pamanku meminta tolong kepadaku. Lumayanlah, mereka selalu memberiku uang jajan setelah aku membantunya.

Aku juga sudah sering melihat banyak sosok aneh diluar sana. Yang liar ataupun tidak liar. Yang ku maksud dengan tidak liar adalah makhluk-makhluk yang memiliki perjanjian kerjasama atau hal semacamnya, yang biasa disebut sebagai khodam pendamping ataupun nama lain, tergantung darimana manusianya berasal.

Aku jarang menghiraukan mereka. Apalagi mereka yang memanggilku. Pasti tidak akan aku hiraukan sama sekali. Mereka beberapa kali mencoba berinteraksi denganku. Paling sering adalah menyapaku.

Terkadang aku membalas mereka dengan senyuman dan anggukan, terkadang tidak sama sekali. Yang pasti, aku tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun kepada mereka.

Mungkin kalian berpikir, kenapa orang tuaku tidak meminta tolong kepada kakek dari istri paman pertamaku? Jawabannya sederhana, beliau sudah meninggal sebelum aku dilahirkan.

Dulu, saat usiaku lima tahun, paman keduaku pernah merayu ke kedua orang tuaku untuk mengajariku tentang dunia ghaib di tempat Abah. Tentu saja mereka berdua menolak.

Dan hingga saat ini pun, dia masih merayu untuk mengajariku tentang dunia ghaib meskipun target rayuannya telah berpindah kepadaku. Aku dengan tegas menolaknya. Aku tak tertarik.

Selama sepuluh tahun ini pula, tidak ada serangan yang dilakukan oleh makhluk ghaib terhadapku ataupun hal yang bisa dikatakan menarik untuk diceritakan.
Diubah oleh dimasaria39
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ngetamjum_07 dan 34 lainnya memberi reputasi
35 0
35
Lihat 10 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 10 balasan
Jurnal Terlarang Aryo
15-09-2021 19:04
Minta saran gan, mending tanpa quote, quote seperti prologue, atau quote setiap ganti yang ngomong kayak chapter 1?
profile-picture
profile-picture
nayanta dan rakatanaka707 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Jurnal Terlarang Aryo
15-09-2021 20:41
Apa adanya aja gan
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
1 0
1
Jurnal Terlarang Aryo
15-09-2021 22:20
Lanjutttt wiss... Gaaasssskkeeeuunnnn bossss
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
1 0
1
Jurnal Terlarang Aryo
16-09-2021 01:34
Jurnal Terlarang Aryo

Lanjutkan....
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Jurnal Terlarang Aryo
16-09-2021 11:43
Di kantjutkan...
Manstab muga2 tridnya panjang ga mogok di tengah djalan
0 0
0
Jurnal Terlarang Aryo
16-09-2021 16:59
Chapter II


Beberapa hari telah berlalu setelah kejadian ditangga. Saat ini hari sabtu, malam minggu. Malam dimana biasanya para pemuada-pemudi ataupun orang tua jalan-jalan malam untuk mencari hiburan ataupun hanya sekedar berkuliner ria.

Tentunya hari ini juga adalah hari yang digemari oleh anak-anak seusiaku, termasuk aku, karena besok adalah hari minggu. Kami diperbolehkan untuk bermain tanpa belajar sama sekali dirumah.

Saat ini sekitar pukul sembilan tiga puluh malam. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari rumah temanku yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumahku jika melewati rute biasa.

Tetapi, kali ini aku harus mengambil jalan memutar dikarenakan jalan tercepat yang biasa kulewati sedang ditutup karena ada acara yang diselenggarakan oleh RT sebelah.

Sebenarnya aku malas melewati rute memutar ini, disamping karena jalannya lebih jauh daripada rute biasanya, aku juga harus melewati jalan setapak yang kanan kirinya merupakan kebun. Ditempat ini, selain jalanannya sepi dan gelap, dirumorkan bahwa sering terjadi penampakan kuntilanak.

Aku sih masa bodoh dengan kuntilanak. Aku lebih malas berurusan dengan suara para pemuda-pemudi mesum yang beberapa kali tertangkap basah sedang terbakar api asmara dengan alas daun pisang disemak-semak sekitar kebun dan sekumpulan preman yang sering terlihat mabuk-mabukan dan berjudi dimalam hari disini.

Sebenarnya, masih ada rute lain yang lebih aman yang bisa kulalui, tetapi akan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk pulang kerumah. Aku tak mau kedua orang tuaku marah karena pulang terlalu malam lalu menyegel komputer yang biasa kugunakan dan memotong uang sakuku. Akhirnya kuputuskan untuk melalui rute kebun itu.

Saat aku mencapai jalan setapak itu, keadaan sangat sepi. Tidak seperti biasa. Biasanya, jam segini, setidaknya ada beberapa preman yang berkumpul untuk bersiap-siap berpesta miras dibawah lampu jalan didepan sana.

Aku juga tidak melihat keberadaan kuntilanak yang dirumorkan sering mengganggu orang-orang yang lewat disini. Yang aku lihat hanyalah sesosok besar berbulu hitam, bertaring panjang, bermata merah menyala seterang lampu merah, sedang berdiri dibawah lampu pijar didepan sana.

Sosok tersebut adalah genderuwo. Aku sudah pernah bertemu dengan mereka beberapa kali. Mereka juga beberapa kali pula menghalangi jalanku. Yang biasanya ku lakukan hanyalah melewati mereka tanpa mempedulikan mereka. Dan saat ini aku akan melakukan hal yang sama.

Aku pun mulai mengayuh sepedaku lagi dengan perlahan.

Tiga puluh meter...
Dia masih diam menatap kearahku
Dua puluh meter...
Dia masih melakukan hal yang sama seperti tadi

Saat jarak diantara kami tersisa sepuluh meter, tiba-tiba dia menggeram.

“Aku menemukanmu!” Sambil menyeringai lebar, memperlihatkan taring dan giginya dengan lebih jelas.

“OH SHIT!!” Teriakku reflek sembari mengerem sepedaku dengan kuat.

Saat sepedaku berhenti, alih-alih mencoba kabur, aku terdiam membeku. Ingatanku tentang kejadian sepuluh tahun lalu langsung terngiang dipikiranku. Meskipun ku tahu dia bukanlah genderuwo yang sama dengan yang menyerangku dikala itu. Apakah ini yang dinamakan dengan trauma?

Aku terjatuh dari sepedaku, kakiku lemas, tenggorokanku tercekat, keringat dingin bercucuran di dahiku. Aku hanya bisa pasrah menunggu ajalku yang sudah berada didepan mata.

Genderuwo tersebut berjalan menuju kearahku. Tangannya yang besar dan berkuku panjang terangkat dan menerkamku. Waktu terasa berjalan begitu lambat. Semua kenangan-kenanganku yang telah kulalui berputar otomatis dipikiranku. Inikah akhir hidupku?

Disaat kuku tajamnya tepat berada didepan mataku, tiba-tiba genderuwo tersebut terpelanting menjauh dariku. Genderuwo berbadan besar yang ada dihadapanku tadi telah digantikan dengan sesosok perempuan berambut hijau yang sedang berdiri dengan posisi kuda-kuda seperti Bruce Lee dan tangan kanan terkepal seperti setelah memukul.

Perempuan itu menurunkan tangannya dan berbalik kearahku sembari mengibarkan rambutnya dengan indah. Matanya yang hijau menatap langsung kearah mataku.

“Apakah kamu masterku?”

“....” Aku masih diam membisu, pikiranku masih mencoba mencerna apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Dia tersenyum kecil, lalu berbalik kearah genderuwo tadi. Tanpa mempedulikanku yang masih terdiam.

“Tadi itu kalimat yang pengen banget aku ucapin loh. Gimana? Keren kan?” ucapnya dengan bangga sembari berkacak pinggang.

Meskipun dia membelakangiku, aku bisa tahu bahwa dia tersenyum dengan bangga.

Genderuwo yang terpelanting tadi berdiri dan berteriak dengan keras.

“HUAAAAAARRRRRGGGHH!!! SIAPA KAU?! BERANI-BERANINYA KAU MENGGANGGUKU!!”

“Namaku? Kau ingin tahu NA-MA-KU?!! “

“Huhuhu...”

“NAMAKU MIRA (samaran)! Aku adalah Archwizard super sakti yang akan mengguncang langit dan bumi!” ucapnya sembari melakukan pose yang menurutku alay.

“Itu juga salah satu kalimat yang pengen kuucapin.” Kata perempuan yang menyebut dirinya sendiri sebagai Mira sembari melirikku tanpa membalikkan badannya.

Aku masih diam terbengong.

“Grrrr... Namaku-“

“Ck ck ck. Aku tak perlu namamu, karena kau akan mati disini!” Belum sempat genderuwo tadi mengucapkan namanya, perempuan itu sudah memotong kalimatnya.

“JALAAANG!!! KUBUNUH KAU!!!”

Dengan penuh amarah, genderuwo itu berlari kearah perempuan berambut hijau tadi, berniat untuk menyerangnya. Sayangnya, sebelum serangannya dilancarkan, genderuwo tersebut kembali terpelanting menjauh terkena tendangan telak didaerah perutnya.

“Aria, cepat bawa sepedamu pergi dari sini!” Suruh perempuan tersebut kepadaku.

Aku yang mendengarnya, dengan sigap dan cepat menaiki sepedaku dan mengayuhnya melewati genderuwo yang belum berdiri setelah terkena tendangan perempuan tadi.

“Tak akan kubiarkan kau kabur!!”

“Oi. Musuhmu itu aku.” Kata perempuan tadi sambil mengeretek jari tangannya.

Dengan sekuat tenaga ku kayuh pedal sepedaku untuk meninggalkan jalan setapak itu. Aku tak peduli dengan apa yang terjadi disana. Pikiranku sekarang hanyalah aku harus bisa mencapai rumah secepatnya.

Sesampainya dirumah, ku parkir sepedaku. Lalu langsung masuk rumah tanpa mengucap salam.

“Loh, Dim. Ada apa tergesa-gesa?” Tanya ibuku disaat aku melewati ruang keluarga dengan wajah yang kecapekan dan nafas yang terengah-engah.

Aku tak menghiraukan ucapan ibuku tadi dan bergerak cepat ke kamar tidurku, merebahkan tubuhku diatas kasur, berusaha menutup mataku serta mencoba melupakan apa yang terjadi tadi.

Semoga saja, hal yang kulalui tadi hanyalah mimpi dan tak akan terulang lagi.
Diubah oleh dimasaria39
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ngetamjum_07 dan 35 lainnya memberi reputasi
36 0
36
Lihat 15 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 15 balasan
Jurnal Terlarang Aryo
16-09-2021 17:52
Sudah subscribe...
Semoga cocok sama cerita agan...

masterku dan acwizard..apa artinya
emoticon-Bingung
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan rakatanaka707 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Jurnal Terlarang Aryo
17-09-2021 01:45
kanjutkeun dit homo emoticon-Angkat Beer
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 13
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
melepas-untuk-bebas
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia