others
Batal
link has been copied
0
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6119d6007b23423e2e68f21d/bila-pandemi-sudah-reda
Dulu saya biasanya berenang seminggu dua kali, Selasa dan Jumat. Saya bukan atlet dan juga tidak sedang mengikuti latihan tertentu atau apa pun itu. Murni rutinitas semata, demi kebugaran tubuh. Biasa dilakukan selama 45 menit, tidak terhitung pemanasan. Dulu juga, saya bisa bolak-balik sampai enam kali sehari, sejauh 12-an km, untuk mengantar-jemput adik-adik saya yang, meski bersekolah di tempat
Lapor Hansip
16-08-2021 10:05

Bila Pandemi Sudah Reda ...

Bila Pandemi Sudah Reda ...

Dulu saya biasanya berenang seminggu dua kali, Selasa dan Jumat. Saya bukan atlet dan juga tidak sedang mengikuti latihan tertentu atau apa pun itu. Murni rutinitas semata, demi kebugaran tubuh. Biasa dilakukan selama 45 menit, tidak terhitung pemanasan.


Dulu juga, saya bisa bolak-balik sampai enam kali sehari, sejauh 12-an km, untuk mengantar-jemput adik-adik saya yang, meski bersekolah di tempat yang sama, pulang di jam yang berbeda. Sewaktu-waktu saya pernah sampai tahapan sangat bosan. Saya sering bicara sendiri selama di perjalanan--jika memang sedang sendiri, hanya untuk sedikit demi sedikit mengeluarkan isi kepala. ~Yang penting sudah ngomong


Kadang pula, dulu, setiap Kamis atau Jumat, dalam satu bulan, minimal ada dua kali teman-teman saya dari Temanggung akan datang berkunjung ke rumah, untuk kemudian kita semua main keluar, jauh--dan pada akhirnya menginap di rumah saya. Hampir tidak ada seorang teman pun yang tidak tahu rumah saya. Singkatnya, kalau ke Jogja, yang dituju hampir selalu rumah saya.


Sebelum hari-hari ini, dulu, saya bisa menghabiskan waktu dua minggu dan bahkan sampai satu bulan untuk menyunting sebuah buku. Laptop di waktu itu seringnya hanya digunakan untuk keperluan atau kegiatan seputar naskah. Naskah mentah yang masih berantakan.


Dulu pula, saya senang sekali bila ada waktu untuk keluar kota. Bahkan, kalaupun di hari itu saya sedang ada jadwal di kelas, sebisa mungkin saya akan berusaha untuk izin. 


Paling jauh, sekaligus paling singkat, adalah ketika saya menghadiri pernikahan teman sekelas saya di Jakarta. Berangkat Maghrib menggunakan kereta; depalan jam perjalanan, untuk kemudian merebahkan badan di mushala stasiun. Lalu malamnya, hampir tepat 24 jam saya di Jakarta, di jam yang sama ketika saya berangkat di hari sebelumnya, saya pulang kembali ke Jogja menggunakan pesawat. Itu kali kedua saya naik pesawat, dan tabungan saya hampir habis, untuk sebuah perjalanan yang bisa jadi tak genap 24 jam. Setidaknya saya berhasil menyaksikan langsung proses akad pernikahan teman saya, itu intinya.


Sekarang, hampir segalanya telah berubah. Benar-benar hampir segalanya, tak hanya soal rutinitas atau sekadar liburan.


Saya ingat betul ketika menganggap lucu dua orang teman saya yang sudah keliling kota mencari masker dan tidak dapat. Kabar mengenai pandemi sudah terdengar, tapi “masih di Cina, belum sampai di Indonesia”. Saya pikir kala itu tidak akan sampai ke sini. Oleh karena itulah saya masih santai saja berenang seperti biasa. Namun, beberapa hari setelah itu, hingga hari ini, saya baru satu kali menceburkan diri di air kolam renang.


Sekarang saya benar-benar merasa payah. Soft skillsaya memarkirkan mobil sudah tak seperti dulu lagi, sebelum pandemi. Jangankan parkir, melewati jalan permukiman yang di pinggirnya ada motor saja saya harus berkali-kali mengukur jarak, tengok kiri kanan. Beberapa keterampilan kian tumpul dan harus diasah kembali.


Sekarang pula, saya jadi sadar kalau memiliki teman itu rasanya lebih dari sekadar untuk bersenang-senang. Kini membuka dan mengakhiri obrolan ringan via WhatsApp sudah terasa cukup melegakan, bisa menutupi kepenatan akibat rutinitas dan pekerjaan yang harus dialihkan ke rumah. Apalagi jika bisa menelepon dan mengobrol lama. Syukur banyak teman-teman yang masih bujang, belum terlalu disibukkan dengan urusan lain sehingga lebih santai dan lebih mudah dihubungi.


Kini, perjalanan keluar kota tak lagi hanya untuk liburan atau bersenang-senang, tapi lebih kepada memaknai arti pulang yang sebenarnya dan sebetapa bersyukurnya kita masih memiliki rumah. 


Kalau ada kutipan yang mengatakan bahwa traveling itu bisa menyehatkan jiwa, saya setuju. Awal puasa kemarin, saya pergi motoran sendiri menemui teman-teman saya, sekadar temu sapa. Selama satu minggu penuh, dengan rute Jogja--Temanggung--Tegal--Temanggung--Gresik--Madura. Saya melakukan itu, bikepacker, sendirian, karena beberapa hari sebelum pergi saya sempat muak, rasanya pengap sekali di rumah. Dan ketika sudah pergi cukup lama dan cukup jauh, rasanya lega bisa pulang kembali ke rumah. Traveling nyatanya memang menyehatkan, meski membuat dompet terbatuk-batuk.


Hari ini, laptop sudah menjadi sesuatu yang amat powerful bagi saya. Tak sekadar untuk pekerjaan seputar naskah semata, seperti dulu. Banyak sekali hal baru yang saya temukan, entah itu untuk menambah wawasan, pengalaman, atau bahkan penghasilan. Di masa pandemi ini, raga yang setiap hari berdiam di rumah, ternyata bisa berkelana jauh merambah benua. Namun, di sini yang saya bicarakan adalah hal-hal di luar medsos, karena itu sudah terlalu umum. Kesimpulan saya tentang hal ini terangkum dalam sebuah pepatah: “Banyak jalan menuju Roma”.


Akhir kata, buat mereka yang mau belajar beradaptasi dan mempersiapkan hari esok (dengan realistis), masa pandemi ini bisa menjadi sebuah momen titik balik. Belajar dan mencoba banyak hal. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok setelah pandemi.


Bila mendengar cerita bahwa pandemi adalah momen “terburuk”, saya jadi teringat sebuah kutipan dari entah siapa saya juga lupa, yang berbunyi: “Waktu-waktu paling gelap hanyalah sesaat sebelum fajar”.


Ya, jika diusahakan dan terus diperjuangkan, pandemi ini bukan tidak mungkin akan menjadi momen titik balik, InsyaAllah. Tinggal kita saja yang menentukan.


Bagaimana, punya rencan-rencana hebat bila pandemi sudah reda? Ayo, mulai tulis to do listkalian di sini.


Quote:
Kalau saya pribadi, bila pandemi reda, saya akan kembali rutin berenang. Itu yang pertama. emoticon-Big Grin




Salam sehat.


emoticon-Jempol

0
Masuk untuk memberikan balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia