Entertainment
Batal
KATEGORI
link has been copied
81
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/613fb2fad5f23e668a161a30/sudut-pandang-psikologi--mengapa-di-sosial-media-banyak-sekali-komentar-toxic
Sudah berapa banyak user KasKus yang agan dan aganwati anggap sebagai orang yang "unik"? Aku mengatakan "unik" karena kalau dia ditanya "Apa ente sudah makan?" jawaban dia "Ente homo ya?" Jawaban yang benar-benar sangat unik dan bukan sebuah realita yang baru di dalam sosial media. Bahkan, kalau ada yang kurang beruntung, dipertemukan dengan orang semacam ini di dunia nyata.
Lapor Hansip
14-09-2021 03:22

Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
Dokumen pribadi


Quote:Pembahasan trit ini aku ulas dari sudut pandang "seandainya aku pelaku dan aku bertanya pada diriku sendiri, mengapa aku begitu toxic  di sosial media.


Sudah berapa banyak user KasKus yang agan dan aganwati anggap sebagai orang yang "unik"? Aku mengatakan "unik" karena kalau dia ditanya "Apa ente sudah makan?" jawaban dia "Ente homo ya?" Jawaban yang benar-benar sangat unik dan bukan sebuah realita yang baru di dalam sosial media. Bahkan, kalau ada yang kurang beruntung, dipertemukan dengan orang semacam ini di dunia nyata.
Quote:Cerita sedikit dari gambar tangkapan layar di atas. Itu adalah tangkapan layar yang awal mulanya membahas tentang isu kesetaraan gender, kemudian karena kehabisan argumen, pihak yang tidak mau aku tunjukkan tersebut melabeli secara sepihak ke orang lain dengan label yang sangat tidak berdasar. Tanpa menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada dia, dia menyerang secara personal dengan label-label yang tidak berdasar dan keluar dari topik pembahasan. Sebenarnya, tindakan tersebut bisa dilaporkan sebagai perlakuan tidak menyenangkan terhadap orang lain.
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
Dokumen pribadi


Namun, dengan kesadaran penuh, hal itu tidak aku lakukan, karena memang resiko berselancar di dunia maya ya seperti itulah. Tidak hanya itu, karena aku juga males ngurusin hal semacam itu. Trit ini aku tulis juga sebagai dokumentasi pribadi, yang semoga bisa bermanfaat bagi pembacanya.
Dan faktanya, aku sampai terbawa suasana dan menganggap dunia maya sebagai dunia nyata. Diakui atau tidak, sedikit atau banyak, aktivitas di sosial media bisa mempengaruhi mood seseorang di dunia nyata. Itulah mengapa banyak orang yang sampai memutuskan untuk bunuh diri karena mendapat perlakuan tidak mengenakkan di sosial media.


Dari pengalaman pribadi tersebut, yang mungkin agan dan aganwati juga sering mengalaminya, aku penasaran, apakah ada penelitian yang mengulas tentang fenomena "unik" ini? Apa gerangan yang membuat orang tersebut keluar dari jalur tema diskusi menjadi tindakan insulting  kepada orang lain?
Quote:Aku mencoba mencari sumber dari Indonesia terlebih dahulu. Karena aku menganggap, sebuah prestasi jika ada mahasiswa atau dosen atau siapapun yang melakukan penelitian dengan tema tentang fenomena ini. Namun, aku menemukan dua sumber yang berhubungan dengan tema tritku ini. Sumber pertamadan sumber kedua. Keduanya tidak membahas mengapa orang bisa bertindak yang sangat kasar di sosial media, namun lebih ke, bagaimana menangani sisi negatif dari sosial media.
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
Bukan penelitian yang buruk, namun menurutku pribadi, jika tidak mengetahui hal yang paling dasar dari mana suatu masalah itu berasal, kita akan kesulitan mencari solusi permasalahannya. Setidaknya itu sudut pandangku saat mencari solusi dari sebuah permasalahan yang aku hadapi dalam kehidupanku sehari-hari. Boleh tidak setuju, silahkan bagi sudut pandang agan aganwati di kolom komentar, aku sangat menghargai hal itu.
Terlepas dua sumber di atas tidak ada pembahasan tentang apa yang aku cari, aku mendapatkan informasi yang bagus dari jurnal UPN Veteran Jakarta, yang ditulis oleh Ratu Nadya W, Ratu Laura M.B.P, dan Windhi T.Saputra. Informasi ini sedikit ada hubungannya dengan jawaban yang aku cari. Dalam jurnal tersebut menulis bahwa macam-macam gangguan mental akibat sosial media adalah :
1. Narcissistic Personality Disorder: Orang yang menderita gangguan ini sangat mengagumi dirinya sendiri secara berlebihan, egois, tidak punya empati dan tidak ingin mendengarkan orang lain. Aku hanya mencoba meluaskan pengartian dari gangguan ini, gangguan ini bisa dikatakan juga sebagai gangguan yang mengagungkan kelompoknya, tidak terbatas dengan dirinya sendiri. Karena dengan mengagumi diri sendiri, secara tidak langsung, segala hal yang ada di dalam pilihan hidupnya adalah hal terbaik dari yang lainnya.
2. Body Dysmorphic Disorder (BDD): Gangguan BDD adalah kondisi dimana penderita merasa tidak aman, takut dan tidak percaya diri pada tubuhnya sendiri.
3. Addiction (kecanduan)
4. Social Media Anxiety Disorder: akan merasa terganggu jika follower atau jumlah komentar tidak banyak, dst.
5. Borderline Personality Disorder (BPD): dialami karena seseorang merasa tersisih dan khawatir setiap kali ia melihat suatu acara di media sosial temannya, dan dia tidak diundang.
6. Munchausen Syndrome: gangguan jiwa seseorang yang mencari perhatian orang lain dengan mengarang cerita tragis tentang dirinya.
7. Compulsive Shopping: kebiasaan belanja online secara tidak terkontrol.
8. Obsessive Compulsive Disorder (OCD): orang yang ingin selalu terlihat sempurna di mata orang lain.
9. Internet Asperger Syndrome: gangguan yang menyebabkan seseorang berubah sikap saat di dunia maya.
10. Low Foerum Frustation Tolerance : merasa bahwa dirinya haus akan pengakuan diri dari pengguna sosial media lainnya, sehingga dia rela jadi budak followernya  untuk disuruh melakukan apa saja yang mereka inginkan terhadap dia.
11. Fear Of Missing Out (FOMO): Takut ketinggalan trend yang ada di media sosial.


Dari sebelas gangguan jiwa tersebut, paling tidak aku pribadi, dan mungkin agan aganwati, juga bisa mengkategorikan diri termasuk di gangguan yang mana. Semoga tidak ada yang masuk kategori tersebut. Namu, jika ada, cobalah untuk mengurangi penggunaan sosial media dengan lebih banyak, agar kesehatan kita bisa terjaga. Oke lanjut ke topik trit ini.
Quote:Karena aku tidak menemukan sumber dari Indonesia, aku mendapatkan sumber dari luar negeri. Sampai saat ini aku percaya bahwa kunci kesuksesan negara maju di sana karena mempelajari hal yang mendasar seperti ini. Hal yang dianggap orang lain bukan suatu hal yang penting untuk dibahas.
Ada dua sumber yang cukup bisa menjawab pertanyaanku, mengapa banyak sekali kita temukan orang toxic di komentar-komentar sosial media. Sumber pertama hanya sebuah artikel dan sumber kedua adalah jurnal. Aku akan mengulas dari sumber pertama yang berjudul "Psychology study of "moral Grandstanding" helps explain why social media is so toxic,"   yang berarti "Studi psikologi tentang "moral Grandstanding" membantu menjelaskan mengapa media sosial begitu toxic."
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
Pada artikel tersebut menuliskan bahwa ada sebuah studi baru yang menunjukkan bahwa Moral Grandstanding  atau kemegahan moral, memiliki hubungan yang cukup dekat yang bisa menjawab pertanyaanku. *Aku tidak tahu pasti terjemahan yang seharusnya digunakan dalam bahasa Indonesia, karena aku tidak menemukan pembahasan dalam bahasa Indonesia. Silahkan koreksi jika ada kesalahan dalam penerjemahan.
Moral grandstanding  adalah pendapat publik tentang moralitas dan politik untuk mengesankan orang lain, dan tujuannya adalah untuk mencari status sosial.
Moral grandstanding  ini juga bisa dikategorikan sebagai fenomena psikologis, karena fenomena ini sangat dekat dengan sikap narsisme. Kalau dilihat kembali dari sebelas gangguan mental yang aku tulis di atas, gangguan mental nomer satu lebih mendekati dengan fenomena ini.
Meskipun para peneliti mengakui bahwa penelitian ini masih ada keterbatasan, karena banyaknya faktor yang perlu dikaji lagi. Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa, sebuah studi terakhir terhadap 1.776 orang dewasa AS mengungkapkan bahwa upaya dari orang yang ingin meningkatkan atau mempertahankan prestise  (nama baik) dan ingin mendominasi, seringkali memposting sesuatu yang mengagungkan mereka, memposting ulang sesuatu yang tidak disetujui oleh peserta penelitian yang lain sebagai bahan gurauan, atau memposting ulang sesuatu yang mereka sukai agar terlihat baik.
Quote:Collectively, these findings provide support for an account of moral grandstanding that conceptualises it as a status-seeking behaviour that is driven by status-seeking motives,” and that could explain some of the problems with social discourse, especially on social media, the team writes.[sumber]


Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
Mungkin, seperti yang aku lakukan sekarang, menulis trit ini agar aku terlihat baik bagi penghuni kaskus. Bisa jadi. Tapi, bukan sebagai pembenaran, aku tidak peduli dengan label orang lain terhadapku selama itu tidak merugikanku secara materi, trit ini aku tulis untuk menghilangkan kecemasanku akan adanya pertanyaan yang muncul di kepalaku. Kebetulan pertanyaan itu berhubungan dengan fenomena yang terjadi di dunia maya.


Seringkali hal ini terjadi karena adanya tema yang sangat berhasil memperpanas komentar, seperti politik, agama, ras, suku, dan mungkin juga sepak bola. Awal diskusi membahas tentang tema tersebut, namun kemudian menjadi serangan personal untuk meningkatkan status dia di mata orang lain.
Quote:Kemudian aku ulas dari sumber yang kedua, dari situs jurnal yang sama namun dari jurnal yang berbeda. Kali ini aku membahas topik apa saja yang selalu berhasil memunculkan kondisi kolom komentar yang tidak kondusif. Tujuannya apa aku memunuclkan hasil penelitain ini? Agar kita selalu sadar, saat membuat konten atau trit yang mengulas dengan tema ini, pasti akan ada bentrokan di kolom komentar. Dan kita akan lebih terkontrol untuk tidak ikut-ikut terbawa dengan panasnya kondisi di kolom komentar tersebut.
Namun, dalam hal trafik,  tidak perlu diragukan, tema-tema ini akan menjadi tema yang seringkali berhasil menarik orang untuk membacanya dan ikut terlibat di kolom komentar. Kalau dibuat video? Ya, lihat presentasinya, apakah baik atau tidak. Terkadang temanya baik, presentasinya kacau, orang bosen melihatnya.
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
Dalam jurnal ini, Joni dan tim ingin mengulas berdasarkan data terukur untuk mengetahui topik apa yang sering meramaikan kolom komentar dan dipenuhi orang toxic.  Meskipun, hubungan antara toxicity  dan topik berita masih kurang dipahami oleh umumnya orang. Namun, aku sudah mengulasnya di atas. Jadi, pertanyaan Joni dan tim sudah terjawab oleh jurnal ini.
Jurnal ini lebih mengulas atau mengeksplorasi tentang hubungan antara topik berita dengan toksisitas, bukan mencari jawaban mengapa toksisitas bisa terjadi. Jadi lebih kepada topik apa saja yang meningkatkan tingginya toksisitas dari sebuah topik berita.
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
Tidak perlu aku ulas rumus yang mereka gunakan, karena aku sudah sulit untuk memahaminya dan akan jadi lama kalau perlu memahami rumus yang mereka gunakan untuk menghitungnya. Gambar data di atas adalah tabel yang menunjukkan topik yang seringkali menjadi topik yang panas dan mengakibatkan perang dingin di kolom komentar. Warna merah menunjukkan perbedaan yang kuat di tiga uji perbandingan berganda yang diterapkan. Misal topik yang berhubungan dengan peperangan dan konflik di Israel & Palestina, memiliki warna merah, dan topik ini salah satu topik yang seringkali berhasil menimbulkan panasnya situasi di kolom komentar. Atau, sains dan teknologi yang dihubungkan dengan rasisme, topik yang tak pernah gagal membuat perpecahan opini di kolom komentar. Dan banyak lagi topik lainnya.
Sedangkan warna oranye adalah warna yang menunjukkan perbedaan dimana uji perbandingan berganda memberikan hasil yang tidak meyakinkan. Seperti topik tentang kesehatan dan hak asasi, cukup sulit untuk menemukan minat orang berdebat tentang topik ini. Sedangkan warna abu-abu, perbedaan yang tidak signifikan.


Jadi begitu kira-kira penjelasannya secara psikologi, toksisitas di dunia maya seringkali terjadi karena ada orang yang memiliki masalah secara psikologis. Berdebat itu menyehatkan, jika perdebatan itu dengan tujuan mencari kebenaran bukan pembenaran. Selain dapat membuka cara pandang baru, kita bisa belajar untuk memahami bagaimana orang lain berpikir. Ketika tidak ada titik temu, lebih baik sudahi diskusi dengan menghargai pendapat dan cara pikir orang lain. Sudahi dengan baik, "Karena perbedaan sudut pandang kita, lebih baik diskusi ini kita sudahi, gan atau aganwati." Indah bukan?
Namun, berdebat akan menjadi sangat tidak sehat jika tujuan utamanya adalah mencari kemenangan, bukan kebenaran. Ujung-ujungnya adalah selalu mengatakan pembenaran dalam setiap argumen.
--
Terimakasih sudah membaca trit seriusku malam ini.
As always, keep healthy & happy.
Sumber terlampir & opri.


Diubah oleh machin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
paking.disgrace dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 3
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 03:23
Salam damai.emoticon-rose
0 0
0
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 05:34
makanya sosmed ane cuma add keluarga, ga aneh2 jadinya
profile-picture
machin memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 06:56
Because we can hide, at least behind our username.
emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
J3RUx dan 4 lainnya memberi reputasi
0 5
-5
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 08:03
Apalagi kaskus

Ane sering kena emoticon-Ngakak
profile-picture
machin memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 08:05
Bedain terkait apa yang lagi dibahas. Normal aja bicara mengenai suatu hal ideal, kalau memang itu yang lagi dibahas. Namun kemudian bila ingin membahas lebih lanjut (karena ingin memanifestasikan idea itu pada hal yang praktikal), pasti akan didapati suatu kenyataan bahwa suatu metoda belum tentu cocok diterapkan pada semua orang, terkait sikon yang dihadapi tiap orang adalah beda.
Susahnya bila kita ketemu orang yang punya tipe tirani atau diktaktor, megaloman, mengaku dekat dengan Tuhan atau bahkan menganggap dirinya sebagai Tuhan. emoticon-Takut
profile-picture
profile-picture
caerbannogrbbt dan machin memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 08:20
Yap. Ga cuma di sosmed, tapi di forum2 dan discussion board apapun juga. Karena pertama, setiap orang bersembunyi di nama profile palsu (nama, photo, bio).

Kedua, karena tersembunyi, sifat asli orang tersebut keluar. Dari yang baik sampe yang jahat/brengsek, bahkan iikut2an brengsek.

Ketiga, karena lemahnya moderasi. Kalo di forum masih ada moderatornya. Itupun moderatornya suka standar ganda atau ga punya nyali / ga berani terhadap alasan2 gombal, contoh: "ini opini gua, hormati dong!" padahal omong kosong, bahkan sering terang2an mencela orang lain.

Kalo di sosmed? CS mereka ga akan peduli. Nunggu sampe report nya banyak dulu baru diperhatiin.

Keempat, hasil dari lemah moderasi mendukung terbentuknya mental gerombolan (mob mentality) karena semakin banyak orang toxic ini yang ngumpul karena mereka merasa dipersilahkan datang. Orang yang toxic akan suka dengan adanya gerombolan, karena ada 'temen'. Ibarat rayap, media tersebut akan digerogoti sampe habis.

Sebenarnya toxic itu bisa ada di kedua belah pihak ya dalam sebuah topik diskusi. emoticon-Big Grin Tapi di postingan ane, ane tujukan ke orang2 toxic yang jelas2 salah. Misalnya menyebar hoax, suka nyerang duluan, dll. Sering terjadi di berbagai macam diskusi entertainment, seperti video game. emoticon-Big Grin Obatnya orang macam ini cuma satu: moderasi. Tumpas habis yang toxic. Karena dengan begitu, artinya ente menghormati pengguna yang bisa berdiskusi dgn positif. emoticon-Big Grin
Diubah oleh hensemjek
profile-picture
profile-picture
profile-picture
caerbannogrbbt dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 12 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 12 balasan
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 08:29
Ada mungkin yg karena pelampiasan.
Tidak bisa mengeluarkan keluh-kesah secara langsung akhirnya melalui Sosmed
profile-picture
machin memberi reputasi
1 0
1
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 08:30
momod perlu lebh tegas, berantas yang toxic biar makin banyak user di sini.

yang penting jangan ada momodnya yang ikutan toxic. kacau.
profile-picture
machin memberi reputasi
1 0
1
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 08:30
karena membully orang di internet adalah jalan ninjaku emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
bang.toyip dan machin memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 08:50
Biasanya orang2 yg demen komentar toxic itu juga yg di dunia nyata sumbu pendek alias dikit2 tersinggung. Kalo melihat sebuah konten yg berlawanan dengan pendapat dia, biasanya akan dianggap sebagai penghinaan dan harus dia lawan sampai si content creator menyerah dan membenarkan pernyataan dia tadi. Berkaitan dengan point nomor 1 yg menganggap diri paling benar.

Biasanya untuk menghadapi orang semacam ini ada 2 cara. Pertama bisa dengan aktif memfilter komen2 yg sekiranya mengandung unsur toxic tadi. Kedua kalau si content creator memikirkan dari sisi traffic, semakin banyak komen semakin baik, dibiarkan saja, kalau memancing keributan dengan netizen lain justru semakin bagus karena semakin banyak traffic ya bagus.

Ngomong2 ane ngomong begini dari sudut pandang ane sbg content creator juga. emoticon-Jempol
Diubah oleh juztbowen
profile-picture
profile-picture
profile-picture
caerbannogrbbt dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 09:01
Kalau komentarnya bernada toxic...bacanya juga gak enak....mendingan komentar bagus membuat hati yang membaca bahagia yang menuis lebih bahagia.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bang.toyip dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 09:02
memang dasarnya manusia itu tdk mau mengalah dan ada masalah yg blm terselesaikan sehingga alam bawah sadar tdk bisa menampungnya
0 0
0
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 09:48
Sederhana sekali, seperti halnya korupsi yang menjamur di Indonesia, karena hukuman / resiko untuk komentar toxic itu terbilang ringan, tapi tetep ada pengecualian...... emoticon-Big Grin
0 0
0
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 09:58
Kalau kata Mike Tyson, sih :
“Social media made you all way too comfortable with disrespecting people and not getting punched in the face for it.”

yaa karena terlalu nyaman dengan anonimitas, merasa "I can do whatever i want" jadinya begitu. Tpi orang - orang sejenis ini melakukan hal - hal seperti ini gak bakalan dilakukan di real life-nya.

ane nitip nih video dari tretan muslim dan Hasan Askari menjelaskan tentang Netijen jenis jenis toxic (btw ini penjelasan abang hasan mateb bener dah)

Youtube Are We Okay
profile-picture
profile-picture
profile-picture
machin dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 10:14
Ane lakukan itu cuma dimari aja kok emoticon-Malu
profile-picture
bang.toyip memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 10:16
kaskus banyk banget toxic... ya rata2 id id baru...
pemain kaskus lama dari tahun 2000an malah santai dan gak OOT...

gw klo di bales toxic...cuekin aja
Diubah oleh purefied
profile-picture
profile-picture
profile-picture
baikl dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 10:32
toksik lah kamu sebelom toksik itu dilarang....

emoticon-Leh Uga
0 0
0
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 10:45
Karena tidak bisa toxic di rl ...
Mangkanya harus di didik di kampus malang
0 0
0
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 10:47
Berbahaya kata2nya yaa
0 0
0
Sudut Pandang Psikologi : Mengapa di Sosial Media Banyak Sekali Komentar Toxic?
14-09-2021 11:04
Kalau gw sih pernah ngalamin "insiden" dulu bgt pas jaman2 ramenya friendster, semenjak itu gw selalu berpikir bahwa anonimitas itu bakal makin terkikis sesuai dengan kemajuan zaman. Puncak nya pas SMA gw diajarin sama guru komputer bagaimana caranya melacak seseorang melalui IP adress, maka semenjak itu gw selalu bertingkah laku/tutur kata sopan di dunia maya seperti dunia nyata.

Intinya sih jangan melakukan hal2 negatif di dunia maya soalnya bisa jadi itu bakal jadi ganjalan di masa depan. emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
machin dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia